Anda di halaman 1dari 8

TUGAS SISTEM DIGESTIF

BLOK 17

Disusun oleh: BIRGITTA FAJARAI 04111001090

PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

KLASIFIKASI KARIES A. Klasifikasi Karies Menurut Dr. G.V. Black Menurut G.V. Black, karies diklasifikasikan menggunakan lokasi spesifik dari lesi karies yang sering terjadi pada gigi, yaitu: 1. Kelas I Karies yang terjadi pada pit dan fissure semua gigi, baik anterior maupun posterior. 2. Kelas II Karies yang terjadi pada permukaan aproksimal dari gigi posterior. Kavitas ini biasa terdapat pada permukaan halus dibawah titik kontak yang sulit dibersihkan. Bentuk lesi pada kelas ini biasanya berbentuk elips. 3. Kelas III Karies yang terjadi pada permukaan aproksimal dari gigi anterior. Karies bisa terjadi pada permukaan mesial atau distal dari incisivus atau kaninus. Bentuk lesi pada kelas ini biasanya berbentuk bulat dan kecil. 4. Kelas IV Kelas ini merupakan lanjutan dari karies kelas III. Karies yang meluas ke incisal sehingga melemahkan sudut incisal edgenya dan dapat menyebabkan fraktur pada gigi. 5. Kelas V Karies yang terjadi pada permukaan servikal gigi. Lesi ini bisa terjadi pada permukaan fasial atau labial, namun lebih dominan terjadi pada permukaan fasial gigi. Kavitas pada kelas ini bisa mengenai sementum gigi. 6. Kelas VI Karies yang terjadi pada ujung-ujung cusp gigi posterior dan incisal edge. B. Klasifikasi Karies Menurut G.J. Mount Menurut G.J. Mount, karies diklasifikasikan berdasarkan lesi yang terjadi pada permukaaan gigi beserta ukuran kavitasnya, yang terdiri atas 3 site, yaitu: 1. Site 1 Karies pada pit dan fissure di permukaan oklusal gigi anterior maupun posterior. 2. Site 2 Karies pada permukaan aproksimal gigi anterior maupun posterior. 3. Site 3 Karies pada 1/3 mahkota dari akar (servikal) sejajar dengan gingiva.

Pembagian 5 ukuran dari kemajuan proses terbentuknya lesi, yaitu: 1. Size 0 Lesi paling awal yang diidentifikasikan sebagai tahap awal dari demineralisasi berupa white spot. 2. Size 1 Kavitas permukaan minimal. Masih dapat disembuhkan dengan peningkatan remineralisasi struktur gigi. 3. Size 2 Kavitas yang sedikit melibatkan dentin. Kavitas yang terbentuk berukuran sedang dan masih menyisakan struktur email yang didukung dengan baik oleh dentin dan cukup kuat untuk menyokong restorasi. 4. Size 3 Kavitas yang lebih luas dari size 2. Struktur gigi yang tersisa lemah dan cusp atau incisal edgenya telah rusak sehingga tidak dapat beroklusi dengan baik dan kurang mampu menyokong restorasi. 5. Size 4 Karies meluas dan hampir semua struktur gigi hilang seperti kehilangan cusp lengkap atau incisal edge. Karies hampir atau sudah mengenai pulpa. C. Klasifikasi Karies Berdasarkan Kedalamannya Menurut ICDAS, karies terbagi atas 6, yaitu: 1. D1 2. D2 3. D3 : Dalam keadaan gigi kering, terlihat lesi putih pada permukaan gigi. : Dalam keadaan gigi basah, sudah terlihat adanya lesi putih pada permukaan gigi. : Terdapat lesi minimal pada permukaan email gigi. bagian dentino enamel Junction (DEJ). 5. D5 6. D6 : Lesi telah mencapai dentin. : Lesi telah mencapai pulpa.

4. D4: Lesi email lebih dalam. tampak bayangan gelap dentin atau lesi sudah mencapai

D. Klasifikasi Karies Berdasarkan Banyaknya Permukaan Gigi yang Mengalami Karies. 1. Karies sederhana : Karies yang hanya terjadi pada satu permukaan saja. 2. Karies Compound : Karies yang terjadi pada dua permukaan. 3. Karies Kompleks :Karies yang terjadi pada tiga permukaan atau lebih.

PULP CAPPING Pulp capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan untuk perawatan diatas pulpa yang terbuka, misalnya hidroksida kalsium yang akan merangsang pembentukan dentin reparative (Harty dan Oston, 1993) Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan (www.unpad.ac.id) Kaping pulpa (pulp capping) dibagi menjadi dua, yaitu kaping pulpa indirek (indirect pulp capping) dan kaping pulpa direk (direct pulp capping). (Walton & Torabinejad, 2008 ; 429) 1. Kaping pulpa indirek Prosedur kaping pulpa indirek digunakan dalam manajemen lesi karies yang dalam yang jika semua dentin yang karies dibuang mungkin akan menyebabkan terbukanya pulpa. Kaping pulpa indirek hanya dipertimbangkan jika tidak ada riwayat pulpagia atau tidak ada tandatanda pulpitis irreversible. (Walton & Torabinejad, 2008 ; 429) 2. Kaping pulpa direk Ada dua hal yang menyebabkan prosedur ini harus dilakukan yakni jika pulpa terbukas secara mekanis (tidak sengaja) dan pulpa terbuka karena karies. Terbukanya pulpa secara mekanis dapat terjadi pada preparasi kavitas atau preparasi mahkota yang berlebihan, penempatan pin atau alat bantu retensi. Kedua tipe terbukanya pulpa ini berbeda ; jaringan pulpanya masih normal pada kasus pemajanan mekanis yang tidak sengaja, sementara pada pulpa yang terbuka karena karies yang dalam kemungkinan besar pulpanya telah terinfalamsi. (Walton & Torabinejad, 2008 ; 429)

PULPOTOMI Pulpotomi adalah pengambilan jaringan pulpa pada bagian koronal gigi yang telah mengalami infeksi, sedangkan jaringan pulpa yang terdapat dalam saluran akar ditinggalkan. (Tarigan, 1994:117) atau dapat diartikan pembuangan pulpa vital dari ruang pulpa, dengan meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar dalam keadaan sehat dan vital. Kemudian diikuti penempatan medikamen di atas orifice yang akan menstimulasikan perbaikan atau memfiksasi sisa jaringan pulpa pada saluran akar. Konsekuensi umum pulpotomi adalah permulaan terjadinya perubahan-perubahan degenerative yang kemudian akan mengakibatkan klasifikasi saluran akar. Saluran akar gigi-gigi tersebut akan tidak memungkinkan untuk perawatan endodontic jika nantinya diperlukan karena adanya kelainan periapeks. (Bence. 1990: 12) Tujuan perawatan pulpotomi adalah menghilangkan semua jaringan pulpa yang terinfeksi.

Tindakan pulpotomi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Pulpotomi vital Pulpotomi vital adalah membuang seluruh jaringan pulpa bagian koronal namun tetap meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar tetap vital. 2. Devital pulpotomi Pulpotomi devital adalah pengambilan jaringan pulpa yang terdapat dalam kamar pulpa yang sebelumnya telah di devitalisasi, kemudian dengan pemberian obat-obatan jaringan pulpa dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptic dan diawetkan.(Tarigan, 1994: 119). Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar. Indikasi perawatan pulpotomi Penderita o Kooperatif o Keadaan umum baik o Penderita dengan kontra indikasi pencabutan Gigi : o Perforasi o Perdarahan sedikit o Gigi permanen muda o Gigi yang perforasi karena karies namun lebih menguntungkan bila dirawat daripada dilakukan pencabutan o Peradangan pulpa hanya terbatas pada ruang pulpa. (Soekidjo, 2008) Keberhasilan Pulpotomi Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+), dan pada gambaran radiografik lebih baik dibandingkan dengan foto awal.

PULPEKTOMI (Ekstirpasi Pulpa) Pulpektomi adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dari seluruh akar dan korona gigi. Pulpektomi merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversible atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar daripada pulp capping atau

pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya dapat diprediksi dengan baik. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil perawatan yang baik pula 1. Pulpektomi Vital Pulpektomi vital sering dilakukan pada gigi anterior dengan karies yang sudah meluas kearah pulpa, atau gigi yang mengalami fraktur 2. Pulpektomi Devital Pulpektomi devital sering dilakukan pada gigi posterior yang telah mengalami pulpitis atau dapat juga pada gigi anterior pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi. Pemilihan kasus untuk perawatan secara pulpektomi devital ini harus benar-benar dipertimbangkan dengan melihat indikasi dan kontaindikasinya. Perawatan ini sekarang sudah jarang dilakukan pada gigi tetap, biasanya langsung dilakukan perawatan pulpektomi vital walaupun pada gigi posterior. Pulpektomi devital masih sering dilakukan hanya pada gigi sulung, dengan mempergunakan bahan devitalisasi paraformaldehid, seperti Toxavit, dan lain-lain. Bahan dengan komposisi As2O3 sama sekali tidak digunakan lagi. 3. Pulpektomi Nonvital (Endo Intrakanal) Perawatan saluran akar ini sering dilakukan pada gigi anterior yang mempunyai saluran akar satu, walaupun kini telah banyak dilakukan pada gigi posterior dengan saluan akar lebih dari satu. Gigi yang dirawat secara pulpektomi nonvital adalah gigi dengan gangrene pulpa atau nekrosis. Indikasi pulpektomi: 1. Gigi dengan infeksi yang melewati ruang kamar pulpa, baik pada gigi vital, nekrosis sebagian maupun gigi sudah nonvital. 2. Saluran akar dapat dimasuki instrument. 3. nan jaringan periapeks dalam gambaran radiografis kurang dari sepertiga apikal. 4. Ruang pulpa kering 5. endarahan berlebihan pada pemotongan pulpa (pulpotomi) tidak berhasil 6. Sakit spontan tanpa stimulasiKeterlibatan tulang interradikular tanpa kehilangan tulang penyangga 7. Tanda-tanda/gejala terus menerus setelah perawatan pulpotomiPembengkakan bagian bukal Kontra Indikasi 1. Keterlibatan periapikal atau mobilitas ekstensif 2. Resorbsi akar ekstensif atau > 1/2 akar 3. Resorbsi internal meluas menyebabkan perforasi bifurkasi

4. Kesehatan buruk dan harapan hidup pendek 5. Ancaman keterlibatan gigi tetap yang sedang berkembang karena infeksi 6. Tingkah laku pasien yang tidak dapat dikendalikan dan di rumah sakit tidak mungkin dilakukan

ROOT CANAL TREATMENT (ENDODONTIK)

Mahkota gigi terdiri dari lapisan keras gigi yakni email dan dentin. Kedua lapisan keras gigi ini melindungi jaringan lunak gigi yang disebut pulpa yang memanjang dari mahkota sampai ujung akar gigi . Jaringan lunak pulpa terdiri dari pembuluh darah dan pembuluh syaraf yang menyuplai makanan dan memberikan rasa pada gigi. Perawatan saluran akar gigi / Root canal treatment (RCT) juga dikenal dengan terapi endodontik yaitu suatu prosedur penggantian bagian gigi yang rusak atau jaringan pulpa yang terinfeksi dengan bahan yang disebut gutta percha untuk mencegah perluasan infeksi. Perawatan saluran akar dilakukan dengan cara mengangkat jaringan pulpa yang mengalami radang atau terinfeksi. Jaringan pulpa dapat mengalami peradangan atau infeksi karena adanya karies (keropos) gigi yang dalam, tambalan yang sangat dalam sehingga

mengiritasi saluran pulpa, gigi pecah/patah sampai mendekati saluran pulpa karena trauma, atau kadang karena peradangan gusi yang sudah parah. Kerusakan jaringan pulpa dapat ditandai dengan rasa nyeri, sensitif yang berlangsung lama saat makan/minum panas atau dingin, diskolorasi gigi, pembengkakan gusi. Kadangkala tanpa keluhan sama sekali. Dan bila kondisi ini dibiarkan maka akan menimbulkan nyeri dan bengkak serta kerusakan tulang penyangga gigi. Keuntungan perawatan saluran akar Apabila kerusakan sudah mencapai jaringan pulpa maka daripada harus dilakukan pencabutan ,dokter gigi akan mempertahankan gigi dengan melakukan perawatan saluran akar. Sesudah perawatan, gigi menjadi non vital (tanpa saluran pulpa), meski demikian masih ada jaringan vital disekeliling gigi seperti gusi, jaringan penyangga gigi dan tulang. Gigi yang telah dirawat akan tetap bisa digunakan berfungsi dan dijaga kebersihannya seperti gigi-gigi vital lainnya

CARA MENGGOSOK GIGI YANG BAIK DAN BENAR

1. Penyikatan dilakukan pada seluruh permukaan gigi 2. Sikat gigi dan gusi dengan posisi kepala sikat membentuk sudut 45o di daerah perbatasan antara gigi dengan gusi. 3. Sikat bagian luar permukaan gigi kanan kiri atas dan kanan kiri bawah dengan gerakan memutar. 4. Sikat bagian permukaan gigi yang menghadap ke bibir dengan gerakan naik turun. 5. Sikat bagian permukaan gigi untuk mengunyah dengan gerakan maju mundur. 6. Gunakan gerakan memutar atau mencongkel untuk menyikat bagian dalam permukaan gigi ( permukaan gigi yang menghadap ke lidah ). 7. Sikat bagian lidah untuk mengusir bakteri.