Anda di halaman 1dari 45

1.

PENDAHULUAN

Apa itu “Kecerdasan Magnetik “ ?


Untuk menjawab pertanyan ini perlu kita melihat
makna “kecerdasan“ dan “magnetik “.

Kecerdasan dalam hal ini bagi manusia, adalah pola pikir


dan pola tindak yang berdasarkan alur urutan logis yang
sesuai bagi dirinya, tentang sesuatu yang harus dia
tanggapi. Seseorang dikatakan cerdas jika dari informasi
masuk yang ia peroleh dengan tanggapan tadi cukup
cepat dan benar bagi kepentingannya atau benar secara
pengertian umum.

“Magnetik“ adalah kata sifat dari magnet, sifat inilah


yang menjadi hal yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Adalah sifat magnetik pada manusia?
Jadi “kecerdasan magnetik” adalah suatu kecerdasan
manusia dimana ia dapat mengolah dan menanggapi
informasi magnetik dan atau ia mempunyai sistem
magnetik yang dapat berproses dalam dirinya.

Telah dijelaskan bahwa kecerdasan terukur


melalui bagaimana kecepatan informasi diproses dan
menghasilkan jawab yang tepat.
Melalui saluran mana informasi masuk kedalam diri
manusia?. Informasi masuk kedalam diri manusia melalui
indera (sensor) yang ada pada dirinya. Ilmu biologi dan
kedokteran mengindentifikasi secara baku terdapat lima
indera (panca indera) yaitu indera-indera :
penglihatan (pada mata)
pendengaran (pada gendang suara telinga)

1
penciuman (pada hidung untuk membedakan-
bedakan bau-bauan)
perasa (pada lidah untuk merasakan makanan
dan minuman)
peraba (pada kulit untuk merasakan sifat mekanik
benda)
Kelima indera tersebut secara fisika menanggapi sinyal
(isyarat) yang masuk kedalam manusia melalui besar-
besaran (entitas) fisika yang dapat langsung atau tak
langsung melalui sistem fisika yang dipunyai manusia.
Indera penglihatan menerima sinyal cahaya (gelom-
bang) elektromagnetik visual) melalui sistem optik yang
ada didalam mata : lensa yang akomodatif dan bintik
kuning tempat terjadinya bayangan yang kemudian ditaf-
sirkan oleh otak, sehingga benda sebagai informasi
dalam cahaya tersebut dapat dilihat.
Indera pendengaran menerima sinyal akustik (getaran
suara yang melalui udara kemudian menggetarkan mem-
bran (gendang telinga). Getaran tersebut ditafsirkan oleh
otak sehinga kita mendengar suara dan informasi
didalam suara itu.
Indera penciuman menerima udara yang masuk
kehidung dan otak menafsirkan bau-bauan yang ada
diudara itu.
Indera perasa menerima sinyal dari cairan yang masuk
kemulut, sensor dilidah “mengukur“ dan otak menafsirkan
rasa zat (kimia) tersebut.
Indera peraba pada kulit menerima sinyal mekanik
dalam bentuk sifat kasar-halus. Runcing-tumpul, panas-
dingin, basah-kering termasuk sengatan listrik, api, dan
sebagainya.
Pertumbuhan kepekaan indera bergantung pada kondisi
lingkungan hidupnya. Masyarakat pantai akan peka
dengan suara, dan debur ombak. Kondisi lingkungan

2
hidup akan “melatih paksa“ manusia untuk mempunyai
indera-indera yang lain, baik merupakan pengembangan
yang tadi atau diluar tersebut: indera keenam, ketujuh
dan seterusnya.

Telah dijelaskan bahwa kecerdasan manusia tadi


adalah kecepatan tanggapan, terhadap informasi yang
masuk, maka para ahli kedokteran dan psikologi
mencoba memilah kecerdasan yang dimaksud dalam
berbagai jenis antara lain :
•kecerdasan rasional (membandingkan dan kelogisan)
•kecerdasan emosional (mengembangkan rasa psikis)
•kecerdasan berbahasa (memilih ungkapan verbal dan
mempelajari bahasa)
•kecerdasan estetika (seni)
•kecerdasan olah raga (aksi motorik)
•kecerdasan berpolitik
Seluruh kecerdasan itu ada dan dapat dikembangkan
oleh manusia, meskipun masing-masing mempunyai
kapasitas atau keterbatasan dalam mencapainya.
Untuk menuju ke fenomena kecerdasan magnetik
manusia, berikut akan diuraikan penjelasan munculnya
sifat magnetik dan mekanismenya terhadap
pertumbuhan kecerdasan manusia.

3
2. SIFAT MAGNETIK
TUBUH MANUSIA

2.1. PENYEBAB DASAR

T
ubuh manusia berbentuk dari molekul-molekul
protein yang mengandung unsur-unsur antara lain
C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), Cl (chlor), N
(Nitrogen), I (yodium), P (Fosfor) dan mengandung
unsur logam seperti Fe (besi)
Sifat magnet unsur material (atom) terletak pada
searahnya spin (rotasi) elektron (muatan negatif) dikulit
atom atau proton (muatan positif) di inti atom.
Sifat material, magnet dasar terletak pada sifat magnetik
inti dari unsur-unsur pembentuk tubuh manusia,
hidrogen, molekul H20 dan besi.

MRI (Magnetik Resionance Imaging) adalah


teknologi memetakan organ tubuh memanfaatkan sifat
magnetik inti hidrogen dan inti unsur lainnya. Citra organ
tesebut dihasilkan oleh pancaran sinar elektromagnetik
dari magnet inti yang tereksitaksi akibat pengaktivan oleh
alat, sehingga pancaran sinar inti ini dapat direkam di
film foto atau secara digital.
Sifat magnetik yang lebih statik yaitu terdapat pada ion
Fe, karena sifat spin elektron dikulit atomnya searah. Si-
fat magnetik ini membesar jika atomnya menyusun diri
sehingga elemen magnetnya searah (disebut terpolarisa-
si). Ditubuh manusia Fe, terdapat pada butir darah merah
(hemoglobin).
4
Data empirik menunjukkan bahwa hemoglobin
merupakan rantai protein yang panjang dimana dari
beberapa pasangan posisi di kedua ujung rantai terdapat
penyambung (jembatan) dalam struktur datar “heme“ di-
mana ion Fe terikat (lihat Gambar 1). Melalui ion Fe ini
darah merah dapat mengikat oksigen setelah melewati
paru-paru. Dengan menyerap sari makanan dari alat-alat
pencernaan makanan dan oksigen ini, darah merah
mengganti sel-sel yang rusak dengan mengoksidasinya
(membakarnya dengan oksigen) dan membentuk sel
baru.
Jika dalam darah, molekul-molekul hemoglobin berposisi
acak maka kekuatan magnetik tubuh kecil, karena sifat
vektor medan magnet yang dapat saling meniadakan.
Manusia dapat mengarahkannya dengan melakukan
latihan, yaitu dengan memfungsikan kekuatan pikiran
dan mengatur nafas secara lambat.

5
6
Hipotesis :
Jika kita manahan nafas maka jumlah oksigen
didalam paru-paru tidak akan bertambah dan karena
diambil oleh hemoglobin yang mengalir maka pada
suatu waktu tertentu hemoglobin merasakan bahwa
cadangan oksigen berkurang, sebagai reaksinya
molekul akan membentuk antrian sedemikian
sehingga aliran darah mempunyai energi yang
terendah dalam mengambil dan melepas oksigen.

Kondisi ini dapat dicapai dengan molekul-molekul


hemoglobin itu terpolarisasi magnetik : magnetiknya
searah, sebangun dan saling melekat erat, karena
gaya magnet. Akibat molekul-molekul membentuk banjar
(yang saling melekat), sedangkan antar banjar terdapat
gaya magnetik tolakan dari berbagai arah sehingga
seimbang antar banjar. Gaya tolakan ini
mempertahankan darah masih tetap cair.
Dalam posisi baris banjar yang teratur, maka terjadi
manfaat berikut :
1. Molekul-molekul oksigen ketika diikat ion Fe
akan dalam posisi yang sama simetris yang
mudah dilepas untuk mengoksidasi sel-sel yang
rusak.
2. Terdapat ruang sempit antar banjar hemoglobin
berupa lorong terbuka, yang memungkinkan
bakteri penyakit terjebak dan mudah dikenali,
kemudian dapat dibunuh oleh darah putih dan
dioksidasi oleh oksigen.
3. Sari makanan : protein (asam amino), glukosa
dan lain-lain akan dibawa oleh molekul darah
dalam posisi sama dan mudah dilepas ketika
harus mangganti sel yang rusak.

7
Dalam struktur ini darah menjadi komponen tubuh yang
sehat karena dapat memfungsikan “bela dirinya“
(selfdefense) secara baik, Jadi terpolarisasinya darah
secara magnetik adalah dasar penjagaan kesehatan dari
serangan mikroba penyakit didalam darah.

Zat lain yang mempunyai sifat magnetik tetapi


tidak sekuat Fe didalam hemoglobin adalah molekul air
(H20). Posisi atom hidrogen dalam molekul air tidaklah
simetris dan dalam posisi ini, dua elektron dikulit luar
oksigen (oksigen mempunyai 6 elektron) mempunyai
spin pararel dan ini menyebabkan air bersifat sedikit
magnetik (paramagnetik). Molekul air mudah diarahkan
menjadi terpolarisasi magnetik. (Lihat Gambar 2).
Selanjutnya masih terdapat zat-zat lain yang juga
magnetik mengingat molekul air terikat secara molekuler
dengan senyawa organik didalam tubuh manusia.

2.2. IMBAS MAGNETIK

8
S uatu benda magnet akan memancarkan suatu medan
yang disebut medan magnetik.
“Medan“ adalah suatu medium pengaruh yang
dipancarkan sumber dimana dalam medium pengaruh ini
dapat dilakukan (ditransmisikan) dinamika (gerakan).
Dengan tubuh bersifat magnetik maka tubuh akan dapat
dipengaruhi atau mempengaruhi medan magnetik
lainnya. Menurut hukum imbasan magnetik, dimana :
Kutub magnet sejenis akan tolak-menolak,
sedangkan yang berlawanan jenis tarik-menarik.
Karena magnet selaku dalam bentuk dipol
(dwikutub) maka interaksi kutub dua buah dipol
dapat menghasilkan tarikan atau satu memutar
yang lain jika tidak segaris. Gerakan putar (rotasi)
terjadi , karena satu kutub menerima tarikan dan
tolakan dari dwikutub (lihat Gambar 3)

Dengan pengaruh imbasan ini maka beberapa


fenomena berikut dapat terangkan dengan imbasan
magnetik.

a. Dalam latihan beladiri tenaga dalam tampak bahwa


orang dapat tertolak, atau terputar oleh orang lain
yang tenaganya lebih besar, tanpa terjadi kontak
tubuh. Alasan ilmiah fisika yang paling mungkin
untuk menerangkan gerakan tersebut adalah jika
keduanya berinteraksi secara magnetik.
b. Seseorang merasa pusing mual, terasa ada getaran
atau dingin jika berada dibawah bangunan kubah
logam (kubah masjid atau gereja) atau kubah
solenoid (yang mempunyai kerangka besi
berbentuk spiral).
Kubah berfungsi sebagai sangkar Faraday,
sehingga tidak tertembus medan magnet bumi,

9
sehingga tubuh merasakan rasa aneh. Solenoid
menyerap garis gaya magnetik, sehingga dibawah
solenoid seseorang merasakan pengaruh aneh.
(lihat Gambar 3). Kedua contoh diatas sering
dijumpai dan ini mengindikasikan bahwa terjadi
hubungan peka antara alat keseimbangan manusia
dengan magnet diluar tubuh.

Gambar 3
U

U S
a. Magnet Dwi-Kutub Terputar oleh Dwi-Kutub Lain

ε
TANPA MEDAN
Medan Besar
b. Di bawah Kubah Tidak Ada
Medan Magnetik Bumi c. Di bawah Solenoid, Medan
Magnetiknya Lebih Kuat

c. Pada umumnya imbasan ini terasa dengan melalui


konsentrasi khusus, memang dapat dipahami
bahwa kepekaan magnetik tidak pernah diajarkan
atau dilatihkan dalam kehidupan kita

Contoh :
1. Seseorang dengan mata ditutup dengan
konsentrasi merasakan perbedaan “rasa“

10
sebuah benda logam (besi) atau bukan
logam
2. Dengan konsentrasi seseorang dapat
merasakan adanya rasa lain jika ada
dibawah SUTET (Saluran Udara Tegangan
Ekstra tinggi) (lihat gambar 4).
Jadi dapat dimengerti bahwa SUTET akan
mengganggu hemoglobin darah dan secara
kumulatif mempunyai dampak mengganggu
kesehatan.
Dari contoh-contoh diatas sebetulnya merasakan medan
magnetIk merupakan ciri bahwa seseorang mempunyai
“kecerdasan magnetik“

2.3. MEDAN BIOMAGNETIK TUBUH


MANUSIA

11
S
udah diketahui sejak lama bahwa aktivitas sel dan
jaringan manusia menghasilkan medan biolistrik
yang dapat dideteksi dipermukaan kulit sebagai
potensial listrik spontan. Adanya arus listrik ini secara
hukum fisika akan menimbulkan medan biomagnetik.
Gerhard Baule dan Richard McFee pada 1963 dari
Departement of Electrical Engineering, Syracuse
University, New York mendeteksi medan biomagnetik dari
hati manusia dengan menggunakan dua kumparan yang
mempunyai 2 juta putaran lilitan yang dihubungkan
dengan amplifier yang sangat sensitive. Pada tahun
1970, David Cohen dari MIT dengan menggunakan
magnetometer SQUID dapat mengukur medan biomag-
netik dari hati manusia, kemudian di 1972 dengan
menambah kepekaan magnetometer itu ia berhasil
mengukur medan magnetik disekitar kepala yang
dihasilkan oleh kegiatan otak.
Selanjutnya pengamatan empirik menunjukan bahwa
penyakit pada jaringan tubuh mengubah medan
biomagnetik normal. Sebaliknya medan biomagnetik
yang diberikan kepada jaringan organ dapat
menghindarkan organ tersebut dari penyakit.

Pengamatan dari 1980 sampai 1992 yang


dilakukan di Amerika Serikat dan Jepang menunjukan
bahwa dari tangan seorang penyembuh tenaga dalam
(prana) terpancar medan biomagnetik dengan frekuensi
dari 0,3 – 30 hz dengan rata-rata kegiatan disekitar 7-8
hz. Seorang ahli Q-Gong dapat memancarkan medan
cukup besar yang dapat deteksi melalui dua kumparan
dengan 80.000 putaran lilitan. Pengamatan berkembang
ke pengamatan medan akustik (suara) dan medan
panas, selanjutnya melalui temuan-temuan ini
mendorong ilmu kedokteran mulai mempelajarinya.

12
Banyak kemanfaatan dalam penyembuhan dengan
medan biomagnetik ini baik yang dihasilkan oleh praktisi
prana ataupun yang dihasilkan oleh peralatan magnetik.

Sedang berkembang hipotesis bahwa gelombang


biomagnetik otak tidak hanya bekerja diotak saja tetapi
memancar keseluruh tubuh melalui sistem syaraf tepi, ke
sistem jaringan sel sekeliling syaraf. Gelombang
biomanetik otak (otak kecil) terpancar dan tertangkap
oleh “antene“ pada sistem syaraf untuk kemudian
dilakukan tanggapan dari isi perintah otak tersebut.
(Uraian perkembangan diatas dirangkuman oleh Jim &
Nora Oscman, Nature’s Own Research Association in
Dover, New Hampshire, USA).
Dengan tambahan pengetahuan polarisasi magnetik dari
hemoglobin, maka sebenarnyalah sistem peredaran
darah dan syaraf manusia merupakan sistem gabungan
yang saling mendukung dalam percepatan proses berfikir
realisasi kekuatan kehendak, penyembuhan diri dan pe-
nyembuhan dengan tenaga prana biomagnetik.
Jika darah (hemoglobin) menjadi dasar dari sifat
magnetik tubuh dan ditunjang dengan molekul air
didalam tubuh, maka media ini dapat menjalankan
informasi yang sifatnya perubahan sifat medan magnet,
dari satu tempat ketempat lain, maka pertanyaannya
adalah

Apakah ini akan membentuk system syaraf


magnetik manusia?
Secara fisiologis system syaraf manusia atau hewan
bertulang belakang dapat meneruskan informasi motorik
dari panca-indera ke system pusat syaraf, Central
Nervous System (CNS) kemudian dipadukan, ditafsirkan,

13
dirumuskan maknanya dan memerintahkan syaraf
motorik untuk melakukan tanggapan.
Sitem pembawa informasi disebut “neuron motorik “ yang
secara fisik berupa pipa membran (meninge) yang
disebut “axon“ (lihat Gambar 5)
Didalam axon terdapat konsentrasi ion negatif dan diluar
terdapat ion positif, disini ion Na+ dan K+ mengambil
peranan dalam membentuk potensial dasar elektrokimia
dan merespon informasi yang masuk sebagai perubahan
potensial (potensial aksi/picuan).
Adanya potensial aksi akan membuka saluran Na+ untuk
menyalurkan Na+ ke dalam axon, secara bersamaan
terjadi penyaluran ion K+ keluar mengimbangi aliran Na+.
Proses terbuka Na+ kedalam dan penambahan K+ keluar
akan menjalarkan gerakan ini ke segmen axon
didekatnya kearah kemana informasi harus berjalan.
Proses ini seperti penjalaran gelombang elastik dimana
terjadi proses penerusan dorongan atau tarikan.
Demikianlah penjalaran informasi merupakan penjalaran
pembukaan potensial elektrokimia dalam pipa membran
yang merupakan penjalaran (gelombang) kepadatan ion.
Dalam pengertian teori gelombang ini dapat diikatakan
sebagai gelombang ionik.
Merujuk proses tersebut maka untaian magnet elementer
yang berupa molekul hemoglobin dapat berfungsi seperti
ion dalam pipa membran tadi. Jika pada satu posisi
molekul hemoglobin merasakan informasi magnetik (ada
tambahan atau pengurangan medan) maka akan secara
berantai menjalar kepusat syaraf (CNS) magnetik dan
setelah itu akan mengirim tanggapannya ke organ lain
untuk melakukan gerakan tanggapan (motorik). CNS
magnetik juga terletak di otak, karena kedalam otak juga
mengalir darah. Didalam otak informasi jenis manapun
dapat dipadukan dan ditafsirkan.

14
SEL Axon
Jalannya isyarat

Ka+ Na+
a. Axon
++ ++
MERAMBAT

b. Perambatan ++ ++
Potensial Aksi
Ka+ Na+

DIAGRAM AXON DAN PERAMBATAN AKSI POTENSIAL


Gambar 5

15
Disistem syaraf biasa (sistem yang membran
ionik) bisa juga menjalarkan informasi magnetik, karena
perubahan medan magnetik akan memberikan gangguan
pada gerakan ion. Diduga pengaliran kedalam Na+ dan
pengaliran keluar K+ sepertinya menghasilkan medan
magnetik melingkar didalam kulit (membran) pipa dan ini
bersebab akibat dengan penyaluran kepadatan ion
didalam pipa.
Dalam sistem penyaluran informasi magnetik,
hemoglobin dalam pembuluh darah melakukan proses
dukungan (back-up) pada pembuluh syaraf.

2.4. TENAGA MAGNETIK

A
pakah medan magnet dari tubuh manusia juga
dapat membawa tenaga atau energi yang
dihasilkan tubuh?.
Tenaga didalam tubuh manusia berasal dari glukosa dan
lemak. Otak mendapat energi dari glukosa dan oksigen
yang dibawa dari darah. Jaringan lain dari glukosa dan
lemak . Didalam sel tubuh terdapat organ yang berfungsi
mengubah glukosa dan lemak menjadi energi yang dise-
but mitokondria (mitocondria). Didalam mitokondria
terjadi proses dimana glukosa dan lemak berubah
menjadi senyawa mengandung energi yang siap dialirkan
kedalam otot-otot, syaraf dan pembuluh darah. Senyawa
ini disebut Adenosine Triposphate (ATP). ATP terbentuk
kemudian langsung berubah menghasilkan energi secara
bertahap melalui Adenosine Biphosphate dan Adenosine
Monophasphate menghasilkan asam fosfat, air dan
energi, dimana asam fosfat mendaur membentuk ATP
kembali dengan glukosa dan lemak yang akan diproses.

16
Energi yang dihasilkan masuk ke hemoglobin dan
membuat medan magnetiknya berintensitas tinggi
mengandung energi untuk dipancarkan. Menurut ilmu
fisika, energi yang dipancarkan melalui medan magnet
sebanding dengan kuadrat kuat medannya.
Adanya tenaga magnetik akan memperkuat proses kerja
medan magnetik yang terpancar ketika berinteraksi
dengan medan magnet lain.
Kalau dalam proses tersebut seseorang (yang
mempunyai) medan lain sangat peka di syaraf
kesetimbangannya, maka ia mempunyai “kelembaman“
kecil, sehingga akan merasakan dorongan atau tarikan
yang kuat menjadi terpelanting misalnya.
Uraian berikut adalah membahas tubuh manusia atau
tubuh sendiri menjadi suatu Instrumen untuk merasakan
dan bahkan menera suatu gejala magnetik.

17
3. FENOMENA TUBUH
SEBAGAI INSTRUMEN

D
alam sistem ilmiah yang umum dipelajari,
fenomena ilmiah diukur oleh alat atau instrumen,
yang pada umumnya benda mati yang berfungsi
menurut sistem mekanik atau elektronik tertentu, dimana
pengamat dan pengukur ada diluar alat tersebut. Dalam
masalah fenomena magnetik ini tubuh pengamat akan
berfungsi sebagai instrumen pengukur. Dan kemampuan
tubuh sebagai instrumen pengukur termasuk kecerdasan
magnetik juga dari orang tersebut.

3.1. KEKUATAN KEHENDAK (PIKIRAN)


DAN SYARAF MOTORIK

K
ekuatan kehendak adalah kekuatan dari
keinginan seseorang untuk terjadinya sesuatu.
Jika yang diinginkan itu terjadi didalam tubuhnya
maka pada umumnya akan terlaksana (terjadi), karena
perintah itu dilaksanakan melalui syaraf motorik dan
syaraf ini akan menggerakkan organ tubuh sesuai yang
diperintahkan. Perintah ini adalah sangat mudah jika
organ tersebut yang memang melakukan gerak motorik
seperti tangan, kaki, gerak mata, hidung, pinggang,
panggul dan dsb. Tetapi juga dapat berfungsi (dengan
latihan) untuk misalnya mengalirkan panas tubuh ke
bagian yang terasa dingin, mengatasi rasa gatal tanpa
menggaruk, meredakan peristaltik usus dan sebagainya..

18
Terdapat fenomena lain, bahwa pelaksanaan perintah
kehendak dapat dilaksanakan diluar tubuh oleh syaraf
motorik kita, ini merupakan perluasan (ekstensi) syaraf
motorik. Ekstensi ini hanya dapat terjadi jika dari tubuh
dimana syaraf motorik ada memancar medan yang dapat
menstransmisikan gerakan dinamik motorik tersebut

Berikut dapat dicoba fenomena bandul motorik dibawah


ini (lihat Gambar 6)

1. Buat bandul dari seutas, tali rafia tipis (yang tidak


memilin/melintir) sekitar 30 cm dengan benda
pemberat apa saja sebagai bandulnya.
2. Pegang ditangan kanan atau kiri anda dengan siku
tidak bertumpu. Kemudian sedikit menahan napas
agar tangan tidak naik turun, Lakukan konsentrasi
(perhatian sungguh-sungguh) dan perintahkan dalam
hati atau diucapkan agar bandul bergerak maju

19
mundur. Tunggu sebentar, akan terjadi gerak maju
mundur tanpa tangan bergerak.
3. Setelah itu coba perintahkan gerak kiri-kanan, putar
kiri, putar kanan, serong kanan dan sebagainya.
Seluruh gerakan akan terjadi selama didaerah derajat
kebebasan bandul itu dengan tali rafia bertegangan.
Karena tegangan tali adalah medan penyambung
perluasan perintah motorik tersebut.

Terbukti bandul dapat menampilkan gerakan


respon tubuh. Kalau demikian kita dapat praktekan teori
berikut :
Setiap sistem mekanik pasti punya gerak karakteristik
atau fungsi respon. Maka untuk sistem mekanik tubuh
manusia, melalui bandul ini dapat dicari gerak khas yang
dikaitkan dengan kekuatan kehendak dan syaraf
motoriknya.
Untuk maksud itu bandul dipegang tergantung dengan
berkonsentrasi dan pikiran mengatakan “Ya” dan dilihat
respon gerakannya . Bandul akan bergerak dan untuk
seseorang akan bersifat khas tidak berubah. Selanjutnya
dilihat respon bandul untuk pernyataan “Tidak”, dan res-
pon ini juga khas.
Dengan dua gerak “Ya” dan “Tidak” ini sebetulnya telah
mengubah diri kita melalui gerakan motorik tubuh
menjadi instrumen yang responnya dapat dilihat oleh
orang lain. Instrumen ini dapat mengukur suatu keadaan
atau peristiwa yang sudah atau sedang terjadi yang
informasinya masuk ke sistem syaraf pemegang bandul
melalui panca indera atau melalui medan magnet yang
dapat diterima syaraf. Pengukur sebaiknya tidak
mengharapkan jawab tertentu, karena harapan jawab
akan menjadi “noise” (gangguan) pada sistem ini.

20
Selanjutnya alat (scanner) ini akan ditera dengan suatu
pernyataan nyata yang dibuktikan oleh gerakannya.
Misalnya seorang (X) diminta memegang kunci di tangan
kanan, pemegang bandul menanyakan “Apakah kunci di
tangan kanan X ?Bandul akan bergerak “ya”, kemudian
pertanyaan dibalik “Apakah kunci ditangan kiri X ?.
Bandul akan bergerak “Tidak”. Jika tidak terjadi seperti itu
maka gerakan “Ya” dan “Tidak” pemegang bandul belum
mantap/stabil perlu dicari lagi.
Permainan selanjutnya dapat diteruskan dengan para
pemegang bandul beristirahat sebentar agar tidak lelah,
kemudian orang yang pegang kunci tadi
menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuh.
Kunci digenggam disalah satu tangannya, tetapi tidak
telihat oleh para pemegang bandul. Para pemegang
bandul disilahkan menebak dengan mengajukan
pertanyaan “Apakah kunci di tangan kanan X? Gerakan
bandul para peserta akan menjawab pertanyaan itu.Jika
langkah-langkah sebelumnya telah mantap dan baik,
posisi kunci akan dapat diindera secara benar.
Pada kejadian terakhir ini kecerdasan magnetik mulai
berfungsi disini. Si X yang memegang kunci sebetulnya
memancarkan berita tentang posisi kunci melalui
pikirannya sebagai informasi yang terkandung di medan
magnet yang dipancarkannya. Selain itu posisi kunci
sendiri juga memberikan medan magnet yang berbeda.
Pancaran ini sebenarnyalah diterima oleh para
pemegang bandul dan kebenarannya dikonfirmasikan
atau diukur oleh gerakan bandulnya. Kecerdasan
magnetik telah berfungsi pada para pemegang bandul

21
3.2. MENERIMA DAN MEMANCAR

U
ntuk selanjutnya akan digunakan istilah medan
magnetik yang dapat dirasakan orang atau
medan magnetik yang dipancarkan manusia
sebagai medan biomagnetik.
Beberapa bagian tubuh tertentu peka pada medan
biomagnetik. Yang paling mungkin adalah telapak tangan
yang punya fungsi peraba mekanik. Hal ini disebabkan
medan biomagnetik luar akan mempengaruhi medan
magnet pembuluh darah pada telapak tangan dan
menghasilkan gerakan mekanik dorongan, tarikan atau
getaran dan ini dapat dirasakan oleh telapak tangan
(dengan sendirinya perlu melalui latihan).
Bagian tubuh lainnya yang dapat dilatih kepekaannya
terhadap medan biomagnetik adalah indera penglihatan.
Perlu diketahui bahwa medan biomagnetik dapat
22
memantulkan atau memancarkan cahaya, sehingga
dapat dilihat kelainannya melalui penglihatan. Tentang
kepekaan ini akan dibicarakan lagi ketika membahas
kecerdasan magnetik.

Medan magnetik tubuh yang berasal dari hemo-


globin adalah menjadi medan dasar (rujukan) dari variasi
perubahan medan. Medan ini lebih bersifat dekat de-
ngan statik karena frekuensi amat rendah atau gelom-
bang panjang.
Pada posisi medan dasar ini perubahan medan magne-
tik dapat terjadi karena perubahan harmonik (getaran)
atau perubahan tambahan yang sifatnya kejutan. Secara
fisika perubahan medan magnet terhadap waktu akan
menimbulkan gelombang elektromagnetik yang mempu-
nyai komponen magnetik dan listrik.
Dengan adanya sifat elektromagnetik ini maka informasi
magnetik dapat terpancar jauh, apalagi jika penerima
dapat melakukan “tuning” atau resonansi secara baik
sehingga akan terbentuk gelombang koheren yang
memudahkan proses transmisi informasi. Frekuensi
gelombang bioelektromagnetik ini diduga dibawah 10 hZ
.

3.3. “Benda Magnetik”

Y
ang termasuk benda magnetik adalah sesuatu
yang bersifat magnetik dan memancarkan medan
magnet, tetapi juga yang menolak medan magnet
(diamagnetik) dan gerakan-gerakan yang menghasilkan
perubahan medan magnet.

23
Berikut adalah, contoh benda yang termasuk “benda
magnetik”:
1. Benda mengandung logam atau Fe dan Mg
logam secara umumnya khususnya yang
mengandung Fe dan Mg atau unsur transisi
di susunan berkala, batu-batuan berwarna
gelap (basalt, andesit, dasit, gabro, cadangan
mineral).
2. Benda yang menolak medan magnet luar
(magnet bumi) seperti : kayu, plastik, kaca,
dsb.
3. Benda yang dapat menyimpan energi seperti
kristal, batu mulia , permata, kumparan,
kubah, benda-benda runcing.
4. Benda yang mengandung air seperti, sumur,
sungai sumber air bawah tanah , barang
lembab, pohon-pohonan.
5. Makhluk hidup : manusia dan binatang.
6. Dengan gerakan tertentu orang dapat
menghasil-kan medan magnet atau
perubahan magnet.
7. Sumber medan magnet seperti : daerah
konvergensi medan (karena mangandung
benda magnet), mahkluk halus (gumpalan
medan magnet hidup). Gumpalan pada
pembuluh darah, syaraf, membran-membran
penyaring dsb.

24
4. KECERDASAN
MAGNETIK
S esuai dengan pengertian kecerdasan magnetik , di
bab ini akan dibahas:

Ba
gai-
ma
na
pen
gin-
der
aan
bio
ma
g-
neti
k.
• Membangun kecerdasan magnetik
•Pengalaman empirik kecerdasan magnetik.

4.1. PENGINDERAAN BIOMAGNETIK

D
engan memahami makna kemagnetikan tubuh
manusia, maka yang amat penting adalah
bagaimana penginderaan biomagnetik dapat
terjadi. Dari uraian sebelumnya tampak yang sangat
utama adalah kekuatan kehendak untuk agar dapat
mengindera isyarat (sinyal) biomagnetik. Konsentrasi
25
pada bagian tubuh yang bersifat magnetik, diarahkan ke
obyek yang diduga memancarkan isyarat tersebut. Me-
mejamkan mata adalah upaya agar energi tidak terbuang
melalui indera penglihatan dan ini dapat meningkatkan
konsentrasi pemikiran, demikian juga dengan indera
pendengaran dan penciuman.
Telah disinggung sebelumnya bahwa telapak tangan
secara naluri dapat diaktifkan sebagai alat pengindera
karena berbagai fenomena magnetik dapat dikonversikan
menjadi fenomena mekanik yang dapat dirasakan oleh
kulit telapak tangan.
Selanjutnya yang dapat difungsikan dengan baik adalah
indera penglihatan, mengingat pembuluh darah dan
syaraf sangat rapat dimata untuk merespon cahaya yang
tidak lain juga gelombang elektromagnetik. Konsentrasi
dan keinginan mengindera medan magnet dengan
latihan akan melebarkan selang frekuensi spektra
elektromagnetik yang dapat diindera oleh mata. Bantuan
kepekaan magnetik dipembuluh darah membentuk
proses peningkatan kepekaan ini.
Demikian juga yang terjadi pada indera pendengaran,
getaran-getaran frekuensi rendah yang biasanya tak
terdengar dapat didengar.

Berikut beberapa “citra” hasil penginderaan karena


adanya peningkatan kepekaan (hasil pengalaman
beberapa orang).
• Seseorang dapat melihat pancaran bioelektro-
magnetik dari tubuh seseorang (ini disebut
“aura“ ) dalam warna dan kombinasi warna
tertentu.
• Seseorang yang dapat melakukan terapi magnetik
dapat melihat seseorang dalam citra seperti foto

26
rontgen hitam putih. Yang normal berwarna putih
dan yang sakit berwarna gelap (hitam).
• Seseorang dapat merasakan adanya benda logam
atau bukan logam dengan merasakan adanya
getaran atau, rasa seperti tertusuk jarum pada
telapak tangannya.
• Seseorang dapat mendengar seseorang bersuara
secara jelas padahal orang tersebut berada
ditempat jauh.
• Seseorang dapat melihat bayang-bayang atau
citra “makhluk halus”.
• Seseorang ditutup matanya tetapi dia dapat
mengenal jalan dan tidak menabrak barang-
barang yang ada didepannya (seakan akan
seperti tidak ditutup matanya).

4.2. MEMBANGUN KECERDASAN


MAGNETIK

D
ari uraian sebelumnya maka latihan dasar
kecerdasan magnetik terdiri dari latihan-latihan
sebagai berikut:
Latihan agar dapat mempolarisasikan (magnetik) darah
dengan:
• Melancarkan gerakan organ tubuh dengan olah
raga menahan napas (anaerob).
• Bernapas pelan dan halus secara tidak tergesa -
gesa.
Olahraga anaerob adalah untuk membakar lemak dan
sel-sel yang rusak dengan oksigen yang diambil oleh

27
darah, dan karena napas ditahan maka molekul
hemoglobin akan mempolarisasikan diri searah.
Olahraga ini akan menghasilkan gerakan ekstra pada
organ internal untuk berfungsi lebih aktif memanfaatkan
oksigen. Demikian juga gerakan ekstra terjadi pada
kelenjar-kelenjar hormonal. Keteraturan olahraga ini akan
menyehatkan organ internal.
Olah raga anaerob ini akan melengkapi olah raga aerob,
Olah raga aerob (aerobik) adalah melatih otot-otot agar
paru-paru dapat menghirup oksigen sebanyak-
banyaknya, sedangkan olahraga anaerob adalah
memanfaatkan oksigen yang terserap seefektif mungkin.

Bersama latihan ini rasa (emosi) diarahkan secara


berkonsentrasi mengikuti arah gerakan.Dalam proses ini
orang dilatih sabar dan perhatian pada gerakan akan
meningkatkan efektivitas proses oksidasi dan metabolis-
me organ - organ internal. Kembali lagi “flushing” (pem-
bilasan) melekul-melekul darah dan syaraf, THT (telinga,
hidung, tenggorokan) dsb. Polarisasi hemoglobin terjadi
lebih baik dan dapat “stabil” serta terjadi proses pembia-
saan dirinya.
Untuk penyempurnaan latihan dasar ini, perlu dilakukan
bantuan hali fisiologi ataupun syaraf (dalam hal ini pe-
latih) melakukan kejutan pada otot dan simpul-simpul
syaraf tertentu agar proses “pengaliran” darah dan
isyarat pada syaaf menjadi lancar.

Perlu diberikan catatan :


Bahwa latihan ini karena dengan menahan nafas perlu
diawasi oleh pelatih (guru) yang memahami olah raga ini
agar tidak terjadi kesalahan dalam menahan nafas dan
gerakan.

28
Latihan ini dilakukan secara teratur tidak terlalu sering,
tetapi setiap latihan harus berkonsentrasi. Kemanfaatan
muncul karena rajinnya latihan. Olah raga ini biisa
diajarkan oleh kelompok senam pernafasan dan
kelompok olah raga beladiri

Setelah melalui latihan dasar dihasilkan dasar kekuatan


dan kepekaan yang stabil, mulailah dibangun kecerdasan
magnetik yaitu memanfaatkan kemampuan menerima
isyarat biomagnetik untuk membangunnya menjadi suatu
kecerdasan yang bermanfaat. Berikut adalah langkah-
langkah yang dapat dirujuk :
a. Memfungsikan kekuatan kehendak misalnya
untuk:
 mengalirkan hawa hangat yang terbentuk
ketika menahan nafas ke berbagai bagian
pada tubuh.
 Mengencangkan otot pada organ tubuh.
 Mengeluarkan tenaga dan “meletakkannya“
disuatu titik untuk diindera oleh orang lain.
 Memusatkan tenaga fisik di tangan atau jari,
kemudian digunakan untuk mematahkan atau
membengkokan benda padat (tenaga dalam
fisik).
b. Memfungsikan kekuatan kehendak dan logika
untuk menafsirkan informasi magnetik yang
masuk, dengan menghasilkan “citra magnetik“
dari informasi tersebut sehingga mudah penaf-
sirannya secara logik.
c. Melatih menggabungkan beberapa hal yang
berlogika yang saling terkait dengan menahan
nafas, agar gabungan pengertiannya mudah
dan cepat dipahami serta cepat pula logika ga-
bungan ini dapat digunakan untuk analisis.

29
d. Melatih kepekaan dan mengindera benda
dengan mata tertutup untuk mencirikan :
warna, bentuk keseluruhan, tulisan dsb. Ini
adalah mengembang-kan kemampuan “mata
magnetik “
e. Melatih suatu proses otomatis penafsiran, di-
mana tanpa kondisi sadar kita mengolah in-
formasi, dan secara tak sadar kita mendapat
pengetahuan atau kesimpulannya, yang jika
kita ungkapkan ternyata betul. Ini memang
seperti proses tidak sengaja (kebetulan), tetapi
beberapa pengalaman “kebetulan“ tersebut
sering terjadi Inilah latihan mengembangkan
“firasat“ atau “intuisi“
f. Melatih sinkronisasi dengan kawan (tuning)
untuk latihan :
- merasakan tenaga kawan
- memahami informasi yang dikirim
(telepati)

- mencoba melakukan perlakuan terapi


pada sakit yang sifatnya metabolisme;
pusing, mual, pegal dsb
g. Dengan konsentrasi melatih organ-organ in-
ternal pencernaan kita untuk menolak (tidak
mencerna) makanan-makanan yang tidak baik
bagi kesehatan.
h. Melatih mengeluarkan tenaga (energi) atau
medan untuk perlindungan diri, melindungi
orang lain atau melindungi kawasan.
i. Melatih mengeluarkan tenaga dalam untuk
mempolarisasikan molekul air ( yang para-
magnetik ). Air terpolarisasi ini biasanya untuk
terapi kesehatan.

30
j. Bagi olahragawan adalah berlatih untuk me-
musatkan tenaga pada otot dan organ , serta
memancarkan medan untuk perlindungan diri
agar tidak terjadi kecelakaan.
k. Berlatih mentransfer “ keinginan “ ke orang
lain, ini adalah jenis hipnotisme.

4.3. ASPEK SPIRITUAL KECERDASAN


MAGNETIK

K
ecerdasan magnetik dalam pengertian diatas,
dapat diperoleh melalui cara-cara spiritual, karena
Tuhan-lah yang mengabulkan dan membuatnya
terbentuk.
Ketika seseorang berdoa dengan konsentrasi dan
khusu’, maka ia melakukan :
- penahanan nafas atau pernafasan pelan
dan halus
- menutup pancaindera (untuk tidak
mengindera sesuatu) agar konsentrasinya
bagus.
Disinilah ia memfungsikan dan melatih indera magnetik-
nya.
Dimasyarakat beragama dan budaya timur (Budha,
Hindu ) cara ini dikenal dengan istilah meditasi.
Dikompleks - kompleks sekolah agama : pesantren ,
padepokan kuil, seminari dsb, biasanya selain latihan-
latihan ritual, para warganya juga dilatih untuk olah raga
kesehatan tubuh internal seperti olah raga pernafasan
dan bahkan olah raga beladiri Kesemuanya ini penulis
persepsikan sebagai salah satu latihan untuk
memfungsikan kecerdasan magnetik, kekuatan
31
kehendak dan berkonsentrasi agar medan biomagnetik
(bioelektromagnetik) makin kuat dan bebas “noise“
(gangguan) sehingga menjadikan (doa permohonan)
makin kuat (jelas), jadi dapat dimengerti kalau cepat
dikabulkan.

Dalam konteks spiritual ini kecerdasan magnetik


banyak digunakan atau dikembangkan kearah kemam-
puan melihat dan berkomunikasi dengan mahkluk halus.
Ini dapat dimengerti seperti yang dijelaskan bahwa
mahkluk halus adalah sumber atau gumpalan medan
bioelektromagnetik yang dinamik (selfdynamic).
Mahkluk halus dapat diindera. Mereka dapat ber-ubah-
ubah frekuensi, maka kalau mereka masuk kedalam
spektra visual, mereka memantulkan atau memendarkan
cahaya sehingga dapat dilihat oleh mata atau terekam
oleh alat fotografi.
Fakta menunjukkan bahwa orang-orang tertentu dapat
melihat dan atau berkomunikasi dengan mereka. Ini arti-
nya manusia dan mereka mempunyai “bahasa bersama“
dimana komunikasi dapat berlangsung.

Kecerdasan magnetik dalam spiritual akan


meningkatkan kecerdasan dalam pemahaman masalah
agama dan kepercayaan. Informasi kadang-kadang
diyakini datang dari yang Maha Kuasa, karena muncul
secara intuitif, cepat (otomatis) dan pada umunya
sangat jelas dipahami : dikabulkan, ditolak atau diberikan
alternatif lain. Iman atau keyakinan kepada Yang Maha
Kuasa membuat kecerdasan magnetik manusia dapat
memahami aspek ghaib (yang tidak dapat kelihatan
mata), sebagai sesuatu yang ada dan diakui perannya
dalam kehidupan.

32
Walaupun demikian dapat terjadi sebaliknya jika
kecerdasan magnetik ini digunakan untuk memahami
atau meyakini sisi buruk dari kehidupan, maka kesana
pula arahnya.
Disinilah manusia diberi kebebasan untuk memilih “jalan“
baik atau “jalan“ buruk bagi dirinya.

4.4. SISTEM SYARAF DALAM


KECERDASAN MAGNETIK

D
ari pengertian dan hal-hal praktikal yang telah
diuraikan maka magnetisasi dari hemoglobin
akan merubah jangkauan pancaindra atau indera
lain dalam menerima dan mengirim informasi ke otak
baik kebagian sadar atau bawah sadar. Informasi
magnetik dapat masuk tanpa disadari dan masuk
kebawah sadar (lihat Gambar 7). Didalam otak informasi
tersebut diolah untuk menghasilkan “kesimpulan dan
solusi” yang harus ditindak lanjuti oleh syaraf motorik ke

33
anggota tubuh. Sistem gelombang biomagnetik otak dan
penguatan medan hemoglobin menghasilkan proses
yang lebih cepat. Selain itu waktu syaraf motorik
menjalankan aksi akan dibarengi kekuatan kehendak
yang juga perintah otak memancar rmelalui medan
biomagnetik keluar tubuh.

Sesuai dengan fungsi medan (seperti tegangan


tali pada bandul) maka medan biomagnetik ini akan
menjalankan “perintah ” otak. Jika seseorang “tuning”
(menerima secara baik) gelombang pancaran ini, maka
syarafnya akan menerima “perintah” dan
menjalankannya baik perintah tersebut yang sifatnya
gerakan ataupun proses-proses mikro yang terjadi di
syaraf-syaraf organ, termasuk reaksi-reaksi elektrokimia
yang harus terjadi dalam tubuh.

Ketaatan pada perintah akan memberikan nilai


keberhasilan dari kekuatan kehendak melalui media
medan biomagnetik ini. Demikianlah kecerdasan
biomagnetik berfungsi dalam mempengaruhi orang lain.
Dalam contoh ini dapat dijalankan proses terapi biomag-
netik, hipnotisme (membuat orang menurut perintah) dan
telepati.

34
35
5. PENGALAMAN
KHUSUS

5.1. TERAPI BIOMAGNETIK

B erikut disajikan beberapa pengalaman tentang terapi


biomagnetik.
Terapi biomagnetik dilakukan oleh seseorang yang ahli
dalam tenaga magnetik dan pengolahan kekuatan
kehendaknya pada pasien yang sakit. Penyakit
metabolistik pada umumnya dapat disembuhkan dengan
terapi ini.
Penyembuh (terapist) dan pasien saling “tuning”
dengan pasien dan harus menerima perlakuan terapi
padanya. Secara mekanistik terjadi proses berikut:
a. Medan biomagnetik terpancar (kuat) dan diterima
oleh pasien terjadilah gelombang interferensi tegak
(standing wave) sebagai gelombang pembawa dan
upaya terapi sebagai gelombang modulasi yang
membawa perintah terapist masuk ke pasien.
Demikianlah kecerdasan magnetik terapist
berfungsi, gelombang tegak pembawa adalah
medan yang dapat melalukan perintah motorik (lihat
kasus bandul) gerakan motorik).
b. Didalam medan gabungan pada pasien dimana
sipasien relax menerima, terjadi pengambil alihan
perintah motorik terapi. Perintah dari terapist diturut
oleh syaraf-syaraf motorik pasien untuk melakukan
gerakan-gerakan atau reaksi-reaksi elektrokimia un-
tuk penyembuhan penyakit.

36
Berikut contoh terapi pada beberapa penyakit
metabolistik.

SIMPTON PERINTAH TERAPI GEJALA


SAKIT PENYEMBUHAN
1 Rasa kaku pada •Pijat otot dan syaraf •Berkeringat
tengkuk dan •Alirkan terapi (flush) •Kaku dan pusing hilang
pundak disertai •Luruskan syaraf yang “keriting” •Langsung minum air hangat
pusing
2 Sumbatan pada •Alirkan tenaga (flush) •Berkeringat
hidung dan pen- •Pijat dan “kerok” tenggorokan •Tenggorokan akan ringan
dengaran •Tarik sumbatan pendengaran •Hidung beringus
•Luruskan syaraf yang keriting •Langsung minum air hangat

3 Mual dilambung, •Aliran tenaga (flush) •Berkeringat


tidak dapat •Menetralisasi asam lambung •Mual hilang dapat
kebelakang, agak •Pijatan lambung dan punggung bersendawa
pusing •Muncul rasa lapar, segera
makan dan minum air
hangat

4 Deman berdarah •Alirkan tenaga (flush) •Agak ringanan


disepanjang tulang belakang •Berkeringat
sambil dipijat apakah ada rasa •Biasanya ngantuk terus
sakit. tertidur
•Alirkan tenaga pada alat-alat •Amati berupa trombosit
pembuangan: ginjal, paru-paru,
usus besar, lambung.
•Sirkulasi tenaga melalui kaki
kiri dan kanan.
•Beri minum air yang telah
dipolarisasikan.

5 Sakit ketika men- •Alirkan tenaga (flush) proses •Sakit berkurang


struasi yang terganggu •Menstruasi lancar
•Hancurkan gumpalan darah di
indung telur
•Beri minum air terpolarisasi

37
c. Terapi melalui air minum
Air minum (H2O) dapat dipolarisasikan dengan
mengalirkan energi kedalamnya. Kekuatan kehen-
dak terapist mengalirkan tenaga dari tangan kanan
(misalnya) dan menariknya dengan tangan kiri, atau
kedua tangan kanan kiri mengalirkan tenaga
(mungkin keduanya berbeda jenis tenaganya) ke-
dalam air. Air akan terpolarisasi dan akan menyim-
pan informasi (perintah) atau doa penyembuhan. Air
kemudian diminum oleh pasien. Dalam waktu
kurang dari 30 menit pasien akan merasa relax
mengantuk dan tertidur. Tidur nyenyak terjadi dan
didalam kondisi tidur terapi. Ketika bangun 1-2 Jam
kemudian sakit-sakit metabolistik berkurang dan
menuju sembuh.

d. Terapi jarak jauh


Terapist dan pasien tidak perlu harus kontak tapi
dapat jarak jauh dan proses dapat berjalan, ter-
gantung pada media komunikasi yang dilakukan.
Jika melalui telepon dapat langsung, tetapi jika me-
lalui SMS akan ada keterlambatan.

e. Proses terapi sendiri


Proses penyembuhan sendiri dapat dilakukan de-
ngan berkonsentrasi dan mengalirkan tenaga sen-
diri dengan kekuatan kehendak. Proses ini perlu ke-
sabaran. Cara spiritual sangat dianjurkan untuk
terapi ini.
Proses penyembuhan sendiri dengan memanfaat-
kan tenaga terapist lebih terasa, sehingga mening-
katkan rasa optimistik.

38
Terapi magnetik tidak dapat menyembuhkan segala
penyakit. Sifatnya lebih komplementer. Pengobatan
penyakit secara kimia yaitu minum obat atau diberi
suntikan itu relatif lebih cepat. Walaupun demikian
dalam beberapa hal pengobatan magnetik
dianjurkan jika pengobatan secara medis (kimia)
kurang berhasil.

5.2. Mendianogsis penyakit dengan


bandul motorik

P
erhatikan bab. 3 dalam contoh bandul motorik.
Pendianogsis dengan bandul berhadapan dengan
pasien dan melakukan “tuning” Pendiagnosis mulai
menanyakan tanpa dijawab oleh pasien :
- Apabila pasien sering pusing-pusing?
- Apabila ada sakit di lambung?
- Apabila ada kelainan di ginjal?
- Dan seterusnya
Bandul motorik akan bergerak “ya” atau “tidak” sesuai
kebenaran sakit yang ada di pasien.
Pertanyaan yang lebih rinci merujuk anatomi, fisiologis,
syaraf dan sebagainya akan memberikan informasi yang
lebih tepat tentang penyakit tersebut.

5.3. “HOLOGRAM” ILUSI

39
S
uatu saat seorang Bapak harus meninggalkan
rumah karena suatu tugas yang agak lama (sekitar
7 hari) sedangkan dirumah tingal istri dan anak-
anak yang wanita semua. Ada sedikit khawatir baik di
diri si Bapak ataupun keluarga. Mereka sekeluarga ber-
doa semoga keadaan di rumah baik-baik saja selama si
Bapak keluar kota. Si Bapak kemudian berkonsentrasi
“melakukan pemagaran rumah“ dengan tenaga dalam
dan ”berkehendak” melakukan pengawasan khusus.
Ketika kembali dari tugas berbagai ceritera terjadi :
• Anggota keluarga dirumah merasa seakan-akan si
Bapak ada dirumah. Memang ini membuat anak-
anak menjadi takut
• Tetangga dan hansip melihat si Bapak ada
dirumah, sedang menutup pintu atau jalan-jalan
dihalaman.
Demikianlah kekuatan kehendak dan energi biomagnetik
dapat menghasilkan “hologram ilusi”.

40
6. PENUTUP

Mengakhiri tulisan ini beberapa hal dapat disimpulkan


antara lain :

1. Bahwa kecerdasan magnetik perlu mendapat


pengkajian sungguh-sungguh dan pendekatan
ilmiah selalu perlu dilakukan agar berbagai hal
yang masih belum jelas atau “ misteri “segera
dapat dijelaskan atau dibuktikan secara ilmiah.

2. Bersama dengan pertumbuhan keyakinan para


kaum terpelajar, sebaiknya latihan-latihan dasar
untuk menumbuhkan kecerdasan magnetik
sejak umur muda dapat dilaksanakan . Seiring
dengan pembelajaran ini, pendidikan keimanan
dan agama perlu diberikan agar manfaat
kecerdasan magnetik dan kecerdasan lainnya
adalah bagi kemanfaatan manusia.

3. Bahwa jenis kecerdasan magnetik yang berupa


kemampuan antara lain
o menyehatkan darah dan organ internal tubuh
o menerima dan mengindera informasi dan
fenoma biomagnetik
o mengembangkan intuisi
o terapi kesehatan orang lain
o melakukan komunikasi telepati
o mempengaruhi perhatian orang lain
o kepekaan terhadap kejadian-kejadian yang
memancarkan medan bioelektromagnetik

41
4. Kemampuan tersebut dapat diarahkan untuk
mendeteksi awalan (precursor) terjadinya bencana
alam, khususnya yang dapat memancarkan medan
elektrostatik, medan magnetik sesaat, dan medan
elektromagnetik seperti :
o erupsi gunung api
o gempa bumi magnitudo besar
o tanah longsor
o jebolnya tanggul atau bendungan

Dan jika ini mungkin, maka akan menghasilkan


kemanfaatan.

5. Selanjutnya jika ada yang akan melakukan studi atau


kajian, beberapa hal berikut dapat dilakukan, yaitu :
Bidang biofisika medis :
o Mempelajari lebih lanjut sistem syaraf ke-
cerdasan magnetik
o Pengukuran-pengukuran medan biomagnetik
dalam latihan olahraga pernafasan.
o Melakukan pengukuran pada seseorang
yang sedang memfungsikan kecerdasan
magnetik-nya.

6. Bidang Sosial Budaya dan Agama :


Perlunya sosialisasi penjelasan tentang kecerdas-
an magnetik ini sebagai suatu upaya menjelaskan
secara ilmiah berbagai fenomena yang dikenal
dengan sebutan “misteri“

Demikianlah berbagai hal yang dapat penulis sampaikan


dalam tulisan ini

42
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A.L.G. Mitchell, J.B. Reece, 1999 Biology


Concept and Connection, Addison Wesley Longman
Inc , San Fransisco

Hendrajaya L, 2003, Penjelasan fisika tentang


magnetisasi tubuh manusia dalam latihan pernafasan
dan memanfaatannya (dicetak khusus dan
disebarluaskan)

Sheeler, Philips, Donald E, Biachi, 1987, Cell and


Molecular Biology, 3rd ed, John & Wiley & Son, Inc

43
LAMPIRAN A

DASAR - DASAR UMUM TEORI


KEMAGNETAN

a. Satu arus listrik (I) searah akan menghasilkan


medan magnet statik (B) yang merupakan vektor
(mempunyai arah) yang arahnya tegak lurus
arah arus berputar seperti putaran pembuka ga-
bus tutup botol yang majunya sama dengan
majunya arus.

I
B
B
I
Besarnya B berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak (r) dari sumbu arus listrik penyebab (Hukum
Bio-Savart)

b. Sebuah arus listrik didalam medan magnet akan


mengalami gaya dorong / tarik (F) yang tegak
lurus pada arus dan medan magnet (H) tersebut
dan arahnya searah majunya pembuka tutup
botol jika diputar dari arah arus (I) ke arah
medan magnet (H) (Hukum Lenz)

44
c. Sebuah magnet dipol (U-S) elementer adalah
dihasilkan oleh arus listrik (I) yang melingkar
(Hukum Ampere).
Dipol magnet mempunyai Kutub Utara dan Kutub
Selatan.
U

U: UTARA S
S: SELATAN

d. Interaksi kutub magnet


- Kutub sejenis (U dengan U, S dengan S)
akan tolak menolak
- Kutub berlawanan jenis (U dengan S) akan
tarik menarik.
- Kutub-kutub dipol didalam medan magnet
serba sama akan terputar (rotasi)
- Magnet dipol akan terputar dan terdorong
jika berinteraksi dengan Magnet dipol lain
yang lebih kuat.

45