Anda di halaman 1dari 9

Nama : Mediana Novia NPM : 110110100402

Hukum Pembuktian Dalam Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Salah satu hal penting yang harus dilakukan hakim dalam pemeriksaan pengadilan adalah dengan cara yang tepat (sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam peraturan pembuktian) menetapkan terbuktinya eksistensi fakta-fakta yang relevan untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam putusan akhir nanti yang disingkat dengan kata pembuktian. Membuktikan atau memberikan pembuktian adalah: dengan alat-alat pembuktian tertentu meberikan suatu tingkatan kepastian yang sesuai dengan penalaran tentang eksistensi fakta-fakta hukum yang disengketakan.1 Yang dimaksud dengan fakta-fakta adalah:2 1. Fakta hukum: Kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang eksistensinya (keberadaannya tergantung kepada penerapan suatu peraturan. 2. Fakta-fakta biasa: Kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang juga ikut menentukan adanya fakta-fakta hukum tertentu. Fakta Sebagai Dasar Menguji Dan Dasar Untuk Mengeluarkan Putusan Baru3 Dalam proses di muka hakim TUN akan dijumpai macam-macam kompleks fakta yang relevan: Pertama: ada kompleks fakta- fakta yang relevan untuk menguji keputusan yang digugat. Dalam kenyataanya nanti yang akan banyak disengketakan itu justru bukan keputusan yang digugat,
1

Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara , Buku II, Pustaka Sinar

Harapan, Jakarta, 2003, hlm.185.


2 3

Ibid, hlm. 185-186. Ibid, hlm. 186.

melainkan fakta-fakta yang digunakan tergugat sebagai dasar untuk mengeluarkan keputusan yang digugat. Kedua: fakta-fakta itu berperan untuk pengambilan keputusan (pengganti) yang baru sesudah dilakukan pembatalan (pasal 97 ayat 9). Sebaliknya disini fakta-fakta yang akan digunakan untuk menerbitkan keputusan (pengganti) yang baru itu harus sudah memiliki suatu tingkat kepastian yang tidak meragukan Tidak Semua Fakta Perlu Dibuktikan4 Ada fakta-fakta tertentu yang dikecualikan untuk dibuktikan, diantaranya: 1. Fakta-fakta yang sudah diketahui secara umum (pasal 100 ayat 2 UU No.5 Tahun 1986) 2. Hal-hal yang menurut pengalaman umum selalu terjadi suatu perbuatan yang dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian, apabila kejadian tersebut menurut pengalaman umum dapat diharapkan selalu akan terjadi karena perbuatan semacam itu. 3. Fakta- fakta prosesual yang terjadi selama pemeriksaan, hakim tidak memerlukan pembuktian dalam proses tersebut. 4. Eksistensi hukum pun tidak perlu dibuktikan, karena hakim dianggap selalu mengetahui apa hukumnya (ius curia novit). Ajaran Pembuktian Bebas yang Terbatas5 Pasal 100 (UU No. 5 Tahun 1986) 1) Alat bukti ialah : a. surat atau tulisan; b. keterangan ahli; c. keterangan saksi; d. pengakuan para pihak; e. pengetahuan Hakim. 2) Keadaan yang telah diketahui oleh umum tidak perlu dibuktikan.

4 5

Ibid, hlm. 188. Ibid, hlm. 189-195.

Pasal 107 (UU No. 5 Tahun 1986) Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian, dan untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan Hakim.

Hukum pembuktian yang berlaku dalam hukum acara peradilan TUN seperti di Netherland unpamanya adalah ajaran pembuktian yang bebas. Karena hakim adaministrasi disana pada dasarnya bebas dalam menentukan luas pembuktian maupun dalam penentuan alatalat pembuktian yang digunakan untuk membuktikan suatu fakta. Sedangkan yang kita anut dalam hukum acara TUN kita sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1986 adalah ajaran pembuktian bebas terbatas.

Dikatakan bebas terbatas adalah karena mengenai alat-alat bukti yang boleh digunakan dalam membuktikan sesuatu sudah ditentukan secara limitatif dalam pasal 100. Selain itu juga dalam pasal 107 hakim dibatasi dalam wewenangnya untuk menilai sahnya pembuktian, yaitu paling sedikit harus ada 2 alat bukti berdasarkan keyakinan hakim. Ajaran pembuktian itu meliputi bidang: 1. Luas pembuktian Mengenai Luas pembuktian, Undang-undang hanya menentukan dalam pasal 107 bahwa: Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan (luas pembuktian), beban pembuktian beserta penilaian pembuktian, dan untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan Hakim. Fase pertama dalam proses pembuktian, artinya mula-mula hakim menentukan fakta-fakta apa yang relevan bagi putusan akhir nanti. Sesudah itu hakim meneliti menurut keyakinannya faktafakta mana yang dianggapnya sudah cukup pasti. Kemudian ia melihat fakta-fakta mana saja lagi yang masih perlu dibuktikan. Ini semua yang dimaksud dengan luas pembuktian.

2. Pembebanan pembuktian (pembagian beban pembuktian)

Sekalipun sudah tentu para pihak juga dapat menjaukan usul-usulnya dan menawarkan diri untuk membuktikan hal-hal yang dapat mempengaruhi putusan akhir kelak, namun hakim yang akan melakukan pembagian beban pembuktian itu menurut kriteria tertentu. Beban pembuktian adalah kewajiban yang dibebankan kepada suatu pihak untuk membuktikan suatu fakta di muka hakim yang sedang memeriksa perkara itu. Mengenai beban pembuktian dalam hukum acara perdata, hanya diatur dalam pasal 1865 KUHPerdata. Dalam literature terdapat teori-teori mengenai pembagian beban pembuktian ini sebagai berikut: a) Teori beban pembuktian yang afirmatif: Teori ini sesuai dengan adagium: Ei incumbit probation qui dicit, non qui negat. Artinya: beban pembuktian itu dibebankan kepada pihak yang mendalilkan sesuatu, bukan yang mengingkari sesuatu. Jadi sedapat mungkin pembebanan pembuktian yang bersifat negatif itu dihindarkan, sekalipun bahwa sesuatu yang negatif seperti yang didalilkan itu dalam keadaankeadaan tertentu bukan suatu hal yang mustahil bisa terjadi. b) Teori hukum subjektif: Teori ini lahir dari teori yang pertama tersebut diatas dan berpangkal pada dalil bahwa beban pembuktian itu seharusnya diletakan pada pihak yang meminta kepada hakim agar hak subjektif yang didalilkannya diakui. Jadi siapa berdasarkan suatu hak subjektif menuntut sesuatu dan hal itu disangkal oleh pihak lawannya, maka yang menuntut sesuatu tersebut harus membuktikan fakta-fakta yang melahirkan hak subjektifnya tersebut. Tetapi apabila pihak tergugat itu mendalilkan, bahwa fakta-fakta yang melahirkan hak subjektif itu mengandung suatu cacad atau sementara itu hak subjektif yang dituntut tersebut telah hapus, maka fakta-fakta yang adanya cacad-cacad yang mengganggu atau bersifat membatalkan tersebut telah harus dibuktikan oleh pihak tergugat. c) Teori hukum objektif: Menurut teori ini, setiap kali hakim harus meneliti dalam peraturan hukum material yang diterapkan unsur-unsur (fakta-fakta) apa saja yang harus ada agar dapat menimbulkan akibat hukum seperti yang didalilkan oleh penggugat. Suatu peraturan mengatakan: pegawai yang ternyata tidak cakap dapat dipecat oleh atasannya. d) Teori Keadilan (billijkheids theori)

Beban pembuktian mengenai suatu fakta akan diletakkan pada pihak yang paling sedikit diberatkan oleh pembebanan pembuktian tersebut. Kelemahan teori ini berupa ketidakpastian bagi para pihak untuk menyiapkan diri tentang apa saja yang harus ia buktikan dalam proses dan juga bagi hakim sendiri teori itu tidak memberikan suatu pedoman, karena keadilan itu merupakan pengertian yang samar-samar. Peninjauan tentang teori beban pembuktian yang berlaku dalam hukum acara perdata itu juga sedikit banyak mempunyai suatu arti dalam proses hukum TUN ini. Karena dalam teoriteori tersebut diajukan macam-macam pilihan yang juga dapat dipilih oleh hakim TUN. Pangkal Tolak Pembagian Beban Pembuktian6 Pembagian beban pembuktian dalam proses peradilan TUN ini dapat diterapkan beberapa pangkal tolak sebagai berikut: 1. Pengumpulan bahan-bahan pembuktian itu dilakukan baik oleh pihak-pihak maupun oleh Pengadilan sendiri. 2. Para pihak itu memang berwenang untuk membuktikan sesuatu, namu ia tidak otomatis wajib membuktikan dalil-dalilnya. Mereka dapat menyerahkan dikumen-dokumen membawa saksi-saksinya sendiri untuk didengar. Hakim seharusnya meluluskan usaha pembuktian mereka itu, kecuali kalau demi kepentingan tertib beracara tidak menguzinkannya untuk kejernihan perkaranya sendiri 3. Pengadilan dapat membebankan pembuktian seluruhnya atau sebagian kepada para pihak dan sebagian lagi dapat ia cadangkan untuk dicari kebenarannya oleh pengadilan sendiri. Pengadilan dapat meminta keterangan-ketarangan lebih lanjut mengenai sesuatu hal yang belum jelas. Dalam tingkat pemeriksaan persiapan pun Hakim sudah dapat memerintahkan untuk memanggil pihak-pihak, saksi-saksi atau saksi ahli untuk diminta keterangan-keterangan yang diperlukan. 4. Apabila Hakim berpendapat bahwa pembuktian mengenai sesuatu itu tidak akan ia lakukan sendiri, maka hal itu dapat ia bebankan kepada para pihak.

Ibid, hlm. 195.

5. Cara pembebanan pembuktian kepada para pihak itu oleh Hakim tidak perlu dalam bentuk putusan sela (interlocutoir). Pembebanan pembuktian itu dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan Hakim untuk memperoleh keterangan-keterangan lebih lanjut mengenai sesuatu hal. Apabila hal itu dilakukan sewaktu masa persiapan pemeriksaan (sebelum pemeriksaan dimuka sidang umum), maka para pihak dapat mempersiapkan diri dalam usaha pembuktian yang akan ia lakukan, Cara Pembagian Beban Pembuktian7 Garis pedoman yang sebagian disimpulkan dari teori-teori yang terdapat dalam proses hukum perdata: 1. Siapa yang mendalilkan, dialah yang harus dapat menyampaikan bukti permulaan (adstruksi). Penggugat paling tidak harus memiliki bukti permulaan namun tidak harus penggugat yang membuktikan seluruhnya. Apabila masih ada hal yang kurang jelas dan hakim tidak ingin melakukan pemeriksaan sendiri lebih lanjut, melakukan pembagian pembuktian. 2. Siapa yang harus mendalilkan, bahwa ia mempunyai suatu kepentingan khusus, harus membuktikannya (berlaku bagi tergugat dan penggugat). 3. Petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam peraturan yang berlaku. Melihat kepada kekhususan dari keadaan-keadaan yang ada serta konsekuensi-konsekuensi bagi yang berkepentingan, maka dalam hal demikian itu pembuktian harus dibebankan kepada instansi yang bersangkutan. 4. Pada umumnya Hakim tidak akan membebankan pembuktian sesuatu yang bersifat negatif, tapi ada kalanya beban pembuktian yang negatif itu dapat dibentuk menjadi pembuktian yang bersifat positif. 5. Apabila satu pihak pada dasarnya telah memulai membuktikan sesuatu, maka ia tidak perlu membuktikan lebih lanjut, melainkan pihak lawan yang harus dapat membuktikan hal yang bertentangan
7

Ibid, hlm. 196-199.

6. Pihak yang ceroboh, atau dianggap salah, akan menerima resiko untuk membuktikan dan fakta-fakta yang relevan bisa jadi tidak dapat dibuktikan. 7. Dalam pembagian beban, pembuktian itu akan sering diperhitungkan soal pihak manakah yang akan diuntungkan dengan terbuktinya suatu fakta, hal tersebut akan terjadi dalam sengketa kepegawaian. Penggugat harus membuktikan, bahwa ia sering mendapat pujian, tetapi mengapa ia justru dipecat. 3. Penilaian hasil pembuktian8 Apabila dikaitkan dengan teori pembuktian bebas, dalam hal ini tidak mustahil aka nada perbedaan penilaian hasil pembuktian antar sesama hakim, sehingga teori ini sebenarnya mengandung kelemahan, yaitu tidak menjamin adanya kepastian hukum.9 Akan tetapi UU pasal 107 telah membatasi kebebasan hakim dalam menilai hasil pembuktian dengan ketentuan bahwa untuk sahnya pembuktian itu dibutuhkan sekurang-kurangnya 2 alat bukti (pasal 100) berdasarkan keyakinan hakim. Karena masing-masing alat bukti tersebut sama derajat bobotnya, maka yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti tersebut yaitu berupa alat bukti yang tersebut dalam pasal itu. Bagaimanapun cara penilaian hakim mengenai nilai bobot pembuktian suatu alat bukti yang diajukan di muka pemeriksaan, diserahkan sepenuhnya pada hakim yang bersangkutan. Namun hal itu tidak berarti, hakim pada waktu melakukan penilaian hasil suatu pembuktian itu semata-mata mendasarkan pada keyakinan batinnya. Tujuan pembuktian yuridis bukan untuk mencapai kepastian yang absolut, karena kepastian tersebut tidak mungkin dapat dicapai. Dalam proses di PTUN cukuplah kalau memperoleh suatu kepastian yang dapat diterima oleh nalar sehat, memperoleh gambaran yang paling dapat diterima. 4. Alat-alat pembuktian10 Pasal 100 UU no 5 Tahun 1986 merinci alat bukti secara limitatif yaitu: 1) Alat bukti ialah a. Surat atau tulisan
8 9

Ibid, hlm. 204-205. Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, hlm. 129. Indroharto, Op.Cit, hlm. 199-204.

10

b. Keterangan ahli c. Keterangan saksi d. Pengakuan para pihak e. Pengetahuan hakim 2) Keadaan yang telah diketahui oleh umum tidak perlu dibuktikan Oleh karena ketentuan tersebut maka dapat dikatakan bahwa ajaran pembuktian PTUN adalah ajaran pembuktian yang bebas yang terbatas. Alat-alat bukti yang tersebut dalam undang-undang tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Surat atau Tulisan Surat atau tulisan itu sendiri terdiri atas tiga jenis, yaitu: akta otentik akta dibawah tangan dan surat-surat lainnya yang bukan akta Hakim dapat menilai dengan bebas kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut. b) Keterangan Ahli Keterangan ahli selain ada yang diberikan di depan persidangan atau pemeriksaan hakim, ada juga yang berupa surat tertulis sebagaimana tersebut pada butir pertama diatas. Jika dilakukan dihadapan Hakim, maka dilakukan dibawah sumpah mengenai yang ia ketahui menurut pengalaman dan pengetahuannya yang benar dan juga terhadap suatu fakta. Ahli tidak boleh ada hubungan darah dengan pihak-pihak, sesuai pasal 88. c) Keterangan saksi Yang tidak boleh menjadi saksi adalah (pasal 88): a) keluarga sedarah atau semenda menurut gais keturunan lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat kedua dari salah satu pihak yang bersengketa b) istri atau suami salah seorang pihak yang bersengketa meskipun sudah bercerai c) anak yang belum berusia tujuh belas tahun d) orang sakit ingatan Keterangan saksi dapat diberikan juga dalam bentuk tertulis yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan di depan persidangan. Kekuatan pembuktian dari keterangan saksi tidak

selalu sama satu sama lain, kecuali kalau tidak disangkal oleh pihak lawannya. Kekuatan terbesar adalah keterangan saksi yang diberikan dihadapan hakim dan dibawah sumpah. Ada kalanya kesaksian de auditu juga akan mempunyai suatu nilai tertentu dalam proses ini. d) Pengakuan para pihak (pasal 105) Pengakuan para pihak (di muka pemeriksaan hakim) tidak dapat ditarik kembali kecuali berdasarkan alasan yang kuat dan dapat diteruma oleh hakim yang bersangkutan. Keteranganketerangan yang diberikan para pihak itu umumnya dapat merupakan garis penuntun untuk mencari kejelasan lebih lanjut mengenai fakta tertentu. e) Pengetahuan hakim Pengetahuan hakim adalah pengetahuan yang oleh hakim bersangkutan diketahui dan diyakini kebenarannya.salah satu dari itu adalah hal hal yang terjadi selama pemeriksaan oleh Hakim tersebut atau hakim lain yang ditunjuknya, seperti hasil pemeriksaan setempat. Selanjutnya termasuk juga kedalam kelompok pengetahuan hakim yaitu barang-barang dan orang-orang yang ditunjukkan kepada hakim yang sedang memeriksa perkara itu. Sumpah decissoir yang dalam hukum acara perdata merupakan alat bukti tambahan itu tidak dikenal dalam proses TUN ini.