Anda di halaman 1dari 16

KARAKTERISTIK BAHAN dan SIFAT-SIFAT FISIKA

SUPERKONDUKTOR dengan SUHU KRITIS TINGGI


Disusun Guna Memenuhi Tugas Paper Mata Kuliah Pendahuluan Zat Padat
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd.








Disusun oleh:
Etty Herfiyana Susanti
K2309020
Pendidikan Fisika A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
Superkonduktor dengan Suhu Kritis Tinggi

A. Pengertian
Setelah penemuan superkonduktivitas dalam merkuri pada 4K oleh
Onnes, pencarian bahan-bahan superkonduktor cenderung tidak meningkat
selama beberapa dasawarsa. Penelitian superkonduktor dengan temperatur
transisi tinggi terbuka kembali karena penemuan superkonduktivitas pada 35
K dalam LBCO (oksida campuran dari lanthanum, barium, dan copper) oleh
Bednorz dan Muller.
Lompatan besar lainnya mencapai Tc 90 K dengan segera mengikuti
penemuan tersebut, dengan penemuan kelompok bahan 123 yang
dicontohkan dengan YBa
2
Cu
3
O
7
. Dalam struktur tersebut Y (Ytrium) dapat
diganti dengan unsure-unsur tanah lainnya seperti La, Nd, Sm, Eu, Gd, Ho, Er
dan Lu. Tidak lama kemudian dengan Tc lebih tinggi ditemukan
superkonduktor dalam system BSCCO (oksida campuran dari Bismuth,
Strontium, Calcium, dan Copper) dan system TBCCO (oksida campuran
dari Thallium, Barium, Calcium dan Copper).
Superkonduktor suhu tinggi umumnya adalah hal yang
mempertunjukkan superkonduktivitas pada suhu di atas suhu nitrogen cair
yaitu 196 C (77 K). Suhu nitrogen cair merupakan suhu cryogenic yang
mudah dicapai. Material paling terkenal adalah Tc-tinggi disebut dengan
cuprate.
Seluruh superkonduktor Tc-tinggi disebut superkonduktor tipe-II.
Superkonduktor tipe-II mengijinkan medan magnet untuk menembus bagian
dalamnya dalam satuan flux quanta, menghasilkan 'lubang' (atau tabung)
wilayah metalik normal dalam kumpulan superkonduksi. Sifat ini membuat
superkonduktor Tc-tinggi mampu bertahan di medan magnet yang jauh lebih
tinggi.

Contoh kecil superkonduktor suhu tinggi BSCCO-2223. 2 jalur di
belakang terpisah 1 mm. Salah satu masalah tak terselesaikan dalam fisika
modern adalah pertanyaan bagaimana superkonduktivitas dapat terjadi dalam
material tersebut, yaitu, mekanika apa yang menyebabkan elektron dalam
kristal tersebut dapat membentuk pasangan. Meskipun riset yang giat telah
dilakukan dan banyak menghasilkan petunjuk, namun jawabannya masih
membingungkan ilmuwan. Salah satu alasannya adalah material yang
dipertanyakan sangat rumit, kristal banyak-lapisan (contohnya, BSCCO),
membuat pemodelan teoritis sulit. Namun dengan penemuan baru dan penting
dalam bidang ini, banyak peneliti optimis bahwa pemahaman lengkap
terhadap proses ini dapat terjadi dalam satu dekade mendatang.
B. Karakteristik Bahan
Berikut tiga karakteristik superkonduktor dengan suhu kritis (Tc) tinggi :
1. Oksida Oksida dengan Tc Tinggi\
Oksida-oksida dengan Tc tinggi merupakan struktur-struktur
berlapis yang sangata anisotropic. Kecuali untuk beberapa bahan (seperti
Ba
1-x
K
x
BiO
3
) sebagian besar oksida superkonduktor adalah senyawa-
senyawa cuprate. Salah satu karakteristiknya adalah adanya lapisan-
lapisan CuO
2
yang menguasai sebagaian besar sifat-sifatnya. Jika kita
mengamati struktur YBa
2
Cu
3
O
6
yang disajikan dalam gambar dibawah ini,
terlihat bahwa struktur itu sangat anistropik. Sel satuan dikembangkan dari
sel satuan dari perovskite tetragonal lipat tiga sepanjang sumbu-C dan
terdiri dari sederet lapisan-lapisan tembaga-oksigen.


YBCO jenis ini biasa disebut komponen 1-2-3, angka cacah 1,2,
dan 3 dilihat dari kuantitas unsur Y, Ba, dan Cu pada senyawa
YBa
2
Cu
3
O
7
. Dengan struktur perovskits (ABX
3
), kelipatan tiga dari unit
sel perovskits menghasilkan 9 atom oksigen, sementara
YBa
2
Cu
3
O
7
memiliki 7 atom oksigen, sehingga disebut struktur perovskits
yang kekurangan oksigen. Elemen kunci dari senyawa ini adalah
kehadiran bidang yang mengandung atom-atom Cu dan O yang saling
terikat. Ikatan kimia Cu-O membuat material ini menjadi konduktor listrik
yang sangat baik.
Akan tetapi, YBCO ini sangat sensitif dengan oksigen, oksigen
dapat keluar dan masuk dengan cukup mudah, apabila oksigen berkurang
sedikit saja maka titik kristisnya akan menurun. Dengan

mempunyai titik
kritis yaitu di atas suhu nitrogen cair ( > 77K), maka material ini lebih
mudah untuk diaplikasikan.

Dimensi-dimensi satuan sel kira-kira ~ 12 dan 4 secara
berturut-turut dalam arah sumbu-a sumbu-b. ion Yttrium di pusat dan ion-
ion barium diatas dan dibawah bidang-bidang tembaga-oksigen yang
melengkapi punggung vertical dari struktur cuprate berlapis pada
gambar diatas. Kenyataan bahwa sel satuan itu terdiri dari lapisan-lapisan
oksida tembaga akan merupakan hal yang sangat penting untuk memahami
sifat-sifat fisis dari struktur-struktur berlapis tersebut.

2. Oksida-Oksida Logam
Karakteritik penting kedua dari oksida-oksida superkonduktor
adalah sifat-sifat logamnya, dimana sebagian besar merupakan isolator,
tetapi untuk oksida-oksida HTSC (High T
c
Superconducting) menunjukkan
perilaku logam. Pada suhu kamar konduktivitas-konduktivitas pada arah
sumbu-a maupun sumbu-b dari kristal cuprate tersebut mempunyai orde
yang sama dengan konduktivitas-konduktivitas dari lakur-lakur logam tak
beratur, konduktivitas yang bersifat logam terdapat pada bidang CuO
2

sedangkan yang tegak lurus pada bidang-bidang tersebut mempunyai
konduktivitas yang jauh lebih kecil.
Dalam semua system senyawa superkonduktor suhu kritis tinggi
yang berbasis oksida logam, kehadiran lapisan CuO
2
dalam struktur
kristalnya merupakan cirri utama yang hingga kini dipercayai sebagai
lapisan paling berperan dalam gejala superkonduktivitas. Jumlah lapisan
CuO
2
bergantung pada stokiometri dari senyawa-senyawa yang
bersangkutan.

3. Mineral-mineral Keramik
Bahan-bahan LSCO sebagai oksida campuran dari lanthanum,
stronsium, copper dan YBCO sebagai oksida campuran dari Yttrium,
barium, dan copper terus dikembangkan. Sintesis dari bahan asli La
2-
x
Sr
x
CuO
4
dan YBa
2
Cu
3
O
6
menghasilkan pellet-pelet yang tampak mirip
seperti keramik. Perbedaannya keramik yang asli bukan superkonduktor
sedangkan kepingan hitam YBCO bersifat superkonduktor yang
mempunyai suhu kritis sekitar 92 K. sebagai keramik yang khusus, oksida-
oksida HTSC juga mengandung butiran-butiran, batas antar butiran,
rongga-ringga, dan yang terbaikpun masih terdapat butiran-butiran dengan
diameter beberapa mikro. Keadaan yang demikian ini dapat mengganggu
terhadap kerapatan arus kritis tinggi yang diperlukan dalam penerapan
superkonduktor.
Pada kenyataannya kristal tunggal terbaikpun dari oksida-oksida
HTSC sering mengandung beberapa cacat dan ketidaksempurnaan seperti
rongga-rongga oksigen, pengotor, dan sebagainya. Ketidaksempurnaan ini
tidak hanya terkait dengan sifat thermodinamikanya. Ketidaksempurnaan
yang ditemukan dalam kristal-kristal HTSC kemungkinannya merupakan
sifat intrinsic dari bahan tersebut.

C. Sifat-sifat Fisika
Berikut beberapa sifat fisika yang khas dari superkonduktor T
c
tinggi:
1. Superkonduktor dengan T
c
~100 K
Disini perlu ditekankan orde nilai T
c
untuk Nb
3
Ge hanya 23 K.
kemudian telah dipelajari pula bahwa temperatur kritis berhubungan
dengan energi ikat kT, yang diperlukan untu mempertahankan pasangan-
pasangan copper dalam keadaan superkonduktor. Enyataan bahwa T
c
~100
K atau energi ~ 10 MeV dibandingkan dengan energi yang kurang dari 1
MeV, dalam superonduktor konvesional merupakan tantangan besar yang
menarik bagi para ahli yang tertarik pada mekanisme mikroskopik tentang
superkonduktivitas T
c
tinggi. Berikut beberapa superkonduktor oksida
dengan T
c
tinggi
No. Senyawa T
c
(K)
1 La
2-x
Sr
x
CuO
4
38
2 Y
1
Ba
2
Cu
3
O
7
92
3 Bi
2
Ca
2
Sr
2
Cu
3
O
10
110
4 TI
2
Ca
2
Ba
2
Cu
3
O
10
125

2. Isolasi Terinjeksi
Struktur YBa
2
Cu
3
O
6
yang dilukiskan pada gambar diatas
merupakan suatu isolator. Struktur tersebut perlu diinjeksi agar berubah
dari isolator menjadi konduktor. Apanila injeksi diteruskan maka dari
keadaan konduktor akan menjadi superkonduktor pada suhu kritis tertentu.
Injeksi dilakukan dengan memberikan oksigen tambahan yang dapat
membentuk rantai CuO. Ion-ion oksigen ini dapat menarik elektrn-elektron
dari bidang-bidang CuO
2
yang selanjutnya akan bersifat seperti logam.
Berkaitan hal tersebut rumus yang berkaitan dengan YBCO adalah
YBa
2
Cu
3
O
6 + x
, dimana dalam hal ini x berkaitan dengan kandungan
oksigen.

Untuk 0,0 < x < 0,4 struktur YBa
2
Cu
3
O
6 + x
, merupakan isolator
Untuk ~ 0,4 < x < 1,0 struktur YBa
2
Cu
3
O
6 + x
, merupakan superkonduktor

Kandungan oksigen dapat diubah secara reversible dari 6,0 sampai
7,0 hanya dengan memompa osigen kedalam atau keluar dari rantai CuO.
Bahan YBa
2
Cu
3
O
6
merupakan antiferomagnetik yang bersifat isolator.
Dengan penambahan oksigen O
6,4
menyebabkan kristalnya bersifat

logam, nonmagnetic dan superkonduktor







0,0
YBa
2
Cu
3
O
6

1,0
-20
-40
-60
-80
Superkonduktorr
0,5


Gambar variasi T
c
terhadap injeksi YBa
2
Cu
3
O
6 + x


Jumlah hole pada lapisan CuO
2
yang dihasilkan oleh injeksi dapat
mempengaruhi perilaku bahan yang bersangutan. Secara umum digram
fase yang meluiskan fungsi pendukung muatan pada bidanh CuO
2
dapat
digambarkan sebgai berikut.









Gambar diagram fase superkonduktor Cuprate
3. Panjang Koherensi

Panjang koherensi berkaitan erat dengan kedalaman penembusan
yang merupakan cirri dasar bahan superkonduktor. Kedalaman
penembusan London
L
merupakan panjang fundamental yang

mencirikan
suatu superkonduktor. Suatu panjang yang bebas adalah panjang koherensi
Panjang koheransi merupakan suatu ukuran jarak yang di dalamnya
konsentrasi elektron superhantaran tidak dapat berubah secara drastis
dalam medan magnet yang bervariasi dalam ruang.
Berkaitan dengan kedalaman penembusan London memberikan
persamaan local yang menghubungkan antara rapat arus pada suatu titik
dengan potensial vector

pada titik yang sama. Persamaan London dapat


diturunkan melalui persamaan Maxwell berikut
Logam
Isolato
r
Anti
feromagn
etik
Superkonduktorr
Suhu
Jumlah Hole
J H = V ( 1 )
Dengan mengambil curl dari persamaan diatas akan didapatkan
J H
J H
V = V
V = V V
2
( 2 )
Dalam pembahasan medan magnet luar yang terpasang, dapat
didefinisikan bahwa :
B
m
e N
J
x
2

= V ( 3 )
Dengan mengsubtitusikan persamaan di atas ke dalam persamaan ( 2 )
akan didapatkan
B
m
e N
H
x
2
2
= V ( 4 )
Perlu diingatkan bahwa dalam hal ini juga berlaku persamaan Maxwell
sebagai berikut:
A B V =
Dengan demikian akhirnya diperoleh dua persamaan sebagai berikut:
A
m
e N
H
x
V = V
2
2
( 5 )
A
m
e N
J
x
2

= ( 6 )
Persamaan 6 diatas disebut sebagai persamaan London yang dapat
dipahami dengan menuliskan potensial dalam ukuran London sebagai

dan

dan pada permukaan luasanya tidak diberikan arus


eksternal. Induksi n menunjukkan komponen tegak lurus pada permukaan
itu sehingga nilai

dan

merupakan syarat batas fisis yang


sesungguhnya. Persamaan di atas berlaku pada superkonduktor secara
sederhana, dengan suhu-suhu tambahan yang mungkin berada dalam
cincin atau silinder.
Persamaan ( 6 ) juga dapat dinyatakan dalam bentuk lain yaitu
dengan cara mengambil curl pada persamaan tersebut, maka akan
diperoleh:
B
m
e N
J
x
2

= V ( 7 )
Panjang koherensi dapat dinyatakan sebagai ukuran jangkauan
dengan potensial vector

pada persamaan London yang diambil rata-


ratanya sehingga mendapatkan

. Panjang koherensi juga merupakan


ukuran luas ruang minimum dari suatu lapisan transisi fase normal dan
fase superhantaran. Variasi ruang keadaan system electron memerlukan
energi kinetic karena energi itu akan menaikkan integral

. Dengan
melakukan pembatasan variasi ruang

sedemikian rupa maka dapat


menyebabkan energi tambahan tersebut kurang dari energi stabilisasi
keadaan superhantaran.
Perbandingan gelombang bidang

dengan fungsi
gelombang termodulasi secara kuat dapat dinyatakan
( )
kx x q k
x
e e
1 ) ( 1 2 / 1
) (
2 + =
+

( 8 )
Rapat kebolehjadian yang dihubungkan dengan gelombang bidang
tersebut adalah seragam dalam ruang yaitu

.
Rapat kebolehjadian

termodulasi dengan vector gelombang q


1
dapat
dituliskan sebagai berikut :

( )( )
( )( ) | |
( )
( )( ) ( )
( ) qx qx
qx i qx qx i qx
e e
e e e e
e e e e
iqx iqx
ikx x q k i ikx x q k i
ikx x q k i ikx x q k i
cos 1 cos 2 2
2
1
sin cos sin cos 2
2
1
2
2
1
1 1
2
1
2
1
*
*
*
) ( ) ( *
) ( ) ( *
+ = + =
+ + =
+ + =
+ + + + =
+ + =

+ +
+ +






Energi kinetic gelombang
) ( x
dinyatakan dengan
m
k
E
2
2 2

= .
Dalam hal ini energi kineti distribusi rapat modulasi yang dimilikinya
lebih tinggi karena
( )
( )
( )
kq
m
k
m dx
d
m
dx
kq k
m dx
d
m
dx
q kq k
m dx
d
m
dx
k q kq k
m dx
d
m
dx
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

+
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

<<
+ +
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

+ + +
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

}
}
}
}
2 2 2
2 2
2 2
1
2
didapatkan akan maka k q jika
2 2
2 2
1
2
2
2 2
1
2
2
2
2
2
2 2
*
2
2
2
2 2
*
2 2
2
2
2 2
*
2 2 2
2
2
2 2
*









Kenaikan yang diperlukan untuk memberikan modulasi adalah
m
k
2
2 2

, jika kenaikan ini melebihi celah energi E


g
, superkonduktivitas akan
rusak, oleh karena itu nilai E
g
ditentukan dengan persamaan
0
2
2
q k
m
E
f g

= ( 9 )
Adapun nilai kritis q
0
dari vetor gelombang modulasi ditentukan dengan
persamaan :
f
g
k
mE
q
2
0
2

= ( 10 )
Panjang koherensi intrinsic
0
yang berhubungan dengan modulasi kritis
mengikuti persamaan:
0
0
1
q
= ( 11 )
Apabila persamaan 10 disubtitusikan ke dalam persamaan 11, maka akan
diperoleh hasil :
g
f
mE
k
2
2
0

= ( 12 )
Dengan mengingat bahwa v
f
adalah
m
k
f
dan v
f
sebagai kecepatan electron
pada permukaan Fermi maka akan didapatkan:
g
f
E
v
2
2
0

= ( 13 )
Menurut pembahasan Christman panjang koherensi untuk bahan secara
intrinsic dirumuskan sebagai:
0
0
A
=
t

f
v
( 14 )
Dalam hal ini factor
t
1
dimasukkan untuk kenyamanan di dalam
menuliskan ungkapan lain dengan menghadirkan besaran
0
.
Untuk selanjutnya
0
sebagai parameter penting yang digunakan untuk
menandai suatu superpenghantar yang merupaan suatu ukuran rata-rata
separasi electron di dalam pasangan Copper. Besaran Adihubungkan
dengan E
g
yang sering disebut sebagai parameter celah energi. Keberadaan
celah energi didalam superkonduktor mempunyai sifat yang berbeda
dengan celah energi didalam isolator.





( a ) (b)
Terisi
E
r

Logam biasa
E
g
= 2
Terisi
Superonduktor
Gambar diatas merupakan gambar celah energi pada logam biasa
dan superkonduktor. Dimana untuk gambar ( a ) merupakan pita konduksi
dalam logam biasa dan gambar ( b ) merupakan celah energi pada tingkat
Fermi keadaan superhantaran
Didalam isolator, celah energi dihubungkan dengan keadaan kisi,
sedangkan didalam superkonduktor celah energi dihubungkan dengan
energi Fermi.
Celah energi didalam superkonduktor memisahkan keadaan
tereksitasi dari keadaan dasar seperti ditunjukkan dalam gambar diatas dan
hubungannya dengan dinyatakan dalam persamaan: E
g
= 2 . Oleh
karena itu persamaan
0
0
A
=
t

f
v
dapat diubah menjadi :
g
f
E
v
t


2
0
= ( 15 )
Panjang koherensi intrinsic
0
merupakan karakteristik suatu
superkonduktor murni. Berbagai nilai panjang koherensi intrinsic disajikan
dalam table dibawah ini. Berikut table suhu kritis, kedalaman penembusan
, panjang koherensi , dan medan kritis Bc
2
pada oksida-oksida HTSC

Senyawa T
c
(K)
AB

()

c
()
AB

( )

c

()
Bc
2
ab

( T)
Bc
2
c

( T)
La
2-x
Sr
x
CuO
4
38 800 4000 35 7 80 15
Y
1
Ba
2
Cu
3
O
7
92 1500 6000 15 4 150 40
Bi
2
Ca
2
Sr
2
Cu
3
O
10
10 2000 10000 13 2 250 30

Panjang koherensi muncul pertama kali dalam persamaan Landau-
Ginzburg. Dalam persamaan tersebut mengemukakan struktur lapisan
transisi antara fase normal dan fase superhantaran yang bersentuhan.
Panjang koherensi dan kedalaman penembusan tergantung pada lintasan
bebas rata-rata 1 dari electron-elektron yang pengukurannya pada keadaan
normal. Selanjutnya Pipard mendefinisikan panjang koherensi intrinsic
0

sebagai panjang karakteristik, yang dalam hal ini dapat lebih


dipertahankan tingkat superkonduktivitasnya. Dalam keadaan yang
demikian ini panjang koherensi intrinsic
0
dan jarak bebas rata-rata
yang dinyatakan dalam hubungan seperti berikut
( )2
1
0
~ ( 16 )
Pengotoran pada bahan murni, unsur asing sebagai dopan dapat
mempengaruhi jarak bebas rata-ratanya sehingga menjadi lebih pendek.
Dalam keadaan ini electron-elektron dapat saling berkoherensi apabila
jaraknya tidak melampaui jara bebas rata-rata dan dinyatakan dalam
persamaan berikut ini.
2
1
0
|
.
|

\
|
=


L
( 17 )
Apabila persamaan ( 17 ) tersebut dikalikan dengan akan
diperoleh persamaan:
( ) ( )
2
1
2
1
0

L
= ( 18 )
Selanjutnya jika persamaan ( 16 ) disubtitusikan ke dalam
persamaan ( 18 ), maa akan didapatkan hubungan
L
= atau dapat
juga dituliskan dalam persamaan :

=
Perbandingan

biasanya disimbolkan dengan k dikemukakan


oleh Landau dan Ginzburg. Bilangan k sebagai perbandingan kedalaman
penetrasi relative terhadap panjang koserensi efetif dari electron, sehingga
dapat dituliskan dalam bentuk

= k
Oksida-oksida HTSC yang berupa lapisan-lapisan CuO
2
tersusun
dari lapisan-lapisan superkonduktor yang dipastikan oleh bahan dielektrik
atau logam yang lemah, dan semuannya dalam ukuran atomic. Salah satu
karakteristik kristal-kristal berlapis itu adalah panjang koherensinya yang
lebih pendek. Sebagai contoh untuk YBCO, 4 ) 0 (
0
~ dan 15 ) 0 ( ~
AB

. Ukuran ) 0 (
0
secara praktis sama dengan jarak bidang-bidang CuO
2

yang saling berdekatan.
Pada tabel berbagai panjang koherensi diatas menunjukkan
beberapa panjang koherensi yang khusus. Pada table terlihat bahwa kristal
Bi
2
Ca
2
Sr
2
Cu
3
O
10
sangat anistropik dengan T
c
= 110 K, dengan taksiran
) 0 (
C
sebesar 2 yang sangat kecil, sedangkan ) 0 (
AB
sebesar 13 .
Table diatas juga menunjukkan kedalaman penembusan London dari
YBCO sebesar 1500 ~
ab
berdasarkan pengukuran magnetisasinya.
Berdasarkan pengukuran medan kritis, panjang koherensinya adalah
AB

sebesar 15 . Dengan demikian parameter Ginzburg-Landau dapat juga
dituliskan dalam bentuk
100
15
1500
= = =
ab
ab
k


Hal ini juga memenuhi kriteria bahwa k > 1 bahan-bahan
superkonduktor merupakan superkonduktor tipe II.
Panjang koherensi mempunyai nilai yang berbeda untuk arah
kristalografi yang berlainan. Dari hasil eksperimen telah ditemukan pada
bahan YBa
2
Cu
3
O
7
bahwa panjang koherensi untuk sumbu ab (
AB
) dan
panjang koherensi untuk sumbu c (
C
) secara berturut-turut adalah 15
dan 4 . Panjang koherensi untuk sumbu c (
C
) secara kasar adalah sama
dengan jarak antar bidang dan lebih pendek dibandingkan panjang sel
satuannya. Panjang koherensi yang sangat pendek ini secara tidak
langsung juga menunjukkan bahwa oksida-oksida HTSC termasuk
superkonduktor tipe II dengan medan kritis atas (Hc
2
) yang relative sangat
tinggi.

Daftar Pustaka
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1100396563 diakses pada
tanggal 30 Desember 2012
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195905271985031-
KARDIAWARMAN/Modul_UT/KB-2_modul_9_Fisika_Terapan.pdf diakses
pada tanggal 30 Desember 2012
http://fannowidy.blogspot.com/2011/11/superkonduktor-suhu-tinggi-cara-
mudah.html diakses pada tanggal 30 Desember 2012
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/EDKHUSUSDES098388_1411-1098.pdf
diakses pada tanggal 2 Januari 2013
Kadiawarman,dkk. 2002. Materi Pokok Fisika Zat Padat. Jakarta : UT
Widha Sunarno. 2007. Sifat Fisis Bahan Padatan. Surakarta : UNS Press