Anda di halaman 1dari 6

Penatalaksanaan CHF (Congestive Heart Failure)

Menurut Muttaqin (2009), tujuan dari penatalaksanaan gagal jantung kongestif adalah : 1. Menurunkan kerja jantung 2. Meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokardium 3. Menurunkan retensi garam dan cairan Dalam buku At a Glance: Farmakologi Medis (2006), dijelaskan bahwa pada gagal jantung ringan, diberikan inhibitor ACE untuk menurunkan beban jantung, mengurangi gelaja memperlambat progresi penyakit, dan memperpanjang hidup pada gagal jantung kronik. Pada gagal jantung yang lebih berat, ditambahkan diuretik untuk meningkatkan ekskresi natrium dan air sehingga mengurangi preload dan edema. Tiazid (contohnya bendroflumetiazid) biasanya cukup diberikan, namun seringkali dibutuhkan diuretik loop (contohnya furosemid). Bila gagal jantung sangat berat dimana kombinasi diuretik dan inhibitor ACE gagal, maka dapat ditambahkan digoksin, yang merupakan obat inotropik. Cara kerja inotropik yaitu dengan menambah peningkatan kalsium sitosol yang terjadi pada setiap potensial aksi, untuk peningkatan kekuatan kontraksi otot jantung. Digoksin juga dapat ikut berperan dalam peningkatan kontraksi jantung, dengan cara meningkatkan kalsium intraselular secara tidak langsung. Semua obat inotropik cenderung menyebabkan aritmia karena kalsium sitosol yang berlebih dapat memicu aliran membran aritmogenik. Uji terbaru menunjukkan bahwa pada gagal jantung ringan, sedang, atau berat, penambahan bloker semakin menurunkan mortalitas pada pasien dengan inhibitor ACE dan diuretik. (dengan atau tanpa digoksin). Pada pasien dengan gagal jantung berat dan dengan gejala yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi standar, penambahan spironolakton telah menunjukkan penurunan (2 tahun) mortalitas dari 46% menjadi 35% (J, Neal Michael, 2006). bloker bloker secara akut dapat mengurangi beban jantung dan kontraktilitas miokard. Dalam jangka panjang menunjukkan perbaikan ketahanan hidup pada pasien dengan gagal jantung stabil, yaitu dengan memblok efek perusakan dari aktivitas simpatis yang berlebihan. Cara kerjanya dengan cara memblokade aksi 'adrenalin' pada sistem saraf otonom, sehingga menurunkan frekuensi jantung (heart's rate) dan curah jantung (heart's output). Namun, hal ini memiliki efek samping aritmia (takikardia ventrikular) hingga bisa berlanjut menjadi fibrilasi ventrikular.

Berikut beberapa terapi yang dilakukan pada klien dengan gagal jantung kongestif diantarnya (Menurut Muttaqin, 2009) : 1. Terapi Oksigen Pemberian oksigen diberikan pada klien dengan gagal jantung yang disertai dengan edema paru. Pemberian oksigen ini akan membantu mengurangi beban dan kebutuhan oksigen pada miokardium. Dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen pada tubuh. 2. Terapi Nitrat dan Vasodilator Koroner Penggunaan nitrat dapat digunakan pada keadaan akut maupun kronis. Jantung akan mengalami unloaded atau penurunan afterload dengan adanya vasodilatasi perifer. Peningkatan curah jantung lanjut akan menurunkan pulmonary artery wedge pressure (pengukuran sebagai penunjuk derajat kongesti vaskular pulmonal dan beratnya gagal ventrikel kiri) dan penurunan kebutuhan oksigen miokardium. ACE inhibitor, seperti kaptopril dan enalapril, kaptropil adalah suatu medilator yang bekerja menghambat enzim konversi angiotensin (Angiotensin Converting Enzyme, ACE). Cara kerjanya dengan mencegah peningkatan angiotensin II dengan menurunkan resistensi arteri maupun vena. Dan bisa memiliiki efek samping yaitu : 1. Hipotensi, bila diberikan bersama dengan diuretik. 2. Insufisiensi ginjal pada pasien stenosis ginjal bilateral. 3. Kulit memerah, indra pengecap terganggu/hilang, vertigo, sakit kepala, dan berbagai gejala saluran cerna, dan batuk kering. 4. Katropil tidak dianjurkan untuk wanita hamil 3. Terapi Diuretik Klien gagal jantung juga memerlukan pembatasan garam dan air serta pemberian diuretik, baik secara oral atau parenteral. Dengan tujuan agar menurunkan preload (beban awal) dan kerja jantung. Sehingga, terjadi penurunan volume cairan dan tekanan darah. Banyak jenis diuretik yang menyebabkan pelepasan elektrolit-elektrolit lainnya, yaitu kalium, magnesium, klorida, dan bikarbonat. Diuretik yang dapat meningkatkan ekskresi kalium digolongkan sebagai diuretik yang tidak menahan kalium, sedangkan diuretik yang menahan kalium disebut dengan diuretik hemat kalium. Tiazid dapat menjadi diuretik pilihan utama dalam menurunkan volume cairan ekstraseluler pada gagal jantung ringan sampai sedang. Cara kerjanya yaitu dengancara menghambat reabsorpsi NaCl sehingga terjadi peningkatan ekskresi Cl- ,Na+ , disertai H20. Apabila gagal, diuretik loop dapat digunakan.Tiazid juga merupakan obat antihipertensi yang efektif dan termasuk ke dalam golongan obat antihipertensi first line.

Efek antihipertensi pada tiazid merupakan hasil langsung pada arteriol yaitu relaksasi otot polos pembuluh darah. Obat ini dipakai pada pengobatan krisis hipertensi (dalam buku Kumpulan Kuliah Farmakologi, 2009). Efek samping Tiazid : 1. Hipokalemia (kadar kalium yang rendah dalam darah) 2. Hiperurisemia (asam urat berlebih) 3. Toleransi glukosa terganggu karena kontraindikasi pada pasien diabetes 4. Lipid (peningkatan kadar kolesterol plasma) Diuretik loop, seperti Furosemid, bekerja efektif pada klien dengan penurunan fungsi ginjal. Bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi sehingga terjadi diuresis yang hebat. Efek samping dari obat ini adalah hiponatremia, hipotensi, hipovolemia, dan hipokalemia. Hingga dapat menyebabkan ketulian apabila diberikan berlebih. 4. Terapi Digitalis Digitalis merupakan salah satu dari obat-obatan tertua yang dipakai sejak tahun 1200. Digitalis dihasilkan dari tumbuhan foxglove ungu dan putih yang dapat bersift racun. Digitalis adalah obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas jantung. Apabila obat ini diberikan dalam dosis besar dan berulang secara cepat, kadang-kadang menyebabkan klien mengalami mabuk, muntah, pandangan kacau, objek yang terlihat tampak hijau atau kuning. Klien juga akan melakukan gerakan yang sering dan terkadang tidak mampu untuk menahannnya. Selain itu, terjadi peningkatan sekresi urin, nadi lambat hingga 35 denyut dalam satu menit, keringat dingin, kekacauan mental, sinkope (pingsan), hingga kematian. Obat ini bersifat laksatif. Pada klien dengan gagal jantung, digitalis diberikan dengan tujuan untuk memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi serta peningkatan efisiensi jantung. Ketika curah jantung mengalami peningkatan, volume cairan yang melewati ginjal meningkat untuk difiltrasi dan diekskresi, sehingga volume intravaskular menurun. Efek samping digitalis, yaitu : 1. Gejala saluran cerna : hilang nafsu makan dan mual/ muntah. 2. Efek pada jantung : terjadi keracunan digitalis (seperti, fibrilasi ventrikel atau atrium (gangguan pembentukan rangsangan) ) 3. Susunan saraf : sakit kepala, halusinasi, lemah, disorientasi, dan sebagainya. 4. Gangguan penglihatan : kromatopsia (buta warna sebagian atau seluruhnya), penglihatan kabur, dan sebagainya.

5.

Terapi Inotropik Positif Dopamin (salah satu obat inotropik positif) digunakan untuk meningkatkan denyut jantung pada keadaan bradikardia. Ketika pemberian atropin pada dosis 5-20 mg/kg/menit tidak menghasilkan kerja yang efektif. Dopamin bekerja tergantung dari pemberian dosis. Pada dosis kecil (1-2 g/kg/menit), dopamin akan mendilatasi pembuluh darah ginjal dan pembuluh darah mesentrik, serta menghasilkan pengeluaran urin (efek dopaminergik). Pada dosis 2-10 g/kg/menit, dopamin meningkatkan curah jantung melalui peningkatan kontraktilitas jantung dan meningkatkan tekanan darah melalui vasokontriksi. Penghentian pengobatan dopamin harus dilakuakn bertahap, apabila mendadak, akan menimbulkan hipotensi berat. Selain dopamin, juga terdapat obat lainnya yaitu dobutamin. Dobutamin (Dobutrex) merupakan obat simpatomimetik dengan kerja beta-1 adrenergik. Efek beta-1 adalah peningkatan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung. Digoksin, merupakan obat inotropik yang paling penting. Tujuannya untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dengan cara meningkatkan Na+ intraselular dan menghasilkan sekunder Ca2+ intraselular yang meningkatkan kekuatan kontraksi miokard. Dobutamin (Dobutrex) merupakan obat simpatomimetik dengan kerja beta-1 adrenergik. Perbedaan kontras dengan dopamin adalah tidak menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah pada ginjal - Efek beta-1 adalah peningkatan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung. Efek samping (secara umum) : 1. Takikardia, hipertensi, sehingga dosis diturunkan. 2. Mual, sakit kepala, nyeri angina, sesak nafas, dan aritmia ventrikel terkadang terjadi. 3. Fibrilasi atrium (ritme denyut abnormal yang terjadi di jantung) . Pada penyakit koroner tanpa gagal jantung, dopamin dapat menyebabkan iskemik miokard

6.

Terapi Sedatif Pemberian sedatif dapat mengurangi kegelisahan pada gagal jantung yang berat. Obat sedatif yang sering digunakan adalah Phenobarbital 15-30 gram Empat kali sehari dengan tujuan untuk mengistirahatkan klien dan relaksasi pada klien.

Sumber : Ira Llyod Rubin dkk, 1996 dalam Muttaqin, 2009. Referensi : J, Neal Michael. (2006). At a Glance: Farmakologi Medis. Edisi 5. Jakarta : Erlangga.

Muttaqin, Arif. (2009). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta : Salemba Staff Pengajar Dapartemen Farmakologi FK UNSRI. (2009). Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed 2. Jakarta: EGC