Anda di halaman 1dari 14

1

A. PENGERTIAN Preeklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema. Preeklamsia adalah sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu. Preeklamsia adalah sindroma spesifik dalam kehamilan yang menyebabkan perfusi darah ke organ berkurang karena adanya vasospasmus dan menurunnya aktivitas sel endotel B. EFIDEMIOLOGI Preeklampsia dapat ditemui pada sekitar 5-10% kehamilan, terutama kehamilan pertama pada wanita berusia di atas 35 tahun. Frekuensi pre-eklampsia pada primigravida lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida, terutama pada primigravida muda. Diabetes mellitus, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, usia > 35 tahun, dan obesitas merupakan faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia. Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan preeklampsia: 1. Usia Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten 2. Paritas angka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua, primigravida tua risiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat 3. Ras / golongan etnik bias (mungkin ada perbedaan perlakuan / akses terhadap berbagai etnikdi banyak negara) 4. Faktor keturunan Jika ada riwayat pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai + 25%

Keperawatan Meternitas

2 5. Faktor gen Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin 6. Diet / gizi Tidak ada hubungan bermakna antara menu / pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain : kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang obese / overweight 7. Iklim / musim Di daerah tropis insidens lebih tinggi 8. Tingkah laku / sosioekonomi Kebiasaan merokok : insidens pada ibu perokok lebih rendah, namun merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat yang jauh lebih tinggi. Aktifitas fisik selama hamil : istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan / insidens hipertensi dalam kehamilan. C. ETIOLOGI Penyebab pasti dari kelainan ini masih belum diketahui, namun beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklampsia dan eklampsia. Faktor faktor tersebut antara lain, diabetes mellitus, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, usia > 35 tahun, dan obesitas. D. KLASIFIKASI 1. Preeklampsi ringan ditandai : - Tekanan darah sistol 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan intrerval 6 jam pemeriksaan. - Tekanan darah diastol 90 atau kenaikan 15 mmHg. - BB naik lebih dari 1 Kg/minggu. - Proteinuri 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1 2 pada setiap urine kateter atau midstearh. 2. Preeklampsi berat ditandai : - Tensi 160/110 mmHg atau lebih. - Oliguri, urine , 400 cc/24 jam. - Proteinuri > dari 3 gr/l. - Keluhan subyektif : nyeri epigastrium, nyeri kepala, gangguan penglihatan, Keperawatan Meternitas

3 gangguan kesadaran, oedema paru dan sianosis. E. Pathofisiologi Pada preeklampsi terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit, dimana perubahan pokok pada preeklampsi yaitu mengalami spasme pembuluh darah perlu adanya kompensasi hipertensi ( suatu usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifir agar oksigenasi jaringan tercukupi). Dengan adanya spasme pembuluh darah menyebabkan perubahan perubahan ke organ antara lain : 1. Otak Mengalami resistensi pembuluh darah ke otak meningkat akan terjadi oedema yang menyebabkan kelainan cerebal bisa menimbulkan pusing dan CVA ,serta kelainan visus pada mata. 2. Ginjal Terjadi spasme arteriole glomerulus yang menyebabkan aliran darah ke ginjal berkurang maka terjadi filtrasi glomerolus negatif , dimana filtrasi natirum lewat glomelurus mengalami penurunan sampai dengan 50 % dari normal yang mengakibatkan retensi garam dan air , sehingga terjadi oliguri dan oedema. 3. URI Dimana aliran darah plasenta menurun yang menyebabkan gangguan plasenta maka akan terjadi IUGR, oksigenisasi berkurang sehingga akan terjadi gangguan pertumbuhan janin, gawat janin , serta kematian janin dalam kandungan. 4. Rahim Tonus otot rahim peka rangsang terjadi peningkatan yang akan menyebabkan partus prematur. 5. Paru Dekompensi cordis yang akan menyebabkan oedema paru sehingga oksigenasi terganggu dan cyanosis maka akan terjadi gangguan pola nafas. Juga mengalami aspirasi paru / abses paru yang bisa menyebabkan kematian . 6. Hepar Penurunan perfusi ke hati dapat mengakibatkan oedema hati , dan perdarahan subskapular sehingga sering menyebabkan nyeri epigastrium, serta ikterus. Keperawatan Meternitas

4 D. TANDA DAN GEJALA Selain bengkak pada kaki dan tangan, protein pada urine dan tekanan darah tinggi. Gejala preeklamsia yang patut diwaspadai adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. E. Berat badan yang meningka secara drastis akibat dari penimbunan cairan dalam tubuh Nyeri perut Sakit kepala yang berat Perubahan pada refleks Penurunan produksi kencing atau bahkan tidak kencing sama sekali Ada darah pada air kencing Pusing Mual dan muntah yang berlebihan KOMPLIKASI Pada ibu: 1. perubahan pada sistem saraf pusat mencakup refleks berlebihan dan kejang. 2. sindrom hemolisis, kenaikan enzim hati, dan hitung trombosit rendah. Pada bayi: 1. prematuritas 2. keterbatasan pertumbuhan intrauterine ( Intrauterine Growth ) F. EFEK DAN GEJALA PADA JANIN Preeklampsia dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis dini harus diutamakan bila diinginkan morbiditas dan mortalitas rendah bagi ibu dan anaknya. Walaupun terjadi preeklamsia sukar dicegah, namun preeklamsia berat dan preeklamsia biasanya dapat dihindarkan dengan mengenal secara dini penyakit itu dan dengan penanganan secara sempurna. Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan: Keperawatan Meternitas

5 1. Peningkatan tekanan yang lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg 2. Atau peningkatan tekanan sistolik > 30 mmHg atau diastolik > 15 mmHg 3. Atau peningkatan mean arterial pressure > 20 mmHg atau MAP.> 105 mmHg 4. Proteinuria signifikan , 300 mg/ 24 jam atau > 1 g/ml 5. Diukur 2 kali pemeriksaan dengan jarak waktu 6 jam 6. Udema umum atau peningkatan berat badan ideal Tekanan darah idealnya diukur setelah pasien istirahat 30 menit. Bila tekanan darah mencapai atau > 160/110 mmHg, preeklamsia termasuk kriteria berat jika terdapat gejala lain seperti disebut diatas. Kriteria diagnosis preeklamsia berat: 1. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg 2. Proteinuria sama dengan 5 atau + 3 pada tes celup strip 3. Oliguria, diuresis 4. Sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan 5. Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas abdomen atau ada ikterus 6. Udema paru atau sianosis 7. Trombositopenia 8. Pertumbuhan janin yang terhambat G. PENCEGAHAN 1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu secara teliti, mengenali tandatanda sedini mungkin (pre-eklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. 2. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklemsi kalau ada factor-faktor predisposisi. 3. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Penanganan Pre eklampsia Ringan a. Istirahat di tempat tidur dengan berbaring ke arah sisi tubuh. Keperawatan Meternitas

6 b. fenobarbital 330 mg per hari (menenangkan penderitaan dan menurunkan tensi) c. pengurangan garam dalam diet. d. pemakaian diuretik dan antihipertensi tidak dianjurkan. e. jika tidak ada perbaikan dan tensi terus mningkat, retensi cairan dan proteinuria bertambah maka pengakhiran kehamilan dilakukan meskipun janin msh premature. 2. Penanganan Pre eklampsia Berat a. beri sedativa yang kuat utk mcegah kejang b. jika oliguria, beri glukosa 20% iv c. pre eklampsia berat lbh mudah menjadi eklampsia pd saat persalinan d. perlu analgetika dan sedativa lebih banyak e. persalinan hendaknya dengan cunam atau ekstraktor vakum dg narkosis umum utk menghindari rangsangan pada ssp f. anestesia lokal bila tensi tidak terlalu tinggi dan penderita masih somnolen karena pengaruh obat g. pemberian ergometrin rutin pd kala III tidak dianjurkan, kecuali ada perdarahan post partum. h. obat penenang diteruskan sampai 48 jam post partum, kemudian dikurangi bertahap dalam 3-4 hari i. Pada gawat janin dalam kala I dilakukan segera seksio sesaria j. Pada gawat janin dalam kala II dilakukan ekstraksi dg cunam atau ekstraktor vakum k. post partum bayi sering menunjukkan tanda-tanda asfiksia neonatorum maka perlu resusitasi. 3. Tujuan Pengobatan a. Mencegah terjadinya eklamsia b. Anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar c. Persalinan harus dengan trauma yang sedikit-sedikitnya dan jangan sampai menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya ( sectio caesarea menembah bahaya pada kehamilan dan persalinan berikutnya ). d. Mencegah hypertensi yang menetap

Keperawatan Meternitas

I.

Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji Pengkajian yang dilakukan terhadap ibu preeklampsi berat antara lain sebagai berikut : 1. Identitas umum ibu 2. Data riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan dahulu - Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil - Kemungkinan ibu mempunyai riwayat preeklampsia pada kehamilan terdahulu - Biasanya mudah terjadi pada ibu dengan obesitas - Ibu mungkin pernah menderita penyakit ginjal kronis b. Riwayat kesehatan sekarang - Ibu merasa sakit kepala di daerah frontal - Terasa sakit flu di ulu hati/nyeri epigastrium - Gangguan virus : penglihatan kabur,skotoma,dan diplopia - Mual dan muntah, tidak ada nafsu makan - Gangguan serebral lainnya ; terhuyung-huyung, refleks tinggi,dan tidak tenang - Edema pada ekstermitas - Tengkuk terasa berat - Kenaikan berat badan mencapai 1 kg perminggu c. Riwayat Kesehatan Keluarga Kemungkinan mempunyai riwayat preeklampsi ringan atau berat dan eklampsi dalam keluarga d. Riwayat Perkawinan Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun atau diatas 35 tahun

3. Pemeriksaan fisik a. Keadaan umum b. Kepala c. Mata Keperawatan Meternitas : lemah : sakit kepala, wajah edema : konjungtiva sedikit anemis, edema pada retina

8 d. Pencernaan abdomen : nyeri daerah epigastrium, anoreksia,mual dan muntah e. Ekstermitas f. Sistem persarafan g. Genitourinaria h. Pemeriksaan janin 4. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium - Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah: - Penurunan hemoglobin (nilai rujukan ata kadar normal hemoglobin utk wanita hamil adalah 12-14gr%) - Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol%) - Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3 - Urinalisis: ditemukan protein dalam urin - Pemeriksaan fungsi hati - Bilirubin meningkat (N= <1 mg/dl) - LDH (laktat dehidrogenase) meningkat - Aspartat aminotransferase (AST) >60 ul - Serum glutamat pirufat trasaminase (SGOT) meningkat (N= 6,7-8,7 g/dl) - Tes kimia darah: asam urat meningkat (N= 2,4-2,7 mg/dl) Pemeriksaan radiologi - Ultrasonografi: sedikit. - Kardiografi: diketahui denyut jantung bayi lemah 5. Data sosial ekonomi Preeklampsia berat lebih banyak terjadi pada wanita dan golongan ekonomi rendah, karena merreka kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein dan juga kurang melakukan perawatan antenatal yang teratur. 6. Data psikologis Biasanya ibu preeklampsia ini berada dalam kondisi yang labil dan mudah marah, ibu merasa khawatir akan keadaan dirinya dan keadaan janin dalam kandungannya, dia takut anaknya nanti lahir cacat atau meninggal dunia,sehingga ia takut untuk melahirkan. ditemukannya retardasi pertumbuhan janin intrauterus. Pernapasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban : edema pada kaki dan tangan juga pada jari-jari kaki : hiper refleksia, klonus pada kaki : oliguria, proteinuria : bunyi jantung janin tidak teratur, gerakan janin melemah

Keperawatan Meternitas

J.

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri biologi 2. 3. 4. 5. 6. 7. Intoleransi aktivitas b.d Kelemahan menyeluruh Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan kebutuhan O2 Penurunan curah jantung b/d gangguan irama jantung, stroke volume, pre load dan afterload, kontraktilitas jantung. Kelebihan Volume Cairan b/d kerusakan fungsi glomerolus skunder terhadap penurunan cardiac output. Risiko Injury dengan faktor resiko dengan faktor resiko fisik Ansietas b.d. ancaman perubahan status kesehatan peningkatan

Keperawatan Meternitas

10

J. No 1. Diagnosa Keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri biologi

INTERVENSI KEPERAWATAN Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tinfakanNIC : keperawatan selama . 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif Pasien tidak mengalami termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, nyeri, dengan kriteria hasil: kualitas dan faktor presipitasi 1. Mampu 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan mengontrol nyeri. 3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan 2. Melaporkan menemukan dukungan bahwa nyeri berkurang 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri dengan menggunakan seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan manajemen nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri 3. Mampu 6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan mengenali nyeri (skala, intervensi intensitas, frekuensi dan 7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, tanda nyeri) relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin 4. Menyatakan 8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ... rasa nyaman setelah nyeri 9. Tingkatkan istirahat berkurang 10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab 5. Tanda vital nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan dalam rentang normal antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur 6. Tidak 11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian mengalami gangguan analgesik pertama kali tidur

2.

Intoleransi Setelah dilakukan tindakanNIC : aktivitas keperawatan selama .1. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan b.d Kelemahan Pasien bertoleransi terhadap aktivitas menyeluruh aktivitas dengan Kriteria2. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan Hasil : 3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat 1. Berpartisipa 4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi si dalam aktivitas fisik secara berlebihan tanpa disertai5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas peningkatan tekanan (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, darah, nadi dan RR perubahan hemodinamik) 2. Keseimbang 6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien an aktivitas dan istirahat 7. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan 8. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial 9. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan Keperawatan Meternitas

11 10.Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek 3 Pola Nafas tidak Setelah dilakukan tindakan NIC: efektif keperawatan selama 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi berhubungan pasien menunjukkan 2. Pasang mayo bila perlu dengan : keefektifan pola nafas, 3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu peningkatan dibuktikan dengan kriteria 4. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction kebutuhan O2 hasil: 5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara 1. Mendemonstrasikan tambahan batuk efektif dan suara 6. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl nafas yang bersih, tidak Lembab ada sianosis dan dyspneu 7. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan 2. Menunjukkan jalan nafas keseimbangan. yang paten. 8. Monitor respirasi dan status O2 3. Tanda Tanda vital dalam 9. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea rentang normal. 10. Pertahankan jalan nafas yang paten 11. Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi 12. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi 13. Monitor vital sign 14. Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas. 15. Ajarkan bagaimana batuk efektif 16. Monitor pola nafas Penurunan curah jantung b/d gangguan irama jantung, stroke volume, pre load dan afterload, kontraktilitas jantung. NOC : NIC : Setelah dilakukan asuhan 1. Evaluasi adanya nyeri dada selamapenurunan 2. Catat adanya disritmia jantung kardiak output klien teratasi 3. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac dengan kriteria hasil: putput 1. Tand 4. Monitor status pernafasan yang menandakan gagal a Vital dalam rentang jantung normal (Tekanan darah, 5. Monitor balance cairan Nadi, respirasi) 6. Atur periode latihan dan istirahat untuk 2. Dap menghindari kelelahan at mentoleransi aktivitas, 7. Monitor toleransi aktivitas pasien tidak ada kelelahan 8. Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan 3. Tida ortopneu k ada edema paru, perifer, 9. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR dan tidak ada asites 10. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau 4. Tida berdiri k ada penurunan 11. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan kesadaran 12. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan 5. AG setelah aktivitas D dalam batas normal 13. Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung 6. Tida 14. Monitor frekuensi dan irama pernapasan k ada distensi vena leher 15. Monitor pola pernapasan abnormal 7. War 16. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit na kulit normal 17. Monitor sianosis perifer 18. Jelaskan pada pasien tujuan dari pemberian

4.

Keperawatan Meternitas

12 oksigen 19. Kelola pemberian obat anti aritmia, inotropik, nitrogliserin dan vasodilator untuk mempertahankan kontraktilitas jantung 20. Minimalkan stress lingkungan 5. Kelebihan Volume Cairan b/d Kerusakan fungi glomerolus sekunder Setelah dilakukan tindakan NIC : keperawatan selama . 1. Pertahankan catatan intake dan output yang Kelebihan volume cairan akurat teratasi dengan kriteria: 2. Pasang urin kateter jika diperlukan 1. Terbebas dari 3. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi edema, efusi, anaskara cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin ) 2. Bunyi nafas 4. Monitor vital sign bersih, tidak ada 5. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan dyspneu/ortopneu (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites) 3. Terbebas dari 6. Kaji lokasi dan luas edema distensi vena jugularis, 7. Monitor masukan makanan / cairan 4. Memelihara 8. Monitor status nutrisi tekanan vena sentral, 9. Berikan diuretik sesuai interuksi tekanan kapiler paru, 10. Kolaborasi pemberian obat output jantung dan vital 11. Monitor berat badan sign DBN 12. Monitor elektrolit 5. Terbebas dari 13. Monitor tanda dan gejala dari odema kelelahan, kecemasan atau bingung Risiko InjuryNOC : NIC : dengan faktorSetelah dilakukan tindakan 1. Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien resiko dengankeperawatan selama. Klien 2. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai faktor resikotidak mengalami injury dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien fisik dengan kriterian hasil: dan riwayat penyakit terdahulu pasien 1. Klie 3. Menghindarkan lingkungan yang berbahaya n terbebas dari cedera (misalnya memindahkan perabotan) 2. Klie 4. Memasang side rail tempat tidur n mampu menjelaskan 5. Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan cara/metode bersih untukmencegah 6. Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah injury/cedera dijangkau pasien. 3. Klie 7. Membatasi pengunjung n mampu menjelaskan 8. Memberikan penerangan yang cukup factor risiko dari 9. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien. lingkungan/perilaku 10. Mengontrol lingkungan dari kebisingan personal 11. Memindahkan barang-barang yang dapat 4. Ma membahayakan mpumemodifikasi gaya 12. Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau hidup untukmencegah pengunjung adanya perubahan status kesehatan injury dan penyebab penyakit. 5. Men ggunakan fasilitas kesehatan yang ada 6. Ma mpu mengenali Keperawatan Meternitas

6.

13 perubahan kesehatan status

7.

Ansietas b.d.Setelah dilakukan tindakan NIC ancaman keperawatan selama X 24 Menurunkan Cemas perubahan jam kecemasan orang tua 1. Gunakan pendekatan dengan konsep atraumatik status kese-berkurang / hilang, dengan care hatan criteria : 2. Jangan memberikan jaminan tentang prognosis penyakit NOC 3. Jelaskan semua prosedur dan dengarkan keluhan Mengotrol cemas klien/keluarga a. Klien/keluarga mampu 4. Pahami harapan pasien/keluarga dalam situasi mengidentifikasi dan stres mengungkapkan gejala 5. Temani pasien/keluarga untuk memberikan cemas. keamanan dan mengurangi takut b. Mengidentifikasi, 6. Bersama tim kesehatan, berikan mengungkapkan, dan informasi mengenai diagnosis, tindakan menunjukkan teknik prognosis untuk mengontrol cemas 7. Anjurkan keluarga untuk menemani anak dalam c. Vital sign (TD, nadi, pelaksanaan tindakan keperawatan respirasi) dalam batas 8. Lakukan massage pada leher dan punggung, bila normal perlu d. Postur tubuh, ekspresi 9. Bantu pasien mengenal penyebab kecemasan wajah, bahasa tubuh, 10. Dorong pasien/keluarga untuk mengungkapkan dan tingkat aktivitas perasaan, ketakutan, persepsi tentang penyakit menunjukkan berkurangnya kecemasan. e. Menunjukkan peningkatan konsentrasi dan akurasi dalam berpikir Indikator skala : 1. Tidak pernah dilakukan 2. Jarang dilakukan 3. Kadang dilakukan 4. Sering dilakukan 5. Selalu dilakukan

Keperawatan Meternitas

14

DAFTAR PUSTAKA 1. JNPKKR - POGI ,2000. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka. 2. Manuaba, Ida Bagus Gede ,1998. Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB. Jakarta : EGC. 3. Myles MF, Text Book For Midwive, Churchillivine Stone, London,1998. 4. Prawirohardjo, Sarwono, 1997. Ilmu Kebidanan . Jakarta YBP. SP. 5. Rustam Mocthar, 1992. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC. 6. Taber. Ben Zion, MD ,1994. Kapita Sclekta : Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi. Penerbit EGC. Jakarta. 7. Yasmin Asih, 1995. Dasar-Dasar Keperawatan, Maternitas EGC, Jakarta. 8. NANDA International. Nanda International: Nursing Diagnoses 2009-2011. USA: Willey Blackwell Publicaton, 2009. 9. Moorhead, Sue, Meridean Maas, Marion Johnson. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. USA: Mosby Elsevier, 2008. 10. Bulechek, Gloria M, Joanne C. McCloskey. Nursing Intervetion Classification(NIC) Fifth Edition. USA: Mosby Elsevier, 2008.

Keperawatan Meternitas

Anda mungkin juga menyukai