Anda di halaman 1dari 18

PENGUJIAN EFEK ANTIDEPRESI

I.

TUJUAN Setelah menyelesaikan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui sampai sejauh mana aktivitas obat antidepresi pada hewan percobaan.

II.

PRINSIP Obat anti depresan mengurangi depresi pada hewan coba yang mengalami depresi.

III.

TEORI Depresi adalah suatu kondisi medis-psikiatris dan bukan sekedar suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu gangguan depresi. Beberapa gejala gangguan depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas dan gangguan pola tidur (Chandra, 2013). Antidepresan digunakan untuk tujuan klinis dalam sejumlah indikasi termasuk yang berikut ini : Untuk mengurangi perasaan gelisah, panik dan stress Meringankan insomnia Untuk mengurangi kejang / serangan dalam perawatan epilepsy Menyebabkan relaksasi otot pada kondisi ketegangan otot Untuk menurunkan tekanan darah dan atau denyut jantung Untuk meningkatkan mood dan atau meningkatkan kesupelan

(Andri, 2012). Antidepresan terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu tricyclic antidepressants (TCA), selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), selective norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI), atypical

antidepressants dan monoamine oksidase inhibitors (MAOI) (Gunawan, 2007). 1. TCA (Tricyclic Antidepressant) TCA menghambat ambilan norepinefrin dan serotonin neuron masuk ke terminal saraf prasinaptik. Dengan menghambat jalan utama pengeluaran neurotransmiter, TCA akan meningkatkan konsentrasi monoamin dalam celah sinaptik, menimbulkan efek antidepresan. TCA juga menghambat reseptor serotonik, a-adrenergik, histamin dan muskarinik (Katzung, 1998). Obat antidepresi golongan trisiklik pada gugus metilnya terdapat perbedaan potensi dan selektivitas hambatan re-uptake berbagai neurotransmitter. Amin sekunder yang menghambat re-uptake

norepinefrin dan amin tersier menghambat re-uptake serotonin pada sinap neuron (Ganiswara, 1995). Amitriptyline Amitriptiline termasuk antidepresi trisiklik (golongan amin tersier), yaitu obat yang mempunyai dua gugus metil. Struktur kimia amitriptilin :

HCl

CHCH2CH2N(CH3)2

(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Efek samping Amitriptyline adalah : Sedasi : mengantuk, kewaspadaan berkurang, konerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun Efek anti-kolinergik : mulut kering, retensi urine, penglihatan kabur, konstipasi, sinus takikardi, dan lain-lain Efek anti-adrenergik alfa : perubahan EKG, hipotensi Efek neurotoksis : tremor halus, gelisah, agitasi, insomnia (Nyca, 2010). 2. SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor) Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa

neurotransmiter aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah serotonin. Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau kekurangan neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat (Faridadic, 2009). Pada depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu reseptor 5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam mekanisme biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua golongan anti depresan (Faridadic, 2009).

3. MAOI (Mono Amin Oksidase Inhibitor) Monoamin oksidase (MAO) adalah suatu enzim mitokondria yang ditemukan dalam jaringan saraf dan jaringan lain, seperti usus dan hati. Dalam neuron, MAO berfungsi sebagai "katup penyelamat", memberikan deaminasi okidatif dan meng-nonaktifkan setiap molekul neurotransmiter (norepinefrin, dopamin, dan serotonin) yang berlebihan dan bocor keluar vesikel sinaptik ketika neuron istirahat (Gunawan, 2007).

Sebagian besar inhibitor MAO, seperti isokarboksazid membentuk senyawa kompleks yang stabil dengan enzim, menyebabkan inaktivasi yang ireversibel. Ini mengakibatkan peningkatan depot norepinefrin, serotonin dan dopamin dalam neuron dan difusi selanjutnya sebagai neurotransmiter yang berlebih ke dalam ruang sinaptik. Obat ini menghambat bukan hanya MAO dalam obat, tetapi oksidase yang mengkatalisis deaminasi oksidatif obat dan substansi yang mungkin toksik seperti tiramin yang ditemukan pada makanan terlentu (Katzung, 1998).

4. SNRI (Selective Norepinephrine and Serotonin Reuptake Inhibitor) Salah satu contoh obat golongan SNRI adalah venlafaxine yang menyebabkan penghambatan sentral selektif terhadap ambilan kembali noradrenalin dan serotonin. Venlafaxien memiliki efek samping yang sama dengan SSRI, yang tersering adalah mual, sakit kepala, insomnia, somnolen, mulut kering, pusing, konstipasi, astenia, berkeringat dan gugup. Kebanyakan efek samping ini terkait dosis dan sebagian besar menurun intensitas dan frekuensinya seiring waktu. Pada dosis yang lebih tinggi dapat terjadi hipertensi (Katzung, 1998).

5. Atypical Antidepressant Salah satu contoh atypical antidpressant yaitu bupropion, memiliki struktur kimia mirip amfetamin, obat ini diduga bekerja pada efek dopaminergik. Efek samping utama berupa perangsangan sentral agitasi, ansietas dan insomnia pada 2% pasien. Efek samping lain yang dapat terjadi ialah mulut kering, migrain, mual, muntah, konstipasi dan tremor. Bupropion tidak memperlihatkan efek antikolinergik dan tidak

menghambat MAO (Gunawan, 2007).

IV.

ALAT DAN BAHAN A. Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kapas Suntikan Stopwatch Tabung silinder Timbangan Ohaus Wadah mencit

B. Bahan 1. 2. 3. 4. 5. Air Alkohol Amitriptilin Mencit PGA 2%

C. Gambar Alat

Kapas

Suntikan

Stopwatch

Tabung Silinder

Timbangan Ohaus

Wadah mencit

VI.

PROSEDUR Praktikan dibagi menjadi 3 kelompok, dengan masing-masing kelompok diberikan tiga ekor mencit yang terdiri dari 1 ekor mencit untuk kontrol negatif (diberikan PGA 2%), 1 ekor untuk uji amitriptilin dosis I (1,625 mg/kg BB) , dan 1 ekor mencit untuk uji amitriptilin dosis II (3,25 mg/kg BB). Sebelum diberikan perlakuan, sehari sebelum dilakukan percobaan semua mencit yang digunakan sebagai hewan percobaan diberikan perlakuan dengan diberikan perlakuan berenang selama 5 menit, agar mencit bisa beradaptasi dengan lingkungan nya. Pada hari H praktikum, pertama mencit ditimbang terlebih dahulu agar dosis yang diberikan bisa ditentukan. Kemudian mencit diberi perlakuan

dengan diberikan sediaan uji secara intraperitonial. Setelah satu jam, mencit dimasukkan ke dalam air yang berada dalam wadah berbentuk silinder. Kemudian diamati lamanya mencit diam tidak berenang setiap 5 menit selama 15 menit. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis secara statistika berdasarkan analisis variansi dan kebermaknaan perbedaan lama waktu tidak bergerak antara kelompok kontrol dan kelompok uji. Lalu data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

V.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 1. Data pengamatan pengujian setelah percobaan Tabel Pengamatan Waktu Depresi Mencit Selama 15 menit Kelompok 0-5 menit (detik) 1 2 I 3 Ratarata 1 2 II 3 Ratarata 106 34 111 83,6 0 51 77 42,7 5-10 menit (detik) 184 132 140 152 16 137 216 123 10-15 menit Jumlah (detik) 251 135 253 213 122 182 240 181,3 347 448,6

1 2 III 3 Ratarata

109 82 74 88,3

112 182 159 151

83 249 207 179,7 419

A. Perhitungan Dosis : Rumus : volume dosis = ml

% Aktivitas : (

) )

x100%

% (Amitriptilin I) : % (Amitriptilin II) :

x100% = 77,35 % x100% = 93,401%

% Inhibisi death time : 100% - [ (

x100%]

% (Amitriptilin I) : 100% - 77,35% = 26,65 % % (Amitriptilin II) : 100% - 93,401 = 6,598%

B. Grafik Grafik 1.1 Hubungan Pemberian Obat Terhadap Gerak Mencit

GRAFIK PEMBERIAN OBAT ANTIDEPRESAN TERHADAP GERAK MENCIT


Lamanya waktu diam (detik) 250 200 150 100 50 0 PGA 2% Amitriptilin 1,625 mg/kgBB Obat yang diberikan Amitriptilin 1,625 mg/kgBB
Kelompok praktikum

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

Grafik 1.2 Hubungan Pemberian Obat Terhadap Gerak Mencit Perkelompok

Grafik Pemberian Obat Antidepresan Terhadap Gerak Mencit Kelompok 1


500 Lamanya waktu diam (diam) 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 5' 10' 15' Amitriptilin 1,625 mg/kgBB PGA 2% Amitriptilin 3,25 mg/kgBB

2. Analisis Statistik a. Hipotesis : Ho : T1 = 0, artinya seluruh perlakuan memberikan efek yang sama terhadap mencit H1 : Tidak demikian b. Tabel Anava Sumber Variasi Rata-rata Waktu (blok) Pemberian (perlakuan) Kekeliruan eksponen Kekeliruan subsampling obat Df 2 SS 46313,16 MS Fhit

-13448,84

280843,68 4

18

291336,76

26

1115795,38

c.

Analisis Ragam Perhitungan DF : Rata-rata Waktu == (b-1) = 3-1 = 2

Pemberian obat Kekeliruan eksponen Total

= (p-1) = 3-1 = 2 = (b-1)(p-1) = 2x2 = 4 = 27 1 = 26

Kekeliruan subsampling = 26 - (2+2+4)= 18 Perhitungan SS : SSy = = = 510720,62 SSb = = = 46313,16 - SSy - 510720,69

SStrt = =

SSy - 510720,62

= -13448,84 SStot = Y2 SSy = (5412+3012+5042+1382+3702+5332+3042+5132+4402) 510720,62 = (292681+90601+254016+19044+136900+284089+92416+263 169+193600) 510720,62 = 1115795,38

Sb = = 313708 SSeks = Sb (SSb + SS tret ) = 313708 (46313,16+ (-13448,84)) = 280843,68 SSsampling = Sstot ( SSy + Sb) = 1115795,38 (510720,62 + 313708) = 291336,76 Perhitungan MS : MSblok = MStreat = MSeks = MSsubsamping =

Perhitungan Fhit Fhit = = = 5% = 9,9443

Dengan = 0.05 Ftabel = F(2.4)

Karena Fhit <Ftabel, maka Ho diterima. Artinya semua pemberian obat memberikan efek yang sama terhadap mencit. VI. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, telah dilakukan percobaan mengenai pengujian efek antidepresi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana aktivitas obat anti depresi pada hewan percobaan. Depresi adalah suatu

gangguan suasana perasaan (mood) yang mempunyai gejala utama efek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, dan kekurangan energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktifitas. Disamping itu gejala lainnya yaitu konsentrasi dan perhatian berkurang, pikiran bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan berkurang. Penyebab depresi adalah terganggunya keseimbangan antara neurotransmitter diotak. Khusunya akibat kekurangan serotonin dan norefrineprin di saraf-saraf otak. Kekurangan serotonin dapat mengakibatkan penyakit demensia alzheimer, parkinson dan migrain. Kekurangan norefrineprin juga dapat mengakibatkan demensia. Selain itu juga kekurangan dopamin dapat mengakibatkan parkinson dan penurunan fungsi serotoninergik. Selain neurotransmitter, faktor keturunan juga merupakan pemeran penting terjadinya depresi. Obat anti depresi merupakan suatu senyawa yang dapat mengatasi gejala depresi dengan cara meningkatkan neurotransmitter monoamin tetapi tidak dapat menyembuhkan penyakit depresi. Antidepresan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Amitriptilin (derivat dibenzosikloheptadin) dengan menggunakan dua dosis yaitu 1,625 mg/kgBB dan 3,25 mg/kgBB. Amitriptilin dengan dosis 3,25 mg/kgBB memiliki efek anti depresan yang kuat dibanding dengan dosis 1,625 mg/kgBB. Amitriptilin merupakan antidepresan klasik yang karena struktur kimianya disebut sebagai antidepresi trisiklik. Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat reuptake serotonin dan norefrineprin di ujung-ujung saraf otak dan dengan demikian dapat memperpanjang masa waktu tersedianya neurotransmitter tersebut. Disamping itu juga dapat mempengaruhi reseptor post sinaps, akan tetapi mekanisme kerjanya belum diketahui. Karena zat pembawa amitriptilin adalah PGA 2% oleh

sebab itu sebagai kontrol negatifnya diberikan PGA 2% secara intraperitoneal. Pemberian intraperitoneal yaitu dilakukan pada bagian bagian rongga perut. Kelompok kontrol ini akan menjadi patokan dalam pengujian efek obat antidepresi yang akan diberikan pada kelompok lainnya. Pada percobaan ini, sehari sebelum percobaan, setiap mencit dimasukkan ke dalam tabung silinder yang berisi air selama 5 menit dan dibiarkan berenang. Hal ini bertujuan untuk mengadaptasikan mencit dengan lingkungannya. Pada hari berikutnya mencit dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok kontrol yang diberi larutan PGA 2 %, kelompok kedua diberi Amitriptilin dengan dosis 1, dan kelompok ketiga diberi Amitriptilin dengan dosis 2. Sebelum diberikan obat, masing-masing mencit ditimbang terlebih dahulu karena berat badan hewan percobaan bergantung dengan dosis obat yang akan diberikan. Dosis yang diberikan dapat dihitung dengan menggunakan rumus : Dosis =
( )

x 0,5

Kemudian masing-masing mencit diberikan obat sesuai dengan kelompoknya. Pemberian obat dilakukan secara intraperitonial yaitu dengan cara menyuntikkan pada bagian abdomen bawah di sebelah garis midsagital. Jarum disuntikkan dengan sudut 10 dari abdomen agak ke pinggir, untuk mencegah terkenanya kandung kemih dan jika terlalu tinggi akan mengenai hati. Setelah masuk ke kulit, jarum ditegakan sehingga menembus lapisan-lapisan otot masuk ke dalam daerah peritonium. Pemberiaan secara intraperitonial ini yang bertujuan untuk mempercepat tahapan farmakokinetik obat dalam tubuh mencit karena obat langsung disuntikkan melalui selaput lambung dan proses

absorpsinya lebih cepat sehingga efek dari obat-obat uji yang diharapkan dapat terjadi lebih cepat dibandingkan dengan peroral. Kemudian mencit didiamkan selama 1 jam. Hal ini dilakukan agar obatnya bereaksi dengan tubuh mencit. Setelah didiamkan 1 jam, ketiga kelompok dimasukkan ke dalam tabung silinder yang berisi air untuk melihat efek depresi pada mencit. Keadaan depresi ditunjukkan dengan diamnya mencit saat berada dalam air. Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati lamanya mencit tidak bergerak dicatat setiap 5 menit selama waktu pengamatan 15 menit. Hasil pengamatan yang diperoleh dari mencit kontrol adalah mencit tersebut mengalami banyak diam, hal ini dikarenakan mencit tersebut megalami depresi karena tidak diberikan obat anti depresi yaitu Amitriptilin. Pada mencit kedua dan ketiga, menunjukkan gerak yang lebih banyak dari yang terjadi pada mencit kontrol. Hal ini dikarenakan pada mencit kedua dan ketiga diberi obat antidepresi Amitriptilin. Tetapi banyaknya gerak yang dihasilkan antara mencit dua dan tiga berbeda karena dosis Amitriptilin yang diberikan berbeda. Hal ini sesuai dengan sifat dan cara kerja dari Amitriprilin yang bekeja memperbaiki suasana perasaan (mood), bertambahnya aktivitas fisik, serta kewaspadaan mental. Semakin besar dosis Amitriptilin yang diberikan , maka tingkat depresi makin rendah, sehingga mencit semakin aktif. Setelah semua prosedur percobaan telah dilakukan, selanjutnya data pengamatan diolah secara statistik dan disajikan dalam garfik. Hasil dari perhitungan pengamatan adalah sebagai berikut, persen aktivitas amitriptilin pada dosis 1 (1,625 mg/kgBB) adalah 93,401% sedangkan persen aktivitas amitriptilin pada dosis 2 (3,625 mg/kgBB) sebesar 77,35 %. Hal ini menunjukkan bahwa mencit yang diberi amitriptilin dosis 1 memiliki jumlah imobilitas yang lebih rendah daripada amitriptilin dosis 2. Seharusnya semakin tinggi dosis suatu obat

antidepresan maka jumlah imobilitas yang dihasilkan pun semakin kecil serta persen aktivitas yang dihasilkan pun akan semakin kecil pula. Persen inhibisi death time pada amitriptilin I adalah 26,65 % dan persen inhibisi death time pada amitriptilin II sebesar 6,598%. Seharusnya persen inhibisi amitriptilin II lebih besar daripada amitriptilin I. Bertambah tingginya dosis obat antidepresan maka obat tersebut akan semakin menghambat terjadinya depresi tersebut dengan cara

menghambat re-uptake neurotransmitter aminergik. Jumlah waktu diam mencit pada tiap kelompok berbeda-beda. Maka grafik yang dihasilkan pun akan berbeda untuk tiap-tiap kelompok. Untuk kelompok 1, diperoleh jumlah waktu diam mencit terbanyak pada kelompok kontrol. Mencit yang tidak diberi obat antidepresan akan mengalami diam yang lebih lama jika dibandingkan dengan mencit yang diberikan obat antidepresan karena mencit yang hanya diberi PGA 2% (kelompok kontrol) saja akan mengalami depresi pada saat berenang. Depresi pada mencit ini ditandai dengan keputus asaan mencit untuk keluar dari dalam air. Dengan demikian, mencit akan mengalami diam yang lebih lama. Sedangkan untuk mencit yang diberikan obat

antidepresan pada dosis yang rendah akan mengalami waktu diam yang lebih lama dibandingkan dengan mencit yang diberikan amitriptilin pada dosis yang tinggi karena semakin rendah dosis obat antidepresan maka depresi yang dialami mencit pun akan semakin besar. Hal ini ditandai dengan keputus asaan mencit untuk keluar dari dalam air. Keputus asaan tersebut menyebabkan mencit tersebut diam. Akan tetapi, pada grafik batang kelompok 1 dihasilkan waktu diam mencit pada amitripitilin 1,625 mg/kgBB lebih rendah daripada waktu diam mencit pada dosis 3,25mg/kgBB. Hal ini tidak sesuai dengan keadaan yang seharusnya.

Seharusnya, dihasilkan grafik batang yang lebih tinggi pada dosis amitripitilin 1,625 mg/kgBB daripada amitripitin 3,25 mg/kgBB. Grafik batang rata-rata waktu diam mencit untuk tiap-tiap treatment dihasilkan rata-rata waktu diam mencit pada PGA 2% paling besar dibandingkan dengan amitripitliin 2 dosis. Selain itu pada amitriptilin dengan dosis 3,25mg/kgBB (dosis 2) akan menghasilkan waktu diam mencit yang paling kecil dibandingkan dengan amitriptilin 1,625 mg/kgBB (dosis 1) dan PGA2%. Akan tetapi, grafik batang yang dihasilkan tidak sesuai dengan keadaan ini. Rata-rata waktu diam mencit pada amitriptilin dosis 1 lebih rendah dibandingkan dengan dosis 2. Seharusnya grafik batang yang dihasilkan pada tiap kelompok akan mengalami penurunan pada tiap treatment. Hal ini dapat disebabkan oleh human error, persepsi diam mencit untuk tiap kelompok berbeda-beda ataupun mencit yang digunakan telah mengalami depresi berat sebelumnya sehingga pada saat dimasukkan ke dalam air mencit tersebut diam.

VII.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa obat antidepresi yaitu amitriptilin dapat memberikan efek antidepresan terhadap mencit dengan memberikan persen aktivitas 77,34% untuk amitriptilin dosis 1,625 mg/kg BB dan 93,39% untuk amitriptilin dosis 3,25 mg/kg BB, dan memberi persen inhibisi 22,66 % untuk amitriptilin dosis 1,625 mg/kg BB dan 6,61% untuk amitriptilin dosis 3,25 mg/kg BB.

DAFTAR PUSTAKA Andri. 2012. Obat Obat Antidepresan. Tersedia di http://www.farmasiku.com/ index.php?target=categories&category_id=172 (diakses 01 Mei 2013)

Chandra, Puspita. 2013. Antidepresan. Tersedia di http://ojs.unud.ac.id/index.php /eum/article/view/4928 (diakses 02 Mei 2013)

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta : Depkes RI.

Faridadic. 2009. Depresi. Tersedia di http://faridadic.wordpress.com/ (diakses 30 April 2013)

Ganiswara, S. G., dkk. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi keempat. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Gunawan, SG, Setabudy, R, Nafrialdi, dan Elysabeth. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-lima. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.

Katzung, BG. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi ke-enam. Jakarta : EGC.

Nyca. 2010. Obat Anti Depresi, Mekanisme, dan Efek Sampingnya. Tersedia di http: //medicomedisch.wordpress.com/2010/11/17/obat-anti-depresi/ (diakses 02 Mei 2013)