Anda di halaman 1dari 100

Standar Isi untuk Sekolah Menengah Pertama (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) Kelompok A 1.

Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 1.1 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara individual maupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, santun, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar

115

kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan ditandai dengan ciri-ciri:

yang secara nasional

1. lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi; 2. mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia; dan 3. memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran PAI dan Budi Pekerti Sekolah/Madrasah tersebut. b. Tujuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMA/MA bertujuan untuk: 1. menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya

116

kepada Allah SWT demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; dan 2. mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama mulia dan berakhlak yang ditunjukkan dalam perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,

santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), responsip dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam, serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA/MA meliputi aspek-aspek sebagai berikut. 1. Al-Quran dan Hadis; 2. Aqidah; 3. Akhlak; 4. Fiqih; dan 5. Sejarah dan Peradaban Islam. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA/MA meliputi: 1. Membaca, menulis, menerjemahkan, dan menjelaskan kandungan AlQuran surat-surat pilihan dan Hadits terkait, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari; 2. Mengamalkan keimanan dan ibadah dengan pemahaman sesuai ajaran agama Islam; 3. Membiasakan perilaku mulia yang meliputi kerja keras, kontrol diri, prasangka baik, perpakaian islami, persaudaraan, semangat menuntut ilmu, toleransi, berpikir kritis, taat aturan, bersikap demokratis, saling
117

menasehati dalam kebaikan, menjauhkan diri dari khamr, narkoba, judi, pergaulan bebas, dan zina; 4. Mengambil pelajaran dari sejarah peradaban Islam masa kejayaan dan masa modern (th 1800 M - sekarang), perkembangan Islam di Indonesia serta menganalisis faktor-faktor kemajuan dan kemunduran peradaban Islam; 5. Membiasakan hidup rukun dan damai intra-umat dan antar-umat beragama selaras dengan wawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

118

1.2 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran dan fungsi yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama berfungsi sekurang-kurangnya sebagai pemberi identitas dan penuntun moral. Karena itu agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, bermartabat, tetapi juga menuntun kepada sikap dan perilaku adil, damai dan peduli. Menyadari peran agama yang amat penting bagi kehidupan umat manusia maka pendidikan agama serta internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi ditempuh melalui pendidikan agama baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun komunitas agamawi masing-masing. Sekolah dengan demikian bukan satu-satunya konteks di mana pendidikan agama terjadi, dan karena itu tidak semua hal harus disajikan di sekolah agar tidak terjadi pengulangan pokok-pokok yang sama dalam konteks lainnya. Pendidikan agama dimaksudkan untuk meningkatkan potensi manusia seutuhnya khususnya dimensi spiritual, sehingga membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Dengan demikian, peserta didik dapat menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keadilan, perdamaian, dan kasih. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilainilai tersebut dalam kehidupan individual maupun kolektif/kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan untuk optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Kompetensi Dasar di mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, sangat tepat dalam rangka menerapkan pendekatan dalam Pendidikan Agama Kristen yang memungkinkan tercapainya internalisasi nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan peserta didik pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetensi Dasar disajikan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual, emosional, dan moral anak didik sehingga memberikan ruang kepada keunikan masing-masing individu. Kompetensi Dasar pendidikan agama Kristen lebih merupakan penuntun dalam membimbing peserta didik berjumpa dengan Tuhan yang
119

maha pengasih dalam Yesus Kristus. Dengan demikian peserta didik dapat merespons kasih Tuhan dengan cara mengasihi Tuhan melalui kasihnya kepada sesama dan pemeliharaan atas alam ciptaan Tuhan yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar mengenal dan bersekutu dengan Allah secara akrab karena sesungguhnya Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka sebagai sahabat. Hakikat Pendidikan Agama Kristen seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi Pendidikan Agama Kristen di Indonesia tahun 1999 adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan maupun dalam kehidupan bersama. Pada dasarnya Pendidikan Agama Kristen dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), tentang Allah yang mahakasih, baik sebagai pencipta, pemelihara, penyelamat serta pembaharu manusia dan seluruh ciptaan-Nya, maupun nilai-nilai Kristiani yang pokok sebagai penuntun kehidupan moral dan etis. Dengan demikian, pengembangan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen pada Pendidikan Dasar dan Menengah mengacu kepada pokok kepercayaan Kristiani yang mendasar tentang Allah dan karya-Nya, serta nilai-nilai Kristiani yang patut diterapkan dalam kehidupan keseharian peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama kehidupan peserta Kristen di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang didik, sehingga mereka dapat menghayati dan secara substansial mampu mendorong terjadinya transformasi dalam mengamalkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Fokus Kompetensi Dasar berpusat pada pengalaman konkret peserta didik (life centered). Artinya, pembahasan Kompetensi Dasar didasarkan pada pengalaman konkret peserta didik mulai dari lingkungan paling dekat: keluarga (orang tua), tetangga, teman bermain, sekolah, komunitas iman,
120

pribadi

masyarakat, dan lingkungan alamnya. Iman dan nilai-nilai Kristiani berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Kristen yang harus dikuasai oleh lulusan SMA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Pendidikan Agama Kristen. b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mengenal dan mengimani Allah yang maha pengasih yang menciptakan, memelihara manusia, alam semesta dan isinya, serta yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. 2. Merespons kasih Allah dengan cara bersyukur baik melalui ibadah yang benar, maupun melalui penerapan nilai kasih, menghormati dan menyayangi orang tua, dan sesama dalam lingkungan konkretnya. 3. Memiliki kepekaan yang tinggi terhadap penderitaan sesama, memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia. 4. Bertanggung jawab dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 5. Menghayati . c. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMA meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Allah dan karya-karya-Nya sebagai pencipta, pemelihara, penyelamat dalam Yesus Kristus, serta pembaharu melalui Roh Kudus. 2. Nilai-nilai Kristiani: a. menjunjung tinggi nilai-nilai pergaulan remaja Kristiani; b. bertanggung jawab mengembangkan dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab; c. bersikap jujur dan anti keserakahan; imannya secara bertanggung jawab dalam konteks masyarakat yang majemuk.

121

d. bersikap terbuka dan toleran dalam pergaulan hidup dalam konteks masyarakat majemuk; e. menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia; f. berdisiplin, bekerja keras dan peduli lingkungan; g. memperlihatkan buah Roh dalam kehidupannya. Karena jenjang pendidikan SMA merupakan jenjang terakhir dalam pendidikan dasar dan menengah serta persiapan memasuki perguruan tinggi, maka sebagai klimaks dari Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen di SMA, peserta didik dibimbing untuk mampu menjadi pembawa kabar baik: dengan menjadi pembawa damai sejahtera dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMA meliputi: Mewujudkan perilaku Kristiani dalam pergaulan hidup sebagai remaja. 1. Menjelaskan dasar etis mengenai tanggung jawab mengembangkan dan menggunakan IPTEK. 2. Mengembangkan sikap kritis terhadap perkembangan IPTEK. 3. Bersikap kritis terhadap gaya hidup konsumerisme dan hedonisme. 4. Mewujudkan sikap dan praktik hidup rukun/damai dengan sesama umat seagama dan antar umat beragama dalam konteks NKRI

122

1.3 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusiayang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusiayang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Dari pengalaman dapat dilihat bahwa apa yang diketahui (pengetahuan, ilmu) tidakselalu membuat hidup seseorang sukses dan bermutu. Tetapi kemampuan, keuletan dan kecekatan seseorang untuk mencernakan dan mengaplikasikan apa yang diketahui dalam hidup nyata, akan membuat hidup seseorang sukses dan bermutu. Demikian pula dalam kehidupan beragama. Orang tidak akan beriman dan diselamatkan oleh apayang ia ketahui tentang imannya, tetapi terlebih oleh pergumulannya bagaimana ia menginterpretasikan dan mengaplikasikan pengetahuan
123

imannya dalam hidup nyata sehari-hari. Seorang beriman yang sejati seorang yang senantiasa berusaha untuk melihat, menyadari dan menghayati kehadiran Allah dalam hidup nyatanya, dan berusaha untuk melaksanakan kehendak Allah bagi dirinya dalam konteks hidup nyatanya. Oleh karena itu Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satuusaha untuk memampukan peserta didik menjalani proses pemahaman, pergumulan dan penghayatan iman dalam konteks hidup nyatanya. Dengan demikian proses/pendekatan ini mengandung 4 unsur yaitu: penyajian fakta/ pengalaman manusiawi, pengidentifikasi nilai-nilai luhur dari fakta, penegasan nilai religius/iman menurut ajaran agama Katolik seperti terdapat dalam Kitab Suci, dokumen ajaran Gereja, dan tradisi katolik,serta diakhiri dengan pilihan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai iman yang ditawarkan. Oleh karena hal-hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan kompetensi inti (KI) yang terdapat dalam standar kompetensi lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) pelajaran agama katolik yang harus dikuasai oleh lulusan SMA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran agama Katolik. b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti pada dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembelajaran mencakup empat aspek yang telah dibahas di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Keempat aspek ini akan dibahas semakin mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman

124

peserta didik pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Keempat aspek itu adalah sebagai berikut: 1. Pribadi peserta didik 2. Yesus Kristus 3. Gereja 4. Kemasyarakatan d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di SMA merupakan standar umum minimal yang meliputi: dasardasar umum ajaran iman Katolik yang harus diketahui, dihayati dan diamalkan para peserta didik. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti dapat membuka peluang bagi pengayaan lokal sesuai kebutuhan sekolah setempat bertolak dari 4 ruang lingkup/aspek tersebut di atas. Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di SMA meliputi: 1. Memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan hatinurani secara bertanggung jawab 2. Memiliki sikap kritis terhadap berbagai berbagai pengaruh dan gaya hidup berdasarkan prinsip iman kristiani kepada Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. 3. Mempertahankan iman kepada Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus dengan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup sehari-hari 4. Memahami Gereja Katolik sebagai Lembaga agama yang menyampaikan kebenaran-kebenaran Kristiani dan memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah 5. Mampu membedakan sumber ajaran Kristiani berupa Kitab Suci, Ajaran Gereja, dan tradisi. 6. Mampu menyusun doa-doa sesuai prinsip liturgi Katolik 7. Memperjuangkan nilai-nilai kerjaaan Allah (kebenaran, perdamaian, Keadilan dan Cinta Kasih) dalam masyarakat seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik, terutama melalui ajaran-ajaran sosial gereja.

125

1.4 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah usaha yang dilakukan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, serta peningkatan potensi spiritual sesuai dengan ajaran agama Hindu. Jadi pendidikan agama diharapkan juga agar peserta didik memiliki kemampuan untuk meyakini keberadaan Tuhan, mampu hidup bersama sebagai komunitas masyarakat yang baik dan mampu memanfaatkan potensi dirinya dengan baik untuk memanfaatkan ciptaan Tuhan (berupa dunia ini) untuk kehidupannya yang lebih baik, dalam rangka mencapai tujuan hidupnya (Mokshartham dan Jagadhita) Pendekatan yang semestinya digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti guna mencapai tujuan sebagai tersebut di atas adalah pendekatan kontektual, dalam arti peserta didik diarahkan untuk memahami tema-tema pembelajaran yang mengambil
126

contoh

terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian maka

peserta didik secara tidak langsung akan tergiring pada kenyataan bahwa ilmu agama adalah sesungguhnya ilmu yang harus bisa diaplikasikan dan benar-benar bermakna untuk hidup kita sehari-hari. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti sekolah tersebut. b. Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di tingkat SMA adalah sebagai berikut: 1. Menumbuh kembangkan dan meningkatkan kualitas Sradha dan Bhakti kehadapan Brahman, dan seseorang menyadari hakekat kehidupannya di jagat raya ini. 2. Mewujudkan insan Sadhu-Gunawan (bersusila dan berguna untuk kehidupan) 3. Membangun insan yang toleran yang gemar mewujudkan kerukunan. pribadi maupun kelompok 5. Mewujudkan insan yang memahami kandungan ajaran yang tertera dalam kitab suci Weda 6. Meningkatkan kesadaran akan peran penting sejarah perkembangan Agama Hindu dalam kontek kehidupan di masa yang akan datang c. Ruang Lingkup Ruang lingkup pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di tingkat SMP meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Tattwa 2. Susila 3. Acara 4. Weda
127

4. Memantapkan pelaksanaan ibadah agama secara sadar baik untuk

5. Sejarah Agama Hindu d. Kompetensi Mata Pelajaran Adapun kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di tingkat SMA adalah agar para peserta didik mampu: 1. Menyadari Eksistensi Brahman/Tuhan, Alam semesta dan keberadaan Manusia 2. Menyadari dan mengamalkan dengan sadar ajaran yang berfungsi membangun pribadi yang positif dan negatif 3. Menyadari, mengamalkan ajaran yang mengarahkan untuk hidup rukun, harmonis, dan damai 4. Menyadari dan mengamalkan ajaran ibadah keagamaan dengan benar 5. Menyadari secara komprehenship kandungan ajaran kitab suci weda 6. Menyadari dan mampu memetik hikmah sejarah perkembangan Agama Hindu baik secara nasional maupun internasional

128

1.5 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama berperan sangat penting dalam menghadapi proses perubahan (anicca) kehidupan umat manusia. Agama menjadi petunjuk jalan dalam upaya mewujudkan kehidupan yang selaras, damai, bermartabat, dan bermakna. Kesadaran terhadap pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka faktor pendukung proses internalisasi nilai-nilai universal dalam kehidupan merupakan kebutuhan, yang harus ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan adalah penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, sikap dan tingkah laku; dalam pengertian yang luas pendidikan adalah hidup itu sendiri, sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan. Masalah sentral pendidikan dalam pandangan Buddha adalah penderitaan manusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha), keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang mendahuluinya. Buddha menempatkan kebodohan (avijja) dalam rumusan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasamuppada), di urutan pertama. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti merupakan proses internalisasi (paratoghosa) yang dilakukan secara bertahap dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar dapat memahami nilai-nilai ajaran Buddha, menerapkannya dalam kehidupan, sehingga meperoleh kemajuan spiritual. Pendidikan diperoleh dari terminologi 'sikkha' (education) secara umum merupakan proses latihan, belajar, mempelajari, pengembangan, dan pencapaian penerangan. Secara natural termasuk latihan moral yang tinggi (sla), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan atau pengetahuan (paa). Secara holistik berhubungan dengan pengembangan fisik (kaya bhavana), pengembangan sosial (sila bhavana), pengembangan mental (citta bhavana), dan pengembangan intelektual (panna bhavana) sehingga menghasilkan keluaran teman yang baik (kalyanamitta). Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di Sekolah mengacu kepada Ajaran Sakyamuni Buddha (Buddha Gautama) yang terdapat dalam Kitab Suci Tripitaka (Tipitaka). Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
129

memiliki

karakteristik

pokok

yaitu

penguasaan

pengetahuan

secara

komprehensif (Pariyatti), mempraktikan hasil yang dipelajari menjadi pedoman dalam berperilaku sehari-hari (Pariyatti), dan pencapaian atau pencerahan (Pativedha). Diharapkan dapat diselenggarakan menggunakan pendekatan Terkait dan metode yang sesuai dengan dan karakteristik dan perkembangan peserta didik. dengan hal-hal tersebut dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsap-konsep dasar agama Buddha yang berhubungan dengan pemecahan masalah secara individu, sosial, dan isu-isu global. 2. Menganalisa berbagai fenomena dan kejadian berdasarkan proses kerja hukum Empat Kebenaran Mulia, Hukum Karma dan Kelahiran Kembali, Tiga Corak Universal, dan Sebab Akibat yang Saling Bergantungan. 3. Mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang memahami, menghayati, mengamalkan/menerapkan Dharma kontektual sesuai Kitab Suci Tripitaka (Tipitaka) dalam kehidupan sehari-hari. 4. Melaksanakan pengembangan batih dalam kehidupan sehari-hari. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Keyakinan (Saddha) 2. Perilaku/moral (Sila) 3. Meditasi (Samadhi) 4. Kebijaksanaan (Panna). 5. Kitab Suci Agama Buddha Tripitaka (Tipitaka)
130

6. Sejarah d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Meliputi: 1. Mendeskripsikan sejarah penulisan, ruang lingkup dan intisari Tripitaka 2. Mengidentifikasi ciri khas agama Buddha, merumuskan peranan Agama Buddha dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. 3. Merumuskan peranan kehidupan beragama dan tujuan hidup berdasarkan agama Buddha. 4. Menalar berbagai fenomena kehidupan sebagai akibat proses kerja hukum tertib kosmis (niyama) 5. Menganalisa berbagai fenomena dan kejadian berdasarkan proses kerja hukum Empat Kebenaran Mulia, Hukum Karma dan Kelahiran Kembali, Tiga Corak Universal, dan Sebab Akibat yang Saling Bergantungan. 6. Merumuskan puja terkait dengan budaya, dan mempraktikkan puja dan doa dalam kehidupan sehari-hari, 7. Mengembangkan perilaku disiplin dengan berkata, berbuat dan penghidupan benar. 8. Mengembangkan konsentrasi dengan melakukan usaha, perhatian, dan konsentrasi Benar sebagai praktik dari Jalan Mulia Berunsur Delapan 9. Mengembangkan pandangan dan pikiran benar sebagai pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan. 10. Memahami aspek-aspek dan pengklasifikasian sila, normatif serta kriteria baik dan buruk suatu perbuatan. 11. Mengembangkan perilaku ramah lingkungan dan responsif sebagai bentuk kepedulian lingkungan 12. Mengembangkan perilaku gotong royong, kerjasama, cinta damai, dan proaktif sebagai bentuk kepedulian sosial. 13. Mendeskripsikan konsep alam semesta dan alam-alam kehidupan. 14. Mendeskripsikan konsep makhluk-makhluk suci sebagai hasil pengembangan dan pemurnian batin. 15. Mengatasi masalah-masalah kehidupan sesuai dengan ajaran Buddha prinsip-prinsip

131

16. Mempraktikkan meditasi perhatian penuh (mindfulness) dalam kehidupan sehari-hari.


17.

Memahami sejarah perkembangan agama zaman Mataram kuno, Sriwijaya, Majapahit, masa penjajahan, dan kemerdekaan sehingga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

132

1.6 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran dan fungsi yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Sekurang-kurangnya agama berfungsi sebagai pemberi identitas dan menjadi penuntun moral. Karena itu agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, bermartabat, tetapi juga menuntun kepada sikap dan perilaku adil, damai dan peduli. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka pendidikan agama serta internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi ditempuh melalui pendidikan agama baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun komunitas keagamaan masingmasing. Sekolah dengan demikian bukan satu-satunya tempat pendidikan agama terjadi, dan karena itu tidak semua hal harus disajikan di sekolah agar tidak terjadi pengulangan dari pokok-pokok yang sama dalam konteks lainnya. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi manusia seutuhnya khususnya dimensi spiritual, sehingga membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Dengan demikian peserta didik dapat menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,keadilan, perdamaian, dan kasih-sayang. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual maupun pada kolektif/kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut

akhirnya bertujuan untuk optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Kompetensi Dasar di mata pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu mendukung tercapainya internalisasi nilai-nilai dalam agama Khonghucu dalam kehidupan peserta didik pada jenjang pendidikan menengah. Kompetensi Dasar disajikan dengan cara menyesuaikan tingkat perkembangan intelektual, emosional, dan moral anak didik karenanya memberikan ruang kepada keunikan masing-masing individu.

133

Kompetensi Dasar pendidikan Agama Khonghucu lebih merupakan penuntun dalam membimbing peserta didik dalam upaya pencarian dan perjumpaan dengan Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian peserta didik dapat merespons Karunia Tuhan (Tian Ming) dengan cara menjalankan perintahNya (Cheng Ming) melalui pelayanan dan pengabdian kepada sesama manusia (Shi ren er shi Tian) dan pemeliharaan dan pelestarian atas alam semesta dan isinya sebagai ciptaan Tuhan. Hakikat pendidikan agama Khonghucu adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan semangat membina diri dapat dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Khonghucu memiliki tanggungjawab untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesentosaan dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bersama. Pada dasarnya pendidikan agama Khonghucu dimaksudkan untuk menyampaikan ajaran agama Khonghucu secara utuh dan jelas agar peserta didik dapat hidup didalam Jalan Suci Tuhan sebagai penuntun kehidupan moral dan etis. Dengan demikian, pengembangan Kompetensi Dasar pendidikan agama Khonghucu pada Pendidikan Dasar dan Menengah mengacu kepada Kitab Suci Si Shu dan Wu Jing serta tata agama yang disusun oleh Dewan Rohaniwan Matakin. Materi Pendidikan agama Khonghucu bukan bersumber pada tradisi Tionghua dan tidak dicampur-aduk dengan tradisi Tionghua, tetapi juga tidak untuk menentang tradisi Tionghua yang bernilaii positip. Fokus Kompetensi Dasar berpusat pada pengalaman konkrit peserta didik (life centered). Artinya, pembahasan Kompetensi Dasar didasarkan pada pengalaman konkrit peserta didik mulai dari lingkungan paling dekat: keluarga (orang tua), tetangga, teman bermain, dan sekolah. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) agama Khonghucu yang harus dikuasai oleh lulusan Sekolah Menengah Atas. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Agama Khonghucu di sekolah.

134

b. Tujuan Mata pelajaran Agama Khonghucu dan Budi pekerti di SMA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Peserta didik mengimani adanya Tian yang maha Esa yang menciptakan alam semesta dan isinya, mengatur dan memelihara serta menjaga agar yang tidak lurus tetap diluruskan sesuai kodratnya 2. Peserta didik berdisiplin, bermoral berakhlak mulia, mempunyai rasa peduli kepada orang lain dalam keluarga dan masyarakat, rajin belajar hormat kepada guru dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. 3. Peserta didik mempunyai rasa tanggungjawab dan mampu memelihara lingkungan hidup di sekitarnya. 4. Peserta didik meyakini kedudukan Nabi Khongcu sebagai Utusan Tuhan atau Genta Rohani untuk memperbaiki kehidupan manusia 5. Peserta didik berbakti kepada orang tua, menyayangi saudarak menghargai persahabatan, dan hidup rukun dengan tetangga dan lingkungannya 6. Peserta didik meyakini kebenarani Kitab Si Shu Wu Jing untuk membina kehidupan manusia 7. Peserta didik percaya adanya Roh dan Nyawa 8. Peserta didik memahami fungsi dan manfaat keberadaan kelenteng di berbagai kota. 9. Peserta didik memahami fungsi dan manfaat kegiatan berbagai upacara keagamaan Khonghucu di kelenteng 10. Peserta didik memahami perbagai kelompok agama yang lain dalam masyarakatnya c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Agama Khonghucu dan budi pekerti di SMA meliputi aspek-aspek sebagaii berikut: 1. Keimanan agama Khonghucu 2. Jalan Suci Junzi 3. Kitab Suci agama Khonghucu 4. Sejarah Suci agama Khonghucu 5. Tata ibadah agama Khonghucu
135

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Agama Khonghucu dan Budi Pekerti di SMA meliputi: 1. Mengenal Watak Sejati atau Xing yaitu Ren, Yi, Li, Zhi. 2. Melaksanakan delapan langkah pembinaan diri sesuai dengan isi kitab Da Xue bab utama. 3. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, menghormati undangundang negara, dan melakukan kewajiban sebagai warganegra yang baik. 4. Melakukan ibadah secara teratur sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan di rumah, Litang, atau Miao (kelenteng). 5. Mengenal riwayat nabi Khongcu dan murid-muridnya. 6. Mengenal para shenming dan perbuatan baiknya. 7. Mengenal simbol suci agama Khonghucu. 8. Mengenal tata upacara ibadah di kelenteng. 9. Mengenal tata ibadah dan kebaktian di Litang. 10. Memahami isi kitab suci. 11. Mengenal sejarah dan kebudayaan Indonesia dan sejarah agama Khonghucu di Indonesia. 12. Mengenal Ba De atau Delapan Kebajikan. 13. Mengenal Lima Kebajikan dan empat pantangan. 14. Mengenal para Nabi Purba dan karyanya. 15. Mengenal cara memberi salam dan memberi hormat menurut agama Khonghucu.

136

2. Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) a. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mengawal dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hakikat NKRI adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan --atau nasionalisme-- yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. [Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998]. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mengawal dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hakikat NKRI adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan --atau nasionalisme-- yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. [Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998]. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), perlu ditingkatkan secara terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang NKRI. Secara historis, negara Indonesia telah diciptakan sebagai Negara Kesatuan dengan bentuk Republik.
137

Negara

Kesatuan

Republik

Indonesia

adalah

negara

yang

berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. [Pembukaan UUD NRI 1945] Dalam perkembangannya sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai saat ini, rakyat Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang mengancam keutuhan negara. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat serta konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD NRI 1945. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan otoriter yang memasung hak-hak warga negara untuk menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non-pemerintahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi. Selain itu, perlu pula ditanamkan kesadaran bela negara, penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM), kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, serta sikap dan perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mata merupakan Pelajaran mata Pendidikan yang Pancasila dan Kewarganegaraan pembentukan pelajaran memfokuskan pada

warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar
138

penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah tersebut.

b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik dapat: 1. berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2. berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta antikorupsi; 3. bersikap positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; dan 4. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mencakup komponen-komponen sebagai berikut: 1. persatuan dan kesatuan bangsa 2. norma, hukum dan peraturan 3. hak asasi manusia 4. kebutuhan warga negara 5. konstitusi negara 6. kekuasan dan politik 7. Pancasila

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan meliputi: 1. menerapkan hidup rukun, damai, dan bersatu dalam keberagaman
139

karakteristik individu sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa; 2. memahami dan menerapkan hidup tertib, jujur, disiplin, bertanggung jawab, santun, peduli, toleran, kasih sayang, dan percaya diri dalam berinteraksi di rumah dan di sekolah berdasarkan Pancasila; 3. menampilkan perilaku jujur, disiplin, senang bekerja keras dan anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; 4. memahami dan menghargai keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD NRI 1945, undang-undang, peraturan, kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan, dan keputusan bersama berdasarkan nilai-nilai Pancasila; 5. memahami dan menghargai Indonesia sebagai bangsa yang beragam dalam suku, agama, ras, budaya, gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika; 6. memahami kerangka umum dan isi pokok UUD NRI 1945 dan pelaksanaan demokrasi konstitusional meliputi perlindungan dan pemajuan HAM, perlindungan dan penegakan hukum, pelaksanaan pemilu, hubungan struktural dan fungsional pemerintah pusat dan daerah, sistem hukum dan peradilan nasional dan internasional; 7. memahami dan menghargai semangat kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; dan 8. memahami dan mengevaluasi sistem pemerintahan, politik luar negeri, dan hubungan Indonesia dengan negara tetangga.

140

3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Latar Belakang Bahasaberperan sangat penting dan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik sekaligus merupakan sarana untuk mencapai keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif dalam mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mencapai peningkatan kemampuan peserta didik berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang terdiri atas keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), kebahasaan, kesastraan, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran ini merupakan indikator bagi peserta didik dalam mencapai pemahaman dan kemampuan merespons situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkenaan dengan hal itu, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan kompetensi dasar (KD) pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang tersebut. b. Tujuan Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah peserta didik dapat: 1. 2. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis; menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara;
141

3. 4. 5.

menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara dengan penuh kebanggaan; memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter, kemampuan emosional dan sosial; intelektual, serta kematangan

6.

menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan

7.

menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

c. RuangLingkup Mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan kesastraan yang meliputi aspek-aspek: 1. menyimak, 2. berbicara, 3. membaca, 4. menulis, 5. kebahasaan, 6. kesastraan, dan 7. kesantunan berbahasa. Pada akhir pendidikan di SMA/MA, peserta didik diharapkan telah membaca sekurang-kurangnya lima puluh buku sastra dan nonsastra d. Kompetensi Mata Pelajaran 1. Keterampilan Berbahasa a. Menyimak Memahami wacana lisan yang berupa berita, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, negosiasi, saran, pidato, wawancara, diskusi, seminar, iklan, editorial/opini, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru, cerita rakyat, drama, cerpen, dan penggalan novel.
142

b. Berbicara Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan menyampaikan berita, laporan hasil observasi/hasil penelitian, prosedur kompleks, negosiasi, saran, berpidato, berwawanara, berdiskusi, bercerita, serta mengomentari pembacaan puisi lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru,cerita rakyat, cerpen, penggalan novel, dan pementasan drama dengan bahasa yang baik dan benar serta santun. c. Membaca Menggunakan berbagai teknik membaca untuk memahami teks nonsastra yang berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, laporan hasil observasi/penelitian, prosedur kompleks, negosiasi, saran, editorial/opini, serta teks sastra berbentuk puisi

lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru, puisi kontemporer, hikayat, novel, biografi, cerpen, drama, karya sastra lain berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik. d. Menulis Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks naratif, deskriptif, ekspositoris, argumentatif, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, prosedur notulen, laporan negosiasi, hasil saran, observasi/penelitian, kompleks,

ediotorial/opini, resensi, karya ilmiah (makalah, artikel, dsb.), dan berbagai teks sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esai dengan ejaan yang tepat dan kalimat yang baik, benar, dan efektif. 2. Kebahasaan Memahami dan dapat menggunakan berbagai komponen kebahasaan yang meliputi bunyi bahasa, fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dengan baik dan benar dalam wacana lisan dan tulis. 3. Kesastraan Memahami bentuk-bentuk sastra dan unsur-unsurnya yang meliputi puisi (lama, baru, kontemporer), prosa (cerpen, novel, roman), prosa lirik, dan drama; serta dapat menciptakan berbagai bentuk sastra dan mengapresiasinya.
143

4. Kesantunan Berbahasa Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan santun dan penuh toleran, responsif, proaktif sesuai dengan budaya nasional Indonesia sebagai cermin budi pekerti yang luhur.

144

4. Mata Pelajaran Matematika a. Latar Belakang Roger Bacon (1214-1294) berpendapat bahwa mathematics is the door and the key to the sciences. Dewasa ini peran Matematika dalam kehidupan modern telah sangat universal, berperan pada hampir semua aspek kehidupan manusia, telah menjadi bahasa pengetahuan, dan mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk membentuk manusia berwatak dan berkepribadian yang menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar, untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan bahwa peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar matematika. Mata pelajaran Matematika dapat menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan memikat ketika siswa mendapat kesempatan untuk bermatematika secara kreatif. Ketika siswa menemukan sendiri pemahaman dari perspektif yang sesuai dengan kebutuhannya ia akan terdorong untuk menemukan lebih jauh dan tidak harus terbatas pada yang diajarkan dalam kelas. Kompetensi mata pelajaran Matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran didik untuk mengembangkan kemampuan untuk tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam menggunakan matematika

145

pemecahan masalah serta mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern yang lain. Pendekatan pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah yang dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) atau sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai fakta, konsep, prinsip, dan ketrampilan lebih lanjut di matematika. media Untuk meningkatkan yang keefektifan pembelajaran, sekolah dan diharapkan menggunakan media pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran berbasis teknologi informasi komunikasi.seperti komputer. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (SKMP) Matematika yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. SKMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Matematika di sekolah b. Tujuan Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik dapat: 1. menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika; 2. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; 3. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika;
146

4. mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari (dunia nyata); 5. mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam matematika dan pembelajarannya. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Matematika pada jenjang SMA/MA memuat materi tentang: 1. Bilangan dan Pola: operasi pangkat logaritma, barisan hingga dan tak hingga, deret hingga dan tak hingga. 2. Aljabar dan Relasi: relasi dan fungsi, persamaan dan pertidaksamaan, sistem persamaan dan sistem pertidaksamaan, fungsi suku banyak, fungsi trigonometri, fungsi pangkat dan logaritma, matriks, program linear. 3. Geometri dan Pengukuran: geometri bidang datar, geometri ruang, pengukuran jark dan sudut dalam ruang, hampiran, perbandingan trigonometri. 4. Statistika dan Peluang: pengolahan data, penyajian data, ukuran pemusatan dan penyebaran, mencacah, frekuensi, peluang, distribusi peluang. 5. Kalkulus: limit, turunan, integral tentu dan tak tentu. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Matematika di SMA/MA meliputi: 1. Memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika 2. Menghargai nilai-nilai dan kegunaan matematika dalam kehidupan, ilmu pengetahuan dan teknologi 3. Memiliki rasa ingin tahu dan percaya diri dalam belajar dan menggunakan matematika.

147

4. Menggunakan teknologi secara tepat dan efektif untuk memecahkan masalah serta memahami gagasan matematika. 5. Memahami bilangan real dan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan sifatsifat pada operasi tersebut. 6. Memahami fakta, konsep, sifat, dan keterampilan aljabar yang meliputi bentuk-bentuk aljabar, persamaan linier, pertidaksamaan linier, himpunan dan operasinya, fungsi dan grafiknya, barisan bilangan, barisan aritmetika, barisan geometri, sistem persamaan linear, serta mampu menerapkannya dalam konteks matematika, dalam menyelesaikan masalah, serta dalam kehidupan sehari-hari. 7. Memahami fakta, konsep, sifat, dan keterampilan geometri meliputi menggunakan sistem koordinat atau bahasa arah dan jarak untuk menyatakan posisi dan jarak; menggunakan vektor dan operasi vektor dalam menyatakan posisi, menentukan sudut dan jarak, luas dan volume; menggunakan gagasan transformasi dan kesimetrian untuk menyelidiki karakteristik bangun datar maupun ruang, dan juga menyelidiki sifat-sifat fungsi. 8. Memahami dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan: penyajian dan pengolahan data (ukuran pemusatan, ukuran penyebaran, dan ukuran letak dari data tunggal). 9. Memahami konsep ruang sampel, peluang kejadian, dan mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.

148

5. Mata Pelajaran Sejarah Indonesia a. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Terkait dengan pendidikan di sekolah dasar hingga sekolah menengah, pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik. Mata pelajaran Sejarah telah diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari mata pelajaran IPS, sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Materi sejarah: 1. mengandung nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, kepeloporan, patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik; 2. memuat khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa, termasuk peradaban bangsa Indonesia. Materi tersebut merupakan bahan pendidikan yang mendasar bagi proses pembentukan dan penciptaan peradaban bangsa Indonesia di masa depan; 3. menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa; 4. sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari; dan 5. berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Berkenaan hal tersebut di atas, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Sejarah yang harus dimiliki oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Sejarah di sekolah tersebut.

149

b. Tujuan Mata Pelajaran Sejarah Indonesia bertujuan: 1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. 2. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan. 3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. 4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. 5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. c. Ruang Lingkup Ruang Lingkup mata pelajaran Sejarah Indonesia meliputi aspekaspek berikut: 1. Prinsip dasar ilmu sejarah; 2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia; 3. Perkembangan negara-negara tradisional di Indonesia; 4. Indonesia pada masa penjajahan; 5. Pergerakan kebangsaan; dan 6. Proklamasi dan perkembangan negara kebangsaan Indonesia. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Sejarah Indonesia meliputi: 1. Memahami ruang lingkup ilmu sejarah secara sederhana; 2. Menggunakan prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah secara umum; 3. Menganalisis masa pra-aksara dan masa aksara pada masyarakat
150

Indonesia; dan 4. Menganalisis kehidupan awal masyarakat di Indonesia meliputi peradaban awal, asal-usul dan persebaran manusia di wilayah nusantara/Indonesia.

151

6. Mata Pelajaran Bahasa Inggris a. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional, dankarakter peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Inggrisdiharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran Bahasa Inggrisjuga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu. Tingkat literasi mencakup performative, functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran. Pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, sedangkan untuk SMA/MA diharapkan dapat mencapai tingkat informational karena mereka disiapkan
152

untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Tingkat literasi epistemic dianggap terlalu tinggi untuk dapat dicapai oleh peserta didik SMA/MA karena bahasa Inggris di Indonesia berfungsi sebagai bahasa asing. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Bahasa Inggris. b. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi informational. 2. Memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global. 3. Mengembangkan pemahaman peserta didik tentang keterkaitan antara bahasa dengan budaya. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA/MA meliputi: 1. kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis secara terpadu untuk mencapai tingkat literasi informational; 2. kemampuan memahami dan menciptakan berbagai teks: recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, exposition, explanation, discussion, dan review. Gradasi bahan ajar tampak dalam penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan langkah-langkah retorika; 3. kompetensi pendukung, yakni kompetensi linguistik (menggunakan tata bahasa dan kosa kata, tata bunyi, tata tulis), kompetensi sosiokultural (menggunakan ungkapan dan tindak bahasa secara berterima dalam berbagai konteks komunikasi), kompetensi strategi (mengatasi masalah yang timbul dalam proses komunikasi dengan berbagai cara agar
153

komunikasi tetap berlangsung), dan kompetensi pembentuk wacana (menggunakan piranti pembentuk wacana). d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi SMA/MA meliputi: 1. Menyimak Memahami makna dalam wacana lisan interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dan dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, exposition, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan seharihari yang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 2. Berbicara Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dan dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, exposition, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan seharihari yang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 3. Membaca Memahami makna dalam wacana tertulis secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, exposition, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 4. Menulis Mengungkapkan makna secara tertulis, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, exposition, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. mata pelajaran Bahasa Inggris pada jenjang

154

Kelompok B 1. Mata Pelajaran Seni Budaya a. Latar belakang Pendidikan Seni Budaya diberikan di sekolah karena memiliki keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan dalam upaya membentuk keperibadian peserta-didik menjadi manusia yang utuh sebagaimana yang terkristalisasi dalam rumusan kompetensi inti. Keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan pendidikan Seni Budaya terletak pada cirinya yang khas yang tidak dimiliki oleh mata pelajaran lain pengalaman estetik dalam bentuk yakni pada pemberian berapresiasi dan kegiatan

berekspresi/berkreasi. Dalam praktiknya, pendidikan seni budaya terlaksana melalui bidang seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater. Bidang seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater, memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman untuk mengembangkan kemampuan konsepsi, apresiasi, dan kreasi Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. bahasa rupa, Multilingual bermakna pengembangan kemampuan gerak, peran dan berbagai perpaduannya. mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bunyi, Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni budaya menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara (meliputi budaya daerah setempat dan daerah lain dalam wilayah Indonesia) dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Materi pembelajaran Seni Budaya yang bersifat teori (fakta, konsep, kaidah, dan teori) tidak diberikan secara terpisah, tetapi terpadu dalam kegiatan mengapresiasi karya seni dan berkreasi seni. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan seni budaya tidak terjerumus ke arah pembelajaran yang
155

bersifat kognitif. Terkait dengan hal-hal tersebut perlu disusun Standar Isi yang selanjutnya akan dijadikan acuan dalam merumuskan kemampuan awal, dan karakteristik mata pelajaran. b. Tujuan Mata pelajaran Seni Budaya berorientasi pada pencapaian Kompetensi Inti yang meliputi aspek spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan melalui pencapaian tujuan berikut ini: 1. memahami konsep dan pentingnya seni budaya; 2. menampilkan sikap apresiatif terhadap seni budaya; 3. mengungkapkan pengalaman estetik melalui kreasi/rekreasi seni budaya; 4. menampilkan peran serta dalam seni budaya. c. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Mata Pelajaran Seni Budaya mencakup: 1. Seni Rupa Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik seni rupa) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni rupa serta penyajiannya dalam bentuk pameran di kelas/sekolah). 2. Seni Musik Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik seni musik) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni musik serta penyajiannya dalam bentuk pementasan di kelas/sekolah). 3. Seni Tari Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik karya seni tari) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni tari serta penyajiannya dalam bentuk pementasan di kelas/sekolah 4. Seni Teater Kompetensi Dasar mata pelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik,

156

Aspek

konsepsi

(pemahaman),

apresiasi

(pencerapan

dan

penanggapan terhadap gejala estetik karya seni teater) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni teater serta penyajiannya dalam bentuk pementasan di kelas/sekolah Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik untuk bidang seni rupa mencakup: 1. memiliki pengetahuan kesenirupaan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni rupa sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah atas. 2. mengapresiasi (mencerap, dan menanggapi) karya seni rupa Nusantara (seni rupa yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni rupa Indonesia pada umumnya, baik yang merupakan seni rupa terapan maupun seni rupa murni, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni rupa terapan dan seni rupa murni dengan memanfaatkan teknik dan corak seni rupa Nusantara/Indonesia serta menyajikan karya tersebut dalam bentuk pameran di kelas maupun di sekolah. Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik untuk bidang seni musik mencakup: 1. memiliki pengetahuan kesenimusikan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni musik sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah atas; 2. mengapresiasi (mencerap, dan menanggapi) karya seni musik Nusantara (seni musik yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya, lagu wajib, dan
157

seni musik Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni musik vokal dan instrumen dengan menampilkan/merekreasi karya seni musik Nusantara khususnya, lagu wajib, dan seni musik Indonesia pada umumnya dalam bentuk penampilan di kelas maupun penampilan/pementasan di sekolah. Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik untuk bidang seni tari mencakup: 1. memiliki pengetahuan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni tari sesuai dengan tingkat usia menengah atas. 2. mengapresiasi (mencerap dan menanggapi) karya seni tari Nusantara (seni tari yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni tari Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni tari dengan menampilkan/merekreasi karya seni tari Nusantara khususnya dan seni tari kreasi Indonesia pada umumnya dalam bentuk pemeragaan di kelas maupun pementasan di sekolah. Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik untuk bidang seni teater mencakup: 1. memiliki pengetahuan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni teater sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah atas. 2. mengapresiasi (mencerap dan menanggapi) karya seni teater Nusantara (seni teater yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni teater Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni teater dengan menampilkan/ merekreasi karya seni tari Nusantara khususnya dan seni teater kreasi Indonesia pada umumnya dalam bentuk pementasan di kelas maupun pementasan di sekolah
158

2. Mata Pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan a. Latar Belakang Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan aspek kritis, berfikir secara kebugaran keseluruhan, jasmani, sosial, bertujuan penalaran, untuk gerak, stabilitas mengembangkan keterampilan keterampilan

keterampilan

emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang

berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, kesehatan yang terpilih dan dilakukan secara sistematis. olahraga dan Pembekalan

pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, pemanduan bakat istimewa, penghayatan nilainilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Ini berarti bahwa Pendidikan Jasmani adalah pendidikan manusia seutuhnya yang diperoleh

159

melalui segala bentuk aktivitas jasmani yang mengacu kepada konsep pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang harus dikuasai oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). SKL ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik dapat: 1. Memiliki karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; 2. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis; 3. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. 4. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih; 5. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik; 6. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar; 7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan untuk jenjang SMA/MA adalah sebagai berikut: 1. Permainan dan olahraga 2. Aktivitas pengembangan
160

3. Aktivitas senam 4. Aktivitas ritmik 5. Aktivitas air 6. Pendidikan luar kelas 7. Pendidikan kesehatan dan keselamatan d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di SMA/MA meliputi: 1. Memiliki karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; 2. Menerapkan kebiasaan hidup bugar, bersih, aman, sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan serta kehidupan sehari-hari; 3. Memanfaatkan berbagai informasi tentang hidup bersih, aman, dan bugar; 4. Menerapkan sikap kompetitif, sportif, dan prestatif melalui aktivitas jasmani yang terkandung di dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang dapat ditransfer ke dalam kehidupan sehari-hari; 5. Menunjukkan kemampuan berbagai macam aktivitas motorik (permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan diri, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas, dan kesehatan) yang dapat dimanfaatkan dalam memecahkan masalah lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

161

3. Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan a. Latar Belakang Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan merupakan pembentuk kompetensi dasar keterampilan yang sangat diperlukan oleh peserta didik SMU/MA. Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ditujukan untuk membangun kapasitas personal peserta didik agar mampu berkiprah secara riil dalam kehidupan sehari-hari, dan diharapkan dapat menghasilkan produk dan kegiatan yang bernilai ekonomi. Berkembangnya ragam keterampilan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari hari, pada dasarnya menjadi tuntutan yang harus diantisipasi oleh setiap peserta didik SMU/MA. Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan menjadi sangat urgen bagi peserta didik untuk mendapatkan keterampilan teknis-teknologis lanjut sebagai bekal mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan mencakup materi Kerajinan, Rekayasa, Budidaya dan Pengolahan, yang kesemuanya diorientasikan untuk membekali peserta didik agar mampu memperoleh nilai tambah ekonomi yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari.. Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran terpisah, yang cakupan materinya disesuaikan dengan kebutuhan guna membentuk kompetensi keterampilan. Alokasi waktu pembelajarannya adalah 2 jam per minggu, selama 3 tahun (kelas X, XI dan XII). b. Tujuan Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan bertujuan agar peserta didik: 1. Mensyukuri karunia Tuhan YME atas anugerah kekayaan ragam prakarya dan luasnya lapangan berwirausaha di wilayah NKRI 2. Menunjukan perilaku jujur, percaya diri, mandiri, toleran, disiplin dan beranggung jawab dalam menerapkan keterampilan prakarya dalam berwirausaha. 3. Menunjukkan rasa bangga terhadap produk kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan bahan organik dan anorganik yang berasal dari NKRI.
162

4. Memahami aneka bahan organik dan anorganik yang dapat dimanfaatkan untuk prakarya 5. Memahami dasar-dasar keterampilan kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan 6. Menerapkan keterampilan yang berupa kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan dalam bentuk produk yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Prakarya dan kewirausahaan untuk jenjang SMA/MA adalah sebagai berikut: 1. Kait hubung antara mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dengan kebutuhan sehari-hari peserta didik sebagai anggauta masyarakat sekaligus sebagai umat Tuhan YME yang wajib memiliki keterampilan hidup yang bernilai ekonomi. 2. Bahan-bahan tekstil dan limbahnya, bahan lunak dan keras sebagai bahan dasar membuat produk kerajinan yang dapat menghasilkan nilai tambah, yang menyangkut keindahan, memudahkan dalam kehidupan maupun menghasilkan produk kerajinan yang bisa bernilai ekonomi 3. Perangkat keras untuk komunikasi, alat kontrol, pembangkit listrik serta rekayasa inovatif; 4. Perangkat keras untuk budidaya tanaman holtikultura, tanaman hias, ikan hias dan ikan konsumsi, unggas peternak dan pedaging 5. Perangkat keras untuk pengolahan bahan nabati hewani dan untuk pengawetannya, serta pengolahan bahan nabati dan hewani untuk produk kesehatan 6. Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan yang bisa menjadikan peserta didik memperoleh nilai spiritual dan sosial, yang mana daripadanya dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Tuhan YME, menciptakan keindahan, memberi kemudahan kehidupan masyarakat di lingkungannya. dalam

163

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan pada jenjang SMA/MA meliputi: 1. Mengenali bahan industri tekstil dan limbahnya, konsep dan prosedur kerja kerajinan tekstil, kerajinan dari bahan lunak dan keras, selanjutnya mendisain dan mengemas kerajinan etnik dalam fungsi hias dan pakai serta memanfaatkan limbahnya sebagai produk kerajianan 2. Menggunakan bahan tekstil, bahan lunak dan keras dan limbahnya untuk merancang dan memodifikasi barang-barang kerajinan tekstil yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. 3. Memahami prinsip dasar alat komunikasi, alat kontrol, pembangkit listrik, serta rekayasa inovatif; Memahami konsep dan prosedur berbudidaya tanaman hias dan holtikultura, ikan hias dan ikan konsumsi, unggas ternak dan pedaging; Memahami konsep dan prosedur pengolahan bahan nabati dan hewani dan pengawetannya, serta pengolahan bahan nabati dan hewani untuk produk-produk kesehatan. 4. Menggunakan pemahaman konsep dan prosedur dasar rekayasa, budidaya dan pengolahan untuk memproduk barang barang yang bisa dimanfaatkan, dan bernilai ekonomi.

164

Kelompok C: Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 1. Mata Pelajaran Matematika a. Latar Belakang Roger Bacon (1214-1294) berpendapat bahwa mathematics is the door and the key to the sciences. Dewasa ini peran Matematika dalam kehidupan modern telah sangat universal, berperan pada hampir semua aspek kehidupan manusia, telah menjadi bahasa pengetahuan, dan mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk membentuk manusia berwatak dan berkepribadian yang menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar, untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan bahwa peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar matematika. Mata pelajaran Matematika dapat menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan memikat ketika siswa mendapat kesempatan untuk bermatematika secara kreatif. Ketika siswa menemukan sendiri pemahaman dari perspektif yang sesuai dengan kebutuhannya ia akan terdorong untuk menemukan lebih jauh dan tidak harus terbatas pada yang diajarkan dalam kelas. Kompetensi mata pelajaran matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan
165

kemampuan

peserta

didik

dalam

menggunakan

matematika

untuk

pemecahan masalah serta mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern yang lain. Pendekatan pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah yang dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) atau sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai fakta, konsep, prinsip, dan ketrampilan lebih lanjut di matematika. media Untuk meningkatkan yang keefektifan pembelajaran, sekolah dan diharapkan menggunakan media pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran berbasis teknologi informasi komunikasi.seperti komputer. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Matematika yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Matematika di sekolah b. Tujuan Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik dapat: 1. menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika; 2. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah;

166

3.

menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika;

4. mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari (dunia nyata); 5. mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam matematika dan pembelajarannya. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Matematika untuk peminatan pada jenjang SMA/MA memuat materi tentang: 1. Bilangan dan Pola: operasi eksponensial dan logaritma. 2. Aljabar dan Relasi: relasi dan fungsi, persamaan dan pertidaksamaan, sistem persamaan linear dan kuadratik, sistem pertidaksamaan liner dan kuadratik, fungsi suku banyak, fungsi trigonometri, fungsi pangkat dan logaritma, matriks, program linear. 3. Geometri dan Pengukuran: geometri bidang datar, geometri ruang, pengukuran jarak dan sudut dalam ruang, hampiran, perbandingan trigonometri, irisan kerucut, vektor, transformasi. 4. Statistika dan Peluang: pengolahan data, penyajian data, uji hipotesa. 5. Kalkulus: limit, turunan, integral tentu dan tak tentu, menentukan luas daerah, volume benda khususnya benda putar. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Matematika untuk peminatan pada jenjang SMA/MA meliputi: 1. Memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika 2. Menghargai nilai-nilai dan kegunaan matematika dalam kehidupan, ilmu pengetahuan dan teknologi

167

3. Memiliki rasa ingin tahu dan percaya diri dalam belajar dan menggunakan matematika. 4. Menggunakan teknologi secara tepat dan efektif untuk memecahkan masalah serta memahami gagasan matematika. 5. Memahami dan dapat menggunakan konsep perpangkatan, penarikan akar, logaritma, nilai mutlak, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat untuk menyelesaikan masalah. 6. Memahami dan menggunakan operasi aljabar serta teorema suku dan faktorisasi polinom untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 7. Memahami dan menggunakan jarak, sudut, titik, garis, bidang di ruang dimensi tiga untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 8. Memahami dan menggunakan perbandingan trigonometri, identitas trigonometri, fungsi trigonometri, untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 9. Menyelesaikan dan memanfaatkan persamaan dan pertidaksamaan fungsi trigonometri, sistem persamaan linear dan campuran dengan kuadratik untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 10. Memahami dan dapat menggunakan program linier, matriks dan determinan, sistem persamaan linier tiga variabel untuk menyelesaikan masalah. 11. Memahami dan dapat menggunakan barisan aritmetika dan geometri, dan deret aritmetika dan deret geometri, termasuk barisan dan deret tak berhingga, untuk menyelesaikan masalah. 12. Memahami dan dapat menggunakan konsep jarak, sudut, titik, garis di ruang dimensi dua (bidang) untuk menyelesaikan masalah. 13. Memahami dan menggunakan sifat-sifat fungsi-fungsi eksponensial, akar, logaritma, suku banyak, trigonometri untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 14. Menggunakan vektor, transformasi geometri, irisan kerucut untuk memahami geometri ruang dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
168

15. Memahami dan menggunakan logika matematika dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pernyataan matematika termasuk pernyataan majemuk serta ingkarannya. 16. Memahami, menggunakan, dan memberi interpretasi berbagai ukuran pemusatan dan penyebaran; memahami dan membicarakan hubungan antara data dan berbagai penyajiannya dan pengolahan data; mengembangkan pemahaman aturan pancacahan (perkalian, permutasi, dan kombinasi) dan menggunakannya pada ruang sampel dan peluang kejadian untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya. 17. Memahami dan menggunakan konsep ruang peluang, variable acak, distribusi peluang, serta memanfaatkannya untuk penarikan kesimpulan dan pengambilan keputusan. 18. Memahami dan menggunakan limit fungsi, turunan fungsi, nilai ekstrim, integral taktentu, integral tentu untuk menyelesaikan masalah matematika atau masalah lainnya seperti masalah optimisasi dan volume benda putar. 19. Memahami dan memanfaatkan turunan untuk melakukan estimasi nilai fungsi dan akar sebuah persamaan aljabar.

169

2. Mata Pelajaran Biologi a. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang gejala-gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsepkonsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari gejala-gejala alam yang ada di sekitar termasuk dirinya sendiri, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar. Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi kegiatan-kegiatan mempertimbangkan pertanyaan, mengamati, keamanan kegiatan untuk penemuan termasuk mengajukan dan dan menguji kerja, hipotesis, mengajukan data, serta

menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu keselamatan menggolongkan menafsirkan

mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Biologi yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Biologi di sekolah tersebut.
170

b. Tujuan Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa melalui pemahaman keberadaan, peran, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya khususnya yang berupa makhluk hidup, 2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain; 3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tulis; 4. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi; 5. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri; 6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi dengan teknologi untuk menghasilkan produk yang berkaitan dengan kebutuhan manusia; dan 7. Meningkatkan kesadaran dan peran serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Biologi di SMA/MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Hakikat biologi, keanekaragaman hayati pada aras gen, spesies dan ekosistem, pengelompokan makhluk hidup, hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi, peranan manusia dalam ekosistem; 2. Organisasi seluler, struktur dan fungsi jaringan, organ dan sistem organ tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat; dan

171

3. Proses yang terjadi pada makhluk hidup, metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Biologi di SMA/MA meliputi: 1. Merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, menggunakan berbagai peralatan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran yang tepat dan teliti, mengumpulkan, mengolah, menafsirkan dan manyajikan data secara sistematis, menarik kesimpulan sesuai dengan bukti yang diperoleh, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tulis; 2. Memahami keanekaragaman hayati baik pada tingkat gen, spesies dan ekosistem, klasifikasi makhluk hidup, peranan keanekaragaman hayati bagi kehidupan dan upaya pelestariannya; 3. Menganalisis hubungan antar komponen ekosistem, perubahan materi dan energi, serta peran manusia dalam ekosistim; 4. Memahami konsep sel, pembelahan sel, jaringan dan organ, sistem organ, keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan, kelainan dan penyakit yang mungkin terjadi pada berbagai sistem di dalam tubuh, serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat; 5. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hereditas, proses metabolisme, peran enzim dalam metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, mutasi, dan evolusi, serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat; dan 6. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

172

3. Mata Pelajaran Fisika a. Latar Belakang Fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA adalah ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis. IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga mencakup sikap dan keterampilan ilmiah yang diperlukan untuk menemukan pengetahuan tersebut. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Secara sederhana Fisika berkaitan dengan energi dan perubahannya yang dihasilkan oleh perilaku materi, tetapi para fisikawan mempelajari perilaku dan sifat materi dalam bidang yang sangat beragam, mulai dari partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu kesatuan kosmos. Ilmu Fisika mendasari perkembangan teknologi maju dan konsep hidup harmonis dengan alam. Perkembangan pesat di bidang teknologi diawali oleh penemuan di bidang Fisika, misalnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dipicu oleh temuan di bidang Fisika material yaitu penemuan piranti mikroelektronika yang mampu memuat banyak informasi dengan ukuran sangat kecil. Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, Fisika memberikan pelajaran yang baik kepada manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum alam. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan serta pengurangan dampak bencana alam tidak akan berjalan secara optimal tanpa pemahaman yang baik tentang ilmu Fisika. Pembelajaran Fisika diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik untuk memahami Fisika sesuai hakikat di atas. Peserta didik pada jenjang SMA/MA, dipandang mampu mempelajari ilmu Fisika sebagai mata pelajaran tersendiri. Selain untuk menumbuhkan kemampuan berpikir yang berguna untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari, mata pelajaran Fisika pada jenjang SMA/MA dimaksudkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik sejumlah pengetahuan dan kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi. Oleh karena itu,
173

pembelajaran Fisika dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Fisika yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Fisika pada jenjang tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Fisika di SMA/MA bertujuan: 1. Membentuk sikap positif terhadap Fisika dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. 2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain. 3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan melaksanakan eksperimen, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis. 4. Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip Fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. 5. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Fisika di SMA/MA merupakan kelanjutan pelajaran IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan pengukurannya dengan perluasan pada konsep abstrak yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
174

1. Besaran dan pengukuran, gaya dan gerak dengan analisis vektor, penerapan hukum Newton, impuls dan momentum, usaha, energi, dan daya, elastisitas, rotasi benda tegar, serta fluida statis dan dinamis. 2. Gejala gelombang, cahaya dan alat-alat optik, serta bunyi. 3. Kalor dan perpindahannya, teori kinetik gas, dan hukum-hukum termodinamika. 4. Konsep dasar listrik statis, listrik dinamis arus searah dan bolak-balik, induksi dan gaya magnetik, induksi elektromagnetik, dan konsep dasar gelombang elektromagnetik. 5. Teori atom dan radioaktivitas, konsep kuantum, radiasi benda hitam, efek fotolistrik, hamburan Compton, dan relativitas. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Fisika di SMA/MA sebagai berikut. 1. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. 2. Melakukan eksperimen (merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, melakukan pengukuran, mengolah dan menafsirkan data, serta menarik kesimpulan) dengan teliti, objektif, cermat, dan mempunyai kemampuan bekerjasama. 3. Mengomunikasikan hasil percoban secara lisan dan tertulis dengan jujur, percaya diri, dan terbuka terhadap perbedaan. 4. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan kinematika dan dinamika benda titik, rotasi benda tegar, kekekalan energi, impuls, dan momentum. 5. Menganalisis prinsip dan konsep konservasi kalor, sifat gas ideal, fluida, dan perubahannya yang menyangkut hukum termodinamika, serta penerapannya dalam mesin kalor. 6. Menerapkan konsep dan prinsip gelombang dalam penyelesaian masalah dan produk teknologi yang berkaitan dengan optik dan bunyi. 7. Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk teknologi.

175

8. Memahami konsep atom dan kuantum dalam menjelaskan gejala yang terjadi pada skala atomik serta menerapkan prinsip relativitas.

176

4. Mata Pelajaran Kimia a. Latar Belakang Ilmu Kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA adalah ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis. Oleh karena itu IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip semata tetapi juga merupakan pengetahuan tentang proses penemuan tersebut serta percobaan pembuktian prinsip-prinsip tersebut. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari fenomena yang terjadi pada diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangannya dalam menerapkannya untuk kemaslahatan kehidupan umat manusia dan lingkungannya. Proses pembelajaran IPA diharapkan menekankan pada uraian sejarah penemuan, pemahaman prinsip-prinsip kimia, dan praktek dalam rangka pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu menjelajahi, memahami, memanfaatkan dan melanjutkan penemuan-penemuan baru tentang alam sekitar secara ilmiah sebagai tugas estafet pengembangan ilmu pengetahuan ke depan. Karakteristik ilmu kimia terletak pada objek yang diamati, cara memperoleh, serta kegunaannya. Ilmu kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana fenomena alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA/MA mempelajari segala sesuatu tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Ada dua hal yang berkaitan dengan ilmu kimia yang tidak terpisahkan, yaitu ilmu kimia sebagai produk (pengetahuan Kimia yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) temuan ilmuwan dan ilmu kimia sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembelajaran Kimia dan penilaian hasil belajar Kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk. Pada awalnya ilmu kimia diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Mata pelajaran
177

Kimia perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik dengan pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan keterampilan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi untuk kemaslahatan umat dan lingkungannya. Tujuan mata pelajaran ilmu kimia dicapai oleh peserta didik melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah. Proses inkuiri ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran ilmu kimia menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui praktek penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Kimia yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Kimia di sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Kimia di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. membentuk sikap positif terhadap kimia dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa; 2. memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain; 3. memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana peserta didik melakukan pengujian hipotesis dengan merancang percobaan melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan penafsiran data, serta menyampaikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis; 4. meningkatkan kesadaran tentang terapan Kimia yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta
178

menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat; dan 5. memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk paket teknologi. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Kimia di SMA/MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan pengukurannya dengan perluasan pada konsep abstrak yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. struktur atom, sistem periodik unsur-unsur, ikatan kimia, dan stoikiometri, 2. larutan nonelektrolit dan elektrolit, dan reaksi oksidasi-reduksi, 3. senyawa hidrokarbon, 4. mekanika kuantum, termokimia, kinetika reaksi, dan kesetimbangan kimia, 5. teori asam basa, larutan penyangga, stoikiometri larutan, kesetimbangan ion dalam larutan, dan sistem koloid, 6. sifat koligatif larutan, 7. elektrokimia, 8. unsur utama dan transisi, 9. senyawa radioaktif, 6. senyawa organik termasuk benzena dan turunannya, serta makromolekul (karbohidrat, protein dan lemak) d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran (KMP) Kimia SMA/MA meliputi: 1. menunjukkan rasa keingintahuan dan kemampuan melakukan percobaan terkait kimia yang dimulai dari merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis; 2. memahami struktur atom, sifat-sifat unsur, massa atom relatif, sifat-sifat periodik unsur-unsur, ikatan kimia, senyawa anorganik dan organik.dan
179

dapat mengaitkan struktur atom, ikatan dan struktur molekul, serta interaksi antar molekul dengan sifat-sifat fisik dan kimianya yang teramati; 3. menganalisis dan menyelesaikan permasalahan quantitatif yang berkaitan dengan sifat-sifat molekul, kesetimbangan kimia, kinetika kimia, energetika, dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut pada berbagai bidang ilmu dan teknologi. 4. memahami dan menerapkan hukum-hukum dasar kimia, energetika, kinetika dan kesetimbangan untuk menjelaskan fenomena yang terkait seperti kespontanan reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya suatu reaksi; 5. menganalisis sifat berbagai larutan asam-basa, larutan koloid, larutan elektrolit-nonelektrolit, termasuk cara pengukuran dan kegunaannya; 6. memahami konsep reaksi oksidasi-reduksi dan elektrokimia, serta penerapannya untuk menghasilkan energi listrik, korosi, dan elektrolisis; 7. memahami unsur radioaktif serta kegunaan dan bahayanya dalam kehidupan sehari-hari; 8. memahami struktur molekul dan reaksi senyawa organik berdasarkan gugus fungsinya, termasuk benzena dan turunannya; 9. Memahami makromolekul polimer (karbohidrat dan protein) dan lemak serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

180

Kelompok C: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial 1. Mata Pelajaran Geografi a. Latar Belakang Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya. Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial penduduk, tempat dan lingkungan di muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu, peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah tentang pengaruh kebudayaan dan pengalaman terhadap persepsi manusia tentang tempat dan wilayah. Sikap, pengetahuan, dan keterampilan (ASK/ Attitude, Skill, dan Knowledge), yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Geografi yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Geografi. b. Tujuan Mata pelajaran Geografi di SMA/MA bertujuan agar peserta didik dapat:
181

1. memahami pola spasial, lingkungan, dan kewilayahan serta proses yang berkaitan; 2. menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi; dan 3. menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Geografi di SMA/MA meliputi: 1. konsep dasar, prinsip, dan pendekatan Geografi; 2. unsur-unsur geosferdan pola persebaran spasialnya; 3. jenis dan persebaran Sumber Daya Alam (SDA), serta pemanfaatannya; 4. karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya; 5. wilayah dan pewilayahan; 6. negara maju dan negara sedang berkembang; dan 7. peta, citra penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG). d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Geografi di SMA/MA meliputi: 1. Menjelaskan konsep dasar, prinsip, dan pendekatan Geografi; 2. menganalisis unsur-unsur geosfer dan pola persebaran spasialnya; 3. menganalisis bencana alam, mitigasinya; 4. menganalisis jenis dan persebaran Sumber Daya Alam (SDA), serta pemanfaatannya secara arif; 5. menganalisis karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya; 6. menganalisis wilayah dan pewilayahan, kaitannya dengan pembangunan wilayah pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang; dan 7. Memanfaatkan peta, citra penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis unsur-unsur geosfer.
182

dampaknya terhadap kehidupan, dan

8. Memiliki sikap menghargai Geografi dan kegunaannya dalam kehidupan. 9. Menunjukkan kemampuan berpikir geografis secara logis, sistematis, analitis, kritis, kreatif, dan inovatif untuk menyelesaikan masalah.

183

2. Mata Pelajaran Sejarah a. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Terkait dengan pendidikan di sekolah dasar hingga sekolah menengah, pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik. Mata pelajaran Sejarah telah diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari mata pelajaran IPS, sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Materi sejarah: 1. mengandung nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, kepeloporan, patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik; 2. memuat khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa, termasuk peradaban bangsa Indonesia. Materi tersebut merupakan bahan pendidikan yang mendasar bagi proses pembentukan dan penciptaan peradaban bangsa Indonesia di masa depan; 3. menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa; 4. sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari; dan 5. berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Berkenaan hal tersebut di atas, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Sejarah yang harus dimiliki oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Sejarah di sekolah tersebut.

184

b. Tujuan Tujuan mata pelajaran Sejarah pada SMA/MA sebagai berikut: 1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. 2. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan. 3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. 4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. 5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Sejarah meliputi aspek-aspek berikut: 1. Prinsip dasar ilmu sejarah; 2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia; 3. Perkembangan negara-negara tradisional di Indonesia; 4. Indonesia pada masa penjajahan; 5. Pergerakan kebangsaan; dan 6. Proklamasi dan perkembangan negara kebangsaan Indonesia. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Sejarah di SMA/MA meliputi: 1. Menganalisis kehidupan awal, peradaban manusia Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia, serta asal-usul dan persebaran manusia di Indonesia; 2. Menganalisis perkembangan bangsa Indonesia pada masa Negara
185

tradisional

meliputi

perkembangan

budaya,

agama

dan

sistem

pemerintahan masa Hindu-Buddha, masa Islam, proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia; 3. Menganalisis kesejarahan masa kolonial Hindia Belanda (pengaruh Barat) meliputi perubahan ekonomi, demografi, sosial serta politik dan masa kolonial Jepang yang meliputi perubahan sosial-ekonomi dan politik; 4. Menganalisis pengaruh berbagai revolusi politik dan sosial di dunia (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Rusia) terhadap perubahan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia; 5. Menganalisis peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dan lahirnya Undang-Undang Dasar 1945; 6. Menganalisis perkembangan masyarakat Indonesia mulai masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan-kerajaan Islam, pemerintahan kolonial Belanda, Inggris, Pemerintahan Pendudukan Jepang, dan termasuk meliputi politik (lahirnya gerakan pendidikan dan nasionalisme) cita-cita terbentuknya negara merdeka; 7. Menganalisis perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan persatuan NKRI dari ancaman disintegrasi bangsa, antara lain Peristiwa Madiun 1948, pemberontakan DI/TII, Peristiwa PERMESTA, Peristiwa Andi Aziz, RMS, PRRI, dan Gerakan 30 S/PKI; dan 8. Menganalisis masa perkembangan awal masyarakat Indonesia sejak masa masa proklamasi sampai dengan masa Orde Baru dan masa reformasi meliputi pemerintahan kemerdekaan (1945-1955), pemerintahan demokrasi terpimpin (Orde Lama 1955-1967), masa pemerintahan demokrasi pancasila (Orde Baru 1967-1998) dan masa reformasi (1998 s/d sekarang).

186

3. Mata Pelajaran Sosiologi a. Latar Belakang Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni (pure science) bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science). Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai pada terciptanya integrasi sosial. Konsep-konsep itu berkembang dalam masyarakat Indonesia yang masih majemuk dalam proses menuju masyarakat multikultur. Oleh karenanya pemahman berbagai konsep sosiologi secara komprehensip menjadi hal penting yang harus terus dilakukan. Selain itu mata pelajaran Sosiologi juga memberikan kompetensi kepada peserta didik untuk mengolah dan menalar fenomena sosial dan fakta sosial dan dapat mengaplikasikan hasil penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah relatif lama berkembang di lingkungan akademika, secara teoretis sosiologi memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalahmasalah sosial-politik dan budaya yang berkembang di masyarakat dan selalu siap dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada. Melihat masa depan masyarakat kita, sosiologi dituntut untuk tanggap terhadap isu globalisasi yang di dalamnya mencakup demokratisasi, desentralisasi dan otonomi, penegakan HAM, good governance (tata kelola pemerintahan yang baik), emansipasi dan kesetaraan, kerukunan hidup bermasyarakat, masyarakat multikultur, dan masyarakat yang demokratis. Pembelajaran sosiologi dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan pemahaman fenomena kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran mencakup konsep-konsep dasar, pendekatan, metode, dan teknik analisis
187

dalam pengkajian berbagai fenomena dan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan nyata di masyarakat. Mata pelajaran Sosiologi diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS, sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Sosiologi yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. Kompetensi ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Sosiologi di sekolah tersebut.. b. Tujuan Mata pelajaran Sosiologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, masalah-masalah sosial, dan konflik sampai dengan terciptanya integrasi sosial; 2. Memahami berbagai peran dan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat termasuk prinsip-prinsip kesetaraan dan emansipasi dalam masyarakat multikultur; 3. Mengidentifikasi berbagai permasalahan sosial yang muncul dalam mewujudkan masyarakat multikultur; 4. Menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat; 5. Menalar dan mengolah fenomena sosial data fakta sosial serta dapat mengaplikasikan hasil penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari; 6. Mengkomunikasikan hasil-hasil telaah tentang berbagai fenomena sosial dan masalah sosial kepada masyarakat sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan dan tanggungjawab sosial. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Sosiologi meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Sosialisasi sosial 2. Interaksi sosial 3. Proses sosial
188

4. Bentuk-bentuk kelompok sosial 5. Mobilitas sosial 6. Struktur sosial 7. Tipe-tipe lembaga sosial 8. Peran dan status sosial 9. Masalah-masalah sosial 10. Konflik sosial 11. Integrasi sosial d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi Mata Pelajaran Sosiologi di SMA/MA meliputi: 1. Memahami sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik dan fungsinya antara masyarakat dengan lingkungannya; 2. Mendeskripsikan proses sosialisasi dalam pembentukan karakter dan kepribadian; 3. Memahami peran dan status sosial dalam masyarakat multikultur; 4. Memahami proses interaksi sosial di dalam masyarakat dan norma yang mengatur hubungan tersebut serta kaitannya dengan dinamika sosial, termasuk menciptakan kesetaraan dalam interaksi sosial; 5. Mengidentifikasi berbagai perilaku menyimpang dan anti sosial serta dengan berbagai cara pengendali sosial dalam masyarakat; 6. Menganalisis hubungan antara struktur dan mobilitas sosial serta kaitannya dengan konflik sosial; 7. Mendeskripsikan berbagai bentuk kelompok sosial dan perkembangannya dalam masyarakat multikultural; 8. Mendeskripsikan proses perubahan sosial pada masyarakat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat; 9. Memahami hakekat dan tipe-tipe lembaga sosial serta fungsinya dalam masyarakat; 10. Memahami metode penelitian sosial dan kegunaannya dalam kehidupan masyarakat. 11. Mengkomunikasikan dan mengaplikasikan kepada masyarakat hasil-hasil telaah sosial dalam fenomena-fenomena sosial sebagai tanggungjawab social
189

Kelompok C: Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya 1. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Latar Belakang Bahasaberperan sangat penting dan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik sekaligus merupakan sarana untuk mencapai keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif dalam mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mencapai peningkatan kemampuan peserta didik berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang terdiri atas keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), kebahasaan, kesastraan, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran ini merupakan indikator bagi peserta didik dalam mencapai pemahaman dan kemampuan merespons situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkenaan dengan hal itu, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh lulusan SMA/MA Program Bahasa. KMP ini selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan kompetensi dasar (KD) pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang tersebut.. b. Tujuan Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah peserta didik dapat: 1. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
190

2. 3. 4. 5.

menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara; menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara dengan penuh kebanggaan; memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter, kemampuan emosional dan sosial; intelektual, serta kematangan

6.

menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan

4. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen keterampilan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek: 1. kemampuan berbahasa 2. kemampuan bersastra, 3. kebahasaan, 4. kesastraan, dan 5. kesantunan berbahasa. Pada akhir pendidikan di SMA/MA Program Bahasa, peserta didik diharapkan telah membaca sekurang-kurangnya enam puluh buku sastra dan nonsastra. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA/MA Program Bahasa meliputi: 1. Kemampuan Berbahasa Memahami informasi media elektronik; menyampaikan pengalaman yang mengesankan, kritik, teks naratif objektif, teks ekspositoris; berdiskusi, berdebat; memberikan
191

ulasan,

menanggapi

drama;

menyusun artikel, laporan, teks pidato, makalah; dan melakukanalih teks aksara, 2. Kemampuan Bersastra Memahami tema, amanat, tokoh, alur, latar, sudut pandang, tema, tokoh hikayat, isi puisi; menceriterakan kembali karya sastra lama; menulis puisi, larik, bait, rima, irama, imaji; menyampaikan nilai-nilai cerita pendek, novel, drama pendek, perkembangan genre sastra, sikap penyair, karakteristik angkatan, pementasan drama. 3. Kebahasaan Memahami dan dapat menggunakan berbagai komponen kebahasaan yang meliputi bunyi bahasa, fonem, morfem, kata dasar, kata berafiks, kata ulang, kata majemuk, frasa, frasa endosentrik, frasa eksosentrik, klausa, jenis klausa, kalimat, jenis kalimat, makna denotatof, makna konotatif, makna referensial, makna nonreferensial, pergeseran makna, hubungan makna, kohesi, koherensi, alih aksara, dan alih bahasa dengan baik dan benar dalam wacana lisan dan tulis. 4. Kesastraan Memahami bentuk-bentuk sastra dan unsur-unsurnya yang meliputi puisi (lama, baru, kontemporer), prosa (cerpen, novel, roman), prosa lirik, dan drama; serta dapat menciptakan berbagai bentuk sastra dan mengapresiasinya.

192

2. Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 2.1 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Arab a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Arab, merupakan hal yang sangat penting. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab. Selain itu bahasa Arab merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan pendidikan, dunia pariwisata dan bisnis. Melalui pembelajaran bahasa dan sastra Arab dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Arab diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Kompetensi Dasar bahasa dan sastra Arab perlu disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan bahasa pula untuk mengembangkan pemecahan kemampuan masalah dan menggunakan dan satra dalam

mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern lainnya. Terkait dengan hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL), maka perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) bahasa dan sastra Arab yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Bahasa dan Sastra Arab.
193

b. Tujuan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab di SMA/MA di Indonesia bertujuan agar para peserta didik, sebagai berikut: 1. memiliki pengetahuan kosakata Arab (mufradat) dan tata bahasa Arab (qawaid) secara memadai. 2. memiliki kemampuan dasar dalam keterampilan berbahasa Arab yakni mendengar (al istima), berbicara (al kalam), membaca (al qiraah), dan menulis (al kitabah) 3. Menerapkan kesantunan berbahasa Arab sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia dalam bingkai lintas budaya. 3. mengapresiasi karya sastra Arab (al balaghah) secara sederhana. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Arab terdiri atas materi ajar berupa wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog sederhana untuk melatih keempat aspek kemampuan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta apresiasi sastra, termasuk juga pengenalan huruf hijaiyah, kosakata (mufradat) dan tata bahasa (qawaid). Tema-tema yang akan diajarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Arab di SMA/MA ini adalah sebagai berikut: 1. Kelas X: Identitas diri (al taaruf), kehidupan sekolah (al hayat fi al madrasah), dan keluarga (al usrah), 2. Kelas XI: Hobi (al hiwayah), kesehatan (al sihhah) dan Olahraga (al riyadah) 3. Kelas XII: Pekerjaan (al mihnah), transportasi (wasail al safar), dan wisata (al rihlah) Adapun materi Bahasa dan Sastra Arab diberikan hanya pada materi peribahasa Arab (al matsal), perumpamaan (tasybih), saja dan jinas. d. Kompetensi Mata Pelajaran Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab diharapkan mengacu pada kompetensi minimal yang diatur dalam SI dan KD. Secara umum kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran bahasa dan satra Arab di SMA/MA yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
194

1. Memahami unsur-unsur bahasa Arab secara benar. 2. Melafalkan bunyi bahasa Arab (huruf hijaiyah) dengan baik dan benar. 3. Mendengarkan wacana lisan bahasa Arab dengan baik dan benar. 4. Menyampaikan jawaban, ide, dan perasaan secara lisan dengan baik dan benar. 5. Mengungkapkan isi wacana tulis bahasa Arab dalam bentuk lisan dan tulisan. 6. Mengapresiasi karya sastra Arab (al balaghah) secara lisan maupun tulis secara sederhana.

195

2.2 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Jepang a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Jepang, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, sosial, psikologi maupun seni dan budaya bersumber dari buku-buku berbahasa Jepang. Selain itu bahasa Jepang merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan dunia pariwisata dan bisnis. Melalui pembelajaran bahasa Jepang dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Jepang diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kompetensi inti dan kompetensi dasar ini dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa Jepang, yang mencakup empat aspek keterampilan bahasa yang saling terkait, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Alokasi waktu yang disediakan adalah 3 jam per minggu untuk kelas X, 4 jam per minggu untuk kelas XI dan kelas XII. Kompetensi dasar bahasa Jepang dalam kurikulum perlu disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Jepang dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern yang lain. Dalam kelas bahasa Jepang peserta didik dimotivasi untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam mendalami
196

sejumlah bahan bacaan, baik berupa media cetak maupun media elektronik dan mempraktikkan unsur-unsur kebahasaan bahasa Jepang untuk dapat berkomunikasi secara lisan dan tulis menggunakan bahasa Jepang yang sederhana setara JF Standard-A1 . Selain mempelajari bahasa Jepang, peserta didik juga mengenal budaya dan sastra Jepang yang disampaikan secara implisit terintegrasi dalam wacana lisan dan tulis. Sehingga memungkinkan peserta didik memiliki kemampuan interkultural. Dengan bekal sejumlah pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budaya dan sastra lain dan lebih mengenal budaya maupun sastranya sendiri, dan dapat mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis serta dapat berkomunikasi di era global. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam standar kompetensi lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) bahasa Jepang yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan kompetensi dasar pelajaran bahasa Jepang. b. Tujuan Pembelajaran bahasa Jepang di Indonesia bertujuan agar para peserta didik memiliki 1. Kemampuan dalam unsur kebahasaan yaitu; a. Fonetik, b. Kosakata, c. Tata bahasa, d. Aksara Jepang yaitu Hiragana, Katakana dan Kanji sederhana 2. Kemampuan dasar berkomunikasi berbahasa Jepang dalam ketrampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis untuk berkomunikasi secara sederhana. 3. Pemahaman tentang budaya Jepang secara umum 4. Mengapresiasi karya-karya sastra contoh cerita anak-anak (seperti Kaguyahime dan lain-lain. c. Ruang Lingkup

197

Mata Pelajaran Bahasa Jepang untuk program peminatan Bahasa dan Budaya aksara membahas unsur kebahasaan (fonetik, kosakata, tata bahasa, Jepang {Hiragana, Katakana, dan Kanji sederhana}) dan

pengetahuan lintas budaya yang tercakup dalam wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang: a. identitas diri, b. kehidupan sehari-hari, c. kehidupan sekolah, d. hobi, e. wisata, f. kesehatan, dan g. cita-cita untuk melatih keempat aspek kemampuan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Bahasa Jepang untuk program peminatan Bahasa dan Budaya mencakupi kompetensi berbahasa lisan dan tulis dalam bahasa Jepang sederhana setara dengan JF Standard-A1. Dengan mempelajari bahasa Jepang, peserta didik: 1. Memiliki kompetensi berbahasa lisan reseptif dan produktif. 2. Memiliki kompetensi berbahasa tulis reseptif dan produktif, dengan penguasaan fonetik, kosakata, tata bahasa, aksara Jepang {Hiragana, Katakana, dan Kanji sederhana}), pengetahuan lintas budaya dan sastra.

198

2.3 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Jerman a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Jerman, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, sosial, psikologi maupun seni dan budaya bersumber dari buku-buku berbahasa Jerman. Selain itu bahasa Jerman merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan dunia pariwisata dan bisnis. Melalui pembelajaran bahasa Jerman dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulis untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Jerman diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kompetensi inti dan kompetensi dasar ini dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa Jerman,yang mencakup empat aspek keterampilan bahasa yang saling terkait, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Alokasi waktu yang disediakan adalah 3 jam per minggu untuk kelas X dan 4 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. Kompetensi dasar bahasa Jerman dalam Kurikulum perlu disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan Bahasa Jerman dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern yang lain. Dalam kelas bahasa Jerman peserta didik dimotivasi untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam memahami
199

sejumlah bahan bacaan, baik berupa media cetak maupun media elektronik dan memahami serta mempraktikkan unsur-unsur kebahasaan bahasa Jerman untuk dapat berkomunikasi secara lisan dan tulis mengunakan bahasa Jerman yang sederhana setara standar Eropa tingkat A1. Peserta didik juga diperkenalkan pada budaya Jerman dan karya sastra Jerman secara implisit terintegrasi dalam wacana lisan dan tulis, sehingga memungkinkan mereka memiliki kemampuan interkultural. Dengan bekal sejumlah pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budaya lain dan lebih mengenal budayanya sendiri, sehingga mereka dapat mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis serta dapat berkomunikasi di era global. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Bahasa Jerman yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Bahasa Jerman sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Bahasa Jerman bertujuan agar peserta didik: 1. Memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur kebahasaan yang meliputi fonetik, dan tulis. 2. Memiliki keterampilan dasar berbahasa Jerman yakni keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. 3. Menerapkan kesantunan berbahasa Jerman sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia dalam bingkai lintas budaya. 5. Mengenal budaya dan sastra Jerman melalui wacana lisan dan wacana tulis. c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Jerman untuk program peminatan Bahasa dan Budaya terdiri atas materi ajar berupa
200

kosakata

dan

tatabahasa

bahasa

Jerman,

serta

dapat

menggunakan unsur-unsur kebahasaan tersebut dalam komunikasi lisan

wacana lisan dan tulis berbentuk

paparan atau dialog sederhana, dan unsur kebahasaan (fonetik, kosakata, dan tatabahasa) untuk melatih keempat aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, serta mempelajari pengetahuan lintas budaya yang tercakup dalam wacana lisan dan tulis. Tema-tema yang akan diajarkan dalam pelajaran bahasa Jerman di SMA/MA adalah sebagai berikut: 1. Identitas diri untuk kelas X 2. Kehidupan sekolah untuk kelas X 3. Kehidupan keluarga untuk kelas XI 4. Kehidupan sehari-hari untuk kelas XI 5. Kegiatan pada waktu senggang untuk kelas XII 6. Wisata untuk kelas XII. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajara bahasa Jerman pada Program Peminatan Bahasa dan Budaya meliputi: 1. Keterampilan berbahasa lisan : mendengarkan dan berbicara. 2. Keterampilan berbahasa tulis : membaca dan menulis. 3. Menguasai unsur-unsur kebahasaan dalam komunikasi lisan dan tulis. 4. Memahami budaya dan sastra Jerman.

201

2.4 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Korea a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain Bahasa Inggris menjadi penting. dengan demikian, semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain Bahasa Inggris, dalam hal ini Bahasa Korea, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Korea. Selain itu, Bahasa Korea merupakan Melalui sarana komunikasi Bahasa dalam Korea pengembangan dapat dunia pariwisata,entertainment dan bisnis. pembelajaran dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran Bahasa Korea diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi awal (dasar) berbahasa Korea, yang mencakup empat aspek keterampilan bahasa yang saling terkait, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Alokasi waktu yang disediakan adalah empat (4) jam per minggu. Dalam kelas Bahasa Korea peserta didik dimotivasi untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, terutama untuk memahami sejumlah bahan bacaan, baik berupa media cetak maupun media elektronik. Dengan bekal sejumlah pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari dan menghargai budaya lain serta budayanya sendiri, sehingga mereka dapat mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Bahasa Korea yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA program pilihan Bahasa Korea di sekolah tersebut.
202

b. Tujuan Pembelajaran Bahasa Korea di Indonesia bertujuan agar para peserta didik memiliki kemampuan dasar dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis untuk berkomunikasi secara sederhana dengan menggunakan tata cara dan etiket yang berlaku di masyarakat dengan menggunakan bahasa Korea formal dan non formal. Mengenal tingkatan Bahasa Korea yang berhubungan dengan prilaku, sopan santun, rasa hormat dan tingkat disiplin hidup dalam tatanan masyarakat Korea. c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Korea terdiri atas bahan ajar berupa wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, kegemaran/hobi, dan wisata untuk melatih keempat aspek kemampuan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis Hangeul ( ) dan mempelajari etiket serta budaya Korea

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Bahasa Korea di Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya SMA/MA sebagai berikut: 1. Mendengarkan Mengidentifikasi bunyi fonetik abjad Hangeul () dan intonasi lisan dalam bahasa Korea, memahami isi dan memperoleh informasi umum dari wacana lisan sederhana berbentuk monolog atau dialog tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, kegemaran/hobi dan wisata dengan berpikir logis, sistematis, dan kritis. 2. Berbicara Mengemukakan pendapat dan menyampaikan informasi dengan jelas, efektif, efisien, jujur, santun, dan bertanggung jawab, agar komunikasi berlangsung harmonis tanpa rasa saling curiga, serta tidak meninggalkan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Topik yang diajarkan
203

tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, kegemaran/hobi, dan wisata. Kosakata yang dikuasai berjumlah sekitar 15002000 kata . 3. Membaca Membaca nyaring teks yang ditulis dalam Hangeul (), lafal dan intonasi Bahasa Korea , memahami isi teks atau wacana tulis sederhana serta memperoleh informasi daripadanya dengan cara berpikir logis, sistematis, dan kritis tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, kegemaran/hobi, dan wisata. Teks yang dibaca merupakan tata bahasa serta menggunakan Hangeul () yang sudah dipelajari. 4. Menulis a. Huruf Hangeul ( ) Menulis dalam huruf Hangeul ( ) sesuai aturan dan tingkatan etiket, sopan santun yang berlaku pada masyarakat Korea. Huruf Hangeul ( ) yang dipelajari dan dapat dituliskan dan 19 huruf

serta diucapkan terdiri dari 21 huruf vocal () konsonan (). b. Mengarang

Mengemukakan pendapat dan menyampaikan informasi secara logis, sistematis, dan kritis tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi/kegemaran, dan wisata sesuai dengan kelaziman berbahasa Korea dalam pemakaian kata dan struktur. Karangan ditulis dengan menggunakan huruf Hangeul ( ) yang sudah dipelajari. Karangan terdiri dari sekitar 1-3 paragraf, setiap paragraf terdiri dari sekitar 5-10 kalimat, setiap kalimat terdiri dari sekitar 5-12 kata. c. Menterjemahkan Menterjemahkan dari bahasa Korea ke dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan susunan tata bahasa baik secara tulisan dan lisan, terjemahan bahasa Korea ke dalam Bahasa Indonesia mengambil sumber dari film, surat kabar berbahasa Korea, materi-

204

materi lainya yang mengangkat tentang kebudayaan, pengetahuan yang ada di lingkungan masyarakat Korea dan kehidupan sehari-hari.

205

2.5 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Mandarin a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Mandarin, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Mandarin. Selain itu bahasa Mandarin merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan dunia pariwisata dan bisnis. Melalui pembelajaran bahasa Mandarin dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulis untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Mandarin diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Kompetensi dasar Bahasa Mandarin dalam Kurikulum perlu disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan Bahasa Mandarin dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern yang lain. Dalam kelas bahasa Mandarin peserta didik dimotivasi untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam memahami dan mempraktikkan unsur-unsur kebahasaan bahasa Mandarin untuk dapat berkomunikasi secara lisan dan tulis menggunakan bahasa Mandarin yang sederhana setara Level I HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) yang merupakan uji kompetensi bahasa Mandarin internasional. Peserta didik juga diperkenalkan pada budaya dan sastra Cina secara implisit terintegrasi dalam wacana lisan

206

dan tulis yang memungkinkannya memiliki kemampuan interkultural dan berpikir secara kritis sehingga dapat berkomunikasi di era global. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Bahasa Mandarin yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Bahasa Mandarin sekolah tersebut. b. Tujuan Pembelajaran Bahasa Mandarin di Indonesia bertujuan agar para peserta didik: 1. Memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur kebahasaan yang mencakupi: fonetik, kosakata, tata bahasa, aksara Cina (Hanzi) dan pengetahuan lintas budaya; 2. Memiliki keterampilan dasar berbahasa Mandarin yang santun baik pada keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis; 3. Mengembangkan kesantunan berbahasa; 4. Mengapresiasi karya-karya sastra dalam bentuk puisi atau prosa. c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Mandarin untuk Program Peminatan Bahasa dan Budaya ini membahas unsur kebahasaan (fonetik, ejaan Hanyu Pinyin, kosakata, tata bahasa, aksara Cina (Hanzi) dan pengetahuan lintas budaya) yang tercakup dalam wacana lisan dan tulis dengan topik: 1. identitas diri, 2. dehidupan sekolah, 3. kehidupan keluarga, 4. kehidupan sehari-hari, 5. kegemaran 6. wisata 7. layanan umum 8. pekerjaan

207

untuk melatih keempat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, menulis. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Bahasa Mandarin pada Program Peminatan Bahasa dan Budaya meliputi: 1. keterampilan berbahasa lisan: menyimak dan berbicara; 2. keterampilan berbahasa tulis: membaca dan menulis dengan penguasaan kosakata yang terbentuk dari minimal 300 aksara Cina (Hanzi), struktur dasar bahasa Mandarin dan pengetahuan lintas budaya Indonesia dan Cina.

208

2.6 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Perancis a. Latar Belakang Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Prancis, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Prancis. Selain itu bahasa Prancis merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan dunia pariwisata dan bisnis. Melalui pembelajaran bahasa Prancis dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulis untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, ide dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Prancis diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Kompetensi dasar bahasa Prancis perlu disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersbut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menngunakan bahasa dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan idea tau gagasan dengan menggunakan kertas dan pensil maupun media modern lainnya. Dalam kelas bahasa Prancis peserta didik dimotivasi secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam memahami dan mempraktikkan unsur-unsur kebahasaan bahasa Prancis untuk dapat berkomunikasi secara lisan dan tulis menggunakan bahasa Prancis yang sederhana setara standar Eropa A1. Peserta didik juga diperkenalkan budaya Prancis dan karya sastra Prancis secara implisit terintegrasi dalam wacana lisan dan tulis yang memungkinkannya memiliki kemampuan

209

interkultural dan berpikir secara kritis sehingga dapat berkomunikasi di era global. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Struktur Kompetensi Lulusan (SKL) maka perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) bahasa dan sastra Prancis yang harus dikuasai oleh lulusan SMA/MA. sastra Prancis. b. Tujuan Mata pelajaran bahasa Prancis bertujuan agar peserta didik dapat : 1. Memahami dan menggunakan bunyi fonetis bahasa Prancis (huruf, angka, kata, kalimat) dalam komunikasi lisan. 2. Memahami dan menggunakan struktur kalimat sederhana bahasa Prancis yang terdiri dari 1) Sujet + verbe; dan 2) Sujet + verbe + complement objet dalam komunikasi lisan dan tulis. 3. Mamahami dan menggunakan tata bahasa bahasa Prancis meliputi; konjugasi kata kerja beraturan dan tidak beraturan, kala (waktu), kata sandang, kata sifat, kata depan dalam komunikasi lisan dan tulis. 4. Memahami dan menggunakan kosakata bahasa Prancis dalam komunikasi lisan dan tulis yang berkaitan dengan tema yang disajikan seperti: identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, 5. Mengenal budaya dan sastra Prancis melalui wacana lisan dan wacana tulis. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Bahasa Prancis untuk Program Peminatan Bahasa dan Budaya ini membahas bunyi fonetis bahasa Prancis, struktur kalimat sederhana bahasa Prancis, tata bahasa dan kosakata bahasa Prancis dalam wacana lisan dan tulis yang terbagi dalam beberapa tema sesuai tingkat kelas: 1. Identitas diri untuk kelas X 2. Kehidupan sekolah untuk kelas X
210

KMP ini

selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) bahasa dan

3. Kehidupan Keluarga untuk kelas XI 4. Kehidupan Sehari-hari untuk kelas XI 5. Kegemaran/Hobby untuk kelas XII 6. Wisata untuk kelas XII. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi 1. Memahami 2. Mamahami Mata Pelajaran Bahasa Prancis untuk Program dalam dalam Peminatan mencakupi: dan dan menggunakan menggunakan unsur-unsur unsur-unsur kebahasaan kebahasaan komunikasi lisan. komunikasi tulis. 3. Memahami dan menggunakan pengetahuan budaya dan sastra Prancis dalam komunikasi lisan dan tulis.

211

3. Mata Pelajaran Antropologi a. Latar Belakang Antropologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari keragaman sekaligus kesamaan manusia dan cara hidupnya dari berbagai ruang dan waktu. Antropologi mengkaji manusia dan cara hidupnya secara holistik sebagai makhluk biologi dan sosial budaya yang terbentuk melalui pertemuan manusia dan kebudayaannya yang beragam. Dengan demikian, terjalin hubungan timbal balik yang sangat erat antara manusia dan kebudayaan. Antropologi memiliki sub disiplin, yang meliputi antropologi biologi/antropologi ragawi, antropologi sosial, etnolinguistik, arkeologi, prasejarah, dan etnologi. Pembelajaran antropologi dapat membantu peserta didik memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai manusia dan cara hidupnya yang beranekaragam. Pengenalan dan pemahaman mengenai antropologi dengan sendirinya dapat mengembangkan sikap toleran dan saling menghargai terhadap keberagaman kebudayaan. Bertolak dari pemahaman tersebut mata pelajaran antropologi merupakan sesuatu yang mutlak diketahui peserta didik melalui suatu pelajaran yang mandiri. Dengan mempelajari antropologi diharapkan peserta didik mampu menyerap antropologi sebagai pengetahuan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menyikapi perbedaan latar budaya, tradisi, adat, nilai dan norma masyarakat, bahasa dan kepercayaan di masyarakat. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Antropologi yang harus dikuasai oleh lulusan SMA. Kompetensi Mata Pelajaran ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Komptensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Antropologi disekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Antropologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami ruang lingkup antropologi. 2. Memahami pendekatan dan metode kerja antropologi.
212

3. Memahami memecahkan ragam.

kebudayaan berbagai

dan masalah

dapat terkait

memanfaatkannya dengan manusia

untuk dan

kehidupannya sebagai mahluk biologi dan sosial budaya yang beraneka 4. Menelaah fenomena budaya dalam masyarakat multikultur. 5. Mengaplikasikan hasil telaah terkait dengan budaya dalam masyarakat multikultur dalam kehidupan sehari-hari. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Antropologi meliputi aspek-aspek berikut: 1. Pokok kajian antropologi; 2. Keanekaragaman kebudayaan dalam unsur dan wujud kebudayaan; 3. Pendekatan dan metode kerja antroplogi; 4. Proses-proses dinamika kebudayaan; dan 5. Hubungan antarkebudayaan. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Antropologi meliputi: 1. Mengetahui garis-garis besar antropologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari keragaman sekaligus kesamaan cara hidup manusia dari berbagai ruang dan waktu; 2. Menguraikan konsep kebudayaan sebagai cara hidup manusia, sifatsifat, wujud dan unsur-unsurnya; 3. Memahami pendekatan antropologi (relativisme dan holisme) dalam memandang keragaman kebudayaan yang dikenalnya; 4. Menunjukkan sikap toleran dan menghargai perbedaan yang terdapat dalam masyarakat multikultur; 5. Memahami cara kerja antropologi (etnografi) dalam mengkaji aneka cara hidup manusia; 6. Memahami proses-proses dinamika kebudayaan yang disebabkan oleh dorongan internal maupun eksternal; 7. Mengenali sifat-sifat hubungan antarkebudayaan dalam lingkup lokal, nasional dan global, dan dampaknya pada kehidupan masyarakat.
213

8. Menganalisis

berbagai

fenomena

budaya

yang

terjadi

dalam

perkembangan dan perubahan dalam masyarakat multikultur; 9. Mengaplikasikan hasil temuan, telaah, dan analisis fenomena-fenomena budaya masyarakat multikultur dalam kehidupan sehari-hari.

214