Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan dalah bagian integral dari penbangunan nasional dan diarahkan untuk peningkatkan mutu sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif serta mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarkat. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat dilaksanakan melalui peningkatan perilaku hidup sehat, pemeliharaan lingkungan sehat, pelayanan kesehatan masyarakat yang berhasil dan berdayaguna ( Depkes RI, 1999 ). Masalah diare atau gastroenteritis merupakan masalah yang sering terjadi di Indonesia, bahkan bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak anak dan balita. selayaknya semua sector wajib untuk memperhatikan masalah ini. Hal ini tercemin banyak orang yang menderita penyakit diare atau gastroenteritis yang masuk keluar dari Rumah Sakit.Akibat dari penyakit diare banyak faktor diantaranya kesehatan lingkungan, higene perorangan, keadaan gizi, faktor sosial ekonomi, menentukan serangan penyakit diare, walaupun banyak kasus diare yang mengalami dehidrasi namun banyak yang meninggal bila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang tepat. (Mansjoer Arif, 2001) Masyarakat pada umumnya selalu menganggap suatu hal penyakit diare adalah sepele, sedangkan jika mengetahui yang terjadi sebenarnya banyak penderita diare yang mengalami kematian. Penyakit gastrointeritis merupakan penyakit yang harus sege ra ditangani karena dapat mengalami dehidrasi berat yang mengakibatkan syok hipovolemik dan mengalami kematian. Masalah pada penyakit gastrointeritis atau diare yang dapat mengakibatkan kematian berupa komplikasi lain dan masalah lain yang berkaitan dengan diare belum sepenuhnya ditanggulangi secara memadai, namun berbagai peran untuk mencegah kematian yang berupa komplikasi dan masalah lain seperti pelayanan kesehatan yang baik dan terpenuhi, dalam mencegah penyakit diare dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada semua warga masyarakat tentang penyakit gastroenteriritis serta peran keluarga dan warga sekitarnya sangat mendorong turunnya terjadinya penyakit gastroenteritis karena dari keluargalah pola Sudah

hidup seseorang terbentuk. Dengan pola hidup yang sehat dan bersih dapat mencegah terjadinya penyakit gastrointeritis. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Dapat menentuka dan menaplikasikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gastroenteritis 2. Tujuan Khusus a. Dapat mengetahui konsep dasar keperawatan gastroenteritis b. Dapat memberikan asuhan keperawatan tentang gastroenteritis c. Dapat melakukan Amnesa pada klien dengan gastroenteritis d. Dapat membuat analisa data pada klien gastroenteritis e. Dapat menentukan diagnosa keperawatan pada klien gastroenteritis f. Dapat membuat Rencana Asuhan keperawatan pada klien gastroenteritis g. Dapat melakukan Implementasi keperawatan pada klien dengan gastroenteritis h. Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada klien Gastroenteritis i. Dapat membuat dokumentasi keperawatan pada klien gastroenteritis

C. Manfaat Bagi Mahasiswa 1. Sebagai persyaratan menyelesaikan Preklinik Semester IV Pada Program Akademik. 2. Untuk mendapatkan gambaran yang nyata dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Anak pada klien dengan gangguan sistem Gastrointestinal pada Gastroenteritis Bagi Institusi Pendidikan Menerapkan teori secara terpadu untuk praktikum dan akan berguna untuk perbaikan dalam sumbangan pemikiran dalam memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien sehingga meningkatkan mutu pendidikan.

Bagi Rumah Sakit Dapat memberikan informasi dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terutama pada klien dengan gangguan sistem Gastrointestinal pada Gastroeneteritis. D. Metode Penulisan Metode penulisan dalam pengumpulan data pada penyusunan Asuhan Keperawatan ini adalah metode deskriptif yakni suatu metode penulisan yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif dan nyata. E. Tehnik Pengumpulan Data Wawancara Untuk memperoleh data, penulis melakukan tanya jawab langsung dengan klien, keluarga, perawat yang ada diruangan, wawancara dilakukan dengan cepat dan tepat dalam keperawatan anak Observasi Dilakukan dengan pengamatan dan pengkajian secara langsung serta berkesinambungan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan klien. Pemeriksaan Fisik Untuk memperoleh data praktikum juga melakukan pemeriksaan dan pengukuran langsung mengenai masalah yang ada pada klien. Tinjauan Literatur Metode ini digunakan untuk mencari, mempelajari, menganalisa dan mengumpulkan bahan-bahan dari buku ilmiah, majalah bahan kuliah serta catatan lain yang dibutuhkan dan berkaitan dengan penulisan ini. Dokumentasi pelaksanaan Tindakan Dilakukan dengan cara mendokumentasikan implementasi keperawatan anak dan evaluasi segera setelah diakukan tindakan keperawatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Gastroenteritis Diare akut (Gastroenteritis) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus dan patogen parasitik (Wong, Donna L. 2003; 492) Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari (Mansjoer, Arif. 2000; 500). Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah. 1997; 143). Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk cairan atau

setengah cairan (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml) per jam tinja (Noer, Sjaifoellah. 1996; 451).

B. Anatomi Fisiologi a. Anatomi Saluran gastrointestinal adalah jalur (panjang totalnya 23 sampai 26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung dan usus sampai anus. 1) Mulut Mulut merupakan bagian pertama dari saluran pencernaan. Dinding dari cavum oris mempunyai struktur yang melayani fungsi mastikasi, salivasi, menelan, kecap dan bercakap. Mulut dibatasi pada kedua sisi pipi yang dibentuk oleh muskulis businatorius, atapnya adalah palatum yang memisahkannya dari hidung dan bagian atas dari faring, lidah membentuk bagian terbesar dari dasar mulut. Terdapat tiga pasang glandula salivarius (parotid, mandibular dan sublingual). Glandula salivarius mensekresikan saliva via duktus ke dalam mulut. Glandulla diinervasi baik oleh saraf parasimpatis dan simpatis (Rosa M. Sacharin, 1993).

Dalam rongga mulut terdapat : Lidah Lidah menempati kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam laring. Gigi Manusia dilengkapi dengan dua set gigi yang tampak pada masa kehidupan yang berbeda-beda. Set pertama adalah gigi primer atau susu yang bersifat sementara dan tumbuh melalui gusi selama satu tahun pertama dan kedua. Set kedua atau set permanen menggantikan gigi primer dan ini mulai tumbuh pada sekitar umur 6 tahun. Terdapat 20 gigi susu dan 32 gigi permanen (Rosa M. Sacharin, 1993) 2) Faring Faring merupakan saluran lanjut dari rongga mulut dan rongga hidung dengan dinding yang terdiri dari lapisan mukosa, muscularis dan serosa 3) Esofagus Terletak di mediastinum rongga torakal, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat mengempis ini, panjangnya kira-kira 25 cm (10 inci), menjadi distensi bila makanan melewatinya (Smeltzer Suzanne C, 2001). 4) Lambung lambung ditempatkan di bagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh. Tepat d bawah diafragma kiri. Lambung dapat di bagi dalam empat bagian anatomis: kardia (jalan masuk), fudus, korpus dan pilorus. Otot halus sirkuler di dinding pilorus membentuk sfingter piloris dan mengontrol lubang diantara lambung dan usus halus (Smeltzer Suzanne C, 2001). Kapasitas lambung adalah antara 30 dan 35 ml saat lahir dan meningkat sampai sekitar 75 ml pada kehidupan minggu kedua. Pada akhir bulan pertama ini sekitar 10 ml, sementara kapasitas lambung rata-rata orang dewasa adalah 1000 ml (Rosa M. Sacharin, 1993). 5) Intestinum (Usus halus)

Adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal, yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Bagian ini membalik dan melipat diri yang memungkinkan kira-kira 7000 cm area permukaan untuk sekresi dan absorbsi. Usus halus dibagi 3 bagian anatomik : bagian atas disebut duodenum, bagian tengah disebut yeyunum dan bagian bawah disebut ileum. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak di bagian bawah kanan duodenum ini disebut sekum. Pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal, yang berfungsi untuk mengontrol pasase isi usus ke dalam usus besar dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini terdapat appendiks veriformis. Terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri, dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Bagian ujung dari usus besar terdiri dari dua bagian kolon sigmoid dan rektum. Rektum berlanjut pada anus. Jalan keluar anal di atur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal. 6) Usus besar (intestinum crassum) Terdiri dari caecum, appendix, colon dan rectum. b. Fisiologi Proses pencernaan mulai dengan aktivitas mengunyah, dimana makanan dipecah ke dalam partikel kecil yang dapat ditelan dan dicampur dengan enzim pencernaan. Saliva adalah sekresi pertama yang kontak dengan makanan. Menelan mulai sebagai aktifitas volunter yang di atur oleh pusat menelan di medulla oblongata dari sistem saraf pusat. Saat makanan ditelan, epiglotis bergerak menutup lubang trakea dan karenanya mencegah aspirasi makanan ke dalam paru-paru. Menelan, mengakibatkan bolus makanan berjalan ke dalam esofagus atas, yang berakhir sebagai aktivitas refleks, otot halus di dinding esofagus berkontraksi dalam urutan irama dari esofagus ke arah lambung untuk mendorong bolus makanan sepanjang saluran. Selama proses peristaltik esofagus ini, sfingter esofagus bawah rileks dan memungkinkan bolus makanan masuk lambung. Akhirnya, sfingter esofagus menutup dengan rapat untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus. Lambung mensekresi cairan yang sangat asam dalam berespon atau sebagai antisipasi terhadap pencernaan makanan. Cairan ini yang dapat mempunyai pH serendah 1,

memperoleh keasamannya dari asam hidroklorida yang disekresikan oleh kelenjar lambung. Fungsi sekresi asam ini dua kali lipat : Untuk memecah makanan menjadi komponen yang lebih dapat diabsorbsi. Untuk membantu destruksi kebanyakan bakteri pencernaan.

Lambung dapat menghasilkan sekresi kira-kira 2, 4 L/hari. Sekresi lambung juga mengandung enzim pepsin yang penting untuk memulai pencernaan protein. Faktor instrinsik juga disekresi oleh mukosa gaster. Kontraksi peristaltik di dalam lambung mendorong isi lambungnya ke arah pilorus. Karena partikel makanan besar tidak dapat melewati sfingter pilorus, partikel ini diaduk kembali ke korpus lambung. Makanan tetap berada di lambung selama waktu yang bervariasi, dari setengah jam sampai beberapa jam tergantung pada ukuran partikel makanan, komposisi makanan dan faktor lain. Peristaltik di dalam lambung dan kontraksi sfingter pilorus memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus halus (Smeltzer Suzanne C, 2001). Proses pencernaan berlanjut ke duodenum, sekresi di dalam duodenum datang dari pankreas, hepar dan kelenjar di dinding usus itu sendiri. Karakteristik utama dari sekresi ini adalah kandungan enzim pencernaan yang tinggi. Sekresi pankreas mempunyai pH alkalin karena konsentrasi bikarbonatnya yang tinggi. Ini menetralisir asam yang memasuki duodenum dari lambung. Pankreas juga mensekresi enzim pencernaan, termasuk tripsin, yang membantu dalam pencernaan protein, amilase yang membantu dalam pencernaan zat pati dan lipase yang membantu dalam pencernaan lemak. Empedu (disekresi oleh hepar dan disimpan di dalam kandung empedu) membantu mengemulsi lemak yang dicerna. Sekresi kelenjar usus terdiri daru mukus, yang menyelimuti sel-sel dan melindungi mukosa dari serangan oleh asam hidroklorida, hormon, elektrolit dan enzim. Hormon, neuroregulator dan regulator lokal ditemukan di dalam sekresi usus, berfungsi mengontrol laju sekresi usus dan mempengaruhi motilitas gastrointestinal. Sekresi usus total kira-kira getah pankreas 1 L/hari, empedu 0.5 L/hari dan kelenjar usus halus 3 L/hari. Ada 2 tipe kontraksi yang terjadi secara teratur di usus halus :

Kontraksi segmental yang menghasilkan campuran gelombang yang menggerakkan isi usus ke belakang dan ke depan dalam gerakan mengaduk.

Peristaltik usus mendorong isi usus halus tersebut ke arah kolon. Karbohidrat dipecahkan menjadi disakarida dan monosakarida. Protein dipecahkan menjadi asam amino dan peptida. Lemak dicerna diemulsifikasi menjadi monogliserida dan asam lemak. Dalam 4 jam setelah makan, materi sisa residu melewati ileum terminalis dan dengan perlahan melewati bagian proksimal kolon melalui katup ileusekal. Populasi bakteri adalah komponen utama dari isi usus besar. Bakteri membantu menyelesaikan pemecahan materi sisa dan garam empedu. Aktivitas peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolonik dengan perlahan sepanjang saluran. Transport lambat ini memungkinkan reabsorbsi efisien terhadap air dan elektrolit. Materi sisa dari makanan akhirnya mencapai dan mengembangkan anus, biasanya dalam kirakira 12 jam sebanyak seperempat dari materi sisa makanan mungkin tetap berada direktum 3 hari setelah makanan dicerna. Distensi rektum secara relatif menimbulkan kontraksi otot-ototnya dan merilekskan sfinger anal internal yang biasanya tertutup. Sfingter internal dikontrol oleh sistem saraf otonom, sfringter eksternal di bawah kontrol sadar dari kortektes serebral. Rata-rata frekuensi defekasi pada manusia adalah sekali sehari, tetapi frekuensi bervariasi diantara individu, faeces terdiri dari bahan makanan yang tidak tercerna, materi anorganik, air dan bakteri, Bahan kekal kira-kira 75 % materi cair dan 25 materi padat (Smeltzer Suzanne C, 2001).

C. Etiologi Penyebab diare dapat di bagi dalam beberapa faktor : a. Faktor infeksi 1. Infeksi enteral Infeksi saluran pencernaan, makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak meliputi : Infeksi bakteri : vibrio, E. Coli, salmonella, shigella, compylobacter, yersinia, aeromonas. Infeksi virus : entero virus (virus ECHO, coxsackie, poliomyelitis), adenovirus, rotavirus, astrovirus. Infeksi parasit : cacing (ascoris, trichoris, oxyuris, strongyloides), protozoa (entamoeba histolitica, giardia lamblia, trichomonas), jamur (candida albicans). 2. Infeksi parenteral Infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut (OMA), tonsilitis / tomsilofaringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis. b. Faktor malabsorbsi o Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakrida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). o Malabsorbsi lemak. o Malabsorbsi protein c. Faktor makanan Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan d. Faktor psikologis Rasa takut dan cemas.

D. Patofisiologi Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

E. Manifestasi Klinis Mula-mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada. Diare, tinja cair mungkin disertai lendir atau darah,warna berubah. Anus dan daerah sekitarnya lecet. Mual, muntah

Dehidrasi, BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun membesar dan cekung. Selaput lendir bibir dan mulut kering Nafas cepat dan dalam. F. Penatalaksanaan Medis Dasar pengobatan diare adalah: a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya. 1) Cairan per oral Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa. 2) Cairan parentral Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut: Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit

Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg

1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.

Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts). Untuk bayi berat badan lahir rendah Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 %). b. Pengobatan dietetik Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan: Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh. c. Obat-obatan Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. Keperawatan Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit. Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.

G. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan feses, makroskopis dan mikroskopis : ditemukan kuman spesifik, bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan resistensi 2) Pemeriksaan darah : leukositosis 13.000-22.000/mm3 3) Analisa gas darah : base excess rendah 4) Pemeriksaan serum elektrolit : natrium dan kalium menurun H. Komplikasi Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik). Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, brakikardia,

perubahan elektrokardiogram) Hipoglikemia Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defesiensi anzim

laktase) Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS


A. Pengkajian (Sumber: Doengoes, ME, dkk, 2000) 1. Identitas a. Identitas pasien: nama, umur, jenis kelamin, suku/ bangsa, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat. b. Identitas penanggung jawab: nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, hubungan dengan pasien, alamat. 2. Riwayat keperawatan. Awalan serangan : ,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare. Keluhan utama : Feces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer. 3. Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi. 4. Riwayat psikososial keluarga. Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. 5. Kebutuhan dasar. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang. Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien. Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

6. Pemerikasaan fisik. a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan badan lemah,pernapasan agak cepat. b. Pemeriksaan sistematik : Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan. Perkusi : adanya distensi abdomen. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis. Auskultasi : terdengarnya bising usus. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun. d. Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatif dan kualitatif.

c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.

B. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan. 4. Resiko tiggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus 5. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasif

C. Rencana Keperawatan No Diagnosa keperawatan Dx


1 Tujuan dan kriteria hasil Tujuan: Intervensi Rasional

Gangguan Keseimbangan Cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan
Ditandai dengan : - Peningkatan suhu tubuh 38,3oC. - Membran mukosa kering. - Badan lemah dan Letih

1. Lakukan pendekatan pada penderita. 2. Catat Intake Output. dan output

1. memudahkan kerja sama antara perawat dan klien.

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan cairan keseimbangan

pasien kembali normal.

2. Memudahkan tepat untuk

membuat intervensi

asuhan keperawatan secara selanjutnya.

Kriteria Hasil:

Intake seimbang

Mata tidak cekung Diare berhenti Turgor kulit baik Tidak dan muntah Mukosa bibir lembab Kadar elektrolit dalam batasan normal : mual 3. Anjurkan penderita untuk minum banyak (sedikitsedikit sering). 4. untuk mencegah diare lebih lama lagi 3. untuk mengganti caiaran yang hilang.

* Natrium = 3,5 5,5 4. Anjurkan mEq/l penderita *Kalium = 135-145 mEq/l untuk tidak makan makanan yang merangsang timbulnya

diare. 5. Monitoring tanda-tanda dehidrasi. 6. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat infus. dan 6. Terapi yang tepat dan dan komplikasi 5. Mendeteksi secara dini tanda-tanda dehidrasi.

cepat dapat mempercepat kesembuhan mencegah secara dini.

No Dx
2

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil Tujuan : Kebutuhan

Intervensi

Rasional

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan mual dan muntah. Ditandai dengan:

1. Lakukan pada keluarga. 2. Kaji

nutrisi terpenuhi dan adekuat dalam waktu 3 x 24 jam

pendekatan 1. memudahkan kerja sama antara perawat dan klien. klien dan nutrisi 2. mengetahui keadaan nutrisi klien.

tingkat

Kriteria Hasil:

klien. 3. Beri makanan dalam porsi sering. 4. mengetahui apakah ada penurunan berat badan selama perawatan. kecil 3. memenuhi kebutuhan nutrisi tetapi tubuh.

1. Intake nutrisi yang adekuat.

Mual,Muntah tidak 4. Hitung BB. ada. Klien dapat 5. Kolaborasi dengan tim pemberian terapi. menghabiskan porsi makan yang 2. disajikan. BB normal 11 kg

5. mengetahui jenis obat yang medis (kokter) dalam dapat diberikan.

No Dx

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan iritasi karena diare.

Tujuan :

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit

1. Ukur tanda tanda vital. 2. Ganti popok/ celana dengan sering lap dengan lap kering. 3. Bersihkan bokong dengan perlahan lahan dengan sabun lunak non alkalin dan air. 4. Hindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol.

1. mengetahui keadaan umum klien. 2. mencegah agar kulit tetap bersih dan kering.

Kriteria Hasil:

Ditandai dengan: Anus Merah Anak Rewel dan Gelisah

Kulit utuh Tidak ada lecet Integritas kulit

3.

membersihkan yang lembab karena feces diare sangat mengiritasi kulit.

kembali normal. iritasi tidak ada. tanda-tanda infeksi tidak ada

4. Akan menyebabkan bau menyengat.

5. Kolaborasi: 5. menghindari kulit dari iritasi Berikan salep seperti seng dan mengobati infeksi jamur oksida dan obat anti jamur. kulit.

BAB IV TINJAUAN KASUS


1. Format Pengkajian Nama Mahasiswa Tanggal Pengkajian Tempat praktek : Mahasiswa : 17 Juli 2012 : RSUD LUBUK BASUNG

I. Data Demografi Nama Tanggal masuk RS : An. S : 17 Juli 2012

Umur Jenis kelamin Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Alamat Nama Alamat

: 16 Bulan : Laki- Laki : Belum Kawin : Islam :Minang : Belum Sekolah : Padang Tongga : Ibu S : Padang Tongga

Orang Yang Dapat dihubungi:

Hubungan dengan pasien : II. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama Klien masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Basung kiriman ruang IGD dengan keluhan mencret lebih dari 4 kali, demam sejak sehari sebelum masuk rumah sakit dan mual dan sering muntah b. Riwayat kesehatan sekarang Pada saat melakukan pengkajian pada 17 juli 2012 kepada orang tua klien. Dia mengatakan bahwa anaknya masih mau menyusui dan sekarang anak masih terlihat lemah. Anak sudah di bawa berobat ke bidan sebelumnya, namun tidak ada perbaikan. Anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, diare, tinja cair mungkin disertai lendir atau darah,warna berubah,anus dan daerah sekitarnya lecet,mual, muntah,dehidrasi, bb turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun membesar dan cekung,selaput lendir bibir dan mulut kering,nafas cepat dan dalam. c. Riwayat kesehatan dahulu Orang tua klien mengatakan anaknya pernah menderita penyakit ini sebelumnya d. Riwayat kesehatan keluarga Orang tua klien mengatakan ada riwayat keluarganya yang pernah menderita penyakit ini sebelumnya. e. Riwayat lingkungan Orang tua klien mengatakan tinggal di lingkungan yang bersih.

f. Riwayat psikososial Klien sering rewel.

III. Riwayat kesehatan fungsional a) Pola aktifitas dan latihan Do : Klien terlihat lemah dan sering menangis Ds : orang tua klien mengatakan kalau dalam melakukan aktivitas di bantu olehnya. b) Pola nutrisi dan metabolisme Do :.-BB :9 Kg, klien hanya menghabiskan makanan seperempat porsi . Ds : Ibu S mengatakan memberikan ASI kepada anaknya setiap kali anaknya menangis. An S juga ada minum air putih sebanyak lebih kurang 250 cc. c) Pola eliminasi Do : Klien terlihat tidak ada masalah dalam BAK Ds : Orang tua klien mengatakan BAB 5x/hari dengan karakteristik cair dan berlendir. d) Pola tidur dan istirahat Do : Klien terlihat susah untuk tidur karena rewel. Ds : Klien sering menangis.

IV Pemeriksaan Fisik a)Keadaan umum Kesadaran BB TB : composmetis :9 kg :85 cm

b)Tanda Vital Nadi Pernafasan Suhu : 160x/i : 28x/i : 38,30C

c)Kepala

Lingkar kepala: 45 cm Ubun-ubun : tampak cekung

d)Mata Konjungtiva : Tidak Anemis Sklera Air Mata Bentuk : Tidak Ikterik : Ada : Cekung

e)Hidung Septum nasal : tegak lurus Polip Kotoran Sekret : Tidak ada :Tidak ada :Tidak terdapat purulen

f)Telinga Membran tympani Mastoid : baik : tidak ada peradangan

g)Mulut Mukosa : kering

h )Leher i) Kelenjar tiroid Kelenjar Limfe Dada Inspeksi : normo chest Palpasi Perkusi : takti fremitus normal : sonor : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran

Auskultasi: vesikuler

k)Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : Perut anak tidak membuncit, bernapas menggunakan otot perut. : Bising usus (+) yaitu 14 x i,bunyi nyaring dan jelas. : Lembek, hepar tidak teraba, limpa tidak teraba, tidak : tympani di seluruh permukaan abdomen.

ada nyeri tekan, turgor baik.

l) Anus dan Rektum m) Pungggung

: Anus lecet dan terlihat sedikit kemerahan : Tidak terdapat kelainan tulang punggung fremitus

takstil teraba sama kiri dan kanan n) Ekstremitas atas dan bawah Lengkap, gerakan aktif , ROM (+) V. Pemeriksaan Tumbuh Kembang a). Motorik kasar Ds: Ibu An.S mengatakan anaknya sudah mampu berjalan mengeksplorasi rumah secara sekeliling rumah Do: An.S tampak sudah mampu berjalan. b) Motorik halus Ds : Ibu An.S mengatakan anak sudah bisa menyusun 2 atau 3 kotak Do: An.S terlihat tampak bisa bermain sendiri di tempat tidur. c) kognitif dan bahasa Ds:Ibu An.S mengatakan anaknya sudah mbisa mengatkan 5-10 kata. Do:anak sudah bisa mengatakan 5- 10 kata d) Kemandirian dan bergaul Ds: Ibu An.S mengatakan anak nya marah kalau saudaranya dekat sama Ibu An.S Do:anak memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing.

B. DATA FOKUS Data Subjektif - Ibu mengatakan BAB An. S mencret Ibu An S mengatakan anak nya sering muntah Ibu An.S mengatakan demam sejak seharisebelum Rumah Sakit. Data Objektif - BB : 9 kg -TB: 85 cm -Ubun-ubun klien tampak cekung -Turgor Kulit Jelek TTV : S:38,3oC N:160x/i

Ibu mengatakan An.S kurang nafsu makan Ibu An.S mengatakan Menghabiskan seperempat piring makanan dari RS.

P:28x/i Klien terlihat lemah dan sering menangis. klien hanya menghabiskan makanan seperempat porsi . Klien terlihat susah untuk tidur karena rewel. An.S tampak sudah mampu berjalan.

Ibu mengatakan An.S rewel dan gelisah. Ibu mengatakan anus An.S merah orang tua klien mengatakan kalau dalam melakukan aktivitas di bantu olehnya.

Ibu S mengatakan memberikan ASI kepada anaknya setiap kali anaknya menangis. An S juga ada minum air putih sebanyak lebih kurang 250 cc.

Orang tua klien mengatakan BAB 5x/hari dengan karakteristik cair dan berlendir.

C. ANALISA DATA

NO 1

Data DS: -Ibu mengatakan BAB An. S mencret. Ibu An S mengatakan anak nya sering muntah Ibu An.S mengatakan demam sejak seharinsebelum Rumah Sakit.

Patofisiologi Masalah Infeksi,Malabsorbsi,Makanan Gangguan keseimbangan cairan dan Enteral Makanan Mulut Saluran Pencernaan Usus Halus Makanan tidak diserap Tekanan Osmotik sekresi air non elektolit Isi rongga usus Usus terangsang untuk mengeluarkan Diare Tinja Encer Kehilangan cairan non elektrolit Kadar natrium Dehidrasi hipotonik elektolit

2.

DO:

Ganggun Keseimbangan Gangguan Kebutuhan nutrisi kerusakan kebutuhan tubuh integritas Infeksi,Malabsorbsi,Makanan Gangguan

2. Diagnosa Keperawatan 1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. 2) Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah. 3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.

D. Rencana Keperawatan No dx 1. Diagnosa Keperawatan Gangguan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

keseimbangan Tujuan: setelah dilakukan tindakan cairan dan elektrolit kurang keperawatan selama 3 x 24 jam dari kebutuhan tubuh diharapkan keseimbangan berhubungan dengan output cairan pasien kembali normal. cairan yang berlebihan. DS: -Ibu An.S mengatakan An.S mencret 4 kali -Ibu mengatakan BAB An. S mret - Ibu An S mengatakan anak nya sering muntah. Ibu An.S mengatakan demam sejak sehari sebelum Rumah Sakit. DO: - BB : 9 kg
Kriteria Hasil:

1.Lakukan pendekatan pada 1. memudahkan kerja sama antara penderita. 2. Ukur Tanda-Tanda Vital 3.Catat Intake Output. perawat dan klien. 2. mengetahui keadaan umum klien 3. Memudahkan membuat asuhan keperawatan secara tepat untuk intervensi selanjutnya. 4.Anjurkan penderita untuk 4. mengganti caiaran yang hilang. minum banyak (sedikittanda-tanda 5. mendeteksi secara dini tandatanda dehidrasi. mencegah diare lebih lama lagi. makanan sedikit sering). 5. Monitoring dehidrasi. 6. Anjurkan penderita untuk 6. tidak makan yang merangsang

Intake dan output seimbang Mata tidak cekung Diare berhenti Turgor kulit baik Tidak mual dan muntah Mukosa bibir lembab Kadar elektrolit dalam

batasan normal : * Natrium = 3,5 5,5 mEq/l *Kalium = 135-145 mEq/l

timbulnya diare. 7. Kolaborasi dengan tim 7. Terapi yang tepat dan cepat dapat

-TB: 85 cm -Ubun-ubun klien tampak cekung -Turgor Kulit Jelek TTV : S:38,3oC N:160x/i P:28x/i 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kebutuhan Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dan adekuat dalam tubuh berhubungan dengan waktu 3 x 24 jam mual dan muntah kurang dari Ds: -Ibu mengatakan An.S kurang nafsu makan -Ibu An.S mengatakan Menghabiskan seperempat piring makanan dari RS. Do: -BB : 9 kg
Kriteria Hasil:

dokter dalam pemberian obat dan infus.

mempercepat kesembuhan dan mencegah komplikasi secara dini.

1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga. 2. Kaji status nutrisi klien. 3. Beri makanan dalam porsi kecil tetapi sering.

1.

memudahkan

kerja

sama antara perawat dan klien. 2. 3. mengetahui keadaan

nutrisi klien. memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. 4. perawatan. 5.Kolaborasi medis dengan tim dalam 5. mengetahui jenis obat (dokter) mengetahui apakah

Intake nutrisi yang adekuat. Mual,Muntah tidak ada.

Klien dapat menghabiskan 4. Hitung BB. porsi makan yang disajikan. BB normal 11 kg

ada penurunan berat badan selama

-BB sebelumnya : 10 kg -Anak terlihat Lemah -Klien tampak menghabiskan makanan seperempat porsi. 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang Tujuan : Tidak terjadi kerusakan berlebihan. integritas kulit Ds: Ibu mengatakan An.S rewel dan gelisah -Ibu mengatakan anus An.S merah Do: -An.S kelihatan rewel dan gelisah -Anus An.S kelihatan merah Kriteria Hasil:

pemberian terapi.

yang dapat diberikan.

1. Bersihkan bokong dengan perlahan lahan dengan sabun lunak non alkalin dan air. 2. Hindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol. 3. Kolaborasi: Berikan salep seperti seng oksida dan obat anti jamur Kulit utuh Tidak ada lecet Integritas kulit kembali normal. iritasi tidak ada. tanda-tanda infeksi tidak ada

1. mencegah agar kulit tetap bersih dan kering.

2. Akan menyebabkan bau menyengat.

3. menghindari kulit dari iritasi dan mengobati infeksi jamur kulit.

Catatan Perkembangan Hari/ Tanggal Selasa/ 17-72012 Jam 09.00 No. Dx. 1. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit kurang kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. dari dan Implementasi 1. Melakukan pendekatan Jam 12.00 pada penderita dengan S: Ibu An.S mengatakan badan cara terapeutik. 2. mengukur Tanda (Nadi:160xi, S:38,3oC) komunikasi anaknya masih lemah letih O:- Ibu An.S mengatakan anak Tanda- Nya BAB sudah 4 kali dari Vital. pagi. P:28xi, -An.S terlihat Lemah dan Letih -Ubun-ubun cekung Evaluasi

3. Mencatat Intake( ASI -Turgor kulit jelek setiap An.S menangis, -Mukosa kering Air putih 250 cc) A:Masalah keseimbangan gangguan cairan dan dengan Output(BAB 4 kali) 4. Menganjurkan

elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan

penderita untuk minum tubuh sering). 5. Memonitoring tanda dehidrasi. Untuk yang

banyak (sedikit-sedikit output cairan yang berlebihan belum Teratasi tanda- P: Intervensi dilanjutkan: tidak merangsang dokter ukur Tanda-Tanda Vital. catat Intake Output anjurkan minum penderita banyak untuk (sedikit-

6. Menganjurkan pada Ibu memberikan makanan timbulnya diare. 7. Mengkolaborasikan dengan tim dalam pemberian obat dan infus ( RL dalam 2,5jam:220 tetes/menit. Selanjutnya 16 tetes. Oralit 1x1 sachet setiap kali muntah dan BAB

sedikit sering). monitoring dehidrasi. kolaborasikan dengan tim dokter dalam pemberian obat dan infus tanda-tanda

2. kebutuhan kurang kebutuhan

Gangguan 1. Melakukan pendekatan pada S: Ibu mengatakan An.S kurang nutrisi klien dan keluarga. tubuh 3.Memberi makanan nafsu makan dalam Menghabiskan seperempat piring makanan dari RS. O: BB : 9 kg dalam -Anak terlihat Lemah -Klien tampak menghabiskan makanan seperempat porsi A:Masalah gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan: kaji status nutrisi klien. beri makanan dalam porsi kecil tetapi sering. mengitung BB. kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian terapi. ukur tanda tanda vital. dari 2. mengkaji status nutrisi klien. -Ibu An.S mengatakan

berhubungan dengan porsi kecil tetapi sering. mual dan muntah 4. mengitung BB( 9 kg) medis (dokter)

5. mengkolaborasi dengan tim -BB sebelumnya : 10 kg pemberian terapi. 6. mengukur tanda tanda vital.(Nadi:160xi, P:28xi, S:38,3oC

3.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan yang berlebihan.

1. menganjurkan pada Ibu untuk mengganti popok/ celana dengan sering lap 2. Menganjurkan pada ibu membersihkan bokong dengan perlahan lahan.

S: Ibu mengatakan An.S rewel dan gelisah -Ibu mengatakan anus An.S merah O: An.S kelihatan rewel dan gelisah -Anus An.S kelihatan merah A: Masalah Kerusakan

iritasi,frekwensi BAB dengan lap kering.

3 Menganjurkan pada ibu untuk menhindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol.

integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan belum Teratasi P: Intervensi di Lanjutkan: - anjurkan pada Ibu untuk mengganti popok/ celana dengan sering lap dengan lap kering. - anjurkan pada ibu membersihkan bokong dengan perlahan lahan. anjurkan pada ibu untuk menghindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol.

Rabu/ 18-72012 Jam 09.00

1. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit dari tubuh berhubungan dengan cairan berlebihan.

1.

mengukur

Tanda-Tanda Jam 12.00 P:28xi, S: Ibu An.S mengatakan badan anaknya masih lemah letih

Vital

(Nadi:160xi,

dan S:38,3oC)

kurang 2.Mencatat Intake( ASI setiap O:- Ibu An.S mengatakan anak cc) Output(BAB 4 kali) 3. Menganjurkan pagi.

kebutuhan An.S menangis, Air putih 250 Nya BAB sudah 4 kali dari penderita -An.S terlihat Lemah dan Letih -Turgor kulit jelek -Mukosa kering 4.Memonitoring dehidrasi. Mengan Untuk makanan tidak yang tanda-tanda A: Masalah gangguan cairan dan dengan keseimbangan

output untuk minum banyak (sedikit- -Ubun-ubun cekung yang sedikit sering).

elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan memberikan output cairan yang berlebihan merangsang belum Teratasi

5. menganjurkan pada Ibu tubuh

timbulnya diare.

P: Intervensi dilanjutkan: ukur Tanda-Tanda Vital. catat Intake Output anjurkan minum penderita banyak untuk (sedikit-

6. Mengkolaborasikan dengan tim dokter dalam pemberian obat dan infus ( RL dalam 2,5 jam:220 tetes/menit. Selanjutnya 16 tetes. Oralit 1x1 sachet setiap kali muntah dan BAB -

sedikit sering). monitoring dehidrasi. kolaborasikan dengan tim dokter dalam pemberian obat dan infus tanda-tanda

2. kebutuhan kurang kebutuhan

Gangguan 1. Melakukan pendekatan pada S: Ibu mengatakan An.S kurang nutrisi klien dan keluarga. tubuh 3.Memberi makanan nafsu makan dalam Menghabiskan seperempat piring makanan dari RS. O: BB : 9 kg dalam -Anak terlihat Lemah -Klien tampak menghabiskan makanan seperempat porsi A:Masalah gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan: kaji status nutrisi klien. beri makanan dalam porsi kecil tetapi sering. mengitung BB. kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian terapi. dari 2. mengkaji status nutrisi klien. -Ibu An.S mengatakan

berhubungan dengan porsi kecil tetapi sering. mual dan muntah 4. mengitung BB( 9 kg) medis (dokter)

5.mengkolaborasi dengan tim -BB sebelumnya : 10 kg pemberian terapi.

3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan yang berlebihan. 1. menganjurkan pada Ibu untuk mengganti popok/ celana dengan sering lap 2. Menganjurkan pada ibu membersihkan bokong dengan perlahan lahan. 3 Menganjurkan pada ibu untuk menhindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol.

ukur tanda tanda vital.

S: Ibu mengatakan An.S rewel dan gelisah -Ibu mengatakan anus An.S merah O: An.S kelihatan rewel dan gelisah -Anus An.S kelihatan merah A: Masalah Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan belum Teratasi P: Intervensi di Lanjutkan: - anjurkan pada Ibu untuk mengganti popok/ celana dengan sering lap dengan lap kering. - anjurkan pada ibu membersihkan bokong dengan perlahan lahan. anjurkan pada ibu untuk menghindari penggunaan tisu basah yang dijual bebas yang mengandung alkohol.

iritasi,frekwensi BAB dengan lap kering.

BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPULAN Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk cairan atau setengah cairan (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml) per jam tinja Keputusan untuk melakukan asuhan keperawatan harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 5.2 SARAN Berdasarkan hasil pembuatan makalah ini penulis mengharapkan terutama kepada pembaca khususnya mahasiswa STIKES CERIA BUANA agar menambah wawasan tentang konsep bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Gasroenteritis dalam Sistem Pencernaan.