Anda di halaman 1dari 44

Sunnah dan Bid'ah

Sunnah dan Bid'ah


Oleh: Dr. Yusuf Qardhawi
(Sumber: Sunnah & Bid'ah, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema nsani Press.)

Pengantar admin :
" Syaikh Yusuf Qardhawi berbicara Bid^ah ? ". Mungkin sebagian pembaca yang
terbiasa menyimak tulisan Syaikh Yusuf Qardhawi telah mengenal beliau sebagai ulama
besar yang berilmu dan berwawasan luas serta cukup dikenal sebagai "ulama moderat
" .Oleh sebagian fihak dari satu "kubu" yang berlebihan memandang beliau sebagai
ulama yang "keras" contohnya Syaikh pernah dituduh sebagai penganut wahabi oleh
beberapa aliran tasawuf ekstrem dan di satu "kubu" sisi yang lainnya Syaikh Yusuf
Qardhawi di sebut ulama yang "lunak" dan sempat dituduh gampang memudah-
mudahkan atau tuduhan Muriah oleh beberapa kalangan contohnya oleh sebagian
kelompok islam "radikal" uga terdapat beberapa tuduhan lainnya missal dituduh sangat
membela non muslim (yahudi & nashara pengunting sunnah sesat bahkan dituduh ahlul
bid^ah.
Nah. Bagaimana dalam kontek udul tulisan diatas "Sunnah & Bid^ah" bisa adi
sebagian orang berfikir dan mengangap tentu Syaikh Yusuf Qardhawi akan menelaskan
kedual hal tersebut khususnya "bid^ah" dengan kecenderungan memudah-mudahkan
atau istilahnya bertoleransi terhadap hal ini baik dari definisi penelasan contoh ataupun
hal lainnya. Padahal ustru dalam tulisan yang dipaparkan dibawah ini merupakan sebuah
tulisan berupa bantahan yang dilatarbelakangi sebuah artikel yang cenderung menolak
mengingkari bid^ah terbukti ternyata dalam salah satu paparannya Syaikh Yusuf
Qardhawi malah tidak sependapat dengan istilah-istilah pembagian bid^ah oleh kalangan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
ulama tertentu yang kadang bisa menadi celah untuk mengelak dari mengingkari suatu
bid^ah yang sudah elas-elas kebid^ahannya secara syar^i. emudian dalam konteks
definisi bid^ah secara syariat (bukan sesuai etimologi beliau tetap berpegang dengan
perkataan Nabi yang mulia bahwa " Setiap bid^ah adalah sesat " dan tentunya salah
satu ruukan beliau kitab karya ulama salaf Imam asy Syathibi' al-I'tishaam yang cukup
banyak menelaskan hal ini. Syaikh Yusuf Qardhawi menelaskan pula mengapa bid^ah
harus diingkari dan dampak bahayanya bagi ummat islam. Selamat menyimak(AZ)
PENDAHULUAN
Segala uji bagi Allah, ami melantunan uja-uji, meminta ertolongan dan memohon
amunan eada-Nya. Kami berlindung eada Allah SWT dari ejahatan diri ami dan
eburuan amal erbuatan ami. Siaa yang diberian etunju oleh Allah SWT maa
tida ada yang daat menyesatannya, dan siaa yang disesatan oleh Allah SWT maa
tida ada yang daat memberinya etunju. Au bersasi bahwa tida ada Tuhan selain
Allah yang tida ada seutu bagi-Nya, dan au bersasi bahwa Muhammad adalah hamba
dan rasul-Nya. Shalawat dan salam atasnya, eluarganya, sahabatnya, dan merea yang
melanjutan dawahnya, memegang sunnahnya, dan memerjuangan agamanya,
hingga hari iamat.
Salam hormat yang aling bai, yang au ucaan eada alian adalah salam slam,
yaitu as-salamu'alaium wa rahmatullahi wa baraatuh. Pembahasan ita ada
esematan ini adalah seutar ermasalahan sunnah dan bid'ah. Hal ini beraitan dengan
sebuah artiel yang diterbitan oleh sebuah majalah yang diterbitan di negara ita ini.
[]
Artiel itu menyandang judul yang amat nyeleneh, yaitu "Istinkaarul-Bid'ah wa uraahatul-
adiid Mauqifun Islami am ahili?" Artinya, "Mengingari Bid'ah dan Membenci Hal yang
Baru, Aaah Sia slami atauah Sia Jahiliah?' Di situ, si enulis artiel ingin
menyamaian esan bahwa mengingari bid'ah adalah suatu sia jahiliah. Menurutnya,
ita tida boleh mengingari bid'ah dan harus membiaran manusia mencitaan aa un
yang diehendai oleh insirasi merea atau oleh setan merea, bai setan yang
berbentu manusia mauun jin.
Oleh arena itu, ami ingin mengembalian masalah ini eada oo yang sebenarnya
dan ita erlu meredefinisian (mendefinisan ulang) emahaman-emahaman ita
tentang masalah ini arena masalah ini sangat enting. Membiaran suatu emahaman
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
tana endefinisian yang jelas aan membuat suatu masalah menjadi seerti aret yang
daat ditari ulur dan embali ada eadaan semula, serta membuat setia orang daat
menafsirannya seehenda hatinya. ni tentunya amat berbahaya.
Karena itulah, ita harus mengetahui mana sunnah yang sebenarnya, juga mana bid'ah,
dan aa sia slam terhada bid'ah itu? Mengaa slam mengingari bid'ah? Dan,
aaah mengingari bid'ah berarti bid'ah hal yang baru, aa un bentu hal yang baru itu?
Dengan enjelasan seerti itu, diharaan ita daat mengetahui sia yang benar
tentang masalah ini dan haiat ebenaran daat dietahui dengan bai serta
etidajelasan daat disibaan. Sehingga, orang yang emudian binasa adalah arena
esengajaannya semata setelah melihat fata yang sebenarnya, dan orang yang hidu
bahagia adalah orang yang memilih jalan ebenaran setelah melihat ebenaran itu.
MAKNA SUNNAH SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS
[2]
Sunnah secara etimologis bermana 'erilau atau cara bererilau yang dilauan, bai
cara yang teruji mauun yang tercela. Ada sunnah yang bai dan ada sunnah yang
buru, seerti yang diungaan oleh hadits sahih yang diriwayatan oleh Muslim dan
lainnya: "Barangsiapa membiasakan (memulai atau menghidupkan suatu perbuatan baik
dalam Islam dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari
perbuatan orang yang mengikuti kebiasaan baik itu setelahnya dengan pahala yang sama
sekali tidak lebih kecil dari pahala orang-orang yang mengikuti melakukan perbuatan baik
itu. Sementara barangsiapa yang membiasakan suatu perbuatan buruk dalam Islam ia
akan mendapatkan dosa atas perbuatannya itu dan dosa dari perbuatan orang yang
melakukan keburukan yang sama setelah nya dengan dosa yang sama sekali tidak lebih
kecil dari dosa-dosa yang ditimpakan bagi orang-orang yang mengikuti perbuatannya
itu."
[3]
Kata "sunnah" yang diergunaan oleh hadits tadi adalah ata sunnah dengan engertian
etimologis. Masudnya, siaa yang membuat erilau tertentu dalam ebaian atau
ejahatan. Atau, siaa yang membuat ebiasaan yang bai dan yang membuat ebiasaan
yang buru. Orang yang membuat ebiasaan yang bai aan mendaatan ahala dari
erbuatannya itu dan dari erbuatan orang yang mengiuti erbuatannya, dan orang yang
membuat ebiasaan yang buru maa ia aan mendaatan dosa dari erbuatannya itu
dan dari erbuatan orang-orang yang mengiutinya hingga hari iamat. Adaun dalam
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
engertian syariat, ata sunnah memunyai engertian tersendiri atau malah lebih dari
satu engertian.
Banya ata yang memunyai mana etimologis yang emudian diberian mana-mana
baru oleh syariat. Seerti ata thaharah; secara etimologis, ia bermana 'ebersihan',
sedangan dalam engertian terminologis yang diberian oleh syariat, ia bermana
'menghilangkan hadats atau menghilangkan nais dan seenisnya'. Demiian juga halnya
dengan ata shalat; secara etimologis ia bermana 'doa', sedangan dalam engertian
terminologis yang diberian oleh syariat ia bermana 'ucapan-ucapan dan perbuatan-
perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam'.
Demiian juga halnya dengan ata sunnah, ia memunyai pengertian etimologis dan
pengertian terminologis syariat.
Pada haiatnya, dalam terminologi syariat, sunnah memunyai lebih dari satu mana.
Kata sunnah dalam engertian terminologis fuqaha adalah 'salah satu huum syariat' atau
antonim dari fardhu dan wajib. a bermana sesuatu yang dianjuran dan didorong untu
dierjaan. a adalah sesuatu yang dierintahan oleh syariat agar dierjaan, namun
dengan erintah yang tida uat dan tida asti. Sehingga, orang yang mengerjaannya
aan mendaatan ahala, dan orang yang tida mengerjaannya tida mendaatan
dosa ecuali jia orang itu menolanya dan sebagainya. Dalam engertian ini, daat
diataan bahwa shalat dua raaat sebelum shalat shubuh adalah sunnah, sementara
shalat shubuh itu sendiri adalah fardhu.
Menurut ara ahli ushul fiqih, sunnah adalah aa yang diriwayatan dari Nabi saw., berua
ucaan, erbuatan, atau ersetujuan. a dalam andangan ulama ushul ini, adalah salah
satu sumber dari berbagai sumber syariat. Oleh arena itu, ia bergandengan dengan Al-
Qur'an. Misalnya, ada redasi ulama yang mengataan tentang huum sesuatu: masalah
ini telah ditetaan huumnya oleh Al-Qur'an dan sunnah.
Sementara, ara ahli hadits menambah definisi lain tentang sunnah. Merea mengataan
bahwa sunnah adalah aa yang dinisbatan eada Nabi saw, berua ucaan, erbuatan,
ersetujuan, atau desrisi--bai fisi mauun ahla--atau juga sirah (biografi asul
saw.).
Ada juga mana sunnah yang lain yang menjadi erhatian ara ulama syariat, yaitu
sunnah dengan engertian antonim dari bid'ah. Atau, aa yang disunnahan dan
disyariatan oleh asulullah saw. bagi umatnya versus aa yang dibuat-buat oleh ara
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
embuat bid'ah setelah masa asulullah saw.. Pengertian sunnah seerti inilah yang
disinyalir oleh hadits riwayat rbadh bin Sariah, salah satu hadits dari seri emat uluh
hadits Nawawi yang terenal itu (Hadits Arba'in, ed.), "... orang yang hidup setelahku nanti
akan melihat banyak perbedaan pendapat (di kalangan umat Islam. Dalam keadaan
seperti itu hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah hulafaur Rasyidin
yang mendapatkan petunuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan anganlah
kalian mengikuti hal-hal bid'ah karena setiap perbuatan bid'ah adalah sesat."
[4]
Oleh arena itu, di alangan sahabat sering ditemuan adanya engoosisian antara
sunnah dan bid'ah. Merea berata bahwa setia ali suatu aum membuat bid'ah maa
ada saat itu ula merea menelantaran sunnah dalam uantitas yang sama. Ibnu
Mas'ud berkata "Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah lebih baik daripada
beritihad dalam bid'ah."
ni adalah engertian terahir ata sunnah, dan ini ula engertian sunnah yang menjadi
toi embicaraan ami dalam esematan ini. Sedangan, engertian-engertian sunnah
yang lain, tida menjadi toi embicaraan ami ini. Kami telah membicaraan sebagian
dari sunnah dengan engertian-engertian lainnya itu, misalnya ami telah membicaraan
sunnah sebagai salah satu sumber syariat, atau tentang sunnah sebagai ucaan,
erbuatan, ersetujuan, sifat, dan sirah asulullah saw.. Namun, dalam esematan ini,
ami hanya ingin mengaji tentang sunnah dengan engertian sebagai antonim bid'ah.
Atau, aa yang disunnahan oleh Nabi saw. bagi umatnya.
Petunju Nabi saw. adalah sebai etunju, seerti diataan oleh mar ibnul Khaththab
r.a., "Keduanya (Al-Qur'an dan sunnah) adalah alam dan etunju, sebai-bai alam
adalah alam Allah SWT dan sebai-bai etunju adalah etunju Muhammad saw.."
mar menguti redasi ini dari sabda asulullah saw. yang diucaan oleh beliau dalam
hotbahnya, "Amma ba'du. Sesungguhnya sebai-bai embicaraan adalah Kitab Allah,
dan sebai-bai etunju adalah etunju Muhammad. Seburu-buru erara adalah
erbuatan bid'ah, dan setia bid'ah adalah sesat."
[]
Nabi saw. telah memeringatan dengan eras erbuatan bid'ah serta memerintahan
umat slam ntu mengiuti Sunnah beliau dan menjaganya. Beliau bersabda, "Aku
tinggalkan kalian dalam keutamaan dan kemuliaan (aaran agama yang terang-
benderang malamnya seterang siangnya dan tiada orang yang menyimpang darinya
kecuali ia akan binasa."
[6]
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
MAKNA BID'AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI
[7]
Kemudian, aaah mana bid'ah? Dan, aa engertian bid'ah yang dinilai oleh Nabi saw.
sebagai esesatan dalam agama? Bid'ah, seerti yang didefinisian oleh mam asy
Syathibi', adalah "cara beragama yang dibuat-buat yang meniru syariat yang
dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada
Allah SWT".
[8]
ni meruaan definisi bid'ah yang aling teat, mendetail, dan mencau
serta meliuti seluruh ase bid'ah.
MEDAN OPERASIONAL BID'AH ADALAH AGAMA
Dari definisi tadi daat dietaan bahwa medan oerasional bid'ah adalah agama. a
adalah "tindaan mengada-ada dalam beragama". Dalil ernyataan ini adalah sabda
asulullah saw., "Siapa yang menciptakan hal baru dalam aaran agama kita yang bukan
bagian darinya maka perbuatannya itu tertolak."
[9]
Dalam riwayat yang lain, "Siapa yang menciptakan hal baru dalam urusan (aaran agama
kita yang bukan bagian darinya maka perbuatannya itu tertolak."
[10]
Artinya, diembalian
eada elaunya, sebagaimana halnya uang alsu yang tida diterima untu dijadian
sebagai alat jual-beli, dan ia diembalian eada emilinya. Hadits ini juga dinilai oleh
ara ulama sebagai salah satu oo agama slam. a adalah bagian dari seri emat uluh
hadits Nawawi yang terenal itu (Hadits Arba'in, ed.).
Para ulama berata bahwa ada dua hadits yang saling melengai satu sama lain;
pertama hadits yang amat enting arena ia adalah timbangan bagi erara yang batin,
yaitu hadits, "Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleh niat."
[]
edua, hadits yang juga amat enting arena ia adalah timbangan bagi erara yang
ahir, yaitu mana yang diandung oleh hadits ini, "Siapa yang menciptakan hal baru
dalam aaran agama kita yang bukan merupakan bagian darinya maka perbuatannya itu
tertolak."
Agar amal ibadah seseorang diterima oleh Allah SWT, harus dienuhi dua hal ini:
. Meniatan ibadah arena Allah
2. Amal harus sesuai syariat.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Oleh arena itu, saat mam al-udhail bin yadh, seorang faih yang aahid 'orang yang
uhud' (ara aahid generasi ertama adalah ara fuaha), ditanya tentang firman Allah
SWT, "... suaya Dia menguji amu, siaa di antara amu yang lebih bai amalnya.... "(al-
Mul:2); Amal ibadah aaah yang aling bai? a menjawab, "Yaitu amal ibadah yang
aling ihlas dan aling benar." a embali ditanya, "Wahai Abu Ali (al-udhail bin yadh),
aa yang dimasud dengan amal ibadah yang aling ihlas dan aling benar itu?" a
menjawab, "Suatu amal ibadah, mesiun dierjaan dengan ihlas, namun tida benar
maa amal itu tida diterima oleh Allah SWT. Kemudian, mesiun amal ibadah itu benar,
namun dierjaan dengan tida ihlas, juga tida diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah
baru diterima aabila dierjaan dengan ihlas dan dengan benar ula. Yang dimasud
dengan 'ihlas' adalah dierjaan semata untu Allah SWT, dan yang dimasud dengan
'benar' adalah dierjaan sesuai dengan tuntunan Sunnah."
Keharusan amal ibadah hanya ditujuan untu Allah SWT, yaitu sebagaimana
didesrisian oleh hadits, "Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan
oleb niat." Dan, eharusan amal ibadah sesuai dengan tuntunan Sunnah adalah seerti
didesrisian oleh hadits, "Siapa yang menciptakan hal baru dalam aaran agama kami
(Islam yang bukan merupakan bagian darinya maka perbuatannya itu tertolak."
Dengan demiian, erbuatan bid'ah hanya terjadi dalam bidang agama. Oleh arena itu,
salah besar orang yang menyanga bahwa erbuatan bid'ah juga daat terjadi dalam
erara-erara adat ebiasaan sehari-hari. Karena, hal-hal yang biasa ita jalani dalam
eseharian ita, tida termasu dalam medan oerasional bid'ah. Sehingga, tida mungin
diataan "masalah ini (salah satu masalah ehiduan sehari-hari) adalah bid'ah arena
aum salaf dari alangan sahabat dan tabi'in tida melauannya". Bisa jadi hal itu adalah
sesuatu yang baru, namun tida daat dinilai sebagai bid'ah dalam agama. Karena jia
tida demiian, niscaya ita aan memasuan banya seali hal-hal baru yang ita
ergunaan searang ini sebagai bid'ah: seerti miroon, aret, meja, dan bangu yang
alian dudui, semua itu tida dilauan oleh oleh generasi slam yang ertama, juga tida
dilauan oleh sahabat, aaah hal itu daat dinilai sebagai bid'ah?
Oleh arena itu, ada orang yang bersia salah dalam masalah ini sehingga jia melihat
ada mimbar yang ana tangganya lebih dari tiga tingat, niscaya dia aan berata, "ini
adalah bid'ah". Tida, bid'ah tida termasu dalam masalah seerti itu. asulullah saw.
ertama ali berhotbah di atas oo ohon urma, emudian etia manusia bertambah
banya, ada yang mengusulan, "Tidaah sebainya ami membuat temat berdiri yang
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
tinggi bagi baginda sehingga orang-orang yang hadir daat melihat baginda?" Setelah itu,
didatangan seorang tuang ayu, ada yang mengataan ia adalah tuang yang berasal
dari omawi. Selanjutnya, si tuang ayu membuat mimbar dengan tiga tingat.
Seandainya dibutuhan mimbar yang lebih dari tiga tingat, niscaya ia aan membuatnya.
Masalah ini tida termasu dalam lingu medan oerasional bid'ah.
Oleh arena itu, sangat enting seali ita mengetahui aa yang dimasud dengan
sunnah? Dan, aa yang dimasud dengan bid'ah? Juga ada esalahan sia dalam
memandang erbuatan-erbuatan asulullah saw.. Sebagian orang ada yang menyanga
bahwa seluruh aa yang dilauan oleh asulullah saw. adalah sunnah. Padahal, ara
ulama berata bahwa erbuatan-erbuatan Nabi saw. yang termasu sebagai sunnah
hanyalah erbuatan yang ditujuan oleh beliau sebagai erbuatan ibadah.
[2]
Di antara contohnya, Nabi saw.--ada beberaa esematan--melauan shalat sunnah
dua raaat sebelum shubuh. Setelah itu, beliau berbaring dengan memiringan tubuhnya
e saming anan.
[]
Dari sini, ada sebagian ulama--diantaranya bnu Ham--yang
menyimulan bahwa setelah melauan shalat sunnah dua raaat sebelum shubuh ita
harus berbaring miring di sisi anan tubuh ita. Padahal, Aisyah r.a. berata, "Nabi saw.
berbaring seerti itu buan untu mencontohan erbuatan sunnah, namun semata
arena beliau lelah setelah seanjang malam beribadah sehingga beliau erlu beristirahat
sejena."
[
14
]
Dengan demiian, erbuatan-erbuatan yang dilauan oleh asulullah saw. erlu
dierhatian, aaah yang beliau lauan itu dituukan sebagai perbuatan ibadah atau
bukan. Di sini banya terjadi esimangsiuran dan esalahahaman, misalnya seerti
yang terjadi dalam masalah tata cara maan. Sebagian orang berendaat bahwa maan
dengan sendo dan garu, atau di meja maan, adalah erbuatan bid'ah. ni adalah sia
yang berlebihan dan estrem. Karena, masalah ini adalah bagian dari ebiasaan sehari-
hari yang berbeda-beda bentunya antara satu daerah dan daerah lain, dan antara satu
aman dan aman lainnya. Nabi saw maan dengan ebiasaan yang dilauan oleh
lingungan beliau, terutama yang sesuai dengan sifat asulullah saw., yani sifat
memberian emudahan, tawadhu', dan uhud. Namun demiian, maan dengan
menggunaan meja maan atau menggunaan sendo dan garu, buanlah sesuatu yang
bid'ah. ain halnya dengan sebagian sisi dari tata cara maan itu.
Saya ernah didebat oleh seorang enulis besar-yaitu seorang tooh yang sering menulis
artiel di majalah-majalah dan adang-adang menulis tentang toi eislaman--tentang
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
tuntunan maan dengan tangan anan. a berata bahwa hal itu buan sunnah arena ia
hanyalah suatu bentu adat ebiasaan belaa. Saya menjawab bahwa buan begitu
ermasalahannya. Dalam masalah seerti ini, ita harus memerhatiannya dengan
cermat. Benar, masalah maan dengan sendo dan garu, atau maan di lantai atau di
meja maan, adalah masalah yang bersifat ratial, dan setia orang melauan hal itu
sesuai dengan ebiasaan yang berlau di tengah aumnya; selama tida ada indiasi
yang menunjuan bahwa suatu cara tertentu dilauan sebagai bentu beribadah, atau
ada tuntunan sunnah di situ. Sedangan, masalah maan dengan tangan anan, tama
dengan jelas adanya etunju Nabi saw. untu melauan hal itu. Karena, secara eslisit
asulullah saw. memerintahan hal itu, yaitu saat beliau bersabda eada seorang ana,
"Bacalah nama Allah Nak kemudian makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah
makanan (hidangan yang dekat dengan kamu."
[
15
]
ebih jauh lagi, asulullah saw. melarang melauan tindaan sebalinya, seerti alam
sabda beliau, "Hendaklah kalian tidak makan dan minum dengan tangan kiri kalian karena
setan makan dan minum dengan tangan kirinya."
[
16
]
Oleh arena itu, ada ulama yang mengataan bahwa hal itu menunjuan eharaman
(maan dan minum dengan tangan iri) arena beliau menyeruaan orang yang
melauan tindaan seerti itu dengan setan. Dan, beliau tida ernah menyeruaan
sesuatu erbuatan sebagai erbuatan setan dalam masalah yang maruh.
Saat asulullah saw. melihat seseorang maan dengan tangan irinya, beliau bersabda
eadanya, "Makanlah dengan tangan kananmu." Orang itu menawab "Aku tidak bisa."
Rasulullah saw. kembali bersabda "Engkau pasti bisa."
[
17
]
Kemudian asulullah saw.
menyumahi orang itu sehingga ia tida lagi daat mengangat tangan anannya setelah
itu. ni menunjuan bahwa masalah ini (maan dengan tangan anan) amat diteanan.
Oleh arena itu, dalam masalah seerti ini ita harus memerhatiannya dengan cermat
agar mengetahui batasan dan aturan-aturannya yang terdaat dalam tuntunan asulullah
saw.. ntu emudian ita usahaan untu mengetahui mana tindaan yang ditujuan
sebagai erbuatan sunnah dan sebagai bentu beribadah eada Allah SWT, dan mana
tindaan yang bersifat seadar ebiasaan dan alami.
Kadang-adang Nabi saw. melauan sesuatu seerti cara aum beliau melauan hal itu,
beliau maan dengan cara seerti merea maan, beliau minum dengan cara seerti
merea minum, dan beliau beraaian dengan cara seerti merea beraaian. Dan,
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
teradang beliau melauan sesuatu sesuai dengan ecenderungan selera beliau.
Misalnya, beliau senang maan labu. Aaah ita semua harus senang maan labu?
Masalah-masalah seerti ini ditentuan oleh selera masing-masing orang; ada orang yang
senang so ai, ada yang senang sayur bayam, dan seterusnya.
asulullah saw. juga menyenangi daging ai dean; aaah ita semua juga harus
menyenangi daging ai dean? Ada orang yang senang dengan daging unggung, ada
yang senang dengan daging aha, dan seterusnya. Jia selera Anda ebetulan sama
dengan selera Nabi saw, hal itu adalah bai dan berah. Dan, jia ada seseorang yang
berusaha sedaat mungin mencontoh seluruh erilau asulullah saw hingga ada
masalah-masalah yang tida beraitan dengan tuntunan agama arena semata dorongan
ecintaannya yang demiian besar terhada asulullah saw., dan esungguhannya untu
mencontoh segala hal yang ernah dilauan oleh asulullah saw., ini juga suatu tindaan
yang teruji, mesiun hal itu tida dianjuran oleh agama.
Jia ada seseorang yang berata, "Au ingin mencontoh segala erilau asulullah saw.,
mesiun aa yang dilauan oleh beliau tida termasu dalam tuntunan ibadah. Au
aan maan dengan bersila di lantai dan dengan menggunaan tanganu (tana
menggunaan sendo dan garu), seerti yang dilauan oleh asulullah saw.." Keada
orang seerti itu ami ataan, semoga Allah SWT memberian balasan ebaian
eadamu. Kami tida aan mengingari tindaannya itu, dan barangali orang itu aan
mendaatan ahala sesuai dengan niatnya.
Adalah bnu mar r.a. arena esungguhannya yang besar untu mengiuti segala
erbuatan yang ernah dilauan oleh asulullah saw. dan esemurnaan cintanya
eada beliau, ia mengiuti segala aa un yang ernah dilauan oleh asulullah saw.,
mesiun hal itu tida termasu erbuatan ibadah atau buan erbuatan yang
dierintahan untu dierjaan.
[8]
Demiian juga sebagian sahabat yang lain.
Misalnya, ada seorang sahabat yang melihatnya sedang shalat dengan ancing yang
terbua; saat ia ditanya mengaa ia melauan hal itu, ia menjawab bahwa ia melihat
asulullah saw. melauan erbuatan seerti itu.
[
19
]
Padahal, barangali Nabi saw.
melauan hal itu semata arena ada saat itu beliau sedang egerahan atau dalam
eadaan musim anas. antas, aaah Anda aan melauan tindaan yang sama ula
ada saat musim dingin tu hanyalah endaat bnu mar saja. Suatu saat bnu mar
sedang berada dalam erjalanan bersama rombongan, tiba-tiba ia meminggiran
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
endaraannya dari jalan sehingga rombongan yang menyertainya merasa heran. antas,
embantunya menjelasan bahwa ia melauan hal itu arena dahulu ia ernah berjalan
bersama Nabi saw. di temat itu, emudian saat tiba di temat itu asulullah saw.
bergera minggir e inggir jalan.
[2]
Dalam salah satu erjalanan ibadah haji, ia juga ernah mengistirahatan endaraannya
di suatu temat dan rombongan yang menyertainya juga iut beristirahat bersamanya.
Para anggota rombongan itu bertanya-tanya, aa yang ia ingin erjaan di temat itu?
Ternyata, ia ergi e suatu temat dan melasanaan hajatnya (membuang air ecil atau
besar) di temat itu. Dan, saat ia ditanya mengaa ia melauan hal itu, ia menjawab
bahwa hal itu dilauannya arena ada saat Nabi saw. melasanaan ibadah haji dan
samai e temat ini, beliau melasanaan hajat beliau di temat itu.
[
21
]
Aaah tindaan seerti ini dierintahan untu dierjaan oleh insan muslim? Tentu saja
tida, namun, erbuatan tadi adalah suatu bentu manifestasi esemurnaan cinta eada
Nabi saw.. a juga senang meletaan untanya di temat asulullah saw. meletaan unta
beliau.
Perbuatan semacam ini tida ami cela ecuali jia orang itu mengharusan manusia
untu melauan tindaan seerti itu juga. Karena, erbuatan seerti itu tida
dierintahan oleh agama. Oleh arena itu, ia harus mengetahui bahwa aa yang ia
lauan itu tida harus dilauan oleh manusia dan tida wajib bagi merea, juga buan
erbuatan yang sunnah.
Orang yang melauan hal itu telah melauan tindaan yang bai, namun ia menjadi
salah jia ia menginginan--atau malah memasaan--orang lain untu melauan
tindaan yang sama seerti yang ia lauan, atau mengingari dan mencela orang yang
tida melauannya. Atau juga jia ia meyaini bahwa hal itu adalah bagian dari oo
agama, atau bagian darinya, atau mengangga orang yang meninggalan erbuatan itu
berarti telah meninggalan sunnah. Oleh arena itu, dalam esematan ini enting bagi
ita memisahan antara sunnah yang sebenarnya dan bid'ah.
KREASI DAN PENEMUAN BARU SEHARUSNYA HANYA DALAM URUSAN DUNIAWI
Bid'ah, seerti ami ataan sebelumnya, adalah "tindaan mengada-ada dalam
beragama". Karena, slam menghendai ara emelunya untu menjalanan agama
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
sesuai batas etentuan yang telah diberian dan tida mengada-ada. ntu emudian,
mencurahan energi reatif merea untu membuat reasi baru dalam bidang-bidang
eduniawian. nilah yang dilauan oleh generasi salafus saleh.
Kalangan salaf menjalanan agama ada batas ajaran yang jelas telah ada, dalam riwayat
yang asti dari asulullah saw. dan ada sunnah-sunnah. ntu emudian, merea
mencurahan segena otensi dan energi merea untu berreasi dan beerja untu
memerbaii ehiduan duniawi.
Dalam biografi mar bnul-Khaththab r.a., Anda aan menemuan banya hal yang
dienal dengan awwaliyyaat mar 'ioniritas mar'. Yaitu, ia adalah orang yang ertama
ali mengadaan sistem administrasi di negara slam, yang ertama ali membangun
ota-ota teradu, emimin yang ertama ali mengadaan investigasi langsung eada
rayat, dan lain-lain.
Ada itab yang berjudul al-Awaail 'Hal-Hal yang Pertama' atau aa-aa yang ertama ali
dibudayaan oleh alangan salaf. Para sahabat telah mencitaan banya reasi untu
mencitaan emaslahatan bagi aum muslimin.
Dan, mana 'mengada-ada' adalah hal itu tida memunyai sumber dalam syariat. Asal
ata bid'ah adalah diambil dari ata bad'a dan ibtada'a, yang bermana 'mencitaan
sesuatu yang belum ernah ada sebelumnya'. Oleh arena itu, Al-Qur'an mendesrisian
Allah SWT sebagai, "Allah Pencita langit dan bumi." Artinya, Allah SWT mencitaan
langit dan bumi dari nol, tana adanya contoh sebelumnya.
[22]
Membuat bid'ah adalah menciptakan aaran agama yang tidak ada aturannya dari
Rasulullah saw. uga dari hulafa ar-Rasyidin yang diperintahkan kepada kita agar
mengikuti sunnah mereka.
SESUATU YANG MEMILIKI LANDASAN DALAM SYARIAT TIDAK DINILAI SEBAGAI
BID'AH
Sesuatu yang baru itu, jia ia memunyai asal dan sumber dalam syariat, maa ia tida
daat diataan sebagai bid'ah. Banya hal yang dibuat oleh aum Muslimin yang
memunyai asal dan landasan dalam syariat. Misalnya, enulisan dan engomilasian
(enggabungan) Al-Qur'an dalam satu mushaf, seerti yang dilauan oleh Abu Baar
berdasaran usul mar r.a..
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Sebelumnya Abu Baar merasa berat untu melasanaan rencana itu. a berata,
"Bagaimana mungin au melauan sesuatu yang tida ernah dilauan oleh asulullah
saw.?" Namun, mar terus membujunya dan memberian argumentasi betaa
entingnya hal itu hingga ahirnya Abu Baar menerima usul itu dan melasanaannya.
[
23
]
Karena, hal itu demi ebaian dan eentingan aum muslimin, mesiun hal itu tida
dilauan oleh Nabi saw.. Agama slam daat diertahanan dengan menjaga dan
memelihara Al-Qur an itu, dan Al-Qur an adalah oo agama, sumber, dan oo yang
abadi. Oleh arena itu, ita harus menjaga Al-Qur'an dari emunginan tercecer atau
mengalami esimangsiuran.
Nabi saw telah mengiinan encatatan wahyu saat wahyu diturunan. Dan, beliau
memilii seretaris yang bertugas mencatat wahyu-wahyu yang diturunan (Zaid bin
Tsabit). Semua itu dilauan dalam uaya menjaga dan memelihara Al-Qur'an.
Selama masa hidu Nabi saw., beliau tida mengomilasian Al-Qur'an dalam satu
esatuan. Karena, ada saat itu, ayat-ayat Al-Qur'an terus turun secara beriringan, dan
Allah SWT teradang mengubah sebagian ayat yang telah diturunan eada asulullah
saw. itu. Sehingga, jia ayat-ayat yang diturunan itu langsung diomilasian e dalam
satu esatuan, niscaya aan ditemuan esulitan jia terjadi erubahan dari Allah SWT.
Teradang, saat suatu ayat diturunan, asulullah saw. memerintahan eada ara
encatat wahyu, letaanlah ayat ini dalam surah itu (surah tertentu), dan masing-masing
surah dalam Al-Qur'an belum dietahui sudah lenga atau belum ayat-ayatnya, hingga
seluruh ayat Al-Qur'an selesai diturunan.
Surah al-Baarah misalnya, ia turunan ada ermulaan era Madinah. Namun, ayat-ayat
dalam surah itu baru terlengai setelah lewat delaan tahun. Dan, di dalamnya terdaat
ayat-ayat yang oleh ulama dielomoan sebagai ayat-ayat yang terahir diturunan.
Seerti endaat yang diriwayatan dari bnu Abbas r.a. bahwa ayat Al-Qur'an yang
terahir diturunan adalah firman Allah SWT: "Dan, eliharalah dirimu dari (aab yang
terjadi ada) hari yang ada watu itu amu semua diembalian eada Allah. Kemudian,
masing-masing diri diberi balasan yang semurna terhada aa yang telah dierjaannya,
sedang merea sediitun tida dianiaya (dirugian)." (al-Baarah: 28)
Oleh arena itu, selama masa itu, Nabi saw. melarang uaya engomilasian Al-Qur an.
Namun, saat elengaan Al-Qur'an telah dietahui, setelah wafatnya asulullah saw.,
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
maa ara sahabat merasa aman dari emunginan adanya enambahan dan
engurangan Al-Qur an. Oleh arena itu, merea segera mencatat ayat-ayat Al-Qur'an
yang berseraan dalam berbagai media dan mengomilasiannya dalam satu mushaf.
Dengan demiian, hal ini memunyai dasar dan sandaran dalam syariat sehingga
erbuatan itu tida daat diangga sebagai bid'ah.
ontoh yang lain adalah tindaan mar r.a. yang menyatuan orang-orang yang
melasanaan shalat tarawih dalam satu jamaah shalat di bawah satu imam shalat, yaitu
bay bin Ka'ab. Sebelumnya, merea melasanaan shalat tarawih secara terisah-isah
dengan imam shalat masing-masing. Buhari meriwayatan dari Abdurrahman bin Abdul
Qaari bahwa ia berata, "Au berjalan bersama mar bnul-Khaththab ada malam bulan
amadhan menuju masjid. Pada saat itu, ami menemuan masyaraat melauan shalat
(tarawih) secara terisah-isah. Ada yang shalat sendirian dan ada ula yang shalat
dengan diiuti oleh beberaa orang mamum. Melihat itu mar berata, "Au
berendaat, seandainya semua orang disatuan dalam jamaah shalat (tarawih) di bawah
iminan satu orang imam niscaya aan lebih bai." Dan, rencananya mar aan
mengangat bay bin Ka'ab sebagai imam shalat merea. Kemudian, ada malam
lainnya, au embali berjalan bersama mar (menuju masjid). Saat itu, ami telah
mendaati orang-orang sedang melasanaan shalat (tarawih) di bawah iminan satu
imam shalat merea. Melihat itu mar beromentar, "Bid'ah
[24]
yang aling bai adalah ini.
Dan, orang yang saat ini tidur adalah lebih bai dari merea yang melasanaan
iyamullail ada saat ini arena merea (yang masih tidur) aan melasanaannya ada
ahir malam, sedangan orang lainnya melasanaannya ada awal malam."
[
25
]
ata "bid'ah" yang diucapkan oleh Umar tadi yakni kalimat "bid'ah yang paling baik
adalah ini" adalah kata bid'ah dengan pengertian lughawi 'etimologis' bukan dengan
pengertian terminologis syariat. Karena, ata bid'ah dalam engertian etimologis adalah
"sesuatu yang baru dicitaan atau baru dierbuat" yang belum ernah ada sebelumnya.
Yang dimasud oleh mar dengan ucaannya itu adalah, manusia sebelumnya belum
emah melasanaan shalat tarawih dalam esatuan jamaah shalat seerti itu. Mesiun
ada dasarnya, shalat tarawih secara jamaah itu sendiri ernah terjadi ada masa Nabi
saw.. Karena, beliau mendorong aum muslimin untu melasanaan shalat itu. Dan,
banya orang yang mengiuti shalat tarawih beliau selama beberaa malam. Namun, saat
beliau mendaati banya orang yang berumul untu melasanaan shalat tarawih
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
bersama beliau, beliau tida menemui merea lagi untu shalat bersama. Kemudian, ada
agi harinya, beliau bersabda, "Au melihat aa yang alian lauan itu, dan yang
menghalangi diriu untu eluar dan shalat (tarawih) bersama alian adalah arena au
taut jia shalat itu samai diwajiban atas alian."
[
26
]
Kehawatiran ini, yani ehawatiran asulullah saw. jia Allah SWT mewajiban shalat
tarawih itu, menjadi hilang dengan wafatnya Nabi saw.. Dengan begitu, hilang ula fator
yang menghalangi dilasanaannya shalat tarawih dalam satu esatuan jamaah shalat.
[
27
]
Yang terenting, mana "mukhtara'ah (sesuatu yang baru diciptakan atau baru diperbuat"
itu adalah sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat.
Dari sini, ulama salaf emudian mengomilasian ilmu-ilmu syariat, emudian
mencitaan ilmu-ilmu baru untu menduung syariat itu. Seerti, ilmu ushul fiih, ilmu
musthalah hadits, ilmu-ilmu bahasa Arab, dan sebagainya.
MENIRU JALAN SYARIAT
Kembali eada definisi bid'ah yang diberian oleh asy-Syathibi. Kalimat "meniru syariat",
artinya hal itu meniru jalan syariat, adahal ada enyataannya tida seerti itu. Ada
banya hal yang dicitaan oleh manusia yang tida memunyai sandaran dan dasar
dalam syariat, hanya saja ia memunyai sisi emirian eada suatu ajaran syariat itu.
Karena, hal itu suatu bentu beribadah dan ada satu segi ia meniru jalan syariat. Sisi
inilah yang diangga bai oleh ara embuat bid'ah dan ara engiut merea. Karena,
jia hal itu tida memilii suatu emirian dengan manusia, niscaya orang banya aan
menolanya. Merea mengangga hal itu bai arena ada segi emiriannya dengan jalan
syariat.
BID'AH YANG DIMAKSUDKAN ADALAH BERSIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM
BERIBADAH
Dalam definisi asy-Syathibi juga terdaat redasi, "yang dimasudan dengan melauan
hal itu (bid'ah) adalah sebagai cara berlebillan dalam beribadah eada Allah SWT".
Masudnya, orang yang membuat suatu rate bid'ah, biasanya melauan hal itu
dengan tujuan untu berlebih-lebihan dalam bertaarrub eada Allah SWT. Karena,
merea merasa tida cuu dengan rate ibadah yang telah diajaran oleh syariat
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
sehingga merea berusaha untu menambah suatu rate baru. Dengan tindaan itu,
seaan-aan merea ingin mengoresi syariat dan menutui eurangannya sehingga
ahirnya merea mencitaan suatu rate ibadah baru, hasil reayasa iiran merea.
Aaah niat yang bai itu daat menjustifiasian tindaan merea? Tentu saja tida. Niat
seerti itu tida daat memberian justifiasi suatu erbuatan bid'ah. Kami telah ataan
sebelumnya bahwa dalam masalah beribadah, ita harus melengai dua hal: niat (hanya
semata untu Allah SWT) dan mutaba'ah yaitu 'beribadah dengan mengiuti cara yang
diajaran oleh Al-Qur'an dan asulullah saw.'. uran dan arateristi ibadah yang benar
amat jelas, yaitu harus mengiuti tuntunan asulullah saw., "Siaa yang mengerjaan
suatu amal ibadah yang tida diatur oleh sunnah ami maa amalnya itu tertola." ni
adalah bid'ah dalam agama. Bid'ah dengan engertian seerti ini adalah dhalaalah 'sesat',
seerti disinyalir oleh hadits riwayat rbaadh bin Saariah, "Karena setia bid'ah adalah
sesat."
PEMBAGIAN MACAM BID'AH MENURUT ULAMA DAN PENDAPAT YANG PALING
TEPAT
Ada ulama yang membagi bid'ah menjadi dua macam yaitu bid'ah hasanah (bid'ah yang
baik dan bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang buruk'.
[
28
]
Ada juga ulama yang membagi bid'ah
menjadi lima macam, seerti halnya lima macam huum syariat, yaitu bid'ah wajibah
(bid'ah yang wajib dilauan), bid'ah mustahabbah (bid'ah yang dianjuran untu
dilauan), bid'ah maruhah (bid'ah yang maruh dilauan), bid'ah muharramah (bid'ah
yang haram dilauan), dan bid'ah mubaahah (bid'ah yang boleh dilauan).
[
29
]
ngaan yang aling teat dalam masalah ini adalah bahwa endaat tadi ada
ahirnya bertemu ada muara yang sama dan samai ada esimulan yang sama ula.
Karena, merea -- misalnya -- memasuan masalah encatatan Al-Qur'an dan
engomilasiannya dalam satu mushaf, juga masalah engodifiasian ilmu nahwu, ilmu
ushul fiih, dan engodifiasian ilmu-ilmu eislaman yang lain, dalam ategori bid'ah
yang wajib dan sebagai bagian dari fardhu ifayah (ewajiban oletif).
lama yang lain menggugat enamaan erbuatan tadi sebagai bagian dari bid'ah.
Menurut merea, englasifiasian bid'ah semacam itu adalah englasifiasian bid'ah
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
berdasaran engertian lughawi 'etimologis', sedangan engertian ata bid'ah yang ami
gunaan adalah engertian secara terminologis syar'i. Sedangan, hal-hal tadi (seerti
encatatan Al-Qur'an dan engomilasiannya) tida ami masuan dalam ategori
bid'ah. Adalah suatu inisiatif yang tida teta memasuan hal-hal semacam tadi dalam
elomo bid'ah.
Yang terbai adalah ita beredoman ada engertian bid'ah yang diergunaan oleh
hadits syarif. Karena, dalam hadits syarif diungaan redasi yang demiian jelas ini,
"Karena setia bid'ah adalah sesat," dengan engertian yang general (umum). Jia dalam
hadits itu diungaan, "Karena setia bid'ah adalah sesat," maa tida teat iranya jia
ita emudian berata bahwa di antara bid'ah ada yang bai dan ada yang buru, atau
ada bid'ah wajib dan ada bid'ah yang dianjuran, dan sebagainya. Kita tida atut
melauan embagian bid'ah seerti ini. Yang teat adalah jia ita mengataan seerti
yang diungaan oleh hadits, "Karena setia bid'ah adalah sesat." Dan, ata bid'ah yang
ami ergunaan itu adalah ata bid'ah dengan definisi yang diucaan oleh mam asy-
Syathibi, "Bid'ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat," yang tida memunyai
dasar dan landasan, bai dari Al-Qur'an, sunnah Nabi saw., ijma', iyas, mauun maslahat
mursalah, dan tida juga dari salah satu dalil yang diaai oleh ara fuaha.
MENGAPA ISLAM BERSIKAP KERAS DALAM MASALAH BID'AH?
Mengaa slam bersia eras dalam masalah bid'ah, menilainya sebagai esesatan, dan
elaunya diancam aan dimasuan e neraa, serta Nabi saw. memberian eringatan
yang amat eras dalam masalah ini? Beriut ini adalah alasan-alasannya.
1. PEMBUAT DAN PELAKU BID'AH MENGANGKAT DIRINYA SEBAGAI PEMBUAT
SYARIAT BARU DAN SEKUTU BAGI ALLAH SWT
slam memberian eringatan eras terhada masalah bid'ah ini arena (seerti
telah ami singgung sebelumnya) dalam asus seerti ini, si embuat bid'ah
bertinda seaan-aan ingin mengoresi abbnya dan dia memberian esan
eada ita atau eada dirinya bahwa dia mengetahui aa yang tida dietahui
oleh Allah SWT. Seaan-aan dia berata, "Tuhanu, aa yang ngau telah
syariatan eada ami itu tida cuu. Oleh arena itu, ami menambah rate
ibadah baru atas aa yang telah ngau syariatan itu." Dengan demiian, ia telah
menetaan dirinya sebagai embuat syariat dan memberian eada dirinya ha
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
untu mencitaan syariat baru. Padahal, ha membuat syariat adalah mii Allah
SWT semata. Oleh arena itu, Allah berfirman, "Aaah merea memunyai
sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatan untu merea agama yang
tida diiinan Allah?.... "(asy-Syuura: 2)
Tindaan membuat syariat baru yang tida diinan oleh Allah SWT adalah
tindaan yang amat berbahaya. Karena, dalam asus seerti itu, si elaunya
berarti telah mengangat dirinya sebagai seutu bagi Allah SWT dan memberian
ha eada dirinya untu mencitaan syariat baru dan berreasi dalam agama,
serta membuat tambahan dalam agama Allah SWT. Hal ini daat menimbulan
bahaya yang amat besar dan daat menjerumusan seseorang menjadi musyri
eada Allah SWT. Tindaan seerti inilah yang telah merusa agama-agama langit
sebelum slam.
Aa yang telah terjadi ada agama-agama langit sebelum slam itu? Yaitu, terjadi
bid'ah secara besar-besaran dan ara emelu agama-agama itu memberian
eada diri merea ha untu menambahan hal-hal baru dalam agama merea,
yang secara husus diegang oleh ara endeta dan orang-orang alim merea
sehingga agama yang merea anut bentunya berubah sama seali dari agama
aslinya. nilah yang diecam oleh slam dan diabadian oleh Al-Qur'an dalam firman
Allah SWT, "Merea menjadian orang-orang alimnya dan rahib-rahib merea
sehagai tuhan selain Allah, dan (juga merea memertuhanan) Almasih utra
Maryam; adahal merea hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha sa; tida
ada tuhan (yang berha disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari aa yang
merea erseutuan." (at-Taubah: )
Al-Qur'an memandang merea sebagai orang-orang musyri. Saat Adi bin Hatim
ath-Thaai (yang sebelumnya memelu Kristen ada masa jahiliah) bertemu
asulullah saw., ia membaca ayat, "Merea menjadian orang-orang alimnya dan
rahib-rahib merea sebagai tuhan selain Allah." Dan, iaun (Adi bin Hatim ath-
Thaai) berata, "(Pada enyataannya) merea tida menyembah ara endeta dan
rahib itu." asulullah saw. menjawab, "Benar begitu (namun mereka (para
pendeta dan rahib itu telah mengharamkan sesuatu yang halal bagi umatnya dan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
menghalalkan apa yang haram bagi mereka dan mereka (umatnya pun mengikuti
ketetapan para pendeta dan rahib itu dengan patuh. Itulah bentuk ibadah
penyembahan mereka kepada para pendeta dan rahib itu."
[
30
]
Adi bin Hatim memahami ibadah dan enyembahan hanya berbentu ritus-ritus
saja: shalat, ruu, sujud, dan semacamnya. Kemudian, Nabi saw. memberian
enjelasan eadanya bahwa bentu enyembahan merea itu tida semata-mata
seerti itu; ibadah dan enyembahan memunyai mana yang lebih luas. Taat dan
tundu secara mutla terhada aa yang merea (ara endeta dan ara rahib)
lauan, aa yang merea halalan, aa yang merea haraman, aa yang merea
buat-buat, dalam erara-erara duniawi adalah bentu enyembahan eada
merea. Karena, status rubbubiyah 'etuhanan'-lah yang memilii ha untu
menetaan syariat, menghalalan, dan mengharaman. Dan, status itu ula yang
memberian-Nya ha untu menetaan bentu rate ibadah manusia eada-
Nya, sesuai yang Dia ehendai. Tida ada seorang un yang memunyai ha
untu beribadah eada Allah SWT dengan cara yang dia ehendai sendiri.
Dengan demiian, orang yang membuat bid'ah meletaan dirinya seaan-aan
iha yang berwenang menetaan huum dan menjadi seutu bagi Allah SWT dan
dia mengoresi aa yang telah ditetaan oleh Allah SWT.
2. PEMBUAT BID'AH MEMANDANG AGAMA TIDAK LENGKAP DAN BERTUJUAN
MELENGKAPINYA
Dari segi lain, orang yang mengerjaan bid'ah seaan-aan mengangga agama
tida lenga, emudian ia ingin menyemurnaan eurangan dan
etidasemurnaannya. Padahal, Allah SWT telah menyemurnaan agama secara
lenga, sebagai bentu esemurnaan nimat yang diberian-Nya eada ita.
Dia berfirman, ",...Pada hari ini telah Kusemurnaan untu amu agamamu dan
telah Kucuuan eadamu nimatKu, dan telah Kuridhai slam itu jadi agama
bagimu...," (al-Maa'idah: )
Oleh arena itu, bnu Majisyun meriwayatan dari mam Mali (mam Darul Hijrah)
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
bahwa dia berata, "Siapa yang telah membuat praktek bid'ah dalam agama Islam
dan ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik berarti ia telah menuduh Nabi
Muhammad saw. telah mengkhianati risalah. arena Allah SWT berfirman 'Pada
hari ini telah usempurnakan untuk kamu agamamu.' ika saat itu agama Islam
belum lengkap niscaya saat ini tidak ada agama Islam itu."
[
31
]
Membuat bid'ah dalam agama slam secara tida langsung berarti telah menuduh
Nabi saw. berhianat dan tida menyamaian risalah agama secara lenga. Allah
SWT berfirman, "Hai asul, samaianlah aa yang diturunan eadamu dari
Tuhanmu. Dan, jia tida amu erjaan (aa yang dierintahan itu, berarti) amu
tida menyamaian amanat-Nya (al-Maa'idah: )
Agama slam telah semurna dan tida membutuhan tambahan lagi. Karena,
sesuatu yang sudah semurna tida menerima adanya enambahan sama seali.
Hanya sesuatu yang tida semurnalah yang daat menerima enambahan dan
enyemurnaan baginya.
Oleh arena itu, ara sahabat dan ara imam setelah merea, amat memerangi
rate bid'ah arena hal itu berarti menuduh agama slam tida lenga, dan
menuduh asulullah saw. telah berbuat hianat.
3. PRAKTEK BID'AH MEMPERSULIT AGAMA DAN MENGHILANGKAN SIFAT
KEMUDAHANNYA
Agama yang disyariatan oleh Allah SWT ada dasarnya bersifat mudah dan Allah
SWT juga mengutus nabi-Nya dengan hanifiah samhah 'agama yang orisinal dan
mudah dijalanan', hanif 'orisinal' dalam aidah, dan samhah 'mudah dijalanan
dalam emberian beban huum dan rate ibadah'. irman Allah: "...Allah
menghendai emudahan bagimu dan tida menghendai esuaran bagimu...."
(al-Baarah:8). Juga dalam ayat lainnya, ",...dan Dia seali-ali tida menjadian
untu amu dalam agama suatu esemitan,..." (al-Hajj: 8). Juga dalam hadits
Nabi SAW, "alian diutus sebagai orang-orang yang memberikan kemudahan
bukan sebagai orang-orang yang membuat kesulitan. "
[
32
]
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Agama slam datang dengan sifat mudah dilasanaan, emudian orang-orang
yang membuat rate bid'ah mengubah sifat mudah slam itu menjadi susah dan
berat. Merea membebani manusia dan menyulitan merea dengan berbagai
macam rate baru, serta menambahan hal-hal baru dalam rate eagamaan
yang membuat manusia menjadi terbelenggu oleh beban berat. Padahal, Nabi saw.
datang untu membebasan manusia dari belenggu dan beban yang berat itu yang
dialami oleh umat sebelumnya. Seerti diterangan tentang sifat Nabi saw. dalam
itab-itab suci sebelumnya, Taurat dan njil, "...dan menghalalan bagi merea
segala yang bai dan mengharaman bagi merea segala yang buru, dan
membuang dari merea beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada ada
merea". (al-A'raaf:)
Dan, dalam doa-doa Al-Qur'an yang terdaat dalam enghujung surah al-Baarah
tertulis, "...Ya Tuhan ami, janganlah ngau bebanan eada ami beban yang
berat sebagaimana ngau bebanan eada orang-orang yang sebelum ami,..."
(al-Baarah: 28)
Para embuat bid'ah itu bereinginan mengembalian beban-beban agama-agama
langit sebelumnya e dalam slam dan menambahan talif 'beban huum' yang
memberatan manusia serta menyulitan merea. Padahal, seungguhnya beban-
beban agama slam ini bersifat sederhana dan mudah dijalanan. Misalnya, Allah
SWT berfirman, "Sesungguhnya, Allah dan malaiat-malaiat Nya bershalawat
untu Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah amu untu Nabi dan
ucaanlah salam enghormatan eadanya," (al-Ahab: )
Dan, redasi shalawat yang aling afdhal adalah, "Ya Allah, samaianlah shalawat
eada Nabi Muhammad dan eluarga Nabi Muhammad, sebagaimana ngau
telah samaian shalawat-Mu eada Nabi brahim dan eluarga Nabi brahim,
sesungguhnya ngau Maha Teruji dan Maha Mulia. Ya Allah, berianlah
eberahan eada Nabi Muhammad dan eluarga Nabi Muhammad, sebagaimana
ngau telah berian eberahan eada Nabi brahim dan eluarga Nabi brahim,
sesungguhnya ngau Maha Teruji dan Maha Mulia."
[
33
]
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Beraa lama watu yang dibutuhan untu membaca shalawat dengan redasi
tadi? Mungin hanya seeremat atau setengah menit Namun, emudian banya
orang yang mengarang itab tentang redasi-redasi shalawat eada Nabi saw.
dan mencitaan beragam redasi shalawat baru yang tida dierintahan oleh
Allah SWT. Saya sering mendaati orang awam yang membaca redasi shalawat
yang beragam itu dan ternyata ia tida memahami sama seali aa yang ia baca
itu. Demiian juga halnya dengan redasi-redasi doa, banya orang yang
mengarang wirid dan hib yang beragam. Saat masih ecil, setia ali saya
berangat e masjid sebelum subuh, saya mendaati orang-orang awam
menghafal dan membaca doa yang dienal dengan "wirid al-Bari", yaitu sebuah
redasi doa yang disusun berdasaran abjad bahasa Arab. edasi doa yang
ertama dimulai dengan huruf hamah, edua dengan huruf ba, etiga dengan
huruf tsa, dan seterusnya.
Misalnya, redasi doa yang dimulai dengan huruf ghain adalah, "Wahai Tuhanu,
eayaan Mu adalah eayaan yang mutla, sementara eayaan ami adalah
eayaan yang muayyad 'terbatas'". Jia Anda bertanya eada salah seorang
dari merea yang membaca doa itu, "Aa mana mutla dan muayyad?" niscaya
ia tida tahu sama seali.
Wahai saudarau seiman, aaah ada redasi doa yang lebih afdhal, lebih indah,
dan lebih mudah dibandingan redasi doa Al-Qur'an dan Sunnah? edasi doa
dari Al-Qur'an misalnya adalah, "...Ya Tuhan ami, berilah ami ebaian di dunia
dan ebaian di ahirat dan eliharalah ami dari sisa neraa." (al-Baarah: 2)
Dan, redasi doa dari Sunnah misalnya adalah, "Ya Allah, erbaiilah agamau
yang meruaan egangan utama bagiu dan erbaiilah duniau yang meruaan
beal hiduu, erbaiilah ahiratu temat embaliu nanti, jadianlah hidu yang
ulalui sebagai tambahan segala ebaian yang daat uraih, dan jadianlah
ematianu sebagai temat istirahatu dari segala ejahatan dan eburuan. "
[
34
]
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
antas, mengaa ita harus menyusahan diri sendiri dan menyusahan orang lain
untu menghafal doa-doa dengan redasi buatan sendiri itu?
Suatu ali, saya ernah bertanya eada seseorang, "Mengaa Anda tida
melasanaan shalat?" a menjawab, "Karena au tida bisa berwudhu." Au
embali bertanya, "Aaah engau tida mengetahui bagaimana membasuh mua,
edua tangan, mengusa eala, dan membasuh edua ai?" a menjawab,
"Kalau itu, au mengetahuinya, namun au tida hafal (do'a) aa yang harus dibaca
ada setia ali membasuh anggota wudhu itu." Masudnya, ia tida mengetahui
doa yang harus dibaca saat aan memulai berwudhu, misalnya doa, "Segala uji
bagi Allah Yang telah menjadian air sebagai media untu menyucian (diri) dan
slam sebagai cahaya." Saat istinsyaa 'memasuan air e hidung', "Ya Allah,
rahmatilah au dengan semerba surga dan ngau meridhaiu." Saat membasuh
mua, "Ya Allah, utihanlah wajahu ada saat wajah-wajah (alangan beriman)
memutih dan wajah-wajah (alangan afir dan embuat dosa) menghitam." Saat
membasuh dua tangan, "Ya Allah, berianlah buu catatan amal erbuatanu e
tangan ananu, dan jadianlah Nabi Muhammad sebagai emberi syafaat dan
enanggungu." Dan, saat mengusa eala, "Ya Allah, haramanlah rambut dan
ulitu dari ai neraa."
[
35
]
Oleh sebagian orang, setia geraan wudhu disertai doa tertentu sehingga rean
ita yang malang ini menyanga bahwa agar shalat dan wudhunya sah maa ia
harus menghafal seluruh doa yang banya itu, adahal ia tida memilii
emamuan untu menghafal seluruh redasi doa yang banya itu. Mengaa hal ini
harus terjadi?
ontoh yang lain adalah aa yang dinamaan oleh sebagian orang sebagai aan
syar'i. Pada dasarnya, redasi dan cara elafalan aan mudah saja dilauan, yaitu
Allahu Abar Allahu Abar dan seterusnya. Beraa lama watu yang dibutuhan
untu mengumandangan aan seerti itu? Paling lama satu menit atau satu menit
setengah. Namun, jia ita menguman-dangan aan dengan cara yang biasa
dilauan ada saat ini, yaitu dengan membaca hayya 'alash-shalaaaaaah, hayya
'alal falaaaaaaah, beraa banya watu yang dibutuhan untu itu? Tentu aan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
memerluan lebih dari lima menit.
Oleh merea, ata "falah" harus dibaca lebih anjang dari ata "shalaah". Demiian
juga redasi edua harus dibaca lebih anjang dari redasi ertama. Tida hanya
itu, merea juga emudian mengarang redasi-redasi shalawat eada Nabi saw
yang harus dibaca seleas mengumandangan aan.
Wahai saudarau seiman, abb ita mensyariatan lafal-lafal aan ini dan
mewahyuan bentu lafal itu eada Nabi-Nya melalui jalan mimi
[
36
]
yang
ditetaan oleh Nabi saw.. Hal ini dimasudan agar Allah SWT memunyai eran
tertentu dalam enentuan aan itu, demiian juga Nabi saw. memunyai eran
tersendiri. antas, mengaa Anda emudian menambahan redasi shalawat dan
ata-ata tambahan terhada aan itu yang membuat bagian Nabi saw. dalam aan
lebih besar dari bagian abb ita? ni tida seatutnya terjadi.
slam amat memerangi bid'ah agar manusia tida memasuan hal-hal baru yang
memersulit elasanaan agama, serta agar tida menambahan hal-hal yang
membuat beban agama menjadi berliat-liat banyanya dariada aa yang
diturunan oleh Allah SWT. Karena, hal itu aan membuat manusia menjadi berat
untu menjalanan erintah-erintah agama.
4. BID'AH DALAM AGAMA MEMATIKAN SUNNAH
Ada ungaan yang diriwayatan dari alangan salaf, secara mauuf dan marfu',
"Setia ali suatu aum menghiduan bid'ah maa saat itu ula merea
mematian sunnah dengan adar yang setara." ni adalah suatu eniscayaan
(eastian), sesuai dengan huum alam dan huum sosial. Ada orang yang
berata, "Setia ali au melihat suatu sia berlebihan dalam satu segi maa saat
itu ula au daati adanya suatu ha yang ditelantaran." Jia Anda menjumai
suatu sia berlebih-lebihan ada satu segi, Anda asti aan mendaati adanya
sia mengurang-ngurangi ada segi lain. Jia seseorang mencurahan energinya
untu melasanaan erbuatan bid'ah, niscaya energinya untu menjalanan
sunnah menjadi berurang arena emamuan manusia terbatas. Oleh arena itu,
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Anda daat menandai dengan mudah ada segi aa seorang elau bid'ah giat
berusaha dan ada segi aa ula ia malas beerja. a giat dan bersegera dalam
menjalanan erbuatan-erbuatan bid'ah, sementara lemah dan bermalasan dalam
menjalanan hal-hal yang sunnah.
Saya masih ingat etia masih berstatus elajar seolah menengah al-Ahar di
Madrasah al-Ahar cabang Thantha. Di ota Thantha itu terdaat maam sayyid
Ahmad Badawi yang terenal itu. Di antara syeh ami ada yang menghabisan
sebagian besar siang dan malamnya di saming maam sayyid Badawi. Saya
ernah berdialog dengan salah seorang syeh ami tersebut, seorang ahli fiih
mahab Hanafi, namun ia termasu dalam elomo orang-orang yang
menyaralan tasawuf dan ara wali.
Saat itu, ia sedang mengajaran eada ami bab al-dhhiah 'urban' (dan saya
saat itu adalah orang yang senang mengaitan fiih dengan ehiduan sehari-hari).
Saya berata eadanya, "Pa guru, saat ini, masyaraat sudah meluaan sunnah
ini sehingga orang yang berurban amat sediit seali. Saya iir ara syeh
bertanggung jawab dalam masalah ini dan merea daat memeringatan
masyaraat untu memerhatian sunnah ini." Syeh ami itu menuas, "Hal itu
terjadi arena emamuan finansial masyaraat saat ini lemah." Saya embali
beromentar, "Namun, dalam esematan lain, merea malah berurban untu
sesuatu yang buan sunnah." Mendengar itu ia bertanya, "Aa yang engau
masud?" Saya menjawab, "Masud saya, merea berurban ada saat eringatan
elahiran sayyid Badawi. Saat eringatan itu, masyaraat menyembelih uluhan,
bahan ratusan atau ribuan domba, sementara ada dul Adha amat sediit yang
berurban. Seandainya ara syeh mengarahan masyaraat untu menghiduan
sunnah berurban ini, yaitu sebagai ganti merea berurban ada saat eringatan
elahiran sayyid Badawi maa merea berurban ada hari dul Adha, niscaya
dengan itu merea telah menjalanan Sunnah. Sealiun merea tida
menyedeahan sediit un dari urban merea, namun semata mengaliran darah
urban ada hari itu sudah menjadi bentu enghiduan syiar slam. "Maa
dirianlah shalat arena Tuhanmu dan berorbanlah." (al-Kautsar: 2)
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Setelah saya berata seerti itu, guru saya langsung marah eada saya dan
mengeluaran saya dari ruang elas. a emudian mengangga saya sebagai
embuat onar yang membenci ara wali serta aum shalihin.
ni mengingatan saya ada satu ernyataan bahwa setia ali suatu aum
menghiduan bid'ah dan menyibuan diri merea dengan bid'ah itu, niscaya saat
itu ula merea mematian sunnah sejenis. nilah salah satu rahasia mengaa
bid'ah dierangi dalam slam.
5. BID'AH DALAM AGAMA MEMBUAT MANUSIA TIDAK KREATIF DALAM
URUSAN-URUSAN KEDUNIAAN
Dari segi lain, sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, jia manusia
mencurahan energi dan erhatiannya untu melauan erbuatan-erbuatan
bid'ah yang ditambahan e dalam agama, niscaya merea tida lagi memunyai
energi untu berusaha di dunia dan berreasi dalam urusan-urusan duniawi.
Bid'ah, seerti telah ami sinyalir sebelumnya, adalah "jalan beragama yang dibuat-
buat". Pada dasarnya, manusia harus mengembangan reativitasnya dalam
bidang eduniaan, namun arena manusia telah mencurahan seluruh
reativitasnya dalam urusan-urusan agama maa ia tida lagi daat berreasi
dalam urusan-urusan duniawi.
Oleh arena itu, generasi slam yang ertama banya meneluran reativitas dalam
bidang-bidang duniawi dan memeloori banya hal yang belum ernah dilauan
sebelumnya. Sehingga, merea daat membangun eradaban yang besar dan
tangguh yang menyatuan antara ilmu engetahuan dan eimanan, antara agama
dan dunia. lmu-ilmu slam yang dihasilan ada masa itu, seerti ilmu alam,
matematia, edoteran, astronomi, dan sebagainya menjadi ilmu-ilmu yang
dielajari di seluruh dunia dan masyaraat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari
aum muslimin.
Mayoritas motif yang melatarbelaangi aum muslimin generasi ertama untu
menggeluti dan mengembangan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama. Aaah Anda
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
mengetahui mengaa al-Khawarimi mencitaan ilmu aljabar? a meneluran ilmu
itu untu menyelesaian masalah-masalah tertentu dalam bidang wasiat dan
warisan. Tentang warisan, juga wasiat, sebagian darinya memerluan hitung-
hitungan matematia. Oleh arena itu, al-Khawarimi menulis buunya yang
berbicara tentang ilmu aljabar dalam dua ju; ju ertama tentang wasiat dan
warisan, ju edua tentang aljabar.
Saat Dr. Musa Ahmad dan elomonya mentahi itab al-Khawarimi itu, merea
memberian anotasi-anotasi ada ju yang berbicara tentang aljabar, sedangan
ada ju yang berbicara tentang wasiat dan warisan, merea berata, Kami tida
memahaminya dan ami tida mengerti sediit un aa yang tertulis di dalamnya."
Pada masa generasi ertama slam, ilmu engetahuan beraitan erat dengan
agama. Tida ada diotomi (embagian / encabangan) diantara eduanya.
[
37
]
Para ilmuan dan doter saat itu juga berstatus ulama dalam bidang agama. bnu
usyd, engarang itab al-Kulliyyat dalam bidang edoteran, adalah juga seorang
adhi, engarang itab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul-Mutashid dalam bidang
fiih. Kitab itu meruaan itab fiih omaratif yang aling bai.
Yang au ingin teanan adalah, aum muslimin ada masa eemasan slam,
dalam bidang agama, merea semata beregang ada nash dan Sunnah,
sedangan dalam bidang-bidang ehiduan, merea berreasi, mencitaan hal-hal
baru, dan mengembangan ilmu engetahuan dan enemuan yang telah ada.
Sementara, ada masa emunduran slam, yang terjadi adalah sebalinya. Orang
banya seali mencitaan hal-hal baru dalam bidang agama, sementara beu dan
statis dalam bidang-bidang eduniaan. Merea (aum muslimin era emunduran
slam) berata, "Generasi ertama slam sama seali tida memberian
esematan eada generasi beriutnya untu mencitaan hal-hal baru dan ita
sama seali tida daat melauan seerti aa yang merea telah erbuat."
sehingga, ehiduan umat slam menjadi beu dan statis, seerti air yang terjeba
ta bergera dan berubah menjadi busu. Dengan demiian, engingaran
erbuatan bid'ah dalam bidang agama bermana menyiaan energi manusia
untu berreasi dan mengembangan urusan-urusan eduniaan.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
6. BID'AH DALAM AGAMA MEMECAH BELAH DAN MENGHANCURKAN
PERSATUAN UMAT
Yang eenam adalah beregang teguh ada Sunnah aan menyatuan umat
sehingga membuat merea menjadi satu barisan yang ooh di bawah bimbingan
ebenaran yang telah diajaran oleh Nabi saw.. Karena, Sunnah hanya satu,
sedangan bid'ah tida terbilang banyanya. Kebenaran hanya satu, sedangan
ebatilan beragam warna dan bentunya. Jalan Allah SWT hanya satu, sedangan
jalan-jalan setan amat banya. Dalam hadits riwayat bnu Mas'ud r.a.,
[
38
]
ia berata,
"Suatu hari, asulullah saw. membuat garis lurus di hadaan ami,
[
39
]
emudian
beliau bersabda, 'ni adalah jalan Allah.' Setelah itu, beliau menggaris beberaa
garis di saming iri dan saming anan garis yang ertama tadi, dan bersabda,
'Jalan-jalan ini (adalah selain jalan Allah), masing-masing diduung oleh setan yang
menggoda manusia untu mengiuti jalan itu.' selanjutnya, beliau membaca ayat,
"Dan, bahwa (yang Kami erintahan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maa iutilah
dia...." (al-An'aam:)
Oleh arena itu, saat umat secara onseuen mengiuti Sunnah maa saat itu
merea bersatu adu. Sementara, saat timbul beragam sete dan mahab maa
umat terecah menjadi lebih dari tujuh uluh golongan. Bahan, masing-masing
golongan itu ada gilirannya embali terecah menjadi elomo-elomo ecil.
Dan, masing-masing golongan dan elomo itu meyaini bahwa merea sajalah
enganut agama slam yang sebenarnya. Selanjutnya, masing-masing golongan itu
mencitaan bid'ah tersendiri yang demiian banya.
Sebagian bid'ah itu dalam bidang aidah hingga adang-adang ada yang samai
eada eafiran, seerti golongan yang mengingari ilmu Allah SWT dan berata,
"Hal ini adalah sesuatu yang baru sama seali." Masud ucaan merea itu adalah
Allah SWT tida mengetahui hal itu sebelumnya. Merea itulah yang diecam
dengan eras oleh bnu mar dan ia emah berata tentang merea, "Sealiun
merea melauan amal ebaian sebesar Gunung hud, (namun arena
erataan dan sia merea tadi) niscaya Allah SWT tida menerima amal
erbuatan merea itu.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Juga ada elomo yang menganut antroomorfisme yang menyeruaan wujud
Allah SWT dengan mahlu-Nya, merea terenal sebagai elomo Musyabbihah
dan Mujassimah. Di antara merea ada yang mengingari odrat Allah SWT,
mesiun merea tida mengingari ilmu-Nya. Di antara merea ada yang
mengafiran aum muslimin dan menghalalan darah merea, seerti alangan
Khawarij, mesiun eteunan ibadah merea amat mengaguman dan mesiun
dalam hadits Nabi saw. ernah diungaan tentang merea, "Dan alian ada yang
melihat shalatnya lebih sederhana dari shalat merea, iyamullailnya lebih
sederhana dari iyamullail merea, dan bacaannya lebih sederhana dari bacaan
merea."
Setelah itu, timbul alangan tasawuf yang sebagian merea mengungaan hal-
hal yang sama seali tida dilandasi syariat, seerti beredoman hanya eada
dau 'rasa' dan intuisi, buan eada syariat. Menurut merea, orang tida erlu
beregang ada aa yang difirmanan oleh abbnya, namun yang terenting
adalah beredoman ada aa yang diataan oleh hatinya. Salah seorang dari
merea dengan bangga berata, "Hatiu berata eadau berdasaran informasi
dari Tuhanu." Karena, ia mengambil informasi langsung dari "atas". Oleh arena
itu, saat diataan eada salah seorang dari merea, "Marilah ita membaca itab
Mushannaf Abdurraa," ia menjawab, "Aa manfaatnya arya Abdurraa itu
bagi orang yang mengambil ilmunya langsung dari sang Khali?" Masudnya, ia
mengambil ilmunya langsung dari Allah SWT, tana melalui erantara
Dari merea ada yang berata, "Kalian mengambil ilmu alian dari orang yang telah
mati yang mendaatannya dari orang yang telah mati ula, sementara ami
mengambil ilmu ami dari Zat Yang Maha Hidu, Yang tida mati" Mali dari Nafi
dari bnu mar, merea semua telah mati; mata rantai riwayat emas ini (seerti
dinamaan oleh ara ahli hadits) bagi alangan tasawuf diandang sebagi mata
rantai aratan yang tida bermanfaat sama seali.
Diantara istilah yang diembangan oleh merea adalah haiat dan syariat.
Kalangan ahli syariat melihat dan memerhatian sisi yang ahir, sedangan
alangan ahli haiat melihat dan memerhatian sisi batin. Oleh arena itu,
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
merea berata, "Orang yang melihat manusia dengan mata syariat, niscaya ia
aan membenci merea, sedangan orang yang melihat manusia dengan mata
haiat, niscaya ia aan memberian uur (sia memalumi) eada merea."
Orang yang berina, bermabu-mabuan, embuat ealiman, dan editatoran,
yang menyisa manusia dan membunuh ratusan, bahan ribuan orang, serta yang
menghancuran amung-amung dan ota-ota; merea itu, jia Anda lihat
merea dengan mata syariat niscaya Anda aan membenci merea arena syariat
membenci emungaran, ealiman, dan ara elaunya. Namun, jia Anda
memandang merea dengan mata haiat, niscaya Anda aan memberian uur
eada merea. Karena, mesiun merea tida menjalanan erintah Allah SWT,
namun ada haiatnya merea menjalanan iradah 'ehenda' Allah SWT arena
Allah SWT-lah yang menghendai semua hal itu. Allah SWT menggeraan
manusia sesuai dengan ehenda-Nya, lantas aaah Anda ingin turut camur
dalam euasaan Allah SWT? Biaranlah euasaan berjalan di tangan raja,
sementara manusia yang lain, biaranlah merea hidu sesuai dengan ehenda
sang Khali. Dengan begitu, tumbuh suburlah sia asif dalam menghadai
erusaan dan enindasan, demiian juga dalam dunia endidian. Hingga dalam
bidang yang terahir ini, tasawuf mencabut eribadian manusia, yaitu seerti
ostulat tasawuf "sia seorang murid di hadaan syehnya adalah seerti sia
mayat di tangan orang yang memandiannya", Siaa yang bertanya eada
syehnya: "Mengaa?" Maa, sang murid itu tida aan 'samai' e tujuannya, dan
seterusnya.
Kemudian beraa banya tareat yang telah timbul di olong langit ini? Jia umat
slam ita biaran mengiuti dan menjalanan rate bid'ah, niscaya merea tida
aan bersatu dalam satu shaf. mat slam hanya daat bersatu jia merea berdiri
di belaang asulullah saw. dan mengiuti itab Allah yang muham dan Sunnah
asul-Nya. Setelah merea bersia seerti itu, tida menjadi masalah jia merea
emudian berbeda endaat dalam masalah-masalah furu' (cabang). Perbedaan
endaat dalam bidang furu' ini tida merusa uhuwah, juga tida menghalangi
ersatuan slam. Para sahabat sendiri banya berbeda endaat dalam masalah
furu'
[4]
, namun merea teta bersaudara, dan teta sebagai aum muslimin.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
MENGINGKARI BID'AH DAN MEMERANGINYA ADALAH LANGKAH UNTUK
MEMELIHARA KEMURNIAN ISLAM
Karena semua hal tadi maa mengingari bid'ah dan erbuatan bid'ah adalah tindaan
yang daat menjaga emurnian slam hingga saat ini sehingga slam tida mengalami
distorsi dan adisi seerti yang dialami oleh agama-agama yang lain.
Benar di alangan aum muslimin terjadi banya erbuatan bid'ah dan iha-iha yang
mencitaan bid'ah, yaitu orang-orang jahil yang tida memunyai ilmu agama dan
memberian engajaran agama dengan tana ilmu sehingga merea sesat dan
menyesatan, namun di seanjang masa selalu timbul tooh di alangan umat slam yang
memerbarui agama merea.
[
41
]
Selalu ada tooh-tooh yang menghiduan Sunnah dan
mematian bid'ah.
[
42
]
Sehingga, setidanya, Sunnah asulullah saw. teta daat
dietahui dengan jelas dan umat ini tida samai berseaat dalam esesatan;
[
43
]
atau
mengaui bid'ah, atau erbuatan bid'ah itu berubah menjadi bagian agama slam.
Pengingaran bid'ah itulah yang menjaga ruun-ruun oo slam. Bilangan ewajiban
shalat teta terjaga sebanya lima watu hingga saat ini, beriut etentuan watu dan
aturan elasanaannya. Pelasanaan ibadah uasa tida diindahan dari bulan
amadhan, tida seerti yang dilauan oleh Ahli Kitab yang memindahan watu
elasanaan uasa merea. Dan, watunya un teta dari fajar hingga tenggelamnya
matahari. Tata lasana ibadah haji juga teta seerti itu. Demiian juga aturan aat teta
seerti sediaala. Poo-oo utama slam teta terjaga eautentiannya, mesiun
telah terjadi banya bid'ah dan beragam enyimangan emiiran di seanjang masa.
Yang menjaga semua hal tadi adalah rinsi ini, yaitu bid'ah meruaan erbuatan yang
tertola dalam andangan slam. Dengan demiian, slam adalah agama yang agung dan
logis, sesuai dengan alur ostulat logia yang benar. antas, setelah agama ini melewati
masa emat belas abad, jia ita menemuan seseorang menulis sebuah artiel dan
berata, "Mengingari bid'ah dan membenci sesuatu yang baru, aaah sia islami atau
sia jahiliah?" Aa yang ita aan ataan eada orang itu?
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Perhatianlah tati engelabuan dalam enulisan judul artiel itu. Di situ, ata
"engingaran bid'ah" disejajaran dan disandingan dengan "membenci hal-hal baru",
Subhanallah Padahal, siaa yang ernah berata bahwa mengingari bid'ah berarti
membenci segala hal yang baru? Kaum muslimin, bai itu alangan engiut Sunnah
mauun embuat bid'ah, semuanya memergunaan hal-hal baru. Bahan, orang-orang
yang amat mengiuti Sunnah, merea mengendarai mobil, memergunaan teleon,
berbicara dengan miroon, menaii esawat, dan sebagainya. Namun, tida ada yang
mengataan bahwa menaii esawat dan sebagainya itu adalah bid'ah dan ita harus
mengendarai unta, seerti yang dilauan oleh Nabi saw..
antas, aa mana redasi "mengingari bid'ah dan membenci hal-hal baru, aaah sia
islami atau jahiliah?" tu adalah sebuah tati engelabuan yang vulgar, yang menjadi
tertawaan orang. Orang yang menulis artiel itu secara imlisit berata bahwa slam itu
sendiri adalah suatu bid'ah terhada ejahiliahan. Maa, jia ita mengiuti alur logia ini
-- atau engingaran terhada bid'ah -- maa ita juga harus mengingari slam,
sebagaimana orang-orang jahiliah mengingari slam. Karena, bagi orang-orang jahiliah
itu, slam adalah sesuatu yang baru.
Subhanallah Kejahiliahan itu sendiri sebenarnya suatu bid'ah, yaitu bid'ah yang dierbuat
oleh orang-orang jahiliah terhada agama. Merea menyelewengan agama yang dibawa
oleh Nabi brahim a.s. dengan bid'ah-bid'ah yang merea citaan itu. Karena, agama
Nabi brahim a.s. ada dasarnya adalah agama yang hanif, "brahim buan seorang
Yahudi dan buan (ula) seorang Nasrani, aan tetai dia adalah seorang yang lurus
(hanif) lagi berserah diri (eada Allah) dan seali-ali buanlah dia termasu golongan
orang-orang musyri." (Ali mran: )
Namun, orang-orang jahiliah emudian menambahan bid'ah-bid'ah baru dalam agama
yang diajaran oleh Nabi brahim a.s.. Tentu saja bid'ah yang merea citaan itu
ditujuan untu berlebih-lebihan dalam beribadah. Saat merea menyembah berhala, aa
tujuan merea menyembah berhala-berhala itu? Merea berata, "..Kami tida
menyembah merea melainan suaya merea mendeatan ami eada Allah dengan
sedeat-deatnya."(a-Zumar: )
Orang-orang jahiliah yang menambahan rate-rate baru dalam elasanaan ibadah
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
haji (diantaranya berthawaf dengan bertelanjang tana aaian sehelaiun), maa
mengaa merea melauan hal itu? "Kami tida boleh berthawaf dengan memaai
aaian ami arena ami telah melauan masiat eada Allah SWT saat mengenaan
aaian itu." Oleh arena itu, mereaun emudian berthawaf dengan bertelanjang bulat.
Keburuan dan ebobroan jahiliah, ada dasarnya dicitaan oleh rate erbuatan
bid'ah dalam agama yang diturunan oleh Allah SWT melalui itab-itab suci-Nya dan ara
rasul-Nya yang memberian berita gembira dan ancaman. Kemudian, slam ada
haiatnya adalah suatu geraan embali e asal, yaitu e agama fitrah yang difitrahan
oleh Allah SWT bagi seluruh manusia. a adalah agama yang diseruan oleh brahim a.s.,
"Dan, siaaah yang lebih bai agamanya dariada orang yang ihlas menyerahan
dirinya eada Allah, sedang dia un mengerjaan ebaian, dan ia mengiuti agama
brahim yang lurus?" (an-Nisaa':2)
Sebenarnya, seluruh redasi yang ditulis oleh enulis artiel itu hanyalah berisi esalahan-
esalahan semata. Namun demiian, saya ingin membicaraan masalah ini hingga tuntas
sehingga ita daat menanga emahaman yang jelas dan benar tentang sunnah dan
bid'ah.
BEBERAPA PENYIMPANGAN YANG DILAKUKAN OLEH PENULIS ARTIKEL
Pada bagian ini, saya aan mengungaan sebagian substansi yang ditulis oleh enulis
artiel itu yang diterbitan oleh majalah "ad-Doha".
Dalam artiel itu, ia menola banya hadits Nabi saw. hingga hadits yang diriwayatan
oleh Buhari dan Muslim sealiun. Misalnya, ia menola hadits, "Jauhilah erara
erara bid'ah arena seluruh erbuatan bid'ah adalah sesat." Juga hadits, "Kalian aan
mengiuti erilau umat-umat sebelum alian satu jengal demi satu jengal dan satu
hasta demi satu hasta, hingga seiranya merea masu e lubang biawa sealiun alian
aan memasui lubang yangsama itu, atau alian mengiuti tindaan merea itu."
a (enulis artiel itu) menglaim bahwa hadits-hadits tadi bertentangan dengan Al-Qur'an.
Mengaa ia berata demiian? Dan, bagaimana mungin hadits-hadits seerti itu
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
bertentangan dengan Al-Qur an?
bnu Taimiyah telah mengarang itab tentang masalah ini yang ia beri judul tidha
Shiraath al-Mitstaiim Muhalafatu Ahlil-Jahiim 'Meniti Jalan urus Adalah Meninggalan
Prate Orang-Orang Penghuni Neraa'. Jalan lurus itu adalah shiraathal-mustaiim yang
ita selalu inta eada Allah SWT agar ita ditunjuan eada jalan itu, minimal
sebanya tujuh belas ali sehari, Yaitu dengan membaca surah al-aatihah, "Tunjuilah
ami jalan yang lurus," (al-aatihah: )
ni mengharusan ita untu menentang dan meninggalan rate orang-orang enghuni
neraa yang disebut dalam firman Allah SWT, "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah
ngau anugerahan nimat eada merea; buan (jalan) merea yang dimurai dan
buan (ula jalan) merea yang sesat." (al-aatihah: )
Para enghuni neraa adalah orang-orang yang dimurai Allah SWT dan orang-orang
yang sesat. Kita memunyai jalan tersendiri dan merea memunyai jalan-jalan lain.
Dalam salah satu hadits disinyalir, "Kalangan yang dimurai Allah itu adalah umat Yahudi
dan alangan yang sesat itu adalah umat Nasrani."
Jalan ita berbeda dengan jalan-jalan merea. Al-Qur'an telah menetaan bagi ita jalan
yang berbeda dengan jalan-jalan merea itu. Al-Qur'an telah melarang ita dalam banya
ayatnya, menjadi seerti merea atau melauan ola hidu dan erilau seerti merea.
Allah SWT berfirman, "Dan, janganlah amu menyeruai orang-orang yang bercerai-berai
dan berselisih sesudah datang eterangan yang jelas eada merea.... "(Ali mran: )
Masih banya lagi ayat lain, demiian juga hadits-hadits Nabi saw. yang berbicara tentang
hal itu, yang eseluruhannya memberian ernyataan dengan yain bahwa umat ini
memunyai arateristi yang istimewa dan has dan ia tida boleh mengeor eada
umat-umat lain. Dari enyataan itu, dalam banya hadits disabdaan ernyataan
halifuuhum 'bersia dan berlaulah yang berbeda dengan merea'. Dan, sabda itu
diulang berali-ali dalam banya esematan.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
ndeendensi eribadian dan eistimewaan umat slam tumbuh dari ini, bai dalam
enamilan (mahhar) mauun dalam ilmu engetahuan (mahbar). Oleh arena itu, ita
tida dibenaran mengiuti ola ehiduan dan ola erilau merea yang menyebaban
ita sama seerti merea.
Kita harus memilii eribadian sendiri arena umat slam adaiah umat wasath
'ertengahan' yang menjadi sasi bagi seluruh umat manusia. Kita menemati eduduan
sebagai "rofesor agung" bagi seluruh umat manusia. Kita adalah umat terbai yang
ernah ada di mua bumi. antas, mengaa ita harus mengiuti umat lain?
asulullah saw. ingin menanaman esadaran aan emuliaan, eistimewaan, dan
indeendensi eribadian ini dalam diri ita, dan beliau tida menginginan ita menjadi
engeor dan engiut umat lain. Oleh arena itu, asulullah saw. menyabdaan hadits
beriut ini yang mesiun disamaian dalam bentu berita, namun ia secara imlisit
mengandung mana eringatan, "Kalian aan mengiuti erilau umat-umat sebelum
alian satu jengal demi satu jengal dan satu hasta demi satu hasta, hingga seiranya
merea masu e lubang biawa sealiun alian aan memasui lubang yang sama itu."
Yang dimasud dengan lubang biawa dalam hadits itu adalah yang ita enal searang
ini dengan nama "trend dan mode". Atau, bisa ita namaan dengan "mode lubang
biawa". Jia merea (non muslim, terutama Barat) memanjangan uncir merea, ara
emuda ita un memanjangan uncir merea. Jia merea menjadi 'yuies' dan
'hiies', emuda ita un turut menjadi yuies dan hiies. Ke mana larinya eribadian
istimewa ita yang indeenden itu? Aaah ada orang yang rela meninggalan agama dan
eribadian slamnya untu emudian mengiuti esesatan umat lain?
Kemudian, mengaa ada orang yang mensinyalir bahwa hadits ini bertentangan dengan
Al-Qur'an?
Saat asulullah saw. ditanya, "siaaah yang dimasud dengan 'merea' itu? Aaah
orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab, "Siaa lagi alau buan merea?"
Buanah amat disayangan jia saat ini "guru" ita adalah orang-orang Yahudi dan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Nasrani? Kita dengan suarela menjalanan oin-oin yang ditulis dalam "Protool-
Protool Pemimin Zionis", bai rotool-rotool itu benar mili merea mauun buan.
Aa yang merea ehendai, secara sadar atau tida, ita telah jalanan dengan teun
sehingga ita menjadi ermainan merea.
Penulis artiel itu mencela dan mengingari aum muslimin yang ingin embali mengiuti
jalan Nabi saw., ara sahabat, dan cara ehiduan merea. Aneh seali sia sang
enulis artiel itu. Aaah einginan untu mengiuti Nabi saw. dan ara sahabat beliau
dalam ola ehiduan merea atut dicela dan diingari? Kita mengiuti manhaj Nabi saw.
dan ara sahabat beliau dalam memahami dan menjalanan agama dengan bai;
menjaga oo-oo agama itu, memerhatian substansinya, dan memerhatian
masalah-masalah ehiduan serta melauan engembangan dalam ehiduan. nilah
yang ita masud dengan mengiuti Nabi saw. dan ara sahabat beliau itu.
Kemudian, enulis artiel itu berata, "Au menemuan di antara seian hadits, ada hadits
yang mensinyalir bahwa ulama adalah ewaris ara nabi. Au memahami dari hadits itu
bahwa orang yang mewarisi eninggalan memunyai ewajiban moral yang
mengharusan dirinya untu memelihara warisan itu dan mengembangannya. Oleh
arena itu, ara ewaris nabi-nabi memunyai ewajiban untu memelihara warisan
ruhani yang ditinggalan oleh ara nabi dan merea juga berewajiban untu
mengembangan warisan yang merea terima itu. Seerti halnya seseorang yang
mewarisi too, ia berha bahan berewajiban untu mengembangan too itu dan
menambahan barang-barang dagangannya, mengganti barang dagangannya yang
sudah adaluwarsa atau yang sudah tida lau lagi, sesuai dengan tuntutan ebutuhan
onsumen. Demiian juga halnya yang harus dilauan oleh ara ewaris nabi terhada
warisan yang merea terima itu."
Artinya, menurut enulis artiel itu, ara ulama harus menambahan ajaran agama,
mengembangan, meluasan, dan menyisian hal-hal baru. Demi Allah, aaah hal ini
daat diterima aal? Aaah ucaan tadi logis dan daat diterima? Yaitu, menganalogian
ajaran-ajaran agama dengan barang-barang dagangan yang dierjualbelian di too
Selanjutnya ia berata, "Mesiun mayoritas ulama tida menyetujui engembangan dan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
enambahan hal baru e dalam agama, merea hanya menjalanan talid buta dan sia
'stagnan' yang batil. Dan, merea menjustifiasian ditutunya intu ijtihad dengan
emuliaan dan ejayaan slam ada era ertamanya."
Subhanallah Penutuan intu ijtihad itu sendiri adalah bid'ah arena hal itu adalah suatu
sia dan erbuatan baru dalam agama yang tida dierintahan oleh asulullah saw. dan
tida dilauan oleh ara sahabat, namun hal itu baru terjadi ada masa-masa emudian.
Tida ada seorang un yang memilii otoritas untu menutu intu ijtihad yang telah
dibua oleh Allah SWT dan asulullah saw..
Perara-erara dunia daat ditambah dan diembangan, sedangan erara-erara
agama tida boleh ditambah atau diurangi. Karena hal itu, seerti telah ami ataan,
adalah suatu tindaan mengriti Allah SWT dan menuduh agama ini tida lenga, dan
sebagainya.
Dengan demiian, aaah mana eluasan agama itu? Karena, sesuatu yang sudah
semurna sesungguhnya tida lagi daat ditambah. irman Allah SWT, ". . Pada hari ini
telah Kusemurnaan untu amu agamamu, dan telah Kucuuan eadamu nimatKu,
dan telah Kuridhai slam itu jadi agama bagimu..." (al-Maa'idah : )
atatan Kai:
[] Masudnya di Qathar,enj.
[2] Penjelasan lebih tererinci tentang hal ini daat dibaca ada buu arya Dr. Yusuf al-
Qardhawi, al-Madhal li Dirasat As-Sunnah an-Nabawiyyah (Kairo: Matabah wahbah),
hlm. -.
[] edasi hadits di atas meruaan bagian dari hadits yang diriwayatan oleh Muslim,
an-Nasa'i, bnu Majah, dan Tirmidi dengan eriwayatan secara ringas. ihat arya Dr.
Yusuf al-Qardhawi, al-Muntaa min Kitab at-Targhib tva Tarhib, /, hadits 4. Dan,
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
engertian "barangsiaa membiasaan (memulai atau menghiduan) suatu erbuatan
bai dalam slam" adalah selama masa hidunya, buan setelah ematiannya, atau
arena eran orang tua atau eturunan-eturunannya.
[4] Hadits diriwayatan oleh Abu Dawud, Tirmidi, bnu Majah, bnu Hibban dalam itab
shahih-nya, dan Ahmad. Tirmidi berata bahwa hadits ini hasan sahih. ihat al-Muntaa
min Kitab at Targhib wa Tarhiib / , hadits 24.
[] Hadits diriwayatan oleh Muslim dari Jabir r.a.. ihat arya an-Nawawi, iyadhush
Shalihin, bab "an-Nahyu'an al-Bida' wa Muhdatsaat al-mur".
[] Hadits diriwayatan oleh bnu Majah, al-Haim dalam al-Mustadra dari jalan
eriwayatan mam Ahmad, dan oleh bnu Abi Ashim dengan sanad hasan dalam itab as-
Sunnah, hadits no. 48, dengan tahrij al-Albani, dan ia mensahihannya dengan
lanjutannya. ihat itab al-Muntaa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, /4, hadits no. .
[] a adalah brahim bin Musa bin Muhammad al-ahami al-Garnathi yang terenal
dengan asy-Syathibi. a adalah seorang ahli ushul fiih dan hafih hadits dari alangan
endudu Garnathah (Grenada, saat ini). Di saming itu, ia juga seorang imam mahab
Malii. wafat ada tahun H/88 M (lihat: al-A'laam, Zerely, /). Di antara arya-
aryanya adalah itab al-Muwafaaat fi shul asy-syari'ah, sebuah itab yang amat bagus
yang ditulis dalam bidang itu. Juga itab al-'tishaam fi Bayaan assunnah wal-Bid'ah. Kitab
terahir itu juga itab yang amat bagus yang ditulis dalam bidang itu. Namun sayangnya,
samai saat ini manusri nash itab itu hanya ada satu buah, yang emudian diceta, di-
tashih, dan diberian anotasi oleh mam Salafiah ontemorer: syeih Muhammad asyid
idha r.a. engasuh majalah al-Manar dan engarang tafsir al-Manar. Di dalam itab itu
terdaat banya ontradisi antar alimat, dan redasi-redasi yang tida jelas, namun
arena manusri nash yang ada hanya satu buah saja sehingga nasah itu tida daat
diomarasian antara dua nasah atau antara berbagai nasah manusri, untu
mencaai bentu redasional yang sebai-bainya, seerti yang dilauan oleh ara en-
tahi manusri-manusri lama. Sebagai tambahan, asy-Syathibi juga tida
menyelesaian enulisan itab itu.
[8] Asy-Syathibi, al-'tishaam (Beirut: Darul Ma'rifah), ju , hlm. .
[] Hadits Muttafa 'alaih dari hadits riwayat Aisyah r.a.. ihat: Syarh Sunnah, arya al-
Baghawi, dengan tahi Zuhair asy-Syawisy dan Syu' aib al-Arnauth, /2, hadits no:
.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
[] Hadits diriwayatan oleh Buhari, Muslim, Abu Daud, dan bnu Majah. ihat al-
Muntaa min Kitab at Targhiib wa Tarhiib, /2, hadits no: 2.
[] Potongan dari hadits yang diriwayatan oleh Buhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidi, dan
Nasai, dari mar bin Khaththab r.a. ihat al-Muntaa min Kitab at-Targhiib wat-Tarhiib,
/2-, hadits no: .
[2] ebih jauh tentang hal ini daat dibaca dalam buu al-Madhal li Dirasat As-Sunnah
an-Nabawiyyah, hlm. 24-2, arya Dr. Yusuf al-Qardhawi. Juga sebuah uliah yang
ernah disamaian olehnya di aultas syari'ah niversitas Qathar tentang toi seutar
"Sunnah Nabi dan agamnya". Di saming itu, ia juga memunyai dua tulisan yang
beraitan dengan toi ini, yaitu al-Janib at-Tasyriri fi Sunnah an-Nabawiyah yang
diubliasian oleh Mara Sunnah dan Sirah dalam jurnal tahunannya. Demiian juga
buunya as-Sunnah Mashdaran lil Ma'rifah wal-Hadharah. (Buu terahir telah
diterjemahan e dalam bahasa ndonesia oleh Abdul Hayyie al-Kattani, dan diterbitan
oleh Gema nsani Press, 8].
[] Dari Aisyah r.a., ia berata, "Nabi saw. setia ali beliau usai melasanaan shalat
dua raaat sebelum shubuh, beliau berbaring ada sisi anan beliau." Diriwayatan oleh
Buhari dalam itab at-Tahajjud, bab "adh-Dhaj'ah 'ala syail-Aiman Ba'da a'atai al-
aji'.
[4] Diriwayatan oleh Abdurraa. Dalam mata rantai eriwayatannya terdaat seorang
erawi yang namanya tida disebut dengan jelas. ihat athul Bari, itab at-Tahajjud, bab
"Man Tahaddatsa Ba'da a'ataul wa lam Yadhthaji".
[] Hadits Muttafa 'alaih dari hadits mar bin Abi salmah, Syarh Sunnah arya al-
Baghawi, tahi asy-Syawisy dan al-Amauth, /2, hadits no. 282.
[] Hadits diriwayatan oleh Muslim, Tirmidi, dan Mali serta Abu Dawud juga
meriwayatan hadits yang sama redasinya dari hadits bnu mar. ihat juga al-Muntaa
min Kitab at Targhib wa Tarhib, 2:8-, hadits 28.
[] Muslim meriwayatan dalam itab Shahih-nya dari yas bin Salmah bin Awa' bahwa
ayahnya meriwayatan eadanya bahwa seseorang maan bersama asulullah saw.
sambil menggunaan tangan irinya. Kemudian, asulullah saw. memerintahan orang
itu, "Maanlah dengan tangan ananmu." a menjawab, "Au tida bisa." asulullah saw.
embali bersabda, "ngau asti bisa." Yang menghalangi dirinya untu maan dengan
tangan anan hanyalah semata esombongannya saja. sang eriwayat embali berata
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
bahwa orang itu emudian tida lagi daat mengangat tangannya e mulutnya. ihat
Kitab al-ASyribah, bab "Adab ath-Tha'am wa Syarab wa Ahamuha".
[8] Oleh arena itu, bnu mar r.a. dienal sebagai sahabat yang amat senang mengiuti
segala tingah lau asulullah saw. arena ia amat senang mengiuti ucaan dan
erbuatan beliau.
[] Diriwayatan oleh bnu Khuaimah dalam itab Shahih-nya dan Baihai dalam Sunan-
nya dari Zaid bin Aslam. a berata, "Au melihat bnu mar shalat dengan ancing yang
terbua. Kemudian, au bertanya eadanya mengaa ia melauan hal itu, ia menjawab,
"Karena au ernah melihat asulullah saw. Melauannya."
[2] Dari Mujahid, ia berata, "Suatu saat ami berjalan bersama bnu mar r.a. dalam
sebuah erjalanan. selanjutnya, ami melewati suatu temat. Tiba-tiba di temat itu bnu
mar menei dari jalan. Saat ia ditanya, 'Mengaa engau melauan hal ihi?' ia
menjawab, 'Karena au ernah melihat asulullah saw. melauan hal itu maa au un
melauannya." Diriwayatan oleh Ahmad dan Baaar dengan sanad yang bai.
Haitsami berata bahwa ara erawinya daat diercaya, ihat al-Muntaa min Kitab at-
Targhib wa Tarhib, /2, hadits .
[2] Dari bnu Sirin, ia berata: ami bersama bnu mar r.a. di Arafat. Saat ia istirahat,
ami un iut istirahat bersamanya. Hingga datang imam shalat, maa ia un shalat
huhur dan ashar bersamanya. Kemudian au dan sahabat-sahabatu wuuf bersamanya
hingga imam bergera eluar dari Arafah. Setelah itu, ami un iut bergera. Hingga
samai e suatu temat sebelum Ma'amain. Di situ, bnu mar mengistirahatan
endaraannya, maa ami un mengiutinya. Kami menyanga ia aan melasanaan
shalat. Namun embantunya yang menjaga endaraannya mengataan bahwa ia tida
henda melasanaan shalat, namun ia mengataan bahwa Nabi saw., saat beliau samai
e temat itu, beliau melasanaan hajatnya. Oleh arena itu, bnu mar un ingin
melasanaan hajat juga di temat itu. Diriwayatan oleh Ahmad, dan ara erawinya
adalah ara erawi yang dijadian andalan dalam itab-itab sahih. Atsar ini juga
disebutan oleh Al Hafih al Manawi dalam itab At Targhiib wa at Tarhiib, fashal at
Targhiib fi ittiba' as sunnah. ihat: al Madhal li Dirasat as Sunnah an Nabawiah, arya Dr.
Yusuf al Qaradhawi, hal: 24-2.
[22] Asy-Syathibi, al-'tisham (Beirut: Darul Ma'rifah), ju /.
[2] Demiian juga halnya dengan Zaid bin Tsabit yang dierintahan oleh Abu Baar
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
untu mengumulan catatan-catatan ayat Al-Qur an dan mengomilasiannya. Namun,
Abu Baar terus mendorong Zaid hingga Allah SWT melaangan dadanya, sebagaimana
telah terjadi dengan mar dan Abu Baar r.a..
[24] Asy-Syathibi berata bahwa mar menamaannya seerti itu, dengan melihatnya dari
unsur luarnya, yaitu suatu ebuatan yang tida dilauan oleh asulullah saw.. Juga tida
ernah terjadi ada masa Abu Baar r.a.. Namun, bid'ah yang diucaannya itu buan
bid'ah dengan engertian terminologis. Maa, siaa yang menamaan erbuatan tadi
sebagai bid'ah, dengan engertian bid'ah seerti itu, maa tida ada yang erlu
dierdebatan dalam masalah istilah dan terminologi. ihat al-'tishaam, /.
[2] Diriwayatan oleh Buhari dalam itab Shalat Tarawih bab "adhlu man Qaama
amadhaan". Dan, lafal hadits tadi diuti darinya. Juga diriwayatan oleh Mali dalam
itab al-Muwaththa, bab "Bad'u Qiyaam ayaali amadhaan"
[2] Aisyah r.a. berata,"Nabi saw. shalat (sunnah ada malam bulan amadhan) di
masjid, maa orang-orang emudian mengiuti shalat beliau itu. Pada malam edua,
beliau embali shalat, dan ali ini ara jamaah semain bertambah banya. Setelah itu,
ada malam etiga atau eemat, orang-orang berumul di masjid, namun Nabi saw.
tida eluar dari rumah beliau. Pada agi harinya, asulullah saw. bersabda, "Au melihat
aa yang alian lauan itu, dan yang menghalangi diriu untu eluar dan shalat
(tarawih) bersama alian adalah arena au taut jia shalat itu samai diwajiban atas
alian." hadits Muttafa 'afaih. ihat arya asy-syauani, Nailul Authar, /, Darul ir.
[2] Asy-Syathibi berata bahwa erhatianlah, dalam hadits ini--yani hadits Aisyah tadi--
ada indiasi yang menunjuan bahwa erbuatan itu adalah sunnah arena, dengan
enyataan asulullah saw. melauan iyamullail amadhan (shalat sunnah ada malam
bulan amadhan) dengan berjamaah di masjid, ada hari ertama dan edua. ni
menunjuan bahwa erbuatan itu sah dan boleh dilasanaan. Sementara, dengan tida
eluarnya asulullah saw (ada malam etiga atau eemat) itu arena menghawatiran
jia shalat iyamullail amadhan diwajiban bagi umat slam, hal itu sama seali tida
menunjuan elarangan erbuatan itu. Karena, masa ini adalah masa turunnya wahyu
dan syariat sehingga bisa saja jia erbuatan itu emudian diwajiban bagi umat slam.
Oleh arena itu, etia illat syariat itu telah hilang dengan wafatnya asulullah saw., maa
embalilah huum masalah itu eada huum asalnya. Dengan demiian, erbuatan ihi
secara jelas dibolehan dan tida ada enasahan (enghausan huum) baginya. ihat
al-'tishaam, /4.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
[28] Syeh slam bnu Taimiyah telah menulis redasinya yang amat bagus, yang meng-
counter orang yang mengangga bai erbuatan bid'ah, seerti yang beliau tulis dalam
itabnya "tidha shiiraathal-Mustaim, Muhalafatu Ashhabu al-Jahim", (Beirut: Darul
Ma'rifah), him. 2 dan seterusnya. Silaan dibaca itab itu.
[2] Pendaat merea ini telah dibahas dan didisusian oleh mam asy-Syathibi secara
mendetail. Pada ahirnya, ia beresimulan bahwa embagian bid'ah seerti ini adalah
suatu erbuatan mengada-ada yang sama seali tida diduung oleh syariat. Bahan, ia
bersifat ontraditif dalam dirinya sendiri. Karena, haiat suatu bid'ah adalah sesuatu
yang sama seali tida memunyai dalil, bai dari nash syariat mauun dari aidah-
aidahnya. Seandainya di dalam syariat ada sesuatu dalil yang menunjuan ewajiban,
sunnah, atau bolehnya sesuatu (erbuatan bid'ah) itu, niscaya tida ada bid'ah dan
niscaya erbuatan itu masu dalam elomo erbuatan-erbuatan yang harus dierjaan
atau diberi esematan untu dierjaan. ihat al-'tishaam, (Beirut: Darul Ma'rifah),
/88-2.
[] ni meruaan bagian dari hadits yang diriwayatan oleh Ahmad, Tirmidi, dan bnu
Jarir dari beberaa jalan eriwayatan dari Adi bin Hatim. ihat dalam Tafsir bnu Katsir,
(stanbul: Dar Dawah), 2/28
[] Asy-Syathibi menyebut hal ini dalam itabnya, al-'tisham,l /4.
[2] Diriwayatan oleh Buhari dari Abu Hurairah r.a.. Nash lenganya adalah sebagai
beriut, "Pada suatu hari, seorang arab badwi encing di masjid. Melihat hal itu, beberaa
orang langsung berdiri untu menghajarnya. Namun, asulullah saw. segera bersabda,
Biaranlah dia dan tuanganlah di beas encingnya sesiraman atas seember air. Karena,
alian semata diutus untu memberian emudahan, buan untu memberian esulitan."
(iyadhush Shalihin, an-Nawawi, bab "al-Hilm, wal-nat war-if)
[] Hadits Muttafa 'alaih, dari hadits Ka'ab bin Ajrah. Syarh Sunnah Baghawi, tahi
asy-Syawisy dan al-Amauth, /, hadits 8.
[4] Hadits diriwayatan oleh Muslim dari Abi Hurairah dalam ad-Dir wa Du'a, 22.
[] Tentang hal ini, lihat fatwa Dr. Yusuf al-Qardhawi berenaan tentang doa-doa wudhu
yang ma'tsur dan yang tida ma'tsur, dalam buunya, atwa-atwa Kontemorer, ju ,
him. 2-24.
[] Yaitu mimi Abdullah bin Zaid, seerti terdaat dalam hadits yang diriwayatan oleh
Ahmad, Abu Dawud dan disahihan oleh Tirmidi dan bnu Khuaimah. ihat Subulus-
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
Salam, ash-shan'ani, bab "al-Adaan".
[] Bahan diotomi (embagian / encabangan) antara ilmu engetahuan agama dan
ilmu engetahuan umum itu sendiri adalah bid'ah yang sebelumnya sama seali tida ada
dalam wacana eilmuan slam. Karena, slam tida bersifat terisah dari dunia. Penjelasan
lebih mendalam tentang hal ini daat dilihat ada subjudul "al-isham an-Nad", dari buu
al-Mustabal i Hada Din, arya asy-Syahid Sayyid Quthb.
[8] Sanadnya hasan, diriwayatan oleh mam Ahmad dalam itab Al Musnad, juga Ath
Thabari, Al Haim, ia juga mensahihannya, dan disetujui oleh Ad Dahabi. ihat: Syarh
as Sunnah, al Baghawi, tahi: Asy-Syawisy dan al-Arnauth:l/-, hadits .
[] asulullah saw. mengajaran sahabatnya dengan alat eraga, dan salah satu alat
eraga yang biasa diergunaan untu merea adalah asir.
[4] Bahan, Khalifah mar bin Abdul Ai berata, "Au tida bergembira jia seluruh
sahabat asulallah saw. tida berbeda endaat sama seali. Karena jia merea tida
berbeda endaat sama seali niscaya ita tida mungin mendaatan ruhshah
(eringanan)."
[4] Dari Abi Hurairah r.a. ia meriwayatan bahwa asulullah saw. bersabda, "Allah aan
mengutus bagi umat ini ada setia awal seratus tahun seseorang yang aan
memerbarui agamanya." Diriwayatan oleh Abu Dawud, al-Haim, al-Baihai dan
selainnya, serta disahihan oleh al-rai dan as-Suyuthi. Yang dimasud dengan
embaruan agama, seerti disinyalir dalam hadits itu, adalah embaruan emahaman
terhadanya, serta eimanan dan beramal dengannya. Dr. Yusuf Qardhawi telah
menjelasan anjang lebar tentang hadits ini dalam buunya min Ajli Shahwahtin
aasyidah, Tujaddiduddiin wa Tanhadhu bid-Dunya, hlm. , al-Matab al-slami, Beirut;
diterjemahan e dalam bahasa ndonesia dengan judul Membangun Masyaraat Baru,
Gema nsani Press, .
[42] bnu Jarir, Tammam dalam awa'id-nya, bnu Adi dan lainnya meriwayatan dari Nabi
saw. hadits, "lmu ini aan dijunjung oleh orang yang mencermati musuh
ecenderungannya (embuat bid'ah). a aan melenyaan enyelewengan orang-orang
yang melauan esesatan dalam agama, ecenderungan orang-orang yang membuat
ebatilan, dan tawil orang-orang bodoh." ihat syarah-nya dalam al-Madhal li Dirasat as-
Sunnah an-Nabawiyah, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. -8.
[4] Diriwayatan dari bnu mar bahwa asulullah saw. bersabda, "Allah SWT tida aan
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28
mengumulan umatu -- atau umat Muhammad saw. -- dalam esesatan. "Tangan Allah
bersama jamaah. Siaa yang menyemal dari jamaah maa ia menyemal e dalam
neraa." Diriwayatan oleh Tirmidi dan ia menilainya sebagai hadits gharib, serta
diriwayatan oleh al-Haim dengan redasi sejenis. ihat ash-Shahwah al slamiah, baina
al-htilaf al-Masyru' wa at-Tafarru al-Madmum, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. 2,
Muassasah ar-isalah, Beirut.
htt://erisaidawah.com/inde.h?otion=comcontent&tas=view&id=4&temid=28