Anda di halaman 1dari 4

Pengertian abortus Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut

berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Epidemiologi dari aborsi di Indonesia Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur kehamilannya, hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak melapor atau berobat. Sementara itu, kejadian yang diketahui, 15-20 % merupakan abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari pasangan yang mencoba hamil akan mengalami 2 keguguran yang berurutan, dan sekitar 1 % dari pasangan yang mengalami 3 atau lebih keguguran yang berurutan. Pada tahun 1996, total 1.221.585 abortus legal dilaporkan ke Centers for Disease Control and Prevention (1999). Sekitar 20 persen dari para wanita ini berusia 19 tahun atau kurang, dan sebagian besar berumur kurang dari 25 tahun, berkulit putih, dan belum menikah (Centers for Disease Control and Prevention, 2000). Sekitar 88 persen abortus dilakukan sebelum usia gestasi 13 minggu, 55 persen sebelum minggu ke-8, dan 16 persen pada usia 6 minggu atau kurang.

Jenis-jenis aborsi Berdasarkan intervensi 1. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran atau miscarriage 2. Abortus buatan/arteficialis adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau abortus provokatus. Abortus ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: a. Abortus provokatus medisinalis/theurapeuticus didasarkan pada pertimbangan dokter untuk menyelamatkan ibu. Minimal 3 dokter spesialis yaitu spesialis Kebidanan dan Kandungan, spesialis Penyakit Dalam, dan Spesialis Jiwa. Bila perlu dapat ditambah pertimbangan oleh tokoh agama terkait. Setelah dilakukan terminasi kehamilan, harus diperhatikan agar ibu dan suaminya tidak terkena trauma psikis di kemudian hari. b. Abortus provokatus kriminalis yang dilakukan tanpa pertimbangan dokter dengan maksud melanggar norma-norma kehidupan.

Berdasarkan penilaian klinik 1. Abortus spontan 1. Abortus imminens Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. Abortus ini ditandai dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup, hasil konsepsi masih baik dalam kandungan, besarnya terus masih sesuai dengan umur kehamian dan tes kehamilan urin masih positif. 2. Abortus insipiens Perdarahan ringan hingga sedang dalam kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada di dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit. Penderita merasa mulas, serviks telah mendatar, ostium uteri telah membuka tapi hasil konsepsi masih berada didalam, perdarahan bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus dan umur kehamilan, besar uterus masih sesuai dengan umur kehamilan, dan tes urin kehamilan masih positif. 3. Abortus inkomplit Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah ke luar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis. 4. Abortus komplit Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri. 2. Abortus infeksiosa Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dari kavum peritoneum dapat menimbulkan septikemia, sepsis atau peritonitis. 3. Retensi janin mati (missed abortion) Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Biasanya diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan dan pemeriksaan ulangan. 4. Abortus tidak aman (unsave abortion) Upaya terminasi kehamilan muda di mana pelaksana tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.

Etiologi dari aborsi - Faktor genetik Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenetik. - Kelainan kongenital uterus - Autoimun Aloimun Mediasi imunitas humoral Mediasi imunitas seluler - Defefk fase luteal Factor endokrin eksternal Antibodi antitiroid hormone Sintesis LH yang tinggi - Infeksi - Hematologik - Lingkungan

Penatalaksanaan abortus infeksiosa Pada tahap pertama, diberikan penisilin 4 x 1,2 juta unit atau ampisilin 4 x 1 gram ditambah gentamisin 2 x 80 mg dan metronidazol 2 x 1 gram. Selanjutnya antibiotic disesuaikan dengan hasil kultur yang diambil dari darah dan cairan fluksus/fluor yang keluar pervaginam. Tindakan kuretase dilaksanakan bla keadaan tubuh telah membaik minimal 6 jam setelah antibiotika adkuat diberikan, pada saat tindakan uterus dilindungi dengan uterotonika. Antibiotic dilanjutkan sampai dua hari bebas demam dan bila dalam waktu 2 hari pemberian tidak memberikan respons harus diganti dengan antibiotic yang lebih sesuai. Apabila ditakutkan tetanus, perlu ditambahkan dengan injeksi ATS dan irigasi kanalis vagina/uterus dengan larutan peroksida, kalau perlu histerektomi total secepatnya.

Beri Nilai