Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN Pada praktikum pembuatan VCO santan yang baik haruslah berasal dari kelapa yang agak tua,

dan selain itu harus sesedikit mungkin kandungan airnya. Disini kami sudah melakukan hal yang tepat dengan memilih kelapa yang cukup tua dan segar dan memeras parutan daging buahnya hanya dengan sedikit air dan sekali peras sehingga akan menghasilkan santan yang kental. Santan dengan campuran air yang banyak tidak diinginkan karena air hanya akan menambah volume dari larutan padahal air tidak bereaksi dan membentuk VCO. Dengan kata lain air tidak memiliki pengaruh dalam pembuatan VCO. Penggunaan dan penambahan enzim dalam pembuatan VCO ini adalah hal yang juga cukup penting. Untuk mempercepat pembentukan VCO, kami memanfaatkan kerja enzim, karena enzim merupakan katalis yang mempercepat laju reaksi tanpa mengalami perubahan kimia yang permanen. Hal yang juga tak kalah penting dalam praktikum ini adalah mensterilkan peralatan sebelum digunakan untuk pembuatan VCO. Untuk mensterilkan peralatan yang kita gunakan kita dapat gunakan autoklaf yang di atur pada suhu 1210C selama 15 menit. Hal ini untuk memastikan peralatan tidak mengandung mikroorganisme lain yang akan mengganggu jalannya reaksi. Enzim yang digunakan dalam percobaan ini adalah enzim papain yang didapat dari getah pepaya. Fungsi enzim papain ini adalah untuk menguraikan protein yang terdapat dalam santan sehingga emulsi santan bisa dipecahkan dan dapat diperoleh minyak kelapa murni. Keuntungan penggunaan enzim papain dalam pembuatan VCO adalah enzim ini mempunyai daya tahan panas yang baik. Karena proses pembuatan ini menggunakan enzim, maka kondisi reaksi (temperatur, tekanan, pH dan lain-lain) harus benar-benar diperhatikan. Hal ini disebabkan tekanan dan temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak enzim. Selain itu, pH yang terlalu asam dan basa dapat menghambat kerja enzim. Proses pembuatan VCO dilakukan dengan mencampurkan santan dengan enzim papain dan air perasan jeruk nipis lalu diaduk rata. Sempel santan kelapa yang pertama ditambahkan air perasan jeruk nipis, sempel kedua ditambahkan enzim 15 gr dan sempel ketiga ditambahkan enzim 10 gr. Sifat asam dari jeruk

nipis berfungsi sebagai enzim yang mempercepat jalannya reaksi pembentukan VCO. Setelah dicampurkan dengan enzim larutan dimasukkan ke inkubator dengan tujuan untuk mencegah kontaminasi dengan udara luar dan bakteri-bakteri yang dapat merugikan. Suhu di dalam inkubator tidak boleh lebih dari 60C karena pada suhu di atas itu enzim papain dapat rusak sehingga tidak dapat menguraikan protein pada santan. Setelah 24 jam santan terpisah menjadi 3 lapisan yakni blondo lapisan yang berwarna putih susu, lapisan minyak VCO yang berwarna bening kekuningan, dan lapisan air yang berwana putih keruh. Air ini berasal dari santan yang masih mengandung air. Air berada di lapisan paling bawah karena densitasnya lebih berat dibandingkan lapisan yang lain. Hasil percobaan ini kurang sempurna karena virgin coconut oil yang diperoleh pada praktikum ini sedikit, dan aroma yang diperoleh setelah masa inkubasi tidak harum atau berbau santan basi. Hal ini mungkin dikarenakan waktu inkubasi yang lama yaitu 3 hari. Dari hasil pengamatan, diperoleh jumlah virgin coconut oil yang terbentuk paling banyak terjadi pada sampel santan kelapa yang ditambahkan dengan 1 sdm perasan air jeruk nipis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kerja enzim yang paling maksimal dalam menguraikan protein yang terdapat dalam 125 ml santan kelapa adalah pada saat penambahan 1 sdm perasan air jeruk nipis. Perasan air jeruk nipis cukup ideal untuk menggantikan papain. Keberhasilan dari praktikum ini bergantung pada kualitas bahan baku santan yang digunakan, enzim, kesterilan sebelum dan selama inkubasi, dan lamanya waktu inkubasi.