Anda di halaman 1dari 12

Pemodelan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Pada Sistem Hybrid Di teknik Elektro ITN Malang

Prima Adhi Triana Jurusan Teknik Elektro S-1, Konsentrasi Teknik Energi Listrik Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Raya Karanglo Km 2 Malang E-mail : prima.adhit@gmail.com Abstrak Energi angin dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternative untuk menghasilkan listrik melalui konversi pembangkit listrik tenaga bayu. Namun sumber angin yang berfluktuatif menghasilkan daya keluaran yang tidak stabil. Maka dari itu pada tugas akhir ini disamping untuk mengetahui karakteristik dari PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) di ITN Malang pada sistem hybrid, juga dilakukan pemodelan dan desain sistem kendali dengan pengaturan sinyal gate pada converter dengan menggunakan MPPT (Maximum Power Point Tracker) menggunakan metode P&O (Perturbation and Observation) control untuk meningkatkan daya keluarannya. Metode tersebut bekerja dengan mengukur nilai tegangan dan arus pada sisi beban sebagai input kontrol. Pemodelan ini dilengkapi dengan generator sinkron magnet permanen (PMSG), penyearah diode (Rectifier) dan boost converter. Maka diperoleh hasil pertama, perbandingan antara model simulasi tanpa MPPT dengan hasil yang menggunakan MPPT. Hasil kedua, perbandingan antara model simulasi tanpa MPPT dengan hasil pengukuran dari keluaran konverter pada PLTB. Maka Dapat disimpulkan bahwa turbin angin yang menggunakan MPPT memiliki daya rata-rata yang lebih besar daripada tidak menggunakan MPPT. Nilai eror perbandingan antara model simulasi tanpa MPPT dengan pengukuran dari keluaran konverter adalah 4,41% untuk nilai rata-rata tegangan, dan 6,10% untuk nilai rata-rata arus. Pemodelan dan simulasi pembangkit listrik tenaga bayu ini menggunakan software MATLAB/SIMULINK R2008b. Kata kunci : PLTB, Turbin Angin, PMSG, MPPT, diode rectifier dan boost converter Abstract Wind energy can be used as an alternative energy source to generate electricity through the conversion of wind energy power plant. However, the fluctuating wind resource to produce power output is unstable. Therefore in this final addition to determine the characteristics of the coal-fired plant (wind power) in ITN Malang in hybrid systems, is also done modeling and control system design with the gate signal converter settings using MPPT (Maximum Power Point Tracker) using methods P & O (perturbation and Observation) control to increase power output. The method works by measuring the voltage and current on the load side as a control input. Modeling is equipped with a permanent magnet synchronous generator (PMSG), a rectifier diode (rectifier) and the boost converter. Then obtained the first results, comparisons between model simulations without MPPT with results using MPPT. The second result, comparisons between the simulation model without measurement results of the MPPT converter output at coal-fired plant. Then it can be concluded that wind turbines using MPPT has average power greater than not using MPPT. Value error comparisons between simulation models without MPPT with measurements of the output of the converter is 4.41% for the average value of the voltage, and 6.10% for the average value of the current. Modeling and simulation of wind power generation is using the software MATLAB / SIMULINK R2008b. Keywords: coal-fired plant, Wind Turbine, PMSG, MPPT, diode rectifier and boost

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya energi berlimpah dan beragam baik yang bersumber dari fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas bumi. Maupun sumber-sumber energi alternatif dan terbarukan lainnya seperti tenaga angin, tenaga surya, tenaga air, biomasa, geothermal dan lain-lain. Namun pada kenyataannya ,banyak pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan energi berbahan dasar fosil sebagai bahan bakar untuk menggerakkan turbin generatornya. Permasalahannya pada pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil yaitu mulai dari ketersediaannya yang terbatas sampai emisi udara hasil pembakaran yang mengakibatkan pemanasan global. Maka dari itu pemanfaatan energi terbarukan (Renewable Energy) mutlak digunakan disamping dapat mengurangi krisis energi, juga sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Energi angin merupakan salah satu energi terbarukan (Renewable energy) yang memberikan kontribusi terhadap kebutuhan energi listrik domestik, khususnya wilayah terpencil. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) merupakan energi bebas polusi, ramah lingkungan dan tersedia di mana pun, maka dari itu pembangkit ini dapat menjawab masalah lingkungan hidup dan ketersediaan sumber energi untuk menggantikan ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Permasalahan lain yang timbul dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu yaitu bervariasinya lingkungan yang menentukan ketersediaan sumber energi angin, maka diperlukan pemodelan pembangkit energi angin untuk mempermudah perancangan dan analisa dari sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu tersebut. Dalam skripsi ini, penulis membuat pemodelan sekaligus memvalidasikan dari model PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) di Teknik Elektro ITN Malang dengan menggunakan software MATLAB Simulink. Model yang dibuat merupakan gabungan dari beberapa model yang sudah dikembangkan para peneliti sebelumnya, dan digunakan sebagai alat bantu dalam

merancang, membangun dan menganalisa sistem pembangkit energi angin. 1.2 Rumusan masalah Permasalahan yang diangkat pada skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana cara untuk memodelkan dan menganalisa pembangkit listrik tenaga bayu di Teknik Elektro ITN Malang? 2. Bagaimana kesesuaian validasi antara model yang dibuat dengan Pembangkit listrik tenaga bayu di Teknik Elektro ITN Malang? 3. Seberapa besar tingkat eror antara pembangkit listrik tenaga bayu dengan pemodelan yang dibuat. 1.3 Tujuan Penulisan Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas maka, tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah 1. Mengetahui karakteristik pambangkit listrik tenaga bayu di Teknik Elektro ITN Malang dengan memodelkannya. 2. Membandingkan hasil simulasi dengan hasil pengukuran serta mengetahui persentase nilai erornya. 3. Mengetahui karakteristik daya dan kecepatan rotor dari turbin angin terhadap kecepatan angin. 1.4 Batasan Masalah Agar permasalahan yang dibahas tidak terlalu meluas, maka ruang lingkup pembahasan adalah sebagai berikut: 1. Pemodelan dan simulasi dilakukan dengan software MATLAB 7.1 2. Analisa dilakukan hanya membahas tentang validasi dari pemodelan yang dibuat dengan pembangkit listrik tenaga bayu yang ada di Elektro ITN Malang. 3. Tidak membahas hubungan antara pembangkit listrik tenaga bayu dengan sisitem hibrid. 4. Hanya membahas konstruksi PLTB secara umum.

II. Kajian Pustaka 2.1. Energi Angin[1]

Energi angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara disekitarnya. Energi angin merupakan sumber utama yang digunakan untuk memutar blade turbin angin. Hal yang dijadikan patokan untuk mengetahui potensi angin adalah kecepatannya. Permasalahan yang ada adalah untuk kesetabilan kecepatan angin. Karena pada kenyataannya kecepatan angin akan berfluktuasi menyesuaikan terhadap waktu dan tempatnya. Jika terlalu dekat dengan permukaan tanah, kecepatan angin yang diperoleh akan kecil sehingga daya yang dihasilkan sangat kecil pula. Semakin tinggi lokasi daerah tersebut maka akan semakin baik pula energi angin tersebut dimanfaatkan sebagai penggerak blade turbin angin. Berdasarkan gambar 2.1 untuk memperoleh kecepatan angin di kisaran 5.4 - 5.7 m/s umumnya diperlukan ketinggian 33.10 45.14 m.

Pemodelan sistem untuk Tugas Akhir ini adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 2.2 Pemodelan sistem ini hanya menunjukkan blok diagram yang berupa subsistem yang didalamnya terdapat rangkaian yang lebih kompleks lagi. Tujuan pemodelan sistem ini adalah untuk mempermudah pembaca dalam melihat sistem secara keseluruhan.
Blade

LDC Kec. Angin Shaft Elektrik generator (PMSG) C1 DC/DC konverter


LOAD

Gate signal

Generator Current (Idc) Rectifier Voltage (Vdc)

DC/DC konverter Controller and maximum power tracker

Gambar 2.2 Pemodelan pembangkitlistrik tenaga bayu elektro ITN Malang Prinsip kerja dari turbin angin cukup sederhana yaitu energi angin yang memutar blade dari turbin angin, kemudian diteruskan untuk memutar rotor pada generator, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Dalam hal ini tegangan AC yang dihasilkan oleh generator akan di konversikan menjadi tegangan DC untuk selanjutnya dihubungkan pada DC Bus beban. Untuk mendapatkan keluaran DC yang lebih optimal maka perlu digunakan kontrol MPPT.

Gambar 2.1 Grafik kecepatan angin terhadap permukaan tanah. Turbin Angin[2] Turbin Angin adalah sistem yang mampu mengkonversi energi angin secara langsung menjadi energi listrik. Salah satu bagian/komponen turbin angin yang berfungsi mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik adalah Generator. Generator turbin angin mempunyai karakter yang spesifik dibandingkan generator yang lainnya ,yakni mampu menghasilkan energi listrik pada putaran yang rendah (Dibawah 1000 rpm). 2.2.

Gambar 2.3 Bagian-bagian turbin angin Sistem Konversi Turbin Angin[3] Blade pada turbin angin bekerja untuk mengubah energi dari pergerakan aliran udara, kemudian mengubah energi tersebut menjadi energi rotasi untuk menggerakkan sistem mekanis pada rotor dari generator listrik. Energi kinetik dalam udara terdiri dari massa m yang bergerak dengan kecepatan v adalah sama dengan: 2.3

... (1) Daya yang bergerak di udara, jika kita mengasumsikan dengan kecepatan angin konstan, adalah: ..(2) Dimana m adalah massa laju aliran per detik. Ketika udara melewati sebuah luasan A, seperti daerah sapuan oleh rotor blade, daya dari udara tersebut dapat diperkirakan menjadi: ... (3) Rasio antara daya mekanik dengan Daya pada aliran udara yang melewati daerah sapuan dari blade disebut dengan daya koefisien cp ditunjukkan sebagai berikut: (4) Koefisien daya biasanya diguanakan sebagai fungsi dari kecepatan ujung rasio dan pitch angle blade . Pitch angel adalah sudut antara bidang rotasi dan penampang blade. Kecepatan ujung rasio turbin angin didefinisikan sebagai: .. (5) 2.4 Karakteristik Daya Rotor Daya koefisien dapat diperoleh dengan tabel kunci atau menggunakan fungsi analitis. Dalam skripsi ini, untuk menentukan daya koefisien menggunakan Tabel kunci untuk memodelkan turbin angin, yang ditunjukkan dalam [3]:
( ) ( )

Gambar 2.4 Karakteristik Tip speed ratio terhadap Cp Penting mempelajari perbandingan karakteristik torsi dan kecepatan rotasi dari turbin angin. Mengetahui kecepatan torsi karakteristik turbin angin memungkinkan untuk mengetahui besaran beban yang sesuai, dan mengoperasikan generator di wilayah stabil. perbaandingan karakteristik torsi terhadap kecepatan turbin angin sumbu horisontal ditunjukkan pada Gambar 2.5 Profil dari kurva torsikecepatan berasal dari hubungan berikut, (8) Dimana Tmech merupakan torsi mekanik pada rotor, PR daya mekanik rotor, R kecepatan sudut rotor.

Koefisien c1- c6 dan x dapat berbeda untuk berbagai turbin. tergantung pada rotor turbin angin dan desain blade. Parameter 1 / didefinisikan sebagai: . (7) Untuk tujuan simulasi nilai berikut telah dipilih untuk koefisien c1 - c6: C1 = 0,5; C2 = 116; C3 = 0,4; C4 = 0; C5 = 5; C6 = 21.

Gambar 2.5 perbandingan Torsi dengan kecepatan turbin angin. 2.5 Sistem Elektrik Untuk turbin angin yang beroperasi pada kecepatan angin yang berfluktuasi, perlu menggunakan peralatan elektronika daya untuk mengontrol dan memperoleh tegangan keluaran yang lebih optimal. Komponen pada turbin angin terdiri atas generator sinkron magnet permanen, rectifier, serta boost converter dc/dc.

2.5.1 Generator Sinkron[4] Dalam sistem konversi turbin angin energi mekanik yang dihasilkan oleh turbin angin diubah menjadi energi listrik oleh generator sinkron magnet permanen (PMSG), PMSG sangat tepat digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil yang berdiri sendri tanpa memerlukan eksitasi dari luar disamping itu generator sinkron mempunyai karakteristik bebas dari riak torsi dan strategi kontrolnya sederhana. Generator sinkron dengan magnet permanen memiliki nilai reaktansi rendah daripada jenis mesin listrik yang lain. Selain itu, generator sinkron dengan permanen magnet (PMSG) memiliki kemampuan torsi tinggi yang akan bermanfaat bagi sistem turbin angin jika terjadi hembusan angin yang keras. Mesin ini juga dapat menahan pulsations torsi berulang hingga 20% dari nillai torsi ratarata [5]. Seperti halnya prinsip generator sinkron terdapat hubungan antara frekuensi dan kecepatan yang ditunjukkan dalam, .(9) Torsi dan kecepatan yang berkaitan dengan persamaan gerak elektromekanis, ( Daya yang dinyatakan sebagai, ) (10) dapat

2.5.2

Rectifier Penyearah adalah sistem konversi/ perubahan tegangan AC menjadi tegangan DC. Gambar.2.8. menunjukkan rangkaian tiga fase, dioda penyearah jembatan gelombang penuh. Pada rangkaian tersebut, Cd berperan sebagai filter tegangan DC pada bus DC dan LS adalah induktansi dari sumber AC per-fase. Jika rectifier terhubung langsung pada generator (induksi atau sinkron), LS merupakan induktansi untuk generator tersebut.

Gambar 2.7 dioda tiga fasa penyearah jembatan penuh. Dengan asumsi LS = 0, tegangan keluaran rata-rata diberikan oleh

. (13)

Dengan Ls yang terbatas menimbulkan tegangan turun pada Vpn selama Interval pergantian sehingga tegangan keluaran DC rata-rata menjadi, .. (14) 2.5.3 DC-DC Konverter Untuk pengontrolan tegangan dc yang bervariasi perlu menggunakan dc/dc konverter. Ada banyak jenis dari dc/dc konverter diantaranya step-down (buck) converter, step-up (boost) converter, buckboost converter dan banyak lainnya. Pada gambar.2.8 Dijelaskan mengenai kerja dari step-up (boost) konverter

dihasilkan (

Gambar 2.6 Model generator sinkron satu phasa. Ketika resistansi belitan fase pada gambar 2.7 diabaikan, maka daya keluaran listrik diberikan oleh, . (12) Gambar 2.8 Step-up (boost) converter.

Fungsi rangkaian ini adalah ketika saklar ditutup, tegangan masukan yang melewati induktor (lihat Gambar 2.9 (a)), menyebabkan arus menjadi dinaikkan yang kemudian akan meningkatkan energi yang tersimpan pada induktor. Saklar yang terbuka akan memaksa induktor untuk mengalir arus melalui dioda dan beberapa energi yang tersimpan dalam induktor disalurkan ke output filter kapasitor dan output beban. Hasil rangkaian untuk mode 2 dapat dilihat pada Gambar. 9 (b).

komponen pensaklar. Boost converter bekerja berdasarkan sinyal pensaklaran, ton dan toff. Perbandingan waktu hidup (ton) terhadap jumlah waktu keduanya disebut juga dengan duty cycle .Saat saklar hidup (on), energi disimpan pada induktor menjadi medan magnet, saat saklar mati (off), energi yang tersimpan pada induktor diubah lagi menjadi listrik dan didorong oleh tegangan input menjadi tegangan output sehingga nilainya menjadi lebih besar. Tegangan ouput boost converter dapat di kontrol dengan mengatur besar duty cycle atau sinyal pensaklaran. Nilai D yaitu 0 < D <1.
Setting Tegangan DC Vdc

Pengukuran V dc (K) dan Idc (K)

Perhitungan P(K) =V dc (K) .I dc (K)

Gambar 2.9 : Boost converter: (a) Mengaktifkan (mode 1), (b) matikan (mode 2).
V dc (K) = Vdc (K-1)

P(K) = P(K-1)

P(K) = P(K-1)

III.

Model Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu ITN Malang[6][7][8]


Vdc (K-1) = Vdc (K) - Vdc Vdc (K-1) = Vdc (K) - Vdc Vdc (K-1) = Vdc (K) - Vdc Vdc (K-1) = Vdc (K) - Vdc

Metodologi yang digunakan untuk pemodelan pembangkit listrik tenaga bayu di ITN Malang menggunakan software MATLAB / SIMULINK R2008b. Turbin angin dipasang pada ketinggian 10 meter dari atas permukaan tanah dengan kecepatan angin rata-rata 6.4 m/s. 3.1 Maximum Power Point Tracker Algorithm Maksimum Power Point Tracker (MPPT) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan daya keluaran berbagai pembangkit listrik. Pada pembangkit listrik tenaga angin, metode MPPT yang cukup sederhana adalah dengan algoritma Perturbation & Observation (P&O). Algoritma ini didasarkan pada monitoring output generator dengan mengukur tegangan atau arus keluaran dari generator dan mengatur duty cycle dari dc/dc converter sesuai hasil perbandingan antara nilai daya keluaran generator. Algoritma P&O bisa dilihat pada gambar 3.1. dioda, Boost converter terdiri dari induktor, kapasitor dan Mosfet sebagai

Gambar 3.1 Algoritma P&O Pada kontroler dc dc konverter Tegangan referensi akan digunakan untuk mengontrol tegangan dc - dc penyearah pada sisi terminal. Pada konverter dc - dc menggunakan kontroler umpan balik yang sederhana. Tegangan referensi yang dihasilkan oleh Maximum Power Point Tracker algorithm akan dibandingkan dengan tegangan sebenarnya, dan kesalahan sinyal diumpankan pada kontroler PI. Kontroler PI digunakan untuk menyesuaikan duty cycle dari pensaklaran konverter. Metode kontrol ini sederhana dan handal, dan dapat diimplementasikan dengan mudah. Pada Gambar. 3.2 merupakan diagram blok dari kontroler.

Gambar 3.2 merupakan diagram blok dari kontroler.

Analisa Hasil dan Simulasi[9][10] Setelah semua permodelan sistem turbin angin yang telah dibahas pada bab III, selanjutnya akan dilakukan analisa sistem tersebut. Analisa yang dilakukan meliputi peforma daya turbin angin terhadap fluktuasi angin dan perubahan beban. hasil dari pemodelan akan didapat nilai daya yang bervariasi mengikuti fluktuasi angin itu sendiri. Pada pengujian turbin angin ini sendiri digunakan rating angin mulai dari 3 m/s sampai 8 m/s. IV.

Pada gambar 4.2 merupakan kecepatan angin pada turbin,

Gambar 4.2 Kecepatan Angin Pada Turbin 4.1 Perbandingan Hasil Tanpa MPPT Dengan Hasil Pengukuran Pada simulasi akan dilakukan pengambilan data dengan perbandingan antara data hasil pengukuran dengan hasil simulasi. Keluaran tegangan dan arus dari hasil pengukuran dan hasil simulasi akan dianalisa sehingga akan di peroleh besaran nilai error dari perbandingan tersebut. Berikut merupakan pemodelan dari sistem pembangkit listrik tenaga bayu di Teknik Elektro ITN MALANG tanpa menggunakan MPPT sebagai kontrolnya, setiap blok dalam pemodelan merupakan sebuah sub sistem yang berisi tentang model matematik untuk setiap subsistemnya.

Gambar 4.1. Kurva daya turbin terhadap kecepatan rotor generator kecepatan angin yang berfluktuasi mengikuti lingkungan sekitarnya berguna sebagai penggerak blade pada turbin angin. Untuk mengukur kecepatan angin menggunakan Anemometer, kecepatan angin dimulai dari batas minimalnya 0 m/s hingga batas maksimalnya 6.4 m/s.

Gambar 4.3 Model PLTB Tanpa MPPT

Untuk pengujian dilakukan dengan dengan beban resistif dengan daya 35 watt 24 volt. Untuk melihat hasil perbandingan dari hasil pengukuran dengan hasil simulasi bisa dilihat pada Table 4.1 Tabel 4.1. Tegangan dan arus keluaran hasil pengukuran dan simulasi tanpa MPPT

simulasi dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Untuk kecepatan angin 2.27 m/s, maka untuk menghitung error tegangan dan arusnya adalah: Nilai error tegangan :

Nilai error arus :

Tabel 4.2. Perhitungan nilai error Tegangan dan arus keluaran dari konverter

Gambar 4.4 Hasil Simulasi Tegangan Keluaran Dari Konverter Tanpa MPPT

Gambar 4.5 Hasil Simulasi Arus Keluaran Dari Konverter Tanpa MPPT Untuk mengetahui nilai error tegangan dan arus keluaran dari konverter dengan mengacu pada table perbandingan antara hasil pengukuran dengan hasil Sehingga dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai error dari masingmasing tiap kecepatan angin, nilai error rata-rata tegangan sebesar 4.41 % dan nilai error rata-rata arusnya sebesar 6.10%.

Grafik.4.1 Hasil Perbandingan Tegangan Pengukuran dengan Simulasi Tanpa MPPT Pengujian dilakukan dengan dengan beban resistif yang sama dengan daya 35 watt 24 volt. Untuk melihat hasil perbandingan dari hasil pengukuran dengan hasil simulasi bisa dilihat pada Table 4.3 Tabel 4.3 Hasil Perbandingan Antara Hasil Simulasi Tanpa MPPT Dengan Yang Menggunakan MPPT

Grafik.4.2 Hasil Perbandingan Arus Pengukuran Dengan Simulasi Tanpa MPPT 4.2 Perbandingan Hasil Tanpa MPPT Dengan MPPT

Kali ini simulasi akan dilakukan pengambilan data dengan perbandingan antara hasil pemodelan tanpa MPPT dengan hasil pemodelan dengan menggunakan MPPT. Selanjutnya hasil keluaran tegangan dan arus tersebut juga akan dianalisa untuk besaran nilai kenaikannya. Untuk nilai parameter PI pada P&O control yaitu Kp adalah 0,001 dan Ki adalah 10 . Berikut adalah pemodelan lengkap dari PLTB dengan menggunakan kontrol MPPT di mana setiap blok merupakan sebuah sub sistem yang berisi tentang model matematik untuk setiap subsistemnya.

Gambar 4.7 Hasil Simulasi Tegangan Keluaran Dari Konverter Menggunakan MPPT

Gambar 4.8 Hasil Simulasi Arus Keluaran Dari Konverter Menggunakan MPPT

Untuk mengetahui prosentase nilai kenaikan tegangan dan arus keluaran dari konverter antara hasil simulasi tanpa MPPT dan dengan MPPT yaitu dengan mengacu pada tabel perbandingan hasil simulasi tanpa MPPT dengan hasil simulasi menggunakan MPPT dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Sehingga dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai kenaikan dari tiap kecepatan angin, nilai kenaikan rata-rata tegangan sebesar 27,5% dan nilai kenaikan rata-rata arusnya sebesar 27,935%.

Grafik 4.3 Hasil Perbandingan Tegangan Tanpa MPPT Dangan Yang Menggunakan MPPT Untuk kecepatan angin 2.27 m/s, maka untuk menghitung kenaikan tegangan dan arusnya adalah: Nilai kenaikan tegangan : Grafik 4.4 Hasil Perbandingan Arus Tanpa MPPT Dangan Yang Menggunakan MPPT IV. 4.1 Nilai kenaikan arus : Penutup

Kesimpulan Hasil dari pemodelan pembangkit listrik tenaga bayu di Teknik Elektro ITN Malang dengan menggunakan bantuan software MATLAB/SIMULINK, maka dapat diambil kesimpulan : 1. Turbin angin bekerja sesuai dengan karakteristik turbin dengan kecepatan rata-rata 6,4 m/s , untuk mendapatkan Cp sebesar 0,46; daya dari turbin (Pmech) sebesar 830 watt dan TRS adalah 8,1. Power koeffisien diperoleh nilai 0.46 pada kecepatan angin 6 m/s, kerja turbin tidak optimal setelah kecepatan angin melewati nilai 8 m/s hal ini dikarenakan nilai Cp menjadi lebih kecil. Validasi model antara hasil simulasi tanpa MPPT dengan hasil pengukuran turbin angin diperoleh nilai rata-rata error tegangan sebesar 4.41% dan ratarata nilai error arus sebesar 6.10%. Hasil simulasi tanpa MPPT dengan hasil simulasi menggunakan MPPT nilai rata-rata kenaikan tegangan sebesar 27.5% dan rata-rata nilai eror arus sebesar 27.935%.

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Nilai Kenaikan Tegangan Dan Arus

2.

3.

4.

4.2

Saran Pada pemodelan ini perlu ditambahkan pengendali gerak maju balingbaling (Pitch Control) yang berfungsi untuk mengendalikan sudut pada saat sistem kelebihan beban atau kecepatan angin terlalu besar. Kemudian pengendali kecepatan dari generator (Speed Control)

10

yang berfungsi sebagai pengaturan kecepatan rotasi turbin angin. Manfaat perlu ditambahkan pengendali kontrol yang lain agar memberikan variasi sistem kontrol selain dari sistem kontrol yang sudah digunakan ini.

[9] E.Muljadi and A.Ellis, Validation of wind power plant dynamic models, in proc. IEEE PES General Meeting, Pittsburg, PA, Jul.20-24, 2008 [10] H.E. Mena Lopez, Maximum Power Tracking Control Scheme for Wind Generator Systems, Texas, A&M University, 2000

VI. Daftar Pustaka [1] J. F. Manwell, J. G. McGowan, and A. L. Rogers, Wind Energy Explained: Theory, Design and Application, West Sussex, England: John Wiley & Sons, 2002 [2] Z. Lubosny, Wind Turbine Operation in Electric Power Systems, Berlin, Germany: Springer, 2003. [3] S. N. Bhadra, D. Kastha, S. Banerjee, Wind Electrical Systems, Oxford, UK: Oxford University Press, 2005. [4] I. Batarseh, Power Electronic Circuits, Hoboken,NJ: John Wiley & Sons, 2006. [5] S.N. Bhadra, D. Kastha, S. Barnerjee, Wind Electric System, Oxford, UK: Oxford University Press, 2005. [6] R. Esmaili, L. Xu, D.K. Nichols, "A new control method of permanent magnet generator for maximum power tracking in wind turbine application," in IEEE Power Engineering Society General Meeting, Vol. 3, pp. 20902095, 12-16 June 2005. [7] H. Li; K.L. Shi, P.G. McLaren, "Neural-network-based sensorless maximum wind energy capture with compensated power coefficient," IEEE Transactions on Industry Applications, vol. 41, no. 6, pp. 15481556, Nov.-Dec. 2005. [8] FGW: Technical Guidelines for Power Generating Units. Part 4 Demandson Modeling and Validating Simulation Models of the Electrical Characteristics of Power Generation Units and System. Revision 4, Sep. 15.2009

11

12