Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan. Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua (Wikipedia, 2010) Di negara yang sedang berkembang, penyebab kematian banyak diakibatkan oleh penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi adalah diare. Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi banyak masalah kesehatan terutama peningkatan penyakit berbasis lingkungan. Salah satu dari penyakit berbasis lingkungan adalah penyakit diare. Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia (Satriya, 2008). Hasil survei pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kejadian diare pada semua usia di Indonesia adalah 423 per 1.000 penduduk dan terjadi satu-dua kali per tahun pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare (Satriya, 2008). Data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),

menunjukkan bahwa berbagai intervensi perilaku melalui modifikasi lingkungan dapat mengurangi angka kejadian diare sampai dengan 94 persen melalui pengolahan air yang aman dan penyimpanan di tingkat

rumah tangga dapat mengurangi angka kejadian diare sebesar 39 persen, melakukan praktik cuci tangan yang efektif dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 45 persen, meningkatkan sanitasi dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 32 persen, dan meningkatkan penyediaan air dapat menurunkan kejadian diare sebesar 25 persen (Elok, 2008) Kejadian seperti diare diduga disebabkan oleh ketidakamanan pangan yang lebih mengarah disebabkan oleh higien dan sanitasi yang kurang baik, ketersediaan air bersih, serta pengaruh dari tinggi rendahnya faktor pengetahuan gizi keluarga. Menurut hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun1991, 1994 dan 1997, bahwa prevalensi diare berbanding terbalik dengan tingkat pengetahuan keluarga. Makin tinggi tingkat pengetahuan keluarga tentang gizi, makin rendah prevalensi diare pada balita dan anggota keluarga lainnya (Elok, 2008). Angka kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Melati II pada tahun 2009 adalah 840 kasus,pada tahun 2010 sebanyak 626 kasus dan pada tahun 2011 sampai bulan November sebanyak 887 kasus. Terlihat bahwa angka kejadian diare masih tinggi dan cenderung makin meningkat ditambah lagi ditemukannya kasus diare pada daerah Nambongan sebanyak 7 kasus pada tanggal 20-30 November yang terjadi hampir bersamaan dalam interval 1 minggu.

B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan masalah yaitu: Apakah faktor resiko yang menyebabkan peningkatan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Sleman Yogyakarta?

C. KEASLIAN PENELITIAN Sepanjang pengetahuan peneliti, belum pernah ditemukan

penelitian mengenai faktor resiko yang menyebabkan peningkatan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Sleman Yogyakarta.

D. TUJUAN PENELITIAN Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko yang menyebabkan peningkatan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Sleman Yogyakarta.

E. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Ilmu Pengetahuan Memberikan informasi tentang faktor resiko yang menyebabkan peningkatan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Sleman Yogyakarta. 2. Bagi Mayarakat Hasil penelitian ini bagi masyarakat diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor resiko diare, sehingga masyarakat dapat mencegah terjadinya diare. 3. Bagi Peneliti Lain Hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai rujukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.

PROFIL PUSKESMAS MELATI II Puskesmas Mlati II merupakan satu dari 25 Puskesmas yang ada di Kabupaten Sleman Propinsi DIY. Dan merupakan Puskesmas yang pertama kali mendapatkan Sertifikat ISO 9001; 2000 yaitu pada tanggal 20 bulan Oktober Tahun 2004. Puskesmas Mlati II selanjutnya telah dan melaksanakan Renewal I dengan sukses serta mendapatkan Sertifikat ISO 9001;2000 kembali pada tanggal 20 bulan Oktober Tahun 2007. Dengan bukti telah terlaksananya dua kali pemberian Resertifikasi ISO 9001 ; 2000 dari SGS dan KAN yang merupakan Lembaga Sertifikasi Independen di Indonesia yang telah diakui secara International, maka Puskesmas Mlati II telah memenuhi standar pelayanan kesehatan secara International pula. Keberhasilan Puskesmas Mlati II mendapatkan Sertifikat ISO 9001 ; 2000 tersebut tidak lepas dari kerjasama yang sangat baik dari semua pihak yaitu dari Kepala Puskesmas, Koordinator Tata Usaha, Koordinator Pelayanan Klinis dan Koordinator Pelayanan Masyarakat dan Pemegang Program yang ada serta semua karyawan / karyawati Puskesmas Mlati II tanpa kecuali. Dengan keberhasilan yang telah dicapai tersebut makan konsekwensi yang sangat berat dan harus tetap dijaga secara terus menerus adalah mempertahankan mutu pelayanan sekaligus meningkatkan mutu pelayanan secara berkesinambungan. Terlepas dari hal tersebut diatas maka Puskesmas Mlati II sebagai Instansi Pemerintah yang menangani masalah kesehatan, sekaligus sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan dimasyarakat maka Puskesmas Mlati II dalam melaksanakan kegiatannya harus selalu bertolak dari program yang telah dicanangkan oleh pemerintah yaitu baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Daerah/ Kabupaten.

Visi Indonesia Sehat 2010 adalah menciptakan perilaku masyarakat Indonesia yang mempunyai perilaku dan lingkungan yang sehat antara lain: masyarakat proaktif dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan terciptanya lingkungan sehat yang meliputi: bebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan. Visi Yogyakarta Sehat 2005 adalah menciptakan masyarakat Yogyakarta yang mempunyai perilaku sehat dan mempertahankan kesehatan secara mandiri. Berbagai program kesehatan dilaksanakan dengan tujuan akhir seluruh masyarakat dapat melakukan upaya mempertahankan dan

meningkatkan derajat kesehatan secara mandiri. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan merupakan sarana sekaligus wadah dari berbagai program aplikatif tersebut. Telah terjadi perubahan pada program Puskesmas, dari 18 program lama menjadi 6 program baru ( Basic Six ). Dengan program baru tersebut Puskesmas mempunyai kewenangan untuk berimprovisasi sesuai dengan kemampuan dan karakteristik wilayah binaannya. Akan tetapi program baru ini tidak membawa banyak perubahan dalam pendekatannya. Model-model pendekatan yang dipakai hanya dengan sedikit penyesuaian, sehingga masih relevan dan efektif. Sejalan dengan Visi Indonesia Sehat 2010 dan Visi Yogyakarta Sehat 2005 tersebut, maka Puskesmas Mlati II selalu dan akan terus berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat dengan berusaha menambah poli pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan tetap berpegang pada Basic Six yang telah dicanangkan untuk Puskesmas oleh pemerintah.

a. Gambaran Umum Puskesmas Mlati II merupakan bagian dari sejarah lokal yang merupakan bangunan rumah sakit pertama di kecamatan Mlati yang pada masa pembangunannya merupakan Rumah Sakit Kolonial. Dibangun kira-kira pada tahun 1930 yang merupakan rumah sakit pertama di Cebongan yang berada di lingkungan perkebunan tebudan pabrik gula, sehinggga berdasarkan kriteria usia sudah termasuk benda Cagar Budaya. Arsitektur bergaya kolonial, kondisi saat ini masih cukup dominan meskipun sudah mengalami beberapa perubahan. Puskesmas Mlati II berada di wilayah dusun Cabakan, Kalurahan Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Puskesmas ini terletak di tepi jalan raya sehingga mudah dijangkau masyarakat. Jarak ke ibukota Provinsi DI Yogyakarta lk. 11 km, sedangkan ke ibu kota Kabupaten Sleman 6 km. Batas Wilayah Kerja Puskesmas Melati II: 1. Sebelah Utara 2. Sebelah Timur :Desa Tridadi,Kecamatan Sleman. :Desa Sendangadi,Kecamatan Mlati

3. Sebelah Selatan :Desa Sidomoyo,Kecamatan Godean 4. Sebelah Barat :Desa Margomulyo,Kecamatan Sayegan.

Dari batas-batas wilayah tersebut diatas maka Puskesmas Mlati II membawahi tiga (3) desa wilayah kerja yaitu : 1. Desa Tirtoadi 2. Desa Sumberadi dan 3. Desa Tlogoadi Dengan total luas wilayah ke tiga desa tersebut adalah 1.681 Ha.

Peta Wilayah Kecamatan Mlati-Sleman Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Melati Sleman.

a.1 Keadaan Geografis Keadaan Geografis dari masing-masing desa di wilayah kerja Puskesma Mlati II dapat kita lihat pada Tabel Berikut ini: Tabel 1. Kondisi Geografis menurut Desa Wilayah Kerja Puskesmas Mlati II Tahun 2009 Tinggi Tempat dari Permukaan Desa Air Laut 150 135 135 2526 2160 1817 Curah Hujan ratarata pertahun (Derajad) Rata-Rata Suhu

Tirtoadi Sumberadi Tlogoadi

32 27 30

a.2 Geomorfologi Bentuk wilayah kerja Puskesmas Mlati II adalah : Dataran, datar sampai dataran berombak, permukaan laut dengan ketinggian rata-rata tanah 250 mm diatas

b. Karakteristik Sosiokultural b.1 Populasi Jumlah total penduduk Kecamatan Mlati tahun 2009 yang terdiri dari 5 desa yaitu : (1). Tirtoadi (2). Sumberadi (3). Tlogoadi (4). Sendangadi (5). Sinduadi adalah 78.602. Untuk jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas

Mlati II yang hanya terdiri dari tiga desa yaitu : (1). Tirtoadi (2). Sumberadi (3). Tlogoadi tahun 2009 adalah 33.598 jiwa dengan perincian pada table dibawah berikut :

Tabel 2. Distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Tahun 2009 No Desa 1 Tirtoadi 2 3 Sumberadi Tlogoadi Jumlah Laki-laki 14509 6457 5544 26510 Wanita 4679 6675 5734 17088 Jumlah 9188 13132 11278 33598

Tabel 3. Populasi penduduk berdasarkan Kelompok Umur di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Tahun 2009 No Kelompok Umur Jumlah Jiwa Prosentase 1 0 - 6 tahun 3059 9,10 2 3 4 5 6 7 7 -12 tahun 13 - 18 tahun 19 - 24 tahun 25 - 55 tahun 56 79 tahun 80 tahun keatas 5256 6034 4042 6127 6039 3041 33598 Tabel 4. Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan diwilayah kerja Puskesmas Mlati II Tahun 2009 Jenis Pendidikan Tirtoadi Sumberadi Tlogoadi Belum sekolah 622 954 861 Tidak Tamat SD Tamat SD / sederajat Tamat SMP/sederajat Tamat SMA/sederajat Tamat akademi Tamat PT Jumlah 293 2557 2523 2799 169 227 9190 388 2768 2902 5463 328 329 13132 408 3144 2840 3486 294 245 11278 15,64 17,95 12,03 18,23 17,97 9,05 100

No 1 2 3 4 5 6 7

Jumlah 2437 1089 8469 8265 11746 791 801 33598

Tabel 5. Distribusi mata pencaharian penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mlati II Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis mata pencaharian Petani Sawah Petani Perkebunan Peternakan Perikanan Industri Bsr -Sedang Industri Kecil Bangunan Pedagang Angkutan PNS TNI Pensiunan Tirtoadi 1119 170 1001 35 4 188 137 153 13 253 46 156 Sumberadi 1374 161 974 112 16 197 123 190 9 441 52 207 Tlogoadi 1530 168 1110 64 4 198 220 261 25 275 43 99 Jumlah 4023 499 3085 211 24 583 480 604 56 939 414 462

II.

Diare 1. Diare Pada Anak a. Definisi Diare didefinisikan sebagai meningkatnya frekuensi buang air besar dan berubahnya konsistensi menjadi lebih lunak atau bahkan cair. Diare akut menurut Cohen adalah keluarnya buang air besar sekali atau lebih yang berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan diare dengan karakteristik peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi, dapat disertai atau tanpa gejala dan tanda seperti mual, muntah, demam atau sakit perut yang berlangsung selama 3-7 hari. Neonatus dikatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 x, sedangkan untuk bayi

10

berumur > 1 bulan dan anak, bila frekuensinya > dari 3 x dalam 24 jam (Hassan, 1985).

b. Etiologi Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor 1) Faktor infeksi a) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang

merupakan penyebab utama diare pada anak Infeksi enteral meliputi : Infeksi bakteri : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Compylobacter, Yersinia, Aeromonas. Infeksi virus : Rotavirus (40-60%), Enterovirus, Adenovirus, Norwalk, Astrovirus, Calcivirus, Coronavirus,

Minirotavirus, dan virus bulat kecil. Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans). b) Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun. 2) Faktor malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa,maltose dan sukrosa),monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa) Pada bayi dan anak-anak, yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa. 2) Malabsorbsi lemak 3) Malabsorbsi protein 3) Faktor makanan Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan

11

4) Faktor psikologis Rasa takut dan cemas dapat menimbulkan diare pada anak yang lebih besar, tetapi frekuensinya jarang.

c. Manifestasi Klinis Mula-mula bayi menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sesudah atau sebelum diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput mukosa bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Tabel 6 Karakteristik pada 3 tipe diare akut Karakteristik Tempat Non inflamatory Usus Inflammatory Penetrating Usus halus

halus Kolon

bagian proksimal Gambaran tinja Watery Volume >> Leukosit (-) Demam (-) Bloody,mucus Volume sedang Leukosit PMN (+)

bagian distal Mucus Volume sedikit Leukosit MN (+)

12

Nyeri perut Dehidrasi Tenesmus Komplikasi

(-) (+++) (-) Hipovolemik

(+) (+) (+) Toksik

(+)/(-) (+)/(-) (-) Sepsis

d. Patogenesis Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah: 1) Gangguan osmotik Makanan atau zat yang tidak dapat diserap tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat air dan elektrolit bergeser ke dalam rongga usus isi usus berlebihan merangsang usus untuk mengeluarkan diare 2) Gangguan sekresi Rangsangan (toksin) sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus meningkat peningkatan isi rongga usus diare

3) Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik kesempatan usus untuk menyerap makanan berkurang diare Peristaltik usus menurun bakteri tumbuh berlebihan diare Patogenesa terjadinya diare yang disebabkan oleh virus

(Rotavirus): virus masuk kedalam tubuh bersama makanan dan minuman setelah virus sampai kedalam enterosit (sel epitel usus halus) akan menyebabkan infeksi serta kerusakan jonjot-jonjot (villi) usus halus. Enterosit yang rusak diganti oleh enterosit yang baru yang berbentuk kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang, sehingga fungsinya masih belum baik. Jonjot-jonjot usus mengalami atrofi dan tidak dapat

13

mengabsobpsi cairan dan makanan dengan baik, cairan dan makanan yang tidak terserap dan tercerna akan meningkatkan tekanan koloid osmotic usus, usus meningkatkan mortalitasnya (hiperperistaltik) sehingga cairan beserta makanan yang tidak terserap akan didorong keluar usus melalui anus sehingga terjadi diare. Diare karena virus biasanya tidak berlangsung lama, hanya beberapa hari (3-4 hari) dapat sembuh tanpa pengobatan (Self Limiting Disease). Bakteri penyebab diare dapat dibagi dua golongan besar, yaitu bakteri non invasif dan bakteri invasif. Diare karena bakteri invasif dan non invasif terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transport ion dalam sel-sel usus berikut ini:cAMP (Cyclic Adenosin Monophosphate), cGMP (Cyclic Guanosin

Monophosphate), Ca-dependent, dan pengaturan ulang sitoskeleton. Terjadinya diare non invasi (V. cholerae) sebagai berikut: Bakteri masuk kedalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut. Bakteri tertelan dan masuk ke lambung, di dalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, namun jika jumlah bakteri cukup banyak maka ada yang lolos sampai ke dalam usus 12 jari (duodenum). Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya sampai 100 juta koloni atau lebih per ml cairan usus halus. Dengan memproduksi enzyme mucinase bakteri berhasil

mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membran (dinding sel epitel). Didalam membran bakteri mengeluarkan toksin yang disebut subunit A dan subunit B. subunit B akan melekat didalam membran dari subunit A dan akan bersentuhan dengan membran sel serta mengeluarkan cAMP. cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi, tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut. Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan tersebut, volume cairan didalam lumen usus akan bertambah banyak. Cairan ini akan
14

menyebabkan dinding usus menggelembung dan tegang sebagai reaksi dinding usus akan mengadakan kontraksi sehingga terjadi hipermortilitas atau hiperperistaltik untuk mengalirkan cairan ke bawah atau ke usus besar. Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan

kemampuannya untuk menyerap cairan yang bertambah banyak, tentu saja ada batasnya. Peningkatan sampai 4500ml (4,5Lt) masih belum terjadi diare, tetapi bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya untuk menyerap, maka terjadilah diare. Toksin V. cholerae dapat bertahan didalam tubuh selama 36-72 jam dan masih tetap akan menyebabkan diare walaupun kumannya mati. Diare karena kolera dapat berlangsung sangat cepat sehingga kehilangan cairan dapat mencapai 5-10 liter sehingga dapat menyebabkan kematian yang cukup banyak. Patogenesis terjadinya diare oleh bakteri invasif agak berbeda dengan bakteri non invasif, tetapi prinsipnya hampir sama, bedanya

bakteri dapat melakukan invasi (menembus) sel mukosa usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi sistemik (demam, kram perut dan sebagainya). Toksin Shiigella spp dapat masuk kedalam serabut saraf otak dan dapat menyebabkan kejang. Diare oleh salmonella dan shigella sering juga menyebabkan adanya darah dalam tinja, suatu keadaan yang disebut disentri. e. Langkah Diagnostik Dari anamnesis yang harus ditanyakan adalah adanya diare berlangsung akut atau kronik. Frekuensi defekasi sehari serta kira-kira banyaknya feses setiap kali BAB, konsistensi tinja, warnanya (hitam, hijau, kuning, putih), baunya (busuk/anyir), serta tinja disertai lendir dan/atau darah. Konsistensi tinja yang cair dengan warna seperti air cucian beras mungkin mengarahkan diagnosis pada kolera, tinja lembek yang disertai lendir dan darah, apabila disertai dengan tenesmus seringkali khas untuk amebiasis intestinal. Selain rasa mulas, tenesmus serta kolik, perlu ditanyakan mengenai keluhan-keluhan lain yang menyertai diare misalnya

15

terdapat muntah, sesak nafas, kejang, gangguan kesadaran, kencing berkurang, lemas, lecet di dubur, dan sebagainya. Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah memeriksa pasien untuk menetukan derajat dehidrasi, jika terdapat dehidrasi pada anak. Dilakukan pemeriksaan pada keadaan umum pasien,ubun-ubun besar,

turgor kulit, mata (palpebra), air mata, selaput lendir, urin. Cari adanya darah, lendir dalam tinja. Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab dari diare, yaitu: 1) Pemeriksaan tinja Makroskopis dan mikroskopis pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi laktosa Jika perlu, dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi

2) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH dan cadangan alkali. 3) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. 4) Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang. 5) Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

f. Komplikasi Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti : 1) Dehirasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik) 2) Renjatan hipovolemik 3) Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram) 4) Hipoglikemia

16

5) Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan villi mukosa usus halus 6) Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik 7) Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

g. Terapi Dasar penatalaksanaan pada pasien diare 1) Rehidrasi Salah satu komplikasi diare yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari memberikan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin, kuah sayur atau sup. Bila terjadi dehidrasi, anak harus segera dibawa ke petugas kesehatan. Cairan Rehidrasi Oral (CRO) yang dianjurkan WHO selama 3 dekade terakhir ini menggunakan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa telah berhasil menurunkan angka kematian akibat dehidrasi pada diare, karena kombinasi gula dan garam dapat meningkatkan penyerapan cairan di usus. Sesuai dengan anjuran WHO saat ini dianjurkan penggunaan CRO dengan formula baru yaitu dengan komposisi Natrium 75 mmol/L, Kalium20 mmol/L, Klorida 65 mmol/L, Sitrat 10 mmol/L, Glukosa 75 mmol/L. Total osmolaritas 245 mmol/L. rehidrasi disesuaikan dengan derajat dehidrasi. Plan A (penderita diare tanpa dehidrasi) Terapi dilakukan di rumah. Menerangkan 4 cara terapi diare di rumah : a) Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi b) Berikan tablet Zinc. Dosis yang digunakan untuk anak-anak : Anak dibawah usia 6 bulan : 10 mg ( tablet) per hari

17

Anak diatas usia 6 bulan

: 20 mg (1 tablet) per hari

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, walaupun anak sudah sembuh. Cara pemberian tablet zinc pada bayi, dapat

dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit. c) Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi. Teruskan ASI / berikan susu PASI Bila anak 6 bulan / lebih, atau telah mendapatkan makanan padat : Berikan bubur, bila mungkin campur dengan kacang-kacangan, sayur, daging / ikan. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur sop tiap porsi Berikan sari buah / pisang halus untuk menambah kalium Berikan makanan segar, masak dan haluskan / tumbuk dengan baik Bujuklah anak untuk makan Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan berikan makanan tambahan setiap hari selama 2 minggu d) Bawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita sebagai berikut : Buang air besar cair lebih sering Muntah terus menerus Rasa haus yang nyata Makan atau minum sedikit Demam Tinja berdarah Anak harus diberi oralit dirumah apabila : Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C

18

Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke petugas kesehatan merupakan kebijakan

pemerintah. Ketentuan pemberian oralit formula baru : Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 L air matang, untuk persediaan 24 jam. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali BAB, dengan ketentuan sebagai berikut : Untuk anak usia < 2 tahun buang air. Untuk anak usia > 2 tahun kali buang air. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan itu harus dibuang. : berikan 100-200 mL tiap : berikan 50-100 mL tiap kali

Plan B (penderita diare dengan dehidrasi tak berat) a) Menentukan oralit untuk 3 jam pertama Jumlah oralit yang diperlukan = 75ml/kgBB

Umur BB Jml cairan

Sampai 4 bln < 6 kg 200 400

4 12 bln 6 10 kg 400 700

12 24 bln 10 12 kg 700 900

2 5 thn 12 -19 kg 900-1400

b) Menunjukkan pada orang tua cara pemberian oralit

19

Minum sedikit-sedikit tapi sering. Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian dengan lebih lambat. Lanjutkan ASI selama anak mau c) Beri tablet zinc 10 hari Setelah 3 jam,ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasinya. Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan. lanjutkan lagi

20

Plan C ( penderita diare dengan dehidrasi berat


Apakah ada terapi IV terdekat (dalam 30 menit) ? - Kirim penderita untuk terapi intravena. - Bila penderita bisa minum, sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya selama perjalanan. - sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya selama perjalanan.

Ya

Tidak
- Mulai rehidrasi mulut dengan oralit melalui pipa nasogastrik atas mulut. Berikan 20 mL/kgBB/jam selama 6 jam (total 120 mL/kgBB). - Nilailah penderita tiap 1-2 jam : Bila muntah / perut kembung, berikan cairan perlahan. Bila rehidrasi tidak tercapai selama 3 jam, rujuk penderita untuk terapi IV. - Setelah 6 jam, nilai kembali penderita dan pilih rencana terapi yang sesuai.

Apakah saudara dapat menggunakan pipa nasogastrik untuk rehidrasi ?

Tidak

Catatan :
Segera rujuk anak untuk rehidrasi melalui NGT atau IV

Bila mungkin, amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan bahwa ibu dapat mengembalikan cairan yang hilang dengan memberi oralit. Bila usia > 2 thn, pikirkan kemungkinan kolera dan berikan antibiotik yang tepat secara oral setelah anak sadar.

21

2) Dukungan nutrisi Makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat, untuk pengganti nutrisi yang hilang serta mencegah agar tidak menjadi gizi buruk. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan. ASI tetap diberikan selama terjadinya diare pada diare cair akut maupun pada diare akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. Anak umur 6 bulan keatas sebaiknya mendapat makanan seperti biasanya. Pengobatan dietatik a) Anak > 1 tahun dan anak < 1 tahun dengan BB < 7 kg Jenis makanan : Susu (ASI, susu formula rendah laktosa dan asam lemah tak jenuh, misal LLM) Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) Susu khusus, yaitu susu yang tidak mengandung laktosa, atau sesuai dengan kelainan yang ditemukan b) Anak > 1 tahun dengan BB > 7 kg Jenis makanan : makanan padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah. 3) Suplementasi zinc Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, dapat mengurangi lama dan beratnya diare dan dapat mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan anak. Dosis zinc : anak-anak < 6 bulan = 10 mg (1/2 tablet)/hari anak-anak > 6 bulan = 20 mg (1 tablet)/hari Cara pemberian tablet zinc, untuk bayi tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.

22

Tunjukkan cara penggunaan tablet zinc kepada orang tua dan meyakinkan bahwa pemberian tablet zinc harus diberikan selama 1014 hari berturut-turut meskipun anak sudah sembuh. Zinc merupakan mikronutrien yang penting sebagai kofaktor lebih dari 90 jenis enzim. Zinc berperan dalam penguatan system imun, telah ditunjukkan bahwa zinc berperan penting dalam modulasi sel T dan sel B. Serta zinc berperan dalam menjaga keutuhan epitel usus. 4) Antibiotik selektif Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi yaitu pada diare berdarah dan kolera. Obat pilihan untuk pengobatan disentri berdasarkan WHO 2005 adalah dengan golongan quinolon seperti ciprofloxacin dengan dosis 30-50

mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari. Pemeriksaan tinja dapat dilakukan untuk menyingkirkan adanya amebiasis. Temuan trofozoit atau kista amuba atau giardia mendukung diagnosis amebiasis atau giardiasis. Berikan metronidazol 7,5 mg/kgBB 3x/hari untuk kasus amebiasis dan metronidazol 5mg/kgBB 3x/hari sehari untuk kasus giardiasis selama 5 hari. Pemberian antibiotic yang tidak rasional, akan memperpanjang lamanya diare karena akan

mengganggu keseimbangan flora usus dan Clostridium defficile yang akan tumbuh dan menyebaban diare sulit disembuhkan. Selain itu, pemberian antibiotic yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotik. 5) Pengobatan simptomatis Obat antidiare. Obat yang bersifat menghentikan diare secara cepat seperti antispasmodik/spasmolitik memperburuk keadaan atau karena opium akan justru akan

menyebabkan

terkumpulnya cairan di lumen usus dan akan menyebabkan bakteri berlipat ganda, gangguan digesti dan absorpsi.

23

Adsorbent Obat adsorbent seperti kaolin, pectin telah dibuktikan tidak ada manfaatnya.

Antiemetik Terbukti selain mencegah muntah juga mengurangi sekresi dan kehilangan cairan bersama tinja.

Antipiretik Berguna untuk menurunkan panas akibat dehidrasi atau panas karena infeksi.

6) Edukasi orang tua Nasehat kepada orang tua untuk segera membawa anak kembali ke petugas kesehatan jika ada demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau belum membaik dalam 3 hari. Indikasi rawat inap pada diare akut berdarah adalah malnutrisi, usia < 1 tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya dehidrasi dan disentri yang disertai dengan komplikasi.

h. Pencegahan Peningkatan Kesehatan Perorangan dan Lingkungan: 1) Gunakan Air bersih Yang Cukup 2) Cuci Tangan Dengan Sabun dan Air Bersih 3) Berak di Jamban 4) Buang Tinja Bayi di Jamban Peningkatan Daya Tahan Tubuh, melalui : 1) Pemberian Asi 2) Pemberian Makan Pendamping ASI 3) Imunisasi Campak

24

2. Diare Pada Dewasa a. Definisi Diare adalah buang air besar dengan tinja lembek(setengah cair) dengan frekuensi lebih dai 3x sehari atau dapat berbentuk cair saja. b. Klasifikasi Diare 1) Diare Akut: mendadak dan berlangsung dalam beberapa jam sampai 14 hari. Etiologi: Infeksi (90%): Virus, bakteri, parasit. Non Infeksi (10%): Malabsobsi, alergi makanan,keracunan,efek samping obat, dll. 2) Diare Kronis : diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu Etiologi: Infeksi : Bakteri, protozoa, virus, helminth, fungus. Non Infeksi : Gangguan fungsional saluran cerna (IBS), malabsorbsi, kanker saluran cerna,efek samping obat, bagian dari penyakit sistemik lain (tirotokikosis). c. Patofisiologi 1) Diare Osmotik Diare terjadi karena adanya gangguan absorbsi, bahan-bahan yang tidak dapat diserap oleh usus sehingga bahan-bahan tersebut akan meningkatkan osmolaritas dalam lumen dan seterusnya akan menarik air dari plasma. 2) Diare Sekretorik Diare yang terjadi karena adanya ganguan transport akibat perbedaan osmotic intralumen dengan mukosa yang begitu besar sehingga terjadi penarikan cairan dan elektrolit kedalam lumen usus dalam jumlah yang besar, terjadi penurunan absobsi. Pada diare bentuk ini khas berupa volume tinja yang banyak.

25

3) Diare Inflamasi Diare disebabkan oleh karena proses inflamasi pada mukosa usus, sehingga terjadi produksi lendir yang berlebihan eksudasi air dan elktrolit ke dalam lumen gangguan absobsi air, dan elektrolit.

d. Terapi 1) Terapi Cairan Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi 3 tingkatan: a) Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB): gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak, pasien belum jatuh dalam presyok. b) Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB): turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam c) Dehidrasi berat (hilang ciaran 8-10% BB): tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis) Skor Daldiyono Defisit cairan (cc) = SKOR/15 X Berat Badan (kg) X 1 liter Haus/Muntah Tekanan Darah Sistolik 60-90 mmHg Tekanan Darah Sistolik <60 Frekuensi Nadi >120x Kesadaran Apatis Kesadaran somnolen/sopor/koma Frekuensi nafas >30x/menit Facies Cholerica Vox Cholerica Turgor kulit menurun "Washer Woman Hand" Ekstremitas dingin Sianosis 1 1 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2

26

Umur 50-60 tahun Umur >60 tahun

-1 -2

2) Terapi kausal Diare akut umumnya ringan, self lmited disease sehinga pemberian antibiotika sesuai indikasi: Antibiotika diberikan pada kausa : a) Kolera b) Diare lebih dari 8x perhari c) Diare dengan demam d) Diare berlendir dan / atau berdarah

Blum menjelaskan bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu genetic, environment, health service, dan behavior. Dalam kajian ilmu epidemiologis sosial faktor genetik bisa digantikan dengan faktor sosial demografi (menkokesra.go.id, 2007 online). Pengaruh perilaku dan lingkungan terhadap derajat kesehatan sangat dominan hingga mencapai 75%, sedangkan pengaruh pelayanan kesehatan hanya sekitar 20%, sementara faktor genetik hanya memiliki pengaruh 5%. Penduduk/Genetik

Lingkungan

Derajat Kesehatan

Pelayanan kesehatan

Perilaku Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan menurut Teori Blum Menurut Notoatmodjo (2005) perilaku dipandang dari segi biologis adalah kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan. Konsep

27

perilaku menurut Green (1990, cit Azwar)

adalah bahwa perilaku

dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong. Berdasarkan analisis Blum (1956, cit Azwar) dalam konteks kesehatan, maka yang mempengaruhi derajat kesehatan terdiri dari faktor lingkungan, keturunan, pelayanan kesehatan dan perilaku masyarakat itu sendiri. Secara keseluruhan keempat faktor tersebut mempunyai derajat atau tingkat pengaruh yang berbeda-beda. Green (1980, cit Azwar) menganalisis perilaku manusia dalam hal kesehatan. Dalam mencapai kualitas hidup yang baik (quality of life) dapat dicapai melalui peningkatan derajat kesehatan, faktor perilaku dan gaya hidup (behavior and lifestyle) serta lingkungan (environment). Yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan adalah faktor perilaku dan gaya hidup serta lingkungan, misalnya seorang menderita diare karena minum air yang tidak masak (masalah perilaku) atau seseorang yang tidak merokok terkena kanker paru akibat berada di lingkungan orang yang merokok (masalah lingkungan). Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi perilaku masyarakat dan sering juga disebut determinan perilaku yaitu : a. Predisposing factor (faktor pemudah), faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Ikhwal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: untuk berperilaku kesehatan. b. Enabling factor (faktor pemungkin), faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya tempatpembelian kondom, tempat konsultasi, tempat berobat, ketersediaan kondom/kemudahan mendapatkan kondom, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, dokter paktek swasta, dan sebagainya. Untuk berperilaku sehat masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung.

28

c. Reinforcing factor (faktor penguat), faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas, lebih-lebih para petugas kesehatan. Di samping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Menurut Blum (1956, cit Azwar), perilaku sangat luas dan kompleks dan dapat dibagi menjadi tiga domain atau ranah yaitu : cognitive, affective dan psychomotor. Dalam perkembangannya, teori Blum ini

dimodifikasikan untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan menjadi : Knowledge (Pengetahuan), Attitude ( Sikap) dan Practice (Tindakan) atau disingkat KAP. 1. Knowledge (Pengetahuan). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan (pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba). Menurut Rogers (1974, cit Azwar) sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi beberapa proses sbb: a. Awareness (kesadaran), seseorang menyadari dan mengetahui adanya stimulus. b. Interest, mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation, menimbang-nimbang/ mengevaluasi baik tidaknya stimulus tersebut terhadap dirinya. d. Trial, mencoba perilaku baru e. Adoption, telah terjadi perilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

29

Rogers (1974, cit Azwar) juga menyimpulkan bahwa proses adopsi baru akan relatiflebih langgeng jika didasari pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif. 2. Attitude ( Sikap) Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2005). Tingkatan sikap adalah : a. Receiving (menerima), seseorang (subject) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (object) b. Responding ( merespon), merespon/ mengerjakan tugas yang diberikan. c.Valuing (menghargai), mengajak orang lain untuk

mengerjakan/mendiskusikan sesuatu masalah. d. Responsible (Bertanggung-jawab), bertanggung-jawab atas sesuatu yang telah dipilihnya walau apapun risiko dan tantangannya. Menurut Allport (1954, cit Azwar) sikap mempunyai tiga komponen pokok yaitu : a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep suatu objek b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek c. Kecendrungan untuk bertindak Ketiga komponen sikap tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh dan dalam penentuan sikap ini, pengetahuan, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. 3. Practice (Tindakan) Menurut Notoatmodjo (2005) tindakan adalah sesuatu yang dilakukan; perbuatan. Tindakan terdiri dari empat tingkatan yaitu : a. Perception (persepsi), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan di ambil. b. Guided response (respon terpimpin), melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.

30

c. Mechanism (mekanisme), telah terjadi mekanisme dan melakukan sesuatu secara otomatis dan akan menjadi kebiasaan. d. Adoption (adopsi), tindakan yang sudah berkembang dengan baik

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menurut Notoatmodjo (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bidang kesehatan yaitu: 1. Latar Belakang Latar belakang yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bidang kesehatan dibedakan atas: pendidikan, pekerjaan, penghasilan, normanorma yang dimiliki dan nilai-nilai yang ada pada dirinya, serta keadaan sosial budaya yang berlaku. 2. Kepercayaan dan Kesiapan Mental Perilaku seseorang dalam bidang kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan orang tersebut terhadap kesehatan serta kesiapan mental yang dipunyai. Kepercayaan tersebut setidak-tidaknya menjadi manfaat yang akan diperoleh, kerugian yang didapat, hambatan yang diterima serta kepercayaan bahwa dirinya dapat diserang penyakit. 3. Sarana Tersedia atau tidaknya sarana yang dimanfaatkan adalah hal yang penting dalam munculnya perilaku seseorang di bidang kesehatan, betapapun positifnya latar belakang, kepercayaannya dan kesiapan mental yang dimiliki tetapi jika sarana kesehatan tidak tersedia tentu perilaku kesehatan tidak akan muncul. 4. Faktor Pencetus Dalam bidang kesehatan peranan faktor pencetus cukup besar untuk memunculkan perilaku kesehatan yang diinginkan. Seringkali dijumpai seseorang baru berperilaku kesehatan tertentu bila sudah ada masalah kesehatan sebagai pencetus, seperti penyakit kulit.

31

5. Perubahan Perilaku Perubahan perilaku berarti individu mulai menerapkan sesuatu yang baru (inovasi), lain daripada yang sebelumnya.

III.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Manfaat Rumah Tangga Sehat Bagi rumah tangga: Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit Anak tumbuh sehat dan cerdas Anggota keluarga giat bekerja Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga Bagi masyarakat: Mampu mengupayakan lingkungan sehat Mampu mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan Mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada Mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti Posyandu, Tabulin, arisan jamban, dll

10 PHBS rumah tangga yang minimal dilakukan di masyarakat 1. 2. 3. 4. 5. 6. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan Memberi bayi ASI eksklusif Menimbang bayi dan balita Menggunakan air bersih Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menggunakan jamban sehat

32

7. Memberantas jentik di rumah 8. Makan buah dan sayur setiap hari 9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari 10. Tidak merokok di dalam rumah

Kerangka Konsep

PERILAKU Pengetahuan : Definisi diare Penyebab diare Cara penularan Gejala diare Terapi diare Pencegahan diare Sikap: Penularan diare Cara hidup bersih dan sehat Perilaku: Latar belakang Sarana PHBS

SOSIAL DEMOGRAFI Umur Jenis kelamin Tingkat pendidikan Pekerjaan Penghasilan keluarga

Insidensi Diare

PELAYANAN KESEHATAN Tempat berobat Tanggapan tempat pelayanan kesehatan Usaha temapat pelayanan kesehatan Kepuasan terhadap pelayanan kesehatan Keterjangkauan Kaderisasi Penyuluhan

LINGKUNGAN Penderita di sekitar

33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan desain deskriptif observasional dengan survey menggunakan instrumen kuesioner di wilayah Puskesmas Melati II Kabupaten Sleman Yogyakarta.

B. POPULASI PENELITIAN 1. Populasi Populasi adalah setiap subjek yang memenuhi kriteria yang telah diterapkan.. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota keluarga yang diwakili oleh kepala keluarga masing-masing dilingkungan sekitar keluarga penderita diare. 2. Sampel Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga pada rumah yang berada disekitar penderita diare yang berjumlah 30 responden dengan teknik pengambilan purposive sampling.

C. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Melati II, Nambongan , Tlogoadi, Sleman, Yogyakarta dan dilaksanakan pada tanggal 15-17 Desember 2011.

34

D. MATRIKS PRIORITAS MASALAH

No

Daftar Masalah P 5 4 3 2 S 1 5 5 1

Importancy RI 1 5 5 3 DU 1 2 4 2 SB 1 1 3 2 PB 1 2 4 2 PC 4 2 1 1

Jumlah

1 2 3 4

ISPA Hipertensi Diare Kehamilan dengan anemia

3 5 5 5

4 3 3 2

168 315 375 130

Kehamilan < 20 tahun

120

Prioritas masalah yang ditentukan adalah berdasarkan laporan bulanan penyakit tahun 2010-2011 dan masalah yang banyak terjadi pada saat mengikuti kegiatan Clinical Health Experience di puskesmas. Masalahmasalah tersebut antara lain: ISPA, hipertensi, diare, kehamilan dengan anemia, kehamilan usia kurang dari 20 tahun. Utntuk menentukan prioritas masalah digunakan matriks yang komponen penilaiannya terdiri dari importancy ( tingkat kepentingan), technology, resource, yang kemudian dinilai dan hasil tertinggi didapatkan diare menempati urutan pertama prioritas masalah.

E. INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga terhadap diare. Data diperoleh dengan cara memberikan angket yang diisi oleh kepala keluarga. Jawaban dari responden diisi pada bagian yang sudah tersedia. Jenis kuesioner adalah pertanyaan tertutup dan terbuka yaitu pada

35

beberapa pertanyaan sudah tersedia jawaban sehingga responden mudah untuk memilih jawaban yang dianggap benar (Arikunto, 2000).

F. METODE PENGAMBILAN DATA Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan sendiri pengumpulan data, sebelumnya disamakan persepsi antar anggota peneliti, setelah itu baru antar anggota peneliti melakukan pengumpulan data melalui kuesioner yang berisi pertanyaan. Kuesioner diisi oleh responden yang dibantu oleh peneliti.

36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dilakukan pada 30 responden yang merupkan wakil dari keliarga atau kepala keluarga di Dusun Nambongan, Desa Tlogoadi, kecamatan Melati, Kabupaten Sleman yang merupakan wilayah dimana terdapat kejadian diare yang meningkat didaerah tersebut. Penelitian dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap responden, adapun informasi yang diambil dalam penelitian ini adalah berupa pendidikan dari kepala keluarga, pekerjaan, perkiraan penghasilan keluarga dalam satu bulan untuk karakteristik dari keluarga dan informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku pada keluarga tentang diare dan perilaku hidup bersih dan sehat. Berikut ini merupakan distribusi responden berdasarkan pendidikan yang ditunjukkan pada tabel 8. Tabel 6 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan N 2 5 8 7 8 0 30

Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SMP Lulus SMA Lulus D3/S1 Total

% 6,7 16,7 26,7 23,3 26,7 0 100.0

Tabel 8 menjelaskan mengenai distribusi responden berdasarkan pendidikan. Responden yang mempunyai riwayat yang tidak lulus SD sebanyak 5 orang dengan prosentase 16,7%, Lulus SD 8orang (26,7%), Lulus SMP 7 orang (23,3%), Lulus SMA sebanyak 8 orang (26,7%), dan 2 orang tidak bersekolah dengan prosentase 6,7%, sedangkan tidak ada responden ynag Lulus D3/S1. Responden dengan tingkat pendidikan SD dan SMA paling dominan dan tingkat pendidikan perguruan tinggi paling sedikit.

37

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan


SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi Tidak Sekolah

30%

34%

3%

13%

20%

Faktor pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan responden terhadap penyakit diare, sehingga akan mempengaruhi respon keluarga terhadap terjadinya diare dan pola hidup sehari-hari dalam menjaga kebersihan dan berperilaku hidup sehat. Data yang kedua adalah distribusi responden berdasarkan pekerjaan yang dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini Tabel 7 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan N 3 12 11 1 3 30

Pekerjaan Petani Swasta Buruh PNS Lain-lain Total

% 10 40 36,7 3,3 10 100.0

Tabel 9 menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan. Responden dengan pekerjaan petani sebanyak 3 orang (10%), swasta sebanyak 12 orang (40%), Buruh (36,7%), PNS (1%), lain-lain (10%). Responden dengan jenis pekerjaan paling dominan adalah berwiraswasta dengan prosentase 40%, sedangkan responden dengan jenis pekerjaan paling sedikit adalah PNS.

38

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan


Wiraswasta 20% Petani 3% Buruh 27%

Pedagang 27% Ibu Rumah Tangga 23% Tabel 8 Penghasilan keluarga per bulan N 3 16 11 30

Jumlah penghasilan

% 10 53,3 36,7 100.0

> Rp.1.000.000,Rp.500.000 Rp.1.000.000,< Rp.500.000 Total

Tabel 10 menunjukkan penghasilan dari keluarga dalam satu bulan dimana keluarga yang mempunyai penghasilan lebih dari satu juta rupiah sebanyak 3 keluarga (10%), sedangkan keluarga dengan penghasilan antara limaratus ribu rupiah sampai satujuta sebanyak 16 keluarga (53,3%), dan keluarga dengan penghasilan kurang dari limaratus ribu rupiah sebanyak 11orang (36,7%). Penghasilan keluarga perbulan kebanyakan sebesar antara limaratus ribu sampai satujuta rupiah dengan 16 responden, sedang penghasilan keluarga perbulan paling sedikit adalah lebih dari satu juta rupiah dengan 3 keluarga (10%).

39

Pengetahuan Responden Tentang Cara Penularan Cacar Air


Kontak dengan penderita cacar air Gigitan Nyamuk Tidak tahu 0% Tingkat pengetahuan tentang diare di masyarakat meupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui bagaimana masyarakat mengenali tentang penyakit diare apabila salah satu anggota keluarga tersebut terkena diare, selain itu tingkat pengetahuan juga dapat mengetahui respon dari suatu keluarga dalam menangani atau menanggapi serta mencegah penyakit diare dikeluarga atau masyarakat. Berikut ini adalah tabel tingkat pengetahuan responden tentang penyakit diare. Tabel 9 Pengetahuan Responden Tentang Diare Tingkat Pengetahuan N Baik Kurang Total 17 13 30

47% 53%

% 56,67 43,33 100.0

Tabel 11 menunjukkan pengetahuan responden tentang penyakit diare. Responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang penyakit diare sebanyak 17 orang dengan prosentase 56,67%. Responden yang kurang mengetahui tentang penyakit diare sebanyak 13 orang dengan prosentase 43,33%. Hasil pengambilan data ini didapatkan bahwa responden lebih banyak yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang penyakit diare.

40

Pengetahuan Responden Tentang Cara Pencegahan Cacar Air

Menghindari kontak 50% 47% Berdekatan dengan penderita agar tertular Tidak tahu 3%

Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Dengan adanya sikap ini dapat mempengaruhi tentang perilaku masyarakat.berikut ini adalah tabel tentang sikap responden berdasarkan data atau informasi yang didapatkan dari kuesioner. Tabel 10 Sikap responden tentang penyakit diare N 17 13 30

Sikap responden Baik kurang Total

% 56,67 43,33 100.0

Tabel 12 menunjukkan sikap responden tentang penyakit diare. Responden yang mempunyai sikap yang baik tentang penyakit diare sebanyak 17 orang dengan prosentase 56,67%. Responden yang mempunyai sikap yang kurang peka terhadap penyakit diare sebanyak 13 orang dengan prosentase 43,33%. Hasil pengambilan data ini didapatkan bahwa responden lebih banyak yang mempunyai sikap yang baik tentang penyakit diare.

41

Tempat Berobat Penderita Cacar Air


7%

7%

23%

Puskesmas Dokter Paramedis

30% 33%

Alternatif Tidak berobat

Berikut ini adalah tabel mengenai hasil wawancara tentang perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan responden dalam kehidupan sehari-hari. Tabel 11 Jumlah responden tentang perilaku hidup bersih dan sehat Perilaku Baik Buruk Total N 14 16 30 % 46,7 53,3 100

Dari hasil wawancara responden tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam penerapannya sehari hari kebanyakan dari responden belum menerapkan perilaku hidup yang bersih dan sehat dalam keluarga, dengan jumlah responden yang perilaku hidup sehat dan bersih yang uruk sebesar 53,3%.

42

Pengadaan Penyuluhan Tentang Cacar Air Dalam 3 Bulan Terakhir


0% 17% ada 83% tidak ada

ALTERNATIF JALAN KELUAR

Masalah

Penyebab Ketidaktahuan masyarakat tentang cara penularan dan pencegahan Lingkungan tempat tinggal masyarakat yang kurang sehat dan memadai

Alternatif Penyuluhan Diare

Tingginya angka kejadian diare beberapa bulan terakhir

Kurangnya partisipasi masyarakat dalam memperoleh informasi

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan memakan makanan yang bergizi, tinggi proten, zinc. Menjaga kebersihan lingkungan Menerapkan PHBS Penggiatan peran serta masyarakat (arisan atau kerja bakti)

43

Untuk mengatasi prioritas masalah yang sudah ditetapkan, terdapat beberapa alternative jalan keluar menurut penyebab masalah. Untuk menentukan alternative jalan keluar yang terbaik digunakan matriks prioritas jalan keluar.

MATRIKS PRIORITAS JALAN KELUAR

N o. 1 2 3

Daftar Alteratif Jalan Keluar Menjaga kebersihan lingkungan Menerapkan PHBS Meningkatkan daya tahan tubuh dengan memakan makanan yang bergizi, tinggi proten, zinc. Penyuluhan Diare Penggiatan peran serta masyarakat (arisan)

Efektifitas M I V 3 3 3 4 2 4 2 4 4

Efisiensi Jumlah 3 2 2 9 32 8

4 5

3 2

2 2

2 3

2 2

6 6

Matriks prioritas jalan keluar dirumuskan dengan menghitung efektifitas dan efisiensi tertinggi dari berbagai alternatif jalan keluar yang ada. Dari hasil perhitungan matriks diatas didapatkan menerapkan PHBS pada masalah yang diangkat merupakan jalan keluar terbaik.

44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

I.

KESIMPULAN Diare masih menjadi masalah atau kasus yang sering dijumpai tidak hanya pada balita, namun juga pada dewasa. Insidensi kejadian diare yang masih cukup banyak pada wilayah kerja puskesmas Melati II, berdasarkan survey yang telah dilakukan terutama akibat factor resiko yang masih sulit untuk dikendalikan. Faktor resiko terhadap peningkatan angka kejadian diare yaitu: a. Kurangnya pengetahuan tentang diare b. Sikap mengenai diare yang cenderung salah c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang terkendala berbagai hal

Berdasarkan efektivitas dan efisiensi jalan keluar, penerapan PHBS bagi seluruh warga merupakan langkah paling tepat mengingat dengan adanya modifikasi dan intervensi perilaku hidup yang jelek dapat mengurangi tingginya angka kejadian diare. Ketiga hal dibawah ini merupakan PHBS yang mutlak harus dilakukan: Menggunakan air bersih Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menggunakan jamban sehat II. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan matriks pemecahan masalah yang telah dilakukan, solusi dari masalah yang ditemukan adalah menerapkan PHBS dengan edukasi pada warga mengenai pentingnya dan cara penerapannya serta dengan menyelesaikan kendala-kendala yang mungkin berperan sebagai penghambat.

45

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A; 1996. Pengantar administrasi Kesehatan. Bina rupa Aksara Elok, 2008. Lingkungan, Sanitasi Buruk, Ancam Kehidupan. Togar Arifin Silaban.htm. Togar Arifin Silaban 2007. Powered by wordpress & enhanced. Guyton, Arthur.C, MD., Hall, John.E, Ph.D. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC. Hassan, Rupeno. Dr., Alatas, Hussein. Dr. 1985. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian IKA-FKUI, Infomedika. Juffrie. M, dr. Nenny Sri Mulyani,dr. Pusponegoro, Modul Pelatihan Diare: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Nototmojo, S. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta Satriya, 2008. Diare Pada Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad / FK-UNRI, Diponegoro, Pekanbaru. www. Unri. com. Susyanto, M.Bambang Edi, dr, Sp(A). 2009. Study Guide, Panduan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. WHO. 2008. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Diare

Wikipedia, 2010. Diare. www.Wikipedia.com.

46