Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK II ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA

1. 1. 1. 1. 1. 1. 1.

Nia Julyanti Rini Astuti Erin Adelina Wa Endang Amelia Faisal Soamole Sandi B Laweru

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN ALMA ATA PRODI S-1 ILMU KEPERAWATAN YOGYAKARTA 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA ini dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih pada Dosen yaitu Ibu Army Najmuna S. Kep., Ns. yang telah memberikan arahan dan tugas ini serta teman-teman semuanya yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan untuk

teman-teman dan bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah jauh dari sempurna, maka kami butuh saran agar makalah ini menjadi lebih baik.

Penulis

Yogyakarta, 1 Maret 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................... KATA PENGANTAR ...................................................................................................... DAFTAR ISI..................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .................................................................................... B. TUJUAN PENULISAN .................................................................................. C. MANFAAT ..................................................................................................... BAB II TINJAUAN TEORI A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. DEFINISI RETINOBLASTOMA .................................................................. ETIOLOGI ...................................................................................................... KLASIFIKSI ................................................................................................... TANDA DAN GEJALA ................................................................................. MANIFESTASI KLINIS ................................................................................ PATOFISIOLOGI ........................................................................................... PATHWAY ..................................................................................................... PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................................................... PENATALAKSANAAN ................................................................................ KOMPLIKASI ................................................................................................ PROGNOSIS...................................................................................................

i ii iii

4 4 5

6 6 6 7 7 8 9 10 10 11 12

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA A. PENGKAJIAN ................................................................................................ B. PRIORITAS MASALAH ............................................................................... C. INTERVENSI KEPERAWATAN .................................................................. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ..................................................................................................... B. Saran ................................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 20 20 13 15 15

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Retinoblastoma adalah salah satu penyakit kanker primer pada mata yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan, melainkan juga kematian. Di negara berkembang, upaya pencegahan dan deteksi dini belum banyak dilakukan oleh para orang tua. Salah satu sebabnya adalah pengetahuan yang masih minim mengenai penyakit kanker tersebut. Dalam penelitian menyebutkan bahwa 5-10% anak usia prasekolah dan 10% anak usia sekolah memiliki masalah penglihatan. Namun seringkali anak-anak sulit menceritakan masalah penglihatan yang mereka alami. Karena itu, skrining mata pada anak sangat diperlukan untuk mendeteksi masalah penglihatan sedini mungkin. Skrining dan pemeriksaan mata anak sebaiknya dilakukan pada saat baru lahir, usia 6 bulan, usia 3-4 tahun, dan dilanjutkan pemeriksaan rutin pada usia 5 tahun ke atas. Setidaknya anak diperiksakan ke dokter mata setiap 2 tahun dan harus lebih sering apabila telah ditemukan masalah spesifik atau terdapat faktor risiko. Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan tujuan berbagi pengetahuan tentang penyakit retinablastoma ke masyarakat luas dan rekan-rekan mahasiswa keperawatan yang mana di negara Indonesia masih kurang di perhatikan.

B. TUJUAN PENULISAN Tujuan Umum Untuk mengetahui secara umum mengenai penyakit retinoblastoma serta asuhan keperawatan yang tepat terhadap penyakit retinoblastoma tersebut. Tujuan Khusus Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan retinoblastoma, Penulis mampu : 1. Untuk mengetahui definisi dari penyakit retinoblastoma. 2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit retinoblastoma. 3. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit retinoblastoma. 4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit retinoblastoma. 5. Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit retinoblastoma.

6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan pada pasien retinoblastoma. 7. Untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap pasien retinoblastoma. 8. Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi pada penyakit retinoblastoma. 9. Untuk mengetahui prognosis penyakit retinoblastoma. 10. Untuk msengetahui asuhan keperawatan yang tepat pada pasien retino blastoma.

C. MANFAAT Manfaat yang diharapkan dari smateri-materi pada makalah ini adalah : 1. Sebagai suatu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan menganalisa askep pada pasien dengan retinoblastoma yang telah didapat dari materi. 2. Sebagai masukan bagi semua mahasiswa dalam upaya menjelaskan maupun berdiskusi dalam perkuliahan. 3. Dapat digunakan sebagai acuan dan referensi dalam pembelajaran. 4. Kita yang nantinya sebagai tenaga kesehatan dapat mengetahui dan paham akan asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien retinoblastoma, sehinggga didunia rumah sakit nanti dapat menerapkan asuhan keperawatan ke pasien retinoblastoma dengan tepat.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI RETINOBLASTOMA Retinoblastoma adalah suatu tumor ganas yang mengenai retina pada suatu atau kedua mata( Suriadi dan Rita Yuliani ). Retinoblastoma merupakan tumor ganas intraokular yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retino embrional (Mansjoer, 2005). Retinoblastoma adalah Tumor ganas dalam bola mata pada anak dan bayi sampai 5 tahun ( Sidarta Ilyas, 2002 ). Jadi dari beberapa pengertian diatas disimpulakan bahwa retinoblastoma adalah penyakit kanker mata (retina) pada anak usia kurang dari 5 tahun. B. ETIOLOGI Retinoblastoma terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu alel dominan protektif yang berada dalam pita kromosom 13g14. Bisa karena mutasi atau diturunkan. Mutasi terjadi akibat perubahan pada rangkaian basa DNA. Peristiwa ini dapat timbul karena kesalahan replikasi, gerakan, atau perbaikan sel. Mutasi dalam sebuah sel benih akan ditransmisikan kepada turunan sel tersebut. Sejumlah faktor, termasuk virus, zat kimia, sinar ultraviolet, dan radiasi pengion, akan meningkatkan laju mutasi. Mutasi kerapkali mengenai sel somatic dan kemudian diteruskan kepada generasi sel berikutnya dalam suatu generasi.

C. KLASIFIKSI Retinoblastoma terbagi atas IV stadium, masing-masing: 1. Stadium I: menunjukkan tumor masih terbatas pada retina (stadium tenang). 2. Stadium II: tumor terbatas pada bola mata. 3. Stadium III: terdapat perluasan ekstra okuler regional, baik yang melampaui ujung nervus optikus yang dipotong saat enuklasi. 4. Stadium IV: ditemukan metastase jauh ke dalam otak. D. TANDA DAN GEJALA 1. Leukokoria merupakan keluhan dan gejala yang paling sering ditemukan.

2. Tanda dini retinoblastoma adalah mata juling, mata merah atau terdapatnya warna iris yang tidak normal. 3. Tumor dengan ukuran sedang akan memberikan gejala hipopion, di dalam bilik mata depan, uveitis, endoftalmitis, ataupun suatu panoftalmitis. 4. Bola mata menjadi besar, bila tumor sudah menyebar luas di dalam bola mata. 5. Bila terjadi nekrosis tumor, akan terjadi gejala pandangan berat. 6. Tajam penglihatan sangat menurun. 7. Nyeri 8. Pada tumor yang besar, maka mengisi seluruh rongga badan kaca sehingga badan kaca terlihat benjolan berwarna putih kekuning-kuningan dengan pembuluh darah di atasnya.

E. MANIFESTASI KLINIS Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata. Bila letak tumor dimakula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di vitreus (Vitreous seeding) yang menyerupai endoftalmitis. Bila sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata , akan menyebabkan glaucoma atau tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus optikus ke otak, melalui sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat menonjol kebadan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar limfe preaurikular dan submandibula dan, hematogen, ke sumsum tulang dan visera, terutama hati.

F. PATOFISIOLOGI Teori tentang histogenesis dari Retinoblastoma yang paling banyak dipakai umumnya berasal dari sel prekursor multipotensial (mutasi pada lengan panjang kromosom pita 13, yaitu 13q14 yang dapat berkembang pada beberapa sel retina dalam atau luar. Pada intraokular, tumor tersebut dapat memperlihatkan berbagai pola pertumbuhan yang akan dipaparkan di bawah ini.

Retinoblastoma Intraokular dapat menampakkan sejumlah pola pertumbuhan, pada pola pertumbuhan endofitik, ini tampak sebagai gambaran massa putih sampai coklat muda yang menembus membran limitan interna dan kadang berhubungan dengan vitreus seeding. Sel-sel dari Retinoblastoma yang masih dapat hidup terlepas dalam vitreous dan ruang sub retina dan biasanya dapat menimbulkan perluasan tumor melalui mata. Vitreous seeding sebagian kecil meluas memberikan gambaran klinis mirip endopthalmitis,vitreous seeding mungkin juga memasuki bilik mata depan, yang dapat berkumpul di iris membentuk nodule atau menempati bagian inferior membentuk Pseudohypopyon. Tumor Eksofitik biasanya kuning keputihan dan terjadi pada ruang subretinal, yang mengenai pembuluh darah retina dan sering kali terjadi peningkatan diameter pembuluh darah dengan warna lebih pekat. Dan berasal dari lapisan luar retina dan meluas ke koroid menyebabkan solid RD, dapat meluas hingga ke sklera. Dengan penyebaran tumor sepanjang ruang sub arachnoid ke otak. Sel Retinoblastoma paling sering keluar dari mata dengan menginvasi saraf optikus dan meluas kedalam ruang sub arachnoid. Pola yang ketiga adalah Retinoblastoma yang tumbuh menginfiltrasi luas yang biasanya unilateral, nonherediter, dan ditemukan pada anak yang berumur lebih dari 5 tahun. Pada tumor dijumpai adanya injeksi conjunctiva, anterior chamber seeding, pseudohypopyon, gumpalan besar sel vitreous dan tumor yang menginfiltrasi retina, karena masa tumor yang dijumpai tidak jelas, diagnosis sering dikacaukan dengan keadaan inflamasi seperti pada uveitis intermediate yang tidak diketahui etiologinya. Sel tumor mungkin juga melewati kanal atau melalui slera untuk masuk ke orbita. Perluasan ekstraokular dapat mengakibatkan proptosis sebagaimana tumor tumbuh dalam orbita. Pada bilik mata depan, sel tumor menginvasi trabecular messwork, memberi jalan masuk ke limphatik conjunctiva. Kemudian timbul kelenjar limfe preauricular dan cervical yang dapat teraba.

G. PATHWAY Kelainan kromosom (tidak adanya Rb 1)

Timbul konus (sel tidak terbentuk sempurna)

Retinoblastoma

Mata juling, mata merah

Dx : Nyeri

Eksofilik

Penurunan tajam penglihatan Endofilik Dx : Cemas Timbul Sebaran metastas melalui spatium sub retina atau melalui tumor vitreous.

Dx : Gangguan intregitas jaringan

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Ultra Sonografi dan Tomografi komputer dilakukan terutama untuk pasien dengan metastase keluar misalnya dengan gejala proptosis bola mata. 2. Elektroretino-gram (ERG), bergun untuk menilai kerusakan luas pada retina. 3. Elektro-Okulogram (EOG). 4. Visual Evoked Respons (VER), berguna untuk mengetahui adanya perbedaan rangsangan yang sampai ke korteks sehingga dapat diketahui adanya gangguan rangsangan / penglihatan pada seseorang.

I. PENATALAKSANAAN Semua tujuan terapi adalah merusak tumor dan mempertahankan penglihatan yang memungkinkan tanpa membahayakan hidup. Terapi primer retinoblastoma unilateral biasanya enuklasi, kendatipun pada kasus-kasus tertentu, alternatif seperti krioterapi, fotokoagulan atau radiasi dapat dipertimbangkan. 1. Tumor intraocular Dini : besar tumor < 4 disc diameter dan tebal < 2,5 mm tergantung lokasi tumor dapat dilakukan tindakan fotoagulasi dan atau krioterapi. Untuk tumor lanjut intraokular yang belum terjadi vitreous seeding, bola mata dipertahankan tanpa dilakukan enukleasi dengan cara kemoreduksi pemberian kemoterapi kombinasi Carboplatin etoposide dan vitreuos sebanyak 2 siklus untuk mengecilkan massa tumor dilanjutkan fokal terapi dengan fotokoagulasi atau terapikrio. Lanjut : stadium 4 intraokular dan tajam penglihatan nol dilakukan tindakan bedah pengangkatan bola mata (enukleasi). Pengobatan selanjutnya tergantung dari pemeriksaan patologi anatomi. Bila hasil pemeriksaan patologi anatomi pada RB unilateral menunjukkan tumor telah menembus sklera atau infiltrasi difus kekoroid atau korpus; pengobatan dilanjutkan dengan kemoterapi. Khusus untuk kasus dengan infiltrasi N.optikus post laminar pengobatan dilanjutkan dengan radioterapi dan kemoterapi. Harus diingat bahwa pemberian radioterapi pada anak < 2 tahun tidak dianjurkan.Untuk tumor bilateral tindakan pengobatan sesuai dengan masing-masing stadium tumor. Bila hasil PA menunjukkan perluasan ekstratraokular pengobatan dilanjutkan dengan kemoterapi dengan atau tanpa radioterapi. 2. Tumor ekstraokular

Klinis dengan protopsis : Bila secara radiologi pada RB unilateral tidak ditemukan destruksi tulang orbita,perluasan intrakranial dalam (-), metastasis jauh ( BMP / LP ) ( -) ; dilakukan tindakan bedah mengangkat seluruh isi rongga mata (eksenterasi orbita), dilanjutkan dengan radioterapi ( usia > 2 tahun ) dan kemoterapi. Bila secara radiologis pada RB unilateral ditemukan destruksi dinding orbita, a t a u metastase intrakranial dengan atau tanpa metastase jauh, tidak perlu dilakukan tindakan bedah dan diberikan : radioterapi ( usia > 2 tahun ) dan kemoterapic. Tumor disertai pembesaran kelenjar regional, penderita diberikan pengobatan: radiasi ( >2 tahun ) pada orbita dan kelenjar limfe yang membesar dilanjutkan dengan kemoterapid. Tumor dengan metastasis jauh pada stadium lanjut ini gambaran kliniknya dapat sangat bervariasi pada masing-masing penderita, oleh karenanya pengobatan berdasarkan penilaian secara tersendiri kasus demi kasus ialah kemoterapi dan radioterapi dapat dipertimbangkan kemudian. Pasien harus terus dievaluasi seumur hidup karena 20 90 % pasien retinoblastoma bilateral osteosarkoma. akan menderita tumor ganas primer, terutama

J. KOMPLIKASI Komplikasi dari penyakit retinoblastoma adalah : 1. Ablasio Retina Ablasio adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina (RIDE). keadaan ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia berapapun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua. 2. Glukoma Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.

3. Kebutaan

K. PROGNOSIS Berdasarkan klasifikasi intraokuler menurut Reese & Elsworth untuk grup I prognosisnya sangat baik dengan angka kematian rendah. Untuk grup II prognosisnya baik dengan angka kematian 60 %. Untuk grup III prognosisnya meragukan dengan angka kematian 90 % dan untuk grup IV angka kematiannya 100 %. Berdasarkan klasisikasi retinoblastoma Study Committee (ekstraokuler), grup I memiliki angka kematian cukup tinggi, Grup II angka kematiannya 60 %, grup III angka kematiannya 90 % dan grup IV angka kematiannya 100 %.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA

A. PENGKAJIAN 1. Biodata a. Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, No register, dan diagnosa medis. b. Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia, pendidikan, pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat. c. Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin, hubungan dengan klien, dan status kesehatan. 2. Keluhan utama Keluhan dapat berupa perubahan persepsi penglihatan, demam, kurang nafsu makan, gelisah, cengeng, nyeri pada luka post operasi, terjadi infeksi pada luka post op, serta perawatan dan pengobatan lanjutan dari tindakan operasi. 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat Kesehatan Sekarang Gejala awal yang muncul pada anak. Bisa berupa bintik putih pada mata tepatnya pada retina, terjadi pembesaran, mata merah dan besar. b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan Kemungkinan memakan makanan/minuman yang terkontaminasi, infeksi ditempat lain misal: pernapasan. c. Riwayat kesehatan keluarga Berkaitan erat dengan penyakit keturunan dalam keluarga, misalnya ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama. 4. Pemberian Sistem a. Aktivitas Gejala: kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya. Tanda: kelelahan otot. Peningkatan kebutuhan tidur, somnolen. b. Sirkulasi Gejala: palpitasi. Tanda: takikardi, mur-mur jantung. Kulit, membran mukosa pucat.

Defisit saraf kranial dan/atau tanda perdarahan cerebral. c. Eliminasi Gejala: diare; nyeri tekan perianal, nyeri. Darah merah terang pada tisu, feses hitam. Darah pada urine, penurunan haluaran urine. d. Integritas ego Gejala: perasaan tak berdaya/tak ada harapan. Tanda: depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang. Perubahan alam perasaan, kacau. e. Makanan/cairan Gejala: kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah. Perubahan rasa/penyimpangan rasa. Penurunan berat badan. f. Neurosensori Gejala: kurang/penurunan koordinasi. Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi, ukuran konsisten. Pusing, kebas, kesemutan parastesi. Tanda: otot mudah terangsang, aktivitas kejang. g. Nyeri/ketidaknyamanan Gejala: nyeri orbital, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, nyeri tekan sternal, kram otot. Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus, pada diri sendiri. h. Pernapasan Gejala: napas pendek dengan kerja minimal. Tanda: dispnea, takipnea, batuk. Gemericik, ronki. Penurunan bayi napas. i. Keamanan Gejala: riwayat infeksi saat ini/dahulu, jatuh.. Gangguan penglihatan/kerusakan. Perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma minimal. Tanda: demam, infeksi. Kemerahan, purpura, perdarahan retinal, perdarahan gusi, atau epistaksis. Pembesaran nodus limfe, limpa, atau hati (sehubungan dengan invasi jaringan)

Papil edema dan eksoftalmus. j. Seksualitas Gejala: perubahan libido. Perubahan aliran menstruasi, menoragia. k. Penyuluhan/pembelajaran Gejala: riwayat terpajan pada kimiawi, mis; benzene, fenilbutazon, dan kloramfenikol(kadar ionisasi radiasi berlebihan, pengobatan kemoterapi sebelumnya, khususnya agen pengkilat. Gangguan kromosom, contoh sindrom down atau anemia franconi aplastik.

B. PRIORITAS MASALAH 1. Nyeri akut b.d proses penyakit,inflamasi 2. Kerusakan integritas jaringan b.d radiasi (kiroterapi) 3. Cemas b.d perubahan status kesehatan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN NO. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : Pain Level, Pain control, Definisi : pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang Comfort level Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nyeri berkurang Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal NIC : Pain Management Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi Intervensi

1.

Nyeri akut b.d proses penyakit,inflamasi

muncul akibat kerusakan dengan kriteria hasil: jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusaknan sedemikian rupa (International Assosiation for the Study of Pain); awitan

yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung < 6 bulan. Batasan Karakteristik: Perubahan tekanan darah Perubahan frekuensi jantung Perubahan frekuensi pernafasan Indikasi nyeri yang dapat di amati Perubahn posisi untuk menghindari nyeri Melaporkan nyeri secara verbal Gangguan tidur

nyeri Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri Tingkatkan istirahat Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Analgesic Administration Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi Cek riwayat alergi Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri Tentukan analgesik pilihan,

rute pemberian, dan dosis optimal Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping) 2. Kerusakan integritas jaringan b.d radiasi (kiroterapi) NOC : Tissue integrity : skin and mucous membranes Wound healing : primary and secondary intention Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kerusakan integritas jaringan teratasi dengan kriteria hasil: Perfusi jaringan normal Tidak ada tanda-tanda infeksi Ketebalan dan tekstur jaringan normal Menunjukkan NIC : Pressure ulcer prevention Wound care Jaga kulit agar tetap bersih dan kering Monitor kulit akan adanya kemerahan Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien Monitor status nutrisi pasien Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan nekrotik,

pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cidera berulan Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka Kolaborasi ahli gizi pemberian diet TKTP, vitamin Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka

3.

Cemas b.d perubahan status kesehatan

NOC : Anxiety control Coping Impulse control Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam rasa cemas pasien brkurang dengan kriteria hasil: Keluarga mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas Keluarga dapat mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

NIC : Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) Gunakan pendekatan yang menenangkan Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur Pahami prespektif pasien terhdap situasi stres Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut Dorong keluarga untuk menemani anak Lakukan back / neck rub Dengarkan dengan penuh

Definisi : Perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai respon autonom (sumner tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu) : perasaan keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan peringatan adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk

menyetujui terhadap tindakan Batasan karakteristik : Gelisah Insomnia Resah Ketakutan Sedih Fokus pada diri Kekhawatiran Cemas

Vital sign dalam batas normal Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

perhatian Identifikasi tingkat kecemasan Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi Barikan obat untuk mengurangi kecemasan

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel kerucut sel batang) atau sel glia yang bersifat ganas. Merupakan tumor ganas intraokuler yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Dapat terjadi kebutaan bahkan dapat menyebabkan kematian. Tumor berasal dari jaringan retina embrional. Dapat terjadi unilateral (70%) dan bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom. Pasien dengan retinoblastoma harus diberikan perawatan secara intensif dan perlunya pengetahuan dari pihak keluarga agar penyakit tersebut tidak mengalami komplikasi. Dan kita sebagai perawat harus mampu memberikan edukasi tentang gejala dini retinoblastoma agar dapat segera diobati. B. SARAN Diharapkan dengan hadirnya makalah ini, mahasiswa maupun praktisi kesehatan dapat lebih memahami asuhan keperawatan pada anak dengan retinoblastoma dan dapat mengimplementasikan dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E. dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15. EGC, Jakarta. Mansjoer, A. Et. Al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Edisi III. Catatan IV. Abkulapius FK-VI. Jakarta. NANDA (2009). Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2009-2012. Philadelphia: NANDA International. www.scribd.com. Asuhan Keperawatan Retinoblastoma. Diakses tanggal 19 maet 2013