Anda di halaman 1dari 12

RHEUMATOID ARTHRITIS 1. Pengertian Reumatoid Arthritis adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai system organ.

. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui penyebabnya. ( Price, S.A. 2005) Reumatoid arthritis adalah suatu bentuk sinovitis kronik yang parah yang dapat

mengakibatkan destruksi dan ankilosis sendi-sendi yang terkena. (Robbins, 1999) Reumatoid arthritis adalah suatu penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan degenerasi jaringan penyambung. Jaringan penyambung yang biasanya mengalami kerusakan pertama kali adalah membrane synovial yang melapisi sendi. (Corwin, 2009) Reumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama. (Suarjana, 2009) Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.(Hidayat, 2006) Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )

Gambar sendi lutut normal dan rheumatoid arhtritis

2. Faktor resiko/penyebab Faktor risiko yang akan meningkatkan risiko terkenanya reumatoid artritis adalah; Jenis Kelamin. Perempuan lebih mudah terkena RA daripada laki-laki. 75% penderitanya adalah wanita. Perbandingannya adalah 2-3:1. Faktor hormonal dalam individu dapat menjelaskan beberapa fitur dari penyakit, seperti terjadinya lebih tinggi pada wanita, onset tidak jarang setelah melahirkan, dan modulasi (sedikit) dari risiko penyakit oleh obat hormonal. Persis bagaimana peraturan ambang diubah memungkinkan memicu respon autoimun tertentu masih belum jelas. Namun, satu kemungkinan adalah bahwa mekanisme umpan balik negatif yang biasanya menjaga toleransi diri yang dikalahkan oleh menyimpang mekanisme umpan balik positif untuk antigen tertentu seperti IgG Fc (terikat oleh RF) dan fibrinogen citrullinated (terikat oleh ACPA) Umur. Artritis reumatoid biasanya timbul antara umur 40 sampai 60 tahun. Namun penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak (artritis reumatoid juvenil). Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999). Riwayat Keluarga. Apabila anggota keluarga anda ada yang menderita penyakit artritis rematoid maka anda kemungkinan besar akan terkena juga. Hubungan genetik dengan HLA-DR4, serta asosiasi yang baru ditemukan dengan PTPN22 gen dan dengan dua gen tambahan, semua melibatkan ambang diubah dalam regulasi dari respon imun adaptif. Hal ini juga menjadi jelas dari penelitian terbaru bahwa faktor-faktor genetik dapat berinteraksi dengan faktor risiko yang paling jelas didefinisikan lingkungan untuk rheumatoid arthritis, yaitu merokok. Gaya hidup Merokok dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid. Merokok merupakan faktor lingkungan lain yang juga muncul untuk memodulasi risiko terjadinya. Mengkonsumsi rokok dan mengandung salisilat, konsumsi kopi lebih dari 3 kali/ hari, khusunya kopi decaffeinated meningkatkan resiko terkena rematoid atritis.

Imunologi Semua elemen imunologi utama memainkan peran penting dalam propogasi, inisiasi, dan pemeliharaan dari proses autoimun AR. Peristiwa seluler dan sitokin yang mengakibatkan konsekuensi patologis kompleks, seperti poliferasi sinova dan kerusakan sendi berikutnya.

3. Tanda dan Gejala Menurut Robbins dalam buku saku dasar patologi penyakit menyebutkan bahwa, gejala klinis AR bervariasi, sebagian besar pasien mengalami gejala prodormal seperti malaise, demam, lemah dan nyeri musculoskeletal. Pasien dengan penyakit ringan tanpa disertai sekuele. Deformitas sendi juga merupakan gejala yang khas serta terdapat manifestasi ekstra artikuler. Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. a. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. b. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang. c. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat bersifat generalisata tatapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari 1 jam. d. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan ini dapat dilihat pada radiogram. e. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang

timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak ekstensi. f. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat. g. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak. Manifestasi neurologis Manifestasi neurologis sering terjadi pada penderita artritis reumatoid kronis dengan faktor reumatoid positif. Sering terjadi neuropati. Neuropati kompresi atau jepitan terjadi akibat pembengkakan jaringan ikat yang menekan saraf tepi. Paling sering terjadi kompresi saraf medianus pada pergelangan tangan yang dikenal sebagai sindroma terowongan karpal (carpal tunnel syndrome). Neuropati sensoris bagian distal dengan disestesia atau rasa terbakar pada tangan atau kaki yang terjadi kadang sukar dibedakan dengan gejala artritisnya. Mielopati dapat terjadi pada penderita AR karena sering terlibatnya vertebra servikalis dan menimbulkan penyempitan kanalis spinalis pada fleksi leher setelah terjadi subluksasi atlantoaksial. Gejala akibat gangguan sirkulasi posterior berupa vertigo dan kelemahan akibat kompresi atau trombosis arteria vertebralis. Manifestasi Artikular Manifestasi artikular ini dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversible dan gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel. Sangat penting untuk membedakan kedua hal ini karena penatalaksanaan kedua kelainan tersebut sangat berbeda. Sinovitis merupakan kelainan yang umumnya bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non-surgikal lainnya. Pada fihak lain kerusakan struktur persendian akibat kerusakan rawan sendi atau erosi tulang periartikular merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan modifikasi mekanik atau pembedahan rekonstruktif.

Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari. Kekakuan pada pagi hari merupakan gejala yang selalu dijumpai pada AR aktif. Berbeda dengan rasa kaku yang dapat dialami oleh pasien osteoartritis atau kadangkadang oleh orang normal, kaku pagi hari pada AR berlangsung lebih lama, yang pada umumnya lebih dari 1 jam. Lamanya kaku pagi hari pada AR agaknya berhubungan dengan lamanya imobilisasi pada saat pasien sedang tidur serta beratnya inflamasi. Gejala kaku pagi hari akan menghilang jika remisi dapat tercapai. Faktor lain penyebab kaku pagi hari adalah inflamasi akibat sinovitis. Inflamasi akan menyebabkan terjadinya imobilisasi persendian yang jika berlangsung lama akan mengurang pergerakan sendi baik secara aktif maupun secara pasif. Otot dan tendon yang berdekatan dengan persendian yang mengalami peradangan cenderung untuk mengalami spasme dan pemendekan. Fenomen ini terutama jelas terlihat pada otot intrinsik tangan yang berjalan sepanjang persendian

metacarpophalangeal, (MCP) dan otot peroneus anterior yang berjalan sepanjang persendian talonavikularis pada arkus pedis. Deformitas persendian pada AR dapat terjadi akibat beberapa mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya sinovitis dan pembentukan pannus. Sinovitis akan menyebabkan kerusakan rawan sendi dan erosi tulang periartikular sehingga menyebabkan terbentuknya permukaan sendi yang tidak rata. Jika kerusakan rawan sendi terjadi pada daerah yang luas dan imobilisasi berlangsung lama, akan terjadi fusi tulang-tulang yang membentuk persendian. Lebih jauh pannus yang menginvasi jaringan kolagen serta proteoglikan rawan sendi dan tulang dapat menghancurkan struktur persendian sehingga terjadi ankilosis. Ligamen yang dalam keadaan normal berfungsi untuk mempertahankan kedudukan persendian yang stabil dapat pula menjadi lemah akibat sinovitis yang menetap atau pembentukan pannus yang memiliki kemampuan melarutkan kolagen tendon, ligamen atau rawan sendi. Gangguan stabilitas dapat jelas terlihat pada subluksasio persendian MCP akibat terjadinya perubahan arah gaya tarik tendon sepanjang aksis rotasi sehingga menyebabkan terbentuknya deviasi ulnar yang khas dan AR. Walaupun peran sinovitis dalam menyebabkan deformitas persendian berlaku bagi semua persendian, terdapat beberapa aspek khusus yang berhubungan dengan sendi terten

Vertebra Servikalis Walaupun AR jarang melibatkan segmen vertebralis lainnya, vertebra servikalis merupakan segmen yang sering terlibat pada AR. Proses inflamasi ini melibatkan persendian diartrodial yang tidak tampak atau teraba oleh pemeriksaan. Gejala dini AR pada Vertebra servikalis umumnya bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai dengan berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh.1 Tenosinovitis ligamen transversum C1 yang mempertahankan kedudukan prosesus odontoid C2 dapat menyebabkan timbulnya gangguan stabilitas C1- C2. Mielopati dapat timbul akibat terjadinya erosi prosesus odontoin yang menyebabkan pengenduran dan ruptura ligamen sehingga menimbulkan penekanan pada medulla spinalis. Gangguan stabilitas sendi akibat peradangan dan kerusakan pada permukaan sendi apofiseal dan pengenduran ligamen juga dapat menyebabkan terjadinya subluksasio yang sering dijumpai pada C4-C5 atau C5 -C6. Gelang Bahu Peradangan pada gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu. Karena dalam aktivitas sehari-hari gerakan bahu tidak memerlukan lingkup gerak yang luas, umumnya pada keadaan dini pasien tidak merasa terganggu dengan keterbatasan tersebu. Walaupun demikian, tanpa latihan pencegahan akan mudah terjadi kekakuan gelang bahu yang berat yang disebut sebagai frozen shoulder syndrome. Siku Karena terletak superfisial, sinovitis artikulasio kubiti dapat dengan mudah teraba oleh pemeriksa. Sinovitis dapat menimbulkan penekanan pada nervus ulnaris sehingga menimbulkan gejala neuropati tekanan. Gejala ini bermanifestasi sebagai parestesia jari 4 dan 5 akan kelemahan otot fleksor jari 5 Tangan Berlainan dengan persendian distal interphalangeal (DIP) yang relatif jarang dijumpai, keterlibatan persendian pergelangan tangan, MCP dan PIP hampir selalu dijumpai pada AR. Gambaran swan neck deformities akibat fleksi kontraktur MCP, heperekstensi PIP dan fleksi DIP serta boutonniere akibat fleksi PIP dan hiperekstensi DIP dapat terjadi akibat kontraktur otot serta tendon fleksor dan interoseus merupakan deformitas patognomonik yang banyak dijumpai pada AR Selain gejala yang berhubungan dengan sinovitis, pada AR juga dapat dijumpai nyeri atau disfungsi persendian akibat penekana nervus medianus yang terperangkap

dalam rongga karpalis yang mengalami sinovitis sehingga menyebabkan gejala carpal tunnel syndrome. Walaupun jarang, nervus ulnaris yang berjalan dalam kanal Guyon dapat pula mengalami penekanan dengan mekanisme yang sama. AR dapat pula menyebabkan terjadinya tenosinovitis akibat pembentukan nodul reumatoid sepanjang sarung tendon yang dapat menghambat gerakan tendon dalam sarungnya. Tenosinovitis pada AR dapat menyebabkan terjadinya erosi tendon dan mengakibatkan terjadinya ruptur tendon yang terlibat. Panggul Karena sendi panggul terletak jauh di dalam pelvis, kelainan sendi panggul akibat AR umumnya sulit dideteksi dalam keadaan dini. Pada keadaan dini keterlibatan sendi panggul mungkin hanya dapat terlihat sebagai keterbatasan gerak yang tidak jelas atau gangguan ringan pada kegiatan tertentu seperti saat mengenakan sepatu. Walaupun demikian, jika destruksi rawan sendi telah terjadi, gejala gangguan sendi panggul akan berkembang lebih cepat dibandingkan gangguan pada persendian lainnya. Lutut Penebalan sinovial dan efusi lutut umumnya mudah dideteksi pada pemeriksaan. Herniasi kapsul sendi kearah posterior dapat menyebabkan terbentuknya kista Baker. Kaki dan Pergelangan Kaki Keterlibatan persendian MTP, talonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran yang khas AR. Karena persendian kaki dan pergelangan kaki merupakan struktur yang menyangga berat badan, keterlibatan ini akan menimbulkan disfungsi dan rasa nyeri yang lebih berat dibandingkan dengan keterlibatan ekstremitas atas. Peradangan pada sendi talonavikularis akan menyebabkan spasme otot yang berdekatan sehingga menimbulkan deformitas berupa pronasio dan eversio kaki yang khas pada AR. Walaupun jarang, nervue tibialis posterior dapat pula mengalami penekanan akibat sinovitis pada rongga tarsalis (tarsal tunnel) yang dapat menimbulkan gejala parestesia pada telapak kaki.

4. Masalah Keperawatan yang muncul dan rencana tindakan (terlampir) 5. Program edukasi kepada pasien dan keluarga

Gambar edukasi kepada klien

Pendidika kesehatan yang diperlukan untuk pasien dan keluarga adalah: Perawat memberikan pendidikan kesehatan yang cukup kepada pasien, keluarganya, dan siapa saja yang berhubungan dengan pasien. Pendidikan kesehatan yang diberikan meliputi pengertian penyakit, pengertian tentang patofisologinya, penyebab, prognosis penyakit ini,semua komponen program penatalaksanaan termasuk regimen obat yang kompleks, sumber-sumber bantuan untuk mengatasi penyakit ini, dan metode-metode efektif tentang penatalaksanaan yang diberikan oleh tim kesehatan. Pendidikan kesehatan mengenai pentingnya istirahat karena artritis reumatoid biasanya disertai rasa lelah yang hebat. Kekakuan dan rasa tidak nyaman dapat meningkat apabila beristirahat, hal ini berartibahwa pasien dapat mudah terbangun dari tidurnya pada malam menjelang subuh karena nyeri. Karena itu perawat berperan dalam memberikan pendidikan kesehatan mengenai penggunaan obat anti radang kerja lama dan analgetik. Pentingnya penatalaksanaan mengenai perencanaan aktivitas. Pasien harus membagi waktu seharinya menjadi beberapa kali beraktivitas yang diikuti oleh masa istirahat. Latihan-latihan spesifik dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencangkup gerakan aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Obat-obatan untuk menghilangkan nyeri mungkin perlu diberikan sebelum memulai latihan. Menginformasikan mengenai kompres panas pada sendi-sendi yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri. Pendidikan kesehatan mengenai nutrisi sebenarnya tidak ada yang spesifik dan khusus, yang terpenting prisip umumnya adalah pentingnya diet seimbang. Karena penyakit ini rentan sekali pada penderitanya untuk mengalami penurunan ataupun peningkatan berat badan. Penyakit ini dapat juga menyerang sendi temporo mandibular, sehingga membuat gerakan mengunyah menjadi sulit. Sejumlah obat yang dipakai untuk mengobati penyakit ini dapat menyebabkan rasa tidak enak pada lambung dan mengurangi nutrisi yang diperlukan. Mempertahankan berat badan pada batas-batas yang sewajarnya adalah penting. Biasanya pasien akan menjadi mudah gemuk, sebab aktivitas penderita artritis reumatoid biasanya rendah. Perawat memberikan penjelasan mengenai mengurangi ketergantungan terhadap obat analgetik seminimal mungkin. Ajarkan cara pengobatan seperti kompres panas atau latihan fisik yang dapat dipakai untuk menghilangkan nyeri.

6. Program Aktifitas/ Rehabilitasi dan Nutrisi Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan tingkat kemampuan pasien AR dengan cara: Mengurangi rasa nyeri Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot Mencegah terjadinya deformitas Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri

Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain. Rehabilitasi dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listrik. Adapun latihan yang dapat dilakukan adalah: Hamstring Stretch Berbaring lurus, dan perlahan pindahkan lutut ke arah dada. Tahan selama 8-10 detik, lalu kembali ke posisi semula. Ulangi 3-6x.

Chest Stretch Posisikan lengan bawah berlawanan dengan tembok. Posisikan lengan dengan sudut 90o dan perlahan condong ke depan dengan bagian bahu dan dada. Tahan selama 8-10 detik lalu kembali ke posisi semula. Ulangi 3-6 kali.

Row with resistance band Lilitkan ban elastic pada benda yang keras di depan. Pegang ujung ban pada setiap tangan dengan lengan lurus ke depan, dengan telapak tangan menghadap satu dan lainnya. Kontraksikan otot belakang punggung dan tarik ban tersebut. ulangi 10-15 kali.

Chest press with resistance band Lilitkan ban elastic pada benda yang keras di depan. Pengang ujungnya pada masing-masing tangan dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Kontraksikan lengan dan dada. Ulangi 10-15 kali

Slow step-up Letakkan papan di depan tubuh. Berdiri 12-14 inchi dari papan, lalu injak dengan kaki kanan dan angkat lutut perlahan. Kembali ke posisi semula. Ulangi 10-15 kali.

Berjalan Berjalan merupakan suatu contoh olahraga sederhana yang dapat membantu dalam RA

Recumbent bike or elliptical Dilakukan di gym dengan menggunakan alat tersebut, dapat menghasilkan latihan ringan namun memberikan dampak yang baik. Dilakuka 10-15 menit, 2-3 kali seminggu.

Yoga Yoga baik untuk relaksasi dan dapat meningkatkan fleksibilitas sendi.

Diet yang penting bagi penderita rheumatoid adalah dengan mengurangi asupan gula, lemak, natrium, dan kolesterol. Diet yang baik bagi penderita RA adalah diet seimbang yang sebaiknya menggunakan makanan yang berasal dari tumbuhan. Kira-kira 2/3 dari diet yang dilakuakan sebaiknya berasal dari buah-buahan, sayuran, dan gandum. 1/3 lainnya harus menggunakan produk rendah lemak. Pasien dengan RA juga diharapkan untuk tidak mengonsumsi alcohol ataupun merokok yang dapat mengganggu kesehatannya lebih jauh lagi.

7.

Pencegahan dan modifikasi lingkungan yang perlu dilakukan Penyebab dari RA seperti jenis kelamin, umur, imunologis dan riwayat keluarga merupakan faktor yang tidak bisa dirubah untuk mencegah terjadinya RA. Namun ada beberapa faktor yang dapat mencegah RA dengan cara memodifikasi gaya hidup seperti: Melakukan aktivitas fisik. Dengan melakukan aktifitas secara rutin, akan dapat meningkatkan kerja dari persendian sehinggan tidak terjadi kekakuan pada sendi. Dengan melakukan latihan aktif maupun pasif, diharapkan sendi bergerak sesuai dengan kemampuan secara terus-menerus yang akan menyebabkan resiko mengalami RA akan semakin berkurang. Tiga jenis latihan yang baik untuk rematik adalah latihan gerak, latihan penguatan dan latihan daya tahan (kardio atau aerobik). Aerobik

air adalah pilihan yang sangat baik karena dapat meningkatkan jangkauan gerak dan daya tahan sambil menjaga berat badan dari sendi tubuh bagian bawah. Berjalan kaki, berenang, bersepeda dan berkebun juga merupakan aktivitas yang menyenangkan dan dapat membantu meringankan nyeri di sendi. Lindungi sendi. Hindari gerakan-gerakan yang kiranya dapat membahayakan sendi, karena sendi akan lebih rentan terhadap kerusakan ketika bengkak dan sakit. Hindari pula meletakkan sendi pada posisi yang sama dalam jangka waktu lama. Bangun dan bergeraklah agar sendi tidak kaku. Istirahatlah sebelum Anda merasa lelah atau sakit. Menjaga berat badan. Dengan berat badan yang ideal, akan mengurangi beban dari persendian ketika melakukan aktifitas sehingga kerja sendi tidak terlalu berat. Dengan pengurangan beban pada sendi, mempengaruhi kadar cairan sinovial pada persendian. Mengatur pola makan. Diet yang baik bagi penderita RA adalah makan makanan yang bervariasi dengan perbanyak buah-buahan dan sayuran, protein tanpa lemak, juga susu tanpa lemak. Pastikan Anda mendapatkan cukup vitamin C, vitamin D dan kalsium. Lemak ikan yang banyak mengandung asam lemak omega 3 juga dapat mengurangi peradangan di sendi Berhenti Merokok. Merokok memiliki dampak yang sangat buruk bagi tubuh. Kandungan yang terdapat pada rokok, selain dapat meningkatkan resiko rematik, merokok juga dapat merusak paru-paru dan organ lainnya. Adapun modifikasi lingkungan yang perlu dilakukan adalah memodifikasi rumah tempat tinggal keluarga. Rumah yang kurang nyaman, status rumah yang dihuni keluarga mempengaruhi keinginan dari keluarga untuk beristirahat. Oleh karena itu, dengan menjaga lingkungan rumah agar tetap bersih dan rapi, akan meningkatkan kenyamanan dalam beristirahat, dimana mengistirahatkan tubuh dan sendi-sendi itu penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Kondisi rumah yang banyak tangga juga akan mempengaruhi kondisi persendian sehingga kerja sendi dalam menopang berat tubuh saat naik turun tangga akan meningkat. Jadi mengurangi tangga juga merupakan alternatif untuk mencegah rheumatoid arhtritis.

8.

Jika dirawat di rumah (homecare) apa fokus edukasi dan tindakan yang perlu dilakukan Fokus edukasi dan tindakan yang perlu dilakukan di rumah adalah: Memberikan edukasi mengenai pentingnya istirahat karena artritis reumatoid biasanya disertai rasa lelah yang hebat.

Pentingnya penatalaksanaan mengenai perencanaan aktivitas. Pasien harus membagi waktu seharinya menjadi beberapa kali beraktivitas yang diikuti oleh masa istirahat. Melakukan beberapa latihan-latihan spesifik yang dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencangkup gerakan aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Obat-obatan untuk menghilangkan nyeri mungkin perlu diberikan sebelum memulai latihan. Menginformasikan mengenai Kompres panas pada sendi-sendi yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri dan mengurangi ketergantungan terhadap obat analgesik untuk mencegah ketergantungan. Pendidikan kesehatan mengenai nutrisi sebenarnya tidak ada yang spesifik dan khusus, yang terpenting prisip umumnya adalah pentingnya diet seimbang. Mempertahankan berat badan pada batas-batas yang sewajarnya adalah penting. Biasanya pasien akan menjadi mudah gemuk, sebab aktivitas penderita artritis reumatoid biasanya rendah.