Anda di halaman 1dari 6

PROFESIONALISME WEB PROGRAMMER

Menjalani profesi dibidang IT, banyak orang yang melakukannya. Tapi bagaimana
menjadi seorang profesional IT sendiri, masih banyak yang belum menjalaninya.

IT adalah ladang kerja yang saat ini mulai dilirik oleh pencari kerja. Maraknya
lembaga pelatihan dan pendidikan formal maupun non-formal yang mendidik dan
menghasilkan lulusan di bidang IT, adalah salah satu contoh makin digemarinya lahan
kerja yang satu ini. Meski boleh dibilang tidak murah namun banyak lulusan
SMU/sederajat yang akhirnya memilih pendidikan lanjutan di bidang IT.

Puncak karir seorang profesional IT di perusahaan adalah menjadi CIO (Chief


Information Officer), yaitu pimpinan tertinggi di dalam organisasi (fungsi) teknologi
informasi. Salah satu hasil penelitian menyatakan bahwa top 5 kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang CIO antara lain adalah:

1. Kemampuan mendelegasikan tugas-tugas operasional


2. Kemampuan menjalankan otoritas pengeluaran / finansiil
3. Kemampuan menghindari posisi-posisi yang menimbulkan pertantangan
4. Kemampuan menginisiasi atau menjalin hubungan dengan unit-unit diluar IT
5. Kemampuan menggunakan bahasa dengan hati-hati (komunikasi verbal)

Kemampuan / Kompetensi Web Programmer :

• Membuat desain grafis, baik itu web maupun animasi


• Perlu menguasai web design dan aplikasi berbasis web
• Menguasai pengembangan aplikasi web berbasis HTML dan ASP.Net ATAU
aplikasi web berbasis HTML dan J2EE serta Struts Framework ATAU aplikasi
web berbasis MySQL dan PHP.
• Web programmer bertugas untuk menghadirkan system dan layanan dari
sebuah website. Berseberangan dengan web designer, hasil kerja dari seorang
web programmer tidak secara mudah terlihat oleh user. System yang dibangun
tidak dapat terlihat ‘kecantikannya’ secara langsung oleh rata-rata user.
Kecantikan sebuah system yang dapat dilihat dari segi struktur program,
mungkin hanya dapat dinikmati oleh sesama web programmer yang mengerti
benar tentang teknis – teknis pembangunan sebuah program.
Karena kebanyakan user tidak benar – benar peduli tentang teknis
pemograman, kecuali mereka yang memang bersinggungan dengan dunia
pemrograman, maka fokus yang harus diperhatikan oleh seorang web
programmer adalah efektifitas dan effisiensi dari program yang dibangunnya,
termasuk kecepatan, keamanan dan kerapian system.

Mungkin seorang user tidak akan tahu atau tidak ingin tahu dan bahkan tidak
harus tahu tentang teknologi mana yang dipakai oleh seorang web
programmer. Oleh karenanya, membicarakan semua ‘geek talk’ tentang
kehebatan sebuah system yang dipilih ditinjau dari segi teknisnya tidak akan
membawa manfaat bagi user yang ada.
Beberapa perusahaan di dunia internet sering membagi tugas web programmer
dengan database administrator. Database administrator adalah sebuah profesi
lain yang bertugas untuk membangun dan menjaga sebuah database agar tetap
efektif dan efisien baik dari segi keamanan, kecepatan maupun kerapiannya.
FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI
Pada system yang relatif kecil, pekerjaan database administrator ini sering
dirangkap oleh seorang web programmer. Tetapi bila sebuah system menjadi
besar, maka pemecahan tanggung jawab menjadi hal yang krusial.

Dan Etika Seorang Programmer secara umum antara lain :

1. Seorang  programmer  tidak   boleh   membuat   atau   mendistribusikan 


Malware.
2. Seorang  programmer  tidak   boleh   menulis   kode   yang   sulit   diikuti 
dengan sengaja.
3. Seorang  programmer  tidak boleh menulis dokumentasi yang dengan 
sengaja untuk membingungkan atau tidak akurat.
4. Seorang  programmer  tidak boleh menggunakan ulang kode dengan 
hak cipta kecuali telah membeli atau telah meminta izin.
5. Tidak boleh mencari keuntungan tambahan dari proyek yang didanai 
oleh pihak kedua tanpa izin.
6. Tidak boleh mencuri software khususnya development tools.
7. Tidak boleh menerima dana tambahan dari berbagai pihak eksternal 
dalam suatu proyek secara bersamaan kecuali mendapatkan izin.
8. Tidak   boleh   menulis   kode   yang   dengan   sengaja   menjatuhkan   kode 
programmer  lain   untuk   mengambil   keuntungan   dalam   menaikkan 
status.
9. Tidak   boleh   membeberkan   data­data   penting   karyawan   dalam 
perusahaan.
10. Tidak boleh memberitahu masalah keuangan pada pekerja dalam
11. pengembangan suatu proyek.
12. Tidak pernah mengambil keuntungan dari pekerjaan orang lain.
13. Tidak boleh mempermalukan profesinya.
14. Tidak boleh secara asal­asalan menyangkal adanya bug dalam aplikasi.
15. Tidak   boleh   mengenalkan   bug   yang   ada   di   dalam   software   yang 
nantinya
16. programmer akan mendapatkan keuntungan dalam membetulkan bug.
17. Terus mengikuti pada perkembangan ilmu komputer.
18.

SERTIFIKASI

Profesionalisme itu bisa ditunjukkan dengan adanya sertifikasi atau penghargaan atas
kemampuan yang dimiliknya. Jika ingin dianggap jago di bidang Internet, Anda bisa
mengambil sertifikasi yang dikeluarkan oleh Certified Internet Web Master(CIW).
Jalur sertifikasi CIW ini sangat beragam mulai sertifikasi untuk pemula sampai
master.

Sertifikasi paling dasar yang sekaligus disyaratkan untuk mengambil sertifikasi untuk
tingkat lebih lanjut adalah CIW Associates. CIW Associates adalah sertifikasi yang

FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI
menguji penguasaan dasar teknologi Internet, seperti Web browser, FTP dan e-mail,
Web page authoring menggunakan XHTML, dasar-dasar infrastuktur jaringan, dan
manajemen proyek. Sertifikasi ini ditujukan bagi mereka yang bekerja sebagai
business development, advertising, dan sales.

Jenjang berikutnya adalah CIW Profesional dan CIW Master. Untuk menjadi
mendapat gelar master terdapat empat pilihan jalur spesialisasi, yaitu Master CIW
Designer, Master CIW Administrator, Master CIW Web Site Manager, dan Master
CIW Enterprise Develper. Masing-masing jalur memiliki pilihan spesialisasi yang
harus ditempuh. Sebelum mencapai tingkat master, Anda dapat meraih gelar CIW
Profesional jika bisa melewati ujian CIW Associate dan salah satu spesialisasi yang
dari empat jalur yang tersedia tersebut.

Selain jalur tersebut, CIW juga memiliki beberapa pilihan sertifikasi khusus, seperti
CIW Security Analist dan CIW Web Developer.

World Organization of Webmasters

Di bidang Internet, selain sertifikasi dari CIW juga ada sertifikasi yang dikeluarkan
oleh World Organization of Webmasters (WOW). Sertifikasi yang dikeluarkan oleh
WOW ini juga terdiri dari beberapa jenjang.

Jenjang dasar terdiri dari WOW Certified Apprentice Webmaster (CAW), WOW
Certified Web Designer Apprentice (CWDSA), WOW Certified Web Developer
Apprentice (CWDVA), dan WOW Certified Web Administrator Apprentice (CWAA).
Sedangkan untuk jenjang yang lebih tinggi adalah WOW Certified Professional
Webmaster (CPW).

Dengan sertifikasi CAW, seseorang dianggap memiliki pengetahuan dasar mengenai


Internet dapat membuat layout halaman Web, membuat content yang kaya dan
nyaman, membuat dan memanipulasi image. CWDSA lebih ditujukan bagi para calon
Web Designer. Pada pilihan ini kandidat diharapkan menguasai seni mendesain Web
agar lebih artistik dan menarik. CWDVA ditujukan bagi para pengembang Web yang
lebih banyak berurusan dengan struktur dan interaksi dalam menciptakan situs Web.
Sedangkan bagi para Web administrator jalur sertifikasi yang bisa diambil adalah
CWAA yang lebih banyak berkecimpung dengan infrastruktur software dan hardware
yang mendukung komunikasi Internet.

Jenjang yang lebih profesional atau CPW bisa langsung diraih secara otomatis jika
kandidat berhasil memperoleh empat sertifikasi pada tingkat Apprentice.

Berbeda dengan sertifikasi CIW dimana ujian dapat Anda ikuti melalui testing center
yang menjadi partner Promatic, sertifikasi dari WOW ini dapat Anda peroleh dengan
mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh WOW.

FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI
WARTAWAN

adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional,
seperti halnya dokter, bidan, guru, atau pengacara. Sebuah pekerjaan bisa disebut
sebagai profesi jika memiliki empat hal berikut, sebagaimana dikemukakan seorang
sarjana India, Dr. Lakshamana Rao:
1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi.
2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu.
3. Harus ada keahlian (expertise).
4. Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. (Assegaf,
1987).
Menurut saya, wartawan (Indonesia) sudah memenuhi keempat kriteria profesioal
tersebut.
1. Wartawan memiliki kebebasan yang disebut kebebasan pers, yakni kebebasan
mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. UU No.
40/1999 tentang Pers menyebutkan, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak
asasi warga negara, bahkan pers nasional tidak dikenakan penyensoran,
pembredelan, atau pelarangan penyiaran (Pasal 4 ayat 1 dan 2). Pihak yang
mencoba menghalangi kemerdekaan pers dapat dipidana penjara maksimal
dua tahun atau dena maksimal Rp 500 juta (Pasal 18 ayat 1).
1. Meskipun demikian, kebebasan di sini dibatasi dengan kewajiban
menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas
praduga tak bersalah (Pasal 5 ayat 1).
2. Memang, sebagai tambahan, pada prakteknya, kebebasan pers sebagaimana
dipelopori para penggagas Libertarian Press pada akhirnya lebih banyak
dinikmati oleh pemilik modal atau owner media massa. Akibatnya, para
jurnalis dan penulisnya harus tunduk pada kepentingan pemilik atau
setidaknya pada visi, misi, dan rubrikasi media tersebut. Sebuah koran di
Bandung bahkan sering “mengebiri” kreativitas wartawannya sendiri selain
mem-black list sejumlah penulis yang tidak disukainya.
3. Jam kerja wartawan adalah 24 jam sehari karena peristiwa yang harus
diliputnya sering tidak terduga dan bisa terjadi kapan saja. Sebagai seorang
profesional, wartawan harus terjun ke lapangan meliputnya. Itulah
panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan sebagai wartawan.
Bahkan, wartawan kadang-kadang harus bekerja dalam keadaan bahaya.
Mereka ingin –dan harus begitu– menjadi orang pertama dalam mendapatkan
berita dan mengenali para pemimpin dan orang-orang ternama.
4. Wartawan memiliki keahlian tertentu, yakni keahlian mencari, meliput, dan
menulis berita, termasuk keahlian dalam berbahasa tulisan dan Bahasa
Jurnalistik.
5. Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik (Pasal 7 ayat (2) UU
No. 40/1999 tentang Pers). Dalam penjelasan disebutkan, yang dimaksud
dengan Kode Etik Jurnalistik adalah Kode Etik yang disepakati organisasi
wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers.
6. Kode Etik Jurnalistik (KEJ) pertama kali dikeluarkan dikeluarkan PWI
(Persatuan Wartawan Indonesia). KEJ itu antara lain menetapkan.
• Berita diperoleh dengan cara yang jujur.

FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI
• Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkan
(check and recheck).
• Sebisanya membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat
(opinion).
• Menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak mau
disebut namanya. Dalam hal ini, seorang wartawan tidak boleh
memberi tahu di mana ia mendapat beritanya jika orang yang
memberikannya memintanya untuk merahasiakannya.
• Tidak memberitakan keterangan yang diberikan secara off the
record (for your eyes only).
• Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan
dari suatu suratkabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.
• Ketika Indonesia memasuki era reformasi dengan berakhirnya rezim
Orde Baru, organisasi wartawan yang tadinya “tunggal”, yakni hanya
PWI, menjadi banyak. Maka, KEJ pun hanya “berlaku” bagi wartawan
yang menjadi anggota PWI. Namun demikian, organisasi wartawan
yang muncul selain PWI pun memandang penting adanya Kode Etik
Wartawan. Pada 6 Agustus 1999, sebanyak 24 dari 26 organisasi
wartawan berkumpul di Bandung dan menandatangani Kode Etik
Wartawan Indonesia (KEWI). Sebagian besar isinya mirip dengan KEJ
PWI. KEWI berintikan tujuh hal sebagai berikut:
• Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh
informasi yang benar.
• Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis untuk memperoleh
dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber
informasi.
• Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak
mencampurkan fakta dengan opini, berimbang, dan selalu meneliti
kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
• Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta,
fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan
susila.
• Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan
profesi.
• Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan
embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai
kesepakatan.
• Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam
pemberitaan serta melayani Hak Jawab.
KEWI kemudian ditetapkan sebagai Kode Etik yang berlaku bagi seluruh
wartawan Indonesia. Penetapan dilakukan Dewan Pers sebagaimana
diamanatkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers melalui SK Dewan Pers
No. 1/SK-DP/2000 tanggal 20 Juni 2000.
Penetapan Kode Etik itu guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya
hak-hak masyarakat. Kode Etik harus menjadi landasan moral atau etika profesi yang
bisa menjadi pedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas
wartawan. Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut
sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang
dibentuk untuk itu.
FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI
KEWI harus mendapat perhatian penuh dari semua wartawan. Hal itu jika memang
benar-benar ingin menegakkan citra dan posisi wartawan sebagai “kaum profesional”.
Paling tidak, KEWI itu diawasi secara internal oleh pemilik atau manajemen redaksi
masing-masing media massa.

Referensi : www.romeltea.com

FAHMI ISTANTO
TI. 12080570
TUGAS ETIKA PROFESI