Anda di halaman 1dari 20

Makalah PBL Blok 10

Pubertas Prekoks Pada Pria

Disusun Oleh: Leonirma Tengguna 10 2009 197 D4

Oktober 2010

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul Pubertas Prekoks Pada Pria ini berisikan pembahasan skenario kasus yang diberikan dalam proses pembelajaran terarah dan mandiri (PBL). Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai pengaruh permasalahan dalam kehidupan terhadap prestasi akademik seorang mahasiswa. Selain itu, makalah ini juga membahas mengenai perlunya berpikir kritis dan keterampilan belajar dalam kehidupan kita. Akhir kata, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi pembaca.

Jakarta, 2 Oktober 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....... Daftar Isi . Bab I. Pendahuluan . 1.1. Latar Belakang Masalah 1.2. Tujuan 1.3. Manfaat Bab II. Isi .

i ii 1

2.1. Identifikasi Istilah 2.2. Rumusan Masalah 2.3. Analisis Masalah 2.4. Hipotesis 2.5. Sasaran Pembelajaran
Bab III. Penutup 3.1. Kesimpulan Daftar Pustaka . 7 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Seorang anak laki-laki umur delapan tahun merasa risih karena sudah tumbuh kumis dan jambang. Ia merasa malu karena ditertawakan oleh temantemannya. Kemudian ia mengadu kepada ibunya, dan oleh ibunya dikonsultasikan ke dokter. 1.2. Tujuan 1.3. Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Identifikasi Istilah Tidak ada istilah yang tidak diketahui. 2.2. Rumusan Masalah Tumbuhnya kumis dan jambang pada anak usia delapan tahun. 2.3. Analisis Masalah

2.4. Hipotesis Perubahan fisik yang terjadi pada anak berusia delapan tahun merupakan gejala pubertas prekoks. 2.5. Sasaran Pembelajaran 2.5.1. Struktur Makroskopik Organ Genital Pria1 Genitalia masculina (organ genitalia pria) dibedakan menjadi genitalia interna masculina dan genitalia eksterna masculina. Adapun yang termasuk dalam genitalia interna masculina yaitu ductus deferens, vesicula seminalis, dan glandula prostat. Sedangkan yang termasuk dalam genitalia eksterna masculina yaitu penis dan scrotum (beserta testis). A. Ductus Deferens (Vas Deferens) Ductus deferens adalah suatu saluran berdinding tebal yang dilalui sperma. Mulai dari annulus inquinalis medialis menuju lateral A. epigastrica inferior

kemudian turun ke dorsocaudal pada dinding lateral pelvis, menyilang ureter di sisi medialnya dan menuju ke mediocaudal pada permukaan dorsal vesica urinaria. Pada bagian ujung akhir ductus deferens terdapat bagian yang melebar disebut Ampulla ductus deferens. Ductus excretorius vas deferens bersama-sama dengan ductus excretorius gl. Vesiculosa membentuk ductus ejaculatorius. Gambar 1. Struktur makroskopik genital pria.

B. Vesicula Seminalis (Glandula Vesiculosa) Vesicula Seminalis terdiri dari dua gelembung lobus kanan dan kiri yang berfungsi memproduksi cairan essensial untuk makanan sperma, panjangnya sekitar 5 cm. Pada bagian ujung atas tertutup peritoneum. Pada bagian depan, vesicula seminalis berhubungan dengan permukaan dorsal vesica urinaria, pada

bagian belakangnya berhubungan dengan rectum, sedangkan sisi medialnya berhubungan dengan vas deferens. C. Glandula Prostata Glandula prostata merupakan suatu kelenjar eksokrin fibromuskular. Bentuk glandula prostata menyerupai limas terbalik dengan puncak di kaudal dengan panjang sekitar 3 cm. Glandula prostata dilapis oleh selaput fibrotic dan di sebelah luar dilapisi jaringan ikat (lanjutan fascia pelvis). Glandula prostate dibedakan menjadi: Basis, merupakan bagian di atas dan depan, sekitar collum vesica urinaria. Apex, terletak pada diafragma urogenital.

Membran prostatika peritoneale (Denonviller) dan fascia rectalis memisahkan permukaan posterior gl. prostata dengan vas deferens dan vesicula seminalis. Adapun glandula prostata dibedakan menjadi lima lobus, yaitu: 1. Lobus anterior, terletak di depan urethra pars prostatica dan tidak mengandung jaringan kelenjar. 2. Lobus medius, terletak di antara urethra dan ductus ejaculatorius. Lobus ini banyak mengandung jaringan kelenjar dan dapat ebrubah menjadi adenoma. 3. Lobus posterior, terletak di belakang urethra dan di caudal ductus ejaculatorius. Lobus ini mengandung jaringan kelenjar dan dapat berubah menjadi kanker primer. 4. Lobus lateralis, berjumlah dua buah, dan terletak di sebelah kanan dan kiri urethra pars prostatica. Lobus ini banyak mengandung kelenjar dan sering mengalami hipertrofi prostat. Glandula prostata diperdarahi oleh cabang-cabang a. vesicalis inferior, cabang-cabang a. rectalis media, dan cabang-cabang a. pudenda interna. Sedangkan aliran darah balik melalui plexus venosus prostaticus. Aliran getah bening glandula prostate dialirkan ke nnll. glandula prostate dan akhirnya bermuara ke nnll. iliaca interna. Glandula prostate dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior.

D. Penis Penis dihubungkan pada symphisis ossis pubis melalui suatu jaringan ikat yang disebut lig. suspensorium penis. Penis dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu radix, corpus, dan glans penis. Radix penis merupakan bagian penis yang melekat ke symphisis ossis pubis dan terdiri dari tiga massa jaringan erektil yaitu: bulbus penis, crus penis dextra, dan crus penis sinistra. Corpus penis merupakan lanjutan radix penis ke arah distal. Pada permukaan dorsal corpus penis, tepat pada garis tengah, dapat dijumpai v. dorsalis penis superficialis. Sedangkan glans penis terletak pada ujung distal corpus penis. Pada glans penis dapat dijumpai alat-alat sebagai berikut: 1. Meatus urethra externa 2. Frenulum, yaitu lipatan kulit yang terletak di caudal meatus urethra externa. 3. Preputium, yaitu lapisan kulit yang menutupi glans penis. 4. Corona glandis, yaitu pinggir dasar glans penis. E. Scrotum Scrotum merupakan suatu kantong yang dibentuk oleh kulit dan fascia. Kulit scrotum berkeriput dan ditutupi rambut-rambut kasar. Pada bagian tengah scrotum, dapat dijumpai suatu garis yang disebut Raphescrotalis. Scrotum berisi testis dan epididimis. F. Testis Testis adalah organ reproduksi penghasil spermatozoa dan kelenjar endokrin penghasil hormon androgen untuk mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder. Testis dibungkus oleh tunica vaginalis propia dan terletak dalam cavum scroti. Paa orang normal, testis kiri terletak lebih rendah daripada yang kanan. Sedangkan pada situs invertus totalis dan orang kidal, testis kanan letaknya lebih rendah daripada testis kiri. Pada testis, dapat dijumpai sisa-sisa perkembangan ujung cranial ductus paramesonephros yang disebut appendix testis.

Testis dapat dibedakan menjadi: extremitas superior dan inferior, facies lateralis dan medialis, serta margo anterior (convex) dan margo posterior (datar). Sedangkan pembungkus testis dari dalam ke luar adalah: 1. Tunica albuginea 2. Tunica vaginalis testis lamina visceralis dan lamina parietalis 3. Fascia spermatica interna 4. M. cremaster 5. Fascia spermatica externa 6. Tunica dartos 7. Cutis scroti Di daerah dekat margo posterior testis yang tidak dicapai oleh septula testis, terbentuk massa jaringan ikat fibrosa yang memadat, disebut mediastinum testis. Rete testis adalah anyaman beberapa tubuli seminiferi recti yang memasuki mediastinum. Dari rete testis dibentuk saluran-saluran yang memasuki caput epididimis disebut ductuli efferentes testis. Testis diperdarahi oleh a. testicularis, cabang aorta abdominalis. Sedangkan aliran venanya bermuara ke v. testicularis, yang kemudian dialirkan ke dalam v. cava nferior. Secara fisiologis, pada masa janin testis yang terletak di dalam cavum abdomen akan turun dan memasuki scrotum. Peristiwa ini disebut descensus testiculorum. Keadaan dimana testis tidak turun ke dalam scrotum disebut cryptorcismus, yang membutuhkan operasi sedini mungkin. G. Epididimis dan Funiculus Spermaticus Epididimis merupakan suatu saluran berkelok-kelok dengan panjang sekitar 6 meter yang terletak di sebelah dorsal testis. Epididimis dibedakan menjadi caput, corpus, dan cauda epididimis. Pada epididimis dapat dijumpai sisa-sisa perkembangan ductus mesonephros yang disebut appendix epididimis. Di sebelah medial epididimis, dapat dijumpai funiculus spermaticus yang terdiri atas: 1. Plexus pampiniformis 2. A. testicularis

3. A. deferentialis 4. Ductus deferens 5. R. genitalis n. genitofemoralis 6. M. cremaster

2.5.2. Struktur Mikroskopik Genitalia Pria A. Testis2 Testis berfungsi untuk memproduksi gamet jantan atau spermatozoa dan hormon seks pria, yakni testosteron, yang menyebabkan berkembangnya karakteristik seks maskulin pria. Testis memiliki kapsula yang terdiri dari dua lapisan, yaitu tunica vaginalis dan tunica albuginea.

Gambar 2. Struktur mikroskopis testis. Tunica vaginalis ialah lapisan terluar kapsula, membentuk kantong testis, berasal dari selaput peritoneum yan melapisis rongga tubuh dan jeroan perut, yang ikut terbawa ketika testis tumbuh menggantung ke dalam srotum. Lapisan ini terdiri dari lapisan mesothelium.

Tunica albuginea terdiri dari lapisan jaringan ikat dan sel sel otot polos. Tunica albuginea dan tunica vaginalis dipisahkan oleh lamina basalis. Tunica vaskulosa, lapisan jaringan ikat renggang yang mengandung jaringan jaringan pembuluh darah, adalah bagian dalam lapisan albuginea. Lapisan ini berhubungan dengan jaringan interstitial dalam testis. Lewat lapisan ini darah keluar masuk lewat testis. Tunica albuginea menebal dibagan belakang testis dan menjadi landasan bangunan testis sendiri. Bagian ini disebut mediastinum testis. Dari mediastinum inilah saluran keluar semen dari testis berpangkal. Testis berlekatan dengan tunica vaginalis oleh suatu ligamen ke dasar scrotum. Ligamen ini merupakan sisa-sisa gumpalan sel mesenkim pada embrio dan bayi yang disebut gubernaculum testis. Tubulus seminiferus adalah suatu bagian dalam testis yang merupakan tempat terjadinya pembentukan sperma (spermatogenesis). Tubulus seminiferus terdiri dari lima bagian, antara lain: lapisan jaringan ikat, lamina basalis, epitel germinal, sel spermatogenik, dan lumen (rongga). Lapisan jaringan ikat terdiri dari beberapa lapis sel yang berasal dari jaringan interistial. Sel-sel itu disebut selsel adventisia. Bagian terluar lapisan ini terdiri dari fibroblast, sedangkan bagian terdalam (yang melekat ke lamina basalis) terdiri dari sel myoid. Sel ini berbentuk seperti sel epitel dan bersifat seperti sel otot, dapat mengerut. Epitel germinal terbagi menjadi dua yaitu sel germinatif dan sel pemelihara. Sel germinatif disebut sel spermatigonia. Sel yang tersusun selapis ini berada di dasar tubulus. Spermatogonia dan jaringan interistitial dibatasi oleh lamina basalis. Spermatogonia berdiferensiasi membentuk sel spermatogenik, yakni spermatosit, spermatid, dan spermatozoa. Spermatogonia adalah sel induk gamet, sedangkan spematozoa adalah gamet matang. Sel sel spermatogenik terletak mendekati lumen dan membentuk 48 lapis sel. Sel sel spermatogenik ini diliputi tonjolantonjolan halus sel pemelihara yang disebut sel sertoli. Adapun sel Sertoli adalah sel yang memelihara, menutrisi, dan melindungi selsel spermatogenik dari perubahan pH,

radiasi sinar radioaktif, dan serangan antibodi yang mungkin terdapat di dalam darah atau lumen tubulus. Sel sertoli terletak di antara spermatogonia, tegak pada lamina basalis, dan puncaknya mencapai lumen. Di bawah mikroskop elektron, sel sertoli banyak mengandung kasar. retikulum endoplasma halus dan sedikit retikulum endoplasma Sel ini juga memiliki badan golgi yang besar, serta mitokondria dan

lisosom dalam jumlah banyak. Selain itu, sel ini juga memiliki nukleus besar dan lonjong, serta kromatin yang kurang jelas. Adapun fungsi sel Sertoli antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Melindungi dan menutrisi sel sel spermatogenik Fagositosis, yakni memakan sel sel spermatogenik yang abnormal dan sisa spermatid. Menggetahkan lendir yang ikut membentuk plasma semen Diduga juga menggetahkan hormon estrogen Menggetahkan Androgen Binding Protein (ABP) untuk mengikat Androgen dari sel Leydig Rongga antar tubulus seminiferus dalam tiap lobulus testis diisi oleh jaringan interstitial. Di dalamnya terdapat jaringan saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limfa. Dalam jaringan ikat terkandung fibroblas, cell mast, dan makrofag. B. Saluran dan Kelenjar Tubulus semineferus yang berbentuk kumparan-kumparan terdiri atas sejumlah besar epitel germinal yang disebut dengan spermatogonia, terletak didua sampai tiga lapisan sepanjang perbatasan luar epitel tubulus. 5 Jaringan diantara tubulus mengandung jaringan ikat yang berisi pembuluh darah, limfe dan sel Leydig. Bagian tepi tubulus semineferus tersusun oleh jaringan epitel yang berasal dari sel primordial pada masa embrio, dan sel-sel Sertoli yang berfungsi sebagai penyokong dan pemelihara. Bagian tubulus semiferus yang lurus dan terletak di daerah puncak lobulus disebut tubuli recti. 2 Bagian ini bermuara di rete testis, yaitu suatu celah yang tersusun oleh berlapis sel-sel epitel jaringan ikat. Rete testis terletak dalam mediastinum. Adapun tubuli recti dan rete testis memiliki selapis

sel epitel berbentuk batang bermikrovili. Beberapa sel itu juga ada yang berflagelum. Rete testis menyalurkan semen ke duktus efferens, yakni saluran berpilinpilin yang membentuk 510 badan berbentuk kerucut di puncak testis. Terdapat dua macam sel epitel pada lapisan yang mengarah ke lumen duktus efferens, yaitu epitel bersilia dan epitel bermikrovili yang memiliki banyak cekungan di permukaan karena banyak endositosis.2 Duktus epididimis adalah saluran dengan lekukan yang sangat banyak, yang bila dibentangkan akan mencapai enam meter panjangnya. Lapisan epitel menghasilkan lingkungan yang cocok bagi pematangan spermatozoa. Lapisan otot polos terdapat di sebelah luar lapisan epitel, sedangkan lapisan jaringan ikat adalah lapisan terluar. Lapisan ini kaya dengan pembuluh kapiler.2 Gambar 3. Struktur mikroskopik epididimis dan vas deferens.

Epididimis terdiri atas tiga bagian, yaitu caput, corpus, dan cauda. Caput adalah daerah kepala dan merupakan tempat bermuaranya ductuli efferens. Corpus adalah bagian tengah dan cauda adalh bagian ekor yang bertemu dengan vas deferens. Di epididimis terjadi pematangan dan penyimpanan spermatozoa. Secara berangsur, sejak dari caput sampai ke cauda, sel epitel berstereocilia itu

semakin rendah. Lapisan otot polos epididimis akan semakin tebal pada bagian ujungnya.2 Vas deferens adalah saluran berlumen besar dan berdinding tebal. Lapisan terdalam di sebut tunika mukosa yang membentuk lapisan longitudinal. Lapisan ini terdiri dari beberapa lapis sel epitel. Sel yang paling dalam (mendekati lumen) berbentuk batang dan berstereosilia. Pada lamina propria (jaringan ikat di bawah mukosa) terkandung jaringan serat elastis. Vas deferens meninggalkan skrotum melalui canalis inguinalis dalam spermatid cord.2 Canalis inguinalis adalah lubang yang menghubungkan rongga abdomen dengan skrotum, yang secara normal tertutup dan hanya dilewati spermatid cord. Dalam spermatid cord itu terdapat pula pembuluh darah, pembuluh limfa, urat saraf dan semua diselaputi oleh otot cremaster. Bagian terbesar vas deferens disebut ampula.2 Vesicula seminalis adalah sepasang saluran dengan panjang sekitar 15 cm. Lapisan dalamnya terdiri dari lapisan mukosa yang berlipat-lipat dan bercabang banyak. Pengaruh testosteron besar sekali terhadap kelenjar ini. Jika jumlah testosteron kurang, sel epitel beratrofi dan kelenjar akan mengecil.2

Gambar 4. Struktur mikroskopik vesicula seminalis dan kelenjar prostat.

Glandula prostata memiliki struktur yang serupa dengan vesicular seminalis, yakni terdiri dari tunika mukosa, lapisan otot polos, dan lapisan jaringan ikat paling luar. Cairan yang diproduksi glandula prostata banyak menghasilkan asam sitrat, enzim fosfatase, amylase, glukorunidase, serta prostaglandin. Pemeriksaan terhadap glandula prostata dapat dilakukan dengan memeriksa kadar asam sitrat dan enzim posfatase dalam semen.2 Kelenjar bulbourethralis atau kelenjar Cowper terletak di belakang urethra, sebelum penis. Sedangkan kelenjar Littre merupakan kelenjar yang terdapat banyak sepanjang urethra. Sebagian langsung menyalurkan getahan ke epitel urethra, dan sebagian lagi memiliki saluran yang langsung bermuara ke urethra itu.2

2.5.3. Mekanisme Pubertas Pada Pria 2.5.3.1. Proses Fisiologis Sebelum lahir, pada janin pria terdapat letupan-letupan (lonjakan) sekresi testosteron.4 Pada periode neonatus terjadi letupan lain yang menyebabkan sel-sel Leydig inaktif. Pada semua mamalia kemudian timbul periode ketika gonad inaktif akan diaktifkan oleh gonadotropin dari hipofisis untuk menyelesaikan pematangan sistem reproduksi. Periode pematangan ini disebut akil balik atau yang dikenal dengan pubertas. Dalam definisi yang ketat, pubertas adalah periode ketika fungsi endokrin dan gametogenik gonad pertama kali berkembang mencapai titik yang dapat terjadi reproduksi.4 Peristiwa yang terjadi pada pria saat pubertas adalah peningkatan sekresi androgen adrenal. Mulainya peningkatan ini disebut adrenarke. Hal ini terjadi pada pria berusia 10-12 tahun. Pada pria testosteron merupakan androgen utama dalam sistem peredaran.5 Biosintesis testosteron berlangsung dalam sel Leydig di jaringan intertubuler, sedangkan proses spermatogenesis berlangsung dalam epitel tubulus semineferus. Di dalam tubulus semineferus , testosteron berfungsi dalam mengontrol proses spermatogenesis pada pembelahan miosis dan proses spermiogenesis. Hormon lain yang berhubungan dengan spermatogenesis adalah

FSH dan LH. FSH bekerja langsung pada epitel germinal atau melalui sel Sertoli, sedangkan LH berpengaruh pada sel Leydig untuk memproduksi testosteron. GnRH dari hipotalamus merangsang hipofisis untuk melepaskan FSH dan LH. FSH bekerja pada sel germinal untuk memulai proliferasi dan diferensiasi serta meningkatkan sensitifitas sel Leydig terhadap LH untuk memproduksi testosteron (steroidogenesis). Testosteron dan FSH secara sinergis diperlukan secara normal untuk proses spermatogenesis.5 Testosteron bekerja pada sel sertoli untuk menghasilkan zat gizi yang diperlukan dalam proliferasi dan diferensiasi sel germinal untuk membentuk spermatozoa yang fungsional. Disamping itu testosteron yang berdifusi ke sel peritubuler diperlukan untuk menghasilkan faktor pemacu sel sertoli (P-mod-S) yang penting untuk meningkatkan aktifitas sel sertoli untuk menghasilkan zat-zat gizi bagi sel germinal.5 2.5.3.2. Spermatogenesis5
Di dalam testis terjadi proses spermatogenesis yaitu proses terbentuknya spermatozoa sel primordial. Di dalam proses spermatogenesis termasuk pula proses spermiogenesis yaitu perubahan dari spermatid menjadi spermatozoa. Proses spermatogenesis ini terjadi di dalam tubulus semineferus. Spermatogenesis yang baik juga tergantung pada bentuk, besar, konsistensi dan kedudukan testis dalam skrotum. Tubulus semineferus yang berbentuk kumparan-kumparan terdiri atas sejumlah besar epitel germinal yang disebut dengan spermatogonia, terletak didua sampai tiga lapisan sepanjang perbatasan luar epitel tubulus. Jaringan diantara tubulus mengandung jaringan ikat yang berisi pembuluh darah, limfe dan sel Leydig. Bagian tepi tubulus semineferus tersusun oleh jaringan epitel yang berasal dari sel primordial pada masa embrio, dan sel-sel Sertoli yang berfungsi sebagai penyokong dan pemelihara. Pada masa puber seorang pria, mulai terjadi proses spermatogenesis secara teratur. Sel primordial yang bersifat diploid mengalami pembelahan miotik dan menjadi besar dinamakan spermatogonium. Spermatogonium akan tumbuh menjadi spermatosit I yang segera mengalami pembelahan miotik menjadi spermatosit II yang haploid, dan selanjutnya akan menghasilkan 4 buah spermatid pada akhir proses

miosis. Setelah mengalami proses spermiogenesis (deferensiasi dan maturasi) lebih lanjut spermatid akan menjadi spermatozoa. Jadi dari satu sel spermatogenium yang 2 n pada akhir spermatogenesis akan menghasilkan 4 buah spermazoa yang 1 n. proses ini terjadi secara teratur dan membutuhkan waktu kurang lebih 74 5 hari.

Gambar 5. Proses spermatogenesis.

2.5.3.3. Perubahan Fisik6

Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting dimana tubuh anak dewasa, antara lain: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder. Perubahan primer pada masa pubertas adalah perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia. Pada pria, perubahan primer yang terjadi adalah gonad atau testis yang terletak di skrotum, di luar tubuh, pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun, testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Apabila fungsi organ-organ pria sudah matang, maka biasanya mulai terjadi mimpi basah. Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar. Pada pria, perubahan

sekunder yang terjadi antara lain: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; tangan dan kaki bertambah besar; pundak dan dada bertambah besar dan membidang; otot menguat; tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi; tumbuh jakun; tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan; penis dan buah zakar membesar; suara menjadi besar; keringat bertambah banyak; serta kulit dan rambut mulai berminyak.

2.5.4. Faktor Penyebab Pubertas Prekoks Pubertas prekoks yaitu keadaan dimana perkembangan pubertas muncul sebelum usia 9 tahun.2 Munculnya sifat seks sekunder secara dini tanpa gametogenesis disebabkan oleh pajanan abnormal pria imatur ke androgen atau wanita ke estrogen.4 Sindrom ini sebaiknya disebut pseudopubertas prekoksia untuk membedakannya dari pubertas prekoksia sejati akibat pola sekresi gonadotropin pubertas dari hipofisis yang dini tetapi normal. Pubertas prekoksia merupakan gejala endokrin tersering dari penyakit hipotalamus.4 Lesi di hipotalamus ventral dekat infundibulum menyebabkan pubertas prekoksia. Efek lesi mungkin disebabkan oleh terganggunya jalur saraf yang menyebabkan inhibisi pada generator pulsa GnRH, atau akibat stimulasi kronik sekresi GnRH yang berasal dari fokus iritiatif di sekitar lesi. Sifat prekoksia akibat kerusakan hipotalamus mungkin terjadi dengan frekuensi setara pada kedua jenis kelamin, walaupun bentuk konstitusional pubertas prekoksia lebih sering terdapat pada perempuan. Selain itu, gametogenesis dan steroidogenesis prekoksia dapat terjadi tanpa pola sekresi gonadotropin pubertas (prekoksialitas yang tidak tergantung gonadotropin). Paling tidak pada beberapa kasus kelainan ini, kepekaan reseptor LH terhadap gonadotropin meningkat karena terjadi mutasi aktivasi pada protein G yang menggabungkan reseptor pada adenilil siklase.4

BAB III PENUTUP

1.1. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
1. Inggriani YK. Genitalia masculina. Dalam: Buku ajar traktur urogenitalis. Edisi ke-2. Jakarta:UKRIDA;2010.h.45-51. 2. Melanie A. Reproduksi. Diunduh dari: www.scribd.com/doc/9739606/ Diktat-Kuliah-Reproduksi-Embriologi, 2 Oktober 2010. 3. Anwar R. Sintesis, fungsi, dan interpretasi pemeriksaan hormon reproduksi. Diunduh dari: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/ 2010/05/sistesis_fungsi_dan_interpretasi_hormon_reproduksi.pdf, Oktober 2010. 4. Ganong WF. Gonad: perkembangan dan fungsi sistem reproduksi. Dalam: Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-20. Jakarta:EGC;2003.h.403-5. 5. Universitas Sriwijaya. Kontrasepsi hormonal pada pria. Diunduh dari http://digilib.unsri.ac.id/download/Kontrasepsi%20hormonal%20pada %20pria.pdf, 2 Oktober 2010. 6. LUSA. Pubertas. Diunduh dari: www.lusa.web.id/pubertas/, 2 Oktober 2010. 7. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Keragaman sistem endokrin. Dalam: Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta:EGC;2009.h.455-63. 2