Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Persamaan Schrdinger
Persamaan Schrdinger merupakan fungsi gelombang yang digunakan untuk
memberikan informasi tentang perilaku gelombang dari partikel. Suatu persamaan
differensial akan menghasilkan pemecahan yang sesuai dengan fisika kuantum.
2.2 Persamaan Schrdinger Bebas-waktu
Aplikasi persamaan Schrdinger dalam banyak hal akan berkaitan dengan
energy potensial, yaitu besaran yang merupakan fungsi posisi dan tidak merupakan
fungsi waktu. Perhatian kita tidak tertuju pada keberadaan elektron dari waktu ke
waktu, melainkan tertuju pada kemungkinan dia berada dalam selang waktu yang
cukup panjang. Jadi jika faktor waktu dapat dipisahkan dari fungsi gelombang, maka
hal itu akan menyederhanakan persoalan. Kita tinjau persamaan Schrodinger kasus
satu dimensi dan menuliskan persamaan gelombang sebagai berikut
-
l
2m
2

1
(x)

2
(x)
x
2
+ I
P (x)
= E
Atau
-
l
2m
2

1
(x)

2
(x)
x
2
+ I
P (x)
= E



Inilah persamaan Schrdinger satu dimensi yang bebas-waktu.
Untuk tiga dimensi persamaan itu menjadi :

l
2m
2

2
+|E -I
P
(x, y, z)] = u
Perlu kita sadari bahwa adanyan persamaan Schrdinger bebas-waktu
bukanlah berarti bahwa elektron atau partikel yang ingun kita pelajari dengan
mengaplikasikan persamaan ini adalah partikel bebas-waktu. Partikel tersebut
memiliki kecepatan gerak, dan kecepatan adalah turunan terhadap waktu dan posisi.
Oleh karena itu dalam memeberi arti pada penurunan matematis dan persamaan
Schrdinger bebas-waktu, dalam hal-hal tertentu kita perlu mempertimbangkan
masalah waktu, sesuai dengan logika.
(2.2)
(2.3)
(2.1)
Universitas Sumatera Utara
Dengan persamaan Schrdinger bebas-waktu (2.1) atau (2.2) fungsi
gelombang yang dilibatkan dalam persamaan ini juga fungsi gelombang bebas-waktu,
(x) Dari bentuk gelombang komposit untuk elektron
u = S(x,t) A
0
e
](o
0
t-k
0
x)
dengan S(x,t) = c
](Ao
n
)t
c
-](Ak
n
)x
n

kita mengambil bentuk (x) sebagai (x) A(x)e
jkx
, dengan A(x) adalah selubung
paket gelombang, untuk mencari solusi persamaan Schrdinger.
Persamaan Schrdinger adalah persamaan gelombang dan yang kita maksudkan
adalah gelombang sebagai representasi elektron atau partikel. Mencari solusi
persamaan Schrdinger adalah untuk memperoleh fungsi gelombang yang selanjutnya
digunakan untuk melihat bagaimana perilaku atau keadaan elektron. Hubungan antara
momentum p dan energi E dengan besaran-besaran gelombang (k,,f,) adalah

p = lk = l
2n

=
h

E = l = b
2.3 Fungsi Gelombang
Persamaan Schrdinger adalah persamaan diferensial parsial dengan adalah
fungsi gelombang, dengan pengertian bahwa
- Jx Jy Jz
Adalah probabilitas keberadaan elektron pada waktu tertentu dengan volume dx, dy,
dz di sekitar titik (x,y,z), * adalah konjugat dari . Jadi persamaan Schrdinger tidak
menentukan posisi elektron melainkan memberikan probabilitas bahwa ia akan
ditemukan di sekitar posisi tertentu. Kita juga tidak mengatakan secara pasti
bagaimana elektron bergerak sebagai fungsi waktu karena posisi dan momentum
elektron dibatasi oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg.









(2.5)
(2.4)
Universitas Sumatera Utara
Dalam kasus satu dimensi dengan bentuk gelombang.
(x) =
2sIn(xk2)
x
A
0
e
-]kx


Dan


-
(x) =
2sIn(xk2)
x
A
0
e
+]kx



Maka

-
= A
0
2
j
sIn(xk2)
x
[
2



Apa yang berada dalam tanda kurung pada (2.9) adalah selubung paket gelombang
yang merupakan fungsi x sedangkan A
0
memiliki nilai konstan. Jadi selubung paket
gelombang itulah yang menentukan probabilitas keberadaan partikel.

Persyaratan Fungsi Gelombang, Fungsi gelombang (x) hasil solusi persamaan
Schrdinger mempunyai arti fisis. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.
Elektron sebagai suatu yang nyata harus ada di suatu tempat. Oleh karena itu
fungsi gelombang (untuk satu dimensi) harus memenuhi ] - Jx = 1

-

Fungsi gelombang (x), harus kontinyu sebab jika terjadi ketidak-kontinyuan hal
itu dapat ditafsirkan sebagai rusaknya elektron, suatu hal yang tidak dapat
diterima.
Turunan fungsi gelombang terhadap posisi, d / dx, juga harus kontinyu. Kita
telah melihat bahwa turunan fungsi gelombang terhadap posisi terkait dengan
momentum elektron sebagai gelombang. Oleh karena itu persyaratan ini dapat
diartikan sebagai persyaratan kekontinyuan momentum.
Fungsi gelombang harus bernilai tunggal dan terbatas sebab jika tidak akan berarti
ada lebih dari satu kemungkinan keberadaan elektron.
Fungsi gelombang tidak boleh sama dengan nol disemua posisi sebab
kemungkinan elektron haruslah nyata, betapapun kecilnya.(Kamal Singh,2006)





(2.6)
(2.7)
(2.8)
Universitas Sumatera Utara
2.4 Probabilitas dan Normalisasi
Fungsi gelombang (x) menyatakan suatu gelombang yang memiliki panjang
gelombang dan bergerak dengan kecepatan fase yang jelas. Masalah yang muncul
ketika hendak menafsirkan amplitudonya. Apakah yang dinyatakan oleh amplitudo
(x) dan variabel fisika apakah yang bergetar? Ini merupakan suatu jenis gelombang
yang berbeda, yang nilai mutlaknya memberikan probabilitas untuk menemukan
partikelnya pada suatu titik tertentu. Dimana |(x)|
2
dx memberikan probabilitas
untuk menemukan partikel dalam selang dx di x. Rapat probabilitas P(x) terhadap
(x) menurut persamaan Schrdinger sebagai berikut:
P(x)dx=|(x)|
2
dx (2.9)
Tafsiran |(x)|
2
ini membantu memahami persyaratan kontinu (x), walaupun
amplitudonya berubah secara tidak jelas dan kontinu. Probabilitas untuk menemukan
partikel antara x
1
dan x
2
adalah jumlah semua probabilitas P(x)dx dalam selang antara
x
1
dan x
2
adalah sebagai berikut:


=
2
1
2
2
1
) ( ) (
x
x
x
x
dx x dx x P
(2.10)
Dari aturan ini, maka probabilitas untuk menemukan partikel disuatu titik sepanjang
sumbu x, adalah 100 persen, sehingga berlaku:
1 ) (
2
=

+

dx x
(2.11)
Persamaan (2.12) dikenal dengan syarat Normalisasi, yang menunjukkkan
bagaimana mendapatkan tetapan A. Dimana tetapan A tidak dapat ditentukan dari
persamaan Differensialnya. Sebuah fungsi gelombang yang tetapan pengalinya
ditentukan dari persamaan (2.12) disebut ternormalisasikan. Hanyalah fungsi
gelombang yang ternomalisasi secara tepat, yang dapat digunakan untuk melakukan
semua perhitungan yang mempunyai makna fisika. Jika normalisasinya telah
dilakukan secara tepat, maka persamaan (2.12) akan selalu menghasilkan suatu
probabilitas yang terletak antara 0 dan 1.
Setiap pemecahan persamaan Schrdinger yang menghasilkan |(x)|
2
bernilai
tak hingga, harus dikesampingkan. Karena tidak pernah terdapat probabilitas tak
hingga untuk menemukan partikel pada titik manapun. Maka harus
Universitas Sumatera Utara
m
sa
di
sy
ak
di
p

m
p
se
ra
2
D
m
2
b
d
en

y
m
b
p

mengesampin
ama dengan
ifferensial m
yaratnya A
kan menjad
ibatasi dalam
emecahanny
Kedud
menjamin kep
ada keduduk
etiap kooord
ata-rata hasil

.5 Penerap
Persam
Dimana pem
memberikan i
.5.1. Pada p
Yang
ergerak tanp
dV(x) / dx = 0
nergi potens
Partik
ang mengak
mekanika k
ergantung w
ersamaan (2
2
2
m

h
ngkan suatu
n nol. Seba
menghasilka
= 0 agar pe
di tak hingg
m selang 0
ya berlaku p
dukan suatu
pastian hasil
kannnya. N
dinat, maka d
l dari sejuml
pan Persam
maan Schr
mecahan pe
informasi te
partikel Beb
dimaksud
pa dipengaru
0 sehingga m
silnya nol.
kel bebas dal
kibatkan en
kuantum da
waktu. Persa
2.13) berikut
) (
2
2
V
x
x

u pemecaha
gai contoh, j
an (x) = A
emecahannn
ga untuk x m
0 < x < L, m
pada seluruh
u partikel tid
l suatu kali p
amun jika m
ditemukan h
lah besar pen
aan Schrd
dinger dapa
ersamaan S
ntang perilak
bas
d dengan P
uhi gaya ap
menempuh l
lam mekanik
nergi totalny
apat dipeca
amaan Schro
:
( ) ( E x V =
an dengan
jika pemec
A + B
nya mempun
menuju tak h
maka A tidak
h daerah neg
dak dapat d
pengukuran
menghitung
asil yang mu
ngukuran be
dinger
at diterapka
chrdinger,
ku gelomban
Partikel Be
papun dalam
lintasan luru
ka klasik ber
ya jadi kon
ahkan deng
odinger pada
) (x
mengemba
cahan matem
bagi selu
nyai makna
hingga ( Teta
k boleh sama
gatif sumbu x
dipastikan,da
suatu besara
probabilitas
ungkin dari p
erkali-kali (E
an dalam be
yang dise
ng dari parti
ebas adalah
m suatu ba
us dengan ke
rgerak denga
nstan. Tetap
gan persam
a partikel be

alikan faktor
matika bagi
uruh daerah
fisika. Jika
api jika pe
a dengan nol
x < 0, maka
alam hal in
an fisika yan
s yang berk
pengukuran
Eisberg,1970
erbagai pers
ebut fungsi
ikel.
h sebuah p
agian ruang,
elajuan konst
an momentu
pi partikel
maan Schrd
ebas dapat d

r pengaliny
i persamaa
x > 0 , mak
tidak |(x)
emecahanny
l). Tetapi jik
a B = 0.
i tidak dapa
ng bergantun
kaitan denga
satu kali ata
0).
soalan fisika
gelombang
partikel yan
yaitu, F =
tan. Sehingg
um konstan P
bebas dalam
dinger tida
diperoleh da
(2.12)
ya
an
ka
)|
ya
ka
at
ng
an
au
a.
g,
ng
-
ga
P,
m
ak
ri
Universitas Sumatera Utara
Untuk partikel bebas V = 0, maka persamaannya menjadi
) (
) (
2
2
2 2
x E
x
x
m

h
(2.13)
atau
2
2
) (
x
x


=
2
2
h
m
) (x E (2.14)
Atau:

0 ) (
2 ) (
2 2
2
= +

x
mE
x
x

h
(2.15)

Karena:
2
2
2
h
mE
k = atau
m
k
E
2
2 2
h
= (2.16)
Dengan demikian diperoleh:
) (
) (
2
2
2
x k
x
x


(2.17)
0 ) (
) (
2
2
2
= +

x k
x
x

(2.18)
Persamaan (2.19) adalah bentuk umum dari persamaan differensial biasa berorde dua,
dengan k
2
adalah positif, dimana (x) merupakan kuantitas kompleks yang memiliki
bagian real (nyata) dan bagian imajiner,Maka :
0 ) (
) (
2
2
2
= +

x k
x
x

(2.19)
Maka didapatkan
(x)=Asinkx+ B cos kx (2.20)
Pemecahan ini tidak memberikan batasan pada k, maka partikel yang
diperkenankan memiliki semua nilai (dalam istilah kuantum, bahwa energinya tidak
terkuantisasi). Sedangkan penentuan nilai A dan B mengalami beberapa kesulitan,
Universitas Sumatera Utara
karena integral normalisasi tidak dapat dihitung dari - hingga + , bagi fungsi
gelombang itu. (Krane, 1992).
2.5.2. Partikel dalam sumur potensial
Sumur Potensial adalah daerah yang tidak mendapat pengaruh potensial. Hal
ini berarti bahwa partikel selama berada dalam sumur potensial, merupakan electron
bebas. Kita katakan bahwa electron terjebak di sumur potensial, dan kita anggap
bahwa dinding potensial sangat tinggi menuju , atau kita katakan sumur potensial
sangat dalam. Dalam gambar (2.1) berikut kita akan menggambarkan sumur
potensial. Daerah I dan daerah III adalah daerah-daerah dengan V= , Sedangkan di
daerah II, yaitu antara 0 dan L, V= . Kita katakan bahwa lebar sumur potensial ini
adalah L.
V(x) = 0, 0 x L
V(x) = , x < 0, x > L,
I II III
E
p
= E
p
= 0 E
p
=

1

2

3
Gambar 2.1 Partikel dalam sumur potensial daerah II
Pada sumur potensial yang dalam, daerah I dan III adalah daerah dimana
kemungkinan berada elektron bisa dianggap nol,
1
(x) = 0 dan
2
(x) = 0.
Sedangkan pada daerah dua Kita dapat memberi spesifikasi pada gerak partikel
dengan mengatakan bahwa gerak itu terbatas pada gerak sepanjang sumbu-x antara x
= 0 dan x = L disebabkan oleh dinding keras tak berhingga. Sebuah partikel tidak
akan kehilangan Energinya jika bertumbukan dengan dinding, energi totalnya tetap
konstan.
Dari per nyataan tersebut maka energi potensial V dari partikel itu menjadi tak
hingga di kedua sisi sumur, sedangkan V konstan di dalam sumur, dapat dikatakan V
= 0 seperti yang terlihat pada gambar (2.1) di atas. Karena partikel tidak bisa
memiliki Energi tak hingga, maka partikel tidak mungkin ditemukan di luar sumur,
sehingga fungsi gelombang = 0 untuk 0 x L. Maka yang perlu dicari adalah
Universitas Sumatera Utara
nilai di dalam sumur, yaitu antara x = 0 dan x = L . Persamaan Schrodinger bebas
waktu adalah :
-
h
2
2m
d
2
dx
2

n
= E
n

n
(2.21)

Dengan
d
2
q
dx
2
= -k
2
(2.22)
Dimana
k =
2mL
n
h
(2.23)

Sesuai dengan persamaan gelombang maka :
(x)=Asinkx+B coskx (2.24)
Pemecahan ini belum lengkap, karena belum ditentukan nilai A dan B, juga
belum menghitung nilai energi E yang diperkenankan. Untuk menghitungnya, akan
diterapkan persyaratan bahwa (x) harus kontinu pada setiap batas dua bagian ruang.
Dalam hal ini, akan dibuat syarat bahwa pemecahan untuk x < 0 dan x > 0 bernilai
sama di x = 0. Begitu pula pemecahan untuk x > L dan x < L haruslah bernilai sama
di x = L. Jika x = 0, Untuk x < 0 Jadi harus mengambil (x) = 0 pada x = 0.
(0) =Asin 0 + B cos 0
(0) = 0 + B.1 = 0 (2.25)
Jadi,didapat B = 0. Karena =0 untuk x > L, maka haruslah berlaku (L) = 0,
(L) = AsinkL + Bcos kL = 0 (2.26)
Karena telah didapatkan bahwa B = 0,maka haruslah berlaku:
AsinkL = 0 (2.27)
Universitas Sumatera Utara
Disini ada dua pemecahan yaitu A = 0, yang memberikan (x) = 0 dan

2
(x) = 0, yang berarti bahwa dalam sumur tidak terdapat partikel (Pemecahan tidak
masuk akal) atau sin kL = 0, maka yang benar jika:
kL = ,2,3, n=1,2,3 . (2.28)

Dengan:
k =
2mL
n
h
=
nn
L
(2.29)
Dari persamaan (2.28) dan persamaaan (2.29) diperoleh bahwa energi partikel
mempunyai harga tertentu yaitu harga eigen. Harga eigen ini membentuk tingkat
energisitas yaitu:


Dimana energy yang kita tinjau disini berbeda dengan energy Born dimana pada
energy Born menyatakan energy tingkat atomic sedangkan tingkat energy pada
persamaan Schrodinger menyatakan tingkat energy untuk electron.
Fungsi gelombang sebuah partikel didalam sumur yang berenergi E
n
ialah:

(2.31)

Untuk memudahkan E
1
=
2

2
/2mL
2
, yang mana tampak bahwa unit energi ini
ditentukan oleh massa partikel dan lebar sumur. Maka E = n
2
E
1
dan demikian
partikelnya hanya dapat ditemukan dengan energi E
1
, 4 E
1
, 9 E
1
, 16 E
1
dan
seterusnya. Karena dalam kasus ini energi yang diperoleh hanya pada laju tertentu
yang diperkenankan dimiliki partikel. Ini sangat berbeda dengan kasus klasik,
misalnya manik-manik (yang meluncur tanpa gesekan sepanjang kawat dan
menumbuk kedua dinding secara secara elastik) dapat diberi sembarang kecepatan
awal dan akan bergerak selamanya, bolak-balik, dengan laju tersebut.
2
2 2 2
2mL
n
E
n
h
=
x
mE
A
n
n
h
2
sin =
Universitas Sumatera Utara
Dalam kasus kuantum, hal ini tidaklah mungkin, karena hanya laju awal
tertentu yang dapat memberikan keadaan gerak tetap, keadaan gerak khusus ini
disebut keadaan stasioner (Disebut keadaanstasionerkarena ketergantungan pada
waktu yang dilibatkan untuk membuat
2
) , ( ), , ( t x t x tidak bergantung waktu).
Hasil pengukuran energi sebuah partikel dalam sebuah sumur potensial harus berada
pada salah satu keadaan stasioner, hasil yang lain tidaklah mungkin. Pemecahan bagi
) (x belum lengkap, karena belum ditentukan tetapan A. Untuk menentukannya,
ditinjau kembali persyaratan normalisasi, yaitu 1 ) (
2
=

+

dx x . Karena (x)=0,
kecuali untuk 0 x Lsehingga berlaku:
.
] |A
2
|sin
2
(kI)Jx = 1
L
0
(2.32)
.
Maka diperoleh A = L / 2 . Dengan demikian, Pemecahan lengkap bagi fungsi
gelombang untuk 0 x L adalah:
.

L
x n
L
n

sin
2
= n=1,2,3, (2.33)
.
Dalam gambar 2.2 dan 2.3 akan dilukiskan berbagai tingkat energi, fungsi
gelombang dan rapat probabilitas
2
yang mugkin untuk beberapa keadaan
terendah. Keadaan energi terendah, yaitu pada n =1 , dikenal sebagai keadaan dasar
dan keadaan dengan energi yang lebih tinggi (n > 1) dikenal sebagai keadaan eksitasi.
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2. 2 Tingkat energi dalam sumur secara konstan ( Kamal Sing,2005)


Gambar 2.3 Probabilitas keberadaan electron dalam sumur potensial

Kita lihat di sini bahwa energi elektron mempunyai nilai-nilai tertentu yang
diskrit, yang ditentukan oleh bilangan bulat n. Nilai diskrit ini terjadi karena
pembatasan yang harus dialami oleh
2
, yaitu bahwa ia harus berada dalam sumur
potensial. Ia harus bernilai nol di batas-batas dinding potensial dan hal itu akan terjadi
bila lebar sumur potensial L sama dengan bilangan bulat kali setengah panjang
gelombang. Jika tingkat energi untuk n = 1 kita sebut tingkat energi yang pertama,
maka tingkat energi yang kedua pada n = 2, tingkat energi yang ketiga pada n = 3 dan
seterusnya.Jika kita kaitkan dengan bentuk gelombangnya, dapat kita katakan bahwa
tingkat-tingkat energi tersebut sesuai dengan jumlah titik simpul gelombang. Dengan
Universitas Sumatera Utara
demikian maka diskritisasi energi elektron terjadi secara wajar melalui Pemecahan
persamaan Schdinger.
Persamaan (2.30) memperlihatkan bahwa selisih energy antara satu tingkat
dengan tingkat berikutnya, misalnya antara n=1 dan n =2, berbanding terbalik dengan
kuadrat lebar sumur potensial. Makin lebar sumur ini, makin kecil selisih energy
tersebut, artinya tingkat-tingkat energy semakin rapat. Untuk L sama dengan satu
satuan misalnya, selisih energy untuk n=2 dan n=1 adalah E
2
- E
1
= 3
2
/ 8m dan jika
L 10 kali lebih lebar maka selisih ini menjadi E
2
E
1
= 0.03
2
/8m.

Gambar 2.4. Pengaruh lebar sumur terhadap energy
Jadi makin besar L maka perbedaan nilai tingkat-tingkat energy akan semakin
kecil dan untuk L semakin lebar maka tingkat-tingkat energy tersebut akan semakin
rapat sehingga mendekati kontinyu.( Neuredine Zettili, 2009)














(a)
(b)
Universitas Sumatera Utara
2.6 Pemrograman dengan Mathematica 7
Mathematica merupakan perangkat lunak yang diproduksi dan dikembangkan
oleh Wolfram Research, Inc. Pendiri dan presiden perusahaan tersebut adalah Stephen
Wolfram, P.hD. Beliau adalah fisikawan di bidang fisika teoritis dan berkebangsaan
Inggris. Mathematica dapat digunakan untuk aplikasi matematika, ilmu pengetahuan,
teknologi, bisnis dan aplikasi lainnya.
Pada Penelitian ini, program lebih banyak dibuat dengan menggunakan
perintah-perintah berikut ini
1. Graphics: perintah untuk menampilkan grafik dua dimensi berdasarkan data yang
diberikan.
Sintaks umumnya: Graphics[primitives,options].
2. Manipulate: perintah untuk memanipulasi secara interaktif ekspresi-ekspresi program,
grafik dan objek lainnya.
Sintaks umumnya: Manipulate[expr,{u,u
min
,u
max
}].
3. Module: perintah untuk membuat variabel lokal dengan nama tertentu yang dapat
dipanggil.
Sintaks umumnya: Module[{x,y,},expr].
4. If: perintah untuk memberikan suatu ekspresi tertentu jika kondisi benar dan ekspresi
lainnya jika kondisi salah.
Sintaks umumnya: If[condition,t,f].
5. ListLinePlot: perintah untuk memplot grafik linier dua dimensi berdasarkan pasangan
data yang telah ditentukan.
Sintaks umumnya: ListLinePlot[{{x
1
,y
1
},{x
2
,y
2
},}].
Untuk informasi yang lebih mendetail tentang Mathematica dapat melihatnya di situs
resmi Wolfram (www.wolfram.com).



Universitas Sumatera Utara