Anda di halaman 1dari 52

SINDROM PARKINSON

Rini Meilani (220110100019) Yuniar (220110100022) Mia Ganes S (220110100031) Novia Juwita Putri (220110100033) Dea Arista (220110100047) Mentari Wardhani Puteri (220110100057) Amartiwi (220110100065) Dinny Ria Pertiwi (220110100078) Febi Dwi Putri (220110100079) Afini Dwi P (220110100110) Tian Pradiani (220110100114) Egi Nugraha F (220110100142)

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga. Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan. Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system nigrostriatal. Namun, derajat keparahan defisit motorik tersebut beragam. Tanda-tanda motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan disfungsi autonom. Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan wanita seimbang. 5 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 64 tahun sampai 3,5 % pada usia 85 89 tahun. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur. Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai

kesulitan. Otot-otot kecil di tangan seringkali mengalami gangguan, sehingga pekerjaan sehari hari (misalnya mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu) semakin sulit dilakukan. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam melangkah dan seringkali berjalan tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun sesuai dengan langkahnya. Jika penderita Penyakit Parkinson sudah mulai berjalan, mereka mengalami kesulitan untuk berhenti atau berbalik. Langkahnya bertambah cepat sehingga mendorong mereka untuk berlari kecil supaya tidak terjatuh. Sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit mempertahankan keseimbangan sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke belakang. Wajah penderita Penyakit Parkinson menjadi kurang ekspresif karena otot-otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang berkurangnya ekspresi wajah ini disalah artikan sebagai depresi, walaupun memang banyak penderita Penyakit Parkinson yang akhirnya mengalami depresi. Pandangan tampak kosong dengan mulut terbuka dan matanya jarang mengedip. Penderita Penyakit Parkinson seringkali ileran atau tersedak karena kekakuan pada otot wajah dan tenggorokan menyebabkan kesulitan menelan. Penderita Penyakit Parkinson berbicara sangat pelan dan tanpa aksen (monoton) dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan fikirannya. Sebagian besar penderita memiliki intelektual yang normal, tetapi ada juga yang menjadi pikun.

1.2 Tujuan Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang konsep penyakit Parkinson mulai dari definisi, patofisiolgi, dan asuhan keperawatan dari Parkinson.

BAB II KONSEP PENYAKIT

2.1 Pengertian Penyakit parkinson (Parkinsons disease) adalah penyakit saraf progresif yang berdampak terhadap respons mensefalon dan pergerakan regulasi. Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat dengan usia. Penyakit ini mempunyai karakteristik terjadinya degenerasi dari neuron dopaminergik pas substansia nigra pars kompakta, ditambah dengan adanya inklusi intraplasma yang terdiri dari protein yang disebut dengan Lewy Bodies. Neurodegeneratif pada parkinson juga terjadi pasa daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe nuklei, nukleus basalis Meynert, hipothalamus, korteks cerebri, motor nukelus dari saraf kranial, sistem saraf otonom. Jadi, Penyakit Parkinson ini adalah suatu sindrom karena gangguan ganglia basalia akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansi nigra ke globus palidus dan merupakan suatu gangguan neurologis progresif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab mengontrol dan mengatur gerakan.

2.2.Etiologi Penyakit Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak dan faktor-faktor lainnya seperti : 1. Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon gejala penyakit Parkinson, 2. Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan a. Virus

b. Genetic c. Toksisitas

d. Obat-obatan yang mempengaruhi kerja dopamine cont : antipsikosac untuk pengobatan paranoia berat. e. Keracunan logam berat (debu mangan, karbonmonoksida yang menghancurkan sel dalam substansi nigra) f. Idiopatik (penyebab lain yang tidak diketahui). 3. MAO B meningkat (Mono Amin Oxidase)

2.3. Manifestasi Klinis TRAP Tremor : Gemetar. Max saat istirahat Rigidity : kekakuan, peningkatan tonus otot Akinesia : tidak ada gerakan, lamban Posture : tidak stabil, bungkuk Umumnya penderita parkinson mengalami hal-hal seperti berikut : 1.Gejala Motorik a.Tremor/bergetar Salah satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang). Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar). Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.

b.Rigiditas/kekakuan Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon) sehingga terjadi kekakuan.

c.Akinesia/Bradikinesia Gerakan penderita menjadi serba lambat. Dalam pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi pendek dan diseret. Kesadaran masih tetap baik sehingga penderita bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu. Wajah menjadi tanpa ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur. Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut.

d.Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk Melangkah Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan sembelit. Penderita menjadi lambat berpikir dan depresi.

e.Mikrografia Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini.

f.Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson)

Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat ( marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.

g.Bicara monoton Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.

h.Dimensia (perubahan status mental) i.Gangguan behavioral Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup.

2.Gejala non motorik a.Disfungsi otonom - Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik. - Kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic - Pengeluaran urin yang banyak - Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat seksual, perilaku, orgasme. b.Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi c.Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat d.Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia) e.Gangguan sensasi, - kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan warna,

- penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension orthostatic, suatu kegagalan sistemsaraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi badan - berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau ( microsmia atau anosmia),

2.4 Klasifikasi Tingkatan parkinson berdasarkan tanda dan gejalanya: Tingkatan awal/dini Pada tingkat ini pasien masih bisa melakukan tindakan sehari-hari tanpa gangguan, terjadi kerusakan pada sebelah tungkai dan lengan,kelemahan sedikit, tangan dan kaki gemetar. Tingkatan ringan sedang Terjadi kerusakan pada kedua tungkai dan lengan, wajah seperti bertopeng, gaya jalan diseret dan pelan. Pada keadaan ini pasien sudah terasa terganggu dan sukar dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tingkatan berat Terjadi akinesia, rigiditas dimana pasien tidak mampu melakukan kegiatan seharihari, sehingga pasien mengalami ketergantungan penuh. Pada umumnya diagnosis sindrom Parkinson mudah ditegakkan, tetapi harus diusahakan menentukan jenisnya untuk mendapat gambaran tentang etiologi, prognosis dan

penatalaksanaannya. Parkinsonismus primer/ idiopatik/paralysis agitans. Sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya belum jelas. Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.

Pada waktu belakangan ini timbul teori baru yaitu peranan MPTP (1 methyl, 4phenyl, 12, 3, 6 tetrahydropyridine) yang dapat menimbulkan penyakit Parkinson (Parkinsonismus MPTP). Berdasarkan teori baru ini kemudian dikembangkan beberapa obat baru, misalnya selegiline/-deprenil, lysuride, pergolide, dll. Parkinsonismus sekunder atau simtomatik Dapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis, sifilis meningovaskuler, iatrogenik atau drug induced, misalnya golongan fenotiazin, reserpin, tetrabenazin dan lain-lain, misalnya perdarahan serebral petekial pasca trauma yang berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan kalsifikasi. Sindrom paraparkinson (Parkinson plus) Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran penyakit keseluruhan. Jenis ini bisa didapat pada penyakit a. Wilson (degenerasi hepato-lentikularis) b. hidrosefalus normotensif, sindrom Shy-drager c. degenerasi striatonigral d. atropi palidal (parkinsonismus juvenilis) e. Penyakit creutzfeldt-Jakob f. Penyakit hallerfiorden spatz g. Kompleks demensia Parkinsonisme Guam

2.5. Komplikasi a. Demensia sindrom otak organic atau suatu penyakit pada otak organic irreversible yang menyebabkan gangguan ingatan serta kepribadian, kemunduran dalam perawatan diri, kerusakan kemampuan kognitif dan disorientasi. b. Aspirasi c. Trauma karena jatuh d. Gangguan Mood

Pasien dengan PD idiopatik sekitar 90 % nya mengalami komplikasi psikiatrik, termasuk didalamnya gangguan mood mayor (depresi mayor, distimia, atau gangguan bipolar); gangguan penyesuaian; gejala ansietas disabling, perubahan mood yang dicetuskan oleh obat, rasa sedih patologis, demensia; keadaan apatis; atau delirium. Perubahan mood ini biasanya terjadi mengikuti fluktuasi motorik, pada saat pasien mengalami mood yang rendah (bercampur dengan keadaan depresi-ansietas) terjadi pada saat periode off dan mood yang normal atau meningkat (euphoria dan hipomanik) terjadi pada periode on. Namun, fluktuasi mood ini juga dapat terjadi tanpa disertai fluktuasi motorik pada beberapa pasien. e. Depresi Depresi mayor terjadi hampir 40 % pada pasien dengan PD, angka kejadian tersebut bervariasi dari tiap studi yang ada yaitu dari 4% hingga 70 %. Depresi mayor terjadi pada hampir setengahnya pasien dengan depresi, sedangkan lainnya disertai gangguan penyesuaian, distimia atau kelainan bipolar. Intensitas gejala depresi mayor secara umum terjadi dari sedang hingga berat dan sering bersamaan dengan gejala ansietas. Secara umum, studi yang ada tidak menunjukkan hubungan yang jelas antara onset umur dan lamanya PD, riwayat anggota keluarga dengan gangguan mood, atau riwayat pasien dengan episode depresi sebelumnya. Terlihat dengan jelas hubungan antara mood dan fenomena motorik sangatlah

kompleks. Menariknya adalah perbaikan motorik dengan obat-obatan tidak diikuti dengan perbaikan mood, tetapi keberhasilan pengobatan depresi berhubungan dengan perbaikan fungsi motorik. Dalam beberapa studi menunjukkan hubungan antara perbaikan dari suatu episode depresi dan gangguan kognitif setelah mendapatkan pengobatan gangguan mood. f. Apatis Gejala apatis dapat timbul dengan gejala depresi mayor. Terdapat dua studi yang menelaah apatis. Pada studi sebelumnya, depresi dan apatis dapat timbul bersamaan pada sekitar 30 % sample, dan 12 % hingga 16 % pasien hanya mengalami apatis saja. Dibandingkan dengan pasien PD yang eutimik, tidak terdapat perbedaan bermakna dalam usia, jenis kelamin, lamanya menderita PD, atau beratnya gangguan motorik tetapi pada

pasien dengan sindoma apatis terjadi relative pada usia lanjut dibandingkan dengan PD yang disertai depresi. g. Emosionalisme Pada beberapa studi mendapatkan suatu keadaan meningkatnya frekuensi menangis atau labilnya emosi pada pasien PD dibanding pada subyek kontrol. Keadaan emosi yang timbul pada PD merupakan suatu keadaan sentimental yang tinggi dan berlebihan yang tidak sesuai, tidak dimotivasi dan tidak disadari. Biasanya berlangsung singkat, tetapi sering mereka sampai timbul air mata. Keadaan menangis yang berlebihan pada PD dapat terjadi sebagai tanda depresi mayor, inkontinensia emosional (dikenal sebagai tertawa atau menangis patologis), delirium, atau dengan penggunaan benzodiazepine. Pasien sering mendeskripsikan keadaan emosional yang berlebihan dan tidak terkontrol biasanya dicetuskan melalui berbagai stimulus positif ataupun negatif, sebagai contoh adegan di televisi yang membuat sedih, hal-hal pengkhawatiran tentang masa depan, atau melihat orang sedang berbuat kebaikan. Pada beberapa pasien, emosionalitas ini membuat suatu keadaan yang sangat memalukan secara sosial, yang menimbulkan fobia bagi pasien. Dari segi pasien sendiri dan atau keluarganya menyimpulkan bahwa menangis ini berarti mereka mengalami depresi dan hal ini harus disadari keadaan ini sering terjadi pada PD, bahkan tanpa disertai sindroma depresi sekalipun. Pemeriksaan yang seksama mengenai keadaan emosional pasien PD menunjukkan hampir 40 % pasien mengalami peningkatan keadaan menangis sejak onset PD, dan 11 % nya keadaan emosionalnya lebih pervasif. Tidak ada hubungan yang pasti antara emosionalitas dan gangguan kognitif atau sindroma depresi mayor. h. Ansietas Keadaan ansietas merupakan masalah umum terjadi pada pasien PD, tetapi sering kurang diperhatikan mengenai fenomena ini. Ansietas ini dapat terjadi berdiri sendiri atau merupakan suatu gejala depresi, secara klinis keadaan ansietas terjadi pada sekitar 40 % pasien PD. Secara umum gejala yang timbul dapat berupa kelainan umum ansietas, fobia sosial, dan kelainan panik, yang prevalensinya rata-rata sekitar 25 % pada beberapa studi.

Sindroma tersebut dapat terjadi sebelum atau menyertai sindroma depresi mayor, dan dapat terjadi setelah keadaan depresi diterapi Pada beberapa studi menunjukkan sindroma ansietas mendahului onset dari gejala motorik, tetapi juga dapat timbul setelahnya. Studi lain juga memaparkan mengenai hubungan antara gejala panik dan fluktuasi pengobatan antiparkinson dan gejala motorik, tetapi hubungan yang jelas antara ansietas dan tingkat disabilitas, gejala motorik, dan pengobatan dengan dopaminergik belum dipublikasikan.Walaupun begitu, sindroma ansietas pada PD dapat mewakili perbedaan lokasi patologi pada PD. i. Psikosis Psikosis yang timbul berhubungan dengan pengobatan dopaminergik, sekitar 20 % pada pasien PD. Psikosis dapat timbul secara spontan atau berhubungan dengan gangguan kognitif, fluktuasi periode on dan off, gangguan mood, pengobatan psikoaktif, dan atau keadaan delirium. Gejala psikosis yang timbul secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama terdiri dari gejala halusinasi visual berupa gambaran binatang atau orang yang terjadi dengan rasa sensasi yang jelas dan disertai insight. Tipe yang kedua halusinasi atau delusi yang terjadi menjadi persisten tetapi dengan hilangnya insight. Pada grup yang ketiga, halusinasi atau delusi terjadi pada keadaan delirium. Halusinasi dan delusi juga terjadi sebagai gejala dari depresif mayor atau gejala manik, hal ini merupakan diagnosis yang harus diperhatikan pada saat pasien dalam keadaan agitasi. Pada suatu studi pada populasi tentang psikosis menunjukkan adanya hubungan antara gejala psikotik dan umur, tahap perkembangan, dan subgrup diagnostik dari PD, beratnya depresi, dan gangguan kognitif, dimana pengobatan antiparkinson tidak dibedakan diantara pasien PD dengan atau tanpa psikosis. Patofisiologi psikosis pada PD tidak diketahui secara pasti (table 2). Laporan terjadinya psikosis pada pasien PD sering timbul pada penggunaan terapi levodopa.4 Semua agen, termasuk agonis dopamine, amantadin, dan levodopa dapat menyebabkan psikosis dan mengalami perbaikan dengan penurunan dosis. 4 Hal inilah yang menjadi pemikiran bahwa psikosis yang terjadi akibat sekunder hipersensitifitas reseptor dopamine di regio mesokortikal dan mesolimbik yang diakibatkan stimulasi berlebihan dari pengobatan

dopaminergik.

Teori

lain

mengatakan,

adanya

ketidakseimbangan

antara

sistem

dopaminergik dan serotonergik akibat pengobatan dengan dopaminergik yang menurunkan kadar serotonin atau stimulasi yang berlebihan dari reseptor serotonergik karena terapi dopaminergik. 2.6.Pemeriksaan Diagnostik Observasi gejala klinis dilakukan dengan mempelajari hasil foto untuk mengetahui gangguan.

Pemeriksaan Penunjang o EEG (Elektro Encelopaty) o CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki

melebar,hidrosefalua eks vakuo). Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronisyang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang.Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul. o Laboratorium Pemeriksaan laboratorium hanya bersifat dukungan pada hasil klinis,karena tidak memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi untuk penyakit Parkinson. Pengukuran kadar NT dopamine atau metabolitnya dalam air kencing, darah maupun cairan otak akan menurun pada penyakit Parkinson dibandingkan kontrol.Lebih lanjut , dalam keadaan tidak ada penanda biologis yang spesifik penyakit, maka diagnosis definitive terhadap penyakit Parkinson hanya ditegakkan dengan otopsi. Dua penelitian patologis terpisah berkesimpulan bahwa hanya 76% dari penderita memenuhi kriteria patologis aktual, sedangkan yang 24% mempunyai penyebab lain untuk parkinsonisme tersebut. Neuroimaging : o Magnetik Resonance Imaging ( MRI ) Baru baru ini dalam sebuah artikel tentang MRI , didapati bahwa hanya pasien yang dianggap mempunyai atropi multi sistem memperlihatkan signal di striatum.

o Positron Emission Tomography ( PET ) Ini merupakan teknik imaging yang masih relatif baru dan telah memberi kontribusi yang signifikan untuk melihat kedalam sistem dopamine nigrostriatal dan peranannya dalam patofisiologi penyakit Parkinson. Penurunan karakteristik pada pengambilan fluorodopa , khususnya di putamen , dapat diperlihatkan hampir pada semua penderita penyakit Parkinson, bahkan pada tahap dini.Pada saat awitan gejala , penderita penyakit Parkinson telah memperlihatkan penurunan 30% pada pengambilan fluorodopa putamen. Tetapi sayangnya PET tidak dapat membedakan antara penyakit Parkinson dengan parkinsonisme atipikal. PET juga merupakan suatu alat untuk secara obyektif memonitor progresi penyakit , maupun secara obyektif memperlihatkan fungsi implantasi jaringan mesensefalon fetus.

Gambar . PET pada penderita Parkinson pre dan prost transplantasi

o Single Photon Emission Computed Tomography ( SPECT ) Sekarang telah tersedia ligand untuk imaging sistem pre dan post sinapsis oleh SPECT , suatu kontribusi berharga untuk diagnosis antara sindroma Parkinson plus dan penyakit Parkinson, yang merupakan penyakit presinapsis murni. Penempelan ke striatum oleh derivat kokain [123]beta-CIT, yang juga dikenal sebagai RTI-55, berkurang secara signifikan disebelah kontralateral sisi yang secara klinis terkena maupun tidak terkena pada penderita hemiparkinson. Penempelan juga berkurang secara signifikan dibandingkan dengan nilai yang diharapkan sesuai umur yang

berkisar antara 36% pada tahap I Hoehn dan Yahr sampai 71% pada tahap V. Marek dan yang lainnya telah melaporkan rata-rata penurunan tahunan sebesar 11% pada pengambilan [123]beta-CIT striatum pada 34 penderita penyakit Parkinson dini yang dipantau selama 2 tahun. Sekarang telah memungkinkan untuk memvisualisasi dan menghitung degenerasi sel saraf nigrostriatal pada penyakit Parkinson.Dengan demikian, imaging transporter dopamin pre-sinapsis yang menggunakan ligand ini atau ligand baru lainnya mungkin terbukti berguna dalam mendeteksi orang yang beresiko secara dini. Sebenarnya, potensi SPECT sebagai suatu metoda skrining untuk penyakit Parkinson dini atau bahkan presimptomatik tampaknya telah menjadi kenyataan dalam praktek. Potensi teknik tersebut sebagai metoda yang obyektif untuk memonitor efikasi terapi farmakologis baru, sekarang sedang diselidiki Skala Hoehn dan yahr stage 0 tidak ada tanda-tanda penyakit Stage 1 tanda-tanda unilateral Stage 1 tanda-tanda unilateral dan axsial Stage 2 tanda-tanda bilaterall tanpa gangguan keseimbangan Stage 2,5 penyakit bilateral ringan Stage 3 penyakit bilateral ringan-sedang terjadi ketidak seimbangan tubuh, secara fisik masih mandiri Stage 4 penyakit parah tidak mampu hidup sendiri Stage 5 tidak bias berjalan atau berdiri tanpa bantuan 2.7. Penatalaksanaan Pengobatan penyakit parkinson dapat dikelompokan ,sebagai berikut : 1. Farmakologik Bekerja pada sistem dopaminergik Bekerja pada sistem kolinergik Bekerja pada Glutamatergik Bekerja sebagai pelindung neuron

Lain lain

2. Non Farmakologik Perawatan Pembedahan Deep-Brain Stimulasi Transplantasi

3.1 Farmakologik Sasaran tindakan adalah untuk meningkatkan transmisi dopamin. Terapi obat-obatan mencakup antihistamin, antikolinergik, amantidin, levodopa, anhibitor monoamin oksidasi (MAO), dan antidepresi. Beberapa obat-obat ini menyebabkan efek sampik psikiatrik pada lansia meliputi : Antihistamin Antihistamin mempunyai efek sedatif dan antikolinergik pusat ringan, dapat membantu dalam menghilangkan tremor. Terapi Antikolinergik Agen antikolinergik (triheksifenidil, prosiklidin, dan benzotropin mesilat) efektif untuk mengontrol tremor dan kekakuan Parkinson. Obat-obatan ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan levodopa. Agen ini menghilangkan aksi asetilkolin pada sistem saraf pusat. Efek smaping mencakup penglihatan kabur, wajah memerah, ruam pada wajah, konstipasi, retensi urine, dan kondusi akut. Tekanan intraokular dipantau ketat karena obat-obat ini kontraindikasi pada klien dengan glaukoma meskipun glaukoma yang dialami klien hanya sedikit. Klien dengan hiperplasia prostatik dipantau terhadap adanya tanda-tanda retensi urine. Amantadin Hidroklorida Amantadin hidroklorida (Symmetrel), agen antivirus yang digunakan pada awal pengobatan penyakit Parkinson untuk menurunkan kekakuan, tremor dan bredikinesia. Agen ini diperkirakan bekerja melalui pelepasan dopamin dari daerah psikiatrik (perubahan perasaan hati, konfusi, halusinasi), muntah, adanya tekanan pada epigastrium, pusing, dan gangguan penglihatan.

Terapi Levodopa Levodopa merupakan pengobatan utama untuk penyakit parkinson. Di dalam otak levodopa dirubah menjadi dopamine. L-dopa akan diubah menjadi dopamine pada neuron dopaminergik oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa

dekarboksilase). Walaupun demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki neuron dopaminergik, sisanya dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan efek samping yang luas. Karena mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi pembentukan LDopa endogen. Carbidopa dan benserazide adalah dopa dekarboksilase inhibitor, membantu mencegah metabolisme L-Dopa sebelum mencapai neuron dopaminergik. Levodopa mengurangi tremor, kekakuan otot dan memperbaiki gerakan. Penderita penyakit parkinson ringan bisa kembali menjalani aktivitasnya secara normal. Obat ini diberikan bersama carbidopa untuk meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek sampingnya. Sejak diperkenalkan akhir tahun 1960an, levodopa dianggap merupakan obat yang paling banyak dipakai sampai saat ini. Levodopa dianggap merupakan tulang punggung pengobatan penyakit parkinson. Berkat levodopa, seorang penderita parkinson dapat kembali beraktivitas secara normal. Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai memang dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan tidak mengganggu, sebaiknya terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa efektifitas levodopa berkaitan dengan lama waktu pemakaiannya.Levodopa melintasi sawar-darah-otak dan memasuki susunan saraf pusat dan mengalami perubahan ensimatik menjadi dopamin. Dopamin menghambat aktifitas neuron di ganglia basal. Efek samping levodopa dapat berupa: 1) Neusea, muntah, distress abdominal 2) Hipotensi postural 3) Sesekali akan didapatkan aritmia jantung, terutama pada penderita yang berusia lanjut. Efek ini diakibatkan oleh efek beta-adrenergik dopamine pada system konduksi jantung. Ini bias diatasi dengan obat beta blocker seperti propanolol. 4) Diskinesia.

Diskinesia yang paling sering ditemukan melibatkan anggota gerak, leher atau muka. Diskinesia sering terjadi pada penderita yang berespon baik terhadap terapi levodopa. Beberapa penderita menunjukkan gejala on-off yang sangat

mengganggu karena penderita tidak tahu kapan gerakannya mendadak menjadi terhenti, membeku, sulit. Jadi gerakannya terinterupsi sejenak. 5) Abnormalitas laboratorium. Granulositopenia, fungsi hati abnormal dan ureum darah yang meningkat merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada terapi levodopa.
MADOPAR 125MG TAB@30
Kandungan Per madopar tab Levodopa 100 mg,benserazide HCL 25 mg.per madopar HBS levodopa 100 mg, benserazide HCL 25 mg.Per madopar Dispersible 125 levodopa 100 mg,benserazide HCL 125 MG. Indikasi Peny parkinson kecuali sindroma parkinson krn obat.Parkinsonisme simptomatik pasca ensefalilitis. Kontra Indikasi Ggn endokrin, ginjal, hati, jantung yg berat. Psikosis & psikoneurosis berat. Pasien < 25 thn. Hamil, kombinasi dg MAOI kecuali selegiline. Efek Samping Anoreksia, ggn Gl. Jarang: aritmia, hipotensi ortostatik. Gerakan involunter abnormal spt atetosis pd akhir pengobatan. Leukopenia & trombositopenia. Perhatian Glaukoma, riwayat infark miokardium, insufisiensi koroner, aritmia, riwayat ulkus lambung&asteomalasia. Hentikan 1248jam sblm op dg anestesi umum. Jika pasien terpaksa di op ketika sedng menggunkan madopar, hindari anestesi dg siklopropane atau haloten. Dosis Awal 1/2 tab 3-4 x/hr, dpt ditingkatkan tiap minggu mjd sbg dosis tunggal atau lebih. pemeliharaan: 2 tab 3 x/hr. HBS dosis harian & interval awal sama dg standar levodopa. Stlh 2-3 hr, dpt ditingkatkan scr bertahap 50%nya. Titrasi selanjutnya dpt dilakukan dg hati-hati stlh interval 2-3 hr. Interaksi memperkuat efek simpotomimetik. Neuroleptik.

Kemasan Kaps HBS 30. Tab dispersible 125 30

DOMPERIDON 10MG TAB@50 GNV


Kandungan Domperidone Indikasi Dispepsia fungsional, mual dan muntah akut atau mual-muntah karena pemberian levodopa dan bronmokritptin > 12 minggu Kontra Indikasi Prolaktinoma tumor hipofise yang mengeluarkan prolaktin. Efek Samping Sedasi, Rx ekstrapiramidal distonik, parkinson diskinesia tardif, galaktore, ginekomastia, mulut kering, sakit kepala, diarem ruam, kulit, rasa haus, cemas, gatal. Perhatian Hamil dan laktasi. Ggn fungsi hati dan ginjal. Dosis Dispepsia fungsional Dewasa dan lansia 10-20 mg 3x/hr dan 10-20 mg 1x sebelum tidur malam selama maks: 12 minggu. Mual muntah (ternasuk karena levodopa dan bromokriptin) Dewasa dan lansia 10-20 mg tiap 4-8 jam. Anak 0.2-0.4 mg/kg BB/hr tiap 4-8 jam. Interaksi Analgesikopiat, antikolinergik, bromokriptin, antasida. Kemasan Tab 10 mg x 5 x 10. Suspensi 5 mg/ 5 ml x 60 ml x 1.

Derivat Ergoet-Agonis Dopamin Agen-agen ini (bromokriptin dan pergolid) dianggap sebagai reseptor dopamin; agen ini bermanfaat bila ditambahkan dengan levodopa dan pada klien yang mengalami reaksi onoff terhadap fluktuasi klinis ringan. Inhibitor MAO.

Eldepril adalah salah satu perkembangan dalam farmakoterapi penyakit Parkinson. Obat ini menghambat pemecahan dopamin; sehingga peningkatan jumlah dopamin tercapai, tidak seperti bentuk terapi lain, agen ini secara nyata memperlambat kemajuan penyakit. Antidepresan Antidepresan trisiklik dapat diberikan untuk mengurangi depresi yang juga biasa terjadi pada penyakit Parkinson.

3.1.1 Bekerja pada sistem dopaminergik a. L-dopa Penemuan terapi l-dopa pada tahun 1960 merupakan terobosan baru pengetahuan tentang penyakit degenerasi .Meskipun sampai sekarang l-dopa masih merupakan obat paling menjanjikan respon terbaik untuk penyakit parkinson ,namun masa kerjanya yang singkat , respon yang fluktuatif dan efek oxidative stress dan metabolitnya menyebabkan para peneliti mencari bahan alternatif . Cara kerja obat kelompok ini dapat dijelaskan lewat alur metabolisme dari dopamin sebagai berikut. Tyrosin yang berasal dari makanan akan diubah secara beruntun menjadi l-dopa dan dopamin oleh enzimya masing-masing . Kedua jenis enzim ini terdapat diberbagai jaringan tubuh , disamping dijaringan saraf . Dopamin yang terbentuk di luar jaringan saraf otak , tidak dapat melewati sawar darah otak . Untuk mencegah jangan sampai dopamin tersintesa diluar otak maka l-dopa diberikan bersama dopa-decarboxylase inhibitor dalam bentuk carbidopa dengan perbandingan carbidopa : l-dopa = 1 : 10 ( Sinemet ) atau benzerazide : l- dopa = 1 : 4 ( Madopar).Efek terapi preparat l-dopa baru muncul sesudah 2 minggu pengobatan oleh karena itu perubahan dosis seyogyanya setelah 2 minggu . Mulailah dosis rendah dan secara berangsur ditingkatkan . Drug holiday sebaliknya jangan lebih lama dari 2 minggu , karena gejala akan muncul lagi sesudah 2 minggu obat dihentikan. b. MAO dan COMT Inhibitor Pada umumnya penyakit parkinson memberi respon yang cepat dan bagus dengan l-dopa dibandingkan dengan yang lain ,namun ada laporan bahwa l-dopa dan dopamin menghasilkan metabolit yang mengganggu atau menekan proses pembentukan energi dari

mitokondria dengan akibat terjadinya oxidative stress yang menuntun timbulnya degenerasi sel neuron.Preparat penghambat enzim MAO ( monoamine oxydase ) dan COMT ( Catechol-O-methyl transferase ) ditambahkan bersama preparat l-dopa untuk melindungi dopamin terhadap degradasi oleh enzim tersebut sehingga metabolit berkurang ( pembentukan radikal bebas dari dopamin berkurang ) sehingga neuron terlindung dari proses oxidative stress . c. Agonis Dopamin Preparat lain yang juga dapat menghemat pemakaian l-dopa adalah golongan dopamin agonis . Golongan ini bekerja langsung pada reseptor dopamin, jadi mengambil alih tugas dopamin dan memiliki durasi kerja lebih lama dibandingkan dopamin.Sampai saat ini ada 2 kelompok dopamin agonis , yaitu derivat ergot dan non ergot . Secara singkat reseptor yang bisa dipengaruhi oleh preparat dopamin agonis adalah sebagai berikut: Keuntungan terapi dengan agonis dopamin dibandingkan l-dopa antara lain : 1. Durasi kerja obat lebih lama 2. Respon fluktuatif dan diskinesia lebih kecil 3. Dapat dipilih agonis dopamin yang lebih specifik terhadap reseptor dopamin tertentu disesuaikan kondisi penderita penyakit parkinson. Kerugian terapi agonis dopamin adalah onset terapeutiknya rata rata lebih lama dibandingkan DA ergik.

3.1.2 Bekerja pada sistem kolinergik Obat golongan antikolinergik memberi manfaat untuk penyakit parkinson , oleh karena dapat mengoreksi kegiatan berlebihan dari sistem kolinergik terhadap sistem dopaminergik yang mendasari penyakit parkinson . Ada dua preparat antikolinergik yang banyak digunakan untuk penyakit parkinson , yaitu thrihexyphenidyl ( artane ) dan

benztropin ( congentin ). Preparat lainnya yang juga termasuk golongan ini adalah biperidon ( akineton ) , orphenadrine ( disipal ) dan procyclidine ( kamadrin ). Golongan anti kolinergik terutama untuk menghilangkan gejala tremor dan efek samping yang paling ditakuti adalah kemunduran memori.

3.1.3 Bekerja pada sistem Glutamatergik Diantara obat obat glutamatergik yang bermanfaat untuk penyakitparkinson adalah

Antagonis glutamatergik diduga menekan kegiatan berlebihan jalur dari inti subtalamikus sampai globus palidus internus sehingga jalur indirek seimbang kegiatannya dengan jalur direk , dengan demikian out put ganglia basalis ke arah talamus dan korteks normal kembali . Disamping itu, diduga antagonis glutamatergik dapat meningkatkan pelepasan dopamin, menghambat reuptake dan menstimulasi reseptor dopamin.Obat ini lebih efektif untuk akinesia dan rigiditas daripada antikolinergik.

3.1.4 Bekerja sebagai pelindung neuron Berbagai macam obat dapat melindungi neuron terhadap ancaman degenerasi akibat nekrosis atau apoptosis. Termasuk dalam kelompok ini adalah : a. Neurotropik faktor , yaitu dapat bertindak sebagai pelindung neuron terhadap kerusakan dan meningkatkan pertumbuhan dan fungsi neuron . Termasuk dalam kelompok ini adalah BDNF ( brain derived neurotrophic factor ) , NT 4/5 ( Neurotrophin 4/5 ) , GDNT ( glia cell line-derived neurotrophic factorm artemin ) , dan sebagainya . Semua belum dipasarkan. b. Anti-exitoxin , yang melindungi neuron dari kerusakan akibat paparan bahan neurotoksis ( MPTP , Glutamate ) . Termasuk disini antagonis reseptor NMDA , MK 801 , CPP , remacemide dan obat antikonvulsan riluzole.

c. Anti oksidan , yang melindungi neuron terhadap proses oxidative stress akibat serangan radikal bebas. Deprenyl ( selegiline ) , 7-nitroindazole , nitroarginine methyl-ester ,

menghambat kerja enzim yang memproduksi radikal bebas.Dalam penelitian ditunjukkan -tocopherol ) tidak menunjukkan efek anti oksidan. d. Bioenergetic suplements , yang bekerja memperbaiki proses metabolisme energi di mitokondria . Coenzym Q10 ( Co Q10 ) , nikotinamide termasuk dalam golongan ini dan menunjukkan efektifitasnya sebagai neuroprotektant pada hewan model dari penyakit parkinson. e. Immunosuppressant , yang menghambat respon imun sehingga salah satu jalur menuju oxidative stress dihilangkan . Termasuk dalam golongan ini adalah immunophillins , CsA ( cyclosporine A ) dan FK 506 ( tacrolimu) . Akan tetapi berbagai penelitian masih menunjukkan kesimpulan yang kontroversial. 3.1.5 Lain lain Bahan lain yang masih belum jelas cara kerjanya diduga bermanfaat untuk penyakit parkinson , yaitu hormon estrogen dan nikotin. Pada dasawarsa terakhir , banyak peneliti menaruh perhatian dan harapan terhadap nikotin berkaitan dengan potensinya sebagai neuroprotektan . Pada umumnya bahan yang berinteraksi dengan R nikotinik memiliki potensi sebagai neuroprotektif terhadap neurotoksis , misalnya glutamat lewat R NMDA , asam kainat , deksametason dan MPTP . Bahan nikotinik juga mencegah degenerasi akibat lesi dan iskemia .

3.2 Non Farmakologik Penanganan penyakit parkinson yang tidak kalah pentingnya ini sering terlupakan mungkin dianggap terlalu sederhana atau terlalu canggih. 3.2.1 Perawatan Penyakit Parkinson Sebagai salah satu penyakit parkinson kronis yang diderita oleh manula , maka perawatan tidak bisa hanya diserahkan kepada profesi paramedis , melainkan kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Pendidikan Dalam arti memberi penjelasan kepada penderita , keluarga dan care giver tentang penyakit yang diderita.Hendaknya keterangan diberikan secara rinci namun supportif dalam arti tidak makin membuat penderita cemas atau takut. Ditimbulkan simpati dan empati dari anggota keluarganya sehingga dukungan fisik dan psikik mereka menjadi maksimal. Rehabilitasi

Tujuan rehabilitasi medik adalah untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan menghambat bertambah beratnya gejala penyakit serta mengatasi masalah-masalah sebagai berikut : o Abnormalitas gerakan o Kecenderungan postur tubuh yang salah o Gejala otonom o Gangguan perawatan diri ( Activity of Daily Living ADL ) o Perubahan psikologik Untuk mencapai tujuan tersebut diatas dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Terapi fisik : ROM ( range of motion ) o Peregangan o Koreksi postur tubuh o Latihan koordinasi o Latihan jalan ( gait training ) o Latihan buli-buli dan rectum o Latihan kebugaran kardiopulmonar o Edukasi dan program latihan di rumah

Terapi okupasi Memberikan program yang ditujukan terutama dalam hal pelaksanaan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Terapi bicara Membantu penderita Parkinson dengan memberikan program latihan pernapasan diafragma, evaluasi menelan, latihan disartria, latihan bernapas dalam sebelum bicara. Latihan ini dapat membantu memperbaiki volume berbicara , irama dan artikulasi.

Psikoterapi Membuat program dengan melakukan intervensi psikoterapi setelah melakukan asesmen mengenai fungsi kognitif , kepribadian , status mental ,keluarga dan perilaku.

Terapi sosial medik

Berperan dalam melakukan asesmen dampak psikososial lingkungan dan finansial , untuk maksud tersebut perlu dilakukan kunjungan rumah/ lingkungan tempat bekerja. Orthotik Prosthetik Dapat membantu penderita Parkinson yang mengalami ketidakstabilan postural , dengan membuatkan alat Bantu jalan seperti tongkat atau walker.

Terapi suara Perawatan yang paling besar untuk kekacauan suara yang diakibatkan oleh penyakit Parkinson adalah dengan Lee Silverman Voice Treatment (LSVT). LSVT fokus untuk meningkatkan volume suara.

Terapi Gen Penyelidikan telah dilakukan hingga tahap terapi gen yang melibatkan penggunaan virus yang tidak berbahaya yang dikirim ke bagian otak yang disebut subthalamic nucleus (STN). Gen yang digunakan memerintahkan untuk mempoduksi sebuah enzim yang disebut glutamic acid decarboxylase (GAD) yang mempercepat produksi

neurotransmitter (GABA). GABA bertindak sebagai penghambat langsung sel yang terlalu aktif di STN.

Diet Pada penderita parkinson ini sebenarnya tidaklah diperlukan suatu diet yang khusus , akan tetapi diet penderita ini yang diberikan dengan tujuan agar tidak terjadi kekurangan gizi , penurunan berat badan , dan pengurangan jumlah massa otot , serta tidak terjadinya konstipasi . Penderita dianjurkan untuk memakan makanan yang berimbang antara komposisi serat dan air untuk mencegah terjadinya konstipasi , serta cukup kalsium untuk mempertahankan struktur tulang agar tetap baik . Apabila didapatkan penurunan motilitas usus dapat dipertimbangkan pemberian laksan setiap beberapa hari sekali . Hindari makanan yang mengandung alkohol atau berkalori tinggi.

3.2.2 Pembedahan

Tindakan pembedahan untuk penyakit parkinson dilakukan bila penderita tidak lagi memberikan respon terhadap pengobatan / intractable , yaitu masih adanya gejala dua dari gejala utama penyakit parkinson (tremor, rigiditas, bradi/akinesia, gait/postural instability), Fluktuasi motorik, fenomena on-off, diskinesia karena obat, juga memberi respons baik terhadap pembedahan.Ada 2 jenis pembedahan yang bisa dilakukan : Pallidotomi , yang hasilnya cukup baik untuk menekan gejala : o Akinesia / bradi kinesia o Gangguan jalan / postural o Gangguan bicara

Thalamotomi , yang efektif untuk gejala : o Tremor o Rigiditas o Diskinesia karena obat.

Stimulasi otak dalam Mekanisme yang mendasari efektifitas stimulasi otak dalam untuk penyakit parkinson ini sampai sekarang belum jelas , namun perbaikan gejala penyakit parkinson bisa mencapai 80% . Frekwensi rangsangan yang diberikan pada umumnya lebih besar dari 130 Hz dengan lebar pulsa antara 60 90 s . Stimulasi ini dengan alat stimulator yang ditanam di inti GPi dan STN.

Transplantasi Percobaan transplantasi pada penderita penyakit parkinson dimulai 1982 oleh

Lindvall dan kawannya , menggunakan jaringan medula adrenalis yang menghasilkan dopamin. Jaringan transplan ( graft ) lain yang pernah digunakan antara lain dari jaringan embrio ventral mesensefalon yang menggunakan jaringan premordial steam atau progenitor cells , non neural cells ( biasanya fibroblast atau astrosytes ) , testis-derived sertoli cells dan carotid body epithelial glomus cells. Untuk mencegah reaksi penolakan jaringan diberikan obat immunosupressant cyclosporin A yang menghambat proliferasi T cells sehingga masa idup graft jadi lebih panjang.

Transplantasi yang berhasil baik dapat mengurangi gejala penyakit parkinson selama 4 tahun kemudian efeknya menurun 4 6 tahun sesudah transplantasi. Sampai saat ini , diseluruh dunia ada 300 penderita penyakit parkinson memperoleh pengobatan transplantasi dari jaringan embrio ventral mesensefalon. Pencangkokan Syaraf Cangkok sel stem secara genetik untuk memproduksi dopamine atau sel sistem yang berubah menjadi sel memproduksi dopamine telah mulai dilakukan.

PATOFISIOLOGI PARKINSON
Idiopatik kronis parkinson primer Faktor predisposisi, lesi di substansia nigra, usia( reaksi mikrogilial shg memengaruhi kerusakan neuron), arterioskerotis, post-esetalitis, induksi obat dan keracunan logam berat Virus, infeksi lain (TBC), trauma berulang pada kepala, tumor cerebri, pendarahan cerebral parkinson sekunder sekunder

Degenerasi sel-sel neuron Menyebabkan berkurangnya dopamin di nukleus kaudatus hipotalamus Terjadi perubahan pada neurotransmiter dan neuropeptid Perubahan neurofisiologik Perubahan suasana perasaan

Dopamin menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum Kehilangan kelola dari substansi nigra Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnormal Impuls globus palidus ini tidak melakukan inhibisi terhadap korteks piramidalis dan ekstrapiramidalis Kerusakan kontrol getaran volunter yang memiliki ketangkasan sesuai dengan gerakan otomatis

Mengurangi peranan sistem dopamin forebrain Menyebabkan ketergantungan yang berlebihan thdp lingkungan Penurunan keinginan untuk melakukan aktivitas dan kemampuan mengontrol diri Perasaan tidak berguna Harga diri rendah Penurunan gerakan menelan (disfagia)perlambatan dalam proses makan anoreksia intake nutrisi Gangguan saraf VIII auditorius untuk keseimbangan Rigiditas deserebrasi Perubahan gaya berjalan, kekakuan dalam beraktivitas Hambatan mobilitas fisik

gg.nutrisi kurang dr kebutuhan

Aliran darah serebral regional menurun Manifestasi psikiatrik Perubahan kepribadian, psikosis, demensia, dan konfusi akut

Gangguan saraf II optikus gg. konstraksi otototot mata gg. konvergensi Pandangan kabur Penurunan persepsi sensori penglihatan

Manefestasi otonom Berkeringat, kulit berminyak, sering dermatitis gg. integritas kulit

Tremor ritmik Perubahan wajah dan sikap tubuh Resiko gg.citra diri

Kognitif

Penurunan sosial

Defisit perawatan diri psikis

isolasi anxietas

Kerusakan komunikasi verbal

depresi

psikosis / gg jiwa

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. PENGKAJIAN

Pengumpulan data subjektif dan objektif pada klien dengan gangguan sistem persarafan meliputi anamnesis, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.

a. Anamnesis Identitas klien meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada usia 50-an dan 60-an), jenis kelamin (lebih banyak laki-laki), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosis medis. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural.

b. Riwayat Penyakit Saat Ini Pada anamnesis, sering klien mengeluhkan adanya tremor pada salah satu lengan dan tangan, kemudian kebagian lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun tremor ini tetap unilateral. Karakteristik tremor dapat berupa lambat, gerakan membalik (pronasi-supinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jari terhadap jari-jari seolah-olah memutar sebuah pil diantara jari-jari. Keadaan ini meningkat bila klien sedang berkonsentrasi atau merasa cemas dan muncul pada saat klien istirahat. Keluhan lainnya pada penyakit meliputi adanya perubahan pada sensasi wajah, sikap tubuh, dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi, berkeringat, kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik, sulit menelan, konstipasi, dan gangguan kandung kemih yang diperberat oleh obat-obat antikolinergik dan hipertrofi prostat.

c. Riwayat Penyakit Dahulu

Pengkajian yang dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan tentang adalah riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, anemia, penggunaan obat-obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, dan penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang lama.

d. Riwayat Penyakit Keluarga Walaupun tidak ditemukan adanya hubungan penyakit Parkinson dengan sebab genetik yang jelas, perawat perlu melakukan pengkajian riwayat penyakit pada keluarga. Pengkajian dilakukan dengan menanyakan apakah anggota keluarga terdahulu yang menderita hipertensi dan DM. Hal ini diperlukan untuk melihat adanya komplikasi penyakit lain yang dapat mempercepat progresifnya penyakit.

e. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, perubahan dalam keluarga dan masyarakat, dan respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat penyakit seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Adanya perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri yang ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit Parkinson adalah tanda depresi. Manifestasi mental muncul dalam bentuk penurunan kognitif, persepsi dan penurunan memori (ingatan). Beberapa manifestasi psikiatrik (perubahan kepribadian, psikosis, demensia, konfusi akut) umumnya terjadi pada lansia.

f. Pemeriksaan Fisik Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data yang diperoleh dari pengkajian anamnesis.

Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dan terarah dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 dan dihubungkan dengan keluhan klien.

- B1 (Breathing) Gangguan fungsi pernapasan yang terjadi berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas. Inspeksi, ditemukan klien batuk atau mengalami penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak napas dan penggunaan otot bantu napas. Palpasi, ditemukan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi, ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru. Auskultasi, ditemukan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering ditemukan pada klien dengan inaktivitas.

- B2 (Blood) Hipotensi postural yang terjadi berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem saraf otonom.

- B3 (Brain) Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Pada inspeksi umum ditemukan perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan.

Pemeriksaan fungsi serebri Status mental : biasanya mengalami perubahan yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang.

Pemeriksaan saraf kranial Saraf I. Biasanya pada klien cedera tulang belakang tidak ditemukan kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. Saraf II. Hasil uji ketajaman penglihatan mengalami perubahan sesuai tingkat usia, biasanya klien lanjut usia dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan ketajaman penglihatan. Saraf III, IV, dan VI. Gangguan saraf okulomotorius : sewaktu melakukan konvergensi penglihatan menjadi kabur karena tidak mampu mempertahankan kontraksi otot- otot bola mata. Saraf V. Pada klien dengan penyakit Parkinson umumnya ditemukan perubahan pada otot wajah. Adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah klien mengalami penurunan , saat bicara wajah seperti topeng (sering mengedipkan mata). Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal. Saraf VIII. Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi yang berhubungan dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional. Saraf IX dan X. Ditemukan kesulitan menelan dalam menelan makanan. Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ditemukan deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal. Tanda Tanda Vital (TTV) a. Hipotensi b. Bradikardi c. Penurunan frekuensi pernapasan

Sistem Motorik Inspeksi umum, ditemukan perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan. Klien sering mengalami rigiditas deserebrasi. Tonus otot ditemukan meningkat. Keseimbangan dan koordinasi, ditemukan mengalami gangguan karena adanya kelemahan otot, kelelahan, perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan.

Pemeriksaan Refleks Terdapat kehilangan refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri, klien akan berdiri dengan kepala cenderung kedepan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya kedepan atau kebelakang) dapat menimbulkan sering jatuh.

Sistem Sensorik Sesuai berlanjutnya usia Klien dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil dari neuropati.

- B4 (Bladder) Penurunan refleks kandung kemih perifer dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum. Klien mungkin kebutuhan, mengalami dan inkontinensia urine, untuk

ketidakmampuan

mengkomunikasikan

ketidakmampuan

menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.

- B5 (Bowel) Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi kurang karena kelemahan fisik umum, kelelahan otot dan adanya tremor menyeluruh. Klien sering mengalami konstipasi karena penurunan aktivitas.

- B6 ( Bone) Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kelelahan otot, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas.

3.2 ANALISA DATA No. Data Etiologi 1. DS: Faktor predisposisi lesi pada substansia - Pasien mengeluh nigra (usia, induksi obat dan toksik) tangan dan anggota tubuh lain Dopamine menipis dalam substansia bergetar/tremor nigra dan korpus striatum - Pasien mengeluh kesusahan dalam Kehilangan kelola dari substansi nigra berjalan DO: Globus palidus mengeluarkan impuls - Inspeksi terlihat gaya yang abnormal berjalan pasien berubah(membungkuk, Kerusakan control gerakan volunteer terseok-seok) yang memiliki ketangkasan sesuai dan - Inspeksi pasien terlihat gerakan otomatis tremor DP: gg. saraf VIII (auditorius( / - MRI keseimbangan - EEG rigiditas perubahan gaya berjalan, kekakuan dalam beraktivitas Hambatan Mobilitas Fisik 2. DS: Faktor predisposisi lesi pada substansia nigra (usia, induksi obat dan toksik) Dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum Kehilangan kelola dari substansi nigra Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnormal Kerusakan control gerakan volunteer yang memiliki ketangkasan sesuai dan gerakan otomatis gg. saraf VIII (auditorius( / keseimbangan Defisit Perawatan Diri Masalah Hambatan Mobilitas Fisik

Pasien mengeluh susah untuk melakukan perawatan diri (susah mengganti baju sendiri, kesusahan ke kmar mandi dan melakukan personal hygiene) Inspeksi pasien terlihat berantakan/kuran g bersih

DO: -

DP:

rigiditas perubahan gaya berjalan, kekakuan dalam beraktivitas Hambatan Mobilitas Fisik Defisit perawatan diri

3.

DS: -

Pasien mengeluh kesusahan dalam berkomunikasi Inspeksi wajah pasien terlihat kaku

Faktor predisposisi lesi pada substansia nigra (usia, induksi obat dan toksik) Dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum Kehilangan kelola dari substansi nigra Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnormal Kerusakan control gerakan volunteer yang memiliki ketangkasan sesuai dan gerakan otomatis Aliran darah ke cerebral regional terganggu Manefestasi psikiatik Perubahan kepribadian Kognitif Kerusakan Komunikasi Visual

Hambatan Komunikasi Verbal

DO: -

4.

DS: DO: -

Pasien mengeluh susah menelan Pasien mengeluh sulit mengunyah Pasien terlihat dysphagia

Faktor predisposisi lesi pada substansia nigra (usia, induksi obat dan toksik) Dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum Kehilangan kelola dari substansi nigra Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnormal

Resiko Gangguan Pemenuhan Nutrisi

Kerusakan control gerakan volunteer yang memiliki ketangkasan sesuai dan gerakan otomatis Gerakan menelan dan disfagia Perlambatan dalam proses makan Anorexia Intake nutrisi Gg nutrisi kurang dari kebutuhan

5.

DS: -

Pasien menyatakan malu dengan keadaan penyakitnya Pasien merasa tidak berharga karena tidak bias melakukan aktivitas Pasien terlihat menutup diri dan menolak untuk berkomunikasi serta mengadakan interaksi

Faktor predisposisi lesi pada substansia nigra (usia, induksi obat dan toksik) Dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum Kehilangan kelola dari substansi nigra Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnormal Kerusakan control gerakan volunteer yang memiliki ketangkasan sesuai dan gerakan otomatis Hipertoni otot rigiditas perubahan gaya berjalan, kekakuan dalam beraktivitas Hambatan Mobilitas Fisik Defisit perawatan diri Perasaan tidak berguna Harga diri rendah

Gangguan Harga Diri Rendah

DO: -

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot. 2. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan menurunnya kekuatan otot. 3. Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, pelambatan bicara, ketidakmampuan menggerakan otot-otot wajah. 4. Harga diri rendah yang berhubungan dengan penurunan kemampuan untuk beraktivitas 5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan pelambatan dalam proses makan. 3.4 Nursing Care Plan (NCP) NO Diagnosa Keperawatan 1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot. Tujuan : Dalam Mandiri : 1. Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. Tujuan Intervensi Rasional

waktu 2 x 24 jam, 1. Kaji mobilitas yang klien melaksanakan mampu ada dan observasi peningkatan kerusakan.

aktivitas fisik sesuai Kaji secara teratur fungsi dengan kemampuannya. Kriteria Hasil : Klien motorik. 2. Lakukan program latihan yang 2.Meningkatkan koordinasi dan ketangkasan, menurunkan kekakuan otot dan mencegah kontraktur bila otot tidak digunakan. 3. Lakukan program latihan yang meningkatkan kekuatan otot. 4. Ajarkan 3.Latihan postural untuk melawan kecenderungan kepala dan leher tertarik kedepan dan kebawah. teknik 4. Teknik berjalan khusus

dapat ikut serta dalam meningkatkan kekuatan program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot. Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas. otot.

berjalan khusus : Ajarkan berkosentrasi berjalan memandang kedepan,

dapat juga dipelajari untuk untuk mengimbangi gaya pada berjalan menyeret dan tegak, kecenderungan tubuh lurus condong kedepan. dan

menggunakancara berjalan dengan

dasar lebar (misalnya berjalan dengan kaki terpisah). Klien untuk berjalan diiringi dianjurkan latihan dengan musik

marching band atau lagu, karena hal ini memberikan rangsangan sensorik. Latihan sambil membantu bernapas berjalan untuk

menggerakan rangka tulang transpor untuk bagian yang rusuk dan

oksigen mengisi paru-paru kadar

oksigennya rendah. Melakukan periode

istirahat yang sering

untuk

membantu

pencegahan frustasi dan kelelahan.

5. anjurkan mandi hangat 5. mandi hangat dan dan masase otot masase membantu otototot rileks saat melakukan aktivitas pasif dan aktif dan mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan kekakuan 6. Bantu klien melakukan 6. Untuk memelihara latihan ROM, perawatan fleksibilitas sendi sesuai diri, sesuai toleransi. kemampuan

7. Kolaborasi dengan 7. Peningkatan ahli fisioterapi untuk kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik oleh tim fisioterapis. 2 Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan menurunnya Tujuan : Dalam Mandiri 1. Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual.

latihan fisik klien.

waktu 2 x 24 jam, 1.Kaji kemampuan dan perawatan diri klien tingkat penurunan dalam terpenuhi. Kriteria Hasil : Klien dapat menunjukkan skala 0-4 untuk melakukan ADL.

kekuatan otot. perubahan gaya hidup 2. Hindari apa yang tidak untuk memenuhi kebutuhan merawat diri, klien mampu

2. Menghindari klien dari

dapat dilakukan klien dan keadaan cemas dan bantu bila perlu. ketergantungan untuk mencegah frustasi dan

melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuannya, mengidentifikasi personal/masyarakat dapat yang membantu. 4. Rencanakan tindakan untuk mengatasi keterbatasan penglihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur kedinding 3. Ajarkan dan dukung klien selama aktivitas.

harga diri klien rendah

3. Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.

4. Klien akan mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya orang keruangan

5. Modifikasi lingkungan

5. Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidakmampuan fungsi.

6. Gunakan pagar disekeliling tempat tidur.

6. Gunakan pagar disekeliling tempat tidur baik tempat tidur di rumah sakit dan dirumah, atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat tidur untuk memberi bantuan dalam mendorong diri untuk

bangun tanpa bantuan orang lain.

7. Kaji kemampuan komunikasi untuk buang air kecil, kemampuan menggunakan urinal, pispot. Antarkan kekamar mandi bila kondisi memungkinkan. Kolaborasi 8.Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahar.

7. Ketidakmampuan komunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik. 8. Ketidakmampuan komunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.

9. Konsultasi kedokter terapi okupasi

9. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus

3.

Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, pelambatan bicara,

Tujuan

Dalam 1. Kaji kemampuan klien

1. Gangguan bicara ditemukan pada banyak klien dengan penyakit Parkinson. Bicara mereka

waktu 2 x 24 klien untuk berkomunikasi. mampu membuat

teknik/metode komunikasi dapat yang

yang lemah, monoton, dan terdengar halusmenuntut kesadaran berupaya untuk bicara dengan lambat, dengan penekanan perhatian

dimengerti

sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

ketidakmamp uan menggerakan otot-otot wajah.

Kriteria Hasil : klien dapat berkomunikasi dengan sumber yang ada. 2. Menentukan cara-cara komunikasi seperti mempertahankan kontak mata, memberikan pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menggunakan kertas dan pensil/bolpoin, gambar, atau papan tulis, bahasa isyarat, perjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.

pada apa yang mereka katakan.

2. kontak

Mempertahankan mata akan

membuat klien tertarik selama komunikasi. Jika klien dapat menggerakan kepala, mengedipkan

mata, atau senag dengan isyarat-isyarat sederhana, lebih baik dengan

menggunakan pertanyaan ya/tidak. Kemampuan menulis kadang-kadang melelahkan klien, selain itu dapat mengakibatkan frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhan komunikasi. Keluarga dapat bekerja sama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien.

3. Pertimbangkan bentuk komunikasi bila terpasang kateter intravena.

3. Kateter intravena yang terpasang ditangan akan mengurangi kebebasan klien dalam menulis atau memberi isyarat.

4. Letakkan bel pemanggil dalam jangkauan klien dan berikan penjelasan cara menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan. 5. Buatlah catatan dikantor perawat tentang keadaan klien yang dapat bicara.

4. Ketergantungan klien pada ventilator akan membuat klien lebih baik dan rileks, merasa aman dan mengerti bahwa selama menggunakan ventilator, perawat akan memenuhi segala kebutuhannya.

5. Mengingatkan staf perawat untuk berespon dengan klien selama memberikan perawatan.

6. Buatlah rekaman pembicaraan klien.

6. Rekaman pembicaraan klien dalam pita kaset secara periodik dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien. Amplifier kecil membantu bila klien mengalami kesulitan mendengar.

7. Anjurkan keluarga/orang lain yang dekat dengan klien untuk berbicara dengan klien, memberikan informasi tentang keluarganya, dan

7. Keluarga dapat merasa akrab dengan klien dalam berada dekat klien selama berbicara. Pengalaman ini dapat membantu atau

keadaan yang sedang terjadi.

mempertahankan kontak nyata seperti merasakan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan kaku.

8. Kolaborasi dengan ahli 8. Ahli terapi wicara wicara bahasa. bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan latihan percakapan dan membantu petugas kesehatan untuk mengembangkan metode komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien. 4. Harga rendah diri Tujuan : dalam waktu 1. Diskusikan perasaan yang 2x24 jam pasien tidak merasa malu dengan keadaannya menarik lingkungan sekitarnya diri dan dari klien dan penanganan yang dilakukan dan anjurkan untuk mengungkapkan perasaannya 1. Reaksi yang ada pada individu akan berbedabeda pengalaman awal dengan keadaan penyakitnya akan mempengaruhi penerimaan aturan pengobatan Kriteria Hasil: Pasien mengeluh malu Pasien mengerti akan keadaannya dan tidak 2. Identifikasi dan antisipasi kemungkinan reaksi orang terhadap penyakitnya, dan 2.Memberikan kesempatan untuk merespon pada proses pemecahan masalah dan memberikan tindakan

berhubungan dengan penurunan kemampuan untuk beraktivitas

menerima keadaannya

anjurkan pasien untuk tidak merahasiakan penyakitnya

control terhadap situasi yang di hadapi, merahasiakan dapat berpotensi untuk merusak harga diri dan menyangkal penyakitnya

3.Hindari pemberian perlindungan yang berlebihan pada pasien

3.Perlindungan yang berlebihan akan membuat pasien merasa tidak dapat diandalkan dan menyebabkan harga diri pasien semakin rendah

4.Berikan penjelasan pada orang terdekat untuk membantu pasien dalam menerima keadaannya dan selalu memberikan support yang positif pada pasien

4.Pandangan yang negative dari orang yang terdekat dapat berpengaruh terhadap perasaan harga diri pasien dan mengurangi dukungan yang di terima dari orang yang terdekat beresiko membatasi penanganan yang optimal

5.Jelaskan tentang

5.Ansietas pada keluarga

pentingnya kepada orang berpotensi sampai ke terdekat untuk selalu mendampingi pasien saat gejalan timbul 5. Perubahan nutrisi : Tujuan : Dalam 1.Evaluasi kemampuan pasien yang dapat meningkatkan persepsi negative pada diri pasien. 1.Klien mengalami kesulitan dalam

waktu 3 x 24 jam makan klien.

kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan pelambatan dalam proses makan.

kebutuhan klien terpenuhi. Kriteria Hasil :

nutrisi

mempertahankan berat badan mereka. Mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan 2.Observasi/timbang berat badan jika memungkinkan. 2. Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan asupan nutrisi menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot, dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator.

Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.

3.Manajemen

mencapai 3.

Meningkatkan

kemampuan menelan. Gangguan disebabkan

kemampuan klien dalam dan dapat

menelan menelan oleh membantu

pemenuhan melalui

tremor pada lidah, nutrisi ragu-ragu memulai kesulitan membentuk makanan bentuk bolus. Makanan setengah

klien

dalam oral.Tujuan lain adalah menelan, mencegah dalam kelelaha, terjadinya memudahkan

masuknya makanan, dan dalam mencegah gangguan pada lambung.

padat dengan sedikit air memudahkan

untuk menelan.

Klien untuk

dianjurkan menelan

secara berurutan. Klien untuk makanan diajarkan meletakkan diatas

lidah, menutup bibir dan gigi, dan

menelan. Klien untuk dianjurkan mengunyah

pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian kesisi lain. Untuk air mengontrol liur, klien untuk kepala dan

dianjurkan menahan tetap tegak

membuat

keadaan

sadar untuk menelan. Masase otot wajah dan leher sebelum makan membantu. Berikan makanan dapat

kecil dan lunak. 4.Monitor pemakaian alat 4.Pemakaian bantu. elektrik

digunakan untuk menjaga makanan tetap hangat

dan klien diizinkan untuk istirahat selama waktu yang ditetapkan untuk makan, alat-alat khusus juga membantu

makan.Penggunaan piring yang stabil,

cangkir yang tidak pecah pecah bila jatuh, dan alatalat makan yang dapat digenggam sendiri

digunakan sebagai alat bantu.

5. Kaji fungsi sistem 5. Fungsi sistem gastrointestinal meliputi gastrointestinal sangat suara bising usus, catat penting untuk asupan terjadinya perubahan makanan.Ventilator dapat

didalam lambung seperti menyebabkan kembung mual, muntah. Observasi pada lambung dan perubahan usus pergerakan perdarahan lambung. diare,

misalnya

konstipasi.

6.Anjurkan cairan selama 2500

pemberian 6. Mencegah terjadinya cc/hari dehidrasi akibat terjadi penggunaan ventilator selama klien tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi.

tidak

gangguan jantung

7.Anjurkan

pemberian 7. Memberikan informasi

cairan selama

2500 tidak

cc/hari yang tepat tentang terjadi keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien.

gangguan jantung.

BAB IV PENUTUP

Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, merupakan suatu penyakit/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum (striatal dopamine deficiency). Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul . Tanpa perawatan, gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi total disabilitas, sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan dapat menyebabkan kematian. Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien berbeda-berbeda. Kebanyakan pasien berespon terhadap medikasi. Perluasan gejala berkurang, dan lamanya gejala terkontrol sangat bervariasi. Efek samping pengobatan terkadang dapat sangat parah. Obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA Asuhan Keperawatan Klien dgn Gangguan Sistem Persyarafan-Fransisca B.Battica De Long, Mahlon. 2006. Harrison Neurology in Clinical Medicine. First edition. McGraw-Hill Professional. Doengoes E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Fahn, Stanley. 2000. Merrits Neurology. Tenth edition. Lippincott Williams & Wilkins. John C. M. Brust, MD, 2007 Current Diagnosis & Treatment In Neurology, McGraw-Hill, hlm 199 206. Muttaqin, Arief. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan

Sistem Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika. http://www.scribd.com/doc/74662373/askep-parkinson 4

Anda mungkin juga menyukai