Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan perhitungan wet lab Selanjutnya untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efek yang signifikan diantara 2 dosis

glibenklamid sebagai obat antihiperglikemik maka dilakukan uji ANAVA. Dosis yang digunakan yaitu 1.3 mg/kg BB dan 0.65 mg/kg BB. Data pengamatan yang didapat diolah berdasarkan statistika melalui metode analisis variansi (ANAVA) menunjukkan bahwa hipotesis nol (H0) ialah bahwa kedua perlakuan memberikan efek yang sama pada mencit. Statistik uji ialah f = P/E yang kemudian akan dibandingkan dengan f tabel. Dari perhitungan dengan menggunakan kekeliruan 5 % ( = 0.05 %) didapat bahwa jika Ho diterima jika tidak ada perbedaan efek yang ditimbulkan oleh glibenklamid dosis I dan II, dan Ho ditolak jika terdapat perbedaan efek yang ditimbulkan oleh glibenklamid dosis I dan II. Setelah dihitung, diperoleh Fhitung sebesar 6,95 dan Ftabel (dilihat berdasarkan tabel F(1,4)) adalah sebesar 7,71. Hal ini menunjukkan bahwa Fhitung 6,95 lebih kecil dari Ftabel 7,71. Sehingga Ho diterima dan bisa disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efek yang ditimbulkan dari glibenklamid dosis I (1,3 mg/kgBB) dan glibenklamid dosis II (0,65

mg/kgBB) terhadap kadar glukosa pada mencit. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerja obat antihiperglikemik dalam menurunkan kadar gula darah pada mencit uji. Salah satu yang sangat mempengaruhi dari absorpsi obat adalah berat badan mencit, karena berat badan mencit berpengaruh pada luasnya daerah absorpsi dan tentu saja sangat mempengaruhi absorpsi obat. Perbedaan jumlah pada tiap bagian ini dipengaruhi bagaimana ketersediaan obat dalam mencit. Semakin lama obat dalam mencit akan bekerja sampai puncaknya dan kemudian lama-lama efeknya akan menurun karena ketersediaan obat makin berkurang.

Pada mencit uji, setelah dilakukan perhitungan didapat bahwa persentase penurunan kadar gula darah dengan pemberian glibenklamid dosis I (1,3 mg/kgBB) adalah sebesar 5,019% denga rata-rata kadar gula darah 172. Sedangkan pada pemberian glibenklamid dosis II (0,65 mg/kgBB) persen penurunannya adalah 27,31% dengan rata-rata kadar gula darah 132,22. Dari hasil percobaan, diperoleh data yang tidak sesuai dengan teori dan mekanisme kerja obat antihiperglikemik. Seharusnya mencit yang diberi glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB kadar gula darahnya lebih rendah daripada mencit yang diberi glibenklamid dosis 0,65 mg/kgBB.. Ketidaksesuaian data ini bisa terjadi karena berbagai macam hal, seperti tidak terdistribusinya obat dengan baik dalam tubuh mencit sehingga obat tidak masuk ke peredaran darah dan tidak menimbulkan efek yang sesuai. Efek optimal kebanyakan baru tercapai setelah 2-3 minggu (waktu latensi). Akan tetapi, karena plasma-t1/2 pada umumnya agak panjang, antara 15-50 jam. Oleh karena itu, dalam percobaan ini, bisa saja efek glibenklamid belum teramati. Persen inhibisi dari glibenklamid dosis I dan II dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana obat tersebut dapat menghambat kenaikan kadar gula darah pada mencit yang diinduksi dengan pemberian glukosa standar 1 g/kgBB. Dengan pemberian glibenklamid ini, maka sel beta pancreas akan distimulasi sehingga produksi insulin meningkat dan digunakan untuk mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen sehingga kadar gula darah tetap stabil. Setelah 30 menit pemberian glukosa standar pada mencit 2, didapat bahwa kadar glukosa mencit meningkat dari kadar awal. Hal tersebut bisa saja terjadi karena obat yang diberikan belum diabsorpsi sempurna sehingga menghasilkan efek yang kurang maksimal. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh data persen inhibisi dari glibenklamid dosis I (1,3 mg/kgBB) pada selang waktu pengamatan 30 menit dan 60 menit secara berurutan adalah 110% dan 90,11% dengan kadar glukosa awal 170,kadar glukosa pada t30 adalah 187 dan pada t60 adalah

159. Sedangkan persen inhibisi dari glibenklamid dosis II (0,65 mg/kgBB) adalah 93,52% dan 71,42% kadar glukosa awal 151,67, kadar glukosa pada t30 adalah 136,67 dan pada t60 adalah 108,33. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas dari glibenklamid dosis II (0,65 mg/kgBB) dalam menghambat kenaikan kadar gula darah lebih besar daripada glibenklamid dosis I (1,3 mg/kgBB). Grafik batang hubungan antara perlakuan terhadap kadar gula darah menunjukkan hubungan antara perlakuan yang diberikan kepada mencit yaitu berupa pemberian PGA, glibenklamid dosis I, dan glibenkalmid sosis II terhadap kadar gula darah mencit. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa kadar gula darah mencit yang diberi PGA, glibenklamid dosis I, dan glibenkalmid sosis II tidak teratur. Sedangkan berdasarkan teori, dengan pemberian obat

antihiperglikemik akan menurunkan kadar gula darah. Akan tetapi, pada percobaan ini didapat bahwa kadar gula darah mencit yang diberi glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB lebih tinggi daripada mencit yang diberi PGA. Sedangkan pada Grafik Selang Waktu Terhadap Kadar Gula Darah dapat diamati bahwa kadar gula darah mencit yang diberi glibenklamid dosis 0,65mg/kgBB lebih rendah daripada mencit yang diberi glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB. Secara teori, semakin tinggi dosis obat, maka efek yang dihasilkan akan semakin besar. Hal tersebut bisa terjadi karena belum sempurnanya absorpsi obat di dalam tubuh sehingga efek yang dihasilkan tidak maksimal. Selain itu, pengaruh luas permukaan absorpsi juga mempengaruhi banyaknya obat yang diabsorpsi.