Anda di halaman 1dari 5

Periodontic Journal, Vol.1 No.

1 July-_Dec 2009; 10-14

Case Report Gingiva tiruan sebagai perawatan alternatif untuk resesi gingiva (Artificial gingiva as alternative treatment for gingival recession)
Agung Krismariono Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya - Indonesia

ABSTRACT Gingival recession has became a serious problem. It could cause the exposed root surfaces which will generate hypersensitive dentin and caries. The other problem was the lack of aesthetic, particularly on anterior teeth.Common treatment for gingival recession was mucogingival surgery with coronally positioned flap. Non-surgical techniques have been developed to solve the problem of aesthetic and hypersensitive dentin. The method conducts the using of artificial gingiva on the recession area.6 (six) months evaluation on 5 (five) subjects showed good results. The problem of aesthetic and hypersensitive dentin have been eliminated. Key words: artificial gingiva, gingival recession. Korespondensi (correspondence): Agung Krismariono, Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga c/o Jln. Prof. Dr. Moestopo 47 Surabaya, Indonesia.

PENDAHULUAN Resesi gingiva merupakan masalah yang serius terutama bila resesi terjadi pada gigi anterior penderita wanita usia muda. Penderita mengeluh adanya gangguan estetik serta rasa sakit yang timbul akibat resesi. Hal ini tentunya akan mengganggu aktifitas penderita. Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi akibat migrasi tepi gingiva dan junctional-epithelium ke apikal. Secara klinis ditandai dengan tepi gingiva berada apikal dari cemeto-enamel junction. Pada beberapa kasus sering dijumpai attached gingiva yang sempit, dengan kedalaman sulkus bervariasi. 1 Insiden resesi gingiva cukup tinggi, bervariasi dari 8% pada anak-anak sampai 100% setelah usia 50 tahun. Resesi dapat terjadi pada semua umur dan akan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. 1 Resesi gingiva dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis. Resesi gingiva secara fisiologis terjadi akibat bertambahnya umur penderita. Sedangkan resesi gingiva secara patologis terjadi antara lain karena: kesalahan menyikat gigi, malposisi gigi, keradangan gingiva, perlekatan frenum yang terlalu koronal, pergerakan gigi dengan alat ortodontik kelabial, restorasi yang tidak baik dan trauma oklusi. 2 Resesi gingiva dapat menyebabkan beberapa akibat klinis, yaitu: permukaan akar menjadi terbuka sehingga rentan terhadap karies, terkikisnya sementum dan dentin akibat akar yang terbuka

menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif, bahkan dapat mengakibatkan hyperaemia pulpa. 3 Menurut Harris 4 perawatan resesi gingiva harus memenuhi kriteria antara lain: marginal gingiva dapat menutupi cemento-enamel junction, kedalaman sulkus gingiva berkisar + 2mm, tidak ada perdarahan saat probing, adanya gingiva berkeratin, warna gingiva sama dengan sekitarnya serta tidak ada keluhan hipersensitif dentin. Kriteria seperti yang disebutkan Harris diatas, hanya dapat dicapai dengan teknik bedah mukogingiva, sedangkan banyak penderita resesi yang tidak mungkin dilakukan perawatan dengan prosedur bedah karena beberapa alasan adanya kontraindikasi dilakukan tindakan operasi. Akhir-akhir ini dikembangkan perawatan non bedah untuk mengatasi resesi gingiva. Perawatan ditujukan untuk mengatasi masalah estetik maupun hipersensitif dentin. Perawatan tersebut adalah dengan gingiva tiruan yang diaplikasikan pada daerah resesi. 5 Pada mulanya perawatan dengan gingiva tiruan ditujukan untuk mengatasi masalah estetik. Kenyataan klinis membuktikan bahwa manfaat gingiva tiruan ternyata tidak hanya memperbaiki estetik, akan tetapi keluhan hipersensitif dentin yang semula dikeluhkan penderita, berangsurangsur berkurang bahkan hilang. Namun perawatan dengan gingiva tiruan ini tidak dapat diterapkan pada semua penderita yang mengalami resesi gingiva. Perawatan dengan pemakaian gingiva tiruan hanya dapat diterapkan

13

Periodontic Journal, Vol.1 No.1 July-_Dec 2009; 10-14


pada penderita resesi yang disertai celah proksimal dengan kelebaran yang cukup. Adanya celah proksimal ini diperlukan, karena perlekatan gingiva tiruan pada gingiva asli diperoleh melalui perlekatan mekanis yang dibuat sedemikian rupa pada celah proksimal, yang berfungsi sebagai retensi gingiva tiruan. Adanya keterbatasan seperti tersebut di atas, maka yang tergolong indikasi perawatan dengan pemakaian gingiva tiruan adalah resesi gingiva klas III dan IV klasifikasi Miller, dengan maupun tanpa disertai keluhan hipersensitif dentin. KASUS Pada makalah ini dilaporkan beberapa kasus resesi yang dirawat dengan pemakaian gingiva tiruan. Kasus I Penderita wanita usia 29 tahun dengan keluhan gigi-gigi atas depan terlihat memanjang, disertai rasa ngilu (Gambar 1a dan 1b). Intra oral : Gigi 13, 12, 11, 21, 22, 23 resesi kelas IV Miller sebesar + 3-4mm. Kasus II Penderita wanita usia 32 tahun dengan keluhan gigi-gigi atas depan terlihat memanjang, kadang terasa ngilu bila minum dingin (Gambar 2a dan 2b). Intra oral : Gigi 14, 13, 12, 11, 21, 22, 23, 24 resesi kelas IV Miller : + 2-4mm. Kasus III Penderita wanita usia 27 tahun dengan keluhan gigi-gigi atas depan terlihat memanjang, disertai rasa ngilu bila minum dingin (Gambar 3a dan 3b). Intra oral : Gigi 12, 11, 21, 22 resesi gingiva kelas III Miller sebesar + 2-3mm. Kasus IV Penderita wanita usia 25 tahun dengan keluhan gigi-gigi bawah depan terlihat memanjang, disertai rasa ngilu bila minum dingin (Gambar 4a dan 4b). Intra oral : Gigi 32, 31, 41, 42 resesi gingiva kelas IV Miller sebesar + 2-3mm. Kasus V Penderita wanita usia 30 tahun dengan keluhan gigi-gigi atas depan terlihat memanjang, disertai sedikit rasa ngilu bila kena dingin (Gambar 5a dan 5b). Intra oral : Gigi 12, 11, 21, 22 resesi gingiva kelas III Miller sebesar + 2-3mm . TATALAKSANA KASUS Untuk semua penderita, pada awal kedatangan dilakukan prosedur perawatan rutin untuk kesehatan jaringan periodonsium, yaitu scaling, root planing serta polishing seluruh gigi. Penderita dipesan untuk menggunakan obat kumur klorheksidin 0,12% sehari 2x1, pagi dan malam hari. Kemudian penderita dipesan kontrol 1 minggu kemudian. Agar dapat dirawat dengan pemakaian gingiva tiruan, seluruh penderita post-scaling dikontrol kesehatan jaringan periodonsiumnya setiap minggu sampai didapatkan kondisi klinis jaringan yang sehat. Apabila dinilai kondisi jaringan telah sehat, maka setiap penderita dibuatkan gingiva tiruan dari bahan soft liner, yang biasanya digunakan untuk melapisi basis akrilik gigi tiruan lepasan. Pembuatan gingiva tiruan dilakukan secara direct pada penderita. Regio gigi yang dibuatkan gingiva tiruan sesuai dengan regio yang mengalami resesi. Gingiva tiruan dibuat menutup seluruh resesi beserta celah proksimal diantara gigi-gigi tersebut. Batas koronal sampai cemento-enamel junction, sedangkan batas apikal sampai muco-gingival junction. Kemudian penderita dipesan kontrol 1 minggu disertai penekanan instruksi cara pemakaian, pelepasan maupun perawatan gingiva tiruannya. Kontrol setelah 1 minggu pemakaian gingiva tiruan, pada semua penderita tidak ditemukan masalah. Gingiva terlihat normal, tidak ada tanda keradangan. Kondisi gingiva tempat aplikasi gingiva tiruan tampak normal. Gingiva tiruan masih tampak seperti semula dengan warna yang cerah mirip gingiva asli penderita dan tidak ditemukan tanda kerusakan. Selanjutnya kontrol dilakukan setiap bulan. Pemeriksaan dilakukan terhadap jaringan periodonsium penderita maupun terhadap gingiva tiruan yang selama ini dipakai. Kontrol sampai bulan ke-6 pemakaian gingiva tiruan tidak ada masalah. Penderita merasa lebih percaya diri, serta yang menggembirakan rasa ngilu yang dulu dikeluhkan, setelah memakai gingiva tiruan keluhan tersebut berkurang, bahkan berangsur-angsur hilang. Untuk semua penderita, keluhan hipersensitif dentin hilang setelah + 5 bulan pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 1. Sebelum pemakaian gingiva tiruan.

11

Periodontic Journal, Vol.1 No.1 July-_Dec 2009; 10-14

Gambar 7. Sebelum pemakaian gingiva tiruan. Gambar 2. Sesudah pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 8. Sesudah pemakaian gingiva tiruan. Gambar 3. Sebelum pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 4. Sesudah pemakaian gingiva tiruan. Gambar 9. Sebelum pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 5. Sebelum pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 10. Sesudah pemakaian gingiva tiruan.

Gambar 6. Sesudah pemakaian gingiva tiruan.

PEMBAHASAN Berbagai masalah dapat timbul akibat resesi gingiva. Mulai dari masalah estetik bila resesi terjadi pada gigi depan, hipersensitif dentin akibat permukaan akar yang terbuka, serta menyempitnya lebar attached gingiva. 1,6 Akibat langsung resesi gingiva yang umumnya dikeluhkan penderita adalah masalah estetik dan hipersensitif dentin. Kedua masalah tersebut sering mengganggu aktivitas penderita. Pada prinsipnya perawatan resesi gingiva ditujukan untuk menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh

12

Periodontic Journal, Vol.1 No.1 July-_Dec 2009; 10-14


adanya resesi. Dengan demikian perawatan dilakukan untuk memperbaiki estetik dan menghilangkan keluhan hipersensitif dentin. Pada laporan kasus diatas, awalnya penderita mengeluh gigi-giginya terasa memanjang, kemudian keluhan disertai rasa ngilu pada gigi-gigi tersebut. Gigi yang tampak memanjang pada penderita tersebut sebenarnya adalah kondisi nyata akibat resesi. Dengan adanya pergeseran marginal gingiva ke apikal, maka gigi tampak lebih panjang. Rasa ngilu yang dirasakan penderita juga sebagai akibat resesi pada gigi yang bersangkutan. Rasa ngilu ini timbul akibat akar yang tidak tertutup oleh tulang alveolar maupun gingiva, sehingga gigi terasa lebih sensitif bila terkena rangsang. Rasa ngilu ini oleh para peneliti diistilahkan sebagai hipersensitif dentin. 7-9 Perawatan resesi gingiva dapat dilakukan secara bedah maupun non bedah. Perawatan bedah diyakini efektif dapat mengatasi masalah akibat resesi.8-10 Namun tidak semua penderita dan tidak semua tipe resesi dapat dilakukan perawatan secara bedah. Guna menutup kekurangan teknik bedah, maka saat ini dikembangkan teknik perawatan non bedah dengan menggunakan gingiva tiruan. Teknik ini cukup mudah dalam pembuatan dan praktis dalam pemakaian. Perawatan resesi dengan menggunakan gingiva tiruan hanya dapat dilakukan pada resesi klas III dan IV Miller, sedangkan klas I dan II bukan merupakan indikasi perawatan dengan teknik ini. Hal ini cukup beralasan karena gingiva tiruan perlu retensi secara mekanis untuk perlekatannya. Retensi mekanis ini memanfaatkan celah proksimal diantara gigi yang merupakan regio undercut bagi gingiva tiruan. Celah proksimal seperti ini tidak didapatkan pada tipe resesi klas I dan II Miller. 2 Pembuatan gingiva tiruan dikatakan cukup mudah, karena bahan yang digunakan untuk membuat gingiva tiruan pada kasus ini adalah bahan yang biasa digunakan sebagai liner basis akrilik gigi tiruan lepasan, sehingga mudah dibentuk sesuai kondisi dalam mulut. Sifat bahan soft liner ini cukup menguntungkan, karena dapat menjadikan gingiva tiruan bersifat lentur sehingga mudah diaplikasi. Gingiva tiruan dapat dengan mudah dipasang dan dikeluarkan dari celah proksimal tanpa menimbulkan rasa sakit. Sifat lentur ini juga membuat undercut gingiva tiruan berfungsi dengan baik sehingga retensinya cukup bagus. Keunggulan yang lain adalah warna bahan soft liner sedikit transparan, sehingga apabila diaplikasikan pada regio gingiva yang mengalami resesi, warna gingiva tiruan dapat mirip dengan warna gingiva asli. Segi estetik inilah yang membuat gingiva tiruan dipilih sebagai salah satu perawatan alternatif pada kasus resesi gingiva. Disamping dapat mengatasi masalah estetik, kenyataan klinis membuktikan bahwa gingiva tiruan yang diaplikasikan pada regio gigi-gigi yang mengalami resesi gingiva dapat mengurangi keluhan hipersensitif dentin. Keluhan ini berkurang karena gingiva tiruan menutupi sebagian besar permukaan akar yang semula terbuka akibat resesi. Manfaat ini sesusai dengan yang dikemukakan oleh Thompson,9 bahwa perawatan resesi gingiva idealnya dapat mengatasi keluhan estetik maupun hipersensitif dentin. Kekurangan teknik ini adalah tidak dapat menutupi seluruh permukaan akar. Gingiva tiruan tidak dapat menutup permukaan akar bagian palatal/lingual, sehingga melalui permukaan ini masih dimungkinkan terjadinya pengaruh rangsang dari luar terhadap syaraf gigi. Walaupun demikian pengaruh ini bersifat minimal, karena sebagian besar permukaan akar telah tertutup oleh gingiva tiruan. Pendapat diatas didukung oleh hasil evaluasi laporan kasus ini. Rata-rata penderita yang dirawat dengan pemakaian gingiva tiruan, setelah evaluasi + 6 bulan, keluhan ngilu yang semula dirasakan berangsur-angsur menghilang walaupun tanpa memakai gingiva tiruan. Kesimpulan dari laporan kasus ini adalah gingiva tiruan dapat digunakan sebagai alternatif perawatan untuk resesi gingiva. Tipe resesi yang dapat dirawat dengan teknik ini adalah resesi gingiva klas III dan IV klasifikasi Miller. DAFTAR PUSTAKA 1. Hoag PM, Pawlak EA. Essentials of periodontics. 4th ed. London - St Louis: CV Mosby; 1990.p.70-5. 2. Newman MG., Takei H., Carranza FA. Clinical periodontology. 9th ed. Philadelphia - London NewYork: WB.Saunders Co; 2002. 3. Schwarts M, Lamster IB, Fine JB. Clinical guide to periodontics. Philadelphia: WB Saunders Co; 1995.pp. 21, 27, 172-5, 182-3. 4. Harris RJ. The connective tissue and partials thickness double pedicle graft: A predictable method of obtaining root coverage. J Periodontol 1992;63: 447-86. 5. Rubianto M. Pembuatan gingiva tiruan dengan teknik modifikasi (disampaikan dalam kursus singkat untuk staf periodonsia FKG Unair). 2000. 6. Jhosipura KJ, Kent RL, Depaula PF. Gingival recession: intra oral distribution and associated factors. J. Periodontol 1994;65: 864-71. 7. Dowell P, Addy M, Dummer P. Dentin hipersensitivity (aetiology, differential diagnosis and management). Br Dent J 1985; 158: 92-6. 8. Tarnow DP. Semilunar corronally repositioned flap. J Clin Periodontol 1986;13:182-5. 9. Thompson BK, Meyer R, Singh GB, Mitchell W. Desensitization of exposed root surfaces

13

Periodontic Journal, Vol.1 No.1 July-_Dec 2009; 10-14


using a semilunar corronally positioned flap. J Academy of General Dentisitry 1999; 68-70. 10. Krismariono A, Wibisono PA. Perawatan resesi gingiva dengan modifikasi teknik semilunar. Jurnal PDGI. Edisi Khusus 2002; 14.

14