Anda di halaman 1dari 13

Topic

Good Corporate Governance (GCG) & Corporate Ethics

Date of Presentation 26th of February 2013

Final Report (.) Photo

Power Point Score (.)

Video Presentation Score (.) Individual Presentation Score

Member of the Group

Nama : Erfandi Al Asra Npm : 120310100055 No.hp : 082129611234 E-mail : fandialasra@rocketmail.com Konsentrasi : Manajemen Operasi Nama : Danar Hardiyanto Npm : 120310100077 No.hp : 081316226287 E-mail : danar.hadiyanto7@gmail.com Konsentrasi : Manajemen Kewirausahaan Nama : Suluh Pandu.D Npm : 120310100084 No.hp : 085716205891 E-mail : suluh.pandu@gmail.com Konsentrasi : Manajemen SDM

BAB 1. KAJIAN TEORI

Apa itu Manajemen Strategik


Manajemen sendiri adalah proses untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan sumber daya seefektif dan seefisien mungkin dimana terdapat 4 fungsi dalam pelaksanaannya yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Strategi sendiri adalah taktik, siasat, atau perencanaan yang disusun sedemikian rupa untuk dapat bersaing dengan para pesaing agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan definisi Manajemen Strategik sendiri menurut beberapa ahli manajemen yang kami kutip dari situs praktikum Manajemen Strategik (http://praktikum.fe.unpad.ac.id/manajemen-stratejik/) adalah sebagai berikut : Pearch dan Robinson (1997) manajemen strategik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaransasaran organisasi. Robins dan Coulter dalam buku manajemen edisi 7 (2004, p.196) Manajemen stratejik adalah sekelompok keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja jangka panjang organisasi. David (2002:5) mendefinisikan Manajemen Stratejik sebagai suatu seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai obyektifnya. Wheelen dan Hunger (2003:4), Manajemen Stratejik merupakan serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

Apabila disimpulkan, Manajemen Strategik adalah suatu proses dimana terdapat analisis terlebih dahulu tentang lingkungan organisasi yang diteruskan dengan perencanaan, implementasi, dan evaluasi dari rencana-rencana yang disusun organisasi dimana seluruh lapisan organisasi terlibat dalam pelaksanaannya untuk mencapai tujuan mereka dalam periode

waktu jangka panjang yang berarti rencana-rencana tersebut terjadi secara bertahap bukan suatu proses yang instan. Manajemen Strategi ini sendiri diterapkan untuk merealisasikan daya saing perusahaan atau organisasi dengan kompetitornya. Dengan adanya daya saing di dalam perusahaan atau organisasi, itu berarti perusahaan atau organisasi dapat menciptakan nilai tambah yang lebih baik dimata para stakeholder perusahaan atau organisasi disbandingkan dengan pesaingnya. Proses dari Manajemen Strategi sendiri terdiri dari 4 tahap diantaranya adalah : Analisis lingkungan. Disini dilakukan terlebih dahulu pengamatan terhadap lingkungan eksternal dan internal dari perusahaan atau organisasi sehingga dapat diketahui hal-hal apa saja peluang yang dapat diambil oleh perusahaan atau organisasi kemudian apa saja ancamannya dan juga apa yang menjadi kekuatan utama dan kelemahan dari perusahaan dan organisasi tersebut. Perencanaan. Setelah dilakukan analisis dan diketahui apa saja yang berhubungan dengan perusahaan atau organisasi maka dapa disusun rencanarencana untuk mengatasi kelemahan dan ancaman juga memaksimalkan kekuatan dan peluang yang dimiliki perusahaan atau organisasi dan akan memunculkan program kerja apa saja yang harus dilakukan oleh perusahaan. Implementasi. Dimana Implementasi apabila di Breakdown terdapat dua fungsi manajemen didalamnya yaitu organizing dan actuating. Dibentuk dahulu tim kerja dan juga pembagian kerja dalam pelaksanaan strategi kemudian dibuat skedul kerja untuk pelaksanaan kerja tersebut. Controlling. Yang terakhir adalah Contolling. Setelah strategi diterapkan kemudian ada fungsi Controlling untuk mengetahui bagian mana saja yang masih perlu diperbaiki dari strategi yang telah diimplementasikan dan juga untuk mengetahui apakah strategi tersebut telah tepat atau masih belum lengkap.

Apa itu Good Corporate Governance, Corporate Ethic, dan Corporate Social Resposibility

Good Corporate Governance (GCG)


Apabila diartikan perkata maka akan didapatkan kalimat pengaturan perusahaan dengan baik. Dari kalimat tersebut dapat pula disimpulkan menjadi menjalankan perusahaan atau organisasi dengan sebaik-baiknya dan tidak melanggar aturan yang berlaku. Dari pengaturan perusahaan/organisasi dengan baik maka dapat kita Break Down kedepan apa saja manfaat yang akan diperoleh perusahaan atau organisasi tersebut. Seperti misalnya memiiki nilai tambah dimata para stakeholder, terutama dari pihak eksternal perusahaan, menjadi keunggulan kompetitif sendiri bagi perusahaan dalam bersaing. Pemaparan diatas Itu adalah hasil pemikiran sederhana kami saat kami pertama kali mendengar kata Good Corporate Governance. Sedangkan menurut sumber lain yang kami dapat dari blog http://eridestria.blogspot.com/2012/10/good-corporate-governance.html dan juga dari buku manajemen strategik karangan ibu Popy Rufaidah, SE, MBA, Ph.D, kami mendapatkan definisi yang berbeda. Definisi yang kami dapat dari buku ibu Popy, Corporate Governance adalah system yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholder yang merupakan individu maupun kelompok yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh seluruh kegiatan, keputusan, kebijakan dan tujuan organisasi. Kemudian tata kelola yang baik menerapkan semua keputusan melalui cara yang bebas dari tekanan dan korupsi sebagai salah satu usaha mengikuti aturan hukum yang disepakati. Tata kelola perusahaan yang baik akan menjamin hubungan serta distribusi hak dan kewajiban antara kelompok-kelompok kepentingan berjalan dengan baik. Definisi yang kami dapatkan dari blog ada bermacam-macam diantaranya GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholder khususnya, dan stakeholder pada umumnya. Kelompok negara maju mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggungjawab kepada shareholder-nya. Para pengambil

keputusan di perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi shareholder lainnya. ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung empat nilai utama yaitu accountability, transparency, predictability dan participation. Pengertian lain datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. Menurut lembaga tersebut, GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka panjang, tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya.

Kemudian kami juga menemukan prinsip-prinsip GCG di blog tersebut yaitu

Transparancy, dapat diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Accountability, adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Responsibility, pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Independency, atau kemandirian adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsipprinsip korporasi yang sehat. Fairness (kesetaraan dan kewajaran) yaitu pelakuan adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangundangan yang berlaku.

Sehingga dapat disimpulkan GCG adalah menjalankan perusahaan atau organisasi dengan sebaik-baiknya agar memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan atau organisasi dimata Stakeholder yang mana dapat digunakan untuk bersaing dengan para pesaing lainnya dengan berpegang kepada prinsip-prinsip GCG seperti yang di paparkan di atas.

Corporate Ethics
Apabila diartikan maka kita akan mendapatkan kalimat Etika Korporasi. Etika sendiri kita tahu adalah tata cara atau aturan dalam bertindak. Korporasi sendiri sama dengan perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau juga badan hukum. Itu berarti Etika Korporasi dapat diartikan sebagai tata cara dalam menjalankan suatu perusahaan. Untuk apa terdapat tata cara tersebut? Agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dapat menyebabkan perusahaan mendapatkan kredit buruk dimata para stakeholder dan juga agar perusahaan dapat berjalan sesuai jalurnya dengan benar. Corporate Ethics juga harus dilaksanakan dengan hati dan sejujur-jujurnya karena dari sifat kejujuran itu sendiri yang akan membawa kita untuk selalu berperilaku baik.

Corporate Social Responsibility (CSR)


apabila diartikan perkata maka akan didapatkan kalimat tanggung jawab sosial perusahaan. Dari kalimat tersebut dapat di maknai sebagai kepedulian perusahaan terhadap semua lingkungan yang berhubungan dengan perusahaan baik itu konsumen, karyawan, masyarakat disekitar perusahaan, ekosistem disekitar perusahaan dan lain-lain. Menurut sumber dari buku Ibu Popy, CSR adalah kewajiban dari perusahaan untuk melayani masyarakat secara umum yang bertujuan untuk mempromosikan program perusahaan kepada masyarakat, meningkatkan partisipasi masyarakat secara sukarela dalam program-program perusahaan, serta memberikan kontribusi pada masyarakat, atas aktivitas usaha perusahaan. CSR ini dipercaya dapat memberikan dampak yang positif bagi perusahaan dimata para stakeholder.

Hubungan Manajemen Strategik dengan GCG, Corporate Ethics, dan CSR


GCG sebagai system agar perusahaan atau organisasi berjalan dengan baik, etika perusahaan agar perusahaan tetap pada jalurnya, juga tanggung jawab sosial perusahaan agar perusahaan tidak menjadi benalu dan memunculkan citra baik perusahaan bagi para stakeholdernya. Ketiga hal ini memiliki tujuan yang sama yaitu menjadikan perusahaan atau organisasi menjadi yang terbaik yang mampu bersaing dengan pesaingnya. Agar perusahaan bisa bertahan ditengah ketatnya persaingan global. Agar perusahaan dapat terus mencatatkan namanya di salah satu perusahaan terbaik.

Untuk memulai dalam pelaksanaannya GCG dan Corporate ethics harus mengikuti apa saja yang menjadi rencana-rencana perusahaan. Untuk GCG sendiri menurut kami letaknya terdapat pada Implementation dimana proses tersebut adalah proses ketiga dalam pengimplementasian manajemen strategi, setelah melakukan perencanaan yang akan memunculkan program kerja apa saja yang akan dilaksanakan oleh perusahaan. Dalam implementasi program-program tersebut perlu diterapkan GCG agar perusahaan tersebut menjalankan programnya dengan baik. Selain itu dalam proses organizing SDM sebelum melaksanakan proker juga diperlukan strategi dan juga harus memperhatikan tata kelola sdm dengan baik agar tepat dalam penorganisasiannya. Begitupun dengan Corporate Ethics dimana merupakan rambu-rambu yang mengatur perusahaan untuk tetap pada jalurnya dalam menjalankan program kerjanya. Selain dalam pelaksanaan program kerjanya juga dalam interaksi sehari-hari semua pihak di perusahaan. Dengan adanya etika-etika tersebut perusahaan akan mengetahui mana yang baik dan buruk untuk dilakukan oleh perusahaan dan para karyawannya. Kemudian untuk CSR, pada awalnya kami cukup ragu CSR terletak di bagian mana, namun setelah membaca definisinya kembali kami mengerti bahwa CSR terletak pada bagian implementasi program kerja juga. CSR adalah bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan eksternal dan internalnya agar perusahaan mendapatkan citra baik juga sebagai bentuk promosi. Dalam proses perencanaan program kerja, perusahaan juga mempertimbangkan kira-kira program apa saja yang akan dilakukan untuk mendukung keiatan CSR perusahaan ini. Dalam proses menentukan program kerja tersebut perusahaan melakukan penyusunan strategi bagi perusahaan untuk program CSR nya. Apabila disimpulkan, GCG, Corporate Ethics, dan CSR akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan strategi-strateginya untuk mencapai sasarannya karena ketiga hal tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan sendiri dimata para stakeholder.

BAB 2. CONTOH APLIKASI


OLYMPUS
Olympus Corporation adalah Sebuah perusahaan Jepang yang bergerak dibidang optik dan gambar seperti pembuatan kamera, mikroskop, termometer, kartu memori, dan lensa kamera. Olympus didirikan pada tanggal 12 oktober 1919 di Tokyo, Jepang. Perusahaan ini sudah berusia 92 tahun dan sudah menjadi pemain besar pula dalam industri alat optik. Pada tanggal 14 Oktober 2011, Olympus memecat Michael Woodford dari jabatannya sebagai CEO karena mempertanyakan secara terang-terangan dana yang dikeluarkan Olympus sebagai biaya penasehat dalam pengambilalihan Gyrus Group Plc. tahun 2008. Woodford meminta perusahaan yang berumur 92 tahun ini menjelaskan transaksi mencurigakan sebesar US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 11 triliun yang menurutnya janggal dan mengalir ke tangan yang salah. Manajemen Olympus menyangkal mati-matian pernyataan Woodford tersebut, namun pernyataan tersebut telah mengundang FBI untuk melakukan penyelidikan terhadap Olympus. Namun akhirnya Olympus mengakui telah menyembunyikan kerugian investasi di perusahaan sekuritas selama 20 tahun sejak 1980. Semua bermula saat Olympus mengakuisisi perusahaan alat medis asal inggris, Gyrus Group Plc pada tahun 2008. Transaksi yang bernilai sekitar Rp 18,7 triliun atau US$ 2,2 miliar itu juga terdapat biaya-biaya lain didalamnya, yaitu biaya penasihat sebesar Rp 5,38 triliun dan pembayaran kepada tiga perusahaan investasi lokal sebesar Rp 6,5 Triliun. Setelah penyelidikan, terungkap sudah bahwa biaya-biaya tersebut adalah sebuah akal-akalan semata. Dana tersebut digunakan untuk menutupi kerugian investasi yang terjadi dua dekade lalu. Hal itu semakin terlihat jelas lantaran pembayaran untuk tiga perusahaan investasi lokal tersebut di hapusbukukan. Presdir Olympus, Shuici Takayama menuding Tsuyoshi Kikukawa yang mundur dari jabatan presiden dan komisaris Olympus pada 26 Oktober 2011 sebagai pihak yang bertanggung jawab. "Saya benar-benar tidak mengetahui kebenaran tentang semua ini," kata Takayama, yang mengaku tidak mengetahui kasus ini sejak jabatan Presiden Direktur diserahkan oleh Kikukawa kepadanya, dalam jumpa pers bersama sekitar 200 wartawan, dikutip dari Reuters, Selasa (8/11/2011). (detik.com) Baru wapresdir Hisashi Mori dan auditor internal Hideo Yamada yang menyatakan siap jika pada akhirnya harus dituntut hukuman pidana karena mengetahui jalannya transaksi tersebut.

Akibatnya saham Olympus menurun drastis dan kepercayaan masyarakat Jepang anjlok terhadap Olympus. Padahal Olympus sendiri mempunyai kode etik yang berbunyi : sound corporate activities, action on behalf of the costumer, respect for human right and working environment with vitality. As members of Olympus Group, we all understand that in striving to achieve success in our business lines, we must conduct ourselves in accordance with the law and with the highest standards of ethics and integrity. Vinnet Nayar, Vice Chairman dan CEO HCL Tech. Ltd, salah satu perusahaan IT dari India mengatakan Corporate ethics isnt about rules, its about honesty. Yang artinya etika korporasi bukannlah tentang peraturan-peraturan yang harus diikuti dan dilaksanakan saja, tapi juga tentang kejujuran dalam melaksanakannya. Namun lanjutnya, keserakahan dapat menghancurkan segalanya. Dari sini kita dapat melihat bahwa tidak adanya praktek Corporate Ethics yang baik pada perusahaan Olympus. Kode etik yang telah dibuat hanya menjadi penghias belaka yang tidak dipraktekkan bahkan dilupakan. Benar kata Vinnet Nayar tadi bahwa semua kembali kepada kejujuran masing-masing pihak. Olympus berusaha untuk menampilkan perusahaan ini tetap terlihat baik meskipun dengan cara menipu masyarakat banyak dengan menyembunyikan kerugian investasi mereka. Ini menunjukkan bahwa Olympus tidak peduli dengan etika yang berlaku juga menunjukkan tata kelola perusahaan mereka yang tidak baik. Sangat sulit untuk mencegah atau mendeteksi jenis penipuan disengaja yang terjadi dalam kasus Olympus ini. Skandal Olympus sangat menyoroti masalah terbesar dalam tata kelola perusahaan Jepang yaitu kurangnya sistem yang efektif untuk memantau manajemen perusahaan-perusahaan. Sumber : Rufaidah, SE, MBA, Ph.D, Popy.2013. Manajemen Strategik Edisi Revisi. Humaniora. Bandung http://finance.detik.com/read/2011/11/08/153440/1763010/4/skandal-penipuankorporasi-terbesar-jepang-oleh-olympus http://pasardana.com/tag/michael-c-woodford/

ENRON
Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industry energy di tahun 1990an. Enron sukses menyuplai energy ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi. Seiring booming industry energy, Enron memosisikan dirinya sebagai sebagai energy merchants yang membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energy listirk, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan. Pada April 2001, majalah Fortune menyebut Enron sebagai tujuh perusahaan terbesar di U.S. dan perusahaan paling inovatif di Amerika. Enam bulan kemudian, 2 Desember 2001, Enron bangkrut, disebut sebagai kecurangan akuntansi terbesar di abat ke-20. Dua belas ribu pekerja kehilangan pekerjaan, pensiun, serta tabungan mereka yang telah diinvestasikan dalam bentuk saham Enron. Pemegang saham lainnya kehilangan $70 milyar ketika nilai saham menjadi nol. Di sisi internal, Sherron Watkins, wakil presiden Enron, telah melihat kekacauan di perusahaan dan telah berjuang menyelamatkannya dengan memberi peringatan akan apa yang sedang terjadi, namun demikian menghadapi tentangan dari sekitarnya. Pada beberapa tahun yang lalu beberapa perusahaan seperti Enron dan Worldcom yang dinyatakan bangkrut oleh pengadilan dan Enron perusahaan energy terbesar di AS yang jatuh bangkrut itu meninggalkan hampir sebesar US$ 31,2 milyar, karena salah strategi dan memanipulasi akuntansi yang melibatkan profesi akuntan publik yaitu KAP Arthur Andersen yang merupakan salah satu the big five KAP yang melakukan audit terhadap laporan keuangan Enron Corp. Laporan dari KAP Arthur Andersen tersebut ternyata penuh kecurangan. Skandal keuangan yang terjadi di dalam Enron dan Worldcom yang melibatkan KAP yang termasuk dalam the big five mendapatkan respon dari kongres Amerika Serikat, salah satunya dengan diterbitkannya undang-undang Sarbanes-Oxley Act. Salah satu hal yang ditekankan pasca skandal Enron atau pasca Sarbanes-Oxley Act ini adalah perlunya etika professi. Selama ini bukan berarti etika professi tidak penting bahkan sejak awal professi akuntan sudah memiliki dan terus menerus memperbaiki kode etik professinya baik di USA maupun di Indonesia Dikutip dari : http://viahzrdous99.blogspot.com/2012/12/kasus-enron.html http://mujilan.files.wordpress.com/2012/04/kasus-enron.pdf

TELKOM
Perusahaan perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Merupakan BUMN yang bergerak di bidang jasa layanan telekomunikasi dan jaringan di wilayah Indonesia. Dengan statusnya sebagai perusahaam milik negara yang sahamnya diperdagankan di bursa saham, pemegang sahamnya mayoritas Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya di pegang oleh publik. Layanan Telkom sangat luas dan beragama meliputi jaringan kabel, nirkable tidak bergerak (CDMA), maupun Global System for Mobile communication (GSM). Telkom adalah salah satu pemain besar dalam dunia pertelekomunikasian di Indonesia, dengan pelangan yang mencapai 10,5 juta pelangan broadband, dan 107 juta pelanggan layanan seluler, dimana mereka berhasil meningkatkan jumlah pelanggan broadband sekita 64,3% dan 13,8% untuk pelanggan seluler. Pada tahun 2012, Telkom meraih dua penghargaan corporate governance Asia, masingmasing sebagai best environmental responsibility dan best investor relations professional, penghargaan diberikan oleh majalah Corporate Governance Asia yang berkedudukan di Hong Kong dalam ajang 2nd Asian Excellence Recognition Award 2012 di Hong Kong. Menurut Eddy Kurnia yang menjabat Head of Corporate Communication and Affair Telkom, penghargaan ini merupakan hasil dari penerapan Good Corporate Governance (GCG) di dalam PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Telkom bisa dibilang sebagai salah satu perusahaan di Indonesia yang sukses menerapkan GCG, konsep dasar yang mereka gunakan adalah penerapaan prinsip-prinsip GCG seperti komitmen menciptakan perusahaan yang transparan, dapat bertanggung jawab (accountable) dan terpercaya melalui business management yang dapat dipertanggungjawabkan. Penerapan prinsip-prinsip tersebut merupakan salah satu langkah penting bagi Telkom untuk meningkatkan dan memaksimalkan nilai perusahaan atau corporate value, mendorong pengelolaan perusahaan yang professional, transparan, dan efisien denganc ara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil. Pada tahun 2011 merupakan tahun peguatan penerapan GCG diseluruh grup usaha Telkom. Sehingga pada akhirnya pada tahun yang sama Telkom berhasil mendapakan predikat The Most Trusted Company oleh The Indonesian Institutes for Corporate Governance (IICG) yang merupakan sebuah lembaga indepnden pemeringkat GCG di Indonesia. Dimana penilaian tersebut berdasarkan Self assessment, observasi dokumen, penilaian makalah, dan pengamatan langsung dewan juri ke Telkom. Penerapan GCG yang baik di Telkom membuat Telkom secara keseluruhan terus mengalami peningkatan, mulai dari peningkatan pelanggan, lalu meningkatnya kepercayaan

investor, dan tentu nya peningkatan value perusahaan yang tajam, Telkom telah menjadi salah satu contoh baik penerapan GCG dan etika berbisnis dan salah satu bukti pentingnya GCG dalam manajemen strategic sebuah perusahaan.

Sumber : Rufaidah, SE, MBA, Ph.D, Popy.2013. Manajemen Strategik Edisi Revisi. Humaniora. Bandung http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/08/11542026/Telkom.Raih.Dua.Peng hargaan.Corporate.Governance.Asia

BAB 3. KESIMPULAN
Strategi adalah salah satu alat yang sangat penting untuk bersaing dengan para pesaing. Penerapan strategi sudah banyak dilakukan bahkan sejak jaman dahulu. Penerapan strategi yang baik itu akan berdampak kepada keberhasilan memenangkan persaingan. Dengan adanya manajemen strategi akan menjadi pedoman untuk perusahaan atau organisasi meracik strategistrategi yang tepat dan bijaksana. GCG, Corporate Ethics, dan CSR akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan strategi-strateginya untuk mencapai sasarannya karena ketiga hal tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan sendiri dimata para stakeholder. Banyak perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, Corporate Ethics, dan CSR pada implementasi strateginya, mendapatkan citra baik di mata para stakeholdernya seperti Telkom, Jasa Marga. Sedangkan perusahaan yang tidak menerapkan seperti ENRON, OLYMPUS, pada akhirnya menemui batu sandungan yang menyebabkan ketidakpercayaan Stakeholder terhadap mereka. Maka dari itu, penerapan GCG, Corporate Ethics, dan CSR, dalam implementasi strategi merupakan hal yang mutlak dan sangat penting.