Anda di halaman 1dari 55

SURVEI HAMA DAN PENYAKIT PADA PERTANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus Linn.

) DI DESA CIHERANG, KECAMATAN PACET, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

DWI PRIYO PRABOWO

PROGRAM STUDI HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

ABSTRAK

DWI PRIYO PRABOWO, Survei Hama dan Penyakit pada Pertanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dibimbing oleh AUNU RAUF dan ABDJAD ASIH NAWANGSIH.

Penelitian bertujuan menginventarisasi hama dan penyakit yang menyerang mentimun, serta mengetahui jenis-jenis lalat pengorok daun dan parasitoidnya yang ditemukan pada pertanaman mentimun di kampung Buniaga (Buniaga Sawah Lega, Buniaga Legok, dan Buniaga Nangeuk) Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Pengamatan hama dan penyakit dilakuan dengan dua cara, pengamatana lahan survei yang dilakukan secara acak dan pengamatan lahan mingguan yang dilakukan terhadap tanaman mulai usia 2 minggu hingga panen. Pada pengamatan lahan survei diperoleh data dari 7 lahan milik petani yang berbeda dengan usia tanaman yang berbeda-beda. Selain itu juga dilakukan pengambilan contoh daun bergejala korokan untuk diamati tingkat parasitisasi terhadap lalat pengorok daun. Hama yang ditemukan menyerang tanaman mentimun antara lain: kutudaun Aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae), trips Thrips parvispinus (Tysanoptera: Tripidae), kutu kebul Trialeurodes vaporariorum (Hemiptera: Aleyrodidae), lalat pengorok daun Liriomyza huidobrensis (Diptera: Agromyzidae), kumbang daun Aulacophora similis (Coleoptera: Chrysomelidae), dan ulat daun Diaphania indica (Lepidoptera: Pyralidae). Selain itu juga dijumpai gejala buah bengkok, yang diduga disebabkan oleh serangan kepik Leptoglossus australis (Hemiptera: Coreidae). Parasitoid yang berasosiasi dengan hama pengorok daun adalah Opius chromatomyiae (Hyemenoptera: Braconidae) dan Hemiptarsenus varicornis (Hymenoptera: Eulopidae). Sedangkan penyakit-penyakit penting yang terdapat pada lahan pertanaman mentimun adalah layu yang disebabkan nematoda puru akar Meloidogyne arenaria, embun bulu yang disebabkan Pseudoperonospora cubensis, bercak daun yang disebabkan Alternaria sp. dan Colletotrichum sp. dan penyakit mosaik mentimun yang disebabkan Cucumber Mosaic Virus (CMV). Serangga hama yang banyak menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil panen adalah lalat pengorok daun L. huidobrensis dan kutudaun A. gossypii. Kehilangan hasil panen juga terjadi karena munculnya gejala buah bengkok, yang sebagian diduga disebabkan oleh serangan kepik L. australis. Penyakit utama pada pertanaman mentimun di lokasi penelitian adalah layu yang disebabkan oleh nematoda M. arenaria dan embun bulu yang disebabkan oleh P. cubensis

SURVEI HAMA DAN PENYAKIT PADA PERTANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus Linn.) DI DESA CIHERANG, KECAMATAN PACET, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

DWI PRIYO PRABOWO A44104021

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Survei Hama dan Penyakit pada Pertanaman Mentimun (Cucumis sativus L) di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Ciajur, Jawa Barat Dwi Priyo Prabowo A44104021

Nama NRP

: :

Menyetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. Dr Ir. Aunu Rauf, MSc. NIP. 130607614

Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, MSi. NIP. 131869954

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr. NIP 131124019

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pekalongan pada tanggal 21 Mei 1986, merupakan putra kedua dari pasangan Ruspadi dan Yuliati. Penulis menamatkan pendidikan dasar di SDN Rowokembu 1 pada tahun 1998, Sekolah Menengah Pertama di SLTP N1 Wonopringgo pada tahun 2001 dan Sekolah Menengah Atas di SMU N 1 Kajen Kabupaten Pekalongan tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis diterima di Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di berbagai organisasi di IPB, antara lain: Ikatan Mahasiswa Pekalongan (IMAPEKA) tahun 2004-2006, UKM Basket IPB tahun 2004-2006, Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) sebagai Staf Departemen Sosial Kemasyarakatan tahun 2006 dan Ketua Departemen Luar Negeri tahun 2007, Klub Fotografi Capung tahun 2006 dan Majalah Metamorfosa tahun 2006-2008. Selain aktif di kegiatan kemahasiswaan, penulis juga pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Entomologi Umum tahun 2006 dan Dasar-Dasar Proteksi Tanaman tahun 2008.

PRAKATA
Puji serta syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul Survei Hama dan Penyakit pada Pertanaman Mentimun (Cucumis sativus L) di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Ciajur, Jawa Barat. Penelitian dan penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf,. MSc. dan Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, Msi. yang telah bersedia menjadi dosen pembimbing dan telah memberikan arahan kepada penulis sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Kikin Hamzah Mutaqin MSi. selaku dosen penguji tamu dalam sidang skripsi atas saran dan kritik yang diberikan untuk kesempurnaan laporan akhir ini. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada petani sayuran di Desa Ciherang yang telah membantu penulis melaksanakan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada segenap staf Departemen Proteksi Tanaman Dra. Dewi Sartiami Msi., Pak Wawan, Pak Gatut dan Bu Aisyah yang telah membantu dalam identifikasi hama dan penyakit. Tak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan Laboratorium Ekologi Serangga, Nematologi Tumbuhan dan Biosistematiaka serangga Cok, Fiat, Dery, Billy, Herma, Gyas, Isma, Pipit, Magda, Yuli yang telah membantu penulis selama di laboratorium, Vani Nur Oktaviany, serta rekanrekan Wisma panggung (Indra, Umam, Juhli) atas bantuan transportasinya dan Wisma Sarang Rayap yang telah membatu selama masa penulisan. Terakhir penulis juga mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan mahasiswa HPT angakatan 41, 42, dan 43 yang telah memberi dorongan motivasi kepada penulis namun tidak dapat dicantumkan namanya pada kesempatan ini.

Bogor, Januari 2009

Dwi Priyo Prabowo

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 Latar Belakang .......................................................................................... 1 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2 Manfaat Penelitian .................................................................................... 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3 Mentimun .................................................................................................. 3 Budidaya Tanaman Mentimun ................................................................... 4 Hama .......................................................................................................... 6 Penyakit ...................................................................................................... 10 BAHAN DAN METODE .................................................................................. 14 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................... 14 Metode Penelitian ...................................................................................... 14 Penentuan Lahan Pengamatan dan Contoh Petak Tanaman ................ 14 Wawancara dengan Petani ................................................................... 14 Pengamatan Hama................................................................................ 15 Penentuan Tingkat Parasitisasi Pengorok Daun................................... 15 Pengamatan Penyakit .......................................................................... 16 HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 16 Keadaan Umun Lahan Pertanaman Sayuran Desa Ciherang ..................... 16 Hama .......................................................................................................... 19 Kutudaun .............................................................................................. 19 Trips ..................................................................................................... 22 Kutu kebul ........................................................................................... 22 Ulat daun ............................................................................................. 24 Kumbang daun ..................................................................................... 26 Gejala buah bengkok ............................................................................ 26 Lalat pengorok daun dan tingkat parasitisasi ....................................... 28

Penyakit ...................................................................................................... 31 Layu .................................................................................................... 31 Mosaik .................................................................................................. 32 Bercak daun ......................................................................................... 34 Embun bulu .......................................................................................... 35 KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 38 Kesimpulan ............................................................................................... 38 Saran .......................................................................................................... 38 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 39

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Lahan pengamatan survei tanaman mentimun Desa Ciherang ....................... 18 2 Lahan pengamatan mingguan tanaman mentimun Desa Ciherang ................. 19 3 Rataan kerapatan populasi A. gossypii (ekor/daun) ....................................... 20 4 Rataan kerapatan populasi T. parvispinus (ekor/daun) .................................. 22 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/tanaman) ........................ 24 6 Rataan kerapatan populasi D. indica (ekor/tanaman) pada lahan survei ........ 25 7 Rataan kerapatan populasi D. indica (ekor/tanaman) pada lahan pengamatan mingguan ........................................................................................................ 26 8 Rataan kerapatan populasi (ekor/tanaman) dan intensitas serarangan L. huidobrensis pada lahan survei....................................................................... 29 9 Rataan kerapatan populasi (ekor/tanaman) dan intensitas serarangan L. huidobrensis pada lahan pengamatan mingguan ............................................ 29 10 Hasil inkubasi daun mentimun yang terserang lalat pengorok daun ............. 30 11 Hasil inkubasi daun mentimun yang terserang lalat pengorok daun pada lahan yang diambil contoh daun tiap minggu. ......................................................... 30 12 Insidensi penyakit layu tanaman mentimun di lahan survei .......................... 32 13 Insidensi dan intensitas penyakit bercak daun ............................................... 35 14 Insidensi dan intensitas penyakit embun bulu pada lahan survei.................... 36 15 Insidensi dan intensitas penyakit embun bulu pada lahan pengamatan mingguan .......................................................................................................... 37

DAFTAR GAMBAR
Halaman 1 A. gossypii, (a) koloni di atas permukaan daun, (b) preparat slide kutudaun . 21 2 Rataan kerapatan populasi A. gossypii dan T. parvispinus (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan .......................................................................... 21 3 Preparat slide imago T. parvispinus ................................................................ 21 4 Kutu kebul, T. vaporariorum (a) koloni imago, (b) pupa ............................... 23 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/tanaman) pada lahan pengamatan mingguan ................................................................................... 23 6 Ulat mentimun D. indica ................................................................................ 25 7 Gejala buah berlubang yang disebabkan D. indica ........................................ 25 8 Gejala buah bengkok pada pertanaman mentimun ........................................ 27 9 Liriomyza hiudobrensis .................................................................................. 28 10 Parasitoid Liriomyza huidobrensis, Opius chromatomyiae dan Hemiptarsenus varicornis ........................................................................................................ 28 11 Gejala yang layu yang disebabkan Meloidogyne arenaria (a) gejala pada tajuk tanaman (b) gejala bintil pada akar tanaman ................................................. 31 12 Insidensi penyakit layu dan mosaik mentimun pada lahan pengamatan mingguan ........................................................................................................ 33 13 Gejala mosaik pada daun mentimun .............................................................. 33 14 Gejala bercak pada daun mentimun ............................................................... 34 15 Konidia cendawan yang ditemukan pada daun yang menunjukkan gejala bercak (a) Alternaria sp. (b) Colletotrichum sp. ............................................ 34 16 Gejala embun bulu pada daun mentimun ....................................................... 36

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Kepik L. australis yang diduga menyebabkan gejala buah bengkok pada mentimun .......................................................................................................... 43 2 Kumbang daun A. similis .. ............................................................................... 43 3 Rataan kerapatan populasi A. gossypii (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan .......................................................................................................... 43 4 Rataan kerapatan populasi T. parvispinus (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan .......................................................................................................... 44 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan .......................................................................................................... 44 6 Insidensi penyakit layu mentimun pada lahan pengamatan mingguan ............ 44 7 Insidensi penyakit mosaik oleh CMV pada lahan pengamatan mingguan ..... 45

PENDAHULUAN

Latar Belakang Mentimun (Cucumis sativus Linn.) merupakan salah satu sayuran buah yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dalam bentuk segar. Selain dimanfaatkan dalam bentuk buah segar yaitu sebagai lalap, asinan, acar dan salad, mentimun juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan indusrti (kosmetika dan obatobatan) (Sumpena 2001). Menurut Astawan (2008) pada mentimun terdapat senyawa kukurbitasin, yang memiliki aktifitas antitumor, selain itu dalam biji mentimun terdapat senyawa Conjugated Linoleic Acid (CLA) yang bersifat

sebagai antioksidan yang dapat mencegah kerusakan tubuh akibat radikal bebas. Produksi mentimun Indonesia masih sangat rendah yaitu 3,5 4,8 ton/ha, padahal potensinya dapat mencapai 20 ton/ha terutama jika menanam varietas hibrida. Varietas hibrida dapat menghasilkan produksi buah yang lebih tinggi daripada varietas lokal karena pertumbuhan mentimun hibrida bersifat seragam, relatif tahan terhadap penyakit terutama virus, dan produksinya hingga diatas 2 kg per pohon. Namun produksi mentimun hibrida hanya maksimal jika ditanam di lahan pada ketinggian 1.000-1.200 meter dpl (Rukmana 1994). Seperti halnya tanaman sayuran lain, mentimun juga merupakan salah satu sayuran yang rentan terhadap serangan hama serta infeksi patogen tanaman. Serangan hama dan patogen merupakan gangguan pertumbuhan mentimun yang perlu diwaspadai, karena selain menggangu pertumbuhan adanya serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produksi mentimun. Di Indonesia hama penting pada tanaman mentimun secara umum adalah kumbang daun Aulacophora sp. dan kutu daun Aphis gossypii; sedangkan penyakit yang banyak menginfeksi tanaman mentimun adalah CMV, layu, embun tepung, busuk buah dan embun bulu (Sumpena 2001). Lalat pengorok daun Liriomyza spp. merupakan salah satu hama penting pada komoditas pertanian, terutama komoditas tanaman sayur-sayuran. Liriomyza spp. merupakan hama yang bersifat polifag yang dapat menyerang berbagai komoditas hortikultura seperti kentang, kubis, bawang-bawangan, seledri, mentimun, tomat, dan lain lain (Rauf 2005). Kehilangan hasil yang dapat

ditimbulkan oleh hama ini pada berbagai tanaman adalah 30-100%. Menurut Tapahillah (2002) lalat pengorok daun yang menyerang tanaman mentimun di dataran rendah dan sedang adalah Liriomyza sativae, sedangkan di dataran tinggi Liriomyza huidobrensis. Kerusakan yang disebabkan oleh Liriomyza spp. berupa korokan pada daun yang mengakibatkan kemampuan tanaman berfotosintesis berkurang sehingga produksi buah dapat menurun. Seiring berjalannya waktu status suatu hama maupun penyakit yang menyerang tanaman mengalami pergeseran, tidak terkecuali pada tanaman mentimun. Hingga saat ini informasi mengenai hama dan penyakit penting, serta musuh alami pada pertanaman mentimun terutama yang ditanam di dataran tinggi belum banyak diketahui dan masih terbatas. Oleh karena itu, inventarisasi OPT pada pertanaman mentimun perlu dilakukan agar pengelolaan tanaman mentimun dapat dilakukan dengan baik. Tujuan Penelitian ini bertujuan mempelajari cara budidaya tanaman mentimun secara umum yang dilakukan petani, menginventarisasi jenis hama dan penyakit yang menyerang mentimun, serta mengetahui jenis-jenis lalat pengorok daun dan parasitoidnya yang ditemukan pada pertanaman mentimun. Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hama dan penyakit pada pertanaman mentimun hibrida di dataran tinggi (>1000 m dpl) agar dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengelola dan mengendalikan populasi hama dan penyakit pada pertanaman mentimun secara tepat.

TINJAUAN PUSTAKA
Mentimun (Cucumis sativus Linn.) Mentimum adalah salah satu jenis sayur-sayuran yang dikenal di hampir setiap negara. Tanaman ini berasal dari Himalaya di Asia Utara. Saat ini, budidaya mentimum sudah meluas ke seluruh dunia baik daerah tropis atau subtropis. Di Indonesia mentimun memiliki berbagai nama daerah seperti timun (Jawa), bonteng (Jawa Barat), temon atau antemon (Madura), ktimun atau antimun (Bali), hantimun (Lampung) dan timon (Aceh) (Rukmana 1994). Klasifikasi botani tanaman mentimun adalah sebagai berikut: Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Cucurbitales : Cucurbitaceae : Cucumis : Cucumis sativus L. Mentimun merupakan tanaman setahun yang tumbuh menjalar, dengan sistem perakaran dangkal. Batang tanaman mentimun memiliki panjang 1-3 m dengan sulur yang tidak bercabang. Daun bulat segitiga, agak berbentuk jantung, lebar 7-25 cm dan permukaan kasar karena adanya rambut-rambut di permukaan daun, panjang tangkai daun 5-15 cm. Bunga berwarna kuning berbentuk lonceng (Rubatzky dan Yamaguchi 1999). Menurut data dari Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikutura pada tahun 1991, luas areal panen mentimum nasional 55.792 ha dengan produksi 268.201 ton. Pada tahun 1994 luas panen menurun menjadi 53.438 ha dengan pengingkatan produksi menjadi 280.934 ton. Sedangkan pada tahun 1999 luas panen menurun menjadi 52.787 ha, namun produksi mengalami peningkatan menjadi 489.490 ton Sebagian besar produksi mentimun di Indonesia diproduksi di Pulau Jawa yaitu sebesar 65.57%, beberapa daerah lain yang juga menjadi sentra penanaman mentimun

adalah Aceh dan Bengkulu (Sumpena 2001). Mentimun mengandung mineral-mineral yang penting bagi tubuh seperti kalsium, fosfor, kalium dan besi. Selain itu juga mengandung vitamin A, B dan C. Mentimun muda dijadikan sayuran mentah atau bahan makanan yang diawetkan seperti acar. Buah mentimum dimanfaatkan untuk perawatan kecantikan dan untuk pengobatan tradisional untuk memperlancar buang air kecil dan menurunkan tekanan darah tinggi (Warintek 2007). Menurut Astawan (2008) mentimun memiliki senyawa kukurbitasin, senyawa yang memiliki aktifitas antitumor, selain itu dalam biji mentimun juga terdapat senyawa Conjugated Linoleic Acid (CLA) yang bersifat sebagai antioksidan untuk mencegah kerusakan tubuh akibat radikal bebas. Mentimun juga mengandung asam malonat yang berfungsi menekan gula darah agar tidak berubah menjadi lemak, baik untuk menurunkan berat badan.

Budidaya Tanaman Mentimun Mentimun dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi karena daya adaptasi tanaman pada berbagai iklim cukup tinggi. Untuk pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang cukup (tidak ternaungi), dengan temperatur 21,1-26,7 C. Mentimun lokal lebih cocok ditanam di dataran rendah dan biasanya merupakan tanaman yang diikutkan dalam pola pergiliran tanaman. Sebaliknya, mentimun hibrida lebih baik ditanam di dataran tinggi pada ketinggian 1.000-1.200 meter dpl (Rukmana 1994). Jenis mentimun komersial yang banyak dikembangkan di Indonesia ada 2 macam yaitu varietas Open Pollinated (OP) dan varietas hibrida. Pembagian mentimun tersebut didasarkan pada cara pemuliaannya. Jenis varietas OP yaitu jenis mentimun hasil persilangan bebas atau alami. Keuntungan dari penggunaan varietas OP adalah dapat dibenihkan, namun memiliki kekurangan berupa pertumbuhan yang kurang seragam dan produktifitas yang rendah. Beberapa varietas mentimun OP yang diusahakan petani antara lain: Saturnus, Mars, Pluto, Venus dan mentimun lokal (Sumpena 2001).

Varietas hibrida adalah jenis mentimun hasil persilangan dua induk atau lebih yang mempunyai sifat-sifat unggul dan keturunannya memiliki sifat yang lebih unggul dari induknya. Varietas hibrida kurang baik jika dibenihkan karena menghasilkan produksi yang lebih rendah dari induknya. Namun mentimun hibrida memiliki banyak keunggulan apabila dibandingkan dengan mentimun lokal maupun OP, karena memiliki karakteristik khusus yang dikembangkan melalui pemuliaan tanaman yang melibatkan keragaman genetik dan pemilihan sifat-sifat yang khas dan unggul (Tanindo 2008). Pertumbuhan mentimun varietas hibrida bersifat seragam, produktivitas tinggi diatas 2 kg per tanaman dan relatif tahan terhadap infeksi patogen, terutama virus. Varietas mentimun hibrida yang banyak di temukan di pasaran antara lain: Spring Swallow, Pretty Swallow, dan Merry Swallow (Sumpena 2001). Perbanyakan tanaman mentimun dilakukan dengan biji. Benih dapat ditanam langsung di lubang tanam sebanyak 3 benih/lubang atau dengan sistem semai yang dapat menghemat benih. Penanaman mentimun umumnya ditanam dalam bentuk bedengan dengan lebar 120 cm, tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm, atau guludan dengan lebar bawah 60-80 cm dan lebar atas 40-60 cm, jarak antar guludan 30 cm (Sumpena 2001). Teknik penanaman mentimun terdiri dari 2 cara yaitu: dengan benih dan bibit. Penanaman dengan menggunakan benih dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dengan tugal dengan jarak tanam 100 cm antar barisan dan 50 dalam barisan, selanjutnya ditanam 2-3 benih mentimun dan ditutup dengan tanah tipis. Penanaman dengan memakai bibit dilakukan dengan menanam bibit yang berasal dari pembibitan di polibag (Warintek 2007) Pemupukan mentimun lokal dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan berupa 100 kg/ha urea, 200 kg/ha ZA, 100 kg/ha TSP dan 100 kg/ha KCl. Pupuk dimasukkan ke dalam larikan atau lubang tanah di sekeliling tanaman sejauh 15 cm dari batang. Berbeda dengan varietas lokal, mentimun hibrida sangat responsif terhadap pemupukan. Jenis dan waktu pemupukan untuk tanaman mentimun hibrida Jepang (kg/ha) adalah pemberian pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 20

ton, kemudian pupuk kimia berupa urea, sebagai pupuk dasar sebanyak 150 kg, susulan I sebanyak 150 kg, susulan II sebanyak 300 kg dan susulan III sebanyak 250 kg. SP-36 sebagai pupuk dasar sebanyak 150 kg, susulan I 100 kg, susulan II 250 kg. KCl sebagi pupuk dasar 150 kg, susulan I 100 kg, susulan II sebanyak 100 kg, dan susulan III sebanyak 250 kg (Warintek 2007). Kriteria buah mentimun hasil panen adalah sebagai berikut: Kelas A: panjang 16-20 cm; diameter 1,5 cm; bentuk buah: bagus, lurus, bulat dan mulus. Kelas B: panjang 20-23 cm; diameter 2,0 cm; bentuk buah: bagus, lurus, bulat dan mulus. Kelas C: panjang > 23 cm; diameter < 2,0 cm; bentuk buah bengkok, ukuran diameter tidak merata, cacat mekanis (Warintek 2007).

Hama Tanaman Mentimun

Kutu daun, Aphis gossypii Clover (Hemiptera: Aphididae) Aphis gossypii merupakan hama yang tersebar hampir di seluruh dunia. Kutu daun merupakan hama utama pada tanaman kapas dan timun-timunan (Famili Cucurbitaseae), dan merupakan hama minor pada berbagai tanaman lain seperti bawang, okra, tembakau, kakao, dan lain lain (CABI 2005). A. gossypii berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala yang ditimbulkan kutu daun ini adalah daun keriput, keritting dan menggulung, selain itu kutu ini juga merupakan vektor virus (Mossler et al. 2007). Pengendalian A. gossypii dapat dilakuakan dengan pemanfaatan musuh alami antara lain serangga dari Famili Coccinellidae, Syrphidae, Chrysopidae,

Hemerobiidae, serta beberapa jenis laba-laba predator. Selain pemanfaatan musuh alami, dapat juga dengan cara menggunakan tanaman resisten dan penggunaan insektisida. Jenis insektisida yang dapat digunakan antara lain aldicarb , bifenthrin, chlorpyrifos, deltamethrin, diazinon, endosulfan dan malathion (CABI 2005).

Trips, Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae) Thrips parvispinus merupakan jenis trips yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, yang merupakan hama utama pada tanaman pepaya, semangka dan cabai (CABI 2005). Tubuh berukuran kecil sekitar 1 mm, berwarna coklat kehitaman, dengan abdomen berbentuk kerucut berwarna gelap (Moritz et al. 2004). Kerusakan yang diakibatkan oleh serangan T. parvispinus adalah berupa lapisan keperakan pada permukaan bawah daun yang sering menyebabkan daun menjadi keriting, kerdil dan tidak dapat membentuk buah secara normal (Sastrosiswojo 1991). Pengendalian trips dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami seperti Neoseiulus sp. (Acarina: Phytoseidae). Selain itu juga dapat menggunakan insektisida berbahan aktif malathion, salithion, bromofos, phenothate, cartap dan methomil (Chang 1991 dalam CABI 2005).

Kutu kebul, Trialeurodes vaporariorum Westwood (Hemiptera: Aleyrodidae) Trialeurodes vaporariorum merupakan hama yang menjadi permasalahan utama di ruamah kaca. Hama ini menyerang tanaman tomat, sawi, mentimun dan lain lain (Wintermantel 2004). Kutu kebul menyebabkan kerusakan pada tanaman akibat menghisap cairan daun serta dapat menjadi vektor virus. Beberapa virus penting yang dapat ditularkan antara lain Beet Pseudo-Yellows Closterovirus (BPYV) pada mentimun, melon, lettuces dan sugarbeet, Tomato Infectious Chlorosis Virus (TICV) dan Lettuce Infectious Yellow Closterovirus (LIYV) (CABI 2005). Pengendalian kutu kebul dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh

alaminya yaitu Encarsia formosa Gahan (Hymenoptera: Aphelinidae), yang merupakan jenis parasitoid T. vaporariorum (Osborne dan Landa 1992). Pengendalian kimia banyak yang sudah tidak efektif yang dikarenakan oleh resistensi kutu kebul terhadap beberapa jenis pestisida. Penggunaan pestisida hanya efektif pada imago, dan aplikasi pestisida harus diulang tiap 3-5 hari (Hayasi 1996 dalam CABI 2005).

Kumbang daun, Aulacophora similis Oliver (Coleoptera : Chrysomelidae) Aulacophora similis tersebar luas di kawasan Asia dan Pasifik, terutama Asia Selatan, Asia tenggara dan Asia Timur. Aulocophora sp. merupakan hama utama pada tanaman Famili Cucurbitaceae, seperti mentimun, semangka, dan melon (CABI 2005). A. similis berukuran 1 cm dengan elitron berwarna kuning polos. Gejala kerusakan yang ditimbulkan adalah adanya daun yang berlubang akibat aktifitas makan kumbang, pada serangan berat dapat menyebabkan banyak lubang pada daun dan terkadang hanya meninggalkan tulang daunnya, selain itu larva juga dapat menyerang tanaman dengan menggerek akar dan batang (Kalshoven 1981) Pengendalian kumbang daun dapat dilakukan secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif malathion dan endosulfan (CABI 2005).

Ulat mentimun, Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Pyralidae) Ulat daun D. indica merupakan salah satu hama serius pada pertanaman mentimun di Asia dan Afrika (MacLeod 2005). Ulat ini juga menyerang mentimun di Indonesia (Asikin 2004). Larva ulat berwarna hijau gelap dengan dua garis putih sepanjang tubuh (Brown 2003). Larva memakan daun, batang muda yang lunak dan menggerak buah. Kerusakan yang paling merugikan adalah jika larva menyerang buah mentimun. Pada buah yang terserang terlihat lubang pada permukaan buah, menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi dan dijual serta menyebabkan buah menjadi cepat busuk (CABI 2005). Pengendalian ulat mentimun dapat dilakukan dengan cara membunuh larva ketika masih muda. Pengendalian yang lebih efektif dapat dilakukan dengen cara penyemprotan pestisida pada bagian permukaan bawah daun. Insektisida yang

direkomendasikan untuk pengendalian adalah campuran antara Bacillus thuringiensis dengan trichlorfon (Brown 2003).

Lalat pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera: Agromyzidae) Di Indonesia terdapat 3 spesies lalat pengorok daun yaitu Liriomyza huidobrensis, Liriomyza sativae dan Liriomyza chinensis. Menurut Tapahillah (2002), lalat pengorok daun Liriomyza sativae ditemukan menyerang tanaman mentimun di dataran rendah dan sedang di Jawa Barat. Tanaman yang terserang oleh lalat pengorok daun memperlihatkan gejala yaitu pada bagian daun terdapat bintik-bintik akibat tusukan ovipositor dan imago yang menghisap cairan tanaman, selain itu gejala khasnya berupa liang korokan yang disebabkan larva yang memakan jaringan mesofil, sehingga mengurangi kapasitas fotosintesis, hal ini menyebabkan produksi buah menurun. Selain itu kerusakan akibat serangan lalat pengorok daun juga dapat menyebabkan tanaman lebih mudah terserang penyakit dan gugur daun sebelum waktunya (Rauf 2005). Lalat pengorok daun Liriomyza spp. umumnya sulit dikendalikan. Perlakuan siromazin untuk mengendalikan hama ini pada tanaman kentang cukup efektif dan dapat menekan tingkat kerusakan daun. Siromazin bersifat translamina sehingga dapat mematikan larva yang ada dalam jaringan daun (Purnomo 2001 dalam Tapahillah 2002). Salah satu pengendalian lain yang telah dikembangkan adalah dengan pemanfaatan musuh alami. Di Indonesia terdapat 13 jenis spesies parasitoid yang berasosiasi dengan lalat ini, di antara spesies parasitoid yang efektif antara lain: Hemiptarsenus varicornis Girault (Hymenoptera: Eulopidae), dan Opius sp. (Hymenoptera: Braconidae) (Rauf 2005). Hemiptarsenus varicornis Girault (Hymenoptera: Eulopidae). Merupakan jenis parasitoid larva yang memparasit larva instar II-III. Tubuh imago biru-hijau metalik. Ukuran tubuh bervariasi antara 1,1 sampai 2,1 mm. Imago jantan dapat dibedakan dari betina berdasarkan tipe antena, jantan bertipe pektinat sedangkan betina bertipe filiform yang panjang (Supartha 1998 dalam Tapahillah 2002). Opius sp. (Hymenoptera: Braconidae). Merupakan jenis endoparasit larvapupa. Tubuh imago berwarna hitam dengan ukuran tubuh hampir sama antara jantan dan betina, yaitu berkisar 1,5 mm. Antena panjang sekitar 18 ruas, berwarna hitam, tipis dan dengan panjang hampir sama dengan tubuhnya (Bordat et al. 1995).

10

Penyakit Tanaman Mentimun

Busuk daun/embun bulu (Downy mildew ) Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit busuk daun/embun bulu adalah pada permukaan atas daun terdapat bercak-bercak kuning, terkadang agak bersudut karena dibatasi oleh tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bagian bawah bercak terdapat miselium menyerupai bulu berwarna keunguan. Gejala lanjut dari penyakit ini dapat mengakibatkan daun menjadi busuk, mengering dan mati (Semangun 1989). Menurut Holliday dalam Semangun 1989, penyakit busuk daun disebabkan oleh cendawan patogen Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menurut CABI (2005) penyakit busuk daun adalah penyakit utama pada tanaman Famili Cucurbitaseae. Cendawan ini memiliki miselium yang tidak bersekat, intraseluler, dengan haustorium kecil, dan terkadang bercabang. Patogen merupakan parasit obligat, yang dapat hidup hanya pada kehadiran tanaman inang. Daerah yang ditanami mentimun sepanjang tahun dapat menjadi sumber inokulum utama penyakit ini. Patogen dipencarkan oleh angin, hujan dan adanya kontak dengan pekerja maupun alat-alat pertanian yang digunakan (CABI 2005). Layu Penyakit layu pada tanaman mentimun dapat disebabkan oleh beberapa jenis patogen, yaitu: cendawan, bakteri, dan nematoda. Menurut CABI (2005) penyakit layu cendawan disebabkan oleh Fusarium oxysporum, layu bakteri disebabkan oleh Erwinia tracheiphila dan layu nematoda disebabkan oleh nematode puru akar Meloidogyne spp. Layu yang disebabkan oleh cendawan disebabkan oleh F. oxysporum f.sp. cucumerinum. Dengan gejala berupa layunya tanaman yang diikuti dengan klorosis pada daun, dan akhirnya dapat menyebabkan nekrosis luas pada daun. Gejala layu akan bertambah parah pada kondisi perakaran yang kaya akan unsur hara (pupuk), terutama nitrogen. Suhu optimum bagi perkembangan cendawan adalah 29C (Ogura et al. 1990 dalam CABI 2005).

11

Layu bakteri pada mentimun disebarkan oleh kumbang mentimun Acalymma vittata (Coleoptera: Chrysomelidae). Gejala yang ditimbulkan adalah layunya satu daun yang diikuti oleh seluruh daun layu secara mendadak dan tanaman mati. Salah satu cara untuk membedakan layu bakteri dan layu cendawan adalah pada layu yang disebabkan oleh bakteri jika dipotong, pangkal batang yang layu mengeluarkan lendir putih kental dan lengket (Rand dan Enlows 1920 dalam CABI 2005) Layu yang disebabkan oleh nematoda bintil akar Meloidogyne spp. pada mentimun menunjukan gejala pada bagian akar terdapat bintil-bintil berukuran 2-200 mm. Gejala pada bagian tajuk tanaman adalah layu dengan pertumbuhan tanaman yang kerdil dan mengalami klorosis (Sikora dan Fernandes 2005).

Antraknosa Pada daun terdapat bercak dimulai dari tulang daun, yang kemudian meluas dan menjadi bercak berwarna kecoklatan, berbentuk bersudut atau agak bulat. Beberapa bercak dapat bersatu menjadi hawar dan dapat menyebabkan matinya seluruh daun gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah (Semangun 1989). Penyakit antraknosa disebabkan oleh cendawan patogen Colletotrichum lagenarium Pass. Cendawan mempunyai konidium yang hialin, bersel satu, jorong atau agak bulat, berukuran 13-19 x 4-6 m. Badan buah cendawan berbentuk aservulus, mempunyai rambur-rambut kaku (seta) berwarna coklat berdinding tebal, bersekat 2-3, panjangnya 20-120 m, dengan jumlah tidak menentu (Semangun 1989). Patogen dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit atau dapat terbawa benih. Konidia dapat dipencarkan oleh angin, hujan dan melalui pekerja. Cuaca lembab atau hujan sangat cocok untuk infeksi inokulum. Spora dapat berkembang dengan baik pada temperatur optimum sekitar 22-27 oC dan kelembaban 100% selama 24 jam (Semangun 1989).

12

Bercak daun bersudut Bercak daun bersudut disebabkan oleh bakteri Pseudomonas lachrymans. Patogen menyebar pada saat musim hujan, gejala yang ditimbulkan adalah bercak daun kecil kuning dan bersudut, pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan bakterisida berbahan aktif streptomycin atau oksitetracyclin (Warintek 2007).

Mosaik Mentimun (CMV) Tanaman sakit menunjukan gejala berupa daun-daun yang belang hijau tua dan hijau muda. Bentuk daun dapat berubah, berkerut, kerdil atau tepi daun menggulung ke bawah. Ruas-ruas daun muda terhambat pertumbuhannya, sehingga daun-daun ujung membentuk roset (Semangun 1989). Penyakit mosaik pada mentimun disebabkan oleh Cucumber Mosaic Virus (CMV). Serangga vektor utama adalah kutu daun Myzus persicae Sulz. dan Aphis gossypii Glov. Penulatan virus secara non persisiten telah dilaporkan dapat dilakukan oleh lebih dari 60 spesies kutu daun termasuk M. persicae dan A. gossypii.

Kemampuan menularkan virus dapat berubah dan bertahan dalam dua hari. Efisiensi penularan virus tergantung pada beberapa faktor antara lain biotipe, strain virus, serta kondisi lingkungan (Leach 1964 dalam Semangun 1989). Pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan, mengendalikan serangga vektor, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan bukan Famili Cucurbitaceae (CABI 2005).

Busuk buah Penyakit busuk buah dapat disebabkan oleh beberapa cendawan antara lain: (1) Pythium aphanidermatum (Edson) Fizt., (2) Phytophthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan (Warintek 2007) .

13

Gejala yang disebabkan tiap-tiap patogen berbeda-beda, gejala yang disebabkan oleh Pythium aphanidermatum adalah buah busuk basah dan jika ditekan buah akan mudah pecah. Gejala yang disebabkan Phytophthora adalah adanya bercak yang agak basah, dan akhirnya menjadi lunak, berwarna coklat dan berkerut; Gejala yang disebabkan Rhizopus adalah bercak agak basah, kulit buah lunak ditumbuhi miselium cendawan dan buah mudah pecah. Gejala yang disebabkan oleh Erwinia carotovora adalah buah membusuk, hancur dan berbau busuk (CABI 2005).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di pertanaman mentimun milik petani di Kampung Buniaga (Buniaga Sawah Lega, Buniaga Legok, dan Buniaga Nangeuk), Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Ekologi Serangga dan Laboratorium Biosistematika Serangga, sedangkan identifikasi patogen dilakukan di Laboratorium Nematologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari April sampai Juli 2008.

Metode Penelitian

Penentuan Lahan Pengamatan dan Contoh Petak Tanaman Pengamatan dilakukan pada lahan pertanaman mentimun yang ditentukan secara acak berdasarkan proporsi jumlah lahan pada setiap dusun di lokasi pengamatan. Lahan pengamatan terdiri dari satu lahan di Dusun Buniaga Nangeuk, tiga lahan di Dusun Buniaga Sawah Lega, dan tiga lahan di Dusun Buniaga Legok. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap satu lahan di Dusun Buniaga Sawah Lega dari mulai awal tanam hingga panen (2 - 7 MST). Pada setiap lahan diamati lima petak contoh yang ditentukan secara diagonal, yaitu satu petak di perpotongan garis-garis diagonal dan empat petak lainnya terletak di dekat ujung-ujung diagonal petak contoh. Pada masing-masing petak contoh diamati empat tanaman contoh, sehingga jumlah tanaman contoh yang diamati pada tiap lahan sebanyak 20 tanaman.

Wawancara dengan Petani Wawancara bertujuan untuk mengetahui tindakan budidaya, permasalahan yang dihadapi petani dalam proses budidaya terutama hama dan penyakit penting tanaman mentimun serta cara pengendalian hama penyakit. Responden terdiri dari para petani yang lahannya diamati dan petani sekitarnya yang memiliki lahan

15

mentimun. Wawancara dilakukan secara langsung pada petani saat pengamatan tanaman

Pengamatan Hama Pengamatan hama dilakukan secara langsung pada tajuk setiap tanaman contoh, dengan mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah populasi hama serta gejala serangan pada tiap tanaman contoh. Untuk hama yang tidak dapat diidentifikasi di tempat, hama ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi alkohol 70% atau kantung plastik untuk diidentifikasi di Laboratorium Ekologi dan Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman. Nilai rataan dan galat kerapatan populasi hama serta intensitas serangan dihitung dengan menggunakan program MINITAB 14. Persentase daun atau buah terserang oleh hama dihitung menggunakan rumus : Persentase banyaknya daun atau buah terserang = n/N x 100 % n N = jumlah daun atau buah yang terserang dalam satu tanaman = jumlah daun atau buah dalam satu tanaman

Penentuan Tingkat Parasitisasi Pengorok Daun Dari setiap lahan diambil 10-20 helai daun tanaman mentimun secara acak yang menunjukkan gejala korokan. Daun contoh dibersihkan dari kotoran kemudian dimasukkan ke dalam gelas plastik yang telah dialasi dengan kertas tisu kering untuk menjaga kelembaban, selanjutnya diinkubasi selama 20 hari. Jumlah puparium dan imago hama, serta imago parasitoid yang keluar pada saat pengamatan dihitung dan dicatat, kemudian dilakukan proses identifikasi terhadap imago Liriomyza sp. dan parasitoid yang muncul. dengan menggunakan rumus: Tingkat Parasitisasi = IP IL + IP x 100% Setelah itu dilakukan penghitungan terhadap tingkat parasitisasi tanpa memperhitungkan pupa aborsi

16

Selain

itu,

dilakukan

juga

penghitungan

tingkat

parasitisasi

dengan

memperhitungkan jumlah pupa aborsi dengan menggunakan rumus: IP IL + IP + PA

Tingkat Parasitisasi =

x 100%

IP IL

= jumlah imago parasitoid yang muncul = jumlah imago pengorok daun yang muncul

PA = jumlah pupa pengorok daun yang mengalami aborsi

Pengamatan Penyakit Pengamatan penyakit dilakukan dengan cara langsung terhadap gejala yang terdapat pada tanaman contoh. Sebagian contoh tanaman sakit yang bergejala diamati di laboratorium untuk diidentifikasi jenis patogen yang menginfeksi. Gejala penyakit pada setiap tanaman contoh dihitung untuk menentukan tingkat insidensi dan intensitas penyakit. Insidensi penyakit dihitung berdasarkan proporsi tanaman yang terserang dalam suatu pertanaman tanpa memperhitungkan berat atau ringannya tingkat serangan (Sinaga 2003). Insidensi penyakit = n/N x 100% n N = jumlah tanaman yang terserang = jumlah seluruh tanaman contoh yang diamati

Untuk penyakit tertentu dihitung juga intensitas penyakit dengan menggunakan skor sebagai berikut: skor 0 : tidak bergejala skor 1 : gejala ringan (1-20%) skor 2 : gejala sedang (21-40%) skor 3 : gejala berat (41-60%) skor 4 : gejala sangat berat (61-100%)

17

Penentuan intensitas penyakit didasarkan pada rumusmenurut Townsend dan Heuberger (1943 dalam Sinaga 2003): ni x vi Intensitas penyakit = NxV ni = Jumlah tanaman terserang pada kategori ke-i vi = Skor kategori kerusakan ke- i N = Total tanaman diamati V = Skor tertinggi x 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN


Keadaan Umum Lahan Pertanaman Sayuran di Desa Ciherang Desa Ciherang terletak pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 769 ha. Curah hujan rata-rata 225 mm/tahun, dengan suhu udara rata-rata 22 C. Sebagian besar wilayah desa merupakan lahan pertanaman sayuran dengan komoditas di antaranya kubis, caisin, selada air, seledri, timun, wortel, terong, kacang panjang, dan jenis tanaman sayuran dataran tinggi lainnya. Tanaman mentimun yang ditanam pada lahan pertanaman sayuran di Desa Ciherang adalah mentimun Jepang, yang merupakan mentimun varietas hibrida. Petak lahan pertanaman mentimun di Desa Ciherang umumnya kecil sekitar 200 m2, dengan populasi tanaman berkisar antara 150-250 tanaman per petak lahan. Lahan survei meliputi tujuh lahan milik petani mentimun yang berbeda, yang terbagi kedalam tiga wilayah, yaitu Legok, Sawah Lega, dan Nangeuk (Tabel 1). Selain itu dilakukan juga pengamatan mingguan pada petak mentimun di Sawah Lega, yang dimulai sejak tanaman berumur 2 MST hingga panen berakhir (Tabel 2).

Tabel 1 Lahan pengamatan survei tanaman mentimun Desa Ciherang Lahan survei Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Waktu pengamatan 3 April 2008 3 April 2008 10 April 2008 17 April 2008 24 April 2008 1 Mei 2008 8 Mei 2008 Umur tanaman 5 MST 3 MST 6 MST 4 MST 2 MST 7 MST 5 MST Populasi tanaman 150 205 150 190 168 184 205 Cara budidaya Monokultur Selada - Bawang daun Monokultur Caisin - Bawang daun Pakcoi - Bawang daun Monokultur Caisin

19

Tabel 2 Lahan pengamatan mingguan tanaman mentimun Desa Ciherang Waktu pengamatan 17 April 2008 24 April 2008 1 Mei 2008 8 Mei 2008 15 Mei 2008 22 Mei 2008 Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Populasi tanaman 226 226 226 224 220 211

Sebagian besar cara budidaya yang dilakukan petani adalah secara tumpang sari dengan bawang daun, wortel dan kubis-kubisan, hanya sedikit petani yang bertanaman secara monokultur. Hal ini dilakukan petani untuk efisiensi pemanfaatan lahan, penghematan biaya dan mengantisipasi terjadinya fluktuasi harga saat panen. Aplikasi pestisida umumnya dilakukan dengan cara berjadwal sebanyak 1-2 kali per minggu, dan biasanya dicampur antara insektisida dengan fungisida. Insektisida yang digunakan antara lain Curacron 500 EC, Agrimec 18 EC, Decis 2,5 EC, Dursban 20 EC; sedangkan fungisida adalah Antracol 70 WP, Score 250 EC, Revus 250 SC, Amistar 250 SC, dan Dithane M-45 80 WP. Hanya sebagian kecil petani yang sudah menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Hama Kutudaun. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa kutudaun merupakan hama yang ditemukan pada permukaan bawah daun dan umumnya membentuk koloni. Kutudaun yang ditemukan memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut. Tubuh berwarna hijau gelap, berukuran 12,5 mm, dengan bentuk seperti buah pir (Gambar 1). Hasil identifikasi menggunakan kunci dari Blackman dan Eastop (2000) menunjukkan bahwa spesies kutudaun yang terdapat pada mentimun adalah Aphis gossypii Glover (Hemiptera: Aphididae). Jumlah Rataan kerapatan populasi per daun berkisar antara 1-5 ekor (Tabel 3) dan dapat mencapai lebih dari 10 ekor per daun. Pada pengamatan survei lahan di Sawah Lega 1 dengan umur tanaman 6 minggu diperoleh data bahwa populasi

20

kutudaun mencapai rata-rata 12,6 ekor per daun. Tingginya populasi kutudaun disebabkan tidak dilakukan pengendalian kutu daun secara tepat oleh petani. Selain itu banyaknya gulma di sekitar lahan yang tidak dibersihkan juga dapat mempengaruhi kelimpahan populasi kutudaun. Menurut Mossler et al. (2007) gulma dapat menjadi inang alternatif bagi kutudaun dan virus. Kerusakan mekanis yang ditimbulkan kutudaun A. gossypii tidak terlalu merugikan yaitu adanya bercak-bercak kecil bekas tusukan stilet serangga. Berdasarkan pengamatan yang gejala yang disebabkan kutudaun tidak terlalu jelas karena tersamarkan oleh bercak gejala penyakit. Menurut CABI (2005), kerugian utama yang diakibatkan kutudaun adalah menjadi vektor virus penting tanaman famili cucurbitaseae yaitu Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Zucchini Yellow Mosaic Virus (ZYMV). Dari hasil pengamatan pada lahan mingguan ditemukan adanya insidensi penyakit CMV, yang diduga ditularkan kutudaun. Pada lahan ini kutudaun mulai ditemukan pada 2 MST dan populasinya meningkat seiring bertambahnya umur tanaman hingga mencapai 5 ekor per daun (Gambar 1 ).

Tabel 3 Rataan kerapatan populasi A.gossypii (ekor/daun) Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 1,61 0,30 0,91 0,22 12,67 1,07 1,01 0,19 0,4 0,13 5,34 0,46 0,52 0,2

21

(a)

(b)

Gambar 1 A. gossypii, (a) koloni di atas permukaan daun, (b) preparat slide kutudaun Aphis gossypii Kerapatan populasi hama (ekor/daun) 6 5 4 3 2 1 0 2 3 4 5 Minggu setelah tanam 6 7 Thrips parvispinus

Gambar 2 Rataan kerapatan populasi A. gossypii dan T. parvispinus (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan

Gambar 3 Preparat slide imago Thrips parvispinus

22

Trips. Trips ditemukan baik pada lahan survei maupun lahan pengamatan mingguan. Tubuh berukuran kecil sekitar 1 mm, berwarna coklat kehitaman, dengan abdomen berbentuk kerucut berwarna gelap (Gambar 3). Hasil

identifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi (Moritz et al. 2004) menunjukkan bahwa trips yang ditemukan adalah Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae). Populasi trips tertinggi terdapat pada lahan Legok 3 sebanyak 10,12 ekor/daun (Tabel 4). Populasi trips umumnya meningkat seiring dengan semakin bertambanya umur tanaman (Gambar 2). Kerusakan yang diakibatkan oleh serangan T. parvispinus adalah berupa lapisan keperakan pada permukaan bawah daun yang sering menyebabkan daun terserang menjadi keriting (Sastrosiswojo 1991). Tabel 4 Rataan kerapatan populasi T. parvispinus (ekor/daun) Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 3,38 0,25 0,22 0,59 3,99 0,31 0,85 0,11 0,27 0,08 10,12 0,63 3,75 0,29

Pada pengamatan yang dilakukan pada tanaman mentimun, gejala yang disebabkan oleh T. parvispinus berupa daun yang agak keriting dengan bercakbercak keperakan pada bagian bawah daun, namun gejala yang ditemukan tidak terlalu jelas karena bercampur dengan gejala hama lain dan adanya gejala penyakit bercak daun. T. parvispinus juga ditemukan pada bunga mentimun, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Kutu kebul. Kutu kebul yang dijumpai tergolong Trialeurodes vaporariorum Westwood (Hemiptera: Aleyrodidae) (Gambar 4), dan banyak

23

terdapat pada daun daun bagian atas (pucuk tanaman). Menurut Vaishampayan dan Kogan (1980) imago kutu kebul cukup selektif dalam memilih tempat untuk makan dan bertelur.

(a)

(b)

Gambar 4 Kutu kebul, T. vaporariorum (a) koloni imago, (b) pupa Kutu kebul mulai ditemukan pada tanaman mentimun yang berumur 4 MST (Gambar 5), populasinya terus meningkat dengan bertambahnya umur tanaman dengan populasi rata-rata hingga mencapai 14 ekor per tanaman pada 7 MST. 16 Kerapatan populasi hama (ekor/tanaman) 14 12 10 8 6 4 2 0 2 3 4 5 Minggu setelah tanam 6 7

Gambar 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/tanaman) pada lahan pengamatan mingguan Meskipun dilakukan aplikasi pestisida yang cukup intensif pada lahan pengamatan mingguan yaitu sebanyak 1-2 kali per minggu, populasi T.

24

vaporariorum relatif tetap tinggi. Menurut Kessing dan Mau (1991 dalam CABI 2005) kutu kebul T. vaporariorum memiliki ketahanan terhadap banyak insektisida sintetik. Menurut Sanderson dan Roush (1992) T. vaporariorum menunjukkan resistensi terhadap insektisida dari berbagai kelompok bahan kimia, seperti malathion, paration, diclorovos (organofosfat), endosulfan, metomil (karbamat) serta permetrin dan resmethrin (piretroid). Berdasarkan pengamatan pada lahan survei, rataan kerapatan populasi tertinggi ditemukan pada lahan Sawah Lega dengan usia tanaman 6 MST sebanyak 8,5 ekor per tanaman. Kerusakan yang diakibatkan T. vaporariorum adalah adanya bercak-bercak kecil akibat nimfa dan imago yang menghisap

cairan dari daun tanaman, namun kerusakan yang ditimbulkan seringkali tidak terlihat. Meskipun gejala tidak mudah terlihat, menurut Peterson (1974) populasi kutu kebul yang tinggi dapat menurunkan vigor tanaman. Menurut CABI (2005) kutu kebul T. vaporariorum juga dapat menjadi vektor virus penting antara lain Beet Pseudo-Yellows Closterovirus (mentimun, melon, lettuces dan sugarbeet), Tomato Infectious Chlorosis Virus dan Lettuce Infectious Yellow Closterovirus. Tabel 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/tanaman) Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 3,75 0,82 0 8,5 1,13 1,55 0,32 0 2,5 0,47 0,3 0,10

Ulat daun. Pada tanaman mentimun terdapat beberapa jenis ulat daun. Salah satunya adalah ulat yang berwarna hijau dengan dua garis putih pada bagian dorsal sepanjang tubuh larva. Berdasarkan ciri tersebut ulat ini adalah Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Pyralidae) (Gambar 6). Ulat ditemukan pada daun dan buah mentimun.

25

Gambar 6 Ulat mentimun D. indica Serangan pada daun menimbulkan gejala bekas-bekas gigitan, sedangkan pada buah menyebabkan gejala lubang pada buah karena ulat menggerek kedalam buah mentimun (Gambar 7). Kelimpahan populasi ulat ini di pertanaman cukup rendah yaitu kurang dari 1 ekor per tananaman (Tabel 6 dan 7 ). Ulat D. indica merupakan salah satu hama penting pada tanaman Famili Cucurbitaceae di Asia dan Afrika (MacLeod 2005). Kerusakan yang paling merugikan adalah jika larva menyerang buah mentimun (CABI 2005).

Gambar 7 Gejala buah berlubang yang disebabkan D. indica Tabel 6 Rataan kerapatan populasi D. indica (ekor/tanaman) pada lahan survei Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0 0 0,25 0,12 0,05 0,05 0 0,45 0,17 0

Tabel 7 Rataan kerapatan populasi D.indica (ekor/tanaman) pada lahan pengamatan mingguan

26

Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST

Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0 0 0,1 0,07 0,25 0,12 0,35 0,19 0,25 0,09

Kumbang daun. Kumbang daun yang ditemukan berwarna coklat kekuningan, berukuran sekitar 10 mm. Menurut Kalshoven (1981), kumbang daun yang menyerang tanaman mentimun adalah Aulacophora similis Melin (Coleoptera: Chrysomelidae). Kelimpahan populasi kumbang ini di wilayah pengamatan sangat rendah. Kumbang A. similis hanya ditemukan pada lahan Legok 1 dan Sawah Lega 1 dengan populasi berkisar antara 0.1-0.15 ekor/tanaman. Menurut Kalshoven (1981) di dataran rendah A. similis merupakan hama utama pada tanaman Famili Cucurbitaceae seperti mentimun, melon dan semangka. Di daerah ini kerusakan yang disebabkan A. similis dan A. coffeae dapat menyebabkan kerugian yang serius hingga kegagalan panen pada tanaman mentimun.

Gejala buah bengkok. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan adanya gejala buah mentimun yang membengkok (Gambar 8). Pada buah yang membengkok terdapat bekas tusukan pada bagian tengah dan mengeluarkan lendir. Bekas tusukan ini diduga disebabkan olah serangga yang memiliki alat mulut menusuk dan mengisap. Serangga tersebut adalah Leptoglossus australis (F.) (Hemiptera: Coreidae) (Rauf, komunikasi pribadi). Allen (1969 dalam Yasuda 1987) menyebutkan bahwa L. australis merupakan hama serius pada buah tanaman mentimun dan tanaman Famili Cucurbitaceae lainnya, selain itu L. australis juga menjadi hama pada berbagai macam buah di daerah tropis maupun subtropis. Namun pada saat pangamatan serangga yang diduga menyerang tidak ditemukan.

27

Gejala buah bengkok ditemukan pada lahan Legok 3 dengan persentase buah bengkok adalah 35,1%. Pada lahan pengamatan mingguan, persentase buah bengkok adalah 24,05% pada 6 MST dan meningkat menjadi 39,15% pada 7 MST. Beberapa petani menganggap gejala ini adalah penyakit yang disebabkan oleh tanah yang tidak sehat. Gejala buah bengkok dianggap paling merugikan oleh petani karena buah yang terserang tidak layak dimakan atau tidak laku untuk dijual.

Gambar 8 Gejala buah bengkok pada pertanaman mentimun

Gambar 9 Liriomyza hiudobrensis

28

Gambar 10 Parasitoid Liriomyza hiudobrensis, Opius chromatomyiae dan Hemiptarsenus varicornis Lalat pengorok daun dan tingkat parasitisasi. Berdasarkan hasil

pengamatan diketahui spesies lalat pengorok daun yang menyerang pertanaman mentimun adalah Liriomyza huidobrensis (Blanchard) (Diptera: Agromyzidae). Lalat L. huidobrensis ditemukan pada setiap lahan survei dan umur tanaman, namun populasinya umumnya kurang dari 1 ekor per tanaman (Tabel 8 dan 9). Pada beberapa pengamatan diketahui bahwa imago L. huidobrensis lebih banyak ditemukan pada tempat yang teduh, tidak terpapar matahari secara langsung. Pada lahan survei banyaknya korokan berkisar antara 2-12 per tanaman, dan persentase daun terserang berkisar 18-38%, dan pada lahan pengamatan mingguan berkisar 1-8 korokan per tanaman (Tabel 8 dan 9). Hasil pengamatan mengungkapkan bahwa secara umum gejala korokan daun lebih sering terdapat pada tajuk bagian bawah, jarang ditemukan adanya korokan pada tajuk bagian tengah dan atas. Kecuali pada lahan survei Legok 3 yang tanaman mentimunnya berumur 7 MST dijumpai korokan yang cukup banyak pada tajuk bagian tengah dan atas. Hasil wawancara dengan petani setempat menunjukkan bahwa hama L. huidobrensis, yang lebih dikenal petani setempat dengan nama suridat, merupakan jenis hama yang cukup merugikan pada pertanaman mentimun. Hal ini terutama terjadi pada tanaman muda yang serangannya dapat menyebabkan kematian tanaman.

29

Tabel 8 Rataan kerapatan populasi (ekor/tanaman) dan intensitas serangan L. huidobrensis pada lahan survei Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0,5 0,13 0,25 0,1 0,6 0,13 0,2 0,09 0,4 0,13 3,65 0,54 0,25 0,1 Jumlah korokan/tanaman (Rata-rata SE) 6,95 0,52 3,95 0,34 9,35 0,54 4,9 0,43 2,45 0,22 12,25 1,84 9,05 1,06 Persentase daun terserang (Rata-rata SE) 21,75 1,37 33,85 2,89 13,20 0,58 19,75 1,60 37,50 3,85 18,48 1,82 24,47 1,71

Tabel 9 Rataan kerapatan populasi (ekor/tanaman) dan intensitas serangan L. huidobrensis pada lahan pengamatan mingguan Umur 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0,35 0,15 0,25 0,09 0,45 0,15 0,3 0,12 0,1 0,07 0 Jumlah korokan/tanaman (Rata-rata SE) 1,95 0,24 3,1 0,37 7,4 0,86 7,8 1,13 1,9 0,59 1,2 0,52 Persentase daun terserang (Rata-rata SE) 35,00 3,80 24,45 2,90 19,33 1,35 16,60 1,69 4,10 1,24 1,22 0,84

Berdasarkan hasil survei ditemukan dua spesies parasitoid yaitu Opius chromatomyiae Belokobylskij & Wharton (Hymenoptera: Braconidae) dan Hemiptarsenus varicornis (Girault) (Hymenoptera: Eulophidae) (Gambar 10). Komposisi kedua spesies ini hampir berimbang, baik pada lahan survei (Tabel 10) maupun lahan pengamatan mingguan (Tabel 11). Dari hasil perhitungan

diketahui bahwa tingkat parasitisasi tanpa memperhitungkan pupa aborsi adalah 71,17% pada lahan survei dan 49,24% pada lahan pengamatan mingguan. Bila pupa aborsi diperhitungkan, besarnya tingkat parasitisasi adalah 41,79% pada lahan survei dan 29,66% pada lahan pengamatan mingguan.

30

Tabel 10 Hasil inkubasi daun mentimun yang terserang lalat pengorok daun
Waktu pengambilan contoh 3 April 08 10 April 08 17 April 08 17 Juni 08 17 Juni 08 24 Juni 08 1 Juli 08 Umur tanaman 5 MST 6 MST 4 MST 8 MST 4 MST 5 MST 3 MST Jumlah contoh daun 10 10 10 20 15 15 15 95 L. huidobrensis Pupa Imago aborbsi 58 6 34 47 13 21 28 33 234 8 10 8 43 15 16 96 Parasitoid O.chromatomyiae 53 13 6 25 17 21 1 130 H. varicornis 9 14 4 73 2 11 4 107

Tabel 11 Hasil inkubasi daun mentimun yang terserang lalat pengorok daun pada lahan yang diambil contoh daun tiap minggu.
Waktu pengambilan contoh 3 Juni 08 10 Juni 08 17 Juni 08 24 Juni 08 1 Juli 08 8 Juli 08 Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Jumlah contoh daun 10 10 15 15 15 15 80 L. huidobrensis Pupa Imago aborbsi 14 2 16 23 19 26 32 130 7 30 35 17 9 100 Parasitoid O.chromatomyiae 5 8 8 8 4 11 44 H. varicornis 2 3 8 7 14 19 53

Penyakit Layu. Tanaman yang menunjukkan gejala layu, pada bagian akarnya terdapat bintil-bintil dengan ukuran sekitar 5-20 mm (Gambar 11). Pengamatan di bawah mikroskop terhadap bintil tersebut menunjukkan adanya nematoda puru akar Meloidogyne sp. dan setelah dilakukan identifikasi pola perineal berdasarkan kunci (May at al. 1996), diketahui bahwa nematoda yang menyebabkan bintil akar adalah Meloidogyne arenaria. Selain M. arenaria,

spesies penting nematoda puru akar yang juga dapat merugikan tanaman sayuran adalah M. incognita, M. javanica dan M. hapla (Taylor dan Sasser 1978 dalam Sikora at al. 2005). M. arenaria merupakan nematoda puru akar yang umumnya

31

menyerang kacang tanah, namun menurut CABI (2005) nematoda ini juga dapat menginfeksi tanaman mentimun.

(a)

(b)

Gambar 11 Gejala yang layu yang disebabkan Meloidogyne arenaria (a) gejala pada tajuk tanaman (b) gejala bintil pada akar tanaman Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan survei, insidensi penyakit layu yang disebabkan oleh nematoda pada pertanaman mentimun dapat mencapai 4,48%, atau sekitar 10 tanaman per lahan survei. Di Desa Ciherang, penyakit layu merupakan permasalahan utama para petani karena dapat menyebabkan kematian tanaman secara cepat. Gejala layu pada pertanaman mentimun pada umumnya ditemukan pada tanaman umur 4 minggu. Meskipun aplikasi pestisida yang dilakukan cukup intensif (1-2 kali/minggu), namun tidak ada petani yang menggunakan nematisida dalam pengendalian hama dan penyakit.

Tabel 12 Insidensi penyakit layu pada pertanaman mentimun di lahan survei Lokasi Legok 1 Nangeuk Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah Lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Insidensi penyakit (%) 3 0 4,48 0 0 4.34 3,9

32

Pada lahan pengamatan mingguan, gejala penyakit layu ditemukan sejak tanaman berumur 2 minggu dan insidensinya terus meningkat hingga mencapai 9% atau sekitar 20 tanaman (Gambar 12). Secara umum, insidensi penyakit layu lebih tinggi pada lahan pertanaman yang agak basah tapi tidak tergenang. Menurut Sikora dan Fernandes (2005) nematoda Meloidogyne berkembang lebih baik pada tanah yang beraerasi buruk. Mosaik. Penyakit lain yang ditemukan menyerang pertanaman mentimun adalah penyakit mosaik mentimun yang disebabkan Cucumber Mosaic Virus (CMV). Berdasarkan hasil pengamatan gejala mosaik, penyakit ini hanya

ditemukan pada lahan pengamatan mingguan. Tanaman yang mengalami gejala mosaik menunjukkan pertumbuhan yang terhambat, kerdil, daun menguning dan hanya sedikit berbuah, bahkan pada beberapa tanaman ada yang sampai tidak menghasilkan buah. Gejala mosaik mulai ditemukan pada minggu ke-4 setelah tanam dengan insidensi mencapai 4,26% pada 7 MST (Gambar 12).

Layu Insidensi Penyakit (%)


10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 2 3 4 5

Mosaik

Minggu setelah tanam Gambar 12 Insidensi penyakit layu dan mosaik mentimun pada lahan pengamatan mingguan

33

Gambar 13 Gejala mosaik pada daun mentimun Menurut Sumpena (2001) mentimun varietas hibrida merupakan varietas yang lebih tahan terhadap infeksi virus. Adanya penyakit mosaik pada lahan pengamatan mingguan diduga disebabkan oleh populasi serangga vektor (kutudaun) yang cukup tinggi pada beberapa tanaman di usia awal tanam (2-3 MST). Bercak Daun. Pengamatan gejala bercak yang dilakukan pada bagian daun menunjukkan adanya beberapa gejala yang berbeda, di antaranya bercak berbentuk bulat dan bercak coklat yang dikelilingi halo bewarna kuning (Gambar 14). Kedua bercak umumnya bersatu. Gejala bercak daun lebih banyak ditemukan pada lahan yang ditanaman secara tumpang sari dengan tanaman dari kelompok kubis-kubisan, seperti sawi dan caisin.

Gambar 14 Gejala bercak pada daun mentimun

34

(a)

(b)

Gambar 15 Konidia cendawan yang ditemukan pada daun yang menunjukkan gejala bercak (a) Alternaria sp. (b) Colletotrichum sp.

Berdasarkan pengamatan mikroskopis pada bercak berbentuk membulat dan bercak kecoklatan yang dikelilingi halo diperoleh beberapa konidia cendawan, hasil identifikasi menurut Barnett dan Hunter (1999) konidia cendawan tersebut adalah Alternaria dan Colletotrichum (Gambar 15). Menurut CABI (2005) salah satu spesies Alternaria yang dapat menginfeksi kubis-kubisan dan mentimun adalah Alternaria brassicicola. Patogen ini dapat bertahan pada benih tanaman dan pada gulma (Oliver at al. 2001). Cendawan patogen Colletotrichum merupakan penyebab penyakit antarknosa pada tanaman sayuran. Pada tanaman mentimun penyakit antaraknosa disebabkan oleh Colletotrichum orbiculare (Gardner 1918 dalam Semangun, 1989). Di Amerika penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit penting yang dapat menurunkan produksi hingga 63% (Amin dan Ullasa 1981). Pada lahan survei dan lahan pengamatan mingguan, kedua penyakit ini umumnya terdapat pada daun yang sama dan agak sulit untuk dibedakan karena bercaknya bersatu, sehingga dalam pencatatan insidensi dan intensitas penyakit keduanya digabung. Kedua penyakit ini umumnya terdapat pada lahan tumpang sari, sedangkan pada lahan monokultur gejala penyakit tidak ditemukan. Penyakit bercak daun ditemukan pada lahan Sawah Lega 1 dan Sawah lega 3, dengan insidensi penyakit masing-masing 20% dan 35%, serta intensitas penyakit 5% dan 8,75%. Pada lahan pengamatan mingguan, gejala penyakit mulai ditemukan pada saat tanaman berumur 4 MST dengan insidensi penyakit sebesar 25% dan

35

intensitas 6,25%. Pada 7 MST seluruh tanaman menunjukkan gejala bercak (insidensi = 100%), dengan intensitas penyakit sekitar 35%.

Tabel 13 Insidensi dan intensitas penyakit bercak daun Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Insidensi (%) 0 0 25 45 95 100 Intensitas (%) 0 0 6,25 11,25 27,5 35

Embun bulu. Gejala embun bulu pada daun mentimun adalah adanya bercak kuning yang agak bersudut karena terbatas oleh tulang daun, jika diamati dengan seksama pada bagian bawah daun terdapat miselium menyerupai bulu. Gejala selanjutnya yang terjadi pada daun adalah daun yang busuk, kering dan mati. Pengamatan mikroskopis terhadap gejala tidak ditemukan konidia cendawan. Oleh karena itu dilakukan pelembaban daun selama 3 hari, dan

diperoleh hasil bahwa pada bagian bercak muncul miselium cendawan berwarna keputihan. Menurut Holliday (1980 dalam Semangun 1989) gejala busuk daun disebabkan oleh cendawan patogen Pseudoperonospora cubensis.

Gambar 16 Gejala embun bulu pada daun mentimun

36

Tabel 14 Insidensi dan intensitas penyakit embun bulu pada lahan suvei Lokasi Legok 1 Nangeuk 1 Sawah Lega 1 Legok 2 Sawah lega 2 Legok 3 Sawah Lega 3 Insidensi (%) 100 65 100 90 10 100 100 Intensitas (%) 27,5 18,75 33,75 25 2,5 50 26,25

Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan survei maupun lahan pengamatn mingguan, penyakit embun bulu selalu ditemukan, bahkan gejala penyakit sudah ada sejak tanaman berumur 2 MST. Intensitas penyakit tertinggi terdapat pada lahan Sawah Lega 1 sebesar 33,75%. Tabel 15 Insidensi dan intensitas penyakit embun bulu pada lahan pengamatan mingguan Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Insidensi (%) 15 60 100 100 100 100 Intensitas (%) 3,75 15 25 28,75 32,5 33,75

Berdasarkan pengamatan pada daun tanaman mentimun di lahan pengamatan mingguan, diketahui bahwa penyakit embun bulu sudah ditemukan pada minggu ke-2, dengan intensitas penyakit meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman hingga mencapai diatas 30%.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Serangga hama yang banyak menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil panen pada pertanaman mentimun di lokasi penelitian adalah lalat pengorok daun L. huidobrensis dan kutudaun A. gossypii. Kehilangan hasil panen juga terjadi karena munculnya gejala buah bengkok, yang sebagian diduga disebabkan oleh serangan kepik L. australis. Parasitoid utama yang berasosiasi dengan hama pengorok daun adalah O. chromatomyiae dan H. varicornis. Penyakit utama pada pertanaman mentimun di lokasi penelitian adalah layu yang disebabkan oleh nematoda M. arenaria, dan embun bulu yang disebabkan oleh cendawan P. cubensis

Saran Perlu dilakukan pengamatan pada pertanaman mentimun yang tidak dilakukan aplikasi pestisida sama sekali untuk menentukan besarnya gangguan hama dan penyakit secara lebih tepat

DAFTAR PUSTAKA

Amin KS, Ullasa BA, 1981. Effect of thiophanate on epidemic development of anthracnose and yield of watermelon. Phytopathology, 71(1):20-22; Asikin S. 2004. Alternatif pengendalian hama serangga sayuran ramah lingkungan di lahan lebak. Laporan tahunan Balittra 2004. Balittra. Banjarbaru Astawan M. 2008. Manfaat mentimun, tomat dan teh. Gaya Hidup Sehat 19-25 September 2008: 31 (kolom 2). Barnett HL, Hunter BB. 1999. Ilustrated Genera of Imperfect Fungi 4th Edition. Minesota: APS Press. Blackman RL, Eastop VP. 2000. Aphids on the Worlds Crops An Identification and Information Guide. Ed ke-2. London: The Natural History Museum. Bordat D, Coly EV, Olivera CR. 1995. Morphometric, biological, and behavioral differences berween Hemiptarsenus varicornis and Opius dissitus (Hymenoptera: Braconidae) parasitoids of Liriomyza trifolii (Diptera: Agromyzidae). J App Ent 119: 423-427. Brown H. 2003. Common insect pests of curcubits. Agnote, 159: 39-45. [CABI] Centre for Agriculture and Bioscience International. 2005. Corp protection compendium 2005 [CD-ROM]. Wallingford, UK: CAB International. Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der, penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baruvan Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie. MacLeod A. 2005. Pest risk analysis for Diaphania indica. Sand Hutton, York: Central Science Laboratory May WF, Mullin PG, Lyon HH, Loefflerrk. 1996. Plant Parasitic Nematodes: A Pictorial Key To Genera. London: Cornell University Press. Moritz G, Mound LA, Morris DC, Goldarazena. 2004. Pest Thrips of The World (CD-ROM). Australia: CSIRO publishing. Mossler MA, Larson BC, Nesheim ON. 2007. Florida crop/pest management profiles: celery. Plant Pathology Department Document CIR 1235. Food Science and Human Nutrition Department, Florida Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida. Oliver EJ, Thrall PH, Burdon JJ, Ash JE, 2001. Vertical disease transmission in the Cakile-Alternaria host-pathogen interaction. Australian Journal of Botany, 49(5):561-569.

40

Osborne LS, Landa Z, 1992. Biological control of whiteflies with entomopathogenic fungi. Florida Entomologist 75(4):456-471. Peterson B. 1974. Pest of Ornamental Plants. London: HRC Majesty. Rauf A. 2005. Hama Pendatang: Liriomyza sativae B. (Diptera: Agromyzidae): Biologi, Tumbuhan Inang, dan Parasitoidnya. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Rubatzky VE, Yamaguchi M. 1999. Sayuran Dunia: Prinsip, Produksi, dan Gizi Jilid 3. Diterjemahkan oleh Catur Herison. Bandung: ITB. Rukmana R. 1994. Budidaya Mentimun. Yogyakarta: Kanisius. Sanderson JP, Roush RT. 1992. Monitoring insecticide resistance in green house whitefly (Homoptera: Aleyrodidae) with yellow sticky card. J. Econ. Entomol. 83(2). 634-641. Satrosiswojo S. 1991. Thrips on vegetables in indonesia. Di dalam: Talekar NS, editor. Thrips in southeast asia proceding of a regional consultation workshop. Bangkok, Thailand 13 Maret 1991: AVRDC. hlm 12-17. Semangun H. 1989. Penyaki-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press. Sikora RA, Fernandes E. 2005. Nematode parasitis of vegetables. Di dalam: Luc M, Sikora RA, Bridge J, editor. Plant parasitic nematodes in subtropical and tropical agriculture 2nd edition. Wallingford: CABI Publishing. Sinaga MS. 2003. Swadaya. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar

Sumpena U. 2001. Budi Daya Mentimun Intensif, dengan Mulsa, Secara Tumpang Gilir. Jakarta: Penebar Swadaya. [Tanindo]. 2008. Keunggulan mentimun hibrida. http://www.tanindo.com/ abdi2/ hal101.htm. [31 Mei 2008]. Tapahillah T. 2002. Survei lalat pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera: Agromyzidae) dan parasitoidnya pada berbagai tumbuhan inang dan ketinggian tempat di Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Vaihampayan SM, Kogen M. 1980. Sampling whiteflies on soyben. Dalam: Kogan M, Hezog DC, editor. Sampling Methods in Soybean Entomology. New York: Springer-Velag. Hal 305-311. [Warintek] Warung Informasi Teknologi. 2007. Mentimun. http://warintek. progressio.or.id/ [25 Juni 2007].

41

Wintermantel WM. 2004. Emergence of greenhouse whitefly Trialeurodes vaporariorum transmited crinivirus as yhreats vegetable and fruit production in north america. APS net Features. Yasuda K. 1987. Function of the male pheromone of the leaf-footed plant bug, Leptoglossus australis (Fabricius) (Heteroptera:Coreidae) and Its kairomonal effect. Department of Environmental Biology, National Institute of AgroEnvironmental Sciences. Tsukuba, Ibaraki. http://www.jircas.affrc.go.jp/ english/publication/jarq/32-3/yasuda/yasuda.html. [7 November 2008].

LAMPIRAN

43

Lampiran 1 Kepik L. australis yang diduga menyebabkan gejala buah bengkok pada mentimun

Lampiran 2 Kumbang daun A. similis

Lampiran 3 Rataan kerapatan populasi A. gossypii (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan
Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 1,7 0,63 3,28 1,1 3,43 0,39 4,28 0,73 4,88 0,59 5,3 0,53

44

Lampiran 4 Rataan kerapatan populasi T. parvispinus (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0,42 0,12 0,45 0,09 0,82 0,09 3,7 0,26 4,86 0,45 3,43 0,28

Lampiran 5 Rataan kerapatan populasi T. vaporariorum (ekor/daun) pada lahan pengamatan mingguan Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Kerapatan populasi (Rata-rata SE) 0 0 1,3 0,35 3,7 0,87 6,15 1,10 14,05 4,44

Lampiran 6 Insidensi penyakit layu tanaman mentimun pada lahan pengamatan mingguan Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Insidensi Penyakit (%) 0 1,32 2,21 3,09 7,27 9,47

45

Lampiran 7 Insidensi penyakit mosaik mentimun pada lahan pengamatan mingguan Umur tanaman 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST Insidensi Penyakit (%) 0 0 1,32 2,65 3,18 4,26