Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Ovarium merupakan sepasang organ pada sistem reproduktif wanita. Berlokasi di pelvis, di samping uterus. Ovarium menghasilkan sel telur dan hormon wanita. Hormon merupakan bahan kimia yang mengontrol jalannya fungsi dari sel dan organ tertentu. Setiap bulan, selama siklus menstruasi, sebuah sel telur dikeluarkan dari satu ovarium dalam proses yang disebut ovulasi. Perjalanan sel telur dari ovarium melalui tuba falopii menuju ke uterus. Ovarium juga merupakan sumber utama dari hormon wanita yaituestrogen dan progesteron. Hormon-hormon ini mempengaruhi perkembangan dari payudara wanita, bentuk tubuh, dan rambut tubuh. Hormon-hormon ini juga mengatur siklus menstruasi dan kehamilan.William Helm, C. 2005. Dkk mengatakan : prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau diovarium kontralateral. Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium FIGO Ia dan 11.1% untuk stadium IV. Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk. Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor non disgerminoma. Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi tetap berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%.Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor non neoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat

mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salphyngoooforektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah, dapatdipertanggung jawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi secara tidak menyeluruh yaitu pengangkatan salah satu organ seperti ovari,tuba fallopi, dan uterus. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lnjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini diIndonesia belum diketahui dengan pasti. Faktor yang dapat menyebab kankanker diantaranya adalah makan makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olah raga, merokok, polusi,virus,sering stress, dan faktor genetik juga berpengaruh. Jadi, harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup diantara para perokok. Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG.

I.2. Rumusan Masalah Apa itu tumor ovarium dan bagaimana penanganannya I.3. Tujuan PenulisanTujuan Umum Mampu untuk mengerti dan menjelaskan kista ovarium dan dapat melakukan tindakan terapi jika ada pasien dating dengan kista ovarium I.4. Tujuan Khusus Pada akhir pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa koass dapat 1. Mengerti dan mengetahui definisi dari kista ovarium 2. Mengerti dan memahami etiologi kista ovarium 3. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab, gejala klinis, serta penatalaksanaan, serta masalah

dari kista ovari. 4. Mahasiswa dapat mengetahui gejala klinis kista ovarium. 5. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan dari kista ovarium. 6. Menjelaskan Web of Caution dari kista ovarium 7. Mengetahui dan menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien dengan kista ovari.

BAB II TINJAUAN TEORI II.1. Definisi Tumor ovarium adalah kista ada yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Tumor ovarium adalah pertumbuhan jinak yang berkembang dari sel-sel otot polos. Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur yang dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium. II.2. Epidemiologi Tumor jinak ovarium kira-kira 15% dari jumlah seluruh kanker epithelovarium. Biasanya terjadi pada usia <35 tahun. II.3. Anatomi Ovarium Wanita pada umumnya mempunyai 2 ovarium, yaitu kanan dan kiri, yang dengan mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum, kiri dan kanan. Ukuran ovarium adalah kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm. pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya pembuluh- pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium. Struktur ovarium terdiri atas : 1. Korteks di sebelah luar yang diliputi oleh epitelium germinativum yang berbentuk kubik, dan di dalam terdiri dari stroma serta folikel-folikel primordial. 2. Medulla di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluhpembuluh darah, serabut-serabut saraf, dan sedikit otot polos. Diperkirakan pada wanita terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan satu folikel akan keluar, kadang-kadang dua folikel, yang dalam perkembangannya akan menjadi folikel de Graaf. Folikel-folikel ini merupakan bagian terpenting dari ovarium dan dapat dilihat di korteks ovarii dalam letak yang beraneka-ragam dan pula dalam tingkat-tingkat perkembangan dari satu sel telur dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel saja sampai menjadi folikel de Graaf yang matang terisi dengan likuor folikuli, mengandung estrogen dan siap untuk berovulasi. Folikel de Graaf yang matang berisi ovum, stratum granulosum, tekainterna, dan teka eksterna. II.4. Fisiologi Ovarium Dalam endokrinologi reproduksi wanita, ovarium memiliki dua fungsi utama yaitu: 1. Fungsi proliferatif (generatif), yaitu sebagai sumber ovum selama masa reproduksi. Di ovarium terjadi pertumbuhan folikel primer, folikel de Graaf, peristiwa ovulasi dan pembentukan korpus luteum. 2. Fungsi sekretorik (vegetatif), yaitu tempat pembentukan dan pengeluaran hormon steroid ( estrogen, progesteron dan androgen ) Fungsi ovarium yang utama adalah menghasilkan sel telur (ovum). Selain itu ovarium juga berperan dalam mengatur siklus haid wanita. II.5. Patologi Ovarium Di antara tumor-tumor ovarium, ada yang bersifat neoplastik dan ada yang bersifat nonneoplastik. Tumor-tumor nonneoplastik dibagi menjadi tumor akibat radang dan tumor lainnya, yaitu kista folikel, kista korpus luteum, kista lutein,kista inklusi germinal, kista endometrium, dan kista Stein-Leventhal. Tumor-tumor neoplastik dibagi dibagi atas tumor jinak

dan tumor ganas, selanjutnya tumor jinak dibagi menjadi tumor kistik dan tumor solid, sedangkan tumor ganas dibagi menjadi tumor epitelial ovarium, tumor stroma sex-cord, tumor sel germinal, sarkoma dan karsinoma metastatic. II.6 Klasifikasi Tumor kistik merupakan jenis yang paling sering terjadi terutama yang bersifat nonneoplastik, seperti kista retensi yang berasal dari corpus luteum. Tetapi di samping itu ditemukan pula jenis yang betul merupakan neoplasma. Oleh karena itu tumor kistik dari ovarium yang jinak dibagi dalam golongan non-neoplast dan golongan neoplastik.

Tumor Jinak Jaringan Ovarium


a. Kista Follikel Gambaran umum Kista folikel merupakan kista yang paling sering ditemukan di ovarium dan biasanya berukuran sedikit lebih besar (3-8 cm) dari folikel pra ovulasi (2,5cm). Kista ini terjadi karena kegagalan proses ovulasi (LH surge) dan kemudian cairan intrafolikel tidak diabsorbsi kembali. Pada beberapa keadaan, kegagalan ovulasi juga dapat terjadi secara artificial dimana gonadotropin diberikan secara berlebihan untuk menginduksi ovulasi. Kista ini tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Jarang sekali terjadi torsi, rupture, atau perdarahan. Ada yang menghubungkan kista folikel dengan gangguan menstruasi (perpanjangan interval antar menstruasi atau pemendekan siklus). Kista folikel yang besar dapat dihubungkan dengan nyeri pelvic, dispareunia dan kadang-kadang perdarahan abnormal uterus. Gambaran klinik Penemuan kista folikel umumnya dilakukan dengan pemeriksaan USG transvaginal atau pencitraan MRI. Diagnosis banding kista folikel adalah salfingitis, endometriosis, kista lutein, dan kista neoplastik lainnya. Sebagai kista dapat mengalami obliterasi dalam 60 hari tanpa pengobatan. Pil kontrasepsi dapat digunakan untuk mengatur siklus dan atresia kista folikel. Terapi Tata laksana kista folikel dapat dilakukan dengan melakukan pungsi langsung pada dinding kista menggunakan peralatan laparoskopi. Pastikan dulu bahwa kista yang akan dilakukan pungsi adalah kista folikel karena bila terjadi kesalahan identifikasi dan kemudian kista tersebut golongan neoplastik ganas, maka cairan tumor invasive akan menyebar di dalam rongga peritoneum. b. Kista Korpus Luteum Kista luteum terjadi akibat pertumbuhan lanjut korpus luteum atau perdarahan yang mengisi rongga yang terjadi setelah ovulasi. Terdapat 2 jenis kista lutein yaitu : 1. Kista Granulosa Kista granulose merupakan pembesaran non neoplastik ovarium. Setelah ovulasi, dinding sel granulose mengalami luteinisasi. Pada tahap terbentuknya vaskularisasi baru, darah terkumpul ditengah rongga membentuk korpus hemoragikum. Reabsorbsi darah diruangan ini menyebabkan terbentuknya kista korpus luteum. Kista lutein yang persisten dapat menimbulkan nyeri local dan tegang dinding perut yang

disertai amenorea atau menstruasi terlambat yang menyerupai gambaran kehamilan ektopik. Kista lutein juga dapat menyebabkan torsi ovarium sehingga menimbulkan nyeri hebat atau perdarahan intraperitoneal yang membutuhkan tindakan pembedahan segera untuk menyelamatkan penderita. 2. Kista Teka Kista jenis ini tidak pernah mencapai ukuran yang besar. Umumnya bilateral dan berisi cairan jernih kekuningan. Kista teka seringkali dijumpai bersamaan dengan ovarium polikistik, mola hidatidosa, korio karsinoma, terapi hCG dan klomifen sitrat. Tidak banyak keluhan yang ditimbulkan oleh kista ini. Pada umumnya tidak diperlukan tindakan bedah untuk menangani kista ini karena dapat menghilang secara spontan setelah evakuasi mola, terapi korio karsinoma, dan penghentian stimulasi ovulasi dengan klomifen. Walaupun demikian, apabila terjadi rupture kista dan terjadi perdarahan ke dalam rongga peritoneum maka diperlukan tindakan laparotomi segera untuk menyelamatkan penderita. c. Ovarium Polikistik (Stein Leventhal syndrome) Gambaran umum Penyakit ovarium polikistik ditandai dengan pertumbuhan polikistik ovarium kedua ovarium, amenorea sekunder atau oligomenorea dan infertilitas sekitar 50% pasien mengalami hirsutisme dan obesitas. Gangguan ini terjadi pada perempuan berusia 15 30 tahun. Banyak kasus infertilitas terkait dengan sindroma ini. Tampaknya hal ini berhubungan dengan disfungsi hipotalamus. Gambaran klinik Walaupun mengalami pembesaran ovarium juga sklerotika yang menyebabkan permukaannya berwarna putih tanpa identasi seperti mutiara sehingga sering disebut sebagai ovarium kerang. Ditemukan banyak folikel berisi cairan di bawah dinding fibrosa korteks yang mengalami penebalan. Teka interna terlihat kekuningan karena mengalami luteinisasi, sebagai stroma juga mengalami hal yang sama. Diagnosa penyakit ini dibuat berdasarkan anamnesis yang mengarah pada beberapa gejala diatas dan pemeriksaan fisik terarah. Riwayat menarche dan haid yang normal kemudian berubah menjadi episode amenorea yang semakin lama. Pembesaran ovarium dapat dipalpasi pada sekitar 50%. Terjadi peningkatan 17-ketosteroid dan LH tetapi tidak terjadi ekskresi estrogen, FSH, dan ACTH masih dalam batas normal. Pemerikasaan yang dapat diandalkan adalah USG dan laparoskopi. FSH biasanya normal LH tinggi rasio LH>FSH>2. E tinggi/normal prolaktin normal/tinggi. Terapi Klomifen sitrat 50-100 mg/hari untuk 5-7 hari per siklus. Beberapa praktisi juga menambahkan hCG untuk memperkuat efek pengobatan. Walaupun reseksi baji (wedge) cukup menjanjikan hal tersebut jarang dilakukan karena dapat terjadi perlengketan periovarial. Karena endometrium lebih banyak terpapar oleh esterogen, maka dianjurkan juga untuk memberikan progesterone (LNG,desogestrel,CPG)

Tumor Kistikovarium
1. Kistadenoma Ovarii Serosum

Gambaran umum Kistadenoma serosum mencakup sekitar 15-25% dari keseluruhan tumor jinak ovarium. Usia penderita berkisar 20-50 tahun. Pada 12-50% kasus, kista ini terjadi pada kedua ovarium (bilateral). Ukuran kista berkisar antara 5-15 cm dan ukuran lebih kecil dari rata-rata ukuran kistadenoma musinosum. Kista berisi cairan serosa, jernih kekuningan. Proliferasi fokal pada dinding kista menyebabkan proyeksi papilomatosa ke tengah kista yang dapat bertransformasi menjadi kista adenomafibroma. Gambaran klinik Kistadenoma serosum yang ditemukan pada usia 20-30 tahun digolongkan sebagai neoplasma potensi rendah untuk transformasi ganas dan hal ini bertolak belakang dengan penderita pada usia peri atau pascamenopause yang memiliki potensi anaplastik yang tinggi. Seperti dengan sebagian besar tumor epithelial ovarium, tidak dijumpai gejala klinik khusus yang dapat menjadi petanda kistadenoma serosum. Pada sebagian besar kasus, tumor ini ditemukan secara kebetulan saat dilakukan pemeriksaan rutin. Pada kondisi tertentu, penderita akan mengeluhkan rasa tidak nyaman di dalam pelvis, pembesaran perut, dan gejala seperti asites. Terapi Pengobatan terpilih untuk kistadenoma serosum adalah tindakan pembedahan (eksisi) dengan eksplorasi menyeluruh pada organ intrapelvik dan abdomen. Untuk itu jenis insisi yang dipilih adalah mediana karena dapat memberikan cukup akses untuk tindakan eksplorasi. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan PA selama operasi sebagai antisipasi terhadap kemungkinan adanya keganasan. 2. Kistadenoma Ovarii Musinosum Gambaran Umum Kistadenoma ovarii musinosum mencakup 16-30% dari total tumor jinak ovarium dan 85% diantaranya adalah jinak. Tumor ini bilateral pada 5-7% kasus. Tumor ini pada umumnya adalah multilokuler dan lokulus yang berisi cairan musinosum tampang berwarna kebiruan didalam kapsul yang dindingnya tegang. Dinding Tumor tersusun dari epitel kolumner yang tinggi dengan inti sel berwarna gelap terletak di bagian basal. Dinding kistadenoma musinosum ini, pada 50% kasus mirip dengan struktur epitel endoserviks dan 50% lagi mirip dengan struktur epitel kolon dimana cairan musin di dalam lokulus kista mengandung sel-sel goblet. Perlu untuk memilih sampel pemeriksaan PA dari beberapa tempat karena sebaran area-area dengan gambaran jinak, potensial ganas, atau ganas adalah sangat variatif. Gambaran Klinik Tumor musin ini merupakan tumor dengan ukuran terbesar dari tumor dalam tubuh manusia. Terdapat 15 laporan yang menyebutkan berat tumor diatas 70 kg. Sebagai konsekuensi, semakin besar tumor diovarium, semakin besar pula kemungkinan diagnosisnya adalah kistadenoma ovarii musinosum. Tumor ini juga asimtomatik dan sebagian besar pasien hanya merasakan pertambahan berat badan atau rasa penuh diperut. Pada kondisi tertentu perempuan pascamenopause dengan tumor ini mengalami hyperplasia atau perdarahan pervaginam karena stroma sel tumor mengalami luteinisasi

sehingga dapat menghasilkan hormone (terutama esterogen). Bila terjadi pada perempuan hamil maka dapat terjadi pertumbuhan rambut yang berlebihan pada penderitanya. Terapi Apabila ternyata stroma kistadenoma ovarii musinosum mendiseminasi cairan musin ke rongga peritoneum dan hal ini ditemukan pada saat melakukan tindakan laparotomi, maka sebaiknya dolakukan salpingoooforektomi unilateral. Untuk mengosongkan cairan musin di kavum peritoneum, encerkan terlebih dulu musin dengan larutan dextrose 510% sebelum melakukan suction. 3. Kista Dermoid Gambaran umum Kistadermoid merupakan tumor terbanyak yang berasal dari sel germinativum. Tumor ini merupakan tumor jinak sel geminativum dan paling banyak diderita oleh gadis yang berusia dibawah 20 tahun. Tumor sel germinal ini mencakup 60% kasus dibandingkan 40% yang berasal dari sel non germinal untuk kelompok umur yang telah disebutkan terdahulu. Gambaran Klinik Walaupun terdapat beberapa jaringan penyusun tumor, tetapi ektodermal merupakan komponen utama yang kemudian diikuti dengan mesodermal dan entodermal. Semakin lengkap unsure penyusun, akan semakin solid konsistensi tumor ini. Kista dermoid jarang mencapai ukuran yang besar, tetapi kadang-kadang bercampur dengan kistadenoma ovarii musinosum sehingga diameternya akan semakin besar. Unsur penyusun tumor terdiri dari sel-sel yang telah matur sehingga kista ini juga disebut sebagai teratoma matur. Kista dermoid memiliki dinding berwarna putih dan relative tebal, berisi cairan kental dan berminyak karena dinding tumor mengandung banyak kelenjar sebasea dan derivate ektodermal. Dalam ukuran kecil kista dermoid tidak menimbulkan keluhan apa pun dan penemuan tumor pada umumnya hanya melalui pemeriksaan ginekologi rutin. Rasa penuh dan berat di dalam perut hanya dirasakan apabila ukuran tumor cukup besar. Komplikasi kista dermoid dapat berupa torsi, rupture, perdarahan dan transformasi ganas. Terapi Laparotomi dan kistektomi Tumor Jaringan Ikat Ovarium/Tumor Padat Ovarium 1. Fibroma Gambaran umum Tumor dari jaringan ikat ini sangat terkenal terkait dengan kumpulan gejala yang disebut dengan sindoma Meigs. Mekanisme syndrome ini belum diketahui secara pasti tetapi system limfatik diafragma dianggap sebagai benang merah dari kesemua gejala yang ada, termasuk dengan adanya timbunan cairan di rongga dada. Tidak seperti namanya, tumor ini tidak sepenuhnya berasal dari jaringan ikat karena juga terdapat unsure germinal, tekoma dan transformasi kea rah ganas seperti tumor Brenner walaupun tanpa adanya metastase ke pleura. Hidrotoraks dan asites selalu menyertai fibroma ovarium dan sindroma meigs.

Gambaran Klinik Fibroma timbul secara bilateral pada 2-10 % kasus dan ukuran rata-rata tumor ini adalah 6 cm. Konsistensi tumor adalah kenyal, padat dengan permukaan yang halus dan rata. Asites dan hidrotoraks merupakan paket dari sindroma meigs dan tanpa kedua ini maka tumor yang berasal dari jaringan ikat ovarium murni disebut sebagai fibroma ovarii. Terapi Hampir semua tumor padat ovarium diindikasikan untuk diangkat, termasuk fibroma. Pengangkatan tumor biasanya diikuti dengan menghilangnya hidrotoraks dan asites. 2. Tumor Branner Gambaran umum Robert meyer merupakan pionir dalam mengenali tumor ini karena sebelum ini selalu didiagnosis sebagai fibroma. Ternyata tumor ini mempunyai karakteristik histopatologi yang berbeda karena tersusun dari sarang-sarang atau kolom epitel di dalam jaringan fibromatosa. Distribusi sarang epitel didalam stroma menegaskan gambaran ganas tetapi gambaran homogeny dan uniformal tanpa aktivitas anaplasia menunjukan hal yang sebaliknya. Karakteristik sarang epitel tersebut seringkali menunjukan tendensi untuk mengalami degenerasi kistik sentralis. Rongga- rongga yang terbentuk mempunyai sitoplasmik yang menyerupai gambaran ovum di dalam folikel. Gambaran Klinik Tumor Branner termasuk jarang ditemukan dan umumnya ditemukan pada perempuan usia lanjut (50 tahun). Tidak ada gejala klinik khusus dari tumor ini dan seringkali ditemui secara tidak sengaja pada saat operasi. Hasil akhir Tumor Brenner dianggap sebagai tumor jinak. Tumor ini mencakup 1-2% dari total tumor ovarium dan sekitar 95% terjadi unilateral. Terapi Terapi untuk tumor Brenner adalah Eksisi. 3. Tumor Sel Stroma a. Tumor Sel Granulosa Tumor ini dikaitkan dengan adanya produksi hormone esterogen dan dapat menyebabkan pubertas prekok pada gadis-gadis muda dan menyebabkan hyperplasia adenoma,atosa dan perdarahan per vaginam pada perempuan pascamenopause. Karakteristik histopatologinya berupa sel dengan inti berlekuk seperti biji kopi, disertai pertumbuhan stroma yang mikrofolikuler, makrofolikuler, trabekuler, insuler atau padat. Badan call exner dikaitkan dengan corak pertumbuhan mikrofolikuler dan rongga-rongga kecil yang berisi cairan eosinofilik. Terdapat sejumlah sel teka dalam jumlah tertentu.

b. Tumor Sel Teka Seperti halnya tumor granulose, tekoma ovarii juga memproduksi esterogen. Tumor jinak ini terdiri dari stroma yang mengandung sebaran sel lemak yang memberikan warna kekuningan pada badan tumor atas dilakukan diseksi. c. Tumor Sel Sertoli dan Leydig Tumor ini memberikan gejala virilisasi pada penderita dan umumnya terjadi pada perempuan berusia 20-27 tahun. Sebagian besar tumor tumbuh secara unilateral. Pada pemeriksaan mikroskopik dan di jumpai sel sertoli dan leydig secara bersamaan. Di dalam jaringan tumor, tekstur kedua sel ini sangat variatif. 4. Tumor Endometroid Gambaran umum Tumor endometroid paling sering dijumpai pada ovarium, ligamentum sakro uterine dan rotundum, septum rektovaginalis, tunika serosa (uteri,tuba,rectum,sigmoid dan kandung kemih) umbilicus, parut laparotomi, sakus hernialis, apendiks, vagina, vulva, serviks, tuba dan kelenjar limfe. Terdapat 4 teori terkait yang dianut hingga saat ini yaitu regurgitasi darah haid (teori Sampson), metaplasi selomik, diseminasi limfatik (teori Halban) dan hematogenik. Gambaran klinik Bentuk endometroid di berbagai tempat di kavum pelvic sangat bervariatif. Bentuk yang paling sering ditemukan adalah penonjolan berwarna merah kehitaman terutama pada ovarium bagian belakang dinding uterus. Diagnosis ditegakan dengan laparoskopi diagnostic. Terapi Sangat tergantung dari usia dan fertilitas pasien karena tindakan ooforektomi adalah pilihan yang cukup radikal untuk menyelesaikan kasus ini. Untuk penanganan infertilitas dapat dicoba eksisi endometroid tumor dan dikombinasi dengan hormonal atau menopause buatan secara temporer.