Anda di halaman 1dari 6

olimer sering digunakan untuk menangani sumur-sumur produksi dengan water cut yang tinggi dalam usahanya untuk

mengurangi produksi air. Polimer dipilih karena dapat menurunkan permeabilitas relatif terhadap air sampai sekitar 60-90% dan penneabilitas relatif minyak hanya sekitar sampai 15%. Aplikasi dari larutan polimer dalam penanganan water shut-off dalam beberapa kasus telah terbukti berhasil, tetapi ada juga yang kurang berhasil. Studi ini dilakukan dengan menggunakan bantuan simulator untuk menyelidiki keefektifan dari penanganan water shut-off tersebut pada sumur minyak dengan produksi air berasal dari water coning. Pemilihan polimer dalam studi ini juga didasarkan pada jenis-jenis polimer yang diterapkan di lapangan pada umumnya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa injeksi polimer di zona minyak lebih efektif daripada dilakukan di seluruh zona reservoar atau pada zona air. Dengan menggunakan data yang diasumsikan, radius penetrasi yang optimal dapat ditentukan. Pengaruh dari perubahan beberapa sifat fisik fluida dan batuan reservoir sebelum dan sesudah penanganan water shut-off juga dilakukan pada studi ini. Perubahan derajat API tidak berpengaruh terhadap proses terjadinya water coning dan juga penanganan water shut-off di dalam reservoar, hal ini ditunjukkan pada harga produksi kumulatif air, water cut dan produksi kumulatif minyak tidak berbeda jauh dengan perubahan harga 'API tersebut. Water coning yang terjadi akan semakin tinggi pada harga viskositas air yang rendah, permeabilitas vertikal yang tinggi dan interval perforasi yang panjang.

Sucker Rod Pump adalah adalah salah satu dari alat Artificialift untuk membantu dalam proses pengambilan Minyak Bumi disamping ESP, PCP pump, Jet Pump dll. kali ini saya akan memposting mengenai Keriteria Pengunaan Sucker Rod Pump (SRP), untuk lebih jelasnya silahkan anda baca postingan dibawah ini yang akan menjelaskan keriteria, keuntungan dan kerugian dari penggunaan Sucker Rod Pump.

A. Kriteria Penggunaan Sucker Rod Pump (SRP) 1. Produktivitas sumur, Q antara : 100 2000 BPD 2. Tekanan reservoir (Pr), dimana Pr sebanding dengan tinggi kolom cairan dalam tubing dimana, minimal 1/3 dari kedalaman perforasi. 3. Kedalaman sumur antara : 8000 12000 ft. 4. Tidak dapat digunakan untuk Sumur Directional. 5. Kemampuan SRP untuk mengatasi problem : Pasir Parafin Scale Korosi GOR Emulsi : sedang : buruk : baik : baik : sedang : baik

6. SRP fleksibel untuk mengubah laju produksi dan mudah pengoperasiannya. B. Keuntungan dan Kerugian SRP Keuntungan SRP : 1. 2. 3. 4. 5. Tidak mudah rusak dan mudah diperbaiki di lapangan Mudah dioperasikan dan lebih ekonomis untuk penggunaan jangka panjang Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan kecepatan bisa diganti Monitoring dari jauh dapat dilakukan bila pompa mati Harga relative murah (+/- $ 40.000 untuk 3000 ft)

Kerugian SRP : 1. Berat dan butuh tempat luas, transportasi sulit. 2. Tidak baik untuk sumur miring/Offshore 3. Untuk sumur dalam butuh unit besar karena laju produksi besar. C. Standard API Tipe Sucker Rod Pump, C 160 D 173 64 Artinya : C = Conventional Unit, M=Mark II, A=Air Balance, & B=Beam Pump D = Double reduction gear reducer 160 = Peak torque rating, ribuan in-lb 173 = Poplished Rod Load rating, ratusan lb 64 = Panjang langkah stroke maksimum, in (dalam praktek dapat dirubah ke 54 atau 48) D. Prosedur Pembuatan Kurva IPR Tiga Fasa Metoda Pujo Sukarno

Mempersiapkan data : Ps, Pwf, qt dan WC Menghitung harga WC @ Pwf Ps dengan menghitung P1 dan P2, kemudian menghitung harga WC pada harga Pwf Ps Berdasarkan harga WC pada langkah 2, hitung konstanta A0, A1 dan A2 Berdasarkan hasil uji produksi, tentukan laju produksi total maksimum (qt max) Menentukan harga qo, qw, dan qt Plot antara berbagai harga laju produksi minyak dari langkah 5 terhadap Pwf

E. Data yang diperlukan dalam optimasi Pompa Sucker Rod


Tipe Pumping Unit Serfice Faktor (SF) Crank Pitman Ratio (C/P) Tensile Strength Minimum (T) Diameter Rod Diameter Plunger Diameter Tubing Working Fluid Level (D) SG Fluida

F. Prosedur Perhitungan Optimasi Pompa Sucker Rod 1. 2. 3. 4. 5. Mencari besarnya harga Ap, Ar, At, K, dan M Menghitung setting depth pompa yang baru Menentukan beban sucker rod (Wr) Menghitung beban fluida (Wf) Menentukan konstanta a, b dan c untuk mencari harga Intake Pressure S dan N: * Persamaan Intake Pressure untuk N: Pi = a + bq 2 * Persamaan Intake Pressure untuk S: Pi = a + cq2

6. Menentukan satu harga N dan mengasumsikan beberapa harga q, untuk memperoleh harga Pi, kemudian mengeplot pasangan data (q , Pi) untuk satu harga N pada kurva IPR sumur, begitu pula untuk harga S. 7. Memasukkan hasil perhitungan Intake Pressure untuk berbagai macam harga N dan q, serta S dan q ke dalam tabel. 8. Dari perpotongan kedua kurva Intake Pressure dengan kurva IPR sumur diperoleh pasangan data (N , q) dan (S , q) adalah hasil optimasi yang diperoleh dari perpotongan hasil plotting data-data (N , q) dan (S , q) pada skala yang sesuai. 9. Menentukan Peak Polished Road Load (PPRL) dan Minimum Polished Rod Load

(MPRL) 10. Menentukan Stress maksimum (Smax) dan Stress minimum (Smin) 11. Memeriksa apakah desain sudah cukup aman untuk menahan stress maksimum yang terjadi (SA Smax) 12. Menentukan Counter Balance Effect Ideal (Ci) 13. Menentukan Torsi Maksimum 14. Menentukan Efisiensi volumetris hasil optimasi 15. Menentukan Horse Power G. Faktor Faktor yang Memperngaruhi Efisiensi Volumeteris Pompa Sucker Rod 1. Karakteristik Fluida :

Viskositas Temperatur

2. Kondisi Operasi :

Kedalaman pompa Kecepatan pompa

3. Karakteristik Sumur:

Productivity Index (PI) Temperatur reservoir

4. Pengaruh Gas :

Gas pound Gas Lock anduan pemilihan metoda pengangkatan buatan dibagi menjadi tiga tahap pemilihan, yaitu: A. Tahap pertama Lokasi sumur dan ketersediaan sumber tenaga listrik dan gas merupakan faktor-faktor yang menjadi dasar pemilihan pada tahap pertama ini. Kedua faktor tersebut sangat penting sekali dan dapat mengeliminasi suatu metoda sebagai alternatif metoda pengangkatan buatan di suatu lapangan, sehingga proses pemilihan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya dengan jumlah alternatif pilihan yang lebih sedikit. Jadi tahap pertama ini dapat juga disebut sebagai tahap penyederhaan. Hasil penyeleksian pada tahap pertama terdiri atas delapan kasus pemilihan dengan alternatif pemilihan sebagai berikut: a. Sucker rod pump, electric submersible pump, hydraulic jet pump, cavity pump dan continous gas lift, apabila lapangan berada di onshore dengan ketersediaan tenaga listrik dan gas yang cukup untuk mendukung operasi electric submersible pump dan continous gas lift.

b. Sucker rod pump, electric submersible pump, cavity pump dan hydraulic jet pump apabila lapangan terdapat di onshore dengan persediaan listrik yang cukup untuk mendukung operasi electric submersible pump tetapi tidak tersedia gas yang cukup untuk mendukung operasi continous gas lift. c. Sucker rod pump, hydraulic jet pump, cavity pump dan continous gas lift apabila lapangan terdapat di onshore dengan ketersediaan gas yang cukup untuk mendukung operasi continous gas lift tetapi listrik yang cukup tidak dapat disediakan untuk mendukung operasi electric submersible pump. d. Sucker rod pump, cavity pump dan hydraulic jet pump apabila lapangan terdapat di onshore tetapi tidak tersedia gas yang cukup untuk mendukung operasi continous gas lift dan tenaga listrik yang cukup tidak dapat disediakan untuk mendukung operasi electric submersible pump. e. Electric submersible pump, hydraulic jet pump, dan continous gas lift apabila lapangan terdapat di offshore dengan ketersediaan tenaga listrik dan gas yang cukup untuk mendukung operasi electric submersible pump dan continous gas lift. f. Electric submersible pump dan hydraulic jet pump apabila lapangan terdapat di offshore dengan persediaan listrik yang cukup untuk mendukung operasi electric submersible pump tetapi tidak tersedia gas yang cukup untuk mendukung operasi continous gas lift. g. Hydraulic jet pump dan continous gas lift apabila lapangan terdapat di offshore dengan ketersediaan gas yang cukup untuk mendukung operasi continous gas lift tetapi listrik yang cukup tidak dapat disediakan untuk mendukung operasi electric submersible pump. h. Hydralic jet pump merupakan metoda yang tepat diaplikasikan pada suatu lapangan yang terdapat di offshore tetapi gas tidak tersedia untuk mendukung operasi continous gas lift dan tenaga listrik yang cukup tidak dapat disediakan untuk mendukung operasi electric submersible pump. B. Tahap kedua Pada tahap kedua ini, faktor-faktor yang menjadi dasar pemilihan adalah kondisi reservoar, kondisi fluida, dan kondisi lubang sumur. Faktor- faktor ini terdiri atas beberapa parameter yang berpengaruh terhadap proses pemilihan metoda pengangkatan buatan. Berdasarkan pengalaman penggunaan metoda pengangkatan buatan di lapangan-lapangan minyak, maka batasan pengaruh parameter ini secara kuantitatif dapat ditentukan. Parameter-parameter tersebut memiliki tingkat prioritas yang sama dan sifatnya sebagai tambahan dalam proses pemilihan metoda pengangkatan buatan yang tepat. Hasil yang mungkin diperoleh pada tahap pertama ini adalah: Langsung diperoleh suatu metoda pengangkatan buatan yang tepat dengan cara membandingkan pengaruh parameter-parameter tersebut terhadap setiap alternative metoda pengangkatan buatan, atau apabila reservoar memiliki GOR yang tinggi atau

kandungan pasir yang tinggi, maka dapat dipilih continous gas lift, karena memiliki banyak kelebihan pada kondisi tersebut dibandingkan dengan metoda lainnya

Masih terdapat beberapa alternatif metoda pengangkatan buatan karena pengaruh parameter-paramater tersebut terhadap alternatif yang ada sama atau hampir sama, dan proses pemilihan dilanjutkan ke tahap ketiga. C. Tahap ketiga Apabila hasil dari proses pemilihan metoda pengangkatan buatan pada tahap kedua masih menyisakan beberapa alternatif pemilihan, maka proses pemilihan harus dilanjutkan ke tahap ketiga. Tahap ketiga ini merupakan tahap akhir pemilihan dimana suatu metoda yang tepat yang akan diaplikasikan di suatu lapangan dapat diperoleh. Pada tahap ketiga ini, faktor-faktor yang menjadi dasar pemilihan adalah harga operating cost dan capital cost, hasil prediksi performance sumur, hasil prediksi produksi sumur, kemampuan suatu metoda dalam mengatasi problema produksi yang terdapat pada sumur, dan kelebihan serta kekurangan yang dimiliki oleh suatu metoda pengangkatan buatan. Suatu metoda pengangkatan buatan yang tepat dapat diperoleh dari hasil perbandingan lima factor tersebut diatas. Kelima faktor tersebut tergantung pada kondisi lapangan dan kemajuan teknologi, sehingga pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap proses pemilihan metoda pengangkatan buatan hanya dapat ditentukan secara kualitatif. Pada kondisi ideal, sebuah metoda pengangkatan buatan yang tepat adalah metoda yang memiliki harga capital cost dan operating cost lebih rendah dibandingkan metoda lainnya, menghasilkan laju produksi paling tinggi diantara metoda lainnya, menghasilkan produksi kumulatif paling besar diantara metoda lainnya, mampu mengatasi problema produksi yang ada di sumur tersebut lebih mudah dibandingkan metoda lainnya dan memiliki banyak kelebihan dan sedikit kekurangan dibandingkan metoda lainnya. Dalam kasus di lapangan kondisi ideal ini jarang ditemukan, oleh karena itu kepekaan dan pengalaman lapangan seorang engineer sangat dibutuhkan dalam mengambil keputusan berdasarkan hasil perbandingan kelima factor pada tahap ketiga ini, sehingga sebuah metoda pengangkatan buatan yang tepat dapat diperoleh.

ptimasi Produksi Gas Lift diperlukan agar memperoleh laju produksi yang optimun dengan : Optimasi gas lift dilakukan dengan cara melakukan perencanaan /desain gas lift untuk : - Penentuan kedalaman letak titik injeksi gas lift. - Volume gas injeksi - Spasi kedalaman katup-katup unlopading Analisa Nodal melakukan pemoplotan antara tubing intake dengan harga GLR tertentu versus kurva IPR. Untuk tiap laju produksi terdapat batas dari GLR yang menghasilkan harga Pwf minimum. Intersection kurva IPR adalah optimum perfomance gas lift dari minimum pwf . (GLR) optimum GLR total yang optimum (batas) yaitu harga dimana penambahan injeksi gas lebih lanjut akan menurunkan laju produksi. Hal ini disebabkan karena pengaruh naiknya gradient tekanan akibat gesekan, naiknya harga ini dikarenakan kecepatan air semakin besar, akibatnya gesekan denagan tubing menjadi semakin besar pula yang ahkirnya mengakibatkan pressure loss yang terjadi juga semakin besar dan menyebabkan berkurangnya laju aliran