Anda di halaman 1dari 14

Nama NIM Kelas Praktikum Asisten

: Ajeng Devi N : 115040201111042 :B : Selasa, 18.30 : Wildan

LANDFORM (BENTUKAN LAHAN)

Bentukan alam di permukaan bumi terdiri dari berbagai macam dengan keadaan dan ciri serta sifat-sifat yang berbeda-beda, tergantung dari proses pembentukan dan evolusinya. Bentukan-bentukan alam tersebut, yang selanjutnya dinamakan landform, sangat erat kaitannya dengan keadaan dan sifat-sifat geologi, stratigrafi, litologi, iklim, jasad hidup/biosfer, dan relief/topografi, serta menentukan keadaan tanah diatasnya. KELOMPOK UTAMA LANDFORM Grup Aluvial (Alluvial Landforms) Marin (Marine Landforms) Marin (Fluvio-Marine Landforms) Gambut (Peat Landforms) Eolin (Aeolian Landforms) Karst (Karst Landforms) Volkanik (Volcanic Landforms) Angkatan (Uplifted Landforms) Lipatan/Patahan (Folded/Faulted Landforms) Aneka (Miscellaneous) SUB LANDFORM Pembagian lebih lanjut dari masing-masing kelompok landform tersebut adalah sebagai berikut: A.Grup Aluvial (Alluvial landforms) A.1. Lahan-lahan Aluvial (alluvial lands) Wilayah yang terbentuk karena proses fluvial dari bahan endapan sungai baru (resen dan subresen), biasanya berlapis-lapis dengan tekstur beragam, biasanya di cirikan oleh adanya kerikil/batu yang bentuknya membulat (rounded). Simbol A M B G E K V U V X

A.1.1 Dataran Banjir (Flood Plain) Bagian dari lembah sungai yang berbatasan dengan alur sungai, yang terdiri dari bahan endapan dari sungai yang mengalir sekarang dan tergenang air bila air meluap pada waktu banjir. A.1.1.1 Dataran Banjir pada Sungai Braiding (Braiding River) Sungai dengan banyak alur yang dipisahkan oleh pulau-pulau kecil. Pola braiding terjadi karena muatan (bahan-bahan kasur yang tersangkut) melampaui kapasitas angkut air sungainya. Biasanya alur-alur tersebut membentuk pola drainase Anastomatik. A.1.1.2 Dataran Banjir pada Sungai Meander (Meander River) Sungai dengan bentuk aliran yang berlingkar-lingkar, biasanya terdapat di wilayah datar dengan kecepatan arus relatif lambat. A.1.1.2.1 Tanggul Sungai (River Levee) Bagian tinggi memanjang disepanjang kanan-kiri aliran sungai yang terdiri dari bahan-bahan endapan sunagi yang bersangkutan (umumnya bahan kasar). A.1.1.2.2 Rawa Belakang (Back Swamp) Bagian rendah dataran banjir yang terletak di belakang tanggul sungai dan biasanya tergenang air (umumnya berbahan halus). A.1.1.2.3 Tasik Sungai (Oxbow Lake) Bagian bekas meander yang tertutup dan tergenang air. A.1.1.2.4 Beting Pasir (Point Bar) Bagian dalam dari lengkungan meander dimana diendapkan bahan secara periodik yang makin lama maikn melebar. Biasanya terdiri dari bahan-bahan berpasir atau berdebu. A.1.1.2.5 Gosong Pasir (Sand Bar) Bahan yang diendapkan didalam aliran sungai, kemudian muncul ke permukaan (terutama bahan berpasir). A.1.1.2.6 Meander Scar Daerah-daerah bekas meander yang terisi bahan-bahan endapan. A.1.1.2.7 Beachs Sungai Lama (Old River Channel) Bekas aliran sungai meander yang telah terisi bahan endapan. A.1.1.2.8 jalur Meander (Meander Belt) Wilayah sepanjang sungai meander dengan batas pinggir pada ujung-ujung lengkung luar (Bila tidak dapat dipisah-pisahkan bagian-bagiannya karena sempitnya).

A.1.1.3 Dataran Banjir pada Sungai Lurus (Straight River) Sungai yang tidak membentuk meander. A.1.1.3.1 Tanggul Sungai (River Levee) (lihat A.1.1.2.1.) A.1.1.3.2 Rawa Belakang (Back Swamp) (lihat A.1.1.2.2) A.1.2 Teras Sungai (River Terrace) Bekas dataran banir yang tidak lagi tergenang oleh luapan banjir periodik. Aliran sungai sudah pindah dibagian lebih bawah. A.1.2.1 Teras Atas (Upper Terrace) Teras sungai yang terletak paling atas dari bagian-bagianteras lainnya. - A.1.2.2 Teras Tengah (Middle Terrace) Teras sungai yang terletak di bawah teras atas. - A.1.2.3 Teras Bawah (Lower Terrace) Teras sungai yang terletak dekat di atas dataran banjir yang ada sekarang.

Pembagian lebih lanjut dari A.1.2.1, dan A.1.2.3 berdasarkan perbedaan relief, lereng, torehan A.1.3 Dataran Aluvial (Aluvial Plain) Dataran yang terbentuk karena pengendapan bahan aluvial oleh air, terdiri dari lumpur, pasir atau kerikil, umumnya termasuk agak tua (subresen) dan sungai yang membentuk wilayah ini sudah tidak jelas lagi. Pembagian selanjutnya atas dasar relief, lereng, torehan. A.1.4 Dasar Lembah Sempit/Jalur Aliran Sungai (Narrow Valley Bottom/Stream Belt) Dasar daerah lembah yang sempit atau jalur aliran sungai yang sulit dipisah-pisahkan lebih jauh karena sempitnya. - A.1.4.1 Dasar Lembah Sempit (Narrow Valley Bottom) Dasar lembah sungai sempit diantara punggung-punggung tinngi di kanan-kirinya. - A.1.4.2 Jalur Aliran Sempit (Narrow Stream Belt) Wilayah sempit sepanjang aliran sungai di wilayah yang relatif datar dan tersusun oleh bahan-bahan baru dari sungai tersebut. A.1.5 Delta danau (Inland/Lake Delta) Delta sungai yang terbentuk di danau. Pembagian selanjutnya atas dasar kenyataan lapangan yang terkait dengan keadaan bahan, relief, vegetasi, dan lain-lain.

A.2 Lahan-lahan Aluvio-Koluvial (Alluvio-Colluvial Lands) Lahan-lahan datar-agak datar diantara perbukitan dan wilayah kaki lereng bukit/gunung, terbentuk karena proses fluvial dan atau koluvial. A.2.1 Kipas Aluvial (Allluvial Fan) Daerah endapan berbentuk kipas yang terjadi karena aliran dari wilayah pegunungan/perbukitan melalui celah sempit di daerah datar. Kipas biasanya terbentuk bila aliran keluar dari daerah pegunungan ke daerah dataran dengan membawa bahan kasar cukup banyak. - A.2.1.1 Kepala Kipas (Fan Head) Kipas Aluvial bagian atas, berdekatan dengan daerah pegunungan/perbukitan tempat keluarnya aliran. Tersusun oleh bahan kasar. - A.2.1.2 Bagian Tengah Kipas (Mid Fan) Bagian tengah dari kipas aluvial. Tersusun oleh bahan kasar dan sedang. - A.2.1.3 Kaki Kipas (Fan Base/Toe) Bagian ujung dari kipas aluvial. Tersusun oleh bahan halus dan sedang. A.2.2 Kompleks Kipas Aluvial (Coalesced Alluvial Fans/Piedmont Alluvial Plain). Kumpulan kipas-kipas aluvial kecil yang menjadi satu. A.2.3 Koluvial (Colluvial Slope Wash) Bahan koluvial di lereng bawah dan kaki lereng, diendapkan karena grafitasi dari lereng atas.

erosi dan

A.2.4 Dataran Sempit Antar perbukitan (Interhill Mini Plain) Lembah-lembah sempit antar perbukitan tanpa aliran sungai yang relatif A.3 Basin Aluvial (Alluvial Basin)

besar.

Daerah rendah (lembah) dimana air di sekitarnya mengalir ke tempat tersebut. Biasanya merupakan lembah antar pegunungan. - A.3.1 Basin Tertutup/Danau/Lakustrin (Closed basin/Lake/Lacustrine) Lembah antar pegunungan yang tidak mempunyai aliran keluar lembah. - A.3.2 Depresi Aluvial (Alluvial Depression) Cekungan dimana air menggenang dan terjadi pengendapan bahan-bahan (terdapat aliran keluar).

M. Grup Marin (Marine Landforms) M.1. Pesisir (Beach) Daerah peralihan antara darat dan laut yang terbentuk karena endapan gelombang laut baik dari bahan pengikisan tebing maupun dari bahan-bahan yang dibawa sungai ke laut. - M.1.1 Punggung & Cekungan Pesisir (Beach Ridges & Swales) Tanggul pantai, cekungan dan bagian-bagiannya. - M.1.2 Pesisir Pasir (Sand Beach) Pesisir yang terdiri dari pasir . - M.1.3 Pesisir Lumpur (Mud Beach) Pesisir dengan bahan berlumpur. - M.1.4 Pasir Penghalang (Sand Barrier/Lido/Coastal Barrier). Beting pasir pantai agak jauh dari garis pantai (off shore) memanjang sejajar garis pantai dan muncul lebih tinggi dari permukaan air pasang tinggi. - M.1.5 Tombolo Beting pasir yang menghubungkan suatu pulau dengan pulau utama. - M.1.6 Spits Beting pasir penghalang yang menghubungkan pantai pada satu ujung - M.1.7 Bekas Laguna (Ancient Laguna) Bekas danau payau dangkal antara pantai dan lido. (lido adalah bukit pasir sejajar dengan garis pantai rendah, diendapkan oleh gelombang laut yang memisahkan laguna dengan laut). M.2 Tebing Batuan (Rocky Seaside) Tebing batuan di pinggir laut akibat pengikisan (abrasi) ombak laut. - M.2.1 Tebing Batuan Terjal (Cliff) Tebing batuan di tepi laut yang terjal. - M.2.2 Wavecut (Short) Platform Wilayah datar/relief datar dan sempit di tepi laut akibat pengikisan ombak laut, dari batuan keras. - M.2.3 Fringing Reef Tebing karang terjal berbentuk menjari. - M.2.4 Barrier Reef Tebing karang terjal berbentuk memanjang dan berada di depan daratan pulau yang bersangkutan. - M.2.5 Atol Pulau karang yang melingkar atau melingkari lagoon. (Lagoon adalah air laut yang dilingkari karang atau di belakang karang penghalang).

M.3 Dataran pasang-surut (Tidal Flat) Daerah rawa-rawa atau daerah berlumpur yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. - M.3.1 Dataran pasang-surut pasir (Sand Tidal Flat) Wilayah pesisir yang terdiri dari pasir dan dipengaruhi pasang-surut air laut. - M.3.2 Dataran pasang-surut lumpur (Mud Tidal Flats) Wilayah pesisir terdiri dari bahan berlumpur dan dipengaruhi pasang-surut air laut. - M.3.3 Rawa belakang pasang-surut (Tidal Back Swamp) Wilayah rendah dibelakang mudflat atau tanggul pantai yang dipengruhi pasang surut air laut. M.4 Teras Marin (Marine Tarrace) Dataran pantai tua yang terangkat dan tererosi. Biasanya terdiri dari bahan endapan laut yang berlapis-lapis. - M.4.1 Teras Marin Resen (Recent Marine Terrace) Bahan-bahan penyusun teras terdiri dari bahan endapan resen. - M.4.2 Teras Marine Subresen ( Sub-Recent Marine Tarrace) Bahan penyusun teras terdiri dari bahan endapan subresen.

B. Grup Fluvio-Marine (Fluvio-marine lanforms) B.1 Delta laut (Sea Delta) Daratan yang terbentuk di muara sungai di pinggir laut yang terdiri dari bahan-bahan endapan dari sungai dan laut. - B.1.1 Delta Estuarin (Estusrine Delta) Delta di mulut sungai (besar) dengan alur-alur yang banyak dan terdapat di depan sungai dengan ombak besar dan tebing laut curam. - B.1.2 Delta Arkuit (arcuate delta) Delta di muara sungai dengan laut berombak kecil, bentuk seperti kipas dengan aluralur banyak. - B.1.3 Delta Kaki Burung (Birds Foot Delta) Delta di muara sungai dengan laut berombak sedang, bentuk seperti kaki burung. Pembagian selanjutnya untuk B.1.1,B.1.2,B.1.3, atas dasar kenyataan lapangan yang terkait dengan keadaan bahan, relief, vegetasi, dan lain-lain. B.2 . Dataran Estuarin Sepanjang Sungai Besar (Etuarine Flat Along Major Rivers) Wilayah di sekitar muara sungai besar yang di pengaruhi oleh air sungai dan pasangSurut air laut.Terdapat alur-alur jalannya air (estuarian).Pembagian selanjutnya atas dasar kenyataan lapangan yang terkait dengan keadaan bahan, relief, vegetasi, dan lain-lain.

G.Grup Gambut (Peat Landforms) G.1 Gambut Topogen (Topogenous Peat) Gambut yang terbentuk karena bentuk topografi daerah yang cekung sehingga air yang menggenang tidak mudah hilang dan terbentuk rawa-rawa yang relatif dangkal. - G.1.1 Gambut Topogen Air Tawar (Fresh Water Peat) Gambut topogen yang terbentuk di daerah rawa-rawa yang digenangi air tawar. - G.1.2 Gambut Topogen Salin (Fringed with Tidal/Saline Influence Gambut topogen yang terbentuk di daerah rawa-rawa yang dipengaruhi oleh air asin/payau. G.2 Gambut Ombrogen (Omborgenous Peat) Gambut yang pembentukannya dipengaruhi oleh genangan air hujan dan umumnya cukup dalam. - G.2.1 Gambut Ombrogen Air Tawar (Fresh Water Peat) Gambut yang terbentuk di lingkungan air tawar. - G.2.2 Gambut Ombrogen Salin (Fringed with Tidal/Saline Influence) Gambut yang terbentuk dilingkungan air tawar/air hujan dan dipengaruhi oleh air asin. Pembagian lebih lanjut untuk semua sub kelompok Gambut (G.1.1., G.1.2., G.2.1., G.2.2.,) atas dasar kenyataan lapangan yang tertkait dengan keadaan bahan, vegetasi dan lainlain. E. Grup Eolian (Eolian Landforms) E.1 Tutupan Pasir (Sand Cover) Endapan pasir eolin yang tebalnya <50 cm, berupa lapisan penutup di suatu wilayah. E.2 lapisan Pasir (Sand Sheet) Endapan pasir eolin berupa lapisan tebal (>50 cm) tanpa bentuk tertentu. E.3 Gumuk Pasir (Sand Dunes) Endapan pasir eolin yang tebal (>50 cm) dengan bentuk-bentuk khas sesuai dengan arah angin berupa gumuk-gumuk. - E.3.1 Gumuk pasir Pantai (Shore Dunes) Gumuk pantai yang bahannya terdiri dari endapan pasir eolin berasal dari pesisir laut. - E.3.2 Gumuk Pasir Sungai (River Dunes) Gumuk pasir yang terbentuk dari endapan pasir eolin berasal dari endapan pasir sungai. - E.3.3 Gumuk pasir daratan (Inland Dunes) Gumuk pasir di pedalaman yang berasal dari pasir eolin daripasir yang terbawa angin di daerah pedalaman. E.4 Loess (Loess Blanket) Bahan endapan eolin yang terdiri dari debu atau pasir sangat halus dan terbentuk di

luar wilayah endapan pasir kasar (di pedalaman). K. Grup Karst/Karstik (Karst/Karstic Landforms) K.1 Plateau Karst (Karst Plateau) Wilayah tinggi dari batugamping dengan pola karst dengan bukit-bukit kecil yang relatif sama ketinggiannya, dan mempunyai tebing curam di sekitarnya. Pembagian lebih lanjut berdasar atas relief, lereng, torehan. K.2 Punggung (Ridges :Blocks, Lapies) Lungur dan bukit-bukit dari batugamping pada wilayah karst. Pembagian lebih lanjut berdasar atas relief, lereng, torehan. K.3 Cekungan/Depresi (Depression) Cekungan-cekungan dlam sistem karst akibat runtuhnya atap-atap gua dalam tanah. - K.3.1 Sinkhole Cekungan karst dengan ukuran kecil dan bentuk membulat. - K.3.2 Doline Cekungan karst berbentuk oval dengan rims yang berbelok-belok (sinous rims), terbentuk dari beberapa sinkhole yang menyatu. - K.3.3 Uvala Beberapa dolin yang membaur (coalescing) - K.3.4 Poljes Cekungan (depresi) di daerah batugamping yang terisolasi, biasanya panjang atau lebarnya beberapa km, dasarnya terdiri dari bahan aluvium, dindingnya biasanya curam, terbentuk karen terjadinya patahan block. K.4 Singkapan Batugamping (Rock Outcrops) Batugmaping yang tersingkap ke permukaan. - K.4.1 Singkapan Runcing (Pinnacle) Singkapan batugamping yang berbentuk tiang-tiang tinggi dan runcing. - K.4.2 Hummock Singkapan batugamping berbentuk bukit-bukit kecil (tinggi kurang dari 10 m) - K.4.3 Terumbu (Reef) Batugamping terumbu (Coral reef) yang muncul di permukaan.

V. Grup Volkan (Volcanic Landfroms) V.1 Volkan Berlapis (Strato Volcano) Sistem gunung berapi dengan letusan berulang-ulang sehingga terjadi pelapisan bahan

V.1.1 Kerucut Volkan (Volcanic Cone) Gunung api yang berbentuk kerucut. V.1.1.1 Lereng volkanik (Volcanic Slope) Bagian samping (atas, tengah, bawah) dari kerucut volkan. - V.1.1.1.1 Lereng Atas (Upper Slope) Bagian lereng atas kerucut volkan yang curam, biasanya dengan garis-garis kikisan yang dalam. - V.1.1.1.2 Lereng Tengah (Middle Slope) Bagian lereng tengah kerucut volkan yang tidak terlalu curam dengan pola drainase radial. - V.1.1.1.3 Lereng Bawah (Lower Slope) Bagian lereng bawah kerucut volkan yang agak melandai. - V.1.1.1.4 Planes (Planeze) Sisi-sisi permukaan lereng kerucut volkan yang terisolasi (terpisah-pisah) oleh torehan dan erosi, biasanya dalam bentuk segitiga. V.1.1.2 Lubang Kepundan/Kawah (Crater) Cekungan/lubang dengan dinding-dinding curam di puncak kerucut volkan langsung di atas lubang yang mengeluarkan bahan-bahan volkan dari perut bumi. V.1.1.3 Kaldera (Caldiera) Cekungan volkan luas di bagian atas sistem gunung api strato, biasanya terbentuk karena penurunan permukaan (collapse atau tererosi) V.1.1.4 Kaki Volkan (Volcanic Foot Slope) Bagian bawah dari kerucut volkan setelah lereng bawah. V.1.1.5 Ngarai (Steep Sided Valley) Lembah-lembah di daerah kerucut volkan dengan dinding-dinding terjal. V.1.2 Aliran lahar (muda) Bagian kerucut volkanik berupa aliran lahar pada lereng kerucut, umumnya berbatu. Pembagian selanjutnya atas dasar posisi (atas, tengah, bawah) dan toreh. V.1.3 Aliran lava (muda) Bagian dari kerucut volkan berupa aliran lava. Pembagian selanjutnya atas dasar posisi (atas, tengah, bawah) dan torehan. V.2 Volkan Tameng (Shield Volcano) Volkan dengan lereng landai terbentuk karena erupsi lava basaltik pada suhu tinggi. Lereng dekat puncak sekitar 5 dimana lava paling panas dan paling cair membeku, dan berangsur-angsur lereng meningkat mendekati 12 ke bagian bawah (dasar) dimana lava lebih dingin cenderung menumpuk. - V.2.1 Tameng Membulat (Rounded Shield) Volkan tameng dengan bentuk cembung membulat.

- V.2.2 Plateau Volkan tameng dengan permukaan relatif datar dengan dinding-dinding terjal sekitarnya.

di

V.3 Aliran Lahar lebih Tua (Older Lahar Flow) Aliran bahan-bahan piroklastik hasil erupsi gunung api yang telah lama diendapkan, baik langsung dari erupsi (lahar panas) atau karen jenuh air dari hujan atau air kepundan. - V.3.1 Lahar Bagian Atas (Upper Part) Bagian aliran lahar yang terletak berdekatan dengan sumber lahar. - V.3.2 Lahar Bagian Tengah (Middle Part) Bagian aliran lahar antara bagian atas dan bagian bawah. - V.3.3 Lahar Bagian Bawah (Lower Part) Bagian aliran lahar yang terletak di sekitar ujung aliran. V.4 Kipas Volkanik (Volcanic Fan) Bahan volkan yang dialirkan menembus suatu celah dan kemudian menyebar di suatu daratan bawahnya. - V.4.1 Bagian Atas (Upper Part) Bagian kipas volkan yang terdapat berdekatan dengan celah tempat keluarnya bahan tersebut. - V.4.2 Bagian Tengah (Middle Part) Bagian kipas volkan yang terdapat di antara bagian atas dan bawah. - V.4.3 Bagian bawah (Lower Part) Bagian kipas volkan yang terdapat berdekatan dengan ujung aliran. V.5 Kerucut Anakan (Adventive Cone) Kerucut volkan yang terbentuk bukan pada kawah utama, tetapi pada anak-anak kawah/kawah tambahan di sekitar kawah utama. V.6 Dataran Volkanik (Volcanic Plain) Dataran (plain) yang terbentuk oleh lava atau bahan lain hasil letusan gunung api. Pembagian selanjutnya berdasarkan relief, lereng, torehan, dan litologi V.7 Lungur Volkanik (Volcanic Ridges) Bukit-bukit memanjang dengan bahan volkan. - V.7.1 Perbukitan Volkanik (Volcanic Hill) Lungur volkan dengan lereng > 15 % dan perbedaan tinggi 50-300 m. Pembagian selanjutnya berdasar atas relief, lereng, torehan dan litologi. - V.7.2 Pegunungan Volkanik (Volcanic Mountain) Lungur volkan dengan lereng > 15 % dan perbedaan tinggi lebih dari 300m. Pembagian selanjutnya berdasarkan relief, lereng, torehan dan litologi. V.8 Aliran Lava (Lava Flow) Aliran magma (lava) yang membeku menjadi batu, biasanya mengahsilkan lereng

curam di ujung alirannya. Pembagian selnajutnya berdasarkan relief, lereng, torehan dan litologi. V.9 Lereng Volkanik (Volcanic Neck) Batu lava yang mengisi lubang (lereng) kepundan. Dapat tersingkap karna erosi. V.10 Intrusif (Intrusions) Penerobosan magma melalui celah/retakan/patahan dalam kulit bumi, membeku dibawah permukaan kulit bumi yang kemudian muncul di permukaan karena erosi. - V.10.1 Perbukitan Intrusi (Intrusion Hill) Penerobosan magma melalui celah/retakan/patahan yang kemudian muncul di permukaan dengan bentuk wilayah berbukit (lereng 15-30 % perbedaan tinggi 50-300m). - V.10.2 Pegunungan Intrusi (Intrusion Mountain) Penerobosan magma melalui celah/retakan/patahan yang kemudian muncul di permukaan dengan bentuk wilayah bergunung (lereng lebih 30% perbedaan tinggi >300 m). Pembagian selanjutnya untuk V.10.1 dan V.10.2. berdasar atas perbedaan lereng, torehan, dan litologi. V.11 Batolith/Lakolith Landform berasal dari pembekuan magma didalam perut bumi (batuan beku dalam) yang kemudian muncul dipermukaan karena pengangkatan dan erosi. - V.11.1 Batolith Berukuran besar raksasa - V.11.2 Lakolith Berukuran kecil Pembagian selanjutnya dari V.11.1 dan V.11.2 berdasarkan bentuk wilayah, litologi, dan torehan. Contoh : Pegunungan / pembukitan granit U. Grup angkatan (Uplifted land forms) U.1 Angkatan Mendatar (Horizontal Uplift) Angkatan oleh gaya endogen/hipogen secara seragam di seluruh bagian, sehingga Lapisan-lapisan geologi yang terangkat masih tersusun mendatar. U.1.1 Plateau Wilayah tinggi sebagai hasil proses angkatan, dengan permukaan yang kurang lebih mendatar, dan paling tidak pada salah satu sisinya menunjukkan penurunan mendadak (patahan) ke daerah rendah. - U.1.1.1 Punggung Plateau Bagian plateau yang terletak di bagian punggung, umumnya mendatar. - U.1.1.2 Gawir Plateau (Escarpment) Bagian samping plateau yang menunjukan penurunan mendadak (berlereng curam) ke daerah rendah. U.1.2 Mesa Wilayah tinggi sebagai hasil proses angkatan dengan puncak datar (seperti meja),

paling tidak salah satu sisinya berlereng curam karena patahan/erosi. Ukuran masa lebih kecil dibandingkan dengan plateau dan posisinya terpisah atau lebih rendah dari plateau. - U.1.2.1 Punggung Mesa Bagian punggung mesa yang datar. - U.1.2.2 Gawir Mesa (Escarpmant) Bagian samping mesa yang berlereng curam. U.1.3 Bute Sisa-sisa erosi permukaan daerah datar, dapat berbentuk bukit (hill), bukit kecil (hillock), atau bukit yang lebih kecil lagi, yaitu tinggi tidak lebih dari 10 m (hummock), bagkan mungkin lebih kecil dari hummock. Pembagian selanjutnya berdasarkan relief, lereng, torehan, litologi. U.2 Angkatan Miring (Tilted Uplift) Wilayah angkatan dengan gaya yang arah kekuatannya berbeda sehingga lapisanlapisan geologi yang terangkat berbentuk miring. Pembagian selanjutnya berdasarkan bentuk wilayah/relief, lereng, torehan, dan litologi. U.3 Angkatan Lain (Other Uplifted) Landform angkatan yang tidak termasuk salah satu landform angkatan di atas. - U.3.1 Perbukitan Angkatan Lain (Other Uplifted Hills) Landform angkatan lain dengan bentuk wilayah berbukit. - U.3.2 Pegunungan Angkatan Lain (Other Uplifted Mountains) Landform angkatan lain dengan bentuk wilayah bergunung. Pembagian selanjutnya dari U.3.1. dan U.3.2. berdasarkan relief, lereng, torehan dan litologi. F. Grup Lipatan/Patahan (Folded/Faulted landforms) F.1 Landform Lipatan (Folded Landforms) Landform yang terbentuk karena proses lipatan sehingga lapisan-lapisan geologi terlihat berbelok-belok, tetapi tidak terputus. - F.1.1 Punggung Antiklin (Anticline) Bagian tinggi dari lungur lipatan, biasanya lebar atau membulat. - F.1.2 Depresi Sinklin (Syncline) Bagian lembah (depresi) dari daerah bukit lipatan. - F.1.3 Kompleks Antiklin dan Sinklin (Anticline-Syncline Landforms) Tidak dapat dipisahkan antara Antiklin dan Sinklin - F.1.4 Landform lipatan lain (Other Folded Landforms) Pembagian selanjutnya dari F.1.1, F.1.2, F.1.3 dan F.1.4 berdasarkan perbedaan relief, lerng, torehan dan litologi. F.2 Landform patahan (Faulted Landforms) Landform yang terbentuk karena proses angkutan yang sangat kuat pada arahtertentu sehingga terjadi patahan-patahan yang ditentukan oleh lapisa-lapisan yang tidak menyambung.

- F.2.1 Hogback Betuk lanform karena proses patahan, merupakan punggung dengan sisi curam, terbuntuk karena adanya pemiringan (dipping) yang curam, umumnya lebih dari 45o (100%), dan disertai dengan terjadinya patahan sehingga terbentuk gawir (escarpment) pada lereng belakangnya yang sangat terjal. Pada lereng gawir (escarpment) ini terlihat lapisan-lapisan batuan (strata) secara jelas. Sedangkan pada lereng kemiringan (dip slope) hanya tersusun oleh satu lapisan saja, yang umumnya lapisan batuan yang resistant. F.2.1.1. Lereng pemiringan (dip slope) Bagian dari hogback yang umumnya berlereng lebih landai (sejajar dengan rock dip). F.2.1.2 Gawir Hogback (Escarpment) Bagian hogback yang berlereng lebih terjal (memotong rock dip). Karena terjadinya patahan dan erosi. - F.2.2 Cuesta Sama dengan hogback, tetapi lereng pemiringannya (dip slope) jauh lebih landai (kurang dari 10o) F.2.2.1 Lereng pemiringan (dip slope) Bagian dari cuesta yang berlereng melandai karena pemiringan (dipping). F.2.2.2 Gawir Cuesta (Escarpment) Bagian dari cuesta yang berlereng terjal karena patahan (dan erosi). - F.2.3 Kompleks Hogback (Hogback Complex) Kumpulan dari banyak hogback. F.2.3.1 kompleks lereng pemiringan (Dip Slope Complex) Komplek lereng pemiringan dari hogback F.2.3.2 Kompleks Gawir Hogback (Escarpment Complex) Kompleks gawir hogback F.2.3.3 Kompleks Lereng Pemiringan dan Gawir Hogback (Dip Slope-Escarpment Hogback Complex). Kompleks Lereng Pemiringan dan Gawir Hogback yang sulit dipisahkan karena kecilnya. - F.2.4 Kompleks Cuesta (Cuesta Complex) Kumpulan dari banyak cuesta. F.2.4.1 Kompleks lereng pemiringan (Dip Slope Complex) Kompleks dispslope dari cuesta F.2.4.2 Kompleks Gawir (Escarpment Complex) Kompleks Gawir dan cuesta. F.2.4.3 Kompleks Lereng Pemiringan dan Gawir Cuesta (Dip Slope Escarpment Hogback Complex). Kompleks Lereng pemiringan dan Gawir Cuesta yang sulit dipisahkan karena kecilnya. - F.2.5 Landform Blok (Block Landforms) Landform yang berupa bukit atau gunung yang terbentuk karena proses angkatan dan patahan di kedua sisinya.

F.2.5.1 Horst Blok memanjang yang terangkat keatas diantara kedua bidang patahan. F.2.5.2 Graben Blok memanjang yang turun kebawah kedalam bidang patahan. F.3 Bukit-bukit Kecil dan Pola Perbukitan (Hillock and hill Patterns) Bukit-bukit kecil dari landform patahan dengan perbedaan tinggi (amplitudo) 10-50m yang tidak termasuk dalam landform-landform patahan diatas. Bentuk bukit dipengaruhi oleh susunan batuan dan proses erosi yang terjadi. Pembagian selanjutnya atas dasar relief, torehan, dan litologi.

X.Grup Aneka (Miscellaneous) X.1 Lahan Rusak/Kritis (Badlands) Lahan yang telah mengalami erosi gully yang sangat kuat sehingga sangat tertoreh dan gundul. X.2 PermukimanUtama (Major Settlements) Tempat tinggal penduduk dimana lahan yang digunakan untuk bangunan jauh lebih banyak dari lahan yang di gunakan untuk tanaman (misalnya perkotaan). X.3 Galian/Pertambangan (Quarries) Lahan-lahan tempat penggalian pasir, galian untuk pertambangan, dan sebagainya. X.4 Landslides Tanah longsoran dapat terdiri dari batuan, tanah, dan lain-lain yang longsor dari lereng atas. X.5 Slump Batu-batuan atau bahan-bahan terpisah segala ukuran yang pindah ke bawah, bergerak sebagai satu kesatuan atau beberapa satuan, biasanya dengan putaran ke belakang pada sumbu yang kurang lebih horizontal, sejajar dengan lereng atau tebing (cliff) dimana bahan tersebut turun. X.6 Land/Soil Creep Gerakan sangat lambat dari batuan atau massa tanah ke arah bawah pada daerah berlereng landai. X.7 Infrastructure/Transportation Facilities. Bangunan-bangunan lapangan terbang, dan sebagainya. Catatan : Tubuh air (water body) berupa air genangan yang luas dan dalam (danau,waduk, dan lainlain) digambarkan langsung pada peta dengan keterangan pada Legenda umum.