Anda di halaman 1dari 9

Kromatografi Cair Vakum (KCV) Pertama, disiapkan kolom untuk KCV, eluen n-heksana:etil asetat dengan perbandingan dimulai

dari 100:0 hingga 0:100 (volume total 100 ml), silika sebanyak 100 gram untuk KCV, dan silika seberat ekstrak. Ekstrak yang telah diuapkan kemudian dikeringkan dengen silika sebanyak 28,09 gram (ekstrak:silika=1:1) di dalam mortir hingga ekstrak kering. Selanjutnya, kolom dialasi kertas saring lalu silika sebanyak 100 gram dimasukkan ke kolom dengan merata. Masukkan ekstrak yang telah dikeringkan lalu ratakan. Masukkan pelarut secara perlahan, dimulai dari n-heksana:etil asetat dengan perbandingan 100:0 hingga 0:100 sesuai prinsip gradien eluen. Setiap fraksi ditampung ke dalam botol kemudian diuapkan di ruang asam. Kromatografi Lapis Tipis Disiapkan penjerap silika gel untuk 11 titik. Setelah itu totolkan 11 fraksi yang telah diuapkan dengan jarak antar titik 0,5 cm. Disiapkan pengembang berupa nheksana:etil asetat (7:3) di dalam chamber lalu jenuhkan. Dilakukan KLT hingga tanda batas. Hasil KLT dilihat di spektroskopi UV-Vis kemudian dilihat fraksi mana yang memenuhi Rf yang sesuai sesuai senyawa target dan memiliki warna yang sama dengan senyawa target.

Hasil Pengamatan
Hasil fraksinasi

Fraksi 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Warna Kuning bening Bening Bening Bening sedikit kuning Kuning oranye Oranye tua

Fraksi 7. 8. 9. 10. 11.

Warna Oranye tua Oranye muda Oranye muda Oranye sedikit tua Oranye sedikit tua

Hasl KLT (belum ada)

Perhitungan
Pelarut untuk KCV (dalam 100 ml)

1. N-heksana:etil asetat = 100 ml:0 ml 2. N-heksana:etil asetat = 90 ml:10 ml 3. N-heksana:etil asetat = 80 ml:20 ml 4. N-heksana:etil asetat = 70 ml:30 ml 5. N-heksana:etil asetat = 60 ml:40 ml 6. N-heksana:etil asetat = 50 ml:50 ml 7. N-heksana:etil asetat = 40 ml:60 ml 8. N-heksana:etil asetat = 30 ml:70 ml 9. N-heksana:etil asetat = 20 ml:80 ml 10. N-heksana:etil asetat = 10 ml:90 ml 11. N-heksana:etil asetat = 0 ml:100 ml Silika untuk mengeringkan ekstrak silika : ekstrak = 1:1 ekstrak = 28,09 gram silika = 28,09 gram Pengembang untuk KLT (dalam 10 ml) n-heksana:etil asetat = 7:3 1. N-heksana (7/10) x 10 ml = 7 ml

2. Etil asetat (3/10) x 10 ml = 3 ml 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Perhitungan Rf =0 =0 =0 =0 = 0,923 = 0,923 = 0,923 = 0,73 = 0,73 = 0,7435 = 0,7692

Kesimpulan
Dari hasil paraktikum Kromatografi Cair Vakum juga Kromatogafi Lapis Tipis dapat diduga fraksi yang mengandung senyawa target, piperin, yaitu fraksi dengan perbandingan n-heksana:etil asetat 30:70, 20:80, dan 10:90 karena memeiliki Rf yang sesuai dengan literatur, yaitu 0,73 ; 0,73 ; 0,7435.

Pembahasan
Pada praktium Kromatografi Cair Vakum pertama dilakukan penyiapan alat dan bahan. Kolom untuk KCV disiapkan, eluen, silika untuk kolom, dan silika untuk mengeringkan ekstrak. Eluen yang digunakan memiliki volume total 100 ml dengan prinsip elusi gradien. Elusi gradien adalah penggunaan eluen dengan kepolaran yag meningkat. Karena kepolaran yang ekan digunakan dimulai dari yang tidak polar, maka perbandingan n-heksana:etil asetat dimulai dari 100:0 hingga 0:100. Silika gel yang digunakan adalah silika gel G. Gel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan gel silika, atom silikon berikatan dengan gugus -OH. Jadi, pada permukaan silika gel terdapat ikatan Si-O-H (gugus silanol) selain Si-O-Si (gugus siloxan). Pada permukaan silika gel sifatnya sangat polar. Oleh karena itu gugus -OH ini dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang agak polar sampai sangat polar. Piperin, sebagai senyawa target memiliki sifat polar. Pertama, kolom dialasi dengan kertas saring untuk mencegah silika keluar dari kolom. Kemudian ekstrak dikeringkan dengan silika seberat ekstrak. Silika kemudian dimasukkan ke dalam kolom dengan merata dan tanpa ada rongga udara. Ronggarongga udara dalam kolom akan berpengaruh buruk pada proses pemisahan. Selanjutnya dimasukan ekstrak yang telah dikeringkan. Dilakukan pproses elusi menggunakan eluen dengan variasi perbandingan mengguakan KCV. Penghisapan dengan pompa vakum bertujuan untuk mempercepat proses elusi. Setiap raksi yang didapat ditampung ke dalam botol. 11 fraksi yang didapat kemudian diuapkan di ruang asam. Penguapan bertujuan untuk memekatkan fraksi yang didapat agar floreseni saat KLT lebih terlihat jelas. Kemudian akan dilakukan KLT. Disiapkan dulu penjerap silika gel dengan ukuran yang cukup besar untuk penotolan 11 fraksi, pengembang berupa n-heksana:etil asetat sebanyak 10 ml dengen perbandingan 7:3. Silika gel bersifat polar sedangkan pengembang yang digunakan cenderung non polar. Pemilihan ini bertujuan agar saat dilakukan KLT, piperin yang bersifat polar akan terjerap di silika dan pengembang akan mengikat senyawa lain yang bersifat non-polar. Pengembang dicampurkan dalam

chamber kemudian dijenuhkan dengan cara menggoyang-goyangkan chamber, penggoyangan bertujuan untuk menghindari kesetimbangan reaksi sehingga

pengembang akan jenuh dengan cepat. Silika gel diberi tanda dengan pensil pada batas bawah dan atas 1 cm dari ujung. Tanda ini sebagai batas dari jalannya elusi. Batas bawah adalah tanda tempat penotolan, dan batas atas adalah tanda elusi berakhir. Jarak elusi 7,8 cm. Penandaan tidak boleh menggunakan ballpoint karena tinta dari ballpoint akan ikut terelusi. Selanjutnya dilakukan penotolan ekstrak mengguanakn mikropipet yang telah dibasuh etanol. Pembasuhan ini untuk menghindari adanya ekstrak kelompok lain yang akan ikut di KLT. Jarak antar totolan 0,5 cm. Jarak antar totolan diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu elusi totolan satu dengan yang lain, sehingga elusi berjalan dengan baik dan diperoleh hasil pemisahan yang bagus. Sampel yang ditotolkantidak boleh terlalu banyak karena dapat mengakibatkan hasil elusinya memanjang sehingga senyawa yang mempunyai selisih Rf kecil tidak akan terlihat pemisahannya. Namun apabila penotolan terlalu tipis akan mengakibatkan hasil elusi tidak teramati kaarena terlalu encer. Setelah bejana jenuh, lempengan KLT dimasukkan dengan hati-hati, jangan sampai totolan ikut terendam pada fase gerak karena akan mengurangi konsentrasi totolan yang akan mengganggu hasil akhir KLT. Serta harus dihindari adanya penguapan fase gerak yang berlebihan karena dapat mengurangi kejenuhan bejana. Fase gerak akan mengelusi lempengan silika hingga batas atas. Fase gerak dapat mengelusi lempengan silika karena gaya kapilaritas. Setelah pengembang melewati tanda batas, keluarkan silika gel lalu keringkan dengan diangin-anginkan untuk kemudian dilihat penampaknya menggunakan spektroskopi UV-Vis. Akan tampak bercak berwarna ............... Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, posisi dari bercak-bercak harus ditandai dengan melingkarinya menggunakan pensil untuk dapat menetukan Rf. Pada fraksi 1, 2, 3, 4 tidak didaptakan Rf. Ini menunjukan tidaka ada senyawa yang ikut terbawa pengembang. Pada fraksi 5, 6, 7 didapatkan Rf 0,923 sedangkan Rf untuk fraksi 8 dan 9 adalh 0,73. Rf untuk fraksi 10 dan 11 masing-masing adlah 0.7435 dan 0,7692. Berdaarkan literatur, Rf unrtuk piperin adalah 0,7. Maka dari itu yang diduga mengandung seyawa target adalah fraksi ke 8, 9, dan 10.