Anda di halaman 1dari 13

BAB I STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS 1. No. Rekam Medik : 167826 2. Nama 3. Umur 4. Jenis Kelamin 5. Agama 6. Alamat : An. A. A. : 1 tahun : Perempuan : Islam : Sumogawe 3/2 Getasan Kabupaten Semarang

II.

ANAMNESIS Keluhan Utama RPS : Gatal-gatal dibadan : Pasien datang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Salatiga pada tanggal 18 Mei 2010 dengan keluhan gatal-gatal dibadan 3 minggu yang lalu. Timbul bercak-bercak merah, kemudian semakin lama semakin bertambah banyak. Terlihat bekas garukan, belum pernah berobat ke dokter

sebelumnya. Namun pernah diberi minyak zaitun kemudian berkurang.

Keluarga pasien tidak ada yang menderita sakit serupa, maupun memiliki alergi terhadap

makanan, dan obat-obatan. III. PEMERIKSAAN Predileksi Perut (Pusar), bokong, paha Lesi bulat, lonjong berbatas tegas terdiri dari eritem dan UKK skuama terdapat erosi dan eksoriasi. IV. DEFERENSIAL DIAGNOSIS 1. Tinea korporis : Makula hiperpigmentasi dengan tepi yag lebih aktif 2. Dermatitis kontak alergi karena gesper celana : Makula hiperpigmentasi dengan skuama halus 3. Dermatitis seboroik intertrigo : Makula eritematosa dengan skuama berminyak diatasnya 4. Psoriasis Vulgaris : Makula eritematosa dengan skuama putih tebal diatasnya 5. Dermatitis numularis : Makula eritematosa eksudatif, besarnya numuler, terkadang hiperpigmentasi

V.

DIAGNOSIS

Tinea Korporis VI. TERAPI - Topikal - Sistemik : Exoderil cream 2 dd 1 ue : Lusonac tab CTM tab

Sacc. Lac q.s M.f.la pulv dtd No. XV S 1 dd pulv I VII. EDUKASI/NASEHAT memberitahukan kepada pasien untuk menjaga kebersihan tubuh. memberitahukan kepada pasien untuk memakai jilbab dengan bahan yang menyerap keringat memberitahukan keepada pasien agar menghindari keadaan stres dan gangguan emosi memberitahukan kepada pasien agar tidak menggaruk dan mencegah gosokan pada lesi serta menghindari gigitan serangga VIII. PROGNOSIS Prognosis ad sanam Prognosis ad vitam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

Prognosis ad kosmetikum : Dubia ad bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi Tinea Korporis Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabourous skin) didaerah muka, badan, lengan dan glutea II.2. Etiologi Etiologi dari Tinea Korporis adalah jamur golongan dermatofita, diantaranya yaitu Trichophyton rubrum, Epidermophyton floccosum Yang paling sering yang menyebabkan penyakit tinea Korporis yaitu M.canis, T. rubrum, T. mentagrophytes II.3. Patogenesis Tinea Korporis biasanya terjadi setelah kontak dengan individu atau dengan binatang piaraan yang terinfeksi, tetapi kadang terjadi kontak karena dengan mamalia liar atau tanah yang terkontaminasi. M. Canis sering menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi spesies seperti antrofilik seperti E. floccosum atau T. rubrum sering menyertai autoinokulasi dari bagian tubuh lain yang terinfeksi misalnya kaki. Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda misalnya pakaian, perabot dan sebagainya

II.4. Manifestasi klinis Manifestasi klinik terbagi atas:

Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri dari eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papula di tepi. Daerah tengah biasanya lebih tenang, kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata, lebih sering dilihat pada anakanak daripada orang dewasa karena umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang mendadak biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea corporis et cruris. Bentuk menahun yang disebabkan oleh T. rubrum biasanya dilihat bersama-sama tinea unguium.

Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh T. concentricum disebut Tinea imbrikata. Manifestasi klinis Tinea imbrikata dimulai dengan bentuk papula berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar, proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang

konsentris. Pada permulaan infeksi penderita dapat merasa gatal, akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan dan lesi

kulit kadang-kadang dapat menyerupai iktiosis. Kulit kepala dapat terserang, akan tetapi rambut biasanya tidak. Tinea unguium juga sering menyertai penyakit ini Bentuk tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut disebut Tinea favosa atau favus. Penyakit ini biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai ukuran, bila krusta diangkat terlihat dasar yang cekung merah dan membasah. Rambut pada tempat ini tidak berkilat dan akhirnya terlepas. Bila tidak diobati dapat meluas ke seluruh kepala serta meninggalkan parut dan botak. Favus tidak menyembuh pada usia akil baliq, biasanya dapat tercium bau tikus (mousy odor). Tinea favosa pada kulit dapat dilihat sebagai papulovesikel dan papuloskuamosa, disertai kelainan kulit berbentuk cawan yang khas kemudian menjadi parut

Gambar 1 : Tinea korporis .tampak makula eritematosa berbatas tegas

Gambar 2 : Tinea korporis. Makula polisiklis dengan tepi aktif

Gambar 3 : Tinae korporis. Makula hiperpigmentasi polisiklis

II.4. Diagnosis banding 1. Tinea korporis : Makula hiperpigmentasi dengan tepi yag lebih aktif 2. Dermatitis kontak alergi karena gesper celana : Makula hiperpigmentasi dengan skuama halus 3. Dermatitis seboroik intertrigo : Makula eritematosa dengan skuama berminyak diatasnya 4. Psoriasis Vulgaris : Makula eritematosa dengan skuama putih tebal diatasnya 5. Dermatitis numularis : Makula eritematosa eksudatif, besarnya numuler, terkadang hiperpigmentasi II. 5. Diagnosis Diagnosis Tinea Korporis ditegakan berdasarkan gambaran klinik dan lokasinya serta pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur

10

II. 6. Pengobatan Topikal golongan imidazol Obat yang termasuk dalam golongan imidazol antara lain: a. Mikonazol Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai spektrum antijamur yang luas baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit. Obat ini berbentuk kristal putih tidak berwarna dan berbau, sebagian kecil larut dalam air tetapi lebih larut dalam pelarut organik. Mikonazol menghambat aktifitas jamur Trichophyton,

Epidermophyton, Microsporum, Candida, dan Malassezia furfur. Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya. Mikonazol titik tangkapnya menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran sel jamur meningkat. Dapat terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau

penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menimbulkan kerusakan. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana selama 4 hari. Mikonazol topikal diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis mukokutan. Efek samping penggunaan mikonazol topikal berupa iritasi, rasa terbakar, dan maserasi sehingga penggunaan mikonazol harus dihentikan. Mikonazol dalam jumlah kecil diserap melalui mukosa vagina, tetapi belum ada laporan tentang efek samping pada bayi yang ibunya mendapat mikonazol intravaginal pada waktu hamil. Obat ini tersedia dalam bentuk krim 2% dan bedak tabur, penggunaannya 2 kali sehari selama 2-4 minggu. Krim 2% untuk penggunaan intravaginal diberikan 1 kali sehari pada malam hari untuk

11

mendapatkan retensi selama 7 hari. Penggunaan mikonazol tidak boleh mengenai mata b. Klotrimazol Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwarna yang tidak larut dalam air, larut dalam alkohol dan kloroform, serta sedikit larut dalam eter. Obat ini mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja seperti mikonazol. Obat ini merupakan antijamur spektrum luas yang menghambat pertumbuhan jamur dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga menyebabkan kematian sel jamur Obat ini digunakan secara topikal untuk pengobatan tinea pedis, tinea kruris, dan tinea korporis yang disebabkan oleh T. rubrum, T. mentagrophytes, E. floccosum, dan M. canis. Senyawa ini merupakan senyawa trifenilmetilimidazol yang tersulih klor, bekerja terhadap semua mikroba patogen untuk manusia. Senyawa ini hanya dipakai lokal (dalam bentuk sediaan dengan kadar 1%) karena efek sampingnya yang kuat serta perbedaan absorbsi yang besar pada penggunaan sistemik. Titik tangkapnya adalah sama seperti kelompok mikonazol, bekerja pada biosintesis ergosterol yang merupakan komponen esensial membran sel jamur. Tipe kerjanya secara in vitro adalah fungisida, secara in vivo umumnya fungistatik. Obat ini tersedia dalam bentuk krim 1%, solusio/ spray, dan lotion. Obat ini dapat diperoleh tanpa resep. Obat ini dioleskan pada daerah yang terinfeksi selama seminggu. Krim vagina 1% digunakan 1 kali sehari pada malam hari selama 7 hari. Pada pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,

12

eritema, edema, gatal, dan urtikaria. Obat ini tidak digunakan untuk pengobatan infeksi jamur sistemik, tidak boleh mengenai mata, dan jika terjadi iritasi maka penggunaannya harus dihentikan . c. Ketokonazol Ketokonazol merupakan golongan imidazol yang mempunyai kelebihan yaitu cukup dioleskan 1 kali sehari dengan efektifitas yang sama dengan yang lain. Obat ini titik tangkapnya menghambat enzim lanosterol, demetilase, sitokrom P-450. Enzim ini menyebabkan membran sel jamur tidak stabil sehingga sel tidak dapat berproduksi dan terjadilah kematian sel jamur secara lambat. Obat ini tersedia dalam bentuk krim 1- 2%. Penggunaannya pada daerah infeksi selama 2-4 minggu. Obat ini untuk penggunaan luar, tidak boleh mengenai mata, dan jika terjadi iritasi penggunaannya harus dihentikan d. Ekonazol Obat ini efektif untuk infeksi kutaneus. Obat ini titik tangkapnya berhubungan dengan metabolisme sintesis RNA dan protein, mengganggu permeabilitas dinding sel jamur sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Obat ini untuk penggunaan luar, tidak boleh mengenai mata, dan jika terjadi iritasi penggunaannya harus dihentikan e. Oksikonazol Oksikonazol merupakan obat anti jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel

13

jamur. Obat ini tersedia dalam krim 1% atau lotion. Penggunaan secara topikal dioleskan pada daerah yang terinfeksi selama 2-4 minggu. Obat ini hanya untuk penggunaan luar f. Sulkonazol Sulkonazol merupakan obat anti jamur yang memiliki spektrum luas. Obat ini titik tangkapnya menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam krim 1% atau solusio. Penggunaanya secara topikal dioleskan pada daerah yang terinfeksi selama 2-4 minggu. Obat ini hanya digunakan untuk pemakaian luar, tidak boleh mengenai mata, dan organ yang mempunyai mukosa

Hambatan biosintesis ergosterol oleh turunan imidazol

Asetil CoA

Hidroksimetilglutaril CoA

Asam mevalonat

Skualen

14

Lanosterol

24 - metilendihidrolanosterol

Senyawa imidazol

Desmetilsterol

Ergosterol

II. 7. Edukasi memberitahukan kepada pasien untuk menjaga kebersihan tubuh. memberitahukan kepada pasien untuk memakai jilbab dengan bahan yang menyerap keringat memberitahukan keepada pasien agar menghindari keadaan stres dan gangguan emosi memberitahukan kepada pasien agar tidak menggaruk dan mencegah gosokan pada lesi serta menghindari gigitan serangga

15

II. 8. Prognosis Dengan pengobatan yang sempurna, pada umumnya prognosisnya baik.

16