Anda di halaman 1dari 6

Tugas Anestesi Pediatrik Ahmad Faishal Fahmy

Perbandingan Induksi dengan Anestesi Inhalasi & Anestesi Intravena pada Pediatri
Obat anestesi inhalasi yang diberikan pada pasien anak yang mengalami dehidrasi memerlukan onset lebih cepat daripada yang tidak mengalami dehidrasi. Pada keadaan dehidrasi, sirkulasi pada paru-paru menurun sehingga ambilan zat anestetik inhalasi juga menurun, akibatnya konsentrasi zat anestesi pada alveolar paru lebih cepat jenuh. Lalu terjadi keseimbangan antara PA (tekanan parsial alveolar) dengan Pa (tekanan darah arteri) dan PBr (tekanan darah dalam otak). Namun demikian, perlu diwaspadai dengan kemungkinan efek samping berupa overdosis obat anestesi inhalasi. Obat anestesi intravena yang diberikan pada pasien anak yang mengalami dehidrasi memerlukan onset lebih lama daripada yang tidak mengalami dehidrasi. Hal ini disebabkan oleh sistem sirkulasi yang memerlukan waktu yang lebih lama menuju target organ untuk distribusi obat intravena.

ANESTESI INHALASI Anestesi inhalasi adalah anestesi umum yang dihasilkan oleh uap obat anestesi (volatile) yang masuk dalam tubuh melalui pernafasan. Obat anestesi inhalasi antara lain ether, halothane, enflurane, isoflurane, sevoflurane, desflurane, N2O. Adapun obat anestesi inhalasi yang dapat dipakai untuk induksi anesthesia misalnya sevoflurane dan halotan. Syarat obat anestesi yang ideal 1. Berbau enak dan tidak merangsang nafas sehingga induksi dapat berlangsung cepat dan lancar. 2. Mempunyai daya kelarutan gas rendah, sehingga pasien cepat pulih sadar. 3. Stabil dalam penyimpanan, tidak terpengaruh pada bahan/sirkuit anestesi dan absorber.
1

4. Tidak mudah terbakar atau meledak 5. Mampu menghilangkan kesadaran, menghasilkan anelgesia dan relaksasi otot. 6. Cukup kuat meski diberikan dengan kadar O2 tinggi 7. Tidak toksik dan tidak mudah menimbulkan reaksi alergi.

8. Menghasilkan depresi minimal terhadap sistem kardiovaskular dan sistem respirasi. Tidak saling mempengaruhi dengan obat-obat lain yang kerap digunakan dlm anestesi. 9. Bersifat inert yang berarti tidak mempunyai bagian yang aktif, disekresi lengkap dan cepat, tanpa perubahan bentuk melalui paru.

Induksi Anestesi Kecepatan induksi anestesi inhalasi ditentukan oleh titik kenaikan PA (tekanan parsial alveolar) Pa (tekanan darah arteri) PBr (tekanan darah otak). PA ( tekanan parsial alveolar) ditentukan oleh: 1. Masukan (input) obat anestesi inhalasi, yang bergantung pada : o Tekanan partial obat inhalasi. o Ventilasi alveolar. o Karakteristik sistem pernafasan. 2. Ambilan (uptake) obat anestesi inhalasi, yang dipengaruhi oleh : o Daya kelarutan dalam darah. o Aliran darah alveolar o Perbedaan tekanan parsial antara gas alveolar dan darah vena. Potensi anestesi inhalasi dinilai dari: Kelarutan dalam lemak. MAC (Minimum Alveolar Concentration)

Berdasarkan aliran darah dan daya kelarutan, jaringan dibagi 4 kelompok: 1. Kelompoka kaya pembuluh darah (perfusi tinggi) : Jantung, ginjal, hati, organ endokrin. 2. Kelompok pembuluh darah sedang (perfusi jaringan tdk terlalu baik); kulit dan otot.
2

3. Kelompok jaringan lemak (perfusi setara dengan otot) 4. Kelompok miskin pembuluh darah (perfusi minimal); tulang, ligament, gigi, rambut, tulang rawan. Proses pulih sadar dari pengaruh obat anestesi tergantung pada rendahnya kadar obat di otak. Pengeluaran obat anestesi di tubuh melalui proses biotransformasi, hilang melalui kulit, hilang melalui udara ekspirasi (alveolus). Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan induksi, dapat pula mempercepat pengeluaran. Anestesi Inhalasi Pada Anak Pada anestesia anak, anestesia inhalasi lebih sering digunakan terutama pada anak yang takut pada pemasangan jalur intravena. Dengan anestesia inhalasi induksi dapat dilakukan terlebih dahulu sehingga pemasangan akses intravena lebih mudah. Pasien anak meliputi 12 % dari seluruh total operasi dalam praktik anestesi. Aspek keamanan penting untuk diperhatikan saat induksi dengan anestesia inhalasi mengingat belum adanya jalur intravena. Teknik yang tepat harus diketahui oleh dokter anestesiologi untuk menghindari terjadinya komplikasi yang berat, seperti bradikardia, laringospasme, bahkan henti jantung. Jenis agen inhalasi yang tepat juga berperan terhadap aspek keamanan. Seorang anak tidak sama dengan seorang dewasa kecil. Perbedaan utama adalah terdapatnya aspek tumbuh kembang pada anak. Oleh karena itu, pengaruh anestesia inhalasi pada pertumbuhan dan perkembangan anak perlu diperhatikan.

Farmakokinetik Anestesi Inhalasi pada Anak Selama pertumbuhan, terdapat perubahan dari fungsi kardiopulmoner. Pada bayi, curah jantung dan ventilasi alveolar lebih besar dibanding dengan orang dewasa sesuai berat badannya. Perubahan ini secara signifikan mempengaruhi farmakokinetik anestesia inhalasi. Curah jantung bayi dapat mencapai 250 ml/kg/menit, lebih kurang tiga kali dari jumlah volume darah bayi (80 ml/kg). Jumlah ini jauh lebih besar dibanding curah jantung orang dewasa (70 ml/kg/menit). Besarnya curah jantung ini akan menurunkan kenaikan konsentrasi zat inhalasi dalam alveoli.

Ventilasi alveolar pada pasien anak cukup besar jika dibandingkan dengan kapasitas fungsional residu. Konsentrasi alveoli yang cepat meningkat bertolak belakang dengan curah jantung yang besar, dimana mempercepat zat anestesia inhalasi berpindah dari aveoli. Curah jantung ini terdistribusi pada organ yang kaya pembuluh darah. Jumlah pembuluh darah yang kaya vaskularisasi tidak banyak, sehingga aliran vena masih banyak mengandung zat anestesia inhalasi. Fenomena ini akan berpengaruh pada penggunaan zat anestesia yang mudah larut namun tidak berpengaruh pada zat anestesia inhalasi yang tidak mudah larut. Usia juga memiliki pengaruh pada farmakodinamik zat anestesia. Anak dengan usia yang lebih muda memiliki konsentrasi alveolar minimum lebih tinggi.

Induksi Anak dengan Anestesia Inhalasi Induksi adalah usaha untuk memulai anestesia, dengan anestesi inhalasi pasien langsung menghirup gas anestesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa induksi dengan anestesi inhalasi adalah upaya yang dapat kita lakukan bila pasien tidak dapat dilakukan pemasangan jalur intra vena. Induksi seperti ini disebut steal induction. Jenis gas anestesi yang dapat digunakan adalah sevofluran dan halotan. Sevofluran memiliki bau yang lebih dapat diterima oleh pasien anak. Iritasi terhadap jalan nafas juga lebih kecil. Dari segi tingkat keamanan sevofluran memiliki efek kardio depresi lebih kecil. Halotan dapat digunakan dengan tingkat konsentrasi yang berbeda-beda antara 2,5 - 5%. Diperlukan pengalaman yang cukup untuk mengetahui waktu yang tepat untuk dilakukan intubasi. Jika tidak, pasien dapat terjadi henti jantung. Persiapan untuk induksi dengan gas anestesia membutuhkan waktu dua menit. Tiga langkah penting yang harus dilakukan adalah priming gas anestesia pada mesin, oksigenisasi pada paru pasien, dan psikologi pada pikiran pasien. Agar induksi dapat dilakukan dengan cepat sirkuit anestesia dijenuhkan terlebih dahulu dengan gas anestesi. Pasien diajak untuk menarik nafas dengan dalam agar induksi dapat cepat terjadi. Hal ini dapat dilakukan pada pasien anak yang sudah cukup besar untuk diberikan pengertian. Dengan sevofluran, konsentrasi yang digunakan untuk induksi sebesar 5-8 vol %, dapat menurunkan tekanan darah akan tetapi tidak pernah dilaporkan terjadinya henti jantung, walaupn pada pasien yang diintubasi dan diventilasi. Halotan juga lebih sering menimbulkan

gejala aritmia dibanding sevofluran. Hal ini dapat segera hilang jika stimulasi bedah dihentikan dan hiperkarbia diperbaiki.

ANESTESIA INTRAVENA Farmakokinetik menggambarkan bagaimana reaksi tubuh terhadap obat yang ditentukan berdasarkan 4 parameter yaitu absorbsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi. Selain itu terdapat istilah eliminasi yang menggambarkan degradasi obat melalui biotransformasi dan ekskresi, sedangkan klirens adalah pengukuran dari laju eliminasi. Absorbsi adalah proses di mana obat meninggalkan tempat obat tersebut diberikan dan memasuki aliran darah yang dipengaruhi oleh factor-faktor obat (kelarutan, pH, dan konsentrasi) dan faktor tempat pemberian (sirkulasi, pH, dan luas permukaan). Absorbsi berbeda dengan ketersediaan biologis (bioavailability). Bioavailabilitas adalah fraksi obat yang yang memasuki sirkulasi sistemik. Misalnya nitrogliserin mempunyai ketersediaan biologis (bioavailability) yang rendah walaupun diabsorbsi dengan baik di GI tract karena dimetabolisme dalan jumlah yang banyak oleh hati (1st pass hepatic metabolism) Distribusi adalah proses yang penting pada farmakologi klinis karena merupakan penentu utama besarnya konsentrasi obat pada organ tujuan. Hal ini banyak dipengaruhi oleh perfusi organ, ikatan dengan protein dan kelarutan dalam lemak. Setelah diabsorbsi obat didistribusikan oleh aliran darah ke seluruh tubuh. Organ dengan perfusi tinggi (otak, jantung, hati, ginjal, kelenjar endokrin) mengambil porsi obat yang lebih tinggi dibandingkan dengan organ dengan perfusi yang rendah (otot, jaringan lemak, tulang, ligamen, dan kartilago) Selama obat terikat dengan protein plasma, obat tidak dapat diambil oleh organ bersangkutan walaupun perfusi organ tersebut mencukupi. Albumin mengikat obat yang bersifat asam (mis. Barbiturat) sedangkan 1-acid glycoprotein (AAG) berikatan dengan obat basa. Gangguan ginjal, penyakit hati, CHF, dan keganasan menurunkan produksi albumin. Trauma (termasuk operasi), infeksi, miokardial infark, dan nyeri kronis meningkatkan jumlah AAG.

Ketersediaan obat pada organ-organ tertentu tidak memastikan adanya ambilan oleh organ. Misalnya masuknya obat-obatan ionik ke dalam SSP dihambat oleh sel glia perikapiler dan endothelial tight junction yang membentuk blood brain barrier. Obat yang larut lemak dan molekul nonionik dapat melalui membran lipid tersebut. Hal lain yang dapat mempengaruhi distribusi adalah ukuran molekul dan ikatan dengan jaringan terutama oleh paru. Setelah organ dengan perfusi tinggi menjadi jenuh barulah organ dengan perfusi yang lebih rendah mengambil obat dari aliran darah. Dengan konsentrasi dalam plasma yang rendah, obat akan meninggalkan obat dengan perfusi tinggi untuk mempertahankan keseimbangan. Proses redistribusi ini merupakan mekanisme utama pengakhiran efek dari obat-obatan anestesi (mis. Thiopental). Bila obat diberikan dalam jumlah besar atau berulangulang proses redistribusi tidak akan terjadi dan pengakhiran efek obat akan banyak bergantung pada eliminasi dari obat. Sehingga obat-obatan dengan durasi kerja yang cepat seperti thiopental dan fentanyl akan mempunyai durasi kerja yang lebih panjang. Volume obat yang didistribusikan disebut volume of distribution (vd) yang didapatkan dengan membagi dosis obat yang diberikan dibagi dengan konsentrasinya dalam plasma.