Anda di halaman 1dari 6

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Akses darurat guna mengendalikan jalan nafas atas dapat dicapai dengan tindakan trakeostomi. Pahaman terhadap anatomi sangat penting dalam prosedur ini sehingga dapat dilakukan dengan cepat dan aman.1 Trakea merupakan pipa yang terdiri dari tulang rawan dan otot yang dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia. Trakea terdiri dari 15-20 cincin trakea yang berbentuk U, di bagian posterior terdapat jaringan yang merupakan batas dengan esofagus, yang disebut dinding bersama antara trakea dan esofagus (tracheoesophageal party wall). Cincin-cincin tersebut dihubungkan dengan membrane elastik yang tipis. Pendarahan trakea berasal dari cabang-cabang yang berasal dari a. tyroid superior, a.bronchial dan a. torakalis interna. Aliran limfe melalui kelenjar limfe servikal, trakea dan trakeobronkial. Persarafan simpatik berasal dari cabang-cabang kardial trunkus simpatikus servikal dan n. visceral torak. Serabut parasimpatis berasal dari n. vagus dan n.laryngeus rekuren.2,3 Trakeostomi merupakan tindakan pembukaan dinding anterior leher guna mencapai trakea sebagai jalan pintas untuk bernafas yang bersifat sementara. Trakeostomi dapat dilakukan melalui teknik pembedahan, baik elektif maupun emergensi atau dapat melalui teknik dilatasi perkutaneus.4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Trakeostomi Trakeostomi ialah pembuatan lubang di dinding anterior trakea, untuk mempertahankan jalan nafas. Trakeostomi berasal dari bahasa Yunani, tersebut.1,3 2.2 Anatomi Trakea Trakea merupakan pipa yang terdiri dari tulang rawan dan otot yang dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia. Trakea dapat dibagi 2 yaitu trakea bagian atas (servikal) dan trakea bagian bawah (thorak). Trakea terletak di tengah-tengah leher dan makin ke distal bergeser ke sebelah kanan dan masuk mediastinum di belakang manubrium sterni. Panjang trakea, dari pertemuan laring dan trakea setinggi C6 (kartilago krikoid) sampai bifurkasio aorta setinggi T4, setinggi iga kedua pada prang dewasa dan iga ketiga pada anak-anak. Trakea terdiri dari 15-20 cincin trakea yang berbentuk U, di bagian posterior terdapat jaringan yang merupakan batas dengan esofagus, yang disebut dinding bersama antara trakea dan esofagus (tracheoesophageal party wall). Cincin-cincin tersebut dihubungkan dengan membrane elastik yang tipis.2,3,5 Panjang trakea kira-kira 12 cm pada pria dan 10 cm pada wanita. Diameter antero-posterior rata-rata 13 mm sedangkan diameter transversal rata-rata 18 mm. Cincin trakea paling bawah meluas ke inferior dan posterior diantara bronkus utama kanan dan kiri, membentuk sekat yang lancip di sebelah dalam yang disebut karina.2,3 Mukosa di daerah subglotik merupakan jaringan ikat jarang yang disebut konus elastikus. Keistimewaan jaringan ini bila terangsang mudah terjadi edema dan akan terbentuk jaringan granulasi bila rangsangan berlangsung lama. stome (membuka atau mulut) jadi istilah trakeostomi menunjukkan lubang atau stoma yang dibuat pada trakea dan kulit

Pendarahan trakea berasal dari cabang-cabang yang berasal dari a. tyroid superior, a.bronchial dan a. torakalis interna. Drainase melalui v.tyroid inferior dan dialirkan menuju ke salah satu atau kedau vena brakhiosefalik. Aliran limfe melalui kelenjar limfe servikal, trakea dan trakeobronkial. Persarafan simpatik berasal dari cabang-cabang kardial trunkus simpatikus servikal dan n. visceral torak, serat postganglioniknya ke otot trakea untuk fungsi bronkodilator. Serabut parasimpatis berasal dari n. vagus dan n.laryngeus rekuren., menyebabkan bronkokonstriksi.2,3,5 2.3 Indikasi Trakeostomi Trakeostomi dapat dilakukan untuk tujuan terapi atau sebagai suatu prosedur berencana. Trakesotomi berencana mungkin diperlukan bila diramalkan akan terjadi problema pernafasan pada pasien pascabedah daerah kepala, leher atau toraks atau pasien dengan insufisiensi paru kronik. Indikasi yang jarang ialah pada pasien, yang intubasi orotrakea sulir dilakukan atau tak mungkin dilakukan untuk tujuan anestesi umum. Trakeostomi juga harus dilakukan sebelum tindakan pembedahan tumortumor orofaring atau laring untuk menghindari manipulasi tumor yang tidak perlu.1 Trakeostomi untuk terapi perlu dilakukan pada tiap kasus insufisiensi pernafasan yang disebabkan oleh hipoventilasi alveolus untuk memintas sumbatan, mengeluarkan sekret atau untuk tujuan penggunaan pernafasan buatan secara mekanis.1 Bila mungkin, trakeostomi terapi harus didahului oleh intubasi endotrakea. Walaupun intubasi endotrakea dapat segera memperbaiki gangguan jalan nafas, trakeostomi harus dilakukan bila diperhitungkan perlu perawatan jalan nafas lebih dari 48 jam, karena: 1. Mengeluarkan sekret jauh lebih mudah lewat suatu pipa trakeostomi, dan kemungkinan terjadinya obstruksi pipa lebih kecil. 2. Pasien sangat sulit menelan dengan adanya pipa endotrakea. 3. Membersihkan pipa endotrakea pada posisinya sulit dan untuk mengganti pipa diperlukan laringoskopi berulang.

4. Intubasi lama endolaring menimbulkan ulserasi mukosa yang akhirnya dapat menjadi granuloma, adhesi dan stenosis laring. 5. Trakeostomi kurang menyebabkan reflex batuk, yang mungkin penting pada pasien dengan kelainan saraf dan pascabedah. 6. Dengan trakeostomi pasien yang sadar dapat berbicara.1 Satu-satunya kontraindikasi trakeostomi ialah pasien dengan obstruksi laring oleh tumor ganas, karena pada beberapa kasus, trakeostomi yang dilakukan lebih dari 48 jam sebelum pembedahan definitive, menyebabkan insidens kekambuhan pada stoma bertambah. Pada waktu laringektomi sangat sulit melakukan eksisi luas pada trakeostomi rendah. Oleh karena itu jalan nafas sementar dapat dilakukan dengan mengangkat sebagian tumor secara endoskopi atau melakukan krikotirotomi.1 Indikasi dasar trakeostomi secara garis besar adalah: 1. Pintas (bypass) obstruksi jalan nafas atas 2. Membantu respirasi untuk periode yang lama 3. Membantu bersihan secret dari saluran nafas bawah 4. Proteksi traktus trakeobronkhial pada pasien dengan risiko aspirasi 5. Trakeostomi elektif, misalnya pada pasien operasi bedah kepala leher sehingga memudahkan akses dan fasilitas ventilasi 6. Untuk elektif, misalnya pada operasi bedah kepala leher 7. Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya stenosis subglotis.3 2.4 Penentuan Saat Trakeostomi Pasien yang sadar dan menderita obstruksi saluran nafas bagian atas, biasanya menunjukkan tanda hipoksemia akut, antara lain, denyut nadi dan frekuensi nafas bertambah, gelisah, bingung dan udara yang masuk berkurang. Pada keadaan yang demikian pasien akan kelelahan untuk mempertahankan kadar gas darah yang adekuat sebelum terjadi desaturasi oksigen dalam arteri, yaitu pO2 turun sampai 40 mmHg. Bila terjadi desaturasi, timbul dekompensasi sirkulasi dan pernafasan dengan cepat dan kematian segera terjadi. Oleh karena itu, tanda-tanda desaturasi

seperti sianosis, koma dan hipotensi merupakan tanda insufisiensi lanjut, dan mungkin mendahului resusitasi. Pada umumnya, pasien yang menderita sumbatan jalan nafas dengan tanda hipoksemia yang meningkat, harus dilakukan trakeostomi.1 Pada pasien tak sadar dengan insufisiensi pernafasan, tanda klinis hipoksemia mungkin kurang jelas, tetapi karena kehilangan mekanisme proteksi, maka perlu trakeostomi lebih dini.1 Bila timbulnya insufisiensi pernafasan lambat maka tanda-tanda hipoksemia minimal, dan manifestasi hiperkapnia lebih jelas. Sakit kepala, pusing, berkeringat, dan muka kemerahan merupakan tanda permulaan. Kemudian timbul kedutan, bingung, dan koma. Pada pemberian oksigen, terjadi perbaikan sementara, tetapi memperburuk retensi CO2. Oleh karena itu, dalam keadaan ini pemeriksaan gas darah berulang sangat membantu menentukan perlunya bantuan ventilasi. Pada umumnya bila pasien tidak dapat mempertahankan saturasi O2 sebanyak 85% atau mengurangi pCO2 di bawah 50 mmHg sewaktu menghirup 50% O 2, trakeostomi harus dilakukan.1

DAFTAR PUSTAKA 1. Spector, G.J., Faw, K.D., 2002. Insufisiensi Pernafasan dan Trakeostomi. Dalam: Ballenger, J.J. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher Jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara, 450-461. 2. Kanagasuntheram, R., Sivanandasingham, P., Krishnamurti, A., 1987. Larynx and Trachea. In: Kanagasuntheram, R., Sivanandasingham, P., Krishnamurti, A., Anatomy Regional, Functional and Clinical. Singapore: P G Medical Books, 598. 3. Novialdi, Azani, S., Trakeostomi dan Krikotorotomi. Padang: Bagian Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala-Leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, 1-9. 4. Maisel, R.H., 1997. Trakeostomi. Dalam: Adams, G.L., Boies, L.R., Higler, P.A., BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: EGC, 473-485. 5. Tracheostomy Care Handbook A Guide for the Health Care Provider