Anda di halaman 1dari 51

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sesuai hasil kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terhadap beberapa rencanan kegiatan pembangunan PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) Lapai 1 2 x 200 Kw yang meliputi tahap pra-konstruksi, konstruksi, operasi, dan pasca operasi seperti pembebasan lahan, pengoperasian /pemeliharaan pembangkit yang meliputi pemakaian air dan sistem pengendalian kualitas udara, sistem pengendalian kualitas air, penerimaan tenaga kerja baik pada tahap konstruksi maupun pada tahap operasi, produksi listrik, dan rehabilitasi lahan diketahui telah menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif penting terhadap komponen lingkungan hidup. Dampak negatif penting dari kegiatan pembangunan PLTM Lapai 1 yang akan timbul perlu ditekan atau bahkan kalau mungkin dihilangkan, sedangkan dampak positif penting yang terjadi, perlu dikembangkan. Lebih khusus terhadap dampak negatif penting yang akan timbul, perlu segera disusun program pengelolaan lingkungan. Sehubungan dengan itu, sesuai ketentuan yang berlaku disusunlah Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) ini. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) perlu dilaksanakan demi kepentingan pemrakarsa, dinas/instansi terkait, masyarakat dan kepentingan yang lebih luas dalam rangka menunjang pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ini. Dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan dan bahwa masalah lingkungan adalah tanggung jawab terhadap kepentingan generasi yang akan datang, seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), serta berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, pembangunan PLTM Lapai 1 dengan kapasitas 2x200 KW masuk dalam kriteria perlu dilengkapi dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan & Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL & UPL). Studi UKL dan UPL dititik beratkan pada aspek-aspek sosial ekonomi, budaya dan bio-geo-fisik kimia yang berkaitan dengan rencana kegiatan pembangunan PLTM Lapai 1 2x200 kW. 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari studi UKL & UPL kegiatan rencana pembangunan PLTM Lapai 1 2 x 200 kW adalah untuk mengetahui berbagai dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan arahan langkah pencegahan atau penanggulangannya. Studi UKL & UPL ini adalah bagian dari proses pengelolaan sunber daya alam dengan konsep menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi usaha pembangunan berkelanjutan serta mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dalam tahap perencanaan pembagunan PLTM Lapai 1 2 x 200 kW. 1.2.1 Maksud Studi UKL & UPL a. Menjaga dan mempertahankan keseimbangan komponen lingkungan di wilayah kerja PLTM Lapai 1 dan sekitarnya. b. Sebagai pedoman pengelolaan lingkungan di daerah kegiatan PLTM Lapai 1 dan sekitarnya untuk meningkatkan dampak positif dan mencegah atau menanggulangi dampak negatif yang timbul akibat kegiatan PLTM tersebut.

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Sebagai salah satu acuan dalam menyusun perencanaan, pengelolaan, pengambilan keputusan dalam upaya memelihara kemampuan daya dukung sumber daya alam dan lingkungan hidup, terutama lingkungan di daerah kegiatan sekitar proyek d. Mewujudkan kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan, sehingga mutu lingkungan hidup tetap terjaga meskipun adanya kegiatan pembangunan PLTM Lapai 1 2x200 KW 1.2.2 Tujuan Studi UKL & UPL a. Sebagai langkah tindak operasional dalam upaya pencegahan, penanggulangan dan pengendalian dampak negatif serta pengembangan dampak positif yang telah dan akan timbul akibat kegiatan PLTM Lapai 1. b. Sebagai pedoman pengelolaan lingkungan di wilayah kegiatan PLTM Lapai 1 sehingga kegiatan produksi listrik dapat dilakukan secara optimal dengan tetap menjaga daya dukung lingkungan. c. Memberikan arahan bagi pelaksanaan pemantauan lingkungan berupa komponen lingkungan yang wajib dipantau, lokasi pemantauan, metode/peralatan yang digunakan serta frekuensi dan waktu pemantauan. d. Memantau kualitas atau perubahan komponen dan parameter lingkungan yang diprakirakan akan timbul selama kegiatan maupun rencana kegiatan. e. Sebagai umpan balik bagi Pemrakarsa untuk penyempurnaan program pengelolaan yang telah dilakukan sesuai dengan hasil dan rekomendasi pemantauan. 1.3 Kegunaan Pengelolaan Lingkungan Menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah kegiatan PLTM Lapai 1 melalui pengelolaan dampak negatif maupun positif penting dengan meminimalkan atau menghindari dampak negatif dan meningkatkan dampak positif yang memberikan manfaat lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak postif tersebut. 1.3.1 Kepentingan pemrakarsa a. Menjaga pelaksaan operasi PLTM Lapai 1 agar dapat sesuai dengan harapan yaitu tepat sasaran dan waktu yang telah dijadwalkan. b. Menjaga dan memelihara agar segenap tatanan lingkungan tetap berada dalam keseimbangan, daya dukung lingkungan sekitar kegiatan tetap lestari serta hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat terkena dampak kegiatan. 1.3.2 Kepentingan instansi terkait maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan Menjamin terpeliharanya hubungan sosial antara pelaku pembangunan dengan masyarakat lokal dan regional serta tetap tercipta situasi yang aman dan tertib, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya keresahan masyarakat dan konflik sosial. 1.3.3 Kepentingan yang lebih luas dalam rangka menunjang pembangunan a. Sebagai bahan informasi untuk penyusuanan program pengelolaan lingkungan yang sejenis di dalam skala pembangunan besar. b. Untuk mengetahui secara pasti tentang tanggung jawab dan wewenang dari program pengelolaan lingkungan.

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

1.4 Unsur Lingkungan yang Sensitif a. Unsur lingkungan yang sensitif terhadap kegiatan PLTM Lapai 1 meliputi kelompok masyarakat desa yang berada disekitar kegiatan PLTM Lapai 1 (Ring I) yaitu di Kabupaten Kolaka Utara yang meliputi kecamatan Lasusua dan Wotunuhu b. Lingkungan budidaya dan ekosistem hutan sekunder wilayah Ring I dalam kaitannya sebagai areal tempat pembangunan PLTM Lapai 1 c. Lingkungan ekosistem penerima limbah kegiatan, baik udara dan kebisingan, air maupun ruang, tanah dan lahan, flora dan fauna serta biota perairan sebagai mahluk hidup di dalamnya. 1.5 Ringkasan Evaluasi Dampak Penting Rencana pelaksanaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) berdasarkan studi analisa dampak lingkungan yang telah dilakukan, akan memiliki dampak positif dan dampak negatif penting terhadap kondisi lingkungan geofisik-kimia, biologi dan aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Secara singkat dampak positif dan negatif penting dari pelaksanaan proyek PLTM ini adalah sebagai berikut : 1.5.1 Aspek geofisik-kimia Aspek geofisik-kimia yang akan terkena dampak negatif penting pada tahap operasi yaitu ketika pengoperasian dan pemeliharaan PLTM antara lain gangguan kualitas air, kebisingan, kualitas air tanah, ruang, lahan dan tanah. Sementara dampak positif penting pada tahap pasca operasi yaitu pada kegiatan rehabilitasi lahan yang akan terkena dampak positif penting adalah ruang, tanah dan lahan, sedangkan pada kegiatan penyimpanan bahan-bahan kimia bekas adalah kualitas air, hidrologi dan air tanah serta ruang, lahan dan tanah. 1.5.2 Aspek biologi Aspek biologi yang akan terkena dampak negatif penting adalah biota perairan pada kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM yaitu pada tahap operasi. Dampak positif penting dari kegiatan rehabilitasi lahan pada tahap pasca operasi adalah flora dan fauna dan biota perairan. 1.5.3 Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat merupakan yang paling banyak terkena dampak positif penting dati kegiatan PLTM mulai dari tahap konstruksi, operasi sampai pasca operasi. Pada tahap pra-konstruksi, dampak negatif penting yaitu pada waktu kegiatan pembebasan lahan. Kegiatan ini akan menimbulkan hilangnya kesempatan kerja dan mata pencaharian penduduk serta akan menimbulkan persepsi masyarakat yang negatif. Dampak positif penting pada tahap konstruksi yaitu pada saat melakukan kegiatan penerimaan tenaga kerja, pembangunan bangunan utama dan sarana pendukung. Kegiatan ini akan berdampak positif penting pada peluang kesempatan dalam mencari kerja, peningkatan penghasilan dan aktifitas ekonomi masyarakat semakin membaik. Sementara dampak negatif penting pada tahap konstruksi pada kegiatan pengurangan tenaga kerja. Hal ini akan berpengaruh penting pada pendapatan dan mata pencaharian penduduk di sekitar pembangunan PLTM. Pada tahap operasi akan banyak memberikan dampak postif penting pada aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat yairu : ketika melakukan kegiatan penerimaan tenaga kerja, pengoperasian dan pemeliharaan PLTM, pengadaan utilitas dan produksi listrik. Kegiatan ini akan memberikan dampak bagi peningkatan pendapatan dan akitiftas ekonomi sehingga akan dapat menopang hidup bagi upaya meningktakan kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik. Adapun dampak negatif penting proyek ini pada aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat adalah kegiatan pengurangan lapangan pekerjaan. Keresahan sosial yang timbul di masyarakat juga akan menjadi dampak negatif pada waktu penerimaan tenaga kerja, jika dalam
Issued/date : 3 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

pelaksanaannya tidak banyak anggota masyarakat desa sekitar lokasi proyek yang tidak terserap atau diterima. Sedangkan gangguan kesehatan masyarakat menjadi dampak negatif penting karena efek yang ditimbulkan dari pembangunan proyek ini,jika peralatan dalam upaya menanggulangi dampak negatif pada waktu pengoperasian dan pemeliharaan PLTM mengalami penurunan kemampuannya atau mengalami kerusakan. Kegiatan pelepasan tenaga kerja pada tahap pasca proyek juga menjadi dampak negatif penting, karena akan mempengaruhi kondisi ekonomi anggota masyakat sekitarnya. 1.6 Landasan Hukum Peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai landasan penyusunan UKL & UPL adalah sebagai berikut : 1) Undang-Undang No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang 2) Undang-Undang No.20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan 3) Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 4) Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5) Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup 6) Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi 7) Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Kualitas Air 8) Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik 9) Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2006 tentang Penata Gunaan Lahan 10) Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung 11) Peraturan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih 12) Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL 13) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Daya Tidak Bergerak bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal 14) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.1457K/28/MEN/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan di Bidang Pertambangan dan Energi 15) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB II RENCANA KEGIATAN


2.1 2.1.1 IDENTITAS PEMRAKARSA DAN PENYUSUNAN STUDI Identitas Pemrakarsa Nama Perusahaan Penanggung Jawab Jabatan Alamat Kantor 2.1.2 Nama Perusahaan Penanggung Jawab Jabatan Alamat Kantor 2.2 ` : PT. PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua : : GM. PT. PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua : Jl. Let.Jend. Hertasning Panakkukang, Makassar : PT. JAYA CM : Ir. Bambang Santoso : Presiden Direktur : Taman Perkantoran Blok B Jl. Bintaro Jaya, Jakarta Identitas Penyusun Studi UKL dan UPL

MAKSUD DAN TUJUAN PEMBANGUNAN PLTM

Maksud dari kegiatan pekerjaan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di sekitar lokasi, khususnya di Kabupaten Kolaka Utara . 2.3 2.3.1 DESKRIPSI KEGIATAN PLTM Lokasi Rencana Kegiatan

Rencana pembangunan PLTM Lapai 1 2 x 200 kW berada di aliran sungai Wotunuhu, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara, Propinsi Sulawesi Tenggara. 2.3.2 Jalan Akses Menuju Lokasi Proyek Adapun lokasi proyek di Kecamatan Ngapa ini dapat dicapai dari Makassar melalui beberapa alternative route : Tabel II 1a : Pencapaian Lokasi Alternatif 1 Ruas Makassar Pomalaa (Bandara Sangia Nibandera) Pomalaa Desa Lapai (via Kolaka, Lasusua) Desa Lapai Lokasi Proyek Moda Pesawat terbang penerbangan) Mobil Sepeda motor, jalan kaki (2 kali Jarak / waktu tempuh 45 menit 268 km / 8 jam 11 km / 1 2 jam

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Tabel II 1b : Pencapaian Lokasi Alternatif II Ruas Makassar Siwa (Bajoe) Mobil Moda Jarak / waktu tempuh 4 jam 2,5 (kapal cepat) atau 3,5 jam (kapal ro-ro) 68 km / 1,5 jam 11 km / 1 2 jam

Siwa Pelabuhan Tobaku Kapal cepat atau Kapal Ro-ro (Lasusua) Lasusua Desa Lapai Desa Lapai Lokasi Proyek 2.3.3 Jadwal Pekerjaan Mobil Sepeda motor, jalan kaki

Pelaksanaan pembangunan PLTM secara garis besar terdiri dari persiapan, pembangunan PLTM, komisioning dan operasi. Rincian waktu kegiatan pembangunan PLTM adalah sebagai berikut : a)Persiapan Kegiatan persiapan terdiri dari beberapa aktifitas diantaranya engineering preparation, meliputi studi kelayakan, membendung sungai, studi UKL & UPL. Pada tahapan persiapan ini waktu yang dibutuhkan sekitar 6 (enam) bulan. b) Pembangunan PLTM Lama pelaksanaan pembangunan PLTM diperkirakan akan memakan waktu sekitar 21 (dua puluh satu) bulan, yang meliputi pekerjaan engineering, pengadaan, dan konstruksi c)Komisioning Kegiatan komisioning merupakan tahap ujicoba pembangkit yang telah selesai dibangun sebelum beroperasi secara komersial. Pelaksanaan komisioning akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan. d) Operasi Komersial Setelah dilakukan uji coba (komisioning) selama 2 (dua) bulan, kegiatan selanjutnya adalah operasi komersial yang diperkirakan akhir tahun 2011. 2.3.4 Rencana Pelaksana Pembangunan Pada penyusunan estimasi biaya langsung masih dianggap ada dua kemungkinan implementasi proyek yaitu model kontrak paket pekerjaan dilaksanakan oleh konsorsium kontraktor lokal dan asing, atau model pelaksanaan proyek Engineering Procurement Construstion (EPC). Dilaksanakan oleh Konsorsium Kontraktor Dengan model ini proyek dibagi-bagi dalam formasi paket-paket pekerjaan seperti yang sudah biasa dilakukan oleh PT. PLN (Persero) dahulu. Setiap paket pekerjaan harus juga melalui tahaptahap enjiniring, pengadaan (fabrikasi dan suplai peralatan/bahan), konstruksi, dan komisioning sehingga dapat juga disebut kontrak EPC (engineering procurement construction). 2.3.5 Jadwal Konstruksi Pada prinsipnya jadwal konstruksi pada studi kelayakan ini memberikan indikasi perkiraan waktu pelaksanaaan pekerjaan dan durasi daripada tahap-tahap utama implementasi proyek. Tahap-tahap utama implementasi proyek adalah :

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

2.3.6

Tahap Penyiapan Pembiayaan Tahap Pembebasan Lahan Tahap Pra-Konstruksi Tahap Konstruksi Jasa Enjiniring Ketersediaan Lahan

Lahan untuk keperluan pembangunan PLTM Lapai 1 ( 2 x 2000 kW ) secara garis besar akan menempati area seluastidak termasuk ash disposal area yang terpisah dengan perincian : Area 1 merupakan soil improvement area seluas .. Area 2 merupakan reclamation area seluas Area 3 merupakan fly over area seluas.

2.3.7 Ketersediaan Air Sumber air utama untuk PLTM Lapai 1 diambil dari aliran Sungai Watunohu. Besarnya daya yang dibangkitkan oleh sistim turbin sangat bergantung pada debit aliran sungai dan beda tinggi antara hulu dan hilir (head). Ketersediaan energi pada Sungai Watunohu diperkirakan akan mencukupoi sepanjang tahun sehingga PLTM Lapai 1 dapat beroperasi dengan baik sepanjang tahun. Data tentang sumber sumber energi didapat dengan melakukan survey dan penelitian dilapangan disertai data-data pendukung yang didapat dari Stasiun Meteorogi terdekat. 2.3.8 Status Kegiatan Proyek Status kegiatan PLTM Lapai 1 ( 2 x 2000 kW ) pada saat ini sedang dalam studi kelayakan baik dari segi teknis, ekonomis maupun lingkungan. Penyusunan studi UKL dan UPL ini termasuk untuk menilai kelayakan rencana pembangunan pembangkit dari segi lingkungan.

2.4 Tahap Pembangunan PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW) 2.4.1 Tahap Pra Konstruksi

1). Survai Pada tahap konstruksi akan dilakukan kegiatan survey. Daerah yang akan dijadikan lokasi proyek PLTM ini sebagian besar merupakan daerah dataran perbukitan dengan aliran sungai yang cukup besar. Sungai tersebut pada umumnya memiliki potensi yang dapat dijadikan sumber tenaga dan alirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Dipandang dari sudut oceanografi sungai ini memiliki perairan yang sangat luas tetapi masih belum begitu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. 2). Pengadaan Lahan Lahan rencana proyek akan dihitung luasannya pada survey topografi dan akan diidentifikasi kepemilikannya serta pengalihan hak atas tanah yang akan digunakan untuk PLTM.

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

2.4.2 Tahap Konstruksi 1). Penerimaan Tenaga Kerja Dalam pelaksanan kegiatan tahap kosntruksi akana da penerimaantenaga kerja. Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam tahap ini adalah tenaga kerja kasar. Dengan demikian kegiatan penerimaan tenaga kerja ini akan menimbulkan dampak besar dan penting bagi anggota masyarakat sekitar lokasi proyek karena akan terbuka peluang kesempatan kerja dan usaha meningkatkan penghasilan. Mereka akan memiliki kesempatan yang besar untuk bekerja dan memperoleh penghasilan, sehingga kondisi kesejahteraannya akan meningkat kea rah yang lebih baik. Kegiatan penerimaan tenaga kerja ini akan menyebabkan banyaknya penduduk pendatang di desa desa sekitar wilayah proyek PLTM, terutama tenaga kerja yang telah memiliki keterampilan tertentu atau yang telah berpengalaman sehingga akan terjadi interaksi social diantara mereka. Kedatangan para pekerja dari luar desa selain akan terjadi pertukaran keterampilan, juga menjadi peluang peningkatan usaha bagi masyarakat local dalam penyediaan kebutuhan sehari hari seperti makanan, minuman dan penyewaan tempat tinggal sehingga akan meningkatkan pendapatannya. 2). Mobilisasi Peralatan Sebagian besar dari alat, mesin dan material dibawa dari Makasar dengan melalui jalan nasional. Pada umumnya jalan jalan di daerah Makasar masih mampu dilalui oleh kendaraan berat, hal ini terlihat dari telah dibangunnya beberapa industri di sekitar Kolaka Utara. Beberapa alat-alat berat umum yang dipergunakan untuk pekerjaan sipil diantaranya adalah sebagai berikut : Buldoser, Excavator Truk dan Dump Truk Sheeps foot compactor Backhoe loader Motorgrader, Trailler

Concrete mixer dan Crane ( crawler dan rough terrain 2.4.3 Tahap Operasi Tahap pengoperasian PLTU Lapai 1 ( 2 x 2000 kW) meliputi pembangkitan tenaga listrik dan pemeliharaan PLTM. Pengoperasian PLTM Dalam pengoperasian PLTM akan melibatkan komponen-komponen kegiatan sebagai berikut : a) Penerimaan Tenaga Kerja Kegiatan pengoperasian pembangkit PLTM akan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 30 orang. b) Perencanaan Pembangkit Mesin yang digunakan untuk PLTM Lapai 1 ( 2 x 200 kW ) terdiri dari peralatan , turbin, penstock, gate, generator, transformer.

Issued/date :

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL


3.1 Fisik Kimia Komponen fisika kimia yang dibahas meliputi komponen iklim, kualitas udara dan kebisingan, fisiografi dan geologi, hidrologi dan kualitas air serta ruang, lahan dan tanah 3.1.1 Iklim Wilayah daratan Kabupaten Kolaka mempunyai ketinggian umumnya dibawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar daerah khatulistiwa maka daerah ini beriklim tropis. Suhu udara minimum sekitar 10 C dan maksimum 31 C atau rata-rata antara 24 C - 28 C. Data iklim yang akan dikumpulkan berupa temperatur maksimum dan minimum, kelembaban udara, jumlah hari hujan, curah hujan, lama penyinaran matahari, arah angina dan kecepatan angina. Data ini dikumpulkan dari dokumentasi iklim Stasiun Klimatologi Pomalaa yang merupakan stasiun terdekat dari lokasi proyek serta observasi langsung di lokasi dan sekitar proyek PLTM Lapai 1. Tahap tahap pelaksanaan pekerjaan fisik dapat direncanakan sedemikian rupa sehingga unsur unsur alam tidak mengakibatkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan fisik. Informasi tentang arah dan kecepatan angin digunakan untuk merencanakan tata letak bangunan bangunan PLTM, misalnya penempatan cerobong asap supaya asap yang keluar tidak menyebabkan polusi udara pada penduduk yang tinggal di lingkungan sekitar proyek. a. Curah Hujan Curah hujan tertinggi terjadi dalam bulan April ( 274,00 mm ) dan yang terendah dalam bulan Agustus ( 80,00 mm ). Dari awal tahun curah hujan meningkat mencapai maksimum pada bulan April, kemudian berkurang dan mencapai minimum pada bulan Agustus, kemudian meningkat lagi dari bulan Oktober sampai Desember. Secara umum, musim hujan dimulai pada bulan Oktober dan bewrakhir pada bulan Mei, sedangkan musim kemarau dimulai bulan Juni dan berakhir pada bulan September. Dalam periode pengamatan, tahun 2004 dan 2006 tercatat sebagai tahun kering, sedangkan tahun 2005 dan 2010 tercatat sebagai tahun basah. Curah hujan tahunan rerata adalah sebesar 2013 mm/tahun. Data curah hujan yang diperoleh ditampilkan dalam table 3.1 sebagai berikut.
RAINFALL INTENSITY DATA ON MONTHLY RECORD Station : Pomalaa Meteorological Station o 04 : 10' : 30" S Latitude : o 121 : 36' : 0" E Longitude : Rainfall Intensity, in mm Elevation : EL 5.000 Jul Aug Sep Oct Nov Dec Sum Year Jan Feb Mar Apr May Jun 2001 197 122 128 371 170 144 27 32 76 106 185 142 1,699 2002 254 222 198 325 348 148 29 TTU 23 23 151 366 2,086 2003 369 152 205 182 255 135 183 114 38 132 115 275 2,154 2004 104 221 193 384 182 47 28 0 16 12 134 161 1,482 2005 246 128 383 422 190 114 170 51 2 329 73 241 2,349 2006 114 276 154 178 382 191 25 27 11 0 121 111 1,589 2007 133 185 152 275 135 208 72 28 47 145 293 221 1,894 2008 133 67 270 197 159 155 77 169 167 203 327 93 2,015 2009 106 161 192 217 271 69 155 23 2 109 220 244 1,768 2010 139 221 225 185 287 304 278 273 470 350 314 259 3,304 Ave 179 176 210 274 238 151 104 80 85 141 193 211

Sumber : BMG, Stasiun Meteorologi Pomalaa b. Suhu Udara Suhu udara tertinggi terjadi dalam bulan Oktober ( 28,4 C) dan yang terendah dalam bulan Juli ( 26,8 C ). Dari awal tahun, suhu udara rerata berfluktuasi antara tinggi dan
Issued/date : 9 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

rendah sampai bulan September kemudian meningkat mencapai maksimumdalam bulan Oktober lalu berkurang pada bulan Desember. Data suhu udara yang diperoleh ditampilkan dalam table 3.2 berikut.
AVERAGE TEMPERATURE DATA ON MONTHLY RECORD Station : Pomalaa Meteorological Station o 04 : 10' : 30" S Latitude : o 121 : 36' : 0" E Longitude : Elevation : EL 5.000 Year Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Ave 2001 27.7 28.3 27.8 27.4 27.9 26.8 27.1 27.3 27.6 28.6 27.8 28.1 27.7 2002 27.4 27.8 27.8 27.7 27.8 26.9 27.6 27.5 28.1 28.9 29.1 28.5 27.9 2003 28.2 28.1 27.7 28.1 27.8 27.6 26.4 27.1 27.9 28.6 28.8 27.7 27.8 2004 27.9 27.8 28.3 27.7 27.7 26.9 26.9 27.0 28.2 28.5 28.5 28.4 27.8 2005 28.1 27.7 27.9 27.5 27.6 27.8 27.0 27.4 28.1 27.8 28.2 28.1 27.8 2006 28.3 28.0 28.1 27.9 27.4 27.2 27.1 26.9 27.4 28.2 28.8 28.7 27.8 2007 29.1 27.7 27.9 27.4 27.8 26.9 26.9 26.7 27.1 28.1 27.7 28.3 27.6 2008 28.0 28.2 27.1 26.8 27.0 28.9 26.1 25.9 26.5 27.8 28.0 28.2 27.4 2009 28.2 28.2 27.7 27.6 27.6 27.3 26.5 27.6 28.4 28.8 28.8 28.5 27.9 2010 28.8 28.5 28.5 28.8 28.0 27.0 26.7 26.8 27.3 28.4 28.1 28.5 27.9 Ave 28.2 28.0 27.9 27.7 27.7 27.3 26.8 27.0 27.6 28.4 28.4 28.3 27.8

Sumber : BMG, Stasiun Meteorologi Pomalaa c. Kelembaban Relatif d. Kecepatan Angin 3.1.2 Geologi Pada studi ini, tidak dilakukan pemetaan topografi. Data yang relevan dengan lokasi proyek adalah Peta Geologi Bersistem Indonesia skala 1 : 250,000. kecamatan Ngapa terletak di Kabupaten Kolaka Utara berbatasan dengan Kabupaten Luwu Timur ( Provinsi Sulawesi Selatan ) di sebelah utara, di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Uluwoi Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe Utara ( Provinsi Sulawesi Tenggara ), di sebelah barat berbatasan dengan Pantai Timur Teluk Bone dan di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka ( Provinsi Sulawesi Tenggara ). Lokasi PLTM Lapai 1 terletak di aliran Sungai Watunohu Kecamatan Ngapa. Berdasarkan himpunan batuan dan pencirinya, geologi Pra-Tersier di Lembar Lasusua-Kendari dapat dibedakan dalam dua Lajur Geologi ; yaitu Lajur Tinondo dan Lajur Hialu. Batuan yang terdapat di Lajur Tinondo yang merupakan batuan atas adalah Batuan Malihan Paleozoikum ( Pzm ) dan diduga berumur karbon, terdiri dari sekis mika, sekis kuarsa, sekis klorit, sekis mika grafit, batusabak dan genes, sedangkan batuan yang terdapat di Lajur Hialu adalah batuan ofiolil ( Ku) yang terdiri dari peridotit, harsburgil, dunit dan serpentinit. 3.1.3 Tanah, Ruang dan Lahan Kawasan rencana pembangunan proyek PLTM Lapai 1 ( 2 x 2000 Kw ) termasuk kedalam kawasan Kolaka Utara. Daerah proyek PLTM termasuk dalam kategori HL (hutan lindung). Ketetapan sebagai hutan lindung dikukuhkan kembali melalui SK. Menhut 454/Kpts-II/1999 tanggal 17 Juni 1999 tentang Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Sulawesi Tenggara skala 1 : 750.000. Berdasarkan pengamatan lapangan, sebagian besar daerah studi merupakan daerah perbukitan terjal dekat pantai yang menghadap Teluk Bone, lahan sekitar lokasi proyek dan daerah tangkapan sungai merupakan lahan dengan penutup vegetasi sebagian besar tanaman coklat, sedikit tanaman cengkeh dan hutan dengan kerapatan sedang.

Issued/date :

10

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Berdasarkan peta topografi skala 1 : 50,000 dan pengamatan lapangan selama kunjungan lapangan pada 02 06 Februari 2011, sebagian besar daerah studi merupakan daerah perbukitan terjal dekat pantai yang menghadap Teluk Bone. Pada jarak antara 8.00 ~ 10.00 km dari pantai elevasi permukaan tanah adalah + 400.00 ~ + 600.00 meter. Sehingga kemiringan lahan rata-rata berkisar antara 5% ~ 6%. Namun demikian kemiringan dasar Sungai Watunohu sepanjang 6.00 km dari pantai (Desa Lapai) tidak lebih dari 1.4%, lebih naik ke arah hulu sampai jarak kurang lebih 9.00 km ~ 10.00 km dari pantai maka kemiringan dasar sungai mencapai 4.0% ~ 6%. 3.2 Biologi 3.2.1 Flora Berdasarkan hasil pengamatan serta identifikasi oleh tim studi, kondisi proyek masih banyak ditumbuhi oleh jenis-jenis tumbuhan, tumbuhan cengkeh dan coklat masih ditemukan dalam kerapatan sedang di lokasi tapak proyek. Beberapa tumbuhan selain tumbuhan diatas terdapat tumbuhan semak yaitu Alang-alang ( imperata cylindrica ), Bandotan ( Ageratum conyzoides ), Teki badotan ( Kyllinga monocephala ), Teki air ( Cyperus tenuispica ), Teki halia ( Cyperus rotundus ). Sementara itu untuk areal diluar tapak proyek/disekitar proyek ditemukan beberapa jenis tumbuhan antara lain kelapa ( Cocos nucifera ), Petai cina ( Leaucaena glauca ), Pisang ( Musa paradisiacal ), Nangka ( Arthocarpus integra ), Bunga Kertas ( Bougainvillea sp ), Pepaya ( Carica papaya ). 3.2.2 Fauna Berdasarkan hasil pengamatan oleh tim studi di lapangan secara langsung maupun hasil wawancara dengan penduduk desa terdekat, maka dapat dikelompokan satwa atau fauna darat menjadi satwa ternak ( satwa domestic ) dan satwa liar. Satwa domestik diusahakan oleh masyarakat pada umumnya didasarkan pada nilai ekonomisnya, yakni kelompok unggas seperti ayam, bebek dan angsa serta kelompok mamalia seperti kambing, kerbau dan sapi. Jenis-jenis satwa liar dapat diidentifikasikan berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan terhadap habitat maupun perjumpaanserta didasarkan pada informasi dari masyarakat yang mengenal kondisi wilayah sekitar proyek pembangunan PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW).

Issued/date :

11

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Tabel III - 3 Hasil Inventarisasi Satwa Liar di Sekitar PLTM Lapai 1 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAMA LOKAL Kodok Kadal Kura-kura Ular Sendok Perkutut Pipit Putih Elang Merah Pelatuk Tikus Tanah Musang NAMA ILMIAH Bufo melanoctictus Mabouya multifasciata Testudo elegans Naja sputatrix Geopelia atriata Lonchura striata Aqulia chrysaetos Dryocopus janensis Rattus rattus Mustella hamakeri KELOMPOK Amphibia Amphibia Reptilia Reptilia Aves Aves Aves Aves Mamalia Mamalia STATUS SATWA TDL TDL TDL TDL TDL TDL TDL TDL TDL TDL TDL

Sumber : Observasi Lapangan Ket: TDL = Tidak Dilindungi 3.2.3 Biota Air Plankton Plankton secara garis besar dibedakan atas dua kelompok, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan plankton yang bersifat produsen karena bersifat autotreof, yakni berkemampuan mengolah makanan dari bahan-bahan anorganik menjadi bahan-bahan organic melalui energi surya. Sedangkan zooplankton memanfaatkan bahanbahan organik yang diproduksi oleh fitoplankton, sehingga kedua kelompok tersebut saling tergantung. Zooplankton memanfaatkan fitoplankton sebagai sumber energinya, kepadatan populasinya di alam menjadi seimbang, sehingga tidak terjadi blooming populasi Benthos Komunitas benthos sebagai organisme penghuni dasar perairan memainkan suatu peran penting dalam memanfaatkan bahan-bahan organik yang hanyut di dasar badan air. Jenisjenis benthos pada perairan di areal rencana pembangunan PLTM Lapai 1 diantaranya

Issued/date :

12

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Mollusca ( Bilvalvia, Gastropoda, Scaphopoda ), Annelida ( Polychaeta, Sipunculidae ) dan Protozoa ( Foraminifera ). Secara keseluruhan pada perairan studi terdapat paling sedikit sebanyak 7 sampai 8 spesies organisme benthos dengan kelimpahan berkisar 9 sampi 50 individu per liter substrat dasar air. Indeks pada perairan ini menunjukan bahwa perairan tersebut tergolong belum tercemar berat. 3.3 Sosial Ekonomi dan Budaya 3.3.1 Jumlah Penduduk Penduduk Kabupaten Kolaka Utara berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2005 berjumlah 93,427 jiwa. Tahun 2006 penduduk Kabupaten Kolaka Utara bertambah menjadi 94,190 jiwa atau meningkat 0.82 %. Pada tahun 2007 penduduk Kabupaten Kolaka Utarabertambah menjadi 94,497 jiwa atau meningkat sebesar 0.33%, pada tahun 2008 jumlah penduduk Kabupaten Kolaka Utara bertambah menjadi 111,418 jiwa atau meningkat 17.91%. Selanjutnya pada tahun 2009 jumlah penduduk Kabupaten Kolaka Utara meningkat lagi sebesar 6.25 % menjadi 118,836 jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Kolaka Utara pada tahun 2006 adalah 28 jiwa / km. Sedangkan pada tahun 2007 kepadatan penduduk tidak terjadi peningkatan. Pada tahun 2008 kepadatan penduduk mencapai 33 jiwa / km atau baru terjadi peningkatan. tahun 2009 kepadatan penduduk mencapai 35 jiwa / km. Dari 15 kecamatan, Kecamatan Ngapa merupakan satu-satunya kecamatan yang memiliki kepadatan diatas 100 jiwa /km yaitu 112 jiwa/km. Kecamatan yang memiliki kepadatan diatas 50 jiwa/km2 adalah Kecamatan Lasusua yaitu 58 jiwa /km, Kecamatan Katoi 69 jiwa/km, Kecamatan Tiwu 55 jiwa/km, Kecamatan Wotunuhu yaitu sebesar 53 jiwa/km. Untuk Kecamatan lainnya yaitu Ranteangin. Wawo, Lambai, Kodeoha, Pakue, Pakue Tengah, Pakue Utara, Batu Putih, Porehu, dan Tolala kepadatannya di bawah 50 jiwa/km.

Issued/date :

13

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Berikut adalah table yang menyajikan kepadatan penduduk Kabupaten Kolaka Utara Tabel III 4: Kepadatan Penduduk Kolaka Utara Tahun 2008
Kotamadya/Kabupaten Luas Area km2 TABEL 3. KEPADATAN PENDUDUK KOLAKA UTARA TAHUN 2008 Populasi orang

Ranteangin 18,992 4,635 Lambai 23,499 5,122 Wawo 16,274 4,926 Lasusua 28,767 15,838 Katoi 8,264 5,565 Kodeoha 25,049 10,459 Tiwu 8,192 4,253 Ngapa 14,918 15,027 Watunohu 10,999 5,796 Pakue 31,325 8,865 Pakue Utara 19,182 6,401 Pakue Tengah 13,125 5,965 Batu Putih 37,495 7,662 Porehu 64,723 7,221 Tolala 18,358 3,683 Jumlah Kolaka Utara 2008 339,162 111,418 Sumber : Statistik Kabupaten Kolaka Utara Dalam Angka 2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

3.3.2 Tingkat Pendidikan, Mata Pencaharian dan Pendapatan Masyarakat Pelaksanaan pendidikan di Kabupaten Kolaka Utara selama ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah murid dan guru pada tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) maupun di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada tahun ajaran 2009/2010, jumlah sekolah menurun sebesar 6.85 %, jumlah Guru menurun sebesar 20.70 % dan jumlah murid menurun sebesar 11.49%. Ditinjau dari aspek geografis mata pencaharian penduduk Kabupaten Kolaka Utara adalah bertani. Dari 58, 169 orang status bekerja, ternyata yang bekerja di sector pertanian sebesar 73.94 %. Setelah sector pertanian kemudian menyusul sector perdagangan sebesar 11.60 %, lalu setelah itu sector jasa jasa 8.04 %, dan sisanya terdistribusi ke dalam enam sector lainnya. Hal ini dapat dilihat pada table berikut ini :

Issued/date :

14

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Tabel III 5: Mata Pencaharian Penduduk Tahun 2006, 2007


Lapangan Pekerjaan 1 2

TABEL 7. MATA PENCAHARIAN PENDUDUK TAHUN 2006, 2007 Tahun 2006 2007 26,472 38,949 209 238

Pertanian / Agriculture Pertambangan/Penggalian Mining/ Quarying 3 Industri Pengolahan / Manufacturing 1,098 1,248 4 Listrik Gas dan Air Minum 54 61 Electricity Gas Water Supply 5 Bangunan / Construction 294 334 6 Perdagangan / Trade 11,148 12,673 7 Angkutan /Komunikasi 1,209 1,375 Transportation / Communication 8 Keuangan / Finance 100 114 9 Jasa-Jasa / Service 1,842 2,904 Jumlah 42,426 57,896 Sumber : Statistik Kabupaten Kolaka Utara Dalam Angka Tahun 2009

Sumber pendapatan utama Kabupaten ini adalah perkebunan kakao, kelapa dan cengkeh. Sekitar 80 % penduduk Kabupaten ini bergantung pada perkebunan untuk memenuhi kebutuhan hidup. PDRB Kabupaten Kolaka Utara atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2005 adalah sebesar Rp. 653. 102,42 ; juta dan apabila dibandingkan dengan angka PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara padea tahun yang sama dengan jumlah sebesar Rp. 8.026.856,22 ; juta sehingga menunjukan bahwa peranan Kabupaten Kolaka Utara terhadap Provinsi tersebut sebesar 8, 14 %. Berdasarkan harga berlaku PDRB perkapita Kabupaten Kolaka Utara tahun 2004 Rp. 9.398.723,48; meningkat menjadi Rp. 10.462.021,81; tahun 2005 atau sebesar 11,31 %. 3.3.3. Adat Istiadat dan Persepsi Masyarakat Penduduk Kecamatan Ngapa menurut Kades Lapai, sekitar 80 persen penduduk tersebut adalah pendatang dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan, sedangkan sisanya sekitar 20 persen merupakan penduduk asli yaitu etnis Tolaki / Mekongga. Bahasa keseharian yang menjadi bahasa pengantar sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Tolaki atau Bugis. Dengan demikian ikatan kesukuan masih ada namun tidak terlalu kuat karena adapt istiadat masyarakat sudah berbaur antar berbagai suku yang ada. Berdasarkan informasi, tanggapan penduduk terhadap rencana pembangunan PLTM Lapai 1 di Kecamatan Ngapa sebagian besar menyetujui, sedangkan sisanya ada beberapa persen yang tidak berkomentar karena kurangnya pemahaman mengenai manfaat dan kemungkinan dampak yang mungkin terjadi jika tanggapan dan harapan belum ada. 3.3.4 Kesehatan Masyarakat Di Kecamatan Ngapa telah cukup tersedia fasilitas kesehatan, pelayanan medis telah dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang ada di kecamatan ini terdiri dari Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Poliklinik, Klinik Bersalin, Dokter Umum, Bidan, Mantri dan Dukun Beranak. Tenaga kesehatan pada tahun 2004 sebanyak 320 orang dan pada tahun 2005 naik menjadi 906 orang, sehingga tenaga kesehatan yang tersebar sudah cukup memadai untuk menangani pasien yang ada. Menurut

Issued/date :

15

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

Kadis Kesehatan Kolaka Utara, sejak tahun 2004 pemerintah Kabupaten Kolaka Utara mengeluarkan kebijakan untuk meringankan beban masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dengan bentuk pemberian pelayanan kesehatan gratis pada masyarakat di seluruh Puskesmas yang ada di Kolaka Utara. Hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa masyarakat umumnya cukup memperhatikan masalah kesehatan. Sebagian besar responden mendapatkan air bersih untuk keperluan air minum dan masak. Penggunaan air untuk jamban keluarga ( WC ) sudah cukup baik, dengan banyaknya WC yang dibangun di rumah-rumah penduduk.

Issued/date :

16

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB IV DAMPAK LINGKUNGAN YANG MUNGKIN TERJADI


Dari uraian kegiatan yang akan direncanakan dalam rangka pembangunan PLTM Lapai 1 (2x200 Kw), dari mulai tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca operasi yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan dapat dikategorikan menjadi 3 bagian yaitu dampak terhadap lingkungan kimia, biologi, dan sosial, ekonomi, budaya. Dampak lingkungan kimia dan biologi yang mungkin akan terjadi berkaitan dengan kualitas udara dan kebisingan, kualitas air permukaan dan kualitas air tanah, biota darat dan biota perairan sedangkan dampak sosial menyangkut kesempatan kerjadan peluang usaha, serta gangguan lalu lintas. Dampak kesehatan masyarakat menyangkut dampak turunan akibat lingkungan kimia dan biologi.

4.1

Tahap Konstruksi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap konstruksi adalah penerimaan tenaga kerja, mobilisasi alat material, pematangan lahan, pembangunan bangunan utama dan fasilitas penunjang. Kegiatan ini menimbulkan dampak terhadap komponen kimia, biologi, sosial, ekonomi, budaya. 4.1.1 Kebisingan a. Sumber Dampak Sumber dampak peningkatan kebisingan adalah dari kegiatan moboliasasi alatalat berat dan pengangkutan bahan material konstruksi, pematangan lahan serta pembangunan fisik gedung PLTM Lapai 1 ( 2 x 200 kW). b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak terhadap kebisingan ini termasuk negatif tidak penting. Luas areal peningkatan kebisingan sangat terbatas penyebarannya hanya di sekitar tapak proyek dan periode waktu peningkatan kebisingan terbatas hanya pada siang hari (07.00 s/d 17.00 WIB) selama kegiatan konstruksi berlangsung 3 bulan, sehingga bobot dampaknya tergolong kecil. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat sementara (selama tahap konstruksi) dan dapat dipulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah baku mutu tingkat kebisingan berdasarkan Kep/48/MENLH/11/1996. 4.1.2 Gangguan Lalu Lintas a. Sumber Dampak Sumber dampak dari gangguan lalu lintas di sekitar proyek adalah dari kegiatan mobilisasi alat dan material selama konstruksi PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW).

Issued/date :

17

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak negatif tidak penting, karena beberapa material diambil dari Kolaka Utara yang lokasinya relatif dekat dengan proyek dan peningkatan lalu lintas terjadi mengikuti jadwal pengangkutan bahan material yang menggunakan kendaraan berat sehingga dapat menimbulkan kepadatan lalu lintas di jalur yang dilalui oleh kendaraan pengangkut. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat sementara (selama tahap konstruksi) dan terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah padatnya jalur lalu lintas kendaraan yang keluar masuk proyek PLTM Lapai 1 terutama pada siang hari. 4.1.3 Gangguan Biota Perairan a. Sumber Dampak Sumber dampak pada biota perairan berasal dari kegiatan pematangan lahan yang berakibat pada penurunan kualitas air pada badan air disekitar lokasi proyek. b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak negatif tidak penting, mengingat hal tersebut memiliki sebaran yang kecil walaupun pengaruhnya sampai kepada biota perairan yang ada pada sungai Wotunuhu. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat sementara (selama tahap konstruksi) dan terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah terganggunya keberadaan biota perairan di sungai Wotunuhu dan tingkat pencemaran kualitas air terhadap parameter plankton dan benthos. 4.1.4 Kesempatan Kerja dan Peluang Usaha a. Sumber Dampak Sumber dampak dari adanya kesempatan kerja adalah adanya kegiatan mobilisasi tenaga kerja selama konstruksi PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW) serta timbulnya persepsi dari masyarakat setempat. b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak termasuk positif tidak penting. Berdasarkan kegiatan proyeknya, maka diperkirakan akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 100 orang yang dibutuhkan sebagian besar ( 80 orang) akan direkrut dari penduduk. Tenaga kerja tersebut terdiri dari tenaga supervisi, buruh kasar, buruh bangunan, keamanan dan lainnya. Dampak positif ini akan berlangsung selama tahap konstruksi. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat berlanjut (selama tahap konstruksi dan operasi) dan tidak terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak
Issued/date : 18 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

adalah jumlah penduduk setempat yang dapat bekerja pada saat konstruksi PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW).

4.2

Tahap Operasi

Pada tahap operasi ini, kegiatan lebih dititik beratkan pada operasional PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). 4.2.1 Kebisingan c. Sumber Dampak Sebagai sumber dampak kebisingan adalah beroperasinya mesin-mesin PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). c. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak terhadap kebisingan ini termasuk negatif tidak penting. Luas areal penurunan kebisingan sangat terbatas penyebarannya hanya di sekitar proyek dan bobot dampaknya tergolong kecil. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat sementara (terutama penggunaan mesin turbine) dan tidak terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah baku tingkat kebisingan berdasarkan Kep. MENLH No. 48 tahun 1996. 4.2.2 Biota Perairan a. Sumber Dampak Sumber dampak dari biota perairan adanya kegiatan operasional PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW) dan merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas air permukaan. b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak negatif tidak penting mengingat limbah yang dibuang telah diolah dalam IPAL. Hal tersebut akan berakibat kecil pada terganggunya biota perairan di sungai Wotunuhu, sehingga besaran dampak digolongkan kecil. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya bersifat berlanjut (selama tahap operasional) dan tidak terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah terganggunya keberadaan biota perairan di sekitar perairan sungai Wotunuhu pada saluaran pembuangan limbah cair PLTM. 4.2.3 Kesempatan Kerja dan Berusaha a. Sumber Dampak Sumber dampak dari kesempatan kerja adalah penerimaan tenaga kerja pada tahap operasional dengan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 30 orang.

Issued/date :

19

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak tergolong dampak positif penting karena hanya melibatkan beberapa tenaga lokal untuk dapat mengoperasikan pembangkit yang memerlukan keahlian khusus. Adanya kesempatan kerja akan memberikan dampak turunan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal, khususnya pada rumah tangga yang anggota keluarganya ikut pada operasi PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya berlangsung selama tahap operasi dan terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah tersedianya tenaga kerja operasional yang berasal dari penduduk yang berdomisili sekitar proyek PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). 4.2.4 Persepsi Masyarakat a. Sumber Dampak Adanya kegiatan perekrutan tenaga kerja membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar proyek untuk bekerja di PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW), sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan (keahlian) serta bidang yang dikerjakan. b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak merupakan dampak positif tidak penting dan berskala kecil. Adanya persepsi yang timbul di masyarakat atas beroperasinya PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW) yang bersifat positif terhadap keberlangsungan operasional PLTM tersebut. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya berlangsung selama tahap operasional dan terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah tersedianya tenaga kerja operasional yang berasal dari penduduk yang berdomisili di sekitar proyek. 4.2.5 Kesehatan Masyarakat a. Sumber Dampak Sumber dampak negatif dari operasional PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW) adalah terganggunya kesehatan masyarakat di sekitar proyek akibat dari penurunan kualitas air. b. Jenis dan Besaran Dampak Tingkat terganggunya kesehatan terhadap masyarakat lokasi atas beroperasinya PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). Jenis dampak merupakan negatif tidak penting dengan skala kecil berdasarkan kualitas air di lokasi penduduk masih di bawah baku mutu lingkungan.

Issued/date :

20

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulka pada kegiatan ini umumnya berlangsung selama tahap operasioanal dan terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah banyaknya masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat dari operasional PLTM Lapai 1.

4.3

Tahap Pasca Operasi

Pada tahap pasca operasi PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW), akan menimbulkan dampak terutama pada komponen lingkungan Sosial Ekonomi dan Budaya, terutama pada penurunan kesempatan kerja serta gangguan estetika yang timbul akibat adanya revegetasi lahan dan tanah terhadap bekas lokasi PLTM tersebut. 4.3.1 Penurunan Kesempatan Kerja a. Sumber Dampak Sebagai sumber dampak pada tahap pasca operasi adalah adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berkurangnya usaha masyarakat setempat serta munculnya persepsi dari masyarakat lokal. b. Jenis dan Besarnya Dampak Jenis dampak penurunan kesempatan kerja pada tahap pasca operasi adalah peningkatan angka pengangguran khususnya di Desa Lapai dan pada umumnya di Kecamatan Ngapa. Dampak ini tergolong negatif tidak penting karena pihak PLTM akan memberitahukan terlebih dahulu jika kegiatan operasional pembangkit dihentikan, sehingga tenaga kerja lebih siap menerima kondisi tersebut. c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya berlangsung selama tahap pasca operasi dan tidak dapat terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah hilangnya kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat lokal dan tingkat kepuasan dari tenaga kerja yang telah di PHK. 4.3.2 Estetika Lingkungan a. Sumber Dampak Sumber dampak pada estetika lingkungan adalah banyaknya sampah baik organik maupun an-organik yang ada di sekitar PLTM Lapai 1 (2 x 200 kW). b. Jenis dan Besaran Dampak Jenis dampak adalah terganggunya kondisi estetika lingkungan yang sudah terbentuk. Dampak ini termasuk negatif tidak penting karena secara estetika lokasi berada di dalam kawasan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua, sehingga akan lebih terintegrasi dengan kegiatan proyek yang telah berlangsung.

Issued/date :

21

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Sifat dan Tolak Ukur Dampak Dampak yang ditimbulkan pada kegiatan ini umumnya berlangsung selama tahap pasca operasi dan dapat terpulihkan. Sebagai tolak ukur dampak adalah terganggunya estetika terhadap lingkungan di sekitar PLTM.

Issued/date :

22

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB V UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

Kegiatan pengelolaan lingkungan dilakukan dalam upaya-upaya mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari pembangunan proyek PLTM Lapai Adapun upaya-upaya pengelolaan tersebut dirinci seperti uraian berikut ini. 5.1 Tahap pra-konstruksi a.Dampak penting yang dikelola Persepsi masyarakat b.Sumber dampak Pelaksanaan kegiatan pembebasan lahan lokasi proyek PLTM Lapai 1 c.Tolak ukur dampak Masyarakat merasakan proses ganti rugi lahan yang dilakukan pihak proyek, memberikan keuntungan bagi upaya peningkatan kesejahteraan hidupnya ke arah yang lebih baik sehingga tidak terjadi keresahan atau konflik sosial. d.Tujuan pengelolaan Proses kegiatan ganti rugi lahan memberikan dampak yang positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat sehingga mereka memberi dukungan positif terhadap keberadaan atau pelaksanaan proyek PLTM. e. Upaya pengelolaan 1) Sosialisasi tentang rencana proyek dan pembebasan lahan 2) Kerja sama dengan dinas instansi pemerintah terkait (BPPN, Camat dan Kepala Desa serta tokoh masyarakat) 3) Melakukan pendekatan secara partisipatif melalui musyawarah mufakat 4) Penertiban sistem kepemilikan lahan 5) Pembentukan panitia pelaksanaan ganti rugi lahan f. Periode pengelolaan Dilakukan sebelum tahap konstruksi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa yang ada di sekitar lokasi proyek terutama desa tempat tinggal para pemilik lahan h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua

Issued/date :

23

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

i. Pelaksanaan pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas Pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara dan BPN Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara, Bapeldalda dan BPPN Kabupaten Kolaka Utara

5.2 Tahap konstruksi 5.2.1 Peluang kerja dan peningkatan pendapatan a. Dampak penting yang dikelola Penerimaan tenaga kerja b. Sumber dampak 1) Penerimaan tenaga kerja 2) Pembangunan bangunan utama PLTM dan sarana pendukungnya c. Tolak ukur dampak 1) Jumlah tenaga kerja lokal yang diterima bekerja pada tahap konstruksi proyek minimal 60 % dari total tenaga kerja 2) Pelaksanaan penerimaan tenaga kerja sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku 3) Adanya keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun informal dalam penerimaan tenaga kerja 4) Tingkat penerimaan para pekerja minimal sesuai dengan UMR yang berlaku saat ini d. Tujuan pengelolaan 1) Agar pelaksanaan penerimaan tenaga kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku 2) Agar keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan proyek menjadi lebih besar 3) Memberikan kontribusi bagi anggota masyarakat sekitar lokasi proyek khususnya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ke arah yang lebih baik e. Upaya pengelolaan !) Mensosialisasikan penerimaan tenaga kerja 2) Melibatkan aparat pemerintah kecamatan dan desa 3) Kerja sama dengan dinas/instansi pemerintahan yang berkepentingan (Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara) 4) Penerimaan tenaga kerja lokal lebih diprioritaskan

Issued/date :

24

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

5) Menaati peraturan tentang ketenagakerjaan yang berlaku 6) Menghindari penyimpangan terhadap nilai-nilai yang ada seperti kolusi dan nepotisme f. Periode pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap konstruksi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa di sekitar proyek h. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksanaan Pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sulawesi Tenggara serta Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara 5.2.2 Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian a. Dampak penting yang dikelola Kondisi aktifitas ekonomi dan mata pencaharian masyarakat di desa-desa sekitar lokasi proyek PLTM Lapai 1 b. Sumber dampak 1) Penerimaan tenaga kerja 2) Pembangunan bangunan utama pendukung PLTM c. Tolak ukur dampak 1) Peningkatan sumber dan jumlah penghasilan 2) Peningkatan jenis-jenis usaha yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya d. Tujuan pengelolaan 1) Munculnya sumber-sumber penghasilan masyarakat di sekitar proyek 2) Peningkatan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh masyarakat 3) Peningkatan sarana dan prasarana ekonomi di sekitar lokasi proyek e. Upaya pengelolaan 1) Memberikan informasi kepada para pengusaha setempat tentang kebutuhan barang dan jasa dalam pelaksanaan pembangunan proyek PLTM

Issued/date :

25

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

2) Melakukan pembinaan kepada kelompok masyarakat dalam rangka pemberdayaan ekonomi lokal 3) Memberikan kesempatan kepada kelompok masyarakat untuk meningkatkan aktifitas usahanya dalam pelaksanaan pembangunan proyek f. Periode pengelolaan Selama kegiatan tahap konstruksi berlangsung g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh PT. (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksanaan pengelolaan PT. (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawasan pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tanggara melalui Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara serta Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara 5.2.3 Persepsi masyarakat a. Dampak penting yang dikelola Keresahan sosial dan konflik sosial dalam lingkungan masyarakat dan pekerja b. Sumber dampak 1) Penerimaan tenaga kerja 2) Pembangunan bangunan utama dan pendukung PLTM 3) Pengurangan tenaga kerja c. Tolak ukur dampak 1) Adanya kerja sama yang baik antara pihak pemrakarsa dan pihak yang terkait 2) Adanya dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan pembangunan proyek 3) Kesesuaian prosedur penerimaan dan pengurangan tenaga kerja yang dilakukan dengan peraturan yang ada d. Tujuan pengelolaan 1) Menghindari munculnya keresahan dan konflik sosial antar pemrakarsa, masyarakat dan pekerja 2) Pelaksanaan pembangunan bangunan utama dan pendukung PLTM memberikan dampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
Issued/date : 26 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

3) Untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi semua lapisan masyarakat desa sekitar lokasi pembangunan proyek e. Upaya pengelolaan 1) Mengadakan forum silaturahmi untuk mendekatkan hubungan antara pihak pemrakarsa dengan semua lapisan masyarakat 2) Semua kegiatan proyek yang berkaitan dengan masyarakat harus dilakukan berdasarkan peraturan dan kesepakatan yang ada 3) Pihak pemrakarsa perlu memperhatikan adat istiadat yang berlaku dalam lingkungan masyarakat sekitar proyek f. Periode pengelolaan Dilakukan selama masa konstruksi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek PLTM Lapai 1 h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara k. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara serta Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara

5.3 Tahap Operasi 5.3.1 Kualitas air a. Tolak ukur dampak 1) Tolak ukur untuk kualitas air dalah stndar yang dikeluarkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Air Bersih b. Tujuan pengelolaan lingkungan Tujuan kegiatan pengelolannya ini hdala mengurangi dampak negatif pencemaran pada kualitas air sungai penduduk yang di sekitar lokasi proyek PLTM Lapai 1 sehingga tidak menggangu kesehatan masyarakat dan kehidupan biota perairan. c. Periode pengelolaan lingkungan Pengelolaan kualitas air dilakukan selama masa operasi proyek berlangsung

Issued/date :

27

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

d. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oleh PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua e. Pelaksana pengelola lingkungan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua f. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara g. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapeldalda dan Dinas Pertambangan dan Energi serta Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda. 5.3.2 Ruang, tanah, dan lahan a. Dampak penting yang dikelola Ruang, tanah, dan lahan di lokasi proyek PLTM b. Sumber dampak Sumber dampak adalah kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM c. Tujuan rencana pengelolaan Kegiatan pengelolaan lingkungan pada tahap ini antara lain adalah agar kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM Lapai 1 tidak memberikan dampak negatif terhadap aspek ruang, tanah dan lahan di sekitar lokasi proyek sehingga kelestariannya tetap terjaga. d. Upaya pengelolaan 1) Pembatasan wilayah kegiatan secara tegas untuk menghambat pembukaan areal yang tidak diperlukan yakni dengan hanya membuka areal sesuai yang dibutuhkan saja. Pembatasan ini hendaknya terpadu dengan pemerintah daerah setempat, melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan. e. Lokasi pengelolaan Lokasi pengelolaan adalah pada areal kegiatan proyek PLTM Lapai 1 dan wilayah sekitarnya f. Periode pengelolaan lingkungan Pengelolaan ruang, tanah dan lahan dilakukan selama masa operasi berlangsung g. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oelh PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua h. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua

Issued/date :

28

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

i.

Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara

j.

Pelaporan pengelolaan lingkungan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara, serta Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara

5.3.3

Biota Perairan a. Dampak penting yang dikelola Kondisi biota perairan di sungai-sungai yang dikelola b. Sumber dampak Sumber dampak penting adalah kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM yang menyebabkan turunnya kualitas air sungai c. Tolak ukur dampak Perubahan parameter plankton, nekton, dan benthos yang meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan dibandingkan dengan hasil studi awal. d. Tujuan rencana pengelolaan Kegiatan pengelolaan lingkungan pada tahap ini bertujuan agar kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM Lapai 1, tidak memberikan dampak yang berarti di sekitar pada aspek biota perairan di sungai-sungai yang ada di sekitar lokasi. e. Upaya pengelolaan 1) Melibatkan anggota dan tokoh masyarakat dalam upaya meredusir tingkat pencemaran parameter kualitas air sungai f. Lokasi pengelolaan Lokasi pengelolaan lingkungan adalah di sungai-sungai dan desa-desa sekitarnya g. Periode pengelolaan lingkungan Pengelolaan biota perairan dilakukan selama operasi berlangsung h. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara

Issued/date :

29

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

k. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan melalui Bapeldalda Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara melalui Kabupaten Kolaka Utara 5.3.4 Peluang kerja dan pendapatan masyarakat

a. Dampak penting yang dikelola Kesempatan kerja dan tahap operasi b. Sumber dampak 1) Pengoperasian dan pemeliharaan PLTM 2) Pengadaan bahan baku 3) Pengadaan utilitas 4) Produksi listrik c. Tolak ukur dampak 1) Terbukanya kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat desa sekitar lokasi proyek PLTM 2) Jumlah tenaga kerja lokal yang diterima bekerja pada tahap operasi 3) Tingkat penghasilan masyarakat 4) Standar upah minimal yang diterima d. Tujuan pengelolaan 1) Agar keliatan pengoperasian PLTM memberikan peluang kerja kepada anggota masyarakat desa sekitarnya 2) Adanya peningkatan penghasilan atau pendapatan masyarakat desa sekitar proyek e. Upaya pengelolaan 1) Mensosialisasikan penerimaan tenaga kerja 2) Melibatkan aparat pemerintah desa 3) Kerja sama dengan dinas/instansi pemerintah yang berkepentingan 4) Memprioritaskan tenaga kerja lokal terutama bagi mereka yang telah memiliki kualifikasi skill yang dibutuhkan 5) Mentaati peraturan ketenagakerjaan yang berlaku f. Periode pengelolaan Periode pengelolaan dilakukan selama tahap operasi berlangsung g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek

Issued/date :

30

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai sepenuhnya oleh PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sulawesi Tenggara serta Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara 5.3.5 Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian

a. Dampak penting yang dikelola Kondisi aktifitas ekonomi mesyarakat di desa-desa sekitar lokasi proyek PLTM Lapai 1 b. Sumber dampak 1) Penerimaan tenaga kerja 2) Pengoperasian dan pemeliharaan PLTM 3) Pengadaan bahan baku 4) Pengadaan utilitas 5) Produksi listrik c. Tolak ukur dampak 1) Adanya peningkatan jenis usaha yang telah dilakukan selamai ini oleh anggota masyarakat desa sekitar lokasi PLTM 2) Munculnya usaha-usaha baru sebagai sumber penghasilan anggota masyarakat di desa-desa sekitar lokas proyeki PLTM d. Tujuan pengelolaan 1) Meningkatkan manfaat positif proyek PLTM Lapai 1 terhadap usaha yang dilakukan anggota selama ini 2) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan potensi yang ada sebagai sumber penghasilan baru 3) Meningkatkan sumber pendapatan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan e. Upaya pengelolaan 1) Mensosialisasikan setiap ada peluang kesempatan kerja kepada kalangan masyarakat

Issued/date :

31

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

2) Mengembangkan program pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan sumber penghasilannya 3) Kerja sama dengan dinas/instansi pemerintah dan organisasi lainnya dalam meningkatkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa sekitar lokasi proyek PLTM 4) Memberikan bantuan untuk pengadaan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang dibutuhkan anggota masyarakat sekitarnya f. Periode pengelolaan Dilakukan selama tahap operasi berlangsung g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek dan lokasi tempat para pekerja bekerja h. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapeldalda Propinsi dan Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara serta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara 5.3.6 Kesehatan masyarakat

a. Dampak penting yang dikelola Perkembangan jenis penyakit yang diderita masyarakat desa sekitar lokasi proyek b. Sumber dampak Pengoperasian dan pemeliharaan PLTM c. Tujuan pengelolaan Tujuan pelaksanaan kegiatan pengelolaan ini antara lain adalah menghindari munculnya dampak negatif terhadap beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh adanya pengoperasian dan pemeliharaan PLTM d. Upaya pengelolaan 1) Melakukan pengawasan terhadap sistem pengelolaan dampak yang ada agar tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan 2) Menyampaikan informasi dengan cepat kepada anggota masyarakat apabila munculnya dampak-dampak negatif dari pengoperasian dan pemeliharaan Proyek PLTM
Issued/date : 32 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

3) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan tindakan preventif dan kuratif terhadap dampak negatif proyek PLTM 4) Meningkatkan pelayanan kesehatan naik kepada para pekerja maupun anggota masyarakat 5) Melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait terutama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara untuk menghindari dampak negatif dari proyek PLTM e. Periode pengelolaan Selama tahap kegiatan operasi berlangsung f. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek PLTM Lapai 1 g. Pembiayaan Kegiatan ini dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua h. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara, Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara j. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapledalda dan Dinas Kesehatan Propinsi serta Bapeldalda dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara 5.3.7 Persepsi masyarakat

a. Dampak penting yang dikelola Keresahan sosial dan konflik sosial dalam lingkungan masyarakat dan pekerjaan b. Sumber dampak 1) Penerimaan tenaga kerja 2) Pengoperasian dan pemeliharaan PLTM 3) Pengadaan bahan baku 4) Pengadaan utilitas 5) Produksi listrik c. Tolak ukur dampak Keresahan sosial dan dukungan positif masyarakat sekitarnya terhadap kegiatan PLTM

Issued/date :

33

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

d. Tujuan pengelolaan 1) Menghindari konflik/keresahan di kalangan masyarakat akibat proyek PLTM Lapai 1 2) Meningkatkan dampak positif dari adanya kegiatan proyek PLTM pada tahap operasi 3) Meningkatkan jalinan kekeluargaan (kebersamaan) antara pihak proyek beserta stafnya dengan anggota masyarakat dan pemerintah setempat. e. Upaya pengelolaan 1) Pengembangan program-program pemberdayaan masyarakat agar keberadaan PLTM manfaatnya dirasakan oleh masyarakat desa dan sekitarnya 2) Melakukan pengawasan yang ketat terutama pada sistem penanggulangan dampak negatif proyek 3) Melakukan tindakan secara cepat dalam memperbaiki komponen-komponen PLTM yang mengalami kerusakan 4) Meningkatkan partisipasi terhadap kegiatan sosial budaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat 5) Mengembangkan forum silaturahmi secara berkala dengan anggota masyarakat dan pemerintah setempat untuk menjalani kebersamaan f. Periode pengelolaan Selama tahap operasi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek PLTM Lapai 1 h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksanaan pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara

Issued/date :

34

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

5.4 Tahap pasca operasi 5.4.1 Kualitas air a. Dampak penting yang dikelola Kualitas air sungai b. Sumber dampak Sumber dampak pada tahap pasca operasi adalah kegiatan rehabilitasi lahan c. Tolak ukur dampak Tolak ukur kualitas air sungai adalah standard yang dilekuarkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Air Bersih d. Tujuan pengelolaan lingkungan Tujuan pengelolaan lingkungan adalah agar kegiatan rehabilitasi lahan bekas lokasi proyek mampu meningkatkan kualitas air sungai e. Lokasi pengelolaan Lokasi pengelolaan adalah eks-proyek yang akan direhabilitasi f. Periode pengelolaan lingkungan Pengelolaan lingkungan untuk kegiatan ini dilakukan selama tahap pasca operasi g. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua h. Pelaksana pengelolaan lingkungan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara j. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan 5.4.2 Ruang, tanah, dan lahan a. Dampak penting yang dikelola Kondisi ruang, tanah, dan lahan eks proyek PLTM Lapai 1 b. Sumber dampak Sumber dampak penting pada tahap pasca operasi PLTM ini adalah kegiatan rehabilitasi lahan pasca operasi

Issued/date :

35

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Tolak ukur dampak Peningkatan kualitas tanah berdasarkan parameter uji kualitas tanah menurut Pusat Peneltian Tanah dan Agrokrimat (1983) d. Tujuan rencana pengelolaan Kegiatan pengelolaan rehabilitasi lahan eks PLTM Lapai 1 bertujuan untuk meningkatkan fungsi lahan sehinnga dapat dimanfaatkan secara produktif oleh masyarakat sekitarnya. e. Upaya pengelolaan 1) Melakukan revegetasi lahan yang sesuai dengan karakteristik lahan dan lingkungan sekitarnya 2) Kerja sama dengan perguruan tinggi, dinas instansi pemerintahan setempat yang terkait dan lembaga sosial kemasyarakatan dalam merencanakan pelaksanaan pengelolaan rehabilitasi lahan f. Lokasi pengelolaan Ruang, tanah, dan lahan eks-lokasi proyek PLTM g. Periode pengelolaan lingkungan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi berlangsung h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan lingkungan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan 5.4.3 Flora dan Fauna a. Dampak penting yang dikelola Kondisi lingkungan flora dan fauna di lokasi dan sekitar eks-proyek b. Sumber dampak Sumber dampak penting pada tahap pasca operasi PLTM ini adalah kegiatan rehabilitasi lahan

Issued/date :

36

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Tolak ukur dampak Peningkatan jumlah, nilai ekonomis dan sebaran flora dan fauna yang ada di sekitar proyek d. Tujuan pengelolaan Pengelolaan rehabilitasi lahan diharapkan mampu meningkatkan jumlah, nilai ekonomis dan sebaran flora dan fauna yang ada di sekitar proyek e. Upaya pengelolaan lingkungan 1) Melakukan revegetasi lahan yang sesuai dengan karakteristik lingkungan yang ada 2) Melakukan pelibatan anggota masyarakat dan kerja sama dengan tenaga ahli dalam proses pelaksanaannya f. Lokasi pengelolaan lingkungan Lahan eks lokasi proyek PLTM dan sekitarnya g. Periode waktu pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan 5.4.4 Biota Perairan a. Dampak yang diamati Kondisi biota perairan yang berada di sungai-sungai sekitar lokasi proyek b. Sumber dampak Sumber dampak penting pada tahap pasca operasi PLTM ini adalah kegiatan rehabilitasi lahan c. Tolak ukur dampak Peningkatan jumlah dan jenis biota perairan serta pemerataan keberadaannya di perairan sekitar lokasi eks proyek PLTM

Issued/date :

37

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

d. Tujuan rencana pengelolaan Kegiatan pengelolaan lingkungan pada tahap ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan biota perairan serta pemerataan keberadaanya di perairan sekitar lokasi eks proyek PLTM e. Upaya pengelolaan Kerja sama dengan Perguruan Tinggi dan Pemeraintah setempat dalam hal perencanaan pelaksanaan pengelolaan rehabilitasi lahan f. Lokasi pengelolaan lingkungan Lahan eks-lokasi proyek PLTM dan sekitarnya g. Periode waktu pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan lingkungan Bapeldalda dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan pengelolaan lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan 5.4.5 Peluang kerja dan pendapatan a. Dampak yang diamati Kondisi pekerja dan pendapatan b. Sumber dampak Pelepasan tenaga kerja c. Tolak ukur dampak 1) Kesesuaian pelaksanaan pelepasan tenaga kerja dengan aturan yang telah disepakati 2) Tingkat daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup d. Tujuan pengelolaan 1) Pelepasan tenaga kerja tidak merugikan para pekerja 2) Eks Pekerja memiliki sumber pendapatan lain sebagai pengganti, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya

Issued/date :

38

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

e. Upaya pengelolaan 1) Mensosialisasikan kegiatan pelepasan tenaga kerja sejak dini 2) Kerja sama dengan dinas/instansi pemerintah yang berkepentingan dalam memberikan keterampilan dan kemampuan untuk bekerja di bidang usaha lain 3) Mentaati peraturan ketenagakerjaan f. Periode pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi g. Lokasi pengelolaan Di desa-desa sekitar eks lokasi proyek PLTM h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas Pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sulawesi Tenggara serta Bapeldalda Kabupaten Kolaka Utara 5.4.6 Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian a. Dampak penting yang diamati Jenis dan sumber penghasilan masyarakat b. Sumber dampak Pelepasan tenaga kerja dan rehabilitasi lahan c. Tolak ukur dampak 1) Para pekerja eks proyek PLTM bisa memiliki aktifitas ekonomi dan mata pencaharian pengganti sebagai sumber pendapatannya 2) Rehabilitasi lahan eks proyek PLTM memberikan dampak positif bagi peningkatan aktifitas ekonomi dan mata pencaharian anggota masyarakat sekitarnya d. Tujuan pengelolaan 1) Pelepasan tenaga kerja agar tidak merugikan para pekerja 2) Eks pekerja memiliki sumber pendapatan lain sebagai pengganti, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya 3) Mengoptimalkan dampak kegiatan rehabilitasi lahan proyek eks PLTM terhadap peningkatan aktifitas ekonomi dan mata pencaharian penduduk sekitarnya
Issued/date : 39 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

e. Upaya pengelolaan 1) Pelepasan tenaga kerja sesuai dengan peraturan dan perjanjian yang ada 2) Mengadakan program peningkatan kemampuan para pekerja yang dilepas agar mampu berusaha di bidang lain 3) Pelaksanaan rehabilitasi lahan memanfaatkan pengusaha-pengusaha kecil yang ada di desa sekitar lokasi proyek PLTM f. Periode pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar proyek dan lokasi tempat para pekerja bekerja h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek yaitu PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapeldalda Propinsi dan Dinas Tenaga Kerja serta Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda 5.4.7 Persepsi msayarakat a. Dampak penting yang diamati Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitar lokasi eks proyek PLTM b. Sumber dampak 1) Kegiatan rehabilitasi/reboisasi lahan 2) Pelepasan tenaga kerja c. Tolak ukur dampak 1) Masyarakat merasakan proses rehabilitasi lahan yang dilakukan pihak proyek 2) Anggota masyarakat desa di sekitar lokasi proyek PLTM ikut berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi lahan 3) Pelaksanaan pelepasan tenaga kerja dilakukan sesuai dengan peraturan dan perjanjian yang ada

d. Tujuan pengelolaan 1) Proses kegiatan rehabilitasi lahan mampu memberikan dampak yang positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan hidup masayarakat
Issued/date : 40 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

2) Kegiatan pelepasan tenaga kerja dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku e. Upaya pengelolaan 1) Melibatkan tokoh masayarakat baik formal maupun informal 2) Memanfaatkan potensi sumber daya lingkungan yang ada 3) Membantu pemberdayaan masyarakat sekitar 4) Mentaati peraturan dan ketentuan yang ada 5) Menanggapi segala keluhan masyarakat secara baik dn bijaksana f. Periode pengelolaan Pengelolaan dilakukan selama tahap pasca operasi g. Lokasi pengelolaan Desa-desa sekitar eks proyek PLTM Lapai 1 h. Pembiayaan Kegiatan dibiayai oleh pihak proyek PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua i. Pelaksana pengelolaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua j. Pengawas pengelolaan Bapeldalda Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka Utara k. Pelaporan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara melalui Bapeldalda dan Dinas Tenaga Kerja serta Kabupaten Kolaka Utara melalui Bapeldalda

Issued/date :

41

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

BAB VI UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN 6.1 Latar Belakang

Dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, diharapkan sumber daya yang ada terutama sumber daya alam harus bisa dimanfaatkan secara optimal dan berkesinambungan bagi upaya meningkatkan kesehateraan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan demikian setiap kegiatan pembangunan yang memanfaatkan sumber daya alam, harus didahului oleh kegiatan pengkajian secara mendalam agar dampak negatif terhadap ekosistem dapat dihilangkan atau paling tidak bisa diminimalkan. Sementara dampak positif dari kegiatan yang dilaksanakan perlu diupayakan secara optimal. Dalam bagian bab ini akan dikemukakan pendekatan teknologi, pendekatan sosial ekonomi dan pendekatan institusi dalam pengelolaan dampak positif dan negatif penting dari kegiatan PLTM Lapai 1 terhadap kondisi lingkungan hidup sekitarnya. 6.2 Maksud dan Tujuan

Pemantauan dilakukan dengan maksud agar pelaksanaan pembangunan PLTM Lapai 1 benarbenar menerapkan prinsip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan dalam rangka mewujudkan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Selain dari itu, pembangunan PLTM Lapai 1 ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi yang optimal terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa-desa di sekitar lokasi proyek ke arah yang lebih baik. Tujuan penulisan kegiatan pemantauan ini antara lain menetapkan upaya-upaya pemantauan lingkungan, terutama pada main issue yang telah disepakati dalam studi AMDAL serta memberikan gambaran proses pelaksanaannya agar menjadi pedoman dalam melakukan pemantauan lingkungan proyek ini. 6.3 Kegunaan Pemantauan Lingkungan

6.3.1 Bagi PT. PLN (Persero) Pembangkitan Jaringan Sulawesi Maluku dan Papua a. Mengetahui informasi perubahan yan terjadi terhadap kualitas lingkungan secara dini b. Menjadi bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan dampak penting pada lingkungan c. Memperoleh pedoman dalam kegiatan operasional pemantauan mengenai dampak lingkungan d. Mengatasi secara dini kesalahan oprasional dalam pelaksanaan proyek PLTM 6.3.2 Bagi Masyarakat a. Masyarakat dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif b. Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dampak proyek baik yang positif maupun negatif penting, sehingga konflik masyarakat sekitar kegiatan lokasi proyek dengan pelaksana bisa dihindari

Issued/date :

42

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Mengetahui terjadinya perubahan kondisi lingkungan sehingga masyarakat dapat mengantisipasinya secara bersama-sama apabila terjadi pencemaran lingkungan oleh kegiatan kegiatan tersebut 6.3.3 Bagi Pemerintah a. Membantu proses pengambilan keputusan kelayakan lingkungan rencana kegiatan yang akan dilakukan b. Memperoleh bahan dalam melakukan pengawasan untuk melihat tingkat kepatuhan perusahaan terhadap kewajiban yang harus dilakukan dalam pengelolaan lingkungan

6.4 Ringkasan Evaluasi Dampak Penting Rencana pelaksanaan proyek Pusat Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTM) Lapai 1 berdasarkan studi analisa dampak lingkungan yang telah dilakukan, akan memiliki dampak positif dan negatif penting terhadap kondisi lingkungan biologi, dan aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Secara singkat dampak positif dan negatif penting dari pelaksanaan proyek PLTM ini adalah sebagai berikut : 6.4.1 Aspek biologi Aspek biologi yang akan terkena dampak negatif penting adalah biota perairan pada kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM yaitu pada tahap operasi adalah flora dan fauna serta biota perairan 6.4.2 Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat merupakan yang paling banyak terkena dampak penting dari kegiatan PLTM mulai dari tahap konstruksi, operasi sampai tahap pasca operasi. Pada tahap pra-konstruksi, dampak penting yang timbul yaitu pada waktu kegiatan pembebasan lahan. Kegiatan ini akan menimbulkan persepsi masyarakat yang negatif. Dampak positif penting pada tahap konstruksi yaitu pada saat melakukan kegiatan penerimaan tenaga kerja, pembangunan bangunan utama dan sarana pendukung. Kegiatan ini akan berdampak positif pada peluang kesempatan kerja, peningkatan penghasilan dan aktifitas ekonomi masyarakat. Sementara dampak negatif penting pada tahap konstruksi adalah pada kegiatan pengurangan tenaga kerja. Hal ini akan berpengaruh penting pada pendapatan dan mata pencaharian penduduk di sekitarnya.

6.5 Pendekatan Teknologi 6.5.1 Tahap operasi Pada tahap ini tidak ada dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pengoperasian PLTM. Kegiatan pengoperasian PLTM ini bisa dibilang ramah lingkungan dalam tahap pengoperasiannya. 6.5.2 Tahap pasca operasi Pada tahap ini pendekatan teknologi yang digunakan untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan akibat oleh kegiatan penyimpanan bahan kimia bekas dan rehabilitas lahan pasca pengoperasian. Pendekatan teknologi pengelolaannya adalah :
Issued/date : 43 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

a.Rahabilitasi lahan Dampak terhadap kualitas ruang tanah dan lahan yang diakibatkan oleh kegiatan rehabilitasi lahan pada tahap pasca operasi. Pendekatan pengelolaannya adalah melalui : 1) Melakukan penghijauan pada areal eks. PLTM untuk menghindari terjadinya erosi 2) Untuk mempercepat kesuburan lahan agar ditanam tanaman-tanaman pokok.

6.6 Pendekatan Sosial Ekonomi 6.6.1 Tahap pra konstruksi Pada tahap ini pendekatan sosial ekonomi digunakan untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan akibat pengadaan atau pembebasan lahan terhadap persepsi masyarakat. Pendekatan pengelolaannya meliputi : 1) Penyuluhan dan konsultasi dengan masyarakat yang terkena dampak 2) Pembuatab daftar inventarisasi aset dan surat hak milik dengan pihak-pihak yang terkait 3) Musyawarah penetapan harga 4) Pembuatan daftar biaya ganti rugi 5) Pelepasan hak milik dan sertifikasi lahan 6) Pembayaran ganti rugi dilakukan langsung pada anggota masyarakat 7) Pembuatan daftar monitoring pelaksanaan ganti rugi lahan 6.6.2 Tahap konstruksi Pada tahap ini pendekatan sosial ekonomi digunakan untuk menanggulangi dampak akibat penerimaan tenaga kerja, pembangunan bangunan utama PLTM dan pengurangan tenaga kerja terhadap peluang kerja, aktifitas ekonomi, mata pencaharian, pendapatan dan persepsi masyarakat. Pendekatan pengelolaannya adalah : a.Peluang kerja dan pendapatan Pada tahap konstruksi tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 3.000 orang yang terdiri dari tenaga kerja tidak terampil (unskill) dan tenaga kerja ahli (skill). Pendekatan yang perlu dilakukan dalam hal memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah : 1) Melakukan penyebaran informasi peluang kesempatan kerja secara terbuka kepada semua lapisan masyarakat melalui aparat pemerintah desa. 2) Melakukan penyaringan tenaga secara obyektif sehingga tidak terjadi kolusi dan nepotisme 3) Melibatkan tokoh masyarakat formal terutama kepala desa

Issued/date :

44

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

b.Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian Kegiatan pembangunan bangunan utama PLTM dan sarana pendukung diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan akitifitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain : 1) Memanfaatkan bahan material bangunan yang ada di desa-desa sekitar lokasi 2) Memanfaatkan jasa konstruksi (pengusaha kecil setempat) dalam pelaksanaan pembangunan c.Persepsi masyarakat Pada akhir tahap konstruksi akan banyak terjadi pengurangan tenaga kerja, terutama tenaga kerja kasar sehingga akan menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain : 1) Proses pengurangan tenaga kerja perlu dilakukan sesuai dengan peraturan dan perjanjian yang telah disepakati 2) Memprioritaskan tenaga kerja tahap konstruksi untuk diterima bekerja pada operasi sesuai dengan kualifikasinya 3) Perlu mengembangkan program-program perberdayaan masyarakat berupa pelatihan atau kursus dan bantuan lainnya terutama bagi eks-pekerja agar mereka memiliki sumber pendapatan pengganti 4) Melibatkan tokoh masyarakat formal terutama kepala desa 6.6.3 Tahap operasi Pada tahap ini pendekatan sosial ekonomi digunakan untuk menanggulangi dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan PLTM, pengadaan bahan baku, serta produksi listrik terhadap kualitas air, ruang, tanah dan lahan, biota perairan, peluang kerja, aktifitas ekonomi, kesehatan masyarakat, mata pencahaian, pendapatan dan persepsi masyarakat. Pendekatan pengelolaannya adalah : a.Kualitas air dan biota perairan Pendekatan pengelolaannya adalah sebagai berikut : 1) Melibatkan anggota dan tokoh masyarakat dalam upaya meminimalisasi tingkat pencemaran kualitas air sungai 2) Memberikan pengertian kepada masyarakat agar timbah membuang limbah rumah tangga ke sungai dengan memasang himbauan di tempat-tempat yang mudah dibaca b.Ruang, tanah dan lahan Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM akan menimbulkan dampak terhadap penurunan kualitas tanah dan lahan yang diakibatkan oleh terkena limbah yang terkontaminasi yang dapat mengurangi kesuburan tanah dan menggangu vegetasi lain di atasnya, serta mengganggu kehidupan mahluk hidup di dalamnya.

Issued/date :

45

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

c. Peluang kerja Pada tahap operasi tenaga kerja yang ada terdiri dari tenaga kerja tidak terampil (unskill) dan tenaga kerja ahli (skill). Pendekatan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Melakukan penyebaran informasi peluang kesempatan kerja secara terbuka kepada semua lapisan masyarakat melalui aparat pemerintahan desa 2) Melakukan penyaringan tenaga kerja secara obyektif sehingga tidak terjadi kolusi dan nepotisme 3) Memanfaatkan tenaga kerja lokal yang telah memiliki kualifikasi sesuai dengan kebutuhan d.Kesehatan masyarakat Agar pengoperasian dan pemeliharaan PLTM Lapai 1 tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan karyawan dan masyarakat sekitar, perlu dilakukan pendekatan sebagai berikut : 1) Para karyawan terutama yang berada di dekat turbin atau di dalam lingkungan power plant perlu menggunakan alat-alat pengaman, misalnya ear plug, masker, helm, sepatu dan lain-lain sesuai standarisasi 2) Pemeriksaan kesehatan secara berkala terhadap para staf dan karyawan PLTM Lapai 1 3) Penyediaan sarana pelayanan kesehatan pekerja yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar lokasi PLTM e. Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian Kegiatan pengoperasian PLTM dan produksi listrik diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan aktifitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain : 1) Meningkatkan sarana dan prasarana ekonomi yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan aktifitas ekonominya 2) Meningkatkan perberdayaan masyarakat melalui program pembinaan permodalan, peningkatan keterampilan produksi, pemasaran dan pembinaan organisasi/kelompok usaha f. Persepsi masyarakat Persepsi masyarakat akan muncul pada tahap operasi ini mulai dari kegiatan penerimaan tenaga kerja, pengoperasian dan pemeliharaan PLTM sampai pada produksi listrik. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukann antara lain : 1) Proses penerimaan tenaga kerja perlu memperhatikan tenaga kerja lokal yang telah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan 2) Memberikan bantuan dalam pembangunan sarana dan prasarana pelayanan umum bagi anggota masyarakat desa di sekitar PLTM

Issued/date :

46

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

3) Membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan aktifitas ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat 4) Melibatkan tokoh masyarakat formal terutama kepala desa 5) Meningkatkan pelayanan penyediaan penerangan untuk kepentingan umum masyarakat sekitar lokasi proyek 6.6.4 Tahap pasca operasi a.Kualitas air dan biota perairan Dampak terhadap kualitas air dan biota perairan sungai pada tahap pasca operasi diakibatkan oleh kegiatan rehabilitasi lahan. Pendekatannya pengelolaannya hdala melalui 1) Melibatkan anggota dan tokoh masyarakat dalam upaya meminimalisasi tingkat pencemaran kualitas air sungai 2) Memberikan pengertian lepada masyarakat agar tidak membuang limbah rumah tangga ke sungai dan memasang himbauan di tempat-tempat yang mudah dibaca b.Ruang, tanah dan lahan Pendekatan social ekonomi untuk mengelola dampak terhadap kualitas ruang tanah dan lahan yang diakibatkan oleh kegiatan rehabilitasi lahan pada tahap pasca operasi dalah dengan meminta jasa masyarakat dalam pengadaan sarana dan prasarana untuk melakukan program rehabilitasi lahan, contohnya seperti dalam pengadaan rumput atau tanaman penutup tanah yang dibeli masyarakat c. Peluang kerja Pada tahap pasca operasi masih dibutuhkan tenaga kerja untuk pembongkaran sarana dan prasarana serta untuk rehabilitasi lahan. Untuk itu dalam pelaksanaannya diharapkan memanfaatkan tenaga kerja lokal terutama yang sebelumnya telah bekerja di power plant d.Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian Pada tahap pasca operasi, kegiatan aktifitas ekonomi mengalami penurunan atau hilang, agar kegiatan ekonomi tidak menjadi mati maka penduduk perlu dipersiapkan sebelumnya untuk mengalihkan bidang pekerjaan dari karyawan PLTM menjadi wiraswasta atau melalui pengembangan pelaksanaan program e. Persepsi masyarakat Pada tahap pasca operasi, kegiatan-kegiatan PLTM Lapai 1 berakhir, yang berarti banyak masyarakat kehilangan pekerjaan. Untuk itu perlu dilakukan penyiapan SDM agar mereka memperoleh jenis mata pencaharian lain sebagai pengganti sumber penghasilannya

6.7 Pendekatan institusi 6.7.1 Tahap pra konstruksi Pada tahap ini pendekatan institusi digunakan untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan akibat pengadaan atau pembebasan lahan terhadap persepsi masyarakat. Pendekatan pengelolaannya adalah melalui :
Issued/date : 47 PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

1) Kerja sama dengan BPN Kabupaten Kolaka Utara untuk memproses bukti-bukti kepemilikan tanah 6.7.2 Tahap konstruksi Pada tahap ini pendekatan institusi digunakan untuk menanggulangi dampak akibat penerimaan tenaga kerja, pembangunan bangunan utama PLTM dan pengurangan tenaga kerja terhadap peluang kerja, aktifitas ekonomi, mata pencaharian, pendapatan dan persepsi masyarakat. Pendekatan pengelolaannya adalah : a.Peluang kerja dan peningkatan pendapatan Pada tahap konstruksi pendekatan yang perlu dilakukan dalam hal ini adalah : 1) Kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara dalam proses penerimaan tenaga kerja (kebutuhan jumlah maupun kualifikasi tenaga kerja) 2) Kerja sama dengan aparat kecamatan dan kepala desa sekitar lokasi proyek agar penduduk lokal mendapat prioritas utama sebagai tenaga kerja b.Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian Kegiatan pembangunan bangunan utama PLTM dan sarana pendukung diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan aktifitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain dengan pengembangan dan pemanfaatan lembaga-lembaga ekonomi di sekitar proyek dalam memenuhi kebutuhan barang-barang produksi maupun konsumsi pada tahap konstruksi. c. Persepsi masyarakat Pada akhir tahap konstruksi akan banyak terjadi pengurangan tenaga kerja, terutama tenaga kerja kasar sehingga akan menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain melalui kerja sama dengan lembaga pemerintahan (Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara) dan lembaga sosial yang ada agar proses pengurangan tenaga kerja sesuai dengan kesepakatan serta pelaksanaan pembangunan PLTM dan sarana dan prasarana pendukungnya dapat membantu masalah-masalah sosial dan ekonomi masyarakat yang di sekitar proyek. 6.7.3 Tahap operasi Pada tahap ini pendekatan institusi digunakan untuk menanggulangi dampak kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PLTM, pengadaan bahan baku serta produksi listrik terhadap kualitas air, ruang, tanah dan lahan, biota perairan, peluang kerja, aktifitas ekonomi, kesehatan masyarakat, mata pencaharian, pendapatan dan persepsi masyarakat. Pendekatan institusi pengelolaannya adalah : a.Kualitas air dan biota perairan Pendekatan pengelolaannya antara lain melalui kerja sama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat setempat dalam pengelolaannya. b.Ruang, tanah dan lahan Pembatasan wilayah kegiatan secara tegas untuk menghambat pembukaan areal yang tidak diperlukan yakni dengan hanya membuka areal sesuai yang dibutuhkan saja. Pembatasan

Issued/date :

48

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

ini hendaknya terpadu dengan pemerintah daerah setempat, melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan. c.Peluang kerja dan peningkatan pendapatan Pendekatan yang perlu dilakukan dalam hal memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah : 2) Kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kolaka Utara dalam proses penerimaan tenaga kerja yang dibutuhkan 3) Kerja sama dengan aparat kecamatan dan kepala desa sekitar lokasi proyek agar penduduk lokal mendapat prioritas utama sebagai tenaga kerja d.Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian Kegiatan pengoperasian PLTM dan produksi listrik diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan aktifitas ekonomi masyarakat di sekitarnya . Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain dengan membantu dalam upaya pengembangan dan peningkatan fungsi lembaga-lembaga sosial ekonomi yang ada di desa-desa sekitar proyek dalam menanggulangi permasalahan ekonomi dan mata pencaharian penduduk. e. Persepsi masyarakat Persepsi masyarakat yang muncul pada tahap operasi ini, mulai dari kegiatan penerimaan tenaga kerja, pengoperasian dan pemeliharaan PLTM sampai pada produksi listrik. Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan antara lain melalui kerja sama dengan lembaga pemerintah dan lembaga sosial yang ada agar pengoperasian PLTM dapat membantu masalah-masalah sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar proyek. 6.7.4 Tahap pasca operasi Pada tahap ini pendekatan institusi digunakan untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan pasca operasi PLTM. Pendekatan pengelolaannya antara lain : a.Ruang, tanah dan lahan Kerja sama dengan dinas PU pengairan Kabupaten Kolaka Utara untuk ikut ambil bahaya erosi seperti pemeliharaan bahu jalan dan pemeliharaan sungai Wotunuhu. b.Flora dan Fauna Kerja sama dengan dinas Kehutanan dan pendekatan dengan LSM dalam hal perlindungan dan pelestarian sumber daya hutan termasuk satwa liar dengan habitatnya. c. Biota perairan Pendekatan pengelolaannya adalah kerja sama dengan Perguruan Tinggi setempat dalam pengelolaan biota perairan sehingga kualitas air akan tetap bersih. d.Peluang kerja dan peningkatan pendapatan Pada tahap pasca operasi, terdapat dampak dari kegiatan rehabilitasi lahan terhadap peluang kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pendekatan secara institusional dilakukan antara lain dengan bekerja sama melalui Lembaga Pemerintah setempat, lembaga sosial desa atau LSM dalam proses pengadaan tenaga kerja pelaksanaan rehabilitasi lahan.

Issued/date :

49

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

e. Aktifitas ekonomi dan mata pencaharian 2) Kerja sama dengan Lembaga Pemerintahan setempat, lembaga sosial desa atau LSM dalam proses pengadaan sarana prasarana kebutuhan pelaksanaan rehabilitasi lahan. 3) Kerja sama dengan Lembaga Pemerintah setempat dalam memanfaatkan eks sarana dan prasarana PLTM bagi peningkatan pelaksanaan pembangunan masyarakat f. Persepsi masyarakat 1) Kerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kolaka Utara atau Perguruan Tinggi dalam merencanakan pelaksanaan rehabilitasi lahan sehingga memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar proyek 2) Kerja sama dengan PLN untuk menjaga kesinambungan distribusi aliran listrik agar pelayanan kepentingan masyarakat umum desa sekitar lokasi proyek tetap terjaga.

Issued/date :

50

PT JAYA CM

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Feasibility Study dan Detail Design PLTM Lapai 1(2 x 200 kW) - Sulawesi Tenggara

DAFTAR PUSTAKA

Issued/date :

51

PT JAYA CM

Anda mungkin juga menyukai