Anda di halaman 1dari 16

EKSTRAKSI ALGINAT

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Muh.Rezzafiqrulllah R : B1J010231 : II :5 : Alkaf Ibrahim Aji

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu sumber daya hayati yang cukup potensial dari perairan laut Indonesia adalah rumput laut dengan berbagai macam jenisnya. Rumput laut merupakan bagian dari tanaman perairan, yang termasuk pada kelas makro alga (Costa 2003). Saat ini Indonesia masih merupakan eksportir penting di Asia. Sayangnya rumput laut masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah yaitu berupa rumput laut kering, sedangkan hasil olahan rumput laut seperti agar-agar, karaginan dan alginat masih banyak diimpor dengan nilai yang cukup besar (Andriani 2006). Rumput laut coklat yang potensial untuk digunakan sebagai sumber penghasil alginat diantaranya adalah jenis Macrocystis, Turbinaria, Padina dan Sargassum sp. Kandungan alginat pada rumput laut coklat tergantung musim, tempat tumbuh, umur panen dan jenis rumput laut (Winarno 1996). Alginat merupakan suatu kopolimer linear yang terdiri dari dua unit monomerik, yaitu asam D-mannuronat dan asam L-guloronat. Alginat terdapat dalam semua jenis algae coklat (Phaeophyta) yang merupakan salah satu komponen utama penyusun dinding sel. Alginat yang ditemukan dalam dinding sel algae coklat tersebut terdiri atas garam-garam kalsium, magnesium, natrium, dan kalium alginat (Kirk dan Othmer 1994). Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perbandingan komposisi guluronat dan mannuronat dalam molekul. Asam alginat tidak larut dalam air dan mengendap pada pH < 3,5 sedangkan garam alginat dapat larut dalam air dingin atau air panas dan mampu membentuk larutan yang stabil. Natrium Alginat tidak dapat larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat sangat stabil pada pH 510, sedangkan pada pH yang lebih tinggi viskositasnya sangat kecil akibat adanya degradasi -eliminatif. Ikatan glikosidik antara asam mannuronat dan guluronat kurang stabil terhadap hidrolisis asam dibandingkan ikatan dua asam mannuronat atau dua asam guluronat. Kemampuan alginat membentuk gel terutama berkaitan dengan proporsi L-guluronat (An Ullmans 1998 dalam Maharani dan Widyayanti 2009).

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ekstraksi agar ini adalah untuk mengetahui kadar air dan proses ekstraksi kandungan kimia dari rumput laut seperti alginat, karaginan dan agaragar.

C.Tinjauan Pustaka

Beberapa jenis rumput laut yang bermanfaat bagi manusia adalah dari jenis rumput laut merah dan coklat. Rumput laut coklat mengandung berbagai senyawa diantaranya adalah agar-agar, karaginan, porpiran, maupun furcelaran. Disamping itu dalam rumput laut merah juga terkandung pigmen fikobilin yang terdiri dari fikoeritrin dan fikosianin yang berfungsi sebagai cadangan makanan berupa karbohidrat (Indriani dan Sumiarsih, 1997). Rumput laut coklat memiliki berbagai kegunaan. Senyawa algin yang memiliki banyak khasiat biologi dan kimiawi seperti dapat digunakan pada pembuatan obat antibakteri, anti tumor, penurunan tekanan darah dan mengatasi gangguan kelenjar terdapat pada rumput laut coklat. Rumput laut coklat dikenal sebagai penghasil algin dan iodin. Dinding sel mengandung asam alginik dan garam alginat. Kandungan koloid yang paling utama adalah algin. Koloid algin dalam dunia perdagangan disebut asam alginik. Algin dalam bentuk derivat garam dinamakan garam alginat terdiri dari sodium alginat, potasium alginat dan amonium alginat. Garam alginat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkali (Kadi, 2004). Alginat merupakan komponen utama dari getah alga coklat dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel. Secara kimia, algin merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linear yang panjang. Algin dalam pemanfaatannya berupa garam alginat dan garam ini larut dalam air. Industri yang membutuhkan alginat adalah industri kosmetik (sebagai bahan hand lotion, jeli, dan krem), industri karet (penstabil emulsi lateks dan menaikkan viskositas), industri makanan (sebagai bahan pengental, pembentuk gel, pengikat air, dan penstabil), industri farmasi (sebagai bahan sediaan cetakan gigi dan sebagai pengikat pada pembuatan tablet), dan industri kertas (sebagai bahan perekat dan bahan pengawet) (Winarno, 1990).

Asam alginat (masyarakat mengenalnya sebagai agar) merupakan komponen utama dari dinding sel alga cokelat (kelompok phaeophyceae, antara lain marga Hormophysa kutz, Hydroclthrus bory, Sargassum c. Agardh, dan Turbinaria J.V. Lamour) dan dapat dikomersialkan sebagai gel, pengikat, stabilisator, emulsifier, dalam pembuatan makanan, industri cat, bidang farmasi, dan bahan peledak. Algin sering digunakan sebagai sebutan untuk garam natrium yang larut dalam air, sedangkan garam dan esternya disebut alginat. Bentuk natrium alginat memiliki pasaran yang tinggi dan banyak dimanfaatkan. Secara kimia alginat merupakan komponen murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Isolasi alginat dari rumput laut coklat dilakukan dengan cara ekstraksi dengan Na2CO3 (Prasetyaningrum dan Purbasari, 2002). Bau senyawa alginat yang dihasilkan adalah tidak berbau (netral). Hal ini sesuai dengan pendapat Wikanta (1996) yang menyatakan bahwa senyawa alginat merupakan produk yang tidak berbau. Kerasnya senyawa alginat ini disebabkan senyawa alginat yang masih berikatan dengan mineral dan senyawa lain. Hal ini dijelaskan oleh pendapat Wikanta et al. (2000), yang menyatakan tingkat kekerasan berkaitan dengan kadar abu atau mineral yang masih tinggi. Algin adalah suatu bahan yang dikandung Phaeophyceae yang dikenal dalam dunia indistri dan perdagangan karena banyak manfaatnya. Pemanfaatan algin dalam dunia industri berbentuk asam alginat dan alginat (Soegiarto et al., 1992). Algin merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang (Winarno, 1990). Bentuk alginat yang paling banyak dijumpai adalah natrium alginat yaitu suatu garam alginat yang larut dalam air. Jenis alginat lain yang larut dalam air adalah kalium atau ammonium alginat, sedangkan alginat yang tidak larut dalam air adalah kalsium alginat (Yunizal 2004). Monomer penyusun algin ada 2 yaitu -D-Mannopiranusil Uronat dan -LAsam-Glukopiranosil uronat, kedua jenis monomer tersebut, algin dapat berupa hipopolimer yang terdiri dari monomer sejenis, yaitu -D-Mannopiranusil Uronat saja atau -L-Asam-Glukopiranosil uronat saja, atau algin dapat berupa senyawa heteropolimer jika monomer penyusunnya adalah gabungan kedua jenis monomer tersebut (Winarno, 1990). Indriani dan Sumiarsih (1994), menyatakan bahwa algin banyak digunakan dalam industri:

a. Makanan: pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup dan puding. b. Farmasi: tablet, salep, kapsul, plaster, filter. c. Kosmetik: krem, losion, sampo, cat rambut. d. Tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu. Standar mutu alginat yang digunakan dalam industri yaitu pH algin bervariasi dari 3,5-10, dengan viskositas (1% larutan alginat, 25oC) 10-5000 cps; dan kadar air 520% dengan ukuran partikel 10-200 mesh (Winarno, 1990). Menurut King (1983), kandungan alginat dari rumput laut cokelat sangat bervariasi tergantung dari tingkat kesuburan perairan, musim, bagian dari tanaman yang diekstrak dan jenis rumput laut. Upaya memproduksi alginat di Indonesia masih belum optimal, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian-penelitian guna meningkatkan kandungan alginat, diantarnya melalui optimasi ekstraksi alginat. Menurut Basmal et al., (2000), menyatakan bahwa metode ekstraksi yang dikembangkan oleh Instalasi Penelitian Perikanan Laut Sipil meliputi beberapa tahap yaitu demineralisasi, pencucian, ekstraksi, penarikan asam alginat menggunakan larutan HCL, pencucian, pertukaran ion H+ dengan ion Na+ dari larutan NaOH kemudian penarikan natrium alginat menggunakan alkohol dan pengeringan. Algin dapat diekstrak dari alginophyt , yaitu kelompok Phaeophyta yang menghasilkan algin antara lain dari Macrocistis, Ecklonia, fucus, Lessonia macrocistis dan Sargassum. Algin didapat dalam asam alginik yaitu turunan (derivat) dari sellulosa dan asam pektik (Bold dan Wynne, 1985). Rumus bangun moleul asam alginik menurut Aslan (1991), adalah sebagai berikut:
OH O alginik COOH O OH OH O OH O COOH O

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Sargassum polycistum 60 gr, aquadest, NaOH 0,5 %, KOH 2%, HCl 5 %, HCl 0,5 %, Na2CO3 1,5 % , Na2CO3 7%, isopropyl alkohol, H2SO4 15%. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas pH, thermometer, pompa vacuum, pengaduk dan alat penjepit cawan, Erlenmeyer 2000 mL, cawan, blender, kain saring ukuran 40-200 mesh, pipet, kompor, pengaduk, pipet, gelas ukur.

B. Metode

Dagram Alir Ekstraksi Alginat Sargassum polycistum

Dicuci dengan air mengalir berulang kali

Dijemur selama 2-3 hari sampai kadar air tersisa 30-40%

Direndam dengan KOH 2 % dengan rasio rumput laut : KOH (10:1) selama 30 menit

Ditiriskan lalu direndam dengan NaOH 0,5% selama 30 menit Dikstraksi dengan Na2CO3 5 %, 90 menit, suhu 70oC dengan kecepatan pengadukan 350 rpm, rasio (15:1)

Disaring dengan kain saring Pengasaman dengan HCl 5% hingga pH 2,8 3,2

Pemucatan dengan H2O2 6 %, rasio ( 1:1 )

Pengendapan, dengan NaOH 10 % ( pH 8,5-9,0) selama 5 jam

Pemurnian dengan alkohol 95 %, rasio ( 1:1 ) selama 15 menit

Dicetak kemudian dipress

Rendemen dihitung

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Rumput laut : Sargassum polycistum 30 gram Produk kering : 29 gram Rendemen alginat (%) =

B. Pembahasan Klasifikasi Sargassum polycystum menurut Aslan (1991) adalah sebagai berikut : Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Phaeophyta : Phaeophyceae : Fucales : Sargassaceae : Sargassum : Sargassum polycystum Sargassum sp. memiliki bentuk thallus silindris atau gepeng, banyak

percabangan yang menyerupai pepohonan di darat, bangun daun melebar, lonjong seperti pedang, memiliki gelembung udara yang umumnya soliter, batang utama bulat agak kasar, dan holdfast (bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Pinggir daun bergerigi jarang, berombak, dan ujung melengkung atau

meruncing. Sargassum sp tersebar luas di perairan Indonesia, dapat tumbuh di perairan terlindung maupun berombak besar pada habitat berkarang.Sargassum sp biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu pigmen coklat yang menutupi warna hijau, hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminarin dan algin serta adanya flaget. Rumput laut jenis Sargassum umumnya merupakan tanaman perairan yang mempunyai warna cokelat, berukuran relatif besar, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang kuat. Bagian atas menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral atau radial serta dilengkapi bagian sisi pertumbuhan (Anggadiredja et al. 2008) Ciri-ciri umum dari Sargassum polycystum yaitu thallus silindris berduri-duri kecil merapat, holdfast membentuk cakram kecil dengan diatasnya secara karakteristik terdapat perakaran atau stolon yang rimbun berekspansi ke segala arah dan batang pendek. Adanya macam-macam thallus pada Sargassum polycystum, tallus tipe batang, tallus tipe daun tallus, tipe vesikel, tallus tipe cabang. Sargassum polycystum memiliki mafaat yang sama dengan Sargassum duplicatum yaitu sama-sama bisa dimanfaatkan dalam pembuatan alginat. Alga yang kosmopolitan di daerah tropis hingga subtropis. Bukan merupakan alga endemic. Kemudian dilakukan tahapan-tahapan proses ekstraksi sebagai berikut :

1)

Perendaman menggunakan larutan KOH 2 % selama 30 menit. Larutan KOH berfungsi untuk menentukan kadar abu dalam alginat. Setelah itu dicuci dengan air yang mengalir selama 5 menit.

2)

Perendaman menggunakan larutan NaOH 0,5 % selama 30 menit. Larutan NaOH berfungsi untuk membersihkan rumput laut dari kotoran-kotoran yang masih menempel dan melunakkan. Perubahan yang terjadi setelah direndam dengan larutan NaOH adalah warna rumput laut menjadi coklat.

3)

Perendaman menggunakan larutan HCl 0,5 % selama 30 menit. Fungsi larutan HCl adalah untuk menetralkan rumput laut dari keadaan basa setelah perendaman NaOH. Perubahan yang terjadi adalah warna rumput laut menjadi coklat kehitaman.

4)

Ekstraksi menggunakan larutan Na2CO3 7 % pada suhu 50C selama 3 jam. Fungsi dari larutan Na2CO3 yaitu untuk pengeluaran algonofit dan selulosa dari dinding sel. Larutan dipanaskan menggunakan hot plate sampai mencapai suhu 50C dan diusahakan agar suhunya tetap, hal ini dikarenakan pada suhu tersebut ekstraksi dapat berjalan dengan baik. Setelah diekstraksi selama 2 jam, larutan disaring menggunakan kain dan perubahan yang terjadi adalah warna rumput laut menjadi hitam kecoklatan.

5)

Pengasaman menggunakan larutan HCL 5%. Biasanya HCL yang digunakan sebanyak 90-105 ml. Pengasaman dilakukan sampai pH menjadi 2,8-3,2. Perubahan yang terjadi rumput laut menjadi berbusa setelah ditambahkan HCL.

6)

Pemucatan menggunakan H2O2 6% sebanyak 600 ml selama 1 jam. Warna rumput laut yang tadinya coklat berubah menjadi putih. Pemurnian menggunakan alkohol 95%. Natrium alginat dan alkohol dimasukkan secara bersamaan ke dalam suatu wadah dengan perbandingan 1:1 dan ditunggu selama 5 menit. Hasilnya terjadi penggumpalan atau pemisahan antara larutan alginat dan residunya (Na alginat terikat).

7)

8)

Larutan alginat yang terbentuk disaring dan dikeringkan. Menurut Rahematullah (2010), proses pengolahan alginat dari rumput laut coklat

adalah rumput laut coklat ditimbang lalu dicuci menggunakan air mengalir dengan berulang kali sampai bersih. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang mungkin terikut selama penyimpanan ataupun dalam perjalanan (tranportasi). Perendaman rumput laut coklat dilakukan setelah penjemuran secara langsung. Perendaman menggunakan larutan KOH 2% selama 30 menit dengan tujuan untuk

melunakkan rumput laut. Perendaman selanjutnya dengan larutan NaOH 0,5% dan HCl 0,5% masing-masing selama 30 menit. Tujuan adalah mengembalikan kondisi seperti semula (segar) dari rumput laut coklat serta untuk mempersiapkan tekstur rumput laut menjadi lunak dan juga mempengaruhi terhadap rendemen, sehingga akan mempermudah dalam proses ekstraksi alginat juga untuk melarutkan zat warna dan garam-garam dan untuk menghilangkan kotoran atau bahan-bahan yang tidak diinginkan. Ekstraksi rumput laut menggunakan larutan Karbonat (Na2CO3) 5% dengan suhu 70 oC selama 90 menit. Tujuan dari ektraksi atau perebusan adalah untuk mempermudah ekstraksi alginat dan melarutkan alginat berbobot molekul tinggi, sedangkan penambahan sodium karbonat (Na2CO3) adalah untuk meningkatkan viskositas (kekentalan) serta akan menghancurkan terhadap rumput laut. Dari hasil ekstraksi rumput laut coklat disaring. Tujuan dari proses penyaringan ini adalah untuk memisahkan filtrat alginat dengan selulose (ampas) serta akan mendapatkan filtrat alginat dengan maksimal. Pengasaman dengan menambahkan larutan HCl 5% ke dalam filtrat alginat 5 jam. Tujuannya adalah untuk menstabilkan pH 2,8-3,2. Proses pemutihan atau pemucatan yaitu dengan menambahkan larutan H2O2 6% selama 1 jam dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan bau sebagai perlakuan awal dengan asam, disamping itu filtrat alginat akan berubah warna menjadi putih gading. Pengendapan natrium alginat dengan menambahkan larutan (NaOH) 10% selama 5 jam dan dilanjutkan dengan menuangkan ke dalam isopropil alkohol (IPA) atau alkohol 95% lalu didiamkan selama 15 menit. Tujuanya adalah untuk menghasilkan endapan natrium alginat atau penarikan serat-serat alginat. Na-alginat dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 60oC selama 2-3 hari. Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi atau menghilangkan kadar air yang terkandung dalam Na-alginat sehingga akan mempermudah proses penepungan (Rahematullah, 2010). Alginat dimanfaatkan dalam berbagai industri seperti industri makanan, minuman, obat, kosmetik, tekstil, industri cat dan penggunaan lainnya. Pemanfaatan alginat sebagai emulsifying agent, disintegrating agent, moisturizing agent,

pemanfaatan ini didasarkan pada sifat fisika dan kimia alginat (Rachmat dan Rasyid 2004). Alginat telah terbukti memperkuat mucus, perlindungan alamiah dari dinding usus, dapat memperlambat pencernaan, dan pelepasan gizi di dalam tubuh. Lebih lanjut, alginat mengandung serat yang tinggi, mengandung mineral penting, mudah dicerna, enak dan aman. Selama ini alginat telah banyak digunakan sebagai bahan jelly, perekat

makanan bertepung, bahan pengental pada pembuatan minuman semacam bir, es krim, cream pada yoghurt dan Iain-lain. Di Indonesia telah dikenal minuman alginat, namun masih perlu dukungan promosi yang lebih luas. Kemungkinan penggunaan lain yang perlu dipopulerkan adalah sebagai casing sosis, mengingat sosis sebagai makanan praktis yang popular (Yunizal 2004). Ekstrak alginat berperan dalam industri makanan, tekstil, kesehatan dan kosmetik . dalam industri makanan, alginat digunakan untuk menstabilkan campuran,dispersi dan emulsi, yang meningkatkan viskositas dan bentuk gel, seperti selai dan jeli Alginat dapat digunakan dalam pembuatan kapsul lunak dan dikonsumsi sebagai minuman untuk menurunkan darah gula yang meningkat. Dalam industri tekstil, alginat digunakan sebagai aditif untuk pewarna tekstil

(Mushollaeni,2011). Alginat juga banyak digunakan pada industri kosmetik untuk membuat sabun, cream, lotion, shampo, dan pencelup rambut. Industri farmasi memerlukannya untuk pembuatan suspense, emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Dalam industri makanan atau bahan makanan alginat banyak dijadikan sayur, saus, dan mentega. Dalam beberapa proses industri, alginat juga diperlukan sebagai bahan additive antara lain pada industri tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pestisida, pelindung kayu, dan pencegah api (Susanto et.al, 2009). Standar mutu internasional untuk asam alginat dan garam alginat sesuai dengan Food Chemical Codex yang ditentukan FAO (1981) dalam Yunizal (2004) adalah sebagai berikut: Tabel 2. Standar mutu asam alginat dan garam alginat Karakteristik Asam alginat Garam alginat Kemurnian (% berat kering) 91-104% 90.8-106% Rendemen >20% >18% Kadar CO2 <23% <21% Kadar As <3 ppm <3 ppm Kadar Pb <0.004% <0.004% Kadar Abu <4% 18-27% Susut pengeringan <15% <15% Viskositas merupakan faktor kualitas penting untuk zat cair dan semi cair (kental), hal ini merupakan ukuran dan kontrol untuk mengetahui kualitas produk akhir (Joslyn, 1970 dalam Wadli, 2005). Menurut Ostwal (1992) dalam Wadli (2005), viskositas hidrokoloid dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya konsentrasi dan suhu. Menurut Anggadiredja (2006), semakin tinggi suhu pengeringan nilai

viskositasnya semakin tinggi. Hal ini diduga bahwa dengan kenaikan suhu pengeringan akan meningkatkan terbentuknya jumlah ester sulfat sehingga meningkat pula viskositasnya. Nilai viskositas yang dihasilkan oleh Na-alginat sebesar 1,98 cps sedangkan K-alginat menghasilkan viskositas yang lebih tinggi yaitu sebesar 2,10 cps. Viskositas alginat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kadar larutan, dan derajat polimerisasi. Peningktan derajat polimerisasi menaikkan viskositas, demikian pula dengan konsentrasi. Viskositas juga akan meningkat dengan penambahan sejumlah NaCl, natrium sulfat, atau natrium karbonat. Sifat pertukaran ion pada natrium alginat tergantung pada pembentukan gel dan konsentrasi ion natrium. Viskositas dipengaruhi oleh konsentrasi, temperatur, tingkat dispersi, kandungan sulfat, inti elektrik, keberadaan elektrolit dan non elektrolit, teknik perlakuan, tipe dan berat molekul (Towle, 1973 dalam Sukri, 2006). Hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh berat senyawa alginat sebanyak 29 gram, sedangkan rendemen karaginan sebesar 96,67%, rendemen yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan standar mutu internasional yang mencapai 18 % (FAO 1981 dalam Yunizal 2004). Tingginya rendemen diduga karena kadar garam alginat yang tetap terpelihara pada waktu proses pemucatan. Proses pemucatan menyebabkan pigmen teroksidasi dan terdegradasi. Rendemen alginat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti spesies, iklim, metode ekstraksi, waktu pemanenan, dan lokasi budidaya (Chapman dan Chapman 1980 dalam Sukri 2006).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut: 1. Metode ekstraksi meliputi beberapa tahap yaitu demineralisasi, pencucian, ekstraksi, penarikan asam alginat menggunakan larutan HCl, pencucian, pertukaran ion H+ dengan ion Na dari larutan NaOH, pemucatan kemudian penarikan natrium alginat menggunakan isopropyl alkohol dan pengeringan. 2. Kandungan rendemen Alginat dari rumput laut jenis Sargassum polycistum sebesar %.

DAFTAR REFERENSI

Anggadirejda, J, A. Zatnika, H. Purwoto dan S. Istini. 2008. Rumput laut. Penerbit Swadaya, Jakarta Aslan, L.M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta. Basmal, J., T. Wikanta dan Tazwir. 2000. Pengaruh Kombinasi Perlakuan Kalium Hidroksida dan Natrium Karbonat dalam Ekstraksi Natrium Alginat Terhadap Kualitas Produk Yang dihasilkan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 8(6): 45-52. Bold, H.C. and M. J. Wynne. 1985. Introduction to The Algae. Prentice Hall Inc, New Jersey. Chapman, V.J, dan D. B. Chapman. 1980. Seaweed and Their Uses 3rd ed. Chapman and Hall Ltd. London Costa, M., 2003, Potential Hazard of Hexavalent Chromate in Our Drinking Water, Toxicol. Appl. Pharmacol., 188 : 1-5. Indriani, H dan Sumiarsih, E. 1997. Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta Kadi, A. 1988. Beberapa Catatan Kehidupan Marga Sargassum sp. Di Perairan Indonesia Bidang Sumber Daya Laut. Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta. King, H.K. 1983. Brown Seaweed Extract (Alginates). In Glicksman M (ed). Food Hydrocolloids. CRC Press Inc, Bocaraton Florida Maharani Marita Agusta & Rizkia Widyayanti. 2009. Pembuatan Alginate dari Rumput Laut Untuk Menghasilkan Produk dengan Rendemen dan Viskositas Tinggi. Fakultas Teknik Iniversitas Diponegoro. Rahematullah, M. 2010. Proses Pengolahan Alginat dari Rumput Laut Coklat (Turbinaria ornata) dan Pemanfaatannya di Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknolgi (BBRP2B) Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat. Soegiarto, A. H. Mubarak, S., dan W. S. Atmadja. 1992. Rumput Laut (Alga) : Manfaat dan Budidaya. LIPI, Jakarta. Sukri N. 2006. Karakteristik Alkali Treated Cottonii (ATC) dan karaginan dari rumput laut Eucheuma cottonii pada umur panen yang berbeda [skripsi]. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Susanto, T., S. Rakhmadino dan Muljianto. 2001. Karakterisasi Ekstrak Alginat dari Padina sp.. Jurnal Teknologi Pertanian 2 (2): 96-109.

W Mushollaeni.2011. The physicochemical characteristics of sodium alginate from Indonesian brown seaweeds. African Journal of Food Science Vol. 5(6), pp. 349 352. Winarno FG. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Wikanta, T. 1996. Prospek Pengembangan dan Pemanfaatan Rumput Laut Coklat (Phaeophyceae) di Indonesia Sebagai Sumber Senyawa Alginat. Jurnal Litbang Pertanian XV (1): 16-21. Wikanta, T., Basmal J., Yunizal. 2000. Pengaruh Perbedaan Bahan Pengemas dan Lama Penyimpanan pada Suhu Kamar Terhadap Sifat Fisiko_Kimia Produk Natrium Alginat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan. (1999/2000): 301-309. Yunizal. 2004. Teknik pengolahan alginat. Jakarta : Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Anda mungkin juga menyukai