Anda di halaman 1dari 4

PENCEGAHAN Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika anda belum terinfeksi HIV AIDS: Pahami HIV

V AIDS dan ajarkan pada orang lain. Memahami HIV AIDS dan bagaimana virus ini ditularkan merupakan dasar untuk melakukan tindakan pencegahan, sebarkan pengetahuan ini ke orang lain seperti keluarga, sahabat dan kerabat. Ketahui status HIV AIDS patner seks anda. Berhubungan seks dengan sembarangorang menjadikan pelaku seks bebas ini sangat riskan terinfeksi HIV, oleh karena itu mengetahui status HIV AIDS patner seks sangatlah penting. Gunakan jarum suntik yang baru dan steril. Penyebaran paling cepat HIV AIDSadalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang memiliki status HIV positif, penularan melalui jarum suntik seri ng terjadi pada IDU (injection drug user).

Gunakan Kondom Berkualitas. Selain membuat ejakulasi lebih lambat, penggunaan kondom saat berhubungan seks cukup efektif mencegah penularan HIV AIDS melalui seks. Lakukan sirkumsisi / khitan. Banyak penelitian pada tahun 2006 oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang melakukan khitan memiliki resiko 53 % lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi.

Lakukan tes HIV secara berkala. Jika anda tergolong orang dengan r esiko tinggi, sebaiknya melakukan tes HIV secara teratur, minimal 1 tahun sekali. Pencegahan bagi penderita yang sudah terkena infeksi

Pencegahan bagi penderita yang sudah terkena infeksi : Beritahu partner seks bahwa anda telah positif HIV AIDS. Pemahaman patner seks terhadap status HIV sangatlah penting untuk antisipasi paska seks agar tidak menular ke yang lain.

Jika anda hamil, segera konsultasikan dengan tim medis terdekat agar mendapat penanganan khusus. Hindari donor darah dan donor organ. Jangan biarkan orang lain memakai sikat gigi dan barang -barang pribadi lainnya,meskipun kemungkinan tertular melalui barang-barang pribadi ini sangat kecil, tapi tetap saja masih ada kemungkinan. Beritahukan status HIV AIDS anda kepada orang yang terper caya. Selain untuk melindungi orang lain, hal ini juga untuk memastikan bahwa anda mendapat perawatan dari orang tersebut.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi HIV/AIDSberdasarkan tes yang dapat mendeteksi adanya antigen dan antibody HIV. Ketika HIVmemasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan membentuk antibody sebagai respon tubuhterhadap infeksi. Sehingga apabila pada darah seseorang terdapat antibody HIV, makaseseorang tersebut adalah terinfeksi. Kebanyakan orang membentuk antibody HIV antara6-2 minggu dari waktu infeksi. Dan pada kasusu yang jarang dapat mencapai waktu 6bulan. Melakukan tes HIV dalam waktu kurang dari 3 bulan sejak terinfeksi dapatmenghasilkan hasil yang meragukan karena pada waktu tersebut kemungkinan orangyang terinfeksi belum membentuk antibody terhadap HIV. Waktu antara seseorangterinfeksi dan pembentukan antibody HIV disebut window period. Pada masa ini tidakditemukan antibody HIV pada tubuh mereka. Tetapi pada window period dapatmenularkan virus HIV pada orang lain walaupun hasil tes HIV negative karena orangtersebut memiliki HIV dengan level yang tinggi pada darah, cairan -cairan seksualataupun ASI. Di Amerika Serikat dilakukan kombinasi dua tes antibody HIV. Apabilaantibody HIV dideteksi pada tes awal (ELISA), lalu dilakukan tes kedua yaitu WesternBlot untuk mengukur antigen yang berikatan dengan antibody. Test ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) ELISA merupakan komponen integral dari laboratorium klinik. Tingkat sensitifitasyang tinggi dan minimnya pengunaan radioisotop menyebabkan tes ini luas digunakanuntuk mendeteksi antigen dan antibody secara kualitatif dan kuantitatif. Jikadigunakan dengan baik, tes ini mempunyai sensitifitas > 98%. Dasar pemeriksaan iniadalah mereaksikan antigen HIV dengan serum. Apabila di dalam serum terdapatantibody HIV, akan terjadi

ikatan antigen-antibody. Serum ditambahkan anti IgG yangbertanda peroksidase. Terjadi ikatan antigen-antibody dengan anti IgG peroksidase.Peroksidase yang terikat akan memecah substrat yang ditambah sehinggamenghasilkan perubahan warna yang akan dibaca dengan spektrofotometer. Njika terdeteksi antibody virus di dalam jumlah besar akan memperlihatkan warna yang lebih tua. Bila tes anibody berdasrkan ELISA digunakan untuk skrining populasi denganprevalensi infeksi HIV yang rendah(misalnya donor darah), hasil yang positif dalamsampel serum harus dikonfirmasi dengan tes ulang. Hal ini untuk mencegah hasilpemeriksaan yang positif palsu atau negative palsu. Oleh karena itu, pemeriksaanELISA diulang dua kali, dan jika menunjukkan hasil positif, dilakukan pemeriksaanyang lebih spesifik untuk konfirmasi. Tes Western Blot Tes Western Blot merupakan cara pemeriksaan yang lebih spesifik, dimana antibodyterhadap protein HIV dari berat molekul tertentu dapat terdeteksi. Tes inimenggunakan kombinasi dari elektroforesis dan tes ELISA sehingga dapatmenentukan respon terhadap berbagi protein spesifik. Cara pemeriksaan, HIV yang telah dimurnikan kemudian dielektroforesis dam gelpoliakrilamid. Hasil pemisahan berabagi antigen HIV dipindahkan ke kertasnitoroselulosa yang kemudian dipotong menjadi potongan -potongan kecil dandiinkubasi dengan serum yang diperiksa. Adanya antigen HIV akan menghasilkanpita-pita pada berat molekul yang sesuai. Tes Western Blot paling sering digunakan untuk konfirmasi dari tes skriningserologic reaktif untuk antibody HIV. Tes ini dianggap positif untuk HIV -1 bilamengandung pada pita-pita pada berta molekul yang sesuai untuk prot ein inti virus(p24) atau glikoprotein selubung gp41, gp120 atau gp160. kemampuan untukmengenali reaktifitas spesifik terhadap protein tertentu menyebabkan tes inimempunyai tingkat spesifitas yang tinggi. PCR (Polymerase Chain Reaction) Tes ini digunakan untuk mendeteksi materi genetic virus pada darah. Pemeriksaan inisangat akurat dan dapat mendeteksi infeksi virus HIV secara dini. Tes PCR dapatmendeteksi virus 14 hari setelah infeksi. Dalam penelitian infeksi HIV digunakan 2 bentuk PCR, yaitu PCR DNA dan PCR RNA. PCR RNA telah digunakan, terutama untuk memantau perubahan kadar genom HIV yang terdapat dalam plasma. Pengujian PCR ini menggunakan metode enzimatikuntuk mengaplifikasi RNA HIV sehingga dengan cara hibridisasi dapat dideteksi. Tesberbasis molekuler ini merupakan cara yang sangat sensitif.

Pengujian PCR DNA dikerjakan dengan mengadakan campuran reaksi dalam tabungmikro yang kemudian diletakkan pada blok pemanas yang telah deprogram pada seritemperature yang diinginkan. Pada dasarnya target DNA diekstraksi dari spesimen dansecara spesifik membelah dalam tabung sampai diperoleh jumlah yang cukup yangakan digunakan untuk deteksi hibridisasi. Diagnosis awal infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV sulitdilakukan karena adanya antibody maternal membuat tes-tes serologik tidak bersifatinformatif. Pengujian PCR dapat memperkuat adanya genom HIV dalam serum atausel sehingga bermanfaat dalam diagnosis. Uji ini mempunyai sensitifitas 93,2% danspesifitas 94,9%. Tes Antibodi

Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.

DAFTAR PUSTAKA Brunner&suddart.2005. Keperawatan Medikal Bedah .Jakarta;EGC Nursalam, M.Nurs (Hons) dan Ninuk Dian kurniawati, S.Kep.Ns. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS . Jakarta : Salemba medika Smeltzer,Suzanne C.2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed.8 .Jakarta;EGC http://pemudaindonesiabaru.blogspot.com http://srigalajantan.wordpress.com/2009/12/14/asuhan -keperawatan-hivaids/