Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Setiap hari pekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing, menggunakan otot, ligamen, tulang, dan sendi untuk melakukan pekerjaan seperti mengangkat, menurunkan, menjinjing, menarik, dan mendorong benda-benda. Tidak jarang pekerjaan yang dilakukan atau cara pekerja melakukan pekerjaannya, terlalu / sangat membebani tubuh pekerja tersebut sehingga menyebabkan kelelahan otot, pegal linu, dan nyeri otot, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya cedera / gangguan otot tulang rangka akibat kerja. Tercatat sekitar 70 juta kunjungan ke dokter yang diakibatkan oleh GOTRAK. Ini merupakan masalah kesehatan kerja yang paling mahal, dan ada di hampir setiap tempat kerja. Oleh karena itu perlu adanya upaya komprehensif untuk menangani masalah ini. Sebagai langkah awal adalah mengenali daerah-daerah pada tubuh manusia yang dapat mengalami GOTRAK. GOTRAK dapat terjadi di daerah leher, bahu, lengan, pergelangan tangan, punggung, panggul, tungkai, dan kaki. Pada makalah ini akan dibahas mengenai gangguan otot rangka akibat kerja pada daerah leher. Nyeri leher atau dikenal juga sebagai nyeri servikal merupakan keluhan yang sering dijumpai di praktik klinik. Tiap tahun 16,6% populasi dewasa mengeluh rasa tidak enak dileher, bahkan 0,6% berlanjut menjadi nyeri leher yang berat. Insidens nyeri leher meningkat dengan bertambahnya usia. Lebih sering mengenai pria daripada wanita dengan perbandingan 1,67 : 1. Meskipun dapat diakibatkan adanya proses patologis pada jaringan lunak, namun lebih sering akibat kondisi yang berhubungan dengan tulang belakang servikal. Gangguan otot rangka akibat kerja pada leher dapat berupa : neck sprain, herniasi diskus akut, degeneratif diskus servikalis, whiplash injury, tension neck syndrome, sindrom servikal, dan spondilosis servikalis. Spondilosis servikalis merupakan penyakit yang biasanya menyerang usia pertengahan dan usia lanjut, dimana diskus dan tulang belakang di leher mengalami degenerasi. Perubahan degeneratif pada tulang servikal ditandai dengan adanya pengurangan tinggi diskus, dan adanya proliferasi jaringan tulang (spur atau osteofit). Perubahan-perubahan ini dapat terlihat pada pemeriksaan radiologi. Walaupun seringnya dikaitkan dengan proses penuaan, namun ada beberapa kelompok pekerja yang rentan mengalami kelainan ini. Contoh pekerjaan itu adalah pekerja pemikul beban di kepala, dokter gigi, penambang, dan pekerja berat. Membawa

beban yang berlebihan dikepala dapat memberi beban pada tulang servikalis. Selain itu, posisi ekstrim pada tulang servikal akibat posisi kerja tertentu juga dapat memberi beban yang tinggi pada bagian tersebut. Hal-hal tersebut yang akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya spondilosis servikalis, yang akan dibahas pada makalah ini. 1.2 Permasalahan Hubungan antara jenis pekerjaan dengan Spondilosis Servikalis. Bagaimana seorang dokter okupasi mendiagnosa dini dan menangani spondilosis servikalis, serta melakukan pencegahan.

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Memberi pengetahuan mengenai penyakit spondilosis servikalis yang dapat diakibatkan pekerjaan. Dapat melakukan upaya-upaya pencegahan agar tidak terjadi penyakit spondilosis servikalis di tempat kerja. 1.3.2 Tujuan khusus Mengetahui manifestasi klinis spondilosis servikalis. Mengetahui cara pemeriksaan fisik untuk mendiagnosa spondilosis servikalis. Mengetahui pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Mengetahui penatalaksanaan spondilosis servikalis.

DAFTAR ISI

BAB I BAB II

: PENDAHULUAN

: TINJAUAN PUSTAKA I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX. X. XI. Definisi Anatomi .. 5 .. 5 . 7 . 9 . 9

Epidemiologi . 6 Etiologi Faktor risiko Patofisiologi

Manifestasi klinis .. 10 Pemeriksaan fisik 14 Pemeriksaan penunjang . 14 Diagnosa banding . 16 Penatalaksanaan .. 17 19 20 . 21

BAB III BAB IV

: PEMBAHASAN : KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Definisi

Spondilosis Servikalis adalah istilah umum yang menggambarkan adanya perubahan degeneratif yang timbul baik spontan akibat usia, maupun sebagai akibat dari trauma dan kondisi patologis lainnya. Perubahan degeneratif ini ditandai dengan adanya pengurangan tinggi diskus, dan adanya proliferasi jaringan tulang (spur atau osteofit). II. Anatomi

Tulang belakang servikal terdiri atas 7 vertebra dan 8 saraf servikal. Fungsi utama leher adalah menghubungkan kepala dengan tubuh. Stabilitas kepala tergantung pada 7 buah vertebra servikal. Hubungan antara vertebra servikal melalui suatu susunan persendian yang cukup rumit. Gerakan leher dimungkinkan karena adanya berbagai persendian, facet joint yang ada di posterior memegang peranan penting. Sepertiga gerakan fleksi dan ekstensi dan setengah dari gerakan laterofleksi terjadi pada sendi atlantooksipitalis (dasar tengkorak dengan VC1). Sendi atlantoaxialis (VC1-VC2) memegang peranan pada 50% gerakan rotational. VC2 hingga VC7 memegang peranan pada 2/3 gerakan fleksi dan ekstensi, 50% gerakan rotasi, dan 50% gerakan laterofleksi. Delapan saraf servikal berasal dari medula spinalis segmen servikal. Saraf servikalis keluar dari medula spinais di atas vertebra yang bersangkutan, namun saraf servikal ke-8 keluar dari medula spinalis di bawah VC7 dan diatas VTh1 serta costa pertama. Saraf-saraf ini

memberikan layanan saraf sensorik pada tubuh bagian atas dan ektremitas superior berdasarkan pola dermatom. Sedangkan layanan motorik dan refleks dapat dilihat pada tabel berikut. Saraf VC3-5 VC5 VC6 Inervasi motorik Diafragma Otot deltoid, biceps Ekstensi tangan, pergelangan abduktor, dan Refleks

ekstensi ibu jari VC5-6 VC7 Triceps, fleksi pergelangan tangan, ekstensi jari VC6-7 VC8 VTh1 Fleksi jari Otot-otot intrinsik tangan Triceps Biceps, brakioradialis

Tulang belakang servikal dalam kehidupan sehari-hari bekerja dangat berat, tidak terhitung jumlah gerakan yang harus dilakukan dalam proses menunjang fungsi kepala. Fungsi kepala antara lain berbicara, melihat, membau, mendengar, makan/minum dan menahan

keseimbangan sewaktu tubuh bergerak. Setiap gerakan dari bagian tubuh tertentu harus diimbangi gerakan servikal, maka tidak mengherankan nyari servikal sering timbul. III. Epidemiologi Tiap tahun 16,6% populasi dewasa mengeluh rasa tidak enak dileher, bahkan 0,6% berlanjut menjadi nyeri leher yang berat. Insidens nyeri leher meningkat dengan bertambahnya usia. Lebih sering mengenai pria daripada wanita dengan perbandingan 1,67 : 1. Penelitian yang dilakukan Universitas California, Los Angeles, USA, dengan menggunakan desain cross sectional, menemukan hubungan antara beberapa kelompok pekerja dengan terjadinya spondilosis servikalis. Odd ratio secara signifikan lebih dari 1 ditemukan pada pekerja pembawa daging, dokter gigi, penambang, dan pekerja berat. Frekuensi degenerasi lebih sedikit pada pekerja pabrik katun dan populasi umum.

IV. Etiologi Seiring bertambahnya usia, tulang dan kartilago yang membentuk tulang belakang dan leher akan perlahan-lahan menjadi licin atau robek. Perubahan ini mencakup : Dehidrasi diskus

Diskus berperan seperti bantalan diantara vertebra pada tulang belakang. Pada umur 40 tahun, kebanyakan diskus tulang belakang menjadi kering dan menyusut, yang akan membuat kontak antar vertebra lebih berdekatan. Herniasi diskus

Usia juga mempengaruhi bagian luar diskus tulang belakang. Retak dapat timbul, dan membuat diskus menonjol, atau herniasi diskus, yang kadang-kadang akan menekan korda spinalis dan serabut saraf. Spur pada tulang

Degenerasi diskus sering menghasilkan jaringan tulang yang berlebih pada tulang belakang dan dinamakan spur tulang, yang kadang-kadang dapat menjepit korda spinalis dan serabut saraf. Ligamen menjadi kaku

Ligamen adalah lanjutan dari jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang. Bertambahnya usia dapat membuat ligamen menjadi kaku dan terkalsifikasi, sehingga membuat leher kurang fleksibel.

V. Faktor Risiko Faktor risiko yang dapat membuat terjadinya spondilosis servikalis : Usia Spondilosis servikalis normal terjadi seiring dengan proses penuaan. Diskus spinalis cenderung dehidrasi dan menyusut dengan bertambahnya usia. Pekerjaan Pekerjaan tertentu dapat memberi beban tambahan pada leher. Termasuk didalamnya gerakan repetitif pada leher, posisi janggal, atau pekerjaan dengan beban berat di leher. Seperti yang dibahas pada epidemiologi diatas, contoh pekerjaan yang memiliki faktor risiko : pekerja berat yang membawa beban di kepala, dokter gigi, penambang, pembawa daging. Cedera leher Riwayat cedera leher akan meningkatkan risiko terjadinya spondilosis servikalis. Karena mungkin ada struktur yang berubah pada tulang belakang leher. Faktor genetik Beberapa anggota keluarga akan lebih banyak mengalami perubahan ini dari waktu ke waktu, sementara keluarga lain lebih jarang.

VI. Patofisiologi Perubahan degeneratif yang terjadi pada spondilosis servikalis akan timbul secara perlahan. Peristiwa yang mengawalinya mungkin diakibatkan perubahan dari biokimia substansi diskus yang menyebabkan berkurangnya kadar cairan. Hal ini menyebabkan perubahan pada biomekanik tulang belakang karena hilangnya mekanisme penahan benturan oleh diskus. Akibatnya terjadi perubahan sekunder pada komponen jaringan lain (facet joint dan ligamen) yang terdiri dari elemen-elemen sendi artikulasi diantara tulang belakang. Tubuh manusia bereaksi pada keadaan abnormal ini dengan mencoba menyembuhkan tulang belakang seperti halnya pada fraktur tulang panjang yaitu dengan memproduksi deposit penghubung tulang yang dinamakan marginal osteofit (spurs). Jika proses ini berhasil maka terjadi auto-fusion. KirkadyWillis menyusun proses ini menjadi tiga fase : 1. Disfungsi 2. Ketidakstabilan (instability) 3. Stabilisasi ( stabilization)

Ketidakstabilan pada fase dua dapat menimbulkan rasa sakit pada pergerakan yang sedikit ataupun subluksasi yang tampak jelas (degeneratif spondilolithesis). Akhirnya, tulang belakang sebelumnya, menjadi lebih pendek (akibat berkurangnya tinggi diskus) dan kaku (akibat autofusion spontan). Kadang proses ini terjadi terus menerus hingga selesai, sementara pada pasien lain proses ini akan berhenti dan gagal untuk melanjutkan. Ada kalanya rangkaian proses klinis yang kronis menjadi rumit dengan adanya herniasi diskus akut. Nukleus pulposus yang bergeser dan/atau anulus fibrosus yang menonjol dinamakan herniasi diskus lunak. Sebaliknya, pembentukan kalsifikasi yang meluas pada posterior marginal osteofit secara perlahan dinamakan herniasi diskus keras. Kedua jenis ini dapat muncul dengan manifestasi klinis yang berbeda. VII. Manifestasi Klinis Dari sudut statistik, spondilosis servikalis biasanya dihubungkan dengan sakit ringan yang sembuh sendiri, atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Meski demikian, beberapa pasien dapat mengalami keluhan. Terdapat tiga sindrom klinis yang berbeda dari spondilosis servikalis. Tipe I Tipe II Tipe III : radikulopati servikalis : mielopati servikalis : nyeri sendi aksial, atau nyeri leher mekanik, nyeri segmen motion, nyeri

diskogenik, sindrom facet, dll. Tipe I dan II mencerminkan adanya keterlibatan saraf, sementara tipe III mewakili nyeri sendi akibat disfungsi. Seringkali terdapat tumpang tindih antara sindrom-sindrom tersebut, karena dapat timbul bersamaan. Bagaimanapun juga untuk jelasnya, ketiganya akan dibahas secara terpisah. Tipe I : radikulopati servikalis Radikulopati servikalis adalah sindrom yang paling mudah dikenali dan manifestasi klinisnya adalah nyeri pada leher yang menjalar ke lengan berupa nyeri dan/atau kelemahan, dan/atau rasa baal. Radikulopati disebabkan oleh gabungan kompresi dan inflamasi saraf spinalis. Kedua faktor tersebut penting. Hal ini dapat diakibatkan baik karena diskus lunak akut, diskus keras kronis, atau karena kompresi dari facet joint yang hipertrofi (jarang). Penyebaran tanda dan gejala pada lengan terkait dengan serabut saraf tertentu yang terkena, yang digambarkan dari hilangnya refleks, motorik, dan sensorik. Area yang paling sering

terkena adalah diskus C5-6 (serabut saraf C6), dan diskus C6-7 (serabut saraf7). Gangguan pada C6 menyebabkan menurunnya refleks brakioradialis, melemahnya otot bisep, dan nyeri dan/atau parestesi yang menjalar ke bagian lengan bawah menuju ibu jari dan jari telunjuk (pola six shooter). Sebaliknya, gangguan pada C7 akan mengakibatkan hilangnya refleks trisep, melemahnya otot trisep, dan nyeri, dan/atau parestesi yang menjalar menuju jari tengah. Jika tidak ada kelainan neurologis yang sifatnya objektif, tiga tanda klinis berikut bermanfaat dalam mendiagnosa adanya radikulopati servikalis. Pertama adalah tanda spurling. Menekuk leher kearah lateral sehingga telinga mendekati bahu, merupakan manuver spurling. Ini harus dilakukan tanpa rotasi namun dengan sedikit ekstensi servikal. Dengan kata lain, pasien tampak lurus didepan dan tegak ketika berusaha menyentuhkan telinga ke bahu. Jika nyeri bertambah dengan menekuk leher ke lateral menuju lengan yang sakit, diduga ini radikulopati (manuver ini cenderung menutup foramen saraf). Disisi lain, jika sakit bertambah saat leher menjauh dari lengan yang sakit, maka dicurigai karena adanya gangguan jaringan lunak yang nonspesifik (nyeri dari peregangan berlebihan pada luka memar atau peregangan struktur muskuloligamentum) Dua tanda lain yang menunjukkann adanya radikulopati servikalis adalah berkurangnya nyeri yang menjalar pada lengan dengan penggunaan manual traksi pada leher, dan berkurangnya nyeri dengan meletakkan dan mengistirahatkan lengan bawah pasien pada atas kepala. Malahan pada beberapa pasien menemukan manuver ini sendiri dan melakukannya secara spontan untuk mengurangi nyeri. Ketiga tanda mekanik ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitifitasnya hanya 50%. Dengan demikian, adanya ketiga tanda ini merupakan indikasi kuat adanya radikulopati servikalis. Jika tanda-tanda ini tidak ada, diagnosis radikulopati servikalis tidak berarti disingkirkan. Tipe II : Mielopati servikalis Ligamentum longitudinalis posterior paling kuat pada garis tengah, yang mengarahkan herniasi diskus ke sisi satu atau lainnya menuju serabut saraf dan menjauhi korda spinalis. Bagaimanapun juga, terkadang baik dari proses akut maupun kronis, korda spinalis sendiri terlibat. Penentuan mielopati servikalis yang berat sangat jelas karena manifestasi klinisnya dramatis. Terdapat kelemahan pada keempat ekstrimitas bersamaan dengan tingkat sensori yang menurun dimana terdapat hilang atau menurunnya sensasi nyeri, sentuh, getaran, atau

postur. Refleks terlalu tajam atau cepat dan dapat menjadi terus menerus seperti klonus pada ankle. Tonus otot meningkat dan pada beberapa kasus terdapat rigiditas ekstrimitas. Tonus otot yang meningkat ini juga terdapat pada dinding kandung kemih sehingga frekuensi kencing meningkat dan nokturia. Pada kasus lanjut, mungkin ada gangguan sfingter, meskipun ini jarang terjadi tanpa adanya trauma yang signifikan. Refleks patologis juga ada. Tanda Hoffmann dan Babinski merupakan manifestasi klinis yang penting. Menjentikkan kuku jari tengah dan mengamati refleks mencakar pada ibu jari dan jari lain menunjukkan tanda Hoffmann. Tanda Babinski digambarkan sebagai ektensi pada ibu jari kaki dan merenggangnya jari-jari kaki lain sebagai respon dari goresan pada telapak kaki pasien. Dengan akut ataupun mielopati yang sudah lanjut, diagnosisnya biasanya jelas dan perlu rujukan dini ke bedah saraf. Untuk mendiagnosis mielopati servikalis yang dini atau kronis sangatlah sulit karena tanda dan gejala yang tidak terlalu terlihat. Pasien akan sering mengeluh kesulitan melakukan gerakan halus dan mengendalikan jari-jari tangan. Contohnya dalam memasang kancing, akan sangat sulit dilakukan. Gangguan dalam gaya berjalan mungkin digambarkan sebagai perasaan tidak stabil, daripada kelemahan. Hilangnya sensorik sangat bervariasi dan kadang-kadang manifestasinya berupa efek sarung tangan dan stoking, yang sering tampak pada neuropati perifer. Neuropati perifer yang ringan, normal sering muncul pada kaum orang tua dan sering tidak bergejala kecuali hilangnya refleks ankle. Ketika keadaan ini berbarengan dengan mielopati kronis, refleks tendon dalam yang diharapkan meningkat menjadi tersamarkan. Tonus yang meningkat mungkin menjadi satu-satunya tanda pada ekstrimitas bawah. Ini diperiksa dengan meminta pasien duduk pada meja periksa dengan tungkai menjuntai sesantai mungkin. Genggam tungkai bagian bawah dan guncang dengan pelan ke belakang dan seterusnya -kaki dan pergelangan seharusnya terkulai. Jika tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki bergerak bersama-sama dengan kaku, harus dicurigai mielopati. Dua tanda klinis yang bermanfaat dalam mendeteksi mielopati yang tidak terlihat pada ektrimitas atas adalah : tanda finger escape dan grip and release. Untuk melakukan tes grip and release, pemeriksa menghitung kecepatan tangan pasien untuk menggenggam dan kemudian ekstensi penuh seluruh jari secara bergantian. Dewasa normal dapat melakukan hal ini dengan kecepatan 20x dalam 10 detik. Pada kasus lanjut, tidak hanya kecepatannya berkurang, fleksi yang berlebihan pada pergelangan tangan juga muncul dengan usaha mengekstensi jari-jari, dan ektensi berlebihan pada pergelangan tangan muncul dengan fleksi

jari-jari. Harus diperhatikan untuk mempertahankan pergelangan tangan pada posisi netral. Tanda finger escape diperiksa dengan memperhatikan bahwa tidak mungkin bagi pasien untuk tetap mempertahankan jari-jarinya ekstensi penuh adduksi lengkap. Malahan, terdapat kecenderungan yang tak tertahankan buat jari-jari tersebut, khususnya jari kelingking, untuk jauh terpisah. Sangat penting untuk menyusun kecurigaan dari keseluruhan klinis ini karena diagnosis dengan pemeriksaan fisik saja cukup sulit. Sebagai tambahan, riwayat dasar dari mielopati spondilosis servikalis yang relatif ringan masih sulit ditetapkan. Progresifitas mielopati tidak dapat diprediksi. Kemunduran biasanya timbul perlahan dan dalam jangka lama. Perburukan yang cepat, bagaimanapun juga mungkin terjadi. Ketika terdapat kelainan neurologis berat, tidak mungkin teratasi secara spontan. Tentu saja, bahkan intervensi bedah yang sesuaipun tidak dapat mengganti hilangnya fungsi. Tipe III : Nyeri Sendi Axial Dua tipe sendi pada orang dewasa termasuk : 1) sendi diartrodial (sendi sinovial dari macammacam yang melayang termasuk sendi facet, kostovertebra, atlantoaxial, dan sakroiliaka), dan 2) sendi ampiartrodial, sendi sinovial yang hanya dapat sedikit bergerak dengan dua subtipe : tipe simfisis (fibrokartilago pada diskus intervertebralis) dan tipe sindesmotik (ligamentum flava, intertransverse, intraspinosus, dan ligamen supraspinosus). Intinya adalah struktur yang menghubungkan tulang-tulang vertebra untuk membentuk kolumna spinalis, sangatlah kompleks. Tipe III ditandai dengan nyeri leher bersamaan dengan penjalaran ke satu atau lebih berikut : skapula medial, dinding dada, area bahu, dan kepala. Mungkin terdapat rasa sakit yang samarsamat pada ekstrimitas atas proksimal namun nyeri pada bawah siku menunjukkan keterlibatan serabut saraf. Pada sindroma tipe III murni tidak ada kelainan neurologis karena gejala berasal dari sendi. Sakit kepala biasanya dihubungkan dengan spasme otot servikal dan terdapat pada daerah oksipital, kadang-kadang dengan penjalaran sekunder ke area frontal. Nyeri pada batas medial skapula terutama penting untuk dikenali karena kurangnya perhatian akan gejala ini akan mengakibatkan adanya pemeriksaan ct scan tulang belakang torakal yang tidak perlu. Pergerakan pada leher mengakibatkan nyeri, dan nyeri dapat dikurangi dengan istirahat dan imobilisasi. Terdapat hubungan yang signifikan antara aktifitas dan nyeri. Secara teori, alat penahan leher harusnya membawa perbaikan, namun kenyataannya, responnya tidak

konsisten. Hal ini dikarenakan bahkan collar neck yang keraspun tidak dapat memobilisasi leher secara lengkap. VIII. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri leher, tanda-tanda radikular, dan tanda-tanda mielopati. Pasien dengan nyeri leher dari spondilosis sering hadir dengan leher kaku. Ini merupakan tanda spesifik dan penyebab lain dari nyeri leher dan kekakuan (misalnya nyeri miopasial, patologi bahu instrinsik) harus dipertimbangkan. Uji kompresi leher, jika positif sangat berguna untuk menilai pasien dengan radikulopati servikal. Tes ini sebaiknya dilakukan pada pasien aktif, mengikuti instruksi untuk menegakkan leher, fleksi lateral, dan memutar ke sisi yang sakit. Selanjutnya pada kompresi perlu kehatihatian dalam memberikan beban aksial. Manuver ini bekerja dengan mempersempit foramen syaraf ipsilateral selam fleksi dan rotasi sedangkan ekstensi menyebabkan awal diskus poterior menonjol. Selain itu manuver spurling juga dapat dilakukan pada radikulopati servikal. Pada mielopati servikal temuan pemeriksaan yang paling khas adalah disfungsi motorik atas, termasuk hiperaktif refleks tendon dalam, pergelangan kaki, dan atau klonus patella, kelenturan (terutama bagian bawah kaki), tanda babinski, dan tanda hofmann. Sebuah tes lain kadang-kadang berguna seperti tes otot pektoralis refleks. Hal ini dilakukan dengan menekan tendon pektoralis di alur deltopektoralis, yang menyebabkan adduksi dan internal rotasi bahu jika hiperaktif. Hasil yang positif menunjukkan kompresi di tulang belakang leher bagian atas (C2-C4). IX. Pemeriksaan Penunjang Bermacam-macam pemeriksaan pencitraan dapat memberikan detil untuk mendiagnosa dan melakukan penatalaksanaan. Foto polos leher Foto polos dapat menunjukkan ketidaknormalan, seperti spur tulang yang

mengindikasikan spondilosis servikalis. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan sebagai skrining tes untuk melihat kasus serius dan jarang untuk nyeri atau kekakuan leher contohnya tumor, infeksi, dan fraktur.

CT scan Pemeriksaan ini mengambil foto dari berbagai arah dan kemudian menggabungkannya pada arah potong lintang struktur di leher. Ini dapat memberi detil yang lebih baik dibandingkan foto polos, khususnya untuk tulang.

MRI Menggunakan medan magnetik dan frekuensi radio dan dapat memproduksi detil

gambar potong lintang pada tulang dan jaringan lunak. Ini dapat membantu menunjukkan area dimana saraf dapat terjepit. Myelogram Pemeriksaan ini menghasilkan gambar menggunakan foto rontgen atau CT scan setelah bahan kontras disuntikkan ke dalam kanalis spinalis. Bahan kontras tersebut membuat area tulang belakang lebih jelas terlihat. EMG (electromyogram) Pemeriksaan ini mengukur akrifitas listrik pada saraf ketika mengirimkan pesan ke otot ketika otot berkontraksi dan ketika beristirahat. Tujuan dari EMG adalah menilai kesehatan otot dan saraf yang mengendalikannya Namun yang perlu diperhatikan, seperti halnya kematian, spondilosis servikalis sepertinya tidak dapat dihindari pada usia lanjut. Hasil foto polos radiologi pada tulang belakang manusia

mencerminkan hal ini. Pada usia 60-65 th, 95% laki-laki tanpa gejala dan 70% perempuan tanpa gejala menunjukkan paling tidak satu perubahan degeneratif. Oleh karena itu, pada laporan foto rontgen adanya perubahan degeneratif tidak perlu dianggap sebagai hal yang perlu dikhawatirkan, kecuali ada keluhan klinis. X. Diagnosa Banding Diagnosis banding dapat di kelompokkan sesuai dengan sindrom klinis yang terjadi seperti ditampilkan pada tabel berikut. Diagnosis banding spondilosis servikalis
Radikulopati (sindrom tipe I) Acute Lateral disc herniation Brachial plexitis Mielopati (sindrom tipe II) Central disc herniation Pathologic fracture Guillain- Barre syndrome Nyeri sendi axial (sinrom tipe III) Cervical strain or sprain Painful ampiarthrodial joint (disc) Painful diarthtodial joint (facet joint) chronic Lateral disc herniation Focal facet hyperthrophy Shoulder pathology : adhesive capsulitis, recurrent anterior subluxation, and impingent syndrome Entrapment neuropathy : carpal tunnel syndrome, thoracic outlet syndrome Central disc herniation Cervical canal stenosis : congenital, metabolic, and acquired Spinal instability Multiple sclerosis Normal pressure hydrocephalus Vit.B12 deficiency Neoplasm : vertebral metastasis Infection : discitis/osteomielitis, epidural abcess, neurosyphilis, and HTLV-1 Syringomyelia Arteriovenous malformation Myopathies Fibromyalgia Nonorganic, malingering, and/or symptom magnification Hypochondriasis and/or somatoform disorders Failed surgical fusion Referred visceral pain : angina pectoris, pancoasts tumor, subdiaphragmatic pathologies

XI. Penatalaksanaan Tanpa pengobatan, tanda-tanda dan gejala spondilosis servikalis biasanya berkurang atau stabil. Namun kadang-kadang memburuk. Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi nyeri, membantu untuk mempertahankan kegiatan yang biasa dilakukan dan mencegah perluasan ke saraf. Penanganan kasus ringan. Latihan rutin. Mempertahankan aktivitas akan mempercepat penyembuhan, walaupun harus merubah sementara beberapa kegiatan latihan yang dapat memperburuk kondisi nyeri leher. Analgetik. Ibuprofen, naproxen, atau acetaminofen, sering cukup dapat mengendalikan rasa sakit akibat spondilosis servikalis. Kompres hangat atau dingin. Saat sedang merasa sakit dapat dilakukan kompres pada daerah yang sakit. Kompres dingin pada saat akut, dan kompres hangat saat telah terlewati masa akut. Memakai collar neck untuk membantu membatasi gerakan leher dan mengurangi iritasi saraf. Namun penggunaannya hanya untuk jangka pendek karena jika terlalu lama maka dapat menyebabkan otot leher melemah. Penanganan kasus serius. Untuk kasus yang lebih berat, perawatan non bedah mungkin termasuk : Traksi pada leher untuk satu atau dua mingu untuk mengurangi tekanan pada saraf tulang belakang. Relaksan otot. Obat-obatan seperti cyclobenzaprine dan methocarbamol dapat membantu mengurangi spasme otot di leher. Obat anti kejang. Beberapa jenis obat epilepsi seperti gabapentin dan pregabalin, dapat diberikan untuk mengurangi nyeri akibat saraf yang rusak. Obat narkotika. Beberapa resep obat penghilang rasa sakit mengandung bahan narkotik, seperti hydrocodone, atau oxycodone. Suntikan steroid. Pada beberapa kasus, menyuntikkan prednison dan zat anestesi ke dalam area yang terkena spondilosis servikalis, dapat membantu.

Operasi. Jika penanganan konservatif gagal untuk meredakan gejala, dan terutama jika ada gejala neurologis akibat penekanan serabut saraf pada satu atau dua level yang dapat dipastikan, pengobatan dengan bedah lebih disarankan. Anterior discectomy and fusion Operasi ini sudah lebih dari 25 tahun dilakukan dan terutama sesuai jika masalahnya terdapat nyeri dan kaku leher yang tidak berkurang. Meskipun demikian dapat juga dialkukan untuk menghilangkan gejala radikuler. Melalui pendekatan anterior, diskus intervertebra dapat disingkirkan tanpa mengganggu struktur neurologis yang terdapat di posterior. Foraminotomy Jika masalah utama adalah nyeri yang menjalar ke ekrimitas atas dan/atau gejala neurologis (ciri radikulopatu), dan MRI menunjukkan pemendekan foramen serta penekanan serabut saraf pada satu atau dua level, diindikasikan melakukan foraminotomi. Hanya bagian dari facet joint yang dihilangkan sehingga segmen ini tidak akan menjadi tidak stabil. Bagaimanapun juga pasien harus diberitahukan bahwa nyeri leher yang sebelumnya, tidak dapat dihilangkan, dan tentu saja segmen yang berdekatan dapat terus mengakibatkan degenerasi diskus yang memngakibatkan perlunya pembedahan lanjutan. Intervertebral disc replacement Penggantian diskus intervertebra belakangan ini disetujui di beberapa negara. Secara teoti keuntungannya adalah menghilangkan diskus yang mengganggu dan melindungi pergerakan pada sisi yang terkena. Namun terlalu dini untuk menilai prosedur yang memakan waktu lama untuk menunjukkan hasil.

BAB III PEMBAHASAN

Membandingkan teori dengan hasil penelitian Dari pembahasan teori diatas mengenai spondilosis servikalis, kita ketahui bahwa penyakit ini umumnya merupakan proses alami penuaan, oleh karena sering ditemukan pada orang tua. Namun selain itu ternyata terdapat faktor risiko lain yang dapat menyebabkan hal ini terjadi. Salah satunya adalah faktor pekerjaan. Pekerjaan yang dapat mengakibatkan terjadinya spondilosis servikalis adalah yang terus menerus membebani tulang servikal, sehingga menyebabkan gangguan struktur seperti pengurangan tinggi diskus dan proliferasi berlebihan jaringan tulang yang disebut spur. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas California, didapatkan beberapa kelompok pekerja yang menderita penyakit ini disebabkan pekerjaannya. Mereka adalah pembawa daging, dokter gigi, penambang, dan pekerja berat. Pembawa daging membawa bebannya dengan meletakkannya diatas kepala. Penambang memakai helm yang berat setiap hari dan melakukan posisi menambang yang ekstrim terhadap lehernya. Dokter gigi juga dianggap melakukan gerakan-gerakan ekstrim pada lehernya dalam upaya melakukan tindakan. Dan terakhir pekerja berat membawa barang-barang pada pundak atau lehernya yang membuat posisi leher janggal terus menerus. Jadi dapat dikatakan bahwa memang terdapat hubungan antara pekerjaan dengan terjadinya spondilosis servikalis di tempat kerja. Peran dokter okupasi. Sebagai dokter okupasi, kita harus dapat mendeteksi dini penyakit-penyakit yang tergolong dalam gangguan otot rangka akibat kerja. Khususnya disini adalah spondilosis servikalis. Untuk itu kita harus terlebih dahulu mengenal tanda dan gejala klinis dari kondisi tersebut. Jika memang terdapat kondisi yang mengarah ke spondilosis servikalis, kita dapat segera mengajukan rujukan dini agar penatalaksanaan dapat segera dilakukan. Tentu saja faktor risiko di lingkungan kerja harus diawasi apakah menjadi penyebab terjadinya gangguan ini. Dokter okupasi harus dapat melakukan tujuh langkah diagnosa penyakit akibat kerja untuk menentukan spondilosis servikalis ini diakibatkan pekerjaan atau tidak. Dan pencegahan juga harus dilakukan untuk melindungi pekerja dari gangguan ini.

BAB IV KESIMPULAN

Spondilosis Servikalis adalah istilah umum yang menggambarkan adanya perubahan degeneratif yang timbul baik spontan akibat usia, maupun sebagai akibat dari trauma dan kondisi patologis lainnya. Perubahan degeneratif ini ditandai dengan adanya pengurangan tinggi diskus, dan adanya proliferasi jaringan tulang (spur atau osteofit). Penyebab terjadinya dikarenakan : dehidrasi diskus, herniasi diskus, spur tulang, dan ligamen yang kaku. Faktor risiko yang dapat menimbulkan gangguan ini contohnya adalah usia yang lanjut, pekerjaan yang membebani tulang leher, cedera pada leher, dan faktor genetik yang tidak dapat dirubah, Gejala yang ditimbulkan dapat dipisahkan menjadi tiga sindrom klinis yaitu radikulopati servikalis, mielopati servikalis, dan nyeri sendi axial. Pengelompokan ini untuk mempermudah menentukan gangguannya pada tingkat atau pada struktur apa. Namun secara garis besar gejala yang timbul adalah nyeri dan kaku pada leher, kesemutan, mati rasa, kelemahan pada ekterimitas, berkurangnya koordinasi, gangguan keseimbangan berjalan, hilangnya kontrol pada kandung kemih dan usus (inkontinensia). Walaupun begitu tidak semua spondilosis servikalis menunjukkan gejala. Pada banyak kasus, pasien tidak mengeluhkan apa-apa, dan diagnosa didapat dari pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan pada penyakit ini dengan pendekatan konservatif dan bedah. Konservatif dapat diberikan obat analgetik, pelemas otot, anti kejang, atau suntikan steroid di area yang sakit. Dapat juga diberi collar neck untuk mempertahankan posisi, namun hanya dalam jangka pendek agar tidak membuat otot leher menjadi lemah jika terlalu lama digunakan. Metode pembedahan dengan cara : anterior discectomy and fusion, foraminotomy, dan intervertebral disc replacement. Dalam hubungannya dengan pekerjaan, beberapa kelompok kerja rentan untuk mengalami spondilosis servikalis. Oleh karena itu untuk dokter okupasi perlu pengetahuan mengenai mekanisme terjadinya penyakit ini, sehingga dapat mengupayakan langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja agar para pekerja terlindungi dari gangguan ini.