Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN AKHIR PKMP

PENGARUH EKSTRAK RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN

Diusulkan oleh:

Ketua

Arrum Chyntia Yuliyanti

(H1A010024/T.A.2010)

Anggota :

Faradila Khoirun Nisa Hakim (H1A010007/T.A.2010) Arenta Mantasari (H1A008009/T.A.2008)

UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2012

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Pelaksana Anggota

: Arrum Chyntia Yuliyanti : Faradila Khoirun Nisa Hakim Arenta Mantasari

(H1A 010 024) (H1A 010 007) (H1A 008 009)

Judul Kegiatan

1. Bidang Kegiatan 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Arrum Chyntia Yuliyanti b. NIM : H1A 010 024 c. Jurusan : Pendidikan Dokter d. Universitas/Institut/Politeknik: Universitas Mataram e. Alamat Rumah : Jl. Taruna Jaya No.29 Mataram No Tel./HP : 0813 4863 4770 f. Alamat email : yuli_7926s@yahoo.com 4. Anggota Pelaksana Kegiatan : Faradila Khoirun Nisa Hakim Arenta Mantasari 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah No Tel./HP 6. Biaya Kegiatan Total a. Dikti 7. Jangka Waktu Pelaksanaan Menyetujui Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa

:Pengaruh Ekstrak Rumput Laut (Eucheuma cottonii) terhadap Kadar Glukosa Darah pada Mencit yang diinduksi Streptozotocin : PKM-P : Kesehatan

: dr. Ardiana Ekawanti, M.Kes. : 197503312001022001 : Jl. Ampenan Mataram : 0813 5349 6220 : : Rp 7.100.000,00 : 5 bulan

Ketua Pelaksana Kegiatan

dr. Ida Ayu Eka Widiastuti, M.Fis NIP. 19750213 2006 04 2 001 Pembantu atau Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan/

Arrum Chyntia Yuliyanti NIM. H1A 010 024 Dosen Pendamping

(___________________) NIP.

dr. Ardiana Ekawanti, M.Kes NIP. 197503312001022001

ii

PENGARUH EKSTRAK RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN ABSTRAK Latar Belakang : Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan karagenan dalam ekstrak rumput laut mampu menahan laju absorbsi glukosa dari saluran cerna sehingga mampu menahan laju peningkatan glukosa darah dan digunakan sebagai obat antihiperglikemik pada penderita diabetes mellitus (Rosalina, 2009). Tetapi sampai saat ini belum banyak penelitian mengenai khasiat Eucheuma cottonii yang dapat dijadikan sebagai obat alternatif alami untuk menurunkan glukosa darah. Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test Control Group Design. Mencit dengan kadar GDS<200 mg/dL dikelompokkan menjadi kelompok kontrol negatif dan perlakuan. Kontrol negatif (kelompok I) selama 14 hari hanya diberi pakan standar. Kelompok perlakuan dibagi menjadi 2 kelompok dengan dosis pemberian karaginan yang berbeda yaitu kelompok II selama 14 hari diberi ekstrak rumput laut dengan dosis pertama 210 mg/kgBB/hari per oral (4,2 mg/ekor) dan kelompok III dosis kedua lima kalinya yaitu 1050 mg/kgBB/hari per oral (21 mg/ekor). Perlakuan dilakukan selama 14 hari dan satu hari kemudian dilakukan pengukuran GDS terakhir. Hasil : Uji normalitas Saphiro-Wilk diperoleh distribusi data tidak normal p=0,25 (p<0,05). Selanjutnya dilakukan uji analisis nonparametrik Kruskal-Wallis dimana didapatkan p>0,50 (hasil tidak signifikan). Dari hasil uji Mann-Whitney tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelompok. Kesimpulan : Diet rumput laut Eucheuma cottonii tidak memberikan pengaruh terhadap kadar glukosa darah mencit. Kata Kunci : Eucheuma cottonii, glukosa darah, streptozotocin.

ABSTRACT Background: Several studies have shown that the content of carrageenan in the seaweed extract could restrain the rate of glucose absorption from the gastrointestinal tract to keep the elevated level of blood glucose and used as a drug in patients with diabetes mellitus antihiperglicemic. But research on the efficacy of Eucheuma cottonii that can be used as a naturalis alternative medicine for lowering blood glucose had been studied enough. Methods: Experimental research with the design of Post Test Control Group Design. Mice with GDS levels <200 mg / dL are classified into negative control group and treatment. Negative control (group I) for 14 days fed only standard meal. Treatment groups were divided into 2 groups with different doses of carrageenan. Group II were given seaweed extract with the first dose of 210 mg / kg / day per oral (4.2 mg / head) and group III were given seaweed extract five times much more, 1050 mg / kg / day per oral (21 mg / head). The treatment carried out for 14 days and one day later measurements were last GDS. Results: The Shapiro-Wilk normality test data distribution is not normal is obtained p = 0.25 (p <0.05). Then performed Kruskal-Wallis nonparametric analysis in which the obtained p> 0.50 (results not significant). The results of Mann-Whitney test found no significant differences between each group. Conclusion: Dietary seaweed Eucheuma cottonii give no effect to blood glucose levels of mice. Keywords: Eucheuma cottonii, blood glucose, streptozotocyn.

iii

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin ataupun keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang dan disfungsi multiorgan (Purnamasari, 2009). Tahun 2000, sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia mengidap diabetes dan menurut data WHO tahun 2005, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia ke-4 terbanyak dunia (Soegondo, 2007). Secara tradisional, banyak tanaman yang berkhasiat menurunkan kadar glukosa darah namun penggunaannya terkadang hanya berdasarkan pengalaman atau empiris saja dan belum didukung oleh penelitian uji klinis dan farmakologi. Salah satu tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat tradisional untuk diabetes mellitus adalah rumput laut (Eucheuma cottonii). Budidaya jenis ini di Indonesia antara lain di Lombok, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, dan Kepulauan Seribu (Samsuar 2006). Rumput laut banyak digunakan sebagai bahan makanan secara langsung karena mempunyai kandungan gizi yang cukup baik sehingga dapat menyehatkan. Rumput laut dipercaya mempunyai banyak khasiat diantaranya fukoidan dan karagenan yang mampu menghambat penggumpalan darah dan menstabilkan kadar gula darah dengan memperlambat pelepasan glukosa ke darah (Dianitami, 2009). Menurut Nugroho, BA & Purwaningsih, E (2004), rumput laut banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran dan farmasi sebagai bahan obat batuk, antihiperkolesterol, antibiotik, dan sumber iodium. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan karagenan mampu menahan laju absorbsi glukosa dari saluran cerna sehingga menahan laju peningkatan glukosa darah dan digunakan sebagai obat antihiperglikemik pada diabetes mellitus (Rosalina, 2009). Sampai saat ini belum banyak penelitian mengenai khasiat Eucheuma cottonii yang dapat dijadikan sebagai obat alternatif alami untuk menurunkan glukosa darah. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti berkeinginan untuk meneliti pengaruh rumput laut Eucheuma cottonii terhadap kadar glukosa darah mencit yang diinduksi dengan streptozotocin. Mencit dipilih sebagai model percobaan karena metabolisme dalam tubuhnya serta rentang kadar glukosa darah normal yang mirip dengan manusia. I.2. Perumusan Masalah Adakah pengaruh ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) terhadap kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi streptozotocin? I.3. Tujuan Program Menganalisis dan membuktikan pengaruh ekstrak karaginan rumput laut dengan dosis 210 mg/kgBB dan 210mg/kgBB yang diinduksi streptozotocin. I.4. Luaran yang Diharapkan Dari penelitian ini diharapkan luaran berupa artikel yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat bidang kesehatan dan masyarakat umum sebagai referensi. I.5. Kegunaan Program 1. Menambah khazanah ilmu dan menjadi sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut. 2. Menjadi pengobatan alternatif untuk mengatasi hiperglikemia. 3. Menjadi bahan pertimbangan untuk penggunaan medis ekstrak rumput laut. II. TINJAUAN PUSTAKA II.1 Diabetes Mellitus Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin dan atau kerja insulin (Perkeni,

2006). Menurut Yunir (2009), terapi farmakologis pada prinsipnya diberikan jika terapi non farmakologis sudah tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah seperti yang diharapkan. Terapi non farmakologis meliputi perubahan gaya hidup dengan melakukan pengaturan pola makan yang dikenal sebagai terapi gizi medis, meningkatkan aktivitas jasmani, dan edukasi masalah yang berkaitan dengan penyakit DM secara terus-menerus. II.2 Streptozotocin Streptozotocin (STZ) adalah senyawa glukosamin-nitrosourea. STZ menginduksi terjadinya DM pada mencit dengan merusak DNA melalui pembentukan NO, radikal hidroksil dan H2O2 di dalam sel pankreas. Setelah penginduksian dengan STZ mencit diharapkan menjadi diabetes mellitus tipe 2 dengan kadar glukosa 200 mg/dL. STZ mirip seperti glukosa yang ditransport ke dalam sel oleh protein transporter glukosa (GLUT2), tetapi STZ tidak dikenali protein transporter glukosa lainnya. Inilah yang menjelaskan toksisitas terhadap sel-sel pankreas, karena sel-sel ini relatif memiliki kadar GLUT2 yang tinggi. (Wang, et al., 1998). STZ diperoleh dari Streptomyces achromogenes dapat digunakan pada hewan uji untuk menginduksi baik DM tipe 1 maupun tipe 2. Induksi DM dengan dosis tunggal-tinggi bervariasi mulai dari 100 mg/kg BB sampai 220 mg/kg BB. (Anabel et al., 2010). II.3 Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Nama daerah cottonii lebih dikenal dan biasa dipakai dalam perdagangan nasional maupun internasional. Klasifikasi Eucheuma cottonii menurut Doty (1985) dalam Samsuar (2006) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales Famili : Solieracea Genus : Eucheuma Species : Eucheuma alvarezii Doty (Eucheuma cottonii) Rumput laut mempunyai kandungan nutrisi cukup lengkap. Kandungan vitamin dan antioksidan pada rumput laut dapat melawan radikal bebas dalam tubuh. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat. Mangan berfungsi sebagai kofaktor metabolisme glukosa. Kandungan zink Eucheuma sp. dapat mempengaruhi sintesis dan metabolisme insulin serta melindungi dari efek kerusakan pankreas. Kandungan kaliumnya dapat meningkatkan sensitivitas, respon, dan sekresi insulin. Biotin meningkatkan aktivitas enzim glukokinase, yaitu enzim yang bertanggung jawab pada tahap penggunaan glukosa. Fukoidan dan karagenan yang merupakan komponen terbesar di dalam tumbuhan laut mampu menghambat penggumpalan darah dan menstabilkan kadar gula darah dengan memperlambat pelepasan glukosa ke dalam darah. (Dianitami, 2009). Dalam dunia perdagangan karagenan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu kappa, iota dan lamda karagenan. Kappa karagenan dihasilkan dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii, sedangkan iota-karagenan dihasilkan dari Eucheuma spinosum. (Balai IPTEKnet, 2005). Karagenan pada rumput laut adalah salah satu jenis serat larut air yang sukar dicerna oleh enzim manusia sehingga menurunkan kadar kolesterol darah dan memperlambat pengosongan lambung. Karagenan merupakan serat makanan pengikat kation (binding of cations) yang mengubah pH intestinum dengan cara mempengaruhi sekresi asam dan basa lewat pengaruh hormon dan enzim, akhirnya mempengaruhi penyerapan monosakarida,

sehingga dapat menahan laju peningkatan kadar glukosa darah postprandial dan mengurangi penurunan balik gula darah yang merangsang selera makan. (Rosalina, 2009). Rumput laut yang mengandung karagenan merupakan sumber yang baik dari serat larut air (soluble fiber). Diet Eucheuma sp. dapat menurunkan keterdapatan (availability) glukosa di sirkulasi dengan cara mengahambat penyerapan glukosa di proksimal usus halus sehingga dapat mengurangi kadar glukosa postprandial. Dengan demikian, efek hipoglikemik dari karagenan rumput laut sangat berguna untuk mencegah dan mengelola kondisi metabolik pada pasien diabetes melitus. Diet serat (dietary fiber) mengurangi waktu transit di saluran pencernaan, memperlambat pengosongan lambung, memperlama rasa kenyang, meningkatkan sekresi pankreas, menguntungkan flora normal usus, meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek, menurunkan kadar lipid serum, dan mengikat asam empedu. Efek serat dalam memperlambat pengosongan lambung sangat menguntungkan untuk mencegah terjadinya lonjakan kadar glukosa darah. Dengan efek serat ini, maka zat-zat makanan dilepaskan secara perlahan-lahan ke dalam usus halus, sehingga kadar glukosa darah akan meningkat secara perlahan-lahan. (Dianitami, 2009). III. METODE PENDEKATAN III.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test Control Group Design. Unit eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit (Mus musculus) galur Balb/c, jantan, umur 2 bulan, berat badan rata-rata 20 gram (tidak kekurangan gizi), kondisi sehat (aktif dan tidak cacat). Mencit dieksklusi bila tidak bergerak aktif, diare, atau mati selama penelitian. Penentuan unit eksperimen diperoleh secara simple random sampling. Banyak replikasi dihitung berdasarkan rumus Federer : (t-1) (r-1) > 15 Keterangan : t = jumlah kelompok perlakuan r = jumlah replikasi Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit yang dibagi secara acak menjadi kelompok kontrol dan dua kelompok perlakuan dengan replikasi masing-masing 6 ekor mencit dan sisanya sebagai cadangan. Semua kelompok diinduksi dengan streptozotocin dosis 100 mg/kgBB (2mg/ekor) secara intraperitoneal. III.2 Variabel Penelitian Variabel bebas adalah ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii). Variabel terikat adalah kadar glukosa darah mencit. Variabel kendali adalah mencit galur Balb/c berat 20 gram. H.3 Definisi Operasional Ekstrak rumput laut adalah sediaan kering dari rumput laut (Eucheuma cottonii) yang diperoleh melalui proses ekstraksi guna memperoleh senyawa karagenan. Kadar glukosa darah sewaktu adalah banyaknya glukosa terkandung dalam 1 dL darah dari ekor mencit pada suatu waktu, diukur kuantitatif dengan glukometer digital. H.4 Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan adalah kandang hewan coba, tempat pakan dan minum mencit, erlenmeyer 50 mL, gelas ukur, beaker glass, glukometer digital, strip tes glukosa, sonde lambung, timbangan digital, sarung tangan, shaker water bath, oven, spuit 1 cc, spuit 3 cc, dan kertas saring. Bahan yang digunakan adalah rumput laut (Eucheuma cottonii), sekam, pakan mencit, Streptozotocin, natrium sitrat pH 4,5, aquades, etanol 90%, air panas. III.4 Prosedur Penelitian III.4.1 Persiapan Hewan Coba Mencit diaklimatisasi di laboratorium selama 5 hari dan ditimbang.

III.4.2 Penginduksian Streptozotocin pada Mencit Pembuatan larutan dengan mengencerkan serbuk STZ 50 mg dengan pengenceran NaSO4 0.02 M. STZ yang telah dilarutkan harus segera habis dalam 15-20 menit. Setelah itu dengan spuit 1 cc dilakukan induksi STZ dosis 100mg/kgBB atau 0.5 cc/ekor (2mg/cc). Mencit dirawat selama 21 hari dan hari berikutnya dilakukan pengukuran GDS. III.4.3 Ekstraksi Karagenan Rumput Laut Proses ekstraksi rumput laut dilakukan dengan metode standar laboratorium imunologi FMIPA Unram. Rumput laut Eucheuma cottonii kering diperoleh dari Pantai Ekas Lombok Timur, NTB dengan umur panen 30 hari. Rumput laut dibersihkan dari kotoran seperti pasir dan garam dengan cara dicuci menggunakan air, kemudian dipotong-potong menjadi 1 cm atau lebih kecil, selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari sampai berat konstan. Berat basah pada penjemuran kedua adalah 147,53 g. Setelah dua kali penjemuran didapatkan berat rumput laut 27,2 g. Kemudian setelah proses ekstraksi didapatkan filtrat karaginan 17,82 g dengan kadar air karaginan adalah 12,07% (standar 10-15%). Eucheuma cottoni kering dengan berat 2,5 g direndam dalam akuades selama 15 menit. Setelah itu disaring dengan kain kemudian rumput laut diekstraksi. Ekstraksi dilakukan dalam erlenmeyer yang dipanaskan dalam shacker water bath. Mula-mula pelarut dipanaskan, setelah mencapai suhu 60oC rumput laut dimasukkan dan waktu ekstraksi mulai dihitung. Rasio rumput laut kering dan pelarut adalah 1:30 (g/mL). Volum pelarut dijaga konstan dengan cara menambahkan akuades panas setiap saat. Setelah waktu tertentu, ekstraksi dihentikan dengan cara filtrat dipisahkan dari ampas rumput laut. Filtrat ditampung ke dalam gelas beaker berisi etanol teknis 90% dengan 3 kali volum filtrat, sambil diaduk sehingga terbentuk serat-serat hidrokoloid (serat karagenan). Setelah didiamkan sekitar 30 menit, serat disaring dan dicuci dengan akuades. III.4.4 Perlakuan Ekstrak Karaginan Rumput Laut Mencit dengan kadar GDS < 200 mg/dL dikelompokkan menjadi kelompok kontrol negatif dan perlakuan. Kontrol negatif (kelompok I) hanya diberi pakan standar. Kelompok perlakuan dibagi menjadi 2 kelompok dengan dosis karagenan kelompok II dosis pertama 210 mg/kgBB/hari per oral (4,2 mg/ekor) dan kelompok III dosis kedua lima kalinya yaitu 1050 mg/kgBB/hari per oral (21 mg/ekor). Perlakuan dilakukan selama 14 hari dan satu hari kemudian dilakukan pengukuran GDS terakhir. III.4.3 Pengukuran Kadar Glukosa Darah (GDS) Pengukuran GDS dilakukan setelah 3 minggu post induksi STZ. Ujung ekor mencit dipotong sedikit lalu darah di tes pada glukometer digital GlukoDR buatan Jerman yang telah dikalibrasi. Mencit dengan GDS 200 mg/dL dikelompokkan menjadi mencit diabetes, namun jika GDS<200 mg/dL mencit dikelompokkan menjadi kelompok kontrol negatif. Kadar GDS diukur kembali setelah 2 minggu perlakuan. H.7 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Observasi primer berupa pengukuran GDS mencit. Data ditabulasi dan dianalisis dengan program SPSS for Windows 16.0. Setelah uji normalitas distribusi Shapiro-wilk, dilanjutkan uji parametrik Independen Anova jika data normal dan Post Hoc LSD. Jika tidak terdistribusi normal, maka dilakukan uji non parametrik Kruskal Wallis. Analisis data antarkelompok dengan uji Mann Whitney dengan CI 95%, sehingga p<0,05 disimpulkan terdapat perbedaan bermakna. (Dahlan, 2009). IV. PELAKSANAAN PROGRAM IV.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian pada FebruariJuni 2012 di laboratorium Imunologi FMIPA Unram.

IV.2. Tahapan Pelaksanaan/Jadwal Faktual 1. Pra-penelitian (2 Februari-13 April) 2. Penelitian (13 April-25 Mei) 3. Pasca-penelitian (26 Mei-15 Juni) IV.3. Pelaksanaan Terlampir di log book. IV.4. Instrumen Pelaksanaan 1) Persiapan hewan coba 2)Pelarutan STZ 3)Menginduksi STZ pada mencit 4)Menunggu 21 hari 5) Ekstraksi karagenan rumput laut 6)Pengukuran kadar glukosa darah 7)Perlakuan 14 hari 8)Pengukuran kadar glukosa darah 9)Analisis data IV.5 Rancangan dan Realisasi Biaya Tabel 1. Rancangan Biaya
No Uraian 1 Penyusunan usulan - Penelusuran informasi - Transportasi dan komunikasi - Penggandaan usulan 2 Penelitian - Sewa laboratorium - Tes glukosa darah - Mencit - Perawatan mencit (kandang, pakan, sanitasi, dll) - Pengolahan Rumput Laut - Streptozotocin - Metformin - Aquades - Handscoen - Etanol 90% - Transportasi dan komunikasi 3 orang 3. Pengolahan data 4. Penyusunan laporan penelitian - ATK - Penggandaan laporan - Biaya tak terduga Jumlah Banyak 3 orang 3 orang 3 jilid 30 hari 48 tes 40 ekor 2 bulan 3 kg 8 vial 4 strip 6L 1 kotak 3L 30 hari 1 kali 1 set 10 jilid 2 bulan Harga Rp 50.000,00 Rp 50.000,00 Rp 20.000,00 Rp 100.000,00 Rp 15.000,00 Rp 25.000,00 Rp 900.000,00 Rp 150.000,00 Rp 15.000,00 Rp 12.500,00 Rp 10.000,00 Rp 50.000,00 Rp 20.000,00 Rp 7.000,00 Rp 100.000,00 Rp 200.000,00 Rp 25.000,00 Rp 300.000,00 Jumlah Rp 150.000,00 Rp 150.000,00 Rp 60.000,00 Rp 3.000.000,00 Rp 720.000,00 Rp 1.000.000,00 Rp 900.000,00 Rp 450.000,00 Rp 120.000,00 Rp 50.000,00 Rp 60.000,00 Rp 50.000,00 Rp 60.000,00 Rp 630.000,00 Rp 100.000,00 Rp 200.000,00 Rp 250.000,00 Rp 300.000,00 Rp 8.250.000,00

Tabel 2. Realisasi Biaya


No Uraian 1 Penyusunan usulan - Penelusuran informasi - Transportasi dan komunikasi - Penggandaan usulan - Materai 6000 2 Penelitian - Sewa laboratorium - Sewa dan perawatan alat - Spuit 1cc dan 3 cc - Sonde - Sekam - Pakan mencit - Ekstraksi karaginan Banyak 3 orang 3 orang 5 jilid 3 buah 1 kali 3 unit 6 buah 14 buah 2 bulan 2 bulan 5 kali Harga Rp 50.000,00 Rp 50.000,00 Rp 15.000,00 Rp 7.000,00 Rp 200.000,00 Rp 110.000,00 Rp 4.000,00 Rp 3000,00 Rp 20.000,00 Rp 35.000,00 Rp 20.000,00 Jumlah Rp 150.000,00 Rp 150.000,00 Rp 75.000,00 Rp 21.000,00 Rp 200.000,00 Rp 110.000,00 Rp 24.000,00 Rp 42.000,00 Rp 40.000,00 Rp 70.000,00 Rp 100.000,00

6
- Ethanol absolute - Trisodium Citrat - Teknisi - Kandang dan perawatannya - Kertas saring - Tes glukosa darah - Mencit - Streptozotocin 25mg - Metformin - Aquades - Handscoen - Etanol 90% - ATK - CD-R - Transportasi dan komunikasi 3 orang - laporan MONEV - Konsumsi MONEV 2 hari Pengolahan data Penyusunan laporan akhir - ATK - Penggandaan laporan - Komunikasi Jumlah 1 liter 10 g 2 orang 4 buah 5 buah 2 kotak 25 ekor 2 vial 1 strip 1L 1 kotak 3L 1 set 4 buah 40 hari 3 jilid 3 orang 1 kali 1 set 10 jilid 3 orang Rp 35.000,00 Rp 10.000,00 Rp 125.000,00 Rp 60.000,00 Rp 4.000,00 Rp 256.000,00 Rp 15.000,00 Rp 950.000,00 Rp 2.000,00 Rp 15.000,00 Rp 45.000,00 Rp 20.000,00 Rp 200.000,00 Rp 5.000,00 Rp 7.000,00 Rp 7.000,00 Rp 25.000,00 Rp 350.000,00 Rp 200.000,00 Rp 25.000,00 Rp 100.000,00 Rp 35.000,00 Rp 10.000,00 Rp 250.000,00 Rp 240.000,00 Rp 20.000,00 Rp 512.000,00 Rp 375.000,00 Rp 1.900.000,00 Rp 2.000,00 Rp 15.000,00 Rp 45.000,00 Rp 60.000,00 Rp 200.000,00 Rp 20.000,00 Rp 840.000,00 Rp 21.000,00 Rp 150.000,00 Rp 350.000,00 Rp 200.000,00 Rp 250.000,00 Rp 300.000,00 Rp 6.777.000,00

3 4

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V.1 Hasil Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) terhadap kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi streptozotocin. Unit eksperimen penelitian ini adalah mencit (Mus musculus) galur Balb/c jantan, umur 2 bulan, berat ratarata 20 gram, sehat. Mencit dieksklusi bila tidak bergerak aktif, diare, atau mati selama penelitian. Mencit cadangan mati 1 ekor pada hari ke 12 perlakuan. Pengukuran GDS dilakukan setelah 3 minggu post induksi STZ dan tidak didapatkan mencit diabetes mellitus karena GDS tidak ada yang 200 mg/dL. Pengukuran GDS dilakukan lagi setelah 2 minggu perlakuan dengan karagenan. Setelah pengambilan data terakhir, dilakukan uji normalitas Saphiro-Wilk karena jumlah sampel sedikit (kurang dari 30). Uji normalitas Saphiro-Wilk diperoleh distribusi data tidak normal p=0,25 (p<0,05). Lalu dilakukan uji non parametrik Kruskal-Wallis didapatkan p>0,50 (hasil tidak signifikan). Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan masing-masing kelompok. Dari hasil uji Mann-Whitney tidak didapatkan perbedaan signifikan antara masing-masing kelompok. Tabel 3. Hasil uji Mann-Whitney Kelompok yang dibandingkan Nilai p Kelompok I (kontrol negatif) vs Kelompok II 0,055 Kelompok II (perlakuan I) vs Kelompok III 0,226 Kelompok III (perlakuan II) vs Kelompok I 0,519 V.2 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara masingmasing kelompok. Tidak ada perbedaan kadar glukosa antara kelompok I dengan kelompok II dan atau III, sehingga dosis ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) 210 mg/kgBB dan 1050 mg/kgBB tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa darah mencit yang diinduksi streptozotocin. Dosis tersebut belum mampu memberikan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan. Hal ini diduga pemberian diet rumput

laut hanya memberikan efek kecil dalam menurunkan dan menetralisir produk radikal bebas. Penelitian sebelumnya disebutkan bahwa sediaan Eucheuma menurunkan kadar glukosa darah pada tikus wistar yang hiperglikemik. Hal ini disebabkan karena Eucheuma sp. mengandung bahan utama polisakarida karagenan jenis iota. Iota karagenan dapat membentuk jelly yang sangat elastis dan lebih lembut dibandingkan kappa. Iota karagenan bersifat lebih hidrofilik. Integritas struktur iota karagenan dapat dipengaruhi oleh interaksi dengan beberapa kation. Interaksi dengan ion Na+ dan Ca2+ memperkuat ikatan struktur yang dapat memperkuat pembentukan gel. Sebaliknya, interaksi dengan ion Ni2+ dan Zn2+ mengganggu stabilitas struktur sehingga mengurangi pembentukan gel. Dengan kemampuannya membentuk gel dalam saluran cerna, karagenan dapat menurunkan availability glukosa di sirkulasi dengan cara menghambat penyerapan glukosa di proksimal usus halus sehingga mengurangi kadar glukosa post prandial. (Pechillo, 2009). Namun, hasil dalam penelitian ini tidak sesuai teori yang dikemukakan. Efek yang tidak bermakna antara kelompok perlakuan I, perlakuan II dan kelompok kontrol dapat disebabkan oleh kurang adekuatnya gel senyawa karagenan dalam saluran cerna sehingga kemampuan dalam menghambat absorpsi glukosa di proksimal usus halus juga berkurang. Kemampuan membentuk gel dalam saluran cerna dapat dipengaruhi oleh dosis pemberian ekstrak yang tidak adekuat. Perbedaan dosis menimbulkan perbedaan kekentalan cairan dalam saluran cerna, yang selanjutnya menimbulkan perbedaan kemampuan dan kekuatan dalam pengikatan glukosa oleh gel sehingga menimbulkan perbedaan laju absorbsi glukosa dari saluran cerna ke pembuluh darah, dan laju peningkatan kadar glukosa darah menjadi terpengaruh (WIPO, 2007). Selain itu, penggunaan metode post test only control group design membuat keterbatasan dalam penelitian ini. Jadi pemberian streptozotocin pada penelitian kali ini belum bisa menaikkan glukosa darah mencit. Streptozotocin (STZ) adalah senyawa glukosamin-nitrosourea yang digunakan secara luas untuk menginduksi diabetes pada hewan coba. STZ menginduksi terjadinya DM pada mencit dengan merusak DNA melalui pembentukan NO, radikal hidroksil dan H2O2 di dalam sel pankreas. Setelah penginduksian dengan STZ mencit diharapkan menjadi diabetes mellitus tipe 2 dengan kadar glukosa 200 mg/dL. Setelah 3 minggu tidak didapatkan mencit diabetes. Hasil yang tidak signifikan ini bisa dikarenakan oleh dosis STZ yang tidak adekuat. Pada penelitian ini digunakan dosis minimal dari penelitian sebelumnya yang disebutkan Anabel et al., yaitu 100mg/KgBB bisa menaikkan kadar glukosa darah mencit strain lain dengan beda bermakna. Peneliti menduga perbedaan strain sampel mempengaruhi dosis STZ yang harus diberikan. Dalam penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan pankreas mencit sehingga tidak diketahui pankreas sudah rusak atau belum. Penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa pemberian ekstrak rumput laut tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa darah mencit. VI. KESIMPULAN DAN SARAN VI.1 Kesimpulan Pemberian streptozotocin dosis tunggal 100 mg/kgBB intraperitoneal tidak dapat membuat mencit diabetes atau hiperglikemia. Pemberian ekstrak rumput laut Eucheuma cottonii dosis 210 mg/KgBB dan 1050 mg/KgBB selama 14 hari tidak berpengaruh dan tidak bisa menurunkan kadar glukosa darah mencit. VI.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui dosis tunggal streptozotocin dan lama masa perlakuan yang dapat menaikkan kadar glukosa darah mencit. Perlu dilakukan pemeriksaan histopatologi pankreas mencit untuk mengetahui sejauh mana kerusakan akibat induksi STZ. Perlu penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel lebih besar dan memperhatikan durasi dan interval dosis rumput laut sehingga dapat mengetahui waktu dan dosis yang diperlukan untuk mendapatkan efek pada kadar glukosa darah mencit. VII. DAFTAR PUSTAKA Anabel S. 2010. Anomer-Equilibrated Streptozotocin Solution for the Induction of Experimental Diabetes in Mice (Mus musculus). J Am Assoc Lab Anim Sci. 2010; 49(1): 4044. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2824966/pdf/jaalas2010000040.pdf (diakses 26 April 2011). Balai IPTEKnet BPPT. 2005. Ekstraksi Karaginan. Available from: http://www.iptek.net.id/ind/pd_olah_pangan/index.php?mnu=2&ch=olpa&id=223&hal=4 (diakses 5 Mei 2011). Dahlan, S. 2009. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. Dianitami, R. 2009. Efek Rumput Laut Eucheuma sp. terhadap Kadar Glukosa Darah dan Jumlah Trombosit Tikus Wistar yang diinduksi Aloksan. Available from: http://eprints.undip.ac.id/7761/1/ratna_dianitami.pdf (diakses 23 April 2011). Ocktarini, R. 2010. Pengaruh Ekstrak Herba Anting-Anting (Acalypha Australis L.) terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Balb/C Induksi Streptozotocin. Available from: http://eprints.uns.ac.id/87/1/168300609201010361.pdf (diakses 23 April 2011). Perkeni. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia . Purnamasari, D. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 5. Jakarta: InternaPublishing FK UI, pp. 1880-3 Rosalina, R. 2009. Efek Rumput Laut Eucheuma sp. terhadap Kadar Glukosa Darah dan Jumlah Monosit pada Tikus Wistar yang diinduksi Aloksan. Available from: http://eprints.undip.ac.id/7763/1/Resy_Rosalina.pdf (diakses 23 April 2011). Samsuar, 2006, Karakterisasi Karaginan Eucheuma Cottonii Pada Berbagai Umur Panen, Konsentrasi KOH dan Lama Ekstraksi. Available from: http://www.damandiri.or.id/file/samsuaripbbab2 (diakses 4 Mei 2011). Soegondo, S. 2009. Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes Mellitus Tipe 2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 5. Jakarta: InternaPublishing, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pp. 1884-90 Wang, Z., et al. 1998. GLUT2 In Pancreatic Islets: Crucial Target Molecule in Diabetes Induced With Multiple Low Doses Of Streptozotocin in Mice. Diabetes 47 (1): 506. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9421374 (diakses 26 April 2011). Yunir, E. 2009. Terapi Non Farmakologis pada Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 5. Jakarta: InternaPublishing FK UI, pp.1891-95 Pechillo D, Izzo M. 2009. The use of carrageenan and cellulose gel in gummi candy. Available from: http://www.aactcandy.org/firstpage/a1996199611062.pdf (diakses 28 April 2012). World Intellectual Property Organization (WIPO). 2007. Kappa-2 carrageenan composition and products made therefrom. Available from: http://www.wipo.int/pctdb/en/wo.jsp?wo=2007146004&IA=US2007013335&DISPLAY=D ESC (diakses 28 April 2012).

VIII. Dokumentasi Kegiatan

ekstraksi karagenan

Karagenan

Karagenan kering

Dosis I&II siap disondekan

Vial STZ disimpan di suhu -20 C

STZ telah dilarutkan

penginduksian STZ

Anda mungkin juga menyukai