Anda di halaman 1dari 8

Nama : Mei Sulis Setyowati NRP : 1410100031 Kelas : A Mata Kuliah: Sintesis Senyawa Anorganik Dosen : Dr.

Fahima Martak, M.Si. SOAL : 1. Dua senyawa berikut direaksikan untuk membentuk ligan basa schiff, CH3 OH C O

H2N
O CH3 OH

NH2

Tentukan hasil sintesis dari reaksi kedua senyawa diatas. Jawaban:


OH N N CH3 CH3

H2N

NH2

2. a. Jelaskan reaksi sintesis untuk pembentukan kompleks K3[Cr(ox)3].3H2O. Tuliskan persamaan reaksi tersebut. b. Bagaimana cara menentukan ion logam Cr(III) pada kompleks tsb mengikat tiga ligan oksalat? Jelaskan reaksi yang digunakan serta bagaimana menentukan kadar oksalat? Jawaban: a. Senyawa kompleks K3[Cr(C2O4)3]3H2O dapat dibuat dengan cara berikut ini: Diambil beberapa gram H2C2O42H2O dan dimasukkan kedalam gelas kimia. H2C2O42H2O yang telah diambil tersebut selanjutnya dilarutkan dalam aquades untuk memutus air kristal yang terdapat dalam senyawa H2C2O42H2O. Ditambahkan K2Cr2O7 beberapa gram kedalam larutan H2C2O4 yang telah dibuat sambil diaduk kuat hingga terbentuk gelembung-gelembung gas. Setelah reaksi mereda ditambahkan beberapa gram K2C2O4H2O kedalam campuran sambil diaduk dan dipanaskan hingga volume campuran tersisa setengahnya. Campuran yang telah tersisa setengahnya kemudian didinginkan dalam penangas es dan ditambahkan beberapa mL etanol hingga terbentuk endapan. Campuran kemudian didiamkan selama 30 menit untuk memaksimalkan pembentukan endapan. Endapan yang telah terbentuk secara maksimal kemudian disaring menggunakan kertas saring dan dicuci dengan etanol untuk menghilangkan pengotor-pengotor bersifat polar yang masih tertinggal dalam endapan. Endapan kemudian dikeringkan diudara terbuka dan ditimbang endapan yang telah kering tersebut. Maka, diperolehlah senyawa kompleks K3[Cr(C2O4)3]3H2O. Fungsi masing-masing prekursor yang ditambahkan adalah sebagai berikut:

1. H2C2O42H2O = untuk menyediakan ion oksalat (C2O4)22. K2Cr2O7 = sebagai penyedia ion Cr3+ 3. K2C2O4H2O = sebagai penyedia ion K+ Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

H2C2O4.2H2O (s) + H2O (l)

H2C2O4 (aq) + 3H2O (l)

7 H2C2O4 (aq) + K2Cr2O7 (s) + 2 K2C2O4.H2O (s) + 3 H2O (l)

2 K3[Cr(C2O4)3].3H2O (s)+ 6 CO2 (g)+ 6 H2O (l)

b. Cara menentukan kadar ion oksalat adalah sebagai berikut: Sebelum dilakukan titrasi pada sampel (senyawa kompleks K3[Cr(C2O4)3]3H2O), terlebih dahulu dilakukan standarisasi larutan KMnO4 0,2 M sebagai titran. Senyawa kompleks K3[Cr(C2O4)3]3H2O yang telah terbentuk diambil sebanyak 0,25 gram dan dilarutkan dalam 25 mL H2SO4 2 M. Larutan kemudian dipindah kedalam labu ukur dan diencerkan dengan aquades hingga tanda batas. Larutan yang telah encer dipipet sebanyak 25 mL dan dimasukkan kedalam erlenmeyer. Selanjutnya kedalam erlenmeyer tersebut ditambahkan 15 mL H2SO4 dan dipanaskan larutan sebentar pada suhu 50-60C. Larutan selanjutnya dititrasi dengan larutan KMnO4 sampai terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Volume KMnO4 yang dibutuhkan untuk titrasi kemudian dicatat dan dapat dihitung kadar oksalat dalam kompleks K3[Cr(C2O4)3]3H2O. Perhitungan kadar oksalat adalah sebagai berikut:

3. Karakterisasi kompleks besi(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin-(NCS) dengan menggunakan TGA, FTIR dan hantaran larutan. Pada bilangan gelombang berapa bahwa kompleks tsb terikatnya ion logam besi(II) pada N bukan pada S,

mengapa? Pada bilangan gelombang berapa bahwa NCS sebagai ligan jembatan. Jelaskan metoda karakterisasi yang harus dilakukan untuk menentukan bahwa senyawa kompleks yang dihasilkan adalah kompleks kationik atau kompleks netral. Bagaimana menentukan air kristal yang terkandung dalam senyawa kompleks yang dihasilkan? Jawaban: a. Ion logam besi(II) pada senyawa kompleks besi(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin-(NCS) terikat pada N bukan pada S pada bilangan gelombang sebagai berikut: v1 v3 2 -1 -1 < 2100 cm 480-500 cm 780-800 cm-1 Yang ditunjukkan melalui spektra FTIR berikut ini:

v3

v1 b. NCS sebagai ligan jembatan pada bilangan gelombang sebagai berikut: v1 v3 2 -1 -1 -1 < 2100 cm dan >2100 cm 430-460 cm 750-780 cm-1 Yang ditunjukkan melalui spektra FTIR berikut ini:

v3

2 v1 c. Metode karakterisasi yang dapat digunakan untuk menentukan senyawa kompleks yang dihasilkan merupakan senyawa kompleks kationik atau kompleks netral adalah metode analisis hantaran. Senyawa kompleks yang dihasilkan dari proses sintesis dilarutkan dalam 3 pelarut berbeda yaitu metanol, DMF dan Asetonitril. Senyawa kompleks yang telah larut selanjutnya dianalisis menggunakan konduktometer dan didapatkan data dalam satuan S.cm2.mol-1. Data yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan tabel dibawah ini: ( S.cm2.mol-1) Pelarut 1:1 elektrolit 1:2 elektrolit Metanol 100-120 180-200 DMF 70-90 140-150 Asetonitril 135-155 250-310 Apabila data dari senyawa kompleks dalam pelarut DMF bernilai 80 S.cm2.mol-1, maka dapat diketahui senyawa kompleks yang terbentuk memiliki tipe elektrolit 1:1. Namun apabila data dari senyawa kompleks dalam pelarut metanol bernilai 10 S.cm2.mol-1, maka dapat diketahui senyawa kompleks yang terbentuk memiliki tipe non elektrolit (netral). d. Cara menentukan air kristal yang terkandung dalam senyawa kompleks yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Senyawa kompleks besi(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin-(NCS) diambil sebanyak 5 gram dan dipanaskan hingga semua air kristal menguap. Ditimbang padatan setelah pemanasan sehingga didapatkan massa padatan tanpa air kristal (dimisalkan x gram). Dari massa yang didapat tersebut, maka dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan jumlah air kristal sebagai berikut:

Massa H2O = 5 gram x gram= (5-x) gram Mol besi(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin-(NCS)= massa besi(II)-bis(2asetil piridin) etilen diamin-(NCS)/Mr besi(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin-(NCS) Mol H2O = massa H2O/Mr H2O Didapatkan perbandingan mol kristal:H2O=x:y Karena perbandingan mol=perbandingan koefisien, maka kadar air kristal=y/x.

4. Sintesis kompleks tembaga(II)- 1,3-bis[(2-piridilmetil)imino]propan-2-ol-(NCS) dapat disintesis dari CuCl2, 2-asetil piridin dan Kalium tiosianat. a. Jelaskan tahapan sintesis yang dilakukan dalam pembentukan kompleks tersebut. b. Tuliskan struktur dari trans kompleks tembaga(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin ditiosianat. c. Mengapa digunakan metoda refluks dalam pembentukan bis(2-asetil piridin) etilen diamin? Gambarkan peralatan tersebut. Jawaban: a) 1. Pembuatan senyawa Cu(CNS)2 Langkah awal yang harus dilakukan adalah pembuatan senyawa Cu(CNS)2. senyawa Cu(CNS)2 dapat dibuat dengan cara sebagai berikut: Kristal CuCl2.2H2O dilarutkan dalam metanol sehingga didapatkan larutan CuCl2 dalam metanol. Selanjutnya kristal KCNS dilarutkan dalam metanol sehingga didapatkan larutan KCNS dalam metanol. Kedua larutan yang telah dibuat tersebut selanjutnya dicampur. Pencampuran kedua larutan ditunjukkan melalui skema berikut ini: CuCl2 dalam MeOH KCNS dalam MeOH

Cu(NCS)2(aq) + KCl(s)

Disaring

Filtrat (Cu(NCS)2(aq))

Endapan (KCl(s))

Direaksikan dengan ligan

Karena senyawa Cu(NCS)2(aq) tidak mudah teroksidasi oleh H2O dan O2, maka penyaringan untuk memisahkan KCl(s) dan Cu(NCS)2(aq) dapat dilakukan menggunakan kertas saring biasa. 2. Pembuatan senyawa ligan Langkah kedua yang harus dilakukan adalah pembuatan ligan yang ditunjukkan melalui skema berikut ini: Etilendiamin dalam MeOH 2-asetil piridin dalam MeOH

Direfluks selama 1 jam

Ligan dalam MeOH

Cu(NCS)2 dalam MeOH

Diaduk selama 1 jam

Terbentuk endapan

Disaring dan dikeringkan dalam vacuo

Senyawa Kompleks tembaga(II)- 1,3-bis[(2piridilmetil)imino]propan-2-ol-(NCS) Karakterisasi

b) Struktur dari trans kompleks tembaga(II)-bis(2-asetil piridin) etilen diamin ditiosianat adalah sebagai berikut:

NCS

N N

Cu NCS

N N

c) Pelarut yang digunakan untuk sintesis ligan bis(2-asetil piridin) etilen diamin adalah metanol (MeOH). Karena metanol merupakan senyawa yang bersifat volatil (mudah menguap), maka digunakan metode refluks. Metode refluks memiliki kelebihan yaitu dapat menghemat pelarut, karena selama proses refluks berlangsung pelarut akan berjalan kontinu dan tetap ada dalam campuran. Gambar peralatan refluks adalah sebagai berikut:

Thermometer

Statif

Air Keluar

Kondensor Air Masuk

Labu Bundar Hot Plate