Anda di halaman 1dari 11

ILEUS OBSTRUKTIF I.

PENDAHULUAN Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau oleh gangguan peristaltis. Obstruksi usus disebut juga obstruksi mekanik. Penyumbatan dapat terjadi dimana saja di sepanjang usus. Pada obstruksi usus harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dan obstruksi strangulata. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.1 Pada bayi dan bayi baru lahir, penyumbatan usus biasanya disebabkan oleh cacat lahir, massa yang keras dari isi usus (mekonium) atau ususnya berputar (volvulus). Invaginasi merupakan penyebab tersering dari sumbatan usus akut pada anak, dan sumbatan usus akut ini merupakan salah satu tindakan bedah darurat yang sering terjadi pada anak.2,3 Penyebab obstruksi kolon yang paling sering ialah karsinoma terutama pada daerah rektosigmoid dan kolon kiri distal. Tanda obstruksi usus merupakan tanda lanjut (late sign) dari karsinoma kolon. Obstruksi ini adalah obstruksi usus mekanik total yang tidak dapat ditolong dengan cara pemasangan tube lambung, puasa dan infus. Akan tetapi harus segera ditolong dengan operasi (laparatomi). Umumnya gejala pertama timbul karena penyulit yaitu gangguan faal usus berupa gangguan sistem saluran cerna, sumbatan usus, perdarahan atau akibat penyebaran tumor. Biasanya nyeri hilang timbul akibat adanya sumbatan usus dan diikuti muntah-muntah dan perut menjadi distensi/kembung. Bila ada perdarahan yang tersembunyi, biasanya gejala yang muncul anemia, hal ini sering terjadi pada tumor yang letaknya pada usus besar sebelah kanan.1,4,5 II. DEFENISI Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen usus tersebut.6 Ileus obstruktif = ileus mekanik = ileus dinamik. Suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau mengganggu jalannya isi usus.2,6 III. EPIDEMIOLOGI Hernia strangulata adalah salah satu keadaan darurat yang sering dijumpai oleh dokter bedah dan merupakan penyebab obstruksi usus terbanyak. Mc Iver mencatat 44% dari obstruksi mekanik usus disebabkan oleh hernia eksterna yang mengalami strangulasi. Di RSCM, pada tahun 1989, Kartowisastro dan Wiriasoekarta melaporkan 58% kasus obstruksi mekanik usus halus disebabkan oleh hernia.7 Sutjipto (1990) dalam penelitiannya mengungkapkan indikasi relaparatomi karena obstruksi usus akibat adhesi sebesar 17,7%. Walaupun di negara berkembang seperti di Indonesia, adhesi

bukanlah sebagai penyebab utama terjadinya obstruksi usus. Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, khususnya di RSUPNCM, adalah hernia, baik sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi (63%).8 Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan, sebagai akibat insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari laporan terakhir pasien yang telah menjalani sedikitnya sekali operasi intra abdomen, akan berkembang adhesi satu hingga lebih dari sepuluh kali. Obstruksi usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di negara maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.8 IV. KLASIFIKASI Klasifikasi obstruksi usus berdasarkan :9-10 1. Kecepatan timbul (speed of onset) Akut, kronik, kronik dengan serangan akut 1. Letak sumbatan Obstruksi tinggi, bila mengenai usus halus (dari gaster sampai ileum terminal) Obstruksi rendah, bila mengenai usus besar (dari ileum terminal sampai anus) 1. Sifat sumbatan Simple obstruction : sumbatan tanpa disertai gangguan aliran darah

Strangulated obstruction : sumbatan disertai gangguan aliran darah sehingga timbul nekrosis, gangren dan perforasi 1. Etiologi Kelainan dalam lumen, di dalam dinding dan di luar dinding usus

V. ETIOLOGI Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh :1,2,10,11 Perlekatan usus atau adhesi, dimana pita fibrosis dari jaringan ikat menjepit usus. Jaringan parut karena ulkus, pembedahan terdahulu atau penyakit Crohn. Hernia inkarserata, usus terjepit di dalam pintu hernia

Neoplasma. Intususepsi. Volvulus. Benda asing, kumpulan cacing askaris Batu empedu yang masuk ke usus melalui fistula kolesisenterik. Penyakit radang usus, striktur, fibrokistik dan hematoma.

Obstruksi Usus Besar Kira-kira 15% obstruksi usus terjadi di usus besar. Obstruksi dapat terjadi di setiap bagian kolon tetapi paling sering di sigmoid.10 Penyebabnya adalah :1,2,10,11 Karsinoma. Volvulus. Kelainan divertikular (Divertikulum Meckel), Penyakit Hirschsprung Inflamasi. Tumor jinak. Impaksi fekal.

VI. PATOGENESIS Usus di bagian distal kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik), dapat terjadi perforasi. Dilatasi dan dilatasi usus oleh karena obstruksi menyebabkan perubahan ekologi, kuman tumbuh berlebihan sehingga potensial untuk terjadi translokasi kuman. Gangguan vaskularisasi menyebabkan mortalitas yang tinggi, air dan elektrolit dapat lolos dari tubuh karena muntah. Dapat terjadi syok hipovolemik, absorbsi dari toksin pada usus yang mengalami strangulasi.6,9 Dinding usus halus kuat dan tebal, karena itu tidak timbul distensi berlebihan atau ruptur. Dinding usus besar tipis, sehingga mudah distensi. Dinding sekum merupakan bagian kolon yang paling tipis, karena itu dapat terjadi ruptur bila terlalu tegang. Gejala dan tanda obstruksi usus halus atau usus besar tergantung kompetensi valvula Bauhini. Bila terjadi insufisiensi katup, timbul refluks dari kolon ke ileum terminal sehingga ileum turut membesar.1

Pengaruh obstruksi kolon tidak sehebat pengaruh pada obstruksi usus halus karena pada obstruksi kolon, kecuali pada volvulus, hampir tidak pernah terjadi strangulasi. Kolon merupakan alat penyimpanan feses sehingga secara relatif fungsi kolon sebagai alat penyerap sedikit sekali. Oleh karena itu kehilangan cairan dan elektrolit berjalan lambat pada obstruksi kolon distal.1 VII. MANIFESTASI KLINIS 1. Obstruksi sederhana Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen usus bagian oral dari obstruksi, maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen.1,2,10 Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi abdomen dapat dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.10 1. Obstruksi disertai proses strangulasi Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.10 1. Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar. Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi.2,10 VIII. DIAGNOSIS

Pada anamnesis obstruksi tinggi sering dapat ditemukan penyebab misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia. Gejala umum berupa syok, oliguri dan gangguan elektrolit. Selanjutnya ditemukan meteorismus dan kelebihan cairan di usus, hiperperistaltis berkala berupa kolik yang disertai mual dan muntah. Kolik tersebut terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan setelah satu dua kali defekasi tidak ada lagi flatus atau defekasi. Pemeriksaan dengan meraba dinding perut bertujuan untuk mencari adanya nyeri tumpul dan pembengkakan atau massa yang abnormal. Gejala permulaan pada obstruksi kolon adalah perubahan kebiasaan buang air besar terutama berupa obstipasi dan kembung yang kadang disertai kolik pada perut bagian bawah. Pada inspeksi diperhatikan pembesaran perut yang tidak pada tempatnya misalnya pembesaran setempat karena peristaltis yang hebat sehingga terlihat gelombang usus ataupun kontur usus pada dinding perut. Biasanya distensi terjadi pada sekum dan kolon bagian proksimal karena bagian ini mudah membesar.1,2 Dengan stetoskop, diperiksa suara normal dari usus yang berfungsi (bising usus). Pada penyakit ini, bising usus mungkin terdengar sangat keras dan bernada tinggi, atau tidak terdengar sama sekali.2 Nilai laboratorium pada awalnya normal, kemudian akan terjadi hemokonsentrasi, leukositosis, dan gangguan elektrolit. Pada pemeriksaan radiologis, dengan posisi tegak, terlentang dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anak tangga dari usus kecil yang mengalami dilatasi dengan air fluid level. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya. Pada ileus obstruktif letak rendah jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan rektosigmoidoskopi dan kolon (dengan colok dubur dan barium in loop) untuk mencari penyebabnya. Periksa pula kemungkinan terjadi hernia.10 IX. DIAGNOSIS BANDING Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan terjadi distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi ketegangan dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut, akan ada tanda dan gejala dari penyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut, apendisitis akut, dan pankreatitis akut juga dapat menyerupai obstruksi usus sederhana.10 X. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium tidak mempunyai ciri-ciri khusus. Pada urinalisa, berat jenis bisa meningkat dan ketonuria yang menunjukkan adanya dehidrasi dan asidosis metabolik. Leukosit normal atau sedikit meningkat, jika sudah tinggi kemungkinan sudah terjadi peritonitis. Kimia darah sering adanya gangguan elektrolit.6 Foto polos abdomen sangat bernilai dalam menegakkan diagnosa ileus obstruksi. Sedapat mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar mendatar. Posisi datar perlu untuk melihat distribusi gas, sedangkan sikap tegak untuk melihat batas udara dan air serta letak obstruksi.

Secara normal lambung dan kolon terisi sejumlah kecil gas tetapi pada usus halus biasanya tidak tampak.1,6 Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid level, distensi usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Obstruksi kolon biasanya terlihat sebagai distensi usus yang terbatas dengan gambaran haustra, kadang-kadang gambaran massa dapat terlihat. Pada gambaran radiologi, kolon yang mengalami distensi menunjukkan gambaran seperti pigura dari dinding abdomen.10,11 Kemampuan diagnostik kolonoskopi lebih baik dibandingkan pemeriksaan barium kontras ganda. Kolonoskopi lebih sensitif dan spesifik untuk mendiagnosis neoplasma dan bahkan bisa langsung dilakukan biopsi.12 XI. KOMPLIKASI Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis umum.1 XII. PENATALAKSANAAN Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus harus di rawat di rumah sakit.10,13 1. Persiapan Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum. Setelah keadaan optimum tercapai barulah dilakukan laparatomi. Pada obstruksi parsial atau karsinomatosis abdomen dengan pemantauan dan konservatif.1,10 1. Operasi Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila :1,2,10 Strangulasi Obstruksi lengkap Hernia inkarserata

Tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif (dengan pemasangan NGT, infus, oksigen dan kateter) 1. Pasca Bedah Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit. Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam keadaan paralitik.10 XIII. PROGNOSIS Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur, etiologi, tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas. Pada obstruksi kolon mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus halus.6 XIV. RESUME Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen usus tersebut. Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh adhesi, hernia inkarserata, neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, kumpulan cacing askaris, sedangkan obstruksi usus besar penyebabnya adalah karsinoma, volvulus, divertikulum Meckel, penyakit Hirschsprung, inflamasi, tumor jinak, impaksi fekal. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal. Gejala umum berupa syok, oliguri dan gangguan elektrolit. Kolik dapat terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Usus di bagian distal kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik), dapat terjadi perforasi. Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid level, distensi usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.

Explore

Anestesi Pada Pasien Hipertensi Bab 1PENDAHULUAN Hipertensi adalah penyakit yang umum dijumpai.Diperkirakan satu dari empatp o p u l a s i dewasa di Amerika atau sekitar 60 juta individu dan hampir 1 milyar p e n d u d u k d u n i a m e n d e r i t a h i p e r t e n s i , d e n g a n m a y o r i t a s d a r i p o p u l a s i i n i mempunyai risiko yang tinggi untuk mendapatkan komplikasi kardiovaskuler.1-4Data yang diperoleh dari Framingham Heart Study menyatakan bahwa prevalensihipertensi tetap akan meningkat meskipun sudah dilakukan deteksi dini dengandilakukan pengukuran tekanan darah (TD) secara teratur. Pada populasi berkulit putih ditemukan hampir 1/5 mempunyai tekanan darah sistolik (TDS) lebih besar dari160/95 mmHg dan hampir separuhnya mempunyai TDS lebih besar dari 140/90mmHg. Prevalensi hipertensi tertinggi ditemukan pada populasi bukan kulit putih.2,5Hipertensi yang tidak terkontrol yang dibiarkan lama akan mempercepat terjadinyaa r t e r o s k l e r o s i s d a n h i p e r t e n s i s e n d i r i m e r u p a k a n f a k t o r r i s i k o m a y o r t e r j a d i n y a penyakit-penyakit jantung, serebral, ginjal dan vaskuler.3 Pengendalian hipertensiy a n g a g r e s i f a k a n m e n u r u n k a n k o m p l i k a s i t e r j a d i n y a infark miokardium, gagal jantung kongestif, stroke, gagal ginjal, penyakit o k l u s i p e r i f e r d a n d i s e k s i a o r t a , sehingga morbiditas dapat dikurangi.3,6 Konsekuensi dari penggunaan obatobatantihipertensi yang rutin mempunyai potensi terjadinya interaksi dengan obat-obatyang digunakan selama pembedahan. Banyak jenis obat-obatan yang harus tetap d i l a n j u t k a n s e l a m a p e r i o d e p e r i o p e r a t i f , d i m a n a d o s i s t e r a k h i r d i m i n u m s a m p a i dengan 2 jam sebelum prosedur pembedahan dengan sedikit air dan dilanjutkan kembali pada saat pemulihan dari pengaruh anestesia.7 Tingginya angka penderitahipertensi dan bahayanya komplikasi yang bisa ditimbulkan akibat hipertensi ini m e n y e b a b k a n p e n t i n g n y a p e m a h a m a n para ahli anestesia dalam manajemen s e l a m a p e r i o d e p e r i o p e r a t i f . P e r i o d e p e r i o p e r a t i f d i m u l a i d a r i h a r i d i m a n a dilakukannya evaluasi prabedah, dilanjutkan periode selama pembedahan sampai pemulihan pasca bedah.1,7 Kasus 1 1.1 IDENTITAS Nama : Nn. R (123510)Umur : 39 tahunJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Bidasari 2B26Agama : IslamTanggal operasi : 1 May 2010 1.2 ANAMNESIS (Alloanamnesa) 1.2.1 Keluhan Utama Hidung mampet sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit

1.2.2 Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke poliklinik THT dengan keluhan hidung mampet, sesaknapas sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien sering bersin-bersinsetiap pagi, pusing dan menjalar ke atas kepala. Bersin disertai dengansekret berwarna jernih dan sedikit encer. Saat ini keluhan makin berat. Pasiensering mengeluh hidung tersumbat dan apabila tidur diberitahu suaminyabahwa pasien sering ngorok. 1.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat alergi obat -, riwayat penyakit infeksi kronis 1.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit yang sama. 1.2.5 Riwayat pengobatan Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit dan tidak pernah m e n g a l a m i operasi. 1.3 PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran : CM, tampak sakit sedangTanda vital :Tekanan darah: 169/112 mmHgNadi : 80x/menitRR : 18 x/menitSuhu : afebrisKepala : konjungtiva anemis - /-, Sklera ikterik -/-,Telinga : normotia2 Mulut : Gigi geligi tidak ada kelainan, mukosa mulut normal, massa (-)Hidung : mukosa hidung normal, epitaksis (-), massa (-)Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar, massa (-)Jantung : SI SII normal, regular, Murmur -, Gallop Paru : Suara nafas vesikuler kanan kiri, Ronchi - / -, Wheezing - / -P e r u t : d a t a r , s o e p e l , B u + N o r m a l , N T - , u d e m a - , h e p a t d a n l i e n t i d a k t e r a b a membesar Ekstremitas : akral hangat, motorik N, reflex NStatus THT :Telinga : Dalam batas normalHidung : Septum deviasi Sekret HiperemisKonka membesar Tenggorokan : Uvula normalTonsil normalHiperemis 1.4 DIAGNOSIS Hipertrofi konka et causa Rinitis Allergi 1.5 TINDAKAN Pada pasien, tindakan yang dilakukan adalah konkotomi yaitu pemotongan konkainferior dengan cara kauterisasi. Operasi dilakukan oleh dr Teppy Sp THT padatanggal 1 Mei 2010 di kamar operasi RS Otorita Batam. 1.6 LAPORAN ANESTESI Pasien, Ny. R, 39 tahun, datang ke ruang operasi untuk menjalani operasi elektif konkotomi pada tanggal 1 Mei 2010 dengan menggunakan General Anestesi3 dengan pemasangan endotrakeal tube non kinking. Posisi pasien saat operasidalam posisi terlentang. Dengan dokter anestesi adalah dr. Gusno S p . A n d a n operatornya dr. Teppy, Sp.THT. Operasi berlangsung dari jam 1345 1442 denganlama operasi selama 57 menit. Anestesi menggunakan recofol, 0 2 -N20-sevofluranedengan relaksasi menggunakan Tramus.Dilakukan pemasangan alat-alat anestesi seperti tensimeter, elektroda EKG,oksimetri dan pada pasien ini telah dilakukan pemasangan IV line. Keadaan umumpasien sebelum operasi compos mentis, dengan nadi 80 x/menit, suhu afebris, tensi169/112mmHg, saturasi oksigen 98% dan mempunyai berat badan 79 kg. Padapemeriksaan laboratorium tidak ditemukan kelainan yang berarti. Sebelum

dilakukani n t u b a s i , p e r s i a p a n a l a t - a l a t a n e s t e s i t e l a h d i s e d i a k a n . S e t e l a h s e m u a n y a dipersiapkan, premedikasi dimasukkan pada jam 1250 dengan menggunakanSedacum sebagai obat sedasi dan untuk menenangkan pasien. Kemudian pasiendiberikan Catapres 150mcg dengan tujuan untuk menurunkan tekanan darah pasien.Setelah pemberian Catapres, tensi pasien menurun ke 135/95 mmHg. Pada jam1315, pasien diberikan Fentanyl 50 mcg yang merupakan obat opioid yang bersifatanalgesic dan bisa bersifat induksi pada pemberian dosis tinggi dan juga diberikankliran 4mg dengan tujuan untuk mengurangkan keluhan mual dan muntah pada pasien.P a d a j a m 1 3 1 5 , p a s i e n i n i d i b e r i k a n p e l e m a s o t o t b e r u p a T r a m u s 3 0 m g untuk merelaksasikan otot-otot pernapasan sehingga pasien apnoe. Pada waktuyang sama pasien diberikan recofol sebanyak 100 mg sebagai anestesi intravena. Setelah itu pasien disungkupkan dengan sungkup muka yang telah terpasang padam e s i n a n e s t e s i y a n g m e n g h a n t a r k a n g a s ( s e v o f l u r a n e ) d e n g a n u k u r a n 3 v o l % dengan fresh flow gas yaitu oksigen dan N20 dengan perbandingan 1:1 dari mesinke jalan napas pasien sambil melakukan bagging selama kurang lebih 3 menit untukmenekan pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari pelemas otot sehinggamempermudah dilakukannya intubasi. Penggunaan sevofluran disini dipilih karenasevofluran mempunyai efek induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingdengan gas lain, dan baunya pun lebih harum dan tidak merangsang jalan napass e h i n g g a d i g e m a r i u n t u k i n d u k s i a n e s t e s i d i b a n d i n g g a s l a i n ( h a l o t a n ) . E f e k terhadap kardiovaskular pun relatif stabil dan jarang menyebabkan aritmia. Setelahpasien di intubasi, dengan menggunakan ETT non kinking no 7 dengan cuff, makadialirkan sevofluran 3 vol%, oksigen dan N 2 0 sekitar 1000 ml/menit(1:1) sebagai4 anestesi rumatan. Ventilasi dilakukan dengan bagging dengan laju napas 12 x/ menitdengan volume tidal sebesar 650.P a d a j a m 1 3 2 5 , p a s i e n d i b e r i k a n T r a n s a m i n 5 0 0 m g d e n g a n t u j u a n u n t u k mengontrol perdarahan. Operasi dimulakan pada jam 1345 dan pasien dimonitor semua tanda-tanda vitalnya sepanjang operasi berlangsung. Dexametason 5mg juga diberikan ketika operasi hampir selesai. Ketika operasi mulai berakhir, padapukul 1440, konsentrasi sevoflurane diturunkan menjadi 1 vol %. Operasi selesaip a d a j a m 1 4 4 2 d e n g a n t e n s i 9 0 / 6 5 m m H g , n a d i 7 6 k a l i p e r m e n i t d a n s a t u r a s i oksigen pada 99%. Dan pada pukul 1450 apabila napas pasien sudah spontan dana d e k u a t , s e v o f l u r a n e d i d i h e n t i k a n . T o t a l c a i r a n y a n g d i b e r i k a n p a d a p a s i e n i n i sejumlah 1000cc berupa 500cc Asering dan 500cc Haemaccel dengan perdarahanpada operasi ini sangat minimal. BAB 2 HIPERTENSI DAN ANESTESI2.1 DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI HIPERTENSI 5 Diagnosis suatu keadaan hipertensi dapat ditegakkan bila ditemukan adanyapeningkatan tekanan arteri diatas nilai normal yang diperkenankan berdasarkan umur, jenis kelamin dan ras. Batas atas tekanan darah normal yang diijinkan adalahsebagai berikut :Dewasa 140/90 mmHgDewasa muda (remaja) 100/75 mmHgAnak usia prasekolah 85/55 mmHgAnak < 1 tahun (infant) 70/45 mmHgM e n u r u t T h e J o i n t N a t i o n a l C o m m i t t e e 7 ( J N C 7 ) o n p r e v e n t i o n , d e t e c t i o n , evaluation, and treatment of high blood pressure tahun

2003, klasifikasi hipertensi dibagi atas prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan 2 (lihat tabel 1).Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 72K l a s i f i k a s i d i a t a s u n t u k d e w a s a 1 8 t a h u n k e a t a s . H a s i l p e n g u k u r a n T D dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk posisi dan waktu pengukuran, emosi, a k t i v i t a s , o b a t y a n g s e d a n g d i k o n s u m s i d a n t e k n i k p e n g u k u r a n T D . K r i t e r i a ditetapkan setelah dilakukan 2 atau lebih pengukuran TD dari setiap kunjungan danadanya riwayat peningkatan TD darah sebelumnya.3 Penderita dengan klasifikasiprehipertensi mempunyai progresivitas yang meningkat untuk menjadi hipertensi. Nilai rentang TD antara 130139/80-89 mmHg mempunyai risiko 2 kali berkembangmenjadi hipertensi dibandingkan dengan nilai TD yang lebih rendah dari nilai itu.2 Di6