Anda di halaman 1dari 4

Finial Sambaran Petir (Air Termination ) Finial sambaran petir yang terbuat dari logam (biasanya terbuat dari

logam tembaga) merupakan titik sambar petir yang kemudian mengalirkan arus petir ke tanah dan mencegah terjadinya sambaran petir di tempat lain di daerah yang dilindunginya. Finial akan menerima pembebanan panas yang tinggi sehingga dalam pemilihan jenis logam, ketebalan dan bentuknya ditentukan oleh pertimbangan besarnya muatan arus petir (Q). Yang dapat digunakan sebagai finial penangkal petir adalah logam yang khususdipasang di bagian teratas bangunan atau menara, dengan bentuk berupa batang tegak atau penghantar mendatar. Daerah lindung atau sudut lindung suatu finial penangkal petir ditentukan oleh jarak sambar suatu sambaran petir yang panjangnya ditentukan oleh tingginya arus petir. Teori yang mendasari penentuan daerah lindung tersebut adalah teori Elektro-geometri Teori Elektro-geometri adalah teori yang mengkaitkan hubungan antara sifat listrik sambaran petir dengan geometri sistem penangkal petir. Teori ini semula dikembangkan untuk pembuatan elektro-geometri pada saluran transmisi tagangan tinggi. Berdasarkan teori elektro-geometri pada saluran transmisi ini dikembangkan suatu model elektrogeometri pada sistem penangkal petir bangunan, dimana finialnya berupa batang tegak (finial Franklin) dan suatu penghantar mendatar sangkar faraday. Model elektro-geometri didasarkan pada hipotesa sebagai berikut: Jika suatu kepala lidah petir yang dalam pergerakannya mendekati obyek sambaran bumi telah mencapai suatu titik sambar utama, maka petir akan mengenai obyek sambaran melalui jarak terpendek. Jarak sambar petir ditentukan oleh tinggi arus puncak petir sambaran pertama dan dinyatakan menurut Amstrong dan Whitehead yang didasarkan pada rumus Wagner dan hasil percobaan L Paris dan Watanabe dengan persamaan sebagai berikut : hB = 6,7

I 0,8 meter

dimana I adalah puncak arus petir sambaran pertama dalam kA Model Elektro-geometri dengan memperhatikan besarnya jarak sambar hB merupakan dasar yang digunakan untuk menentukan daerah lindung susunan dasar finial penangkal petir. Adapun sudut lindung dengan besar sudut lindung j sebesar :

j = arc sin (1 - h/hb ) d h = Tinggi batang tegak penangkal petir dari permukaantanah (m) hb = Jarak sambar (m) = Sudut perlindungan ( 0 ) Susunan finial penangkal petir dapat berupa finial batang tegak; susunan finial mendatar dan finial-finial lain dengan memanfaatkan benda logam yang terpasang di atas bangunan seperti atap logam, menara logam dan lain-lain. Tingkat perlindungan yang diinginkan menentukan susunan dan jumlah finial, dimensi dan jenis bahan finial serta konstruksinya dan semua ini secara besaran arus petir ditentukan oleh tingginya arus puncak petir (I) dan muatan arus petir (Q). Radius daerah perlindungannya (r) dapat ditentukan dengan persamaan berikut : r= dimana : r = Radius daerah perlindungan (m) rs = Jarak sambar (m) h = Tinggi batang tegak penangkal petir dari permukaan Contoh Aplikasi Konsep Elektrogeometri Berdasar sudut lindungnya, arus sambaran petir yang akan mengenai menara dapat dibatasi sampai sekitar 100 kA dan perhitungan sudut lindung diperoleh dengan hB = 6,7 (100) = 266,73 meter dan dengan ketinggian tower (h) setinggi 32 m, maka akan diperoleh sudut lindung sebesar : j = arc sin (1 - 32/266.73 ) = 62 0 Pentanahan tower dapat dibuat terpisah sendiri, dengan sistem pentanahan yang baik, atau digabung dengan pentanahan mesh dari siste
2rs h h 2

0,8 meter

Metode bola bergulir (rolling sphere method )

Metode rolling sphere memberikan simulasi perhitungan kemungkinan bagian samping yang rentan terkena sambaran (side strike) diatas ketinggian maksimum yang diperbolehkan dalam ketentuan standard. besar radius "rolling-sphere" pun di atur dalam standard, misalnya untuk level 1 radius rolling sphere adalah 20 meter sedangkan untuk level 4 radius nya adalah 60 meter, berikut ilustrasi penggunaan metode "rolling sphere" untuk melihat bagian-bagian yang perlu diproteksi. Metode bola bergulir baik digunakan pada bangunan yang bentuknya rumit. Dengan metode ini seolah-olah ada suatu bola dengan radius r yang bergulir di atas tanah, sekeliling struktur dan di atas struktur ke segala arah hingga bertemu dengan tanah atau struktur yang berhubungan dengan permukaan bumi yang mampu bekerja sebagai penghantar. Titik sentuh bola bergulir pada struktur adalah titik yang dapat disambar petir dan pada titik tersebut harus diproteksi oleh konduktor terminasi udara. Semua petir yang berjarak r dari ujung penangkap petir akan mempunyai kesempatan yang sama untuk menyambar bangunan. Besarnya r (radius) berhubungan dengan besar arus petir dan dinyatakan sebagai : Bila ada arus petir yang lebih kecil dari i tersebut mengenai bangunan, bangunan masih bisa tahan. Bila arus petir lebih besar dari i tersebut, akan ditangkap oleh penangkap petir.

Aplikasi Rolling Sphere Penentuan r (jari-jari) bola dihitung dari perkiraan besarnya arus petir (i) sebagai berikut : ; r dalam satuan meter dan i dalam satuan kA misalkan harga i adalah 18kA, sehingga = 78 meter Dengan membandingkan perhitungan di atas dengan standar IEC 62305-1, maka level proteksi yang akan digunakan penulis adalah level IV, di mana minimum peak current adalah 16 kA dan radius rolling sphere yg digunakan adalah 60 meter. Penggunaan metode bola bergulir sangat baik digunakan terutama jika bentuk bangunannya rumit. Metode ini dilakukan dengan cara menggambarkan bangunan dan bola bergulir dengan jari-jari misalnya 45 meter di sekeliling bangunan. Daerah antara perpotongan permukaan tanah, gedung dan keliling bola bergulir dan bangunan itu sendiri adalah daerah proteksinya. Dengan cara ini terlihat bahwa masih diperlukan penangkap petir lagi pada ujung dari atap bangunan karena titik tersebut tepat tersentuh oleh bola bergulir dan mempunyai kemungkinan besar tersambar petir sehingga harus dipasangi terminasi udara. Bila terminasi udara ditambahkan pada puncak atap yang ada di sisi kanan dan kiri maka jarak terminasi dengan bagian atap yang paling luar adalah 2,5 meter. Selain rumus tadi, kita juga bias menggunakan rumus R = I radius lingkaran rolling sphere R = 45 m , I =
0 , 75 0 , 75 0 , 75

untuk menghitung

45

= 160,06 kA = 3,39 kA

R = 2 ,5 m , I =

2,5

Berarti dengan tambahan penangkap petir, bangunan maksimal bisa menahan sampai 3,39 kA. Jika ada sambaran petir dengan arus bernilai lebih dari 3,39 kA maka akan ditangkap oleh sistem proteksi petir.