Anda di halaman 1dari 148

LAPORAN

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


Disusun oleh :
Kelompok : III (Tiga)
1. Muhammad Yahya NIM : 0814001
2. Maria Mustika Ningrum NIM : 0814004
3. Maria Drira Wea Siga NIM : 0814005
4. Catur Pratiwi S. NIM : 0814012
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2011
1
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan praktikum Operasi Teknik Kimia II dalam percobaan Heat Exchanger,
Wetted Wall Column, Rotary Dryer ini.
Tersusunnya laporan ini karena adanya dorongan dan bimbingan yang telah
diberikan oleh banyak pihak, oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Ibu Ir. Muyassaroh, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia ITN Malang, dan
dosen pembimbing percobaan Wetted Wall Column.
2. Bapak Ir. Bambang Susila Hadi, selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik
Kimia ITN Malang.
3. Serta para asisten pembimbing praktikum Operasi Teknik Kimia II pada
percobaan Heat Exchanger, Wetted Wall Column, Rotary Dryer.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca.
Malang, Januari 2011
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB I . HEAT EXCHANGER..............................................................................5
BAB II . WETTED WALL COLUMN...............................................................56
BAB III . ROTARY DRYER.............................................................................100
3
BAB I
HEAT EXCHANGER
1.1. Tujuan Percobaan
Mempelajari salah satu jenis alat Heat Exchanger yang beroperasi secara
co-current dan counter current flow dimana alat tersebut ingin diketahui individual
heat transfer coefficient (h
i
) serta overall heat transfer coefficient (U
d
) berdasarkan
hukum Nusselt. Dengan demikian kita dapat mengetahui harga faktor kekotoran atau
fouling factor (R
d
) dari alat tersebut.
1.2. Tinjauan Pustaka
Alat penukar panas (heat exchanger) adalah merupakan suatu alat pertukaran
panas tak langsung yang memungkinkan terjadinya perpindahan panas dari satu
cairan (atau gas) ke cairan (atau gas) yang lain melalui sebuah dinding pemisah.

Alat penukar panas (heat exchanger) dibedakan menjadi:
1. Penukar panas pipa ganda (double pipe heat exchanger)
Alat penukar panas pipa ganda terdiri dari dua pipa yang konsentris yang ujung
ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak-kotak penyekat.
Alat penukar panas jenis ini digunakan sebagai alat pemanas atau pendingin bila
diinginkan laju alir yang kecil dan tekanan tinggi.
[3]
2. Penukar panas tipe shell dan tube (shell and tube heat exchanger)
Jenis umum dari penukar panas, biasanya digunakan dalam kondisi tekanan relatif
tinggi, yang terdiri dari sebuah selongsong yang didalamnya disusun suatu
anulus dengan rangkaian tertentu (untuk mendapatkan luas permukaan yang
optimal). Fluida mengalir di selongsong maupun di anulus sehingga terjadi
perpindahan panas antar fluida dengan dinding anulus sebagai perantara.
[10]
Berdasarkan arah aliran fluida dingin dan panas yang mengalir dapat kita
kenal dua macam pola aliran, antara lain :
4
a. Aliran searah (co-current)
Bahan panas dan bahan dingin mengalir pararel dalama arah yang sama.
Setelah bahan panas kontak dengan bahan dingin, bahan panas bahan panas
mengalami penurunan tempratur yang besar, sehingga media pendingin hanya
mengalami pemanasan yang kecil.
[3]
Rumus yang digunakan :
Dengan berbagai anggapan dapat dibuktikan bahwa harga temperatur rata-rata
(t), yaitu merupakan beda suhu rata-rata logaritmik (t
LMTD
).

t
LMTD
=
1
2
1 2
t
t
ln
t t
=
) t T /( ) t T ln(
) t T ( ) t T (
1 1 1 2
1 1 2 2



[4]
Dimana :
T
1
= suhu pada air panas yang masuk
T
2
= suhu pada air panas yang keluar
t
1
= suhu pada air dingin yang masuk
t
2
= suhu pada air dingin yang keluar
T
LMTD
= logaritma perubahan suhu
Grafik 1.2.1. Aliran co current
[7]
b. Aliran berlawanan arah (counter current)
5
Aliran berlawanan arah adalah suatu aliran dimana fluida yang satu
masuk pada satu ujung penukar panas, sedangkan fluida yang lain masuk
pada ujung yang lain dan masing-masing fluida mengalir dengan arah
yang berlawanan.
[5]
Rumus yang digunakan :
Dengan berbagai anggapan dapat dibuktikan bahwa harga temperatur rata-
rata (t), yaitu merupakan beda suhu rata-rata logaritmik (t
LMTD
).
[4]
t
LMTD
=
1
2
1 2
t
t
ln
t t
=
) /( ) ln(
) ( ) (
1 2 2 1
1 2 2 1
t T t T
t T t T



Dimana :
T
1
= suhu pada air panas yang masuk
T
2
= suhu pada air panas yang keluar
t
1
= suhu pada air dingin yang masuk
t
2
= suhu pada air dingin yang keluar
T
LMTD
= logaritma perubahan suhu
Grafik 1.2.2. Aliran counter current
[7]
6
Gambar 1.2.3. Gambar aliran co-current dan counter current
[10]
Berdasarkan bilangan Reynold nya, aliran dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Aliran Laminar
Aliran Laminar adalah jenis aliran dengan bilangan Reynold kurang dari
2100.
2. Aliran Transisi
Aliran transisi adalah jenis aliran yang memiliki bilangan Reynold antara
2100 sampai 6000.
3. Aliran Turbulent
Aliran turbulent adalah jenis aliran yang memiliki bilangan Reynold lebih
dari 6000.
[2]
Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu
daerah ke daerah lainnya sebagai akibat adanya perbedaan suhu antara
daerah-daerah tersebut. Sifat-sifat perpindahan panas adalah apabila dua buah
benda yang suhunya berbeda berada dalam kontak termal, maka panas tersebut
akan mengalir dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya
lebih rendah. Peristiwa perpindahan panas tersebut dapat berlangsung dengan
tiga mekanisme, antara lain :
[5]

[6]
1. Konduksi
Konduksi adalah proses dimana panas mengalir dari daerah yang bersuhu
lebih tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah di dalam satu medium (padat,
7
cair atau gas) atau antara medium-medium yang berlainan yang bersinggungan
secara langsung. Dalam aliran panas konduksi, perpindahan energi terjadi
karena hubungan molekul secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul
yang cukup besar. Konduksi merupakan satu-satunya mekanisme dimana panas
dapat mengalir dalam zat padat yang tidak tembus cahaya.
2. Konveksi
Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari
konduksi panas, penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Konveksi
merupakan mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat
dan cairan atau gas.
3. Radiasi
Radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari benda yang bersuhu
tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda-benda itu terpisah di dalam
ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa di antara benda-benda tersebut.
Pada radiasi, panas diubah menjadi gelombang elektromagnetik yang
dirambatkan melalui ruang tanpa media penghantar.
[3] [6]
Faktor Pengotoran (Fouling Factor)
Dalam operasi sesungguhnya, permukaan perpindahan panas tidak selalu
bersih. Kerak dan kotoran dapat terbentuk pada salah satu atau kedua tabung,
sehingga menyebabkan hambatan pada laju alir panas dan akibatnya koefisien
menyeluruh akan bertambah kecil.
[5]
Aplikasi alat penukar penukar panas yang biasa digunakan di industri adalah :
a. Koil
Koil merupakan perangkat penukar panas berbentuk pipa atau pelat yang
dipasang di dalam tangki, digunakan bila dinding tangki tidak cukup luas
untuk dapat memindahkan panas yang diperlukan atau bila koefisien
perpindahan panas dinding tangki sangat rendah sehingga perpindahan panas
melalui dinding hampir tidak mungkin (misalnya pada baja berlapis ebonit
atau berlapis keramik).
8
Gambar 1.2.4. Gambar Koil
[3]
b. Jaket
Tangki diselubungi oleh sebuah mantel atau jaket besar yang dipasang
dipasangi pada bejana reaksi dengan cara dilas atau dikeling. Di dalam ruang
antara seringkali terdapat lempengan. Di dalam ruang antara seringkali
terdapat lempengan pengatur arah aliran.
Gambar 1.2.5. Gambar Jaket
[3]
Apabila luas perpindahan panasnya kecil, maka jenis Heat Exchangernya
ialah :
a. Double Pipe Heat Exchanger
Double Pipe Heat Exchanger sangat baik digunakan apabila luas
perpindahan panasnya kecil yaitu 100 sampai 200 ft
2
. Pada tipe ini dapat
dibagi menjadi dua yaitu:
- Double pipe exchanger Seri
9
Aliran berlawanan arah adalah suatu aliran dimana fluida yang satu
masuk pada satu ujung penukar panas, sedangkan fluida yang lain masuk
pada ujung yang lain dan masing-masing fluida mengalir dengan arah
yang berlawanan. Pada Temperatur outlet sisi dingin, T
2,
bisa mendekati
sisi suhu panas masuk, T
,
yang lebih tinggi daripada temperatur outlet sisi
panas, T
2.
Oleh karena itu shell and tube yang lebih efisien adalah shell
and tube yang jenis aliranya seri atau (counter-current) karena suhu dingin
sisi outlet t
2
lebih tinggi dari temperatur outlet sisi panas T
2
.
Gambar 1.2.6. Double pipe exchanger Seri
[4]
- Double pipe exchanger Parallel
Dalam aliran paralel-penukar panas, kedua cairan penukar masukan
pada akhir yang sama, dan perjalanan di sejajar satu sama lain ke sisi lain.
Fluida dingin masuk ke dalam shell pada pipa tingkat pertama, dimana
keluarnya fluida dingin tersebut mengalir ke tingkat pipa ke tiga dan
seterusnya itu terjadi berselang seling. Fluida dingin yang keluar melalui
pipa ke dua di alirkan kembali menuju pipa ke lima. Proses tersebut di
lakukan secara terus menerus. Sedangkan fluida panas masuk menuju tube
Akhir. Dimana proses ini aliran fluida panas dan fluida dingin mengalir
sejajar. Bahan panas dan bahan dingin mengalir pararel dalama arah yang
sama. Setelah bahan panas kontak dengan bahan dingin, bahan panas
bahan panas mengalami penurunan tempratur yang besar, sehingga media
pendingin hanya mengalami pemanasan yang kecil.

10
Gambar 1.2.7. Double pipe exchanger parallel
[4]
Alat penukar panas pipa ganda terdiri atas dua pipa konsentris yang
ujung-ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak-kotak
penyekat (stuffing box). Tidak seperti pada konstruksi pipa lurus yang pada
panjang-panjang tertentu harus dipasangi elemen kompensasi pemuaian,
sedangkan pada konstruksi yang berbentuk kumpuran hal itu sudah ada
dengan sendirinya. Alat penukar panas pipa ganda seringkali digunakan
sebagai saluran penghubung antar alat yaitu bila cairan panas tidak boleh
terdinginkan pada waktu transportasi.
[3]
Gambar 1.2.8. Gambar Double Pipe Heat Exchanger
[9]
Apabila luas perpindahan panas besar maka jenis Heat Exchangernya ada 2
macam antara lain :
11
a. Shell and Tube paling banyak digunakan di industri karena disebabkan
oleh lebarnya rentang suhu dan tekanan media pemanas yang pada
hakekatnya dibatasi oleh ketahanan bahan dasar alat. Selain itu, tipe ini
dapat dimodifikasi untuk pengoperasian khusus yaitu dengan mengubah
konstruksi secara sederhana. Dan juga biaya pembuatannya lebih murah
dibandingkan dengan jenis lain. Kekurangan dari jenis ini adalah seringnya
terjadi kebocoran pada saat digunakan fluida yang sangat panas atau sangat
dingin.
[2]
Gambar 1.2.9. Shell and Tube
[8]
b. Plate frame
Heat Exchanger jenis ini tersusun dari sejumlah plat yang dua-duanya
merupakan kotak pipih seperti lempengan tipis yang besar. Zat yang satu
mengalir biasanya melalui rusuk-rusuk dan yang dipasang di dalam plat atau
antara kedua plat. Jadi di sisi yang sebelah lain mengalir fluida yang lain.
Keuntungan dari aparat jenis ini adalah koefisien menyeluruh aparat jenis ini
biasanya lebih tinggi daripada aparat jenis pipa.
[3]
12
Gambar 1.2.10. Plate frame
[12]
Untuk mencari tahanan panas digunakan persamaan sebagi berikut :
Ud Uc
Ud Uc
Rd


o io
o io
h h
h h
Uc
+



t A
Q
Ud


[4]

Dimana :
R
d
= faktor kekotoran
Uc = koefisien perpindahan panas total dalam keadaan bersih
Ud = koefisien perpindahan panas total dalam keadaan kotor
h
io
= koefisien perpindahan panas dalam pipa berdasarkan diameter luar dari pipa
h
o
= koefisien perpindahan panas individual dalam tube
A = luas perpindahan panas
t = perbedaan temperatur yang sebenarnya
BAB II
13
PERCOBAAN
2.1. Variabel Percobaan
A. Variabel tetap
- Suhu air panas : 60C
B. Variabel berubah
- Arah aliran : co - current dan counter - courrent.
- Waktu operasi : 30, 60, 90, 120 detik.
2.2. Alat dan Bahan
A. Alat yang digunakan
- Seperangkat alat shell and tube exchanger
- Stopwatch
B. Bahan bahan yang digunakan
- Air panas
- Air dingin
2.3. Prosedur Percobaan
A. Tahap kalibrasi
- Mengalirkan pompa aliran air dingin dengan jalan membuka valve
no 9 dan 11 selama 30 detik sehingga diperoleh laju alir yang diinginkan.
- Mencatat volume pada flowmeter.
- Mengulangi langkah percobaan di atas sesuai dengan run yang telah
ditentukan yaitu 30, 60, 90, 120 detik.
B. Tahap Persiapan
- Mengisi tangki pemanas dengan air.
- Menyalakan heater guna memanaskan air hingga suhunya mencapai
60 C.
- Menyalakan pompa aliran air panas untuk mengalirkan air panas ke
seluruh rangkaian Heat exchanger.
14
- Apabila suhu yang sudah ditentukan telah tercapai selanjutnya
percobaan dapat dilaksanakan.
C. Tahap percobaan
- Secara co current
- Mengalirkan air panas ke dalam tube dengan cara membuka valve 13.
- Mengalirkan air dingin dari tangki supply dalam shell dengan jalan
membuka valve 9 dan 11.
- Menjalankan pompa air panas dan air dingin secara bersamaan
selama 30 detik.
- Mencatat suhu yang masuk dan suhu yang keluar pada fluida panas
dan fluida dingin.
- Mengulangi langkah di atas sesuai dengan run yang telah ditentukan
yaitu 30, 60, 90, 120 detik.
- Secara counter current
- Mengalirkan air panas ke dalam tube dengan cara membuka valve 13.
- Mengalirkan air dingin dari tangki supply dalam shell dengan jalan
membuka valve 11 dan 16.
- Menjalankan pompa air panas dan air dingin secara bersamaan selama 30
detik.
- Mencatat suhu yang masuk dan suhu yang keluar pada fluida panas dan
fluida dingin.
- Mengulangi langkah di atas sesuai dengan run yang telah ditentukan yaitu
30, 60, 90, 120 detik.
15
2.4. Gambar Peralatan
Gambar 2 4.1. Instrument Heat Exchanger Shell and Tube
Keterangan Gambar :
1 : Shell and tube heat Exchanger
2 : Tangki pemanas (heater)
3 : Tangki supply
4 : Tangki penampung air dingin
5 : Pompa air dingin
6 : Pompa air panas
7, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16 : Globe Valve
11 : Gate Valve
17, 18, 19, 20, 23 : Termometer
21, 22 : Flowmeter
16
Gambar 2.4.2. Foto Instrument Heat Exchanger
2.5. Hasil Pengamatan
Tabel 2.5.1. Data pengamatan hasil kalibrasi air dingin.
Waktu (detik) Volume (L) V
rata rata
(L)
30
1,3
1,2667 1,3
1,2
60
2,5
2,5 2,5
2,5
90
3,7
3,7667 3,8
3,8
120
5,1
5,133 5,3
5
Tabel 2.5.2. Data pengamatan air dingin melalui shell dan air panas melalui tube
pada aliran co current pada suhu 60
o
C.
Run Waktu (detik) T
1
(
o
C) T
2
(
o
C) t
1
(
o
C) t
2
(
o
C)
1
30
60 43 26 28
2 60 42 26 30
17
1
60
60 48 26 30
2 60 46 26 31
1
90
60 47 26 31
2 60 47 26 32
1
120
60 45 26 31
2 60 45 26 32
Tabel 2.5.3. Data pengamatan air dingin melalui shell dan air panas melalui tube
pada aliran counter-current pada suhu 60
o
C.
Run Waktu (detik) T
1
(
o
C) T
2
(
o
C) t
1
(
o
C) t
2
(
o
C)
1
30
60 43 26 32
2 60 42 26 32
1
60
60 42 26 33
2 60 41 26 34
1
90
60 42 26 34
2 60 42 26 34
1
120
60 41 26 34
2 60 40 26 35
18
2.6. Tabel Perhitungan
2.6.1. Hasil perhitungan suhu rata-rata pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube pada aliran secara co-current.
Run
Waktu
(detik)
T1 T2 t1 t2 T1 T2 t1 t2 T rata-rata t rata-rata T LMTD T
(
o
C) (
o
C) (
o
F) (
o
F) (
o
F) (
o
F)
1
30
60 43 26 28 140 109,4 78,8 82,4 124,7 80,6
41,793
4
41,3755
2 60 42 26 30 140 107,6 78,8 86 123,8 82,4
38,023
8
37,2633
1
60
60 48 26 30 140 118,4 78,8 86 129,2 82,4
45,283
8
43,9253
2 60 46 26 31 140 114,8 78,8 87,8 127,4 83,3
41,793
4
40,9576
1
90
60 47 26 31 140 116,6 78,8 87,8 128,3 83,3
42,983
8
42,1242
2 60 47 26 32 140 116,6 78,8 89,6 128,3 84,2
41,793
4
41,3755
1 120 60 45 26 31 140 113 78,8 87,8 126,5 83,3 40,572
4
40,1667
19
2 60 45 26 32 140 113 78,8 89,6 126,5 84,2
39,317
2
38,924
2.6.2. Hasil perhitungan laju alir pada air dingin (c) melalui shell dan air panas (h) melalui tube pada aliran co-current.
Run
Waktu
(detik)
Volume (lbm/ft3) cp (Btu/lbm.
o
F) k(Btu/jam.lbm.
o
F)
(lbm/jam.ft)
v(ft
3
/jam)
(L) Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube
1
30
1,309 62,1970 61,7048 0,9990 0,9995 0,3533 0,3729 2,0678 1,3500 5,5472 0,6575
2 1,309 62,1880 61,7192 0,9990 0,9995 0,3542 0,3725 2,0290 1,3609 5,5472 1,2415
1
60
2,569 62,1880 61,6328 0,9990 0,9996 0,3542 0,3747 2,0290 1,2956 10,8867 3,6595
2 2,569 62,1835 61,6616 0,9990 0,9995 0,3547 0,3740 2,0095 1,3174 10,8867 3,9189
1
90
3,829 62,1835 61,6472 0,9990 0,9996 0,3547 0,3743 2,0095 1,3065 16,2263 6,2916
2 3,829 62,1790 61,6472 0,9990 0,9996 0,3551 0,3743 1,9901 1,3065 16,2263 7,5494
1
120
5,089 62,1835 61,6760 0,9990 0,9995 0,3547 0,3736 2,0095 1,3283 21,5658 7,2439
2 5,089 62,1790 61,6760 0,9990 0,9995 0,3551 0,3736 1,9901 1,3283 21,5658 8,6921
20
2.6.3. Hasil perhitungan G, NRe, NPr, NNu, dan JH pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube secara co-current.
Run
Waktu
(detik)
v(ft
3
/jam) G (lbm/jam.ft3) NRe NPr NNu
JH
Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube
1
30
5,5472 0,6575 1709,3691 7789,5199 235,6930 144,2473 1,6242 3,6187 405,0917 2,2123 344,6206
2
5,5472 1,2415 1709,1218 14711,6734 235,6589 270,2533 1,6568 3,6514 413,1756 3,6666 349,1734
1
60
10,8867 3,6595 3354,2657 43304,2843 462,4962 835,6050 1,6568 3,4564 810,8848 8,8819 685,2762
2
10,8867 3,9189 3354,0230 46395,7611 462,4628 880,4621 1,6547 3,5212 809,7973 9,3188 684,6469
1
90
16,2263 6,2916 4999,0479 74469,1553 689,2838 1424,9926 1,6547 3,4888 1206,9730 13,6554 1020,4410
2
16,2263 7,5494 4998,6861 89356,5195 689,2339 1709,8674 1,6526 3,4888 1205,3562 15,7988 1019,5049
1
120
21,5658 7,2439 6644,0728 85781,0282 916,1047 1614,5425 1,6547 3,5536 1604,1488 15,1831 1356,2351
2
21,5658 8,6921 6643,5920 102929,7846 916,0384 1937,3107 1,6526 3,5536 1602,0000 17,5663 1354,9910
21
2.6.4 Hasil perhitungan ho, hi, hio, Uc, Ud, dan Rd pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube secara co-current.
Run
Waktu
(detik)
v(ft
3
/jam)
ho hi hio Uc Ud Rd
Shell Tube
(Btu/h.ft
2
.
o
F) (Btu/h.ft
2
.
o
F) (Btu/h.ft
2
.
o
F) (Btu/h.ft
2
.
o
F) (Btu/h.ft
2
.
o
F) (h.ft
2
.
o
F/Btu)
1
30
5,5472 0,65749 2769,5294 32,9962 21,9975 21,8241 2,4247 0,3666
2 5,5472 1,24148 2793,1529 54,6355 36,4237 35,9548 5,3837 0,1579
1
60
10,8867 3,65947 5481,7492 133,1153 88,7435 87,3298 8,9634 0,1001
2 10,8867 3,91888 5463,7903 139,3947 92,9298 91,3756 12,0152 0,0723
1
90
16,2263 6,29161 8143,5784 204,4597 136,3064 134,0625 17,4123 0,0500
2 16,2263 7,54939 8116,6457 236,5525 157,7016 154,6960 21,2712 0,0405
1
120
21,5658 7,24392 10823,3666 226,8961 151,2641 149,1792 24,2699 0,0345
2 21,5658 8,69208 10787,5711 262,5107 175,0071 172,2133 30,0514 0,0275
22
2.6.5. Hasil perhitungan rata-rata NNu, hi, Ud, dan Rd secara co-current.
Run
Waktu
(detik)
NNu Rata-rata NNu
hi
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rata-rata hi
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Ud
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rata-rata Ud
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rd
(h.ft
2
.
o
F/Btu)
Rata-rata Rd
(h.ft
2
.
o
F/Btu)
Shell Tube Shell Tube
1
30
405,0917 2,2123
409,1337 2,9394
32,9962
43,8158
2,4247
3,9042
0,3666
0,2623
2 413,1756 3,6666 54,6355 5,3837 0,1579
1
60
810,8848 8,8819
810,3410 9,1004
133,1153
136,2550
8,9634
10,4893
0,1001
0,0862
2 809,7973 9,3188 139,3947 12,0152 0,0723
1
90
1206,9730 13,6554
1206,1646 14,7271
204,4597
220,5061
17,4123
19,3417
0,0500
0,0453
2 1205,3562 15,7988 236,5525 21,2712 0,0405
1
120
1604,1488 15,1831
1603,0744 16,3747
226,8961
244,7034
24,2699
27,1607
0,0345
0,0310
2 1602,0000 17,5663 262,5107 30,0514 0,0275
23
2.6.6. Hasil perhitungan suhu rata-rata pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube pada aliran secara counter-current.
Run
Waktu
(detik)
T1 T2 t1 t2 T1 T2 t1 t2 T rata-rata t rata-rata T LMTD T
(
o
C) (
o
C) (
o
F) (
o
F) (
o
F) (
o
F)
1
30
60 43 26 32
140 109,4 78,8 89,6 124,7 84,2 39,6801 38,8865
2 60 42 26 32
140 107,6 78,8 89,6 123,8 84,2 38,5979 37,8260
1
60
60 42 26 33
140 107,6 78,8 91,4 123,8 85,1 37,8406 37,0837
2 60 41 26 34
140 105,8 78,8 93,2 122,9 86 35,9970 35,2770
1
90
60 42 26 34
140 107,6 78,8 93,2 123,8 86 37,0746 36,3331
2 60 42 26 34
140 107,6 78,8 93,2 123,8 86 37,0746 36,3331
1
120
60 41 26 34
140 105,8 78,8 93,2 122,9 86 35,9970 35,2770
2 60 40 26 35
140 104 78,8 95 122 86,9 34,1486 33,4656
24
2.6.7. Hasil perhitungan laju alir pada air dingin (c) melalui shell dan air panas (h) melalui tube pada aliran counter-current.
Run
Waktu
(detik)
Volume (lbm/ft3) cp (Btu/lbm.
o
F) k(Btu/jam.lbm.
o
F)
(lbm/jam.ft)
v(ft
3
/jam)
(L) Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube
1
30
1,309
62,1790 61,9765 0,9990 0,9995 0,3551 0,3729 1,9901 1,3500 5,5472 1,9633
2 1,309
62,1790 61,981 0,9990 0,9995 0,3551 0,3725 1,9901 1,3609 5,5472 1,8541
1
60
2,569
62,1745 61,981 0,9990 0,9995 0,35555 0,3725 1,9706 1,3609 10,8867 4,2449
2 2,569
62,1700 61,9855 0,9990 0,9995 0,356 0,3722 1,9512 1,3718 10,8867 4,5954
1
90
3,829
62,1700 61,981 0,9990 0,9995 0,356 0,3725 1,9512 1,3609 16,2263 7,2302
2 3,829
62,1700 61,981 0,9990 0,9995 0,356 0,3725 1,9512 1,3609 16,2263 7,2302
25
1
120
5,089
62,1700 61,9855 0,9990 0,9995 0,356 0,3722 1,9512 1,3718 21,5658 9,1032
2 5,089
62,1655 61,99 0,9990 0,9994 0,35645 0,3718 1,9318 1,3827 21,5658 9,7278
2.6.8. Hasil perhitungan G, NRe, NPr, NNu, dan JH pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube secara counter-current.
Run
Waktu
(detik)
v(ft
3
/jam) G (lbm/jam.ft3) NRe NPr NNu
JH
Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube Shell Tube
1
30
5,5472 1,9633 1708,8744 23361,7967 244,8315 1557,4531 1,5552 1,0052 402,9217 9,6837 347,7707
2 5,5472 1,8541 1708,8744 22064,3164 244,8315 1470,9544 1,5552 1,0061 402,9217 9,2540 347,7707
1
60
10,8867 4,2449 3353,5375 50516,1556 480,4634 3367,7437 1,5532 1,0061 789,7027 17,9523 681,8979
2 10,8867 4,5954 3353,2948 54691,2099 480,4286 3646,0807 1,5513 1,0071 788,6474 19,1358 681,2738
1
90
16,2263 7,2302 4997,9626 86042,3112 716,0612 5736,1541 1,5513 1,0061 1175,4500 27,4881 1015,4136
2 16,2263 7,2302 193687,4438 86042,3112 27749,7206 5736,1541 1,5513 1,0061 45552,5417 27,4881 39350,6073
26
1
120
21,5658 9,1032 257423,7142 108339,2632 36881,2557 7222,6175 1,5513 1,0071 60542,4092 33,0629 52299,6189
2 21,5658 9,7278 257405,0813 115781,2918 36878,5862 7718,7528 1,5493 1,0080 60461,6008 34,8788 52251,8102
2.6.9. Hasil perhitungan ho, hi, hio, Uc, Ud, dan Rd pada air dingin melalui shell dan air panas melalui tube secara counter-current.
Run
Waktu
(detik)
v(ft
3
/jam)
ho
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
hi
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
hio
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Uc
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Ud
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rd
(h.ft
2
.
o
F/Btu)
Shell Tube
1
30
5,5472 1,9633 2768,7279 144,4349 96,2900 93,0538 7,7373
0,1185
2
5,5472 1,8541 2768,7279 137,8915 91,9276 88,9735 7,9543
0,1145
1
60
10,8867 4,2449 5415,6704 267,5034 178,3356 172,6503 18,5758
0,0480
2
10,8867 4,5954 5397,4126 284,8633 189,9089 183,4540 22,3151
0,0394
1
90
16,2263 7,2302 8044,6450 409,5950 273,0634 264,0989 32,2931
0,0272
2
16,2263 7,2302 311756,3788 409,5950 273,0634 272,8244 32,2931
0,0273
1
120
21,5658 9,1032 414345,3152 492,1882 328,1255 327,8658 44,2046
0,0196
2
21,5658 9,7278 412934,7740 518,7169 345,8113 345,5219 52,4181
0,0162
27
2.6.10. Hasil perhitungan rata-rata NNu, hi, Ud, dan Rd secara counter-current.
Run
Waktu
(detik)
NNu Rata-rata NNu
hi
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rata-rata hi
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Ud
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rata-rata Ud
(Btu/h.ft
2
.
o
F)
Rd
(h.ft
2
.
o
F/Btu)
Rata-rata Rd
(h.ft
2
.
o
F/Btu)
Shell Tube Shell Tube
1
30
402,922 9,6837
402,9217 9,4689
144,4349
141,1632
7,7373
7,8458
0,1185
0,1165
2 402,922 9,2540 137,8915 7,9543 0,1145
1
60
789,703 17,9523
789,1751 18,5440
267,5034
276,1833
18,5758
20,4454
0,0480
0,0437
2 788,647 19,1358 284,8633 22,3151 0,0394
1
90
1175,45 27,4881
23363,9958 27,4881
409,5950
409,5950
32,2931
32,2931
0,0272
0,0272
2 45552,5 27,4881 409,5950 32,2931 0,0273
1 120 60542,4 33,0629 60502,0050 33,9708 492,1882 505,4525 44,2046 48,3113 0,0196 0,0179
28
2 60461,6 34,8788 518,7169 52,4181 0,0162
29
2.7. Grafik
Grafik 2.7.1. Grafik hubungan antara volume fluida dingin dengan waktu kalibrasi
Grafik 2.7.2. Grafik Hubungan koefisien perpindahan panas dalam pipa (h
i
) dan
bilangan Nusselt (N
Nu
) N
Nu
pada aliran air dingin lewat shell dan
aliran air panas lewat tube secara co-current.
30
Grafik 2.7.3. Grafik Hubungan antara koefisien perpindahan panas dalam pipa (h
i
)
dengan bilangan Nusselt (N
Nu
) pada aliran air dingin lewat shell dan
aliran air panas lewat tube secara counter current.
Grafik 2.7.4. Grafik hubungan koefisien perpindahan panas (U
d
) dan faktor
kekotoran (R
d
) pada aliran air dingin lewat shell dan aliran air
panas lewat tube secara co-current.
31
Grafik 2.7.5. Grafik hubungan koefisien perpindahan panas (U
d
) dan faktor
kekotoran (R
d
) pada aliran air dingin lewat shell dan aliran air
panas lewat tube secara counter current.
32
BAB III
PEMBAHASAN
1. Hubungan antara N
Nu
dengan h
i
Hubungan antara bilangan Nusselt (N
Nu
) dengan koefisien perpindahan
panas individual dalam tube (h
i
) secara teori adalah berbanding lurus. Hal ini
sesuai dengan rumus :
1
]
1


i
Nu i
d
k
N h


[2]
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, hasil yang didapatkan sesuai
dengan teori di atas, seperti yang terlihat pada grafik 2.7.2, dan grafik 2.7.3,
dimana semakin besar harga N
Nu
maka semakin besar pula harga h
i
, baik
untuk fluida dingin yang melalui shell dan aliran fliuda panas yang melalui
tube secara co-current maupun secara counter-current.
2. Hubungan antara U
d
dengan R
d
Hubungan antara koefisien pepindahan panas total (U
d
) dengan faktor
kekotoran (R
d
) secara teori adalah berbanding terbalik. Hal ini sesuai dengan
rumus :
d c
d c
d
U U
U U
R


[3]
Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan, hasil yang didapatkan
sesuai dengan teori diatas, yaitu terlihat pada grafik 2.7.4 secara co-current
dan grafik 2.7.5 secara counter current, dimana semakin besar harga U
d
maka
semakin kecil harga R
d
.
3. Faktor Kekotoran dari Heat Exchanger
R
d
ketetapan untuk air adalah 0,001 Btu/h.ft
2
.
o
F
Dari percobaan co-current didapatkan data sebagai berikut :
Rd hitung pada 30 detik sebesar : 0,2623 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 60 detik sebesar : 0,0862 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 90 detik sebesar : 0,0453 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 120 detik sebesar : 0,0310 hour.ft
2
.
o
F/Btu
33
Dari percobaan counter current didapatkan data sebagai berikut :
R
d
hitung pada 30 detik sebesar : 0,1165 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 60 detik sebesar : 0,0437 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 90 detik sebesar : 0,0272 hour.ft
2
.
o
F/Btu
R
d
hitung pada 120 detik sebesar : 0,0179 hour.ft
2
.
o
F/Btu
Berdasarkan teori harga R
d
hitung harus sama dengan R
d
ketetapan yang
besarnya adalah 0,001 Btu/h.ft
2
.
o
F. Dari percobaan co-current, didapatkan
hasil yang tidak sesuai dengan teori, yaitu harga R
d
hitung lebih besar
daripada R
d
ketetapan, sehingga rancangan tidak dapat diterima karena Rd
hitung lebih besar daripada Rd ketetapan.
Sedangkan dari percobaan counter-current, didapatkan hasil yang tidak
sesuai dengan teori, yaitu harga R
d
hitung lebih besar daripada R
d
ketetapan
sehingga rancangan tidak dapat diterima.
Hal ini disebabkan karena :
- Perpindahan panas yang kurang sempurna karena tangki yang digunakan
memiliki tingkat korosi yang cukup tinggi.
- Isolasi panas yang kurang sempurna pada shell.
BAB IV
34
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Hubungan antara koefisien perpindahan panas individual dalam tube (h
i
)
dengan bilangan Nusselt (N
Nu
) adalah berbanding lurus, yaitu semakin besar
bilangan Nusselt (N
Nu
) maka koefisien perpindahan panas individual dalam
tube (h
i
) semakin besar pula.
2. Hubungan antara koefisien pepindahan panas total (U
d
) dengan faktor
kekotoran (R
d
) adalah berbanding terbalik, yaitu semakin besar koefisien
pepindahan panas total (U
d
) maka faktor kekotoran (R
d
) semakin kecil.
4.2. Saran
1. Heater pada alat Heat Exchanger Shell and Tube sebaiknya dilakukan
pengecekkan secara berkala, karena dapat menimbulkan konsleting
(menyetrum) sehingga perlu dipikirkan tentang keselamatan praktikan dalam
praktikum.
2. Sebaiknya isolasi pada alat harus sempurna, karena dapat berpengaruh pada
perpindahan panas yang terjadi.
3. Memperbaiki dan membersihkan alat Heat Exchanger secara berkala, karena
efisiensi kerja alat akan mempengaruhi aktivitas, dan daya kerja alat yang
kurang maksimal. Fouling factor atau faktor kekotoran pada permukaan
tabung akan berpengaruh pada perpindahan panas yang tidak selalu bersih
sehingga menyebabkan laju alir panas menjadi terhambat atau tidak merata.
APPENDIKS
35
A. Menentukan volume fluida dingin pada percobaan dengan waktu yang
ditentukan.
Data kalibrasi yang didapat :
Waktu (detik) Volume (L) V
rata rata
(L)
30
1,3
1,2667 1,3
1,2
60
2,5
2,5 2,5
2,5
90
3,7
3,7667 3,8
3,8
120
5,1
5,1333 5,3
5
Grafik kalibrasi antara volume fluida dingin dan waktu kalibrasi :
36
Sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut :
y = a + bx
= 0,049 + 0,042x
Contoh perhitungan pada t = 30 detik :
y = 0,049 + 0,042 (30)
= 1,309
Kemudian dari persamaan di atas akan didapatkan volume fluida dingin pada
waktu 30; 60; 90; dan 120 detik, sebagai berikut :
Waktu (detik) Volume (L)
30
60
90
120
1,309
2,569
3,829
5,089
B. Aliran air dingin melalui shell dan air panas melalui tube pada waktu 30
detik untuk aliran co-current.
37
t
1

T1 T2

t2
1. Menentukan Temperatur Rata-rata
o
F = 1,8 (
o
C) + 32
(Geankoplis, pers. 1.3-1, hal : 5)
Untuk Air Dingin :
t
1
= 26
o
C = (1,8 26) + 32 = 78,8
o
F
t
2
= 28
o
C = (1,8 28) + 32 = 82,4
o
F
t
rata-rata
=
2
t t
2 1
+
=
2
F 82,4) 8 , 8 (7
o
+
= 80,6
o
F
Pada suhu 80,6
o
F didapatkan data-data dari Appendiks A.2-11 Geankoplis
hal : 862, sebagai berikut :

c
= 62,1970 lbm/ft
3

Cp
c
= 0,9990 Btu/lbm.
o
F
k
c
= 0,3533 Btu/jam.ft.
o
F

c
= 0,5744.10
-3
lbm/s.ft
jam
s 3600
= 2,0678 lbm/jam.ft
Untuk Air Panas :
T
1
= 60
o
C = (1,8 60) + 32 = 140
o
F
T
2
= 43
o
C = (1,8 43) + 32 = 109,4
o
F
T
rata-rata
=
2
T T
2 1
+
38
=
2
F ) 4 , 09 1 (140
o
+
= 124,7
o
F
Pada suhu 124,7
o
F didapatkan data-data dari Appendiks A.2-11
Geankoplis hal : 862, sebagai berikut :

h
= 61,7048 lbm/ft
3

Cp
h
= 0,9995 Btu/lbm.
o
F
k
h
= 0,3729 Btu/jam.ft.
o
F

h
= 0,3750.10
-3
lbm/s.ft
jam
s 3600
= 1,3500 lbm/jam.ft
2. Menghitung Laju Alir
( )
Untuk Air Dingin
( )
c

:
Volume air pendingin = 1,309 L

L 28,317
ft 1
3
= 0,04623 ft
3
Waktu = 30 detik
detik 3600
jam 1
= 8,333310
-3
jam

c

=
t
V

(Donald Q. Kern, hal : 31)

c

jam 10 8,3333
ft 0,04623
3
3

= 5,5472 ft
3
/jam
Untuk Air Panas (
h

) :

h

=
) T (T Cp
) t (t Cp
2 1 h h
1 2 c c c



(Donald Q. Kern, hal : 43)
h

=
F 109,4) - 0 4 (1 F Btu/lbm. 9985 , 0 lbm/ft 61,7048
F 78,8) - (82,4 F Btu/lbm. 0,999 lbm/ft 197 , 2 6 /jam ft 5,5476
o o 3
o o 3 3



h

= 0,6575 ft
3
/jam
39
3. Menghitung T
LMTD
Untuk aliran co-current :
T
LMTD
=
1
2
1 2
t
t
ln
t - t


=
) t (T
) t (T
ln
) t (T ) t (T
2 2
1 1
2 2 1 1


(Donald Q. Kern, pers. 5.15, hal : 90)
dimana :
T
1
= 60
o
C = (1,8 60) + 32 = 140
o
F
T
2
= 43
o
C = (1,8 43) + 32 = 109,4
o
F
t
1
= 26
o
C = (1,8 26) + 32 = 78,8
o
F
t
2
= 28
o
C = (1,8 28) + 32 = 82,4
o
F
Sehingga :
T
LMTD
=
) 4 , 82 (109,4
) 8 , 78 (140
ln
) 4 , 82 (109,4 ) 8 , 78 (140


= 41,7934
o
F
Mencari Ft dengan rumus :
R =
1 2
2 1
t t
T T


S =
1 1
1 2
t T
t t

(Donald Q. Kern, pers. 5.14, hal : 149)


R =
8 , 78 4 , 82
109,4 140

= 8,5
S =
8 , 78 140
8 , 78 4 , 82

= 0,0588
Maka diperoleh : Ft = 0,99
(Donald Q. Kern, gambar 18, hal : 828)
T
m
= T
LMTD
Ft
(Donald Q. Kern, pers. 7.42, hal : 149)
= 41,7934
o
F 0,99
= 41,3755
o
F
40
4. Menghitung Suhu Caloric (T
c
dan t
c
)
T
c
=
2
T T
2 1
+
=
2
F ) 4 , 09 1 (140
o
+
= 124,7
o
F
t
c
=
2
t t
2 1
+
=
2
F 82,4) 8 8, 7 (
o
+
= 80,6
o
F
5. Evaluasi Perpindahan Panas
Shell and Tube
Type 1-2
L = 120 cm = 3,937 ft
Bagian Shell (Air Dingin) Bagian Tube (Air Panas)
IDs = 8,7 in = 0,725 ft
c = 0,8 in
P
T
= 1,25 in
de = 0,95 in = 0,0792 ft
n = 1
5
3
B
IDs =
6 , 0
8,7 in = 5,22 in
N + 1 =
B
12 L
(Donald Q. Kern, pers. 7.43, hal. 131)
=
22 , 5
12 9370 , 3
= 9
d
i
= 0,3 in =0,025 ft
d
o
= 0,45 in = 0,0375 ft
a = 0,0625 in
a = 0,1309 ft
2
/ft
n = 2
Nt = 24
Flow Area
a
s
=
T
'
P 144 n
B c' IDs


(Donald Q. Kern, pers. 7.1, hal. 138)
Flow Area
a
t
=
144 n
' a Nt
'

(Donald Q. Kern, pers. 7.48, hal. 150)


41
a
s
=
25 , 1 144 1
22 , 5 8 , 0 7 , 8


a
s
= 0,2018 ft
2
G
s
=
s
c c
s
a

a
M

(Donald Q. Kern, pers. 7.2, hal. 138)


G
s
=
0,2018
62,197 5,5472
G
s
= 1709,3691 lbm/jam.ft
2
Bilangan Reynold (N
re
)
N
Res =
c
e s

d G
(Donald Q. Kern, hal. 150)
N
Res
=
0,5744
0,0792 1709,3691
N
Res
= 235,6930
Menghitung N
Nut
N
Prs
=
c
c c
k
Cp
(Geankoplis, pers. 4.5.6, hal. 238)
N
Prs
=
0,3527
5744 , 0 0,9990
N
Prs
= 1,6242
N
Nus
= 1,86
3
1
Pr Re
L
D
N N
1
]
1



0,14
w
b
1
]
1

(Geankoplis, pers. 4.5.4, hal. 238)


N
Nus
=1,86
3
1
3,9370
0,725
1,6242 235,6930
1
]
1


N
Nus
= 405,0917
Mencari JH
JH =
( )
3
1
Prs
Nus
N
N
(Donald Q. Kern, hal. 150)
a
t
=
144 2
0625 , 0 24

a
t
= 0,0052
G
t
=
t
h h
t
a

a
M

(Donald Q. Kern, pers. 7.2, hal. 138)


G
t
=
0052 , 0
7048 , 61 0,6575
G
t
= 7789,5199 lbm/jam.ft
2
Bilangan Reynold (N
re
)
N
Ret
=
h
i t

d G
(Donald Q. Kern, hal. 150)
N
Ret
=
3500 , 1
0,025 7789,5199
N
Ret
= 144,2473
Mencari JH
JH tidak perlu dicari karena
fluidanya air
Menghitung N
Nut
N
Prt
=
h
h h
k
Cp
(Geankoplis, pers. 4.5.6, hal. 238)
N
Prt
=
3729 , 0
3500 , 1 9995 , 0
N
Prt
= 3,6187
N
Nut
= 0,027 N
Re
0,8
N
Pr
1/3
0,14
w
b
1
]
1


(Geankoplis, pers. 4.5.8, hal. 239)
42
JH =
( )
3
1
62695 , 1
405,8905
JH = 344,6206
Menghitung h
o
h
o
= JH
3
1
c
c
c
p
c
k
C
de
k
1
]
1




0,14
W

1
]
1

(Donald Q. Kern, hal. 112)


h
o
= 344,6206
3
1
3533 , 0
5744 , 0 999 , 0

0792 , 0
3533 , 0
1
]
1

h
o
= 2769,5294 Btu/jam.ft
2
.
o
F
N
Nut
= 0,027 144,2473
0,8

3,6187
1/3
N
Nut
= 2,2123
Menghitung h
i
& h
io
h
i
= N
Nut

i
h
d
k
(Geankoplis, pers. 4.5.8, hal. 239)
h
i
= 2,2123
025 , 0
3729 , 0
h
i
= 32,9962 Btu/jam.ft
2
.
o
F
h
io
= h
i

o
i
d
d
(Donald Q. Kern, pers. 6.5, hal. 105)
h
io
= 32,9962
0375 , 0
025 , 0
h
io
= 21,9975 Btu/jam.ft
2
.
o
F
6. Menghitung Koefisien Perpindahan Panas Menyeluruh
a. Menghitung U
c
U
c
=
o io
o io
h h
h h
+


(Donald Q. Kern, pers. 6.7, hal : 106)
U
c
=
F . Btu/jam.ft 5294 , 2769 F . Btu/jam.ft 21,9975
F . Btu/jam.ft 5294 , 2769 F . Btu/jam.ft 21,9975
o 2 o 2
o 2 o 2
+

U
c
= 21,8241 Btu/jam.ft
2
.
o
F
b. Menghitung Ud
U
d
=
LMTD o
T A
Q


(Donald Q. Kern, pers. 6.11, hal : 107)
Dimana :
A
o
= a

L N
t

(Donald Q. Kern, hal : 150)
43
A
o
= 0,1309 ft
2
/ft 3,9370 ft 24
= 12,3685 ft
2
U
d
=
m o
h h h.
T A
T Cp


(Donald Q.Kern, pers. 6.11, hal : 107)
U
d
=
F 41,3755 ft 12,3685
F 109,4) - 0 4 1 ( lbm/ft 7048 , 1 6 F . Btu/jam.ft 9995 , 0 /jam ft 0,6575
o 2
o 3 o 3


U
d
= 2,4247 Btu/jam.ft
2
.
o
F
c. Menghitung Faktor Kekotoran (R
d
)
R
d
=
d c
d c
U U
U U


(Donald Q. Kern, pers. 6.13, hal : 108)
R
d
=
F . Btu/jam.ft 4247 , 2 F . Btu/jam.ft 8241 , 21
F . Btu/jam.ft 4247 , 2 F . Btu/jam.ft 8241 , 21
o 2 o 2
o 2 o 2


Rd = 0,3666 jam.ft
2
.
o
F/Btu
C. Aliran air dingin melalui shell dan air panas melalui tube pada volume
4,56 L pada aliran counter-current.
t
2
T
1
T
2
t
1
1. Menentukan Temperatur Rata-rata
Untuk Air Dingin :
t
1
= 26
o
C = (1,8 26) + 32 = 78,8
o
F
t
2
= 32
o
C = (1,8 32) + 32 = 89,6
o
F
t
rata-rata
=
2
t t
2 1
+
=
2
F 89,6) (78,8
o
+
= 84,2
o
F
44
Pada suhu 84,2
o
F didapatkan data-data dari Appendiks A.2-11 Geankoplis
hal : 862, sebagai berikut :

c
= 62,1790 lbm/ft
3

Cp
c
= 0,9990 Btu/lbm.
o
F
k
c
= 0,3551 Btu/jam.ft.
o
F

c
= 0,5528.10
-3
lbm/s.ft
jam
s 3600
= 1,9901 lbm/jam.ft
Untuk Air Panas :
T
1
= 60
o
C = (1,8 60) + 32 = 140
o
F
T
2
= 43
o
C = (1,8 43) + 32 = 109,4
o
F
T
rata-rata
=
2
T T
2 1
+
=
2
F 109,4) (140
o
+
= 124,7
o
F
Pada suhu 124,7
o
F didapatkan data-data dari Appendiks A.2-11
Geankoplis hal : 862, sebagai berikut :

h
= 61,9765 lbm/ft
3

Cp
h
= 0,9995 Btu/lbm.
0
F
k
h
= 0,3729 Btu/jam.ft.
0
F

h
= 0,3750.10
-3
lbm/s.ft
jam
s 3600
= 1,3500 lbm/jam.ft
2. Menghitung Laju Alir
( )
Untuk Air Dingin
( )
c

Volume air pendingin = 1,309 L



L 28,317
ft 1
3
= 0,0462 ft
3
Waktu = 30 detik
detik 3600
jam 1
= 8,333310
-3
jam
45
c

=
t
V

(Geankoplis, hal : 899)
c

jam 10 8,3333
ft 0,0462
3
3

= 5,5440 ft
3
/jam
Untuk Air Panas ( )
h

=
) T (T Cp
) t (t Cp
2 1 h h
1 2 c c c



(Donald Q. Kern, hal : 43)
h

=
F 109,4) (140 F Btu/lbm. 9995 , 0 lbm/ft 9765 , 1 6
F 78,8) - (89,6 F Btu/lbm. 9990 , 0 lbm/ft 1790 , 62 /jam ft 5,5440
o o 3
o o 3 3


h

= 1,9633 ft
3
/jam
3. Menghitung T
LMTD
Untuk counter current :
T
LMTD
=
) t (T
) t (T
ln
) t (T ) t (T
1 2
2 1
1 2 2 1


(Donald Q. Kern, pers. 5.14, hal : 89)
dimana :
T
1
= 60
o
C = (1,8 60) + 32 = 140
o
F
T
2
= 43
o
C = (1,8 43) + 32 = 109,4
o
F
t
1
= 26
o
C = (1,8 26) + 32 = 78,8
o
F
t
2
= 32
o
C = (1,8 32) + 32 = 89,6
o
F
Sehingga,
46
T
LMTD
=
78,8) - 09,4 1 (
89,6) - 40 1 (
ln
) 8 , 78 (109,4 ) 6 , 89 (140
= 39,6801
o
F
Mencari Ft dengan rumus :
R =
1 2
2 1
t t
T T


S =
1 1
1 2
t T
t t

(Donald Q. Kern, pers. 5.14, hal : 149)


R =
8 , 78 6 , 89
4 , 109 140

= 2,8333
S =
8 , 78 140
8 , 78 6 , 89

= 0,1765
Maka diperoleh : Ft = 0,98
(Donald Q. Kern, gambar 18, hal : 828)
T
m
= T
LMTD
Ft
(Donald Q. Kern, pers. 7.42, hal : 149)
= 39,6801
o
F 0,98 = 38,8865
o
F
4. Menghitung Suhu Caloric (T
c
dan t
c
)
T
c
=
2
T T
2 1
+
=
2
F 109,4) (140
o
+
= 124,7
o
F
t
c
=
2
t t
2 1
+
=
2
F 89,6) 8 , 78 (
o
+

= 84,2
o
F
5. Evaluasi Perpindahan Panas
Shell and Tube
47
Type 1-2
L = 120 cm = 3,9370 ft
Bagian Shell (Air Dingin) Bagian Tube (Air Panas)
IDs = 8,7 in
c = 0,8 in
P
T
= 1,25 in
de = 0,95 in
(Donald Q. Kern, gambar 28, hal : 838)
n = 1
B =
5
3
IDs = 0,6 8,7 in = 5,22 in
N + 1 =
B
12 L
(Donald Q. Kern, pers. 7.43, hal : 147)
=
22 , 5
12 9370 , 3
= 9
d
i
= 0,3 in =0,025 ft
d
o
= 0,45 in = 0,0375 ft
a = 0,0625 in
a = 0,1309 ft
2
/ft
(Donald Q. Kern, tabel 10, hal : 843)
n = 2
Nt = 24
Menghitung Flow Area
A
s
=
T
'
P 144 n
B c' IDs


(Donald Q. Kern, pers. 7.1, hal : 138)
A
s
=
25 , 1 144 1
22 , 5 8 , 0 7 , 8


A
s
= 0,20184 ft
2
G
s
=
s
c c
s
A

A
M

(Donald Q. Kern, pers. 7.2, hal : 138)


G
s
=
0,20184
62,1790 5,5440
G
s
= 1708,8744 lbm/jam.ft
2
Menghitung Bilangan Reynold (N
Re
)
N
Res =
c
e s

d G
Menghitung Flow Area
A
t
=
144 n
' a Nt
'

(Donald Q. Kern, pers. 7.48, hal : 150)


A
t
=
144 2
0625 , 0 24

A
t
= 0,005208333 ft
2
G
t
=
t
h h
t
A

A
M

(Donald Q. Kern, pers. 7.2, hal : 138)


G
t
=
00521 , 0
9765 , 61 9633 , 1
G
t
= 23361,7967 lbm/jam.ft
2
Menghitung Bilangan
Reynold (N
Re
)
48
(Donald Q. Kern, tabel 3.2, hal : 150)
N
Res
=
5528 , 0
0,0792 1708,8744
N
Res
= 244,8315
Menghitung Bilangan
Prandtl (N
Pr
)
N
Prs
=
c
c c
k
Cp
(Geankoplis, pers. 4.5.6, hal : 238)
N
Prs
=
0,3551
5538 , 0 0,9990
N
Prs
= 1,5552
Menghitung Bilangan Nusselt (N
Nu
)
N
Nus
= 1,86
3
1
Pr Re
L
D
N N
1
]
1


0,14
w
b
1
]
1


(Geankoplis, pers. 4.5.4, hal : 238)
N
Nus
=1,86
3
1
937 3
725 0
5552 , 1 8315 , 2544
1
]
1


,
,
N
Nus
= 402,9217
Menghitung JH (N
Nu
)
JH =
( )
14 , 0
3
1
Prs
Nus
w

N
N

,
_

(Donald Q. Kern, hal : 50)


JH =
( )
3
1
5552 , 1
9217 , 402
JH = 347,7707
N
Ret
=
h
i t

d G
(Donald Q. Kern, tabel 3.2, hal : 150)
N
Ret
=
3750 , 0
0,025 7967 , 23361
N
Ret
= 1557,4531
Menghitung Bilangan
Prandtl (N
Pr
)
N
Prt
=
h
h h
k
Cp
(Geankoplis, pers. 4.5.6, hal : 238)
N
Prt
=
3729 , 0
3750 , 0 9995 , 0
N
Prt
= 1,0052
Menghitung Bilangan Nusselt (N
Nu
)
N
Nut
= 0,027 N
Re
0,8
N
Pr
1/3
0,14
w
b
1
]
1


(Geankoplis, pers. 4.5.8, hal : 239)
N
Nut
= 0,027 1557,4531
0,8
1,0052
1/3
N
Nut
= 9,6837
Menghitung JH
JH tidak perlu dicari karena fluidanya
air
Menghitung h
i
& h
io
49
Menghitung h
o
h
o
=
0,14
w
3
1
c
c
c
p
c

k
C
de
k
JH
1
]
1

1
]
1




(Donald Q. Kern, pers. 6.15b, hal : 112)
h
o
= 347,7707
3
1
3551 , 0
5528 , 0 9990 , 0
0792 , 0
3551 , 0
1
]
1

h
o
= 2768,7279 Btu/jam.ft
2
.
o
F
h
i
= N
Nut

i
h
d
k
(Geankoplis, pers. 4.5.8, hal : 239)
h
i
= 9,6837
025 , 0
3729 , 0
h
i
= 144,4349 Btu/jam.ft
2
.
o
F
h
io
= h
i

o
i
d
d
(Donald Q. Kern, pers. 6.5, hal : 105)
h
io
= 144,4349
0375 , 0
025 , 0
h
io
= 96,2900 Btu/jam.ft
2
.
o
F
6. Menghitung Koefisien Perpindahan Panas Menyeluruh
a. Menghitung U
c
U
c
=
o io
o io
h h
h h
+


(Donald Q. Kern, pers. 6.7, hal : 106)
U
c
=
F . Btu/jam.ft 7279 , 2768 F . Btu/jam.ft 2900 , 96
F . Btu/jam.ft 7279 , 2768 F . Btu/jam.ft 2900 , 96
o 2 o 2
o 2 o 2
+

U
c
= 93,0538 Btu/jam.ft
2
.
o
F
b. Menghitung Ud
U
d
=
LMTD o
T A
Q


(Donald Q. Kern, pers. 6.11, hal : 107)
Dimana :
A
o
= a

L N
t

(Donald Q. Kern, hal : 150)
A
o
= 0,1309 ft
2
/ft 3,9370 ft 24
= 12,3685 ft
2
50
U
d
=
T A
T Cp
o
h h h


(Donald Q. Kern, pers. 6.11, hal : 107)
U
d
=
F 8865 , 38 ft 12,3685
F 109,4) - 140 ( lbm/ft 9765 , 61 F . Btu/jam.ft 9995 , 0 /jam ft 1,9633
o 2
o 3 o 3


U
d
= 7,7373 Btu/jam.ft
2
.
o
F
c. Menghitung Faktor Kekotoran (R
d
)
R
d
=
d c
d c
U U
U U


(Donald Q. Kern, pers. 6.13, hal : 108)
R
d
=
F . Btu/jam.ft 7373 , 7 F . Btu/jam.ft 0538 , 93
F . Btu/jam.ft 7373 , 7 F . Btu/jam.ft 0538 , 93
o 2 o 2
o 2 o 2


Rd = 0,1185 jam.ft
2
.
o
F/Btu
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Processes and Unit Operations.
University of Minnesota: New Delhi.
[2]
Handojo, Lienda. 1995. Teknologi Kimia Bagian 2. PT Pradnya Paramita:
Jakarta.
[3]
Kern, Donald Q.1950. Process Heat Transfer. Mc Graw Hill Book Company :
New York.
51
[4]
Mc Cabe, Warren L, dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia Jilid 1. Erlangga:
Jakarta.
[5]
Prijono, Arko. 1997. Prinsip
_
Prinsip Perpindahan Panas Edisi Ketiga.
Erlangga : Jakarta.
[6]
http://gambar+heat+exchanger+tipe+shell+and+tube.com
[7]
http://gambar+heat+exchanger+tipe+double+pipe.com
DAFTAR NOTASI
A = luas perpindahan panas (ft
2
)
a = luas aliran (ft
2
)
a = luas permukaan pemanas (ft
2
/ft)
B = baffle spacing (in)
Cp
c
= kapasitas panas air dingin (Btu/jam.
0
F)
Cp
h
= kapasitas panas air panas (Btu/jam.
0
F)
52
c = jarak antar pipa (in)
d
e
= diameter shell (ft)
d
i
= diameter dalam pipa (ft)
d
o
= diameter luar pipa (ft)
Ft = facktor perbedaan temperatur
G = kecepatan massa (lb/jam.ft
2
)
h
i
= koefisien perpindahan panas individual dalam shell (Btu/jam.ft
2
.
0
F)
h
io
= koefisien perpindahan panas dalam pipa berdasarkan diameter luar
dari pipa (Btu/jam.ft
2
.
0
F)
h
o
= koefisien perpindahan panas individual dalam tube (Btu/jam.ft
2
.
0
F)
JH = faktor heat transfer
k
c
= konduktifitas panas air dingin (Btu/jam.ft
2
.
0
F)
k
h
= konduktifitas panas air panas (Btu/jam.ft
2
.
0
F)
L = panjang alat penukar panas (ft)
N+1 = jmlah crosses
n = jumlah shell
n = jumlah pipa
N
Nu
= bilangan Nusselt
N
re
= bilangan Reynold
N
pr
= bilangan Prandtl
P
T
= tube pitch (in)
R
d
= faktor kekotoran (jam.ft
2
.
0
F/Btu)
T
1
= temperatur air panas masuk (
0
F)
T
2
= temperatur air panas keluar (
0
F)
t
1
= temperatur air dingin masuk (
0
F)
t
2
= temperatur air dingin keluar (
0
F)
U
c
= koefisien perpindahan panas total dalam keadaan bersih
(Btu/jam.ft
2
.
0
F)
U
d
= koefisien perpindahan panas total dalam keadaan kotor
(Btu/jam.ft
2
.
0
F)

h
= laju alir air panas (ft
3
/jam)
53

c
= laju alir air dingin (ft
3
/jam)
T
LMTD
= temperatur rata-rata logaritmik (
0
F)
T = perbedaan temperatur yang sebenarnya (
0
F)

h
= densitas air panas (lbm/ft
3
)

c
= densitas air dingin (lbm/ft
3
)

h
= viskositas air panas (lbm/jam.ft)

c
= viskositas air dingin (lbm/jam.ft)
BAB II
WETTED WALL COLUMN
1.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan koefisien perpindahan massa dan
koefisien perpindahan panas pada fase gas.
54
2. Mempelajari pengaruh variabel-variabel operasi
seperti laju alir terhadap koefisien perpindahan massa dan panas dalam
Wetted Wall Column.
1.2. Tinjauan Pustaka
Koefisien perpindahan massa adalah besaran empiris yang diciptakan untuk
memudahkan persoalan-persoalan perpindahan massa antar fase, yang akan
dibahas disini adalah koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair
atau sebaliknya dari sifat sifat zat untuk menekan. Bila terjadi perpindahan
massa dari fase cair ke fase gas pada bidang selang film, gascair dalam hal ini
adalah penguapan dari permukaan cairan ke permukaan atau aliran udara.
Gambar 1.2.1. Pengaruh koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair
Kelembaban adalah massa uap yang dibawa oleh satu satuan massa gas
bebas-uap konsentrasi uap air di udara. Angka konsentrasi ini dapat diekspresikan
dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat
untuk mengukur kelembapan disebut higrometer.
Istilah-istilah yang berhubungan dengan proses humidifikasi antara lain :
1. Gas jenuh (saturated gas) adalah gas dimana uap jenuh berada dalam
keseimbangan dengan zat cair pada satuan gas. Tekanan-tekanan uap di
dalam gas jenuh sama dengan tekanan uap zat cair pada suhu gas. Jika Hs
adalah kelembaban jenuh, dan P
A
tekan uap zat cair.
H
s
=
( )
A B
A A
' P 1 M
' P M

2. Kelembaban relatif (relative humidity) H


R
didefinisikan sebagai rasio antara
tekanan bagian uap dan tekanan uap zat cair pada suhu gas. Untuk besaran ini
55
biasanya dinyatakan atas dasar persen , sehingga kelembaban 100 % berarti gas
jenuh, sedang kelembaban 0 % berarti gas bebas uap.
Sesuai definisi,
H
R
= 100
A
A
' P
P

3. Persentase kelembaban (percentage humidity) H
A
adalah rasio kelembaban
nyata (actual) terhadap kelembaban jenuh H
s
pada suhu gas, juga atas dasar
persen, atau :
H
A
= 100
( )
( )
A
A
R
A A
A A
S
P 1
' P 1
H
' P 1 ' P
P 1 P
100
H
H


4. Kalor lembab ( humid heat ) c
s
adalah energi kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu 1 lb atau 1 g gas, beserta segala uap yang dikandungnya,
sebesar 1 F atau 1C, Jadi: c
s
= c
pB
+ c
pA
H
5. Titik embun (dew point) adalah suhu pendinginan campuran uap-gas (pada
kelembaban tetap) agar menjadi jenuh. Titik embun fase gas jenuh sama
dengan suhu gas itu.
6. Volume lembab (humid volume) ialah energi kalor yang diperlukan untuk
menaikan suhu 1 lb atau 1 gas, beserta segala uap yang dikandungnya, sebesar
1
o
F atau 1
o
C.
[3]

Ada tiga macam metode untuk mengukur kelembaban :
1. Me tode titik embun.
Jika sebuah piring mengkilap yang dingin dimasukkan ke dalam gas yang
kelembabannya tidak diketahui dan suhu piring itu berangsur-angsur
diturunkan, piring itu akan mencapai suatu suhu dimana terjadi kondensasi
kabut pada permukaan mengkilap itu. Pada waktu kabut itu pertama kali
terbentuk, suhu adalah keseimbangan antara uap didalam gas dan fase zat cair.
Karena itu, titik itu adalah titik embun. Bacaan diperiksa sambil menaikkan
suhu piring itu dengan perlahan-lahan dan mencatat suhu dimana kabut itu
menghilang. Kelembaban lalu dibaca dari grafik kelembaban pada suhu rata-
rata dari suhu dimana kabut itu mulai terbentuk dan suhu dimana kabut itu
menghilang.
56
2. Metode Psikrometrik
Suatu cara yang lazim digunakan untuk mengukur kelembaban ialah dengan
menentukan suhu cembul basah dan suhu cembul kering secara serentak. Dari
kedua bacaan itu, kelembaban lalu didapatkan dengan menentukan garis
psikrometrik dengan memotong garis jenuh pada suhu cembul basah sesuai
dengan pengamatan, dan mengikuti garis itu sampai memotong ordinat pada
suhu cembul kering.
3. Metode langsung
Kandungan uap didalam gas dapat ditentukan secara langsung dengan analisis
dimana gas yang volumenya tertentu dilewatkan melalui suatu piranti analisis
yang semestinya.
[3]
Yang paling penting pada proses humidity adalah laju perpindahan massa dan
kalor antara gas dan zat cair yang tidak berada pada keseimbangan. Untuk
perpindahan massa dalam keadaan steady state melalui lapisan stagnan suatu
fluida, kita dapat menggunakan persamaan:
J
A
=
( )
db
dc
D
M N v
+
Persamaan diatas digunakan dalam laju perpindahan massa. Akan tetapi,
biasanya tidaklah demikian halnya, karena pada kebanyakan operasi perpindahan
massa aliran turbulen diperlukan untuk meningkatkan laju perpindahan massa per
satuan luas atau untuk membantu mendispersikan fluida yang satu di dalam fluida
yang lain sehingga memberikan lebih banyak lagi antar muka.
Selain itu perpindahan massa ke antar muka fluida sering bersifat tak steady
dengan gradien konsentrasi yang selalu berubah dan demikian pula laju
perpindahan massanya. Walaupun terdapat perbedaan demikian, kebanyakan hal
dikerjakan dengan menggunakan persamaan sejenis juga, yang menggunakan
koefisien perpindahan massa (mass transfer coefficient) k. Koefisien ini
didefinisikan sebagai laju perpindahan massa per satuan luas per satuan beda
konsentrasi dan biasanya didasarkan atas aliran dalam mol. Konsentrasi dapat
dinyatakan dalam mol per volume atau fraksi mol, dengan subskrip c
57
menujukkan konsentrasi, dan x atau y adalah fraksi mol di dalam fase gas atau
fase cair.
Laju perpindahan massa dapat dinyatakan dengan koefisien perpindahan massa,
luas dan gaya dorong fraksi mol uap.
N
A
=
y)A (y
y) (1
k
L
y

i
Sedangkan laju perpindahan kalor dapat dinyatakan dengan menggunakan
luas, penurunan suhu, dan koefisien perpindahan kalor sebagaimana biasa atau :
q = h
y
( T-T
i
)A
[3]

Wetted wall coloum merupakan salah satu sistem perpindahan massa yang
paling sederhana yaitu penguapan berbagai liquida melalui suatu lapisan tipis
dimana liquid mengalir turun melalui dinding sebuah silinder secara
countercurrent ke suatu aliran gas yang mengalir melalui tengah dari tabung
silinder tersebut. Bagian perpindahan tersebut biasanya terbuat dari tabung kaca,
dimana ukuran diameter biasanya adalah 2 inch dan panjangnya 4 feet. Cairan
dimasukkan dari bagian atas, dimana bagian atas tersebut berbentuk lingkaran
yang bertindak sebagai suatu penampung, sehingga zat cair mengalir di sepanjang
bagian dinding kolom cairan dipindahkan melalui seal pada pangkal bagian yang
tenang disediakan untuk aliran gas pada bagian akhir untuk memperkecil
pergolakan. Ketika suatu wetted wall coloum di batasi dari kondisi lingkungan
sehingga operasinya adalah adiabatik dan cairan dialirkan kembali ke dasar kolom
melalui reservoir ke bagian atas kolom, maka operasi ini disebut kelembaban
adiabatik.
58
Gambar 1.2.2 Cross sectional dari tipe wetted wall coloumn
[2]

Pada dasarnya susunan WWC terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
a. Kolom perpindahan panas
b. Sistem air dan pengaturan fase gas
c. Sistem air dan pengaturan fase cair
Rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan adalah:
1. Menghitung laju alir rata-rata pada kalibrasi bukaan valve untuk air.
rata rata
t
V
Q

Dimana: Q : Laju alir volumetrik (mL/det)


V : Volume (mL)
t : Waktu (detik)
2. T
rata-rata

3
t t t
3 2 1
+ +

Dimana: T: waktu (detik)
3. Menghitung laju alir rata-rata pada kalibrasi tekanan udara.
59
H
rata-rata
3
H H H
3 2 1
+ +

v =
rata rata
rata rata
t
H

Dimana:
H : tinggi manometer (cm)
v : laju alir rata-rata (cm/detik)
t : waktu alir (detik)
4. Menghitung laju alir volumetrik udara (Q)
A= keliling kolom tinggi kolom
Q= v x A
Dimana:
A : luas permukaan kolom (cm
2
)
v : laju alir (cm/detik)
Q : laju alir volumetrik (cm
3
/detik)
5. Menghitung fraksi mol uap air pada bagian bawah kolom (
1
A
Y
)
1
A
Y
=
A 1 B
A 1
/M H 1/M
/M H
+
Dimana:
1
A
Y
: fraksi mol uap air pada bagian bawah kolom
H
1
: Humidity (kJ/kg)
M
A
: BM air (gr/mol)
M
B
: BM udara (gr/mol)
6. Menghitung fraksi mol uap air interface bagian bawah kolom(
11
A
Y

)
11
A
Y
=
udara
1
P
P
60
Dimana:
Y
A11
: fraksi mol uap air interface bagian bawah kolom(Y
A11
)
P
1
: tekanan uap (mmHg)
P
udara
: tekanan udara (mmHg)
7. Menghitung massa jenis udara

udara
=
1
Td . R
BM . P
Dimana:

udara
: densitas udara (gr/cm
3
)
P : tekanan udara (atm)
BM : massa jenis udara (gr/mol)
R : konstanta (cm
3
.atm/gmol.K)
Td
1
: temperatur kolom bawah (K)
8. Menghitung laju alir mol uap air
udara
A
u
BM
) Y (1 Q
v
1

Dimana: v
u
: laju alir mol uap air (mol/detik)
Q : laju alir volumetrik (cm
3
/detik)
: densitas udara (gr/cm
3
)
Y
A1 : fraksi mol uap air pada bagian bawah kolom
9. Menghitung koefisien perpindahan massa (k
y
)
61
k
y
=
LM A A
A
) Y (Y
N
1

Dimana:
k
y
: koefisien perpindahan massa (mol/detik)
N
A
: fluks massa (mol/detik)
(Y
A1
Y
A
)
LM
: fraksi mol uap air
10. Menghitung koefisien perpindahan massa dalam fase gas (k
G
)
k
G
=
( )
A
udara
y
Y 1
P
k

LM
Dimana:
k
G
: koefisien perpindahan massa dalam fase gas (gmol/det.cm2.atm)
k
y
: koefisien perpindahan massa (mol/detik)
P
udara
: tekanan udara (atm)
11. Menghitung koefisien perpindahan panas (hy)
h
y
=
1
1
]
1

LM
'
W
'
d
W y w Udara
) T (T
) H .(H .k . BM

Dimana: h
y
: koefisien perpindahan panas (kJ/det
o
C)
k
y
: koefisien perpindahan massa (mol/detik)
BM
udara
: massa jenis udara (gr/mol)
H : humidity
Hw : humidity air

w
: panas latent pada wet bulb temperature
(kj/kg)
62
BAB II
PERCOBAAN
2.1. Variabel Percobaan
a. Tekanan sebagai variabel tetap
- Variabel tetap
Tekanan udara : 1; 1,25; 1,5; 1,75; 2 kg/cm
2
Suhu heater : 50
o
C
- Variabel berubah
Bukaan valve : 1; 1,5 ; 2 ; 2,5 ; 3 putaran.
b. Bukaan valve sebagai variabel tetap
- Variabel tetap
Bukaan valve : 1; 1,5 ; 2 ; 2,5 ; 3 putaran
Suhu heater : 50
o
C
- Variabel berubah
Tekanan udara : 1; 1,25; 1,5; 1,75; 2 kg/cm
2
.
2.2. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan :
63
- Wetted Wall column instrument
- kompresor
- termometer
- beakerglass
- stopwatch
- heater.
B. Bahan-bahan yang digunakan :
- udara
- air.
2.3. Prosedur Percobaan
1. Kalibrasi bukaan valve air
Menyalakan pompa untuk mengisi tangki overflow kemudian mengatur
bukaan valve sesuai run, yaitu 1; 1,5; 2; 2,5; 3 putaran
Mengalirkan air dari tangki overflow kemudian setelah aliran yang keluar
konstan, menampung air tersebut hingga volumenya 250 mL dalam
beakerglass. Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk mengisi air hingga
250 mL
Melakukan 3 kali kalibrasi pada setiap bukaan valve.
2. Kalibrasi tekanan udara
Menyalakan kompresor sampai mencapai tekanan yang ditentukan, yaitu
1; 1,25; 1,5; 1,75; 2 kg/cm
2
Mematikan kompresor setelah tekanan yang ditentukan tercapai,
kemudian membuka valve pada kompresor dan heater untuk
mengalirkan udara kedalam kolom bersamaan dengan menyalakan
stopwatch
Pada saat udara mengalir, membaca beda ketinggian air raksa pada
manometer pipa U
64
Jika tekanan sudah kembali seperti semula mematikan stopwatch,
menutup valve pada kompresor dan heater
Melakukan 3 kali kalibrasi pada setiap variabel tekanan.
3. Prosedur percobaan
A. Tekanan sebagai varibel tetap
Memanaskan heater sampai suhu 50C
Mengisi tangki overflow sampai overflow
Menyalakan kompresor hingga mencapai tekanan yang ditentukan
0,5 kg/cm
2
dan mengatur bukaan valve sesuai dengan run yang
ditentukan yaitu 1; 1,5; 2; 2,5; 3 putaran
Mengontakkan udara dan air pada kolom dengan membuka valve untuk
gas dan valve untuk air bersamaan dengan itu menyalakan stopwatch
Melakukan pencatatan wet bulb temperature dan dry bulb temperature
saat terjadi kontak antara udara dengan air untuk aliran masuk sebagai
temperatur awal, kemudian membaca beda ketinggian air raksa pada
manometer pipa U
Jika tekanan telah kembali seperti semula, menutup valve kompresor,
valve heater dan valve air secara bersamaan kemudian membaca wet
bulb temperature dan dry bulb temperature untuk aliran keluar sebagai
temperatur akhir. Mencatat waktu yang diperlukan
Melakukan percobaan untuk tekanan udara yaitu 1; 1,25; 1,5; 1,75; 2
kg/cm
2
.
B. Bukaan valve sebagai varibel tetap.
Memanaskan heater sampai suhu 50C
Mengisi tangki overflow sampai overflow
Mengatur bukaan valve sesuai dengan run yang ditentukan yaitu 1
putaran dan menyalakan kompresor hingga mencapai tekanan yang
ditentukan yaitu 1; 1,25; 1,5; 1,75; 2 kg/cm
2
Mengontakkan udara dan air pada kolom dengan membuka valve untuk
gas dan valve untuk air bersamaan dengan itu menyalakan stopwatch
65
Melakukan pencatatan wet bulb temperature dan dry bulb temperature
saat terjadi kontak antara udara dengan air untuk aliran masuk sebagai
temperatur awal, kemudian membaca beda ketinggian air raksa pada
manometer pipa U
Jika tekanan telah kembali seperti semula, menutup valve kompresor,
valve heater dan valve air secara bersamaan kemudian membaca
wet bulb temperature dan dry bulb temperature untuk aliran keluar
sebagai temperatur akhir. Mencatat waktu yang diperlukan
Melakukan percobaan untuk bukaan valve yaitu 1,5; 2; 2,5; 3 putaran.
66
2.4. Instrument Wetted Wall Column
Gambar 2.4.1. Wetted Wall Column
67
Keterangan gambar :
1. Kompresor
1.a. Valve kompresor
2. Dry bulb termometer bawah
3. Wet bulb termometer bawah
4. Manometer udara
5. Tabung kolom
6. Dry bulb termometer atas
7. Wet bulb termometer atas
8. Tangki overflow
9. Tangki penampung
10. Pompa
11. a. Globe valve air
b. Globe valve air
12. Gate valve
13. Heater
13. a. Globe valve heater
14. Saklar kompresor
15. Saklar heater
16. Saklar pompa
68
Gambar 2.4.2. Foto alat Wetted Wall Column
69
2.5. Data Pengamatan
Tabel 2.5.1. Kalibrasi bukaan valve untuk air
Bukaan
(putaran)
Volume air
(ml)
Waktu (detik)
t
1
t
2
t
3
t
rata-rata
1
1,5
2
2,5
3
250
250
250
250
250
4,89
4,89
4,08
3,25
2,25
5,33
4,69
3,89
2,90
2,45
5,26
4,59
3,56
3,01
3,08
5,16
4,72
3,84
3,05
2,59
Tabel 2.5.2. Kalibrasi tekanan udara
Tekanan
udara
(kg/cm
2
)
Tinggi manometer (cm) Waktu (detik)
H
1
H
2
H
3
H
rata-rata
t
1
t
2
t
3
t
rata-rata
1
1,25
1,5
1,75
2
1
1
1,1
1,2
1,5
1
1
1,1
1,1
1,4
1
1
1
1,3
1,5
1
1
1,07
1,2
1,47
23,15
30,78
36,35
36,86
39,29
26,45
32,50
35,65
38,78
40,26
25,69
32,89
36,50
38,89
40,15
25,10
32,06
36,17
38,18
39,90
Tabel 2.5.3. Data pengamatan dengan bukaan valve sebagat variabel tetap
70
Bukaan
(putaran)
P
(kg/cm)
Suhu awal (
o
C) Suhu akhir (
o
C)
H
Waktu
(detik)
Td1 Tw1 Td2 Tw2 Td1 Tw1 Td2 Tw2
1
1 40 33 26 26 42 33 26 26 1 25,15
1,25 39 32 26 26 42 33 26 26 1 32,25
1,5 38 32 26 26 41 32 26 26 1,1 35,69
1,75 38 32 26 26 42 32 26 26 1,2 38,55
2 39 32 26 26 42 33 26 26 1,4 40,15
1,5
1 39 32 26 26 41 33 26 26 1 26,27
1,25 39 32 26 26 41 32 26 26 1 32,76
1,5 38 32 26 26 40 32 26 26 1,2 36,23
1,75 39 33 26 26 41 33 26 26 1,3 39,17
2 39 33 26 26 41 33 26 26 1,5 40,18
2
1 40 33 26 26 37 38 26 26 1 26,29
1,25 40 32 26 26 41 32 26 26 1,1 32,93
1,5 41 33 26 26 41 33 26 26
1,,
1
37,37
1,75 41 33 26 26 42 33 26 26 1,3 39,42
2 40 31 26 26 39 32 26 26 1,4 40,18
2,5
1 33 32 26 26 39 33 26 26 1 24,95
1,25 34 33 26 26 38 33 26 26 1 32,18
1,5 35 33 26 26 38 31 26 26 1,1 36,17
1,75 35 34 26 26 39 32 26 26 1,3 39,12
2 36 33 26 26 39 33 26 26 1,5 40,21
3
1 34 32 26 26 38 31 26 26 1 26,13
1,25
1,5
1,75
2
34
33
35
34
32
31
32
31
26
26
26
26
26
26
26
26
40
40
41
43
31
32
32
34
26
26
26
26
26
26
26
26
1,1
1,2
1,3
1,4
30,83
36,21
38,71
40,12
Tabel 2.5.4. Data pengamatan dengan tekanan sebagat variabel tetap
P
(kg/cm)
Bukaan
(putaran)
Suhu awal (
o
C) Suhu akhir (
o
C)
H
Waktu
(detik)
Td1 Tw1 Td2 Tw2 Td1 Tw1 Td2 Tw2
1
1 35 31 26 26 39 32 26 26 1 25,79
1,5 34 31 26 26 38 31 26 26 1 27,59
2 34 30 26 26 38 31 26 26 1 26,27
2,5 35 31 26 26 39 32 26 26 1 26,89
3 34 31 26 26 37 30 26 26 1 27,36
71
1,25
1 34 30 26 26 40 31 26 26 1 30,15
1,5 35 31 26 26 41 31 26 26 1 32,74
2 36 31 26 26 41 32 26 26 1 33,37
2,5 38 31 26 26 44 32 26 26 1 31,56
3 40 31 26 26 44 32 26 26 1 32,89
1,5
1 38 31 26 26 42 32 26 26
1,
1
35,15
1,5 36 31 26 26 42 32 26 26
1,
1
36,75
2 38 31 26 26 41 32 26 26
1,
1
35,89
2,5 38 32 26 26 42 33 26 26
1,
1
36,60
3 39 32 26 26 43 33 26 26
1,
2
37,22
1,75
1 39 32 26 26 45 33 26 26
1,
2
38,22
1,5 40 33 26 26 46 34 26 26
1,
3
38,39
2 41 33 26 26 47 34 26 26
1,
2
37,99
2,5 41 32 26 26 47 34 26 26
1.
2
38,50
3 42 33 26 26 46 34 26 26
1,
3
38,35
2
1 42 33 26 26 46 35 26 26
1,
4
39,20
1,5 41 32 26 26 46 36 26 26
1,
5
40,10
2 42 33 26 26 46 35 26 26
1.
5
40,37
2,5 43 34 26 26 47 36 26 26
1,
4
39,88
3 43 33 26 26 47 35 26 26
1,
5
40,22
2.6 Tabel Perhitungan
72
Tabel 2.6.1. Hasil perhitungan kalibrasi bukaan valve untuk air
t
1
t
2
t
3
t
rata-rata
Q
air
4,8900 5,3300 5,2600 5,1600 48,4496
4,8900 4,6900 4,5900 4,7233 52,9287
4,0800 3,8900 3,5600 3,8433 65,0477
3,2500 2,9000 3,0100 3,0533 81,8777
2,2500 2,4500 3,0800 2,5933 96,4010
Tabel 2.6.2. Hasil perhitungan kalibrasi tekanan udara dan laju alir volumetrik
73
H
1
H
2
H
3
h
rata-rata
t
1
t
2
t
3
t
rata-rata
V A Q
udara
1 1 1
1,000
0
23,1
5
26,4
5
25,6
9
25,096
7
0,039
8
252
0
100,4117
1 1 1
1,000
0
30,7
8
32,5
32,8
9
32,056
7
0,031
2
252
0
78,6108
1,1 1,1 1
1,066
7
36,3
5
35,6
5
36,5
36,166
7
0,029
5
252
0
74,3226
1,2 1,1 1,3
1,200
0
36,8
6
38,7
8
38,8
9
38,176
7
0,031
4
252
0
79,2107
1,5 1,4 1,5
1,466
7
39,2
9
40,2
6
40,1
5
39,900
0
0,036
8
252
0
92,6316
Tabel 2.6.3. Hasil perhitungan faksi mol uap air pada kolom bawah dengan bukaan valve sebagai variabel tetap
Qair
(cm
3
/det)
Qudara
(cm
3
/det)
Td1
(
o
C)
Td2
(
o
C)
H1 H2
P1
(mmHg)
P2
(mmHg)
YA1 YA2 YA11 YA21
48,4496
100,411
7
40 26 0,0500 0,0225 55,32
25,372
0,0744
0,0349
0,0765
0,0351
78,6108 39 26 0,0489 0,0225 52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
74,3226 38 26 0,0482 0,0225 50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
79,2107 38 26 0,0482 0,0225 50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
92,6316 39 26 0,0489 0,0225 52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
52,9287
100,411
7
39 26 0,0489 0,0225 52,97
25,372
0,0729
0,0349
0,0733
0,0351
78,6108 39 26 0,0489 0,0225 52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
74,3226 38 26 0,0482 0,0225 50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
79,2107 39 26 0,0489 0,0225 52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
92,6316 39 26 0,0489 0,0225 52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
65,0477
100,411
7
40 26 0,0500 0,0225 55,32
25,372
0,0744
0,0349
0,0765
0,0351
78,6108 40 26 0,0500 0,0225 55,32 25,372 0,0744 0,0349 0,0765 0,0351
74,3226 41 26 0,0515 0,0225 57,67 25,372 0,0765 0,0349 0,0798 0,0351
79,2107 41 26 0,0515 0,0225 57,67 25,372 0,0765 0,0349 0,0798 0,0351
92,6316 40 26 0,0500 0,0225 55,32 25,372 0,0744 0,0349 0,0765 0,0351
81,8777
100,411
7
33 26 0,0302 0,0225 38,87
25,372
0,0463
0,0349
0,0538
0,0351
78,6108 34 26 0,0340 0,0225 41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
74,3226 35 26 0,0375 0,0225 43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
79,2107 35 26 0,0375 0,0225 43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
92,6316 36 26 0,0361 0,0225 45,92 25,372 0,0549 0,0349 0,0635 0,0351
96,4010 100,411
7
34 26 0,0340 0,0225 41,22
25,372
0,0518
0,0349
0,0570
0,0351
78,6108 34 26 0,0340 0,0225 41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
74
74,3226 33 26 0,0302 0,0225 38,87 25,372 0,0463 0,0349 0,0538 0,0351
79,2107 35 26 0,0375 0,0225 43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
92,6316 34 26 0,0340 0,0225 41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
Tabel 2.6.4. Hasil perhitungan faksi mol uap air pada kolom bawah dengan tekanan sebagai variabel tetap
Qudara
(cm
3
/det)
Qair
(cm
3
/det)
Td1
(
o
C)
Td2
(
o
C)
H1 H2
P1
(mmHg)
P2
(mmHg)
YA1 YA2 YA11 YA21
100,4117
48,4496 35 26 0,0375
0,022
5
43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
52,9287 34 26 0,0340
0,022
5
41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
65,0477 34 26 0,0340
0,022
5
41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
81,8777 35 26 0,0375
0,022
5
43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
96,4010 34 26 0,0340
0,022
5
41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
78,6108
48,4496 34 26 0,0340
0,022
5
41,22 25,372 0,0518 0,0349 0,0570 0,0351
52,9287 35 26 0,0375
0,022
5
43,57 25,372 0,0569 0,0349 0,0603 0,0351
65,0477 36 26 0,0361
0,022
5
45,92 25,372 0,0549 0,0349 0,0635 0,0351
81,8777 38 26 0,0482
0,022
5
50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
96,4010 40 26 0,0500
0,022
5
55,32 25,372 0,0744 0,0349 0,0765 0,0351
74,3226
48,4496 38 26 0,0482
0,022
5
50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
52,9287 36 26 0,0361 0,022 45,92 25,372 0,0549 0,0349 0,0635 0,0351
75
5
65,0477 38 26 0,0482
0,022
5
50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
81,8777 38 26 0,0482
0,022
5
50,62 25,372 0,0719 0,0349 0,0700 0,0351
96,4010 39 26 0,0489
0,022
5
52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
79,2107
48,4496 39 26 0,0489
0,022
5
52,97 25,372 0,0729 0,0349 0,0733 0,0351
52,9287 40 26 0,0500
0,022
5
55,32 25,372 0,0744 0,0349 0,0765 0,0351
65,0477 41 26 0,0515
0,022
5
57,67 25,372 0,0765 0,0349 0,0798 0,0351
81,8777 41 26 0,0515
0,022
5
57,67 25,372 0,0765 0,0349 0,0798 0,0351
96,4010 42 26 0,0623
0,022
5
60,02 25,372 0,0910 0,0349 0,0830 0,0351
92,6316
48,4496 42 26 0,0623
0,022
5
60,02 25,372 0,0910 0,0349 0,0830 0,0351
52,9287 41 26 0,0515
0,022
5
57,67 25,372 0,0765 0,0349 0,0798 0,0351
65,0477 42 26 0,0623
0,022
5
60,02 25,372 0,0910 0,0349 0,0830 0,0351
81,8777 43 26 0,0625
0,022
5
62,37 25,372 0,0913 0,0349 0,0863 0,0351
96,4010 43 26 0,0625
0,022
5
62,37 25,372 0,0913 0,0349 0,0863 0,0351
Tabel 2.6.5. Hasil perhitungan fluks massa dengan bukaan valve sebagai variabel tetap
76
Qair
(cm
3
/det)
Qudara
(cm
3
/det)
Td1
(
o
K)
H
(cm)
t
(detik)
A
(cm
2
)
YA1 YA2

(gr/cm
3
)
Q
(cm
3
/det)
Vu
(mol/det)
NA
(mol/det)
48,4496
100,411
7
313,15 1 25,15 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03
100,198
8
3,4335E-03 1,5180E-04
78,6108 312,15 1 32,25 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 78,1395 2,6906E-03 1,1419E-04
74,3226 311,15 1,1 35,69 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 77,6688 2,6858E-03 1,1097E-04
79,2107 311,15 1,2 38,55 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 78,4436 2,7125E-03 1,1207E-04
92,6316 312,15 1,4 40,15 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 87,8705 3,0256E-03 1,2841E-04
52,9287
100,411
7
312,15 1 26,27 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 95,9269 3,3030E-03 1,4019E-04
78,6108 312,15 1 32,76 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 76,9231 2,6487E-03 1,1242E-04
74,3226 311,15 1,2 36,23 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 83,4667 2,8862E-03 1,1925E-04
79,2107 312,15 1,3 39,17 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 83,6354 2,8798E-03 1,2223E-04
92,6316 312,15 1,5 40,18 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 94,0767 3,2393E-03 1,3748E-04
65,0477
100,411
7
313,15 1 26,29 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03 95,8539 3,2846E-03 1,4521E-04
78,6108 313,15 1,1 32,93 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03 84,1786 2,8845E-03 1,2753E-04
74,3226 314,15 1,1 37,37 2520 0,0765 0,0349 1,0691E-03 74,1771 2,5281E-03 1,1786E-04
79,2107 314,15 1,3 39,42 2520 0,0765 0,0349 1,0691E-03 83,1050 2,8323E-03 1,3205E-04
92,6316 313,15 1,4 40,18 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03 87,8049 3,0088E-03 1,3302E-04
81,8777
100,411
7
306,15 1 24,95 2520 0,0463 0,0349 1,0970E-03
101,002
0
3,6476E-03 4,5154E-05
78,6108 307,15 1 32,18 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 78,3095 2,8025E-03 5,1814E-05
74,3226 308,15 1,1 36,17 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 76,6381 2,7193E-03 6,5576E-05
79,2107 308,15 1,3 39,12 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 83,7423 2,9714E-03 7,1655E-05
92,6316 309,15 1,5 40,21 2520 0,0549 0,0349 1,0864E-03 94,0065 3,3319E-03 7,2849E-05
96,4010 100,411
7
307,15 1 26,13 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 96,4409 3,4514E-03 6,3810E-05
78,6108 307,15 1,1 30,83 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 89,9124 3,2178E-03 5,9491E-05
74,3226 306,15 1,2 36,21 2520 0,0463 0,0349 1,0970E-03 83,5128 3,0160E-03 3,7335E-05
79,2107 308,15 1,3 38,71 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 84,6293 3,0029E-03 7,2414E-05
77
92,6316 307,15 1,4 40,12 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 87,9362 3,1471E-03 5,8183E-05
78
Tabel 2.6.6. Hasil perhitungan fluks massa dengan tekanan sebagai variabel tetap
Qudara
(cm
3
/det)
Qair
(cm
3
/det)
Td1
(
o
K)
H
(cm)
t
(detik)
A
(cm
2
)
YA1 YA2

(gr/cm
3
)
Q
(cm
3
/det)
Vu
(mol/det)
NA
(mol/det)
100,411
7
48,4496 308,15 1 25,79 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 97,7123 3,4671E-03 8,3608E-05
52,9287 307,15 1 27,59 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 91,3374 3,2688E-03 6,0434E-05
65,0477 307,15 1 26,27 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 95,9269 3,4330E-03 6,3470E-05
81,8777 308,15 1 26,89 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 93,7151 3,3253E-03 8,0188E-05
96,4010 307,15 1 27,36 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 92,1053 3,2963E-03 6,0942E-05
78,6108
48,4496 307,15 1 30,15 2520 0,0518 0,0349 1,0935E-03 83,5821 2,9912E-03 5,5302E-05
52,9287 308,15 1 32,74 2520 0,0569 0,0349 1,0899E-03 76,9701 2,7311E-03 6,5860E-05
65,0477 309,15 1 33,37 2520 0,0549 0,0349 1,0864E-03 75,5169 2,6766E-03 5,8521E-05
81,8777 311,15 1 31,56 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 79,8479 2,7611E-03 1,1408E-04
96,4010 313,15 1 32,89 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03 76,6190 2,6255E-03 1,1607E-04
74,3226
48,4496 311,15 1,1 35,15 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 78,8620 2,7270E-03 1,1267E-04
52,9287 309,15 1,1 36,75 2520 0,0549 0,0349 1,0864E-03 75,4286 2,6734E-03 5,8452E-05
65,0477 311,15 1,1 35,89 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 77,2360 2,6708E-03 1,1035E-04
81,8777 311,15 1,1 36,6 2520 0,0719 0,0349 1,0794E-03 75,7377 2,6190E-03 1,0821E-04
96,4010 312,15 1,2 37,22 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 81,2466 2,7975E-03 1,1873E-04
79,2107
48,4496 312,15 1,2 38,22 2520 0,0729 0,0349 1,0759E-03 79,1209 2,7244E-03 1,1563E-04
52,9287 313,15 1,3 38,39 2520 0,0744 0,0349 1,0725E-03 85,3347 2,9241E-03 1,2928E-04
65,0477 314,15 1,2 37,99 2520 0,0765 0,0349 1,0691E-03 79,5999 2,7129E-03 1,2648E-04
81,8777 314,15 1,2 38,5 2520 0,0765 0,0349 1,0691E-03 78,5455 2,6769E-03 1,2480E-04
96,4010 315,15 1,3 38,35 2520 0,0910 0,0349 1,0657E-03 85,4237 2,8563E-03 1,8276E-04
92,6316
48,4496 315,15 1,4 39,2 2520 0,0910 0,0349 1,0657E-03 90,0000 3,0093E-03 1,9255E-04
52,9287 314,15 1,5 40,1 2520 0,0765 0,0349 1,0691E-03 94,2643 3,2127E-03 1,4978E-04
65,0477 315,15 1,5 40,37 2520 0,0910 0,0349 1,0657E-03 93,6339 3,1309E-03 2,0033E-04
81,8777 316,15 1,4 39,88 2520 0,0913 0,0349 1,0623E-03 88,4654 2,9478E-03 1,8956E-04
96,4010 316,15 1,5 40,22 2520 0,0913 0,0349 1,0623E-03 93,9831 3,1317E-03 2,0139E-04
79
Tabel 2.6.7. Hasil perhitungan koefisien perpindahan massa dalam fase gas dengan bukaan valve sebagai variabel tetap
Qair
(cm
3
/det)
Qudara
(cm
3
/det)
NA
(mol/det)
(YA1 - YA)LM
ky
(mol/det)
Pudara
(atm)
(1 - YA1)LM (1 - YA2)LM (1 - YA)LM kG
48,4496
100,4117 1,5180E-04 7,8890E-04 0,1924 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 8,1832E-03
78,6108 1,1419E-04 2,6948E-04 0,4237 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,6959E-02
74,3226 1,1097E-04 3,4552E-04 0,3212 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2561E-02
79,2107 1,1207E-04 3,4552E-04 0,3244 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2686E-02
92,6316 1,2841E-04 2,6948E-04 0,4765 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,9072E-02
52,9287
100,4117 1,4019E-04 2,6948E-04 0,5202 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 2,0820E-02
78,6108 1,1242E-04 2,6948E-04 0,4172 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,6695E-02
74,3226 1,1925E-04 3,4552E-04 0,3451 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,3499E-02
79,2107 1,2223E-04 2,6948E-04 0,4536 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,8152E-02
92,6316 1,3748E-04 2,6948E-04 0,5102 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 2,0418E-02
65,0477
100,4117 1,4521E-04 7,8890E-04 0,1841 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 7,8283E-03
78,6108 1,2753E-04 7,8890E-04 0,1617 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 6,8748E-03
74,3226 1,1786E-04 1,0782E-03 0,1093 0,9513 0,9219 0,9650 0,0431 4,9542E-03
79,2107 1,3205E-04 1,0782E-03 0,1225 0,9513 0,9219 0,9650 0,0431 5,5505E-03
92,6316 1,3302E-04 7,8890E-04 0,1686 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 7,1710E-03
81,8777
100,4117 4,5154E-05 1,9627E-03 0,0230 0,9513 0,9500 0,9650 0,0150 3,6363E-04
78,6108 5,1814E-05 1,4960E-03 0,0346 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 7,0706E-04
74,3226 6,5576E-05 1,1020E-03 0,0595 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,4739E-03
79,2107 7,1655E-05 1,1020E-03 0,0650 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,6105E-03
92,6316 7,2849E-05 2,1982E-03 0,0331 0,9513 0,9408 0,9650 0,0242 8,4265E-04
96,4010
100,4117 6,3810E-05 1,4960E-03 0,0427 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 8,7077E-04
78,6108 5,9491E-05 1,4960E-03 0,0398 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 8,1183E-04
74,3226 3,7335E-05 1,9627E-03 0,0190 0,9513 0,9500 0,9650 0,0150 3,0067E-04
79,2107 7,2414E-05 1,1020E-03 0,0657 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,6275E-03
92,6316 5,8183E-05 1,4960E-03 0,0389 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 7,9398E-04
80
Tabel 2.6.8. Hasil perhitungan koefisien perpindahan massa dalam fase gas dengan tekanan sebagai variabel tetap
Qudara
(cm
3
/det)
Qair
(cm
3
/det)
NA
(mol/det)
(YA1 - YA)LM
ky
(mol/det)
Pudara
(atm)
(1 - YA1)LM (1 - YA2)LM (1 - YA)LM kG
100,4117
48,4496 8,3608E-05 1,1020E-03 0,0759 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,8791E-03
52,9287 6,0434E-05 1,4960E-03 0,0404 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 8,2469E-04
65,0477 6,3470E-05 1,4960E-03 0,0424 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 8,6613E-04
81,8777 8,0188E-05 1,1020E-03 0,0728 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,8023E-03
96,4010 6,0942E-05 1,4960E-03 0,0407 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 8,3163E-04
78,6108
48,4496 5,5302E-05 1,4960E-03 0,0370 0,9513 0,9456 0,9650 0,0194 7,5467E-04
52,9287 6,5860E-05 1,1020E-03 0,0598 0,9513 0,9414 0,9650 0,0236 1,4802E-03
65,0477 5,8521E-05 2,1982E-03 0,0266 0,9513 0,9408 0,9650 0,0242 6,7692E-04
81,8777 1,1408E-04 3,4552E-04 0,3302 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2913E-02
96,4010 1,1607E-04 7,8890E-04 0,1471 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 6,2574E-03
74,3226
48,4496 1,1267E-04 3,4552E-04 0,3261 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2754E-02
52,9287 5,8452E-05 2,1982E-03 0,0266 0,9513 0,9408 0,9650 0,0242 6,7612E-04
65,0477 1,1035E-04 3,4552E-04 0,3194 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2491E-02
81,8777 1,0821E-04 3,4552E-04 0,3132 0,9513 0,9278 0,9650 0,0372 1,2249E-02
96,4010 1,1873E-04 2,6948E-04 0,4406 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,7634E-02
79,2107
48,4496 1,1563E-04 2,6948E-04 0,4291 0,9513 0,9269 0,9650 0,0381 1,7172E-02
52,9287 1,2928E-04 7,8890E-04 0,1639 0,9513 0,9245 0,9650 0,0405 6,9692E-03
65,0477 1,2648E-04 1,0782E-03 0,1173 0,9513 0,9219 0,9650 0,0431 5,3164E-03
81,8777 1,2480E-04 1,0782E-03 0,1158 0,9513 0,9219 0,9650 0,0431 5,2460E-03
96,4010 1,8276E-04 9,6320E-04 0,1897 0,9513 0,9184 0,9650 0,0466 9,2962E-03
92,6316
48,4496 1,9255E-04 9,6320E-04 0,1999 0,9513 0,9184 0,9650 0,0466 9,7942E-03
52,9287 1,4978E-04 1,0782E-03 0,1389 0,9513 0,9219 0,9650 0,0431 6,2958E-03
65,0477 2,0033E-04 9,6320E-04 0,2080 0,9513 0,9184 0,9650 0,0466 1,0190E-02
81,8777 1,8956E-04 1,0699E-03 0,1772 0,9513 0,9154 0,9650 0,0496 9,2440E-03
96,4010 2,0139E-04 1,0699E-03 0,1882 0,9513 0,9154 0,9650 0,0496 9,8206E-03
81
Tabel 2.6.9. Hasil perhitungan koefisien perpindahan panas dengan bukaan valve sebagai variabel tetap
Qair
(cm
3
/det)
Qudara
(cm
3
/det)
w1
(Kj/Kg)
w2
(Kj/Kg)
wrata-rata
(Kj/Kg)
Tdrata-rata (Td-Tw)LM H
P
(mmHg)
HW
(cm
2
)
ky
(mol/det)
hy
(Kj/det.
o
C)
48,4496
100,4117 2423,6 2440,2 2431,9 33 2,4630 0,0302 38,87 -0,6384 0,1924 3680,1534
78,6108 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,4237 8140,3696
74,3226 2425,9 2440,2 2433,05 32 2,2134 0,0314 36,52 -0,6395 0,3212 6861,8928
79,2107 2425,9 2440,2 2433,05 32 2,2134 0,0314 36,52 -0,6395 0,3244 6930,3418
92,6316 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,4765 9154,1142
52,9287
100,4117 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,5202 9993,4115
78,6108 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,4172 8013,6422
74,3226 2425,9 2440,2 2433,05 32 2,2134 0,0314 36,52 -0,6395 0,3451 7374,1286
79,2107 2423,6 2440,2 2431,9 32,5 2,2134 0,0323 37,695 -0,6390 0,4536 9691,0363
92,6316 2423,6 2440,2 2431,9 32,5 2,2134 0,0323 37,695 -0,6390 0,5102 10900,8852
65,0477
100,4117 2423,6 2440,2 2431,9 33 2,4630 0,0302 38,87 -0,6384 0,1841 3520,5727
78,6108 2425,9 2440,2 2433,05 33 2,7051 0,0302 38,87 -0,6384 0,1617 2816,4296
74,3226 2423,6 2440,2 2431,9 33,5 2,7051 0,0344 40,045 -0,6380 0,1093 1914,2105
79,2107 2423,6 2440,2 2431,9 33,5 2,7051 0,0344 40,045 -0,6380 0,1225 2144,6027
92,6316 2428,3 2440,2 2434,25 33 2,9408 0,0302 38,87 -0,6384 0,1686 2703,5897
81,8777
100,4117 2425,9 2440,2 2433,05 29,5 0,7213 0,0272 31,014 -0,6427 0,0230 1506,0289
78,6108 2423,6 2440,2 2431,9 30 0,7213 0,028 31,82 -0,6422 0,0346 2267,0259
74,3226 2423,6 2440,2 2431,9 30,5 1,0820 0,0289 32,995 -0,6415 0,0595 2597,4685
79,2107 2421,2 2440,2 2430,7 30,5 0,7213 0,0289 32,995 -0,6415 0,0650 4255,2740
92,6316 2423,6 2440,2 2431,9 31 1,3953 0,0297 34,17 -0,6408 0,0331 1121,9441
96,4010
100,4117 2425,9 2440,2 2433,05 30 1,0820 0,028 31,82 -0,6422 0,0427 1862,1607
78,6108 2425,9 2440,2 2433,05 30 1,0820 0,028 31,82 -0,6422 0,0398 1736,1040
74,3226 2428,3 2440,2 2434,25 29,5 1,0820 0,0272 31,014 -0,6427 0,0190 830,5762
79,2107 2425,9 2440,2 2433,05 30,5 1,3953 0,0289 32,995 -0,6415 0,0657 2225,3951
92,6316 2428,3 2440,2 2434,25 30 1,3953 0,028 31,82 -0,6422 0,0389 1317,3869
82
Tabel 2.6.10. Hasil perhitungan koefisien perpindahan panas dengan tekanan sebagai variabel tetap
Qair
(cm
3
/det)
Qudara
(cm
3
/det)
w1
(Kj/Kg)
w2
(Kj/Kg)
wrata-rata
(Kj/Kg)
Tdrata-rata (Td-Tw)LM H
P
(mmHg)
HW
(cm
2
)
ky
(mol/det)
hy
(Kj/det.
o
C)
100,4117
48,4496 2428,3 2440,2 2434,25 30,5 1,6831 0,0289 32,995 -0,6415 0,0759 2131,0258
52,9287 2428,3 2440,2 2434,25 30 1,3953 0,028 31,82 -0,6422 0,0404 1368,3416
65,0477 2430,7 2440,2 2435,45 30 1,6831 0,028 31,82 -0,6422 0,0424 1191,8982
81,8777 2428,3 2440,2 2434,25 30,5 1,6831 0,0289 32,995 -0,6415 0,0728 2043,8511
96,4010 2428,3 2440,2 2434,25 30 1,3953 0,028 31,82 -0,6422 0,0407 1379,8444
78,6108
48,4496 2430,7 2440,2 2435,45 30 1,6831 0,028 31,82 -0,6422 0,0370 1038,5130
52,9287 2428,3 2440,2 2434,25 30,5 1,6831 0,0289 32,995 -0,6415 0,0598 1678,6547
65,0477 2428,3 2440,2 2434,25 31 1,9543 0,0297 34,17 -0,6408 0,0266 644,0814
81,8777 2428,3 2440,2 2434,25 32 2,4630 0,0314 36,52 -0,6395 0,3302 6342,5372
96,4010 2428,3 2440,2 2434,25 33 2,9408 0,0302 38,87 -0,6384 0,1471 2359,1677
74,3226
48,4496 2428,3 2440,2 2434,25 32 2,4630 0,0314 36,52 -0,6395 0,3261 6264,2254
52,9287 2428,3 2440,2 2434,25 31 1,9543 0,0297 34,17 -0,6408 0,0266 643,3278
65,0477 2428,3 2440,2 2434,25 32 2,4630 0,0314 36,52 -0,6395 0,3194 6135,0661
81,8777 2425,9 2440,2 2433,05 32 2,2134 0,0314 36,52 -0,6395 0,3132 6691,2829
96,4010 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,4406 8464,0597
79,2107
48,4496 2425,9 2440,2 2433,05 32,5 2,4630 0,0323 37,695 -0,6390 0,4291 8242,6034
52,9287 2423,6 2440,2 2431,9 33 2,4630 0,0302 38,87 -0,6384 0,1639 3134,2176
65,0477 2423,6 2440,2 2431,9 33,5 2,7051 0,0344 40,045 -0,6380 0,1173 2054,1496
81,8777 2425,9 2440,2 2433,05 33,5 2,9408 0,0344 40,045 -0,6380 0,1158 1865,3337
96,4010 2423,6 2440,2 2431,9 34 2,9408 0,0363 41,22 -0,6375 0,1897 3062,8135
92,6316
48,4496 2423,6 2440,2 2431,9 34 2,9408 0,0363 41,22 -0,6375 0,1999 3226,8928
52,9287 2425,9 2440,2 2433,05 33,5 2,9408 0,0344 40,045 -0,6380 0,1389 2238,6330
65,0477 2423,6 2440,2 2431,9 34 2,9408 0,0363 41,22 -0,6375 0,2080 3357,1835
81,8777 2421,2 2440,2 2430,7 34,5 2,9408 0,0365 42,395 -0,6370 0,1772 2857,5489
96,4010 2430,7 2440,2 2435,45 34,5 3,1712 0,0365 42,395 -0,6370 0,1882 2820,7360
83
2.7 Grafik
Grafik 2.7.1. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q
air
) dengan waktu (t) pada
kalibrasi bukaan valve
Grafik 2.7.2. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q
udara
) dengan tinggi manometer
(H) pada kalibrasi tekanan udaranya
84
Grafik 2.7.3. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien perpindahan
massa (k
G
) untuk bukaan valve sebagai variabel tetap
Grafik 2.7.4. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien perpindahan
panas (h
y
) untuk bukaan valve sebagai variabel tetap
85
Grafik 2.7.5. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien perpindahan
massa (k
G
) untuk tekanan variabel tetap
Grafik 2.7.6. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien
perpindahan panas (h
y
) untuk tekanan sebagai variabel tetap
86
BAB III
PEMBAHASAN
1. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien
perpindahan massa dalam fase gas (k
G
)
Pada persamaan : k
G
=
( )


L
y
1
P
k
udara
LM
w w udara
) Tw' (Td'
) H (H k BM
h

y
y
Dimana :
( )
udara
A1
u
BM
Y 1 x x Q
v

,
_

A1
A1
A2
A2
u A
Y 1
Y
Y 1
Y
v N
( )
LM A A1
A
y
Y Y
N
k

Sesuai dengan persamaan diatas hubungan laju alir volumetrik dengan koefisien
perpindahan massa dalam fase gas adalah berbanding lurus. Dimana semakin
besar laju alir maka koefisien perpindahan massa (k
G
) dan koefisien perpindahan
panas (h
y
) akan semakin besar.
Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.3. dan grafik 2.7.5. Dari hasil
percobaan didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori dalam hal ini terjadi
penyimpangan yang disebabkan karena pada saat udara dari kompresor menuju
ke heater, laju alir udaranya tidak stabil yang berakibat langsung terhadap laju
alir sehingga mempengaruhi koefisien perpindahan panas. (h
y
).
87
2. Hubungan antara laju alir volumetrik (Q) dengan koefisien
perpindahan panas (h
y
)
Pada persamaan : k
G
=
( )


L
y
1
P
k
udara
LM
w w udara
) Tw' (Td'
) H (H k BM
h

y
y
Dimana :
( )
udara
A1
u
BM
Y 1 x x Q
v

,
_

A1
A1
A2
A2
u A
Y 1
Y
Y 1
Y
v N
( )
LM A A1
A
y
Y Y
N
k

Sesuai dengan persamaan diatas hubungan laju alir volumetrik dengan koefisien
perpindahan panas adalah berbanding lurus. Dimana semakin besar laju alir maka
koefisien perpindahan massa (k
G
) dan koefisien perpindahan panas (h
y
) akan
semakin besar.
Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.4. dan grafik 2.7.6. Dari hasil
percobaan didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori dalam hal ini terjadi
penyimpangan yang disebabkan karena pada saat udara dari kompresor menuju
ke heater, laju alirnya tidak stabil yang dapat menyebabkan perubahan ketinggian
manometer yang tidak stabil dan mempengaruhi koefisien perpindahan panas.
88
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat diambil kesimpulan :
1. Semakin besar harga laju alir volumetrik (Q) semakin
besar pula harga koefisien perpindahan massa (k
G
).
2. Semakin besar harga laju alir volumetrik (Q) semakin
besar pula harga koefisien perpindahan panas (h
y
).
4.2. Saran
1. Sebaiknya wetted wall coloum diperbaiki atau diganti yang baru agar tidak
terjadi kehilangan panas.
2. Sebaiknya menggunakan termometer digital agar pembacaan suhu dapat
lebih akurat.
89
DAFTAR PUSTAKA

1. Geankoplis Christie J., (1997). Transport Processes And Unit Operation third
edition, Prestice-Hall, Inc Englewood N.J, USA.
2. George Granger Brown. (1958). Unit Operations, Navotas Press, Philippines.
3. Mc. Cabe, Warren L., julian C Smith, and Peter Harriot. (1993). Unit operation
of Chemical Engineering, edisi IV, Erlangga.
90
DAFTAR NOTASI
A = Luas permukaan kolom (cm
2
)
BM = Berat molekul (gr/mol)
H = Humidity udara (kJ/kg)
H = Ketinggian manometer (cm)
h
y
= Koefisien perpindahan panas (kJ/det.
0
C)
k
G
= Koefisien perpindahan massa dalam fase gas (mol/det.cm
2
.atm)
k
y
= Koefisien perpindahan massa (mol/detik)
M
A
= Berat molekul air (g/mol)
M
B
= Berat molekul udara (g/mol)
N
A
= Fluks massa (mol/detik)
P
1
= Tekanan uap (mmHg)
P
udara
= Tekanan udara (mmHg)
Q = Laju alir volumetrik (cm
3
/det)
R = 82,057 cm
3
.atm/mol . K
t = Waktu (detik)
T
d
= Dry bulb temperature (
0
C)
T
w
= Wet bulb temperature (
0
C)
v = Laju alir udara (cm/det)
V = Volume (mL)
v
u
= Laju alir mol uap air (mol/det)
Y
A1
= Fraksi mol uap air dalam fase gas bagian bawah kolom
Y
A11
= Fraksi mol uap air dalam interface bagian bawah kolom
Y
A2
= Fraksi mol uap air dalam fase gas bagian atas kolom
Y
A21
= Fraksi mol uap air dalam interface bagian atas kolom

w
= Panas laten pada wet bulb temperatuer
= Massa jenis (g/cm
3
)
91
APENDIKS
1. Menghitung laju alir rata-rata pada kalibrasi bukaan valve untuk air.
rata rata
t
V
Q

Dimana: Q : Laju alir volumetrik (mL/det)


V : Volume (mL)
t : Waktu (detik)
T
rata-rata

3
t t t
3 2 1
+ +

detik 16 , 5
3
26 , 5 33 , 5 89 , 4

+ +

Maka, Q
16 , 5
250

ml/detik 48,4496
Dengan cara yang sama didapatkan laju alir untuk masing-masing bukaan valve pada
run lainnya.
2. Menghitung laju alir rata-rarta pada kalibrasi tekanan udara.
H
rata-rata
3
H H H
3 2 1
+ +

cm 1
3
1 1 1

+ +



3
t t t
T
3 2 1
rata rata
+ +


detik 10 , 25
3
69 , 25 45 , 26 15 , 23

+ +

v =
rata rata
rata rata
t
H

92
=
10 , 25
1
= 0,0398 cm/detik
3. Menghitung laju alir volumetrik udara (Q)
Diketahui : Keliling kolom= 24 cm
Tinggi kolom = 105 cm
A = keliling kolom tinggi kolom
= 24105
= 2520 cm
2
Q = v x A
= 0,0398 cm/detik 2520 cm
2
= 100,4117 cm
3
/detik
Dengan cara yang sama didapatkan laju alir untuk masing-masing tekanan udara
pada run lainnya.
4. Menghitung fraksi mol
Diketahui :
BM udara = M
B
= 28,97 gr/mol
BM air = M
A
= 18,02 gr/mol
P udara = 723 mmHg
(Geankoplis, hal. 526)
Data pada kolom bawah :
Td
1
= 35C
93
H
1
= 0,0375
(Grafik 9.3-2 Geankoplis, hal. 529)
P
1
= 43,57 mmHg
(App A.22 Geankoplis, hal. 854)
a. Menghitung fraksi mol uap air pada bagian bawah kolom (
1
A
Y
)
1
A
Y
=
A 1 B
A 1
/M H 1/M
/M H
+
(Mc.Cabe, hal. 205)
=
02 , 18 / 0,0375 97 , 28 / 1
02 , 18 / 0,0375
+
= 0,0569
b. Menghitung fraksi mol uap air interface bagian bawah kolom(
11
A
Y

)
11
A
Y
=
udara
1
P
P
(Mc.Cabe, hal. 109)
=
723
43,57
= 0,0603
Dengan cara yang sama didapatkan fraksi mol untuk tekanan sebagai
variabel tetap pada run selanjutnya, dan didapatkan juga fraksi mol untuk
bukaan valve sebagai variabel tetap.
Data pada kolom atas :
Td
2
= 26C
94
H
2
= 0,0225
(Grafik 9.3-2 Geankoplis, hal. 529)
P
2
= 25,372 mmHg
(App A.22 Geankoplis, hal. 854)
a. Menghitung fraksi mol uap air dalam fase bagian atas kolom (
2
A
Y
).
2
A
Y
=
A 2 B
A 2
/M H 1/M
/M H
+

(Pers 23. 2 Mc Cabe, hal. 205)
=
02 , 18 / 0225 , 0 97 , 28 / 1
02 , 18 / 0225 , 0
+
= 0,0349
b. Menghitung fraksi mol uap air interface pada bagian kolom atas (
21
A
Y
)
21
A
Y
=
Udara
2
P
P

=
723
372 , 25

= 0,0351
Dengan cara yang sama didapatkan fraksi mol untuk tekanan sebagai variabel
tetap pada run selanjutnya, dan didapatkan juga fraksi mol untuk bukaan valve
sebagai variabel tetap.
5. Menghitung laju alir mol uap air (v
u
)
Diketahui :
95
P =
mmHg 760
atm 1
mmHg 723

= 0,9513 atm
(App A.1-8 Geankoplis, hal. 851)
R = 82,057 cm
3
.atm/gmol.K
(App A.1-1 Geankoplis, hal. 850)
BM
udara
= 28,97 gr/mol
Td
1
= 35C + 273,15 K/C
= 308,15 K

udara
=
1
Td . R
BM . P
(Geankoplis,
hal. 435)
=
) 15 , 308 )( 057 , 82 (
) 97 , 28 )( 9513 , 0 (
= 1,0899 10
-3
gr/cm
3
Q = v A
=
A
t
H

=
2
cm 2520
det 25,79
cm 1


= 97,7123 cm
3
/det
Dimana : v
u
=
udara
A
BM
) Y (1 Q
1

96
=
97 , 28
) 0,0569 1 )( 10 0899 , 1 )( 97,7123 (
3


= 3,4669 10
-3
mol/detik
Dengan cara yang sama didapatkan laju alir mol uap air untuk tekanan sebagai
variabel tetap untuk run lainnya, dan didapatkan juga laju alir mol uap air
untuk bukaan valve sebagai variabel tetap.
6. Menghitung fluks massa (N
A
)
N
A
= v
u
1
1
]
1

1
1
2
2
A
A
A
A
Y 1
Y
Y 1
Y

= (3,4669

10
-3
) 1
]
1

0,0569 1
0,0569
0,0349 1
0,0349
= 8,379810
-5
mol/detik
(Geankoplis, hal. 596)
Dengan cara yang sama didapatkan fluks massa untuk tekanan sebagai
variabel tetap untuk run selanjutnya, dan didapatkan juga fluks massa untuk
bukaan valve sebagai variabel tetap.
7. Menghitung koefisien perpindahan massa (k
y
)
k
y
=
LM A A
A
) Y (Y
N
1


(Geankoplis, hal. 436)
Dimana : (
1
A
Y
- A
Y
)
LM
=
) Y Y (
) Y Y (
ln
) Y Y ( ) Y Y (
2 21
1 11
2 21 1 11
A A
A A
A A A A



97
=
) 0,0349 0,0351 (
) 0,0569 0,0603 (
ln
) 0,0349 0,0351 ( ) 0,0569 0,0603 (



= 1,129510
-3
(Geankoplis, hal. 620)
Maka ,
k
y
=
3 -
-5
10 1,1295
10 8,3798

= 0,0742 mol/detik
Dengan cara yang sama didapatkan koefisien perpindahan massa untuk tekanan
sebagai variabel tetap untuk run lainnya, dan didapatkan juga koefisien
perpindahan massa untuk bukaan valve sebagai variabel tetap.
8. Menghitung koefisien perpindahan massa dalam fase gas (k
G
)
k
G
=
( )
A
udara
y
Y 1
P
k

LM
(Geankoplis, hal. 435)
Dimana : (1-
1
A
Y
)
LM
=
) Y (1
) Y (1
ln
) Y (1 ) Y (1
11
1
11 1
A
A
A A


(Geankoplis, hal. 597)
=
) 0,0603 1 (
) 0,0569 1 (
ln
) 0,0603 1 ( ) 0,0569 1 (



= 0,9414
(1-
2
A
Y
)
LM
=
) Y (1
) Y (1
ln
) Y (1 ) Y (1
21
2
21 2
A
A
A A


98
=
) 0,0351 1 (
) 0,0349 1 (
ln
) 0351 , 0 1 ( ) 0,0349 1 (



= 0,9650
(1-Y
A
)
LM
= (1-
2
A
Y
)
LM
(1-
1
A
Y
)
LM

= 0,9650 0,9414
= 0,0236
k
G
=
) 0236 , 0 (
0,9513
0,0742

= 5,8547 10
-4
gmol/det.cm
2
.atm
Dengan cara yang sama didapatkan koefisien perpindahan massa dalam fase
gas untuk tekanan sebagai variable tetap untuk run selanjutnya, dan
didapatkan juga koefisien perpindahan massa untuk bukaan valve sebagai
variable tetap.
9. Menghitung koefisien perpindahan panas (hy)
Diketahui :
Tw
1
= 31C ;
Tw
2
= 26C
Dari appendiks F.1 Smith Van Ness, didapatkan :

1 w

= 2428,3 kJ/kg

2 w

= 2440,2 kJ/kg
Maka,
rata - rata

=
2

2 1
w w
+
99
=
2
2440,2 2428,3 +
= 2434,25 kJ/kg
Td
rata-rata
=
2
Td Td
'
2
'
1
+
=
2
26 35 +

= 30,5C
Sehingga diperoleh data berikut :
H = 0,0310
(grafik 9.3-2 Geankoplis, hal. 529)
P = 32,995 mmHg
(App A.2-2 Geankoplis, hal. 854)
Hw =
P) .(1 BM
.P BM
udara
Air

(Geankoplis, hal. 526)


Hw =
) 995 , 32 1 )( 97 , 28 (
) 995 , 32 )( 02 , 18 (

= -0,6415
Dimana :
(Td-Tw)
LM
=
) Tw Td (
) Tw Td (
ln
) Tw Td ( ) Tw Td (
'
1
'
1
'
2
'
2
'
1
'
1
'
2
'
2


(Geankoplis, hal. 620)
=
) 31 35 (
) 5 , 26 26 (
ln
) 31 35 ( ) 5 , 26 26 (


100
= 2,1640
Sehingga, h
y
=
1
1
]
1

LM
'
W
'
d
W y w Udara
) T (T
) H .(H .k . BM
(Mc Cabe, hal. 213)
=
1
]
1


1640 , 2
-0,6415 ( 0,0310 )( 0,0742 )( 2434,25 )( 97 , 28 (
= 1626,1201 kJ/detC
Dengan cara yang sama didapatkan koefisien perpindahan panas untuk tekanan
sebagai variabel tetap untuk run selanjutnya, dan didapatkan juga koefisien
perpindahan panas untuk bukaan valve sebagai variable tetap.
BAB III
ROTARY DRYER
101
1.1. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari performance rotary dryer berdasarkan perubahan kandungan air
dan efisiensi rotary dryer pada kondisi operasi yang berbeda-beda.
2. Membuat material balance dan heat balance.
1.2. Teori Dasar
Pengeringan (drying) zat padat merupakan pemisahan sejumlah kecil air atau zat
cair lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat
padat itu sampai suatu nilai rendah yang dapat diterima. Pengeringan merupakan
langkah terakhir dari sebuah operasi dan hasil dari pengeringan sudah siap kemas
Pengeringan zat cair dari dari suatu padatan dapat dilakukan dengan cara:
1. Memeras zat cair itu secara mekanik hingga keluar. Cara ini menghabiskan
sedikit biaya sehingga sering digunakan terlebih dahulu sebelum menggunakan
pengering panas.
2. Dengan pemisah sentrifugal.
3. Dengan penguapan secara termal.
Zat padat yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam berbagai bentuk serpih
(flake), bijian (granule), kristal (crystal), serbuk (powder), lempeng (slab), atau
lembaran senambung (continous sheet) dengan sifat-sifat yang mungkin sangat
berbeda satu sama lain.
Berdasarkan kontak pemanas dengan umpan atau zat padat, alat pengering dibagi
menjadi 2 (dua) yaitu :
a. Pengering langsung (direct dryer/adiabatic dryer)
Disebut juga pengering adiabatik yaitu pengering dimana umpan atau zat padat
itu bersentuhan langsung dengan gas panas (biasanya udara).
b. Pengering tak langsung (indirect dryer)
Biasa disebut juga dengan pengering non adiabatik (non adiabatic dryer) yaitu
pengering dimana kalor berpindah ke zat padat dari suatu medium luar, misalnya
uap yang kondensasi, biasanya melalui permukaan logam yang bersentuhan
dengan zat padat itu. Contoh : pengering yang dipanaskan dengan energi
elektrik, radiasi atau gelombang mikro.
102
c. Pengering langsung - tak langsung (direct - indirect dryer)
Merupakan gabungan dari pengeringan langsung dan tidak langsung. Dalam
pengeringan ini, gas panas terlebih dahulu dilewatkan melalui mantel dan
kemudian masuk ke dalam selongsong yang berkontak lansung dengan zat padat
yang dikeringkan.
(Mc Cabe, Jilid II, 1993, hal: 249-250 & 274)
Macam - macam alat pengering, antara lain:
a. Pengering Talam
Pengering ini terdiri dari sebuah ruang dari logam lembaran yang berisi dua buah
truk yang mendukung rak-rak H dengan ukuran 30 inchi
2
dan tebal 2 6
inchi. Udara panas disirkulasikan dengan bantuan kipas C dan motor D, mengalir
melalui pemanas E. Pengering ini bermanfaat untuk industri kecil. Alat ini
memerlukan tenaga kerja pemuat dan pengosongan sehingga biaya oprasinya
agak mahal. Alat ini biasanya digunakan untuk pengeringan bernilai tinggi seperti
zat warna dan alat - alat farmasi.
Gambar 1.2.1. Pengering Talam
b. Pengering konveyor tabir
Alat ini bekerja secara terus menerus. Pengering ini sangat cocok untuk situasi
dimana kondisi pengeringan berubah banyak dengan berkurangnya kandungan
kebasahan zat padat. Bahan-bahan biji-bijian kasar, berserpih atau bahan berserat.
Tetapi tapal dan ampas saring yang halus harus dicetak terlebih dahulu.
103
Gambar 1.2.2. Pengering Konveyor
c. Pengering menara
Alat ini terdiri dari sederetan talam bundar yang dipasang bersusun ke atas pada
suatu poros tengah yang berputar. Aliran umpan dan gas panas bisa searah atau
berlawanan arah.
Gambar 1.2.3. Pengering Menara
d. Pengering putar
Pengering putar terdiri dari sebuah silinder yang diletakkan agak miring dan dapat
berputar. Umpan basah masuk dari salah satu ujung silinder dan keluar melalui
ujung silinder yang lain. Alat ini bisa dioperasikan secara direct dengan
mengontakkan langsung dengan gas panas. Sedangkan indirect dengann
mengalirkan gas panas melalui mantel luar yang berkondensasi dalam tabung
seperangkat tabung longitudinal yang dipasang pada permukaan selongsong.
Terakhir secara direct-indirectI dimana gas panas melewati mantel kemudian
104
masuk ke dalam selongsong yang berkontak langsung dengan bahan. Alat ini
digunakan untuk mengeringkan garam, gula dan segala macam bahan bijian atau
kristal yang selalu bersih dan tidak boleh terkena langsung pada gas pembakaran
yang sangat panas.
Gambar 1.2.4. Pengering Putar
e. Pengering semprot (spray dryer)
Pengering ini digunakan untuk larutan dan bubur. Bahan didispersikan ke dalam
arus panas dalam bentuk kabut atau tetesan halus. Air dari tetesan akan cepat
menguap dan meninggalkan partikel zat padat kering yang lalu dipisahkan dari
arus gas. Keuntungan pengering ini memiliki kelebihan yaitu waktu
pengeringannya sangat singkat. Sehingga memungkinkan pengeringan bahan-
bahan yang peka panas dan menghasilkan partikel-partikel berbentuk bola pejal
maupun bolong. Namun pengeringan ini tidak terlalu efisien karena banyak kalor
yang terbuang dari gas keluar.
105
Gambar 1.2.5. Pengering Semprot dengan Aliran Sejajar
(Mc Cabe, Jilid II, 1993, hal : 271-280)
Adapun istilah - istilah dalam proses pengeringan, yaitu :
1. Kelembaban (Humidity)
Yaitu massa uap yang dibawa oleh satu satuan massa gas bebas uap. Kelembaban
tergantung pada tekanan bagian uap dalam campuran bila tekanan total dibuat
tetap. Jadi tekanan bagian uap adalah P
A
atm, rasio molal antara uap dan gas pada
1 atm adalah P
A
(1P
A
).
( )
A B
A A
P M
P M
H

1
.
Keterangan = H : Humidity
M
A
: bobot molekul komponen A
M
B
: bobot molekul komponen B
P
A
: tekanan uap
(Mc Cabe, Jilid II, 1993, hal: 205)
2. Udara jenuh adalah udara dengan uap yang berkesetimbangan dengan air pada
kondisi tekanan dan suhu tertentu. Dalam campuran ini tekanan parsial dari uap
air dalam campuran udara-air adalah sama dengan tekanan uap air murni pada
suhu tertentu.
106
Sehingga kelembaban jenuh (Hs) adalah:
) p' 28,97(P
p' 18,02
Hs
A
A

Keterangan = H
S
: kelembaban
P'
A
: tekanan uap air murni
(Geankoplis, 1997, hal. 526)
3. Kelembaban relatif (relative humidity)
Didefinisikan sebagai rasio antara tekanan bagian uap dan tekanan uap zat cair
pada suhu gas.
A
A
R
' P
P
100 H
Keterangan = H
R
: kelembaban relatif
4. Persentase kelembaban (percentage humidity)
Persentase kelembaban ialah rasio kelembaban nyata (actual) terhadap
kelembaban jenuh (H
S
) pada suhu gas, juga atas dasar persen, atau dirumuskan
dengan :
( )
( )
A
A
R
A A
A A
S
A
P 1
P' 1
H
P' 1 P'
P 1 P
100
H
H
100 H


Persentase kelembaban pada setiap kelembaban, kecuali pada 0 atau 100 persen,
selalu lebih kecil dari kelembaban relatif.
5. Kalor lembab (humid heat)
Merupakan energi kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 lb atau 1 g gas,
beserta segala uap yang dikandungnya, sebesar 1
o
F atau 1
o
C.
C
s
= C
pB
+ C
pA
H
Keterangan = C
pB
: kalor spesifik gas
C
pA :
kalor spesifik uap
6. Volume lembab (humid volume)
Adalah volume total satu satuan massa gas bebas uap serta segala uap yang
dikandungnya, pada tekanan 1 atm dan pada suhu gas. Persamaan tersebut dalam
Satuan Internasional (SI) adalah sebagai berikut :
107

,
_

+
A B
H
M
H
M
T 1
273
0224 , 0
V
7. Titik embun (dew point)
Titik embun adalah suhu pendinginan campuran uap - gas (pada kelembaban
tetap) agar menjadi jenuh. Titik embun fase gas jenuh sama dengan suhu gas itu.
8. Kalor lembab (Humidity heat)
Merupakan energi kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 satuan massa
udara kering ditambah uap air yang dengan kenaikan suhu sebesar satu satuan
derajat suhu.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
C
si
= 1,005 + 1,88 H
(Geankoplis, 1993, hal : 564)
108
BAB II
PERCOBAAN
2.1. Variabel Percobaan
A. Variabel tetap
slope : 0,02 C
volume air : 1000 mL
temperatur : 60 C
B. Variabel berubah
berat feed : 20 kg, 30 kg
kecepatan putaran : tinggi (8 rpm), rendah (6 rpm)
2.2. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan:
beakerglass
cawan porselen
ember
humidity meter
meteran
109
oven
pengaduk
set rotary dryer
stopwatch
termometer
timbangan
B. Bahan-bahan yang digunakan:
air (H
2
O)
jagung
pasir
2.3. Prosedur Percobaan
Menjalankan rotary dryer dengan mengontakkan switch motor blower,
motor dryer, dan LPG burner
Mencampurkan feed dengan air kemudian mengaduknya sampai rata
Mengukur temperatur serta menimbang sampel untuk menganalisa moisture
content dari feed
Mengatur variabel slope dan kecepatan rotary dryer sesuai dengan run yang
telah ditentukan
Memasukkan feed basah dengan satu variabel bukaan untuk satu variabel
kecepatan putar apabila suhu mencapai keadaan steady state (termometer
ke-6 sudah mencapai suhu variabel)
Mengukur temperatur dry bulb, wet bulb, dan humidity untuk udara masuk
dan keluar, mengukur suhu produk yang keluar serta membaca termometer
di sepanjang rotary dryer (8 buah termometer) pada setiap awal proses,
selang 5 menit sekali setelah produk pertama kali keluar sebanyak 9 kali
pengamatan dan setiap akhir proses untuk setiap variabel
110
Metode pengeringan untuk mengetahui moisture content dari feed dan
produk dengan cara:
Menimbang 500 g feed basah, mengeringkan dalam oven selama 15
menit pada temperatur 200 C dan mendinginkannya selama 15
menit kemudian menimbangnya
Menimbang 500 g produk (pasir yang keluar dari rotary dryer) dan
mengeringkannya dalam oven selama 15 menit pada temperatur 200
C kemudian mendinginkannya selama 15 menit, kemudian
menimbangnya
Untuk variabel sedang, feed diganti dengan mencampurkan 1000 gram
jagung pada pasir kemudian mengaduknya tanpa penambahan air
111
2.4. Gambar Alat
112
Gambar 2.4.1 Instrumen Rotary Dryer
113
Keterangan gambar:
1. Hopper
2. Bukaan feed
3. Tempat penampungan feed
4. Dongkrak
5. Motor dengan reducer
6. Termometer
7. Cyclone
8. Outlet produk
9. Blower udara kering
10. Inlet udara kering
11. Derajat variabel support
12. Tabung LPG
13. Roller
14. Motor blower hisap
15. Riding ring
16. Pinion
17. Riding gear (gear penggerak)
18. Blower
19. Saklar untuk blower
20. Saklar untuk rotary shell drive
114
2.5 Foto Alat
Gambar 2.5.1 Rotary Dryer
115
2.6. Data Pengamatan
Tabel 2.6.1 Tabel pengamatan untuk kecepatan rendah (6 rpm)
Berat
feed
(kg)
Temperatur
Moisture
content (kg)
Suhu
bahan
masuk
(
o
C)
Suhu
bahan
keluar
(
o
C)
Waktu (menit) Berat
produk
(kg)
1 2 3 4 5 6 7 8 Dry Wet H F P Feed habis Tinggal Operasi
20
27 19 60 50 49 50 52 49 43 36
72
0
494 494,125 27 38,5 16,15 1 17,15 19
32 22 61 55 55 51 65 50 44 37
72
0
38 25 69 60 61 58 75 57 45 38
72
0
35 28 70 64 59 60 75 53 40 35
72
0
30
38 20 65 62 64 60 55 55 43 28
72
0
494 496,125 27 35 9,4 1,19 10,59 29,5
35 18 52 52 50 50 63 50 45 33
72
0
35 22 62 59 55 54 66 50 43 32
72
0
38 25 69 56 61 56 70 53 44 30
72
0
116
Tabel 2.6.2 Tabel pengamatan untuk kecepatan tinggi (8 rpm)
Berat
feed
(kg)
Temperatur
Moisture
content
(kg)
Suhu
bahan
masuk
(
o
C)
Suhu
bahan
keluar
(
o
C)
Waktu (menit)
Berat
produk
(kg)
1 2 3 4 5 6 7 8 Dry Wet H F P Feed habis Tinggal Operasi
20
39 28 59 51 55 55 60 55 28 33 723
487 481 28 41 10,583 0,333 51,950 19
38 28 60 60 60 65 55 55 29 33 720
40 30 53 50 55 55 69 60 29 33 720
38 28 48 54 50 50 55 45 30 33 722
38 39 62 55 60 55 70 55 30 32 721
39 39 60 55 60 55 70 55 31 33 720
39 30 64 60 61 59 70 55 30 33 721
38 30 73 60 65 60 71 56 30 33 722
40 30 70 60 65 60 75 55 30 33 721
30
38 20 50 55 50 50 60 55 33 28 720
485 471 28 42 15 0,333 70,850 28,5
40 30 60 50 55 50 55 45 33 29 721
40 30 65 60 55 65 65 50 32 29 721
40 35 70 55 65 60 70 55 33 30 721
40 34 73 60 65 60 70 55 33 30 721
40 35 70 65 65 60 70 55 33 30 722
38 35 72 60 60 65 75 55 33 30 721
39 30 70 60 65 65 70 60 33 29 720
40 30 73 60 65 60 71 56 32 29 721
117
2.7. Hasil Perhitugan
2.7.1 Tabel hasil perhitungan Mf, Mp, mf, mp, Msf, Maf, Msp, Map, Mev, Hi, Ho, Mavi dan Mavo untuk kecepatan rendah
Berat
Pasir
(Kg)
Mf
(kg/mnt)
Mp
(kg/mnt)
mf
(kg/mnt)
mp
(kg/mnt)
Msf
(kg/mnt)
Maf
(kg/mnt)
Msp
(kg/mnt)
Map
(kg/mnt)
Mev
(kg/mnt)
Muk
(kg/mnt)
Hi
(kg/mnt)
Ho
(kg/mnt)
Mavi
(kg/mnt)
Mavo
(kg/mnt)
20 1,2146 1,1889 1,2999 1,1765 0,5870 0,7129 0,5375 0,6390 0,0739 0,2204 0,0240 0,0440 0,0053 0,0097
30 1,2146 0,7810 2,2334 3,1383 1,0085 1,2249 1,7621 1,3762 0,1513 0,2204 0,0240 0,0370 0,0053 0,0053
2.7.2 Tabel hasil perhitungan Mf, Mp, mf, mp, Msf, Maf, Msp, Map, Mev, Hi, Ho, Mavi dan Mavo untuk kecepatan tinggi
Berat
Pasir
(Kg)
Mf
(kg/mnt)
Mp
(kg/mnt)
mf
(kg/mnt)
mp
(kg/mnt)
Msf
(kg/mnt)
Maf
(kg/mnt)
Msp
(kg/mnt)
Map
(kg/mnt)
Mev
(kg/mnt)
Muk
(kg/mnt)
Hi
(kg/mnt)
Ho
(kg/mnt)
Mavi
(kg/mnt)
Mavo
(kg/mnt)
20 2,669 3,950 1,984 0,368 1,932 0,053 0,354 0,014 0,038 0,211 0,014 0,018 0,003 0,004
30 3,093 6,157 2,066 0,404 2,004 0,062 0,381 0,023 0,039 0,211 0,018 0,013 0,004 0,003
118
119
2.8. Grafik
Grafik 2.8.1. Grafik hubungan antara Temperatur di sepanjang Rotary
Dryer dengan % Panjang Rotary Dryer untuk Kecepatan
Rendah
Grafik 2.8.2. Grafik hubungan antara Temperatur di sepanjang Rotary
Dryer dengan % Panjang Rotary Dryer untuk Kecepatan
Rendah
120
Grafik 2.8.3. Grafik hubungan antara Waktu Tinggal (menit) dengan
Efesiensi Termal (%)
Grafik 2.8.4. Grafik hubungan antara Waktu Tinggal (menit) dengan
Efesiensi Drying (%)
121
APPENDIKS
Perhitungan menggunakan data Praktikum Rotary Dryer dengan kecepatan
rendah (6,3158rpm) berat 20 kg dan kecepatan tinggi (8 rpm) berat 20 kg.
1. Menghitung slope rotary dryer
Panjang rotary dryer = x = 400 cm
Tinggi rotary dryer = y = 8 cm
02 , 0
cm 400
cm 8
x
y
Slope

2. Menentukan % panjang rotary dryer
L (panjang rotary shell) = 238 cm
% T
1
= % 7815 , 3 % 100
cm 238
cm 9
% 100
L
T
1

% T
2
= % 0840 , 10 % 100
cm 238
cm 24
% 100
L
T
2

% T
3
= % 24,5798 % 100
cm 238
cm 58,5
% 100
L
T
3

% T
4
= % 2353 , 38 % 100
cm 238
cm 91
% 100
L
T
4

% T
5
= % 8908 , 51 % 100
cm 238
cm 123,5
% 100
L
T
5

% T
6
= % 1261 , 65 % 100
cm 238
cm 155
% 100
L
T
6

% T
7
= % 9160 , 89 % 100
cm 238
cm 214
% 100
L
T
7

% T
8
= % 0588 , 97 % 100
cm 238
cm 231
% 100
L
T
8

3. Menentukan kecepatan rotary dryer
122
y
x
a. Pada kecepatan tinggi, diketahui t = 7,5 detik
8
1menit
60detik
7,5detik
1putaran
rpm
b. Pada run kecepatan rendah, diketahui t = 9,5
3158 , 6
1menit
60detik
9,5detik
1putaran
rpm
4. Menghitung moisture content
a. Moisture content feed (M
f
)
Diketahui data untuk kecepatan rendah:
Berat feed basah = 500 gram
Berat feed kering = 494 gram
100%
kering feed berat
kering feed berat basah feed berat
M
f

( )
% 215 , 1 100%
gram 494
gram 494 00 5
M
f

Jadi feed mengandung 0,01215 kg air/kg solid kering.


Diketahui data untuk kecepatan tinggi:
Berat feed basah = 500 gram
Berat feed kering = 487 gram
100%
kering feed berat
kering feed berat basah feed berat
M
f

( )
% 669 , 2 100%
gram 487
gram 487 00 5
M
f

Jadi feed mengandung 0,02669 kg air/kg solid kering.


b. Moisture content produk (M
p
)
Diketahui data untuk kecepatan rendah:
Berat produk basah = 500 g
Berat produk kering = 494,125 g
100%
kering produk berat
kering produk berat basah produk berat
M
p

( )
% 189 , 1 100%
gram 81 4
gram 494,125 00 5
M
p

123
[1]
Jadi feed mengandung 0,01189 kg air/kg solid kering.
Diketahui data kecepatan tinggi:
Berat produk basah = 500 g
Berat produk kering = 481 g
100%
kering produk berat
kering produk berat basah produk berat
M
p

( )
% 950 , 3 100%
gram 81 4
gram 1 8 4 00 5
M
p

Jadi feed mengandung 0,03950 kg air/kg solid kering.


5. Perhitungan rate feed (m
f
)
Diketahui data untuk kecepatan rendah:
Berat pasir = 20 kg = 20.000 g

air
pada suhu 25
o
C = 0,99708 g/mL
[1]
Volume air = 1.000 mL
Berat air =
air
volume air
= 0,99708 g/mL 1.000 mL = 997,08 g
Berat total feed = berat pasir + berat air
= 20000 g + 997,08 g = 20997,08 g
Waktu feed habis = 16,15 menit
waktu
basah feed berat
) (m feed Laju
f

menit 15 , 16
gram 20997,08
) (m feed Laju
f

= 1299,9 gram/menit = 1,299 kg/menit
Diketahui data untuk kecepatan tinggi:
Berat pasir = 20 kg = 20.000 g

air
pada suhu 25
o
C = 0,99708 g/mL
[1]
Volume air = 1.000 mL
Berat air =
air
x volume air
= 0,99708 g/mL 1.000 mL = 997,08 g
Berat total feed = berat pasir + berat air
124
= 20000 g + 997,08 g = 20997,08 g
Waktu feed habis = 10,583 menit
waktu
basah feed berat
) (m feed Laju
f

menit 5833 , 10
gram 20997,08
) (m feed Laju
f

= 1983,976 gram/menit = 1,984 kg/menit
6. Perhitungan rate produk (m
p
)
Diketahui data untuk kecepatah rendah:
Berat produk = 19 kg = 19000 g
Waktu produk habis = waktu proses waktu tinggal
= 17,15 1
= 16,15 menit
habis produk waktu
produk berat
) (m habis produk Laju
p

=
6,15menit 1
gram 19000
= 1176,470 gram/menit = 1,177 kg/menit
Diketahui data untuk kecepatah tinggi:
Berat produk = 19 kg = 19000 g
Waktu produk habis = waktu proses waktu tinggal
= 51,95 0,3333
= 51,6167 menit
habis produk waktu
produk berat
) (m habis produk Laju
p

=
detik 6167 , 51
gram 19000
= 368,098 gram/menit = 0,368 kg/menit
7. Menghitung berat feed
a. Berat solid kering masuk (M
sf
)
Untuk kecepatan rendah:
f
f
sf
M 1
m
M
+

125
[5]
01215 , 0 1
kg/menit 1,299
M
sf
+

= 0,587 kg solid kering/menit


Untuk kecepatan tinggi:
f
f
sf
M 1
m
M
+

02669 , 0 1
kg/menit 1,984
M
sf
+

= 1,932 kg solid kering/menit


b. Berat air dalam feed (M
af
)
Untuk kecepatan rendah:
M
af
= M
f
M
sf
= 0,012150,587
= 0,7129 kg air/menit
Untuk kecepatan tinggi:
M
af
= M
f
M
sf
= 0,026691,932
= 0,052 kg air/menit
8. Menghitung berat produk
a. Berat solid kering keluar (M
sp
)
Untuk kecepatan rendah:
p
p
sp
M 1
m
M
+

01189 , 0 1
kg/menit 177 , 1
M
sp
+

= 0,538 kg solid kering produk/menit


Untuk kecepatan tinggi:
p
p
sp
M 1
m
M
+

126
0395 , 0 1
kg/menit 368 , 0
M
sp
+

= 0,354 kg solid kering produk/menit


b. Berat air dalam produk (M
ap
)
Untuk kecepatan rendah:
M
ap
= M
p
M
sp
= 1,189 0,538
= 0,639 kg air/menit
Untuk kecepatan tinggi:
M
ap
= M
p
M
sp
= 0,0395 0,368
= 0,014 kg air/menit
9. Berat air yang menguap
Untuk kecepatan rendah:
M
ev
= M
af
M
ap

= (0,713 0,05375) kg air / menit
= 0,0739 kg air/menit
Untuk kecepatan tinggi:
M
ev
= M
af
M
ap

= (0,052 0,014) kg air / menit
= 0,038 kg air/menit
10. Berat air yang menguap (M
ev
)
Diketahui : Berat LPG mula-mula = 60 kg
Berat LPG akhir = 59,7856 kg
Waktu penggunaan gas = 17,15 menit
Berat pemakaian LPG = berat LPG mula-mula berat LPG akhir
= (60-59,7856) kg = 0,2144 kg
LPG penggunaan waktu
pakai gas berat
gas pemakaian Laju
kg/menit 3 012 , 0
27,74
0,2144

127
Jumlah udara kering masuk (M
uk
) = jumlah O
2
masuk + jumlah N
2
masuk
Asumsi : komposisi gas : 50 % mol propana dan 50 % mol butana
BM propana (C
3
H
8
) = 44
BM butana (C
4
H
10
) = 58
Persamaan reaksi pembakaran:
Reaksi I : C
3
H
8
+ 5 O
2
3 CO
2
+ 4 H
2
O
Reaksi II : C
4
H
10
+
2
13
O
2
4 CO
2
+ 5 H
2
O
Basis : 0,0123 kg/menit
propana BM
propana berat %
LPG rate propana Mol
= 0,0123
44
% 50

= 1,3977.10
-4
kgmol/menit
butana BM
butana %
LPG rate butana Mol
= 0,0123
58
% 50

= 1,0603.10
-4
kgmol/menit
Untuk mencari udara kering :
Kebutuhan O
2
untuk pembakaran:
a. mol O
2
yang dibutuhkan pada pembakaran propana:
mol O
2
= 5 1,3977.10
-4
kg.mol/menit
= 6,9885.10
-4
kg.mol/menit
b. mol O
2
yang dibutuhkan pada pembakaran butana:
128
50 % C
3
H
8
50 % C
4
H
10
CO
2
x H
2
O
N
2
N
2
= 79 %
O
2
= 21 %
Udara excess = 20 %
mol O
2
=
2
13
1,0603.10
-4
kg.mol/menit

= 6,8919.10
-4
kg.mol /menit
Total kebutuhan O
2
= mol kebutuhan O
2
pada pembakaran (propana + butana)
= (6,9885.10
-4
+ 6,8919.10
-4
)

kg.mol /menit
= 13,8804.10
-4
kg.mol/menit
Diasumsikan : O
2
berlebih 20 % = (100 + 20) % = 120 %
(Hougen, 1954, hal. 199)
Jumlah O
2
berlebih =
2 2
O BM O kebutuhan total
100
120

=
kg/menit 3 053 , 0 32 mol/menit kg 10 . 8804 , 13
100
120
4 -

Jumlah N
2
dari udara =
21
79
mol O
2
yang masuk BM N
2
=
kg/menit 71 16 , 0 28 mol/menit kg 10 . 8804 , 13
21
79
4 -

mol CO
2
(propana) = 3 1,3997.10
-4
kg.mol/menit = 4,1931.10
-4
kg.mol/menit
mol CO
2
(butana) = 4 1,0603.10
-4
kg.mol/menit = 4,2412.10
-4
kg.mol/menit
Jumlah CO
2
hasil reaksi = (mol CO
2
propana + butana

) BM CO
2
= (4,1931.10
-4
+ 4,2412 .10
-4
) kg.mol/menit 44
= 0,0371 kg/menit
mol H
2
O (propana) = 4 1,3977.10
-4
kg.mol/menit
= 5,5908.10
-4
kg.mol/menit
mol H
2
O (butana) = 5 1,0603.10
-4
kg.mol/menit
= 5,3015. 10
-4
kg.mol/menit
Jumlah H
2
O hasil reaksi = (H
2
O propana + H
2
O butana) BM H
2
O
= (5,5908.10
-4
+ 5,3015.10
-4
)

kg.mol/menit 18
= 0,0196 kg/menit
Berat udara kering (M
uk
) = jumlah O
2
masuk + jumlah N
2
masuk
129
= (0,0533 + 0,1671) kg/menit
= 0,2204 kg/menit
Diketahui data untuk kecepatan tinggi:
Berat LPG mula-mula = 15 kg
Berat LPG akhir = 13 kg
Waktu penggunaan gas = 122,8 menit
Berat pemakaian LPG = berat awal - berat akhir
= (15 13) kg = 2 kg
Laju pemakaian gas =
LPG penggunaan waktu
pakai gas berat
=
menit 122,8
kg 2
= 0,01629 kg/menit
Jumlah udara kering masuk (M
uk
) = jumlah O
2
masuk + jumlah N
2
masuk
Asumsi : komposisi gas : 50 % mol propana dan 50 % mol butana
BM propana (C
3
H
8
) = 44
BM butana (C
4
H
10
) = 58
Persamaan reaksi pembakaran:
Reaksi I : C
3
H
8
+ 5 O
2
3 CO
2
+ 4 H
2
O
Reaksi II : C
4
H
10
+
2
13
O
2
4 CO
2
+ 5 H
2
O
Basis : 0,01629 kg/menit
propana BM
propana berat %
LPG rate propana Mol
= 0,01629
44
% 50

= 1,851.10
-4
kgmol/menit
butana BM
butana %
LPG rate butana Mol
= 0,01629
58
% 50

= 1,404.10
-4
kgmol/menit
130
Untuk mencari udara kering :
Kebutuhan O
2
untuk pembakaran:
mol O
2
yang dibutuhkan pada pembakaran propana:
mol O
2
= 5 1,851.10
-4
kgmol/menit
= 9,255.10
-4
kgmol/menit
mol O
2
yang dibutuhkan pada pembakaran butana:
mol O
2
=
2
13
1,404.10
-4
kgmol/menit

= 9,126.10
-4


kgmol/menit
Total kebutuhan O
2
= mol kebutuhan O
2
pada pembakaran (propana + butana)
= (9,255.10
-4
+ 9,126.10
-4
)

kgmol/menit
= 18,381.10
-4
kgmol/menit
Diasumsikan : O
2
berlebih 20 % = (100 + 20) % = 120 %
(Hougen, 1954, hal. 199)
Jumlah O
2
berlebih =
2
O kebutuhan total
100
120

=
t kgmol/meni 0 1 . 18,381
100
120
4 -

= 22,0572.10
-4
kgmol/menit
Jumlah total O
2
masuk = Jumlah O
2
berlebih BM O
2
= 22,0572.10
-4
kgmol/menit 32
= 7,0583.10
-2
kg/menit
131
50% propana
50% butana
x
CO
2
H
2
O
N
2
Nitrogen = 79%
Oksigen = 21%
Udara excess = 20%
Jumlah N
2
dari udara =
21
79
mol O
2
yang masuk BM N
2
=
28 mol/menit kg 10 . 0583 , 7
21
79
2 -

= 0,1409

kg/menit
mol CO
2
(propana) = 3 1,851.10
-4
kgmol/menit
= 5,553.10
-4
kgmol/menit
mol CO
2
(butana) = 4 1,404.10
-4
kgmol/menit
= 5,616.10
-4
kgmol/menit
Jumlah CO
2
hasil reaksi = (mol CO
2
propana + butana

) BM CO
2
= (5,553+ 5,616).10
-4
kgmol/menit 44
= 4,914.10
-2
kg/menit
mol H
2
O (propana) = 4 1,851.10
-4
kgmol/menit
= 7,404.10
-4
kgmol/menit
mol H
2
O (butana) = 5 1,404.10
-4
kgmol/menit
= 7,02.10
-4
kgmol/menit
Jumlah H
2
O hasil reaksi = (H
2
O propana + H
2
O butana) BM H
2
O
= (7,404 + 7,02)

.10
-4
kgmol/menit 18
= 2,596 .10
-2
kg/menit
Berat udara kering (M
uk
) = jumlah O
2
masuk + jumlah N
2
masuk
= (7,058310
-2
+ 0,1409

) kg/menit
= 0,2115 kg/menit
11. Kandungan air dalam gas masuk (M
avi
)
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui :T
di
= 36
o
C
H
i
= 0,040 kg uap air/kg udara kering
[1]
M
avi
= M
uk
H
i
= 0,2204 kg/menit 0,040 kg uap air/kg udara kering
132
= 0,0088 kg H
2
O/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Dari data pengamatan didapatkan:
T
di
= 29,667
o
C
H
i
= 0,014 kg uap air / kg udara kering
M
avi
= M
uk
H
i
= 0,211 kg/menit 0,014kg uap air/kg udara kering
= 0,003 kg H
2
O/menit
12. Kandungan air dalam gas keluar (M
avo
)
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui : T
do
= 43
o
C
H
o
= 0,058 kg uap air/kg udara kering
[1]
M
avo
= M
uk
x H
o
= 0,2204 kg/menit 0,058 kg uap air/kg udara kering
= 0,0128 kg H
2
O/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Dari data pengamatan didapatkan:
T
do
= 32,8889
o
C
H
o
= 0,018 kg uap air/kg udara kering
M
avo
= M
uk
H
o
= 0,211kg/menit 0,0 kg uap air/kg udara kering
= 0,004 kg H
2
O/menit
13. Tabel Ringkasan Hasil Perhitungan Neraca massa
Berat
Kecepatang tinggi Kecepatan rendah
Masuk
(kg/menit)
Keluar
(kg/menit)
Masuk
(kg/menit)
Keluar
(kg/menit)
133
Berat solid kering (M
s
) 1,932 0,354 0,5869 0,5375
Berat gas (M
uk
) 0,211 0,211 0,2204 0,2204
Berat air (M
a
) 0,052 0,014 0,7128 0,6390
Kandungan air dalam gas (M
av
) 0,003 0,004 0,0052 0,0097
Berat air menguap (M
ev
) - 0,038 - 0,0738
Berat solid hilang (M
loss
) - 1 - 0,0449
Jumlah 2,1987 1,5766 1,5253 1,5253
14. Perhitungan Neraca Panas
a. Enthalpi udara masuk (H
Gi
)
Untuk kecepatan rendah
Diketahui : T
di
= 36
o
C
H
i
= 0,040 kg uap air/kg udara kering
[1]
H
liquid
= 150,86kJ/kg
H
vapour
= 2567,1 kJ/kg
[1]

i
= H
vapor
H
liquid
= 2567,1 150,86
= 2416,24 kJ/kg
C
s
= 1,005 + 1,88H
[1]
C
si
= 1,005 + (1,88 0,040 )
C
si
= 1,0802 kJ/kg udara kering.K
H
y1 = C
si
(T T
o
) + H.
0
[1]
H
y1 = 1,0802 (36 27) + 0,040 (2416,24)
H
y1 = 106,3714 kJ/kg udara kering
Untuk kecepatan tinggi:
Dari data pengamatan didapatkan:
T
di
= 29,667
o
C
H
i
= 0,014 kg uap air / kg udara kering
Diketahui dari Geankoplis App. A.29 halaman 857:
H
vapor
= 2555,689 kJ/kg
134
H
liquid
= 124,3968 kJ/kg
[1]

i
= H
vapor
H
liquid
= 2555,689 124,3968
= 2431,2922 kJ/kg
C
s
kJ/kg udara kering = 1,005 + 1,88 H
C
si
= [1,005 + 1,88 ( 0,015)]
C
si
= 1,033 kJ/kg udara kering
H
Gi
= C
s
(T T
o
) + H.
0
H
Gi
= 1,033 (29,6667-25) + 0,014 (2431,292)
H
Gi
= 37,643 kJ/kg udara kering
b. Enthalpi udara keluar (H
Go
)
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui : T
do
= 43
o
C
H
o
= 0,058 kg uap air/kg udara kering
(Christie J. Geankoplis, 1997)
Dari Christie J. Geankoplis App. A.29, didapatkan:
H
vapor pada 40 C
= 2574,3 kJ/kg
H
liquid pada 40 C
= 167,57 kJ/kg
H
vapor pada 45 C
= 2583,2 kJ/kg
H
liquid pada 45 C
= 188,45 kJ/kg
H
liquid pada 43 C
= 2579,64 kJ/kg
H
liquid pada 43 C
= 180,098 kJ/kg

i
= H
vapor
H
liquid

= 2579,64 180,098
= 2399,542 kJ/kg
C
so
= 1,005 + 1,88 H
[1]
C
so
= 1,005 + (1,88 0,058)
C
so
= 1,1140 kJ/kg udara kering
H
y2 = C
so
(T T
o
) + H.
o
[1]

H
y2 = 1,1140 (43 27) + 0,058 (2399,542)
H
y2 = 156,9974 kJ/kg udara kering
135
Untuk kecepatan tinggi:
Dari data pengamatan didapatkan:
T
do
= 32,8889
o
C
H
o
= 0,018 kg uap air / kg udara kering
H
vapor
= 2561,5 kJ/kg
H
liquid
= 137,866 kJ/kg

i
= H
vapor
H
liquid

= 2561,5 137,866
= 2423,634 kJ/kg
C
so
= [1,005 + 1,88 H ]
C
so
= [1,005 + 1,88 (0,018)]
C
so
= 1,039 kJ/kg udara kering
H
Go
= C
s
(T T
o
) + H.
o
H
G2o
= 1,0426 (32,889 25) + 0,018 (2423,634)
H
Go
= 51,822 kJ/kg udara kering
c. Enthalpi feed masuk
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui : T feed = 27
o
C = 300,15 K
C
p
pasir = 0,191 kal/g.
o
C = 0,7997 kJ/kg. K
[3]
Dari Christie J. Geankoplis App. A.25, didapatkan:
C
p
air pada 298,15

K = 4,182 kJ/kg.K
C
p
air pada 303,15

K = 4,181 kJ/kg.K
Cp air pada 300,15K = 4,1816 kJ/kg
H
f
= C
p
pasir (T
f
T
0
) + M
f
C
p
air (T
f
T
0
)
H
f
= 0,7997 (300,15 273,15) + 4,1816 (300,15 273,15)
H
f
= 158,7241 kJ/kg solid kering
Untuk kecepatan tinggi:
Diketahui data percobaan:
T feed masuk = 28
o
C = 301,15 K
C
p
pasir = 0,191 kal/g.
o
C = 0,7991 kJ/kg
[3]
C
p
air = 4,1814 kJ/kg.K
[1]

136
H
f
= C
p
pasir (T
f
T
0
) + M
f
C
p
air (T
f
T
0
)
H
f
= 0,7991 (301,15 273,15) + 0,026694,1814 (301,15 273,15)
= 25,500 kJ/kg solid kering
d. Enthalpi produk (H
p
)
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui : T produk = 38,5
o
C = 311,65 K
C
p
pasir = 0,191 kal/g.
o
C= 0,7997 kJ/kg K
[3]
Dari Christie J. Geankoplis App. A.25, didapatkan:
C
p
air pada 313,15
o
C = 4,181 kJ/kg.K
C
p
air pada 323,15
o
C = 4,183 kJ/kg.K
Cp air pada 311,65 K = 4,1807 kJ/kg
H
p
= C
p
pasir (T
p
T
0
) + M
p
C
p
air (T
p
T
0
)
H
p
= 0,7997 (311,65 273,15) + 4,1807 (311,65 273,15)
H
p
= 240,0164 kJ/kg solid kering
Yntuk kecepatan tinggi:
Diketahui:
T produk keluar = 41
o
C = 314,15 K
C
p
pasir = 0,191 kal/g.
o
C = 0,7991 kJ/kg
C
p
air = 4,1812 kJ/kg.K
H
p
= C
p
pasir (T
f
T
0
) + M
p
C
p
air (T
f
T
0
)
H
p
= 0,7991 (314,15 273,15) + 0,03954,1812 (314,15 273,15)
= 49,535 kJ/kg solid kering
e. Perhitungan panas dari LPG (Q
LPG
)
Untuk kecepatan rendah:
Diketahui : Mol propana = 1,3977.10
-4
kgmol/menit
Mol butana = 1,0603.10
-4
kgmol/menit
1 kkal/gmol = 4,1840.10
3
kJ/kgmol
[1]
Dari App. F, David M. Himmelblau hal. 665 dan 667, didapat:
137
H
c
propana = 2204,0 kJ/gmol = 2204000 kJ/kgmol
H
c
butana = 2878,52 kJ/gmol = 2878520 kJ/kgmol
Maka:
Q propana = mol propana H
c
propana
= 1,3977.10
-4
2204000
= 308,0531 kJ/menit
Q butana = mol butana H
c
butana
= 1,0603.10
-4
2875520
= 304,8914 kJ/menit
Q
LPG
total = Q propana + Q butana
= (308,0531 + 304,8914) kJ/menit
= 612,9445 kJ/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Diketahui :
Mol propana = 1,851 10
-4
kgmol / menit
Mol butana = 1,404 10
-4
kgmol / menit
Dimana 1 kkal / gmol = 4,184.10
3
kJ / kgmol
Dari Lamp. F, Himmelblau hal 225 didapat :
H
c
propana = 2.204,0 kJ/g.mol x 1.000 g/L.kg
= 2.204.000 kJ/kg.mol
H
c
butana = 2878,52 kJ/g.mol x 1.000 g/L.kg
= 2.878.520 kJ/kg.mol
Maka:
Q propana = mol propana H
c
propana
= 1,851 10
-4
2.204.000
= 407,9604 kJ/menit
Q butana = mol butana H
c
butana
= 1,404 10
-4
2.875.520
= 403,7230 kJ/menit
Q
LPG
total = Q propana + Q butana
= (407,9604 + 403,7230) kJ/menit
138
= 811,6834 kJ/menit
f. Menghitung panas masuk (Q
m
)
Untuk kecepatan rendah:
Asumsi : Panas masuk 80 %
Q
1
= 80 % Q
LPG
= 0,8 612,9445 kJ/menit
= 490,3556 kJ/menit
Q
in
= Q
1
+ H
y1 M
sf
= 490,3556 kJ/menit + (106,3714 kJ/kg) (0,5869 kg/menit)
= 552,7649 kJ/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Asumsi : panas masuk 70 %
Q
1
= 70 % Q
LPG
= 0,7 811,683 kJ/menit
= 568,178 kJ/menit
Q
in
= Q
1
+ H
Gi
M
sf
= 568,178 kJ/menit + (37,643 kJ/kg) (1,932 kg/menit)
= 640,919 kJ/menit
g. Menghitung panas keluar (Q
out
)
Untuk kecepatan rendah:
Q
out
= (M
sp
H
p
) + (M
uk
H
y2)
= (0,5375 240,0164) + (0,2204 156,9974)
= 163,6110 kJ/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Q
out
= (M
sp
H
p
) + (M
uk
H
Go
)
= (0,354 39,535) + (0,21151,822)
= 24,959 kJ/menit
h. Menghitung panas yang hilang (Q
loss
)
Untuk kecepatan rendah:
139
Q
loss
= 15 % Q
in
= 0,15 552,7649 kJ/menit
= 82,9147 kJ/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Q
loss
= Q
in
Q
out
= 640,919 24,959
= 615,960 kJ/menit
i. Menghitung panas penguapan (Q
ev
)
Untuk kecepatan rendah:
Q
ev
= M
ev
. + M
ev
. C
p
air (T
p
T
f
)
Q
ev
= [(0,0738) (2416,24)] + [(0,0738) ( ) (311,65 300,15)]
= 181,8674 kJ/menit
Untuk kecepatan tinggi:
Q
ev
= M
ev
. + M
ev
. C
p
air (T
p
T
f
)
Q
ev
= (0,0382431,292) + (0,0384,1814)(314,15 301,15)]
= 93,450 J/menit
15. Menghitung efisiensi rotary dryer
Untuk kecepatan rendah:
Efisiensi thermal =
% 100
Q
Q
1
LPG
loss

,
_

=
% 100
6129445
82,9147
1
,
_

= 86,472%
Efisiensi drying =
100%
Q
Q
1
LPG thermal
ev

,
_

140
[5]
=

100%
683 , 612 8647 , 0
181,8674
1
,
_

= 65,686%
Untuk kecepatan tinggi:
Efisiensi thermal =
% 100
Q
Q
1
LPG
loss

,
_

=
% 100
683 , 811
211 , 1007
1
,
_

= 24,113 %
Efisiensi drying =
100%
Q
Q
1
LPG thermal
ev

,
_

=
100%
(811,683) (0,240891)
12,7762
1

,
_

= 52,254 %
16. Menghitung waktu tinggal
Untuk kecepatan rendah:
() =
D (N) S
Z 0,35
0,9


Dimana:
Z = panjang rotary dryer = 400 cm = 4 m
S = slope = 0,22
N = 8 rpm
D = diameter rotary dryer = 0,32 m
Maka:
() =
(0,35) (6) (0,022)
(4) (0,35)
0,9


141
[5]
= 36,249
Untuk kecepatan tinggi:
() =
D (N) S
Z 0,35
0,9


Dimana :
Z = panjang rotary dryer = 400 cm = 4 m
S = slope = 0,022
N = 8 rpm
D = diameter rotary dryer = 0,35 m
Maka :
() =
(0,35) (8) (0,022)
(4) (0,35)
0,9

() = 27,9805 menit
BAB III
PEMBAHASAN
142
1. Hubungan antara nomor termometer dengan temperatur di sepanjang
Rotary Dryer
Secara teoritis hubungan antara nomor termometer dengan temperatur di
sepanjang Rotary Dryer adalah berbanding terbalik, hal ini disebabkan karena
semakin tinggi nomor temperatur semakin jauh jaraknya dari pemanas
sehingga temperaturnya semakin turun. Pada percobaan didapatkan hasil yang
sesuai dengan teori, hal ini dapat dilihat pada grafik 2.8.1. dan 2.8.2. Pada
percobaan ini termometer nomor 6 digunakan sebagai acuan untuk suhu
awalnya. Hal ini dikarenakan adanya pertemuan aliran panas antara direct dan
indirect dryer sehingga mengakibatkan aliran counter current yang
mengakibatkan adanya udara panas yang dihisap oleh blower penghisap ke
arah cyclone dengan pemasukan feed dari arah yang berlawanan.
2. Hubungan antara waktu tinggal dengan efisiensi termal.
Effisiensi termal dirumuskan sebagai berikut:
100%
Q
Q
1
LPG
loss
termal

,
_


100%
Q
Q - Q
1
LPG
out in
termal

,
_


Secara teoritis hubungan antara waktu tinggal dengan efisiensi termal adalah
berbanding lurus. Semakin lama waktu tinggal feed di dalam rotary dryer
maka efisiensi termalnya semakin besar. Dalam grafik 2.8.3. dapat dilihat
bahwa hubungan antara waktu tinggal dengan efesiensi termal adalah
berbanding lurus. Sehingga hasil praktikum sesuai dengan teori.
3. Hubungan antara waktu tinggal dengan efisiensi drying.
Secara teoritis hubungan antara waktu tinggal dengan efisiensi drying adalah
berbanding lurus. Semakin lama waktu tinggal feed di dalam rotary dryer
maka efisiensi dryingnya semakin besar. Hal ini dapat dilihat pada grafik 2.8.4
bahwa hubungan antara waktu tinggal dengan efesiensi drying adalah
berbanding lurus sehingga hasil praktikum sesuai dengan teori yang ada.
143
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
144
4.1. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dan hasil perhitungan yang diperoleh dapat
disimpulkan :
1. Semakin tinggi nomor termometer, semakin jauh jaraknya dari pemanas
sehingga semakin kecil temperaturnya.
2. Semakin lama waktu tinggal feed dalam Rotary Dryer maka efisiensi
termalnya semakin besar. Semakin cepat putaran Rotary Dryer maka laju feed
dalam silinder semakin cepat.
3. Semakin lama waktu tinggal maka efisiensi dryingnya semakin besar. Hal
ini disebabkan karena semakin banyak air yang teruapkan dan semakin banyak
pula panas yang menguap.
4.2. Saran
1. Untuk mengurangi panas yang hilang, Shell Rotary Dyer dapat diberi
isolasi yang memiliki daya hantar yang kecil.
2. Sebaiknya diberi wadah penampung pasir yang lebih besar dan lebih
banyak sehingga tidak ada pasir yang berjatuhan yang dapat menyebabkan
perhitungan neraca massa menjadi tidak akurat.
3. Hendaknya sebelum digunakan, Rotary Dryer sudah dalam keadaan bersih
tanpa ada sisa produk pada alat yang berasal dari percobaan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Geankoplis, J. Christie, (1997), Tarnsport Processes And Unit
Operation, 3
th
Edition, Prentice-Hall, Inc., Engle Wood Cliffs, N.J., USA
145
2. Himelblau, D.M. (1992), Basic Principle An Calcilations in Chemical
Enginering, 5
th
Edition Prentice-Hall, Inc., New York
3. Hougen, A. Olaf, (1976), Chemical Process Principles, 2
nd
Edition
4. Robert E Triebel, (1981), Mass Transfer Operation, 3
th
Edition. Singapore
5. Vannes, H.C, Smith J.M, and Abbot M.M, (1996), Introduction To
Chemical Engineering Thermodynamic 5
th
Edition, McGraw Hill Book
Company Inc., Singapore
DAFTAR NOTASI
Mf : Moisture Content feed
Mp : Moisture Content produk
146
mf : Laju feed (kg/menit)
mp : Laju produk (kg/menit)
Msi : Berat solid kering masuk
Msp : Berat solid kering keluar
Maf : Kandungan air dalam feed
Mev : Berat air teruapkan
Muk : Berat udara kering
Magi : Kandungan air dalam gas masuk
Mago : Kandungan air dalam gas keluar
Hi : Humidity gas masuk
Ho : Humidity gas keluar
Hf : Entalpi feed masuk
Hp : Entalpi feed keluar
Hm : Entalpi gas masuk
Hk : Entalpi gas keluar
Hc : Entalpi standart
Qin : Panas yang masuk
Qout : panas yang keluar
Qlpg : Panas LPG
Qc : Panas standart
Qloss : Panas yang hilang
Tdi : Temperatur dry bulb pada saat awal
Tdi : Temperatur dry bulb pada saat steady state
S : Slope
N : Putaran rotary dryer
K : Konstanta
Z : Panjang rotary dryer

: Waktu tinggal
Th : Efisiensi termal
Dr : Efisiensi drying
: Densitas
147
148