Anda di halaman 1dari 25

MODUL ETIKA MPKT Ditulis oleh; Fristian Hadinata M.Hum dan LG. Saraswati Putri M.

Hum

1. Perbedaan Etika dan Moralitas Ada dua kata yang seringkali rancu penggunaanya, yaitu etika dan moralitas. Etika dan moralitas memang dua kata berhubungan erat dan seringkali orang mengunakan dua kata tersebut secara bergantian, tetapi tidak tepat (Graham, 2010, 1). Kita dapat memahami perbedaan antara dua kata tersebut dengan cara yang lebih baik, jika kita mencoba untuk memahami apa makna dua kata tersebut dari interpretasi yang paling dasar.

Gambar 1 Perbedaan Etika dan Moralitas

Secara etimologis, istilah etika berasal dari kata Yunani " thikos" yang bearti "adat", "kebiasaan", atau "watak" (Pritchard, 2012, 1). Dalam perkembangannya, etika mengacu kepada seperangkat aturan-aturan, prinsip-prinsip atau cara berpikir yang menuntun tindakan dari suatu kelompok tertentu. Akan tetapi, kata etika spesifik mengacu kepada studi sistematis dan filosofis tentang bagaimana kita seharusnya bertindak (Borchert, 2006, 279). Dalam pengertian yang terakhir ini, etika adalah cabang ilmu filsafat yang menyelidiki suatu sistem prinsip moral dan berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan radikal seperti:

Apa artinya baik? Apa itu keputusan moral? Apakah moral itu subjektif atau objektif? Bagaimana menjalani kehidupan yang baik?

Tidak heran jika etika disebut juga filsafat atas moral. Etika punya fokus tentang bagaimana kita mendefinisikan sesuatu itu baik atau tidak. Dalam rangka untuk melihat perilaku yang dapat diterima atau tidak dalam situasi tertentu, maka perilaku etis didefinisikan.

Lain halnya dengan moralitas berasal dari kata Latin "moralis" yang berarti "tata cara", "karakter", atau "perilaku yang tepat" (Pritchard, 2012, 1). Secara terminologis moralitas sering kali dirujuk sebagai diferensiasi dari keputusan dan tindakan antara yang baik atau yang tidak baik. Moralitas mengacu pada nilai baik atau tidak baik yang disepakati dan diadopsi dalam suatu lingkungan tertentu (Borchert, 2006, 280). Moralitas biasanya didefinisikan melalui otoritas tertentu. Artinya, moralitas lebih dipahami sebagai suatu keyakinan untuk menjalani hidup yang baik. Karena itu sistem moralitas seringkali sangat bergantung dengan komutitasnya, misalnya agama atau budaya tertentu. Lebih lanjut, konsep tentang moral bisa berubah dari waktu ke waktu dan mengambil makna baru.

Moralitas sangat berhubungan dengan etika karena hal itu adalah objek kajiannya. Etika adalah suatu abstraksi dalam memahami atau mendefinisikan moral dengan melakukan refleksi atasnya. Etika membahas persoalan moral pada situasi tertentu dengan pendekatan tertentu pula. Sedang moralitas tergantung pada pilihan individu, keyakinan atau agama dalam menentukan hal yang benar atau salah, baik atau buruk.

Ada asumsi penting terkait masalah penjelasan moral tentang tanggung jawab etis. Asumsi tersebut di dalam etika, yaitu pentingnya kehendak bebas di dalam

pertanggungjawaban etis (Sidgwick, 2004, 10), sedang dalam soal moralitas hal ini biasanya tidak terlalu dipentingkan. Jika pengandaian tentang kehendak bebas tidak ada maka pertanggungjawaban etis tidak bisa diajukan. Hal ini karenakan apa yang dilakukan seseorang tidak lebih dari sesuatu yang dikontrol. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa diminta pertanggung jawaban etis ketika seseorang itu tidk punya kehendak bebas --seperti yang boneka yang dikontrol seorang dalang. Asumsi seperti ini yang menjadi kajian-kajian etika.

2. Klasifikasi Etika Etika bisa dibagi menjadi berberapa bidang sebagai berikut:

Gambar 2 Pembagian Bidang Etika

Jika kita sederhanakan maka akan menjadi sebagai berikut:

Gambar 3 Empat Bidang Etika Utama

2. 1. Etika Normatif Etika normatif merupakan cabang etika yang penyelidikannya terkait dengan pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak secara etis. Dengan kata lain, etika normatif adalah sebuah studi tindakan atau keputusan etis. Di samping itu, etika normatif berhubungan dengan pertimbanganpertimbangan tentang apa saja kriteria-kriteria yang harus dijalankan agar sautu tindakan atau kepusan itu menjadi baik (Kagan, 1997, 2).

Dalam etika normatif ini muncul teori-teori etika, misalnya etika utilitarianisme, etika deontologis, etika kebajikan dan lain-lain. Suatu teori etika dipahami bahwa hal tersebut mengajukan suatu kriteria tertentu tentang bagaimana sesorang harus bertindak dalam situasi-situasi etis (Williams, 2006, 72). Dalam pengajukan kriteria norma tersebut, teori etika akan memberikan semacam pernyataan yang secara normatif mengandung makna seperti "Fulan seharusnya melakukan X" atau "Fulan seharusnya tidak melakukan X".

Harus dipahami bahwa setiap teori etika didasarkan pada sebuah kriteria tertentu tentang apa yang etis untuk dilakukan. Kriteria ini disusun berdasarkan prioritas, di

mana dari kriteria umum bisa diturunkan menjadi prinsip-prinsip etis yang lebih konkret. Dengan begitu, suatu tindakan dapat disebut etis jika ada kondisi-kondisi tertentu yang memenuhi prinsip-prinsip etis yang diturunkan dari kriteria umum dalam sebuh teori etika normatif tersebut.

Misalnya pada teori etika utilitarian, kriteria umum itu adalah suatu tindakan dianggap benar atau baik jika menghasilkan utilitas paling besar bagi semua orang yang terpengaruh oleh tindakan atau keputusan tersebut, termasuk orang yang melakukan tindakan. Lain halnya dengan teori etika deontologis Kant yang punya kriteria umum sebagai berikut: "Bertindaklah seolah-olah maksim tindakan Anda melalui keinginan Anda sendiri dapat menjadi sebuah Hukum Alam yang Universal" (Tnnsj, 2008, 56-58).

2. 2. Etika Terapan Etika terapan merupakan sebuah penerapan teori-teori etika secara lebih spesifik kepada topik-topik kontroversial baik pada domain privat atau publik seperti perang, hak-hak binatang, hukuman mati dan lain-lain. Etika terapan ini bisa dibagi menjadi etika profesi, etika bisnis dan etika lingkungan. Secara umum ada dua fitur yang diperlukan supaya sebuah permasalahan dapat dianggap sebagai masalah etika terapan.

Pertama, permasalahan tersebut harus kontroversial dalam arti bahwa ada kelompokkelompok yang saling berhadapan terkait dengan permasalahan moral. Masalah pembunuhan, misalnya tidak menjadi masalah etika terapan karena semua orang setuju bahwa praktik tersebut memang dinilai tidak bermoral. Sebaliknya, isu kontrol senjata akan menjadi masalah etika terapan karena ada kelompok yang mendukung dan kelompok yang menolak terhadap isu kontrol senjata.

Kedua, sebuah permasalahan menjadi permasalahan etika terapan ketika hal itu punya dimensi dilema etis. Meskipun ada masalah yang kontroversial dan memiliki dampak penting terhadap masyarakat, hal itu belum tentu menjadi permasalahan etika terapan. Kebanyakan masalah yang kontroversial di masyarakat adalah masalah kebijakan sosial. Tujuan dari kebijakan sosial adalah untuk membantu suatu masyarakat tertentu berjalan secara efisien yang dilegitimasinya disandarkan pada konvensi tertentu, seperti undang-undang, peraturan-peraturan dan lain-lain (Debashis, 2007, 28-30).

Berbeda dengan permasalahan etis yang lebih bersifat universal, seperti kewajiban untuk tidak berbohong, dan tidak terbatas pada suatu masyarakat tertentu saja. Seringkali memang isu-isu kebijakan sosial tumpang tindih dengan isu-isu moralitas. Namun, dua kelompok isu tersebut bisa dibedakan dengan mengunakan kedua pendekatan yang dilakukan di atas.

Dengan begitu bisa dimengerti bahwa istilah etika terapan digunakan untuk menggambarkan upaya untuk menggunakan metode filosofis mengidentifikasi apa saja yang benar secara moral terkait dengan tindakan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya, bioetika yang berhubungan dengan mengidentifikasi pendekatan yang benar untuk persoalan-persoalan seperti euthanasia, penggunaan embrio manusia dalam penelitian dan lain-lain.

2.3. Etika Deskriptif Etika deskriptif merupakan sebuah studi tentang apa yang dianggap 'etis' oleh individu atau masyarakat. Dengan begitu, etika deskriptif bukan sebuah etika yang mempunyai hubungan langsung dengan filsafat tetapi merupakan sebuah bentuk studi empiris terkait dengan perilaku-perilaku individual atau kelompok. Tidak heran jika etika deskriptif juga dikenal sebagai sebuah etika komparatif yang membandingkan antara apa yang dianggap etis oleh satu individu atau masyarakat dengan individu atau masyarakat yang lain serta perbandingan antara etika di masa lalu dengan masa

sekarang. Tujuan dari etika deskriptif adalah untuk menggambarkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai bernilai etis serta apa kriteria etis yang digunakan untuk menyebut seseorang itu etis atau tidak (Kitchener, 2000, 3).

Penyelidikan etka deskriptif juga melibatkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai sesuatu yang ideal. Artinya, kajian ini melihat apa yang bernilai etis dalam diri seseorang atau masyarakat merupakan bagian dari suatu kultur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Akan tetapi, etika deskriptif juga memberikan gambaran tentang mengapa satu prinsip etika bisa ditinggalkan oleh genarasi berikutnya.

Oleh karena itu, etika deskriptif melibatkan stud-studi empris seperti psikologi, sosiologi dan antropologi untuk memberikan suatu gambaran utuh. Di sini antropologi dan sosiologi mampu memberikan segala macam informasi mengenai bagaimana masyarakat di masa lalu dan sekarang menciptakan standar moral dan bagaimana masyarakat itu ingin orang bertindak. Sedang, psikologi bisa melakukan sebuah studi tentang bagaimana seseorang punya kesadaran tentang apa itu baik dan buruk serta bagaimana seseorang membuat keputusan moral dalam situas nyata dan situasi hipotetis (Kitchener, 2000, 3).

Akan tetapi, etika deskriptif bisa digunakan dalam argumentasi filosofis terkait dengan masalah etis tertentu. Observasi yang dilakukan oleh ilmu-ilmu empiris dalam etika deskripsi seringkali menjadi argumen untuk relativisme etis. Beragamnya fenomena dan perilaku etis di antarbudaya memberikan pemahaman bahwa apa yang baik dan buruk tidaklah absolut, tetapi relatif. Dalam konteks ini, moralitas dianggap relatif pada tingkat antarbudaya. Hal ini juga memberikan pemahaman bahwa moralitas merupakan sebuah konstruksi sosial sehingga sangat tergantung kepada subjek etis dalan lingkungannya. Ringkasnya, etika deskriptif mempertanyakan dua hal berikut:

1. Apa yang seseorang atau masyarakat klaim sebagai "baik"? 2. Bagaimana orang bertindak secara nyata ketika berhadapan dengan masalahmasalah etis?

2. 4. Metaetika Metaetika berhubungan dengan sifat penilaian moral. Fokus dari metaetika adala arti atau makna dari pernyataan-pernyataan yang ada di dalam etika. Dengan kata lain, metaetika merupakan kajian tingkat kedua dari etika. Artinya, pertanyaan yang diajukan dalam metaetika adalah apa makna jika kita berkata bahwa sesuatu itu baik?

Metaetika juga bisa dimengerti sebagai sebuah cara untuk melihat fungsi-fungsi pernyataan-pernyataan etika, dalam arti bagaimana kita mengerti apa yang dirujuk dari pernyataan-pernyataan tersebut dan bagaimana pernyataan itu didemonstrasikan sebagai sesuatu yang bermakna.

Perkembangan metaetika awalnya merupakan jawaban atas tantangan dari Positivisme Logis yang berkembang pada abad 20-an (Lee, 1986, 8). Kalangan pendukung Positivisme Logis berpendapat bahwa jika tidak bisa memberikan bukti yang menunjukkan sebuah pernyataan itu benar, maka pernyataan itu tidak bermakna. Ketika prinsip dari Positivisme Logis juga diujikan kepada pernyataan-pernyataan etis, maka pernyataan-pernyataan itu harus berdasarkan bukti. Ringkasnya, jika tidak ada bukti, maka tidak ada makna.

Di sini kata kuncinya adalah apa yang dikenal dengan " naturalistic fallacy", yaitu dianggap akan melakukan kesalahan jika kita menarik suatu pernyataan tentang apa yang seharusnya dari pernyataan tentang apa yang ada. Kesulitan dari bahasa etika adalah penyataan-pernyataannya tidak selalu berupa fakta. Disinilah peran sentral dari metaetika yang mengembangkan berbagai cara untuk menjelaskan apa yang dimaksud

dengan bahasa etika dengan intensi bahwa pernyataan-pernyataan etis punya makna. Dalam pembahasan ini metaetika biasanya terbagi menjadi dua, yaitu realisme etis dan nonrealisme etis.

3. Realisme Etis dan Non-Realisme Etis Ada satu persoalan penting di dalam etika, yaitu pernyataan etika itu objektif atau hal itu bergantung kepada subjek etika itu sendiri. Persoalan ini menghasilkan dua aliran besar terkait dengan cara melihat pernyataan etika atau kualitas etis tersebut, yaitu realisme etis dan nonrealisme etis (Callcut, 2009, 46).

3.1. Realisme Etis Gagasan realisme etis berpusat pada manusia menemukan kebenaran etis yang memiliki eksistensi independen di luar dirinya. Konsekuensinya, realisme etis ini mengajarkan bahwa kualitas etis atau tidak ada secara independen dari manusia dan pernyataan etis memberikan pengetahuan tentang dunia objektif. Dengan kata lain, properti etis terlepas dari apa yang orang pikirkan atau rasakan. Hal ini disebut dengan fakta etis tentang fakta sebuah tindakan. Artinya, jika seseorang mengatakan bahwa tindakan tertentu salah, maka hal itu adalah kualitasnya yang salah dan itu harus ada di sana dan bersifat independen.

Apa yang diungkapkan di atas biasanya dikenal juga dengan istilah absolutisme etis. Gagasannya bersandar pada adanya aturan-aturan universal yang tidak berubah dan berlaku setiap bagi semua orang. Absolutisme etis berpendapat bahwa ada beberapa aturan moral yang selalu benar dan aturan-aturan tersebut dapat ditemukan serta berlaku untuk semua orang. Dengan kata lain, tindakan tidak etis atau tindakan yang melanggar aturan-aturan yang ditemukan itu berkualitas salah di dalamnya sendiri, terlepas dari keadaan atau konsekuensi dari tindakan-tindakan itu sendiri.

Absolutisme etis mengambil pandangan kemanusiaan universal dan berkeyakinan bahwa ada satu perangkat aturan untuk semua orang, misalnya seperti Deklarasi Hak Asasi Manusia.

Masalah bagi etika realis adalah manusia mengikuti keyakinan etis yang berbedabeda. Jika memang ada kebenaran etis yang nyata di luar sana, maka manusia seharusnya bisa menemukannya dan punya keyakinan etis yang sama. Artinya, realisme etis dalam bentuk absolutisme etis tidak sesuai dengan keragaman budaya dan tradisi. Di samping keberatan itu, absolutisme moral yang tidak memperhitungkan konsekuensi dari suatu tindakan atau keadaan etis untuk menghasilkan fakta etis. Padahal konsekuensi dan keadaan etis itu sangat relevan dengan dengan kategori tindakan itu baik atau buruk.

3.2. Nonrealisme Etis

Keberatan terhadap realisme etis di atas menimbulkan cara melihat persoalan etis yang disebut dengan nonrealisme etis. Gagasan utama dari nonrealisme etis adalah manusia yang menciptakan kebenaran etis (Callcut, 2009, 46). Nonrealisme etis ini sangat terkait dengan relativisme etis. Relativisme etis yang mengatakan bahwa jika Anda melihat budaya yang berbeda atau melihat periode yang berbeda dalam sejarah, Anda akan menemukan bahwa hal itu memiliki aturan etis yang berbeda pula. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengatakan bahwa apa yang "baik" mengacu pada kelompok tertentu di mana orang-orang menyetujuinya menjadi sesuatu yang "baik" (Williams, 2006, 157). Dengan kata lain, relativisme menghormati keragaman budaya dan tindakan manusia yang berbeda pula dalam cara merespon situasi yang berbeda.

Akan tetapi, ada persoalan juga di dalam relativisme etis. Diantaranya adalah kita merasa bahwa aturan etis memiliki nilai kualitas yang lebih tinggi daripada sekedar

kesepekatan umum dari sekelompok orang. Terkadang kita berpikir bahwa kita bisa menjadi "baik tanpa sesuai dengan semua aturan masyarakat. Misalnya, keputusan untuk menjadi seorang vegetarian terkait dengan hak-hak hewan dinilai "baik", walau masyarakata melihat hal itu bukanlah suatu perkara yang terkait dengan masalah etis, bahkan memakan daging dianjurkan.

Lebih jauh, relativisme memiliki masalah dengan persoalan tirani mayoritas. Dalam relativisme etis, jika kebanyakan orang dalam suatu masyarakat setuju dengan aturan tertentu, itulah akhir dari masalah etis. Apa yang diabaikan dari relativisme etis adalah banyaknya perbaikjan yang terjadi di dunia dikarenakan orang menentang pandangan etika yang berlaku --relativisme etis punya kecenderungan untuk menganggap orangorang seperti itu berperilaku "buruk". Persoalan yang paling mendasar dari

relativisme etis adalah setiap pilihan "etis atau tidak" menjadi sewenang-wenang dikarenakan terkait dengan keelompok sosial atau budaya itu sendiri sebagai landasan etika. Artinya, relativisme moral tidak menyediakan cara untuk mengatasi perbedaan moral antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

4. Empat Jenis Penyataan Etika

Pengkajian terhadap permasalahan etis pada dasarnya bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Ketika seseorang mengatakan "pembunuhan itu tidak baik" apa yang dimaksudkannya sesungguhnya? Pertanyaan ini adalah pertanyaan sederhana, tetapi hal ini adalah cara yang sangat berguna untuk mendapatkan gagasan yang jelas tentang apa yang terjadi ketika orang berbicara tentang isu-isu etis.

Kita bisa melihat ketika orang mengucapkan pernyataan "pembunuhan itu tidak baik", orang merujuk pada hal yang berbeda. Perbedaan ini memberikan pendekatan yang

berbeda pula untuk melihat persoalan etis (Johnson dan Reath, 2011, 472). Kita dapat menunjukkan beberapa hal yang berbeda ketika Anda mengatakan 'pembunuhan adalah tidak baik' dengan menulis ulang pernyataan tersebut untuk menunjukkan apa yang benar-benar dimaksud oleh Anda sebagai berikut:

1. Saya mungkin bermaksud membuat pernyataan tentang fakta etis, seperti "pembunuhan itu adalah salah". Hal ini adalah realisme moral. Realisme moral didasarkan pada gagasan bahwa ada fakta-fakta nyata dan objektif terkait masalah etis di alam semesta. Pernyataan etis dinilai memberikan informasi faktual tentang kebenaran. 2. Saya mungkin bermaksud hendak menyatakan tentang perasaan saya sendiri seperti, "saya tidak menyetujui pembunuhan". Hal ini adalah subjektivisme. Subjektivisme mengajarkan bahwa penilaian etis tidak lebih dari pernyataan perasaan atau sikap seseorang. Di sini, pernyataan etis tidak mengandung kebenaran faktual tentang kebaikan atau keburukan. Artinya, Jika seseorang mengatakan sesuatu itu baik atau buruk, apa yang dia maksudkan tidak lebih dari perasaan positif atau negatif yang dia miliki terkait sesuatu itu. Jadi, jika seseorang mengatakan 'pembunuhan adalah tidak baik, apa yang dia apa yang dia maksud adalah dia tidak menyetujui pembunuhan. Dalam konteks ini, pernyataan dinilai benar jika orang tersebut memegang sikap yang tepat atau memiliki perasaan yang tepat seperti yang diungkapkannya. Dengan kata lain, pernyataan akan salah, jika ternyata orang tesebut tidak memiliki perasaan tersebut. 3. Saya mungkin bermaksud untuk mengekspresikan perasaan saya saja "tidak ada kompromi dengan pembunuhan". Hal ini adalah emotivisme. Emotivisme adalah pandangan bahwa klaim moral adalah tidak lebih dari ekspresi persetujuan atau ketidaksetujuan. Hal ini seperti subjektivisme, tetapi dalam emotivisme pernyataan moral tidak memberikan informasi tentang perasaan pembicara tentang topik tetapi ungkapan perasaan itu sendiri. Ketika sebuah emotivis mengatakan "pembunuhan adalah salah" apa yang dimaksud seperti mengatakan "tidak ada kompromi pembunuhan" atau hanya

mengekspresikan wajah ngeri ketika mendengar kata "pembunuhan" dan lainlain. Dengan kata lain, jika dilihat dari emotivisme ketika seseorang membuat penilaian moral apa yang ditunjukkan adalah perasaan tentang sesuatu. 4. Saya mungkin bermaksud ingin memberikan instruksi atau larangan, seperti "jangan melakukan pembunuhan". Hal ini adalah preskriptivisme. Gagasan preskriptivisme berfokus pada pernyataan etis adalah petunjuk atau rekomendasi. Jadi jika saya mengatakan sesuatu itu baik, artinya saya merekomendasikan kepada Anda untuk melakukannya. Sedang, jika saya mengatakan sesuatu itu buruk, apa yang saya katakan sebenarnya adalah Anda jangan melakukannya. Hampir selalu ada unsur preskriptif dalam suatu pernyataan etis. Misalnya, "menghina itu tindakan yang buruk" dapat ditulis sebagai "orang tidak boleh menghina".

5. Kegunaan Etika Etika sebenarnya tidak secara langsung mengharuskan orang mengikuti hasil analisisnya. Hal ini dikarenakan etika sebagai bagian dari filsafat menekankan jika seseorang menyadari bahwa secara etis lebih baik untuk melakukan sesuatu, maka akan menjadi tidak rasional untuk orang tidak melakukannya. Artinya tidak ada intensi dari etika untuk menekan orang untuk melakukan suatu tindakan atau keputusan etis sesuai dengan pedoman-pedoman tertentu. Akan tetapi, ada kegunaan dari etika dapat dirumuskan. Etika menyediakan alat-alat analisis untuk berpikir tentang isu-isu moral. Dalam konteks ini etika dapat menyediakan sebuah gambaran utuh dan lebih mengedepankan rasionalitas ketika berhadapan dengan isu-isu tersebut. Memnag sebagian besar masalah moral yang sering terjadi melibatkan persoalan emosional. Dalam situasi seperti itu, kita sering membiarkan perasaan-perasaan yang menentukan keputasan moral kita, sedang nalar kita hanya mengikuti arus perasan-perasaan tersebut. Di sinilah peran etika, yaitu menawarkan suatu prinsip-prinsip yang memungkinkan kita untuk mengambil pandangan yang lebih jernih dalam melihat isu-

isu moral. Dengan kata lain, etika memberikan sebuah peta moral atau kerangka berpikir yang bisa digunakan untuk menemukan jalan keluar dari masalah-masalah moral yang sulit. Di satu sisi, melalui menggunakan kerangka etika, dua orang yang saling berdebat mengenai masalah moral dapat menemukan apa yang mereka tidak sepakat tentang sesuatu, bisa menyadari bahwa mereka hanyalah tidak sepakat pada salah satu bagian tertentu dari masalah tersebut. Artinya kedua orang tersebut secara umum setuju pada sesuatu yang lain yang lebih luas mengenai masalah moral tersebut. Di sisi lain, ada ekspektasi tersedianya jawaban yang benar dan tunggal untuk satu pertanyaan etis. Bahkan ketika kita tidak bisa mengetahui apa yang benar, kita tetap menyukai gagasan bahwa untuk satu masalah etis, ada satu jawaban yang tepat. Akan tetapi, sering tidak ada satu jawaban yang benar. Apa yang ditawarkan etika biasanya adalah beberapa jawaban yang tepat, atau hanya beberapa jawaban sedikit lebih baik daripada jawaban yang lain. Setidaknya, seseorang dapat memilih antara jawabanjawaban tersebut. Memang harus dimengerti bahwa etika tidak selalu memberi jawaban yang tepat untuk masalah moral. Hal ini karenakan masalah-masalah moral, seringkali tidak ada jawaban yang tunggal. Dalam hal ini, seperangkat prinsip etika hanya dapat diterapkan untuk kasus-kasus tertentu saja. Akan tetapi pada dasarnya semua jenis prinsip-prinsip etika dapat menghilangkan kebingungan dan memperjelas masalah. Hal ini dikarenkan persoalan moral sangat sulit dan komplek (Hinman, 2012, 1-6). Persoalan etis sangat sulit dikarenakan hal itu memaksa kita untuk mengambil tanggung jawab atas pilihan dan tindakan kita sendiri daripada langsung kembali pada aturan-aturan dan adat istiadat. Satu masalah etika adalah hal itu sering digunakan sebagai senjata. Jika sebuah kelompok percaya bahwa aktivitas tertentu adalah "salah", kemudian dengan prinsip-prinsip etika digunakan sebagai pembenaran untuk menyerang mereka yang melakukan aktivitas tersebut.Akan tetapi, etika bukan soal sekedar mencari pembenaran atas apa yang kita yakin tentang soal benar atau salah dalam suatu tindakan atau keputusan. Etika memberikan pertimbangan untuk yang melampaui kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain etika sangat memperhitungkan bukan

hanya diri sendiri, tetapi juga orang lain. Dalam konteks ini, etika berkaitan dengan kepentingan orang lain secara lebih luas. 6. Immanual Kant dan Etika Kewajiban Dalam karyanya Critique of Practical Reason, Immanuel Kant membahas secara filosofis tentang apa yang dimaksud dengan moral. Prinsip moral dapat muncul dari berbagai sumber, diserap dari nilai-nilai agama, kaidah norma masyarakat, maupun dari hukum yang dibuat oleh negara. Hal-hal ini dapat menjadi referensi bagaimana seseorang bertingkah laku dan membedakan manakah baik dan buruk. Tetapi bagi Immanuel Kant, sikap etis tidak datang dari luar individu tersebut. Mengapa demikian? Ini berkaitan erat dengan era dimana Kant mempopulerkan filsafatnya, ia selalu berkata Sapere Aude! Bila diterjemaahkan, berarti beranilah berpikir secara mandiri, semangat ini tercermin juga didalam filsafatnya. Sapere Aude dalam pengertian Kant mendorong individu bahkan dalam urusan bersikap etis, individu harus dapat memikirkan dan bertindak atas kehendaknya sendiri. Berbicara tentang tindakan etis, tentunya kita membicarakan tentang agen moral itu sendiri. Telah dijelaskan sekilas, bahwa untuk Kant, individu harus memiliki kehendak sendiri untuk berkarakter baik serta bertindak sesuai moral. Namun agen moral yang dibicarakan oleh Kant, darimanakah ia tahu prinsip mana yang harus ia jalankan atau tidak? Tentunya ini tidak semudah bila seseorang mematuhi ajaran agama atau aturan yang sudah ditetapkan masyarakat. Prinsip moral dari Kant mengharuskan adanya kesadaran untuk bersikap etis. Meskipun prinsip moral datang dari rasio praktis individu tersebut sebagai agen moral, Immanuel Kant menekankan bahwa sifat dari prinsip moral itu bukanlah sesuatu yang partikular, karena untuknya ada hukum universal dimana hukum tersebut merupakan muara dari segala tujuan etis. Kant menekankan bahwa prinsip ini bekerja bila setiap orang memperlakukan orang lain dengan prinsip bahwa yang diperbuat secara individual berdampak serta perlu diperhitungkan dalam tataran universal, aku harus melakukan tindakan moral yang dapat diterima sebagai prinsip moral yang universal. Uniknya dari prinsip Kant ini, walaupun tujuan besar dari

sikap moral adalah untuk mencapai kebaikan bersama tetapi tujuan itu dicapai secara kesadaran individual yang memiliki otonomi. Dalam prinsip moral Kant, ia menekankan betapa mendasarnya konsep kewajiban sebagai dasar dari segala perbuatan etis. Konsep kewajiban inilah yang kemudian dikenal sebagai prinsip deontologis, yakni yang menyatakan bahwa suatu tindakan memiliki nilai moral yang baik bila tindakan itu terlepas dari kepentingan individu, dan hanya bertujuan terhadap prinsip kewajiban tersebut, kehendak baik tidak menjadi baik karena apa yang diakibatkan ataupun yang dicapainya,--ataupun kesesuaiannya untuk mencapai suatu tujuan akhir: kehendak baik itu dinyatakan baik karena ia menginginkan kebaikan itu sendiri.1 Pertanyaan yang timbul adalah; darimanakah kita mengetahui perbuatan mana yang memiliki nilai kebaikan yang intrinsik secara universal? Bagi Kant, pengetahuan akan kebaikan itu datang dari rasio praktis kita. Apa yang dimaksud dengan rasio praktis? Rasio praktis adalah kecerdasan yang datang dari individu sebagai agen moral, yakni ketika pemahaman tentang kebaikan dan mampu menyesuaikan pilihan-pilihannya dengan apa yang dipertimbangkan baik secara universal. Tetapi akal tidak cukup bagi suatu perbuatan yang sesuai moral, untuk Kant, akal harus dijalani dengan kehendak, tetapi kehendak ini hanya memusatkan pada kewajiban, tidak pada motif untuk menguntungkan dirinya atau tujuan akhir tertentu. Prinsip moral oleh Kant, tidak lagi menjadi argumen etis, tetapi menjadi keharusan, karena itulah dinyatakan sebagai Imperatif Kategoris. Ada unsur mengikatnya, dan mengharuskan kita untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut. Contoh yang bisa disimak adalah tentang berbohong. Dalam perspektif Kant berbohong adalah suatu tindakan yang melanggar kebaikan, mengapa? Karena berbohong secara umum dapat menyebabkan ketidaknyamanan, berbohong kita ketahui sebagai sesuatu hal yang tidak baik, ini bisa disepakati secara universal menurut Kant. Tetapi problem filosofis yang muncul adalah bagaimana bila berbohong untuk suatu tujuan yang baik, benarkah tindakan tersebut? Dalam prinsip kewajiban, tentunya meskipun berbohong itu untuk suatu hasil akhir yang baik tetap tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang memiliki nilai moral.
1

.lih (ed) John Cottingham, bagian Immanuel Kant, hlm. 382

Hal lain yang disampaikan oleh Kant adalah bagaimana ketika melakukan tindakan etis meski terlepas dari motif individual, hal ini tetaplah dianggap sebagai tindakan yang bernilai moral. Kant memberikan contoh misalnya seseorang yang tidak menyukai kehidupannya, karena kehidupannya sangat menyengsarakan, bila mengikuti keinginannya ia ingin segera mengakhiri kehidupannya, tetapi ia menolak melakukan hal itu karena membunuh diri dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik secara universal. Meski seseorang yang tidak menyukai prinsip-prinsip kewajiban tetapi tetap menjalankannya, bagi Kant tindakan itu memiliki nilai moral. Ini untuk menunjukan bahwa tindakan yang dilakukan individu haruslah datang dari kesadaran akan kewajiban untuk berbuat baik, karena hal ini bukanlah pilihan yang berdasarkan motif atau kesenangan, tetapi atas dasar kewajiban, maka ada penekanan pada keharusan itu. Contoh lainnya adalah perbuatan menolong orang lain, meskipun menolong orang lain adalah tindakan yang baik, bagi Kant, tindakan ini tidak terlalu relevan apakah datang dari rasa belas kasih, maupun empati. Suatu tindakan menolong orang lain haruslah datang dari rasa kewajiban, terlepas dari motif pribadi individu tersebut. Bagi Kant, contoh ini menekankan bahwa prinsip moral dilaksanakan bukan karena prinsip tersebut sesuai dijalankan untuk suatu tujuan akhir semata, tetapi demi kewajiban atas kebaikan itu sendiri. Kewajiban itu sifatnya mengingkat dan terlepas dari kepentingan dari individual tersebut. Etika kewajiban dari Kant mengingatkan kita betapa pentingnya perbuatan moral yang patuh pada suatu prinsip moral bahwa kebaikan tersebut intrinsik adanya. Bahwa suatu tindakan dinyatakan benar atau baik dapat diperiksa oleh rasio praktis kita. Sebagai agen moral yang bebas dan memiliki kecerdasan, Kant menjelaskan bahwa melalui kecerdasaannya manusia dapat mencapai pada pemahaman tentang konsep kebaikan universal. Dimana pemahamannya ini mewajibkannya untuk bersikap etis, dan melakukan tindakan etis tanpa melibatkan perasaan atau memikirkan tentang hasilnya saja, tetapi tegas untuk mematuhi suatu prinsip moral, Kewajiban adalah tindakan yang dilaksanakan atas dasar keharusan yang dilakukan dikarenakan ada rasa hormat terhadap hukum.2
2

Ibid. hlm. 384

7. John Stuart Mill dan Konsep Etika Utilitarian Teori moral dalam filsafat dapat dipahami menjadi dua aliran besar, yang pertama adalah deontologis, seperti yang telah dibahas pada bagian Immanuel Kant, yang kedua adalah kaum konsekuensialis. Apa yang dimaksud dengan etika

konsekuensialis? Pandangan konsekuensialis menyatakan bahwa segala tindakan dianggap bernilai secara moral bila mempertimbangkan hasil akhir dari tindakan tersebut. Tentunya pendekatan konsekuensialis kaum utilitarian sangat bertolak belakang dengan konsep imperatif dari Immanuel Kant. Konsekuensialis justru menegaskan bahwa suatu tindakan itu dapat dinilai baik bila menyebabkan kebahagiaan bagi individu serta orang-orang disekitarnya. Motif terhadap apa yang dianggap menyebabkan kebahagiaan dianggap oleh kaum konsekuensialis menjadi dasar dari suatu perbuatan moral. Adapula tokoh yang mengembangkan paham etis utilitarian adalah John Stuart Mill. Utilitarianisme, dari akar kata utility, yang berarti kegunaan, menganggap bahwa dorongan utama bagi seseorang untuk bersikap etis adalah untuk mencapai kebahagiaan, Kredo yang menerima prinsip moral utility, atau kebahagiaan sebagai fondasi moral meyakini bahwa tindakan dianggap sebagai suatu kebenaran sejauh tindakan itu memproduksi serta mempromosikan kebahagiaan, akan menjadi kesalahan bila berlaku terbalik dari kebahagiaan itu. 3 Cukup jelas dalam pernyataan ini, bahwa apa yang dianggap secara moral baik adalah keadaan yang menimbulkan kebahagiaan. Tetapi seringkali pernyataan kaum utilitarian disalahartikan menjadi pandangan yang secara general memperbolehkan apapun untuk mencapai kebahagian, inilah kritik terutama bagi kaum utilitarian. Mill membantah argumen ini dengan mengatakan bahwa seolah-olah pandangan etis kaum utilitarian terlampau meninggikan kesenangan ragawi semata. Mill menyatakan bahwa pandangan utilitarian tidak sesederhana itu dalam menggunakan kata kebahagiaan. Konsep kebahagiaan sebagai suatu tujuan seseorang sesungguhnya bukanlah murni milik Mill, seorang pemikir Yunani kuno yang bernama Epikurus yang pertama kali mengutarakan gagasan tersebut. Untuk Mill ada perbedaan mendasar antara paham Utility yang ia gagas, dan miliki pendahulunya Epikurus,
3

Ibid. bagian John Stuart Mill, hlm. 388

kelalaian utama dari Epikurus adalah tidak membahas konsep kebahagiaan secara mendetil. Dikemudiannya Mill mengkoreksi pandangan dari Epikurus, dengan menyebutkan bahwa jenis kenikmatan atau kebahagiaan ada yang tinggi dan rendah. Hirarki ini menjadi penting dalam konsep etis kaum utilitarian, karena Mill berupaya menyampaikan bahwa ada tingkatan dalam kebahagiaan, dimana pengejaran etis berurusan dengan kebahagiaan yang bertingkat tinggi, karena itulah kebahagiaan itu memiliki nilai moral. Klarifikasi ini menunjukan bahwa kebahagiaan yang memiliki nilai moral atau yang bertujuan etis bagi Mill adalah jenis kebahagiaan yang utama atau tertinggi, misalnya, kebahagiaan disaat melakukan aktivitas hobi, dengan kebahagiaan yang didapatkan ketika melakukan kebaikan untuk orang lain bertempat di tingkatan yang amat berbeda. Itulah konteks kata kebahagiaan sebagai suatu tujuan etis. Permasalahan yang timbul adalah bila kebahagiaan yang kita tuju sebagai tindakan yang bermoral, harus dilalui dengan sesuatu yang menyengsarakan kita? Bukankah prinsip utility menjadi berkontradiksi? Tentunya problem filosofis ini memberatkan logika dari argumen etis para utilitarian, tetapi Mill menjawab, bahwa selain adanya tingkatan-tingkatan dari kebahagiaan, atau klasifikasi kebahagiaan, tentunya tingkatan ini mengimplikasikan suatu anggapan bahwa tidak semua kebahagiaan itu memuaskan kita secara sempurna. Mill secara gamblang menyatakan bahwa kita harus menyadari bahwa tidak ada kepuasan yang sempurna itu, meskipun demikian kita harus berupaya untuk memaksimalisasikan kebahagiaan. Misalnya dalam satu contoh, ketika seseorang harus mengalami rasa sakit mendonorkan darah demi membantu seorang temannya yang sedang sekarat, tindakan ini pada dasarnya memang menyengsarakannya, tetapi kebahagiaan untuk melihat temannya sembuh, atau untuk menolong temannya memberikan kebahagiaan yang melampaui rasa sakitnya. Contoh ini juga dapat digunakan untuk memahami pandangan etis kaum utilitarian yang sangat berbeda dengan deontologi Kantian. Mill mengkritik bagaimana Kant dengan mudahnya meniadakan peran individu yang memiliki kesadaran untuk bermotif moral. Pada filsafat moral Kant, ia menekankan bahwa individu tidak boleh memiliki kepentingan disaat ia berbuat kebaikan, tujuannya adalah kewajiban terhadap kebaikan itu sendiri. Mill menganggap prinsip deontologi ini sangatlah tidak

realistis, karena mengabaikan aspek kepekaan individu untuk berkendak serta menginginkan kebaikan. Menginginkan kebaikan dalam arti utilitarian adalah keinginan kebaikan tidak saja untuk individu itu sendiri, tetapi mencakup orang-orang yang mungkin mendapatkan dampak dari perbuatan itu. Atas alasan inilah Mill menekankan niat baik serta pertimbangan kebahagiaan untuk sebanyak mungkin orang-orang. Prinsip etis utilitarian ini untuk mengenyahkan anggapan bahwa bila prinsip terutama manusia adalah kebahagiaan maka ia hanya akan melakukan sesuatu hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, sebaliknya karena ia menyadari bahwa kebahagiaan itu untuk kebahagiaan semuanya, maka ia terdorong untuk bersikap etis. Mengapa motif menjadi sedemikian penting untuk kaum utilitarian? Mill menjelaskan bahwa hanya ketika seseorang berkeinginan untuk bertindak etis maka ia dapat mempertanggung jawabkan pilihan yang telah ia lakukan. Ia tidak dapat mengelak dengan mengatakan bahwa, ia hanya menjalankan suatu perintah, atau ia hanya mengikuti hukum tanpa memikirkan akibatnya. Motif dan konsekuensi menjadi dua hal yang sangat penting dalam prinsip etis utilitarian, karena seseorang bermotif untuk berbuat baik, maka ia diharuskan untuk mempertimbangkan hasil akhir dari pilihan yang akan ia ambil. Penjelasan dari John Stuart Mill memberikan kita perspektif yang berbeda tentang suatu tindakan moral. Bila pandangan yang mendominasi adalah pandangan yang mengatakan bahwa prinsip moral itu didasari atas kewajiban, Mill mengkritik dengan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan dari kita bertindak yang bernilai moral. Sebagai konsekuensialis, Mill menjelaskan bahwa dalam melakukan apapun kita terpaut dengan hasil akhir dari suatu pilihan, dan bagi kaum utilitarian, konsekuensi yang dipikirkan adalah bagaimana multiplikasi suatu kebahagiaan, dan menghindari kesengsaraan. Seperti yang telah ditekankan oleh Mill, kebijaksanaan yang utama serta memiliki nilai moral adalah mengejar kebahagiaan, Dengan demikian, meningkatkan kebahagiaan, menurut etika utilitarian, merupakan objek dari kebijaksanaan 4

Ibid. hlm. 390

8. W.D Ross; Intuisi dan Kewajiban Telah dibahas dua aliran besar dalam filsafat moral, yakni pandangan deontologi dengan pandangan konsekuensialis. Dalam bagian ini akan dibahas tentang bagaimana pandangan moral intuitif dari seorang etikus bernama W.D Ross. Bila Kant menegaskan bahwa rasio praktis memungkinkan kita memisahkan mana kebaikan dan mana keburukan, atau maxim kewajiban yang harus kita lakukan, dalam pandangan Ross, ia menggunakan penjelasan intuisi. Apa yang dimaksud dengan intuisi? Ross berargumen bahwa seseorang mengetahui secara intuitif perbuatan apa yang bernilai baik maupun buruk. Ia mengkritik pandangan utilitarian yang terlalu menekankan pada konsep kebahagiaan, bahkan mensejajarkan kebahagiaan sebagai kebaikan. Bagi Ross, kebahagiaan tidak dapat secara mudah disamakan dengan kebaikan, justru kebaikan adalah bentuk nilai moral yang lebih tinggi. Jadi tujuan moral adalah mencapai kebaikan bukan kebahagiaan. Ross mengkritik pandangan etis dari kaum utilitarian sebagai pandangan hedonistik, yakni bertujuan hanya pada kebahagiaan tanpa membedah lebih tajam perbedaan mendasar antara kebahagiaan dan kebaikan. Meskipun ketika seseorang berbuat kebaikan, dan kebaikan itu menyebabkan rasa senang, kesenangan itu tidak relevan dengan suatu prinsip moral, justru untuk Ross, yang dipertimbangkan sebagai sesuatu yang signifikan adalah benarnya tindakan individu tersebut. Senada dengan Kant, Ross adalah seorang filosof moral yang menekankan bahwa tindakan etis haruslah terlepas dari kepentingan individual. Bila dalam argumen utilitarian ditekankan bahwa motif merupakan hal yang mendasar, bagi Ross, motif menunjukan bahwa seseorang bertindak etis bukan karena tindakan itu benar secara prinsipil, tapi tindakan itu menguntungkan baginya. Ross berargumen bahwa diluar dari kebahagiaan terdapat berbagai hal yang menurutnya lebih tepat untuk dijadikan prinsip tindakan moral yakni kebaikan melalui karakter yang mulia, atau berdasarkan intelegensia. Sehingga untuk Ross premis yang mengatakan bahwa kebenaran moral adalah memperbanyak kebahagiaan bagi semakin banyak orang dikoreksi menjadi kebenaran moral adalah memperbanyak kebaikan bagi semakin banyak orang.

Pembedaan antara kebahagiaan dan kebaikan bagi Ross menjadi distingsi penting, bahwa dari kedua hal tersebut kebaikan adalah yang tertinggi. Meskipun terdapat keserupaan dalam filsafat moral Ross dengan Kant, ada perbedaan penting antara Ross dan Kant, Ross mengkritik kewajiban sempurna dari Kant. Ia mendebat bahwa kewajiban sempurna mengandaikan bahwa tidak ada perselisihan menyangkut tindakan moral mana yang harus diprioritaskan. Sementara itu bagi Ross, kita kerap dibenturkan dengan dilema moral yang tidak dapat dengan sederhananya diselesaikan dengan prinsip mengikat imperatif Kant. Di satu sisi Ross menyetujui adanya kewajiban, tetapi kewajiban yang ia maksudkan bukanlah kewajiban sempurna yang dijelaskan oleh Kant, kewajiban yang ia maksudkan adalah kewajiban dengan syarat atau kondisional. Untuk mempermudah pembedaan antara kewajiban imperatif Kant dengan kewajiban kondisional dari Ross adalah melalui contoh berikut; prinsip moral dari Kant akan melarang kita dari tindakan berbohong, karena menurut Kant berbohong melanggar prinsip kewajiban imperatif yang universal. Tetapi bagaimana bila keadaannya, seseorang harus memilih antara berbohong atau mengatakan kejujuran, tetapi hasil dari kejujurannya akan menyebabkan kematian orang lain? Dari contoh semacam ini Ross memaparkan bahwa secara intuitif kita memahami bahwa manakah prioritas dalam dilema moral semacam ini. Bila dari perspektif Kant secara imperatif individu itu harus menyampaikan kejujuran, meski kejujuran itu menyebabkan kematian orang lain, karena prinsip moral dari Kant mengandalkan kewajiban yang mengikat bukan suatu hasil akhir. Ross mengkritik konsep kewajiban ini, justru dari pilihan antara kejujuran dan kematian, kita memiliki pemahaman bahwa nyawa seseorang jauh lebih mendesak untuk didahulukan. Ide moral semacam ini disebut oleh Ross sebagai Prima Facie, Prima facie menunjukan bahwa sesungguhnya pada pandangan awal yang muncul adalah situasi moral yang hanya kemunculan semata, tetapi apa yang dimaksud dengan Prima Facie adalah situasi moral yang dapat ditelaah secara objektif.5 Penelaahan secara objektif yang dimaksud oleh Ross adalah, faktanya manusia memiliki kecerdasan untuk membandingkan pilihan moral manakah yang paling menyebakan kebaikan utama.
5

Ibid. bagian W.D Ross, hlm. 407

Melalui cara ini menurut Ross maka kita dapat menghindarkan generalisasi yang dapat mengakibatkan pada keburukan, seperti dalam contoh menyampaikan kejujuran yang mengakibatkan kematian bagi orang lain. Prima Facie menekankan tentang bagaimana seseorang merefleksikan pilihan-pilihan moralnya, sebelum ia bertindak. Ross menyebutkan tentang berbagai macam kewajiban yang membutuhkan pertimbangan individu dalam kejadian-kejadian aktual, ia menyusunya sebagai berikut; 1) Fidelitas atau yang menyangkut perihal bagaimana seseorang memegang janji atau komitmennya, 2) Kewajiban atas rasa terimakasih, ketika kita berkewajiban atas jasa yang sudah ditunjukan oleh orang lain, 3) Kewajiban berdasarkan keadilan, hal ini menyangkut perihal pembagian yang merata yang berhubungan dengan kebaikan orang banyak, 4) Kewajiban beneficence, atau bersikap dermawan, dan menolong orang lain sebagai tanggung jawab sosial, 5) Kewajiban untuk merawat dan menjaga diri sendiri, 6) Kewajiban untuk tidak menyakiti orang lain. Enam tipe dari Prima Facie yang dijelaskan oleh Ross menunjukan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu kita kerap terbentur untuk memutuskan diantara pilihanpilihan moral. Dalam suatu situasi yang amat mendesak, Ross menekankan pada kemampuan intuitif manusia untuk mengambil keputusan, dimana keputusan ini ditujukan untuk mencari tahu pilihan manakah yang dimungkinkan menyebabkan kebaikan yang tertinggi. Pertimbangan intuitif ini bagi Ross sangat vital, karena intuisi bukanlah pertimbangan yang serampangan, tetapi pertimbangan yang menggunakan segala aspek kecerdasan dan sensibilitas individu tersebut. Dengan demikian maka ia dapat menghindarkan dirinya dari pilihan yang menyebabkan keburukan untuk dirinya maupun terhadap orang disekitarnya. Daftar Pustaka

Borchert, Donald M (Ed.). 2006. Encyclopedia of Philosophy Vol. III. Farmington Hills: Thomson Gale

Callcut, Daniel. 2009. Reading Bernard Williams. London dan New York: Routledge

Debashis, Guha. 2007. Practical and Professional Ethics Vol. 1: The Primer of Applied Ethics. New Delhi: Concept Publishing Co Graham, Gordon. 2010. Theories of Ethics: An Introduction to Moral Philosophy with a Selection of Classic Readings. London dan New York: Routledge Hinman, Lawrence M. 2012. Ethics: A Pluralistic Approach to Moral Theory. California: Wadsworth Publishing

Johnson, Oliver A. dan Reath, Andrews. 2011. Ethics: Selections from Classic and Contemporary Writers. California: Wadsworth Publishing Kagan, Shelly. 1997. Normative Ethics. New York: Dimensions of Philosophy

Kitchener, Karen Strohm. 1999. Foundations of Ethical Practice, Research, and Teaching in Psychology and Counseling. London: Lawrence Erlbaum Associates Lee, Keekok. 1985. A New Basis for Moral Philosophy (International Library of Philosophy). London: Routledge Kegan & Paul

MacIntyre, Alasdair. 1997. A Short History of Ethics: A History of Moral Philosophy from the Homeric Age to the Twentieth Century. London dan New York: Routledge

Pritchard, Michael S. 2012. What is Ethics?. Michigan: Department of Philosophy, Western Michigan University & Theodore Goldfarb

Sidgwick, Henry. 2004. Outlines of the History of Ethics. Montana: Kessinger Publishing

Tnnsj, Torbjrn. 2008 Understanding Ethics: Introduction to Moral Theory. Edinburgh: Edinburgh University Press Williams, Bernard. 2006. Ethics and the Limits of Philosophy. London dan New York: Routledge

Cottingham, John. 1996. An Anthology: Western Philosophy. UK: Blackwell Publisher Singer, Peter. 1993. Practical Ethics. New York: Cambridge University Press.