Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam GBHN prioritas pembangunan dititik-beratkan pada pembangunan ekonomi.

Titik berat pembangunan ekonomi ini ditujukan pada berbagai bidang yang penting antara lain peningkatan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri baik industri berat maupun industri ringan. Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, pembangunan jangka panjang diarahkan pada pembangunan Indonesia seutuhnya termasuk juga pembangunan kesehatan, khususnya kesehatan tenaga kerja. Harus disadari sejak awal tentang kemungkinan timbulnya dampak dari peningkatan industrialisasi pada tenaga kerja maupun pada masyarakat sekitar industri, karena setiap pekerjaan mempunyai resiko. Resiko tersebut berupa penyakit akibat kerja maupun kecelakaan kerja yang dapat menurunkan produktivitas kerja, sehingga untuk meningkatkan hasil produksi, selayaknya harus dipikirkan juga mengenai peningkatan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja demi terlaksananya industri yg seutuhnya. Dengan kata lain, upaya kesehatan kerja adalah upaya penyesuaian suatu pekerjaan dengan pekerja dan penyesuaian pekerja terhadap pekerjaannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan dan kesehatan kerja yaitu faktor fisik, kimia, biologi, dan ergonomi. Dalam makalah ini kami akan memfokuskan pada faktor kimia. Bahan kimia pada dasarnya telah meningkatkan mutu kehidupan. Lima puluh tahun yang lalu satu juta ton bahan-bahan kimia dihasilkan setiap tahunnya, sedikit sekali diketahui, dan sedikit pula dikerjakan sehubungan dengan bahaya-bahaya kimia dan prosesnya. Sekarang ini lebih dari 400 juta ton bahan-bahan kimia dihasilkan setiap tahunnya, dan diantara 5-7 juta bahan kimia yang telah diketahui, lebih dari 80.000 dipasarkan. Lebih dari 1000 bahan kimia baru dihasilkan setiap tahunnya. Diperkirakan 500-10.000 bahan kimia yang diperdagangkan mengandung bahaya, diantaranya 150-200 kemungkinan penyebab kanker. Oleh karena itu, kami ingin meneliti seberapa besar potensi bahaya factor kimia lingkungan kerja bagi tenaga kerja di perusahaan melalui studi observasi menyeluruh dan mengukur pencemaran lingkungan oleh debu yang berasal dari lingkungan kerja untuk kemudian diambil langkah pencegahan apabila belum mendekati Nilai Ambang Batas dan dicari solusinya

apabila telah melebihi Nilai Ambang Batas agar tidak menjadi masalah kesehatan bagi tenaga kerja dan masyarakat sekitar. Selain itu, kami juga membahas mengenai aspek keselamatan kerja pada perusahaan dengan mengidentifikasi potensi bahaya kecelakaan kerja dan bagaimana cara pengendaliannya serta alat pelindung diri yang digunakan oleh masyarakat pekerja dalam perusahaan tersebut. B. Rumusan Masalah 1) Seberapa besar potensi bahaya factor kimia lingkungan kerja bagi tenaga kerja perusahaan. 2) Berapa kadar debu di lingkungan kerja. 3) Bagaimana aspek keselamatan kerja pada perusahaan. 4) Solusi apa yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang terjadi di perusahaan ini mengenai potensi bahaya factor kimia lingkungan kerja dan keselamatan kerja di perusahaan. C. Manfaat 1) Bagi Perusahaan Dapat mengetahui besarnya potensi bahaya factor kimia bagi tenaga kerja perusahaaan Dapat mencari solusi agar tidak menjadi masalah yang lebih besar di kemudian hari Melindungi pengusaha dari tuntutan hukum akibat potensi bahaya factor kimia lingkungan kerja perusahaan bagi kesehatan tenaga kerja Melindungi pengusaha dari tuntutan hukum akibat potensi terjadinya kecelakaan kerja bagi tenaga kerja Dapat mengurangi beban perusahaan yang nantinya digunakan sebgai pembiayaan kesehatan para tenaga kerja Dapat meningkatkan produktivitas karena terjaminnya kesehatan para tenaga kerja Dapat meningkatkan laba perusahaan

2) Bagi Tenaga Kerja Dapat menjamin kesehatan tenaga kerja karena dilakukan pencegahan timbulnya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja Dapat meningkatkan etos kerja para tenaga kerja sebagai perwujudan dari kesehatan tenaga kerja yang optimal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAHAN KIMIA Bahan kimia adalah bahan yang terbuat dari bahan buatan atau sintetis (non herbal). Bahan kimia digunakan untuk menambahi atau menyempurnakan suatu produk mentah menjadi produk jadi. Bahan kimia dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan kimia berbahaya dan bahan kimia tak berbahaya, tetapi umumnya bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Penggunaanya juga harus sesuai dosis atau takaran, bila tidak sesuai dosis akan menyebabkan bahan kimia yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi berbahaya bahkan akan menyebabkan kerusakan, membekas pada bagian tubuh,cacat, dan juga bisa menyebabkan kematian. Tidak hanya itu saja, penyalahgunaanmya juga dapat menyebabkan ganguan pada tubuh Bahan kimia berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang. A. SEBAB-SEBAB GANGGUAN KESEHATAN Gangguan kesehatan dalam industri dapat menimbulkan banyak kerugian, baik pekerja itu sendiri, keluarga, perusahaan, masyarakat ataupun pemerintah. Berbagai hal yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan adalah : 1. Alat atau bahan yang tidak aman 2. Keadaan yang tidak aman 3. Tingkah laku pekerja 4. Pengawasan

B. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA Bahan kimia banyak digunakan dalam lingkungan kerja yang dapat dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu : 1.Industri Kimia, yaitu industri yang mengolah dan menghasilkan bahan-bahan kimia, diantaranya industri pupuk, asam sulfat, soda, bahan peledak, pestisida, cat , deterjen, dan lain-lain. Industri kimia adalah industri yang ditandai dengan penggunaan proses-proses yang bertalian dengan perubahan kimiawi atau fisik dalam sifat-sifat bahan tersebut dan khususnya pada bagian kimiawi dan komposisi suatu zat. 2.Industri Pengguna Bahan Kimia, yaitu industri yang menggunakan bahan kimia sebagai bahan pembantu proses, diantaranya industri tekstil, kulit, kertas, pelapisan listrik, pengolahan logam, obat-obatan dan lain-lain. 3.Laboratorium, yaitu tempat kegiatan untuk uji mutu, penelitian dan pengembangan serta pendidikan. Kegiatan laboratorium banyak dipunyai oleh industri, lembaga penelitian dan pengembangan, perusahaan jasa, rumah sakit dan perguruan tinggi. Dalam lingkungan kerja tersebut, banyak bahan kimia yang terpakai tiap harinya sehingga para pekerja terpapar bahaya dari bahan-bahan kimia itu. Bahaya itu terkadang meningkat dalam kondisi tertentu mengingat sifat bahan-bahan kimia itu, seperti mudah terbakar, beracun, dan sebagainya. Dengan demikian, jelas bahwa bekerja dengan bahanbahan kimia mengandung risiko bahaya, baik dalam proses, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan penggunaannya. Akan tetapi, betapapun besarnya bahaya bahan-bahan kimia tersebut, penanganan yang benar akan dapat mengurangi atau menghilangkan risiko bahaya yang diakibatkannya. D. PENGGOLONGAN BAHAN KIMIA Klasifikasi atau penggolongan bahan kimia berbahaya diperlukan untuk memudahkan pengenalan serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum bahan kimia berbahya diklasifikasikan menjadi beberapa golongan diantaranya sebagai berikut : 1.Bahan Kimia Beracun (Toxic) Adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh karena tertelan, lewat pernafasan

atau kontak lewat kulit. Pada umumnya zat toksik masuk lewat pernafasan atau kulit dan kemudian beredar keseluruh tubuh atau menuju organ-organ tubuh tertentu. Zat-zat tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu seperti hati, paru-paru, dan lain-lain. Tetapi dapat juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang, darah, hati, atau cairan limpa dan menghasilkan efek kesehatan pada jangka panjang. Pengeluaran zat-zat beracun dari dalam tubuh dapat melewati urine, saluran pencernaan, sel epitel dan keringat. 2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive) Adalah bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain. Zat korosif dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit, mata, dan saluran pernafasan. Kerusakan dapat berupa luka, peradangan, iritasi (gatal-gatal) dan sensitive (jaringan menjadi amat peka terhadap bahan kimia). 3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable) Adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran. Reaksi kebakaran yang amat cepat dapat juga menimbulkan ledakan. 4. Bahan Kimia Peledak (Explosive) Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya. Zat eksplosif amat peka terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan), ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluene (TNT), nitrogliserin dan ammonium nitrat (NH4NO3). 5. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation) Adalah suatu bahan kimia yang mungkin tidak mudah terbakar, tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan-bahan lainnya. 6. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances) Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan air dengan mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar. 7. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances) Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan asam menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar atau gas-gas yang beracun dan korosif.

8. Gas Bertekanan (Compressed Gases) Adalah gas yang disimpan dibawah tekanan, baik gas yang ditekan maupun gas cair atau gas yang dilarutkan dalam pelarut dibawah tekanan. 9. Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances) Adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan memancarkan sinar radioaktif dengan aktivitas jenis lebih besar dari 0,002 microcurie/gram. Suatu bahan kimia dapat termasuk diantara satu atau lebih golongan di atas karena memang mempunyai sifat kimia yang lebih dari satu sifat. E. PENANGANAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA Beberapa cara dapat dilakukam dalam upaya mengenal bahan-bahan kimia berbahaya. Cara yang sering dilakukan dalam mengenal bahan-bahan kimia berbahaya adalah melalui pemahaman sifat-sifat fisik, kimia dan racun dari suatu bahan. Pemahaman ini dimaksudkan untuk member kemudahan dalam memperlakukan bahan-bahan secara aman. Akan tetapi mengingat banyaknya bahan-bahan kimia yang digunakan, maka tidaklah mungkin kita dapat mengenali seluruh sifat-sifat bahan kimia khususnya yang berhubungan dengan jenis bahan yang dikandung. Oleh karena itu informasi-informasi mengenai bahan kimia harus terdapat atau terlampir pada tiap bahan kimia seperti: 1. Data bahan kimia Data yang harus dimuat dalam bahan kimia secara umum meliputi: nama bahan, penggunaan, uraian umum bahaya-bahaya, uraian umum tindakan pencegahan, sifatsifat rumus kimia, informasi mudah dibakar, informasi reaktifitas, informasi bersifat racun, pengaruh paparan, informasi radiasi. 2. Bahya kesehatan Bahaya terhadap kesehatan dapat berasal dari dua sebab yakni sifat alamiah zat toksik dan pengeluaran zat toksik akibat pemanasan atau penguraian, tingkat bahaya terhadap kesehatan diberi angka 0 ( tidak berbahaya) sampai 4 (amat berbahaya).

3. Tabel informasi bahan kimia berbahaya Informasi yang perlu dicantumkan antara lain : a. Nilai Ambang Batas (NAB) b. Daerah konsentrasi mudah terbakar yang dibatasi oleh LFL dan UFL c. Titik nyala ( flash point) d. Titik bakar (ignition point) e. Titik didih (boiling point) f. Tingkat bahaya NFPA, yakni meliputi bahaya terhadap kesehatan, mudah terbakar dan reaktifitas 4. Tanda label-label bahan berbahaya Seharusnya tiap wadah dari bahan kimia diberikan label sesuai potensi bahaya yang ditimbulkan. 5. Pemasangan label dan tanda Pemasangan label dan tanda dengan memakai lambang atau tulisam-tulisan peringatan pada wadah untuk bahan berbahaya adalah tindakan yang sangat penting. Ketika bahan kimia sedang diproduksi, tenaga kerja biasanya mempraktekkan usaha keselamatan kerja secara baik. 6. Penyimpanan bahan kimia berbahaya Bahan kimia berbahaya harus disimpan dengan cara yang baik untuk mencegah kemungkinan terjadinya bahaya. Penyimpanan yang tepat menjamim agar bahan kimia tersebut tidak bereaksi dengan bahan-bahan laim yang disimpan bersamaan. Berikut contoh cara penyimpanan bahan kimia berbahaya: a. Bahan-bahan beracun Wadah bahan-bahan beracun dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kebocoran Uap bahan beracun dapat masuk melalui udara, oleh karena itu perlu ruangan dengan pertukaran udara yang baik Panas dapat mengakibatkan penguraian, maka perlu tempat penyimpanan yang sejuk dengan pertukaran udara yang baik, tidak terkena sinar matahari langsung

b. Bahan-bahan korosif Bahan-bahan korisif antara lain asam klorida dan asam nitrat. Bahan kimia tersebut dapat merusak wadah penyimpanan dan bocor keluar atau menguap ke udara Daerah penyimpanan bahan korosif harus terpisah dari bagian bangunan lain dengan dinding dan lantai serta disertai perlengkapan untuk penyaluran tumpahan, lantai harus tahan bahan korosif 7. Pengangkutan bahan kimia berbahaya Keamanan pengangkutan bahan-bahanberbahaya merupakan hal yang sangat penting. Dalam hal pengangkutan bahan-bahan berbahaya bahaya utamanya adalah terjadinya kebakaran dan peledaan. Contoh pada pengangkutan yang menggunakan kapal,berbagai faktor yang harus diperhatikan, misalnya pengaturan muatan secara keseluruham, pengaruh gerakan kapal dalam cuaca buruk, pengaruh kelembaban dan perubahan suhu. Beberapa bahan kimia berbahaya hanya boleh ditempatkan di atas dek, sedangkan lainnya di bawah dek dan jauh dari tempat oang dan bahan makanan KESELAMATAN KERJA Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan aktivitas kerja manusia baik pada industri manufaktur, yang melibatkan mesin, peralatan, penanganan material, pesawat uap, bejana bertekanan, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan, maupun industri jasa, yang melibatkan peralatan berteknologi canggih, seperti lift, eskalator, peralatan pembersih gedung, sarana transportasi, dan lain-lain. Sedangkan pengertian keselamatan kerja menurut Dr. Sumamur P.K., M.Sc dalam bukunya : Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.

Tujuan program keselamatan kerja adalah sebagai berikut : 1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaannya untuk meningkatkan produksi serta produktivitas nasional, sebagaimana diatur oleh undangundang dan peraturan mengenai tenaga kerja. 2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. 3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. Di Indonesia, kesehatan kerja bertujuan untuk menciptakan kesehatan karyawan agar dapat bekerja secara aktif dan produktif. Ruang lingkup kesehatan kerja mencakup pengobatan preventif untuk menjaga kesehatan dan pengobatan atau penyembuhan untuk meningkatkan, melindungi dari resiko akibat proses produksi yang dapat mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas kerja, serta penyesuaian lingkungan kerja untuk mencapai kenyamanan dan efisiensi kerja. Sedangkan keselamatan kerja bertujuan untuk meningkatkan usaha-usaha keselamatan dan pencegahan kecelakaan kerja, penyakit kerja, cacat, dan kematian. Syarat-syarat keselamatan kerja diatur dalam pasal 3 dan 4 Undang-undang Keselamatan Kerja yang berbunyi sebagai berikut : 1. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Dengan peraturan perundangan diterapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : Mencegah dan mengurangi kecelakaan. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. Mencegah dan mengurangi peledakan. Memberikan kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya. Memberi pertolongan pada kecelakaan. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja. Mencegah dan mengendalikan timbul dan menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar dan radiasi, suara dan getaran. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik mapun psikis, peracunan, infeksi dan penularan. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. Menyelengarakan suhu lembab udara yang baik.

k. l.

Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. Memelihara kesehatan dan ketertiban. kerjanya.

m. Memperoleh keselarasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses n. o. p. q. r. Mengamankan dan memperlancar pengankutan orang, binatang, tanaman atau barang. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar, muat, perlakuan dan penyimpanan barang. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas perusahaan 1. Nama perusahaan 2. Jenis perusahaan 3. alamat perusahaan 4. Jumlah tenaga kerja 5. Tanggal kunjungan 3.2. Proses produksi 1. Bahan yang diperlukan: A. Bahan baku: Tembakau : PT Cahaya Mulia Persada Nusa : Rokok (cigarette kretek tangan) : Jl. P. Diponegoro no.1 Bantul : 1350 karyawan : 27 April 2012

B. Bahan tambahan: Ambrie paper (kertas pembungkus tembakau) Kertas etiket Lem kanji pot fruit

2. Mesin / peralatan kerja yang digunakan: Forclip Meja urai Penggilingan, terdiri atas: minisib, gilingan Gunting Alat packaging

3. Proses produksi: Tembakau yang dikirim dari Pandaan Jawa Timur disimpan didalam gudang. Campuran tembakau irirs matang dimasukkan kedalam meja urai untuk memisahkan tembakau dari benda asing dan gagang tembakau. Penggilingan dengan menggunakan alat minisib dan penggilingan

Pengguntingan kedua ujung tembakau yang sudah dilinting Inspeksi untuk memeriksa diameter rokok Packaging: dilakukan pengepakan rokok kemudian diinspeksi kembali Penempelan banderol sehingga rokok siap didistribusikan

4. Barang yang dihasilkan a. Produk utama: rokok b. Produk sampingan: 5. Limbah Gagang tembakau jumlah: 7-8 kg/hari Tembakau yang jatuh jumlah: 5-6 kg/hari Benda asing 0,5 kg/hari Sapon (tembakau yang jatuh), berjumlah sekitar 4-5 kg/hari

FAKTOR KIMIA Identifikasi potensi bahaya Potensi bahaya Debu Sumber potensi bahaya Bagian penguraian tembakau Bagian produksi/ packing/ cukai Pengendalian Bagian pengurai diwajibkan menggunakan APD berupa masker Pengadaan sekat untuk pemisahan ruang pengurai dengan bagian lain Pemasangan saluran pembuangan (exhaust) untuk membuang debu dari tempat tersebut Gas Uap Fume Asap Bahan kimia cair Bahan kimia padat Dsb Pemeriksaan spirometri setiap 6 bulan sekali -

Hasil pengujian kadar debu No 1. Lokasi Urai tembakau Jenis debu Debu tembakau 2. Produksi/ packing/ cukai Debu tembakau 0,5 Kadar debu (mg/m3) 0,667 Sumber debu Tembakau campuran iris matang Tembakau campuran iris matang Berdasarkan tabel hasil pengujian kadar debu di lokasi kerja pabrik rokok, bagian penguraian dan bagian produksi/packing/cukai berada dibawah Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di udara lingkungan kerja yang diperkenankan untuk 7 jam waktu kerja berdasarkan SNI-16-0232-2005, yaitu 10 mg/m3 untuk debu tembakau. Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak management kami mendapati banyak tenaga kerja yang tidak menggunakan masker yang berfungsi mengurangi terhirupnya debu secara signifikan. Para pekerja menolak menggunakan masker karena merasa panas dan sesak jika masker dikenakan. Walaupun perusahaan sudah menetapkan SOP yang mewajibkan tenaga kerja menggunakan masker, namun sanksi yang diberikan hanya berupa teguran lisan. FAKTOR KESELAMATAN KERJA Identifikasi Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja No 1. Bagian Potensi Bahaya Bahaya konsleting dari aliran Kebakaran listrik 2. 3. Bagian produksi : kertas dan Bahan tembakau Bagian produksi yang Pengendalian Menyediakan alat pemadam 10 NAB (mg/m3) 10 Keterangan Di bawah NAB Di bawah NAB

kebakaran, memasang tanda area bebas api mudah Tidak menyalakan api

terbakar Potensi bahaya mekanik Konsentrasi berupa benda tajam / runcing, seperti karter dan alat pemotong

4.

Bagian produksi

Bahaya benda bergerak Konsentrasi, berjalan sesuai rute yang dapat membentur yaitu forclip

Hasil pemeriksaan listrik Lokasi Belakang gedung Kondisi instalasi Baik Sistem pengaman Baik, tersedia tenaga teknisi listrik yang Beberapa tempat di kantor dan gedung produksi (stop contact dan lampu) Baik tersertifikasi Tidak ada kabel yang menjuntai atau berhamburan, kualitas kabel Pemakaian Digunakan apabila listrik dari PLN sedang mati Sebagai sumber listrik keterangan Penilaian berdasarkan ketentuan PUIL 1987

bagus Keamanan listrik diperusahaan ini sudah sangat baik dan memenuhi standar, sehingga pekerja tidak perlu menguatirkan kecelakaan-kecelakaan yang berhubungan dengan listrik. Hasil pemeriksaan APD Lokasi Urai tembakau Tempat penerimaan tembakau sampai keurai tembakau Pengechekan rokok giling Tergores cutter Sarung tangan Potensi bahaya Debu, infeksi saluran nafas Terbentur forclip Alat pelindung diri Diperlukan Disediakan Masker Helm Masker Helm Keterangan Pemakaian: dipakai Jumlah : cukup Kesesuaian : tidak Perawatan : kurang

Alat pelindung diri sudah disediakan oleh pihak perusahaan, dimaksudkan untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya-bahaya yang dapat membahayakan keamanan atau kesehatan dari tenaga kerja. Namun, sering kali tenaga kerja tidak menggunakannya dengan

alasan panas, karena memang keadaan ruangan produksi suhu agak tinggi meskipun sudah dibantu dengan kipas angin yang tersedia dibeberapa tempat. Hasil pemeriksaan APAR Potensi Lokasi Di dalam ruangan pekerja Gudang penyimpan an kertas giling Sedang 1 unit 6kg 1 unit 6 kg bahaya kebakaran Ringan APAR Diperlukan Jumlah Jenis 30 unit 6kg Disediakan Jumlah Jenis 30 unit 6 kg Cara penempatan :benar Jumlah : cukup Kemampuan TK dalam mengoperasikan: ya Regu pemadam : ada Emergency exit : ada Peralatan penanggulangan kebakaran lainnya: Pengamanan dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaraan sudah sangat memadai, yaitu disediakannya 30 APAR, yang mana dalam 1 tabung APAR dapat mengcover seluas 265m. untuk pencegahannya diberikan penanda berupa gambar dilarang menyalakan api dibeberapa tempat yang mudah untuk dibaca. Bila terjadi kebakaran, terdapat 4 orang penanggungjawab yang bertanggung jawab terhadap tenaga kerja, membimbing ke emergency exit dan berkumpul di assembly point, supaya bila terjadi kebakaran tenaga kerja tidak kebingungan maka simulasi kebakaran dijadikan agenda tetap. Keterangan

Dari hasil tersebut diatas, perusahaan ini merupakan perusahaan yang sudah memiliki keselamatan kerja yang baik pada pegawainya. Antisipasi kebakaran sudah dilaksanakan dengan sangat baik dengan cara menyediakan jalur evakuasi dan mengadakan simulasi pada saat-saat berbahaya seperti kebakaran. Namun ada beberapa hal yang belum begitu dipatuhi oleh para pegawai. Misalnya pemakaian masker yang sangat berguna bagi kesehatan pegawai. Pada dasarnya, pabrik rokok ini bukanlah suatu pabrik yang sangat beresiko dengan kecelakaan kerja namun yang perlu diperhatikan disini adalah keteliatian dan konsentrasi yang

baik agar para pekerja dapat bekerja dengan baik menyelesaikan targetnya perhari dan keselamatannya pun terjaga. Karena apabila tidak dengan konsentrasi yang baik maka kecelakaan yang sepertinya sepele namun berbahaya dapat terjadi.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Bahan kimia dan debu Kesimpulan Berdasarkan kunjungan ke PT Cahaya Mulia Persada Nusa, bahan baku yang memiliki potensi bahaya adalah debu tembakau. Dari data yang kami dapatkan, kadar debu total pada bagian urai tembakau adalah sebesar 0,667 mg/m3 dan pada bagian produksi/packing/cukai sebesar 0,5 mg/m 3. Sedangkan nilai

ambang faktor kimia di udara lingkungan kerja berdasarkan SNI-16-0323-2005 adalah sebesar 10 mg/m 3. Dengan demikian kadar debu total pada perusahaan ini masih berada dibawah nilai NAB. Dalam pengendalian paparan debu, perusahaan telah menyusun SOP yang mewajibkan para pekerja menggunakan masker selama proses produksi. Akan tetapi pada kenyataannya banyak pekerja yang menolak memakai masker dengan alasan panas dan sesak. Bagi mereka yang tidak mau menggunakan masker, perusahaan hanya membarikan sanksi berupa teguran lisan. Saran Edukasi mengenai pentingnya penggunaan masker Bagian pengurai diwajibkan menggunakan APD berupa masker Pengadaan sekat untuk pemisahan ruang pengurai dengan bagian lain Pemasangan saluran pembuangan (exhaust) untuk membuang debu dari tempat tersebut Pemberian sanksi yang lebih tegas bagi tenaga kerja yang tidak memenuhi SOP

Listrik Kesimpulan APD Kesimpulan Kesadaran tenaga kerja dalam pemakaian masker dan sarung tangan masih sangat kurang Saran Meningkatkan promosi kesehatan untuk pemakaian masker dan sarung tangan Diberikan beberapa tambahan untuk mendinginkan ruangan sehingga tenaga kerja tidak merasa kepanasan sehingga memakai masker APAR Kesimpulan Sudah tersedia sesuai keperluan Persediaan sudah cukup dan sudah tersedia tekhnisi yang tersertifikasi Saran Sudah memenuhi standar

Saran Sudah memenuhi standar