Anda di halaman 1dari 32

LBM 2 JIWA SGD 1 TUTOR dr.

Iwang Yusuf Sedih dan ingin bunuh diri SCENARIO Seorang karyawati, umur 23 tahun , merasa sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, kurang semangat , tidur terganggu. Keluhan tersebut dialami kurang lebih 1 bulan ini yang sebelumnya di PHK. Kini , ia dibawa ke dokter karena mencoba bunuh diri, dia menjadi pendiam, malas mengerjakan tugas,kadang menangis sendiri ( sindroma depresi ). Keadaan ini menyebabkan sosialisasinya terganggu ( penurunan GAF ). Setelah melakukan pemeriksaan tidak ditemukan penyakit medis umum dan pemakaian zat, dokter menyimpulkan wanita tersebut mebgalami salah satu dari kelompok gangguan suasana perasaan ( mood afektif ). Dokter memberikan obat amitriptilin dan menyarankan untuk control secara teratur. STEP 1 1. Sindrom depresi : suatu kumpulan gejala yang meggambarkan gangguan perasaan, mersa sedih berlebih , murung, tidak bersemangat, tidak berharga, pikiran kosong, biasanya disertai rasa ingin bunuh diri 2. Mood afektif : a. Mood : kondisi emosional internal seseorang b. Afektif : ekspresi yang dapat diobservasi 3. Perasaan : Perasaan dan emosional sama tidak ??? Gangguan suasana perasaan ( mood afektif ) >>Keadaan dalam diri individu sebagai akibat dari yang dialaminya atau yang dipersepsinya 4. Amitriptilin :obat antidepresen trisiklik , dipakai pada depresi dan gangguan cemas, bisa juga penghilang nyeri, Dosis rendah ( sedative ) STEP 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Mengapa pasien ini ditemukan tanda tanda sindroma depresi ( pendiam, ingin bunuh diri dsb) ? Apa hubungan PHK dengan gangguan yang dialami pasien ? Apa yang dimaksud dengan gangguan suasana perasaan ( mood afektif ) ? Apa penyebab gangguan mood afektif ? Apa saja yang termasuk gangguan mood afektif ? Apa bedanya depresi, mania, hipomania dan afektif ? Apakah ada perbedaan tingkat depresi antara laki laki dan perempuan ? Kenapa dokter memberikan obat amitriptilin pada pasien? Apakah sifatnya menyembuhkan ? Apa saja terapi yang diberikan dokter kepada pasien ? Bagaimana cara penegakan diagnosis gangguan pada scenario ?

11. Bagaimana Prognosis dan komplikasi dari sinroma depresi ? STEP 3 1. Mengapa pasien ini ditemukan tanda tanda sindroma depresi ( pendiam, ingin bunuh diri dsb) ? Sindroma depresi, depresi : ada stressor. Mekanisme pertahanan jiwa orang berbeda2, 3 tahapan. Ada stressor mengaktifkan system otonom (simpatis) aktif krn stresoor naik ke system limbic hypothalamus hipofisis kirim sinyal ke target organ adrenal kortisol kirim lagi ke hypothalamus tubuh waspada sulit tidur Simpatis terangsang thoracal dan lumbal organ target masing2 manifestasi sesuai System limbic pusat emosi perasaan hypothalamus (ant dan post) pusat kenyang,lapar, dll terangsang stressor manifestasi anoreks, hiperfagia, dll Neurotransmitter yg berhubungan serotonin dihasilkan oleh rafe nuclei?? terpengaruh Fungsi serotonin : menurunkam depresi, bila ada stressor mempenagruhi reseptor adrenergic alfa2sekresi serotonin dan NE menurun depresi Pda depresi keinginan bunuh dri kadar serotonin dalam cerebrospinal nya rendah Serotonin bertanggungjawab terhapa rasa bahagia, jika produksi tidak mencukupi depresi Saat serotonin rendah mekanisme penghantaran impuls menurun Obat antidepesan kerjanya tidak bisa cepat Ketika kekurangan neurotransmitter reseptor tetap, tidak bertambah atau berkurang Jika NT tidak digunakan akan dikembalikan diotak, obat antidepresan menghambat proses reuptake tersebut 2. Apa hubungan PHK dengan gangguan yang dialami pasien ? Pada PHKStress pekerjaanmekanisme pertahanan jiwa lemahdepresi Stress paraventrikular nucleus CRH dan ACTH Selain serotonin, dopamine dan NE NE : pusat kesiagaan, memori, jika NE yang harusnya direuptake kembali, jika dipecah kembali maka NE turun depresi 3. Apa yang dimaksud dengan gangguan suasana perasaan ( mood afektif ) ? Perubahan mood atau afek bisa kearah depresi ( dengan atau tanpa anxietas yang menyertai )atau elasi ( suasana perasan yang meningkat ) Elasi sama mania sama atau tidak ??? elasi lebih dari euphoria, tingkah laku motorik yang labil, lebih agresif, contoh ingin bertengkar terus

4. Apa penyebab gangguan mood afektif ? Stressor ( lingkungan , pekerjaan, keluarga ) mekanisme pertahanan jiwa lemah timbbul sindroma depresi stressor factor biologi : berhubungan dengan Neurotransmiter factor genetic factor psikososial factor kepribadian komorbid : walaupun tipe pendiam lebih beresiko tapi tidak bisa ditentukan factor psikoanalitik ketidakberdayaan teori kognitif : pandangan negative terhadap masa depan, diri sendiri, pengalamn hidup depresi mekanisme umpan balik cepat ( langsung ditangkap )dan lambat ( langsung ke hipofisis sehingga konsentrasi kortisol meningkat ) CRH kortikotropin dan glukokortikoid metabolism glukosa Apakah ada hubungan peningkatan glukosa dengan depresi ? Mengapa sebagian orang depresi tapi yang tidak? 5. Apa saja yang termasuk gangguan mood afektif ? Hiperthymia : afektif meninggi o euphoria Hipothymia : afektif menurun co/ depreso Poikilothymia : keadan afektif berubah ubah Paratimia : tidak sesuai dengan lingkungan Tension : keadaan tertekan, roman muka tegang, tremor Anxietas : tacit terus menerus dan tidak nyata Panic : cemas yang berlebihan Ambivalensi : perasaan dan tingkah laku bertentangan pada satu saat Depersonalisasi : hilang identitas diri Pembagiannya berdasar apa ? 6. Apa bedanya depresi, mania, hipomania dan afektif ? Depresi : adanya gangguan kepercayaan diri, konsentrasi berkurang, hilang minat Mania : mood meluap lupa, flight of idea, hiperaktif, kurang tidur Hipomania : elasi, mudah marah, suka humor, suka bekerja tapi tidak bisa mengerjakan Afektif : ekspresi ekternal Mood : persaan internal Afek : ekspresi eksternal

Depresi : mood menurun Mania : mood ekspansif Perbedaan etiologi depresi dan mania ?? Stressor ada yang positif dan negative Contoh dapat jabatan : bisa berpengaruh positive dan negative Orang di PHK bisa jadi pengusaha?padahal dapat stressor negative Stressor baik positif dan negative tergantung menkanisme pertahanan jiwa HPA aksis? Pengalamn hidup membentuk kepribadian ?? Jika kelebihan senyawa amino : mania 7. Apakah ada perbedaan tingkat depresi antara laki laki dan perempuan ? Dilihat dari psikososialnya, bukan dari biologi Dari segi epidemiologi nya? Lebih banyak wanita Tingkat keparahan depresinya ? wanita lebih kuat dari laki laki ??? Hormon pada wanita ( FSH dan LH ) Estrogen meningkat perangsangan ACTH 8. Bagaimana cara penegakan diagnosis gangguan pada scenario ? Gejala utama dan tambahan Depresi ringan : 2 atau 3 gejala utama , 2 atau 3 gejala lain, belum ada hendaya Depresi sedang : sama tapi sudah ada hendaya Depresi berat : hendaya berat, membutuhkan orang lain dan dapat membahayakan orang lain dan diri sendiri Hendaya : menarik diri, malas mengerjakan Ada keinginan bunuh diri : depresi berat 9. Kenapa dokter memberikan obat amitriptilin pada pasien? Apakah sifatnya menyembuhkan ? Terapi psikososial Tingkat depresi? Tergantung seseorang dalam menghadapi stressor Gejala utama dan tambahan Amitriptilin mengambat reuptake NT, amitriptilin memiliki 2 gugus metil, termasuk amin tersier, lebih sensitive trhadap depresi karena kekurangan serotonin, efek nya sedative dan antikolinergik yang cukup kuat Menyembuhkan tetap harus ada non farmakologi Replacement/kompetitif inhibitor atau stimulasi Amitriptilin kompetitif inhibitor oleh apa?

10. Apa saja terapi yang diberikan dokter kepada pasien ? 11. Bagaimana Prognosis dan komplikasi dari sinroma depresi ?

STEP 4 STEP 5 STEP 6 STEP 7


a) Definisi

Afek adalah ekspresi eksternal dari isi emosional saat itu. Sedangkan Mood adalah keadaan emosi internal alam perasaan atau suasana perasaan yang meresap dari seseorang. b) Etiologi - Faktor Biologik Diduga kuat bahwa norepinephrine dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter yang bertanggung jawab mengendalikan patofisiologi ganguan alam perasaan pada manusia. Pada binatang percobaan. Pemberian antidepressant dalam waktu sekurang kurangnya dua sampai tiga minggu, berkaitan dengan melambatnya penurunan sensitifitas pada receptor post synaptic beta adrenergic dan 5HT2. Temuan terakhir penelitian biogenic amine menunjukkan dukungan terhadap hipotesa bahwa pada gangguan alam perasaan (mood) pada umumnya, khususnya episode depresif terjadi kekacauan regulasi norepinephrine dan serotonin dijaringan otak yang dapat dikoreksi oleh zat antidepressant dalam jangka waktu dua sampai tiga minggu. Data imaging jaringan otak yang didapat dari CT scanning, pada penderitra gangguan depresi terdapat pembesaran ventrikel otak. Pada positron emisi tomografi (PET) didapatkan bukti penurunan metabolisme diotak. Studi lain menyebutkan terjadi penurunan aliran darah pada gangguan depresi terutama di basal ganglia. Dengan mengkombinasikan data dan gejala gangguan klinis depresi dan hasil riset biologik telah mendukung hipotesa bahwa gangguan depresi melibatkan keadaan patologi di limbic sistem, basal ganglia, dan hipothalamus. Perlu dicatat bahwa terjadinya gangguan neurologik pada basal ganglia dan limbic sistem (terutama cacat exitasi pada belahan yang tak dominan) selalu disertai adanya gejala gangguan depresi. Limbic sistem dan basal ganglia berhubungan sangat erat, hipotesa sekarang menyebutkan produksi alam perasaan berupa emosi depresi dan mania merupakan peranan utama limbic sistem. Disfungsi hipothalamus berakibat perobahan regulasi tidur, selera makan, dorongan seksual dan memacu perobahan biologi dalam bidang endocrine dan imunologik. - Masalah genetik Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik.

Gangguan bipolar lebih kuat menurun ketimbang unipolar. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. - Psikososial Peristiwa traumatic kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa depresi. Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orangtua sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan hidup harmoni dapat memacu serangan awal gangguan neurosa depresi. c) 1) Klasifikasi dan Gejala Gangguan Depresif

* Episode Depresi : o Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ) : Afek depresif Kehilangan minat dan kegembiraan Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah

kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. o Gejala lainnya : Kosentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan berkurang Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis Gagasan atau perbuatan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri. Tidur terganggu Nafsu makan berkurang

* Episode Depresif Ringan o Sekurang kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi ditambah sekurang kurangnya 2 dari gejala lainnya. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya. o Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang kurangnya sekitar 2 minggu. o Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. * Episode Depresif Sedang o Sekurang kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi ditambah sekurang kurangnya 3 ( dan sebaiknya 4 ) dari gejala lainnya. o Lamanya seluruh episode berlangsung minimunm sekitar 2 minggu o Menghadapi kesulitan nyata untuk menruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. * Episode Depresif Berat Tanpa gejala Psikotik : o Semua 3 gejala utama dari depresi harus ada o Ditambah sekurang kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan diantaranya harus berintensitas berat. o Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. o Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangnya 2 minggu, bila gejala sangat berat dan beronset sangat cepat maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.

o Sangat tidak mungkin bagi pasien meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. * Episode Depresif Berat Dengan Gejala Psikotik : o Memenuhi kriteria eposode depresi berat o Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab akan hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk o Reteardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor o Jika diperlukan, waham tau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek ( mood congruent ) * Gangguan Depresif Berulang o Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari : episode depresif ringan, episode depresif sedang, episode depresif berat. o Episode masing masing rata rata lamanya sekitar 6 bulan akan tetapi frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan gangguan afektif bipolar. o Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peningkatan afek dan hiperaktivitas yang memenuhi kriteria mania. Namun kategori ini tetap harus digunakan jika ternyata ada episode singkat dari peninggian afek dan hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera sesudah suatu episode depresif. o Pemulihan keadaan biasanya sempurna diantara episode namun sebagian kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap terutama pada usia lanjut. o Episode masing masing dalam berbagai tingkat keparahan seringkali dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh stress dan trauma mental lain. * Gangguan depresif berulang episode kini ringan : o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan. * Gangguan depresif berulang episode kini sedang : o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif sedang. * Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik : o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik. * Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik : o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik. * Gangguan depresif berulang kini dalam remisi : o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus pernah dipenuhi masa lampau tetapi keadaan sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif dengan derajat keparahan apapun atau gangguan lain apapun. Pada semua episode, sekurangnya ada dua episode telah berlangsung masing masing selama minimal 2 minggu dengan ada waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna. 2) Gangguan Bipolar I

Gangguan ini tersifat oleh episode berulang ( sekurang kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penmabhan energi dan aktivitas ( mania atau hipomania ), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas ( depresi ) . Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba tiba dan beralngsung antara 2 minggu sampai 4 5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama ( rata rata sekitar 6 bulan ) meskipun jarang melebihi 1 thun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terajdi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental lain ( adanya stres tidak esensial untuk penegakan diagnosis). - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Hipomanik o Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik TanpaGejala Psikotik o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik DenganGejala Psikotik o Episode yang sekarang harus memenuhu kriteria untuk mania dengan gejala psikotik. - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau sedang o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan ataupun sedang - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif BeratTanpa Gejala Psikotik o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif BeratDengan Gejala Psikotik o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik - Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran o Episode yang sekarang menunjukkan gejala gejala manik, hipomani, dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat ( gejala mania/hipomania dan depresi sama sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang kurangnya 2 minggu ) Pada semua episode harus ada sekurang kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran) di masa lampau. - Gangguan afektif bipolar episode kini dalam remisi : o Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurangnya 1 episode afektif dimasa lampau dan ditambah sekurangnya 1 episode lainnya. 3) Gangguan Afektif Menetap - Siklotimia : o Ciri esensial adalah ketidakstabilan menetap dari afek meliputi banyak episode depresi ringan dan Error! Hyperlink reference not valid.hipomania ringan diantaranya tidak ada yang cukup parah atau cukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar atau gangguan depresif berulang. o Setiap episode afektif tidak memenuhi kriteria untuk manapun yang disebut dalam episode manik atau episode depresif. - Distimia : o Ciri esensial adalah afek depresif yang berlangsung sangat lama yang tidak pernah atau jarang sekali cukup parah untuk memenuhi kriteria gangguan depresif berulang ringan dan sedang.

o Biasanya mulai pada usia dini dari masa dewasa dan berlangsung sekurangnya beberapa tahun, kadang untuk jangkla waktu tidak terbatas. Jika onsetnya pada usia lanjut gangguan ini seringkali merupakan kelanjutan suatu episode depresif tersendiri dan berhubungan dengan masa berkabung atau stres lain yang tampak jelas. 4) Episode Manik Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal ( yang pertama ), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal. - Hipomania o Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek yang meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas,menetap selama sekurang kurangnya beberapa hari berturut turut, pada suatu derajat intensitas dan yangbertahan melebihi apa yang digambarkan bagi siklotimia, dan tidak disertai halusinasi atau waham. o Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai dengan diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat atau menyeluruh, maka diagnosis mania harus ditegakkan - Mania Tanpa Gejala Psikotik o Episode harus berlangsung sekurang kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai mengacaukan seluruh atay hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa dilakukan. o Perubahan afek harus disertai dengan energiu yang bertambah sehingga terjadi aktivitas berlabihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide ide perihal kebesaran/ grandiose ideas dan terlalu optimistik. - Mania Dengan Gejala Psikotik o Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari mania tanpa gejala psikotik. o Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kejar ( delusion of grandeur ), iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar ( delusion of persecution ). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut ( mood congruent ). d) 1) Pemeriksaan Status Mental Episode Depresif :

a. Deskripsi umum : Retradasi psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling umum, walaupun agitasi psikomotor juga sering ditemukan khususnya pada pasien lansia. Secara klasik, seorang pasien depresi memiliki postur yang membungkuk tidak terdapat pergerakan spontan, pandangan mata yang putus asa dan memalingkan pandangan. b. Mood, afek dan perasaan : Pasien tersebut sering kali dibawa oleh anggota keluarganya atau teman kerjanya karena penarikan sosial dan penurunan aktifitas secara menyeluruh. c. Bicara : Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatan dan volume bicara yang menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan menunjukkan yang lambat terhadap suatu pertanyaan. d. Gangguan Persepsi : Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita episode depresi berat dengan ciri psikotik. Waham sesuai mood pada pasien terdepresi adalah waham bersalah, memalukan, tidak berguna, kemiskinan, kegagalan, kejar, dan penyakit somatik terminal.

d. Pikiran : Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negatif tentang dunia dan dirinya sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang kehilangan, bersalah, bunuh diri, dan kematian. Kira kira 10% memiliki gejala jelas gangguan berpikir, biasanya penghambatan pikiran dan kemiskinan isi pikiran. d. Sensorium dan Kognisi : Daya ingat, kira kira 50 70% dari semua pasien terdepresi memiliki suatu gangguan kognitif yang sering kali dinamakan pseudodemensia depresif, dengan keluhan gangguan konsentrasi dan mudah lupa. e. Pengendalian Impuls : Kira kira 10 15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri dan kira kira dua pertiga memiliki gagasan bunuh diri. Resiko meninggi untuk melakukan bunuh diri saat mereka mulai membaik dan mendapatkan kembali energi yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan suatu bunuh diri (bunuh diri paradoksikal / paradoxical suicide). f. Reliabilitas : Semua informasi dari pasien terlalu menonjolkan hal yang buruk dan menekankan yang baik. 2) Episode Manik : = Deskriksi Umum : Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang kadang mengelikan dan sering hiperaktif. Suatu waktu mereka jelas psikotik dan terdisorganisasi, memerlukan pengikatan fisik dan penyuntikan intra muskular obat sedatif. = Mood, afek dan perasaan : Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki toleransi frustasi yang rendah, yang dapat menyebabkan perasaan kemarahan dan permusuhan. Secara emosional adalah labil, beralih dari tertawa menjadi lekas marah menjadi depresi dalam beberapa menit atau jam. = Bicara : Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel dan penganggu bagi orang orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas meningkat pembicaraan penuh gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata kata dan hal hal yang tidak relefan. Saat tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi longgar, kemampuan konsentrasi menghilang, menyebabkan gagasan yang meloncat loncat (flight of idea), gado gado kata dan neologisme. Pada kegembiraan manik akut pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan tidak dapat membedakan dari pembicaraan skizofrenik. = Gangguan Persepsi : Waham ditemukan pada 75% dari semua pasien manik. Waham sesuai mood seringkali melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa. Dapat juga ditemukan waham dalam halusinasi aneh yang tidak sesuai mood. = Pikiran : Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali perhatiannya mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang tidak terkendali cepat. = Sensorium dan Kognisi : Secara kasar orientasi dan daya ingat adalah intak walaupun beberapa pasien manik mungkin sangat euforik sehingga mereka menjawab secara tidak tepat. Gejala tersebut disebut mania delirium (delirious mania) oleh Emil Kraepelin. = Pengendalian Impuls : Kira kira 75% pasien manik adalah senang menyerang atau mengancam. = Perimbangan dan Tilikan : Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien manik. Mereka mungkin melanggar peraturan dengan kartu kredit, aktifitas seksual dari finansial, kadang melibatkan keluarganya dalam kejatuhan finasial. = Reliabilitas : Pasien manik terkenal tidak dapat dipercaya dalam informasinya. d. Terapi Terapi pada penderita gangguan afektif bisa menggunakan ECT, perawatan psikososial, maupun dengan terapi farmakologi seperti obat-obatan anti depresan, Litium Karbonat maupun obat-obatan antipsikotik

PENGERTIAN Depresi merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri, klien tidak berminat pada pemeliharaan Diri dan aktivitas sehari-hari. Sedangkan Gangguan depresif merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyerta termasuk perubahan pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tak berdaya dan gagasan bunuh diri.

EPIDEMIOLOGI Gangguan depresi berat adalah suatu gangguan yang sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup kira-kira 15 % dan kemungkinan sekitar 25 % terjadi pada wanita. Terlepas dari kultur atau negara, prevalensi gangguan depresi berat dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Rata-rata usia onset untuk gangguan depresi berat kira-kira 40 tahun, 50 % dari semua pasien mempunyai onset antara 20 dan 50 tahun. Beberapa data epidemiologi baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi gangguan depresi berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun. Jika pengamatan tersebut benar, mungkin berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol dan zat-zat lain pada kelompok usia tersebut.

ETIOLOGI Tidak diketahui apa yang menyebabkan depresi. Seperti halnya banyak penyakit mental, ini muncul karena banyak faktor antara lain: Perbedaan biologis. Orang dengan depresi akan muncul perubahan aktifitas pada otak. Neurotransmitter. Secara alami muncul hubungan secara kimiawi pada suasana hati yang memiliki peran pada depresi. Harmon. Berubahnya keseimbangan hormon tubuh menjadi pemicu depresi. Perubahan hormon dapat dihasilkan pada tiroid yang bermasalah, menopause dan beberapa kondisi lain. Garis keturunan. Depresi muncul pada orang yang memiliki anggota keluarga yang juga mengalami kondisi tersebut. Ilmuan sedang mencoba untuk menemukan gen apa yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi. Kejadian hidup. Kejadian seperti kematian atau kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan dan stress tinggi dapat memicu depresi pada beberapa orang.

Trauma masa kecil. Kejadian traumatis pada saat anak-anak, bisa dapat menyebabkan perubahan permanent pada otak yang membuat anda lebih rentan depresi.

FAKTOR RESIKO Depresi secara khusus terjadi pada akhir usia 20an akan tetapi sebenarnya dapat terjadi pada semua usia. Meskipun penyebab tepat depresi tidak diketahui, ilmuan telah mengidentifikasi faktor tertentu yang meningkatkan risiko berkembangnya atau memicu munculnya depresi, yaitu: Memiliki hubungan biologis dengan orang yang memiliki depresi Wanita Memiliki kejadian traumatis saat anak-anak Memiliki hubungan biologis dengan catatan pecandu alkohol Memiliki anggota keluarga yang mengalami kejatuhan Memiliki pengalaman kejadian hidup yang memberikan tekanan, seperti kematian orang yang dicintai Memiliki banyak teman atau hubungan personal Memiliki suasana hati depresi ketika kecil Memiliki penyakit serius, seperti kanker, serangan jantung, Alzheimers atau HIV/AIDS Memiliki sifat tertentu, seperti rendahnya kepercayaan diri dan ketergantungan yang berlebih, mengkritik diri sendiri atau pesimistis Penyalahguanan alkohol, nikotin atau obat-obatan terlarang Mengambil pengobatan medis atas tekanan darah tinggi yang dimiliki, meminum obat tidur atau pengobatan medis tertentu lainnya. Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan terjadinya depresi: 1. Berbagai penyakit fisik 2. Faktor psikis 3. Faktor sosial dan lingkungan 4. Faktor obat 5. Faktor usia 6. Faktor genetik

Depresi Sebagai Bagian dari Gangguan Alam Perasaan

Kelainan fundamental dan kelompok gangguan alam perasaan yang membedakan dengan kelompok gangguan kejiwaan lainnya adalah adanya perubahan suasana perasaan (mood), biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi. Perubahan efek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktifitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Klasifikasi Gangguan Perasaan (mood) yang dikutip dari Rusdi

Kode F.32. F.32.0 F.32.00 F.32.01 F.32.1 F.32.10 F.32.11 F.32.2 F.32.3 F.32.8 F.32.9 F.33 F.33.0 F.33.00 F.33.01 F.33.1 F.33.01 F.33.11 F.33.2 F.33.3

Jenis Gangguan Suasana Perasaan (mood) Episode depresi Episode depresi ringan Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Episode depresi sedang Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Episode depresi berat tanpa gejala psikotik Episode depresi berat dengan gejala psikotik Episode depresi lainnya Episode depresi yang tidak tergolongkan (unspecified) Gangguan depresi berulang Gangguan depresi berulang, episode kini ringan Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Gangguan depresi berulang, episode kini sedang Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Gangguan depresi berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik Gangguan depresi berulang, episode kini berat dengan

gejala psikotik F.33.4 F.33.8 F.33.9 Gangguan depresi berulang, kini di atas remisi Gangguan depresi berulang lainnya Gangguan depresi berulang yang tidak tergolongkan (unspecified)

Depresi sebagai Bagian dari Reaksi Kehilangan Kehilangan, berpisah dengan barang, orang, status, sesuatu yang dicintainya, atau tempat dimana ia berada adalah faktor pencetus terjadinya depresi. Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata atau aktual ataupun yang dirasakan sementara ataupun menetap. reaksi kehilangan ada 5 tahap, yaitu : 1. Deniel 2. Anger 3. Bergaining 4. Depresi 5. Accpetance

PATOFISIOLOGI Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa neurotransmiter aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah serotonin. Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau kekurangan neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat. Pada depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu reseptor 5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam mekanisme biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua golongan anti depresan. Beberapa peneliti menemukan bahwa selain serotonin terdapat pula sejumlah neurotransmiter lain yang berperan pada timbulnya depresi yaitu norepinefrin, asetilkolin dan dopamin. Sehingga depresi terjadi jika terdapat defisiensi relatif satu atau beberapa neurotransmiter aminergik pada sinaps neuron di otak, terutama pada sistem limbik. Oleh karena itu teori biokimia depresi dapat diterangkan sebagai berikut :

1. Menurunnya pelepasan dan transport serotonin atau menurunnya kemampuan neurotransmisi serotogenik. 2. Menurunnya pelepasan atau produksi epinefrin, terganggunya regulasi aktivitas norepinefrin dan meningkatnya aktivitas alfa 2 adrenoreseptor presinaptik. 3. Menurunnya aktivitas dopamin. 4. Meningkatnya aktivitas asetilkolin. Teori yang klasik tentang patofisiologi depresi ialah menurunnya neurotransmisi akibat kekurangan neurotransmitter di celah sinaps. Ini didukung oleh bukti-bukti klinis yang menunjukkan adanya perbaikan depresi pada pemberian obat-obat golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor) dan trisiklik yang menghambat re-uptake dari neurotransmiter atau pemberian obat MAOI (Mono Amine Oxidasi Inhibitor) yang menghambat katabolisme neurotransmiter oleh enzim monoamin oksidase. Belakangan ini dikemukakan juga hipotesis lain mengenai depresi yang menyebutkan bahwa terjadinya depresi disebabkan karena adanya aktivitas neurotransmisi serotogenik yang berlebihan dan bukan hanya kekurangan atau kelebihan serotonin semata. Neurotransmisi yang berlebih ini mengakibatkan gangguan pada sistem serotonergik, jadi depresi timbul karena dijumpai gangguan pada sistem serotogenik yang tidak stabil. Hipotesis yang belakangan ini dibuktikan dengan pemberian anti depresan golongan SSRE (Selective Serotonin Re-uptake Enhancer) yang justru mempercepat re-uptake serotonin dan bukan menghambat. Dengan demikian maka turn over dari serotonin menjadi lebih cepat dan sistem neurotransmisi menjadi lebih stabil yang pada gilirannya memperbaiki gejala-gejala depresi. Mekanisme biokimiawi yang sudah diketahui tersebut menjadi dasar penggunaan dan pengembangan obat-obat anti depresa Jenis Depresi Depresi melankolis : termasuk berat, terjadi sepanjang waktu, responsif terhadap obat. Depresi musiman(seasonal) : timbul pada saat/musim tertentu (puncak di musim dingin, sembuh di musim semi atau panas). Depresi post partum : onset terjadi dalam jangka waktu 1 bulan setelah melahirkan (blue baby syndrome) atau berat (pos partum major depression). bisa ringan

GEJALA DAN PENEGAKAN DIAGNOSIS Gejala-gejala depresi antara lain: Merasa sedih Lekas marah atau frustasi walaupun pada hal yang kecil Hilang ketertarikan atau kesenangan pada aktifitas normal Mengurangi aktifitas hubungan intim

Insomnia ataupun terlalu banyak tidur Berubahnya selera makan seringkali kasus depresi mengurangi selera makan dan menyebabkan hilangnya berat badan, tapi pada beberapa orang depresi menyebabkan meningkatnya selera makan dan bertambahnya berat badan. Rasa bergejolak atau gelisah Lambat dalam berpikir, berbicara, atau bergerak Ketidaktegasan, mudah teralihkan, dan berkurangnya konsentrasi Lelah dan hilang energi bahkan tugas kecil membutuhkan usaha yang lebih Perasaan tidak berharga atau bersalah dan terpaku pada kesalahan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu berjalan tidak benar Bermasalah dalam berpikir, berkonsentrasi, membuat keputusan dan mengingat sesuatu Sering berpikir kematian, penderitaan atau kejatuhan Menangis untuk alasan yang tidak jelas Memiliki masalah fisik yang tidak terjelaskan seperti sakit punggung atau sakit kepala Pada beberapa orang gejala depresi sering merasa sedih atau tidak bahagia tanpa benar-benar tahu mengapa. Akibat depresi pada setiap orang bervariasi satu sama lain. Garis keturunan, usia, gender dan latar belakang kultur semuanya memiliki peran bagaimana depresi menimpa anda. Gejala depresi pada anak dan remaja Biasanya gejala depresi pada anak dan remaja berbeda dengan gejala depresi pada orang dewasa. Pada anak yang lebih muda, gejala depresi berupa kesedihan, lekas marah, keputusasaan dan rasa khawatir. Gejala pada remaja dan usia belasan adalah gelisah, perasaan marah dan menghindari interaksi sosial. Perubahan pikiran adalah tanda depresi yang biasa terjadi pada remaja dan orang dewasa, tapi tidak biasa pada anak yang lebih muda. Pada anak dan usia belasan depresi sering terjadi seiring masalah perilaku dan kondisi kesehatan mental lain seperti kegelisahan atau ADHD. Gejala depresi pada orang dewasa Ada orang dewasa yang lebih tua depresi dapat tidak terdiagnosis karena gejalanya contohnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, kesulitan tidur atau hilang ketertarikan pada hubungan intim dapat berarti disebabkan oleh penyakit lain. Orang tua dengan depresi mengatakan mereka tidak puas dengan hidup yang biasa, membosankan, tidak berdaya atau tidak berguna. Mereka selalu ingin berdiam dirumah, daripada pergi bersosialisasi atau mencoba sesuatu yang baru. Pikiran atau perasaan ingin bunuh diri pada orang dewasa menjadi tanda serius dari depresi yang tidak dapat diambil tindakan ringan khususnya pada laki-laki. Pada semua orang dengan depresi, tetapi laki-laki dewasa memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.

Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang. Sebagaimana tersebut berikut ini : 1. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat 1) Afek depresi 2) Kehilangan minat dan kegembiraan 3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. 2. Gejala penyerta lainnya: 1) Konsentrasi dan perhatian berkurang 2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis 5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri 6) Tidur terganggu 7) Nafsu makan berkurang Untuk episode depresi dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Kategori diagnosis depresi ringan (F.32.0), sedang (F.32.1) dan berat (F.32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresi berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang (F.33). 1) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Ringan (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas (2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya

(3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu (4) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. 2) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Sedang (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama (2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya (3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu (4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. 3) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik (1) Semua 3 gejala utama depresi harus ad (2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat (3) Bila ada gejala penting (misal retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan. (4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. 4) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Instrumen Pemeriksaan Tingkat Depresi hingga saat ini belum ada preparat biokimia yang handal untuk pemeriksaan depresi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat depresi seseorang. Tingkat depresi dibagi menjadi empat tingkatan (Beck Depression Inventory):

1. Skor <11 = Tidak ada depresi 2. Skor 11-15 = Depresi ringan 3. Skor 16-25 = Depresi sedang 4. Skor > 25 = Depresi berat

TERAPI Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai taraf hebatnya gejala depresi dan besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan bijkasana dan penderita sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-pikiran bunuh diri kepada orang yang memahami masalahnya, tetapi pada beberapa penderita ada yang tidak memberitahukan keinginan bunuh dirinya kepada pemeriksa karena takut di cegah. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan pemberian terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat anti depresan. Sebagian besar klinisi dan peneliti percaya bahwa kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi berat. Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu terapi kognitif, terapi interpersonal dan terapi perilaku, telah diteliti tentang manfaatnya di dalam pengobatan gangguan depresi berat. Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti depresan dibagi dalam beberapa golongan yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Golongan trisiklik (Mixed 5 HT/NE re uptake inhibitors ), seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan opipramol. Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine. Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono Amine Oxsidase-A), seperti : moclobemide. Golongan atipikal (Antagonis reseptor 5 HT2A) , seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine. Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti : sertraline, paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram. Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek primer (efek klinis) sekitar 2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam serta waktu paruh sekitar 12-48 jam (pemberian 1-2 kali perhari). Ada lima proses dalam pengaturan dosis, yaitu : 1. Initiating Dosage (dosis anjuran), untuk mencapai dosis anjuran selama minggu I. Misalnya amytriptylin 25 mg/hari pada hari I dan II, 50 mg/hari pada hari III dan IV, 100 mg/hari pada hari V dan VI.

2.

Titrating Dosage (dosis optimal), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis efektif kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari selama 7 sampai 15 hari (miggu II), kemudian minggu III 200 mg/hari dan minggu IV 300 mg/hari.

3. 4. 5.

Stabilizing Dosage (dosis stabil), dosis optimal dipertahankan selama 2-3 bulan. Misalnya amytriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian diturunkan sampai dosis pemeliharaan. Maintining Dosage (dosis pemeliharaan), selama 3-6 bulan. Biasanya dosis pemeliharaan dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari. Tapering Dosage (dosis penurunan), selama 1 bulan. Kebalikan dari initiating dosage. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari 100 mg/hari selama 1 minggu, 100 mg/hari 75 mg/hari selama 1 minggu, 75 mg/hari 50 mg/hari selama 1 minggu, 50 mg/hari 25 mg/hari selama 1 minggu.

Dengan demikian obat anti depresan dapat diberhentikan total. Kalau kemudian sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya. Pada dosis pemeliharaan dianjurkan dosis tunggal pada malam hari (single dose one hour before sleep), untuk golongan trisiklik dan tetrasiklik. Untuk golongan SSRI diberikan dosis tunggal pada pagi hari setelah sarapan. EVALUASI OBAT LINI PERTAMA ATS (anti depresan trisiklik/TCA) Contoh : amitriptilin, klomipramin, Imipramin, Nortriptilin ATS terbukti efektif dalam mengatasi semua tipe depresi, terutama gangguan depresi jenis melankolis yang berat. Semua ATS mempotensiasi aktivitas NE dan 5 HT dengan cara memblok re uptake-nya. ATS juga mempengaruhi sistem reseptor lain, maka selama terapi dengan ATS sering dilaporkan adanya ESO pada sistem kolinergik, neurologik dan kardiovaskular. ESO umum : antikolinergik dan hipotensi orthostatik SSRI (Selective serotonin re-uptake inhibitor) SSRI memiliki spektrum luas. Efikasinya setara dengan ATS : pasien yang gagal dengan ATS mungkin akan berespon baik terhadap SSRI atau sebaliknya. Memunculkan dugaan : ada perbedaan populasi pasien depresi berdasar patofisiologinya (NE mediated vs 5 HT mediated) sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Efek samping sedatif, antikolinergik, kardiovaskular : tidak ada. Tidak/sedikit sekali dieksresikan melalui ASI (aman untuk ibu menyusui).

LINI KEDUA Golongan 5-HT atau mixed re-uptake inhibitors. Contoh : venlafaksin, trazodon, bupropion. LINI KETIGA Golongan MAO inhibitors : fenelzin, moklobemid, tanilsipromin. MAO inhibitors memiliki spektrum yang berbeda dengan ATS sehingga lebih banyak digunakan pada depresi atypical dengan tanda-tanda mood reactivity, irritability, hypersomnia, hyperphagia dll. Keterbatasan penggunaan MAOI : banyak interaksi dengan obat dan makanan. Contoh : harus disertai dengan pantangan terhadap beberapa macam makanan seperti : keju, daging, MSG, kecap, coklat, apokat dll (kaya tiramin) serangan hipertensi. PENGGUNAAN OBAT PADA KONDISI KHUSUS Pasien geriatri SSRI lebih sering dipergunakan sebagai pilihan pertama karena efek sampingnya yang lebih rendah dari pada TCA. Penggunaan TCA (desipramin dan nortriptilin) juga bisa dilakukan karena range kadar plasma, efikasi dan profil ADRnya sudah diketahui tetapi harus diberikan secara hati-hati. Trazodon, nevazodon, dan bupropion juga dapat dipilih karena efek samping antikolinergik dan kardiovaskulernya rendah. Dosis inisial untuk pasien geriatri sebaiknya setengah dari dosis inisial untuk pasien dewasa, kemudian bisa ditingkatkan pelan-pelan. Anak-anak dan remaja Data yang mendukung masih sedikit, tampaknya SSRI lebih bisa ditoleransi dan lebih aman. Perlu dilakukan pemeriksaan ECG sebelum memulai terapi. Pasien Hamil Secara umum terapi nir obat lebih baik.

Nortriptilin dan desipramin bisa dipilih karena sudah banyak data tentang obat ini dan kadar terapeutik plasmanya sudah diketahui dengan baik. Obat-obat SSRI juga terbukti aman bagi kehamilan. Jika penggunaan TCA akan dihentikan, harus dikurangi dosisnya secara perlahan untuk mencegah gejala putus obat. Jika mungkin tapering dapat dimulai 5-10 hari sebelum hari perkiraan melahirkan. Parameter yang harus dipantau dalam penggunaan antidepresan Hilangnya gejala depresi, perbaikan fungsi sodial dan okupadional. Adverse reaction, spt : sedasi, efek antikolinergik, disfungsi seksual Pasien di atas 40 tahun sebaiknya diperiksa ECG sebelum memulai terapi TCA, dan ECG dapat dilakukan secara periodik selama terapi. Pantau/masih tidaknya ide untuk bunuh diri. Jika pasien mendapat venlafaksin atau TCA yang diberikan bersama natihipertensi yang memblok saraf adrenergik sehingga harus dipantau Tdnya. PROGNOSIS Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini cenderung merupakan gangguan yang kronis dan pasien cenderung mengalami relaps. Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif memiliki kemungkinan 50 % untuk pulih di dalam tahun pertama. Rekurensi episode depresi berat juga sering, kira-kira 30 sampai 50 % dalam dua tahun pertama dan kira-kira 50 sampai 70 % dalam 5 tahun. Insidensi relaps adalah jauh lebih rendah dari pada angka tersebut pada pasien yang meneruskan terapi psikofarmakologis profilaksis dan pada pasien yang hanya mengalami satu atau dua episode depresi.

A. Pengertian Gangguan Kepribadian Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. dalam pengertian sehari-hari kepribadian adalah bagaimana individu menampilkan dan menimbulkan kesan bagi individu lain. kepribadian adalah keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya.

Kepribadian adalah seluruh pola emosi dan perilaku yang menetap, dan bersifat khas pada seseorang dalam cara mengadakan hubungan, caranya berfikir tentang lingkungan dan dirinya sendiri. dalam kehidupan seharihari, seringkali kita menemukan berbagai macam perilaku tau emosi yang berbeda-beda. kadang kita menemukan seseorang yang beperilaku sopan, tidak mudah marah, dan dapat mengendalikan diri dengan baik. kadang pula kita menemukan hal yang sebaliknya. Jika perilaku atau emosi ini menetap pada diri seseorang sejak menjelang dewasa sampai saat ini dan merupakn ciri yang khas dari orang tersebut, maka hal ini dapat dikatakan bahwa inilah ciri-ciri kepribadian orang itu. tiap orang memiliki ciri khas kepribadian yang berbeda denga orang lain. tak ada satu orang pun yang memiliki ciri kepribadian yang sama dengan ciri kepribadian orang lain. Tempramen atau tabiat adalah salah satu aspek kepribadian yang berhubungan erat dengan konstitusi jasmani dan sudah dibawa sejak lahir. oleh karena itu tempramen lebih sukar dirubah oleh pengaruh lingkungan luar karena tempramen sangat dipengaruhi oleh faktor fisiologis tubuh. tempramen dapat dikatakan akan menetap dalam diri seseorang. Watak atau karakter adalah keseluruhan keadaan dan cara bertindak terhadap suatu rangsangan. Watak akan terus berkembang dalam masa kehidupan seseorang dan berhubungan erat dengan fungsi saraf pusat. watak juga dipengaruhi oleh faktor eksogen seperti lingkungan, pengalaman dan pendidikan. Penemuan Sigmund Freud yang paling mendasar yaitu peranan dinamis ketidaksadaran dalam hidup psikis manusia. Dalam salah satu buku yang ditulis olehnya yaitu Ego dan Id Freud membedakan tiga sistem dalam hidup psikis yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah lapisan psikis paling dasar yang merupakan keinginan-keinginan tersimpan dalam psikis seseorang. Psikis bayi yang baru lahir terdiri dari Id saja. Id menjadi bahan dasar dari pembentukan psikis lainnya. id dikuasai oleh prinsip kesenangan. Id tidak mengenal waktu dan tidak menurut logika. Ego merupakan lapisan psikis yang mengadakan hubungan langsung dengan dunia luar. Ego terbentuk dengan diferensiasi dari Id karena kontaknya dengan dunia luar. aktivitas Ego bersifat sadar, prasadar maupun tak sadar, namun sebagian besar bersifat sadar (contoh aktivitas sadar : proses intelektual, contoh aktivitas pra sadar : fungsi daya ingat, contoh aktivitas tak sadar : pertahanan psikis). Ego dikuasai prinsip realitas, seperti tampak dalam pemikiran yang objektif sesuai dengan tuntutan sosial dan rasional. Ego bertugas mempertahankan kepribadian dirinya dan juga menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Jadi Ego akan menyelesaikan pertentangan antara realitas lingkungan dengan keinginan-keinginan dalam psikis seseorang. Ego berfungsi menyatukan integritas kepribadian seseorang. Superego merupakan lapisan psikis yang terbentuk dari internalisasi (memasukkan ke dalam psikis) larangan-larangan, perintah-perintah, dan aturanaturan ke dalam psikis seseorang. Superego merupakan dasar dari hati nurani. Beberapa manifestasi yang merupakan Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan. Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi. Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.

Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa : Ketergantungan yang berlebihan Ketakutan yang berlebihan dan intimitas Kesedihan yang mendalam Tingkah laku yang eksploitatif Kemarahan yang tidak dapat dikontrol Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan

Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanakkanak. Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri. Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaanperasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial. Beberapa perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaanperasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya. Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar. Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian. B. 1. Faktor Penyebab Munculnya Gangguan Kepribadian Faktor Genetika

satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotikyang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama. 2. Faktor Temperamental

Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar. 3. Faktor Biologis Hormon

Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan kadar testosterone, 17estradiol dan estrone. Neurotransmitter Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik, menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut. Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas. Elektrofisiologi Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat. 4. Faktor Psikoanalitik Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anakyang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti. C. Gejala Umum Gangguan Kepribadian Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan pelbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan : 1. 2. 3. 4. 5. Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola tersebut cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan) fungsi-fungsi interpersonal dan kontrol terhadap impuls Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh pada satu atau lebih: waktu

sosial. memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya. menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa kondisi medis seperti luka di kepala. Catatan:

Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah simtom tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian. D. Klasifikasi dan Diskripsi Gangguan Kepribadian Menurut DSM-IV, gangguan kepribadian dikelompokkan menjadi : 1. Kelompok A Penderita ketiga jenis gangguan ini berperilaku eksentrik, ditambah beberapa kekhususan. Orang dengan gangguan seperti ini seringkali tampak aneh dan eksentrik.Jenis ini adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh berpikir atau berperilaku anehdan eksentrik yang mencakup: Gangguan kepribadian paranoid Ketidakpercayaan dan kecurigaan orang lain Percaya bahwa orang lain berusaha untuk menyakiti Emosional Mengembangkan sikap permusuhan Kelompok A ini terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan skizotipal. a. Gangguan Kepribadian Paranoid Bentuk gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang berlebihan atau menonjol.Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan : Kecurigaan yang bersifat pervasive bahwa dirinya sedang dicelakai, dikhianati Keraguan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan teman-teman Enggan mempercayai orang lain Memberikan makna tersendiri terhadap berbagai tindakan orang lain yang tidak mengandung maksud Mendendam atas berbagai hal yang dianggap sebagai kesalahan Reaksi berupa kemarahan terhadap apa yang dianggapnya sebagai serangan terhadap karakter atau Hipersensitif atau sangat perasa rigid atau kaku mudah iri dan sangat egois argumentatif atau suka menentang suka menyalahkan orang lain dan suka menuduh orang lain jahat.

apapun

reputasi

Menurut teori psikodinamika, gangguan ini merupakan mekanisme pertahanan ego proyeksi, orang tersebut melihat orang lain mempunyai motif merusak dan negative. Ada kecenderungan untuk membanggakan dirinya sendiri karena menganggap dirinya mampu berpikir secara rasional dan obyektif, padahal sebenarnya tidak. Menurut teori kognitif behavioral, orang dengan gangguan ini akan selalu dalam keadaaan waspada, karena tidak mampu membedakan antara orang yang membahayakan dan yang tidak. b. Gangguan Kepribadian Skizoid

Gangguan kepribadian dengan sifat pemalu, suka menyendiri, perasa, pendiam, dan menghindari hubungan jangka panjang dengan orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian schizoid ditandai dengan : c. 2. Kurang berminat ataau kurang menyukai hubungan dekat Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian Kurangnya minat untuk berhubungan seksual Kurang memiliki teman Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain Afek datar atau acuh/ tak peduli, emosi dingin Tidak terampil bergaul dan suka menyendiri. Preokupasi (berulang-ulang memikirkan isi pikiran) dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan Gangguan Kepribadian Skizotipe Ideas of Reference (keyakinan bahwa berbagai kejadian memiliki makna yang khusus dan tidak biasa bagi Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis Persepsi yang tidak biasa Dihantui oleh pikiran-pikiran autistik, yaitu pikiran-pikiran, dan takhayul-takhayul Pola bicara yang aneh Kecurigaan yang ekstrem Afek yang tidak sesuai Perilaku atau penampilan yang aneh Kurang memiliki teman akrab Rasa tidak nyaman yang ekstrem Kelompok B

Orang dengan gangguan skizotipal ditandai dengan : orang yang bersangkutan)

Jenis ini adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan terlalu emosional berpikir atau berperilaku yang mencakup: Antisosial (sebelumnya, sosiopat) Mengabaikan orang lain Terus-menerus berbohong atau mencuri Berulangkali bermasalah dengan hokum Berulang kali melanggar hak orang lain Agresif, sering berperilaku keras Mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain Terdiri dari gangguan kepribadiaan antisosial, ambang, histrionic dan narsistik. Orang dengan gangguan ini sering tampak dramatic, emosional, dan tidak menentu. a. Gangguan Kepribadian Antisosial Berulang kali melanggar hokum dan hak orang lain lewat perilaku agresif Menipu, berbohong Impulsivitas Mudah tersinggung dan agresif Orang dengan gangguan kepribadian antisocial ditandai :

b. c. d. 3.

Tidak memperdulikaan keselamatan diri sendiri daan orang lain Tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan Kurang memiliki rasa penyesaalaan Tidak sedikit diantara penderita cukup cerdas dan pandai menampilkna diri secara meyakinkan untuk Gangguan Kepribadian Histrionik Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian Perilaku tidak senonoh, secara seksual yang tidak pantas Perubahan ekspresi emosi secara cepat Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya Bicaranya sangat tidak tepat Ekspresi emosional yang berlebihan Sangat mudah sugesti Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya Emosinya labil; haus akan hal-hal yang serba menggairahkan (excitement) Senang mendramatisasi diri secara berlebihan untuk mencari perhatian Tergantung, tak berdaya, dan mudah ditipu Egois, congkak, sangat haus akan pengukuhan orang lain Sangat reaktif; dangkal atau picik, dan tudal tulus. Gangguan Kepribadian Ambang/ Bordeline Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil Perilaku impulsive, termasuk sangat boros, perilaku seksual yang tidak pantas Perilaku bunuh diri dan mutilasi diri yang berulang Kelabilaan emosional yang ekstrem Perasaan kosong yang kronis Sangat sulit mengendalikan kemarahan. Gangguan Kepribadian Narsistik Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri Terfokus pada kebersihan, kecerdasan dan kecantikan diri Kebutuhan ekstrem untuk dipuja Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu Kecenderungan memanfaatkan orang lain Iri pada orang lain Merasa diri penting dan haus akan perhatian dari orang lain Selalu menuntut perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain Kelompok C

menjadi penipu ulung. Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ditandai :

Orang dengan gangguan kepribadian ambang ditandai :

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik ditandai :

Terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan obsesif kompulsif. Orang dengan gangguaan ini sering tampak cemas dan ketakutan a. b. c. E. 1. 2. 3. Gangguan Kepribadian Menghindar/ Avoid Menghindari kontak interpersonal karena takut pada kritikan Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai Membatasi diri dalam hubungan intim Penuh kekhawatiran akan dikritik Merasa tidak adekuat Ketidakmampuan bergaul tersebut menjadi sumber kesusahan dan penyebab harga dirinya yang rendah. Keengganan ekstrem untuk mencoba hal-hal baru Gangguan Kepribadian Dependen Sulit mengambil keputusan tanpa saran dari orang lain Membutuhkan orang lain untuk mengambil tujuan atas sebagian aspek kehidupannya yang utama Sulit tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka Sulit melakukan segala sesuatu sendiri karena kurangnya percaya diri Melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan persetujuan dan Merasa tidak berdaya bila sendirian karena kurangnya rasa percaya pada kemampuannya untuk Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubungan baru bila hubungan yang dimilikinya saat ini Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif. Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utama suatu aktivitas terabaikan Perfeksionis ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan Menganut norma etik dan norma yang tinggi serta patuh secara berlebihan Pengabdian berlebihan padaa pekerjaan hingga mengabaikaan kesenangan dan persahabatan Tidak fleksibel Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti Kikir dan keras kepala Bila dipaksa bekerja tanpa pengawasan akan cemas, marah, benci, dan curiga terhadap atasannya. Resiko Gangguan Kepribadian Isolasi sosial, kehilangan sahabat-sahabat terdekat yang disebabkan ketidakmampuan untuk menjalani Bunuh diri, melukai diri sendiri sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan kepribadian ambang Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan Orang dengan gangguan kepribadian menghindar ditandai :

Orang dengan gangguan kepribadian dependen ditandai :

dukungan orang lain. menangani segala sesuatu tanpa intervensi dari orang lain berakhir

Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif ditandai :

Individu yang tidak segera melakukan pengobatan, gangguan kepribadian dapat berdampak pada: hubungan yang sehat, rasa malu yang disebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat dan cluster B

4. 5.

Depresi, kecemasan dan gangguan makan. Untuk semua cluster mempunyai resiko berkembangnya Perilaku berbahaya yang dapat merusak diri sendiri. Penderita gangguan kepribadian ambang berpotensi

problema psikologis lainnya melakukan tindakan berbahaya, tanpa perhitungan seperti terlibat pada seks bebas beresiko atau terlibat dalam perjudian. Pada gangguan kepribadian dependen beresiko mengalami pelecehan seksual, emosional, atau kekerasan fisik 6. 7. 8. 9. F. 1. a. karena individu ini hanya mengutamakan pada bertahan hubungan semata (bergantung pada orang Kekerasan atau bahkan pembunuhan. Perilaku agresif pada gangguan kepribadian paranoid dan antisosial Tindakan kriminal. Gangguan kepribadian antisosial mempunyai resiko lebih besar melakukan tindakan Gangguan simtom yang ada dapat menjadi lebih buruk dikemudian hari bila tidak mendapatkan Treatment bagi Gangguan Kepribadian Kelompok A Paranoid tersebut)

kriminal. Hal ini dapat mengakibatkan diri bersangkutan dipenjara perawatan secara baik Treatment untuk gangguan kepribadian merupakan kombinasi dari pengobatan dan psikoterapi.

Psikoterapi Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi kelompok, karena itu ahli terapi harus berhadapan langsung dalam menghadapi pasien dan harus diingat bahwa kejujuran merupakan halyang sangat penting bagi pasien. Farmakoterapi Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada sebagian besar kasus obat anti anxietas sepertidiazepam dapat digunakan. b. Skizoid Psikoterapi Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadiaan schizoid mungkin diam untuk jangka waktu yang lama, namun suatu waktu, mereka akan ikut terlibat. Pasien harus dilindungi dari serangan agresif anggota kelompok lain mengingat kecenderungan mereka akan ketenangan. Dengan berjalaannya waktu, anggota kelompok menjadi penting bagi pasien schizoid dan dapaat memberikan kontak sosial. Farmakoterapi Dengan antipsikotik dosis kecil, anti depresan dan psikostimulan dapat digunakan dan efektif pada beberapa pasien. c. Skizotipal Psikoterapi Pikiran yang aneh dan ganjil pada pasien gangguan kepribadian skizotipal harus ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang aneh. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili kepercayaan atau aktivitas mereka. Farmakoterapi Medikasi antipsikotik mungkin berguna dalaam menghadapi gagasan mengenai diri sendiri, wahaam dan gejala lain dari gangguan dan dapaat digunakan bersama-sama psikoterapi. Penggunaan haloperidol dilaporkan memberikan hasil positif pada. 2. a. Kelompok B Antisosial

Psikoterapi Jika pasien merasa berada diantara teman-teman sebayanya, tidak adanya motivasi mereka untuk berubah bisa menghilang, kemungkinan karena hal itulah kelompok yang menolong diri sendiri akan lebih berguna dibandingkan di penjara dalam menghilangkan gangguan. Tetapi ahli terapi harus menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak pada pasien. Dan untuk mengatasi rasa takut pasien terhadap keintiman, ahli terapi harus mengagalkan usaha pasien untuk melarikan diri dari perjumpaan dengan orang lain. Farmakoterapi Farmakoterapi digunakan untuk menghadaapi gejala yang diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan dan depresi. b. Ambang Psikoterapi Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secaraa mendalam. Terapi perilaku digunakan pada pasiem gangguan kepribadian ambang untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan terhadaap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan social, khususnya dengan video tape, membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain, hal ini untuk meningkatkan perilaku interpersonal mereka. Farmakoterapi Antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan dan episode psikotik yang singkat. Antidepresan memperrbaiki mood yang terdepresi yang sering ditemukan pada pasien. c. Gangguan Kepribadian Historinic Psikoterapi Pasien dengan gaangguan kepribadian histrionic seringkali tidak menyadari perasaan mereeka yang sesungguhnya. Psikoterapi berorientasi psikoanaliasis, baik dalam kelompok atau individual. Farmakoterapi Farmaakoterapi dapaat ditaambaahkaan jikaa gejala adalah menjadi sasarannya, seperti penggunaan aantidepresan untuk depresi dan keluhan somatic, obat anti anxietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi. d. Gangguan Kepribadian Narsistik Psikoterapi Mengobati gangguan kepribadiaan naarsistik sukaar karena pasien harus meninggalkaan narsismenya jika ingin mendapatkan kemajuan Farmakoterapi Lithium (eskalith) digunakaan pada pasien yang memiliki pergeseran mood sebagai bagian dari gambaran klinis. Dan karena rentan terhadap depresi, maka antidepresan juga dapat digunakan 3. a. Kelompok 3 Menghindar/ Avoid

Psikoterapi Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan. Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan social yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri pasien yang telah buruk. Tetapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka. Farmakoterapi Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan. b. Dependen

Psikoterapi Terapi yang digunakan yaitu melalui proses kognitif behavioral, dengan menciptakan kemandirian pada pasien, melatih ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Farmakoterapi Benzodiazepine dan obat serotonergik dapat berguna. c. Obsesif Kompulsif Psikoterapi Pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif seringkali tahu bahwa mereka sakit dan mencari pengobatan ataas kemauaan sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak terlalu mengarahkan, sangat dihargai oleh pasien gangguan ini. Farmakoterapi Clonazepam (klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan anti konvulsan, pemakaian obat ini untuk menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif parah.

Sumber : Bukus Sinopsis Psikiatri Kaplan Fisiologi Guyton Buku saku PPDGaJe III

Anda mungkin juga menyukai