Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRKATIKUM EKOLOGI TANAMAN

Semester Genap 2011/2012

Oleh: Nama Nim Kelompok : Yoga Aditia : A1L010259 : C8

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAMSTUDI AGROTEKNOLOGI PURWOKERTO 2012

LAPORAN PRKATIKUM EKOLOGI TANAMAN ACARA I CEKAMAN AIR

Semester Genap 2011/2012

Oleh: Nama Nim Kelompok : Yoga Aditia : A1L010259 : C8

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAMSTUDI AGROTEKNOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses fisiologis yang terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk

mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun terjadinya cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut. Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan nitrogen, kelebihan logam berat, kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain (Lambers, 1998). Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman adalah air. Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tanaman, hal ini karena air merupakan penyusun utama dari protoplasma sel, sebagai bahan pelarut dan memberikan suatu media untuk pengangkutan. Air juga diperlukan sebagai bahan penyusun senyawa baru, pemelihara tekanan turgor, dan secara tidak langsung dapat memelihara suhu tanaman. Pertumbuhan akan menjadi tidak normal (terganggu) apabila tanaman tumbuh di tempat yang kelebihan atau kekurangan air. Gangguan pertumbuhan tanaman sebagai akibat kelebihan atau kekurangan air berupa kelayuan tanaman. Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebanyak 85-90 % dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah air (Maynard dan Orcott, 1987). Noggle dan Frizt (1983) menjelaskan fungsi air bagi tanaman yaitu : (1) sebagai senyawa utama pembentuk protoplasma, (2) sebagai senyawa pelarut bagi masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke tanaman dan sebagai pelarut mineral nutrisi yang akan diangkut dari satu bagian sel ke bagian sel lain, (3) sebagai media terjadinya reaksi-reaksi metabolik, (4) sebagai rektan pada sejumlah reaksi metabolisme seperti siklus asam trikarboksilat, (5) sebagai

penghasil hidrogen pada proses fotosintesis, (6) menjaga turgiditas sel dan berperan sebagai tenaga mekanik dalam pembesaran sel, (7)mengatur mekanisme gerakan tanaman seperti membuka dan menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga serta melipatnya daun-daun tanaman tertentu, (8) berperan dalam perpanjangan sel, (9) sebagai bahan metabolisme dan produk akhir respirasi, serta (10) digunakan dalam proses respirasi. Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh adalah respon tanaman terhadap cekaman kekeringan dan salinitas; Cekaman kekeringan terjadi ketika ketersediaan air pada tanah berkurang dan kondisi atmosfer menyebabkan terus berkurangnya air karena transpirasi dan evaporasi. Cekaman bisa terjadi pada sehari-hari tanamanatau periode waktu yang panjang (Hale, 1987). Pada kondisi cekaman kekeringan maka stomata akan menutup sebagai upaya untuk menahan laju transpirasi. Saat stomata tertutup, maka tidak akan terjadi fotosintesis (Zoko, 2009). Menurut Jumin (1992), kekurangan air langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Proses ini pada sel tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya turgiditas dapat menghentikan pertumbuhan sel

(penggandaan dan pembesaran) yang akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat. Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman. Peran air yang sangat penting tersebut

menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air

pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapatmenurunkan pertumbuhan tanaman (Sinaga, 2002). Jika air hujan sedikit, garam tidak akan dilepaskan dari volume tanah, dimana hasil akan berkurang dengan bertambahnya jumlah garam. Pengaruh utama salinitas adalah berkurangnya pertumbuhan daun yang langsung mengakibatkan berkurangnya fotosintesis tanaman. Tanggapan yang pertama kali dilakukan tanaman adalah menurunkan tekanan turgor. Penurunan tekanan turgor ini berdampak pada menurunnya kemampuan perkembangan dan perbesaran ukuran sel. Penurunan turgor ini diperkirakan sebagai proses yang paling sensitive pada tanaman dalam merespon adanya konmdisi cekaman kekeringan. Akibat dari menurunnya turgor ini bisa berpengaruh pada penurunan pertumbuhan yang meliputi pertambahan panjang batang, perluasan daun dan penyempitan stomata (Zoko, 2009).Respon lain yang diberikan oleh tanaman saat terjadi cekaman garam adalah dengan

meningkatnya kadar hormone asam absisik (ABA). Konsentrasi endogenus ABA meningkat pada jaringan tanaman selama tanaman terkena cekaman, baik cekaman garam, kekeringan maupun dingin. (Moons, 1995).

II. METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah polybag ( 9 buah / blok ), kertas label , penggaris Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih padi, jagung dan kangkung; tanah normal, kering dan basah; pupuk SP-36, KCl dan urea

B. Prosedur Kerja 1. Alat dan bahan yang ingin digunakan disiapkan terlebih dahulu 2. Diambil polybag dengan jumlah 9 buah ( per blok ), kemudian semua polybag diisi dengan menggunakan tanah normal, kering dan basah ( tergenang ). 3. Selanjutnya, dibagi menjadi 3 kelompok dimana: kelompok 1 ditanam dengan benih jagung,padi dan kangkung dengan tanah normal; kelompok 2 ditanam dengan benih padi, jagung dan kangkung dengan tanah kering; dan kelompok 3 ditanam dengan benih kangkung, padi dan jagung dengan tanah basah (tergenang ). (Setiap kelompok di tanam sebanyak 2-3 butir benih dan dibuat 3 kali ulangan). 4. Dilakukan penyiraman setiap harinya. 5. Setelah 1 minggu, dilakukan penyulaman benih yang tidak tumbuh dan selanjutnya dilakukan pemupukan dengan pupuk SP-36, KCl dan urea 6. Dilakukan penyiraman tiap harinya dan dilakukan pengamatan setiap 1 minggu sekali 7. Setelah kurang lebih 3 minggu, dilakukan dekstruksi dimana tiap perlakuan diambil satu sampel 8. Selanjutnya diukur tinggi tan, jumlah daun, bobot akar dan tajuknya

9. Data dishare dengan kelompok yang lain

III. HASIL PENGAMATAN Perlakuan genangan, perlakuan kering dan perlakuan normal Tabel 1. Tinggi Tanaman Perlakuan PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj Blok II 12 14 0 4.83 24.83 30.16 15.86 24.07 11.17 Rerata Perlakuan 10.61 13.42 13.44 13.91 23.17 27.62 17.65 20.21 21.66

I 4.53 12.77 17.63 15.1 22.67 20.5 23.2 23.8 25.5

III 15.3 13.5 22.7 21.8 22 32.2 13.9 12.75 28.3

Tabel 2. Bobot Tanaman Perlakuan PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj Tabel 3. Bobot Tajuk Perlakuan PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk Blok II 0.78 0.72 0 0.03 0.06 Rerata Perlakuan 0.66 0.30 1.18 0.50 0.09 Blok II 0.8 0.74 0 0.04 0.09 0.5 0.46 0.2 0.73 Rerata Perlakuan 0.72 0.28 1.45 0.76 0.11 1.14 0.51 0.42 0.68

I 0.34 0.01 1.56 0.63 0.13 0.92 0.9 0.5 0.26

III 1.03 0.1 2.8 1.6 0.1 2 0.16 0.55 1.05

I 0.31 0.08 1.24 0.58 0.1

III 0.9 0.1 2.3 0.9 0.1

PnJj PnJk PnJk PnJj Tabel 4. Bobot Akar Perlakuan PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj PnJk PnJk PnJj Keterangan : Pg Pk Pn Jk Jp Jj = genangan = Kering = normal = kangkung = padi = jagung

0.54 0.77 0.23 0.15

0.37 0.36 0.1 0.23

1.5 0.96 0.45 0.85

0.80 0.70 0.26 0.41

I 0.13 0.02 0.41 0.04 0.04 0.31 0.12 0.82 0.11

Blok II 0.02 0.02 0 0.01 0.02 0.1 0.1 0.1 0.5

III 0.13 0 0.5 0.5 0.13 0.16 0.21 0.1 0.2

Rerata Perlakuan 0.09 0.01 0.30 0.18 0.06 0.19 0.14 0.34 0.27

IV. PEMBAHASAN Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam jenuh air , semua ruang pori tanah terisi oleh air. Dalam keadaan ini jumlah air yang disimpan di dalam tanah, jadi merupakan jumlah air maksimum yang disebut " Kapasitas Penyimpanan Air Maksimum". Selanjutnya, jika tanah kita biarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian akan terisi oleh air . Sebagian air yang diperlukan tumbuhan berasal dari tanah (disebut air tanah). Air ini harus tersedia pada saat tumbuhan memerlukannya. Kebutuhan air setiap tumbuhan berbeda (Hakim,1986). Air diperlukan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, antara lain untuk memenuhi transpirasi dalam proses asimilasi untuk pembentukan karbohidrat, serta untuk menyangkut hasilhasil fotosintesisnya. Air tanah berfungsi sebagai pelarut unsure hara dalam tanah. Kadar dan komposisi udara tanah sebagian besar ditentukan oleh hubungan air dan tanah. Udara tanah yang terdiri dari campuran gas itu bergerak menuju ke pori-pori yang belum diduduki oleh air (Buckman, 1982). Air terdapat di dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air atau karena keadaan drainase yang kurang baik (Sarwono,1989). Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman, bobot tanaman, bobot tajuk dan bobot akar diperoleh hasil sebagai berikut : Pada pengukuran tinggi tanaman didapatkan bahwa perlakuan tertinggi dari rata-rata semua blok pada perlakuan PkJj ( 27,62 ) data terendah pada perlakuan PnJk ( 10,61 ). Pada pengukuran bobot tanaman didapatkan bahwa perlakuan tertinggi dari rata-rata semua blok pada perlakuan PnJJ ( 1,45 ) dan terendah pada perlakuan PkJp ( 0,1 ). Pada pengukuran bobot akar didapatkan bahwa perlakuan tertinggi pada perlakuan PgJp ( 0,34 ) dan terendah pada perlakuan PnJp ( 0,01 ). Dan pada pengukuran bobot tajuk bahwa perlakuan tertinggi dari rata-rata semua blok pada perlakuan PnJj ( 1,18 ) dan terendah pada perlakuan PkJp & PkJj ( 0,1). Adapun hasil yang dihasilkan tersebut berbeda, dikarenakan setiap perlakuan pada tanaman itu sangat berbeda-beda, tergantung dengan konsistensi dan respon tanaman terhadap lingkungannya, dsebabkan setiap tanaman memiliki

respon tanaman yang sangat beragam, oleh karena itu pemanfaatan air dalam tanah sangat dipengaruhi oleh setiap penyerapan akar, dan kebutuhan nutrisi yang diserap oleh tanaman itu seberapa besar. Adapun perlakuan yang terbaik pada tinggi tanaman adalah pada PkJp dimana menghasilkan berat rerata perlakuan 23,16 hal ini dihasilkan karena pada perlakuan ini media tanam banyak mengandung unsur Kalium, yang dapat membantu pertumbuhan dan berkkembangnya batang tanaman, sehingga tidak heran apabila pada perlakuan ini menghasilkan tinggi tanaman yang lebih dominan. sedangkan pada bobot tanaman perlakuan yang dominan adalah pada PnJj yang menghasilkan berat rerata perlakuan adalah 1,45, dikarenakan factor media atau lingkungan tumbuh sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman meskipun pada blok ke dua tanaman tidak ada yang tumbuh atau mati. Pada perlakuan selanjutnya yaitu bobot tajuk sama dengan bobot tanaman, dimana ada tanaman yang mati, yang menghasilkan bobot rerata perlakuan adalah 1,18. Pada penimbangan bobot akar perlakuan yang paling dominan adalah pada genangan padi atau PgJp yang dihasilkan rerata 0,34. Fungsi air bagi tanaman yaitu : a) sebagai senyawa utama pembentuk protoplasma, b) sebagai senyawa pelarut bagi masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke tanaman dan sebagai pelarut mineral nutrisi yang akan diangkut dari satu bagian sel ke bagian sel lain, c) sebagai media terjadinya reaksi-reaksi metabolik, d) sebagai rektan pada sejumlah reaksi metabolisme seperti siklus asam trikarboksilat, (5) sebagai penghasil hidrogen pada proses fotosintesis, e) menjaga turgiditas sel dan berperan sebagai tenaga mekanik dalam pembesaran sel, f) mengatur mekanisme gerakan tanaman seperti membuka dan menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga serta melipatnya daun-daun tanaman tertentu, g) berperan dalam perpanjangan sel, h) sebagai bahan metabolisme dan produk akhir respirasi, serta

i) digunakan dalam proses respirasi.

V. KESIMPULAN 1. Air diperlukan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, antara lain
untuk memenuhi transpirasi dalam proses asimilasi untuk pembentukan karbohidrat, serta untuk menyangkut hasil-hasil fotosintesisnya.

2. Air tanah berfungsi sebagai pelarut unsure hara dalam tanah. 3. Perlakuan yang terbaik pada tinggi tanaman adalah pada PkJp dimana menghasilkan berat rerata perlakuan 23,16.

DAFTAR PUSTAKA

Arvidsson, J, 1998. Influence of soil texsture and organic matter content on bluk density. Air content, compression index and crop yield in field and laboratory compression experimentes. Soli till Res, 49, 159-170. Bohm, W. 1979. Methods of studying root systems. Ecological studies : analysis an synthesis Springer-Verling. Berlin, Germany. Ebbs, Stephen. 2009. Plant Ecophysiology-Spring Semester.

http://www.plantbiology.siu.edu/plb530/index_files/PLB530_Sp09.p df. Gardner, F.P , R.B. Pearce and R.L Mitchell.1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.UI Press. Jakarta Islami, Titiek dan Handu Utomo, Wani. 1995. Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. Semarang. IKIP, Semarang Press. Jumin, H. B. , 1992, Ekologi Tanaman suatu Pendekatan Fisiologi, Rajawali Press, Jakarta. Lambers, H., F. Stuart Chapin, Thijs L. Pons. 1998. Plant Physiological Ecology. Springer. New York. Moonns. A. 1995. Molecular and Physiological Responses to Abscisic Acid Salts in Roots of Salt-Sensitive and Salt-Tolerant Indica Rice Varieties. Plant Physiol Vol 107: 177-186. Tohari. 1994. Fisiolog Tanaman Budidaya Tropik. Jogjakarta : Gajah Mada University. Zoko, G. 2009. Cekaman Kekeringan. Diakses dari gozomora.blogspot.com

Sinaga, S. 2002. Asam Absisik Sebuah Mekanisme Adaptasi Tanaman Terhadap Cekaman Kekeringan. Hal 1-6. Diakses dari

http://www.daneprairie.com