Anda di halaman 1dari 40

Buletin Tritonis, edisi I April 2011

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Surat dari Redaksi


Menapaki hari dengan penuh semangat di tahun 2011, Tritonis mencoba memberikan sentuhan baru dalam setiap liputan dan artikelnya. Kegiatan demi kegiatan di awal tahun kelinci emas ini akan dikupas habis pada edisi kali ini. Dalam edisi awal tahun 2011 ini, kami menyampaikan liputan mengenai kemeriahan berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk memperingati hari bakti rimbawan ke-28 lingkup Provinsi Papua Barat. Kegiatan pelatihan SPAGs yang diikuti oleh beberapa pegawai BBTNTC turut meramaikan awal tahun kelinci emas ini. Selain itu, liputan mengenai kegiatan rakorenbanghutda juga akan menghiasi beberapa halaman dalam Buletin edisi kali ini. Masalah perubahan iklim, REDD yang hangat dibicarakan merupakan beberapa artikel yang dimuat dalam edisi kali ini. Beberapa cerita dari lapangan yaitu: monitoring di Wasior dan semiloka sinergitas pariwisata alam di Nabire, dikupas di sini. Kolom biodiversity kali ini memberikan informasi mengenai Kuskus (Phalangeridae). Semoga kehadiran Buletin Tritonis edisi pertama di awal tahun 2011 ini mampu menambah pengetahuan dan informasi bagi pembaca. segala kritik dan saran yang membangun demi kemajuan Buletin Tritonis sangat kami harapkan. Buletin Tritonis (Tanggap, Realistis, Informatif & Inspiratif),

Daftar Isi

03

Liputan
Pelatihan Monitoring Tempat Pemijahan Ikan (SPAGs).

Rakorenbanghutda

Provinsi Papua Barat Tahun 2011, Membangun Kehutanan Papua Barat yang Sinergis dan Pro Masyarakat.

Hari Bakti Rimbawan ke-28 di Provinsi

10

Artikel
Mengenal REDD dan REDD+. Kerjasama RI-Norwegia dalam Mitigasi
Perubahan Iklim Global.

Ekosistem Padang Lamun: Produktivitas


dan Potensinya di Kawasan Konservasi Laut (pesisir).

Mekanisme Perdagangan Produk Sumberdaya Laut di Kawasan Konservasi TNTC.

Everyday is Earth Day.

Merupakan media informasi dan komunikasi konservasi untuk menyebarluaskan informasi konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara umum, pengelolaan-pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta pengembangan kawasan konservasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

20 24

Berita Gambar Dari Lapangan


Perjalanan Tim Monitoring Pengamanan
Partisipatif/ Swakarsa Masyarakat di BPTN Wilayah II Wasior

SUSUNAN REDAKSI
Pembina & Penanggung Jawab : Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Pengarah/Editor : Yohanes Cahyo D. H., S.Hut Pimpinan Redaksi : Ir. Christina Matakupan, M.Si Staff Redaksi : Sumaryono, S.Hut., Muhibbudin Danan Jaya, A.Md.. & Rini Purwanti, S.Si Layout : Sumaryono, S.Hut & Lidia Tesa Vitasari Seputro, S.Si Desain Cover : Eko Setyawan, S.Si & Muhibbuddin Danan Jaya, A.Md Sumber Foto : Dokumentasi TNTC

Semiloka

Sinergitas Pemanfaatan Wisata Alam Kawasan TNTC di Kabupaten Nabire. vasinya di Papua Barat.

Merbau (Intsia sp.) dan Upaya Konser-

32 35 38

Opini
Pentingnya Media Internet Dalam Mempromosikan Pesan Konservasi

Biodiversity
Kuskus (Palangeridae) di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Alamat Redaksi
Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Jln. Essau Sesa-Sowi Gunung Manokwari-Papua Barat Telp : (0986)212303 Fax : (0986)214719 E-mail : telukcenderawasih@gmail.com

Serba-serbi
Beragam Keunggulan Gerak Jalan Berjalan Kaki/

LIPUTAN :

Pelatihan Monitoring Tempat Pemijahan Ikan (SPAGs)

diantaranya adalah ikan kerapu, kakap merah, ikan tuna, sehingga sangat perlu untuk menjaga daerah -daerah tempat yang diduga sebagai ikan-ikan pemijahan

tersebut. Sesi berikutnya adalah tentang teknis monitoring tempat pemijahan ikan, yang dibawakan oleh Anton Wijonarno dari WWFIndonesia, menyampaikan secara umum tentang teknis monitoring serta bermacam-macam jenis ikan ekonomis penting serta memiliki kerentanan yang tinggi yang perlu untuk macan, kemudian elatihan pemijahan dengan Aggregation monitoring ikan SPAGs atau tempat dikenal Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Bapak Kepala Balai TNTC, yang dalam sambutannya beliau kegiatan dapat mengajak para peserta antusias dalam mengikuti seluruh pelatihan menyerap serta pada monitoring ilmu yang dapat kegiatan tempat pemijahan ikan ini agar diberikan menerapkannya dimonitoring ikan kerapu tempat sunu. dengan pemijahannya, seperti ikan kerapu dilanjutkan

pengestimasian panjang total ikan yang dilihat di layar, para peserta sangat antusias mengikutinya. dari 80 gambar yang ditampilkan, setelah dikoreksi ternyata hasilnya masih dibawah 75%, berarti para peserta pemijahan sesungguhnya. Selanjutnya pada hari kedua, kegiatan masih dilakukan di kantor BBTNTC, yaitu penyampaian materi dinamika populasi ikan dan ciri-ciri ikan yang sedang yaitu; melakukan pemijahan, berkelompok, masih belum ikan bisa yang melaksanakan monitoring tempat

(Spawning

Sites) dilaksanakan

pada tanggal 12-19 Februari 2011 yang bertempat di kantor Balai Besar TNTC. Pelatihan atas ini diselenggarakan Indonesia dalam bertujuan peserta jenis konservasi kerjasama kerja ini para

Balai Besar TNTC dengan WWFsebagai mitra pengelolaan untuk kawasan

monitoring tempat pemijahan ikan nantinya di kawasan TNTC. Kegiatan pada hari pertama, berupa penyampaian materi oleh Kimpul laut Sudarsono yang bernilai dari WWFIndonesia, tentang populasi ikan ekonomis penting semakin menurun tingkat populasinya karena pemanfaatan yang dilakukan untuk pasar secara besarbasaran kebutuhan memenuhi internasional,

TNTC. Pelatihan melatih pelatiahan

monitoring penting, serta diikuti

SPAGs tentang penngenalan jenisikan ekonomis populasi SPAGs dinamika Pelatihan ikan, ini

berkelahi, berubah warna, saling menggigit, perutnya membesar, berpasangan, serta memijah. dan waktu untuk melakukan pemijahan adalah saat bulan purnama dimana arus bawah air laut sedang deras, hal ini akan memudahkan telur

estimasi panjang dan jumlah ikan. sebanyak 22 peserta, yang berasal dari Balai Besar TNTC, WWFIndonesia, dan UNIPA.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

03

Liputan
evaluasi tentang kegiatan serta pembentukan SPAGs diberikan tim monitoring sebelumnya mengenai BBTNTC, pelatihan

pengolahan data lapangan. Setelah dievaluasi, maka terpilih 7 orang peserta yang nantinya tergabung Tim monitoring SPAGs BBTNTC, yaitu Calvin Wiay, Mulyadi, M.Tasdiq, Djainal Arifin, Yahya Rum Popang, Umar, Titus Wemiyaupea. Selanjutnya ketujuh peserta ini akan ikan ikan yang sudah dibuahi akan mudah tersebar. kemudian sesi selanjutnya adalah sharing teknis dengan Putu Suastama yang merupakan tim SPAGs dari BTN Wakatobi, yang diundang sebagai instruktur dalam pelatihan SPAGs dilakukan di lapangan. Pada hari ketiga, materi pelatihan SPAGs masih seputar dinamika populasi ikan serta pencatatan data lapangan yang diperlukan dalam monitoring SPAGs, serta ciri-ciri berbagai jenis ikan yang akan dimonitoring. dengan kemudian dilanjutkan untuk melatih para peserta yang belum berpengalaman diving, sehingga di kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para peserta. Kemudian pada hari keenam, kegiatan BBTNTC dilakukan untuk di kantor memberikan ini. selanjutnya pengestimasian yaitu pengestimasian panjang ikan secara langsung didalam air laut, yang dilakukan dengan snorkeling dan diving (bagi yang sudah terlatih). Kegiatan di pantai pasir putih ini sekaligus sebagai ajang di Dari melakukan kawasan kegiatan kegiatan TNTC yang monitoring awal tempat pemijahan dilakukan pada hari ke-7, dan ke-8. pelatihan monitoring tempat pemijahan ikan ini dapat diambil beberapa hal, yaitu dalam pengelolaan kawasan konservasi perlu mengetahui titiktitik atau daerah di dalam kawasan yang diduga sebagai tempat pemijahan ikan yang bernilai ekonomis penting agar mereka dapat melangsungkan tetap terjaga proses serta dapat regenerasi agar populasi diharapkan

panjang ikan di layar, serta

memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat kawasan. (Topo Budi Dhanarko,S.Pi)

kegiatan pengestimasian panjang ikan kembali yang dilakukan di lapangan (on land). Hari keempat dan kelima, kegiatan pelatihan SPAGs dilakukan di pantai pasir putih,

04 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Liputan
RAKORENBANGHUTDA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011,
Membangun Kehutanan Papua Barat yang Sinergis dan Pro Masyarakat
oleh : Widia Nur Ulfah, S.Pi *)

2012. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) selaku Koordinator Teknis yang Wilayah menjadi perwakilan seluruh Unit Pelaksana (UPT) Kementerian usulan Kehutanan Provinsi Papua Barat menyampaikan rencana kerja tahun 2012. Dalam pemaparannya, Kepala Balai Besar TNTC, Ir Djati Witjaksono Hadi, M.Si juga menyampaikan enam kebijakan prioritas Kementerian Kehutanan tahun 2010-2014 yaitu Pemantapan Kawasan Hutan, Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung DAS, Pengamanan Hutan Lestari untuk membahas se-Papua rencana Barat kerja UPT tahun Hutan Kebakaran Revitalisasi menyusun dan dan Pengend alian Konservasi Hayati, Hutan dan di Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan yang merupakan visi Departemen Kehutanan, sepertinya akan menjadi pekerjaan rumah para Rimbawan seluruh Indonesia. Bagaimana tidak, untuk mewujudkan itu semua diperlukan suatu upaya bersama. Rapat Koordinasi Rencana Pembangunan Kehutanan (Rakorenbanghutda) Papua Barat Tahun pada dilaksanakan Daerah Provinsi 2011 hari ini Kamis Kementerian dan Dinas Kehutanan untuk anggaran 2012. Setiap instansi Hutan,

Keanekaragaman Industri

Pemanfaatan Kehutanan

usulan rencana kerja yang akan diajukan untuk tahun anggaran

Pemberdayaan

Masyarakat

Sekitar Hutan. Keenam kebijakan

tanggal 3 Maret 2011 bertempat di Billy Jaya Hotel Manokwari, Papua Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh kepala balai seluruh UPT Kementerian Kehutanan Provinsi Papua Barat dan juga Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten Kegiatan atau ini perwakilannya.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

05

Liputan
prioritas ini menjadi acuan dasar dalam penyusunan rencana kerja masing-masing diharapkan UPT dan dengan tapi sejalan Pemberdayaan Sekitar Hutan Potensi kehutanan besar, sekitar hutan Masyarakat Rencananya, 400.000 sebagai Konsepnya Ha hutan tahun 2012 akan dialokasikan lahan seluas untuk digunakan model kemasyarakatan. berupa

masyarakat

program pemerintah daerah. Papua Barat memiliki luas kawasan hutan 9.427.600,16 Ha, diantaranya adalah Hutan Lindung (HL) seluas 1.648.277,57 Ha, Kawasan Suaka Alam (KSA) seluas 1.751.648,35 Ha, Hutan Produksi (HP) seluas 1.866.284,39 Ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 1.847.243,96 Ha dan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 2.314.144,79 Ha. Seluruh kawasan hutan ini tentunya serius perlu penanganan mengingat

miskin merupakan poin pertama dari isu aktual yang terjadi di Provinsi Papua Barat. Bagaimana cara masyarakat diberdayakan dan agar mereka mendapatkan manfaat dari hutan yang menjadi miliknya adalah tanggung jawab bersama. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan Hutan Desa merupakan salah satu program Kepala yang Balai dicanangkan.

pemberdayaan masyarakat. Selain itu, inventarisasi tetap dilakukan untuk memenuhi target per tahun sebanyak 100.000 Ha berupa hak ijin pengelolaan masyarakat pada hutan desa. Fokus pembangunan hutan desa. Harus ada koordiansi instansi terkait, seperti BPKH (Balai Pemantapan Kawasan Hutan) tentang tata batas dan peta, dinas, BPDAS, dll. Dalam pelaksanaannya, kegiatan HTR ataupun Hutan desa memerlukan perhatian dari seluruh instansi terkait, koordinasi sangat diperlukan tumpang dengan agar tidak adanya dalam percepatan tindih program

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki, Ir. Toyo Sunaryo, menjelaskan bahwa HTR lebih pada bisnis, atau usaha kehutanan sedangkan hutan desa lebih diarahkan pada kegiatan pemberdayaan masyarakat. Hutan Desa masuk ke dalam kontrak kerja menteri kehutanan tahun anggaram 2010-2011.

kawasan hutan Papua merupakan salah satu paru-paru dunia yang perlu dijaga kelestariannya. Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dengan dipisahkan sekitar dalam persekutuan tidak tidak dapat dapat di alam lingkungannya, yang satu lainnya Hutan dari dipisahkan.

pelaksanaannya. Hal ini terkait pembangunan yang saat ini tengah dilaksanakan. Rancangan program percepatan sudah siap, diharapkan

masyarakat

hutan.

Bagaimanapun,

masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan hutan. Seperti yang dibahas dalam kegiatan ini, program pemberdayaan

masyarakat merupakan hal penting yang harus menjadi goal setiap rencana kerja masing-masing instansi kehutanan di Papua Barat.

06 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Liputan
aktual pembangunan kehutanan di provinsi Papua Barat yaitu mengenai Global Warming (Carbon trade), diharapkan program REDD ( Reducing Emissions and deforestasi from Forest dan Deforestation emisi dari masyarakat. Pada intinya, dalam

Rakorenbanghutda Provinsi Papua Barat tahun 2011 ini dilakukan pembahasan rencana kerja Kehutanan untuk tahun 2012 dan penekanan perlunya sinkronisasi kegiatan pusat dan daerah dalam hal pemantapan kawasan, hutan desa dan rehabilitasi hutan. Setidaknya perlu adanya kerjasama dan koordinasi yang baik antar instansi dalam pembangunan kehutanan di Papua Barat. Kalau Bukan Kitorang Siapa Lagi, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi. Selanjutnya RAKORENBANGHUTDA dibawa ke Rapat hasil Provinsi koordinasi

Degradation) atau pengurangan degradasi hutan, sebagai mitigasi perubahan iklim dapat berjalan baik. Tentunya hal ini perlu dukungan dari seluruh instansi dan kerjasama masyarakat. Sehingga perlu adanya sosialisasi mengenai kedepan percepatan ini dapat REDD kepada masyarakat agar masyarakat paham tentang hak dan enam kewajiban mereka dalam pelaksanaan program REDD. Dalam kebijakan sudah prioritas tahun ini. disebutkan Kementerian 2010-2014 dengan terkait Kehutanan dilaksanakan secara terkoordinir, intinya adalah masyarakat miskin menjadi prioritas utama. Program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan perlu ditingkatkan masukan dan dari tentunya terutama perlu

Papua Barat tahun 2011 ini akan Rencana Pengembangan

instansi terkait dalam program ini dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat adat. Kemiskinan ditanggulangi

jelas tentang hal dengan

Namun, salah satu upaya yang peningkataan pengetahuan kepada masyarakat dinilai belum sepenuhnya berhasil, perlu dilakukan telaah ke daerah atau provinsi lain. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, saat ini program Carbon Trade masih jika dalam berhasil taraf akan Satgas Karbon, badan percobaan, ini telah

Kehutanan Regional IV tahun 2011 di Makassar pada tanggal 17-18 Maret 2011.

dengan kegiatan yang Pro Job, Pro Growth, Pro Poor. Sehingga perlu koordinasi instansi terkait untuk kegiatan itu yang berupa pemberdayaan masyarakat. Hal ini yang terkait langsung diantaranya adalah Litbang Dinas Kehutanan kemiskinan dan ini Kehutanan. Program

*) Calon PEH pada Balai Besar TNTC

ditindaklanjuti terus. Hingga saat dibentuk Rendah Pembangunan yang

pengentasan 2011-2016.

diarahkan untuk tahun anggaran

atau dikenal dengan TASK FORCE, merupakan independen yang mengurus REDD, menyeleksi siapa saja yang benarbenar memiliki misi perdagangan karbon tanpa meru gikan

Global Warming (Carbon trade) Seperti disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), salah satu isu

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

07

Liputan

Hari Bhakti Rimbawan ke-28 di Provinsi Papua Barat


memeriahkan HBR ke-28 tahun 2011 antara lain : 1. Catur 2. Futsal 3. Bola volley 4. Bulu Tangkis 5. Tarik Tambang 6. Tenis Meja 7. Gaple/Domino 8. Menggambar/Mewarnai untuk anak-anak 9. Senam/Gerak Maju Papua Barat Dengan Jiwa Korsa Rimbawan Kita Tingkatkan Partisipasi Masyarakat untuk Mewujudkan Hutan Lestari dan Masyarakat Sejahtera itulah tema yang diangkat dalam memperingati Hari Bakti Rimbawan (HBR) ke-28 tahun 2011 di Provinsi Papua Barat. HBR ke 28 dimeriahkan keluarga dengan besar berbagai rangkaian kegiatan yang melibatkan Rimbawan se-Provinsi Papua Barat, antara lain Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Dinas Kehutanan Kabupaten Manokwari, BBKSDA Papua Barat, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Balai BPK Manokwari, Kehutanan Latihan melalui upacara pembukaan 10. Olimpiade (pengenalan bibit, pembacaan GPS, ukur tinggi pohon, mengukur kayu logg, pengetahuan umum kehutanan, ketangkasan memasukkan paku dalam botol, menahan napas dalam air dan simulasi tanggap bencana) kegiatan dalam rangka HBR ke-28 di halaman BLK Manokwari yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si., selaku Koordinator Wilayah UPT Kemenhut di Provinsi Papua Barat. Beberapa perlombaan/pertandingan diselenggarakan kegiatan yang untuk Selain perlombaan dan pertandingan, kegiatan lain adalah melaksanakan bakti sosial seperti

Manokwari, SKMA, BP2HP Wilayah XVIII, BPKH Wilayah XVII, BPDAS Remu Ransiki, Fahutan-UNIPA, dan Mitra Rimbawan Rangkaian kegiatan tersebut dimulai pada tanggal 9 Maret 2011

08 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Liputan
dunia sekarang ini meyakini bahwa hutan tidak hanya memiliki fungsi sosial-ekonomi, dan sosial-budaya, tetapi juga mempunyai fungsi ekologis, yang peranannya sangat vital bagi kelestarian lingkungan hidup. Oleh sebab jika itu dapat peranan dimengerti

Kementerian Kehutanan menjadi sangat penting dalam menjaga kelestarian fungsi hutan agar tetap optimal. penyerahan bantuan ke Yayasan Yatim Piatu, melakukan donor darah yang difasilitasi oleh PMI (Palang Merah Indonesia). Serta penanaman pohon yang ditanam di lingkungan Perumahan Bumi Marina Asri Amban Manokwari yang juga dihadiri oleh bapak Inspektorat Wilayah IV Ir. Binsar Sitanggang, M.M. Puncak peringatan Hari Bhakti rimbawan ke-28 tahun 2011 Provinsi Papua Barat di tandai dengan Upacara Peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke-28 yang diselenggarakan tepat pada hari Rabu, tanggal 16 Maret 2011 bertempat Dinas di halaman Kantor Kehutanan Kabupaten lagi rimbawan tidak saja Di akhir sambutannya, sekali ditekankan dan perlu dalam bahwa kearifan dan profesionalisme

dipupuk

ditingkatkan terus kualitasnya. Ini penguasaan bidang teknis, tetapi juga perlu adanya sikap unggul, dan integritas moral, seperti kemauan untuk selalu meraih prestasi kerja yang terbaik, dengan berpegang pada norma dan etika kerja yang sudah ditentukan. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan lomba senam/ gerak maju papua barat yang diikuti oleh Ibu-ibu dharma wanita seluruh UPT Kemenhut lingkup Papua Barat . Dengan hari bhakti rimbawan ke -28 tahun 2011, kita sebagai keluarga besar rimbawan, mari bersama-sama melestarikan menjaga hutan kita dan dari depan

Manokwari, dan sebagai Pembina Upacara adalah Gubernur Papua Barat yang diwakili oleh Assisten III Menteri Kehutanan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Pembina upacara mengingatkan kembali bahwa sumberdaya hutan kita, tidak saja menjadi aset bangsa, tetapi juga menjadi aset dunia. Karena umat di seluruh

kehancuran demi masa

bangsa dan tanah yang kita cintai demi masa depan anak cucu kita.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

09

ARTIKEL :
MENGENAL REDD dan REDD+
Oleh: Erwin Kusumah Nanjaya, S. Hut.* kualitas erubahan iklim ialah suatu fenomena yang tidak bisa dihindari lagi. Oleh karena itu semakin manjadi ancaman nyata bagi manusia dan alam. Perubahan iklim global yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca secara signifikan, menjadi topik pembicaraan utama para ilmuwan, bahkan ekologi negarawan, diplomat. seperti iklim polikus Perubahan ekstrim iklim kita. Komitmen untuk memberikan insentif bagi negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Merupakan salah satu opsi mitigasi perubahan iklim di sektor Kehutanan yang dilaksanakan secara sukarela dan menghormati kedaulatan negara. Dengan adanya mekanisme internasional ini, maka diharapkan diperoleh berbagai keuntungan; 1) keuntungan klimatis (memangkas 20% emisi global), 2) keuntungan biodiversitas (mencegah kehilangan habitat terkaya dari biodiversitas), 3) keuntungan sosial (timbal balik dan keuntungan bagi salah satu masyarakat lokal). REDD+? REDD+ merupakan evolusi dari kebijakan REDD. Peningkatan stock karbon di hutan merupakan tambahan dari mekanisme REDD+. Dalam bukan REDD+ hanya yang iklim, menonjol tapi juga tambahan Presiden SBY yang disampaikan pada pertemuan G20 di Pitsburgh 2009 Indonesia akan mengurangi emisi sebesar 26% dari emisi Business as Ussual tanpa bantuan Internasional 41% diminta (Unilateral) pada tahun 2020, dan bisa mencapai dengan menurunkan dukungan emisinya internasional. Sektor Kehutanan

sebesar 14% dari target diatas (52% dari target 26%). Di Indonesia, upaya untuk merespon isu global mengenai pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Deforestation terbentuklah Forest Emissions dan IFCA from Forest maka (Indonesian Alliance). kesiapan

(kemarau panjang, banjir, angin kencang), naiknya suhu bumi akan semakin kuat intensitas pada dan masa frekuensinya

mendatang. Demikian juga tinggi air laut akan semakin meningkat apabila tidak ada upaya bersama untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Kondisi sumber daya hutan yang cepat berubah, penutupan hutan yang luasannya semakin menurun semakin (deforestasi/degradasi) membuat terpuruk

Degradatian/REDD), Climate

konservasi. ialah; 1. mengurangi

Manfaat

Mempertimbangkan

REDD+ bagi kawasan konservasi kemiskinan (sehingga dan dapat

Indonesia saat ini, perkembangan proses negosiasi, harapan pada COP 13 dan tahun 2007 pasca telah COP 13, mulai pemikiran Kementerian kehutanan sejak awal mengimplementasikan

berkeadilan,

mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi): Insentif terhadap hasil inisiatif hutan positif masyarakat Pemanfaatan secara lestari Pembagian manfaat Pemberdayaan sekitar 2. Perbaikan tata kelola memperkut manajemen masyarakat

tentang upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD) di Indonesia. Jadi, Apa itu REDD? REDD Degradatian) (Reducing ialah Emissions mekanisme from Deforestation dan Forest internasional yang dimaksudkan

10 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Artikel
Namun demikian, REDD+ juga menyimpan beberapa peluang bagi kawasan konservasi, antara lain: 1. Kerjasama bilateral (Australia, Inggris, konservasi 2. memaksimalkan Demontration Activities di kawasan konservasi yang difasilitasi oleh mitra (TNC, FFI, WWF dan pihak lainnya) untuk menbangan kapasitas dan pengalaman kawasan kolaborasi kawasan konservasi Keterlibatan masyarakat Memberdayakan masyarakat sekitar/masyarakat adat. Memperkuat pengelolaan zona penyangga Mengembangkan 3. Konservasi hayati lainnya Alternatif pembiayaan kawasan konservasi Aktivitas restorasi yang tepat (memperkaya hayati) Meningkatkan Memperkuat habitat dan species Mengembangkan lingkungan lainnya. jasa efektifitas konservasi pengelolan kawasan konservasi keragaman dan mekanisme pembagian manfaat yang adil. keanekaragaman jasa lingkungan Selain seperti manfaat-manfaat tersebut diatas, pengelolaan konservasi dalam proses dan regulasi dan Jerman, dll) di internasional, multilateral Norway, kawasan

implementasi REDD+ 3. Memperkuat pengembangan

implementasi REDD+ di kawasan konservasi bukan tanpa tantangan. Tantangan-tantangan antara lain: 1. Aspek konservasi belum menjadi prioritas Indonesia 2. Pemahaman mengenai REDD (+) yang belum merata 3. koordinasi dan sinergi yang belum kuat di tingkat nasional dan sub nasional 4. Penyiapan aturan kelembagaan main dan (pembagian kapasitas masyarakat dan dalamREDD+ di tersebut,

REDD yang ada dan memastikan aspek konservasi menjadi salah satu prioritas. Dengan sekilas pengenalan REDD dan REDD+ diatas, siapkah kita menghadapinya? *Calon Penyuluh Kehutanan pada Balai
Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Sumber Bacaan Budiman, A. 2010. Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Restorasi Gambut di Kalimantan Tengah. REDD Training Presentation Departemen Kehutanan. 2008. Instrumen Kehutanan Global. jakarta Wibisono, I. 2010. REDD+, Tidak Hanya Karbon. WWFIndonesia. REDD Training Presentation

manfaat, hak atas karbon, dsb) 5. peningkatan pemerintah, sektor swasta 6. Penyiapan aspek teknis dalam perhitungan pemantauan, verifikasi (MRV) karbon, pelaporan dan

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

11

Artikel

KERJASAMA RI-NORWEGIA DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL


Oleh: Erwin Kusumah Nanjaya, S. Hut *) etelah Pemerintah Sebagai negara industri yang termasuk dalam Annex 1 pada Protokol Kyoto, Norwegia memiliki kewajiban mengikat untuk menurunkan emisi karbon di dalam negerinya, terutama karena tingkat penggunaan industrialisasi, yang sangat pertemuan energi dan para tinggi. fosil, Pada pihak transportasi diselenggarakan bulan Desember 2007 di Bali, skema REDD mulai mengerucut, sehingga pemberian hibah kepada negara berkembang untuk mengurangi laju deforestasi dan kerusakan hutan dianggap mampu kewajiban karbon sebenarnya di mengganti mengurangi negara berlangsung (offset) emisi maju. tentu

Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) kepada Pemerintah Norwegia, 26 Mei 2010 untuk mengurangi emisi gas karbondioksida, khususnya yang berasal dari sektor kehutanan, Indonesia adalah negara pertama yang telah mencapai perjanjian bilateral sebesar dengan US$ 1 pemerintah miliar (Rp 9 Norwegia yang menyediakan dana triliun) untuk membiayai usahausaha dalam menanggulangi laju deforestasi yang melanda lebih dari 1 juta hektare per tahun. Secara eksplisit, LoI itu menyebutkan skema pengurangan emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan atau yang dikenal dengan REDD (reducing deforestation degradation). Pasca penandatanganan LoI RI-Norwegia, seluruh kebijakan Kementerian Kehutanan dikaitkan untuk mendukung operasionalisasi kesepakatan tersebut. Mulai dari aktivitas penataan penelitian hingga pengusahaan kawasan dan hutan, hutan, melalui rehabilitasi dan perhutanan sosial, pengembangan emission and from forest

Perundingan dan negosiasi yang lebih rumit dan lebih panas dari yang digambarkan di atas. Negara maju menjadi pembeli karbon yang berhasil ditambat oleh negara berkembang melalui deforestasi hutan. hutan pengurangan dan Negara dan laju kerusakan berkembang yang

(COP=Conference of Parties) yang diadakan setiap tahun, muncul gagasan industri bagi untuk negara-negara mengganti

kewajiban penurunan karbon di dalam negerinya sendiri dengan memberikan hibah kepada negaranegara berkembang yang memiliki sumberdaya hutan. Pada COP-13 atau Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCC) yang

menjadi penjual karbon karena eksosistem dimilikinya telah berjasa untuk

pengawasannya

pendekatan MRV. Sebenarnya LoI ini bersifat lintas sektoral, namun keberhasilannya Kehutanan. menjadi pertaruhan kinerja Kementerian

12 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Artikel
Riau. Dengan terbentuknya Satgas Persiapan Lembaga REDD+, diharapkan sudah akan terbentuk lembaga semacam Trust Fund bagi penurunan emisi. "Dengan demikian, sebelum akhir tahun 2010, diharapkan akan cair dana tahap pertama dari Norwegia sebesar 200 juta dollar masuk ke lembaga Trust Fund, yang dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubrota. LOI RI-Norway persiapan, pembayaran Pelaksanaan fase, kontribusi. menambat Pengurangan deforestasi diperhitungkan Jumlah kredit gas rumah emisi yang sebagai karbon kaca. atau dihindari kredit. yang untuk memasuki era perdagangan karbon. Berdasarkan data ADB-GEF -UNDP, menunjukkan bahwa Sumber Bacaan Arifin, B. Skema REDD dan Masa Depan Ekonomi Hutan. Metro TV.Com Green Peace. Apa itu REDD? Media Persaki. Edisi november 2010. Vol 15 Tambunan, E. Menhut harapkan pertemuan Cancun sepakati REDD Plus. Bisnis Indonesia.Edisi. Kamis, 28/10/2010 Steni, B. Quo Vadis REDD di Indonesia?. Perkumpulan HuMa, 2009 Hans Henricus Kehutanan yang Hibah Dana Norwegia Provinsi pilot project REDD+ dipilih sebelum Desember Indonesia memiliki kapasitas untuk mengurangi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari aktivitas pengelolaan hutan. Jika harga ratarata per ton karbon sebesar US$ 5 , maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 milyar atau sekitar Rp. 34 triliun. Menurut akademisi di Kalimantan Barat, harga rata-rata karbon di pasaran internasional pada tahun 2012 akan mencapai US$ 40. Apalagi sekarang ini di California telah berdiri karbon. Kementerian proyek baru akan melaksanakan proyekpercontohan ditetapkan di lima provinsi, di antaranya di Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan semacam bursa efek
*) Calon Penyuluh Kehutanan pada

tersebut di atas dibagi dalam 3 yaitu: dan transformasi

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

diperoleh dalam waktu tertentu dapat dijual di pasar karbon. Sebagai alternatif, kredit yang diperoleh dapat diserahkan ke lembaga pendanaan yang dibentuk untuk menyediakan kompensasi finansial hutannya. untuk ekonomis bagi negara Skema berkompetisi dengan negara REDD secara berbagai peserta yang melakukan konservasi memperbolehkan konservasi hutan

kegiatan ekonomi lainnya yang memicu deforestasi Bisnis sektor Kehutanan yang mengambil manfaat dari ekonomi hutan yang semula didominasi kayu, kini perlahan mulai bergeser ke carbon oriented. Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

13

Artikel

Ekosistem Padang Lamun : Produktivitas dan Potensinya di Kawasan Konservasi Laut (Pesisir) Oleh: Topo Budi Danarko, S.Pi *)
ilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara daratan dan laut ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air laut. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan pesisir erat hutan kaitannya dan dengan perairan pesisir, maka ekosistem perairan pesisir menjadi habitat bagi ikan-ikan dan organisme laut lainnya. Salah satu ekosistem yang terdapat di perairan pesisir adalah ekosistem padang lamun. Ekosistem Padang Lamun Padang lamun atau sea grass adalah merupakan salah satu berbiji kelas ekosistem di perairan pesisir yang merupakan tunggal tumbuhan dari (monokotil) pencemaran. Kondisi suatu wilayah sistem sungai yang bermuara di wilayah itu. Secara alami wilayah pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem wilayah sungai dan juga tidak lepas dari permasalahan sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Dilihat dari tingkat produktivitasnya, perairan pesisir 10.000 mempunyai grC/m2/th. nilai Nilai produktivitas primer lebih dari produktivitas ini jauh lebih tinggi daripada produktivitas primer di perairan m2/th sekitar tingginya laut atau 50 dangkal produktivitas grC/m2/th. produktivitas pada di umumnya,yaitu sekitar 100 grC/ perairan laut dalam yang hanya Karena primer 1. Produktivitas Beberapa penelitian menunjukkan bahwa produktivitas primer komunitas padang lamun mencapai lebih dari 1kgC/m2/th. Produksi tersebut umumnya bersumber dari dasar dan atas. Produktivitas primer yang berasal dari dasar adalah akar dan rhizome, memberikan sumbangan yang cukup tinggi yaitu sekitar 2%36% dari total produksi tanaman atau sekitar 10%-40% pada padang lamun yang sudah jadi (mature) . Demikian juga untuk total biomasnya,komponen dasar bisa memberikan sumbangan sekitar 30 -75%. Hal ini menunjukkan bahwa sumbangan dasar berpotensi komponen lamun untuk bagian cukup tumbuhan

angiospermae. Yang menjadikan unik dari tumbuhan laut lainnya adalah adanya perakaran yang ekstensif dan sistem rhizome. daun-daun Karena memiliki tipe perakaran ini, menyebabkan tumbuhan lamun menjadi lebat dan ini besar manfaatnya dalam menunjang keproduktifan ekosistem padang lamun tersebut.

pemanfaatan

ekosistem padang lamun. Struktur komponen jaringan lamun, seperti

14 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Artikel
lignin, cellulose, dan hemi-cellulose adalah dengan lebih tahan terhadap sederhana, dekomposisi mikroba dibandingkan karbohidrat seperti kebanyakan algae, sehingga proses dekomposisi kebanyakan lamun cukup lama. Faktor pembatas penunjang produktivitas padang lamun Faktor pembatas yang menentukan membatasi kehidupan proses lamun, secara fisiologis adalah faktor yang fotosintesa, yaitu penetrasi cahaya matahari, unsur hara, dan difusi anorganik karbon. Selain itu ada faktor-faktor lain, seperti suhu air, salinitas, dan pergerakan air. A. Penetrasi cahaya matahari/ kecerahan/ kedalaman air Penetrasi cahaya matahari atau kecerahan lamun laut karena kan adalah sangat penting bagi tumbuhan lamun. Tumbuhan tumbuh dangkal, di ini biasanya yang sangat membutuhkan populasinya. dan kapal. Sedimen-sedimen halus, baik yang berasal dari erosi daratan pantai atau limpahan halus sungai yang maupun pengikisan dasar laut. Sedimen-sedimen melayang-layang tersebut akhirnya mengendap di perairan lamun ketika air tenang dan menempel di permukaan daun lamun. Kondisi ini dapat lamun. B. Suhu air Suhu air mempunyai pengaruh tidak proses langsung karena metabolisme, terhadap beberapa seperti fotosintesis, mengganggu kehidupan tumbuhan lamun. Secara umum salinitas pertumbuhan berkisar Kemampuan optimum lamun adaptasi antara untuk adalah terhadap 25%o-35%o.

salinitas adalah bervariasi diantara spesies lamun. Lamun yang berada di daerah estuaria cenderung lebih toleran terhadap salinitas (euryhaline) dibandingkan dengan spesies yang stenohaline (di laut ). D. Pergerakan air Pergerakan air menentukan pertumbuhan tanaman air, baik yang mengapung maupun yang menancap seperti pergerakan terhadap unsur di dasar air, perairan, Pengaruh khususnya lamun, terlarut, lamun. pertumbuhan hara, gas

respirasi dan pengambilan unsur hara sangat tergantung suhu air. Tumbuhan cahaya akan mikrofita, mendekati mencapai seperti level lamun, yang tumbuh pada kondisi kompensasi (kekurangan cahaya) pertumbuhan optimum pada suhu rendah, tetapi pada suhu tinggi, membutuhkan cahaya yang cukup banyak untuk mengatasi dalam pengaruh rangka karbon, respirasi menjaga hal ini

antara lain terkait pada suplai menghalau sisa-sisa metabolisme atau limbah. Di ekosistem padang lamun, faktor-faktor lain seperti kecepatan arus dan lamun. air ketebalan Apabila dapat keberadaan lapisan air juga sangat menentukan produktivitas pergerakan mempengaruhi lamun, sebaliknya

cahaya yang sangat banyak untuk mempertahan Tetapi pada perairan yang jernih, tumbuhan ini bisa tumbuh di tempat yang dalam. Kekeruhan yang sedimen penetrasi otomatis diakibatkan dapat cahaya, kondisi dan ini suspense menghambat secara akan

keseimbangan

pertumbuhan

menunjukkan bahwa pertumbuhan lamun lebih efektif pada cahaya yang rendah pada musim panas daripada musim dingin. Air yang hangat mungkin juga membuat tanaman akan mudah terkena penyakit dan cepat kering, atau stres lainnya. C. Salinitas Seperti cahaya dan suhu air, salinitas juga merupakan faktor yang cukup penting bagi kehidupan

lamun juga bisa mempengaruhi hibridinamika air laut dengan cara memodifikasi langsung terhadap lamun,yaitu: arus juga laut dan gelombang, sehingga secara tidak berpengaruh padang penyebaran ekosistem

mempengaruhi kehidupan lamun. Di perairan yang sangat keruh tumbuhan lamun terbatas tumbuh pada kedalaman 1,5 m. Kekeruhan ini disebabkan karena pengaruh pengadukan substrat dasar perairan, akibat hilir mudik perahu

organisme dan suplai makanan mereka ; fluks daripada unsur hara dan gas ; disperse gamet, spora, dan larva.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

15

Artikel
E. Nutrien Tumbuhan lamun juga dibatasi oleh Lamun ketersediaan mengambil unsur unsur hara. hara padang lamun berpotensi cukup besar dalam menunjang secara umum pengembangan di wilayah pesisir. Dawes berikut : 1. Padang lamun mempunyai daya menangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar, dan menjernihkan air; 2. Padang lamun sebagai sistem tumbuhan merupakan sumber produktivitas primer, tinggi; 3. Padang lamun merupakan sumber makanan langsung bagi kebanyakan hewan; 4. Padang lamun merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis hewan air; 5. Padang substrat menempel; 6. Padang lamun mempunyai baik untuk kemampuan lamun bagi merupakan organisme yang dimana mempunyai nilai produksi yang Potensi (1981) padang adalah lamun sebagai menurut Wood et all (1986) dan sedimen; 2. Karena daun tumbuhan lamun mempunyai kandungan lignin yang rendah dan cellulose yang cukup kertas; 3. Rhizoma dimasak, muda dan dari buah jenis dari tertentu, seperti zostera, dapat beberapa jenis lamun lainnya dapat dimakan langsung; 4. Daun-daun kering lamun dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Mengingat dalam menunjang begitu besar manfaat ekosistem padang lamun produktivitas perairan laut, maka diperlukan peran serta masyarakat secara menyeluruh ekosistem potensi dalam padang menjaga agar dapat bagi wilayah pesisir memberikan peningkatan keberlangsungan dan keberadaan lamun tersebut tinggi,maka dapat digunakan sebagai bahan dasar

terlarut melalui akar dan daun dengan dominan rute tergantung pada pada jenis kolom unsur air hara tinggi, dan maka daun konsentrasinya. Jika konsentrasi pengambilan melalui

mungkin lebih dominan, namun sebaliknya jika nilai ambang di kolom air rendah, pengambilan unsur hara akan lebih banyak dilakukan melalui akar. 2. Potensi Ekosistem Padang Lamun Produktivitas primer yang berasal dari ekosistem padang lamun, selain bersumber dari tumbuhan lamun itu sendiri juga berasal dari algae dan organisme phytoplankton yang menempel di daun lamun atau di sekitar perairan tersebut. Sedangkan konsumennya adalah polychaeta, moluska, dekapoda. Keberadaan organisme tersebut memungkinkan ekosistem

(phytoplankton)

termanfaatkan pengembangan sehingga kontribusi konservasi. dapat bagi

memindahkan unsur-unsur hara terlarut di perairan yang ada di permukaan sedimen; 7. Akar-akar dan rhizome padang lamun sedimen erosi. Diantara potensi padang lamun diatas, menurut McRoy dan Helffrich (1980) bahwa ekosistem padang lamun juga memiliki manfaat untuk berbagai hal,yaitu: 1. Penyaring limbah dan penstabil mampu sehingga mengikat mencegah

kesejahteraan masyarakat kawasan

*)Calon PEH pada BBTNTC

Sumber Pustaka Supriharyono.2007.Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis.Pustaka Pelajar.Yogyakarta.428 Supriharyono.2000.Pelestarian Sumberdaya Ekosistem Wilayah Pesisir dan Lautan di Daerah Tropis.PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta

16 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Artikel

Everyday is Earth Day


Tidaklah egois jika kita menunjukkan ungkapan cinta kita setiap hari kepadanya..
Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April merupakan gerakan yang peduli dengan kondisi bumi yang semakin lama semakin banyak mengalami kerusakan. Sebelum manusia mengenal teknologi modern seperti saat ini, manusia sangat bergantung kepada alam. Namun, setelah manusia mengenal teknologi dari yang sederhana sampai saat ini, manusia mulai mengeksploitasi namun pasti, alam secara berlebihan. akan Perlahan aktivitas mereka Rini Purwanti,S.Si*) memakai energi listrik yang berlebihan merupakan aktivitas-aktivitas yang menambah "beban bumi kita. Masih banyak aktivitas lain yang menyebabkan kondisi bumi semakin rusak. Aktivitas yang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh manusia untuk mengurangi beban bumi dan menghemat energi, antara lain: memadamkan listrik (lampu) pada jam tertentu (earth hour), car free day, gerakan kembali ke alam (back to nature/ green lifesytle). Kita sebagai masyarakat awam, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk meringankan beban bumi antara lain: memilah dan mengolah sampah (recycle), menggunakan tas/plastik yang sudah kita miliki untuk wadah atau tempat sesuatu (reuse) dan mematikan lampu/alat elektronik saat tidak diperlukan (reduce) serta tidak boros dalam menggunakan air. Banyak pusat perbelanjaan yang menggunakan plastik pembungkus yang dapat didaur ulang. Mereka pun menjual kantong belanja yang terbuat dari kain untuk mendukung gerakan mengurangi penggunaan kantong plastik. Hal ini menunjukkan betapa banyak pihak yang sebenarnya peduli untuk mengubah

menyebabkan turunnya daya dukung bumi dan beban bumi menjadi semakin berat.. Bumi yang kita huni bersama ini merupakan tempat yang sangat mendukung berbagai aktivitas manusia dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Bumi sebagai ciptaan Tuhan menyediakan tanah yang mengandung berbagai macam sumber daya tambang dan air (lautan dan sungai) yang menjadi tempat hidup berbagai macam makhluk hidup, yang seluruhnya untuk kepentingan manusia. Cepatnya pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, mendorong manusia untuk menciptakan berbagai cara dan metode demi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Jumlah manusia pada bulan Oktober 2011 diperkirakan mencapai 7 milyar orang. Dengan jumlah itu, dapat kita bayangkan betapa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dan berapa banyak energi yang dipakai atau sisa (limbah) dari hasil kegiatan manusia tersebut. Kegiatan atau aktivitas kita sebagai manusia yang seringkali tidak kita sadari (atau pura2 tidak kita sadari) antara lain : menebang kayu untuk berbagai keperluan (perumahan, pembuatan kertas, furniture, dll), membuang sampah sembarangan, menggunakan tas plastik yang sulit terurai oleh mikroorganisme dan

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

17

Artikel
kebiasaan untuk meringankan beban yang harus ditanggung bumi ini. Walaupun mungkin berat, namun apabila dari diri pribadi kita dan mulai sekarang kita lakukan hal-hal tersebut paling tidak akan mengurangi beban atau kerusakan bumi dan mudah-mudahan anak cucu kita masih bisa menikmati apa yang bumi sediakan untuk kita. Sebuah perubahan besar pasti diawali oleh perubahan-perubahan kecil di belakangnya. Marilah kita memulai perubahan demi bumi kita ini dengan melakukan hal-hal yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan melakukannya dari sekarang. Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan dan memacu semangat bagi penulis dan para pembaca untuk selalu menjaga bumi kita tercinta. Meskipun hari bumi diperingati setiap tanggal 22 April , namun tidaklah egois jika kita menunjukkan ungkapan cinta kita setiap hari padanya karena memang setiap hari kita melakukan berbagai macam aktivitas di atas bumi yang kita cintai ini.

*)Calon PEH pada BBTNTC

18 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Artikel
MEKANISME PERDAGANGAN PRODUK SUMBERDAYA LAUT DI aparat desa, kepala suku atau tokoh KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL TELUK masyarakat pemilik hak ulayat. Perizinan yang diberikan mencakup CENDERAWASIH Oleh : Iga Nurapriyanto dan Baharinawati W. Hastanti *)

Latar Belakang
Wilayah pesisir dan kelautan Indonesia dengan panjang pantai sekitar 81.000 km dan luas mencapai 3,1 juta km2 merupakan potensi sumberdaya yang kaya dan beragam, telah dimanfaatkan sebagai salah satu media bagi sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani (Dahuri, 2001). Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dan berkembangnya jumlah penduduk merupakan kondisi yang harus diantisipasi agar sumberdaya alam laut tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkesinambungan. Terutama dalam era otonomi khusus dengan diundangkannya UU Nomor 21 tahun 2001, Provinsi Papua termasuk Papua Barat memiliki kewenangan yang besar untuk mengelola sumberdaya laut sejauh 12 mil dari batas pantai bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kesempatan mengelola sumberdaya laut ini jika salah dimanfaatkan tidak saja merusak keberlangsungan fungsi ekosistem kawasan, namun juga berdampak pada memperburuk kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang berdomisili di dalam kawasan TNTC dapat dikategorikan sebagai masyarakat peramu, dimana sebagian besar aktivitas kehidupannya cenderung masih memanfaatkan sumberdaya alam di sekitarnya baik di darat maupun di laut. Sebagai masyarakat pesisir tentunya kegiatan yang berhubungan dengan laut lebih dominan daripada di darat, kendatipun demikian aktivitas lain seperti

meramu sagu, berkebun dan beternak masih rutin dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lokasi pemukiman masyarakat di dalam kawasan TNTC sebagian besar merupakan wilayah zona penyangga (buffer zone) dengan pemanfaatan terbatas pada teknik dan lokasi pemungutan hasil laut. Tingginya nilai ekonomi sumberdaya alam laut maupun darat berkorelasi langsung dengan tingginya interaksi masyarakat dengan kawasan konservasi. Hal ini melatarbelakangi berbagai conflict of interest yang terjadi di sekitar kawasan konservasi. Pemanfaatan sumberdaya alam laut tidak saja dilakukan oleh masyarakat setempat namun juga oleh pelaku-pelaku usaha yang datang ke wilayah TNTC. Kerawanan kawasan akibat kegiatan eksploitasi dan perdagangan tanpa mengindahkan prinsip kelestarian di dalam kawasan Taman Nasional ini, perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus selain untuk melindungi fungsi kawasan sebagai areal konservasi, juga untuk memperkecil resiko konflik akibat kompetisi pemanfaatan sumberdaya alam antara penduduk setempat dengan pendatang. Dalam konteks tersebut, dirasa perlu mengkaji kebijakan sistem perdagangan hasil laut di dalam kawasan TNTC dengan melihat bagaimana mekanisme pemanfaatan dan sistem perdagangan sumberdaya alam laut. Perizinan Proses perizinan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan hasil alam, bagi para pelaku usaha sebagian besar masih dilakukan melalui pendekatan personal kepada masyarakat terutama kepala desa,

daerah atau wilayah yang akan dieksploitasi dengan batas waktu, tempat, jenis dan kuantitas komoditi yang akan dikumpulkan. Proses perizinan tersebut hanya sebatas tingkat desa dan diketahui oleh para aparat desa dan sebagian masyarakat. Di samping perizinan tingkat desa, para pelaku usaha juga meminta ijin kepada dinas perikanan kabupaten setempat dengan dikeluarkannya Surat Ijin Usaha Perikanan dan Balai TNTC selaku institusi pengelola kawasan konservasi mengeluarkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dan secara teknis diawasi oleh petugas di lapangan. Rantai Tata Niaga Para pelaku usaha/ pengusaha yang dimaksud adalah seseorang atau sekelompok orang yang tinggal sementara dengan tujuan melakukan kegiatan pengumpulan hasil alam, pada wilayah, waktu, jenis dan jumlah komoditi tertentu dimana keberadaan mereka diketahui oleh aparat dan warga desa, serta memberi kontribusi dari usahanya tersebut kepada desa. Sementara jenis komoditi yang diusahakan lebih cenderung pada komoditi dengan nilai ekonomi yang tinggi baik di pasar domestik, nasional maupun pasar ekspor. Mereka ini biasanya merupakan kepanjangan tangan dari para pengusaha ekspor yang berskala besar terutama di daerah basis pelabuhan ekspor. Ada juga orang luar yang telah berdomisili dan menjadi warga desa yang mengusahakan usaha dagang di wilayah tersebut dan disebut pedagang. Mereka

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

19

BERITA GAMBAR :

Menu hidangan saat Acara lepas sambut tahun baru 2011 (kiri) dan perpisahan bpk Edward Sembiring dan bpk Maryono yang mutasi ke Balai Besar KSDA Sumut dan Balai KSDA Kalsel di Rumah Dinas Kepala Balai Besar TNTC

Pelatihan monitoring tempat pemijahan ikan SPAGs, kerjasama Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan WWF-Indonesia

Peresmian SpeedBoat GORANO Kendaraan operasional Patroli pengamanan kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

20 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Berita gambar

Penandatangan Nota MoU Kerjasama antara UPT Balai Besar TNTC dengan Mitra WWF Teluk Cenderawasih Project

Pelatihan Selam Tingkat Dasar yang Merupakan Pelatihan Swadana Kerjasama antara Balai Besar TNTC, UNIPA dan WWF

Pembekalan Tim Sosialisasi Zonasi kawasan TN Teluk Cenderawasih yang difasilitasi oleh WWF Teluk Cenderawasih Project

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

21

artikel
kerap kali melakukan kegiatan perdagangan dengan menjual barang-barang kebutuhan masyarakat di dalam desa tersebut maupun antar desa atau antar pulau. Kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh pedagang tidak sebatas pada proses penjualan barang kebutuhan masyarakat setempat tetapi juga sebagai pengumpul hasil-hasil alam baik berupa hasil darat maupun hasil laut. Sedikitnya terdapat 2 karakter hubungan ikatan kerja antara para pelaku usaha, yaitu: a.Hubungan informal tanpa ikatan kerja. Para nelayan berstatus sebagai pelaku usaha bebas yang tidak memiliki ikatan dalam melakukan kegiatan pemungutan dan pemasaran kepada pedagang pengumpul atau lembaga tataniaga pada tingkat berikutnya. b. Hubungan formal dengan ikatan kerja baik antara nelayan dengan pedagang pengumpul maupun pengusaha induk. Pada kenyatannya jenis hubungan informal tanpa ikatan kerja yang paling banyak diterapkan, dengan alasan efisiensi dan efektivitas serta meminimalkan benturan-benturan sosial yang terjadi, namun memiliki keterbatasan pada kontinuitas dan produktivitas produksi. Penggunaan masyarakat lokal setempat (berkisar antara 1-3 orang) sebagai karyawan pada satu sisi memiliki prinsip memberdayakan masyarakat namun di sisi lain merupakan potensi terjadinya konflik sosial intern, mengingat perbedaan karakteristik sosial, budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Hal ini disebabkan oleh dualisme pemahaman yang terjadi, antara lain: 1). pedagang pengumpul membutuhkan orang yang dapat membantunya melakukan produksi dengan jumlah yang terbatas sedangkan sebagian besar masyarakat setempat masih banyak yang menganggur; 2). tidak semua masyarakat menyetujui kegiatan pemungutan yang dilakukan pada wilayahnya tanpa mendapatkan kontribusi yang nyata dari pedagang pengumpul mengingat mereka juga memiliki hak yang sama sebagai pemilik hak ulayat; 3). Kurangnya transparansi harga pasar riil yang dijual pedagang pengumpul ke pasar, sehingga ada sebagian anggapan dari masyarakat bahwa harga yang diterapkan pada lokasi pemungutan sangat jauh di bawah harga riil yang berlaku di pasar industri dengan margin keuntungan yang sangat besar dinikmati pedagang; 4). Adanya perbedaan persepsi masyarakat lokal terhadap status kawasan konservasi dengan pemanfaatan yang berbasis kelestarian, sedangkan pemungutan beberapa jenis komoditi justru menggunakan alat dan bahan yang berbahaya terhadap lingkungan laut, seperti kompresor bukan standar penyelaman, gancu, asam sianida maupun bom. Dari hasil pengamatan di lapangan, sedikitnya terdapat 3 (tiga) model eksploitasi hasil laut yang dilakukan oleh para pedagang/pengusaha di kawasan TNTC, yaitu : 1.Nelayan menyetor dan menjual kepada pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul hanya bentindak secara pasif di pulau. Rantai Tataniaga Model 1.
Nelayan/ Masyarakat Lokal Pedagang Pengumpul Pengusaha Induk

Pada perdagangan Model 1, jenisjenis komoditi laut yang sering dimanfaatkan secara langsung oleh konsumen adalah ikan segar dan ikan asin namun dalam skala produksi kecil dan terbatas. Mekanisme pengambilan dilakukan oleh nelayan atau masyarakat setempat yang menjualnya kepada pedagang pengumpul dalam keadaan segar (fresh). Sedangkan Proses penggaraman serta pengeringan dilakukan oleh para pedagang pengumpul dengan alasan menjaga kualitas produk. 2.Pengusaha/pedagang pengumpul dan nelayan/ masyarakat lokal melakukan kegiatan pengambilan hasil laut secara bersama dan eksportir datang ke lokasi yang telah disepakati. Pada kondisi ini kapasitas produksi yang ditargetkan cenderung lebih besar dengan sasaran pasar ekspor. Rantai Tataniaga Model 2.
Nelayan / Masyarakat Lokal Eksportir Pengusaha / Pedagang Pengumpul

Pasar

Pas

Jenis-jenis komoditi laut yang diusahakan pada model 2 terutama jenis komoditi hasil laut yang membutuhkan kondisi segar/ hidup seperti jenis-jenis ikan karang, ikan hias dan lobster. Kondisi segar/hidup ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mempertahankan harga komoditi di pasar ekspor. Pada model ini, nelayan pencari ikan umumnya berasal dari kampung di kawasan TNTC yang diupah dengan dibekali bahan dan perlengkapan penyelaman.

22 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

artikel
Hasil tangkap selanjutnya disimpan dalam keramba hingga diambil eksportir. 3.Eksportir bertindak sebagai pelaksana langsung di lapangan dengan kapasitas produksi berskala besar dan penggunaan armada, peralatan tangkap dengan teknologi yang relatif modern. Rantai Tataniaga Model 3.
Eksportir

Pasar

Kegiatan p emu ngutan yang dilakukan pada model 3, lebih cenderung dilakukan oleh para pelaku usaha illegal baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Beberapa jenis hasil laut yang diambil cenderung pada jenisjenis ikan karang seperti Napoleon wrasse, lobster, sirip ikan hiu dan teripang dengan nilai jual yang tinggi untuk langsung dijual ke pasar ekspor. Sayangnya dalam pengambilan jenis-jenis ikan karang ini cenderung mengancam kelestarian terumbu karang dan biota laut lainnya dengan penggunaan berbagai bahan dan peralatan yang berbahaya, diantaranya pukat harimau, kompresor selam, bom ikan, Pottasium cyanida, dan gancu. Dari ketiga model di atas persentase kecenderungan menunjukkan model pertama lebih banyak mendominasi perdagangan hasil laut di sekitar
Komposisi Model Pemanfaatan Sumberdaya Laut

TNTC yakni sebesar 79 % dibanding model kedua dan ketiga yakni masing-masing sekitar 8 % dan 13 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa mayoritas pemanfaatan sumberdaya laut di kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih masih didominasi oleh pola pemanfaatan tradisional dengan menggunakan model 1. Namun adanya pola pemanfaatan pada model 3 perlu diwaspadai dan diminimalkan karena tidak menerapkan prinsip kelestarian kawasan dan pemberdayaan masyarakat khususnya di dalam kawasan. Pemasaran Bagi masyarakat setempat yang sekaligus sebagai pelaku usaha bidang perikanan, pemasaran hasil laut selama ini dilakukan oleh para pedagang pengumpul antar desa atau antar pulau dengan harga kesepakatan yang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar. Jenis komoditi dimaksud adalah seperti teripang, ikan segar dan ikan olahan (ikan asin). Adanya pedagang pengumpul ini cenderung lebih memudahkan penyediaan pasar hasil laut mengingat keterbatasan sarana transportasi guna menjangkau antar desa maupun antara desa dan kota distrik. Selanjutnya pedagang pengumpul tersebut memasarkannya ke kota distrik maupun kota kabupaten. Persepsi Masyarakat. Keberadaan para pengusaha/ pedagang/pelaku usaha bidang perikanan dari hasil pengamatan dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat dalam melakukan aktivitasnya cukup kondusif terutama bagi para pelaku usaha yang telah

berdomisili sebelumnya. Hal ini terlihat dari harmonisasi hubungan kemasyarakatan maupun di saat proses produksi. Kehadiran pelaku usaha mendorong terjadi interaksi ekonomi di desa, terutama saat terjadi surplus produksi, seperti ikan segar, ikan asing dan teripang. Bagi para pelaku usaha yang datang dari luar P. Rumberpon dan melakukan proses pengumpulan hasil laut dengan melibatkan sebagian masyarakat setempat lebih cenderung menciptakan konflik horisontal terutama bagi masyarakat yang kurang atau tidak mendapatkan manfaat dari kehadiran pelaku usaha tersebut, seperti penggunaan tenaga kerja lokal. Manfaat lainnya adalah transfer tehnologi dan pengetahuan cara pengolahan hasil laut, meski tidak dapat dipungkiri pada saat bersamaan terjadi pula transfer pengetahuan yang destruktif dalam pemungutan hasil laut di sekitar lingkungan TNTC, seperti penggunaan alat dan bahan yang dilarang (bahan peledak, bahan peledak, gancu) dalam penangkapan ikan. Pengusaha juga berpartisipasi dalam membantu desa baik dalam penyediaan fasilitas desa maupun fasilitas keagamaan (gereja), selama berlangsungnya kegiatan pemungutan hasil laut. *) Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Manokwari

13 % 8%

79 %

Model 1

Model 2

Model 3

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

23

DARI LAPANGAN :
PERJALANAN TIM MONITORING PENGAMANAN PARTISIPATIF/ SWAKARSA MASYARAKAT DI BPTN WILAYAH II WASIOR
Oleh: Imam Setyo Hartanto, S.Hut.*

agi menyingsing menguak kota Manokwari. Hari itu kami akan memulai perjalanan menuju kota Wasior untuk kegiatan Monitoring Pengamanan Partisipatif/Swakarsa Masyarakat (PAM Swakarsa). PAM Swakarsa itu sendiri adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dalam pelibatan dan pemberdayaan aktif masyarakat dalam mengamankan dan menjaga kawasan konservasi yaitu di Teluk Cenderawasih. Memang program ini belum cukup lama digulirkan; namun upaya monitoring, evaluasi serta perbaikan selalu dilakukan guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan sekaligus tercapainya target pemberdayaan masyarakat secara mandiri. Kegiatan Monitoring PAM Swakarsa ini beranggotakan 7 orang yaitu: Kegiatan Monitoring PAM Swakarsa ini diketuai langsung oleh Pak Cahyo. Setelah mempersiapkan barang bawaan yang harus dibawa

kami pun mulai bersiap pergi ke pelabuhan untuk menumpang Kapal KM. Ngapulu yang berangkat pada hari itu. Siang itu kami berangkat ke pelabuhan dengan tenang. Kamipun datang ke pelabuhan, konsolidasi sebentar dan akhirnya menaiki kapal. Jam 15.00 WIT kapal berangkat menuju Wasior. Selama perjalanan laut terus bergejolak tidak tenang, namun setelah melewati waktu akhirnya sekitar jam 23.00 kami tiba di Kota Wasior. Di Wasior kami hanya stay sebentar sampai dengan siang hari untuk menunggu jemputan ke wilayah seksi yang akan kami monitoring. Sungguh layaknya para pengungsi yang kembali ke kampung halamannya, kami seakan tak kuasa melihat kondisi kota Wasior pasca bencana banjir bandang. Luluh lantak tak bersisa, terlihat jelas lumpur kering masih menutupi jalanan kota, air menggenang di kanan-kiri jalanan bahkan camp tempat kami menginap milik BPTN Wilayah II

Wasior ternyata sudah bergeser 45 meter dari tempatnya semula. Cukup trenyuh melihat kondisi seperti itu. Namun setelah pagi menyingsing suasana itu seakan buyar sama sekali karena melihat aktivitas warga yang sudah menggeliat. Lalu lalang kendaraan, bergulirnya jual beli dan sudah berdirinya rumah-rumah (walaupun hanya papan dan kayu sebagai dindingnya) menunjukkan bahwa kota ini sudah siap dibangun kembali. Siang harinya, sekitar pukul 13.30 akhirnya long boat Rasmundi yang akan kami pakai kegiatan monitoringpun datang. Dinahkodai oleh Pak Frans Kusi Sineri, S.E. (Kepala Seksi Pengelolaan TN. Wilayah IV Roon), kami pun segera mengambil barang dan mengangkutnya ke perahu tersebut. Ikut dalam rombongan kami Kepala SPTN Wil III Aisandami yaitu Pak Dominggus K. Inggesi, S.Sos.. And the journey begunbye Wasior. Perjalanan pertama kami adalah menuju kampung Sobei. Di kampung ini terdapat sebuah dermaga kecil tempat kapal nelayan berlabuh. Setelah long boat kami merapat, tim monitoring langsung bergerak menuju rumah Kepala Kampung Sobei. Ketika kami sudah berada di sana, ternyata kepala kampung sedang berada di Wasior. Namun kami diberitahu oleh tetangga sekitar bahwa beliau akan pulang kembali dalam waktu yang tidak lama. Akhirnya kami menunggu, setelah menunggu 1 jam akhirnya orang yang kami tunggu pun datang. Alhasil kami dipersilakan masuk ke dalam rumah dan melakukan sedikit wawancara

24 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

dari lapangan
sebagai bahan monitoring pelaksanaan PAM Swakarsa. Keluar dari kampung Sobei ternyata sudah cukup sore. Perjalanan kami lanjutkan menuju kampung Sariyai. Di bawah sinar bulan separuh, kami pun menuju kampung baru hasil pemekaran ini. Di kampung ini belum tersedia dermaga sehingga long boat harus bersandar di bibir pantai. Sama seperti yang kami lakukan di kampung Sobei, disini kami berusaha menemui Kepala Kampung Sariyai. Lagi-lagi orang yang kami ingin temui sedang pergi. Kami pun disambut oleh Sekretaris Kampung dan tanpa membuang waktu, kami memperkenalkan diri dan langsung melakukan wawancara dengan beliau. Di temani beberapa anggota kelompok nelayan, kamipun berbincang-bincang dengan santai dan penuh rasa kekeluargaan. Disela-sela wawancara terungkap bahwa sebagaian dari para nelayan belum menjalankan kewajibannya untuk mencatat dan melaporkan penggunaan BBM dan hasil tangkapannya. Alhasil, para petugas wilayah dalam hal ini diwakili langsung oleh Kepala SPTN (Pak Frans dan Pak Inggesi) menjelaskan kembali tugas dan kewajiban masyarakat penerima bantuan BBM. Malam harinya kami meneruskan perjalanan ke kampung Yende tempat kantor SPTN IV Roon berada sekaligus beristirahat sebelum esoknya melakukan monitoring di kampung yang lain. Diantara deburan ombak di laut dan cahaya bulan separuh perjalanan tersebut seakan menghentikan waktu. Hampir tengah malam akhirnya kami sampai di Yende. Di dermaga kami sudah dinantikan oleh para penduduk kampung Yende. Entah memang sambutan atau mereka hanya menunggu titipan bahan makanan kebutuhan pokok yang dibeli dari Wasior, namun seakan kampung tersebut tak pernah tidur. Dan akhirnya kami pun menuju kantor SPTN IV Roon untuk beristirahat sekaligus bersama. Selesai makan kami merencanakan untuk kegiatan monitoring di dua kampung yaitu Yende itu sendiri dan Syabes. Hari itu bertepatan dengan datangnya berita duka dari kampung Syabes bahwa salah satu penduduknya telah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami memutuskan untuk langsung berangkat ke kampung Syabes untuk melayat sekaligus menemui kepala kampung untuk interview. Kampung Syabes terletak bersebelahan dengan kampung Yende hanya dipisahkan oleh tanjung. Didampingi oleh Kader Konservasi Kampung Yende kami pun berangkat dengan Rasmundi menuju kampung Syabes. Dalam waktu yang tidak cukup lama kami pun akhirnya sampai di kampung Syabes. Karena waktu yang cukup singkat maka kami di bagi 2 kelompok. tim monitoring menemui Kepala Kampung Syabes untuk wawancara sedangkan Pak Frans dan Kader Konservasi melayat ke keluarga yang berduka. Hari beranjak siang dan kami telah menunaikan kewajiban kami di Kampung Syabes sehingga kami berpamitan ke kepala kampung dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Tim kembali ke kampung Yende, dan direncanakan setelah makan siang akan wawancara dengan perangkat kampung Yende guna menuntaskan monitoring di BPTN Wilayah II Wasior ini. Seusai makan siang dan istirahat sebentar kami pun meneruskan kegiatan Monitoring

membersihkan badan setelah perjalanan seharian. Setelah mandi dan makan malam sebentar, kami pun beramah tamah dengan penduduk kampung Yende. Diselingi cerita-cerita lucu dan obrolan ringan lainnya malam pun berubah hari dan beberapa anggota akhirnya terlelap dalam buaian nyayian tidur. Keesokan harinya kami memulai aktivitas pagi seperti biasa; bangun, cuci muka, minum teh atau kopi susu, menyapa masyarakat yang akan berangkat kebaktian di gereja, mandi dan siap untuk memulai aktivitas hari itu. Makan pagi sudah tersedia di dapur dan kami pun makan

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

25

dari lapangan
PAM dengan menemui perangkat kampung setempat. Wawancara kami lakukan tidak dengan kaku layaknya investigasi namun kamu lakukan dengan obrolan ringan sambil diselingi candaan. Setelah selesai, kami pun berpamitan dan kembali menuju kantor SPTN sekaligus melakukan rekap sementara hasil interview. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan di 4 kampung BPTN Wilayah II Wasior ternyata hampir keseluruhan menunjukkan trend/jawaban yang hampir serupa. Tim monitoring mendapatkan kesimpulan bahwa: 1. Masyarakat sangat antusias saat mendapatkan bantuan BBM untuk kegiatan Pengaman Partisipatif/ Swakarsa Masyarakat. 2. Penghasilan masyarakat semakin meningkat selama mendapatkan bantuan BBM. 3. Kesadaran masyarakat dalam menjaga dan memelihara kawasan termasuk ekosistem di dalamnya semakin baik. 4. Masih ada beberapa anggota masyarakat penerima bantuan yang tidak memenuhi kewajibannya melakukan pencatatan dan pelaporan penggunaan BBM dan hasil tangkapan serta kejadian di kawasan laut. 5. Masih sering ditemukan nelayan dari daerah lain yang mengambil ikan di wilayah perairan masyarakat. Tugas telah ditunaikan dan saatnya bersantai sejenak bersama masyarakat kampung Yende. Malam itu masyarakat sedang bersiap-siap melakukan kerja bakti di seputaran gereja untuk menyambut Natal. Di sela-sela kesibukan masyarakat yang begitu antusias, saya mengabadikan apa yang sedang mereka lakukan dalam jepretan foto. Begitupun dengan Pak Frans dan kader konservasi lainnya, mereka bahu-membahu membenahi bangunan gereja; termasuk Gereja Tua Isna Jedi di untuk kerja dan bukan bersenangsenang dengan membawa segudang oleh-oleh. Beranjak siang, akhirnya kami berpamitan dengan masyarakat dan menuju long boat. Ada hal menarik waktu kami akan meninggalkan kampung Yende. Ada sebuah hadiah yang dibawa oleh Pak Frans (yaitu: bola). Beberapa anak kecil kampung Yende diikutkan naik ke long boat. Long boat bergerak keluar kampung, berputar satu kali dan kembali mendekati kampung Yende kemudian anak-anak tadi terjun dari long boat, berenang dan akhirnya Pak Frans menendang bola kearah mereka. Lalu anakanak tadi berenang memperebutkan bola hadiah tadi. Ya itulah salah satu upacara yang dilakukan dengan tujuan agar yang pergi mendapatkan keselamatan sampai tujuan dan bisa kembali ke kampung Yende pada kesempatan yang lain. Salah satu kearifan lokal yang harus kita jaga dan lestarikan. Akhirnya setelah melewati lautan yang tehampar luas, sekitar jam 21.00 WIT kami akhirnya tiba di Manokwari. Dijamu sebentar di rumah Pak Frans akhirnya kami kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Itulah sedikit cerita perjalanan Tim monitoring PAM Swakarsa selama berada di BPTN Wilayah II Wasior. *) Calon PEH Balai Besar TN. Teluk Cenderawasih

Yende. Larutnya malam tak menyurutkan masyarakat menemani kami di malam terakhir sebelum kepulangan Tim monitoring kembali ke Manokwari. Fajar menyeruak membangunkan bumi, nyanyian burung gereja membuka mata yang masih lelap. Satu persatu anggota tim bangun dan mempersiapkan diri menyambut pagi nan cerah. Kam pun mempersiapkan barang bawaan dan peralatan lain yang harus dibawa kembali ke Manokwari. Setelah mandi dan membereskan kantor, kami langsung membawa barang dan peralatan ke long boat. Tidak ada barang tambahan lain selain bekal makanan dan minuman sebab kami benar-benar melakukan kegiatan

26 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

dari lapangan

SEMILOKA SINERGITAS PEMANFAATAN WISATA ALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH DI KABUPATEN NABIRE Oleh: Sumaryono, S.Hut.*)
terutama kondisi/jasa kawasan Tarik antara dimanfaatkan lingkungan karena Alam lain untuk lainnya. TNTC kepentingan pariwisata alam dan Penetapan zona pariwisata dalam TNTC memiliki potensi Obyek dan Daya Wisata (ODTWA), berupa

keanekaragaman hayati, keunikan dan keaslian budaya tradisional, keindahan bentang alam, gejala alam, peninggalan sejarah/budaya.

B
Nasional seluas (dua) Papua

erdasarkan

penetapan

Potensi keanekaragaman menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi alam. Zonasi kawasan TN Teluk Cenderawasih ditetapkan kini sudah menempuh setelah

hayati

Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 8009/

dan ekosistemnya serta situs-situs budaya/ sejarah di dalam kawasan TNTC merupakan potensi obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang dapat dikelola untuk kesejahteraan masyarakat Nabire. Dalam mengoptimalkan rangka pengelolaan di kawasan TNTC khususnya di wilayah Kabupaten

Menhut-II/2002 tanggal 29 Agustus 2002 tentang Penetapan Taman Teluk 1.453.000 wilayah dan Cenderawasih Ha. Secara

proses yang cukup lama sejak tahun 1988 untuk merancang dan menyusun Surat zonasi. Penetapan Dirjen PHKA zonasi kawasan TNTC berdasarkan Keputusan Nomor : Sk.121/IV-KK/2009 tanggal 15 Juli 2009 tentang Zonasi Taman Nasional antara Teluk lain Cenderawasih, Inti, Zona maka zonasi TNTC terbagi 6 zona Zona perlindungan Bahari/Rimba, Zona Pariwisata, Zona Tradisional, Zona Pemanfaatan Umum dan Zona Khusus. Salah satu zona adalah Zona pariwisata yang merupakan bagian dari taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya yang

administratif, TNTC berada di 2 pemerintahan, Teluk yakni : Kabupaten Nabire Provinsi Kabupaten Wondama Provinsi Papua Barat. Sekitar satu per tiga dari luasan tersebut berada di wilayah Kabupaten Nabire sedangkan dua per tiga di wilayah Kabupaten Teluk Wondama. Dan Berdasarkan UU No 5 tahun 1990, Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,

pemanfaatan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih diperlukan adanya kesamaan presepsi diantara Balai Besar TNTC selaku pemangku kawasan dengan para stakeholder selaku mitra di kawasan. Terkait ini maka perlu dilakukan kegiatan semiloka Sinergitas Pemanfaatan Wisata Alam di Kawasan TNTC sehingga dan secara bersama-sama potensi dapat mengelola, memanfaatkan mengembangkan

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

27

dari lapangan
narasumber Bappeda dalam Nabire pertemuan dan Dinas semiloka tersebut adalah Kepala Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata kabupaten Nabire serta dari pihak Balai Besar TNTC. Untuk Materi yang dipaparkan adalah materi tentang kebijakan-kebijakan masing-masing dengan instansi terkait dan pengembangan

pemanfaatan wisata alam kawasan TNTC khususnya di wilayah yang masuk Nabire. pariwisata alam di kawasan TNTC secara optimal dan berkelanjutan. Maksud dilaksanakan kegiatan semiloka tersebut adalah membuka ruang informasi dan diskusi antara pihak pemangku wilayah dengan para pemangku kepentingan wilayah Sedangkan Sinergitas yang Kabupaten Tujuan Pemanfaatan berada di Nabire. Semiloka wisata yang berkepentingan di dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dinas terkait antara seperti Pemda/ Dinas Dengan memperhatikan Sambutan Kepala Bappeda Nabire, paparan materi dari masing-masing instansi serta tentang pemanfaatan wisata dalam kawasan TN. Teluk Cenderawasih serta hasil diskusi, masukan-masukan dapat bersama beberapa Dinas Nabire, Perikanan DPRD Dinas Nabire, Bidang dari peserta beberapa juga telah bersama. tersebut adalah semiloka yang berlangsung, maka dirumuskan yang rekomendasi/kesepakatan ditandatangani Rekomendasi sebagai berikut : 1. Pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) dalam kawasan TNTC khususnya pada zona pemanfaatan pariwisata. 2. Peningkatan SDM Aparatur pariwisata melalui bimbingan teknis dan konsultasi teknis serta pelatihan/magang dalam ke beberapa daerah yang sudah berkembang kepariwisataan. 3. Meningkatkan sosialiasi sadar bidang administrasi Kabupaten

Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Bappeda, Balai Besar TN. Teluk Cenderawasih selaku pengelola stakeholder kawasan, lainnya Lembaga baik di Swadaya Masyarakat (LSM) serta Kabupaten Nabire. Peserta semiloka antara lain dengan Kabupaten Pariwisata Dinas Kabupaten Kabupaten Kehutanan Balai melibatkan Nabire, Kabupaten dan Nabire, Kabupaten TNTC, Nabire, instansi terkait seperti Bappeda Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Kelautan

alam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan Pihak terkait adalah; 1. Menyamakan persepsi terhadap visi dan misi dari para pemangku kepentingan dalam Pemanfaatan Potensi Wisata Alam di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih; komitmen Pariwisata 2. Membangun dalam kawasan 3. dan atau program bersama Alam di

pengelolaan dan pengembangan konservasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih; Mengkoordinasikan mensinergiskan

Dinas Perhubungan Laut, POLAIR, Besar Pengelolaan KSDA Papua di Nabire, Kepala Distrik yang masuk wilayah TNTC, Dunia usaha serta LSM. Sedangkan sebagai pembicara/

kegiatan dengan berbagai pihak

28 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

dari lapangan
wisata yang melibatkan lanjut terhadap hasil-hasil yang Alam lainnya. Selain itu Perlunya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha pariwisata. 4. Penyusunan RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) dan RIPOW (Rencana Induk Pengembangan Obyek Pengelolaan Pengembangan Prasarana Promosi. 5. Pengembangan promosi media. 6. Menyusun Peraturan Daerah tentang kepariwisataan dengan melibatkan multi pihak (SKPD terkait, LSM, Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi, Tokoh Agama, Tokoh Perempuan dan Masyarakat Adat). 7. Membentuk forum kerjasama lintas sektor untuk pengembangan pariwisata alam di kawasan TNTC. 8. Melaksanakan sosialiasi zonasi kawasan TNTC, serta pelatihan dan pemantauan hiu paus yang tingkat untuk sektor (whale shark) di kawasan TNTC. 9. Dukungan proporsional kabupaten membangun baik. Dengan ke-9 rekomendasi anggaran di Nabire dan strategi pemasaran Fisik Wisata) serta dan Sarana/ ODTW, kesepakatan Pemanfaatan bersama Wisata koordinasi secara terus menerus dan kerjasama dalam pengelolaan TNTC khususnya dalam pengembangan dan pemanfaatan wisata alam kawasan TNTC. dihasilkan di semiloka sinergitas kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih antara Balai Besar TNTC, Bappeda Kabupaten Nabire, Dinas Olahraga Kebudayaan, dan Pemuda Pariwisata *) PEH pada Balai Besar TNTC

Kabupaten Nabire dan Stakeholder

Aksesibilitas, Transportasi dan

kepariwisataan melalui berbagai

kepariwisataan menjadi lebih

Penandatanganan Kesepakatan Bersama dalam Semiloka

tersebut diharapkan adanya tindak

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

29

dari lapangan

Merbau (Intsia sp.) dan Upaya Konservasinya di Papua Barat


Inilah salah satu upaya mengatasi kehawatiran akan menurunnya populasi Merbau .
Kayu Merbau (Instia sp.) yang mudah dikenal dengan tekstur seratnya yang berwarna merah kecoklatan dan banyak digunakan untuk panelling, lantai parket, pintu dan jendela termasuk kategori kayu keras dan dengan tekstur yang dimilikinya. Merbau menjadi sebuah simbol eklusifitas dalam interior. Merbau banyak tumbuh di wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Papua. Sampai dengan saat ini pemanfaatan jenis Merbau masih terus berjalan, sehingga ada kekhawatiran dari beberapa pihak terhadap eksistensi Merbau pada populasi alamnya di Papua pada masa yang akan datang, dikhawatirkan populasi Merbau akan semakin menurun. Aplikasi teknologi diperlukan guna peningkatan percepatan budidaya Merbau dan oleh karena itu kami mengharapkan pihak Akademisi dapat memberi fasilitasi transfer teknologi pengelolaan dan konservasi keragaman genetik serta dukungan para pihak lain agar Merbau tidak dimasukkan dalam Appendix III CITES. Semuanya itu agar Merbau tetap terjaga keberadaannya pada populasi alamnya karena kontribusinya sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat di Papua. Merbau mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan, pemanfaatan sehingga potensi pengembangan di Papua dan harus Merbau Widia Nur Ulfah,S.Pi*)

dana yang memadai termasuk sharing dengan para mitra. Kementerian Kehutanan telah menetapkan Visi Pembangunan Kehutanan Tahun 2010-2014, yaitu Hutan Lestari Untuk Kesejahteraan Masyarakat Yang Berkeadilan, dengan Kebijakan Prioritas (Jakpri) sebagai berikut : 1. Pemantapan Kawasan Hutan.; 2. Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai (DAS).; 3. Pengamanan Hutan dan Pengendalian Kebakaran Hutan.; 4. Konservasi Keanekaragaman Hayati; 5. Revitalisasi Kehutanan.; 6. Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan. Kebijakan prioritas tersebut kemudian diterjemahkan lagi menjadi target-target yang lebih spesifik, terarah dan terukur kedalam sasaran prioritas pembangunan kehutanan. Dari keenam Kebijakan Prioritas tersebut, hampir semuanya langsung terkait dengan pengelolaan dan konservasi jenis Merbau, dan yang penting adalah bagaimana meningkatkan di lingkup dan koordinasi dan sinkronisasi dengan para pemangku Kebijakan Prioritas yaitu jajaran Eselon I Kementerian Kehutanan dalam konservasi jenis Merbau. Rapat Koordinasi Pengelolaan Konservasi Jenis Merbau di Papua Barat yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 di Billy Jaya Hotel ini menghasilkan bahan tindak lanjut dan rekomendasi terhadap penanganan permasalahan dalam pengelolaan konservasi jenis pengelolaan Pemanfaatan Hutan dan Industri

dilaksanakan secara berkelanjutan dalam program yang kongkrit. Dalam melaksanakan pengembangan dan pemanfaatan Merbau, perlu kerja sama para pihak dalam rangka menyusun rancang bangun, road map dan aplikasi teknologi yang dapat mendukung terwujudnya kebijakan yang lebih komprehensif dengan dukungan

30 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

dari lapangan
Merbau di Papua Barat. Memperhatikan arahan Gubernur Papua Barat dan paparan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat; paparan Dr. Drs. Erdy Santoso, MS. (Badan Litbang Kehutanan); paparan Dr. Ir. Julius Dwi Nugroho, M.Sc. (Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua); paparan Ir. Batseba A. Suripatty, M.Sc. (Balai Penelitian Kehutanan Manokwari); tanggapan serta diskusi yang berkembang, maka pokok-pokok rumusan yang disepakati melalui acara Rapat Koordinasi Pengelolaan Konservasi Jenis Merbau di Papua Barat Tahun 2011 adalah sebagai berikut: 1. Dalam rangka pengelolaan konservasi jenis Merbau , perlu peningkatan koordinasi dan sinkronisasi dengan para pemangku kepentingan yaitu jajaran Eselon I di lingkup Kementerian Kehutanan, Dinas Propinsi dan Kabupaten/Kota yang menangani urusan Kehutanan di Provinsi Papua Barat, pihak Akademisi serta stakeholder. 2. Konservasi dan pemanfaatan jenis Merbau diperlukan kerjasama stakeholder dalam menyusun data base kondisi tegakan alam (potensi dan penyebaran); rancang bangun; road map dan aplikasi bioteknologi konservasi jenis Merbau mellui percepatan budidaya dan pengaturan pemanfaatan yang lestari. 3. Untuk menjaga kondisi potensi jenis Merbau di alam, Pemerintah Provinsi Papua Barat harus lebih proaktif untuk mendorong penyelamatan potensi jenis Merbau sebagai aset yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dengan dukungan kelembagaan kehutanan yang kuat dan aplikasi bioteknologi yang dapat mendukung terwujudnya kebijakan yang lebih komprehensif dengan dukungan dana yang memadai dalam pengembangan budidaya jenis Merbau, serta penunjukan sumber benih jenis Merbau. 4. Mengingat potensi alam dan penguasaan teknologi budidaya, maka diperlukan dukungan stakeholder agar jenis Merbau Appendix III CITES tidak dimasukkan karena kontribusi dalam dan
*)Calon PEH pada BBTNTC

keberadaan

jenis

Merbau

yang

besar

bagi

kesejahteraan masyarakat di Papua Barat. 5. Selain penelitian jenis Merbau Intsia bijuga dan Intsia palembanica, perlu dikembangkan juga penelitian jenis Intsia acuminata, termasuk penelitian hama dan penyakitnya. 6. Pemanfaatan mikoriza dalam penanaman jenis Merbau disamping memberikan manfaat yang sangat besar, perlu juga diperhatikan sterilisasi media tanam di persemaian. 7. Mengusulkan kepada Kementerian Kehutanan agar setiap Pemegang IUPHHK yang ada di Provinsi Papua Barat diwajibkan untuk membangun tegakan benih jenis Merbau. 8. Dalam rangka konservasi jenis Merbau, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat diharapkan dapat mendorong Dinas Kabupaten/ Kota yang menangani urusan Kehutanan di Provinsi Papua Barat untuk pembangunan kebun benih dan persemaian permanen jenis Merbau, disamping jenis unggulan setempat. 9. Mengusulkan kepada Kementerian Kehutanan agar jenis Merbau dimasukkan ke dalam sistem silvikultur intensif. Kesembilan poin diatas merupakan hasil rumusan peserta Rakor yang terdiri dari Dr. Drs. Erdy Santoso, MS. (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan), Dr. Ir. Julius Dwi Nugroho, M.Sc. (Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua), Ir. Sylvia Makabori, M.Si (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat), A.G. Martana, S.Hut., MH (Balai Besar KSDA Papua Barat), Ir. Christina Matakupan, M.Si (Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih), Ir. Batseba A. Suripatty, M.Sc (Balai Penelitian Kehutanan Manokwari) dan Ir. Sukarya, M.Si (Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVIII Manokwari). Semoga setelah Rakor ini, upaya konservasi Merbau di Papua Barat bisa berjalan dengan baik.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

31

OPINI :

PENTINGNYA MEDIA INTERNET DALAM MEMPROMOSIKAN PESAN KONSERVASI


Oleh : Imam Setyo Hartanto, S.Hut *)
penjuru dunia dan juga dapat membuat komputer. Pengguna internet di dunia dari kalangan remaja terdeteksi sangat banyak. Usia 15-19 tahun merupakan Menkominfo mengatakan, pengguna Tifatul berdasar teraktif. Sembiring data hubungan secara interaktif dan langsung melalui

statistik pengguna internet saat ini mencapai 1,9 miliar orang, atau 28% dari penduduk dunia. Di Indonesia, pengguna internet baik unia telah mengalami yang cukup menggegerkan seluruh dunia. Memang ada sisi baik dan buruk dari perkembangan teknologi dunia maya sekarang. Namun bagaimanapun juga nilai kemanfaatannya yang internet sungguh jauh terjadi. luas lebih besar daripada ekses negatif mungkin dapat Mempublikasikan berita melalui tersebar melebihi media lainnya. Dalam hal akses dan penyebaran informasi, melalui internet pun jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan fax, pamflet, leaflet apalagi Buletin dan majalah. Kita semua dapat mengakses dan menyebarkan informasi dari dan ke sambungan tetap maupun mobile mencapai 45 juta orang. Sebanyak 64% berusia yang semakin 15-19 sangat transaksi tahun. besar media Potensinya internet perkembangan yang begitu luar biasa; baik dari sisi peradaban, budaya maupun teknologi dan informasi. Hal yang cukup fenomenal pada abad sekarang adalah perkembangan dunia maya (media internet). Berbagai informasi dapat dengan mudah kita akses tanpa terkendala waktu dan tempat. Di belahan bumi manapun, semua informasi menjadi begitu terbuka. Bahkan informasi yang bersifat sangat rahasia dan tidak dapat diketahui oleh khalayak umum pun terkadang masih bisa bocor, seperti kejadian bocornya kawat diplomatik negara adidaya Amerika Serikat oleh WikiLeaks

menyebabkan

menjadi-jadi

(ANTARA News, 2010). Para harus rimbawan sekarang dan

pandai

melihat

mengambil peluang ini. Mengapa? Isu ekologi dan konservasi memang bukan menjadi hal yang cukup seksi untuk diperbincangkan. Namun diakui atau tidak efek yang ditimbulkan sangatlah besar. Isu bidang ini kalah jauh dibandingkan dengan isu politik, budaya sains ekonomi atau lainnya. pembangunan, perkembangan

32 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Opini
Kalaupun terdengar biasanya teknologi dan informasi selama ini. Padahal media internet dapat dimanfaatkan dalam mempromosikan isu-isu konservasi dan lingkungan lainnya. Tidak perlu memakan waktu dan tenaga bahkan biaya dalam melakukan penyuluhan konservasi akan tetapi dalam sekali klik saja kita bisa mengajak ribuan bahkan jutaan orang untuk menyelamatkan alam. Beberapa agenda konservasi yang fakta di bisa kita angkat melalui dunia maya antara lain: Promosi Kawasan Konservasi Berbagai konservasi seluruh yang Indonesia kawasan tersebar di memiliki Komodo, keindahan landscape adalah pegunungan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru beberapa contoh nilai ekologi yang bisa kita jual dan dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Penyuluhan, Pendidikan dan hanya saat ada bencana saja (tanah longsor, banjir bandang, tsunami dsb.), sungguh hal yang sangat menyedihkan. Sudah menjadi tugas para rimbawan sekalian untuk mengangkat penyadaran isu ini, memberi masyarakat kepada

akan urgensi serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara baik dan berkesinambungan. Jika kita lihat

Penyadaran Konservasi Berbagai tampilkan pemahaman menjaga melakukan juga kita guna artikel dan

penyuluhan lingkungan dapat kita memberikan seluruh sekaligus konservasi memberikan kepada

lapangan, ternyata media internet masih kurang dimanfaatkan oleh para rimbawan konservasi sampai dengan saat ini. Entah karena kita yang masih belum awam dengan media maya yang satu ini atau karena kreatifitas Tengok tingkat saja di inovasi dan yang masih kurang.

masyarakat tentang pentingnya lingkungan upaya bisa

SDAH&E. Melalui media internet informasi dan pendidikan terkait kekayaan dan keanegaragaman hayati negeri ini, menjelaskan berbagai satwa dan tumbuhan endemik dan yang dilindungi oleh Undang-Undang. Bahkan dengan media maya inilah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat berbagai gambar/video kehidupan flora-fauna di Indonesia yang

keunikan dan kekhasan masingmasing. Selain fungsi perlindungan dan pengawetan, kawasan konservasi juga berfungsi dalam hal pemanfaatan secara bijaksana. Keindahan kawasan alam di beberapa kita konservasi

Kementerian

Kehutanan terutama di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, dari 50 Taman Nasional (TN) dan 27 Balai Konservasi Sumber Daya Hutan (BKSDA) di Indonesia, seberapa banyak yang sudah memiliki web site? Hanya 26% TN dan BKSDA yang memiliki website. Sungguh miris bahwa institusi yang memang diamanahkan melakukan langsung fungsi untuk konservasi

hendaknya mampu kita tunjukkan dan kita jual. Kawasan konservasi juga mengandung nilai ekonomi yang cukup tinggi bila mampu dikelola dengan baik terutama di bidang ecotourism. Kemahsyuran nilai ecoturism Indonesia harus bisa kita promosikan dengan lebih baik lagi. Keindahan bawah air Taman Nasional Bunaken, spot Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, binatang warisan dunia Komodo di Taman Nasional

Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (SDAH&E) ternyata masih belum optimal dalam memanfaatkan perkembangan

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

33

Opini
bahkan orang awampun belum pernah hidupnya. Pesan Konservasi Global warming, climate change dan energy crisis sudah bukan dan lagi isu sektoral, hal tersebut secara nyata telah ada mempengaruhi kehidupan sekitar kita. Oleh karenanya sangat penting untuk mengangkatnya dan sekaligus memberikan berbagai pesan/tips guna mengurangi dampak dari hal-hal tersebut. Bagaimana menjaga sumber air, penghematan energy dan tips dalam mengurangi global dampak bisa kita pemanasan barisan, rimbawan melihatnya seumur belajar dari Koin Cinta Untuk Bilqis, kemanusian bagaimana mengalahkan rasa nilai mengupload pesan konservasi di FBnya berarti sekali klik saja akan ada 3000 orang yang melihat dan membaca melek konservasi. pesan teknologi, konservasi melek tersebut. Oleh karena itu mari kita

uang yang harus didapatkan demi menyelamatkan sebuah nyawa. Begitupun dengan nilai konservasi, menyelamatkan satu Harimau Sumatera akan sangat berarti jika ingin anak-cucu kita kelak masih bisa melihatnya di rimba raya. Komunitas Konservasi Dengan media maya ini pulalah kita bisa menghimpun bukan akan hanya tetapi para para

* Calon Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BBTNTC

konservasionis. Bertukar pikiran, sharing dan saling memberi saran guna melakukan pengelolaan SDAH&E secara lebih baik lagi. Bukan hal yang sulit pada

tampilkan di media internet. Advokasi Bidang Konservasi Media advokasi Masukan masyarakat penting internet (maya)

dasarnya, internet sangat mudah dipelajari karena semua source (bahan) juga ada di sana. Pun tidak perlu wah, dengan inginkan masyarakat. membuat kita yang bisa Mulai bisa website yang yang ke yang memulainya

pun sangat efektif dalam usaha bidang dan dalam lingkungan. saran dari sangat

menjadi

pengelolaan

sederhana sampai dari

SDAH&E. Perjuangan para aktivis lingkungan dalam menjaga hutan dan ekosistem lainnya dapat kita temui di media jika kita dana hutan internet. ingin guna atau Begitupun menggalang memperjuangkan suatu efektif kawasan dan

penting pesan konservasi yang kita

sederhana saja, dari yang kecil Isu (pesan) konservasi bisa kita angkat melalui email, facebook, twitter, blog ataupun domain website kita. Contoh seumpama rata-rata kita memiliki facebook dengan 300 orang pertemanan maka jika ada 10 rimbawan/ konservasionis saja yang

keberadaan

konservasi lainnya maka akan mudah dilakukan melalui media internet. Kita bisa

34 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

BIODIVERSITY :
Kuskus (Phalangeridae) di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih oleh: Sumaryono, S.Hut *)
rentan (Conservation International, 1999 dalam Astuti, 2005). Berbagai usaha pelestarian kuskus telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait. Beberapa upaya pelestarian yang dilakukan adalah dengan diterbitkan kebijakan di dalam UU perlindungan dan penetapan kawasan konservasi baik di darat maupun di laut. Kegiatan eksplorasi kuskus di papua telah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya, petocz (1987), Flannery (1995), Desmerest (1818 dan 1822) disitasi Menzies (1991) yang dikutip Astuti, 2005. Berdasarkan hasil eksplorasi yang dilakukan, dilaporkan bahwa terdapat 7 jenis kuskus di Papua, yaitu Spilocuscus maculates, Spilocuscus rufoniger, Spilocuscus papuensis, Phalanger orientalis, Phalanger gymnotis, Phalanger vestitus dan Phalanger permixtio. Bagian tanaman yang dikonsumsi oleh kuskus adalah daun dari tanaman tersebut, nampak kuskus yang ditemukan di Pulau Numamurem sedang melakukan aktifitas makan daun Artocarpus communis. Selain daun juga memakan buah yang masak maupun muda, pucuk daun dan bunga. Selain bersifat herbivora kuskus kadang mengkonsumsi jenis insect, vertebrata kecil, telur burung, kadal dan lain-lain (Petocz, 1994 dalam Astuti, 2005). Kuskus umumnya menyukai makanan berupa serangga, binatang kecil, hingga telur burung. Bisa bertahan hidup di daerah hutan hujan tropis. Mereka jenis hewan yang suka menyendiri pada waktu memburu makanan. Biasanya mencari makan pada malam hari karena dianggap aman dari incaran musuh.

Phalanger orientalis

apua merupakan salah satu provinsi yang terbesar dan terletak di kawasan paling timur Indonesia, papua memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat melimpah, baik yang ada di darat maupun di perairan, serta tersebar luas pada pulau-pulau di provinsi papua ini, baik pulau besar maupun pulau kecil. Selain itu, Papua juga dikategorikan sebagai belantara tropis utama dengan biodiversitas unik serta konsentrasi endemisitas flora dan fauna yang bervariasi, sehingga perlu diprioritaskan untuk kebutuhan konservasi (Conservation International, 1999 dalam Astuti, 2005). Salah satu kelompok fauna dengan diversitas yang tinggi adalah mamalia. Di Papua terdapat 164 jenis mamalia yang telah didokumentasikan, dimana 30 spesies diantaranya adalah spesies langka dan sedikitnya 16 spesies tercantum dalam Red data Book (RDB) International Union for Conservation of the Natural Resources (IUCN), dan salah satunya adalah Kuskus. Dalam RDB IUCN kuskus berada dalam status terancam dan

Jenis Kuskus yang ditemukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih


Hasil penelitian dan survey (2005 dan 2010) yang dilakukan di 3 pulau dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Pulau Yoop, Pulau Numamurem dan Pulau Anggromeos) ditemukan 2 jenis kuskus yaitu Spilocuscus rufoniger (kuskus merah totol hitam) dan Phalanger orientalis (Kuskus abu-abu). Kuskus sudah sejak lama diburu untuk dimanfaatkan daging, bulu, dan giginya oleh penduduk setempat. Kegiatan p erb u ru an d an penangkapan di alam serta
Phalanger rufoniger

Habitat Kuskus
Kuskus merupakan mammalia arboreal yang habitatnya secara umum adalah di hutan, baik hutan primer maupun sekunder dan secara topografis kuskus dapat dijumpai terbatas pada dataran rendah sampai dataran tinggi (0 1200) meter dpl (Flannery, 1995 dalam Astuti, 2005). Kuskus yang ditemukan di Pulau Numamurem kawasan TNTC berada di atas pohon yang cukup tinggi sekitar 15 - 25 meter di atas tanah, hal ini sesuai dengan pernyataan (Mackinon, 1998 dalam Astuti, 2005) dimana secara umum semua jenis kuskus mendiami dan hidup di atas puncak pohon dan jarang turun ke tanah.

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

35

Biodiversity
yang dilindungi (PP No. 7 Tahun 1999). Ciri-ciri kuskus jenis Spilocuscus rufoniger dapat dijelaskan sebagai berikut (Astuti, 2005): Deskripsi: Phalanger orientalis jantan : bagian kepala memiliki warna bulu yang didominasi warna putih pucat keabu-abuan dengan bagian muka kurang bulat, serta hidung menonjol kedepan. Bagian dorsal jenis kuskus ini umumnya berwarna putih keabuan. Strep tengah dorsal sangat jelas terlihat berwarna coklat kehitaman yang mulai menjulur dari kepala hingga bagian posterior. Warna dorsal tersebut meluas hingga ke sisi ventral termasuk sisi luar kaki depan dan kaki belakang. Pada bagian ventral berwarna putih pucat yang cukup luas. Dan pada ekor memiliki bulu berwarna putih keabu-abuan, warna ini lebih pekat pada bagian dorsal ekor dan ventral terlihat lebih terang. Warna bagian ekor yang tidak berbulu adalah merah muda. Phalanger orientalis betina : pada bagian kepala didominasi dengan warna coklat dan bentuk muka yang kurang bulat serta hidung menonjol ke depan. Bagian dorsal warna bulu umumnya didominasi berwarna coklat gelap dan pada ujung bulu tersebut terlihat seperti keabu-abuan. Strep bagian tengah dorsal sangat jelas terlihat berwarna coklat gelap mulai menjulur dari kepala hingga posterior. Pada bagian ventral berwarna putih pucat yang cukup luas. Dan pada bagian ekornya berwarna coklat muda, ini sangat jelas terlihat pada bagian dorsal ekor dan bagian ventral terlihat lebih terang. Warna ekor yang tidak berbulu adalah merah muda sedangkan yang berbulu berwarna kecoklatan.

Perjumpaan kuskus (Spilocuscus rufoniger) betina di Pulau Numamurem kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, 2010)

perdagangan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terancamnya keberadaan satwa tersebut di habitat aslinya. Beberapa jenis kuskus bahkan sudah tergolong dalam kategori terancam punah ( endangered ) dan menuju kepunahan (vulnerable). Saat ini sebagian besar dari famili Phalangeridae secara hukum dilindungi dan tercantum dalam Appendix II Konvensi CITES (daftar appendix CITES, 14 Oktober 2010). Spilocuscus rufoniger Satwa ini merupakan salah satu jenis satwa mammalia yang dilindungi (PP No. 7 Tahun 1999). Ciri-ciri kuskus dari jenis Spilocuscus rufoniger dapat dijelaskan sebagai berikut (Astuti, 2005): Deskripsi : Spilocuscus rufoniger jantan : bagian kepala memiliki warna yang didominasi coklat dan putih, warna sekitar mata dan telinga dengan pinna bagian dalam tertutup bulu dan pada bagian ventral kepala terdapat warna bulu putih kontras. Bagian dorsal umumnya bertotol yang menyebar dan berwarna hitam pada bagian warna coklat yang meluas hingga ke sisi tubuh dan bagian sisi luar kaki depan dan

belakang. Pada bagian ventral umumnya berwarna putih kontras dari kepala hingga ke bagian sekitar kloaka. Ekor kuskus jantan berwarna krem pada bagian permukaan ekor berbulu sedangkan pada bagian tidak berbulu berwarna orange. Untuk ukuran tubuh cenderung lebih besar dari pada kuskus betina (Astuti, 2005). Spilocuscus rufoniger betina : warna tubuh didominasi oleh warna coklat dan tidak memiliki totol, pada bagian kepala tepatnya di sekitar hidung tidak ditumbuhi bulu dan warna bagian kulit di bagian tersebut berwarna orange. Bagian dorsal dari kepala hingga ke bagian kloaka berwarna coklat kehitaman. Ventral jenis kuskus betina umumnya berwarna putih kontras, warna ini meluas hingga bagian sisi dalam kaki depan dan belakang. Pada bagian ekor hampir mirip dengan kuskus jantan. Phalanger orientalis Jenis kuskus ini tidak ditemukan langsung ketika dilakukan pengamatan, tetapi berdasarkan informasi masyarakat sering melihat jenis kuskus putih keabuabuan (Phalanger oriantalis). Jenis ini juga merupakan jenis satwa

36 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Biodiversity
Ancaman Satwa Kuskus
Penduduk yang mendiami wilayah pesisir teluk Cenderawasih hidup dari kemurahan alam dengan cara meramu, berburu, bertani, maupun memanfaatkan hasil laut. Berburu dan mengekstraksi satwa dari alam sudah merupakan kegiatan turun temurun dan terus dipraktekkan sampai saat ini, karena merupakan salah satu aspek hidup yang penting dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan lingkungan sosialnya. Di era modern ini, beberapa kelompok etnik Papua sangat bergantung pada perburuan sebagai bagian dari tradisi setempat, atau dengan kata lain, perburuan merupakan satu cara hidup masyarakat (Pattiselanno, 2007). Kampung-kampung di sepanjang pesisir maupun yang berada di Pulau dalam kawasan teluk Cenderawasih merupakan salah satu habitat alami kuskus (Phalangeridae) di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Pattiselanno, 2007). Perburuan kuskus di kawasan ini dari waktu ke waktu semakin marak dilakukan. Beberapa studi di kawasan tropis, Robinson dan Redford (1994); Robinson dan Bodmer (1999) menyimpulkan bahwa perburuan satwa di area hutan hujan tropis tidak lagi sustainable (berkelanjutan) dan sumberdaya satwa liar di area hutan ini sangat rawan terhadap eksploitasi berlebihan, sehingga spesies satwa buruan dikhawatirkan dapat menuju kepunahan. Fenomena ini pula yang dikhawatirkan menimpa populasi kuskus di sepanjang pesisir TNTC, yang secara hukum dilindungi dengan UU no. 5 tahun 1990 ten tan g kete n tu an mengeluarkan dan membawa atau mengangkut tumbuhan atau satwa yang dilindungi serta Peraturan Pemerintah RI no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Ancaman lain adalah Perdagangan dan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Indonesia masih terbilang tinggi. Survey terakhir ProFauna Indonesia di 70 pasar burung yang dilakukan pada 2009 menemukan ada 183 ekor jenis satwa dilindungi yang diperdagangkan. Dari 70 pasar burung/lokasi yang dikunjungi di 58 kota tersebut, tercatat ada 14 pasar burung yang memperdagangkan burung nuri dan kakatua, 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia dan 13 pasar memperdagangkan raptor (burung pemangsa). Selain itu tercatat ada 11 pasar lokasi yang memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi. (Pro Fauna, 2010) Maraknya perdagagangan dan penyelundupan satwa liar tersebut berdampak semakin meningkatnya Perburuan terhadap satwa liar termasuk jenis kuskus, dan kadang perdagangan juga terang-terangan dilakukan di situs internet maupun di pasar-pasar tradisional. Belum adaanya tindakan tegas terhadap pelakupelaku, sehingga perbuatan ini akan terus berlangsung. Secara preventif barangkali sudah sering dilakukan kepada masyarakat yang mendiami atau berada berdekatan langsung dengan habitat aslinya. Diharapkan adanya kepedulian dari masyarakat terhadap perlindungan satwa liar dan habitatnya dengan melakukan pengaduan/laporan kepada pihak yang berwenang.

Pustaka
Astuti, Tri Widy. 2005. Eksplorasi jenis kuskus di pulau Yoop Distrik Windesi Kabupaten Teluk Wondama. Skripsi Mahasiswa FMIPA UNIPA. Manokwari. (tidak diterbitkan) Balai Besar TNTC. 2010. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Inventarisasi dan Identifikasi Satwa Liar di Pulau Numamurem Kawasan TNTC. Balai Besar TNTC. Manokwari. (tidak diterbitkan) Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. 2010. Appendices I, II and III valid from 14 October 2010. Pattiselanno, F. 2007. Perburuan Kuskus (Phalangeridae) oleh Masyarakat Napan di Pulau Ratewi Nabire - Papua. Biodiversitas. FPPK UNIPA. Manokwari. Profauna. 2010. Catatan Tahunan 2009 ProFauna Indonesia: Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar Indonesia Masih Tinggi. http://www.profauna.org/ content/id/pressrelease/2010.

*) PEH Pertama pada Balai Besar TNTC

Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

37

SERBA-SERBI : Sebaiknya Anda Tahu ... BERAGAM KEUNGGULAN BERJALAN KAKI / GERAK JALAN
Oleh: Sumaryono, S.Hut dan dilakukan secaa bersamasama. Baik secara berkelompok kecil ataupun besar, bergabung antara wanita dan pria, anak-anak ataupun orang dewasa bahkan orang tua. Manfaat Tidak perlu kita ragukan lagi manfaat dari kebiasaan berjalan kaki ini, terlalu banyak manfaat yang akan kita dapatkan baik berupa meningkatnya derajat kesegaran dan kesehatan tubuh ataupun keuntungan-keuntungan lain seperti rekanan ataupun persahabatan dengan mengenal banyak orang pada saat kita berjalan kaki bersama-sama. Keuntungan-keuntungan berjalan kaki 1. Setelah kita melatih gerak jalan ini secara bertahap, teratur, dan cukup lama, maka jumlah dan besarnya pembuluh-pembuluh darah kita akan bertambah, sehingga peredaran darah menjadi lebih efisien. 2. Olahraga gerak jalan ini akan menaikan elastisitas pembuluhpembuluh darah jika tekanan darah kita naik. 3. Dengan melakukan aktivitas olahraga ini secara teratur, otototot dan sistem peredaran darah kita akan bekerja lebih efisien, yang berarti otot dan darah kita

lahraga jalan atau lebih dikenal sebagai gerak jalan, kini semakin banyak diminati. Tidak hanya di kota-kota besar, orang tua maupun muda, pria maupun wanita, tiap pagi kalau cuaca cerah bisa kita lihat sering menyusuri jalan-jalan kota. Kegiatan olahraga dengan menu utama jalan kaki pun kini semakin marak di selenggarakan di beberapa kota. Baik dalam rangka memperingati hari-hari besar nasional ataupun hari-hari ulang tahun dari suatu lembaga atau organisasi. Beberapa tahun silam gejolak olahraga gerak jalan itu begitu mendominasi pada saat memperingati hari-hari besar nasional, sebut saja Lomba Gerak Jalan Tradisional Mojokerto Surabaya, Bogor - Jakarta, bahkan pernah juga Bandung - Jakarta. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman dan semakin padatnya jumlaha kendaraan bermotor, kebiasaan gerak jalan ini mulai tergusur bahkan dapat kita katakan hampir punah ditelan kemajuan jaman. Padahal banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dalam melakukan aktivitas olahraga dengan berjalan kaki banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh untuk kesegaran dan kesehatan tubuh dan secara tidak langsung pula kita dapat mensukseskan anjuran pemerintah "mengolahragakan masyarakat, dan memasyarakatkan olahraga" sangat tepat dilakukan melalui event gerak jalan karena mudah untuk dilakukan.

5 hal penting dalam berjalan kaki : 1. Mudah Aktivitas gerak jalan sangatlah mudah untuk dilakukan oleh siapa saja, baik orang tua maupun muda, pria maupun wanita, bahkan semua orang dengan tingkatan koordinasi tubuh, dapat melakukannya. 2. Murah Tidak dapat diragukan lagi bahwa aktivitas olahraga gerak jalan atau berjalan kaki adalah satusatunya aktivitas olahraga yang tidak memerlukan biaya apapun. Perlengkapan ang dibutuhkan hanyalah sepasang sepatu, bahkan beberapa ahli kesehatan menganjurkan untuk berjalan kaki dilakukan dengan tidak mengenakan alas kaki, agar titiktitik refleksi di telapak kaki dapat tersentuh secara alamiah dengan permukaan jalan. 3. Meriah Olahraga gerak jalan dapat dilakukan oleh banyak orang dalam suasana yang gembira, dan karena dilakukan sambil santai bahkan sambil bercanda, maka suasana yang terjalin selama melakukan aktivitas ini akan meriah. Massal Sering kita saksikan dalam memperingati hari-hari besar nasional ataupun hari-hari ulang tahun organisasi-organisasi ataupun lembaga-lembaga besar di negara ini sering melakukan kegiatan gerak jalan sehat dengan melibatkan sekian banyak orang

38 Buletin Tritonis, Edisi I April 2011

Ucapan
akan lebih sempurna mengambil, mengedarkan, dan menggunakan oksigen. 4. Jantung kita akan mendapat keuntungan karena juga kan bekerja lebih efisien, yaitu memompa darah lebih banyak dengan denyutan yang lebih jarang, serta akan lebih tahan terhadap kemungkinan serangan jantung. 5. Bertambah kuatnya ketahanan tubuh kita terhadap stress. Ini akam membuat kita kan lebih menikmati hidup ini, karena stress pasti muncul dalam kehidupan manusia dan akan terasa lebih pedih bila jasmani kita tidak aktif dan produktif. 6. Gerak jalan dapat menurunkan kadar lemak dalam darah, misalnya kolesterol dan trigliserida, sehingga bahaya pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah dapat dikurangi. 7. Aktivitas olahraga gerak jalan ini juga mengurangi terjadinya penggumpalan darah, sehingga kemungkinan tersumbatnya pembuluh-pembuluh darah yang menuju otot jantung akan berkurang. 8. Kadar gula darah juga akan turun, sehingga mengurangi kemungkinan perubahan gula darh menjadi trigliserida atau lemak. 9. Gerak jalan dapat mengurangi kegemukan / obesitas dan resiko tekanan darah tinggi. Semoga bermanfaat untuk kita semua Sumber : www.beritalumajang.com
Pimpinan dan Seluruh Staff Redaksi Buletin Tritonis Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Mengucapkan

Selamat Jalan ..
Banyak hal yang telah kita lakukan dalam kebersamaan selama di Balai Besar TNTC, Saling membantu dalam tumbuh kembang pribadi masing-masing. Semua kenangan indah akan senantiasa terukir dalam ingatan, dan segala khilaf akan tersapu oleh ombak. semoga di tempat kerja yang baru, mendapatkan apa yang diharapkan yang selama ini belum teraih dan dapat memberi makna bagi orang-orang sekitar. Teriring doa kami semua, Staff BBTNTC, untuk kalian bapak berdua. Selamat jalan kepada bapak Edward Sembiring, S.Hut dari Balai Besar TNTC ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan kepada bapak Maryono dari Balai Besar TNTC ke Balai KSDA Banjarmasin Kalimantan Selatan, Semoga dapat mengabdikan diri dengan baik di tempat baru.

Selamat Datang ..
Dalam hidup, segala sesuatunya selalu seimbang. ada yang pergi, ada pula yang datang. Dua pegawai yang telah meninggalkan kantor Balai Besar TNTC untuk melaksanakan tugas mereka di tempat kerja yang baru, dan 2 orang datang untuk bergabung di kantor ini. selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Drs. A. Hans Atarury, M.H dari Balai Besar KSDA Papua ke Balai Besar TNTC sebagai Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Nabire dan bapak Suemakar Asyadi, Polisi Kehutanan Balai TN. Danau Sentarum ke Balai Besar TNTC. smoga kehadiran Bapak mampu memberikan warna dan semangat baru dalam kantor BBTNTC dan mampu meningkatkan kinerja dan prestasi BBTNTC dalam bidang konservasi serta mampu meningkatkan kualitas pribadi semua pihak. selamat datang dan selamat bekerja sama dalam keluarga besar Balai Besar TNTC.

Selamat Menempuh Hidup Baru ..


segenap pimpinan dan staff Balai Besar TNTC mengucapkan selamat atas pernikahan Saudara Topo Budi Dhanarko, S.Pi dengan Fransiska Yuni Riswati, SE pada tanggal 26 Februari 2011 di Jakarta, serta pernikahan Saudara Frans K. Sineri, SE dengan Sara Y. Karubaba, S.Pd., M.Phil. pada tanggal 23 April 2011 di Manokwari. Semoga menjadi pasangan yang sejati sampai maut memisahkan .

Selamat atas kelahiran Athifah Salwa Zahirah, putri pertama rekan kami, Sumaryono, S.Hut pada tanggal 22 Januari 2011. Semoga menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, masyarakat dan Negara...

Buletin Tritonis, Edisi I Maret 2011

39

Www.telukcenderawasih-nationalpark.org

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Jl. Essau Sesa - Sowi Gunung, Manokwari - Papua Barat Telp. (0986) 212303, Fax. (0986) 214719
Email : telukcenderawasih@gmail.com

Sumber Dana : DIPA Balai Besar TNTC, Tahun Anggaran 2011