Anda di halaman 1dari 6

1. Childs BP, Grothe JM, Greenleaf PJ.

Strategies to Limit The Effect of Hypoglycemia on Diabetes Control : Identifying and Reducing The Risks. Clinical Diabetes. 2012 ; 30 (1) : 28 33. Individu dengan diabetes sering menganggap hipoglikemia sebagai faktor yang membatasi pencapaian kontrol diabetes yang optimal. Hipoglikemia sering ditemukan pada pasien diabetes tipe 1 dan kadang-kadang pada pasien diabetes tipe 2. Menurut Cryer, pasien diabetes tipe 1 rata-rata mengalami dua episode hipoglikemia setiap minggu dan satu episode hipoglikemia berat dalam setahun. Hipoglikemia berat jarang terjadi pada pasien diabetes tipe 2. Berdasarkan U.K. Prospective Diabetes Study (UKPDS), 0,7% pasien dengan sulfonilurea dan 2,3% pasien dengan insulin mengalami hipoglikemia berat dalam setahun. Pada pasien diabetes tipe 2 frekwensi lebih besar ditemukan pada pengguna insulin.

2. Definisi

Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah < 3,0 mmol/l,

3.

Dokter dan pasien harus meminimalkan risiko episode hipoglikemia selama manajemen glukosa darah. OAD tertentu meningkatkan risiko hipoglikemia, terutama obat golongan sulfonilurea dan meglitinida. Beberapa pasien diabetes melitus mempunyai compromised hypoglycemic counterregulatory system, yang menurunkan kesadaran terhadap serangan hipoglikemia dan disebut hypoglycemia unawareness syndrome. Gambaran klinis

Hipoglikemia klinik ditandai oleh trias Whipple yaitu adanya tanda/gejala akibat hipoglikemia, kadar glukosa darah yang rendah, dan hilangnya tanda/gejala setelah kadar glukosa darah meningkat. Tanda/gejala hipoglikemia meliputi gejala akibat aktivasi sistem saraf otonom dan neuroglikopenia (gambar....) Pertahanan tubuh melawan hipoglikemia meliputi penurunan sekresi insulin, peningkatan sekresi glukagon, dan jika glukagon gagal makan terjadi peningkatan epinefrin serum. Pada pasien lansia dan pasien dengan riwayat hipoglikemia berulang, disfungsi otonom dapat mengubah respon ini sehingga mengurangi kesadaran diri terhadap terjadinya hipoglikemia. Hypoglycemia unawarness syndrome dapat memperlambat koreksi oleh pasien (misalnya dengan asupan karbohidrat) sehingga dapat terjadi konfusi dan ketidakmampuan untuk mengatasi keadaan hipoglikemia, yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Prevalensi, morbiditas dan mortalitas Meskipun morbiditas dan mortalitas hipoglikemia pada diabetes tipe 2 lebih kurang daripada diabetes tipe 1, namun beberapa pasien diabetes tipe 2 dapat mempunyai risiko morbiditas dan kematian akibat hipoglikemia yang lebih tinggi. Pada Veterans Affairs Diabetes Trial, hipoglikemia berat merupakan prediktor kuat terjadinya penyakit kardiovaskuler (CVD) dan mortalitas akibat CVD pada pasien yang diterapi intensif (target HbA1c < 6%) dan semua penyebab mortqalitas pada pasien dengan terapi standar. Menurut ACCORD (The Action to Control Cardiovascular Risk in Diabetes) frekwensi hipoglikemia berat lebih banyak terjadi pada kelompok yang diterapi intensif dibandingkan dengan kelompok terapi standar (10,5% banding 3,5%). Faktanya, pasien hipoglikemia berat yang bergejala berisiko lebih besar mengalami kematian tanpa memperhatikan intensitas kontrol glikemik. Analisis retrospektif menunjukkan pasien dengan kontrol glikemik yang lebih buruk (HbA1c yang lebih tinggi) berisiko lebih besar mengalami hipoglikemia daripada pasien dengan kontrol glikemik yang lebih baik tanpa memperhatikan intensivitas terapi. Penelitian oleh Whitmer RA terhadap lebih dari 16.000 pasien diabetes tipe 2 menunjukkan bahwa 8,8 % pernah mengalami paling tidak satu episode hipoglikemia. Rekomendasi klinik American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan target HbA1c pada pasien diabetes tipe 2 tanpa CVD adalah < 7% atau 6,5%.

Terdapat beberapa OAD yang diketahui meningkatkan risiko hipoglikemia (meliputi golongan sulfonilurea, glinida dan insulin), sementara yang lainnya (metformin, tiazolidinadion, analog GLP1, dan penghambat DPP4) terkait dengan kejadian hipoglikemia yang lebih rendah. Sulfonilurea meningkatkan sekresi insulin dan terkait dengan hipoglikemia khususnya pada lansia. Klorpropamida dan gliburida merupakan penyebab hipoglikemia paling banyak pada golongan ini. Glinida meningkatkan sekresi insulin dan juga terkait dengan hipoglikemia meskipun frekwensinya lebih kurang dibandingkan dengan golongan sulfonilurea. Semua preparat insulin eksogen terkait dengan hipoglikemia meskipun analog dengan kerja yang sangat singkat menunjukkan risiko yang lebih rendah. Monoterapi metformin merupakan terapi lini pertama yang direkomendasikan dan biasanya tidak terkait dengan hipoglikemia, namun obat ini dikontraindikasikan pada kondisi dengan risiko asidosis laktat dan peningkatan kreatinin serum (laki-laki 1,5 mg/dl, perempuan 1,4 mg/dl) ) 4. Arbelaez AM, Cryer PE. Hypoglycemia in Diabetes : Prevalence, Mechanisms, Impact and Prevention. International Diabetes Monitor. 2009 ; 21 (6) : 206 9.

5.