Anda di halaman 1dari 15

AUDIT ENERGI Oleh : Alfia Magfirona (D100 102 004)

1. PENDAHULUAN Ketergantungan manusia terhadap ketersedian energi dewasa ini membuat kita memahami bahwa tanpa energi standar hidup manusia tidak dapat ditingkatkan lagi, sehingga sedemikian vitalnya energi bagi

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang menerapkan kebijakan subsidi BBM mendapat pukulan telak dari kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2008 dengan dua alasan. Pertama, sejak tahun 2002, Indonesia sudah melakukan impor minyak mentah. Hal ini terkait dengan tingkat produksi minyak dalam negeri yang mengalami penurunan. Kedua, hingga saat ini pemerintah masih memberikan subsidi BBM. Sebagaimana juga tertuang dalam Blueprint Pengelolaah Energi Nasional 2005-2025, pemerintah masih memberikan subsidi bagi beberapa jenis BBM yaitu minyak tanah, premium dan solar. Subsidi terhadap harga BBM diberikan mengingat di satu sisi BBM sebagai sebuah komoditas yang strategis dan berkenaan dengan kepentingan publik sementara disisi yang lain tingginya harga pasar minyak tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang baik sehingga subisidi yang diberikan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meredistribusi pendapatan untuk mengurangi kesenjangan antaranggota masyarakat. Sebenarnya setelah tahun 2007 diharapkan sudah tidak ada lagi subsidi untuk ketiga jenis BBM tersebut. Namun demikian tidak ada waktu yang pasti untuk penghentian subsidi tersebut. Hal ini menandakan bahwa pemerintah masih mempelajari dan menimbang-nimbang dampak kebijakan harga BBM terutama terhadap kelompok masyarakat bawah. Akibatnya

Audit Energi

hingga saat ini masih sangat jelas terlihat bahwa diambilnya kebijakan di sektor energi masih sangat responsif. Bahkan terdapat suatu kecenderungan di masyarakat menilai bahwa pemerintah tidak transparan di dalam melakukan kalkulasi biaya ekonomi dalam penentuan harga BBM. Lebih jauh lagi, kenaikan harga BBM pada bulan November 2005 dan Mei 2008 membawa dampak yang cukup signifikan terhadap sektor transportasi karena ketergantungannya yang besar terhadap BBM. Hampir 100 persen kebutuhan transportasi nasional bergantung pada BBM dan hanya sebagian kecil yang menggunakan bahan bakar bioenergi yang berupa biethananol dan biodiesel yang berbahan baku utama kelapa sawit, jarak pagar, singkong dan tebu. Pemakaian terbesar BBM nasional adalah sektor transportasi karena bagi sektor transportasi sendiri, BBM merupakan bahan bakar utama yang sulit digantikan dengan bahan bakar lain. Tidak efisiennya pemakaian BBM di sektor transportasi sangat jelas diperlihatkan terutama pada transportasi darat kota-kota besar, dimana mobil-mobil tua yang boros BBM dan kemacetan (penghamburan BBM secara sia-sia) menjadi pemandangan sehari-hari. Dengan laju pertumbuhan kendaraan yang sangat cepat, yang tak diimbangi dengan pertambahan infrastrukturnya, tidak efisiennya penggunaan BBM di sektor transportasi ini menjadi masalah yang makin berat yang dihadapi pemerintah. Di Indonesia juga pernah dicobakan penggunaan BBG (Bahan Bakar Gas) sebagai alternatif bahan bakar untuk transportasi, namun proyek tersebut kini tidak dilanjutkan. Pada tahun 2005, menurut data Departemen ESDM, sektor transportasi telah menguras hampir 20 persen dari anggaran total APBN 2005 atau sekitar 113 triliun rupiah. Padahal, menurut PBB apabila biaya BBM yang dikeluarkan negara melebihi 10 persen maka hal tersebut mengindikasikan bahwa negara tidak sejahtera. Pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang meningkat secara drastis tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang tidak mengembangkan angkutan umum massal. Dengan demikian, perlu sekali menggalakan konservasi energi dan Audit Energi 2

membangun kesadaran masyarakat/pemerintah untuk menjadikan konservasi energi sebagai budaya baru perlu dikembangkan. Kampanye hemat energi, audit energi, teknik melakukan konservasi energi, pengembangan insentif untuk melakukan efisiensi pemanfaatan energi perlu diterpakan. Contoh yang berhasil mengembangkan konservasi energi adalah Jepang, ketergantungan Jepang pada minyak bumu sebelum periode Krisis Minyak 3 dekade lalu sekitar 80 persen. Melambungnya harga minyak memaksa Jepang membetuk Pusat konservasi Energi Nasional. Jepang kini adalah negara yang produktivitas pemanfaatan energinya paling baik di dunia, sedangkan minyak bumi tinggal 45 persen dari konsumsi mereka. Berdasarkan latar belakang di atas, maka studi tentang audit energi ini dilakukan untuk mengetahui besarnya konsumsi BBM pada masyarakat disektor transportasi yang akan difokuskan pada BBM untuk kendaraan

bermotor yang merupakan bahan bakar utama bagi transportasi kendaraan jalan raya dan dalam sisi mikro untuk membuktikan pernyataan PBB yaitu apabila biaya BBM yang dikeluarkan negara melebihi 10 persen maka hal tersebut mengindikasikan bahwa negara tidak makmur.

2. TINJAUAN PUSTAKA

a. Bangkitan Perjalanan (Trip Generation )


Merupakan tahap perhitungan jumlah perjalanan yang dibangkitkan oleh suatu zona atau kawasan. Dalam aspek transportasi, dikawasan atau zona dalam lingkup kota setiap harinya, terutama pagi hari, akan selalu terjadi arus kendaraan/orang/barang yang meninggalkan zona tersebut dan bergerak menuju zona atau kawasan yang lainnya yang cukup jauh. Pergerakan semacam ini umunya disebabkan akibat tidak berdampingannnya atau tidak berdekatannya jarak antara zona tempat tinggal dengan zona aktivitas. Ilustrasi dasar mengenai bangkitan perjalanan pada gambar 2.1

Audit Energi

Zona kawasan (petak kawasan) yang berfungsi sebagai tempat asal

JARAK

Zona kawasan (petak lahan) yang berfungsi sebagai tempat orang beraktivitas

Sumber: http://kampuzsipil.blogspot.com Gambar 2.1 Ilustrasi Bangkitan Perjalanan

b. Biaya Bahan Bakar Minyak (BBM)


Penggunaan BBM secara umum tergantung dari jenis kendaran dan kapasitas kendaraan. Biaya tersebut diperoleh dari hasil bagi antara BBM per liter dengan jarak yang ditempuh tiap liter. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut : Biaya BBM (Rp/km) =
Harga BBM tiap liter (Rp/liter) Jarak tempuh tiap liter

Audit Energi

Dalam penelitian, untuk menentukan % biaya BBM yang dikeluarkan selama 15 hari dapat dirumuskan sebagai berikut : % biaya BBM selama 15 hari
Biaya BBM selama 15 hari x100% Pendapatan selama 15 hari

c. Sebaran Perjalanan (Trip Distribution)


Sebaran Perjalanan (trip distribution) adalah bagian dari proses perencanaan transportasi empat tahap yakni kelanjutan (pengembangan) dari tahap bangkitan perjalanan (trip generation). Sebaran perjalanan merupakan jumlah (banyaknya) perjalanan/yang bermula dari suatu zona asal yang yang menyebar ke banyak zona tujuan atau sebaliknya jumlah (banyaknya)

perjalanan/yang dating mengumpul ke suatu zona tujuan yang tadinya berasal dari sejumlah zona asal. Sketsa pola sebaran perjalanan: Zona asal
Zona 1

Zona tujuan
Zona 1

Zona 2

Zona 2

Zona x

Zona x

d. Pilihan Moda Transportasi (Route Choice)


Tahap pilihan moda transportasi ini merupakan pengembangan dari tahap model asal-tujuan (sebaran perjalanan) dan bangkitan perjalanan, karena pada tahap sebaran perjalanan kita menentukan jumlah perjalanan ke masingmasing zona asal dan tujuan, maka pada tahap pilihan moda ini kita mencoba menentukan jumlah perjalanan yang menggunakan berbagai bentuk alat angkut (moda transportasi) untuk suatu asal-tujuan tertentu.

Audit Energi

Gambar 2.2 Contoh Pilihan moda transportasi

e. Batasan Studi
Studi ini akan menganalisis perhitungan besar biaya yang dikeluarkan dari pendapatan untuk penggunaan BBM pada kendaraan bermotor selama 15 hari perjalanan.

3. METODOLOGI PENELITIAN Alur penelitian dilakukan sebagaimana pada gambar 3 di bawah. Dimulai dari adanya kerisauan terhadap ketersediaan energi, kenyataan bahwa Indonesia merupakan net importer BBM menyebabkan pemerintah harus memberikan subsidi agar harga BBM domestik tetap berada dalam jangkauan daya beli masyarakat, konservasi energi dan juga pemakaian BBM terbesar pada sektor transportasi yang menguras hampir 20 persen dari total anggaran APBN Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan pengumpulan data yang meliputi data pemakaian BBM yang dilakukan dalam 15 hari untuk mengetahui indikasi dari PBB yang menyatakan bahwa apabila biaya BBM yang dikeluarkan negara melebihi 10 persen maka hal tersebut mengindikasikan bahwa negara tidak makmur tentunyapenelitian ini dalam konsep mikro yaitu pada pemilik kendaraan pribadi apabila konsumsi BBM lebih dari 10 persen pendapatannya yang juga pencerminan dari sebuah negara . Selain itu dicari juga pilihan untuk public transport yang nantinya akan dapat menyelamatkan sebuah pembangunan transportasi yang berkelanjutan (sustainability

transportation).

Audit Energi

Mulai

Identifikasi dan Perumusan Masalah

Tinjauan Pustaka

Pengumpulan Data : biaya pemakaian BBM

Pengolahan Data

Analisa dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3. Alur Penelitian

Audit Energi

4.

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN a. Analisis Data Analisis terhadap pemakaian BBM pada kendaraan bermotor selama 15 hari tertera dalam table berikut. Tabel 1. Konsumsi BBM Kendaraan Bermotor
hari keURAIAN 1 Jarak tempuh (km/lt) Rute perjalanan Biaya bensin (Rp/lt) 2
A

2 2
A

3 10
B

4 2
A

5 15
C

6 2
A

7 6
D

8 2
A

9 7
D

10 40
E

11 2
A

12 10
B

13 10
B

14 2
A

15 10
B

119

5000

10000

15000

5000

35000

Biaya BBM (Rp/km) =

35000 Rp 294,00/k m 119

Pendapatan per bulan (diasumsikan 30 hari) Pendapatan selama 15 hari Biaya bensin selama 15 hari % biaya bensin selama 15 hari

= Rp 500000 = Rp 250000 = Rp 30000


35000 x100% 14% 250000

Keterangan : Rute Perjalanan A : Asrama Kampus Asrama Rute Perjalanan B : Asrama Kampus Jl Slamet Riadi Asrama Rute Perjalanan C : Asrama Kampus Gladak Asrama Rute Perjalanan D : Asrama Kampus Kartasura Asrama Rute Perjalanan E : Asrama Kampus Solo Baru Asrama

Audit Energi

Berdasarkan perhitungan di atas tampak jelas bahwa biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi BBM selama 15 hari lebih besar daripada pendapatan dengan prosentase total biaya BBM adalah 14 % dari pendapatan yang diterima selama 15 hari sehingga 14 % telah lebih dari 10 % dengan selisih sebesar 4 %. Ini perlu menjadi perhatian serius karena hal tersebut telah mengindikasikan sebuah ketidakmakmuran/ketidaksejahteraan pada pemilik kendaraan pribadi tersebut sesuai dengan pernyataan PBB tentunya dalam konteks yang sangat kecil sekali daripada sebuah negara, namun demikian dari hasil penelitian tersebut cukup dijadikan cerminan khususnya bagi negara Indonesia bahwa masyarakat Indonesia pada tingkat konsumsi BBM tinggi memberikan pengaruh negatif terhadap pendapatan seseorang sebaliknya, apabila konsumsi masyarakat terhadap BBM rendah maka akan memberikan pengaruh positif pada pendapatan sesesorang dan bahkan akan meningkatkan kesejahteraan seseorang, tentunya harus ada kesadaran terlebih dahulu tentang pentingnya penghematan energi BBM karena sifatnya yang tidak mudah untuk segera diperbaharui. b. Menyusun Rancangan Pembangunan Transportasi yang Efisien dan Berkelanjutan Agenda utama yang perlu diprioritaskan di dalam pembangunan

transportasi yang efisien dan berkelanjutan adalah bagaimana menyediakan transportasi publik khususnya yang cepat dan massal (Mass Rapid Transportation). Tata kelola sistem transportasi juga harus terfokus pada upaya untuk mengurangi dan mengefisienkan konsumsi BBM. Karena itu, langkah-langkah aksi yang jelas, komprehensif dan terinci mengenai upaya untuk mengalihkan ketergantungan masyarakat dari moda transportasi (kendaraan) pribadi ke moda transportasi publik yang memiliki kapasitas lebih besar harus menjadi core (intisari) dari tata kelola sistem transportasi. Diharapkan beralihnya ketergantungan masyarakat dari moda transportasi Audit Energi 9

publik akan juga mempermudah upaya mengurangi dan mengefisienkan konsumsi BBM. Dalam hal pengadaan layanan transportasi publik, pemerintah Indonesia masih berada pada tahap primer yang berorientasi pada bagaimana menyediakan transportasi publik agar masyarakat dapat sampai pada tempat tujuan, sedangkan pada negara lain misalnya Amerika Serikat dan Inggris sudah berada pada tahap sekunder yang berorientasi pada kenyamanan dan sangat memperhatikan keselamatan, bahkan Amereika Serikat sudah sampai pada tahap tersier, yaitu memperhatikan kemewahan. Hal yang dapat dipelajari dari penerapan sistem MRT (Mass Rapid Transportation) di Amerika Serikat dan Inggris adalah pengadaan layanan secara public-privat partnership dan berada pada tahap sekunder di mana sangat memerhatikan keselamatan dan kenyamanan (kualitas layanan). Busway-Transjakarta yang ada di Indonesia telah menerapkan sistem tersebut, namun pemerintah masih tetap berada pada tahap primer. Hal ini dibuktikan bahwa Transjakarta merupakan bus rapid transit yang memiliki rute atau jalur terbanyak di dunia namun kualitas pelayanannya tidak sebaik bus rapid transit di negara lain. Secara konseptual, esensi dari pembangunan sektor transportasi yang efisisen dan berkelanjutan adalah pemilihan model transportasi yang mempertimbangkan tiga persyaratan. Pertama, model transportasi yang dikembangkan harus mempertimbangkan dimensi ruang, jarak dan waktu. Artinya, lalu lintas dan proses perpindahan barang serta manusia bisa dilakukan dalam jumlah yang terbesar dengan jarak yang paling minimal serta bisa ditempuh dalam waktu sesingkat mungkin. Dengan mempertimbangkan dimensi ruang, jarak, dan waktu, maka moda transportasi massa merupakan model yang lebih ideal dibandingkan dengan moda transportasi individual. Kedua, model transportasi harus dibangun berdasarkan perhitungan kemampuan daya dukung wilayah (sesuai perencanaan kota) sehingga rasio terhadap jumlah kendaraan yang berlalu lalang di jalan terhadap luas wilayah Audit Energi 10

bisa berada pada level yang ideal. Mengingat luas wilayah bersifat konstan, maka intervensi yang bisa dilakukan pemerintah adalah mengontrol pertumbuhan jumlah kendaraan. Namun demikian, upaya untuk mengontrol pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi tidak akan membawa hasil yang optimal tanpa dibarengi dengan upaya menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, andal dan terjangkau oleh masyarakatnya. Ketiga, pengembangan model transportasi publik idealnya juga dilakukan secara komprehensif, terintegritas dan merata. Pengembangan sistem transportasi makro yang berkelanjutan tentunya membutuhkan biaya yang besar . Dalam kondisi saat ini sangat sulit jika biaya investasi tersebut dibebankan sepenuhnya pada pemerintah pusat. Dalam hal ini perlu dipikirkan model pembiayaan dari semua sumber seperi pemerintah daerah, swasta, dan pinjaman baik dalam maupun luar negeri. Berikut disajikan matriks kualitatif akan kebijkan transportasi makro.

Audit Energi

11

Tabel 2. Matriks Kebijakan Transportasi Makro

Audit Energi

12

5. KESIMPULAN Dari hasil analisis dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa total cost BBM selama 15 hari perjalanan yang dikeluarkan oleh pemilik kendaraan pribadi

( kendaran bermotor) sebesar Rp 30.000,00 untuk jarak tempuhnya adalah 119 km. Sedangkan, pendapatan yang diterima oleh pemilik kendaraan selama 15 hari adalah Rp 250.000,00 sehingga apabila diprosentakan pengeluaran untuk BBM sendiri adalah 14 % telah lebih dari 10 %. Jadi, hal tersebut telah mengindikasikan sebuah ketidaksejahteraan pada pemilik kendaraan pribadi tersebut sesuai dengan pernyataan PBB tentunya dalam konteks yang sangat kecil sekali daripada sebuah negara. 2. Perbaikan transportasi sistem publik yang efisien dan berkelanjutan tampaknya masih menjadi anak tiri dan termarginalkan. Tidak

tertatanya sistem transportasi secara baik baik menyebabkan pertumbuhan kendaraan pribadi meningkat sehingga mendorong peningkatan konsumsi BBM, emisi pencemaran udara dan juga secara cepat menyebabkan tingkat kemacetan yang sulit dikendalikan di sektor transportasi khususnya moda transportasi darat di Indonesia. 3. Semakin rendah biaya konsumsi BBM, akan memberikan manfaat bagi pemilik kendaraan pribadi untuk mempertahankan dan

meningkatkan kesejahteraannya, atau sebaliknya semakin tinggi biaya konsumsi BBM maka akan semakin rendah pula kesejahteraan pemilik kendaraan pribadi.

Audit Energi

13

6. SARAN Ada beberapa rekomendasi bagi penerapan langkah langkah kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi konsumsi BBM di sektor transportasi yaitu: Pertama, membatasi umur kendaraan yang boleh berada di jalanan. Kedua, pemerintah juga perlu membuat kebijakan, baik fiskal ataupun nonfiskal, yang bisa membatasi penggunaan kendaraan dengan CC (kapasitas tangki) relatif besar. Pengenaan pajak yang jauh lebih tinggi terhadap kendaraan dengan CC besar, melarang kendaraan dengan CC besar mengkonsumsi BBM bersubsidi, mengenakan biaya parkir lebih mahal, ataupun membatasi/melarang kendaraan dengan CC besar beroperasi di jalan-jalan tertentu (seperti konsep three in one), adalah beberapa alternatif yang bisa dipilih dan diperkirakan akan membatasi keinginan masyarakat memiliki kendaraan dengan CC relatif besar. Ketiga, Efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor roda empat melaui pemberlakuan kewajiban bagi industri otomotif untuk memproduksi mobil hemat energi. Sejalan dengan itu, terdapat dua isu penting yang juga harus menjadi bagian integral dari tata kelola system transportasi.l Pertama, guna mengurangi beban subsidi BBM maka harga BBM untuk kendaraan pribadi sebaiknya dilepas sesuai dengan mekanisme pasar mengikuti harga keekonomiannya. Kedua, mengurangi intensitas konsumsi BBM dengan melakukan perombakan total terhadap sistem transportsi khususnya membangun sistem transportasi makro yang lebih terintegrasi, efisien dan berkelanjuta.

Audit Energi

14

DAFTAR PUSTAKA

Cahyadi, Firdaus, 2008. Hemat Energi & Kebijakan Infrastruktu Transportasi. Bisnis Indonesia, http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi harian/opini/lid60786.html. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2005. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (2005-2025).Jakarta. Samanhadi, Sri hartati, 2008. Membangun Sistem Transportasi Efisien BBM, Kompas,http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/06/01252253/memban gun.sitem.trans. Latif Adam, Jusmalaini, Maxensius Tri Sambodo dkk. Analisis Faktor-Faktor Penentu Konsumsi BBM Masyarakat Di Sektor Transportasi. Risdiyanto. Perbandingan Biaya Transportasi Pengguna Sepeda Motor Dengan Biaya Penumpang Bus Trans Jogja. Universitas Janabadra Yogyakarta. Putranto Suryo L, 1998. Strategi Konservasi Energi Di Jalan Raya. Jurnal Teknik Sipil F.T. UNTAR /No.1 TAHUN KE IV MARET 1998. Nugroho, Hanan. Sembuh Dari Penyakit Subsidi BBM : Beberapa Alternatif Kebijakan, http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/8502/. Miro, Fidel, 2005. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa, Perencana dan Praktisi. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Audit Energi

15