Anda di halaman 1dari 3

CIRI EKONOMI ISLAM

Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA


(Kandidat Doktor Shariah di Universiti Malaya)

Pembeda Utama antara Sistem Ekonomi Islam dan Sistem Ekonomi lainnya adalah
sumbernya. Sistem Ekonomi Islam lahir dari sumber wahyu, sedang yang lain datang
dari sumber akal. Karenanya, ciri Ekonomi Islam sangat khas dan sempurna, yaitu :
Ilahiah dan Insaniah.

Berciri ilahiah karena berdiri di atas dasar aqidah, syariat dan akhlaq. Artinya,
Ekonomi Islam berlandaskan kepada aqidah yang meyakini bahwa harta benda adalah
milik Allah SWT, sedang manusia hanya sebagai khalifah yang mengelolanya
(Istikhlaf), sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam surat Al-Hadiid ayat 7. Dan
Ekonomi Islam berpijak kepada syariat yang mewajibkan pengelolaan harta benda
sesuai aturan Syariat Islam, sebagaimana ditekankan dalam surat Al-Maa-idah ayat
48 bahwa setiap umat para Nabi punya aturan syariat dan sistem.

Serta Ekonomi Islam berdiri di atas pilar akhlaq yang membentuk para pelaku
Ekonomi Islam berakhlaqul karimah dalam segala tindak ekonominya, sebagaimana
Rasulullah SAW mengingatkan bahwasanya beliau diutus hanya untuk menyempurnakan
kemuliaan-kemuliaan akhlaq.

Berciri insaniah karena memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan sempurna.
Sistem Ekonomi Islam tidak membunuh hak individu sebagaimana Allah SWT nyatakan
dalam surat Al-Baqarah ayat 29 bahwa semua yang ada di Bumi diciptakan untuk semua
orang. Namun pada saat yang sama tetap memelihara hak sosial dengan seimbang,
sebagaimana diamanatkan dalam surat Al-Israa ayat 29 bahwa pengelolaan harta tidak
boleh kikir, tapi juga tidak boleh boros.

Di samping itu, tetap menjaga hubungan dengan negara sebagaimana diperintahkan


dalam surat An-Nisaa ayat 59 yang mewajibkan ketaatan kepada Allah SWT dan
Rasulullah SAW serta Ulil Amri yang dalam hal ini boleh diartikan penguasa
(pemerintah) selama taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dengan kedua ciri di atas, aktivitas Sistem Ekonomi Islam terbagi dua : Pertama,
individual yaitu aktivitas ekonomi yang bertujuan mendapatkan keuntungan materi
bagi pelakunya, seperti perniagaan, pertukaran dan perusahaan. Kedua, sosial yaitu
aktivitas ekonomi yang bertujuan memberikan keuntungan kepada orang lain, seperti
pemberian, pertolongan dan perputaran.

Sekurangnya ada 15 (lima belas) aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat individual,
yaitu: Al-Bai', As-Salam, Ash-Shorf, Asy-Syirkah, Al-Qiradh, Al-Musaqah, Al-
Muzara'ah, Al-Mukhabarah, Al-Ijarah, Al-Ujroh, Al-Ji'alah, Asy-Syuf'ah, Ash-
Shulhu, Al-Hajru, dan Ihya-ul Mawat.

Kelimabelas aktivitas ekonomi di atas merupakan pintu mencari keuntungan materi


yang dihalalkan Syariat Islam. Setiap individu bebas menjadi pelaku aktivitas
ekonomi di atas dan bebas pula mengais keuntungan sesuai dengan rukun dan syarat
yang ditetapkan syariat untuk tiap-tiap aktivitas tersebut.

Ada pun aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat sosial sekurangnya juga ada 15 (lima
belas), yaitu : Ash-Shodaqah, An-Nafaqoh, Al-Hadiyah, Al-Hibah, Al-Waqf, Al-Qordh,
Al-Hawalah, Ar-Rahn, Al-'Ariyah, Al-Wadi'ah, Al-Wakalah, Al-Kafalah, Adh-Dhoman,
Al-Luqothoh, dan Al-Laqith.

Dalam kelimabelas aktivitas ekonomi di atas para pelakunya tidak dibenarkan


mengambil keuntungan untuk dirinya, melainkan ditujukan untuk memberi keuntungan
kepada orang lain. Misalnya, dalam aktivitas Al-Qordh (Utang), si pemilik piutang
(yang memberi utang) tidak dibenarkan mengambil "untung" dengan mensyaratkan
"kelebihan" kepada orang yang berutang dalam pengembalian utangnya, walau satu
sen, karena Al-Qordh adalah bentuk bantuan dan pertolongan kepada orang lain,
bukan perniagaan, sehingga "keuntungan" apa pun bagi pemberi utang yang
disyaratkan dalam utang menjadi Riba yang diharamkan syariat, sebagaimana
disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ath-Thabrani rhm dalam Al-Mu'jam Al-
Kabir.

Menariknya, dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah rhm disebutkan bahwa Rasulullah
SAW melarang pemberi utang untuk menerima hadiah atau memanfaatkan pinjaman barang
apa pun dari orang yang berutang sebelum utangnya dilunasi, kecuali jika di antara
keduanya sudah sering saling memberi hadiah atau meminjamkan barang dari sebelum
adanya utang. Salah satu hikmah pelarangan ini adalah untuk menjaga kemurnian
nilai sosial dan memelihara kemuliaan jiwa kepedulian tanpa pamrih yang ada dalam
aktivitas Al-Qardh.

Selain itu, dalam rangka melindungi keseimbangan individual dan sosial dalam
aktivitas ekonomi umat, maka Sistem Ekonomi Islam membuat proteksi yang tinggi
dari segala penyimpangan perilaku ekonomi yang mengancam dan membahayakan
keseimbangan tersebut. Untuk itu ada 8 (delapan) perilaku ekonomi menyimpang yang
diharamkan syariat, yaitu : Ikrah (Pemaksaan), Ghashb (Perampasan), Gharar
(Penipuan), Ihtikar (Penimbunan), Talaqqi Rukban (Pertengkulakan), Qimar
(Perjudian), Risywah (Suap), dan Riba (Rente).

Lebih dari itu, Sistem Ekonomi Islam tidak hanya menjaga keseimbangan antara hak
individu dan hak sosial, bahkan antara hak Khaliq dan hak makhluq. Karenanya,
Ekonomi Islam disebut sebagai Ekonomi Wasathiyah (Ekonomi Pertengahan) yaitu
sistem ekonomi yang menjaga tawazun (keseimbangan) antara : Hak Allah dan Hak
Manusia, Hak Dunia dan Hak Akhirat, Hak Individu dan Hak Sosial, Hak Rakyat dan
Hak Negara.

Berbeda dengan Sistem Ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, yang hanya
mengenal materi, angka dan untung-rugi, serta hanya bertujuan untuk : Pengendalian
Pasar, Mengalahkan Pesaing, Memperkaya Diri dan Merugikan Orang.

Sepintas memang Kapitalis berbeda dengan Komunis. Kapitalis sangat individualisme


dimana secara teori hanya fokus kepada : Membela Individu dan Membunuh Sosial.
Sedang Komunis sangat sosialisme dimana secara teori hanya fokus kepada : Membela
Sosial dan Membunuh Individu. Namun jika diperhatikan lebih mendalam, ternyata
keduanya sama bermadzhab Materialisme yang bertujuan materi semata, dan sama
berperisai Demokrasi untuk menghalalkan segala cara agar bebas mengais keuntungan,
sehingga pada prakteknya, baik Kapitalis mau pun Komunis, tetap saja sama
mengorbankan rakyat kecil.

Landasan sosio-ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, adalah Riba yang
merupakan cerminan dari pengambilan, kekejian, kekikiran, keegoisan dan ketamakan.
Sedang landasan sosio-ekonomi Islam adalah Sedekah yang merupakan cerminan dari
pemberian, kesucian, kemurahan, kesetia-kawanan dan ketulusan.

Dengan demikian, Sistem Ekonomi Islam tidak bisa disamakan dengan Sistem Ekonomi
Kapitalis yang kini tampil dengan Ekonomi Neo Liberal nya dan sering mengklaim
sebagai Sistem Ekonomi Modern. Dan Sistem Ekonomi Islam juga tidak bisa disamakan
dengan Sistem Ekonomi Komunis atau yang kini tampil dengan Ekonomi Neo Sosialis
nya dan sering mengklaim sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan.

Sistem Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi sempurna yang sudah teruji dan
telah membuktikan kesempurnaan sistemnya selama tidak kurang dari 1300 tahun,
yaitu sejak dari awal abad ke 7 Miladiyah saat kepemimpinan Rasulullah SAW s/d
awal abad ke 20 Miladiyah saat kejatuhan Kekhilafahan Islam. Dan kini, di
Millenium ke-3, Sistem Ekonomi Islam mulai bangkit kembali, dan sistem ini pasti
berjaya sebagaimana pernah berjaya sebelumnya. Sedang Sistem Ekonomi Barat yang
kini dibanggakan, masih sangat muda sekali umurnya dan belum teruji dengan baik,
bahkan kini sedang mengalami kebangkrutan global untuk menuju kehancuran.

Kenapa Sistem Ekonomi Islam mampu berjaya sekian lama ? Jawabnya, karena sistem
ini berciri ilahiah dan insaniah, dimana selalu menjaga keseimbangan aktivitas
ekonominya. Lihat saja, di negeri-negeri Kapitalis pajak tinggi walau cari uang
mudah, dan sebaliknya di negeri-negeri Komunis cari uang susah walau pajak rendah.
Jadi, tidak pernah seimbang, selalu di posisi sulit bagi pelaku ekonominya. Sedang
di Negara Islam yang berekonomi Islam, alhamdulillah, cari uang mudah dan pajak
rendah. Itulah yang ditawarkan oleh Sistem Ekonomi Islam.
Ironisnya, di negeri kita yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia :
cari uang susah dan pajak tinggi ! Kasihan betul rakyatnya. Solusinya : Tegakkan
Sistem Ekonomi Islam ! Allahu Akbar ! (mj/www.suara-islam.com)