Anda di halaman 1dari 239

LAPORAN AKHIR KAJIAN KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH DELAPAN KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

Oleh : TIM UNIPA

KERJASAMA UNIVERSITAS NEGERI PAPUA


DENGAN UNDP-PAPUA CAPACITY NEEDS ASSESSMENT 2005

Laporan ini merupakan hasil kajian terhadap kapasitas pemerintah daerah. Kajian tersebut dilakukan secara independen, namun demikian UNDP turut serta dalam memberikan pengarahan dan masukan kepada organisasi baik pada proses awal maupun pada proses persiapan laporan. Adapun data yang dikumpulkan, analisa dan isu-isu yang disampaikan tidak sepenuhnya mewakili pandangan dari UNDP.

This report represents the result of an assessment local government capacity. The assessment was carried out independently of the UNDP, however UNDP advisors provided initial guidance to the organizations that conducted the assessments and gave feedback on the preparation of the report. As such, the information gathered has not been verified and the analysis and issues associated therewith do not necessarily represent the views of UNDP.

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR
Sebagai tindak lanjut kerjasama antara Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah (P3FED) Universitas Negeri Papua (UNIPA) dengan UNDP-Papua Capacity Needs Assessment, maka telah dilakukan kajian di 8 (delapan) Kabupaten terpilih di Papua. Tujuan utama kajian ini, adalah untuk: : (1) mengidentifikasi kapasitas sumberdaya pemerintah daerah. dan (2) mengianalisis terhadap pelayanan sosial dasar yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah. Dari kedelapan kabupaten tersebut empat (4) diantaranya merupakan kabupaten lama, yaitu Kabupaten Manokwari, Kabupaten Sorong, Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Yapen, sedangkan 4 (empat) kabupaten lainnya adalah kabupaten baru hasil pemekaran berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002, yaitu : Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Waropen, Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Kaimana. Laporan ini disusun berdasarkan hasil kajian dan analisis dari data-data, baik data sekunder holders. Laporan ini merupakan Laporan Akhir yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota serta pemangku kepentingan (stake holders) dalam perencanaan dan implementasi serta upaya-upaya pembangunan di Tanah Papua. Pada kesempatan ini disampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesarbesarnya Universitas kepada Negeri UNDP-Papua Papua Capacity Needs untuk Assessment melaksanakan Project kegiatan atas ini. kepercayaannya kepada Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah (P3FED-UNIPA) Terimakasih dan penghargaan disampaikan kepada 8 (delapan) Pemerintah Kabupaten yang menjadi target kegiatan, serta pihak-pihak lain yang ikut membantu kelancaran kegiatan ini. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Papua di masa mendatang diharapkan benar-benar menyatu dengan masyarakat. Manokwari, 03 Juni 2005 Kepala P3FED UNIPA yang diperoleh dari instansi terkait maupun data primer yang merupakan hasil pengamatan langsung dilapangan serta wawancara dengan beberapa stake

Ir. Yan Pieter Karafir, M.Ec NIP. : 130 346 191

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
No. Teks Halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

RINGKASAN EKSEKUTIF

R1

I.

PENDAHULUAN

I1

II.

KABUPATEN MANOKWARI

II 1

III.

KABUPATEN TELUK WONDAMA

III 1

IV.

KABUPATEN SORONG

IV 1

V.

KABUPATEN RAJA AMPAT

V1

VI.

KABUPATEN FAKFAK

VI 1

VII. KABUPATEN KAIMANA

VII 1

VIII KABUPATEN YAPEN

VIII 1

IX.

KABUPATEN WAROPEN

IX - 1

LAMPIRAN

L-1

LOCAL GOVERNMENT CAPACITY ASSESSMENT

ii

RINGKASAN EKSEKUTIF

RINGKASAN EKSEKUTIF
1. PENDAHULUAN
Provinsi Papua (dulu Propinsi Irian Jaya) merupakan salah satu propinsi terluas di Indonesia, tetapi dengan jumlah kabupaten/kota yang terbatas. Untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pemerintah telah membentuk 3 kabupaten baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 45/1999, yaitu : Kabupaten Mimika, Kabupaten Nabire, dan Kabupaten Puncak Jaya. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 5/2000, pemerintah mengukuhkan Kotamadya Administratif Sorong menjadi Kotamadya Sorong. Dengan demikian Provinsi Papua telah terdiri dari 12 kabupaten dan 2 kotamadya. Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi yang sangat dinamis, pemerintah kembali menyadari pentingnya upaya untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelengaaraan pemerintahan dan pembangunan dengan membentuk 14 kabupaten baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 26/2002. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah kabupaten/kota telah mengalami peningkatan 2 kali lipat. Namun penambahan jumlah kabupaten/kota sebesar ini bukanlah hal yang mudah, sehingga menimbulkan pertanyaan. Apakah benar pemerintah kabupaten induk telah meningkat kapasitasnya untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan ?. Sejauhmana kapasitas pemerintah kabupaten baru untuk menyelenggarakan pemerintahan, dan bila mungkin juga pembangunan ?. Dari segi inilah dipandang perlu untuk melakukan Kajian Kapasitas Pemerintah Daerah 8 Kabupaten Terpilih di Papua. Tujuan utama kajian ini, adalah untuk: : (1) mengidentifikasi kapasitas sumberdaya pemerintah daerah 8 kabupaten terpilih, dan (2) menganalisis pelayanan sosial dasar yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah 8 kabupaten terpilih.

2.

KARAKTERISTIK WILAYAH
2.1. Fisik Wilayah Luas wilayah tiap kabupaten bervariasi cukup besar, mulai dari yang paling sempit sampai dengan yang paling luas. Kabupaten Yapen adalah yang paling sempit yakni 2 050 Km2, tetapi masih jauh lebih luas dibandingkan Kota Jayapura (940 Km2) maupun Kota Sorong (1.105 Km2). Kabupaten yang paling luas (46.108 Km2) adalah Kabupaten Raja Ampat, tetapi 40.108 Km2 (87 %) di antaranya merupakan perairan laut. Sisanya seluas 6.000 Km2 (13 %) saja yang merupakan daratan, namun masih lebih luas dibandingkan Kabupaten Yapen maupun Kabupaten Teluk Wondama (5.788 Km2). Bentuk wilayah kabupaten berbeda menjadi dua bentuk, yakni kabupaten kepulauan, kabupaten kombinasi dari daratan tanah besar Papua dan pulau-pulau kecil. Kabupaten Raja Ampat merupakan satu-satunya daerah kepulauan dengan 620 buah pulau, kabupaten lainnya merupakan bagian daratan tanah besar Papua dan beberapa pulau-pulau kecil. 2.2. Pembagian Administratif Wilayah Setiap kabupaten terdiri dari beberapa distrik, dan setiap distrik terdiri dari beberapa kampung serta beberapa kelurahan. Jumlah distrik pada setiap

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-1

RINGKASAN EKSEKUTIF
kabupaten bervariasi dari 3 distrik (Kabupaten Waropen) sampai dengan 12 distrik (Kabupaten Sorong). Jumlah kampung pada setiap kabupaten juga bervariasi dengan variasi yang besar, mulai dari 61 kampung (Kabupaten Waropen) sampai dengan 409 kampung (Kabupaten Manokwari). Kelurahan telah dimiliki oleh kabupaten induk atau tidak terdapat di kabupaten pemekaran. Jumlah kelurahan terbanyak terdapat di Kabupaten Manokwari (9 Kelurahan), dan tersedikit di Kabupaten Sorong (1 Kelurahan). Ditinjau dari jumlah kampung maupun kelurahan yang terbesar, tampaknya Kabupaten Manokwari memiliki potensi untuk pemekaran Kota. 2.3. Tataguna Wilayah Peruntukan wilayah dibedakan menjadi 2 peruntukan yang bersifat umum yakni kawasan lindung, dan kawasan budidaya. Namun kabupaten diperoleh data valid mengenai peruntukan wilayah terbatas pada Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Raja Ampat. Di Kabupaten Manokwari sebagian besar (68 %) wilayahnya diperuntukan sebagai kawasan lindung, dan sebagian kecil (32 %) lainnya diperuntukan sebagai kawasan budidaya. Luas kawasan lindung ini lebih besar lagi di Kabupaten Raja Ampat (71 %), tetapi sebaliknya luas kawasan budidaya menjadi lebih sempit (29 %). Namun hal ini tidak menjadi masalah dilihat dari proporsi penduduk yang sebagian besar tergantung pada usaha perikanan tangkap. Masalah akan muncul jika pertambangan digunakan sebgai salah satu sektor andalan dalam pembangunan ekonomi daerah. 2.4. Kependudukan Variabel kependudukan penting mencakup jumlah penduduk, kepadatan penduduk, dan pertumbuhan penduduk. Selengkapnya keadaan kependudukan di setiap kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3 Jumlah penduduk ternyata bervariasi cukup besar antar kabupaten. Penduduk terbanyak terdapat di Kabupaten Manokwari (143 949 Jiwa), dan tersedikit di Kabupaten Waropen (23 072). Kepadatan penduduk tertinggi (34,40 Jiwa/Km2) terdapat di Kabupaten Yapen, dan terendah (1,04 Jiwa/Km2). Pertumbuhan penduduk yang berhasil diperoleh datanya adalah di 3 kabupaten induk yakni Kabupaten Sorong, Fakfak, dan Kabupaten Yapen. Pertumbuhan penduduk tertinggi (5,56 %) terjadi di Kabupaten Fakfak, dan terendah (2,75 %) di Kabupaten Yapen. 2.5. Mata Pencaharian Ketergantungan ekonomi penduduk dibedakan menjadi 3 yakni sektor primer, sekunder, dan sektor tertier. Sebaran proporsi rumahtangga berdasarkan ketergantungannya pada setiap sektor dapat dilihat pada Lampiran 4. Proporsi penduduk terbesar tergantung pada sektor sekunder, dengan variasi 30 71 persen. Menyusul pada sektor sekunder, dengan variasi 8 51 persen. Proporsi terkecil pada sektor tertier, dengan variasi yang kecil yakni 9 24. Proporsi penduduk terbesar yang tergantung pada sektor primer terjadi di Kabupaten Raja Ampat (71 %), dan terkecil di Kabupaten Manokwari (50 %). Tingginya proporsi penduduk yang tergantung pada sektor primer di Kabupaten Raja Ampat sesuai kondisi wilayahnya yang sebagian besar (87 %) terdiri dari perairan laut yang potensial untuk biota bernilai pasar tinggi sehingga menarik penduduk untuk bekerja sebagai nelayan. Proporsi penduduk terbesar yang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-2

RINGKASAN EKSEKUTIF
tergantung pada sektor sekunder terjadi di Kabupaten Sorong (40 %), sesuai jumlah industri pengolahan skala menengah dan besar di kabupaten ini yang cukup banyak seperti industri perkayuan, gas, dan minyak bumi. Proporsi penduduk terbesar yang tergantung pada sektor tertier terjadi di Kabupaten Fakfak (34 %), dan terendah di Kabupaten Sorong. 2.6. Kemiskinan Tingkat kemiskinan penduduk dinilai berdasarkan indeks kemiskinan manusia (IKM) menurut Laporan Pembangunan Manusia (2004). Selengkapnya indeks kemiskinan di 4 kabupaten induk dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan indeks kemiskinan manusia pada tahun 2002 ternyata Kabupaten Manokwari menempati rangking kemiskinan tertinggi dengan IKM sebesar 39,0. Menyusul Kabupaten Yapen dengan IKM sebesar 38,9 dan selanjutnya Kabupaten Sorong dengan IKM sebesar 28,3, terakhir Kabupaten Fakfak dengan IKM sebesar 26,9.

3.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


Jumlah pegawai yang tersedia pada masing-masing Kabupaten sangat bervariasi dan umumnya kabupaten induk memiliki jumlah pegawai yang sangat banyak dibandingkan dengan kabupaten pemekaran (Tabel 7). Hal ini dapat dibuktikan dari rata-rata proporsi pegawai pemda terhadap jumlah penduduk untuk kabupaten induk sebesar (3,83 0,92) % dan untuk kabupaten pemekaran sebesar (1,72 0,70)%. Artinya untuk kabupaten induk dalam setiap 100 penduduk rata-rata terdapat 4 pegawai negeri sedangkan untuk kabupaten pemekaran setiap 100 penduduk terdapat 2 pegawai, untuk itu penambahan pegawai pada kabupaten pemekaran masih layak untuk dilakukan. Sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa setiap pegawai negeri melayani 33 penduduk. Dari jumlah pegawai tersebut terdapat 44,42 % pegawai golongan II dan 39,55 % pegawai golongan III sedangkan sekitar 4 % dari golongan adalah pegawai I dan IV. Artinya pengambil keputusan dalam melakukan pelayanan kepada penduduk di kabupaten dilakukan oleh 4 % pegawai pemda, jika mengikuti daftar urutan kepangkatan. Saat ini telah dilakukan Kajian terhadap struktur organisasi perangkat daerah yang didasarkan pada pertimbangan rasional dan profesional melalui : UU 22 pasal 11 Kewenangan Wajib Ketentuan Umum PP 8 Tahun 2003 Kepress No. 34 Tahun 2003 SKB No. 01/SKB/M.PAN/4/2003 dan No. 17 Tahun 2003 Kajian terhadap struktur kelembagaan Daerah tersebut dilakukan dengan pertimbangan adanya Tumpang Tindih/duplikasi Tupoksi, Struktur yang lebih tinggi, Misi dan Visi daerah (Kedepan, Potensi), Potensi Daerah (komoditas unggulan), Kebutuhan Daerah dan Masyarakat dan Tingkat Nilai Ekonomis Kondisi struktur organisasi pemda saat ini belum mengacu pada ketentuan umum PP 8 tahun 2003. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Dinas, Badan yang sangat bervariasi, sehingga untuk memenuhi akan PP tersebut perlu di digunakan suatu visi dan misi daerah, keunggulan komparative pada masingmasing daerah, kebutuhan yang akan dipenuhi pada suatu daerah dan pelayanan terhadap masyarakat/penduduk dengan mempertimbangkan akan nilai ekonomis/pembiayaan terhadap pelayanan tersebut. Sehingga setiap institusi atau unit kerja harus memiliki tugas pokok dan fungsi.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-3

RINGKASAN EKSEKUTIF
Dengan adanya Tupoksi pada masing-masing Bagian, Dinas, Badan, kantor dan Distrik, maka kegiatan pelayanan kepada masyarakat akan memberikan outcome yang dapat diukur baik dari sisi pembiayaan maupun dari sisi manfaat yang diterima.

4.

KEUANGAN DAERAH
4.1. Penerimaan Penerimaan Kabupaten umumnya bersumber dari PAD (pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahan milik daerah dan lain-lain PAD yang sah), Dana Perimbangan ( bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus), dana Otsus, dan dana APBN Penerimaan dalam bentuk PAD maupun dana perimbangan tergantung dari bagaimana kelembagaan dalam Pemda melakukan pelayanan terhadap masyarakat luas dalam upaya menumbuhkan sektor-sektor ekonomi yang potensial pada masing-masing Daerah. Dari hasil pemantauan dan informasi yang diperoleh dari masyarakat bahkan para pengusaha dapat disimpulkan bahwa terhadap 4 Kabupaten induk maupun 4 Kabupaten Pemekaran yang memiliki banyak potensi-potensI Penerimaan Daerah yang belum di gali (diperdakan). Kondisi PAD masing masing Kabupaten rata-rata sangat bervariasi dan umumnya baru diperoleh pada kabupaten induk sedangkan kabupaten pemekaran belum semuanya tersedia. Rata-rata PAD tertinggi diperoleh pada tahun 2003 sedangkan dari sisi wilayah, Kabupaten Sorong dan Fak-Fak yang memiliki perolehan PAD tertinggi pada 2 tahun berjalan (Tabel 3). Perolehan PAD berdasarkan luas wilayah pada Tahun 2003, Kabupaten Yapen yang memperoleh PAD tertinggi yaitu pada setiap luasan 1 km2 diperoleh PAD sebesar Rp. 1,284,196.35 begitu pula pada tahun 2002 setiap 1 km2 diperoleh PAD sebesar RP. 1,415,662.38 Penerimaan yang diperoleh dari dana perimbangan masing-masing kabupaten didasarkan pada Faktor penyeimbang (Alokasi minimum, Lumpsum, proporsi kebutuhan belanja pegawai tahun sebelumnya), Kebutuhan Fiskal (indeks penduduk, indeks luas wilayah, indeks kemiskinan relative, indeks harga bangunan) dan Potensi Fiskal (PAD, Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya Alam). Rata rata perolehan dana perimbangan tertinggi adalah Kabupaten Manokwari hal ini disebabkan tingginya jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Manokwari, dan tingginya indeks kemiskinan yang indeksnya mencapai 332. Dana otsus yang berasal dari APBN dibagikan ke masing-masing kabupaten sebesar 40 % dan Provinsi Papua 60 % . Perolehan Dana Otsus berdasarkan perhitungan dari Provinsi Papua pada masing-masing kabupaten menunjukkan bahwa pada tahun 2002 dan 2003 terhadap 8 kabupaten masing-masing Rp. 155,753,573,000 dan Rp. 162,109,241,242. Kabupaten yang memperoleh dana otsus terbesar adalah Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong. Perolehan dana dari pusat (APBN) dalam membiayai sektor ekonomi di masingmasing kabupaten rata-rata cenderung menurun dari selama 3 tahun terakhir 4.2. Pengeluaran Pengeluaran untuk pembiayaan aparatur maupun untuk publik hanya diperoleh pada kabupaten induk sedangkan kabupaten pemekaran hanya pada kabupaten Teluk Wondama sedangkan kabupaten pemekaran lainnya masih ditangani oleh kabupaten induk. Berdasarkan besarnya pembiayaan aparatur Kabupaten Sorong

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-4

RINGKASAN EKSEKUTIF
memiliki pembiayaan aparatur terbesar yaitu mencapai Rp. 399,230,687,197 dengan rata terhadap setiap pegawai sebesar Rp 114,196,421 orang artinya rata-rata setiap pegawai memperoleh Rp 114,196,421 per tahun , sedanghkan yang terendah adalah Kabupaten Manokwari Rp 38,472,884 artinya ratarata setiap pegawai memperoleh Rp 38,472,884 per tahun. Sedangkan untuk pembiayaan publik Kabupaten Yapen yang paling besar mengalokasikan pembiayaan pembangunan pada masing-masing sektor ekonomi yang ada. Perbandingan antara pembiayaan aparatur dan pembiayaan public setiap kabupaten menunjukkan bahwa Kabupaten Sorong memiliki pembiayaan aparatur tertinggi yang mencapai 89,19 % dari APBD sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Yapen Waropen dan untuk pembiayaan public terjadi sebaliknya yang terbesar adalah Kabupaten Yapen yang mencapai 50,88 %. Jadi rata-rata pengeluaran aparatur dari 4 kabupaten Induk sebesar 63,69% sedangkan pengeluaran public sebesar 36,31 %. Pembiayaan pembangunan pada masing-masing sektor menunjukkan bahwa sektor aparatur pemerintah memiliki proporsi pembiayaan pembangunan ratarata mencapai 20,29 % diikuti oleh sektor transportasi sebesar 13,82 %, dan sektor pendidikan sebesar 12,51 %.

5.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


5.1. DPRD Periode 2004 - 2009 Seluruh kabupaten terpilih jumlah anggota DPRD masing-masing 20 orang, kecuali Kabupaten Manokwari yang mempunyai anggota DPRD 25 orang. Partisipasi perempuan dalam keanggotaan DPRD masih sangat rendah, yaitu hanya 7,3%. Partisipasi perempuan paling tinggi di Kabupaten Kaimana (20%), kemudian Sorong (10%). Di Fakfak justru tidak ada anggota DPRD berjenis kelamin perempuan Dari seluruh anggota DPRD 61% diantaranya berasal dari Papua dan 39% dari luar Papua. Kendati terdapat variasi antar kabupaten, namun keterwakilan antar kelompok masyarakat cukup baik. Dari segi tingkat pendidikan, sebagian besar (66%) anggota DPRD berpendidikan setaraf SMU, dan hanya 40% berpendidikan perguruan tinggi baik Diploma maupun strata 1. Berdasarkan agama, sebagian besar (68,3%) beragama Kristen dan sisanya (31,7%) beragama Islam. Kecenderungan di atas terjadi di semua kabupaten terpilih, kecuali di Kaimana dan Fakfak yang didominir oleh anggota yang beragama Islam, yaitu berturut-turut 60% dan 55%. Keanggotaan DPRD didominir oleh partai-partai besar seperti GOLKAR dan PDIP. Kendati demikian, keanggotaan DPRD hasil PEMILU 2004 ini terlihat lebih beragam dari segi partai politik. Tidak kurang dari 19 partai politik yang memiliki anggota DPRD di kabupaten terpilih. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa asal partai politik tidak menunjukkan aspirasi politik anggota. Jadi keanggotaan DPRD terkesan bagi-bagi kursi. 5.2. Perwakilan Kampung/Masyarakat Adat Lembaga-lembaga sejenis perwakilan kampung telah dirintis sejak masa Pemerintah Orde Baru seperti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Introduksi LKMD merupakan salah satu wujud perencanaan dan penyelenggaraan pemerintahaan dan pembangunan kampung yang menggunakan pendekatan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-5

RINGKASAN EKSEKUTIF
partisipatif. Disamping itu, partisipasi masyarakat melalui Lembaga Musyawarah Adat (LMA), baik di tingkat distrik maupun kabupaten. Secara umum lembaga ini belum berfungsi efektif melakukan tugasnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. Hal ini disebabkan pembinaan yang secara struktural menjadi tanggungjawab bupati dan camat/kepala distrik tidak terselenggara secara baik. Faktor-faktor utama penyebab lemahnya pembinaan adalah : 1. Faktor isolasi kampung, sehingga akses dari pusat-pusat pemerintahan menjadi sulit; 2. Lemahnya komitmen lembaga Pembina untuk melakukan pembinaan secara kontinu dan berkelanjutan; 3. Terbatasnya pendidikan dan lemahnya pemahaman aparat di tingkat kampung/desa tentang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. Lembaga ini sekarang telah berganti nama menjadi Badan Perencanaan Kampung (BAPERKAM). Namun fungsi dan peranannya masih tetap sama, dan masih belum efektif. 5.3. Sistem Pengadilan Terdapat dua jenis sistem pengadilan yang berlaku, yaitu sistem pengadilan formal (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara) dan Pengadilan Adat. Pengadilan Negeri umumnya menangani permasalahan pidana dan perdata berat yang terjadi di masyarakat. Pengadilan Adat umumnya tidak melembaga dalam menyelesaikan permasalahan peradilan. Hal ini terjadi di setiap kesatuan adapt di semua kabupaten/kota yang menjadi sasaran penelitian. Permasalahan yang menonjol ditangani berdasarkan hukum adat adalah berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak atas sumberdaya alam. Pelanggaran etika dan moral yang umum terjadi dalam kehidupan masyarakat juga cenderung diselesaikan berdasarkan hukum adat. Pengadilan ini dilaksanakan secara insidentil, yaitu apabila terjadi kasus yang menyangkut masyarakat adat. 5.4. Keikutsertaan Masyarakat Di Perencanaan Pembangunan Daerah Perubahan paradigma ditandai dengan perlunya partisipasi masyarakat secara aktif dalam setiap proses pembangunan sejak dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Perform Project Regional Papua mengkampanyekan model pendekatan PDPP (Pola Dasar Pembangunan Partisipatif). Pendekatan ini diharapkan mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap. PDPP menggunakan dua model, yaitu RPJMK (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung) dan perumusan Program Strategi. Pendekatan ini telah dilaksanakan di beberapa kabupaten, dengan diluncurkan dana PPK sebesar Rp. 1 milyar setiap distrik. 5.5. Keikutsertaan Masyarakat Di Bidang Pelayanan Dasar Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-6

RINGKASAN EKSEKUTIF
Di bidang pendidikan, setiap sekolah terdapat komite sekolah (dulu BP3) yang beranggotakan para orang tua murid dan donator. Kendati setiap sekolah mempunyai komite sekolah yang ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan, namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan, baik financial maupun intelektual, disamping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Di bidang kesehatan, keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentuk kader posyandu. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas, tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan.

6.

KEADAAN EKONOMI, 2000 - 2003


6.1. PDRB dan Struktur Perekonomian

Perhitungan PDRB masih terbatas pada kabupaten lama, karena sampai dengan tahun 2004 penyerahan aset kepada kabupaten pemekaran secara penuh belum dilakukan. Dari segi jumlah, terdapat perbedaan PDRB yang cukup besar antar kabupaten. PDRB harga berlaku tahun 2002 di Kabupaten Sorong mencapai 373% lebih tinggi dari Kabupaten Fakfak dan 135% dari Kabupaten Manokwari . Struktur perekonomian masih didominasi oleh kelompok sektor primer (pertanian dan pertambangan/penggalian) dengan kontribusi rata-rata 53% terhadap produksi bruto atas harga berlaku atau 55,18% terhadap produksi bruto atas harga konstan tahun 1993. Laju pertumbuhan PDRB atas harga berlaku tahun 2001 rata-rata 10,35%, tahun 2002 meningkat menjadi 11,7%, dan tahun 2003 13,12%. Kendati PDRB Kabupaten Fakfak paling kecil dibandingkan yang lainnya, namun memiliki laju pertumbuhan paling besar. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan perekonomian di Kabupaten Fakfak sudah mulai kondusif. Laju pertumbuhan PDRB riel yang dihitung berdasarkan harga konstan tahun 1993 rata-rata masih mencapai 5% pertahun, yaitu 3,5% pada tahun 2001, 5,12% pada tahun 2002 dan 6,42% pada tahun 2003. Kendati demikian terdapat beberapa sektor yang mengalami kemunduran secara riel. 6.2. Ketenagakerjaan Kendati terdapat kesulitan di dalam menghitung komposisi tenaga kerja yang bekerja menurut jenis usaha karena keterbatasan data, namun berdasarkan perkiraan berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa lebih dari separoh tenaga kerja (53%) bekerja di kelompok sector primer, terutama di sektor pertanian. Kurang lebih 22,4% tenaga kerja bekerja di kelompok sektor tersier, yaitu pada bidang-bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran, jasa pengangkutan dan komunikasi, jasa keuangan dan persewaan, jasa perusahaan dan jasa-jasa lainnya. Sektor sekunder, terutama industri pengolahan menyerap hampir seperempat dari jumlah tenaga kerja. Produktivitas kelompok sektor menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan yang berbeda antar kabupaten. Kelompok sektor primer di Manokwari dan Sorong menunjukkan produktivitas yang tinggi dibanding kelompok sektor sekunder, tetapi sebaliknya di Fakfak kelompok sector primer menunjukkan produktivitas yang rendah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur di masing-masing

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-7

RINGKASAN EKSEKUTIF
kelompok sektor. Di Sorong dan Manokwari, kelompok sektor primer didominir oleh sektor pertambangan dan penggalian, sementara di Fakfak didominir oleh sektor pertanian. 6.3. Perdagangan, Koperasi dan Perbankan

6.3.1. Perdagangan Kegiatan perdagangan di Kabupaten-Kabupaten terpilih berupa perdagangan lokal dan perdagangan antar pulau dan ekspor, mencakup barang-barang yang dihasilkan sendiri oleh daerah dan barang-barang yang didatangkan dari daerah lain. Barang-barang yang dihasilkan sendiri umumnya dihasilkan oleh kelompok sektor primer seperti hasil-hasil pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Hasil pertanian pangan, karena dihasilkan oleh kegiatan yang bersifat ekstensif dan tradisional menyebabkan tidak dapat bersaing di pasar lokal terutama untuk konsumsi masyarakat di perkotaan. Hasil-hasil dari perkebunan, perikanan dan kehutanan dalam bentuk bahan mentah diantar pulaukan atau diekspor. Sebagian besar barang-barang kebutuhan masyarakat di semua kabupaten yang menjadi sasaran penelitian masih dipenuhi dengan cara mendatangkan dari daerah lain. Barang-barang yang didatangkan dari luar daerah dalam jumlah cukup besar diantaranya : pangan, sandang, bahan bangunan, elektronik, BBM, dan otomotif. Kendati Papua memiliki potensi lahan pertanian yang luas, namun kebutuhan pangan, terutama ayam, telur, dan sayuran didatangkan dari daerah lain khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. 6.3.2. Koperasi Secara keseluruhan jumlah koperasi di kabupaten-kabupaten terpilih cukup banyak, baik koperasi produksi, konsumsi, simpan pinjam dan serba usaha. Sebagian besar koperasi adalah koperasi yang tidak aktif, terutama koperasi produksi dan koperasi serba usaha yang berada di daerah pedesaan. Jenis koperasi yang aktif umumnya yang berbentuk koperasi konsumsi dan simpan pinjam dan berada di perkotaan. 6.3.3. Perbankan

Di semua kabupaten sasaran penelitian sudah terdapat lenbaga perbankan, kendati masih terbatas pada bank-bank milik pemerintah, seperti Bank Mandiri, Bank Papua, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Danamon. Di kabupaten lama, status bank-bank tersebut adalah Kantor Cabang yang terdapat di ibukota kabupaten dengan sejumlah Kantor Unit dan Kantor Kas. Di beberapa daerah pedalaman terdapat beberapa Kantor Kas, kendati jumlahnya terbatas. Di kabupaten-kabupaten pemekaran keberadaan lembaga perbankan masih berstatus Kantor Unit sampai dengan Kantor Cabang Pembantu yang terdapat di ibukota kabupaten. Pelayanan perbankan di seluruh kabupaten sasaran sebagian besar dinikmati oleh masyarakat perkotaan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-8

RINGKASAN EKSEKUTIF
6.4. Observasi dan Kesimpulan

Kondisi perekonomian makro Kabupaten terpilih menunjukkan perkembangan yang lambat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PDRB per kapita atas harga berlaku maupun atas harga konstan yang lebih kecil dari belanja daerah. Struktur perekonomian masih didominasi kelompok sektor primer terutama sektor pertanian. Kendati sektor pertanian menyerap lebih dari 50% tenaga kerja, namun hanya memberikan kontribusi pada PDRB sebesar 35,20%. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas sektor pertanian sangat rendah dibanding kelompok sektor lainnya. Kelompok sektor sekuder yang mencakup sector industri pengolahan, bangunan, listrik dan air minum juga belum berkembang. Satu-satunya sektor yang paling besar menyumbang terhadap PDRB adalah subsektor bangunan Sektor ini menyerap hampir 25% tenaga kerja dan menyumbang 22.3% PDRB. Kelompok sektor tersier, terutama perdagangan menunjukkan indikasi bahwa perekonomian sangat bergantung dari daerah lain, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok.

7.

PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA


7.1. Kesehatan

7.1.1. Kebijaksanaan daerah


Kebijaksanaan daerah bidang kesehatan di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Teluk Wondama antara lain difokuskan pada ; Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, peningkatan jumlah tenaga medis dan paramedis, serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia kesehatan. bidang kesehatan masih terfokus pada penyuluhan perbaikan perilaku sehat, lingkungan sehat, perbaikan gizi masyarakat, dan pengadaan fasilitas kesehatan. Kebijaksanaan daerah pada tahun terakhir prasarana kesehatan kesehatan masyarakat bidang kesehatan di Kabupaten Sorong dan Raja Ampat difokuskan dalam rangka pengembangan sarana dan yaitu peningkatan status rumah sakit, dan pelayanan terpadu.

Di Kabupaten Fakfak dan Kaimana kebijaksanaan daerah bidang kesehatan antara lain; peningkatan pelayanan kesehatan dan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, peningkatan mutu pelayanan sarana kesehatan, peningkatan jumlah sarana pendukung pelayanan kesehatan, dan pengawasan pengadaan dan distribusi obat-obatan. Kebijaksanaan daerah di bidang kesehatan di Kabupaten Yapen dan Waropen antara lain; Peningkatan kesehatan lingkungan, peningkatan kesehatan Ibu dan Anak dengan menurunkan angka kematian ibu dan anak, perbaikan gizi ibu hamil dan anak balita, dan pemberantasan penyakit menular khususnya Tuberclosis. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa kebijaksanaan kesehatan di daerah ditujukan pada pemberantasan penyakit menular, peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, peningkatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi masyarakat, dan peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R-9

RINGKASAN EKSEKUTIF
7.1.2. Anggaran, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Fasilitas, dan Indikator

Anggaran kesehatan dari APBD di 8 (delapan) kabupaten cenderung meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi dari persentase anggaran daerah masih dapat dikatakan rendah. Dana otonomi khusus di 8 kabupaten cenderung meningkat selama 2 (dua) tahun terakhir, mengingat bidang kesehatan merupakan prioritas dengan diberlakukannya UU No. 21 tahun 2001 tersebut. Dana ini diarahkan untuk pelayanan kesehatan, bukan untuk infrastruktur. Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan, dana tersebut lebih diarahkan untuk pembangunan fisik kesehatan. Rasio dokter terhadap penduduk masih relatif besar, yaitu 1: 2.035 hingga 1 : 23.0000. Rasio paramedis terhadap penduduk juga masih relatif rendah yaitu 1 : 217 hingga 1 : 517. Belum tampak peningkatan berarti dalam jumlah dokter, tenaga medis dan paramedis sebelum dan sesudah adanya otonomi khusus. Disamping jumlah tenaga medis yang belum mencukupi, penyebarannya juga tidak merata. Di semua kabupaten, sebagian besar tenaga medis berada didaerah perkotaan Sarana dan prasarana kesehatan relatif terbatas jumlahnya di setiap kabupaten. Kabupaten pemekaran belum mempunyai rumah sakit, terbatas pada puskesmas yang melayani rawat inap yang dimiliki sebelum terpisah dari kabupaten induk. Rata-rata tiap distrik sudah memiliki 1 (satu) unit Puskesmas. Belum tampak adanya peningkatan sarana dan prasarana kesehatan sebelum dan sesudah adanya otonomi khusus. 7.1.3. Output/Hasil Kinerja (Indikator MDGs) Sampai saat ini jenis penyakit penduduk didominasi oleh penyakit malaria, penyakit menular tuberklosis, ISPA, diare, dan penyakit kulit. Terjadi kecenderungan penyakit menular seksual yaitu HIV/AIDS yang menjangkiti masyarakat terutama di Kabupaten Sorong dan Manokwari. Tidak terdapat data angka kematian bayi pada kabupaten-kabupaten pemekaran. Pada kabupaten induk, angka kematian bayi masih relatif tinggi dibandingkan dengan Propinsi Papua (51) maupun nasional (44) kecuali Kabupaten Fakfak dan Manokwari. Angka kematian balita relatif rendah kecuali Kabupaten Yapen, namun belum tampak penurunan angka yang berarti sebelum dan sesudah adanya Otonomi Khusus. 7.2. Pendidikan

7.2.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijakan pendidikan di Kabupaten Manokwari ditujukan pada peningkatan kapasitas dan mutu pelayanan pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi, peningkatan pendidikan luar sekolah dan kedinasan. Sementara kebijakan pendidikan di Kabupaten Teluk Wondama ditujukan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia, pemerataan pendidikan, penyediaan sarana dan prasrana pendidikan. Kebijaksanaan di Kabupaten Sorong untuk bidang pendidikan ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan dengan Life Skill Education, wajib belajar 9 tahun, dan peningkatan sarana penunjang pendidikan. Di Kabupaten Raja Ampat

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 10

RINGKASAN EKSEKUTIF
kebijakan pendidikan lebih ditujukan peningkatan jumlah guru, jumlah sekolah baik dari tingkat dasar hingga tingkat menengah, dan perbaikan sarana prasarana sekolah yang kurang layak. Sementara itu kebijakan pendidikan di Kabupaten Fakfak dan Kaimana ditujukan pada kemampuan daya serap kurikulum nasional maupun lokal, peningkatan angka partisipasi murni dari sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas, peningkatan dan pemerataan guru. Kebijaksanaan dalam bidang pendidikan di Kabupaten Yapen terutama dalam hal wajib belajar 9 tahun bagi anak hingga usia 17 tahun. Di samping itu peningkatan sarana prasarana penunjang pendidikan, peningkatan kemampuan guru melalui penataran-penataran dan sekolah bagi guru-guru lebih lanjut, penghapusan iuran wajib sekolah bagi anak-anak kurang mampu (sumber : Sudin Dikmenjur P dan P). Kebijaksanaan di bidang pendidikan di Kabupaten Waropen diutamakan dalam peningkatan jumlah sekolah dari tingkat dasar hingga lanjutan, perbaikan sekolah yang rusak, peningkatan jumlah tenaga pengajar. Dari uraian kebijaksanaan diatas dapat disimpulkan bahwa kebijaksanaan daerah pada kabupaten induk lebih diarahkan pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah atas, peningkatan angka partisipasi murni tingkat dasar hingga menengah atas, peningkatan dan pemerataan guru. Sementara itu kebijaksanaan pendidikan di kabupaten pemekaran pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, serta pengadaan guru-guru. 7.2.2. Anggaran, Sumberdaya Manusia, dan Indikator Sumberdaya Pelayanan (Fasilitas) Anggaran pendidikan dari APBD di 8 (delapan) kabupaten cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Khusus Kabupaten Yapen anggaran pendidikan besar diarahkan dalam pembangunan fisik gedung SMU Unggulan. Disamping dana APBD masih terdapat dana propinsi yaitu Otonomi Khusus dan Dana Dekonsentrasi Sektoral yang diperuntukkan untuk pelayanan masyarakat bidang pendidikan. Belum terlihat hasil pelayanan publik dengan dana besar yang dapat dirasakan oleh masyarakat. 7.2.3. Output/Kinerja Output bidang pendidikan terbaik terdapat di Kabupaten Fak-fak, dimana rasio murid terhadap sekolah relatif rendah khususnya tingkat Sekolah Dasar, dimana setiap 1 sekolah menampung murid sebanyak 36 murid. Sementara itu rasio murid terbesar di Kabupaten Teluk Wondama. Dilihat dari rasio murid terhadap guru relatif telah memenuhi standar nasional yaitu di bawah 1 : 25. Tetapi di semua kabupaten tampak distribusi guru yang tidak merata. Di satu sisi lebih banyak guru yang mengajar di perkotaan, bahkan beberapa sekolah SD dan SMP kelebihan guru, di sisi lain di daerah pedesaan kekurangan guru. Kasus di Raja Ampat seorang penjaga sekolah SD ikut mengajar dikarenakan guru tetapnya hanya 2 orang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 11

RINGKASAN EKSEKUTIF
Angka Partisipasi murni untuk tingkat SD relatif besar, artinya jumlah anak usia sekolah dasar relatif besar yang telah masuk sekolah dasar. Sementara itu angka partisipasi murni sekolah menengah pertama maupun atas masih relatif rendah. Dengan demikian indeks pembangunan milenium (MDGs) untuk tingkat SD telah tercapai. 7.3. Pertanian

7.3.1. Kebijaksanaan Daerah Dalam pengembangan sektor pertanian, ke 8 (delapan) kabupaten memiliki Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkebunan, dan Dinas Peternakan. Pemerintah menjalankan kebijaksanaan pengembangan pertanian di ke-empat sektor ini. Kebijakan daerah dalam bidang pertanian antara lain Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Pengembangan Agribisnis Peternakan, Pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan, dan Pengembangan Karantina Pertanian. Di samping itu dinas lingkup pertanian juga membuat kebijakan lain yaitu pembinaan aparat melalui pendidikan formal maupun non formal yaitu dengan mengirimkan pegawai-pegawai untuk melanjutkan pendidikan maupun mengikuti pelatihan pertanian. Kebijakan pembinaan petani melalui pendidikan non formal yaitu melalui penyuluhan yang diberikan. Kebijakan mengembangkan pembinaan bagi kelompok-kelompok usaha agribisnis, dan kebijakan meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan sarana prasarana pertanian. 7.3.2. Anggaran, Sumberdaya Manusia, dan Indikator Sumberdaya Pelayanan (Fasilitas)

Kendati pertanian merupakan sector yang menjadi basis perekonomian rakyat di Papua, namun dari segi anggaran di 8 kabupaten menunjukkan belum mendapatkan prioritas yang layak. Dari sisi sumberdaya manusia, sebagian besar tenaga fungsional cenderung terjebak menangani masalah-masalah administrative di kantor, dan umumnya sebagian besar di perkotaan. Petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang menjadi ujung tombak pelayanan kepada petani/nelayan, jumlahnya sangat terbatas disamping kualitasnya juga terbatas. Disamping itu, fasilitas yang dapat menjangkau wilayah binaan yang umumnya terpencar sangat terbatas, sehingga sering PPL hanya melakukan pembinaan di 10% 25% dari wilayah binaan yang menjadi tanggungjawabnya. Di sisi lain, penghargaan terhadap sedikit PPL yang berhasil justru dengan mempromosikan pada jabatan-jabatan administrative di kantor. 7.3.3. Output/Kinerja Produktivitas pertanian di 8 (delapan) kabupaten relatif rendah dibandingkan terhadap nasional. Pertanian yang diusahakan masyarakat bercorak subsisten dengan pola campuran dalam lahan relatif kecil dengan fragmen lebih dari 1 (satu). Sebagian besar penduduk masih bergantung pada matapencaharian sektor ini. Dilihat dari hasil pertanian diatas, belum tampak adanya peningkatan yang berarti dalam produksi pertanian. Dengan semakin berkembangnya sarana

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 12

RINGKASAN EKSEKUTIF
transportasi yang dapat menghubungkan Papua dengan daerah-daerah lain, menyebabkan sebagian besar kebutuhan pangan kawasan ini dan Papua umumnya didatangkan dari luar Papua. Hal ini menyebabkan Papua hanya menjadi pasar bagi produk-produk pertanian, sementara pertanian Papua tidak dapat bersaing, dan cenderung menurun produksinya. 7.4. Prasarana dan sarana

7.4.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijaksanaan daerah bidang sarana dan prasarana di kabupaten induk ditujukan terutama pada pemeliharaan rusa jalan, perbaikan dermaga pelabuhan, peningkatan bandar udara, peningkatan status bandar udara, peningkatan jaringan listrik maupun telepon, dan pengelolaan daerah aliran sungai. Sementara itu pada kabupaten-kabupaten pemekaran diutamakan pada pembangunan pelabuhan laut, merintis pembuatan maupun mengembangkan luas bandar udara, pengadaan listrik dan air minum serta pengadaan jaringan telepon. 7.4.2. Anggaran Dari segi anggaran, secara nominal di 8 kabupaten menunjukkan peningkatan yang sangat besar. Hal ini disebabkan prioritas pembangunan di semua kabupaten di Papua adalah untuk mengurangi isolasi daerah, sehingga fungsi pelayanan pemerintah menjadi efektif dan potensi ekonomi dapat dikembangkan. Anggaran untuk sarana dan prasarana bersumber dari APBD serta Dana Otsus Papua yang 40%-nya dibagikan ke kabupaten/kota di Papua. 7.4.3. Output/Kinerja Bidang Perhubungan, pembangunan sarana jalan terbatas pada jalan menghubungkan sebagian daerah terutama di ibukota distrik, jalan-jalan yang menghubungkan antar kampung masih sangat terbatas dan terbuat dari pengerasan. Pada kabupaten pemekaran, sarana perhubungan utama masih menggunakan transportasi laut. Bidang Listrik, pembangunan sarana listrik di Kabupaten induk relatif meningkat, telah menjangkau sebagian besar distrik maupun kampung. Pada kabupaten pemekaran, jumlah pelanggan yang terpenuhi relatif terbatas, sehingga jumlah pelanggan maupun kualitas pelayan masih terbatas. Dalam Pelayanan telekomunikasi masih terbatas jumlah jaringan yang dikelola oleh P.T. Telekomunikasi. Di kabupaten induk telekomunikasi yang digunakan selain menggunakan telepon otomat juga dapat menggunakan telepon seluler. Sementara itu di kabupaten pemekaran yaitu Raja Ampat dan Waropen belum dapat menggunakan telepon seluler maupun otomat, komunikasi jarak jauh hanya dapat dilakukan dengan menggunakan SSB. Bidang Air Minum, pengelolaan air minum di semua kabupaten induk dilakukan oleh Perusahaan Air Minum dengan memanfaatkan sumber air sungai yang ada, melayani terbatas pada penduduk perkotaan. Sementara itu di kabupaten

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 13

RINGKASAN EKSEKUTIF
pemekaran terbatas pada sumber air sumur masing-masing diusahakan oleh penduduk, dan sebagian memanfaatkan sungai secara langsung.

8.

LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES


8.1. Pembangunan Ekonomi Dalam Pengembangan ekonomi, proyek-proyek UNDP dinilai oleh masyarakat adalah proyek yang berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat di bidang pertanian luas. Proyek-proyek UNDP yang dinilai berhasil antara lain CCAD, dan PARUL (yaitu pembinaan nelayan). Proyek-proyek ini berhasil merumuskan metoda pembinaan ekonomi yang bertumpu pada aspek kelembagaan petani dan nelayan. PPK, Program Pengembangan Kecamatan yaitu pemberian dana lunak yang dikelola langsung oleh distrik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di tingkat distrik. Program ini dianggap baik karena tersedianya dana untuk membiayai pembangunan ekonomi di tingkat pedesaan. HPH, sebagian masyarakat menilai kehadiran HPH lebih banyak merusak hutan daerah, akan tetapi tidak dapat dipungkiri, banyak masyarakat bergantung pada gaji dari bekerja di HPH. Disamping itu, kehadiran HPH meningkatkan kegiatan ekonomi melalui proses multiplier. Khusus di Kabupaten Manokwari dan Yapen, kehadiran Lembaga Swadaya masyarakat yaitu Yalhimo dan Papua Lestari telah mampu mengkritik kerusakan lingkungan hidup di daerah tersebut. 8.2. Pemerintahan CLGI dan NDI yaitu program UNDP dalam meningkatkan kapasitas eksekutif daerah dan parlemen daerah dengan pemberian asistensi pada pihak-pihak tersebut. Program-program ini dianggap baik karena telah menularkan metode yang efektif dalam pemberian asistensi. 8.3. Pendidikan dan Kesehatan Program pendidikan dan Kesehatan yang dinilai oleh masyarakat paling berhasil adalah program UNICEF, yaitu Manajemen Sekolah Berbasis Keluarga, dan peningkatan gizi anak sekolah, dan ibu-ibu hamil. Program ini dianggap baik karena dinilai cocok dengan kondisi wilayah dan sosial budaya masyarakat Papua.

9.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kajian data dan informasi yang diperoleh di lapangan dapatlah diturunkan 7 butir kesimpulan umum seperti di bawah ini. 9.1. Kabupaten Pemekaran. 1. Pemerintah kabupaten memiliki kapasitas yang cukup baik untuk menyelenggarakan pemerintahan, ditinjau dari telah terlaksananya sebagian besar tugas pokok Pejabat Bupati yakni: (a) membentuk

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 14

RINGKASAN EKSEKUTIF
kelembagaan daerah, (b) menyelenggarakan PEMILU Legislatif dan Presidan, dan (c) pembentukan DPRD. 2. Kapasitas pemerintah kabupaten masih bervariasi besar, mulai ri kurang baik sampai dengan baik dalam hal kemampuan Pejabat Bupati untuk melaksanakan tugas pokok dibidang pembangunan infrastruktur pemerintahan. Disamping itu masih bervariasi pula dalam hal domisili dan tempat penyelengga dilihat tugas pemerintahan, seperti adanya pejabat dan personil pemerintah kabupaten yang masih berdomisili dan menyelenggarakan tugas pokok pemerintahan di kabupaten induk baik secara terselubung maupun terang-terangan, tetapi ada pula yang telah tinggal menetap dan melaksanakan tugas pokok pemerintahan di masingmasing kabupaten pemekaran. 3. Kapasitas pemerintah kabupaten untuk memberikan pelayanan sosial dasar belum direncanakan secara holistik dan belum memberi penekaran pada pendekatan partisipatif, sebagai dampak dari belum semua kabupaten memiliki Kerangka Umum Tata Ruang dan juga belum meliki Rencana Strategis. 4. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah kabupaten dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, dapat dilakukan melalui upaya-upaya nyata sebagai berikut: a. Mempercepat pembangunan perumahan pegawai dan perkantoran seluruh lembaga pemerintah kabupaten pada masing-masing kabupaten pemekaran. b. Merelokasi pusat-pusat industri pengolahan yang menggunakan bahan baku yang bersumber dari wilayah kabupaten pemekaran bersangkutan. c. Menyediakan data base yang valid dan mutakhir, serta mempercepat penyusunan Kerangka Umum Tata Ruang Wilayah, dan Rencana Strategis masing-masing kabupaten. 9.2. Kabupaten Induk 5. Pemerintah kabupaten memiliki kapasitas yang baik untuk menyelenggarakan tugas pokok pemerintahan ditinjau dari terlaksananya dengan baik sebagian tugas pokok bupati untuk: (a) menyelenggarakan PEMILU Legislatif dan Presiden, dan (b) membentuk DPRD. 6. Kapasitas pemerintah kabupaten menjadi kurang efektif dan tidak efisien dalam hal penyelenngaraan pemerintahan dan pembangunan akibat lambannya upaya-upaya nyata untuk merasionalisasi kembali struktur pemerintah kabupaten disamping lambannya upaya-upaya nyata untuk melakukan revisi Rencana Strategis yang telah dimiliki. 7. Peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan secara efektif dan efisien dapat dilakukan melalui upaya-upaya nyata sebagai berikut: a. Merasionalisasi struktur pemerintah kabupaten, dan melakukan revisi dokumen Rencana Strategis kabupaten yang telah ada. b. Menyediakan data base yang valid dan mutakhir sebagai dasar perencanaan dan penyelenggaraan pemerintahan serta pembangunan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

R - 15

PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN
Provinsi Papua (dulu Propinsi Irian Jaya) merupakan salah satu propinsi terluas di Indonesia, dengan jumlah kabupaten/kota yang terbatas. Masing-masing Kabupaten Jayapura, Jayawijaya, Merauke, Fakfak, Yapen-Waropen, Biak Numfor, Paniai, Manokwari, Kabupaten Sorong, dan Kota Madya Jayapura. Terbatasnya jumlah kabupaten/kota telah disadari oleh pemerintah sebagai salah satu faktor penentu rendahnya efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pemerintah telah membentuk 3 kabupaten baru. Masing-masing: (1) Kabupaten Mimika hasil pemekaran Kabupaten Fakfak, (2) Kabupaten Nabire, dan (3) Kabupaten Puncak Jaya hasil pemekaran Kabupaten Paniai. Ketiga kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45/1999. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 5/2000, pemerintah mengukuhkan Kotamadya Administratif Sorong menjadi Kotamadya Sorong. Dengan demikian Provinsi Papua telah terdiri dari 12 kabupaten dan 2 kotamadya. Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi yang sangat dinamis, pemerintah kembali menyadari pentingnya upaya untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelengaaraan pemerintahan dan pembangunan dengan membentuk 14 kabupaten baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 26/2002. Ke 14 kabupaten baru ini adalah (1) Kabupaten Sorong Selatan dan (2) Kabupaten Raja Ampat hasil pemekaran Kabupaten Sorong, (3) Kabupaten Pegunungan Bintang, (4) Kabupaten Yahukimo, (5) Kabupaten Tolikara hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya, (6) Kabupaten Waropen hasil pemekaran Kabupaten Yapen-Waropen, (7) Kabupaten Kaimana hasil pemekaran Kabupaten Fakfak, (8) Kabupaten Bovendigoel, (9) Kabupaten Asmat, (10) Kabupaten Mappi hasil pemekaran Kabupaten Merauke, (11) Kabupaten Teluk Bintuni, (!2) Kabupaten Teluk Wondama hasil pemekaran Kabupaten Manokwari, (13) Kabupaten Sarmi dan (14) Kabupaten Keerom hasil pemekaran Kabupaten Jayapura. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah kabupaten/kota telah mengalami peningkatan 2 kali lipat. Namun penambahan jumlah kabupaten/kota sebesar ini bukanlah hal yang mudah, sehingga menimbulkan pertanyaan. Apakah benar pemerintah kabupaten induk telah meningkat kapasitasnya untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan ?. Sejauhmana kapasitas pemerintah kabupaten baru untuk menyelenggarakan pemerintahan, dan bila mungkin juga pembangunan ?. Dari segi inilah dipandang perlu untuk melakukan Kajian Kapasitas Pemerintah Daerah 8 Kabupaten Terpilih di Papua. Tujuan utama kajian ini, adalah untuk: : (1) mengidentifikasi kapasitas sumberdaya pemerintah daerah 8 kabupaten terpilih, dan (2) mengianalisis pelayanan sosial dasar yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah 8 kabupaten terpilih. Metode pengkajian yang digunakan pengumpulan data di lapangan. adalah metode deskriptif, dengan teknik

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

I-1

KABUPATEN MANOKWARI

II. KABUPATEN MANOKWARI


1. KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah Wilayah Kabupaten Manokwari mempunyai topografi daerah pantai, dataran rendah hingga pegunungan dan menurut pencatatan Stasiun Mateorologi Rendani memiliki tingkat kelembaban udara relatif tinggi yang berkisar antara 81% - 86%. Kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan April dan kelembaban udara terendah terjadi pada bulan September sedang menurut pencatatan Stasiun Metereologi Uncen Manokwari tingkat kelembaban udara relatif tinggi berkisar antara 93%-95% terjadi pada bulan Maret dan Oktober, kelembaban udara terendah terjadi pada bulan Juni, Juli, September dan Nopember. Curah hujan tertinggi menurut stasiun pencatat Meteorologi Rendani terjadi pada bulan April yang mencapai 326 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan September yang mencapai 50 mm. hari hujan tertinggi terjadi bulan Desember yang mencapai 24 hari, sedangkan hari hujan terendah terjadi pada bulan September yang mencapai 10 hari. Dengan adanya pemekaran kabupaten maka berimbas pada pembagian fisik wilayah, yang berdasarkan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya, menunjukkan bahwa peruntukan lahan untuk kawasan budidaya hanya 29,96 % dari luas wilayah kabupaten Manokwari, sedangan lebih dari 70 % merupakan kawasan lindung. Rincian luas wilayah berdasarkan Distrik (Tabel 1) menunjukan bahwa Distrik Kebar memiliki luasan terbesar di Kabupaten Manokwari, jumlah kampung terbanyak terdapat pada distrik Minyambouw, sedangkan sedangkan Distrik Manokwari merupakan satusatunya Distrik yang memiliki Kelurahan. 1.2. Pembagian Administratif wilayah Wilayah Kabupaten Manokwari setelah dilakukan pemekaran menjadi 3 kabupaten, (Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni dan kabupaten Teluk Wondama) maka luasnya menjadi 14655 km2 dan terletak antara 00 15 Lintang Utara - 30 15 Lintang Selatan, dan 1340 45 Bujur Timur -1320 35 Bujur Barat, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Samudera Pasifik, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bintuni, Sebelah Barat dengan Kabupaten Sorong Selatan dan Sebelah Timur dengan Kabupaten Teluk Wondama dan Kab Biak Numfor. Secara Administrasi Kabupaten Manokwari terdiri dari 11 Distrik, 405 Kampung dan 9 Kelurahan (Tabel 1). Distrik dalam wilayah Kabupaten Manokwari yang berada pada rencana lintas batas daerah adalah Distrik Amberbaken yang berbatasan dengan kabupaten Sorong, Distrik Kebar berbatasan dengan kabupaten Sorong selatan dan Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Minyambow Manokwari dan Susurei berbatasan langsung dengan kabupaten Bintuni dan Disterik Ransiki berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 1.3. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk kabupaten Manokwari sejak tahun 2000 hingga 2004 cenderung menurun data populasinya hal ini disebabkan kerena telah terjadi pemekaran kabupaten pada tahun 2002 sehingga data penduduk di tahun 2003 dan 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 1

KABUPATEN MANOKWARI
cenderung menurun (Tabel 2) disamping itu adanya mobilitas penduduk ke luar Manokwari khususnya pada daerah-daerah pemekaran. Kepadatan penduduk sebesar 9,82 Jiwa/km2 (Tabel 3), dan terkonsentrasi di Distrik Manokwari (46,87)%. Jumlah kampung terbanyak berada pada distrik Minyambou yang mencapai 103 kampung, dengan kepadatan penduduk sebesar 12,79 jiwa/km2. Dari jumlah kampung yang tersebar pada 11 distrik maka rata-rata setiap kampung terdapat 352 jiwa. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2001 (Tabel 4) menunjukkan bahwa proporsi laki-laki lebih dominan (52,5%), pada setiap distrik dibanding perempuan. Dibandingkan dengan laporan BPS pusat (Tabel 5) menunjukkan bahwa kabupaten Manokwari memeiliki proporsi penduduk laki-laki terbesar bila dibandingkan dengan Provinsi Papua maupun secara Nasional. Tempat tinggal pada 10 Distrik di luar Distrik Manokwari menunjukkan bahwa dari 932 rumah tinggal yang disurvei terdapat 29,8 % rumah tinggal yang kurang layak berdasarkan kriteria BKKBN (Tabel 6) Jika dilihat dari Distrik menunjukkan bahwa Distrik Masni yang memiliki proporsi tempat tinggal yang kurang layak (59 %) Ketergantungan ekonomi penduduk pada 3 sektor utama yaitu primer, sekunder, dan sektor tertier (Tabel 7), menunjukkan bahwa 50% penduduk Manokwari masih mengandalkan akan sektor primer. Sedangkan dari sisi pengeluaran perkapita berdasarkan data susenas dari tahun ketahun cenderung bertambah (Tabel 8) 1.4. Kemiskinan Menurut BPS penduduk miskin di kabupaten Manokwari sejak tahun 1999 sampai tahun 2003 cenderung bertambah (Tabel 9) yaitu pada kondisi sebelum pemekaran dan sesudah pemekaran (otonomi khusus). Berdasarkan kriteria keluarga pra sejahtera dan sejahtera menurut BKKBN di Kabupaten Manokwari umumnya keluarga pra sejahtera terkonsentrasi di desa yang mencapai 70,9 % dan yang terbanyak adalah kelompok pra sejahtera 66,8 %.(Tabel 10) Dengan membandinkan indeks kemiskinan manusia versi BPS menunjukkan bahwa indeks kemiskinan manusia secara Nasional maupun provinsi cenderung berkurang sedangkan di wilayah Manokwari indeksnya bertambah (Tabel 11). Hal ini mengindikasikan bahwa Indeks Kemiskinan Manusia di Kabupaten Manokwari cenderung bertambah.

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


Jumlah personil Pegawai Negeri yang berada di Kabupaten Manokwari yang bertugas pada Kantor/Dinas/Badan dan Sekeratriat Daerah kantor Distrik maupun pada instansi Vertikal berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa terdapat 51,39 % pegawai yang berpendidikan SMU, kemudian diikti dengan pendidikan S1 sebanyak 20,16 % (Tabel 12). Sedangkan yang bekerja pada instansi Pemda berdasarkan golongan (Tabel 13) menunjukkan bahwa terdapat 47,72 % pegawai negeri dengan Golongan II.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 2

KABUPATEN MANOKWARI
Secara rinci jumlah personil Pemda Kabupaten yang ditempatkan pada masingmasing lembaga lingkup Pemda Kabupaten Manokwari berdasarkan jenis kelamin (Tabel 14) menunjukkan bahwa terdapat 78,81 pegawai dengan jenis kelamin laki-laki dan 21,2 % pegawai perempuan. Dibandingkan dengan data BPS (Tabel 15) menunjukkan bahwa jumlah pegawai negeri dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 72 % sedangkan perempuan sebanyak 28 %. Berdasarkan umur sekitar 23 % pegawi berumur 36-40 tahun sedangkan yang mendekati pensiun mendekati 15 % dari jumlah pegawai (Tabel 16) Berdasarkan profesi pegawai negeri yang ada di Kabupaten Manokwari menunjukkan bahwa terdapat 67,11 % yang berprofesi sebagai guru, paramedis sebanyak 16,36% (Tabel 17) Jumlah pegawai yang ditempatkan pada masing-masing distrik di Kabupaten Manokwari sebanyak 282 pegawai yang melayani masyarakat pada masingmasing Distrik, dan jumlah pegawainya terkonsentrasi di Kelurahan. Dari jumlah tersebut terdapat 19,86 % pegawai dengan jenis kelamin perempuan (Tabel 18) Jumlah pegawai pada Lembaga Teknis dan Sekertariat Daerah sebanyak 4.663 pegawai sedangkan lingkungan Distrik sebanyak 282 pegawai. Pegawai tersebut melayani seluruh anggota masyarakat yang jumlahnya 143.949 jiwa sehingga rationya 1:29 artinya rata-rata setiap pegawai pemda melayani 29 penduduk. Kelembagaan Pemda Kabupaten Manokwari hingga tahun 2004 terdiri dari Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah dan Sekretaris Daerah Kabupaten serta di Bantu oleh 3 Asisten yaitu : Asisten .Tata Praja Asisten Kesejahteraan Rakyat Asisten Administrasi Asisten Tata Praja terdiri dari : bagian pemerintahan bagian hukum bagian pemerintahan Kampung bagian hubungan masyarakat dan protokol Asisten Kesejahteraan Rakyat terdiri dari : bagian perekonomian bagian kesejahteraan rakyat Asisten Administrasi terdiri dari : bagian Keuangan bagian Organisasi bagian Umum dan perlengkapan Dinas yang di bentuk sebanyak Dinas yang terdiri dari : Dinas Pendidikan dan Pengajaran, Dinas Kesehatan, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Pendaftaran Penduduk, KB dan Capil, Dinas Informasi dan Komunikasi, Dinas PU dan Pemukiman Wilayah Dinas Perhubungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 3

KABUPATEN MANOKWARI
Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Pertanian tanaman pangan Dinas Peternakan Dinas Perikanan dan kelautan Dinas Kehutanan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Dinas kebersihan dan Pertamanan Badan yang dibentuk masing-masing : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Pengawasan Daerah. Badan Pemberdayaan Masyarakat Badan Kepegawaian Daerah Badan Kesatuan Bangsa Kantor yang dibentuk Kantor Pemberdayaan Perempuan Kantor PDE Kantor Pamong Praja Kantor Pemuda dan Olah Raga Kantor KSB Pada lembaga non pemda terdapat juga pegawai yang melaksanakan fungsi pada lembaga pendukung tersebut di kabupaten Manokwari berdasarkan golongan dan jenis kelamin (Tabel 19) menunjukkan bahwa terdapat 28,5 pegawai yang berjenis kelamin perempuan. Proporsi perempuan yang berkerja di lingkup setda dan instansi teknis sebanyak 21,2 %, di lingkup distrik sebanyak 19,86 % dan dilingkup non Pemda sebanyak 28,5 % dan jika di bandingan dengan perempuan pekerja profesional (Tabel 20) menunjukkan bahwa terjadi penambahan jumlah wanita sebagai pekerja profesioanal dari tahun 1999 sampai 2002 mengalami peningkatan, dan terdapat kecenderungan bahwa wanita pekerja profesional lebih memilih pada instansi non pemda. Kecenderungan proporsi perempuan pekerja profesional ini tidak terlalu berbeda dengan kondisi di Kabupaten Manokwari pada tahun 2004.

3.

KEUANGAN DAERAH
3.1. Penerimaan Penerimaan Kabupaten bersumber dari PAD (pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahan milik daerah dan lain-lain PAD yang sah) dan Dana Perimbangan ( bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus) serta dana Otsus. Penerimaan Kabupaten Manokwari yang dialokasikan dari tahun 2002 sampai tahun 2004 menunjukkan bahwa penerimaan DAU merupakan sumber terbesar dalam pembiayaan pembangunan. Adanya penurunan DAU pada tahun 2004 tersebut disebabkan kerena pemekaran kabupaten sehingga indeks pengali untuk Kabupaten Manokwari berubah. Begitu halnya pula dengan penerimaan dana lainnya seperti DAK, OTSUS ( Tabel 21) mengalami penurunan. 3.2. Pengeluaran Pengeluaran Pembangunan dari tahun 2003 dan 2004 untuk Kabupaten Manokwari terjadi penurunan disebabkan adanya pemekaran kabupaten

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 4

KABUPATEN MANOKWARI
Manokwari menjadi 3 kabupaten sehingga pembiayaan pembangunan bagi kabupaten induk nilainya menjadi lebih berkurang (Tabel 23). Berdasarkan laporan pertanggung jawaban dari pemda pengeluaran aparatur dari gaji pegawai yang terbesar, yaitu untuk membayar 4845 pegawai negeri yang sebaian besartersebar pada instansi teknis dan secretariat daerah. Pengeluaran pembangunan untuk belanja publik lebih didominasi oleh sektor pendidikan, transportasi komunikasi dan kesehatan. Pengeluaran pembanguan yang dibiayai dari provinsi dan merupakan dana Otsus (Tabel 24) proporsinya dari tahun 2002 dan 2003 sangat bervariasi yaitu pada tahun 2002 pengeluaran pembangunan didominasi oleh sektor pendidikan dan transportasi sedangan pada tahun 2003 pengeluarannya didominasi oleh sektor Kesehatan dan pendidikan. Sedangkan pengeluaran pembangunan yang dibiaya dari pusat (Tabel 15) pada dua tahun berturut-turut pembiayaan pembangunannya lebih difokuskan pada sektor transportasi dan komunikasi Dana Dekon dari Depdagri pada 4 sektor utama (Tabel 26) masih cenderung kepada sektor pendidikan dan keshatan Dana yang dialokasikan ke distrik berdasarkan laporan pertanggungjawaban Bupati pada bulan Desember 2004 lebih dominan di alokasikan untuk kegiatan Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, Pemukiman dan Ekonomi Kerakyatan serta Industri Kecil. Pada masyarakat tingkat kampung dana yang diperuntukkan lebih dominan pada sektor Pertanian secara luas seperti pengadaan alat-alat pertanian, pengadaan bibit. Pelayanan dasar kesehatan pembangunan puskesmas, pendidikan pembangunan sekolah. 3.3. Observasi, opini, kesimpulan Sistem pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Manokwari didasarkan pada pengalokasian anggaran pada masing-masing sektor yang kemudian ditangani olehg berbagai instansi teknis. Berdasarkan laporan pertanggungjawaban Bupati pada Bulan Desember 2004 menunjukkan itikad transporansi kepada publik tentang jenis-jenis penerimaan daerah yang dipakai dalam pelaksanaan pembangunan. Mengenai pemanfaatan secara baik pembiayaan pembangunan tersebut belum dapat disimpulkan karena pihak Bawasda tidak bersedia untuk menyampaikan beberapa hasil pemeriksaan terhadap pembiayaan pembangunan. Mengenai accountablenya pembiayaan pembangunan dilihat dari program pembangunan yang dilaksanakan, menunjukkan bahwa secara umum belum mampu menggambarkan visi dan misi yang hendak dicapai karena visi dan misi yang hendak dicapai belum dijabarkan dalam Renstra yang di Perdakan.

4.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. DPRD Periode 2004 - 2009 Jumlah anggota Dewan yang terpilih dalam periode 2004 -2009 sebanyak 25 orang diantaranya terdapat 1 perempuan. Berdasarkan latar belakang dan jenis kelamin (Tabel 27) menunjukkan bahwa terdapat 41,6 % berpendidikan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 5

KABUPATEN MANOKWARI
sarjana dan 50 % berpendidikan SMU sisanya dalah Diploma. Terdapat 62,5 % yang Anggota Dewannya berasal dari Papua, terdapat 87,5 % yang beragama Kristen, umumnya 75% yang berumur diatas 30 tahun Sebagian besar anggota DPRD periode 2004-2009 merupakan anggota dewan yang baru, juga ada terpilih kembali periode ini, 25 orang anggota DPRD ini yang memiliki pekerjaan terakhir sebelum menjadi Anggota DPRD ada duduk di instansi pemerintah, ketua partai, karyawan perusahaan, wiraswasta, ketua klasis, kepala desa dan pengacara. Sistem pemilihan adalah langsung dipilih oleh masyarakat. Sebagai konsekuensinya ialah bahwa untuk menjalankan fungsi dewan mereka perlu mempelajari banyak hal terutama peraturan dan berbagai hal yang terkait dengan fungsi dan tugas dewan seperti fungsi dan tugas legislasi, fungsi dan tugas penganggaran, dan fungsi dan tugas pengawasan. Berdasarkan kinerja DPRD periode sebelumnya dapat disampaikan bahwa legislatif relatif sudah menjalankan fungsinya. Dalam kaitannya dengan fungsi legislasi, Dewan bersama dengan Pemda telah menghasilkan sejumlah perda. Terkait dengan fungsi penganggaran telah menyusun berbagai dokumen perencanaan dan Perda tentang RAPBD, serta membahas hasil pelaksanaan APBD berdasarkan laporan Pertanggungjawaban yang ditetapkan melalui perda, perda tentang pemekaran distrik , perda tentang kelembagaan dan perangkat daerah. Jenis pengaduan tahun 2004 dari hasil wawancara dengan wakil DPRD adalah pengaduan tentang pemekaran distrik dengan 18 perkara yang ditangani, Dewan juga menjalankan fungsi melalui kunjungan dalam daerah. Anggota Dewan tersebut sedang menjalankan fungsinya berupa membuat Perda, mengunjungi masyarakat, menyusun dan menetapkan APBD, melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perundang-undangan, dan meminta pertanggungjawaban Bupati. Sampai tahun 2004 fungsi yang nyata dilakukan adalah pertanggungjawaban Bupati atas pelaksanaan APBD Tahun 2004. 4.2. Perwakilan Kampung/Masyarakat Adat Lembaga sejenis perwakilan kampung yang disebut sebagai Badan Perencanaan Kampung (BAPERKAM) merupakan salah satu wujud perencanaan dan penyelenggaraan pemerintahaan, pembangunan kampung dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Tugas pokok lembaga ini dalam rangka mencapai tujuan yaitu merencanakan pembangunan berdasarkan azas musyawarah; menggerakkan dan meningkatkan prakarsa serta partisipasi masyarakat untuk melakukan pembangunan secara terpadu; menumbuhkan kondisi dinamis masyarakat untuk mengembangkan ketahanan di desa maupun kelurahan. Lembaga ini belum semuanya berfungsi secara efektif dalam melakukan tugasnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. Hal ini disebabkan pembinaan yang secara struktural menjadi tanggungjawab bupati dan camat/kepala distrik tidak terselenggara secara baik. Namun dengan adanya perform project lembaga-lembaga ini dapat difungsikan namun hanya terbatas pada lokasi-lokasi yang menjadi wilayah kerja mereka. Disamping itu, partisipasi masyarakat melalui Lembaga Musyawarah Adat (LMA), terjadi pada tingkat distrik maupun kabupaten melalui aspirasi tentang meminta

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 6

KABUPATEN MANOKWARI
keberadaan Papua maupun keterwakilan dalam Majelis Rakyat Papua. Sebagai wujud dalam menunjang aktivitas LMA, saat ini sedang direalisasikan gedung LMA. 4.3. Sistem Pengadilan Terdapat dua jenis sistem pengadilan yang berlaku, yaitu sistem pengadilan formal (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara) dan Pengadilan Adat. Pengadilan Negeri umumnya menangani permasalahan pidana dan perdata berat yang terjadi di masyarakat. Ketersediaan aparat dalam sistem pengadilan formal (Tabel 28) menunjukkan bahwa sistem ini dapat berfungsi dengan baik. Jenis dan jumlah kasus yang ditangani terbanyak adalah kasus pidana (Tabel 29) kemudian perdata sedangkan masih terdapat daftar antri dari kasus pidana dan perdata. Pengadilan Adat umumnya belum melembaga dalam menyelesaikan permasalahan peradilan. Permasalahan yang menonjol ditangani berdasarkan hukum adat adalah berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak atas sumberdaya alam. Pelanggaran etika dan moral yang umum terjadi dalam kehidupan masyarakat juga cenderung diselesaikan berdasarkan hukum adat. 4.4. Keikutsertaan Masyarakat Di Perencanaan Pembangunan Daerah Model pendekatan Pola Dasar Pembangunan Partisipatif yang di perkenalkan oleh beberapa LSM seperti Perform Project, Yahilmo, Perdu dan beberapa LSM lainnya telah membangkitkan keikutsertaan masyarakat di dalam perencanaan pembangunan daerah. Pendekatan ini difokuskan untuk mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap. Pada setiap distrik sasaran, masyarakat dibekali dengan merencanakan pembangunan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitar masyarakat, kemudian terdapat beberapa program pendampingan yang memungkinkan untuk didanai, teruatama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Umumnya terdapat dua model yang dipakai, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung dan perumusan Program Strategi dan telah dilaksanakan di beberapa Distrik Kabupaten Manokwari. 4.5. Keikutsertaan Masyarakat Di Bidang Pelayanan Dasar Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Bidang pendidikan, setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donator. Komite sekolah ini ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan, namun peranannya belum berkembang sesuai yang diharapkan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan, baik financial maupun intelektual, disamping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Bidang kesehatan, keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentuk kader posyandu, yang membantu tenaga medis karena di daerah-daerah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 7

KABUPATEN MANOKWARI
pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan karena keterbatasan tenaga medis.

5.

KEADAAN EKONOMI, 2000-2003


5.1. PDRB dan Struktur Perekonomian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik harga berlaku maupun harga konstan mengalami pertumbuhan (Tabel 30). Data tahun 2003 menurut BPS Manokwari masih disempurnakan di Jayapura . Struktur perekonomian masih didominasi oleh kelompok sektor primer (pertanian dan pertambangan/penggalian) dengan kontribusi rata-rata 58,34% terhadap produksi bruto atas harga berlaku atau 59.79 % terhadap produksi bruto atas harga konstan tahun 1993 (Tabel 21 dan 22). Rata-rata pertumbuhan selama 2 tahun didominasi oleh sector tersier yang mencapai 69,4 untuk harga berlaku dan 22,99 untuk harga konstan. 5.2. Ketenagakerjaan Hasil wawancara dengan Dinas Tenaga kerja menunjukkkan bahwa jumlah pencari kerja yang terpakai untuk bekerja berkisar 55% adalah tamatan SLTA sementara yang menamatkan pendidikan sarjana muda, pendidikan sarjana berkisar 27%. Sedangkan perusahaan- perusahaan yang terdaftar memiliki jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan sebagian besar adalah laki-laki berkisar 85%, perempuan 15 %. Berdasarkan umur, jumlah tenaga kerja yang terdaftar memiliki umur diatas sembilan belas tahun yang telah tamat pendidikannya. Komposisi tenaga kerja dari tahun 2000 hingga 2002 mengalami perubahan pada masing-masing sektor, terutama pada sektor sekunder dan tersier, sedangkan pada sektor primer relatif stabil. Berdasarkan sektor-sektor yang ada, jumlah komposisi tenaga kerja menunjukkan bahwa sektor pertanian yang lebih banyak proporsinya (Tabel 33). Kendati terdapat kesulitan di dalam menghitung komposisi tenaga kerja yang bekerja menurut jenis usaha karena keterbatasan data, namun berdasarkan perkiraan berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa terdapat 50 % pekerja di kelompok sector primer, terutama di sektor pertanian, 26 % pada sector sekunder dan 24 % pada sector tersier , yaitu pada bidang-bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran, jasa pengangkutan dan komunikasi, jasa keuangan dan persewaan, jasa perusahaan dan jasa-jasa lainnya. Sektor sekunder, terutama industri pengolahan menyerap hampir seperempat dari jumlah tenaga kerja. Selama tahun 1999 sampai tahun 2003 berdasarkan data BPS Pusat, angkatan kerja dan yang bekerja cenderung menurun, setelah mengalami kenaikan pada tahun 2001, sedangkan jumlah pengangguran cenderung menurun ( Tabel 34) 5.3. Perdagangan, Koperasi dan Perbankan 5.3.1. Perdagangan Aktivitas perdagangan berupa perdagangan lokal dan perdagangan antar pulau dan ekspor, mencakup barang-barang yang dihasilkan sendiri oleh daerah dan barang-barang yang didatangkan dari daerah lain. Nilai dari barang dan jasa yang masuk dan keluar di wilayah Manokwari (Tabel 35) menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang masuk ke Manokwari berasal dari

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 8

KABUPATEN MANOKWARI
sektor tersier dan sekunder sedangkan yang keluar manokwari adalah sector primer dan sekunder. Barang-barang yang dihasilkan sendiri umumnya berasal dari kelompok sektor primer seperti hasil-hasil pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Kegiatan hasil pertanian pangan bersifat ekstensif dan tradisional sehingga belum mampu bersaing di pasar lokal terutama untuk konsumsi masyarakat di perkotaan, sedangkan dari perkebunan, perikanan dan kehutanan dalam bentuk bahan mentah diantar pulaukan atau diekspor. Barang-barang yang didatangkan dari luar daerah dalam jumlah cukup besar diantaranya : pangan, sandang, bahan bangunan, elektronik, BBM, dan otomotif. Kendati Papua memiliki potensi lahan pertanian yang luas, namun kebutuhan pangan, terutama ayam, telur, dan sayuran didatangkan dari daerah lain khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. 5.3.2. Koperasi Berdasarkan hasil Raker wilayah provinsi Papua Tahun 2003 menunjukkan bahwa perkembangan koperasi sampai dengan tahun 2003 mencapai 2211 koperasi yang berbadan hukum. Dari jumlah tersebut, terdapat 289 Koperasi di Kabupaten Manokwari (Tabel 36). Secara keseluruhan jumlah koperasi di kabupaten Manokwar cukup banyak, baik koperasi produksi, konsumsi, simpan pinjam dan serba usaha. Sebagian besar koperasi adalah koperasi yang tidak aktif, terutama koperasi produksi dan koperasi serba usaha yang berada di daerah pedesaan. Jenis koperasi yang aktif umumnya yang berbentuk koperasi konsumsi dan simpan pinjam dan berada di perkotaan. Upaya menumbuhkan koperasi tersebut telah delakukan dengan program kompensasi BBM tahun 2003 namun dari Evaluasi Tim Unipa upaya tersebut kurang berhasil. 5.3.3. Perbankan Peranan perbankan masih terbatas dalam menggerakkan roda perekonomian di kabupaten-kabupaten terpilih, terutama yang menyangkut pengembangan ekonomi pedesaan. Pemerintah Provinsi Papua telah mengalokasikan dana kredit untuk usaha ekonomi masyarakat sebesar 15 miliar rupiah pada Bank Papua untuk dibagikan ke masing-masing cabang Bank Papua di Papua. Bank Papua tetap mempunyai komitmen membantu pengusaha UKM dalam rangka ikut membantu perkembangan perekonomian daerah. Disamping Bangk Papua terdapat bank swasta lainnnya yang menunjang roda perekonomian di Manokwari yaitu : Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Danamon dan Bank BNI. 5.4. Observasi dan Kesimpulan Kondisi perekonomian makro Kabupaten Manokwari menunjukkan perkembangan yang lambat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PDRB per kapita atas harga berlaku maupun atas harga konstan yang lebih kecil dari belanja daerah. Struktur perekonomian masih didominasi kelompok sektor primer terutama sektor pertanian, yang menyerap 50% tenaga kerja dengan kontribusi pada PDRB sebesar 58,34 %. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas sektor pertanian cukup tinggi daripaa kelompok sector lainnya.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 9

KABUPATEN MANOKWARI
Kelompok sektor sekuder yang mencakup sector industri pengolahan, bangunan, listrik dan air minum juga menyumbang terhadap PDRB sebesar 15,52 % dan menyerap 26 % tenaga kerja sedangkan sector tersier dengan PDRB sebesar 26,14 % meneyerap tenaga kerja sebesar 26 %. Penyaluran kredit oleh bank tidak disertai dengan pendampingan yang baik sehingga sector pertanian, perikanan yang merupakan andalan bagi masyarakat kurang mampu berkembang dan berkompetisi dengan produkproduk yang dating dari luar. Ketersedian Lembaga koperasi bagi masyarakat yang akan mengembangan usahanya kurang dapat berkembang dengan baik karena pendampingan teknis maupun administrasi yang tidak dilakukan secara professional oleh instansi teknis maupun lembaga kredit. Pengkreditan seperti BPR adalah hanya untuk memberikan pinjaman untuk nasabah berupa uang dengan jaminan atas barang dengan jangka waktu tertentu, sementara untuk instansi lain membuka pelayanan jasa dengan meminjamkan uang dan barang untuk karyawan diinstansi tersebut dengan jangka waktu tertentu.

6.

PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA


6.1. Kesehatan 6.1.1. Kebijaksanaan daerah Kebijaksanaan daerah bidang kesehatan di Kabupaten Manokwari antara lain; Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, peningkatan jumlah tenaga medis dan paramedis, serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia. 6.1.2. Fasilitas, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Anggaran, dan Indikator

Sarana kesehatan yang tersedia di Wilayah Kabupaten Manokwari berupa Rumah sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu (PUSTU) yang digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat (Tabel 37) meliputi : Rumah sakit yang dikelola Pemerintah Daerah adalah Rumah Sakit Umum Manokwari, yang dikelola Angkatan Darat adalah Rumah Sakit Korem, yang dikelola Angkatan Laut adalah RS Angkatan Laut dan yang dikelola Kepolisian adalah Poliklinik Polres, serta yang dikelola Yayasan Katholik adalah Klinik Misi. Tenaga Kesehatan yang tersedia dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat (Tabel 38) menunjukkan bahwa tenaga dokter masih dibutuhkan terutama untuk dokter spesialis seperti mata, kulit, THT, begitu juga pada masing-masing Distrik karena penyebaran tenaga dokter masih terkonsentrasi di pusat kabupaten. Dalam menjalankan fungsi pelayanan, dibantu pula tenaga-tenaga perawat dengan bebagai jenjang pendidikan (Tabel 39) yang jumlah nya mencapai 345 juru rawat. Dengan jumlah penduduk Kabupaten Manokwari sebanyak 143.949 jiwa dan jumlah dokter sebanyak 23 orang maka, rasio dokter terhadap penduduk

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 10

KABUPATEN MANOKWARI
masih relatif besar, yaitu 1: 6.258. menangani 6.258 jiwa penduduk. Artinya rata-rata seorang dokter

Rasio paramedis terhadap penduduk juga masih relatif rendah yaitu 1 : 615 artinya seorang perawat rata-rata menangani penduduk sebanyak 615 orang. Jadi dengan adanya penambahan tenaga medis baik Dokter maupun juru rawat rasionya masih terlalu tinggi. Terlebih pada daerah-daerah yang jauh dari pusat Kabupaten atau pada Distrik yang tidak tersedia Sarana dan prasarana kesehatan, kondisi ini akan semakin memperburuk pelayanan kepada masyarakat. Dengan membandingkan kondisi kesehatan penduduk Kabupaten Manokwari dengan Provinsi dan secara Nasional (Tabel 40), menunjukkan bahwa angka kematian bayi lebih tinggi dari secara Nasional artinya dari 1000 kelahitan bayi terdapat 47 bayi yang meninggal. Penduduk dengan keluhan kesehatan lebih rendah proporsinya dibandingkan dengan provinsi maupun secara nasional hal ini disebabkan karena kurang tersedianya sarana dan prasarana kesehatan. Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri proporsinya berada di bawah provinsi maupun nasional artinya inisiatif dari penduduk untuk berobat sangat kurang, sedangkan kelahiran yang ditolong tenaga medis berada dibawah ratarata nasioanl walaupun lebih tinggi dari rata-rata provinsi Sumber Pembiayaan berasal dari APBD, Dana Otsus dan dana dari pusat (Tabel 23 s/d Tabel 26) menunjukkan bahwa selama 3 tahun berturut-turut pembiayaan kesehatan mengalami peningkatan. 6.1.3. Output/Hasil Kinerja (Indikator MDGs) Sampai saat ini jenis penyakit penduduk didominasi oleh penyakit malaria, penyakit menular tuberklosis, ISPA, diare, dan penyakit kulit(Tabel 41).Terjadi kecenderungan penyakit menular seksual yaitu HIV/AIDS yang menjangkiti masyarakat terutama yang menurut beberapa LSM total penderita HIV/AIDS di Manokwarai telah mencapai 17 orang. Angka kematian bayi mengalami penurunan yaitu dari 85 bayi pada tahun 2000 menjadi 45 bayi pad atahun 2003 begitu pula dengan anhka kematian balita dari 60 balita menjadi 21 balita (Tabel 42). Kondisi Kesehatan penduduk Manokwari berdasarkan angka kematian bayi masih lebih baik dibandingkan wilayah Papua walaupun secara nasional masih lebih tinggi, sedangkan penduduk dengan keluhan sakit proporsinya masih berada dibawah Papua maupun Nasional begitu pula dengan angka morbiditas dan penduduk yang melakukan pengobatan sendiri. Sedangkan rata-rata lama sakit lebih tinggi dari Papua dan lebih rendah dari Nasional dan kelahiran ditolong tenaga medis secara nasional masih lebih rendah namun lebih tinggi dari wilayah Papua. 6.2. Pendidikan 6.2.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijakan pendidikan di daerah ini ditujukan pada peningkatan kapasitas dan mutu pelayanan pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi, peningkatan pendidikan luar sekolah dan kedinasan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 11

KABUPATEN MANOKWARI
6.2.2. Fasilitas, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Anggaran, dan Indikator

Fasilitas yang menunjang pelaksanaan kebijan pendidikan sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi (Tabel 44). Yang ditangani langsung oleh pemerintah daerah mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SMU sedangkan PT hanya sebatas bantuan kontribusi pembiayaan. Jumlah sekolah tersebut tersebar pada 11 distrik yang ada di Manokwari, dan yang paling banyak terkonsentrasi di pusat Kabupaten terutama untuk SMP dan SMU. Disamping itu terdapat beberapa perguruan Tinggi yang menampung akan lulusan-lulusan SMU antara lain Universitas Negeri Papua, Sekolah Tinggi Theologia, Sekolah Tiunggi Ilmu Hukum, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Sekolah Tinggi Pertanian. Untuk mendukung proses belajar mengajar pada masing-masing sekolah terdapat murid dan guru pada setiap sekolah (Tabel 45) dengan jumlah murid sebanyak 47.777 orang dan jumlah guru sebanyak 2272 orang. Berdasarkan jenis kelamin maka murid dengan jenis kelamin laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan pada setiap jenjang pendidikan(Tabel 46) Sedangkan jumlah guru berdasarkan jenis kelamin masih masih lebih banyak guru laki-laki kecuali jenjang TK semua guru perempuan (Tabel 47) Pembiayaan untuk sektor pendidikan bersumber dari APBD, Provinsi dan Pusat (Tabel 23 sampai Tabel 26), menunjukkan bahwa besarnya pembiayaan pendidikan selama 3 tahun terakhir cenderung meningkat. 6.2.3. Output/Kinerja Outputs sektor pendidikan berupa pembangunan Kantor Dinas P dan P, Pembangunan gedung SD dan rumah guru, Pembangunan gedung SLTP dan rumah guru, Pembangunan SLTA dan rumah guru yang diperuntukan untuk menunjang proses belajar mengajar. Sekolah yang dibangun tentunya diperuntukan untuk aktivitas belajar mengajar, dimana ratio sekolah dengan murid tertinggi adalah SMU Negeri yang mencapai 615 murid begitu pula ratio sekolah dengan guru yang terbesar adalah SMU Negeri. Mengenai penggunaan ruang belajar yang tertinggi adalah SLTP Swasta yang mencapai 58 murid setiap ruang. Ketersediaan ruang belajar masing-masing sekolah untuk SMU dan SMK masing-masing 14 ruang belajar. Sedangkan ratio murid dengan guru yang tertinggi adalah SMU swasta yaitu 1 guru menangani 52 murid (Tabel 48). Partisipasi sekolah untuk anak sekolah baik SD, SMP di Kabupaten Manokwari masih berada di bawah standar Provinsi maupun Nasional sedangkan SMU sudah berada diatas standar nasional walaupun masih berada di bawah standar Papua(Tabel 49) Angka Putus sekolah anak SD dan SMP berada dibawah Nasional dan provinsi, artinya lebih sedikit bila dibandingkan dengan skala nasional begitu pula dengan tingkat SMU. Pada tingkat usia mahasiswa angka putus sekolah lebih tinggi dari skala nasional namun lebih rendah dari skala provinsi. (Tabel 50).

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 12

KABUPATEN MANOKWARI
6.3. Pertanian 6.3.1. Kebijaksanaan Daerah Dalam pengembangan sektor pertanian, yang terdiri dari Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkebunan, Dinas Peternakan dan Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah menjalankan kebijaksanaan pengembangan pertanian. Kebijakan pengembangan tersebut meliputi pembangunan Pertanian rakyat terpadu, pengembangan sumberdaya dan prasarana Pertanian, Pembangunan Perkebunan rakyat terpadu, Pengembangan sumberdaya sarana dan prasarana perkebunan, Pembangunan kehutanan Rakyat Terpadu, Pembangunan Usaha Kehutanan, Pembangunan Peternakan rakyat terpdu, Pengembangan kawasan sentra produksi (KSP) peternakan, Pengembangan Sumberdaya, Sarana dan Prasarana Peternakan, pembinaan dan pengendalian kesehatan hewan dan ternak rakyat, pengembangan penangkapan ikan, pengembangan budidaya ikan. 6.3.2. Fasilitas, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Anggaran, dan Indikator

Fasilitas pelayanan yang tersedia berupa kantor yang masing-masing sudah dilengkapi dengan perangkat kelembagaan dan berbagai fasilitas pendukung untuk melakukan aktivitasnya seperti ruang kerja, peralatan penunjang seperti komputer, kendaraan Dinas dan beberapa fasilitas Dinas lainnnya. Sumber daya Manusia yang menangani sektor tersebut (Tabel 51) menunjukkan bahwa pegawai laki-laki lebih dominan dibandinghkan dengan perempuan begiu pula dengan asal pegawai proporsi putra asli Papua lebih tinggi di bandinghkan dengan non papua. Dari Sisi Pendidikan umumnya pegawainya berpendidikan SLTA dan yang berpendidikan Magister hanya 5 orang. Pembiayaan untuk sektor pendidikan bersumber dari APBD, Provinsi dan Pusat (Tabel 23 sampai Tabel 26), menunjukkan bahwa besarnya pembiayaan sektor pertanian secara luas cenderung meningkat. 6.3.3. Output/Kinerja Produktivitas pertanian relatif rendah dibandingkan terhadap nasional. Pertanian yang diusahakan masyarakat bercorak subsisten dengan pola campuran dalam lahan relatif kecil dengan fragmen lebih dari 1 (satu). Sebagian besar penduduk masih bergantung pada matapencaharian sektor ini. Dilihat dari hasil pertanian secara luas (Tabel 52 sampai Tabel 56), belum tampak adanya peningkatan yang berarti dalam produksi pertanian, dibandingkan dengan daerah lain di daerah Papua. Dapat dikatakan peningkatan produksi pertanian daerah ini masih relatif cukup. 6.4. Prasarana dan sarana 6.4.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijaksanaan daerah bidang sarana dan prasarana ditujukan terutama pada pemeliharaan rusa jalan, perbaikan dermaga pelabuhan, peningkatan bandar udara, peningkatan status bandar udara, peningkatan jaringan listrik maupun

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 13

KABUPATEN MANOKWARI
telepon, pengelolaan daerah aliran sungai, pengembangan dan konservasi sumberdaya air dan irigasi, Penyediaan dan Pengelolaan Sarana Air Bersih 6.4.2. Fasilitas, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Anggaran, dan Indikator

Fasiltas penunjang berupa kelembagaan pemda seperti Dinas PU, Dinas Perhubungan, Kantor PDAM, PLN, Telkom. Sumberdaya manusia yang tersedi adalam pelayanan ini adalah para personol di setiap kantor tersebut. Besarnya anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangani berbagai fasilitas umum tersebut selama 4 tahun terakhir (Tabel 23 sampai Tabel 26) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pembiayaan pelayanan dasar dari tahun 2000 hingga 2003. Disamping itu terdapat pembiayaan atau investasi yang dilakukan oleh PDAM, PLN, Telkom 6.4.3. Output Bidang Perhubungan, pembangunan sarana jalan terbatas pada jalan menghubungkan sebagian daerah terutama di ibukota distrik, jalan-jalan yang menghubungkan antar kampung masih sangat terbatas dan terbuat dari pengerasan.(Tabel 57) Bidang Listrik, pembangunan sarana listrik relatif meningkat, telah menjangkau sebagian besar distrik maupun kampong, namun keterbatasan daya menyebabkan terjadi pergiliran aliran listrik. Namun saat ini sedang dibangun PLTA di Prafi. Dalam Pelayanan telekomunikasi masih terbatas jumlah jaringan yang dikelola oleh P.T. Telekomunikasi. Di kabupaten induk telekomunikasi yang digunakan selain menggunakan telepon otomat juga dapat menggunakan telepon seluler. Bidang Air Minum, pengelolaan air minum dilakukan oleh Perusahaan Air Minum dengan memanfaatkan sumber air sungai yang ada, pelayanannya terbatas pada penduduk perkotaan. Secara keseluruan akses penduduk pada air bersih mengalami peningkatan sejak tahun 1999.(Tabel 58).

7. LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES


7.1. Pembangunan Ekonomi Pengembangan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh berbagai LSM dalam mendampingi masyarakat, dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat di bidang pengelolaan sumberdaya yang tersedia di masing-masing kampung melalui program partisipatif masyarakat namun tidak semua kampung mendapatkan pendampingan seperti ini. Disamping itu terdapat program pengembangan Disdtrik melalui pemberian dana lunak yang dikelola langsung oleh distrik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Pengelolaan kayu melalui kelembagaan Kopermas menurut sebagian masyarakat maupun aparat, usaha pengolahan kayu tersebut lebih banyak menguntungkan pihak luar bahkan merusak hutan karena sistem penebangan yang tidak mengikuti aturan, walaupun terdapat beberapa masyarakat yang memperoleh manfaat langsung dari sumberdaya tersebut.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 14

KABUPATEN MANOKWARI
Usaha peternakan yang dilakkan oleh masyarakat umumnya terkonsentrasi di pusat Kabupaten dalam memenuhi kebutuhan daging dan telur ayam dan pada daerah-daerah transmigrasi pengembangan ternak besar dan entok. Pada daerah pedalaman dikembangkan penanaman kupu-kupu melalui Yayasan, dimanan masyarakat dibina penanaman pakan kupu-kupu yang produknya di eksport. Penangkapan ikan melalui kelembagaan koperasi kurang mampu bertahan lama karena pengelolaan yang tidah mendapatkan pendampingan administri. Kehadiran Lembaga Swadaya masyarakat seperti Yalhimo Perdu, telah mampu mengkritik kerusakan lingkungan hidup sehingga oleh pemerintah daerah menyiapkan suatu tempat untuk dibangun tempat untuk pengembangan studi menyangkut kawasan lindung. 7.2. Pemerintahan Program penguatan Kapasitas Pemerintahan telah dilakukan oleh beberapa LSM Internasional seperti CLGI, BIGG, NDI yaitu program dalam meningkatkan kapasitas eksekutif dan parlemen daerah dengan pemberian asistensi pada pihak-pihak tersebut yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah UNIPA dan Uncen. CLGI dan BIGG telah membantu Pemda dalam hal penguatan kapasitasnya dalam melayanan masyarakat berupa Kelembagaan Pemda dan Manajemen Anggaran. NDI telah membatu legislatif dalam menjalankan fungsi kedewanannya, sehingga para anggota dewan telah mampu menjalankan fungsinya. 8. KESIMPULAN UMUM Pelaksanaan Pembangunan Manokwari belum memiliki suatu visi yang dibangun dari ketersediaan data base wilayah Manokwari , dalam menumbuhkan sector-sektor ekonomi untuk memacu perekonomian secara makro. Hasil diskusi dengan beberapa perangkat pemerintah Kabupaten maupun kecamatan menunjukkan bahwa Renstra tersebut belum dirampungkan dan saat ini sedang dibentuk Tim untuk melanjutkan pembuatan Renstra tersebut. Penataan kelembagaan sesuai dengan PP No 8 2003 tentang struktur organisasi yang saat ini sedang dalam pengisian personil. Peran dari BPS Kabupaten setelah Otsus telah berkurang hal ini disebabkan karena tidak tersedianya operasional tenaga fungsional BPS Kabupaten yang bersumber dari pusat sedangkan dalam penyusunan pembiayaan pembangunan di Kabupaten Manokwari sampai saat ini belum pernah teranggarkan walaupun telah dilakukan usulan-usulan dalam Musrenbang tingkat Kabupaten. Disisi lain kelengkapan data pada masing-masing Dinas belum semuanya tertata dengan baik. Laporan akuntabilitas Pemerintah (lakip) masing-masing Dinas belum dilakukan hal ini disebabkan belum tersedianya Renstra masingmasing Dinas maupun Tingkat kabupaten.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 15

KABUPATEN MANOKWARI
Lembaga perwakilan rakyat dalam menjalankan tugasnya sudah berfungsi secara baik karena keberadaan kelembagaan tersebut sudah dilengkapi dengan komisi-komisi walupun tempat kerjanya masih darurat. Pelayanan pendidikan telah menjangkau semua Distrik walaupun masih sampai pendidik SMP sehingga bayak murid lulusan SMP melanjutkan sekolahnya di Pusat Kabupaten. Disamping program dari Dinas P dan P yang dibiayai dari APBD, Otsus juga terdapat program yang dibiayai dari Kompensasi BBM berupa beasiswa yang diperuntukan bagi pelajar yang kurang mampu. Pada SMU Negeri dan SMK terjadi Penumpukan jumlah murid begitu juga dengan jumlah guru. Ruang belajar terjadi penumpukan jumlah murid pada SLTP dan SMU swasta. Ketersedian ruang belajar terkecil pada TKK dan SLTP Swasta sedangkan ratio murid tertinggi pada SMU swasta. Secara nasional partisipasi sekolah SMU lebih tinggi walaupun pada wilayah propinsi masih lebih rendah. Angka putus sekolah anak usia 7-15 tahun dibawah rata-rata nasional dan propinsi Pelayanan kesehatan dasar di setiap Puskesmas dapat berjalan dengan baik karena semua puskermas tersedia paramedis yang memadai. Ketersediaan obat-obat pada beberapa puskesmas di Kota cukup tersedia bahkan terdapat beberapa apotik yang melakukan usahanya di pusat Kabupaten. Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri masih dibawah angka nasional maupun provinsi, penduduk dengaqn keluhan kesehatan masih lebih rendah baik secara nasioanal maupun provinsi. Penyakit yang dominan adalah malaria dan infeksi saluran pernafasan atas. Bentuk pelayanan kepada masyarakat untuk mewujudkan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat berjalan dengan baik, walaupun masih perlu pendampingan administrasi untuk mampu mengelolah usaha bisnis, terlebih telah terbentuk koperasi yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Sumberdaya yang dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sangat respons terhadap pasar seperti peternakan, perikanan, hasil hutan dan hasil pertanian. Pada usaha yang berbentuk Kopermas justru kurangmenciptakan pemerataan dalam perolehan manfaat.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 16

KABUPATEN MANOKWARI
LAMPIRAN Tabel 1. Luas dan Jumlah Kampung masing-masing Distrik di Kabupaten Manokwari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Distrik Manokwari Warmare Prafi Masni Minyambouw Amberbaken Kebar Ransiki Oransbari Anggi Susurey Sumber : Bappeda, 2004 Tabel 2. Perkembangan penduduk Tahun 2000 sampai Tahun 2004 No 1 2 3 Sumber : Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) 2000 176680 2003 161027 2004 143949 BPS dan Bapeda, 2004 Luas (km2) 2580 644 383 1642 1014 1509 2703 2400 373 595 812 14655 Jumlah kampung 86 18 15 45 103 14 11 27 17 37 36 409 Jumlah Kelurahan 9

Tabel 3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk masing-masing Distrik Kabupaten Manokwari Kepadatan No Distrik Jumlah Penduduk (jiwa) (jiwa/km2) 1 Manokwari 67469 26,15 2 Warmare 5910 9,18 3 Prafi 11802 30,81 4 Masni 15257 9,29 5 Minyambouw 12970 12,79 6 Amberbaken 2343 1,55 7 Kebar 2795 1,03 8 Ransiki 9850 4,10 9 Oransbari 4646 12,46 10 Anggi 5721 9,62 11 Susurey 5186 6,39 143949 9,82 Sumber : BPS dan Bapeda, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 17

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 4. Distribusi penduduk berdasarkan Jenis Kelamin. Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki Perempuan 1 Manokwari 34512 31191 2 Warmare 3853 3418 3 Prafi 6669 5807 4 Masni 8672 7475 5 Minyambouw 5489 5267 6 Amberbaken 1439 1330 7 Kebar 1666 1558 8 Ransiki 7661 6759 9 Oransbari 2271 2068 10 Anggi 2815 2728 11 Susurey 2960 2938 78007 70539 Sumber : BPS Manokwari 2001 No Distrik Tabel 5. Proparsi penduduk berdasarkan jenis kelamin Wilayah Nasional Papua Manokwari Sumber: BPS Pusat Proporsi Penduduk dari Total (%) Laki Perempuan 49,9 50,1 47,8 52,2 51,0 49,0

Tabel 6. Kelayakan Tempat Tinggal Rumah Tangga Menurut BKKBN Jumlah Tempat Tinggal (RT) Layak Kurang layak 1 Warmare 103 37 2 Prafi 133 41 3 Masni 33 53 4 Oransbari 65 40 5 Ransiki 30 36 6 Amberbaken 25 13 7 Kebar 53 11 8 Anggi 50 20 9 Sururey 49 8 10 Manyambouw 55 19 596 278 Sumber : BKKBN Kabupaten Manokwari, 2004 No Distrik Tabel 7. Ketergantungan Penduduk pada 3 sektor utama No Sektor 1 Primer 2 Sekunder 3 Tersier Sumber : BPS Manokwari % 50 26 24 Jumlah 148 180 90 107 71 43 79 75 63 76 932

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 18

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 8. Pengeluaran Penduduk Perkapita No Tahun Pengeluaran perkapita (Rp) 1 1997 61.550 2 1998 62.662 3 1999 95.983 4 2001 108.680 Sumber : BPS Manokwari Tabel 9. Penduduk Miskin selama 4 Tahun No Tahun 1 1999 2 2000 3 2002 4 2003 Sumber Data : BPS Jumlah Penduduk Minskin (jiwa) 35500 69200 93300 115531

Tabel 10. Jumlah penduduk Berdasarkan Kriteria Keluarga Jumlah Penduduk (jiwa) Pedesaan Perkotaan 1 Pra Sejahtera 16235 1649 2 Sejahtera I 5101 4186 3 Sejahtera II 2508 2769 4 Sejahtera III 448 1366 24292 9970 Sumber : Kantor KB dan Capil, 2004 Tabel 11. Indeks Kemiskinan Manusia Tahun Wilayah Nasional Papua Manokwari Sumber : BPS 1999 indeks peringkat 25,2 31,3 22 37,5 279 2002 Indeks peringkat 22,7 30,9 28 39,0 332 No. Kriteria Keluarga Total 17884 9287 5277 1814 34262

Tabel 12. Komposisi Pegawai negeri berdasarkan tingkat pendidikan No Pendidikan 1 SD 2 SLTP 3 SLTA 4 D-I 5 D-II 6 D-III/SM 7 D-IV 8 S-1 9 S-2 Sumber : BKN 2003 Jumlah 282 244 3288 134 457 520 8 1290 163 % 4.41 3.81 51.39 2.09 7.14 8.13 0.13 20.16 2.55

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 19

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 13. Jumlah pegawai pada institusi Pemda Manokwari Jumlah Pegawai dalam Gol. IV Gol. III Gol. II 20 115 127 219 239 1853 1968 42,20 2098 2225 47,72 Gol. I 12 219 231 4,95 Total 274 4389 4663 100,00

Institusi Setda Kantor/Dinas/Badan/ Jumlah

Proporsi (%) 5,13 Sumber : Pemda Manokwari 2004

Tabel 14. Proporsi pegawai berdasarkan jenis kelamin Golongan (%) I II III Laki-laki 3.10 33.85 39.02 Perempuan 0.26 6.46 13.70 Sumber : Diolah dari data Pemda, 2004 Jenis Kelamin IV 2.84 0.78 Jumlah (%) 78.81 21.19

Tabel 15. Proporsi Pegawai berdasarkan jenis kelamin Wilayah Manokwari Papua Sumber : BKN, 2003 Jenis Kelamain (%) Pria Wanita 72 28 60 40

Tabel 16. Proporsi pegawai berdasarkan umur No Umur 1 18 - 20 2 21 - 25 3 26 - 30 4 31 - 35 5 36 - 40 6 41 -45 7 46 - 50 8 51 - 56 9 57 - 60 Sumber : BKN, 2003 Jumlah 19 245 717 1256 1429 1089 741 852 49 % 0.30 3.83 11.21 19.63 22.34 17.02 11.58 13.32 0.77

Tabel 17. Komposisi profesi pegawai negeri di Kabupaten Manokwari No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jabatan Fungsional Peneliti Widya iswara Dosen Guru Medis Para medis Penyuluh Pertanian Lainnya Jumlah 10 5 162 1628 1 397 81 142 % 0.41 0.21 6.68 67.11 0.04 16.36 3.34 5.85

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 20

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 18. Personil Pemda Kecamatan Menurut Golongan, dan Jenis Kelamin Gol. L 1 Manokwari 22 2 Susurey 2 3 Warmare 2 4 Prafi 0 5 Oransbari 3 6 Ransiki 0 7 Anggi 0 8 Kebar 1 9 Amberbaken 3 10 Manyambou 3 11 Masni 0 Jumlah 36 Sumber : Pemda Manokwari, 2004 No Distrik I P 3 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Jumlah Pegawai dalam Gol. II Gol. III L P L P 32 15 7 6 5 8 5 1 18 2 5 1 8 4 9 1 6 3 5 0 11 4 4 1 17 1 3 0 6 3 4 0 9 0 4 1 4 1 7 0 14 0 7 0 130 41 60 11 Gol. IV L P -

Tabel 19 . Personil Non Pemda Menurut Dinas, Golongan, dan Jenis Kelamin Jumlah Pegawai dalam No Lembaga Gol. I Gol. II Gol. III Gol. IV L P L P L P L P 1. PD Irian Bakti 6 1 4 1 2. PT PLN 8 37 3 14 4 4 3. PDAM 4 6 18 1 1 1 4. PT Bank Mandiri 1 9 12 8 3 0 1 5. Bank Pemb. Daerah 4 1 8 0 12 3 12 4 6. Bank BNI 4 5 1 0 5 1 2 7. Bank BRI 30 11 3 5 3 1 1 8. BPR ( Pegadaian) 1 2 0 1 0 52 26 75 35 43 11 21 4 Sumber : PD. Irian Bhakti, PT. PLN, PDAM, PT. Bank Mandiri, Bank Pemb. Daerah, Bank BNI, Bank BRI, Pegadaian

Tabel 20. Proporsi Perempuan Pekerja profesional 1999 Indonesia Papua Manokwari Sumber : BPS 34,4 24,3 2002 39,2 30,6 25,0

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 21

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 22. Penerimaan Kabupaten yang bersumberdari PAD, Dana Perimbangan dan Dana Otsus
No 1 2 3 4 5 6 7 10 11 12 13 14 15 Uraian Penerimaan Pajak Retribusi penerimaan dinas-dinas dividen BUMD pendapatan lain-lain PBB PPn Bagi hasil non-pajak/SDA DAU DAK Otsus Penerimaan dari Provinsi Penerimaan dari Pusat 2004 820000000 1361000000 145000000 2200000000 4055000000 79661172347 3103459716 7995000000 203528000000 40408360000 32448360000 7800000000 21970896000 405496248063 % 0,20 0,34 0,04 0,54 1,00 19,65 0,77 1,97 2003 1252945464 1256881459 125000000 2201240000 5693904946 13170368859 3,00 % 0,29 0,29 0,03 0,50 1,30 2002 658165662 1156520320 1278601272 2701267619 43330351233 1875000000 10995411427 0,41 0,86 13,86 0,60 3,52 65,22 % 0,21 0,37

62736481113 14,29

50,19 257005400000 58,54 203850000000 9,97 8,00 1,92 5,42 100,0 42840799000 439018622041 100,00 9,76 46705447000 12550764533 52735601200 12,01

14,94

100,00

Sumber : Bappeda, 2004 dan Pemda, 2004

Tabel. 23 Pembiayaan untuk Aparatur dan Publik


No. 1 Uraian Pengeluaran Aparatur gaji pegawai Belanja barang Perjalanan lain-lain 2 Publik Kesehatan Pendidikan Pertanian transportasi-komunikasi Industri Perdagangan Konstruksi Jasa 20.959.051.000 29.389.700.000 8.635.455.000 23.234.966.500 3.970.000.000 4.600.000.000 90.789.172.500 23,09 32,37 9,51 25,59 0,00 4,37 5,07 100,00 29.943.127.000 23.118.140.200 11.138.451.200 50.307.137.500 350.000.000 8.005.000.000 1.000.000.000 123.861.855.900 24,17 18,66 8,99 40,62 0,28 6,46 0,81 100,00 125.851.254.097 21.915.082.453 10.824.090.000 11.190.100.000 169.780.526.550 74,13 12,91 6,38 6,59 100,00 134.657.299.011 23.328.159.662 11.940.349.075 9.473.252.000 179.399.059.748 75,06 13,00 6,66 5,28 100,00 2004 % 2003 %

Sumber : Bappeda, 2004 dan Pemda, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 22

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 24. Pengeluaran pembangunan yang dibiayai provinsi : No Uraian Pengeluaran Pembanguan (Rp) 2003 % 2002 11.297.127.000 49,82 5.304.176.000 6.279.495.200 27,69 9.157.060.000 650.000.000 2,87 6.272.800.000 4.000.000.000 17,64 7.200.000.000 200.000.000 0,88 200.000.000 250.000.000 1,10 740.000.000 % 18,37 31,71 21,72 24,94 0,69 2,56

1 Kesehatan 2 Pendidikan 3 Pertanian 4 Transportasikomunikasi 5 Industri 6 Perdagangan Sumber : Bappeda, 2004

Tabel 25. Pengeluaran pembangunan yang dibiayai pusat No 1 2 3 4 5 6 7 8 Uraian Kesehatan Pendidikan Pertanian Transportasikomunikasi Industri Perdagangan Konstruksi Jasa 2003 3.220.000.000 4.317.000.000 500.000.000 27.730.000.000 150.000.000 % 8,97 12,02 1,39 7,21 0,42 2002 11.240.290.000 6.496.423.000 9.199.142.000 17.060.000.000 195.000.000 5.950.000.000 1.700.000.000 550.000.000 52.390.855.000 % 21,45 12,40 17,56 32,56 0,37 11,36 3,24 1,05 100,00

35.917.000.000 Sumber : Bappeda,2004

100,00

Tabel. 26. Pengeluaran dari dana Dekon (Depdagri)


No 1 2 3 4 Uraian Sektor Kesehatan Pendidikan Pertanian Industri Jumlah 2001 4237826000 5620629000 1772600000 160000000 11791055000 % 35,94 47,67 15,03 1,36 100,00 2002 7474866000 7020629000 9199142000 195000000 23889637000 % 31,29 29,39 38,51 0,82 100,00 2003 6037826000 7420629000 160000000 13618455000 1,17 100,00 % 44,34 54,49

Sumber : Bappeda

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 23

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel. 27 Kriteria anggota Dewan berdasarkan Jenis kelamin Kriteria Anggota Dewan Tingkat Pendidikan SMU Diploma S1 2. Asal daerah Papua Non Papua 3. Agama Islam Kristen 4. Umur < 30 thn 30 55 thn > 55 thn 5. Partai Partai Golkar PDIP Partai Demokrat Partai Damai Sejahtera Partai Amanat Nasional PDK Partai Merdeka PSI PNI Marhaen PKB PBB PSI PBSD Sumber : DPRD No 1. Laki-Laki 11 3 10 14 10 4 20 3 17 4 5 3 2 1 1 5 1 1 1 1 2 1 1 Perempuan 1 1 1 1 1 Total 12 3 10 15 10 21 3 18 4 6 3 2 1 1 5 1 1 1 1 2 1 1

Tebal 28. Komposisi aparat pengadilan negeri Manokwari Laki-Laki 10 5 12 27 Sumber : Kantor Pengadilan Manokwari No. 1. 2. 3. Status Hakim Panitera Staf lainnya Perempuan 2 3 1 6 Total 12 8 13 33

Tabel 29. Jenis dan jumlah kasus yg ditangani, diselesaikan, backlog No. Jenis Kasus Ditangani 1. Pidana 58 2. Perdata 36 4. Tindak Pidana ringan 8 Sumber : Kantor Pengadilan Manokwari Status Perkara Diselesaikan 32 24 2 Daftar antri 26 12 6

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 24

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel. 30 Pertumbuhan PDRB Kabupaten Manokwari PDRB Atas Harga Berlaku PDRB Atas Harga Konstan Tahun Pertumbuhan Pertumbuhan (Rp. 000,-) (Rp. 000,-) (%) (%) 2000 773197.67 351209.59 2001 2002 871076.69 993749.90 12.66 14.08 362391.27 378444.93 3.18 4.43

Sumber : BPS Manokwari Tabel 31. PDRB atas dasar harga berlaku menurut sektor
Sektor No 1 Sektor Primer Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Perkebunan Peternakan & Hasilnya Kehutanan Perikanan Pertambangan dan Galian Minyak dan Gas Bumi Penggalian 2001 (Rp. 000) 511,951.06 502,901.57 111,234.42 65,292.08 29,702.44 190,061.14 106,611.49 9,049.49 9,049.49 2002 (Rp. 000) 576,077.43 566,082.27 123,934.97 77,093.91 32,316.17 211,424.01 121,313.21 9,995.16 9,995.16 149,741.79 64,773.33 54,886.23 9,887.10 6,198.78 5,678.36 520.42 78,769.68 267,930.67 71,955.33 63,646.81 929.26 7,379.26 37,611.29 15,070.36 6,277.88 3,475.78 2,880.51 1,432.29 8,474.48 21,268.15 7,514.00 547.41 12,114.39 1,092.35 137,095.90 125,726.25 6,450.41 2,410.13 2,509.11 993,749.89 Rata-rata PDRB (Rp.000) 544,014.25 534,491.92 117,584.70 71,193.00 31,009.31 200,742.58 113,962.35 9,522.33 9,522.33 144,684.66 61,917.21 52,283.23 9,633.98 5,841.86 5,339.34 502.52 76,925.60 243,714.39 67,439.26 59,631.35 834.24 6,973.68 34,980.05 13,207.56 6,154.83 3,360.56 2,735.33 1,390.17 8,131.61 20,508.41 7,201.00 530.92 11,733.70 1,042.79 120,786.68 110,047.04 6,016.43 2,314.67 2,408.55 932,413.30 Rata-rata Kontribusi Pertumbuhan (%) (%) 12.53 12.56 11.42 18.08 8.80 11.24 13.79 10.45 10.45 27.60 9.67 10.48 5.40 13.01 13.56 7.39 4.91 69.54 14.35 14.44 25.71 12.35 16.27 32.84 4.08 7.10 11.21 6.25 8.80 7.69 9.09 6.41 6.71 9.98 31.22 33.23 15.55 8.60 8.71 15.52 8.34

5 6

Sektor Sekunder 139,627.53 Industri Pengolahan 59,061.09 Industri besar/sedang 49,680.23 Industri kecil kerajianan Rt 9,380.86 Industri pengilang Gas Bm Listrik dan Air Minum 5,484.93 Listrik 5,000.32 Air Minum 484.61 Bangunan 75,081.51 Sektor Tersier 219,498.11 Perdagangan, Htl Restoran 62,923.19 Perdagangan 55,615.88 Hotel 739.21 Restoran 6,568.10 Transportasi& Komunikasi 32,348.80 Angkutan jalan raya 11,344.75 Angkutan laut 6,031.78 Angkutan sungai 3,245.33 Angkutan Udara 2,590.15 Jasa Penunjang Angkutan 1,348.05 Komonikasi 7,788.74 Keuangan, Persewaan Jasa 19,748.66 perusahaan Bank 6,888.00 Lembaga keuangan 514.43 Sewa Bangunan 11,353.00 Jasa Perusahaan 993.23 Jasa-jasa 104,477.46 Pemerintah Umum 94,367.82 Jasa Sosial Kemasyarakat 5,582.44 Jasa Hiburan dan rekreasi 2,219.21 Jasa Perorangan dan RT 2,307.99 871,076.70

26.14

Sumber : BPS Manokwari

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 25

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 32. PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor
No Sektor Sektor Primer Pertanian Tanaman Bahan Pangan Tanaman Perkebunan Peternakan dan Hasilnya Kehutanan Perikanan Pertambangan dan Galian Minyak Bumi &Gas Bumi Penggalian Sektor Sekunder Industri Pengolahan Industri Besar/sedang Industri Kecil Kerajinan RT Industri pengila. Gas Bumi Listrik dan Air Minum Listrik Air minum Bangunan Sektor Tersier Perdagangan, Hotel Restoran Perdagangan Hotel Restoran Transportasi dan Komunikasi Angkutan Jalan Raya Angkutan Laut Angkutan Sungai Angkutan Udara Jasa Penunjang Angkutan Komunikasi Keuangan, Persewaan jasa Bank Lembaga keu. bukan bank sewa bangunan jasa perusahaan Jasa-jasa Pemerintahan Umum Jasa Sosial Kemasyarakat Jasa Hiburan dan Rekreasi Jasa Perorangan dan RT 2001 (Rp. 000) 217,832.11 214,532.51 42,777.07 16,227.02 10,550.72 87,238.79 57,738.91 3,299.60 3,299.60 54,213.25 15,780.40 10,454.46 5,325.94 2002 (Rp. 000) 225,080.23 221,648.32 43,662.56 16,747.91 10,791.28 89,376.14 61,070.45 3,431.91 3,431.91 55,715.83 16,230.63 10,726.28 5,504.36 Rata-rata Rata-rata Kontribusi Pertumbuhan PDRB (%) (Rp.000) (%) 221,456.17 3.33 59.79 218,090.42 3.32 43,219.82 2.07 16,487.47 3.21 10,671.00 2.28 88,307.47 2.45 59,404.68 5.77 3,365.76 4.01 3,365.76 54,964.54 16,005.52 10,590.37 5,415.15 4.01 7.99 2.85 2.60 3.35

14.84

5 6

2,189.80 1,938.43 251.37 36,243.05 90,345.91 25,607.25 21,707.24 280.97 3,512.10 14,547.81 3,942.44 2,285.00 2,344.30 1,083.74 927.53 3,964.80 9,467.50 2,240.39 344.42 6,157.19 725.5 40,723.35 36,634.15 2,700.18 515.24 873.78 362,391.27

2,241.85 1,984.73 257.12 37,243.35 97,648.87 27,107.38 22,782.38 280.97 3,757.94 15,094.73 4,062.68 2,319.05 2,413.69 1,119.94 963.32 4,216.05 9,525.14 2,145.56 351.17 6,267.65 760.76 45,921.62 41,653.03 2,843.87 531.26 893.46 378,444.93

2,215.83 1,961.58 254.25 36,743.20 93,997.39 26,357.32 22,244.81 280.97 3,635.02 14,821.27 4,002.56 2,302.03 2,379.00 1,101.84 945.43 4,090.43 9,496.32 2,192.98 347.80 6,212.42 743.13 43,322.49 39,143.59 2,772.03 523.25 883.62 370,418.10

2.38 2.39 2.29 2.76 22.99 5.86 4.95 7.00 3.76 3.05 1.49 2.96 3.34 3.86 6.34 0.61 (4.23) 1.96 1.79 4.86 12.76 13.70 5.32 3.11 2.25

25.38

Sumber : BPS Kabupaten Manokwari

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 26

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 33. Jumlah Tenaga Kerja Menurut Sektor 2000 No Sektor Primer Pertanian Tambang Galian Sekunder 3 4 5 6 Bangunan Tersier Transportasi Perdagangan Jasa-jasa Jumlah 861 131 309 410 21.975 3.344 7.887 10.465 100.00 0 942 131 329 410 4100 22.976 3.195 8.024 10.000 100.00 0 1.176 131 384 593 3397 0.035 3.856 11.304 17.456 100.00 0 Jumlah proporsi (%) 42.394 13.936 2001 Jumlah 1661 627 proporsi (%) 40.512 15.293 2002 Jumlah 1661 627 proporsi (%) 48.894 18.457

1 2

1661 546

3918 Sumber : Dinas Tenaga Kerja

Tabel 34. Jumlah angkatan kerja, yang bekerja dan pengangguran


No 1 2 3 4 5 6 Tahun 1997 1998 1999 2001 2002 2003 labforce 38155 99105 93193 171776 123338 109797 working 36405 97050 84478 166206 121558 108204 employ 32655 14079 40196 32400 16318 11184 unemp (%) 4,59 2,07 9,35 3,24 1,44 1,45

Sumber : BPS Pusat Tabel 35. Nilai Perdagangan yang masuk dan keluar Manokwari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sektor Primer Pertanian Perikanan ambangGal Sekunder Industri ListrikAir Bangunan Tersier PerHotRes AngKom Lem Keu Jasa Import (Juta Rp.) 17,471.72 7,936.67 579.51 45,482.43 Eksport (Juta Rp.) 87,398.01 41,759.83

20,745.10 -

29,808.86 12,998.21 8,084.46 28,460.59 150,822.45 149,902.94 Sumber: Hasil pengolahan Tabel Input Output Manokwari,2000

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 27

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 36. Jumlah Koperasi di wilayah Manokwari dan Papua Wilayah JUMLAH KOPERASI Manokwari 289 Papua 2211 Sumber : Dinas Koperasi dan PKM, Papua Tabel 37. Sebaran Jumlah Sarana Kesehatana Jenis Prasarana 1. Rumah Sakit Umum 2. Rumah Bersalin 3. Poliklinik Jumlah 1 1 44 Lokasi *) Kab. Manokwari Kab. manokwari Kabupaten,distrik Keterangan Pemerintah pemerintah Pemerintah, swasta, TNI Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah pemerintah

4. Puskesmas 70 Kabupaten,distrik 5. Puskesmas Pembantu 73 Kabupaten,distrik 6. Puskesmas Keliling 5 Kabupaten,distrik 7. Posyandu 189 Kabupaten,distrik 8. Lain-lain 57 Kabupaten,distrik *) Kota kabupaten/kota distrik/kelurahan/kampung/

Tabel. 38

Jumlah Dokter Menurut Pendidikan, Jenis Kelamin dan Daerah Asal Jumlah Asal Daerah Papua Luar Papua L P L P 2 10 6 1 3 1 2 10 10 1

Pendidikan

L P Dokter Umum 8 11 Dokter Spesialis 3 1 Jumlah 12 11 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tabel. 39.

Jumlah Perawat Menurut Pendidikan, Jenis Kelamin dan Daerah Asal Asal Daerah Jumlah Pendidikan Papua Luar Papua L P L P L P SLTP 11 5 7 1 4 4 SLTA 200 65 155 30 45 35 Diploma 47 17 30 4 17 13 Strata I Jumlah 258 87 192 35 66 52 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 28

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 40. Kondisi Kesehatan Masyarakat No 1 2 3 Kondisi Kesehatan Angka Kematian Bayi per 1000 Penduduk dengan keluhan kesehatan % Rata-rata lama sakit (hari) Penduduk yang melakukan pengobatan sediri (%) 4 5 Kelahiran ditolong tenaga medis % Sumber : BPS, Pusat Nasional 43,5 24,5 5,8 60,6 66,7 Papua 50,5 19,3 4,7 38,7 51,8 Manokwari 47,7 14,4 5,1 27,1 58,7

Tabel. 41 Jenis Penyakit Yang Ditangani No. Jenis Penyakit 1. Malaria tanpa pemeriksaan lab dan 2. Malaria Tropika (P.Falsifarum) 3. TBC 4. Kulit alergi, , 5. Kulit karena jamur, 6. kulit infeksi 7. infeksi telinga tengah 8. Diare (termasuk tersangka kolera) 9. Penyakit mata lainnya 10. Penyakit kecacingan 11. Infeksi akut lain pada saluran pernafasan Sumber: Dinas Kesehatan, 2004 Tabel 42. Kondisi Kesehatan Indikator Angka kematian Bayi Angka Kematian Balita Angka Kematian Ibu Pertolongan persalinan oleh bidan desa Sumber:Dinas Kesehatan, 2004 2000 85 60 10 1538 Proporsi (%) 19.78 1.32 1.21 2.20 2.04 6.47 1.16 4.66 2.03 1.70 16.94

Bayi Balita dan Bumil di Wilayah Manokwari Tahun 2001 2002 35 35 35 36 12 17 1510 1403 2003 45 21 7 1437

Tabel 43. Perbandingan Kondisi kesehatan Wilayah Manokwari, Papua dan Nasional No. Kondisi Kesehatan Nasional Papua Manokwari 1 Angka Kematian Bayi per 1000 43,5 50,5 47,7 2 Penduduk dengan keluhan kesehatan % 24,5 19,3 14,4 3 Angka Morbiditas % 15,3 11,7 12,1 4 Rata-rata lama sakit (hari) 5,8 4,7 5,1 5 Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri % 60,6 38,7 27,1 6 Kelahiran ditolong tenaga medis % 66,7 51,8 58,7 Sumber : BPS Pusat

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 29

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 44. Jumlah sekolah menurut jenis, jenjang dan status No Sekolah Jumlah sekolah 1 TKK 30 2 SDN 127 3 SD Swasta 102 4 SLTP N 25 5 SLTP Swasta 9 6 SMU N 3 7 SMU Swasta 7 8 SMK 2 Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Ruang belajar 52 826 503 181 27 41 33 27

Tabel 45. No 1 2 3 4 5 6 7 8

Jumlah Murid dan

guru pada setiap Jenjang Pendidikan Jumlah Guru 56 1078 599 340 42 82 34 41 2272

Sekolah Jumlah Murid TKK 1917 SDN 20916 SD Swasta 11598 SLTP N 7034 SLTP Swasta 1569 SMU N 1845 SMU Swasta 1765 SMK 1133 Jumlah 47777 Sumber: Dinas P dan P, 2004

Tabel 46. Jumlah Murid Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Asal Jenjang 1. 2. 3. 4. TK SD SLTP SLTA Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 949 938 13606 11712 3921 3239 3174 2255 21650 18144

Sumber : Dinas P dan P Tabel 47. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Asal Jenis Kelamin Jenjang Laki-laki Perempuan 1. TK 32 2. SD 647 442 3. SLTP 233 164 4. SLTA 193 170 Sumber : Dinas P dan P

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 30

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 48. Ratio Murid, Guru, Ruang belajar dengan Sekolah No Sekolah Ratio Murid & Ruang belajar 37 25 23 39 58 45 53 42 Sekolah & Ruang belajar 2 7 5 7 3 14 5 14

Sekolah & Murid

Sekolah & Guru 2 8 6 14 5 27 5 21

Murid &Guru 34 19 19 21 37 23 52 28

1 TKK 64 SDN 2 165 3 SD Swasta 114 4 SLTP N 281 SLTP Swasta 5 174 6 SMU N 615 7 SMU Swasta 252 SMK 8 567 Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel 49. Partisipasi Sekolah berdasarkan Usia Sekolah Wilayah Nasional Papua Manokwari Sumber : BPS Pusat 7-12 96,1 86,8 85,5 13-15 79,3 78,6 61,8 16-18 49,9 52,4 51,3 19-24 11,7 9,7 9,7

Tabel 50. Angka Putus Sekolah Usia Sekolah Nasional Papua Manokwari Sumber: BPS Pusat 7-15 2,8 3,4 2,5 16-18 9,5 15,6 6,0 19-24 11,1 24,6 18,2

Tabel 51. Jumlah Pegawai Menurut Pendidikan, Jenis Kelamin , Daerah Asal Jenis Kantor 1. Pert. Pangan 2. Perkebunan 3. Peternakan 4. Perikanan 5. Kehutanan Jumlah Jenis Kelamin Lk 51 49 47 29 77 253 Pr 18 8 7 14 10 57 SD 4 8 3 2 12 29 SLT P 6 0 1 0 9 16 Pendidikan SLTA 40 28 29 28 50 175 Dip 4 8 4 5 2 23 S-1 13 13 12 9 13 60 S-2 2 0 1 1 1 5 Asal P 45 37 32 34 41 189 NP 24 20 22 8 46 120

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 31

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 52. Produktivitas Tanaman Pangan Jenis Komoditi 1.padi sawah 2.padi ladang 3.jagung 4.kedelai 5.kacang tanah 6.kacang hijau Luas (Ha) 3.435 1.007 2.768 2.763 1.402 866 Jumlah Produksi (Ton) 8.786 1.589 3.990 2.258 1.498 747 Produktivitas (Ton/ha) 2.56 1.58 0.14 0.82 1.07 0.86

Sumber : Dinas Tanaman Panngan, 2004 Tabel 53. Produksi Tanaman Perkebunan Luas Jumlah Produksi Jenis Komoditi (Ha) (Ton) 1. kakao 2,902,6 890,27 2. kelapa sawit 13,906,99 114.339,27(tbs) 3. kelapa 1.811,9 1.307,75 4. cengkeh 103,9 33,27 5. kopi 392,2 95,16 6. pala 222 22 Sumber : Dinas Perkebunan, 2004 Tabel 54. Produksi Peternakan Jenis Komoditi 1. Sapi 2. Kambing 3. Ayam Buras 4. Ayam Ras 5. Bebek 6. Itik Sumber : Dinas Peternakan Tabel 55. Produksi Perikanan Jenis Komoditi 1. Tuna/cakalang 2. Teripang 3. Minyak hati cucut 4. Sirip hiu 5. Lobster Sumber : Dinas Perikanan Jumlah Produksi (Ton) 1.200 20,20 5,67 1,15 5,65 Jumlah Produksi (ekor) 17.529 5.464 323.468 129.658 18.258 45.881

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 32

KABUPATEN MANOKWARI
Tabel 56. Produksi Kehutanan Jumlah Produksi Jenis Komoditi 1. kayu bulat 32.253,27 M3 2. kayu olahan 1.792,83 M3 3. kemedahan 700 KG Sumber : Dinas Perikanan

Keterangan *) Pemasok bahan baku Industri kayu olahan Hasil hutan Non kayu

Tabel 57. Sarana Transportasi No. Deskripsi Keterangan 1. Jalan Panjang jalan 795,400 km, Kelas III ,Kondisi baik 2. Dermaga Kade 1 , - panjang 73 m - kelas 4- kapasitas sandar 3000 dwt - kondisi baik - kepadatan 2 ton/m2 Kade 2, - panjang 90 m - kelas 4- kapasitas sandar 7000 dwt - kondisi baik kepadatan 2 ton/m2 3. Bandara - panjang landasan 2000 x 30 m - kapasitas (penampung jenis pesawat boeing 737, seri 200, foker 100, twin oter, foker 27, wings, cesna, caravan), - kondisi baik - kepadatan (tebal 7,5 cm) Sumber : Dinas Perhubungan Darat, Laut, Udara, dan DPU Tabel 58. Akses Pelayanan Air Bersih bagi Masyarakat

No 1 2 3 4

Tahun 1997 1998 1999 2001

Pelayanan Air Bersih (%) 49 47 45 52

Sumber: BPS

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

II - 33

KABUPATEN TELUK WONDAMA

III. KABUPATEN TELUK WONDAMA


1. KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah Secara geografis posisi Kabupaten Teluk Wondama berada pada daerah leher Kepala Burung Papua dengan topografi 30 % pegunungan dan dataran tinggi, 50 % dataran rendah dan 20 % bergelombang. Lahan yang potensial seluas 40.000 ha dengan topografi relatif bergelombang 0-25 %. Luas daratan pada taman nasional 68.200 ha, pesisir pantai 12.400 ha, daratan dan pulau-pulau 55.800 ha Dari luasan tersebut luas daratan hanya 41 %. Berdasarkan laporan sekilas pandang Kabupaten Teluk Wondama terdapat cadangan mika sebesar 90,11 juta metrik ton, genis kuarsa 61,21 juta metrik ton dan genis pragmatic 11,59 juta metrik ton serta jenis batu marmer alam, disamping potensi hutan dan sumberdaya perikanan. 1.2. Pembagian administratif wilayah Kabupaten Teluk Wondama merupakan suatu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002 dengan batas wilayah yaitu sebelah utara dengan Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari dan Teluk Cendrawasih, sebelah selatan dengan Distrik Yaur Kabupaten Nabire, sebelah barat dengan Distrik Kuri dan Idoor Kabupaten Teluk Bintuni dan sebelah timur dengan Distrik Yaur Kabupaten Nabire. Secara Administrasi Kabupaten Teluk Wondama terdiri dari 7 Distrik dengan jumlah kampung sebanyak 56 sehingga luas keseluruan wilayahnya adalah 5525 km2 (Tabel 1). Tabel 1. Pembagian Administrasi Wilayah Kabupaten Teluk Wondama No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Wasior Wasior Utara Wasior Selatan Wasior Barat Windesi Wamesa Rumberpon Ibu kota Rasei Aisandami Wondiboi Wombu Windesi Sabubar Yembekiri Luas (km2) 661 720 838 546 680 720 1360 5525 Sumber: Pemda Kabupaten Teluk Wondama, 2004 Catatatan : Terdapat perbedaan luas wilayah antara beberapa laporan 1.3. Keadaan Sosial Ekonomi Jumlah penduduk Kabupaten Teluk Wondama pada tahun 2003 telah mencapai 17.076 jiwa dan terdapat 4.030 kepala keluarga. Kepadatan penduduknya mencapai 3,39 jiwa/km2 dengan laju pertumbuhan penduduknya Jumlah Kampung 11 6 14 7 6 5 7 56

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 1

KABUPATEN TELUK WONDAMA


sebesar 2,24 % per tahun. Suku terbesar yang mendiami Kabupaten Teluk wondama adalah Suku Wamesa sedangkan suku minoritasnya merupakan suku pendatang Biak, Bugis Makasar, Jawa dan beberapa suku lainnya di tanah papua dan non papua Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin (Tabel 2) menunjukkan bahwa 53,07 % berjenis kelamin laki-laki dan 46,92 % berjenis kelamin perempuan. Dari jumlah tersebut umumnya penduduk terkonsentrasi di Distrik Wasior Selatan dan Distrik Wasior. Seluruh Distrik cenderung memiliki proporsi jumlah penduduk laki-laki kecuali Distrik Wamesa yang memiliki proporsi lebih banyak jumlah penduduk perempuan. Tabel 2. Penyebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin DISTRIK L WASIOR 2046 Wasior Utara 1015 Wasior Selatan 2992 Wasior Barat 819 Windesi 1048 Wamesa 442 Rumberpon 1334 Jumlah 9696 Sumber : Pemda Teluk Wondama,2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 P 1929 819 1453 394 901 522 1362 7380 Jumlah 3975 1834 4445 1213 1949 964 2696 17076

Catatan : Sumber data yang diperoleh pada bagian pemerintahan berbeda dengan
profil Sekilas tentang Kabupaten Teluk Wondama sedangkan informasi dati salah satu camat menyatakan bahwa masih terdapat masyarakat di hutan yang belum datang ke wilayah Distriknya sehingga datanya belum akurat)

Lembaga sosial masyarakat (LSM) yang berperan dalam masyarakat telah ada sejak wilayah ini masih berada dalam wilayah Kabupaten Manokwari, lembaga lembaga tersebut berperan dalam kegiatan konservasi pada kawasan lindung dan ditengah masyarakat untuk merencanakan program kerja untuk diusulkan ke musresbang. Lebih dari 60 persen dari penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan sekaligus sebagai petani dengan struktur pendapatan rendah hingga menengah. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil tangkapan ikan yang diperoleh dan kurang respons terhadap pasar karena akses ke pasar yang terbatas, sehingga kelebihan produksi di lakukan pengolahan hasil tangkapan dengan

cara pengasinan.
Di samping sebagai nelayan, penduduk juga bercocok tanam dan berburuh. Jenis tanaman yang diusahakan hortikultura, palawija seperti singkong, ubijalar, tanaman kelapa serta berburuh hewan di hutan. Usahatani ini dilakukan dengan corak subsiten. 1.4. Angka Kemiskinan Sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten Manokwari, maka dengan jumlah penduduk 17.067 jiwa, maka berdasarkan Susenas tahun 1999 dan 2002 untuk Kabupaten Manokwari, maka indeks kemiskinan manusia sebelum otsus sebesar 37,5 kemudian pada tahun 2002 indeksnya meningkat menjadi 39, begitu pula dengan peringkat Indeks Kemiskinan Manusia menurun peringkatnya. Bila dibandingkan dengan tingkat provinsi indeks kemiskinannya masih di bawah rata-rata (Tabel 3)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 2

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 3. Indeks Kemiskinan Manusia Kabupaten Teluk Wondama Uraian Indeks Kemiskinan Manusia Peringkat IKM Tahun 1999 2002 1999 2002 Nasional 25,2 22,7 Papua 31,3 30,9 22 28 Wondama 37,5 39,0 279 332

Sumber: BPS 2. KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


Secara umum jumlah personil Pemda yang bekerja di Kabupaten Teluk Wandama akhir tahun 2004 terdaftar sebanyak 300 pegawai yang umumnya terkonsentrasi di Kantor Bupati dan Dinas-Dinas, sedangkan jumlah personil berdasarkan golongan (Tabel 4) menunjukkan bahwa personil dengan golongan III lebih besar proporsinya. Dari jumlah pegawai tersebut terdapat 214 personil pegawai pemda (71,3%) yang bekerja di pusat Kabupaten sedangkan sisanya terdistribusi di Kecamatan. Berdasarkan jenis kelamin terdapat 28 % personil pemda yang berjenis kelamin perempuan.

Tabel 4. Personil Instansi berdasarkan Golongan, Jenis kelamin


No 1. 2. 3. 4 5 6 7 8 9 10 Instansi Pertanian , kehutanan, dan lingkungan Pendapatan Daerah, Perekonomian dan perdagangan BP3D Pendidikan Pengajaran Kebudayaan Pariwisata Tenaga Kerja dan Pemberdayaan perempuan Kesehatan,Kesejahteraan masyarakat DPU dan perhubungan Ktr KESBANG,Perlindugan masyarakat Ktr capil,kependudukan,KB Sekda Gol. I L P 1 1 1 3 0 Jumlah Pegawai dalam Gol. II Gol. III L P L P 12 2 4 16 3 9 3 1 2 10 62 1 1 1 3 1 10 0 1 2 9 29 13 8 8 9 5 13 5 5 4 14 84 2 3 2 13 3 2 3 0 0 3 31 Gol. IV L P 1 1 1 2 5 -

Sumber : Pemda Teluk Wondama, 2004 Berdasarkan tingkat pendidikan maka distribusi tingkat pendidikan pegawai negeri di Kabupaten Wondama (Tabel 5) menunjukkan bahwa pegawai negeri di Kabupaten Wondama yang berpendidikan SMU mencapai 60 % sedangkan yang berpendidikan S1 mencapai 18 %.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 3

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 5. Sebaran pegawai berdasarkan tingkat pendidikan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pendidikan SD SLTP SLTA D-I D-II D-III/SM D-IV S-1 S-2 S-3 Jumlah 6 8 203 2 21 29 65 % 1,80 2,40 60,78 0,60 6,29 8,68 0,00 19,46 0,00 0,00

334 Sumber : BKN Dilihat dari sisi usia , maka umur poegawai berkisar antara 18 sampai 60 tahun dengan proporsi terbanyak pada usia 26 s/d 30 tahun yang mencapaiu 24 % dari jumlah pegawai.(Tabel 6) Tabel 6. Distribusi pegawai berdasarkan Usia. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Usia 18 - 20 21 - 25 26 - 30 31 - 35 36 - 40 41 -45 46 - 50 51 - 56 57 - 60 Jumlah 13 55 77 58 54 14 29 31 3 334 % 3,89 16,47 23,05 17,37 16,17 4,19 8,68 9,28 0,90

Sumber : BKN
Berdasarkan jenis kelamin pegawai negeri, terdapat 26 % pegawai negeri perempuan dan 74 % pegawai laki-laki (Tabel 7) Tabel 7. Distribusi pegawai berdasarkan Jenis kelamin Wilayah Teluk Wondama Papua Sumber : BPS Pria 0,74 0,60 Wanita 0,26 0,40

Berdasarkan golongan kepangkatan menunjukkan bahwa 62 % berada pada golongan II, sedangkan golongan IV hanya 1 % (Tabel 8).

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 4

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 8. Distribusi pegawai berdasarkan golongan kepangkatan Golongan I II III IV % 6 62 31 1

Fasilitas penunjang berupa perumahan Pemda di peruntukkan bagi pegawai Negeri yang melakukan aktyivitas pelayanan di Kabupaten Teluk Wondama. Kondisi perumahan Pemda umumnya kurang layak untuk ditempati (Tabel 9) sehingga hamper sebagian besar pegawai Pemda tinggal di rumah masyarakat dan mendiami kantor sebagai tempat tinggal Tabel 9. Perumahan Pegawai Pemda No. Dinas Kondisi Perumahan (unit) Layak Kurang Total Layak 1 1 3 5 8 1 1 1 1 4 4 1 1 1 1

1 Pertanian Luas 2 Pendidikan dan Pengajaran 3 Kebudayaan dan Pariwisata 4 Sosial 5 Kesehatan 6 Bawasda 7 Mes Pemda Sumber : Pemda Teluk Wondama

Kelembagaan Pemda Teluk Wondama terdiri dari Bupati dan Sekretaris daerah yang membawahi Asisten Bidang Pemerintahan dan Asisten Bidang Umum. Asisten bidang pemerintahan terdiri dari : bagian tata pemerintahan bagian hukum dan organisasi Asisten bidang Umum terdiri dari : bagian kepegawaian, bagian keuangan & pengelolaan pendapatan daerah dan bagian umum. Dinas yang di bentuk sebanyak 7 Dinas yang terdiri dari : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perekonomian daerah, Dinas pekerjaan Umum, Dinas pertanian dan Kehutanan dan Dinas Perikanan dan kelautan. Badan yang dibentuk masing-masing : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Pengawasan Daerah. Kantor yang di bentuk masing-masing Kator KESBANG,Perlindugan masyarakat Kator Capil, Kependudukan, dan KB

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 5

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Struktur yang terbentuk ini belum sepenuhnya berjalan dengan baik hal ini disebabkan karena : 1. Belum dilengkapi dengan tupoksi 2. Keterbatasan staf terutama pada pelayanan dasar kesehatan 3. Umumnya staf masih dalam tahap adaptasi dan belum memiliki tempat tinggal yang layak

3.

KEUANGAN DAERAH
3.1. Penerimaan Penerimaan Kabupaten Teluk Wondama yang dialokasikan selama 2 tahun terakhir (Tabel 10) menunjukan bahwa penerimaan dari dana otsus yang terbesar, sedangkan PAD nya hanya sebesar Rp 663.000.000. Tabel 10. Sumber penerimaan Kabupaten Teluk Wondama No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Uraian Penerimaan Pajak, Retribusi penerimaan dinas-dinas dividen BUMD PBB, PPN IHH, IHPH, Bagi hasil nonpajak/SDA DAU DAK Otsus Dana 40 % Otsus program 60 % PAD 2004 % 2003 %

27895000000 4000000000 13293008000 19939512000 663000000 65790520000 Sumber : Pemda Teluk Wondama

42,40 6,08 20,21 30,31 1,01

5000000000 5000000000

50 50

10000000000

Perolehan penerimaan Kabupaten baru bersumber pada PAD, DAU (Kepres RI No. 109 Tahun 2003), DAK dan Dana Otsus karena kabupaten ini baru memulai menata kelembagaannya dalam menjalankan fungsi pelayanan sehingga terdapat beberapa potensi penerimaan yang belum ditangani secara baik. 3.2. Pengeluaran Pengeluaran Pembangunan selama tahun 2003 dan 2004 untuk aparatur dan publik berdasarkan laporan pertanggungjawaban Bupati kepada masyarakat pada Bulan Desember 2004 (Tabel 11) menunjukkan bahwa pengeluaran publik sebesar 62,74 %, dan berdasarkan sektor dari belanja publik, pengeluarannya didominasi oleh sektor pengawasan dan aparatur pemerintah Kabupaten yang mencapai 41 %.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 6

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 11. Struktur Pengeluaran Pembangunan Kabupaten Teluk Wondama No. 1 Uraian Pengeluaran Aparatur gaji pegawai Barang Pemeliharaan Perjalanan lain-lain 2.13 Mandat Bupati 2.14 Bantuan 2.15 tak terduga 2 2004 2003

1287100000 3582300000 561390000 1267000000 707600000 255360000 670000 7200000000

8,661 24,105 3,777 8,525 4,761 1,718 0,005 48,448

Kab.Induk

3.000.000.000 2.000.000.000

Publik Kesehatan, kes social, 1379450000 peranan wanita anak dan remaja, agama Kependudukan dan Kel 179000000 sejahtera Pendidikan kebudayaan 1550383300 Pertanian kehutanan 442100000 Transportasi-komunikasi 2346750000 Lingkungan Hidup dan 311200000 Tataruang Perdagangan Koperasi 792000000 Pemukiman 124000000 Pariwisata 233300000 Tenaga kerja 126250000 Pemerintahan dan 19719951700 pengawasan Keamanan ketertiban 53123000 Umum Sumber: Pemda Teluk Wondama

5,061 0,657 5,688 1,622 8,610 1,142 2,906 0,455 0,856 0,463 72,347 0,195

5.000.000.000

Pengeluaran pembangunan yang dibiayai oleh provinsi dari dana otsus sebesar Rp. 19.939.512.000 dan lebih dari 50 % dari dana tersebut dialokasikan untuk transportasi dan komunikasi (Tabel 12) Tabel 12. Pengeluaran pembangunan yang dibiayai Provinsi No 1 2 3 4 5 Uraian Dana Otsus Kesehatan, kesj sosial, peranan wanita anak dan remaja Pendidikan kebudayaan Transportasi-komunikasi Industri Konstruksi 2004 19939511200 2990926000 3987902400 10966731600 1789200000 204751200 %

15.0 20.0 55.0 9.0 1.0

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 7

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Sedangkan pengeluaran pembangunan yang dibiayai dari APBN sebesar Rp. 2.625.000.000 dan sebesar 60,9 % dialokasikan untuk sektor kesehatan sedangkan sisanya untuk rehabilitasi darmaga (Table 13). Tabel 13. Pengeluaran Pembangunan yang dibiayai dari APBN No Uraian 2004 1 Kesehatan 1600000000 2 Pendidikan 3 Pertanian 4 Transportasi-(rehabilitasi darmaga) 1025000000 Sumber : Pemda Teluk Wondama % 60,9

39,1

4.3. Alokasi langsung ke bawah (distrik, kampung, masyarakat)

Berdasarkan wanwancara dengan salah satu camat menujukkan bahwa sampai saat ini distriknya belum tersentuh dengan kegiatan pembangunan sebab dengan kondisi sekarang ini untuk ke distrik tersebut diperlukan 1 hari perjalanan dari pusat kabupaten dan bahkan terdapat kampung yang di jangkau dengan lama perjalanan 7 hari sehingga banyak kegiatan-kegiatan pembangunannya terpusat di pusat Kabupaten. Misalkan pemerintah mensubsidi tranportasi laut Wondamamanokwari yang diperuntukan untuk masyarakat. Kegiatan lainnya berupa bantuan alat penangkapan ikan, pembangunan beberapa kantor, dan beberapa pelayanan dasar kepada masyarakat seperti kesehatan pembangunan puskesmas, pendidikan pembangunan sekolah 4.4. Observasi, opini, kesimpulan tentang sistem pengelolaan keuangan daerah.
Kabupaten Teluk Wondama telah memiliki buku informasi jabatan struktural dan non struktural perangkat daerah dan Rencana Tataruang ibu kota Kabupaten serta Agenda Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. Dokumen tersebut belum dijadikan acuan dalam pembiayaan pembangunan dan penataan kelembagaan dalam menunjang pembangunan Kabupaten Teluk Wondama. Menurut beberapa pejabat bahwa dokumen tersebut belum dilengkapi dengan data-data kuantitatif yang mampu menggambarkan profil sesungguhnya dari Kabupaten Teluk Wondama. Sistem pengelolaan keuangan daerah dalam pembiayaan pembangunan daerah belum memiliki kerangka acuan sebagai sistem perencanaan yang mampu menjaring aspirasi masyarakat, bahkan peran dari lembaga perwakilan rakyat belum berfungsi sebagaimana mestinya. Dari diskusi-diskusi dengan beberapa pejabat setempat menunjukkan bahwa terdapat beberapa program kegiatan yang telah ditetapkan penggunaan dananya namun yang dialokasikan tidak sebesar dengan yang ditetapkan tersebut, sehingga output yang diharapkan belum mampu direalisasi. Pembiayaan Kelembagaan daerah yang dapat mendukung akan penyelenggaraan pembangunan daerah belum semuanya sinkron dengan jabatan struktural dan non struktural perangkat daerah hal ini disebabkan karena Tupoksi yang mendukung kelembagaan tersebut belum di jabarkan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 8

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Undang-undang otsus yang menetapkan 30 % untuk pendidikan dan 15 % untuk kesehatan belum semuanya mampu diakomodasi dalam pengelolaan keuangan, berdasarkan laporan administrasi yang diperoleh hanya sektor kesehatan yang mengalokasikan dana otsusnya sebesar 15 %, sedangkan sektor pendidikan hanya 20 %. Sedangkan yang terbesar adalah sektor transportasi dan komunikasi yang mencapai 55%.

5.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


Jumlah anggota DPRD Kabupaten Teluk Wondama sebanyak 20 orang dengan latar belakang pendidikan SMU sebanyak 16 orang dan sarjana sebanyak 4 orang. Dari jumlah tersebut terdapat satu perempuan. Adapun distribusi jumlah partai yang terwakili adalah : Partai Golkar 7 orang Partai Damai Sejahtera 3 orang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 3 orang PKP 2 orang PBB 1 orang PPP 1 orang PNI Marhain 1 orang PDK 1 orang Partai Demokrat 1 orang Pembentukan fraksi dan komisi belum dilakukan begitu juga pengertian fungsi dan peran DPRD walaupun sudah mendapat pembekalan dari Depdagri namun sampai saat ini peran tersebut belum direalisasikan di dalam kelembagaan tersebut Visi kedepan belum memperoleh kesepakatan yang legal karena masih dalam tahap penjaringan aspirasi sebab sampai saat ini belum dilakukan pemilihan ketua dan wakil ketua sehingga fungsi mereka belum sepenuhnya nampak Sistem pengadilan Formal, Pengadilan Negeri, masih ditangani di Kabupaten induk sedangkan Organisasi Pengadilan Traditional masih terbatas pada kelompok masyarakat lokal dengan sistem denda atas pelanggaranpelanggaran yang dilakukan.

6.

KEADAAN EKONOMI, 2003


6.1. PDRB PDRB Kabupaten Teluk Wondama Tahun 2003 berdasarkan atas harga berlaku seperti pada Tabel 14. Proporsi terbesar yang memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Teluk Wondama adalah sektor pertanian yang mencapai 91,5 %(Pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan). Potensi-potensi yang mampu menciptakan PDRB menurut laporan Pemda Teluk Wondama yaitu : Sektor perkebunan kakao dengan produksi 9,04 ton per ha Sektor perikanan tahun 2002 diperoleh 6.000 ton ikan tuna, 3.000 ton pelagis, 1500 ton ikan demesal dan 14 ton teripang Sektor Kehutanan terdapat jenis kayu merbau, matoa, rimba campuran dan non kayu berupa gaharu, lawang, masoi,rotan, bambu dan tepung sagu basah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 9

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Sektor pertambangan terdapat cadangan mika 90,11 juta metrik ton, genis kuarsa 61,21 juta metrik ton dan jenis pragmatic 11,59 juta metrik ton dan jenis batu marmer . Sektor pariwisata terdapat taman Nasional Teluk Cenderawasih yang luasnya 68.200 ha Sektor pertanian beupa padi sawah, jagung,ketela,kacang-kacangan, buahbuahan, sayur-sayuran, sagu Sektro peternakan umunya masih dilakukan secara tradisional oleh masyarakat

Tabel 14. Distribusi Sektor Ekonomi Kabupaten Teluk Wondama


Sektor Agriculture Mining Manufacture Electricity, Gas, Water Construction Trade Transportation Financial Services Public Service GRDP Sumber : BPS, Papua 2004 6.2. Ketenagakerjaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2003 (Rp) 26,504,279,297 235,970,001 401,130,005 15,450,000 462,059,998 219,490,005 289,410,004 456,757,446 380,929,993 28,965,476,748 Proporsi (%) 91.50 0.81 1.38 0.05 1.60 0.76 1.00 1.58 1.32 100.00

Ketenagakerjaan yang terlibat dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten dengan baik, namun secara umum dapat sektor bangunan lebih mendominasi membangun berbagai infrastrukturnya.
6.3. Perdagangan, kredit

sektor-sektor ekonomi yang Teluk Wondama belum terdata dilihat bahwa tenaga kerja dari di pusat Kabupaten dalam

Perdagangan hasil-hasil yang diperoleh pada wilayah Teluk Wondama masih terbatas pada aktivitas masyarakat dalam skala kecil terutama-hasil-hasil pertanian, perikanan Lembaga-lembaga perkreditan yang dapat menunjang akan aktivitas tersebut belum tersedia 6.4. Observasi, kesimpulan

Potensi sektor-sektor ekonomi yang membentuk PDRB Kabupaten Teluk Wandama haus dipacu dengan berbagai program kegiatan untuk menggerakkan perekonomian Kabupaten Wondama. Perhitungan pembentuk PDRB yang mengukur akan kondisi perekonomian Teluk Wondama tersebut seharusnya sudah dapat di pilah berdasarkan sector melaluai struktur upah gaji, surplus usaha, penyusutan, pajak dan barang-barang import serta besarnya tenaga kerja pada masing-masing sector tersebut. Oleh sebab itu pembuatan PDRB Kabupaten Teluk Wondama untuk tahun 2004 harus segera di

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 10

KABUPATEN TELUK WONDAMA


realisasi, sehingga akan mampu menggambarkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Teluk Wondama.

7.

PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA


7.1. Kesehatan 7.1.1. Kebijakan daerah pada sektor kesehatan yaitu : Lingkungan sehat, Perilaku sehat, Sadar kebersihan, Perbaikan gizi masyarakat, Pengawasan obat makanan dan bahan berbahaya, Pengadaan dan peningkatan fasilitas kesehatan. 7.1.2. Indikator sumberdaya pelayanan:

Fasilitas kesehatan hanya Puskesmas sebanyak 2 unit yang sersebar di Distrik Wasior dan Windesi sedangkan puskesmas pembantu sebanyak 8 unit tersebar di semua distrik (Tabel 15). Tabel 15. Prasarana Kesehatan kabupaten Jenis Prasarana Jumlah 1. Rumah Sakit Umum 2. Rumah Bersalin 3. Poliklinik 1 4. Puskesmas 2 5. Puskesmas Pembantu 8 6. Puskesmas Keliling 7. Posyandu 24 8. Lain-lain/Polindes 11 Sumber : Pemda Kab Teluk Wondama Teluk Wondama Lokasi Wasior,windesi Tiap distrik Tiap desa -

Petugas Kesehatan yang melayani masyarakat pada masing-masing puskesmas pembantu sebanyak 23 tenag. Distribusi tenaga kesehatan berdasarkan tingkat pendidikan, jenis Kelamin dan daerah asal (Tabel 16) menunjukkan bahwa terdapat 35,7 % Perawat dan sisanya adalah Mantri. Sedangkan tenaga kesehatan yang dari papua sebanyak 78,2 % dan sisanya dari luar Papua. Tabel 16. Jumlah Tenaga Kesehatan dan Daerah Asal Jumlah Menurut Pendidikan, Jenis Kelamin Asal Daerah Papua Luar Papua L P L P 9 6 3 2 1 1 1 11 7 4 1

Pendidikan

L P SLTP SLTA 12 6 Diploma 3 2 Strata I Jumlah 15 8 Sumber : Pemda Teluk Wondama

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 11

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Disamping itu terdapat 2 Bidan yang bertugas melayani kesehatan Ibu hamil mpada masing-masing puskesmas. Disamping itu terdapat beberapa bidan desa yang tersebar pad amasing-masing puskesmas pembantu. Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan pelayanan kesehatan tersebut masing-masing : o Rp. 1.379.450.000 yang bersumber dari APBD belanja public, o Rp. 2.990.926.000 yang bersumber dari dana otsus Papua dan o Rp. 1.600.000.000 yang bersumber dari APBN 7.1.3. Output/Hasil, Pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dan pemberantasan penyakit menular langsung, perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana penunjang kesehatan berupa pembangunan kantor dinas Kesehatan, pembangunan Puskesmas dan Pustu. Jumlah orang yang dilayani oleh petugas kesehatan jika dilihat dari jumlah KK sebanyak 4030 KK (17076 jiwa) menunjukkan bahwa ratio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah jiwa yaitu 1 : 742 artinya setiap petugas kesehatan harus menangani 742 jiwa. Dengan tingkat pendidikan tenaga kesehatan yang baru SLTA dan Diploma akan terasa berat untuk menangani sejumlah pasien tersebut, terlebih dengan jangkauan pelayanan yang sangat sulit karena sarana transoportasi yang serba terbatas. Dibandingkan dengan kabupaten Induk yang telah tersedia banyak Dokter dan tenaga medis maka dapat dikatakan bahwa kondisi pelayanan kesehatan kepada masyarakat sangat buruk, sehingga perlu melengkapi sarana dan prasarana kesehatan juga tenaga Dokter dan perawat sehingga seluruh masyarakat akan dapat dijangkau. 7.2. Pendidikan Peningkatan harkat dan martabat SDM Peningkatan kualitas SDM, Pemerataan pendidikan, Pembaharuan kurikulum, Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan

7.2.1. Kebijaksaan daerah

7.2.2. Indikator sumberdaya pelayanan Fasilitas pendidikan sebanyak 41 unit yang terdiri dari TK, SD, SLTP dan SMU (Tabel 17) menunjukkan bahwa yang berstatus negeri sebanyak 56 % dan sisanya swasta.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 12

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 17 . Jumlah sekolah menurut jenis, jenjang dan status Jenjang Jenis Kejuruan Status Negeri Swasta 1 19 17 3 1 1 23 18

Umum

1. TK 2. SD 36 3. SLTP 4 4. SLTA 1 Jumlah 41 Sumber : Pemda Teluk Wondama

Tenaga guru yang tersedia seluruhnya berjumlah 137 orang (tabel 18) yang didominasi oleh guru laki-laki 78,8 % sedangkan jumlah murid yang terbanyak pada jenjang SD (Tabel 19). Tabel 18. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Asal Jenis Kelamin Daerah Asal Jenjang Laki-laki Perempuan Papua Luar Papua 1. TK 1 1 2. SD 85 12 92 5 3. SLTP 17 8 14 11 4. SLTA 6 8 5 9 Jumlah 108 29 112 25 Sumber : Pemda Teluk Wondama lebih banyak

Jumlah Murid yang ada di Kabupaten teluk wondama pada tingkat SD Tabel 19. Jumlah Murid Menurut Jenis Kelamin

Jumlah Murid Laki-laki Perempuan 1. TK 18 17 2. SD 1871 1671 3. SLTP 289 266 4. SLTA 40 60 Jumlah 2218 2014 Sumber : Pemda Teluk Wondama Jenjang Anggaran Pendidikan yang bersumber dari APBD pada tahun anggaran 2004 sebesar Rp. 1.550.383.300 dan dari dana otsus sebesar Rp. 3.987.902.400 7.2.3. Output Sektor pendidikan berupa pembangunan kantor Dinas P dan P, pembangunan gedung SD dan rumah guru, pembangunan gedung SMP dan rumah guru, pembanguan rumah guru SMU dan pembayaran SPP bagi anak SD, SMP dan SMU. Pelayanan terhadap 4232 anak sekolah dangan perbandingan antara guru dan murid 1 : 31 anak sekolah. Pada jenjang TK 1 guru menangani 35 murid, jenjang SD 1 guru menangi 37 murid, pada

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 13

KABUPATEN TELUK WONDAMA


jenjang SMP 1 guru menangi 22 murid dan pada jenjang SMU 1 guru menangani 7 murid. Ratio yang sangat bervariasi ini memberi indikasi bahwa pada janjang SD dan TK perlu penambahan guru sedangkan SMP dan SMU masih cukup. Dengan melihat semakin bertambahnya murid pada setiap tahun ajaran maka dengan sendirinya harus diimbangi dengan ketersediaan guru yang memadai, sebab kondisi pelayanan kepada anak sekolah belum memadai jika dibandingkan dengan kondisi pada kabupaten induknya. Pada Tabel 17 menunjukkan bahwa jumlah akan yang bersekolah dari SD ke SMP cenderung menurun hal ini disebabkan karena jumlah sekolahnya hanya 4 unit sehingga daya tampung siswa SD ke SMP sangat terbatas di sisi lain jarak tempat tingga ke sekolah yang begitu jauh. Disisi lain murid-murid SMP dan SMU umumnya berasal dari sekitar kota sedangkan pada distrik yang tidak tersedia SMP dan SMA umumnya muridnya datang ke Manokwari, sedangkan yang lainnnya tidak melanjutkan pendidikan lagi. 7.3. Pertanian secara luas 7.3.1. Kebijaksaan daerah mencakup : Pengembangan lahan palawija Pengembangan Tanaman Buah-buahan Pengembangan Tanaman Coklat/Kakao Pengembangan Peta Potensi perkebunan Pengadaan ternak sapi potong Vaksinasi dan pengobatan ternak Pengembangan sarana perikanan tangkap Pengembangan sarana sentra produksi budidaya Laut 7.3.2. Indikator sumberdaya pelayanan Terdapat Perkebunan Kakao seluas 75 ha, Perkebunan rakyat selaus 247 ha, Perkebunan Besar 30.000 ha, Perikanan laut (Tuna Pelagis, teripang,Bia Lola, Lobster, Sirip Ikan hiu), Pertanian padi sawah, jagung, kacangan, buahan dan sayuran, Peternakan Sapi, Kambing, Babi ayam buras itik dan entok dan pengolahan hutan melalui kopermas. Pegawai yang tersedia dalam menangani sumberdaya pada sektor pertanian secara luas (Tabel 20) hanya 43 pegawai sehingga untuk menangani sektor pertanian yang terhampar pada wilayah Teluk Wondama masih belum memadai. Tabel 20. Pegawai sektor Pertanian berdasarkan Golongan dan jenis kelamin Golongan Jumlah Pegawai Laki-laki Perempuan II 19 2 III 19 2 IV 1 Jumlah 39 4 Sumber : Pemda Teluk Wondama

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 14

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Anggaran yang digunakan untuk membiayai sektor pertanian secara luas pada tahun 2004, menggunakan dana sebesar Rp. 442.100.000 yang bersumber dari APBD Kabupaten teluk Wondama 7.3.4.Output, Umumnya kegiatan yang dilakukan terfokus pada Pemberdayaan Ekonomi rakyat berupa, pengadaan ternak babi, pengadaan obat dan vaksin ternak, pengadaan rumpon ikan dan motol tempel, pengembangan tanaman buah-buahan, sayuran, kacangan, pengembangan tanaman Kakao, kopi dan melinjo, pembinaan kawasan penyanggga, pembinaan masyarakat sekitar Taman nasional Teluk cenderawasih dan pembinaan kawasan hutan alam bakau, melalui penyuluhan. Hasil yang dicapai berdasarkan laporan dari masing-masing instansi teknis menunjukan bahwa ketela pohon dan keladi memiliki produktivitas tertinggi dibandingklan dengan jenis tanaman lainnya. Tabel 21. Produksi Tanaman Pangan Kabuapten Teluk Wondama Luas panen Produksi Produktivitas No Jenis Tanaman (Ha) (Ton) 1 Padi sawah 10 17 1.7 2 3 4 5 6 7 Jagung Ketela pohon Ketela Rambat Kacang tanah Kacang Hijau Keladi 162 161 86 87 13 42 199 3208 1098 63 9 618 1824 1.2 19.9 12.8 0.7 0.7 14.7

8 Buah-buah 114 Sumber : Manokwari dalam Angka 2001

Untuk tanaman perkebunan (Tabel 22) umumnya jenis kakao dan perkebunan rakyat lainnnya seperti kopi, kelapa, melinjo. Tabel 22. Produktivitas Tanaman perkebunan Luas Produktivitas Jenis Komoditi Keterangan (Ha) ton/ha 1. Kakao 75 9,04 Proyek SADP dan pemda kab manokwari 2.Perkebunan 247 143,78 Tersedia lahan 30.000 rakyat ha untuk PIR Jenis peternakan yang tersedia umumnya diusahakan oleh masyarakat dengan usaha terbanyak adalah ternak ayam (Tabel 23)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 15

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 23. Jenis ternak yang di usahakan oleh masyarakat. Jenis ternak Jumlah (ekor) 48 137 840 4666 821 629

1.ternak sapi 2.ternak kambing 3.ternak babi 4.ternak ayam 5.Itik 6.entog Sumber : Manokwari dalam Angka 2001

Usaha perikanan sesuai dengan laporannya (Tabel 24) menunjukkan bahwa ikan tuna sangat banyak populasinya sehingga pengembangan pengolahan ikan tersebut sangat sesuai untuk dikembangkan. Tabel 24. Jenis ikan yang di produksi pada kawasan perairan Jumlah Produksi (Ton) 1.ikan tuna 6.000 2.ikan pelagis 3.000 3.ikan demersal 1.500 4.teripang 14 5.lobster beku 1,32 6.sirip 0,05 Dinas kelautan dan perikanan, 2004 Jenis ikan Usaha pengolahan hasil hutan , umumnya jenis merbau dan matoa yang di eksport ke Jepang dan Singapura. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Kopermas tidak dilaporkan ke Dinas Kehutanan. Tabel 25. Janis usaha kayu yang dilaporkan ke Dinas Kehutanan Jumlah Luas Jenis Kayu Produksi Keterangan *) (Ha) (m3) Di ekspor ke jepang dan merbau 200 300.000 singapura, sebagian dikirim ke biak, sorong matoa 400 500.000 dan surabaya. Dinas Pertanian dan Kehutanan, 2004 7.4. Prasarana dan sarana

7.4.1. Kebijaksaan daerah, Penghembangan Sarana dan prasarana Pemerintahan, aparatur pemerintah, Pemerdayaan distrik Perbaikan dan pengembangan sarana komunikasi Perbaikan dan penataan sarana tranportasi udara, laut dan darat Pengembangan Pasar, kantor pos pengembangan Sarana Air bersih

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 16

KABUPATEN TELUK WONDAMA


7.4.2. Indikator sumberdaya pelayanan Terdapat fasilitas, Jalan, jembatan, Darmaga, bandar udara, air bersih, pasar yang membantu terhadap pelayanan kepada masyarakat. Jumlah pegawai yang tersedia pada dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan adalah : golongan I sebanyak 1 orang, golongan II sebanyak 5 orang , golongan III sebanyak 8 orang dan golongan IV sebanyak 1 orang. Keempat belas personil tersebut menangani sarana dan prasarana. Besarnya anggaran yang digunakan untuk membangun sarana dan prasarana adalah : Tabel 26. Alokasi sumber dana untuk Prasarana dan Sarana Sumber Transportasi dana Komunikasi APBD 2.346.750.000 Otsus 10.966.731.600 APBN 1.025.000.000 Sumber : Bappeda 7.4.3. Pemukiman 124.000.000 204.751.200 Konstruksi

Outputs Pembangunan jalan dan jembatan, pengembangan penangan air bersih, pasar, listrik (Tabel 27) Tabel 27. Sarana penunjang pelayanan masyarakat No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Deskripsi Jalan (panjang, kelas, kondisi) Dermaga (panjang, kelas, kapasitas, kondisi, kepadatan) Bandara (panjang, kapasitas, kondisi, kepadatan) Kendaraan Darat (jenis, jumlah, kondisi, kepadatan, tarif) Kendaraan air (jenis, jumlah, kapasitas, kondisi, kepadatan, tarif) Kendaraan udara (jenis, jumlah, kapasitas, kepadatan, tarif) Keterangan Panjang 92km,

darmaga,

Ukuran 70x8 m, kapasitas 1.500 DWT, Panjang 600 m, penerbangan satu minggu sekali Roda 4 =24 unit, roda 2=150unit. Tarif 2000 rp paling dekat. 5 unit, 200 org, tarif 70 ribu, ke Manokwari Twin otter, 1unit, 18 org, 1minggu sekali, dengan tarif Rp. 95 ribu per penumpang ke Manokwari

Sarana telekomunikasi yang tersedia dimaksudkan untuk memperoleh berbagai iformasi dari luar wilayah (Tabel 28).

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 17

KABUPATEN TELUK WONDAMA


Tabel 28. Sarana Telekomunikasi yang menunjang aktivitas masyarakat No. Deskripsi Jumlah Keterangan (Unit) 1. Telpon 6 Telpon satelit 2. SSB 11 Tiap distik 1unit (7 DISTRIK) dan 5 unit untuk dinas/instansi 3. Radio - 4. Televisi 48 Pakai antene parabola 5. Simpati 1 Mobile phone 6. Wartel 4 Telpon satelit Secara umum sarana penghubungan masing-masing kecamatan ke pusat kabupaten masih sangat terbatas dengan menggunakan perahu nelayan dan berjalan kaki. Sedangkan dari pusat Kabupaten ke pusat kabupaten pemekarana terdapat sarana : Pesawat Merpati Twin dengan penerbangan setiap hari selasa Pesawat carteran AMA Kapal Carteran Pemda Batatnta Expres Kapal kayu Masyarakat Keterbukaan Isolasi menggunakan pesawat setiap minggu dengan pesawat carteran AMA sebesar Rp. 7.500.000, Kabupaten teluk Wondama yaitu dengan Merpati yang hanya mengangkut 18 penumpang tarif Rp. 95.000 per penumpang. Menggunakan dengan tarif antar jemput kapasitas 5 penumpang dari Wondama ke Manokwari.

Kapal cepat carteran Pemda dengan Kapasitas Penumpang 200 orang dapat ditempuh dengan waktu 6,5 jam dengan tarif Rp. 75.000 per penumpang (harga subsidi pemerintah) yang dapat melayani 2-3 kali per minggu Sarana transportasi didalam kota terdapat mobil sebanyak 24 unit dan motor sebanyak 150 unit untuk melayani aktivitas masyarakat. Sarana komunikasi terdapat wartel telepon sateli, SSB dan Mobile phone Simpati Saran tempat tinggal pemda hanya tersedia 17 Unit sehingga terdapat beberapa kantor yang dijadikan tempat tinggal Sarana informasi terdapat Radio yang bisa diterima dalam gelombang SW dan Televisi menggunakan antena Parabola.

8.

LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES


8.1. Pembangunan Ekonomi Dalam Pengembangan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh berbagai LSM misalnya WWF, Yahilmo dalam mendampingi masyarakat, dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat di bidang pertanian luas, dan pelestarian lingkungan masih merupakan program yang sama sebelum pemekaran Kabupaten dilakukan. Kehadiran Lembaga Swadaya masyarakat seperti WWF, Yalhimo telah mampu mengkritik kerusakan lingkungan hidup sehingga oleh pemerintah daerah telah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 18

KABUPATEN TELUK WONDAMA


menyiapkan suatu tempat untuk dibangun menyangkut kawasan lindung areal pengembangan studi

Program Pengembangan Kecamatan yaitu pemberian dana lunak yang dikelola langsung oleh distrik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat seperti pengelolaan hasil perikanan. HPH, maupun Kopermas menurut sebagian masyarakat maupun aparat, usaha pengolahan kayu tersebut lebih banyak merusak hutan, walaupun terdapat beberapa masyarakat yang memperoleh manfaat langsung. Kawasan lindung belum difungsikan untuk memberikan nilai ekonomi secara tidak langsung, sehingga terjadi pengrusakan-pengrusakan akibat pemanfaatan langsung dalam memperoleh sumberdaya yang tersedia. 8.2. Pemerintahan NDI yaitu program dalam meningkatkan kapasitas legislative daerah dengan pemberian asistensi pada pihak-pihak tersebut yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah. Bagi perangkat Eksekutif, umumnya pengalaman dari perangkat pemerintah kabupaten yang personilnya dari kabupaten pemekaran sedangkan bentuk pembinaan pada aparat pemda dengan mengikutsertakan Diklat PIM III dan Diklat PIM II dan berbagai training yang dilaksanakan di luar teluk Wondama.

9.

KESIMPULAN UMUM
Pelaksanaan Pembangunan belum memiliki suatu visi yang dibangun dari ketersediaan data base wilayah Wandama, kearah mana Kabupaten Teluk Wondama mau di bangun untuk menumbuhkan sector-sektor ekonomi dalam memacu perekonomian secara makro. Visi dan misi yang dibangun yang saat ini tersedia merupakan suatu pemikiran dari luar Wandama karena dalam penyusunannya belum melibatkan komponen-komponen yang ada dalam wilayah tersebut, berupa penjaringan aspirasi masyarakat secara kuantitatif. Adapun Visi tersebut adalah Pembangunan Daerah Untuk Perberdayaan Masyarakat, dengan misinya adalah meningkatkan kapsitas pemerintahan daerah yang dapat mengembangkan kemampuan masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan keunggulan sumnberdaya daerah yang tersedia. Hasil diskusi dengan beberapa perangkat pemerintah Kabupaten maupun kecamatan dapat disimpulkan bahwa visi dan misi tersebut belum pernah di sampaikan ke pada masyarakat bahkan kearah mana Kabupaten teluk Wondama mau diarahkan belum pernah disosialisasikan. Selama tahun 2004 pelaksanaan pembangunan lebih banyak terfokus pada penataan kelembagaan pemerintahan hal ini terlihat dari besarnya pembiayaan belanja publik untuk pemerintaahan dan pengawasan yang mencapai 41,1 % Penataan kelembagaan yang merupakan tugas utama dari Bupati yang belum definitive belum menggambarkan Tupoksi dari masing-masing perangkat kelembagaan karena kurang dukungan/ketersediaan dari syarat minimal kebutuhan kepegawaian. Hasil diskusi dengan Bupati Teluk wondama menunjukkan bahwa personil yang menduduki pada beberapa tempat dalam kelembagaan Pemda kalau dilihat dari lamanya bekerja dan pengalaman dengan posisi yang di pegang /dipercayakan sekarang ini terdapat perbedaan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 19

KABUPATEN TELUK WONDAMA


pengalaman dan masa kerja sehingga perlu penyesuaian-penyesuaian dalam melengkapi kelembagaan Pemda tersebut. Lembaga perwakilan rakyat dalam menjalankan tugasnya belum berfungsi secara baik karena keberadaan kelembagaan tersebut yang belum terstruktur dengan baik Pelayanan pendidikan belum mampu menjangkau semua distrik yang tersedia khususnya SMP dan SMU sehingga bayak murid lulusan Sekolah Dasar yang putus sekolah Pelayanan kesehatan dasar di setiap Puskesmas mangalami hambatan karena ketersediaan obat-obat yang kurang bahkan tenaga dokter tidak tersedia sama sekali Bentuk pelayanan kepada masyarakat untuk mewujudkan pemberdayaan masyarakat mengalami masalah pada trasportasi ke distrik dari pusat Kabupaten yang terasa sulit karena umumnya transportasi yang tersedia sangat terbatas, hanya menggunakan angkutan laut (kapal kayu atau perahu nelayan) sehingga jangkauan pemerintah daerah agak terbatas dalam menunjang pembiayaan pembangunan. Terlebih jumlah personil yang ada di Kecamatan sangat terbatas

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

III - 20

KABUPATEN SORONG

IV. KABUPATEN SORONG

1.

KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah

Letak Kabupaten Sorong sebelum pemekaran berada pada garis koordinat 020 Bujur Timur berbatasan dengan Lintang Utara, 010 Lintang Selatan, 1320 Kabupaten Manokwari dan 1300 Bujur Barat berbatasan dengan Provinsi Maluku. Tata letak Kabupaten Sorong secara geografis setelah pemekaran wilayahnya menjadi 3 kabupaten, belum diketahui (BPS, 2002). Namun batasbatasnya berdasarkan pembagian administratif pemerintahan tampak jelas. Di bagian Utara berbatasan dengan Kota Sorong, bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sorong Selatan, bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Raja Ampat, dan bagian Timr berbatasan dengan Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Teluk Bintuni. Topografi Kabupaten Sorong sangat bervariasi, mulai dari dataran rendah dan berawa sampai dengan pegunungan. Wilayah pegunungan, mencakup areal yang paling luas ( 60 %) tersebar di bagian Utara. Dataran rendah yang cenderung membentuk rawa-rawa mencakup areal yang cukup luas (25 %) tersebar di bagian Selatan. Sisanya (15 %) merupakan wilayah peralihan dari dataran ke pegunungan. Berdasarkan ketinggian, Kabupaten Sorong terletak pada ketinggia yang bervariasi dari 0 sampai dengan 2 500 meter di atas permukaan air laut. Wilayah yang paling luas (> 50 %) berada pada ketingian di bawah 100 meter di atas permukaan air laut, mencakup Distrik Aimas, Seget, dan Distrik Beraur. Sebaliknya wilayah yang paling sempit (20, 86 %) berada pada ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan air laut, tersebar di Distrik Sausafor dan Distrik Mackbon Tanah didominasi hamparan dengan tekstur halus, sehingga memungkinkan terbentuknya rawa-rawa yang luas. Jenis tanah terdiri dari tanah coklat ke kuningan, mediteran rensina, organosol alluvial, podsolik kelabu dan podsolik merah kuning-rensina. 1.2. Pembagian Administratif Wilayah

Kabupaten Sorong merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Irian Jaya (sekarang Provinsi Papua) setelah tahun 1969, dengan pusat pemerintahan di Sorong (sekarang Kota Sorong). Berdasarkan pembagian administratif pemerintahan terdiri atas 19 kecamatan (sekarang distrik), 312 desa (sekarang kampung), dan 18 kelurahan. Berdasarkan UU Nomor 45 tahun 1999 dan UU Nomor 5 tahun 2000, Kabupaten Sorong menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat, dan wilayahnya dibagi menjadi dua wilayah kabupaten/kota. Masing-masing Kabupeten Sorong dengan ibukota Aimas, dan Kota Sorong dengan ibukota Sorong. Selanjutnya berdasarkan UU Nomor 26 tahun 2002, wilayah Kabupaten Sorong dengan luas wilayah 42.232 Km2 kembali dimekarkan menjadi tiga kabupaten.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 1

KABUPATEN SORONG
Masing-masing, Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Sorong Selatan sebagai kabupaten pemekaran,dan Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk. Berdasarkan pembagian administratif pemerintahan Provinsi Irian Jaya Barat, wilayah Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk dengan luas wilayah 17.970 Km2 terdiri atas 12 distrik, 121 kampung dan 1 kelurahan. Secara rinci pembagian administratif pemerintahan Kabupaten Sorong disajikan pada Tabel 1. 1.3. Keadaan Sosial Ekonomi

Penduduk di Kabupaten Sorong hingga tahun 2003 berjumlah 120.052 jiwa, tingkat kepadatan 6,68 jiwa per km2 . Dilihat dari persebarannya menurut distrik ternyata Distrik Aimas dengan luas wilayah paling kecil, tetapi dengan tingkat kepadatan tertinggi (32,36 jiwa per km2). Distrik dengan tingkat kepadatan terendah adalah Distrik Klamono (1,58 km2). Tingginya konsentrasi penduduk di Distrik Aimas dan Distrik Salawati disebabkan kedua distrik ini merupakan daerah transmigrasi. Selain itu khusus Distrik Aimas juga merupakan pusat Pemerintahan Kabupaten Sorong sebagai salah satu faktor penarik migran masuk Distrik Aimas. Khusus Distrik Salawati, sejak dahulu juga merupakan daerah pertambangan gas dan minyak bumi sebagai salah satu faktor penarik migran masuk Distrik Salawati. Tabel 1. Sebaran Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan Pembagian Administratif Kabupaten Sorong Tahun 2003 Jumlah Luas Wilayah (Km2) 610 663 505 600 782 670 491 140 600 030 640 149 970 Jumlah Penduduk (Jiwa) 19 7 8 5 6 4 7 6 6 8 6 6 120 741 613 403 694 473 215 951 487 487 735 348 127 052 Kepadatan Jiwa/Km2

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Distrik

Kampung Kelurahan Aimas 25 1 Salawati 17 Beraur 12 Klamono 6 Moraid 11 Mackbon 9 Abun 4 Sausafor 12 Fef 7 Seget 10 Segun 4 Sayosa 6 Jumlah 121 1 Sumber: Pemerintah Provinsi Papua, 2003.

1 3 1 1 1 2 1 1 1 17

32,36 11,48 5,58 1,58 3,63 2,52 5,33 3,03 3,83 8,48 9,91 5,33 6,68

Data Penduduk Kabupaten Sorong Menurut Jenis Kelamin, Agama, dan Tingkat Pendidikan, tidak tersedia. Demikian pula data penduduk menurut Kampung, Umur dan Jenis Kelamin juga tidak tersedia. Berdasarkan kelompok etnis dikenal enam kelompok etnis terbesar di Kabupaten Sorong. Masing-masing Suku Moi, Bugis Makasar, dan kelompok etnis Sulawesi lainnya, Jawa, Maybrat, dan Maluku. Suku Moi merupakan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 2

KABUPATEN SORONG
penduduk asli Papua selaku pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Bugis. Bugis Makasar merupakan migran spontan dari Sulawesi Selatan, sebagai penggerak ekonomi penting di Kabupaten Sorong. Kelompok etnis Sulawesi lainnya juga merupakan migran spontan dari Pulau Sulawesi terutama Toraja, Gorontalo, dan Minahasa. Mereka terutama merupakan tenaga kerja potensial pada sektor industri kecil terutama meubel, salon, rumah makan, dan bengkel, serta usaha perikanan tangkap. Jawa merupakan kaum transmigran sejak tahun 1970-an selaku pionir pembangunan pertanian menetap di daerah-daerah transmigrasi Kabupaten Sorong. Maybrat merupakan migran spontan dari Sorong Selatan, yang tertarik oleh kesempatan ekonomi dan kesempatan kerja di samping kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang tercipta oleh kegiatan pembangunan Kabupaten Sorong. Maluku juga merupakan migran spontan yang telah berlangsung sejak Pemerintah Belanda berkuasa di Papua. Kelompok etnik Maluku di Kabupaten terutama bekerja sebagai nelayan tangkap, sebagai tenaga kerja pada perusahaan swasta di bidang perikanan tangkap, dan sektor jasa seperti sopir angkutan umum. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sorong selama periode 4 tahun terakhir (2000-2003) disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sorong selama periode 20002003. No Tahun 2000 2001 2002 2003 Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Total 139. 143. 147. 120. 083 145 000 052 Angka Pertumbuhan (%) 2,92 2,69 -18,33

2 3 4

Penduduk Kabupaten Sorong menunjukkan pertumbuhan yang positif yaitu 2,92% per tahun selama periode 2000 2001. Akan tetapi dengan adanya pemekaran wilayah Kabupaten Sorong menjadi Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat sebagai kabupaten pemekaran pada tahun 2002, maka penduduk Kabupaten Sorong kembali mengalami penurunan sebesar 18,33 % atau hanya sebanyak 120.052 jiwa pada tahun 2003. Data Penduduk Kabupaten Sorong Menurut Pendapatan dan Jenis Kelamin tahun 2004, tidak tersedia. Demikian halnya, data penduduk Kabupaten Sorong menurut kelayakan tempat tinggal tahun 2004, tidak tersedia.

1.4. Kriteria Penduduk Miskin.


Kriteria penduduk miskin di Kabupaten Sorong menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) disajikan pada Tabel 3.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 3

KABUPATEN SORONG
Tabel 3. Kriteria Penduduk Miskin Menurut BKKBN di Kabupaten Sorong, Tahun 2004.
No Kriteria Penduduk Miskin Pra Sejahtera Sejahtera I Sejahtera II Sejahtera III Jumlah Penduduk Pedesaan Perkotaan (Keluarga) 7417 3674 487 156 (%) 45,11 22,35 2,96 0,95 (Keluarga) 1955 1549 988 213 (%) 11,91 9,42 6,01 1,29 Total (Keluarga) 9372 5223 1475 369 (%) 57,02 31,77 8,97 2,24

1. 2. 3. 4.

Sebagian besar penduduk termasuk dalam kategori pra sejahtera (57,02 %) dan sejahtera I (31,77 %). Hal yang menarik bahwa golongan orang miskin ini sebagian besar tinggal di pedesaan (67, 46 %). Sebaliknya golongan penduduk yang tergolong tidak miskin adalah sangat kecil (11,d1 %) yakni Sejahtera II (8,97 %) dan Sejahtera III (2,24 %). Hal yang mengesankan bahwa golongan penduduk tidak miskin ini ternyata hampir seluruhnya (7,30 %) tinggal di kota. kecil Hal ini berkaitan erat dengan mata pencaharian utama penduduk yakni sebagai nelayan atau tani yang harus dilakukan di desa. Sebaliknya sebagian besar penduduk yang termasuk dalam kategori sejahtera II dan sejahtera III bertempat tinggal di perkotaan. Hal ini juga berkaitan erat dengan mata pencaharian utama penduduk yang bersangkutan yakni sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang atau sektor swasta lain yang lazim terkonsentrasi di kota. Laporan Pembangunan Manusia mengungkapkan pula Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) untuk Kabupaten Sorong disamping kabupaten-kabupaten/kota lain di Papua maupun Indonesia (BPS, BAPPENAS dan UNDP, 20040. Tabel 4.
No.

Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Kabupaten Sorong Tahun 1999 dan Tahun 2002.
Uraian Kabupaten Sorong 1999 2002 18,6 17,3 11,8 55,2 32,2 32,3 28,8 5 188 12,7 57,8 32,2 27,8 28,3 5 245 Papua 1999 17,8 28,8 54,5 36,0 28,3 31,3 2002 16,8 25,6 61,6 36,1 24,3 30,9 Indonesia 1999 15,2 11,6 51,9 21,6 30,0 25,2 2002 15,0 10,5 44,8 23,1 25,8 22,7

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Penduduk yang diperkirakan tidak mencapai usia 40 tahun (%) Angka buta huruf penduduk dewasa (%) Penduduk tanpa akses pada air bersih (%) Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan (%) Balita kurang gizi (%) Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Ranking IKM terhadap Papua Ranking IKM terhadap Indonesia

Indikator kemiskinan Kabupaten Sorong disamping kabupaten/kota lainnya di Papua maupun Indonesia yang juga telah berhasil diungkapkan dalam Laporan Pembangunan Manusia adalah kondisi perumahan. Kondisi perumahan ini ditinjau dari indikator lantai rumah, akses terhadap air bersih, dan akses terhadap sanitasi.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 4

KABUPATEN SORONG
Tabel 5. Kondisi perumahan di Kabupaten Sorong Tahun 1999 dan Tahun 2002.
No. Uraian Kabupaten Sorong 1999 2002 44,8 42,2 20,3 18,7 11,6 45,5 Papua 1999 45,5 12,6 38,9 2002 38,4 22,1 51,4 Indonesia 1999 2002 55,2 16,7 25,0

1. 2. 3.

Rumahtangga yang mempunyai akses terhadap air bersih (%) Rumahtangga yang tinggal di rumah berlantai tanah (%) Rumahtangga tanpa akses terhadap sanitasi (%)

Laporan Pembangunan Manusia juga telah mengungkap pengeluaran rumahtangga untuk pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Sorong disamping kabupaten/kota lain di Papua maupun Indonesia. Tabel No. 1. 2. 3. 6. Pengeluaran rumahtangga untuk pendidikan dan kesehatan Tahun 2002. Uraian Kabupaten Sorong Papua Indonesia Kesehatan (%) 1,22 1,26 2,40 Pendidikan (%) 1,10 1,02 2,20 Pendidikan dan Kesehatan (%) 2,31 2,28 4,60

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


2.1. Personil Jumlah personil atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sorong sebanyak 3496 orang. Sebarannya berdasarkan kelompok unit kerja dan golongan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Sebaran jumlah personil Kabupaten Sorong berdasarkan golongan, 2004. Jumlah Personil Berdasarkan Jenis Total Kelamin No. Golongan Laki-Laki Perempuan (Org) (%) (Org) (%) (Org) (%) 1. I 126 3,60 23 0,66 149 4,26 2. II 993 28,25 484 14,00 1477 42,25 3. III 1 330 38,05 407 11,64 1 737 49,69 4. IV 123 3,52 10 0,28 133 3,80 Jumlah 2 572 73,42 924 26,58 3 496 100,00 Jumlah personil ini jauh lebih besar dibandingkan jumlah personil Kabupaten Raja Ampat (927 Orang). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk juga tergolong besar, dengan perbandingan 1 : 34. Artinya pada setiap populasi penduduk sebanyak 34 orang terdapat 1 orang PNS. Berdasarkan golongan kepangkatannya, jumlah PNS yang layak untuk membina dan mengambil keputusan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebenarnya cukup banyak yakni 133 orang atau 4 % dari seluruh PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sorong. Ditinjau dari aspek jenis kelamin ternyata proporsi perempuan sudah cukup besar hingga mencapai 26,58 % dari seluruh PNS di lingkungan Pemerintah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 5

KABUPATEN SORONG
Kabupaten Sorong. Data ini memberi gambarang tentang adanya proses pemberian peran yang lebih besar bagi kaum wanita untuk bekerja pada sektor publik. Salah satu aspek yang dapat memberi gambaran tentang kapasitas personil untuk menyelenggarakan pemerintahan dan memfasilitasi penyelenggaraan pembangunan adalah tingkjat pendidikan PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sorong. Selengkapnya sebaran jumlah PNS berdasarkan jenjang pendidikan terakhir dari masing-masi8ng PNS disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Sebaran jumlah PNS di lingkungan Kabupaten Sorong berdasarkan jenjang pendidikan. Jumlah (Orang) 228 171 1 960 1 137 3 496

No. 1. 2. 3. 4.

Jenjang Pendidikan Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Perguruan Tinggi J u m l a h

(%) 6,52 4,89 56,06 32,53 100,00

Ditinjau dari aspek pendidikan tampaknya personil Pemerintah Kabupaten Sorong memiliki kapasitas yang cukup baik untuk menyelenggarakan pemerintahan dan memfasiltasi penyelenggaraan pembangunan. Hal itu terlihat dari jumlah PNS yang berpendidikan tinggi cukup banyak yakni 1 137 orang atau 32, 53 % dari seluruh PNS di lingkungan Kabupaten Sorong. Sebaliknya jumlah PNS yang berpendidikan dasar adalah sedikit walaupun bukan yang terkecil yakni 228 orang atau 6,52 % saja dari seluruh PNS di Kabupaten Sorong. Hasil pengamatan menunjukan bahwa kapasitas personil untuk menyelenggarakan pemerintahan dan memfasilitasi penyelenggaraan pembangunan tampaknya masih belum memadai. Hal yang menarik adalah sangat langka PNS yang ditemukan berada di tempat kerjanya pada jam 08.00 pagi. Selain itu sangat langka pula instansi pemerintah yang memiliki informasi tertulis yang lengkap tentang berbagai hal penting yang berkaitan dengan hasilk kerjanya secara rutin. 2.2. Kapasitas dan Struktur Organisasi Bupati Sorong dalam upaya mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan telah membentuk struktur organisasi Pemerintah Kabupaten Sorong, seperti di bawah ini.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 6

KABUPATEN SORONG
I. II. III. SEKRETARIAT DAERAH 1.1. Sekretaris Daerah 1.2. Asisten SEKRETARIAT DPRD BADAN 3.1. BP3D 3.2. Badan Pengelola Keuangan Daerah 3.3. Badan Kepegawaian Daerah 3.4. Badan Pengawas Daerah 3.5. Badan Pemberdayaan Masyarakat 3.6. Badan Pendidikan dan Latihan 3.7. Badan Kesatuan Bangsa DINAS 4.1. Dinas Pendidikan Dasar 4.2. Dinas Pendidikan Menengah 4.3. Dinas Kesehatan 4.4. Dinas Perhubungan 4.5. Dinas Tenaga Kerja 4.6. Dinas Catatan Sipil 4.7. Dinas Pekerjaan Umum 4.8. Dinas Perdagangan 4.9. Dinas Perindustrian 4.10. Dinas Koperasi 4.11. Dinas Pariwisata 4.12. Dinas Perikanan dan Kelautan 4.13. Dinas Peternakan 4.14. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura 4.15. Dinas Perkebunan 4.16. Dinas Kehutanan 4.17. Dinas Lingkungan Hidup 4.18. Dinas Tata Ruang 4.19. Dinas Pertambangan 4.20. Dinas Ketentraman dan Ketertiban 4.21. Dinas Sosial 4.22. Dinas Informasi dan Komunikasi 4.23. Dinas Pendapatan Daerah DISTRIK 5.1. Distrik Aimas 5.2. Distrik Salawati 5.3. Distrik Beraur 5.4. Distrik Klamono 5.5. Distrik Mackbon 5.6. Distrik Seget 5.7. Distrik Sausapor 5.8. Distrik Segun 5.9. Distrik Fef 5.10. Distrik Abun 5.11. Distrik Sayosa 5.12. Distrik Morait

IV.

V.

Struktur organisasi ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Hal ini berarti pula bahwa struktur

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 7

KABUPATEN SORONG
organisasi Kabupaten Sorong yang ada sekarang belum disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Jika disimak lebih jauh tampaknya Organisasi Pemerintah Kabupaten Sorong tergolong besar. Besar organisasi ini tampak tidak konsisten dengan berkurangnya luas wilayah akibat pemekaran Kabupaten Sorong menjadi 3 kabupaten, yakni Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat disamping Kabupaten Sorong sendiri sebagai kabupaten induk.

3.

KEUANGAN DAERAH
3.1. Struktur Pendapatan Pendapatan atau penerimaan rutin diperoleh dari enam sumber yakni (1) sisa lebih perhitungan anggaran tahun yang lalu, (2) pendapatan asli daerah, (3) pendapatan yang berasal dari pemberian pemerintah dan atau (4) dana perimbangan, (5) pinjaman pemerintah daerah, dan (6) lain-lain penerimaan yang sah. Sumber lainnya yang berasal dari pendapatan pembangunan tidak ada. Realisasi pendapatan rutin APBD selama tiga tahun terakhir (2001 2003) menunjukkan adanya kenaikan nilai nonimal setiap tahun. Tingkat kenaikannya cukup tinggi, tetapi cenderung menurun yakni sebesar 38, 24 % pada tahun 2002 dan 26,21 % pada tahun 2003. Walaupun realisasi pendapatan menunjukkan kenaikan, tetapi ternyata tidak mencapai target. Tingkat pencapaian target ini ternyata tergolong tinggi, rata-rata 94 %, dengan variasi sebesar 95,36 % pada tahun 2001, turun hingga mencapai 89,93 % pada tahun 2002, dan kembali naik hingga mencapai 96,43 % pada tahun 2003. Walaupun realisasi pendapatan rutin mengalami kenaikan setiap tahunnya, namun dalam pos-pos pendapatan mengalami fluktuasi. Misalnya realisasi pajak daerah dan retribusi daerah yang mengalami penurunan nilai riil pada tahun 2001/2002 dari 292,6 juta rupiah dan 2,6 milyar rupiah menjadi 208,5 juta rupiah dan 1,7 milyar rupiah (atau penurunannya sebesar 84,1 juta rupiah dan 9 milyar rupiah). Penurunan nilai riil tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi wilayah Kabupaten Sorong yang mengalami pemekaran menjadi 3 kabupaten. Setelah itu pada tahun 2003, realisasi pajak daerah dan retribusi daerah mengalami kenaikan sebesar 338,4 juta rupiah dan 2,5 milyar rupiah (atau kenaikkannya sebesar 129,9 juta rupiah dan 8 milyar rupiah). Kenaikan tersebut walaupun relatif kecil tetapi wajar karena Kabupaten Sorong masih dalam masa transisi untuk membenahi wilayahnya guna menambah Pendapatan Asli Daerah. Pendapatan terbesar diperoleh dari penerimaan yang berasal dari pemberian pemerintah dan atau dana perimbangan. Proporsi rata-rata per tahun hingga mencapai 83, 78 %, dengan variasi sebesar 96, 22 % pada tahun 2001, menurun hingga mencapai 78, 18 % pada tahun 2002, dan terus menurun hingga mencapai 76, 93 % pada tahun 2003. Realisasi pendapatan ini ternyata sebagian besar diperoleh dari penerimaan lainnya dan atau Dana Alokasi Umum. Proporsinya hingga mencapai 80, 66 % pada tahun 2001, menurun menjadi 76,28 % pada tahun 2002, dan terus menurun hingga mencapai 72, 87 % pada tahun 2003.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 8

KABUPATEN SORONG
Tabel 9. Komposisi realisasi penerimaan penerimaan, Tahun 2001-2003. Kabupaten Sorong menurut sumber

Jumlah No. A. 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Penerimaan Tahun 2001 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Pinjaman Pemerintah Daerah Pemberian Pemerintah Instansi dengan Hirarki Tinggi atau Lebih 1 438 424 855 8 368 420 219 249 389 991 713 0,55 3,23 96,22 (Rp) (%)

Kenaikan (%)

6.

Lain-Lain Penerimaan yang Syah Jumlah

259 144 836 787

100,00 -

B. 1. 2. 3. 4. 5.

Tahun 2002 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Pinjaman Pemerintah Daerah Pemberian Pemerintah Instansi dengan Hirarki Tinggi atau Lebih 14 486 657 714 11 971 766 076 280 064 508 411 4,04 3,34 78,18 -

6.

Lain-Lain Penerimaan yang Syah Jumlah

51 728 222 000 358 251 154 201

(14,44) 100,00 38, 24

C. 1. 2. 3. 4. 5.

Tahun 2003 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Pinjaman Pemerintah Daerah Pemberian Pemerintah Instansi dengan Hirarki Tinggi atau Lebih 4 555 670 901 7 497 364 954 347 880 915 143 25 352 260 650 1,00 1,66 76,93 5,62 -

6.

Lain-Lain Penerimaan yang Syah Jumlah

66 893 285 560 452 179 497 208

14,79 100,00 26.21

Hal yang mengesankan bahwa PAD terlampau kecil, rata-rata sebesar 2, 74 persen dari total pendapatan per tahun. Proporsi pendapatan yang bersumber dari PAD ini, disamping sangat kecil, juga cenderung menurun yakni sebesar 3,

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 9

KABUPATEN SORONG
23 pada tahun 2001 ternyata mengalami penurunan hingga mencapai 1, 66 % pada tahun 2003. 3.2. Struktur Pengeluaran Pengeluaran dibedakan menjadi 2 bagian besar yakni belanja aparatur dan belanja publik. Belanja aparatur yang dimaksudkan di sini sama dengan istilah belanja rutin yang digunakan sebelumnya, dan belanja publik sama dengan istilah belanja pembangunan yang digunakan sebelumnya. Tabel 10. Komposisi realisasi pengeluaran Kabupaten Sorong menurut jenis pengeluaran, tahun 2001-2003. Jumlah No. A. 1. 2. Uraian Pengeluaran Tahun 2001 Belanja Aparatur Belanja Publik Jumlah B. 1. 2. Tahun 2002 Belanja Aparatur Belanja Publik Jumlah C. 1. 2. Tahun 2003 Belanja Aparatur Belanja Publik Jumlah 399 230 687 197 48 373 079 563 447 603 766 760 89,19 10,81 100,00 26,55 293 132 880 171 60 546 996 468 353 679 856 639 82,88 17,12 100,00 41,46 224 825 765 240 25 189 762 862 250 015 528 102 89,93 10,07 100,00 (Rp) (%) Kenaikan (%)

Realisasi total belanja Kabupaten Sorong selama tiga tahun terakhir (2001 2003) menunjukkan adanya kenaikan yang tinggi. Tingkat kenaikan rata-rata sebesar 34 %, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2002, tetapi kemudian mengalami penurunan yang cukup besar hingga mencapai 26,55 %. Hal yang mengesankan bahwa sebagian besar pengeluaran adalah untuk belanja aparatur hingga mencapai rata-rata 87, 33 % dari total pengeluaran per tahun. Proporsi pengeluaran ini ternyata cenderung berfluktuasi yakni sebesar 89,93 % pada tahun 2001, mengalami penurunan hingga mencapai 82,88 % pada tahun 2002, dan kembali meningkat hingga mencapai 89,19 % pada tahun 2003. Walaupun proporsi belanja aparatur tergolong tinggi, tetapi masih belum juga mencapai target pengeluaran yang telah direncanakan dalam setiap tahun anggaran. Realisasi belanja aparatur ini tergolong tinggi hingga mencapai rata-rata 94, 16 % per tahun, dan cenderung mengalami peningkatan yakni sebesar 91,38 % pada tahun 2001, meningkat menjadi 93,73 % pada tahun 2002, dan mencapai 97,36 % pada tahun 2003. Selain itu

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 10

KABUPATEN SORONG
pula besar belanja aparatur ini terus mengalami kenaikan dengan tingkat kenaikan yang tergolong tinggi, sebesar 30,38 % pada tahun 2002, dan 36, 19 % pada tahun 2003 Belanja aparatur meliputi 9 pos pengeluaran yakni belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan dinas, belanja lain-lain, ganjaran/subsidi/ sumbangan kepala daerah, bagi hasil dan bantuan keuangan daerah, pengeluaran yang tidak termasuk bagian lain, dan pengeluaran yang tak tersangka. Di antara 9 pos pengeluaran ini ternyata pos pengeluaran belanja aparatur yang terbesar. Proporsi pengeluaran untuk pos belanja pegawai terhadap belanja aparatur hingga mencapai 43 % (Rp 96 714 121 305) pada tahun 2001, mengalami penurunan yang cukup tinggi hingga menjadi 32, 98 % (Rp 96 622 259 278) pada tahun 2002, dan mengalami penurunan tidak berarti hingga menjadi 32, 38 % (Rp 129 272 068 717) pada tahun 2003. Artinya meskipun proporsi pos pengeluaran belanja pegawai mengalami penurunan yang cukup besar pada tahun 2002, tetapi nilainya tergolong kecil yakni Rp 91 862 027.- Hal ini disebabkan pos pengeluaran lain mengalami kenaikan yang sangat tinggi seperti halnya pos pengeluaran belanja pemeliharaan yang mengalami kenaikan sangat tinggi hingga mencapai 746 %. Sebaliknya meskipun proporsi pengeluaran belanja pegawai menunjukkan penurunan pada tahun 2003, tetapi nilainya mengalami kenaikan yang cukup tinggi hingga mencapai Rp 32 649 809 439.Hal ini disebabkan pos pengeluaran belanja pegawai mengalami kenaikan yang tinggi dibandingkan pos pengeluaran lainnya. Belanja publik mencakup 17 pos pengeluaran atau untuk membiayai 17 sektor pembangunan. Namun tidak semua sektor memperoleh alokasi dana pada setiap tahun. Jumlah sektor yang memperoleh alokasi dana berkisar antara 10 sampai 13 sektor per tahun. Proporsi belanja publik ini berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7 ternyata sangat kecil, rata-rata 12, 67 % dari total pengeluaran pada setiap tahun. Selain kecil, proporsi pengeluaran publik ini tenyata cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Tahun 2001, proporsi pengeluaran untuk belanja publik ini sebesar 10, 07 % dari total pengeluaran, dan mencapai 97, 78 % dari target belanja publik yang telah direncanakan (Rp 25 760 860 000). Tahun2002, meningkat menjadi 17, 12 % dari total pengeluaran, tetapi hanya mencapai 70, 79 % dari target belanja publik yang telah direncanakan (Rp 60 546 976 465). Tahun 2003, kembali menurun hingga mencapai 10, 81 % dari total pengeluaran dan mencapai 83, 71 % dari target belanja publik yang telah direncanakan (Rp 57 786 105 000). Alokasi dana untuk belanja publik pada setiap tahun digunakan untuk membiayai 10 sampai 13 sektor di antara 17 sektor pembangunan di Kabupaten Sorong. Di antara 10 sampai 13 sektor ini, ternyata sektor transportasi yang memperoleh alokasi dana terbesar pada setiap tahun. Proporsinya terhadap total belanja pembangunan adalah cukup besar, yakni 38, 24 % (Rp 9 623 177 028) atau 38,24% pada tahun 2001, meningkat menjadi 39, 32 % (Rp 23 808 237 003) pada tahun 2002, dan kembali turun menjadi 35, 48 % (Rp 17 163 052 103) pada tahun 2003. Hal yang menarik bahwa sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi rakyat ternyata memperoleh alokasi dana kecil dan berfluktuasi, walaupun cenderung mengalami kenaikan. Pembangunan sektor pertanian memperoleh alokasi dana sebesar Rp 1 417 306 500 atau 5, 58 % dari total belanja publik

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 11

KABUPATEN SORONG
pada tahun 2001, mengalami kenaikan hingga menjadi Rp 9 991 440 950 atau 16, 50 % dari total belanja publik pada tahun 2002, Kembali mengalami penurunan yang cukup besar hingga menjadi Rp 5 385 198 700 atau 11, 13 % dari total belanja publik pada tahun 2003. 3.3. Pengendalian, Pengawasan, Audit Dokumen hasil pengawasan dan pemeriksaan serta audit penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Sorong tidak ditemukan selama berlangsungnya pengumpulan data dan informasi penyusunan profil Kabupaten Sorong. Hal yang mengesankan tampaknya dokumen seperti ini tidak tersedia untuk diakses oleh publik. Satu-satunya dokumen yang tersedia adalah Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2003 di lingkungan Badan Pengawasan Pembangunan Daerah (BAWASDA) Kabupaten Sorong. Berdasarkan dokumen LAKIP ini pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Sorong dilakukan oleh BAWASDA Kabupaten Sorong. Pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan dilakukan melalui Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT). PKPT ini mencakup 2 program utama yakni: (1) pengawasan dan pemeriksaan rutin, dan (2) pemeriksaan khusus. Pengawasan dan pemeriksaan rutin yang dilakukan BAWASDA menghasilkan 49 temuan, dan 47 kasus (96 %) di antaranya telah ditindak lanjuti. Hambatan yang dikeluhkan BAWASDA adalah obyek pemeriksaan kurang proaktif melakukan/ menyelesaikan tidak lanjut hasil pemeriksaan BAWASDA. Keadaan ini merupakan salah satu indikator tentang belum memadainya kapasitas instansi pemerintah di Kabupaten Sorong untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan berdasarkan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi. Pengawasan khusus ditujukan kepada obyek pemeriksaan yang berindikasi KKN berdasarkan pengaduan masyarakat. Hasil pengaduan masyarakat selama tahun 2003 sebanyak 12 kasus, dan 5 kasus (41,67 %) di antaranya telah berhasil ditindaklanjuti oleh BAWASDA. Terbatasnya jumlah kasus berindikasi KKN yang dapat ditindak lanjuti oleh BAWASDA disebabkan kurang tersedianya dana yang memadai dan waktu yang cukup bagi BAWASDA untuk melakukan penelitian terhadap obyek pemeriksaan berindikasi KKN yang diadukan masyarakat. Selain itu disebabkan pula oleh staf BAWASDA yang belum sepenuhnya profesional melakukan penelitian terhadap obyek pemeriksaan berindikasi KKN yang diadukan masyarakat. Kedua hal pokok ini merupakan indikasi tentang belum memadainya kapasitas BAWASDA untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap obyek pemeriksaan yang berindikasi KKN. 4. PERAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN 4.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Hasil identifikasi identitas personil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sorong hasil PEMILU Tahun 2004 berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris Dewan disajikan pada Tabel 11.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 12

KABUPATEN SORONG
Tabel 11. No Identitas DPRD Kabupaten Sorong berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretariis Dewan, 2004. Uraian Jumlah Personil DPRD Laki-Laki Perempuan (Org) (%) (Org) (%) 13 5 18 65 25 90 1 1 2 5 5 10 Total (Org) 14 6 20 (%) 70 30 100

1.

Pendidikan SLTP SLTA Perguruan Tinggi Daerah Asal (suku) -Papua - Bukan Papua Agama -K.Protestan -K.Katolik -Islam Umur < 30 Tahun 30 55 Tahun > 55 Tahun Partai Golkar PDIP PPP PKB Demokrat PDK PDS Bintang Reformasi
Buruh Demokrat Jumlah Sosial

2.

8 10 18 9 4 5 18 1 2 15 18 9 3 2 1 1 1 1 18

40 50 90 45 20 25 90 5 10 75 90 45 15 10 5 5 5 5 90

1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 2

5 5 10 5 5 10 5 5 10 5 5 10

9 11 20 10 4 6 20 2 3 15 20 9 3 2 1 1 1 1 1 1 20

45 55 100 50 20 30 100 10 15 75 100 45 15 10 5 5 5 5 5 5 100

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9.

Hal yang menarik bahwa di antara 20 orang personil DPRD periode 2004-2009 terdapat 2 orang (10 %) wanita. Ini adalah suatu terobosan baru sebagai salah satu indikator berlangsungnya proses pemberian peran yang lebih besar bagi kaum wanita untuk bekerja di luar rumah. Ditinjau dari aspek pendidikan ternyata personil DPRD periode 2004-2009 ini masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SLTA (70 %) dibandingkan mereka yang berpendidikan tinggi (30 %). Berdasarkan daerah asal, tampak bahwa jumlah personil DPRD suhah hampir berimbang antara Papua (45 %) dan Luar Papua (55 %). Demikian pula berdasarkan agama yang dianut ternyata keanggotaan DPRD ini telah menyebar cukup proporsonal pada tiga agama yang jumlah penganutnya besar di Kabupaten Sorong. Ditinjau dari aspek umur, personil DPRD didominasi oleh mereka yang berusia lanjut (75 %). Namun sebagian personil yang berusia lanjut ini adalah mereka yang telah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 13

KABUPATEN SORONG
berpengalaman dibidang birokrasi sehingga diharapkan dapat melaksanakan tugas-tugas perwakilan rakyat yang lebih baik. Partai politik besar yakni GOLKAR tetap mendominasi keanggotaan DPRD Kabupaten, sebanyak 9 orang atau 45 % dari jumlah personil DPRD periode 2004-2009. Namun jumlah ini belum menempatkan Partai GOLKAR menjadi partai mayoritis. Jumlah partai politik yang menyusun DPRD tergolong cukup banyak yakni 9 partai politik.
Tidak adanya partai mayoritas dan jumlah partai politik yang cukup banyak merupakan indikasi tentang adanya keharusan bagi setiap partai politik untuk membuat kesepakatan-kesepakatan dalam setiap pengambilan keputusan. Keadaan ini juga merupakan indikasi tentang perjalanan DPRD periode 20042009 akan sangat dinamis. Hasil kerja DPRD Kabupaten Sorong periode 2000-2004 merupakan bahan perbandingan bagi DPRD periode 2004-2009. Selengkapnya hasil kerja DPRD Kabupaten Sorong periode tahun 2000-2004 disajikan seperti pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil kerja DPRD Kabupaten Sorong periode tahun 2000-2004 No. Hasil Kerja Jumlah (Dokumen) 1. Peraturan Daerah (PERDA) 72 2. Rencana Anggaran 3. Hasil Evaluasi Pelaksanaan Anggaran 4. Keputusan 20 Sumber : Bagian Hukum Pemda Kabupaten Sorong dan Bagian Kesekretariatan DPRD Kabupaten Sorong, 2004 DPRD Kabupaten Sorong periode 2000-2004 telah berhasil membuat PERDA disamping membuat keputusan-keputusan pentng dalam bentuk dokumen tertulis yang cukup banyak. Namun tidak ditemukan adanya dokumen tertulis tentang hasil pembahasan rencana anggaran. Selain itu tidak ditemukan pula adanya dokumen tertulis tentang hasil evaluasi pelaksanaan anggaran yang dilakukan DPRD selama periode 2000-2004. Khusus DPRD Kabupaten Sorong periode 2005-2009 telah mengawali tugasnya dengan pembekalan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas DPRD pada saat melaksanakan tugas lebih lanjut. 4.2. Sistem Keikutsertaan Masyarakat Dalam Perencanaan Pembangunan Pelaksanaan perencanaan pembangunan Kabupaten Sorong telah melibatkan masyarakat secara langsung maupun perwakilan. Hal ini terungkap berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris BAPPEDA Kabupaten Sorong, disajikan seperti pada Tabel 13. Tabel 13 memberi gambaran tentang keterlibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD, BPM/BPD/LKMD. Status semua unsur-unsur ini dalam perencanaan pembangunan adalah aktif. Peranan DPRD dalam perencanaan pembangunan daerah diwujudkan dalam bentuk partisipasi aktif DPRD dalam rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. Partisipasi DPRD dalam perencanaan pembangunan diwujudkan pula dalam bentuk kehadiran anggota DPRD pada forum-forum seminar tentang rencana strategi instansi pemerintah maupun swasta.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 14

KABUPATEN SORONG
BPMD/BPD/LKMD yang telah berperan aktif dalam perencanaan pembangunan jumlahnya masih terbatas. Sebagian besar atau hampir seluruh BPMD/BPD/LKMD keaktifannya dalam proses perencanaan tercipta melalui mekanisme kunjungan staf BAPPEDA ke kampung-kampung. Artinya BPMD/BPD/LKMD tidak proaktif membuat perencanaan dari bawah yang selanjutnya diusulkan kepada pemerintah secara hirarkis dari kampung hingga akhirnya sampai ke BAPPEDA Kabupaten Sorong. Mekanisme peran BPMD/BPD/LKMD seperti ini dalam perencanaan pembangunan terjadi pula pada masyarakat Tabel 13. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan di Kabupaten Sorong, 2004. Jenis Lembaga DPRD BPMD/BPD/LKMD LSM Masyarakat Keikutsertaan (ada/tidak) Ada Ada Ada Ada Keterangan Aktif Aktif Aktif Aktif

.
LSM telah ikut serta secara aktif dalam perencanaan pembangunan di Kabupaten Sorong. Namun realisasi perannya cenderung tidak jauh berbeda dengan DPRD yakni sebatas ikut serta dalam pembahasan dokumen rencana dari berbagai instansi pemeri8ntah maupun swasta. Tampaknya LSM lebih cenderung aktif dalam mengungkap dan menyuarakan permasalahanpermasalahan di lingkungan masyarakat, mirip tugas seorang jurnalistik. Di Kabupaten Sorong belum tampak lebih jelas peran LSM dalam perencanaan pembangunan. 4.3. Sistem pengadilan Lembaga pengadilan ini dibedakan menjadi lembaga pengadilan formal dan lembaga pengadilan nonformal atau tradisional. Khusus lembaga pengadilan formal dibedakan menjadi lembaga pengadilan negeri, dan lembaga pengadilan tata usaha negara. 4.3.1. Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong memiliki Pengadilan Negeri, sebagai sebuah lembaga yang telah ada sebelum pemekaran kabupaten. Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong ini disamping menangani peradilan di Kabupaten Sorong, juga menangani peradilan di kabupaten pemekaran yakni Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat, termasuk pula peradilan di Kota Sorong. Sumber daya manusia yang melengkapi lembaga ini dalam memberi pelayanan kepada masyarakat adalah PNS sebanyak 35 orang. Sebaran jumlah PNS di lingkungan Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong berdasarkan status kepegawaian disajikan pada Tabel 14. Jumlah hakim dilihat dari wilayah administratif yang dilayani yang mencakup 3 kabupaten dan 1 kota, dilai kurang. Namun hal ini tampaknya bersifat sementara, sambil menunggu terpilihnya bupati definitif di Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. Terbatasnya jumlah hakim ini dapat dilihat dari adanya kasus-kasus pidana maupun perdata yang tidak berhasil diselesaikan selama tahun 2004, seperti pada Tabel 15.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 15

KABUPATEN SORONG
Tabel 14. Sebaran jumlah PNS di lingkungan Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong berdasarkan status kepegawaian, 2004. No. 1. 2. 3. 4. Tabel 15. Status Hakim Jaksa Panitera Staf lainnya Laki-Laki 5 1 25 Perempuan 10 Total 5 1 35

Hasil pengelolaan pengadilan kasus perkara di Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong, 2004. Jenis Kasus Pidana Perdata Jumlah Ditangani 110 50 160 Diselesaikan 84 12 96 Backlog (daftar antri) 26 38 64

No. 1. 2.

Pengadilan Tata Usaha Negara di Kabupaten Sorong seperti juga di kabupaten/kota lain di Papua, belum ada, kecuali di Kota Jayapura Setiap kasus yang memerlukan peradilan Tata Usaha Negara dilimpahkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara di Jayapura. Pengadilan tradisional di Kabupaten Sorong tampaknya tidak dikenal luas oleh masyarakat di daerah ini. Menurut Ketua Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong, pengadilan tradisional tidak ada. Pengadilan hanya satu yaitu pengadilan negeri yang terdapat di Kabupaten Sorong yang menangani semua kasus pidana dan perdata.

5.

KEADAAN EKONOMI 2000 2003


5.1. Pertumbuhan PDRB Untuk mengetahui gambaran mengenai pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sorong dapat ditunjukkan melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut harga tetap dan harga yang berlaku. Pertumbuhan PDRB Atas Harga Berlaku dan Atas Harga Konstan Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003 disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Pertumbuhan PDRB Atas Harga Berlaku dan Atas Harga Konstan Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003. PDRB Atas Harga Berlaku PDRB Atas Harga Konstan Tahun Pertumbuhan Pertumbuhan (Rp. 000.000,-) (Rp. 000.000,-) (%) (%) 2000 1.373.555,90 365.347,33 2001 1.338.755,51 - 2,53 365.328,87 -0,005 2002 1.399.700,67 4,55 378.988,05 3,740 2003 1.530.365,84 9,33 401.323,96 5,890

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 16

KABUPATEN SORONG
PDRB Atas Harga Berlaku menun jukan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,78 % per tahun, dengan kisaran minimum sebesar 2,53 % pada tahun 2001 dan maksimum sebesar 9,33 % pada tahun 2003. Demikian pula PDRB Atas Harga Konstan juga menunjukan pertumbuhan, rata-rata sebesar 3,21 % per tahun, dengan kisaran minimum sebesar 0,005 pada tahun 2001 dan maksimum sebesar 5,89 pada tahun 2003. Menurunnya pertumbuhan PDRB Atas Harga Berlaku hingga bertanda negatif (2,53 %) maupun PDRB Atas Harga Konstan (-0,005 %) pada tahun 2001 disebabkan terbentuknya Kota Sorong definitif yang terpisah dari Kabupaten Sorong pada tahun 2000. Pemisahan Kota Sorang dari Kabupaten Sorong berdampak pada pemisahan PDRB yang berasal dari sumber-sumber ekonomi yang berada di wilayah Kota Sorong definitif, atau pengurangan PDRB bagi Kabupaten Sorong. Meningkatnya PDRB Atas Harga Berlaku maupun Atas Harga Konstan setelah tahun 2001 disebabkan meningkatnya harga-harga berbagai kebutuhan dasar masyarakat umum. Pada tahun 2003, PDRB menurut haga yang berlaku mengalami kenaikan sebesar 9,33 %, sedangkan menurut harga tetap kenaikkannya lebih kecil yakni 5,89 %. Artinya, secara kasar dapat ditaksir bahwa tingkat inflasi dalam tahun 2003 mencapai kurang lebih 3,44 persen. 5.2. PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003 disajikan pada Tabel 17. Tabel 17. PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003. Rata-rata PDRB Menurut Tahun (Rp 000 000) Pertumbuhan Sektor 2000 2001 2002 2003 (%) Pertambanga 968.484,87 889.149,14 900.870,12 973.518,6 0,17 n dan Galian 9 Transportasi 9.531,20 10.991,05 12.430,75 14.066,50 13,85 Perdagangan 17.565,41 19.733,64 22.123,26 25.332,63 12,98 Pertanian 154.195,89 176.382,11 200.407,92 218.260,1 12,27 0 Listrik 1.164,77 1.549,55 2.015,77 2.601,51 30,71 Keuangan 4.720,68 5.211,17 5.723,76 5.561,73 5,61 Bangunan 19.903,57 21.236,55 24.129,50 27.915,33 11,93 Industri 118.306,53 118.670,25 124.418,31 138.829,6 5,47 2 Jasa-jasa 79.682,99 95.832,05 107.581,29 123.279,7 15,65 3 Rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Atas Harga Berlaku menurut sektor tahun 2000 2003 mengalami kenaikan. Sektor yang paling dominan kenaikannya adalah sektor listrik sebesar 30,71 % dan diikuti oleh sektor jasa-jasa, transportasi, perdagangan, pertanian, bangunan, keuangan, industri dan yang paling kecil adalah sektor pertambangan dan galian sebesar 0,17 %.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 17

KABUPATEN SORONG
5.3. PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003 disajikan pada Tabel 18. Tabel 18. PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003. PDRB Menurut Tahun (Rp 000) Sektor Pertambangan dan Galian Transportasi Perdagangan Pertanian Listrik Keuangan Bangunan Industri Jasa-jasa 2000 185.480,8 5 6.551,71 8.855,34 77.271,03 769,67 2.824,91 11.568,57 51.562,05 20.463,20 2001 176.065,0 3 7.105,33 9.391,17 82.475,07 879,04 2.859,06 12.063,02 52.317,89 22.173,26 2002 177.874,8 6 7.555,84 9.895,43 89.141,01 1.004,87 2.924,13 12.667,78 53.774,82 24.149,32 2003 187.494,3 7 7.969,60 10.496,40 92.992,59 1.169,08 3.108,38 13.617,27 57.783,88 26.692,39 Rata-rata Pertumbuhan (%) 0,36 6,74 5,83 6,36 14,95 3,23 5,58 3,87 9,26

Sama halnya dengan PDRB Atas Harga Berlaku, rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Atas Harga konstan menurut sektor tahun 2000 2003 juga mengalami kenaikan. Sektor yang paling dominan kenaikannya adalah sektor listrik sebanyak 14,95 persen dan diikuti oleh sektor jasa-jasa, transportasi, perdagangan, pertanian, bangunan, keuangan, industri dan yang paling kecil kenaikannya adalah sektor pertambangan dan galian sebanyak 0,36 persen. 5.4. Komposisi PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor Komposisi PDRB Atas Harga Berlaku menurut sektor periode 2000-2003 di Kabupaten Sorong disajikan pada Tabel 19. Tabel 19. Komposisi PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003. Sektor Pertambangan dan Galian Transportasi Perdagangan Pertanian Listrik Keuangan Bangunan Industri Jasa-jasa 2000 (%) 70,51 0,69 1,28 11,23 0,,08 0,34 1,45 8,61 5,80 2001 (%) 66,42 0,82 1,47 13,18 0,12 0,39 1,59 8,86 7,16 2002 (%) 64,36 0,89 1,58 14,32 0,14 0,41 1,72 8,89 7,69 2003 (%) 63,61 0,92 1,66 14,26 0,17 0,43 1,82 9,07 8,06 Rata-rata Perubahan (%) 66,22 0,83 1,49 13,24 0,12 0,39 1,64 8,85 7,17

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 18

KABUPATEN SORONG
Rata-rata perubahan komposisi PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Sektor menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan galian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Atas Harga Berlaku (66, 22 % per tahun). Menyusul berturut-turut sektor pertanian (13,24 persen), sektor industri (8,85 persen), sektor jasa-jasa (7,17 persen) dan sektor lainnya. Sedangkan sektor yang kontribusinya paling kecil adalah sektor listrik (0,12 persen). Rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Atas Harga Berlaku menurut sektor menunjukan bahwa sektor yang paling dominan kenaikannya adalah sektor listrik (30,71 % per tahun). Menyusul berturut-turut sektor jasajasa, transportasi, perdagangan, pertanian, bangunan, keuangan, industri, dan sektor pertambangan dan galian (0,17 % per tahun). Berdasarkan hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa walaupun sektor pertambangan dan galian mempunyai rata-rata tingkat kenaikan pertumbuhan ekonomi Atas Harga Berlaku paling kecil (0,17 % per tahun), namun kontribusinya paling besar terhadap PDRB Atas Harga Berlaku (66,22 % per tahun). Selain itu dapat pula dikatakan bahwa perekonomian Kabupaten Sorong masih sangat tergantung pada sektor pertambangan dan galian. Sebaliknya sektor listrik mempunyai rata-rata tingkat kenaikan pertumbuhan ekonomi Atas Harga Berlaku paling besar (30,71 % per tahun), tetapi kontribusinya paling kecil terhadap PDRB atas harga berlaku (0,12 % per tahun). 5.5. Komposisi PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor Hasil perhitungan komposisi PDRB atas harga konstan menurut sektor di Kabupaten Sosong disajikan pada Tabel 20. Tabel 20. Komposisi PDRB Atas Harga Konstan Menurut Sektor di Kabupaten Sorong Tahun 2000 2003. Sektor Pertambangan dan Galian Transportasi Perdagangan Pertanian Listrik Keuangan Bangunan Industri Jasa-jasa 2000 (%) 50,77 1,79 2,42 21,15 0,21 0,77 3,17 14,11 5,61 2001 (%) 48,19 1,94 2,57 22,58 0,24 0,78 3,31 14,32 6,07 2002 (%) 46,93 1,99 2,61 23,52 0,27 0,78 3,34 14,19 6,37 2003 (%) 46,72 1,99 2,62 23,17 0,29 0,77 3,39 14,40 6,65 Rata-rata Perubahan (%) 48,15 1,92 2,55 22,60 0,25 0,77 3,30 14,25 6,17

Rata-rata perubahan komposisi PDRB Atas Harga konstan Menurut Sektor menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan galian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Atas Harga Konstan (48,15 % per tahun). Menyusul berturut-turut sektor pertanian (22,60 %), sektor industri (14,25 %), sektor jasa-jasa (6,17 %), dan sektor lainnya. Sektor yang kontribusinya paling kecil adalah sektor listrik (0,25 persen).

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 19

KABUPATEN SORONG
Rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Atas Harga Konstan menurut sektor menunjukan bahwa sektor yang paling besar kenaikannya adalah sektor listrik (14,95 % per tahun). Menyusul berturut-turut sektor jasajasa, transportasi, perdagangan, pertanian, bangunan, keuangan, industri, dan yang paling kecil kenaikannya adalah sektor pertambangan dan galian (0,36 % per tahun). Berdasarkan hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa walaupun sektor pertambangan dan galian mempunyai rata-rata tingkat kenaikan pertumbuhan ekonomi Atas Harga Konstan paling kecil kenaikkannya (0,36 % per tahun), namun kontribusinya paling besar terhadap PDRB Atas Harga Berlaku (48,15 % per tahun). Hal ini berarti pula bahwa perekonomian Kabupaten Sorong masih sangat tergantung pada sektor pertambangan dan galian. Sebaliknya sektor listrik mempunyai rata-rata tingkat kenaikan pertumbuhan ekonomi Atas Harga Berlaku paling besar kenaikkannya (14,95 % per tahun), tetapi kontribusinya paling kecil terhadap PDRB Atas Harga Berlaku (0,25 % per tahun).

6.

PELAYANAN SOSIAL DASAR


6.1. Kesehatan Kebijaksanaan Pemerintah Kabupaten Sorong difokuskan pada pelayanan pasien di Rumah Sakit Umum (RSU) yang berlokasi di Kota Sorong. Selain itu dilakukan pula di PUSKESMAS pada setiap distrik, dan di PUSKESMAS Pembantu (PUSTU) atau Poliklinik Desa di setiap kampung.

Tabel 21. Sebaran jumlah tenaga medis berdasarkan jenis kelamin dan kualifikasi dokter serta pendidikan perawat maupun bidan, 2004. No. Golongan Jumlah Tenaga Medis Total Tenaga Medis Berdasarkan Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan (Orang) (%) (Orang) (%) (Orang) (%) 1. Dokter 1.1. Spesialis 10 2 12 1.2. Umum 22 9 31 Sub Jumlah 32 7,77 11 2,67 43 10,44 2. Perawat 2.1. SLTP 22 19 41 2.2. SLTA 32 46 78 2.3. Diploma 35 48 83 2.4. Strata-1 9 11 20 Sub Jumlah 98 23,78 124 30,10 222 53,88 3. Bidan 3.1. SLTP 4 4 3.2. SLTA 114 114 3.3. Diploma 29 29 3.4. Strata-1 Sub Jumlah 147 35,68 147 35,68 Jumlah 130 31,55 282 68,45 412 100,00 Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan oleh 412 orang tenaga medis, mencakup dokter, perawat, dan bidang. Selengkapnya sebaran jumlah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 20

KABUPATEN SORONG
tenaga medis ini berdasarkan kualifikasi dokter, dan pendidikan perawat maupun bidan disajikan pada Tabel 21. Ditinjau dari segi jumlahnya, tenaga medis ini sebenarnya sudah tergolong banyak. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Sorong (120 052 Jiwa) masih tergolong belum memadai, dengan perbandingan 1 : 291. Artinya setiap tenaga medis harus melayani 291 orang anggota masyarakat. Perbandingan ini menjadi lebih kecil pada dokter, dengan perbandingan 1 : 2 791. Artinya setiap orang dokter harus melayani sebanyak 2 791 orang anggota masyarakat. 6.2. Pendidikan Kebijakan Pemerintah (PEMDA) Kabupaten Sorong adalah pelayanan pendidikan bagi masyarakat dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Hal ini direalisasikan dalam berbagai kebijakan lain seperti kebijakan dalam pembentukan struktur organisasi PEMDA Kabupaten Sorong, dan kebijakan pengadaan PNS. Ditinjau dari aspek organisasi PEMDA Kabupaten Sorong, dibentuk 2 dinas yang mengelola penyelenggaraan pendidikan yakni Dinas Pendidikan Dasar, dan Dinas Pendidikan Lanjutan. Dinas Pendidikan Dasar mengelola penyelenggaraan pendidikan Sekolah Dasar (SD), dan Dinas Pendidikan Lanjutan mengelola penyelenggaraan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Selengkapnya sebaran jumlah sekolah berdasarkan jenjang disajikan pada Tabel 22. Tabel 22. No. Sebaran jumlah sekolah berdasarkan jenjang pendidikan di Kabupaten Sorong, 2004. Jumlah Sekolah Berdasarkan Status (Unit) Jenjang Total Pendidikan (Unit) Negeri Swasta Umum Kejuruan Jumlah Umum Kejuruan Jumlah SD 99 SLTP 11 11 7 7 18 SLTA 1 2 3 2 1 3 6

1. 2. 3.

Sekolah Dasar telah cukup tersedia dan tersebar di kampung-kampung serta kelurahan di Kabupaten Sorong, dengan rasio 1,2. Rasio ini tergolong baik, artinya pada setian 12 kampung/kelurahan di Kabupaten Sorong, terdapat 10 unit SD. SLTP ditinjau dari jumlahnya, tergolong cukup untuk melayani pendidikan lanjut bagi murid lulusan SD. Tingkat kecukupan ini ditinjau dari jumlah murid lulusan SD yang memerlukan pelayanan pendidikan lanjut, dengan perbandingan ! : 83. Artinya setiap unit SLTP cukup menampung 83 murid lulusan SD. Suatu perbandingan yang baik, yakni setiap unit SLTP cukup menyediakan 2 ruang kelas I untuk menampung murid baru. Ketersediaan gedung SLTP saja masih belum cukup untuk memberikan pelayanan pendidikan lanjut yang baik bagi murid lulusan SD di Kabupaten Sorong, kecuali di Distrik Aimas. Hal ini disebabkan faktor lokasi bangunan SLTP di luar Distrik Aimas yang ternyata memiliki aksesibilitas rendah terhadap kampung-kampung asal murid lulusan SD. Lokasi bangunan SLTP di luar Distrik Aimas ditempatkan di pusat-pusat pemerintahan distrik yang memiliki

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 21

KABUPATEN SORONG
aksesibilitas rendah terhadap sebagian kampung-kampung di sekitarnya. Setiap unit SLTP rata-rata harus mampu menampung lulusan murid SD yang berasal dari 7 kampung. Rendahnya aksesibilitas ini disebabkan 2 faktor utama, yakni faktor geografis dan faktor transportasi yang tidak menunjang mobilitas murid antar kampung dan SLTP tempat mereka bersekolah. Misalnya di Distrik Seget terdapat sebuah SMP Negeri yang melayani pendidikan lanjut bagi lulusan SD di kampung-kampung sekitarnya seperti Kampung Duriankari, Kotlol, dan Kampung Pulau Kasim. Letak SMP ini di Kampung Seget terhadap SD di kampung-kampung sekitarnya dipisahkan oleh perairan laut Selat Sele. Satusatunya sarana perhubungsn yang digunakan untuk menghubungkan SMP ini dengan kampung-kampung di sekitarnya adalah perahu motor tempel. Jenis sarana perhubungan ini bagi masyarakat kampung-kampung di Selat Sele merupakan sesuatu yang langka bagi orangtua murid. Selain itu tidak terdapat perahu motor khusus yang melayani angkutan secara rutin bagi murid-murid yang berasal dari kampung-kampung di sekitarnya. Realitas yang umum dalam kehidupan murid SLTP di SMP Negeri Seget ini adalah sebagian besar murid yang memasuki pendidikan SMP Negeri Seget tidak dapat kembali ke rumahnya di kampung pada setiap hari sekolah. Muridmurid ini terpaksa tinggal menumpang di sekitar gedung SMP yakni di rumah famili atau kerabat orang tua mereka di Kampung Seget. Di rumah tempatnya menumpang, murid-murid ini kurang mendapatkan kebutuhan dasar minimal secara wajar sebagai anak sekolah seperti makan kurang teratur, belajar tidak teratur, dan istrahat yang juga tidak teratur. Akibatnya, menurut penjelasan Kepala SMP Negeri Seget terjadi hal-hal sebagai berikut: (1) prestasi belajar murid yang kurang memuaskan, (2) terdapat anak putus sekolah lanjutan pertama di SMP Negeri Seget, dan (3) terdapat anak-anak lulusan SD di kampung-kampung Kawasan Selat Sele tidak melanjutkan pendidikan ke SLTP. Masalah yang lebih sulit dialami oleh lulusan SLTP yang melanjutkan pendidikan ke SLTA. Lokasi bangunan SLTA sebanyak 6 unit ditempatkan di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong, yakni di Distrik Aimas. Artinya setiap unit SLTA harus menampung lulusan dari 3 unit SLTP. Jumlah lulusan dari setiap SLTP ini pada tahun 2004 sebanyak 74 murid, atau 222 murid untuk setiap 3 unit SLTP. Hal ini berarti setiap unit SLTA harus menyiapkan 5 sampai 6 ruang kelas untuk menampung lulusan SLTP yang melanjutkan ke Kelas I SLTA. Sebagian besar murid yang memasuki pendidikan SLTA di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong tidak dapat kembali ke rumahnya di kampung pada setiap hari sekolah. Murid-murid ini terpaksa tinggal menumpang di rumah famili atau kerabat orang tua mereka di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong.. Di rumah tempatnya menumpang, murid-murid ini kurang mendapatkan kebutuhan dasar minimal secara wajar sebagai anak sekolah seperti makan dan belajar serta istrahat yang tidak teratur. Akibatnya, prestasi belajar murid yang kurang memuaskan, terdapat anak putus sekolah lanjutan atas, dan terdapat anak-anak lulusan SLTP di kampung-kampung tidak melanjutkan pendidikan ke SLTA. Sumber daya manusia yang menyelenggarakan pendidikan sebanyak 1 310 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Proporsinya terhadap seluruh (3 596 Orang) PNS di Kabupaten Sorong dinilai baik, yakni mencapai 36, 42 persen. Dari jumlah ini sebanyak 1 053 orang (80, 38 %) adalah guru, dan 257 orang (19, 62 %) bukan guru.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 22

KABUPATEN SORONG
Tabel 23. Sebaran jumlah guru berdasarkan jenjang pendidikan di Kabupaten Sorong, 2004. No. 1. 2. 3. Jenjang Pendidikan Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Jumlah Jumlah (Orang) 727 246 80 1 053 Proporsi (%) 69, 04 23, 36 7, 60 100, 00

Khusus pada jenjang pendidikan SD, sebagian besar (62 %) guru bertugas di kota, tetapi sebagian besar (56) SD berada di desa. Jumlah guru bidang studi sangat terbatas yakni 150 orang atau 20, 23 persen dari jumlah seluruh guru SD. Dari jumlah guru bidang studi ini ternyata sebagian besar yakni 104 orang atau 69 persen bertugas di kota, sementara sebagian besar (56 %) SD berada di desa. 6.3. Pertanian Pertanian yang dimaksudkan mencakup pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Namun data yang agak lengkap terbatas pada pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan. Pertanian Tanaman Pangan Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sorong pada subsektor pertanian tanaman pangan difokuskan pada pengembangan pertanian padi sawah, palawija, sayursayuran, dan buah-buahan. Selengkapnya, realisasi pengembangan pertanian tanaman pangan sampai dengan Desember 2004 disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Realisasi pengembangan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Sorong, 2004. Jenis Tanaman Padi Palawija Sayur-Sayuran Buah-Buahan Luas (Ha) 2 336 4 485 485 23 551 Produksi (Ton) 2 945 9 621 331 2 109 Produktivitas (Ton/Ha) 1,32 2,14 0,68 0,089

No. 1. 2. 3. 4.

Tingkat produksi tiap jenis tanaman pertanian ini ternyata sangat rendah, kecuali palawija. Padi dengan produktivitas sebesar 1,32 ton/ha adalahan jauh lebih randah dibandingkan produktivitas padi tingkat nasional (4,5 ton/ha) maupun tingkat Regional Papua (2,5 ton/ha). Sayur-sayuran dengan produktivitas 0,68 ton/ha juga sangat rendah, dibandingkan produktivitas sayur-sayuran tigkat nasional (1,8 ton/ha). Buah-buahan dengan produktivitas sebesar 0,089 ton/ha, sangat jauh lebih rendah dibandingkan produktivitas buah-buahan tingkat nasional (3 ton/ha). Hal ini terlihat dari jenis-jenis produksi pangan terutama beras, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang diperdagangkan di pusat-pusat pembelanjaan Kabupaten Sorong ternyata didominasi jenis produksi impor atau yang didatangkan dari luar Papua seperti Sulawesi dan Jawa. Artinya ketergantungan Kabupaten Sorong terhadap produksi pertanian pangan impor adalah sangat besar.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 23

KABUPATEN SORONG
Hal yang mengesankan, Kabupaten Sorong memiliki komoditas pangan spesifik lokal yang telah dikenal luas dan turun-temurun di kalangan Masyarakat Kabupaten Sorong yakni sagu dan keladi. Namun belum tampak secara jelas upaya-upaya nyata Pemerintah Kabupaten Sorong untuk mengembangkan budidaya kedua jenis tanaman ini, dengan memberi fokus pada pengembangan pertanian berorientasi agribisnis. Sumber daya manusia yang menjadi pelaku pelayanan masyarakat pada sub sektor pertanian tanaman pangan, adalah PNS. Jumlah seluruh PNS dilingkungan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sorong sebanyak 107 orang, dibedakan menjadi 76 orang pegawai struktural dan 31 orang pegawai fungsional atau penyuluh pertanian tanaman pangan. Penyuluh pertanian tanaman pangan, jumlahnya tergolong kecil (29 %) yakni jauh lebih kecil dibandingkan tenaga struktural (71 %). Berdasarkan jenjangnya, terdapat 1 orang penyuyluh pertanian spesialis (PPS), 5 orang penyuluh pertanian madya (PPM), dan 25 orang penyuluh pertanian lapangan (PPL). Dibandingkan dengan jumlah desa (85) di Kabupaten Sorong, setiap PPL memiliki wilayah kerja yang luas yakni 3 sampai 4 desa. Barangkali faktor ini yang menjadi salah satu penyebab PPL tidak dapat melaksanakan tugasnya di lapangan dengan lebih baik. Para petani yang berhasil diwawancarai di lima kampung di luar kampung-kampung transmigran mengaku belum pernah mengenal PPL yang bertugas di kampungnya, sebagai indikator lemahnya pelayanan transfer pengetahuan dan teknologi serta manajemen usaha pertanian tanaman pangan kepada masyarakat petani. Perkebunan Kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Kabupaten Sorong difokuskan pada 3 komoditi andalan yakni kakao, kelapa, dan kopi. Realisasi kebijakan ini dapat dilihat dari luas masing-masing jenis tanaman yang telah berhasil dikembangkan, dan tingkat keberhasilannya diukur berdasarkan tingkat produktivitas lahan tiap jenis tanaman. Selengkapnya, luas perkebunan rakyat yang telah dikembangkan, dan produktivitas kebun. disajikan pada Tabel 25. Tabel 25. Luas perkebunan rakyat yang telah dikembangkan produktivitasnya di Kabupaten Sorong, 2004. Luas (Ha) 1 817 2 333 174 Produksi (Ton) 286 1 109 24 dan

No. 1. 2. 3.

Jenis Tanaman Kakao Kelapa Kopi

Produktivitas (Ton/Ha) 0,157 0,475 0,137

Tingkat produksi ketiga jenis tanaman perkebunan rakyat ini tampak sangat rendah, rata-rata di bawah 1 ton/ha. Rendahnya tingkat produksi ketiga jenis tanaman ini disebabkan faktar penerapan tindak-tindak agronomis yang tidak sempurna. Pemupukan tidak dilakukan, pengendalian hama dan penyakit serta gulma tidak dilakukan secara intensif. Khusus tanaman kakao, rendahnya produksi diperburuk oleh faktor pemasaran, dan bahkan dinilai sebagai faktor utama penyebab penurunan produksi. Produksi tanaman kakao tidak memiliki pembeli tetap, dan harganya sangat berfluktuasi. Pembelian produksi biji kakao kering dilakukan oleh pedagang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 24

KABUPATEN SORONG
pengumpul tingkat kampung dan pedagang pengumpul tingkat distrik. Pedagang pengumpul pada waktu-waktu tertentu melakukan aktivitas penampungan hasil panen dengan harga yang tinggi hingga mencapai Rp 14 000,00.- per kilogram biji kakao kering. Sebaliknya pada waktu yang lain pedagang pengumpul ini hanya bersedia membeli dengan harga rendah hingga mencapai Rp 7 000,00.- per kilogram biji kakao kering. Kondisi pasar seperti ini tidak merangsang petani untuk meningkatkan produksi melalui penerapan tindak-tindak agronomi yang lebih sempurna. Jumlah seluruh PNS dilingkungan Dinas Perkebunan Kabupaten Sorong sebanyak 80 orang. Berdasarkan status kepegawaiannya dibedakan menjadi 63 orang pegawai struktural dan 17 orang pegawai fungsional atau penyuluh perkebunan. Penyuluh perkebunan sebagai petugas pemerintah yang berhubungan langsung memberi pelayanan kepada masyarakat petani jumlahnya sedikit (21 %), jauh lebih sedikit dibandingkan pegawai struktural (79 %). Berdasarkan jenjangnya, terdapat 2 orang penyuyluh perkebunan spesialis (PPS), 2 orang penyuluh perkebunan madya (PPM), dan 13 orang penyuluh perkebunan lapangan (PPL). Dibandingkan dengan jumlah kampung (85) di Kabupaten Sorong, setiap PPL memiliki wilayah kerja yang sangat luas yakni 6 sampai 7 kampung. Faktor luas wilayah kerja menjadi salah satu penyebab PPL tidak dapat melakukan kunjungan lapangan ke setiap kampung yang menjadi wilayah kerjanya. Sama halnya dengan pertanian tanaman pangan, para petani yang berhasil diwawancarai mengaku belum pernah mengenal PPL yang bertugas di kampungnya, kecuali petani transmigran. Hal ini merupakan salah satu indikator lemahnya pelayanan transfer pengetahuan dan teknologi serta manajemen usaha perkebunan kepada masyarakat petani. Kehutanan Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sorong difokuskan pada pembinaan dan pengembangan pengusahaan hutan. Kebijakan lain yang diambil Pemerintah Kabupaten Sorong adalah pembinaan kawasan lindung. Pengusahaan hutan diberikan Hak Pengusahaan Hutan, dengan areal konsesi seluas 10 375 hektar kepada 4 perusahaan. Secara rinci luas areal konsesi HPH untuk masing-masing perusahaan yang masih aktif di Kabupaten Sorong disajikan pada Tabel 26. Tabel 26. Luas areal konsesi HPH untuk masing-masing perusahaan di Kabupaten Sorong, 2005. No. 1. 2. 3. 4. Pemegang HPH Luas (Ha) 2 465 1 400 4 430 2 140 10 435 Produksi Kayu Campuran (M3) 5 271, 62 13 995, 17 23 559, 97 *) 42 826, 76

PT. Mancaraya Agromandiri PT. Hasrat Wira Mandiri PT. Intimpura Timber Coy PT. Multi Wahana Wijaya Jumlah *) Tidak ada data

Sumber daya manusia yakni PNS di lingkungan Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong sebanyak 83 orang. Berdasarkan tingkat pendidikannya, PNS di lingkungan Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong tergolong memiliki kapasitas yang cukup baik. Di antara 83 orang PNS ini, sebanyak 32 orang (40 %)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 25

KABUPATEN SORONG
berpendidikan sarjana, 4 orang (5 %) saja yang berpendidikan SD, dan sebagian besar sisanya sebanyak 47 orang (56 %) berpendidikan lanjutan. Ditinjau dari kegiatan Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong yang memberi fokus pada pengusahaan hutan merupakan indikasi tentang titik berat pelayanan yang tertuju kepada pemegang HPH dan bukan kepada masyarakat. Hal itu terbukti pula dari ketiadaan penyuluh lapangan sebagai petugas pemerintah yang terdepan memberikan pelayanan kepada masyarakat. 6.4. Prasarana dan Sarana Prasarana dan sarana penting pada setiap kabupaten kota di era otonomi daerah sekarang adalah infrastruktur ekonomi. Jenis-jenis prasarana dan sarana penting yang digolongkan ke dalam infrastruktur ekonomi, meliputi: (1) trasportasi yang mencakup jalan termasuk terminal dan lapangan terbang serta pelabuhan laut, lapangan terbang/bandar udara, dan dermaga (pelabuhan laut), (2) air bersih, (3) listrik, dan (4) telekomunikasi. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sorong dibidang pelayanan prasarana dan sarana difokuskan pada pengembangan dan penataan kembali infrastruktur ekonomi setelah berlakunya UU Nomor 45 Tahun 1999, dan UU Nomor 26 Tahun 2002. Berdasarkan UU Nomor 45 Tahun 1999, Kota Admistratif Sorong mengalami peningkatan status menjadi Kota Sorong. Selanjutnya berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2002, Kabupaten Sorong dimekarkan menjadi 3 kabupaten yakni Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, dan Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk. Peningkatan status Kota Administratif Sorong menjadi Kota Sorong membawa 2 konsekwensi utama. Pertama, Kabupaten Sorong memindahkan ibu kota atau pusat pemerintahannya dari Remu ke Aimas, dan selanjutnya Remu menjadi pusat pemerintahan Kota Sorong. Kedua, hampir seluruh infrastruktur ekonomi yakni (1) transportasi yang meliputi dermaga, bandar udara Sorong Daratan (sekarang diberi nama DEO), dan terminal mobil angkutan umum, (2) air bersih, (3) listrik, dan (4) telekomunikasi yang sebelumnya merupakan asset dan dikelola Pemerintah Kabupaten Sorong beralih menjadi asset dan dikelola oleh Pemerintah Kota Sorong. Demikian pula pengukuhan Raja Ampat menjadi sebuah kabupaten definitif yakni Kabupaten Raja Ampat membawa konsekwensi Bandar Udara Jefman yang sebelumnya menjadi asset dan dikelola Pemerintah Kabupaten Sorong beralih menjadi asset dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Sekarang ini pelayanan infrastruktur ekonomi kepada masyarakat Kabupaten Sorong menjadi tergantung pada infrastruktur ekonomi Kota Sorong. Sejalan dengan itu pula Pemerintah Kabupaten Sorong sedang membangun ibu kotanya di Aimas. Jenis infrastruktur ekonomi yang sedang ditangani adalah pengembangan jalan Distrik Aimas menjadi jalan Kabupaten Sorong, dan pembangunan terminal mobil angkutan umum. Sumber daya manusia yang mengelola pelayanan prasarana dan sarana ini sebanyak 86 orang PNS di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong. Sebaran jumlah PNS ini berdasarkan golongan, terdapat sebanyak 2 orang (2,32 %) Golongan IV, 41 orang (47, 67 %) Golongan III, dan 43 orang (50,01 %). Berdasarkan komposisi ini, idealnya pengambilan keputusan pelayanan prasarana dan sarana hanya dilakukan oleh 2 orang PNS. Khusus pelayanan air bersih belum dilayani oleh Pemerintah Kabupaten Sorong secara kelembagaan. Masyarakat umum memperoleh air bersih dari sumur

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 26

KABUPATEN SORONG
tradisional yang dibuat sendiri oleh masing-masing keluarga. Selain itu terdapat pula keluarga yang memperoleh air bersih dari air hujan dan atau air tangki.

7.

LESSONS-LEARNED DAN BEST PRACTICES


Program Pengentasan Kemiskinan (PPK) merupakan sebuah program bantuan UNICEF yang telah dilaksanakan sebelum tahun 2000 di Kabupaten Sorong. Realisasinya diwujudkan dalam bentuk kegiatan perbaikan kesehatan masyarakat dan bantuan pendidikan masyarakat. Menurut laporan dari pihak BAPPEDA Kabupaten Sorong, Distrik Aimas (Ibu Kota Kabupaten Sorong) menjadi teladan sebagai distrik terbaik dalam mengimplemantasi PPK di Provinsi Papua. Walaupun program UNICEF telah selesai, tetapi Pemerintah Kabupaten Sorong mengembangkan PPK ke distrik lain yakni Distrik Salawati pada tahun 2003, dan Distrik Klamono pada tahun 2004. PARUL merupakan salah satu program UNDP yang berhasil memberdayakan ekonomi nelayan di Kabupaten Sorong selama periode tahun 1998-2000. Program pemberdayaan ekonomi nelayan ini selanjutnya diadopsi oleh Pemerintah Kabupaten Sorong hingga sekarang.

8. KESIMPULAN UMUM
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan dapatlah dirumuskan beberapa kesimpulan, seperti di bawah ini. 1. Kapasitas Pemerintah Kabupaten Sorong untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan ditinjau dari aspek jumlah dan tingkat pendidikan personil (PNS) dinilai telah memadai. Namun ditinjau dari aspek infrastruktur pemerintahan seperti lokasi pemukiman personil (di Kota Sorong) terhadap Kantor Bupati Sorong di Aimas dengan jarak yang cukup jauh (20-23 KM), dan sejumlah dinas teknis yang masih berkantor di Kota Sorong dengan jarak yang jauh dari lokasi pemukiman masyarakat Kabupaten Sorong membawa dampak rendahnya kapasitas Pemerintah Kabupaten Sorong untuk memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. 2. Realisasi pendapatan rutin tiap tahun selama periode 3 tahun (2001-2003), rata-rata sebesar 356 Milyar per tahun, dan terus mengalami peningkatan dengan tingkat peningkatan rata-rata sebesar 32, 23 persen per tahun. Demikian pula realisasi belanja rutin tiap tahun selama periode yang sama, rata-rata sebesar 305 Milyar per tahun, dan terus mengalami peningkatan dengan tingkat peningkatan rata-rata sebesar 33, 29 persen per tahun, lebih besar dari peningkatan pendapatan rutin (rata-rata 32, 23 %). 3. Realisasi belanja pembangunan selama periode 3 tahun (2001-2003), ratarata sebesar 44, 633 Milyar, jauh lebih kecil dibandingkan realisasi belanja rutin (rata-rata 305 Milyar/tahun). 4. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong tiap tahun selama periode 3 tahun (2001-2003) rata-rata 3, 21 persen per tahun berdasarkan PDRB pada harga tetap, dan bervariasi turun-naik berdasarkan PDRB pada harga yang berlaku yakni mengalami penurunan sebesar 2,53 persen pada tahun 2001 dan 0,005 persen pada tahun 2002, tetap meningkat hingga mencapai 9, 33 persen pada tahun 2003.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IV - 27

KABUPATEN RAJA AMPAT

V. KABUPATEN RAJA AMPAT


1. KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Fisik Wilayah Wilayah Kabupaten Raja Ampat terletak pada posisi 00 30 33 LU- 01 LS dan 124 3000-131 30 BT. Batas-batas wilayah ini, di bagian Utara berbatasan dengan Samudra Pasifik, di bagian Selatan berbatasan dengan Laut Seram Propinsi Maluku, di Bagian Barat berbatasan dengan Propinsi Maluku Utara, dan di bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Sorong. Selengkapnya tata letak Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Peta 1. Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 620 buah pulau. Di antara pulau-pulau ini ternyata baru 37 buah pulau atau 06 persen saja yang telah dihuni. Luas wilayah kabupaten ini diperhitungkan 46 108 kilometer persegi, atau 4 610 800 hektar. Dari luasan ini sebagian besar yakni seluas 40 108 kilometer persegi atau 87 persen merupakan perairan laut, dan sebagian kecil sisanya yakni 6 000 kilometer persegi atau 13 persen merupakan daratan. Di antara wilayah seluas 4 610 800 hektar ini, seluas 488 000 hektar telah dikukuhkan menjadi 6 areal konservasi , dengan status 5 kawasan cagar alam (CA), dan 1 kawasa suaka marga satwa laut (SML). Tabel 1. Identitas areal konservasi berdasarkan No. Nama Areal Konserrvasi Luas (Ha) 1. SML Kepulauan Raja Ampat 60 000 2. CA. Pulau Salawati Utara 62 000 3. CA. Pulau Batanta Barat 10 000 4. CA. Pulau Misool Timur 84 000 Selatan 5. Ca. Pulau Waigeo Barat 153 000 6. CA. Pulau Waigeo Timur 119 000 lokasinya di Kabupaten Raja Ampat. Legalitas SK. MENHUT. No. 81/Kpts II/1993 SK. MENHUT. No. 1929/ VI/96 SK No. 912/Kpts/Um/7/82 SK. No. 716/Kpts/Um/I/82 SK. No. 395/Kpts/Um/5/81 SK. No. 251/Kpts-II/1996

Data ini memberi gambaran bahwa 10, 58 persen dari seluaruh luas Kabupaten Raja Ampat merupakapan wilayah konservasi. Selain itu ternyata pula sebagian besar atau 73,33 persen dari luas seluruh wilayah daratan Kabupaten Raja Ampat (600 000 hektar) telah dikukuhkan menjadi areal konservasi. Sisanya sebagian kecil yakni 172 000 hektar atau 26, 67 persen saja yang dapat digunakan untuk pemukiman dan pembangunan prasarana/sarana/ fasilitas penunjang pemerintahan, serta kegiatan budidaya.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-1

KABUPATEN RAJA AMPAT

Peta 1. Tata Letak Kabupaten Raja Ampat


1.2. Pemerintahan

Raja Ampat merupakan salah satu kabupaten pemekaran Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk. Secara yuridis formal, Kabupaten Raja Ampat dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Berdasarkan Undang-Undang ini pula Kabupaten Raja Ampat dibagi menjadi 10 Distrik dengan 85 kampung. Pusat pemerintahan dan Ibukota Kabupaten Raja Ampat ditetapkan di Waisai Distrik Waigeo Selatan. Selengkapnya pembagian administratif pemerintahan Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 2.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-2

KABUPATEN RAJA AMPAT


Tabel 2. Pembagian administratif pemerintahan Kabupaten Raja Ampat, 2004. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Distrik Ayau Waigeo Utara Waigeo Timur Waigeo Barat Waigeo Selatan Teluk Mayalibit Samate Kofiau Misool Misool Timur-Selatan Jumlah Kampung Jumlah Kampung 5 9 4 10 14 8 16 3 8 11 85

Peresmiannya dilakukan pada Tanggal 12 April 2003 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI pada Tanggal 12 April 2003. Operasionalisasi Kabupaten Raja Ampat diawali dengan pelantikan Pejabat Bupati yakni Drs Marcus Wanma, M.Si. oleh Gubernur Provinsi Papua yakni Drs J.P. Solossa, M.Si. pada Tanggal 09 Mei 2003. 1.3. Sosial-Ekonomi Kelompok besar etnik yang bermukim di wilayah Kabupaten Raja Ampat adalah Maya, dan Biak. Berdasarkan Potret 1 Tahun Kabupaten Raja Ampat (2004) Etnik Maya terdiri atas 7 sub-etnik, dan Etnik Biak terdiri atas 5 subetnik. Selain kedua etnik ini terdapat pula Etnik Maluku Utara, dan BugisMakasar yang telah lama bermukim di Wilayah Kabupaten Raja Ampat. Walaupun penduduk Kabupaten Raja Ampat sangat beragam, tetapi kebersamaan dan saling pengertian tampak dalam kehidupan masyarakat kampung. Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat adalah 47 771 jiwa. Selengkapnya sebaran jumlah penduduk berdasarkan distrik disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Sebaran jumlah penduduk Kabupaten Raja ampat berdasarkan distrik, 2004. Jumlah Luas Tingkat No. Distrik Penduduk (Km2) Kepadatan (Jiwa) (Jima/Km2) 1. Ayau 2 701 156 17,31 2. Waigeo Utara 5 511 2 043 2,70 3. Waigeo Timur 1 392 2 840 0,49 4. Waigeo Barat 4 136 3 243 1,27 5. Waigeo Selatan 7 682 2 943 2,61 6. Teluk Mayalibit 1 024 2 080 0,49 7. Samate 8 942 3 777 2,37 8. Kofiau 2 147 5 033 0,43 9. Misool 7 766 4 200 1,85 10. Misool Timur-Selatan 6 466 11 793 0,55 Jumlah 47 771 46 108 1,04

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-3

KABUPATEN RAJA AMPAT


Lebih dari 80 persen penduduk bekerja sebagai nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya kelautan dan perikanan, yakni sebagai nelayan tangkap dan atau nelayan budidaya. Hal ini berkaitan erat dengan potensi sumber daya perairan laut yang sangat dominan hingga mencapai 40 108 kilometer persegi atau 87 persen dari total luas wilayah Kabupaten Raja Ampat. Perairan laut ini menjadi habitat biota perairan laut yang bernilai pasar tinggi. Berdasarkan hasil penelitian sebuah tim terpadu CI dan TNC (2003) ditemukan 196 jenis ikan komersial. Jenis ikan utama yang dieksploitasi oleh para nelayan tangkap adalah jenis-jenis ikan bernilai pasar tinggi seperti ikan tuna, cakalang, tenggiri, kembung, tonkol, kakap, bawal, baronang, dan ekor kuning. Khusus jenis-jenis biota perairan budidaya yang utama meliputi teripang, rumput laut, kerang mutiara, dan kerapu. Selain jenis-jenis biota bernilai pasar tinggi itu, ternyata di perairan laut Kabupatan Raja Ampat terdapat pula berbagai jenis karang sebagai habitat berbagai jenis ikan karang yang menarik. Berbagai jenis karang dan ikan karang ini secara alamiah menjadi satu kesatuan yang membentuk taman bawah laut di antara pulau-pulau kecil. Berdasarkan potensi alam ini Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah menempatkan sektor perikanan dan kelautan serta sektor pariwisata bahari sebagai penggerak perekonomian daerah. Di samping potensi perikanan dan kelautan, Kabupaten Raja Ampat juga memiliki potensi pertambangan. Selengkapnya jenis-jenis potensi tambang di Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Sebaran potensi tambang di Kabupaten Raja Ampat, 2004. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1.4. Potensi Tambang Tanah liat Fosfat Semen Nikel Minyak Bumi Marmer Perak Kemiskinan Lokasi (Distrik) Misool Misool, dan Waigeo Utara Waigeo Utara, dan Waigeo Selatan Waigeo Selatan Misool Waigeo Selatan Salawati

Indikator-indikator kemiskinan yang telah didokumentasi secara tercetah tidak ditemukan selama studi lapangan berlangsung. Namun dapatlah dikatakan bahwa masyarakat Kabupaten Raja Ampat ditinjau dari aspek pemenuhan kebutuhan makan, tampak tidak miskin. Hal yang terlihat nyata di lapangan bahwa masyarakat ini pada umumnya sangat lamban berkembang dalam berbagai aspek sosial-ekonomi yang lain. Kelambanan ini disebabkan berbagai faktor faktor utama. Pertama, belum ada pusat-pusat kegiatan ekonomi seperti industri pengolahan hasil produksi tangkapan ikan yang dibangun di Kabupaten Raja Ampat, tetapi di Kota Sorong, meskipun hasil produksi tangkapan ikan itu berasal dari wilayah perairan Kabupaten Raja Ampat. Kedua, faktor aksesibilitas wilayah pemukiman masyarakat yang tergolong rendah. Ketiga, belum ada upaya-upaya pemerintah yang lebih serius dibidang pemberdayaan sosil-budaya-ekonomi masyarakat.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-4

KABUPATEN RAJA AMPAT


Pembentukan Kabupaten Raja Ampat terpisah dari Kabupaten Sorong diharapkan akan mampu memperkecil dan bila mungkin menghilangkan ketiga faktor tersebut. Hilangnya ketiga faktor ini diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

2.

KAPASITAS SUMBER DAYA PEMDA


2.1. Jumlah Personil Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sebanyak 927 orang. PNS sebanyak ini diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk melalui Menteri Dalam Negeri pada saat peresmian Kabupaten Raja Ampat di Waisai Tanggal 12 April 2003. Sebaran jumlah personil berdasarkan daerah asal dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Sebaran jumlah personil Kabupaten Raja Ampat berdasarkan daerah asal dan jenis kelamin. Sebaran Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin N0. 1. 2. Daerah Asal Papua Bukan Papua Jumlah Laki-Laki (Org) 383 277 660 (%) 42 29 71 Perempuan (Org) 225 42 267 (%) 24 5 29 (Org) 608 319 927 (%) 66 34 100 Jumlah

Ditinjau dari segi perbedaan jenis kelamin, PNS di Kabupaten Raja Ampat terdiri dari 71 persen laki-laki, dan 29 persen perempuan. Proporsi PNS seperti ini memberi gambaran tentang peranan wanita pada sektor publik sudah cukup besar. Berdasarkan etnik atau daerah asal PNS di Kabupaten Raja Ampat, ternyata sebesar 66 persen adalah etnik Papua, dan sebesar 34 persen terdiri dari berbagai etnik luar Papua. Komposisi PNS seperti ini merupakan salah satu refleksi dari semangat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah maupun Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Hal yang menarik 2.2. Kapasitas dan Struktur Organisasi Untuk mendukung operasionalisasi pemerintahan, pejabat bupati telah membentuk kelembagaan daerah berdasarkan Surat Keputusan Bupati Raja Ampat No. 06 Tahun 2003. Selengkapnya struktur kelembagaan daerah Kabupaten Raja Ampat berdasarkan Surat Keputusan ini, dan personilnya disajikan pada Tabel 6. Struktur kelembagaan Kabupaten Raja Ampat ini jauh lebih ramping dibandingkan struktur kelembagaan Kabupaten Sorong. Hal ini sesuai dengan beban tugas pelayanan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang masih

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-5

KABUPATEN RAJA AMPAT


sederhana dibandingkan Kabupaten Sorong yang telah berkembang pesat proporsional dengan umur masing-masing kabupaten. Kapasitas organisasi lembaga pemerintah Kabupaten Raja Ampat dapat pula dilihat dari kapasitas personilnya yang berstatus PNS dengan menggunakan tingkat pendidikan formal dan masa kerja sebagai indikator
Tabel 6. Sebaran jumlah personil Kabupaten Raja Ampat berdasarkan daerah asal. Sebaran Jumlah Personal Berdasarkan Daerah Asal Papua (Org) 1. 2. 3. 4. Sekretariat DPRD Sekretariat Daerah Bagian-Bagian Badan-Badan 4.1. BAPPEDA 4.2. BAWASDA 5. Dinas-Dinas 5.1. Kesehatan & Kesejahteraan Sosial 5.2. Pendidikan & Pengajaran 5.3. Perikanan & Kelautan 5.4. Perhubungan 5.5. Kebudayaan & Pariwisata 5.6. Pekerjaan Umum, Lingkung-an Hidup dan Pertambangan 5 54 27 20 11 9 502 102 297 16 8 9 12 (%) 62 74 64 62 69 56 71 89 69 61 61 82 75 Bukan Papua (Org) 3 19 15 12 5 7 270 12 135 10 5 2 4 (%) 38 26 36 38 31 44 29 11 31 39 39 18 25 (Org) 8 73 42 32 16 16 772 114 432 26 13 11 16 (%) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

No.

Unsur-Unsur Organisasi

Jumlah

5.7. Pendapatan Daerah 5.8. Pemberdayaan Masyarakat, Kesatuan Bangsa, dan Perlindungan Masyarakat 5.9. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan 5.10. Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi 6. Kantor Kependudukan, Catatan Sipil, & Keluarga Berencana

9 12

82 71

2 5

18 29

11 17

100 100

24 9 4 608

22 60 44 66

84 6 5 319

78 40 56 34

108 15 9 927

100 100 100 100

J u m l a h

. Tingkat pendidikan formal PNS yang tersebar pada seluruh unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat, kecuali Dinas Pendidikan dan Pengajaran adalah tergolong baik. Sebaran jumlah PNS berdasarkan tingkat pendidikan formal, sebagian besar (56,74 %) berpendidikan SLTA, menyusul 39, 96 persen berpendidikan tinggi, 2,03 persen berpendidikan SLTP, dan 1,27 persen berpendidikan SD. Masa kerja PNS yang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-6

KABUPATEN RAJA AMPAT


berhasil dianalisis dari 3 unit kerja yakni Sekretariat DPRD dan BAWASDA serta Dinas Perikanan dan Kelautan ternyata cukup baik. Sebagian besar (65, 38 %) berpengalaman lebih dari 10 tahun, menyusul (23 %) berpengalaman kurang dari 5 tahun, dan terkecil (11,62 %) berpengalaman 5 9 tahun. Untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang baik kepada masyarakat setelah terpilihnya bupati definitif, sekarang ini sedang dibangun Kantor Bupati, Kantor DPRD, dan kantor-kantor dinas-dinas teknis di Waisai sebagai Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Selain itu sedang dibangun pula rumah bupati, ketua DPRD, dan rumah pejabat eksalon dua di lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Prasarana penting yang juga sedang dibangun adalah jalan kota kabupaten serta parit-parit drainase. Ditinjau dari jenis prasarana dan sara yang dibangun sekarang ini, tampaknya yang sedang dibangun adalah Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Sambil menunggu selesainya pembangunan Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, pejabat bupati berupaya untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan oleh pejabat bupati dengan dua cara, sebagai berikut. Pertama, membuka kantor-kantor sementara di Kampung Saonek (pusat pemerintahan distrik Waigeo Selatan), terutama dinas-dinas teknis yang langsung berhubungan dengan masyarakat, termasuk DPRD. Bangunan yang digunakan adalah bangunan kantor dinas-dinas tingkat Distrik Waigeo Selatan di Saonek. Penggunaan kantor-kantor ini dilakukan tanpa membayar, berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara Pejabat Bupati Kabupaten Raja Ampat dan Kepala Distrik Waigeo Selatan. Jumlah dinas tingkat Distrik Waigeo Selatan sesuai hirarki pemerintahan adalah terbatas, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah dinas tingkat Kabupaten Raja Ampat yang membutuhkan kantor sementara. Untuk mencukupi kebutuhan kantor sementara, digunakan pula rumah-rumah tinggal penduduk yang dinilai layak digunakan sebagai kantor dinas. Penggunaannya dilakukan dengan cara membayar, dengan harga sewa ditentukan berdasarkan kesepakatan antara kepala dinas yang bersangkutan dengan pemilik rumah. Kedua, menutup kantor-kantor perwakilan badan dan dinas di lingkungan Kabupaten Raja Ampat yang selama ini dibuka di Kota Sorong. Bangunan yang digunakan sebagai kantor perwakilan ini adalah rumah tinggal penduduk dan atau bangunan gedung milik perusahaan pemerintah maupun swasta. Penggunaannya dilakukan dengan cara membayar sewa, dengan tarif sewa sesuai kesepakatan kepala dinas dan pemilik bangunan gedung. Hal yang mengesankan bahwa kantor-kantor sementara yang dibuka di Saonek tampak tertutup selama penelitian lapangan berlangsung. Menurut penjelasan para informan kunci diperoleh informasi bahwa kantor-kantor sementara dinasdinas teknis termasuk Kantor DPRD Raja Ampat di Saonek ternyata tidak ada aktivitas, bahkan tidak sangat jarang dibuka sebagaimana layaknya kantor. Sebaliknya kantor-kantor perwakilan di Kota Sorong yang oleh pejabat bupati diperintahkan untuk ditutup, ternyata senantiasa terbuka dan melaksanakan aktivitasnya pada hari-hari kerja.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-7

KABUPATEN RAJA AMPAT


3. KEUANGAN DAERAH
Keuangan daerah yang dikaji mencakup aspek pendapatan dan pengeluaran daerah Kabupaten Raja Ampat selama tahun anggaran 2003 dan tahun 2004. Secara singkat hasil kajian keuangan daerah Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 7, dan selengkapnya dijelaskan selanjutnya.
Tabel 7. Keadaan Keuangan Daerah Kabupaten Raja Ampat, 2003-2004.

Pendapatan No. A. Uraian TAHUN 2003 1. Dana OTSUS 2. Bantuan Papua 3. Bantuan Pemerintah Gubernur 5 000 000 1 050 000 (Rp 000) (%)

Pengeluaran (Rp 000) (%)

Saldo (Rp 000)

Kabupaten Sorong 4. Lain-Lain Jumlah 5. Belanja Rutin 5.1. Pos Kepala Daerah 5.2. Pos Daerah 5.3. Pos Pengeluaran Lain 5.4. Pos Pengeluaran Tak Terduga 3 496 101,062 6. Belanja Publik 6.1. Pengembangan Dunia Usaha Jumlah 6 999 561,062 139 163,938 B. Tahun 2004 1. Dana Alokasi Umum 2. Dana Alokasi Khu-sus 3. Dana OTSUS 4. PAD 20 000 000 4 000 000 20 000 000 Tidak Data 5. Belanja Rutin Tidak Data 6. Belanja Publik Tidak Ada Data Ada Ada 3 503 460 260 300 80 000 Sekretariat 622 307,150 2 533 493,912 5 725 7 138 725

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-8

KABUPATEN RAJA AMPAT


3.1. Pendapatan Pendapatan Kabupaten Raja Ampat selama tahun pertama operasional Kabupaten Raja Ampat sebesar Rp 7 183 725 000.- Besar pendapatan ini dinilai terlampau kecil dibandingkan pendapatan kabupaten induk pada tahun yang sama. Hal ini dapat dimegerti karena tahun 2003 merupakan tahun transisi yang tidak memungkinkan Kabupatan Raja Ampat memiliki kesempatan untuk membentuk sumber-sumber pendapatan di luar pemberian lembaga pemerintah dengan hirarki yang lebih tinggi seperti Provinsi Papua dan Kabupaten Sorong selaku kabupaten induk. Struktur penerimaan Kabupaten Raja Ampat tahun 2004 ternyata berbeda dengan struktur penerimaan tahun 2003. Selama tahun 2004 atau tahun kedua operasional Kabupaten Raja Ampat telah terjadi perubahan sumber penerimaan dari dominasi sumbangan pemerintah dengan hirarki yang lebih tinggi menjadi lebih bervariasi yakni Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) disamping Dana Otonomi khusus. Penerimaan Kabupaten Raja Ampat selama tahun kedua operasional disamping sumbernya lebih bervariasi, juga mengalami peningkatan yang sangat besar hingga mencapai 858 persen. Walaupun penerimaan telah menjadi lebih bervariasi sumbernya dan jauh lebih tinggi besarnya, tetapi ini masih terbatas pada penerimaan yang bersumber dari bagi hasil pajak dan atau bukan pajak. Di dalam perhitungan ini, belum termasuk penerimaan yang bersumber dari Pendapatran Asli Daerah (PAD) seperti penerimaan yang bersumber dari eksploitasi produksi perikanan tangkap dan pengelolaan produksi perikanan tangkap. Eksploitasi produksi perikanan tangkap, sebelumnya menjadi salah satu sumber penerimaan daerah Kabupaten Sorong. Pengelolaan produksi perikanan tangkap hingga sekarang menjadi salah satu sumber PAD yang potensial bagi Kota Sorong. 3.2. Pengeluaran Pengeluaran dibedakan menjadi 2 bagian yakni pengeluaran rutin, dan pengeluaran untuk pembangunan. Belanja pembangunan ternyata masih belum lebih besar secara signifikan dibandingkan belanja rutin. Hal ini disebabkan besar penerimaan daerah yang memang masih sangat kecil sesuai usia Kabupaten Raja Ampat yang baru 1 tahun. Jika besar pengeluaran Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2003 dibandingkan penerimaannya pada tahun yang sama adalah realistis. Artinya seimbang antara penerimaan dan pengeluaran, bahkan terjadi saldo sebesar Rp 139 163 938.-

4.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. Dewan Perwakilan Rakyar Daerah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Raja Ampat sebanyak 20 Orang dipilih berdasarkan hasil Pemilihan Umum (PEMILU) Legislatif Tanggal 5 April 2004. Selengkapnya sebaran jumlah anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat berdasarkan Partai Politik disajikan pada Tabel 8.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V-9

KABUPATEN RAJA AMPAT


Tabel 8. Sebaran jumlah Anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat Berdasarkan Pendidikan dan Partai Politik Hasil PEMILU Tanggal 5 April 2004. No. Nama Partai Sebaran Jumlah Anggota (Orang) Sarjana Sarjana SLTA Muda 3 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 5 2 13 25 10 65 Jumlah (Org) 5 4 3 2 1 1 1 1 1 20 100 (%) 25 20 15 10 5 5 5 5 5 100

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

PDIP GOLKAR PDS PKPI PBB PAN Partai Merdeka PPP PBSD Jumlah Proporsi (%)

Keanggotaan DPRD Kabupaten Raja Ampat terbentuk oleh partai politik yang jumlahnya cukup banyak yakni 9 partai politik. Selain itu tidak terdapat partai politik yang menjadi mayoritas, sehingga kompromi akan senantiasa mewarnai pengambilan keputusan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Raja Ampat. Walaupun tidak ada partai mayoritas, tetapi partai besar pada tingkat nasional yakni PDIP dan GOLKAR juga menjadi dominan dalam keanggotaan DPRD Kabupaten Raja Ampat. Kondisi ini menjadi potensi terjadinya konsistensi antara DPRD Kabupaten Raja Ampat dengan DPR dalam menjalankan fungsi dan peranannya. Ditinjau dari tingkat pendidikan, jumlah anggota DPRD yang berpendidikan tinggi ternyata tidak banyak yakni 7 orang atau 35 persen. Proporsi ini masih lebih kecil dibandingkan proporsi pegawai negeri sipil di Kabupaten Raja Ampat yang mencapai 40 persen. Jauh lebih kecil dibandingkan pimpinan daerah dan para kepala dinas serta kepala badan yang seluruhnya atau 100 persen berpendidikan tinggi. 4.2. Perwakilan Kampung Lembaga-lembaga sejenis perwakilan kampung sebenarnya telah dirintis sejak masa Pemerintah Orde Baru seperti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) dan Lembaga Musyawarah Desa (LMD). Introduksi LKMD dan LMD merupakan salah satu wujud perencanaan dan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kampung yang menggunakan pendekatan partisipatif. Tujuannya adalah membantu pemerintah desa atau kelurahan dalam meningkatkan pelayanan pemerintahan dan pemerataan hasil dengan menumbuhkan prakarsa serta menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat dalam pembangunan. pembangunan bertindak untuk dan atas nama masyarakat desa melakukan musyawarah tentang perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan dan pemerintahan desa. Tugas pokok lembaga ini dalam rangka mencapai tujuannya adalah sebagai berikut: (1) (2) Merencanakan pembangunan berdasarkan atas azas musyawarah Menggerakkan dan meningkatkan prakarsa serta partisipasi masyarakat untuk melaksanakan pembangunan secara terpadu.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 10

KABUPATEN RAJA AMPAT


(3) Menumbuhkan kondisi dinamis masyarakat ketahanan di desa maupun keluahan. untuk mengembangkan

Lembaga ini sejak Kabupaten Raja Ampat masih menjadi bagian integral dari Kabupaten Sorong masih belum berfungsi efektip melaksanakan tugastugasnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. Hal ini disebabkan pembinaan yang secara struktural menjadi tanggungjawab bupati dan camat atau kepala distrik tidak terselenggara secara baik. Faktor-faktor utama penyebab lemahnya pembinaan yang berhasil diidentifikasi adalah sebagai berikut: Pertama, faktor isolasi desa karena Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah kepulauan (620 Pulau), sehingga sulit untuk dijangkau oleh petugas pembina. Kedua, lemahnya komitmen lembaga pembina untuk melakukan pembinaan secara kontinu dan berkelanjutan. Ketiga, terbatasnya pendidikan dan lemahnya pemahaman aparat desa tentang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. Lembaga ini sekarang di Kabupaten Raja Ampat telah berganti nama menjadi Badan Perencanaan Kampung (BAPERKAM). Namun fungsi dan peranannya masih tetap sama yakni belum efektif melaksanakan tugas-tugasnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. 4.3. Sistem Pengadilan Kabupaten Raja Ampat belum memiliki lembaga pengadilan formal baik Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Tata Usaha Negara. Hal ini disebababkan Kabupaten Raja Ampat belum memiliki kepala daerah (bupati) definitif. Hingga sekarang semua masalah peradilan ditangani oleh Kantor Pengadilan Negeri Sorong sebagai Kabupaten Induk. Selain itu terdapat Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara di Jayapura yang bertugas untuk menangani setiap masalah peradilan Tata Usaha Negara yang terjadi di Papua. Pengadilan adat di Kabupaten Raja Ampat tidak melembaga dalam menyelesaikan permasaalahan peradilan. Permasalahan yang menonjol ditangani berdasarkan hukum adat adalah berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak adat atas sumber daya alam. Pelanggaran etika dan moral yang umum terjadi dalam kehidupan masyarakat kampung juga cenderung diselesaikan berdasarkan hukum adat. Macam perkara pidana dan permasalahan perdata berat selama ini ditangani oleh Kantor Pengadilan Negeri Kabupaten Sorong.

5.

KEADAAN EKONOMI PERIODE 2000-2003


5.1. PDRB Kabupaten Raja Ampat belum membuat suatu analisis Product Regional Bruto (PDRB) sebagai salah satu indikator pertumbuhan ekonomi kaputan. Hal ini disebabkan kegiatan operasional Kabupaten Raja Ampat baru memasuki usia kedua tahun, sejak pelantikan Pejabat Bupati pada Tanggal 09 Mei 2003. Selama periode operasional yang masih sangat singkat ini Kabupaten Raja Ampat belum memiliki BPS sendiri. Kegiatan operasional yang berkaitan dengan statistik sebenarnya masih menjadi tanggungjawab BPS Kabupaten Sorong sebagai Kabupaten Induk. Untuk memenuhi tanggungjawabnya ini BPS

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 11

KABUPATEN RAJA AMPAT


Kabupaten Sorong tidak memiliki dana operasional untuk melakukan analisis PDRB khusus Kabupaten Raja Ampat. Meskipun Kabupaten Raja Ampat belum melakukan analisis PDRB, tetapi Kabupaten Raja Ampat dinilai memiliki PDRB yang tinggi. Selain itu Kabupaten Raja Ampat juga dinilai memiliki potensi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi pada masa mendatang. Optimisme ini didasarkan pada faktor-faktor ekonomi yang sifatnya obyektif sebagai berikut: Pertama, salah satu sumber PDRB Kabupaten Sorong yang tinggi selama periode sebelum pemekaran Kabupaten Raja diperoleh dari kegiatan eksploitasi produksi perikanan tangkap di Perairan Laut yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 termasuk dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat. Kedua, salah satu sumber PDRB Kota Sorong yang juga tinggi hingga sekarang, adalah kegiatan pengelolaan proksi perikanan tangkap di perairan laut Kabupaten Raja Ampat. yang. Ketiga, Kabupaten Raja Ampat memiliki potensi sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi yakni: (1) tambang minyak bumi dan bahan galian, (2) bentang alam yang indah dan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya sebagai potensi wisata bahari skala dunia, (3) biota perairan yang berlimpah. 5.2. Ketenagakerjaan Kabupaten Raja Ampat masih belum mengelola khusus mengenai ketenagakerjaan pada berbagai sektor di Kabupaten Raja Ampat. Hal ini disebabkan kegiatan operasional Kabupaten Raja Ampat baru memasuki usia kedua tahun, sejak pelantikan Pejabat Bupati pada Tanggal 09 Mei 2003. Selama periode operasional yang masih sangat singkat ini Kabupaten Raja Ampat tidak memiliki lembaga khusus ketenagakerjaan. Hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan yang sifatnya administratif dan terbatas ditangani oleh Dinas Pencatatan Sipil Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan operasional khusus yang berkaitan dengan ketenagakerjaan masih menjadi tanggungjawab Kantor Dinas Kabupaten Sorong sebagai Kabupaten Induk. Namun dalam upaya untuk memenuhi tanggungjawabnya ini Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sorong belum memisahkan data dan informasi ketenagakerjaan khusus Kabupaten Raja Ampat. mmemiliki dana operasional untuk melakukan analisis PDRB khusus Kabupaten Raja Ampat. Keberadaan Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten Raja Ampat dinilai sangat vital pada masa mendatang. Penilaian ini didasarkan pada kenyataan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki potensi sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi. Upaya untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi produksi serta pengelolaan produksinya memerlukan tenaga kerja yang banyak, sehingga perlu dikelola dengan baik. 5.3. Perdagangan Kegiatan perdagangan output pembangunan Kabupatan Raja Ampat seperti produksi perikanban tangkap sebenarnya telah berlangsung sejak masih menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Sorong hingga sekarang. Kegiatan perdagangan di Kabupaten Raja Ampat secara struktural sebenarnya menjadi tanggungjawab Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Raja Ampat. Namun belum tersedia data dan informasi tertulis tentang kegiatan perdagangan di Kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Raja Ampat. Pengelolaan kegiatan perdagangan output

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 12

KABUPATEN RAJA AMPAT


pembangunan Kabupaten Raja Ampat masih dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sorong, dan juga Kabupaten Sorong. Kegiatan perkreditan di kalangan Masyarakat Kabupaten Raja Ampat, sama seperti kegiatan perdagangan yakni telah terjadi sejak Raja Ampat masih menjadi bagian wilayah Kabupaten Sorong. Penyalur kredit adalah lembaga perbankan yakni Bank Rakyat Indonesia dan Bank Papua. Bentuk kredit yang diterima masyarakat adalah kredit konsumtif dan kredit produktif. Kredit konsumtif terutama diterima warga masyarakat yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan penerima kredit produktif yang berhasil diidentifikasi adalah nelayan tangkap. Kredit ini disalurkan bank dalam bentuk kredit usahatani yang diorganisir oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat.

6. PELAYANAN SOSIAL DASAR


6.1. Kesehatan Kabupaten Raja Ampat belum memiliki kebijakan khusus di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan Kabupaten Raja Ampat baru memasuki usia dua tahun, sejak pelantikan Pejabat Bupati pada Tanggal 09 Mei 2003. Sebagai pejabat bupati, tugas utamanya cenderung dibatasi pada tugas di bidang pemerintahan ketimbang tugas dibidang pembangunan. Walaupun demikian pejabat Bupati Raja Ampat telah memiliki komitmen yang kuat untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Komitmen ini terbukti dari adanya upaya-upaya nyata di bidang fisik kesehatan seperti pada Tabel 8. Tabel 8. Sarana/prasarana fisik kesehatan yang dibangun di Kabupaten Raja Ampat, 2004. No. 1. 2. 3. Jenis Prasarana/Sarana Paket PUSKESMAS Rawat-Inap PUSKESMAS Pembantu PUSKESMAS Pembantu Jenis Kegiatan Pembangunan Rehabilitasi Rehabilitasi Lokasi Waisai (Ibu Kota Kabupaten) Kampung Kaliam-Distrik Samate Kampung Dorehkar-Distrik Kepulauan Ayau Besar Biaya (Rp) Tidak Diperoleh Data 150 000 000.150 000 000.-

Tenaga medis yang diperoleh dari Kabupaten Sorong dalam rangka pemekaran Wilayah Raja Ampat menjadi kabupaten sendiri sebanyak 74 orang, tanpa dokter. Hal ini berarti ratio tenaga medis dan penduduk Kabupaten Raja Ampat sebesar 1 : 663. Artinya setiap orang tenaga medis tanpa dokter harus melayani 663 jiwa penduduk. Pada tahunh yang sama (2003) Kabupaten Raja Ampat memperoleh formasi pengadaan PNS sebanyak 40 orang tenaga medis termasuk 2 orang dokter umum. Formasi pengadaan PNS ini berdampak pada menurunnya ratio tenaga medis dan jumlah penduduk yang hingga mencapai 1

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 13

KABUPATEN RAJA AMPAT


: 419 atau menurun sebesar 37 persen. Walaupun pada tahun yang sama telah terdapat 2 orang dokter, tetapi rationya terhadap jumlah penduduk masih terlalu tinggi yakni 1 : 23 885. Selanjutnya berdasarkan formasi pengadaan PNS Tahun 2004 Kabupaten Raja Ampat kembali memperoleh tambahan tenaga medis sebanyak 50 orang. Formasi pengadaan PNS ini, kembali telah menurunkan ratio tenaga medis terhadap penduduk yang hingga mencapai 1 : 291, dengan tingkat penurunan sebesar 31 persen. Penambahan jumlah tenaga medis ternyata belum diimbangi dengan penyediaan rumah tempat tinggal yang layak bagi para tenaga medis. Di Kampung Kalobo-Distrik Samate terdapat sebuah PUSKESMAS Pembantu dilengkapi dengan 1 orang suster yang telah bertugas selama 15 tahun di PUSKESMAS Pembantu ini. Suster ini bersama keluarganya tinggal pada sebuah bangunan rumah bekas petugas transmigrasi yang sudah kurang layak huni karena telah rusak dimakan usia (21 tahun). Obat-obatan di PUSKESMAS Pembantu Kalobo biasanya diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat sekali dalam setiap 6 bulan. Menurut pengalaman susten yang bertugas di PUSKESMAS Pembantu ini ternyata obatobatan yang disediakan oleh Dinas Kesehatan hanya cukup untuk 2 bulan. 6.2. Pendidikan Kebijakan khusus sektor pendidikan di Kabupaten Raja Ampat tidak berhasil diidentifikasi. Walaupun demikian pejabat Bupati Raja Ampat tampak memiliki komitmen yang kuat untuk memberi pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Komitmen ini terbukti dari adanya upaya-upaya nyata pengembangan prasarana/sarana fisik pendidikan seperti pada Tabel 9. Tabel 9. No. 1. 2. 3. 4. Pengembangan prasarana/sarana fisik pendidikan di Ampat, 2004. Jenis Prasarana/ Jenis Pekerjaan Lokasi Sarana 1 Unit Gedung Pembangunan Waigeo Selatan SD 1 Unit Gedung Pembangunan Waigeo Barat SD 6 RKB dan 2 RPL Pembangunan Waigeo Selatan Untuk 2 SMU 10 RKB Untuk 9 Pembangunan Waigeo Selatan, WaiGedung SLTP geo Utara, Samate, Mi-sool, Misool TimurSe latan, Kofiau, dan Kepulauan Ayau Kabupaten Raja Biaya (Rp) Tidak Diperoleh Data Tidak Diperoleh Data 1 000 000 000.-

1 000 000 000.-

Tenaga pendidik yang diperoleh dari Kabupaten Sorong dalam rangka pemekaran Wilayah Raja Ampat menjadi kabupaten sendiri sebanyak 336 orang. Berdasarkan formasi PNS Tahun 2003 Kabupaten Raja Ampat memperoleh 96 orang tenaga pendidik. Terakhir berdasarkan formasi PNS Tahun 2004 Kabupaten Raja Ampat kembali memperoleh tambahan tenaga pendidik sebanyak 100 orang. Sekarang ini Kabupaten Raja Ampat telah memiliki 532 orang tenaga pendidik, dengan pertambahan sebesar 58 persen selama 2 tahun operasional Kabupaten Raja Ampat. Meskipun jumlah tenaga pendidik telah mengalami peningkatan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 14

KABUPATEN RAJA AMPAT


pesat selama 2 tahun operasional Kabupaten Raja Ampat, tetapi tampaknya sebarannya tidak merata antar sekolah. Di Kampung Kalobo-Distrik Samate terdapat sebuah SD yakni SD INPRES 90 yang menyelenggarakan pendidikan dasar 6 tahun. Gedung sekolah ini dibangun dengan konstruksi panggung, dan sekarang berada dalam keadaan rusak. Jamban murid juga berada dalam keadaan rusak berat, sehingga tidak difungsikan lagi. SD ini dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah, dilengkapi 1 orang guru dan 1 orang penjaga sekolah. Penjaga sekolah ini memiliki latar belakang pendidikan SD, berstatus PNS dengan golongan I/c. Terbatasnya jumlah guru mengakibatkan penjaga sekolah terpaksa ikut mengajar rangkap 2 kelas yakni Kelas III dan Kelas IV. Sama seperti kepala sekolah dan 1 orang guru lainnya, juga mengajar rangkap 2 kelas. 6.3. Pertanian Pertanian yang dimaksudkan disini adalah pertanian dalam arti luas, meliputi: kehutanan, perkebunan, peternakan, pertanian tanaman pangan, dan perikanan. Pengelolaannya oleh pemerintah Kabupaten Raja Ampat dilakukan oleh 2 dinas. Masing-masing Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Dinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan dan Pertanian Tanaman Pangan. Setiap dinas dipimpin oleh seorang kepala dinas yakni Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, dan Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan, dan Pertanian tanaman pangan. Kehutanan, Perkebunan, Peternakan dan Pertanian Tanaman Pangan masing-masing dipimpin oleh seorang kepala bidang yang bertanggungjawab langsung kepada kepala dinas. Secara singkat pelayanan sosial dasar kepada masyarakat yang terkait dengan setiuap subsektor dijelaskan seperti di bawah ini. Kehutanan Di antara 6 000 kilometer persegi atau 600 000 hektar daratan ternyata sebagian besar yakni 429 462 hektar atau 72 persen telah dikukuhkan menjadi kawasan cagar alam. Sebagian kecil lainnya yakni 170 538 hektar atau 28 persen merupakan kawasan terbuka dan bagian dari hutan yang dapat dikonversi. Artinya, ruang yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas masyarakat jauh lebih sempit dibandingkan cagar alam. Untuk mensikapi kondisi ini Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dalam rangka memberi pelayanan kepada masyarakat menerapkan konsep pembangunan ekonomi untuk pelestarian hutan dan sebaliknya pelestarian hutan untuk pembangunan ekonomi. Sebagai tindaklanjutnya dalam pengelolaan hutan akan didorong tanggungjawab pengawasan nyata melalui upaya penegakan aturan dan mengadili mereka yang melakukan pelanggaran. Pertanian Tanaman Pangan Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan kurang potensial untuk dikembangkan pada setiap pulau (620 buah pulau) di Kabupaten Raja Ampat. Di antara 620 buah pulau ini hanya 4 buah pulau besar yakni Pulau Waigeo, Salawati, Batanta, dan Pulau Misool yang memiliki potensi untuk budidaya tanaman pangan. Selanjutnya di antara 4 pulau besar ini, Pulau Salawati bagian Selatan (Distrik Samate) merupakan satu-satunya pulau yang telah mengembangakan budidaya pertanian tanaman pangan dengan skala yang cukup besar yakni

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 15

KABUPATEN RAJA AMPAT


Kampung Kalobo. Kampung-kampung lainnya yang tersebar di tiga pulau besar lainnya membatasi budidaya tanaman pertanian pangan pada jenis-jenis tanaman sayuran dengan skala usaha yang sangat kecil yakni sekedar untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga sendiri, karena 2 faktor utama. Pertama, kesulitan pemasaran yang terhambat oleh kendala transportasi ke pasar produksi pertanian di Kota Sorong yang sangat langka dan mahal. Kedua, kondisi fisik lahan yang kurang layak untuk pengembangan usaha pertanian tanaman pangan skala besar. Kampung Kalobo merupakan satu-satunya daerah transmigrasi di Kabupaten Raja Ampat. Sama seperti program transmigrasi di daerah lain,m setiap keluarga transmigran mendapat laha seluas 2 hektar. Penggunaannya, seluas 0,25 hektar untuk usaha pekarangan, 1 hektar untuk usaha pertanian tanaman pangan, dan 0,75 hektar untuk usaha perkebunan. Jenis tanaman yang dibudidayakan adalah padi sawah, dan buah-buahan serta sayur-sayuran. Luas areal sawah yang potensial seluas 125 hektar yang dikelola dengan sistem petanian padi sawah tadah hutan. Buah-buahan yang utama diusahakan meliputi pisang, durian, dan rambutan. Budidaya tanaman buah-buahan dilakukan sebagai usaha pekarangan. Sekarang ini Kalobo menjadi salah satu daerah pemasok produksi buah durian dan rambutan serta pisang ke Kota Sorong. Kendala utama yang dihadapi masyarakat petani di Kalobo adalah pemasaran akibat kelangkaan transportasi ke pasar di Kota Sorong. Satu-satunya transportasi hasil-hasil produksi pertanian ke pasar di Kota Sorong adalah transportasi laut. Selama ini transportasi dilayani oleh perahu motor tempel milik penduduk lokal Distrik Samate. Perjalanan perahu motor tempel ini ke Kota Sorong tidak menentu, sehingga sangat dirasakan oleh masyarakat petani sebagai masalah berat. Tarif angkutan ke pasar Kota Sorong juga dirasakan mahal oleh petani yakni setiap orang membayar Rp 14 000.- pergi-pulang, belum termasuk produksi pertanian yang akan di jual ke pasar. Sistem pencairan anggaran pemerintah juga menjadi kendala bagi petani untuk menghasilkan produksi pertanian. Di Kaloba pada tahun 2004, pengadaan sarana produksi pertanian padi sawah yang mendapatkan dana dari Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yakni Bidang Pertanian Tanaman Pangan Dinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan dan Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Raja Ampat. ternyata tidak konsisten dengan musim tanam padi sawah. Musim tanam padi sawah sesuai kondisi iklim ditetapkan oleh petani bersama Pemerintah Kabupaten Raja Ampat pada Bulan Oktober 2004. Namun sampai dengan berlangsungnya Studi Penyusunan Profil Kabupaten Raja Ampat pada Bulan Desember 2004 ternyata dana yang dijanjikan oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat belum juga cair. Hal ini disebabkan pihak Pemerintah Kabupaten Raja Ampat juga belum menerima dana tersebut. Untuk menenangkan masyarakat petani, Kepala Bidang Pertanian Tanaman PanganDinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan, dan Pertanian Tanaman Pangan terpaksa datang Kalobo untuk menjelaskan persoalan sebenarnya dan minta maaf kepada masyarakat petani padi sawah. Perikanan Salah satu di antara tiga misi pembangunan perikanan dan kelautan Kabupaten Raja Ampat adalah menjadikan sektor perikanan dan kelautan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk mendukung misi ini, Pemerintah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 16

KABUPATEN RAJA AMPAT


Labupaten Raja Ampat telah merumuskan kebijakan pembangunan perikanan dan kelautan sebagai berikut: (1) Pemberdayaan nelayan dan petani ikan serta masyarakat pesisir. (2) Pembangunan komoditas. perikanan berdasarkan pengembangan wilayah dan

(3) Setiap kegiatan di wilayah perairan laut dan pesisir serta pulau-pulau kecil harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan. (4) Pembangunan dan pengelolaan terpadu dengan melibatkan organisasi non pemerintah, pengusaha, dan investor. (5) Pengembangan perikanan dan kelautan berbasis riset dan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah dan masyarakatnya. Untuk merealisasikan misi dan kebijakan pembangunan perikanan dan kelautan dalam rangka mewujudkan visi pembangunan perikanan dan kelautan, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah merumuskan program-program seperti di bawah ini. (1) Pemantapan perencanaan pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. (2) Pengendalian penangkapan dan pembudidayaan ikan. (3) Pengembangan simpul-simpul pemasaran dan pemutahiran data perikanan dan kelautan. (4) Pembinaan pemanfaatan, pengawasan dan perlindungan sumber daya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. (5) Pengembangan kawasan perikanan terpadu di Waisai-Waigeo Selatan. Hasil produksi yang menonjol adalah ikan cakalang dan tuna, teripang, dan mutiara hasil budidaya. Pemasaran hasil produksi tangkapan maupun budidaya ini dilakukan oleh masyarakat petani di Kota Sorong. Khusus hasil produksi tangkapan ikan oleh nelayan tradisionil diproses menjadi ikan kering, kecuali masyarakat nelayan yang dekat dengan Kota Sorong yakni nelayan di Distrik Samate. Hal ini disebabkan biaya transportasi yang mahal, tidak seimbang dengan penerimaan yang diperoleh nelayan dari hasil penjualan ikan segar pada setiap kali melaut. Perkebunan Kebijakan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat pada Sub Sektor Perkebunan terdiri dari 2 kebijakan utama, sebagai berikut. (1) (2) Pemasaran hasil produksi tanaman perkebunan yang telah dimiliki secara luas oleh masyarakat. Uji coba pengembangan tanaman perkebunan yang belum dimiliki oleh masyarakat.

Sebagai tindak lanjut kebijakan ini Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah merealisasikan secara nyata program-program sebagai berikut: Pertama, pemasaran hasil produksi buah kelapa untuk mensuplai bahan baku industri minyak kelapa di Kota Bintung. Tanaman kelapa sebagai satu-satunya jenis tanaman perkebunan yang telah dibudidayakan oleh petani lokal sebagai perkebunan rakyat, dengan skala usaha ekonomi. Perkebunan kelapa rakyat

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 17

KABUPATEN RAJA AMPAT


ini tersebar luas di Distrik Kofiau dan Distrik Waigeo Selatan. Volume produksi yang dipasarkan rata-rata 25 ton kopra dalam setiap bulan. Pemasaran dilakukan oleh pengusaha lokal untuk memenuhi bahan baku industri minyak goreng PT Bimoli Bitung-Propinsi Sulawesi Utara. Harga beli Rp 1 000.- per kg kopra pada tingkat petani, dan harga jual sebesar Rp 1 500.- per kg kopra pada tingkat industri minyak kelapa yakni PT. Bimoli Bitung Propinsi Sulawesi Utara. Kedua, uji coba pengembangan tanaman kakao di Distrik Waigeo Utara, Waigeo Selatan, Misool, dan Distrik Kofiau. Peternakan Kebijakan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk pembangunan Sub Sektor Peternakan adalah: (1) pembinaan dan pengembangan jenis-jenis ternak unggas yang telah dimiliki masyarakat, dan (2) pembinaan dan pengembangan serta introduksi bibit ternak besar. Sebagai tindak lanjutnya Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah merumuskan dan merealisasikan secara nyata program-program seperti di bawah ini. Pertama, pembinaan dan pengembangan ternak ayam buras pada setiap pusat pemerintahan distrik. Kegiatannya masih terbatas pada upaya penyuluhan teknik pemeliharaan ayam buras, dan penyuluhan tentang pemasaran hasil produksi ayam buras yang meliputi telur dan daging (ayam). Kedua, introduksi bibit ternak Sapi Bali di Kampung Kalobo-Distrik Samate. Introduksi dilakukan oleh Bidang Peternakan-Dinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan, dan Pertanian Tanaman Pangan. Sistem introduksi yang digunakan adalah bagi hasil sesuai kesepakatan tertulis di antara peternak dan Bidang Peternakan. Tujuan introduksi ini adalah untuk memperbesar poipulasi ternak sapi yang berguna sebagai sumber tenaga kerja untuk membajak sawah, disamping sebagai sumber pendapatan alternatif bagi keluarga peternak. Ketiga, pembinaan dan pengembangan ternak kambing pada setiap pusat pemerintahan distrik. Kegiatannya masih terbatas pada penyuluhan tentang teknik-teknik pemeliharaan kambing. Bidang Peternakan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan, Peternakan dan Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Raja Ampat. Jumlah personil Bidang Peternakan ini sebanyak 49 orang. Sebaran personil ini berdasarkan daerah asal terdiri dari 12 0rang Panua (24%) dan 37 orang Non Papua (76 %), berdasarkan tingkat pendidikan formal sebanyak 4 orang (8 %) berpendidikan SD, 28 orang (57 %) berpendidikan SLTA, dan 17 orang (35 %) perguruan tinggi termasuk 3 orang berpendidikan magister dibidang peternakan. Di antara 49 orang personil ini terdapat 12 orang (24 %) yang berstatus sebagai Penyuluh Peternakan Lapangan. 6.4. Prasarana dan Sarana Kebijakan pelayanan prasarana dan sarana yang telah ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat adalah pengadaan dan rehabilitasi prasarana dan sarana pelayanan umum kepada masyarakat yang meliputi pelayanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan tempat tinggal pegawai. Selengkapnya jenis-jenis prasarana dan sarana yang telah dibangun dan direhabilitasi disajikan pada Tabel 10.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 18

KABUPATEN RAJA AMPAT


Tabel 10. Jenis-jenis prasarana dan dibangun/direhabilitasi, 2004. sarana pelayanan masyarakat umum yang telah

No. 1. 2.

Jenis Prasarana dan Sarana Transportasi 1.1. Pembelian Kapal LCT Pendidikan & Pengajaran 2.1. Pembangunan Gedung SD 2.2. Pembangunan RKB Untuk 9 SLTP

Jumlah (Unit) 1 2 10

Biaya (Rp) 2 233 500 000.Tidak Diperoleh Data 1 000 000 000.-

Lokasi Kab. Raja Ampat Distrik Waigeo Selatan & Distrik Waigeo Barat Distrik Waigeo Selatan, Waigeo Utara, Samate, Misool, Misool Timur-Selatan, Ayau, dan Distrik Kofiau. Distrik Waigeo Selatan Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan Distrik Samate Distrik Ayau Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan

3.

4.

2.3. Pembangunan RKB Untuk SMU. 2.4. Pembangunan RPL Untuk SMU Kesehatan 3.1. Pembangunan Paket PUSKESMAS Rawat Inap 3.2. Rehabilitasi Bangunan PUSTU 3.3. Rehabilitasi Bangun-an PUSTU Pemerintahan 4.1. Rehabilitasi Gedung Eks Kantor Distrik Waigeo Selatan 4.2. Pembangunan Barak Pegawai 4.3. Pembangunan Wisma

6 2 1 1 1 1 2 1

1 000 000 000.Tidak Diperoleh Data 150 000 000.150 000 000.Tidak Diperoleh Data 2 816 150 000.400 000 000.-

Di antara prasarana dan sarana ini, yang vital bagi Kabupaten Raja Ampat sebagai daerah kepulauan dan sebagai kabupaten baru adalah transportasi dan rumah tinggal PNS. Kedua sarana ini merupakan hal yang sangat langka bagi PNS terutama yang ditempatkan di Waisai sebagai Pusat Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat. Rumah tempat tinggal PNS yang telah ada masih terbatas pada wisma dan barak yang tidak layak sebagai tempat tinggal PNS bersama keluarganya. Jumlah wisma dan barak yang telah berhasil dibangun juga sangat terbatas, masing-masing, wiama sebanyak 1 unit dan barak sebanyak 2 unit. Wisma sebenarnya diperuntukan bagi para tamu Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Namun untuk mengatasi ketiadaan rumah tinggal PNS, wisma ini dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara PNS dilingkungan unit kerja tingkat Kabupaten Raja Ampat di Waisai. Barak sebanyak 2 unit atau 16 petak merupakan tempat tinggal darurat bagi beberapa di antara 927 orang PNS yang memiliki komitmen yang kuat untuk membangun Kabupaten Raja Ampat. Setiap petak barak berukuran luas 32 meter persegi dihuni oleh 6 orang PNS. Hal yang mengesankan bahwa PNS yang menempati barak sekarang pada umumnya telah berkeluarga. Mereka terpaksa membujang akibat tidak adanya rumah tempat tinggal yang layak bagi setiap PNS untuk tinggal bersama keluarga di Waisai. Keluarga mereka masih tetap tinggal di Kabupaten/Kota Sorong, sehingga para PNS ini pun menjadi sering pergi-pulang Sorong-Waisai untuk menjenguk keluarga. Walaupun demikian, mereka adalah bagian kecil PNS yang memiliki komitmen yang kuat untuk mengaktifkan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Raja Ampat.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 19

KABUPATEN RAJA AMPAT


Seluruh petak barak yang telah ada telah ditempati oleh 96 orang PNS atau kurang lebih 16 persen dari seluruh (600 Orang) PNS di lingkungan unit kerja tingkat Kabupaten Raja Ampat yang memerlukan rumah tempat tinggal di Waisai. Kelangkaan rumah tempat tinggal menjadi salah satu faktor penyebab hingga sekarang ini hampir seluruh (84 %) PNS yang seharusnya telah bertempat tingga di Waisai ternyata masih tetap tinggal di Kabupaten/Kota Sorong. Prasarana dan sarana transportasi laut yakni dermaga Waisai dan alat angkutan air seperti speed boat dan kapal motor amat penting bahkan prasyarat bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Raja Ampat dengan pusat pemerintahan di Waisai. Dermaga Waisai ditinjau dari aspek konstruksi dan kualitas bangunannya adalah darurat. Berdasarkan kondisinya in Dermaga Waisai dapat ditambati oleh speed boat dan long boat, tetapi tidak dapat ditambati oleh kapal motor. Speed boat bagi dinas dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, fungsinya sama dengan kenderaan roda dua dan roda empat bagi dinas dan unit kerja di lingkungan kabupaten yang wilayahnya merupakan daratan seperti Kabupaten/Kota Sorong. Jumlah speed boat ini di Kabupaten Raja Ampat juga sangat terbatas yakni baru dimiliki oleh 2 di antara 10 dinas yakni (1) Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, dan (2) Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan. Kapal Motor milik Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah ada 1 unit yakni KM. Fajar Nock. Kapal motor ini beroperasi melayani masyarakat umum yang tersebar pada 10 distrik di Kabupaten Raja Ampat. Kapasitas kapal motor ini ternyata terbatas, kurang lebih 200 orang penumpang dengan barang bawaan yang juga terbatas. Selain prasarana dan sarana pada Tabel 10, sedang dibangun prasarana dan sarana Pusat Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat di Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan. Selengkapnya jenis-jenis prasarana dan sarana yang sedang dibangun disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Jenis prasarana dan sarana Pusat Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat di Kampung Waisai Distrik Waigeo Selatan, 2004. Jenis Kegiatan/ Prasarana dan Sarana Pembangunan Prasarana Kantor Bupati 1.1. Rumah jabatan bupati 1.2. Rumah jabatan SEKDA 1.3. Rumah jabatan Kepala Dinas Otonom Normalisasi Sungai Waisai Pembangunan jalan utama Pembangunan jalan lingkungan Pembangunan drainase Penggusuran tanah dan timbunan rumah dinas Jumlah Jumlah (Unit) Biaya (Rp) SPK

No. 1.

1 1 10

5 998 324 000.-

No. 42/Kontrak/ PPPKB/SRG-2003

2. 3. 4. 5. 6.

8 681 350 000.5,2 Km 15 842 612 000.2 497 033 000.2 602 554 000.5 420 288 000.41 042 161 000.-

No. 29/SPT/BSRG/ 2002 No. 30/SPT/BSRG/ 2002 No. 27/KPTS/BSRG/ 2003 No. 48/KPTS/BSRG/ 2003 No. 050/359

Penetapan Ibukota Kabupaten Raja Ampat di Waisai oleh Pemerintah Kabupaten Sorong membawa konsekwensi pembangunan prasarana dan sarana Pusat Pemerintahan melalui perjanjian kerja dengan pihak swasta, sehiungga

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 20

KABUPATEN RAJA AMPAT


menjadi hutang bagi Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Namun proses pembangunan prasarana dan sarana pemerintahan ini masih berlangsung, sehingga belum menjadi masalah yang berarti bagi Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

7.

LESSONS-LEARNED DAN BEST PRACTICES


Kabupaten Raja Ampat merupakan salah satu kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sorong yang masih sangat muda. Sebagai kabupaten baru belum ada pembelajaran dan hasil pengalaman dari proyek yang telah dimanfaatkan.

8. KESIMPULAN
1. Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat telah berfungsi cukup efektif di bawah kepemimpinan Pejabat Bupati Drs Marcus Wanma, M.Si. 2. Pejabat Bupati telah melaksanakan tugas pokok dibidang pemerintahan yang meliputi: 2.1. Pembentukan kelembagaan daerah. 2.2. Pembangunan infrastruktur pemerintahan. 2.3. Penyelenggaraan PEMILU Legidlatif dan Presiden RI Tahun 2004. 2.4. Pembentukan DPRD 3. Untuk mengefektifkan fungsi kelembagaan yang telah terbentuk termasuk DPRD diadakan kantor sementara yakni bangunan gedung pemerintah Distrik Waigeo Selatan di Kampung Waisai dan Kampung Saonek sebagai pinjaman sementara dan bangunan rumah penduduk lokal di Kampung Saonek dengan cara mengontrak sambil menunggu selesainya pembangunan infrastruk pemerintahan di Waisai sebagai Pusat Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat. 4. Pembangunan infrastruktur pemerintahan Kabupaten Raja Ampat yang meliputi kantor bupati, kantor badan dan dinas, rumah dinas bupati dan pejabat eksalon dua dan tiga sedang berlangsung dan diperhitungkan telah mencapai 30 persen pada saat tim penyusun profil Kabupaten Raja Ampat berada di Waisai pada Bulan Desember 2004. 5. Pembangunan infrastruktur pemerintahan ini dilakukan dalam bentuk hutang Kabupatan Raja Ampat yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Induk, dengan nilai kontrak sebesar Rp 41 042 161 000.6. Penyelenggaraan pemerintahan akan lebih efektif jika seluruh PNS dilingkungan Kabupaten Raja Ampat telah tinggal menetap di Waisai, dengan dukungan berbagai upaya sebagai berikut: 6.1. Pembangunan seluruh infrastruktur telah selesai termasuk perumahan bagi PNS non eksalon. 6.2. Pembangunan infrastruktur ekonomi, terutama jaringan telepon, pelabuhan laut yang memadai untuk menampung kapal-kapal penumpang disamping kapal-kapal ekspor-impor. Pembangunan pasar sebagai pusat rumahtangga termasuk bahan bangunan. perdagangan kebutuhan

6.3.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

V - 21

KABUPATEN FAKFAK

VI. KABUPATEN FAKFAK

1.

KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah Kabupaten Fakfak terletak antara 13130' - 138BT dan 232' - 518 LS, yaitu di Pantai Selatan Papua membujur dengan arah timur-barat. Sebelumnya wilayah Kabupaten Fakfak mencakup wilayah Kabupaten Kaimana, kemudian berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002 tertanggal 12 November 2002. dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Batas wilayah Kabupaten Fakfak yang baru setelah terjadi pemekaran adalah adalah sbb. : Sebelah Utara : Kabupaten Teluk Bintuni Sebelah Selatan : Laut Arafura dan Kabupaten Kaimana Sebelah Timur : Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Manokwari Sebelah Barat : Laut Seram dan Teluk Berau Kabupaten Fakfak beribukota di Kota Fakfak, dapat dijangkau dari daerah lain melalui sarana transportasi udara dan laut. Secara morfologis, Kabupaten Fakfak dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu : a. Datar, terletak pada ketinggian 0 50 m dpl di wilayah barat pada sebagian besar Distrik Fakfak, Fakfak barat, Fakfak Timur dan Kokas. b. Berbukit, terletak pada ketinggian antara 100 1000 m dpl diantara Fakfak dan Kokas. c. Pegunungan dengan ketinggian diatas 1000 m dpl terletak dibagian utara Kabupaten Fakfak. Berdasarkan Peta Topografi, Kabupaten Fakfak terletak pada ketinggian 0 2000 m atau lebih diatas permukaan laut. Wilayah dengan ketinggian 0 100 m dpl merupakan wilayah terluas yaitu sebesar 1.424.300 Ha yang tersebar disetiap distrik (Regional Phisical Planning Programmer of Tranmigration, 1986). Jenis tanah yang tersebar di wilayah Kabupaten Fakfak meliputi jenis-jenis tanah Rensina, Mediteran, Podsolik Merah Kuning, Hidromorf Kelabu, Organosol dan Aluvial. Iklim, selain ditentukan oleh letak bujur dan lintang juga ditentukan oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Unsur-unsur iklim yang penting adalah curah hujan, suhu dan kelembaban udara serta angin. Di Kabupaten Fakfak, curah hujan yang paling tinggi terdapat di Distrik Fakfak, Fakfak Timur dan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 1

KABUPATEN FAKFAK
Fakfak Barat yaitu sebesar 3500 mm/tahun, sedangkan curah hujan yang termasuk kriteria sedang terdapat di Distrik Kokas, Teluk Patipi, kramomongga dan Bomberai. Disamping itu, ada pula daerah yang mempunyai curah hujan yang sangat rendah yaitu terdapat di dataran Otoweri sebelah utara Distrik Kokas. Suhu Udara rata-rata berkisar antara 24 32C dengan suhu udara minimal berkisar 21C dan maksimum 32C. Kelembaban udara pada umumnya berkisar antara 78 % - 90 % dengan variasi yang relatif kecil dari bulan ke bulan. Hal ini memungkinkan karena kabupaten ini berbatasan dengan Laut Arafura dan Laut Seram. Kecepatan angin berkisar dari minimum 50 km/hari pada bulan April dan maksimum dapat mencapai 149 km/hari pada bulan Agustus (Badan Pusat Statistik Kabupaten Fakfak, 2003). 1.2. Pembagian Administratif dan Luas Wilayah Sampai dengan Tahun 2003, yaitu setelah terpisahnya 4 distrik (Kaimana, Teluk Arguni, Teluk Etna dan Buruwai) menjadi kabupaten baru, yaitu Kabupaten Kaimana, distrik di Kabupaten Fakfak berjumlah 4, yaitu : Fakfak Timur, Fakfak Barat, Fakfak Kota dan Kokas. Pada tahun 2004 Kabupaten Fakfak dimekarkan menjadi 9 Distrik seperti terlihat pada Tabel berikut. Tabel 1. Pembagian Administrasi Pemerintahan Kabupaten Fakfak
NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Fakfak Fakfak Tengah Fakfak Timur Fakfak Barat Kokas Karas Teluk Patipi Kramongmongga Bomberai Jumlah DISTRIK LUAS WILAYAH (Km2) 371 678 1.504 1.435 1.542 2.150 1.237 927 2.473 12.320 JUMLAH DESA/KAMPUNG 8 9 8 12 18 7 16 14 9 101 JUMLAH KELURAHAN 3 1 1 5

Sumber : Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004)


Sebelum adanya pemekaran fungsi pelayanan kepada masyarakat dirasa kurang efektif, karena rentang kendali yang terlalu jauh dengan tingkat isolasi yang tinggi. Dengan adanya pemekaran tersebut diharapkan rentang kendali menjadi lebih pendek, sehingga fungsi pelayanan lebih didekatkan kepada masyarakat yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan fungsi pelayanan kepada masyarakat.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 2

KABUPATEN FAKFAK

1.3. Keadaan Sosial Ekonomi 1.3.1. Penduduk Penduduk Kabupaten Fakfak hingga tahun 2004 berjumlah 63.068 jiwa atau 13.104 rumahtangga dengan perbandingan penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sex ratio 114,7. Dari jumlah tersebut sekitar 58% bermukim di daerah perkotaan dan 42% bermukim di daerah pedesaan. Selain jumlah penduduk yang besar, daerah perkotaan di Kabupaten Fakfak juga memiliki kepadatan dan pertumbuhan yang tinggi. Kepadatan penduduk Kabupaten Fakfak pada tahun 2004 menunjukkan perbedaan yang nyata antara daerah perkotaan yang relatif tinggi (Distrik Fakfak 68 jiwa/Km2 dan Distrik Fakfak Tengah 16 jiwa/Km2), dan daerah pedesaan yang rendah (kurang dari 3 jiwa/Km2). Selama kurun waktu 2000 2004 rata-rata pertumbuhan penduduk Kabupaten Fakfak adalah 5,56% pertahun. Pertumbuhan yang tertinggi terjadi di daerah perkotaan, terutama di Distrik Fakfak Kota dan Fakfak Tengah. Hal ini terkait dengan migrasi masuk yang lebih besar dari migrasi keluar karena ketersediaan fasilitas pelayanan yang lebih baik. Berdasarkan usia penduduk, 36,56% adalah anak-anak (0 14 tahun), 62,47% dewasa (15 64 tahun) dan 0,97% lanjut usia (65 tahun keatas). Dengan demikian rasio ketergantungan penduduknya sekitar 60. Artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban ekonomi 60 penduduk yang belum/tidak produktif. Dari segi tingkat pendidikan, rata-rata pendidikan penduduk di Kabupaten Fakfak relative sangat rendah. Data tahun 2003 menunjukkan bahwa lebih dari seperempat jumlah penduduk (28,64%) buta huruf dan tidak sekolah, 37,57% tamat SD, 17,57% tamat SLTP, 13,30% tamat SLTA dan hanya 3,14% berpendidikan diploma dan sarjana. Di samping rata-rata pendidikan yang rendah, distribusinyapun tidak merata. Sebagian besar penduduk yang buta huruf dan tidak tamat SD berada di daerah pedesaan sedang sebagian besar penduduk yang tingkat pendidikannya cukup baik umumnya terkonsentrasi di daerah-daerah perkotaan. Kabupaten Fakfak dan Kaimana merupakan kabupaten di papua yang agak berbeda dari sisi komposisi penduduk menurut agama, yaitu proporsi penduduk yang beragama islam lebih banyak dibandingkan dengan yang beragama kristen. Pada tingkat kabupaten, lebih dari separoh jumlah penduduk beragama islam (59,00%), kemudian Kristen protestan (23,78%), Kristen katholik (16,46%), hindu dan budha (0,76%). 1.3.2. Mata Pencaharian Matapencaharian rumahtangga penduduk di daerah-daerah pedesaan umumnya adalah petani/nelayan, sedangkan di daerah perkotaan adalah pedagang, industri rumahtangga, pelayanan jasa, tukang/buruh, pegawai negeri sipil/TNI/POLRI. Petani/nelayan mencapai 58% dari total penduduk yang tergolong dalam angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, hampir 75% berada di daerah-daerah pedesaan. Jumlah pegawai negeri/TNI/POLRI menduduki posisi kedua dalam matapencaharian, yaitu 17,5%, 85% diantaranya berada di daerah perkotaan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 3

KABUPATEN FAKFAK
dan hanya 15% berada di daerah-daerah pedesaan. Jumlah pedagang mencapai 10,6%, dan 65% dari jumlah tersebut berada di perkotaan. Industri rumahtangga mencapai 5%, sebagian berada di daerah pedesaan (84,8%) dan selebihnya di daerah perkotaan (15,2%). Pelayanan jasa/tukang/buruh mencapai 5,6%, dan 78% berada di perkotaan. Tabel 2. Komposisi penduduk menurut mata pencaharian
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis Mata Pencaharian Petani dan Nelayan Pegawai Negeri Sipil/TNI/POLRI Pedagang Industri Rumah Tangga Jasa Tukang/Buruh Lainnya Jumlah Jumlah (Jiwa) 13.262 3.986 2.423 1.239 672 598 629 22.809 Proporsi (%) 58,14 17,48 10,62 5,43 2,95 2,62 2,76 100,00

Sumber : Diolah dari Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004)

Berdasarkan komposisi di atas, menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Fakfak hidup sebagai petani dan nelayan yang masih tradisional dan subsisten. Keadaan tersebut menyebabkan tingkat pendapatan dan taraf hidup penduduk relative rendah. Oleh sebab itu, selayaknya apabila kegiatan pembangunan lebih memberikan prioritas kepada daerah pedesaan. 1.4. Kemiskinan Di Fakfak tidak ditemukan data yang valid tentang angka kemiskinan penduduk. Angka yang ada umumnya berbeda dari satu sumber dengan sumber lainnya disesuaikan dengan tujuannya, misalnya untuk pengajuan bantuan beras (raskin) atau untuk tujuan-tujuan lain. Namun demikian, dalam Laporan Pembangunan Manusia (BPS, BAPPENAS dan UNDP, 2004) ditemukan Indeks Kemiskinan Manusia untuk Kabupaten Fakfak dan kabupaten-kabupaten lain di Papua.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 4

KABUPATEN FAKFAK

Tabel 3.

Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Kabupaten Fakfak Tahun 1999 dan 2002.
Uraian Fakfak 1999 *) 2002 **) 11.1 13.6 53.5 35.8 24.3 26.9 3 216 Papua 1999 17.8 28.8 54.5 36.0 28.3 31.3 2002 16.8 25.6 61.6 36.1 24.3 30.9 Indonesia 1999 15.2 11.6 51.9 21.6 30.0 25.2 2002 15.0 10.5 44.8 23.1 25.8 22.7

No.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Penduduk Yang diperkirakan tidak mencapai usia 40 tahun (%) Angka Buta Huruf Penduduk Dewasa (%) Penduduk tanpa akses pada air bersih (%) Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan (%) Balita kurang gizi (%) Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Ranking IKM terhadap Papua Ranking IKM terhadap Indonesia

12.1 5.1 59.1 35.7 28.3 28.7 4 186

Keterangan :

*) Meliputi Fakfak, Mimika dan Kaimana **) Meliputi Fakfak dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Tabel 4.
No.

Kondisi Perumahan Di Kabupaten Fakfak Tahun 1999 dan 2000.


Uraian Fakfak*) 1999 2000 46.5 13.8 49.7 Papua 1999 45.5 12.6 38.9 2000 38.4 22.1 51.4 Indonesia 1999 2000 55.2 16.7 25.0

1. 2. 3.

Rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air bersih (%) Rumah tangga yang tinggal di rumah berlantai tanah (%) Rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi (%)

40.9 16.8 40.2

Keterangan : *) Meliputi Fakfak, Mimika dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Tabel 5.

Pengeluaran Rumah tangga untuk pendidikan dan kesehatan Tahun 2002. Uraian Pengeluaran Fakfak
1.22 0.92 2.14

No.
1. 2.

Papua
1.26 1.02 2.28

Indonesia
2.40 2.20 4.60

Pendidikan (%) Kesehatan (%) Kesehatan & Pendidikan (%)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 5

KABUPATEN FAKFAK
Keterangan : *) Meliputi Fakfak, Mimika dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Selama tiga tahun (1999 2002) IKM di Kabupaten Fakfak mengalami perbaikan hampir dua point (28.7 menjadi 26.9) dan mengalami perbaikan peringkat di Papua (dari peringkat 4 menjadi peringkat 3), kendati secara nasional mengalami penurunan peringkat IKM (dari peringkat 186 ke peringkat 216). Turunnya peringkat IKM secara nasional disebabkan terjadinya pemekaran kabupaten, khususnya pada daerah-daerah yang relative lebih maju.

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


2.1. Jumlah Personil Jumlah personil Pemerintah Kabupaten Fakfak pada tahun 2004 sebanyak 3.284 orang. Tidak tersedia data pembagian personil Pemda Kabupaten Fakfak menurut daerah asal. Berdasarkan perhitungan paling kurang terdapat 32,5% pegawai perempuan dan 67,5% pegawai laki-laki. Distribusi personil menurut unit satuan kerja adalah sebagai berikut : (a) Sekretariat Wilayah Daerah/Sekretariat DPRD sebanyak 5,20%, (b) Dinas-Dinas Teknis 75,61%, (c) Kantor/Badan 12,97%, (d) Kecamatan/Distrik 5,55% dan (e) Kampung/Kelurahan 0,67%. Disamping itu, terdapat 69 orang personil Pemda yang sedang tugas belajar baik pada jenjang Strata I maupun Strata II. Tabel 6. Jumlah Pegawai Pemda Kabupaten Fakfak 2003. (Minus TNI/POLRI NO. 1. SATUAN KERJA JUMLAH PEGAWAI

Sekretariat Wilayah Daerah/ Sekretariat DPRD Dinas Dinas Kantor/Badan Kecamatan Kelurahan Jumlah

160 2.531 401 171 21 3.284

5,20 75,61 12,97 5,55 0,67 100,00

2. 3. 4. 5.

Sumber : BPS Kabupaten Fakfak 2003


Dari 3.284 pegawai di Kabupaten Fakfak hanya sebesar 35% yang merupakan pegawai fungsional, artinya yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat seperti guru, tenaga medis/para medis, penyuluh dan sebagainya. Sisanya merupakan pegawai administrasi dan terkonsentrasi di kota kabupaten. 2.2. Kapasitas dan Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Fakfak terdiri dari : 2 sekretariat, yaitu Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten (Setwilda) dan Sekretariat DPRD, 9 Badan 11 Dinas/Instansi Teknis, 3 Kantor dan Distrik serta Kelurahan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 6

KABUPATEN FAKFAK
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar (58,56%) PNS berpendidikan SLTA kebawah, 20,71 berpendidikan diploma, 19,46% sarjana dan sebagian kecil (1,24%) berpendidikan magister. Distribusi menurut pendidikan ini sesuai dengan hirarki dibidang pelayanan, bahwa sebagian besar PNS merupakan tenaga pelaksana, kemudian tenaga manajer menengah, dan sebagian kecil PNS sebagai perencana. Tabel 7. Jumlah Pegawai Pemda Kabupaten Fakfak 2003. (Minus TNI/POLRI) NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH PEGAWAI

SD SLTP SLTA Diploma 1 Diploma 2 Diploma 3 Diploma 4 Sarjana Magister Jumlah

93 86 1.745 56 359 253 15 639 41 3.284

2,83 2,62 53,14 1,70 10,93 7,70 0,38 19,46 1,24 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Fakfak 2003


Berdasarkan golongan kepangkatan, mayoritas personil adalah golongan II yaitu sebesar 51,35% dan golongan III yaitu sebesar 43,98%. Golongan I hanya sebesar 3,18% dan golongan IV hanya sebesar 1,49%. Distribusi PNS menurut golongan kepangkatan ini mempunyai hubungan dengan tingkat pendidikannya. 2.3. Observasi tentang Kapasitas Pemda Rasio PNS terhadap jumlah penduduk di Fakfak adalah 1 : 21, artinya setiap PNS melayani 21 orang penduduk. Rasio ini sebenarnya sudah cukup baik, akan tetapi distribusi PNS yang sebagian besar (lebih dari 80%) berada di daerah perkotaan menyebabkan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Hal ini diperburuk oleh rendahnya aksesibilitas daerah pedesaan yang menyebabkan rendahnya mobilitas PNS ke daerah-daerah pedesaan. Disamping itu, terbatasnya fasilitas dan dana operasional menyebabkan sebagian besar PNS enggan ditempatkan di daerah pedesaan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sering terjadi keterlambatan penerimaan gaji PNS di pedesaan 2 3 bulan. Di tingkat kabupaten, kurang efektifnya pelayanan terkait dengan the right person in the right place. Sejumlah orang menempati posisi yang bukan bidang keahliannya, sehingga produktivitasnya tidak optimal.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 7

KABUPATEN FAKFAK
Sampai dengan akhir tahun 2004, pemerintah daerah Kabupaten Fakfak masih dalam masa transisi. Anggota DPRD baru dilantik, sementara Ketua DPRD belum dilantik. Hal ini menyebabkan pihak eksekutif belum mempunyai legitimasi untuk menjalankan roda pemerintahan dan masih bersifat menunggu. Keaadaan ini dimanfaatkan oleh sebagian besar PNS untuk melakukan lobi-lobi agar dapat menduduki posisi tertentu, sehingga menimbulkan banyak PNS yang melakukan petualangan, artinya mereka melakukan upaya-upaya yang berorientasi untuk memperoleh jabatan-jabatan tertentu dan belum berorientasi pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

3.

KEUANGAN DAERAH
3.1. Pendapatan 3.1.1. Umum Sebelum era Otonomi Daerah, manajemen keuangan daerah mengacu pada UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah. Dengan semakin kuatnya tuntutan desentralisasi, pemerintah mengeluarkan satu paket undang-undang otonomi daerah, yaitu UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Otonomi daerah dan desentralisasi fiscal sudah merupakan kesepakatan bangsa Indonesia yang harus disukseskan. Dampak dari Otonomi daerah dan desentralisasi fiscal adalah reformasi manajemen keuangan daerah yang meliputi manajemen penerimaan daerah dan manajemen pengeluaran daerah. Menurut Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, sumber-sumber penerimaan daerah secara garis besar terdiri atas : 1. 2. 3. 4. Pendapatan Asli Daerah; Dana Perimbangan; Pinjaman Daerah; dan Lain-lain penerimaan yang Sah

Dalam struktur APBD yang baru, Sisa Lebih Perhitungan APBD tahun Lalu dan Pinjaman (Utang) tidak lagi dimasukkan sebagai unsure penerimaan daeran, tetapi dimasukkan sebagai pembiayaan daerah. Dengan struktur yang baru tersebut lebih mudah mengetahui surplus atau deficit, sehingga meningkatkan transparansi informasi anggaran kepada masyarakat (publik). Jika terjadi deficit anggaran, untuk menutupinya disediakan pos tambahan yaitu pos pembiayaan. Aspek utama manajemen penerimaan daerah yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah manajemen pendapatan sah daerah dan manajemen dana perimbangan. Pemerintah daerah Kabupaten Fakfak seringkali dihadapkan dengan masalah tingginya kebutuhan fiscal daerah, sementara kapasitas fiscal daerah tidak mencukupi sehingga terciptanya kesenjangan fiscal (fiscal gap). 3.1.2. Pertumbuhan Pendapatan Daerah Pendapatan Daerah Kabupaten Fakfak selama kurun waktu 2001 2003 mengalami pertumbuhan, baik plafon anggaran maupun realisasinya. Plafon anggaran 2002 mengalami pertumbuhan sebesar 33,56% dari tahun 2001, dan tahun 2003 naik sebesar 15% dari tahun 2002.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 8

KABUPATEN FAKFAK
Sebagai Kabupaten Induk, sampai dengan tahun 2003 APBD Kabupaten Fakfak masih mencakup Kabupaten Kaimana. Pendapatan daerah mengalami kenaikan sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2003. Pada tahun 2001 realisasi pendapatan Kabupaten Fakfak sebesar Rp. 207 milyar lebih tinggi dari plafonnya sebesar Rp. 200,4 milyar. Pada tahun 2002 pendapatan daerah mengalami kenaikan sekitar 24% menjadi Rp. 256,529 milyar kendati lebih rendah dari plafonnya sebesar Rp. 267,616 milyar. Pada tahun 2003 pendapatan daerah mengalami kenaikan hampir 25% menjadi Rp. 319,867 milyar, lebih besar dari plafonnya sebesar Rp. 307,723 milyar. Kenaikan ini berhubungan dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Pemberian Otonomi Khusus bagi Propvinsi Papua berupa perolehan Dana Otonomi Khusus. Dana Otsus provinsi Papua selama 2002 2004, 40% diantaranya dibagikan kepada Kabupaten/Kota yang ada di Papua, sedangkan 60% diantaranya dikelola oleh provinsi. Pertumbuhan pendapatan daerah Kabupaten Fakfak dikemukakan pada table berikut. Tabel 8. Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Fakfak Menurut Sumber Pendapatan . Tahun 2000 - 2003

No.

Uraian Pendapatan
Plafon (Rp.000)

2001
Realisasi (Rp.000) 2.555.131 4.095.365 200.351.667

2002
Plafon (Rp.000) 18.044.529 5.752.685 243.819.247 Realisasi (Rp.000) 17.157.967 6.172.273 232.198.823

2003
Plafon (Rp.000) 11.452.118 18.866.405 270.867.650 6.537.057 Realisasi (Rp.000) 11.809.537 12.596.823 289.776.696 5.684.261 319.867.318

1. 2. 3. 4.

Sisa Lebih Perhitungan Tahun Lalu Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Lain-lain Penerimaan yang Sah Pendapatan

2.555.131 1.573.344 196.244.472

200.372.947

207.002.163

267.616.463

256.529.064

307.723.231

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003. Tabel 8 memperlihatkan bahwa selama tahun 2001 2003, semua komponen pendapatan mengalami kenaikan dari segi plafon anggaran maupun realisasinya. Rata-rata pendapatan daerah mengalami kenaikan sebesar 40%, kecuali tahun 2004 yang mengalami penurunan sebesar 10,35%. Penurunan pendapatan daerah pada tahun 2004 disebabkan adanya pemekaran Fakfak menjadi Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimanana. Kendati pada tahun 2004 mengalami penurunan terhadap total pendapatan daerah, tetapi pendapatan daerah perkapita naik rata-rata sebesar 32,54% pertahun selama 1998 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pengeluaran, baik belanja rutin/aparatur dan belanja pembangunan/public juga semakin besar. 3.1.3. Komposisi Pendapatan Komposisi pendapatan Kabupaten Fakfak terdiri dari 4 komponen utama, yaitu : bagian sisa perhitungan tahun sebelumnya, bagian pendapatan asli daerah, bagian dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Dari keempat sumber di atas, bagian dana perimbangan dan bagian pendapatan asli daerah

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 9

KABUPATEN FAKFAK
merupakan sumber utama untuk membiayai pengeluaran daerah. Komposisi pendapatan daerah Kabupaten Fakfak menurut sumbernya dikemukakan pada table 9. Bagian Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Lalu merupakan salah satu sumber pendapatan daerah. Ini merupakan sisa anggaran yang tidak dapat dicairkan pada tahun anggaran sebelumnya yang kemudian pendanaannya diluncurkan pada tahun berikutnya. Bagian Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, laba BUMD dan lain-lain pendapatan yang sah. PAD pada dasarnya menunjukkan tingkat kemandirian daerah. Sumbangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat kecil terhadap pendapatan daerah (kurang dari 5%) kendati mengalami peningkatan baik dari segi jumlah nominal maupun kontribusinya. Sejalan dengan semangat Otonomi, kemandirian suatu daerah dicerminkan oleh PAD yang dapat dihimpun. Berdasarkan informasi yang diperoleh kecilnya PAD Kabupaten Fakfak disebabkan oleh belum dimanfaatkannya sumber-sumber PAD secara optimal. Tabel 9. Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Fakfak Menurut Sumber. Tahun 2000 - 2003

No.
1. 2. 3. 4.

Uraian Penerimaan
Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan Yang Sah JUMLAH

2001
1,23 1,98 96,79 100.00

2002
6,69 2,41 90,52 100.00

2003
3,69 3,94 90,59 1,78 100.00

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003. Bagian dana perimbangan selama tiga tahun (2001 2003) masih merupakan sumber utama pendapatan daerah kendati secara proporsi menurun, yaitu berturut-turut 97%, 90,5% dan 90,6%. Besarnya sumbangan ini terutama berasal dari Dana Alokasi Umum berturut-turut 81,69%, 60,59% dan 63,39% pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Dana Alokasi Khusus menyumbang rata-rata 2% terhadap pendapatan daerah. Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak memberikan kontribusi rata-rata 14%. Disamping itu, dengan berlakunya UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Papua, maka sejak tahun 2002 Pemerintah Kabupaten Fakfak mendapat Alokasi Dana Otonomi Khusus Rp. 30,5 milyar pada tahun 2002 dan Rp. 34,1 milyar pada tahun 2003. Dana pembangunan yang bersumber dari Dana Penerimaan khusus, diutamakan untuk membiayai 4 program pokok/program prioritas yaitu : pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, infrastruktur dan program penunjang lainnya. Dropping dana penerimaan khusus umumnya terlambat, sehingga sangat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan program. Kesungguhan dan tanggung jawab para pengelola program pada umumnya masih kurang, sehingga mengakibatkan kinerja pelaksanaan, pertanggungjawaban dan laporan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Penyaluran/realisasi dana dari pengelola keuangan daerah ke Satuan Kerja sangat lambat, sehingga mempengaruhi pelaksanaan kegiatan di lapangan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 10

KABUPATEN FAKFAK

3.2. Pengeluaran/Belanja Daerah 3.2.1. Pertumbuhan Belanja Daerah Belanja daerah Kabupaten Fakfak tahun 2001 2003 masih mengikuti format lama, dimana belanja dibedakan menjadi belanja rutin dan belanja pembangunan. Perkembangan belanja daerah Kabupaten Fakfak tahun anggaran 2001 2003 serta palfon anggaran vs realisasinya dikemukakan pada table 10. Belanja daerah, baik belanja rutin maupun belanja pembangunan realisasinya mengalami kenaikan yang signifikan, kendati masih di bawah plafon anggaran. Realisasi belanja daerah Kabupaten Fakfak tahun 2001 sebesar mencapai Rp. 188,957 milyar atau kurang lebih 94% dari plafon. Pada tahun 2002 meningkat hampir 30% yaitu sebesar Rp. 244,69 milyar atau 91% dari plafon. Pada tahun 2003 meningkat 17% menjadi Rp. 286,27 milyar atau 93% dari plafon. Kendati secara nominal jumlah pengeluaran mengalami kenaikan, terutama sejak diberlakukannya Otonomi Khusus, namun proporsi antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu pengeluaran rutin lebih dari 50% dari total pengeluaran, sedangkan pengeluaran pembangunan kurang dari 50%. Tabel 10.
No.

Pertumbuhan Belanja Daerah Kabupaten Fakfak Menurut Sumber Penda-patan . Tahun 2001 - 2003
2001 Plafon (Rp.000) Realisasi (Rp.000) 94.931.921 96,3% 94.025.712 92,37% 188.957.633 94,30% Plafon (Rp.000) 166.089.989 101.526.471. 267.616.461 2002 Realisasi (Rp.000) 143.775.993 86,57% 100.300.951 98,80% 244.679.945 91,43% Plafon (Rp.000) 175.073.908 132.649.322 307.723.231 2003 Realisasi (Rp.000) 164.047.530 93,20% 122.219.525 92,14% 286.267.055 93,03%

Uraian Belanja

1. 2.

Belanja Rutin Belanja Pembangunan Belanja

98.579.931 101.793.015 200.372.976

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003. 3.2.2. Komposisi Belanja Daerah Secara substansial, keberadaan PNS ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, idealnya pengeluaran untuk belanja rutin (dalam pola lama) atau belanja aparatur (dalam pola baru) haruslah lebih kecil dari belanja pembangunan atau public. Akan tetapi yang terjadi di Kabupaten Fakfak adalah sebaliknya, yang artinya fungsi pelayanan atau keberpihakan kepada masyarakat dalam pola pembelanjaan masih kurang.

Tabel 11.
NO.

Komposisi Realisasi Pengeluaran Kabupaten Fakfak Menurut Jenis Pengeluaran. Tahun 2001 2003 (Persen)
2001 Plafon Realisasi Plafon 2002 Realisasi Plafon 2003 Realisasi

URAIAN PENGELUARAN

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 11

KABUPATEN FAKFAK
1. 2. Belanja Rutin Belanja Pembangunan JUMLAH 49,20 50,80 100.00 50,24 49,76 100.00 62,06 37,94 100.00 58,76 41,00 100.00
56,89 43.11 100,00 57,31 42,69 100,00

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003. Hal ini juga terjadi apabila dilihat pola pengeluaran terhadap sector-sektor yang merupakan pelayanan dasar. Sektor-sektor pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan infrastruktur) belum menunjukkan prioritas dalam pola pembelanjaan. 3.2.3. Alokasi Pengelolaan keuangan Kabupaten Fakfak pada dasarnya merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten dalam rangka penyelenggaraan pelayanan umum (public) melalui APBD. Setiap alokasi pembiayaan yang direncanakan seyogyanya dikaitkan dengan tingkat pelayanan atau tujuan yang akan dicapai. Pemerintah harus memiliki kinerja sebagai instrument dalam merencanakan APBD sehingga pemanfaatannya sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencapai kemajuan dan kesejhteraan. Dalam pelaksanaannya pengelolaan keuangan daerah harus mengandung komponen : (a) standar analisa belanja (SAB), (b) tolok ukur kinerja dan (c) standar kinerja. Dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Fakfak sejak tahun 2004 telah menerapkan anggaran berbasis kinerja, dimana sebelumnya masih menggunakan system cash basic (format lama). Mekanisme pengelolaannya adalah : (a) Laporan Perhitungan APBD, (b) Nota Perhitungan APBD, (c) Laporan AKhir Khas, dan (d) Neraca Daerah, yang merupakan kelengkapan yang harus dibuat Bupati untuk dilaporkan/dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Kendati sudah menggunakan nomenklatur baru tetapi sebenarnya system pembelanjaannya ternyata masih menggunakan format lama. Tabel 12. Komposisi Belanja Rutin Kabupaten Fakfak Tahun 2001 - 2003 (%)
2001 NO. Uraian Pengeluaran Plafon BELANJA RUTIN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Belanja pegawai Belanja barang Belanja pemeliharaan Belanja perjalanan Belanja lain-lain Usaha-usaha daerah 49,20 26,24 8,00 1,28 2,11 5,48 1,00 Realisasi 50,24 27,92 8,30 1,31 2,18 5,28 1,06 Plafon 62,06 32,21 11,44 1,51 3,03 5,82 0,93 Realisasi 58,76 27,04 11,98 1,55 3,29 6,30 1,02 2002

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 12

KABUPATEN FAKFAK
7. 8. 9. Ganjaran/sumbangan Kpd daerah /bawahan Pengeluaran yg tdk termasuk bagian lain Pengeluaran tdk tersangka 0,50 3,81 0,78 0,42 3,42 0,34 1,16 5,58 0,38 1,27 6,06 0,24

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003.

Alokasi belanja rutin menunjukkan bahwa sebagian besar belanja rutin masih ditujukan untuk belanja pegawai/personalia, yaitu mencapai 50% dari total belanja rutin atau 27% dari total belanja daerah. Sedangkan belanja yang sifatnya menambah modal hanya rata-rata sebesar 18,5% dari total biaya rutin atau 10% dari total belanja daerah. Alokasi Belanja Rutin menurut pos belanja dikemukakan pada table 12. Sementara itu alokasi belanja pembangunan menurut sector dikemukakan pada tabel 13. Tabel 13. Alokasi Belanja Pembangunan Kabupaten Fakfak 2001 - 2002 (%)
2001 NO. Uraian Pengeluaran Plafon BELANJA PEMBANGUNAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Industri Pertanian dan Kehutanan Sumber daya air & irigasi Tenaga Kerja Perdagangan,pengembangan usaha daerah, keuangan daerah & koperasi Transportasi Pertambangan dan energi Pariwisata & Telekomunikasi Daerah Pembangunan Daerah Pemukiman Lingkungan Hidup & Tata ruang Pendidikan Kependudukan & Keluarga Sejahtera Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Peranan Wanita, Anak & Remaja Perumahan & Pemukiman Agama 50,80 0,14 1,27 0,55 3,95 12,82 1,20 0,29 5,83 7,24 0,24 1,85 7,86 1,00 Realisasi 49,76 0,15 1,21 0,58 4,18 11,66 1,27 0,31 5,91 7,35 0,24 1,77 7,27 1,00 Plafon 37,94 0,01 5,29 0,32 2,66 8,87 0,34 0,03 3,10 5,72 3,06 1,36 1,06 Realisasi 41,00 0,01 5,78 0,36 2,91 9,65 0,24 0,04 3,34 6,25 3,26 1,49 1,16 2002

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 13

KABUPATEN FAKFAK
16. 17. 18. 19. 20. Ilmu Pengetahuan & Teknologi Hukum Aparatur pemerintah & pengawasan Politik, Penerangan, Komunikasi & Media Massa Keamanan & Ketertiban Umum 0,41 0,07 5,69 0,25 0,15 0,37 0,07 6,00 0,22 0,16 0,06 0,06 5,68 0,09 0,11 0,06 0,06 6,04 0,09 0,12

Sumber : BPKD Kabupaten Fakfak, 2001, 2002, 2003. Alokasi dana OTSUS pada tahun 2002 dan 2003 dilakukan dengan perbandingan antara provinsi dan kabupaten 60% : 40%, sedangkan pada tahun 2004 perbandingan di atas dibalik menjadi 40% : 60%. Permasalahan dalam pengelolaan dana OTSUS terhadap penggunaan dana dan pelaksanaan kegiatan antara lain : a. Keterlambatan pembahasan dan penetapan APBD b. Keterlambatan droping dana OTSUS c. Terbatasnya pengetahuan, ketrampilan, dan kurangnya kesungguhan dan tanggungjawab para pengelola serta tidak memahami petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan pembangunan d. Keterlambatan Laporan Kenerja e. Belum efektifnya pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan f. Konsistensi penggunaan dana OTSUS belum sepebuhnya sesuai dengan arah kebijakan. Usulan pemecahan masalah : a. b. c. d. e. Mempercepat proses pembahasan dan pengesahan anggaran Pelatihan manajemen dan pengelolaan keuangan Sosialisasi petunjuk teknis pelaksanaan Koordinasi penyampaian laporan Meningkatkan efektivitas pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengawasan melekat (waskat) dari pimpinan instansi.

3.3. Perbandingan dengan Provinsi Tidak diperoleh data yang dapat membandingkan pembiayaan pembangunan terhadap provinsi dan nasional pada dua tahun terakhir. Namun data dari BPS (2004) memperlihatkan perbandingan indicator pembiayaan pembangunan manusia Kabupaten Fakfak terhadap Provinsi Papua dan nasional yang dikemukakan pada Tabel berikut. Tabel 14. Indikator Pembiayaan Pembangunan Manusia 2001 dan 2002.
No. 1. 2. Uraian Persen pengeluaran pembangunan terhadap pengeluaran pemerintah daerah Persen pengeluaran untuk pengeluaran social terhadap pengeluaran pembangunan Fakfak 22.79 14.92 Papua 22.10 24.60 Indonesia 21.12 28.37

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 14

KABUPATEN FAKFAK
3. Persen pengeluaran untuk prioritas pelayanan social Terhadap pengeluaran social Terhadap pengeluaran pemerintah Keterangan : *) Meliputi Fakfak, Mimika dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004 67.74 2.30 60.65 3.30 71.71 4.30

3.5. Observasi dan pembahasan Kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Fakfak diarahkan pada pendekatan pemberdayaan dan kemandirian yang pada dasarnya merupakan usaha untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan segenap potensi sumberdaya local (sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan teknologi). Dalam konteks otonomi, tujuan dari pembangunan daerah adalah terciptanya kemampuan dan kemandirian masyarakat local. Tetapi apabila mencermati struktur pendapatan dan pengeluaran/belanja daerah menurut sector, maka kesan pencapaian tujuan di atas tidak tampak. Pada sisi pendapatan, ketergantungan terhadap keuangan dari pusat masih sangat tinggi. Pada sisi belanja daerah juga menunjukkan kecenderungan yang sama, dimana sektor-sektor ekonomi produktif seperti pertanian, industri, perdagangan pengembangan IPTEK belum mendapatkan alokasi anggaran yang memadai. Begitu pula sector-sektor yang menyangkut pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, kendati mendapat proporsi yang lebih besar dibandingkan sectorsektor lainnya. Dalam struktur pengeluaran/belanja daerah tampak bahwa belanja untuk sarana dan prasarana (terutama transportasi) mendapatkan alokasi yang paling besar. Mencermati struktur pengeluaran/belanja di atas, rasionalisasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut. Kondisi perekonomian Kabupaten Fakfak secara makro menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Fakfak masih berada pada fase pemantapan, dengan kondisi yang masih rentan terhadap gejolak ekonomi dan politik eksternal. Pada kondisi seperti ini menjadi wajar apabila pengembangan ekonomi lebih diarahkan pada peningkatan sarana/prasarana ekonomi dasar. Namun demikian, pada tahun-tahun mendatang hendaknya belanja daerah lebih diarahkan untuk pengembangan sector-sektor ekonomi produktif. Dengan kebijakan di atas secara agregat diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap stabilisasi ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

4.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 4.1.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Periode 1999 - 2004 Jumlah dan Komposisi Anggota DPRD Kabupaten Fakfak periode 1999 2004 berjumlah 25 orang. Ini merupakan hasil pemilihan yang mencakup Kabupaten Kaimana yang terbentuk pada tahun 2002. Seluruh dari 25 anggota DPRD pada periode ini lalu adalah laki-laki. Dari segi tingkat pendidikan, sebagian besar anggota DPRD berpendidikan relative kurang. Dari seluruh anggota DPRD hanya 4 orang (16%) yang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 15

KABUPATEN FAKFAK
berpendidikan tinggi (1 orang Diploma dan 3 orang Strata 1). Selebihnya, 11 orang tamat SMU (44%) dan 10 orang berpendidikan di bawah SMU (40%). Perbandingan anggota DPRD menurut asal daerah adalah 60% berasal dari Papua dan 40% pendatang. Sedang menurut agama menunjukkan perbandingan yang hamper seimbang antara islam dan Kristen dengan perbandingan 13 : 12. Komposisi anggota DPRD menurut kelompok umur menunjukkan bahwa 23 orang (92%) berada pada umur antara 30 55 tahun, dan hanya 2 orang (8%) yang berumur lebih dari 55 tahun. Komposisi anggota DPRD menurut partai politik menunjukkan bahwa keanggotaan DPRD Kabupaten Fakfak masih didominasi oleh partai-partai besar, yaitu : Golkar, PDIP, PKB, PPP dan TNI/POLRI. Jumlah anggota DPRD dari kelima kelompok berturut-turut : Golkar 7 orang (28%), PDIP 6 orang (24%), PKB 3 orang (12%), TNI/POLRI 3 orang (12%), dan PPP 2 orang (8%). Partai PAN, PDI, PDKB dan PDR masing-masing diwakili oleh 1 orang anggota DPRD. Kinerja Dengan komposisi anggota DPRD seperti di atas, dapat dikatakan bahwa DPRD Kabupaten Fakfak periode ini cukup produktif. Dari segi jumlah peraturan daerah (PERDA) yang dihasilkan, selama keanggotaan DPRD telah menghasilkan 52 PERDA. Dari jumlah di atas, hampir setengahnya (48%) berupa PERDA tentang retribusi dan pelayanan masyarakat, sedangkan lainnya berupa APBD dan perubahan APBD, Laporan Pertanggujawaban Bupati dan tentang kelembagaan daerah. Disamping itu DPRD juga berhasil menjaring aspirasi dari berbagai kelompok masyarakat. Dari berbagai aspirasi tersebut paling tidak 38 aspirasi telah dapat ditangani dengan hasil yang baik. Pada umumnya aspirasi yang mendapat perhatian dan penyelesaian dari anggota DPRD adalah yang berkaitan dengan masalah ekonomi rakyat (nelayan, pedagang, himpunan pengusaha, masalahmasalah IPK dan HPH dan pelaksanaan proyek-proyek di distrik), masalah sengketa tanah adat, aspirasi dari lembaga musyawarah adat, guru dan mahasiswa. Dalam rangka melaksanakan dan meningkatkan kemampuan fungsi legislative, para anggota DPRD melakukan berbagai kunjungan baik di dalam daerah maupun keluar daerah dalam bentuk studi banding. Selama kurun waktu keanggotaan DPRD Fakfak melakukan kunjungan sebanyak 137 kali. Dari jumlah tersebut 90% diantaranya dilakukan sebagai kunjungan kerja ke daerah-daerah diwilayah kerjanya, dan 10% berupa kunjungan ke daerah-daerah lain dalam bentuk studi banding. 4.1.2. DPRD Periode 2004 - 2009 Jumlah dan Komposisi Anggota DPRD Kabupaten Fakfak periode 2004 2009 berjumlah 20 orang. Sama dengan periode yang lalu, pada hasil Pemilu tahun 2004 tidak ada anggota DPRD perempuan. Dari tingkat pendidikan, komposisi anggota DPRD Kabupaten Fakfak mengalami perbaikan yang signifikan, yaitu 10 orang (50%) lulus SMU, 2 orang lulus Diploma III, dan 7 orang (35%) lberpendidikan sarjana Strata I. Bahkan terdapat 1 anggota DPRD yang berpendidikan magister. Perbandingan anggota

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 16

KABUPATEN FAKFAK
DPRD menurut asal daerah adalah 60% berasal dari Papua dan 40% pendatang. Sedang menurut agama menunjukkan perbandingan yang hamper seimbang antara islam dan Kristen dengan perbandingan 13 : 12. Komposisi anggota DPRD menurut kelompok umur menunjukkan bahwa seluruh anggota DPRD Kabupaten Fakfak berumur antara 30 55 tahun. Komposisi anggota DPRD menurut partai politik menunjukkan bahwa keanggotaan DPRD Kabupaten Fakfak berasal dari 11 partai politik. Terlihat tidak ada dominasi dari partai tertentu, tetapi lebih merata dengan jumlah anggota berkisar 1 3 orang setiap partai. Kapasitas Anggota Dewan Untuk mengetahui kapasitas anggota DPRD seyogyanya akan dilakukan wawancara individual dan FGD terhadap anggota DPRD. Hal ini ditujukan untuk memperoleh pendapat dari para anggota DPRD tentang visi, misi, pengetahuan tentang tugas dan peran DPRD, serta tanggapan tentang pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan. Kegiatan wawancara individual dan FGD di atas tidak dapat terlaksana. Hal ini disebabkan pada saat Tim berada di Fakfak selama seminggu, para anggota DPRD dan Sekretaris Dewan sedang berada di Jakarta. Menurut penjelasan Kabag. Umum Sekretariat DPRD, para anggota DPRD Baru berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). 4.2. Perwakilan Kampung/Masyarakat Adat Lembaga-lembaga sejenis perwakilan kampung di Kabupaten Fakfak telah dirintis sejak masa Pemerintah Orde Baru seperti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Introduksi LKMD merupakan salah satu wujud perencanaan dan penyelenggaraan pemerintahaan dan pembangunan kampung yang menggunakan pendekatan partisipatif. Di seluruh kampung di kabupaten Fakfak (terutama kampung-kampung yang definitive) terdapat LKMD dan ini termasuk dalam struktur organisasi kampung. Tujuannya untuk membantu pemerintah desa/kampung atau kelurahan dalam meningkatkan pelayanan pemerintahan dan pemerataan hasil dengan menumbuhkan prakarsa serta menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat, bertindak untuk dan atas nama masyarakat melakukan musyawarah tentang perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan. 1. Tugas pokok lembaga ini dalam rangka mencapai tujuan adalah sebagai berikut : Merencanakan pembangunan berdasarkan azas musyawarah; 2. Menggerakkan dan meningkatkan prakarsa serta partisipasi masyarakat untuk melakukan pembangunan secara terpadu; 3. Menumbuhkan kondisi dinamis masyarakat ketahanan di desa maupun kelurahan. untuk mengembangkan

Secara umum lembaga ini belum berfungsi efektif melakukan tugasnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. Hal ini disebabkan pembinaan yang secara struktural menjadi tanggungjawab bupati dan camat/kepala distrik tidak terselenggara secara baik. Faktor-faktor utama penyebab lemahnya pembinaan adalah :

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 17

KABUPATEN FAKFAK
1. Faktor isolasi kampung, sehingga akses dari pusat-pusat pemerintahan menjadi sulit; 2. Lemahnya komitmen lembaga Pembina untuk melakukan pembinaan secara kontinu dan berkelanjutan; 3. Terbatasnya pendidikan dan lemahnya pemahaman aparat di tingkat kampung/desa tentang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. Lembaga ini sekarang telah berganti nama menjadi Badan Perencanaan Kampung (BAPERKAM). Namun fungsi dan peranannya masih tetap sama, dan masih belum efektif. Disamping itu, partisipasi masyarakat melalui Lembaga Musyawarah Adat (LMA), baik di tingkat distrik maupun kabupaten, terutama pada masalah-masalah yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam. 4.3. Sistem Pengadilan Terdapat dua jenis sistem pengadilan yang berlaku, yaitu sistem pengadilan formal (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara) dan Pengadilan Adat. Pengadilan Negeri umumnya menangani permasalahan pidana dan perdata berat yang terjadi di masyarakat. Pengadilan Adat umumnya tidak melembaga dalam menyelesaikan permasalahan peradilan. Permasalahan yang menonjol ditangani berdasarkan hukum adat adalah berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak atas sumberdaya alam. Pelanggaran etika dan moral yang umum terjadi dalam kehidupan masyarakat juga cenderung diselesaikan berdasarkan hukum adat. 4.4. Keikutsertaan Masyarakat Di Perencanaan Pembangunan Daerah Perubahan paradigma ditandai dengan perlunya partisipasi masyarakat secara aktif dalam setiap proses pembangunan sejak dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Perform Project Regional Papua mengkampanyekan model pendekatan PDPP (Pola Dasar Pembangunan Partisipatif) di beberapa kabupaten di Papua termasuk Kabupaten Fakfak. Pendekatan ini diharapkan mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap. PDPP menggunakan dua model, yaitu RPJMK (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung) dan perumusan Program Strategi. Pendekatan ini telah dilaksanakan di beberapa kabupaten, dengan diluncurkan dana PPK sebesar Rp. 1 milyar setiap distrik. 4.5. Keikutsertaan Masyarakat Di Bidang Pelayanan Dasar Partisipasi masyarakat yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar di Kabupaten Fakfak adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, setiap sekolah terdapat komite sekolah (dulu BP3) yang beranggotakan para orang tua murid dan donator. Kendati setiap sekolah mempunyai komite sekolah yang ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan, namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan, baik financial maupun intelektual,

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 18

KABUPATEN FAKFAK
disamping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Di bidang kesehatan, keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentuk kader posyandu. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas, tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan.

5.

KEADAAN EKONOMI, 2000 - 2003


5.1. PDRB dan Struktur Perekonomian Struktur perekonomian Kabupaten Fakfak masih didominasi sektor pertanian dengan kontribusinya sebesar 35,20% terhadap produksi bruto atas harga berlaku atau 29% terhadap produksi bruto atas harga konstan tahun 1993. PDRB atas harga berlaku di Kabupaten Fakfak tahun 2003 sebesar Rp. 438 milyar, sedangkan atas harga konstan tahun 1993 sebesar Rp. 170,7 milyar. Komposisi secara rinci PDRB Kabupaten Fakfak di kemukakan pada Lampiran. Tabel-tabel berikut mengemukakan rekapitulasi PDRB berdasarkan kelompok sector. Kelompok sector primer terdiri dari sector-sektor : pertanian dalam arti luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) serta pertambangan dan penggalian. Kelompok sector sekunder terdiri dari sector-sektor : industri pengolahan; listrik dan air minum serta bangunan. Sedangkan kelompok sector tersier terdiri dari sector-sektor : perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa. Tabel 15. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Fakfak Atas Harga Berlaku Diperinci Menurut Kelompok Sektor. Tahun 2000 2003 NO.
1. 2. 3.

KELOMPOK SEKTOR
PRIMER SEKUNDER TERSIER JUMLAH

2000
38.11 26.34 35.55 100.00

2001
37.42 23.96 38.61 100.00

2002
36.39 23.34 40.27 100.00

2003
37.43 21.83 41.49 100.00

Sumber : - Diolah dari Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004) - Kabupaten Fakfak Dalam Angka 2003 Tabel 16. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Fakfak Atas Harga Konstan Tahun 1993 Diperinci Menurut Kelompok Sektor. Tahun 2000 2003. NO.
1. 2. 3.

KELOMPOK SEKTOR
PRIMER SEKUNDER TERSIER

2000
32.53 27.00 40.47

2001
31.80 25.29 42.91

2002
30.12 24.71 45.17

2003
31.58 22.33 46.09

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 19

KABUPATEN FAKFAK
JUMLAH

100.00

100.00

100.00

100.00

Sumber : - Diolah dari Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004) - Kabupaten Fakfak Dalam Angka 2003 Laju pertumbuhan PDRB atas harga berlaku selama kurun waktu 2000 2003 rata-rata 15,76% per tahun. Kelompok sektor tersier yang paling tinggi tingkat pertumbuhannya (rata-rata 9,88% pertahun), kemudian sektor primer (16,23% pertahun) dan paling kecil adalah sektor tersier. Seluruh sektor mengalami pertumbuhan di atas 10% pertahun kecuali sektor industri pengolahan dan keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang pertumbuhannya di bawah 10%. Pertumbuhan PDRB atas harga yang berlaku ini dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang rata-rata sebesar 9,7%. Untuk melihat pertumbuhan PDRB secara riel, dikemukakan laju pertumbuhan PDRB atas harga konstan tahun 1993. Tabel 17. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Fakfak Atas Harga Berlaku Diperinci Menurut Kelompok Sektor (Persen) NO. I. II. III. KELOMPOK SEKTOR PRIMER SEKUNDER TERSIER PDRB 2000/2001 14.47 11.84 17.73 13.77 2001/2002 14.29 15.10 21.51 16.58 2002/2003 19.93 10.84 20.40 16.92 Rata-rata 16.23 13.59 19.88 15.76

Sumber : - Diolah dari Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004) - Kabupaten Fakfak Dalam Angka 2003 Laju pertumbuhan PDRB riel yang dihitung berdasarkan harga konstan tahun 1993 rata-rata masih mencapai 6% pertahun, kendati terdapat variasi antar kelompok sector. Tahun 2002/2003 seluruh sector masih mengalami pertumbuhan yang positif kecuali sektor industri pengolahan yang mengalami kemunduran secara riel sebesar 16%. Tabel 18. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Fakfak Atas Harga Konstan Tahun 1993 Diperinci Menurut Kelompok Sektor (Persen) NO. I. II. III. LAPANGAN USAHA PRIMER SEKUNDER TERSIER PDRB 2000/2001 6.33 3.03 7.23 4.05 2001/2002 6.55 6.48 11.70 7.20 2002/2003 9.87 - 1.42 12.46 6.94 Rata-rata 7.58 2.70 10.47 6.06

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 20

KABUPATEN FAKFAK
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Fakfak, 2004. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Fakfak Tahun 2003. (Diolah)

5.2. Ketenagakerjaan Kendati terdapat kesulitan di dalam menghitung komposisi tenaga kerja yang bekerja menurut jenis usaha karena keterbatasan data, namun berdasarkan perkiraan berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa lebih dari separoh tenaga kerja bekerja di kelompok sector primer, terutama di sector pertanian. Kurang lebih sepertiga tenaga kerja bekerja di kelompok sector tersier, yaitu pada bidang-bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran, jasa pengangkutan dan komunikasi, jasa keuangan dan persewaan, jasa perusahaan dan jasa-jasa lainnya. Sektor sekunder, terutama industri pengolahan belum berkembang di Kabupaten Fakfak, ditunjukkan oleh proporsi tenaga kerja yang bekerja dikelompok sector ini relative kecil (8,44%). Tabel 19. Komposisi Tenaga Kerja Menurut Kelompok Sektor NO. I. II. III. LAPANGAN USAHA PRIMER SEKUNDER TERSIER PDRB Jiwa 13.262 1.925 7.622 22.809 Persen 58,14 8,44 33,42 100,00

Sumber : - Diolah dari Hasil Pendataan Tahun 2004 (Bappeda Fakfak, 2004) - Kabupaten Fakfak Dalam Angka 2003 Rendahnya sumbangan sector primer terutama sector pertanian terhadap pembentukan PDRB, kendati menyerap tenaga kerja yang paling besar menunjukkan produktivitas sector ini masih sangat rendah. Sumber penyebab rendahnya produktivitas sector primer ini salah satunya adalah adanya tingkat pengangguran (terutama yang termasuk dalam kategori pengangguran tersembunyi dan setengah menganggur) yang cukup tinggi. Keadaan ini terkait dengan karakteristik pekerjaan di kelompok sector primer (terutama sector pertanian) dan teknologi yang diterapkan masih bersifat sederhana dan tradisional serta bercorak subsisten. Berikut di kemukakan gambaran tenaga kerja di kabupaten Fakfak tahun 2002. Tabel 20. Keadaan tenaga kerja Di Kabupaten Fakfak Tahun 2002 No.
1. 2. 3.

Uraian
Angka Partisipasi Angkatan Kerja (%) Pengangguran Terbuka (%) Pekerja yang bekerja Kurang 14 jam per minggu

Fakfak 75.2 3.7

Papua 77.4 4.3

Indonesia 67.7 10.6

4.4

6.3

7.1

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 21

KABUPATEN FAKFAK
Kurang 35 jam per minggu 4. Pekerja di sector informal

39.6 75.8

50.7 84.5

35.2 64.1

Keterangan : *) Meliputi Fakfak, dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

5.3.

Perdagangan, Koperasi dan Perbankan

5.3.1. Perdagangan Prasarana pendukung kegiatan perdagangan di Kabupaten Fakfak adalah : 6 Pasar tradisional, 1 pasar sentral dan 1 kompleks pertokoan. Disamping itu, di daerah-daerah pedesaan, terutama di ibukota-ibukota distrik terdapat pasarpasar desa yang umumnya buka 2 3 kali seminggu. Kegiatan perdagangan di Kabupaten Fakfak berupa perdagangan local dan perdagangan antar pulau dan ekspor, mencakup barang-barang yang dihasilkan sendiri oleh daerah dan barang-barang yang didatangkan dari daerah lain. Barang-barang yang dihasilkan sendiri umumnya dihasilkan oleh kelompok sector primer seperti hasil-hasil pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Hasil pertanian pangan, karena dihasilkan oleh kegiatan yang bersifat ekstensif dan tradisional menyebabkan tidak dapat bersaing di pasar lokal terutama untuk konsumsi masyarakat di perkotaan. Hasil-hasil dari perkebunan, perikanan dan kehutanan dalam bentuk bahan mentah diantar pulaukan atau diekspor. Sebagian besar barang-barang kebutuhan masyarakat Kabupaten Fakfak masih dipenuhi dengan cara mendatangkan dari daerah lain. Barang-barang tersebut adalah pangan, sandang, bahan bangunan, elektronik, BBM dan otomotif. Kendati Kabupaten Fakfak memiliki potensi lahan pertanian yang besar, namun sebagian besar kebutuhan pangan (beras, telur, daging ayam dan sayuran) terutama untuk masyarakat perkotaan didatangkan dari daerah lain (luar Papua). 5.3.2. Koperasi Secara keseluruhan jumlah koperasi di Kabupaten Fakfak 170, yang terdiri dari 2 induk koperasi dan 168 koperasi primer. Koperasi primer tersebut menurut jenis usahanya terdiri dari koperasi produksi, konsumsi, simpan pinjam dan serbausaha. Diantara koperasi serbausaha terdapat 41 koperasi unit desa (KUD). Sebagian besar koperasi di Kabupaten Fakfak adalah koperasi yang tidak aktif, terutama koperasi produksi dan koperasi serbausaha yang berada di daerah pedesaan. Jenis koperasi yang aktif umumnya yang berbentuk koperasi konsumsi dan simpan pinjam. 5.3.3. Perbankan Di Fak-Fak hanya terdapat dua Bank yang bertaraf Kantor Cabang, yaitu Bank Mandiri dan Bank Papua. Sedangkan Bank BRI hanya merupakan Kantor Unit, yang berwenang menyalurkan kredit dalam jumlah kecil (20 juta kebawah). Bank Papua tetap mempunyai komitmen membantu pengusaha UKM dalam rangka ikut membantu perkembangan perekonomian daerah. Namun demikian, Bank Papua Fak-Fak belum melakukan upaya-upaya proaktif dengan melakukan pembinaan-pembinaan. Hal ini disebabkan kurangnya tenaga.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 22

KABUPATEN FAKFAK
Jumlah debitur (pengambil kredit yang murni dari dana Bank Papua) sampai dengan akhir tahun 2004 berjumlah 165 debitur. Dari jumlah tersebut hanya 35 debitur yang mengambil kredit 100 juta keatas. Selebihnya berupa debiturdebitur di bawah 100 juta. Kebanyakan debitur mempunyai usaha dibidang perdagangan, kontrakting dan jasa transportasi. Hanya 9 orang debitur yang mempunyai bidang usaha di bidang produksi pertanian dan perikanan. Kegiatan industri belum berkembang di Fak-Fak, sehingga investasi untuk sektor riil ini sangat terbatas. Dari jumlah debitur tersebut di atas, hanya 20 25% yang berasal dari penduduk asli setempat. Selain menyalurkan dana murni berasal dari Bank Papua, Bank Papua juga menyalurkan kredit program yang dananya berasal dari Pemerintah Daerah Kabupaten Fak-Fak. Dana/kredit ini ditujukan untuk membantu masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat asli. Dari hasil pemantauan ternyata tingkat pengembalian kredit jenis sangat kecil. Diperkirakan kredit program yang macet kurang lebih 80% Kredit murni dari bank Papua cukup lancar dengan tingkat kemacetan sampai dengan September 2003 hanya mencapai 0,7%. Angka ini lebih kecil dari batas toleransi yang ditetapkan pihak manajemen Bank Papua sebesar 3,0%. Kantor Cabang Bank Papua Fak-Fak hanya dapat merealissir pinjaman dengan jumlah maksimum 100 juta, kecuali untuk kepentingan proyek yang sudah jelas sumber dananya (seperti proyek-proyek pemerintah) dapat direalisir dana hingga 300 juta. Kredit yang jumlahnya di atas 100 juta diputuskan di manajemen tingkat propinsi. Pemberian kredit untuk Koperasi menurut pengalaman yang lalu mempunyai resiko yang tinggi. Berdasarkan pengalaman tersebut, membuktikan adanya kredit macet yang cukup besar bahkan mencapai angka di atas 90%. 5.4. Observasi dan Kesimpulan

Kondisi perekonomian makro Kabupaten Fakfak menunjukkan perkembangan yang lambat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PDRB per kapita atas harga berlaku sebesar Rp. 694.260,- pada tahun 2003. Struktur perekonomian masih didominasi kelompok sector primer terutama sector pertanian. Kendati sector pertanian menyerap lebih dari 50% tenaga kerja, namun hanya memberikan kontribusi pada PDRB sebesar 35,20%. Hal ini menunjukkan bahwa kendati sebagian besar penduduk bergantung pada sektor pertanian, namun produktivitas sector ini masih sangat rendah dibanding kelompok sector lainnya. Sementara itu, kelompok sector sekuder yang mencakup sector industri pengolahan, bangunan, listrik dan air minum juga belum berkembang. Sektor ini menyerap 8,44% tenaga kerja dan menyumbang 21,83% PDRB. Kelompok sector tersier, terutama perdagangan menunjukkan indikasi bahwa perekonomian Kabupaten Fakfak sangat bergantung dari daerah lain, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Perbandingan antara Pengeluaran Daerah dan PDRB Kabupaten Fakfak menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi lebih dominan digerakkan oleh peran pemerintah (ekonomi pemerintah), sementara peran sector swasta masih sangat kurang.

6.

PELAYANAN SOSIAL DASAR


6.1. Kesehatan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 23

KABUPATEN FAKFAK

6.1.1. Kebijakan Daerah Peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan dan pelayanan daerah terpencil; Peningkatan mutu pelayanan melalui peningkatan status PUSTU dan rumah sakit; o Peningkatan sarana pendukung pelayanan kesehatan; o Pengadaan, pendistribusian, pengawasan dan pengendalian obat-obatan; o Pemberdayaan dan optimalisasi tenaga kesehatan; o Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat; o Peningkatan pemberantasan dan pencegahan penyakit menular dengan indicator utama universal child immunization (UCI); o Peningkatan pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja dan KB; o Peningkatan upaya perbaikan gizi, kesehatan institusi, kesehatan usia lanjut; o Penyehatan lingkungan pemukiman dan tempat-tempat umum; dan o Peningkatan pemberantasan penyakit menular. 6.1.2. Indikator sumberdaya pelayanan, fasilitas, SDM, anggaran o o Prasarana kesehatan di Kabupaten masih sangat terbatas. Hanya ada satu Rumah Sakit Umum di Kota Fakfak. Hanya ada 8 Puskesmas, sehingga tidak setiap distrik memiliki Puskesmas. Puskesmas Pembantu (PUSTU) pada tingkat kampung hanya ada 38 buah atau 35% dari jumlah kampung/kelurahan yang ada. Untuk mengatasi kekurangan tersebut ada Puskesmas Keliling sebanyak 28 buah, tetapi pelayanan lebih banyak diberikan di daerah-daerah perkotaan dan pinggiran kota. Pelayanan kesehatan di tingkat kampung lebih mengandalkan pada Posyandu dengan tenaga medis yang terbatas. Apotek berjumlah 4 buah dan berada di Kota Fakfak. Pada tahun 2004 dokter di Kabupaten Fakfak berjumlah 31 orang, yaitu 21 dokter umum, 5 dokter spesialis dan 4 dokter gigi. Dari jumlah tersebut 19 dokter laki-laki (61%) dan 39% dokter perempuan. Jumlah dokter orang Papua hamper sama jumlahnya dengan orang luar Papua, tetapi rasio jenis kelamin lebih rendah pada dokter orang luar Papua. Dengan demikian ratio dokter terhadap penduduk adalah 1 : 2.035, artinya 1 orang dokter harus dapat melayani 2.035 orang. Disamping jumlahnya terbatas, hampir seluruh dokter berada di daerah perkotaan atau daerah dengan akses ke kota yang baik. Sedangkan di daerah pedesaan hampir tidak terjangkau oleh pelayanan dokter. Jumlah perawat saat ini 155 orang, kurang lebih sepertiganya adalah perempuan. Sebagian besar (69%) berpendidikan SLTA, 25% berpendidikan Diploma dan 6% Sarjana. Sebagian besar tenaga perawat tersebut juga berada di perkotaan, sehingga banyak Puskesmas di pedesaan yang tidak ada perawatnya. Rasio perawat terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 407. Jumlah bidan 97 orang dengan rasio bidan terhadap penduduk adalah 1 : 650. Ketersediaan obat-obatan di Kabupaten juga sangat terbatas. Umumnya pemerintah hanya mengadakan obat-obatan untuk jenis penyakit yang sering di derita penduduk yaitu malaria, TBC/ISPA, kulit dan diare. Sedangkan jenis-jenis obat lainnya tersedia di Apotek dalam jumlah yang terbatas. Perkembangan anggaran baik plafon anggaran maupun realisasi untuk bidang kesehatan dari tahun 2001 -2002 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu berturut-turut sebesar 120,93% dan 137,80%. Tahun 2001 mewakili era sebelum Otsus (diperolehnya Dana Otsus) dan tahun 2002 adalah untuk pertamakali diperolehnya Dana Otsus. Perkembangan belanja sector kesehatan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 24

KABUPATEN FAKFAK
tersebut selain adanya peningkatan pendapatan daerah juga dikarenakan adanya Dana Otsus. Tabel 21. Belanja Sektor Kesehatan Kabupaten Fakfak Tahun 2001 - 2002.
No.

Tahun

Plafon (Rp.)

Pertumbuhan (%)

Realisasi (Rp.)

Pertumbuhan (%)

1. 2.

2001 2002 Rata-rata

3.703.039.248 8.181.544.000 5.942.291.524

120,93 120,93

3.350.909.000 7.966.555.680 5.658.732.340

137,80 137,80

BPKD Kabupaten Fakfak 2001, 2002. Alokasi belanja sector kesehatan lebih banyak ditujukan kepada aspek pelayanan kesehatan dengan proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan penambahan modal berupa fasilitas kesehatan. Namun demikian, masih terdapat bias dimana pelayanan sebagian besar dilaksanakan di daerah perkotaan atau daerah-daerah dengan akses yang relative mudah. 6.1.3. Output, hasil Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, jenis penyakit dominan yang ditemukan dan ditangani pada tahun 2004 adalah: malaria (klinis, tertiana dan tropika) sebanyak 50.440 kasus (34,74%), ISPA dan penyakit saluran pernafasan lain sebanyak 34.327 kasus (24,06%), dan penyakit kulit sebanyak 9.925 kasus (6,96%). Jenis penyakit dominant yang ditemukan pada umumnya disebabkan oleh keadaan lingkungan yang kurang memadai terutama di daerahdaerah pedesaan. Dengan kondisi prasarana/sarana, tenaga medis dan obata-obatan, kegiatan lebih difokuskan pada pengendalian dan penanganan penyakit dominan, terutama malaria dan penyakit saluran pernafasan (TBC). Hasil pengendalian dan penurunan penyakit malaria dan TBC selama kurun waktu 2000 2003 menunjukkan hasil yang baik. Hal ini diditunjukkan oleh adanya indicator yang mengarah kepada perbaikan dari tahun ke tahun seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 22 berikut. Tabel 22. Pengendalian dan penurunan penyakit malaria dan TBC NO. 1. 2. INDIKATOR Prevalensi malaria (%) Penduduk yang mendapat penanganan malaria secara efektif (%) Prevalensi TBC (%) Angka penemuan penderita TB BTA positif baru (%) 2000 44,42 22,39 2001 40,19 34,75 2002 33,72 45,51 2003 29,49 44,01

3. 4.

45,00 45,00

52,00 52,00

89,00 89,00

75,00 75,00

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 25

KABUPATEN FAKFAK
5. Angka kesembuhan penderita TBC (%) 82,00 83,00 77,00 81,00

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Fak-Fak, 2004 Sosialisasi HIV/AIDS dilakukan secara rutin 3 bulan sekali dan dikaitkan dengan event-event tertentu. Biasanya dikaitkan dengan perayaan hari-hari besar, baik nasional maupun lokal 6.1.4. Kinerja (termasuk indicator MDGS) Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa baik prasarana, sarana dan tenaga medis yang tersedia masih terbatas, disamping distribusinya yang sebagian besar terkonsentrasi di perkotaan. Dengan aksesibilitas ke daerah pedesaan yang masih terbatas, maka jangkauan pelayanan menjadi tidak merata dan terdapat kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Kondisi kesehatan di Kabupaten Fakfak tahun 2002 berdasarkan Laporan BPSBAPPENAS-UNDP dikemukakan pada Tabel berikut. Tabel 23. Kondisi Kesehatan Di Kabupaten Fakfak Tahun 2002.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Angka Kematian Bayi (Per 1000) Penduduk dengan Keluhan Kesehatan (%) Angka Morbiditas (%) Rata-rata lama sakit (hari) Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri (%) Kelahiran ditolong oleh tenaga medis (%) Fakfak 33.3 24.8 13.6 3.6 47.7 60.5 Papua 50.5 19.3 11.7 4.7 38.7 51.8 Indonesia 43.5 24.5 15.3 5.8 60.6 66.7

Keterangan :

*) Meliputi Fakfak, Mimika dan Kaimana **) Meliputi Fakfak dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

6.2. Pendidikan 6.2.1. Kebijakan Daerah Kebijakan pemerintah daerah terhadap pelayanan dasar bidang pendidikan pada dasarnya diarahkan untuk : Kemampuan daya serap kurikulum nasional dan local; Peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) anak didik; Peningkatan Angka Partisipasi Murni (APM) mencakup Angka Pendaftaran Siswa dan Survival Rate; Peningkatan pencegahan angka putus sekolah; Peningkatan angka kelulusan siswa; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka mencapai standar pelayanan minimal; Peningkatan pelayanan melalui pengadaan buku, media pendidikan, dan diversifikasi program pendidikan baik formal, non formal dan informal; Peningkatan rasio guru-siswa pada tingkat pencapaian; SD 1:20, SLTP 1: 27, SMU/SMK 1 : 20;

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 26

KABUPATEN FAKFAK
Peningkatan dan pemerataan guru; Peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi dan pendidikan kejuruan; dan Peningkatan pembinaan kepemudaan. 6.2.2. Indikator Sumberdaya Sekolah di Kabupaten Fakfak belum mencukupi dari segi jumlah maupun distribusinya. Jumlah Taman Kanak-Kanak adalah 28 sekolah, yang sebagian besar diselenggarakan oleh swasta dan berada di perkotaan. Jumlah murid yang dapat ditampung sebanyak 1.092 anak atau hanya sekitar 20% dari jumlah anak usia 3 5 tahun. Artinya, hanya anak-anak yang berada di perkotaanlah yang memperoleh pelayanan pendidikan Taman kanak-Kanak, sementara sekitar 80% anak-anak usia 3 5 tahun yang tinggal di pedesaan belum memperoleh pelayanan pendidikan TK.

Tabel 24. Keadaan Sumberdaya Pendidikan Di Kabupaten Fakfak Tahun 2004.


Jumlah Sekolah 29 88 16 8 141 Fasilitas Yang Rusak (%) 80 50 20 20 Jumlah Murid 1.092 9.429 3.159 2.555 15.140 Jumlah Guru 75 606 171 100 867 Rasio murid/Guru 1 : 14,6 1 : 15,6 1 : 18,5 1 : 25,6 1 : 17,5

NO. 1. 2. 3. 4.

JENJANG Taman Kanak-Kanak (TK) Sekolah Dasar (SD) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) JUMLAH

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Fak-Fak, 2004


Sekolah dasar (SD) terdapat di hampir semua kampung dan kelurahan terdapat SD kecuali kampung-kampung pemekaran. Jumlah murid yang dapat ditampung 9.429 orang atau atau 85% dari jumlah anak usia SD (6 12 tahun). Anak usia SD yang tidak tertampung umumnya berasal dari kampong-kampung yang tidak tersedia SD, karena alasan jarak dan sarana transportasi mereka tidak dapat bersekolah. SLTP berjumlah 16 dan umumnya setiap distrik memiliki sebuah SLTP yang berada di ibukota distrik, kecuali distrik di daerah perkotaan yang memiliki SMP lebih dari satu. Jumlah murid yang dapat ditampung sebanyak 3.159 orang atau sekitar 65% dari jumlah anak usia 12 15 tahun. Rendahnya anak usia SLTP yang dapat ditampung umumnya berasal dari daerah pedesaan disebabkan untuk dapat sekolah mereka harus meninggalkan kampong menuju ke ibukota distrik. Kebanyakan mereka menghadapi kendala tempat tinggal dan biaya. Jumlah SLTA adalah 8 dan sebagian besar berada di daerah perkotaan dan daerah pinggiran. Jumlah murid SLTA adalah 2.555 orang atau sekitar 54% dari jumlah anak usia 15 18 tahun.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 27

KABUPATEN FAKFAK
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 1994 ditambah suplemen dengan mengakomodasi muatan local didalam SAPnya. Alokasi belanja untuk sector pendidikan mengalami kenaikan kendati relative kecil. Kenaikan ini terlihat baik pada plafon anggaran maupun realisasi anggaran. Tabel 25. Belanja Sektor Pendidikan Kabupaten Fakfak Tahun 2001 - 2002.
No.

Tahun

Plafon (Rp.)

Realisasi (Rp.)

1. 2.

2001 2002 Rata-rata

14.499.340.000 15.307.107.500 14.903.223.500

13.897.835.600 15.280.483.265 14.589.159.432

BPKD Kabupaten Fakfak 2001, 2002. 6.2.2. Output Dengan kondisi prasarana dan sarana pendidikan yang masih terbatas, terutama di daerah-daerah pedesaan, maka tingkat putus sekolah di Kabupaten termasuk tinggi. Dari data tampak bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, angka putus sekolah semakin tinggi. Tingkat putus sekolah tahun 2003 di Kabupaten Fakfak mencapai 4,60%, artinya 5 anak tidak dapat meneruskan sekolahnya dari 100 anak yang sekolah. Tingginya angka putus sekolah ini disamping ketersediaan prasarana/sarana, ketersediaan guru dan fasilitas penunjang lainnya yang masih terbatas, juga disebabkan kesadaran dan dukungan orang tua yang masih rendah terhadap pentingnya pendidikan anak. Terlebih di daerah pedesaan dan daerah pinggiran yang melibatkan anak-anak usia sekolah kedalam kegiatan ekonomi keluarga. Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa orang guru di Werba Distrik Fakfak Barat, terungkap bahwa tidak saja angka putus sekolah yang tinggi, tetapi angka ketidakhadiran siswa juga tinggi. Di SMP yang sudah bertaraf Sekolah Standar Nasional (SSN), pada saat musim panen pala banyak anak sekolah yang terlibat, sehingga meninggalkan sekolah untuk waktu 1 2 bulan. Angka ketidakhadiran ini mencapai 30 50%. Tabel 26. Tingkat Putus Sekolah Di Kabupaten Fakfak. Tahun 2003.
Jenis Kelamin Laki-Laki 1. 2. 3. Taman Kanak-Kanak (TK) Sekolah Dasar (SD) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 92 249 Perempuan 79 125 Persen Terhadap Jumlah Siswa Laki-laki 1,89 15,71 Perempuan 1,73 7,96

No.

Jenjang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 28

KABUPATEN FAKFAK
4. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Jumlah 130 471 138 342 10,34 6,11 10,63 4,60

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Fak-Fak, 2004

6.2.3. Kinerja/Indikator MDGs Tabel 19. Partisipasi Sekolah dan Angka Putus Sekolah Di Kabupaten Fakfak Tahun 2002.
Uraian Angka Partisipasi Sekolah Usia 7 - 12 Usia 13 - 15 Usia 16 - 18 Usia 19 - 24 2. Angka Putus Sekolah Usia 7 - 15 Usia 16 - 18 Usia 19 - 24 Keterangan : *) Meliputi Fakfak dan Kaimana Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004 3.9 15.1 17.4 3.4 15.6 24.6 2.8 9.4 11.1 93.7 84.6 51.1 8.9 86.8 78.6 52.4 9.7 96.1 79.3 49.9 11.7 Fakfak Papua Indonesia

No. 1.

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah di Fakfak masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata Papua, kendati masih lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Demikian pula angka putus sekolah di Fakfak lebih rendah dibandingkan rata-rata Papua dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. 6.3. Pertanian 6.3.1. Kebijakan Daerah Sebagaimana dikemukakan terdahulu, penduduk Kabupaten Fakfak yang bermatapencaharian dibidang pertanian dalam arti luas mencapai 58% dari total penduduk. Ini berarti pengembangan ekonomi masyarakat harus diarahkan pada

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 29

KABUPATEN FAKFAK
sektor pertanian tersebut. Pertanian dalam subsektor tanaman pangan dan hortikultura, kehutanan dan perkebunan. Berdasarkan pemerintah Kabupaten Fakfak dibidang pertanian arti luas meliputi subsektorkelautan dan perikanan, dan hal di atas, maka kebijakan meliputi :

Peningkatan pengembangan agribisnis; Peningkatan mutu intensifikasi dan ekstensifikasi; Peningkatan penanganan pasca panen; Pengembangan kelembagaan usaha agribisnis berwawasan lingkungan; Peningkatan kelembagaan penunjang; Pengembangan system informasi; Meningkatkan ketahanan pangan.

6.3.2. Indikator Sumberdaya Pelayanan Jumlah kantor lingkup pertanian dalam arti luas (pertanian pangan, peternakan, kehutanan, perkebunan, kelautan dan perikanan) sampai dengan tahun 2004 adalah 13 unit. Dari jumlah tersebut 7 diantaranya merupakan kantor dinas tingkat kabupaten. Jumlah ini merupakan konsekuensi dari perampingan struktur dinas lingkup pertanian yang semula 6 dinas menjadi 3 dinas. Pegawai yang bertanggungjawab dibidang pertanian berjumlah 152 orang. Sebagian besar PNS di lingkup pertanian berada di perkotaan. Dengan kondisi sarana/prasarana transportasi yang terbatas untuk dapat menjangkau daerah pedesaan, maka pelayanan yang diberikan relative rendah dan kurang efisien. Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di pedesaan berada pada para penyuluh. Rasio penyuluh terhadap kampong/kelurahan mencapai 1 : 3,5. Artinya setiap penyuluh pertanian harus menjangkau dan melayani 3 sampai 4 kampung/kelurahan. Anggaran sector pertanian meningkat dengan sangat signifikan. Namun demikian, secara nominal kenaikan tersebut masih belum menunjukkan bahwa sector pertanian mendapat prioritas yang memadai. Hal ini mengingat pertanian di Kabupaten Fakfak merupakan basis ekonomi rakyat yang mencakup sebagian besar penduduk Tabel 25. Belanja Sektor Pertanian Kabupaten Fakfak Tahun 2001 - 2002.
No.

Tahun

Plafon (Rp.)

Realisasi (Rp.)

1. 2.

2001 2002 Rata-rata

2.537.625.000 14.159.074.815 8.348.349.907

2.285.248.683 14.140.916.113 7.184.720.488

BPKD Kabupaten Fakfak 2001, 2002. 6.3.3. Output

Pertanian dalam arti luas di Kabupaten Fakfak belum berkembang, baik dari segi luasan, produksi dan produktivitas. Kegiatan pertanian masih dikerjakan dengan teknik yang sederhana dengan skala yang kecil-kecil dan cenderung terpencarpencar. Corak usahanya cenderung bersifat subsisten, kendati sudah menggunakan pasar sebagai sarana pertukaran. Keberadaan para transmigran di dataran Bomberai diharapkan terjadi transfer teknologi dari transmigran ke

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 30

KABUPATEN FAKFAK
penduduk setempat. Tetapi hal tersebut tidak terjadi, karena permasalahan isolasi yang dihadapi petani. Di tingkat petani sebenarnya sudah terbentuk kelompok-kelompok usaha seperti kelompok tani (272), kelompok nelayan (52), dan kelompok pekebun (80). Namun sebagian besar kelompok usaha tersebut (90%) tidak aktif. Kelompok yang aktif umumnya yang berada di daerah perkotaan atau yang mempunyai akses baik dengan perkotaan. Sedangkan yang berada di daerah pedesaan hampir seluruhnya tidak aktif. 6.3.4. Kinerja

Belum berkembangnya sector pertanian di Kabupaten Fakfak dapat dilihat dari kesenjangan antara peran pertanian terhadap pembentukan PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Dari data sebelumnya terungkap bahwa sector pertanian merupakan matapencaharian dari 58% penduduk, tetapi sumbangannya terhadap pembentukan PDRB hanya berkisar 35%. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas sector pertanian sangat rendah. Rendahnya produktivitas sector pertanian sangat terkait dengan banyak hal, diantaranya : (a) terbatasnya personil (jumlah dan mutu) di lingkup pertanian, (b) distribusi yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan sementara pelaku pertanian sebagian besar berada di pedesaan, (c) kondisi prasarana/sarana transportasi yang buruk antara daerah perkotaan dan pedesaan, (d) terbatasnya fasilitas dan anggaran yang dapat digunakan penyuluh dalam memberikan pelayanan. Faktor-faktor tersebut di atas memberikan resultante terhadap pelayanan terhadap upaya pemberdayaan sector pertanian. 6.4. Prasarana dan Sarana 6.4.1. Kebijakan Daerah Aspek prasarana dan sarana merupakan faktor penting dalam melansir upaya pembangunan daerah. Prasarana dan sarana ini sangat beragam dan mencakup bidang-bidang : penyediaan energi, industri dan perdagangan, ketenagakerjaan, pekerjaan umum dan perhubungan. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Fakfak terkait dengan prasarana dan sarana ditujukan untuk memberikan pelayanan, motivator dan dinamisator terhadap kegiatan pembangunan yang sedang dan akan berjalan. 6.4.2. Indikator Sumberdaya Pelayanan Realisasi belanja bidang prasarana dan sarana cenderung tidak mengalami perubahan dari orientasinya. Sektor transportasi secara nominal mendapat alokasi cukup besar. Hal ini terkait dengan upaya menerobos isolasi daerah yang menjadi prioritas Pemerintah Daerah Tabel 25. Realisasi Belanja Prasarana dan Sarana di Kabupaten Fakfak Tahun 2001 - 2002. Sektor 2001 2002

No. 1. 2.

Transportasi Pariwisata dan Telkom

22.026.439.641 583.448.076

23.624.081.646 87.000.000

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 31

KABUPATEN FAKFAK
3. 4.

Perumahan dan Pemukiman Lingkungan Hidup dan Tata Ruang


Kinerja

13.729.817.955 -

3.647.075.070 293.065.000

BPKD Kabupaten Fakfak 2001, 2002. 6.4.3. Perhubungan Prasarana jalan di daerah pedesaan. terutama ibukota terbatas. Untuk transportasi laut. Kabupaten Fakfak menghubungkan pusat kabupaten dengan Jalan yang ada baru dapat menghubungkan sebagian daerah distrik, sedangkan ke kampung-kampung masih sangat mencapai daerah-daerah pedesaan umumnya digunakan

Panjang jalan di Kabupaten Fakfak adalah 453,631 kilometer yang merupakan jalan Kelas III. Sebagian besar (54%) merupakan jalan aspal dengan lebar 4 6 meter, yang menghubungkan kota Fakfak dengan beberapa ibukota Kabupaten. Selebihnya merupakan jalan kerikil dan tanah yang umumnya menghubungkan antar kampung di daerah pedesaan. Dari jumlah jalan tersebut, 41% dalam keadaan baik dan selebihnya mengalami rusak sedang sampai dengan rusak berat. Jumlah kendaraan bermotor, terutama roda empat didominasi oleh kendaraan umum dengan rute sebagian besar di perkotaan. Disamping itu kendaraan bermotor roda dua yang digunakan sebagai ojek jumlahnya semakin bertambah. Di Fakfak terdapat sebuah pelabuhan samudera yang mampu di sandari oleh kapal-kapal bertonase besar baik kapal penumpang maupun barang. Disamping itu, di beberapa tempat terdapat pelabuhan rakyat digunakan untuk menghubungkan dengan daerah-daerah pedalaman. Di Fakfak terdapat sebuah Bandar Udara bernama Torea yang baru mampu di darati oleh pesawat sejenis Twin Otter dan Fokker 27. Saat ini Bandara Torea sedang dalam perpanjangan dengan harapan dapat didarati oleh pesawatpesawat yang lebih besar. Listrik Pembangkit tenaga listrik di Kabupaten Fakfak berupa PLTD yang dikelola oleh PLN. Ada 13 unit pembangkit tenaga listrik yang melayani kebutuhan listrik di Kota Fakfak. Disamping itu juga terdapat 8 unit listrik desa (lisdes) yang umumnya digunakan untuk melayani kebutuhan listrik di pedesaan. Air Minum Pengelolaan air minum di Kabupaten dilakukan oleh sebuah perusahaan milik daerah (PDAM) yang memanfaatkan berbagai sumber air berupa sungai dan mata air. PDAM ini baru ditujukan untuk melayani kebutuhan air untuk Kota Fakfak, dengan pelanggan rumah tinggal, hotel, badan-badan social, pertokoan/industri, instansi pemerintah dan lain-lain. Sedangkan untuk di daerah pedesaan umumnya memanfaatkan sumber air yang ada seperti sungai, mata air dan sumur. 7. LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES 7.1. Pembangunan Ekonomi

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 32

KABUPATEN FAKFAK
PPK, Program Pengembangan Kecamatan yaitu pemberian dana lunak yang dikelola langsung oleh distrik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di tingkat distrik. Program ini dianggap baik karena dimasa lalu distrik tidak mempunyai wewenang untuk merencanakan dan melaksanakan program-program pembangunan di distriknya. Seluruh program dilaksanakan oleh instansi di tingkat kabupaten. Dengan adanya PPK maka setiap distrik dapat merencanakan dan melaksanakan program pembangunan sesuai kondisi daerah dan aspirasi masyarakatnya. HPH, sebagian masyarakat menilai kehadiran HPH lebih banyak merusak hutan daerah, akan tetapi tidak dapat dipungkiri, banyak masyarakat bergantung pada gaji dari bekerja di HPH. Pola pembinaan melalui HPH Bina Desa masih dipertahankan. Program HPH Bina Desa dapat membantu mengatasi kelangkaan dana pembangunan dari pemerintah. 7.2. Pemerintahan CLGI dan NDI yaitu program UNDP dalam meningkatkan kapasitas eksekutif daerah dan parlemen daerah dengan pemberian asistensi pada pihak-pihak tersebut. Program ini dianggap baik karena dapat meningkatkan kapasitas aparat PEMDA dan anggota DPRD sehingga mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kedepan PEMDA Kabupaten Fakfak merencanakan asistensi seperti ini secara kontinyu bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait. Perform Project Regional Papua mengkampanyekan model pendekatan PDPP (Pola Dasar Pembangunan Partisipatif). Pendekatan ini diharapkan mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap. BIGG dalam bidang perencanaan pembangunan berbasis kinerja. Program ini dianggap baik karena perencanaan berbasis kinerja memungkinkan dilakukannya pengawasan secara baik terhadap pelaksanaan pembangunan. 7.3. Pendidikan dan Kesehatan Program pendidikan dan Kesehatan yang dinilai oleh masyarakat paling berhasil dan perlu dilanjutkan adalah program UNICEF, yaitu Manajemen Sekolah Berbasis Keluarga, dan peningkatan gizi anak sekolah, dan ibu-ibu hamil. Hal ini disebabkan pendidikan dan kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

8.

KESIMPULAN UMUM
1. Wilayah Kabupaten Fakfak dihadapkan pada masalah isolasi, penyebaran penduduk (jumlah dan kepadatan) yang tidak merata, dan terbatasnya infrastruktur. 2. Matapencaharian penduduk bertumpu pada sektor primer (terutama pertanian dalam arti luas) yang mempunyai ciri-ciri : skala kecil, dikerjakan dengan teknik yang masih sederhana dan berorientasi subsisten. 3. Dari segi jumlah personil PEMDA sudah cukup memadai dengan rasio PNS terhadap jumlah penduduk 1 : 21, tetapi sebagian besar (kurang lebih 80%)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 33

KABUPATEN FAKFAK
berada di perkotaan yang menyebabkan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang optimal. 4. Konsep the right person in the right place belum memperoleh perhatian yang wajar, sehingga penempatan personil banyak yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya. 5. Terbatasnya fasilitas dan alokasi dana operasional menyebabkan sebagian besar PNS enggan ditempatkan di daerah pedesaan. 6. Penerimaan Kabupaten Fakfak masih bertumpu pada sumber Dana Perimbangan (lebih dari 90%), sementara sumber-sumber pendapatan asli daerah belum dioptimalkan. Sejak diberlakukannya UU OTSUS penerimaan daerah meningkat dengan dialokasikannya dana OTSUS. Hal ini menunjukkan belum adanya kemandirian fiscal dan memiliki ketergantungan yang besar terhadap keuangan di pusat. 7. Dana pembangunan yang bersumber dari Dana Penerimaan khusus, diutamakan untuk membiayai 4 program pokok/program prioritas yaitu : pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, infrastruktur dan program penunjang lainnya. 8. Dropping dana penerimaan khusus umumnya terlambat, sehingga sangat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan program. Kesungguhan dan tanggung jawab para pengelola program pada umumnya masih kurang, sehingga mengakibatkan kinerja pelaksanaan, pertanggungjawaban dan laporan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. 9. Penyaluran/realisasi dana dari pengelola keuangan daerah ke Satuan Kerja sangat lambat, sehingga mempengaruhi pelaksanaan kegiatan di lapangan. 10. Lebih dari setengah Pengeluaran Kabupaten Fakfak ditujukan untuk belanja rutin, sementara belanja pembangunan mendapatkan porsi kurang dari setengahnya. Belanja rutin sebagian besar masih ditujukan untuk membiayai belanja pegawai/personalia, sementara belanja yang sifatnya menambah modal Pemda masih sangat terbatas. 11. Struktur belanja publik menunjukkan bahwa perhatian lebih banyak diberikan pada pengembangan sarana/prasarana, sementara pelayanan dasar dan pengembangan ekonomi rakyat belum diberikan perhatian yang cukup. 12. Berdasarkan karakteristik anggota DPRD Kabupaten Fakfak, perlu adanya upaya pemberdayaan sehingga mampu menjalankan fungsi DPRD. 13. Keadaan perekonomian Kabupaten Fakfak masih didominasi oleh sektor primer (terutama pertanian dalam arti luas), dimana sektor ini memberikan kontribusi sekitar 37% terhadap PDRB dan sekitar 58% terhadap penyerapan tenaga kerja. 14. Perekonomian Kabupaten Fakfak masih digerakkan oleh ekonomi pemerintah dengan peranan sektor swasta yang terbatas serta mempunyai ketergantungan yang besar terhadap daerah lain. 15. Sarana/prasarana kesehatan dan tenaga medis yang tersedia masih terbatas dan sebagian besar terkonsentrasi di perkotaan, sehingga pelayanan kesehatan terbatas dan tidak merata antara daerah pedesaan dan perkotaan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 34

KABUPATEN FAKFAK
16. Ketersediaan prasarana/sarana, guru, fasilitas penunjang lainnya, kesadaran dan dukungan orangtua terhadap pentingnya pendidikan anak masih rendah. Hal ini menyebabkan angka putus sekolah di Kabupaten Fakfak relatif tinggi. 17. Beberapa pengalaman dari kegiatan-kegiatan pembangunan di masa lalu yang dianggap baik dan akan dilanjutkan oleh pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pembangunan adalah : PPK, CLGI, BIGG, Perform Project Regional Papua, HPH Bina Desa dan program UNICEF untuk Manajemen Sekolah Berbasis Keluarga, dan peningkatan gizi anak sekolah, dan ibu-ibu hamil.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VI - 35

KABUPATEN KAIMANA

VII. KABUPATEN KAIMANA


1. KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah Kabupaten Kaimana merupakan salah satu dari 14 kabupaten baru di Provinsi Papua yang dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002 tertanggal 12 November 2002. Sebelumnya Kabupaten Kaimana terdiri dari 4 distrik yang merupakan bagian dari Kabupaten Fak-Fak. Secara astronomis Kabupaten Kaimana terletak pada posisi di antara 03O 30 03O 30 Lintang Selatan dan 132O 30 - 132O 30 Bujur Timur. Batas wilayah Kabupaten Kaimana adalah sbb. : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Kabupaten Teluk Bintuni : Laut Arafura : Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika : Kabupaten Fak-Fak.

PETA KABUPATEN KAIMANA KETERANGAN +-+-+-+ Kabupaten -.-.-.-.-.-.-.: : Batas : Batas Distrik

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 1

KABUPATEN KAIMANA
Kabupaten Kaimana beribukota di Kota Kaimana, dapat dijangkau dari daerah lain melalui sarana transportasi udara dan laut. Wilayah Kabupaten Kaimana mencakup areal seluas kurang lebih 18.500 Km2. 1.2. Pembagian Administratif Wilayah Secara administratif Kabupaten Kaimana dibagi kedalam 4 (empat) distrik, yaitu : Distrik Teluk Arguni, Distrik Kaimana, Distrik Teluk Etna dan Distrik Buruway. dan terdiri dari 45 kampung (desa) dan 10 kelurahan. Pembagian secara administratif Kabupaten Kaimana disajikan pada table 1. Tabel 1. Pembagian Adminiistrasi Pemerintahan Kabupaten Kaimana NO. 1. 2. 3. 4. DISTRIK Teluk Arguni Kaimana Teluk Etna Buruway Jumlah

JUMLAH KAMPUNG/DESA
30 20 10 11 71

JUMLAH KELURAHAN
1 1 2

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, 2004


1.3. Keadaan Sosial Ekonomi 1.3.1. Penduduk Tabel 2. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut Distrik Di Kabupaten Kaimana Tahun 2004.

NO. 1. 2. 3. 4.

DISTRIK
Teluk Arguni Kaimana Buruway Teluk Etna Jumlah

KK 1.741 9.771 1.928 1.618


15.058

Laki-Laki Perempuan 3.186 13.996 4.635 3.623


25.440

Total 6.271 27.418 8.525 6.536


48.750

Kepadatan (Jiwa/Km2) 1,56 10,97 1,7 0,93


2,64

3.085 13.422 3.890 2.913


23.310

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004 Jumlah penduduk Kabupaten Kaimana sampai dengan tahun 2004 sesuai hasil Pelaksanaan Pendaftaran Pemilih dan Penduduk Berkelanjutan (P4B) sebanyak 48.750 jiwa. Dari jumlah tersebut tercatat 52,2% diantaranya adalah penduduk Dari jumlah tersebut sekitar 33,7% bermukim di daerah laki-laki. perkotaan dan selebihnya bermukim di daerah pedesaan. Perbandingan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 2

KABUPATEN KAIMANA
antara penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan (sex ratio) adalah 109, artinya terdapat 109 penduduk laki-laki pada setiap 100 penduduk perempuan. Tabel 3. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Kaimana 2000 - 2004. NO. 1. 2. 3. 4. 5. TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 LAKI-LAKI (Jiwa) PEREMPUAN (Jiwa) JUMLAH (Jiwa) PERTUMBUHAN (%) 4,81 16,74 6,41 7,00

18.268 19.146 22.352 23.785


25.440

16.727 17.532 20.467 21.780


23.310

34.995 36.678 42.819 45.565


48.750

Sumber : - Bappeda Kabupaten Kaimana, 2004 - Kabupaten Fakfak Dalam Angka 2001, 2003 Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kaimana meningkat setiap tahun. Selama kurun waktu 2000 2004 rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 8,74% pertahun. Pertumbuhan yang tertinggi terjadi di daerah perkotaan, terutama di Distrik Kaimana. Hal ini terkait dengan pemekaran menjadi kabupaten baru. Dengan semakin mudahnya sarana transportasi keluar masuk Kaimana menyebabkan migrasi masuk yang lebih besar dari Timor, Seram, Tual, Buton, Jawa dan lain-lain. Kepadatan penduduk Kabupaten Kaimana pada tahun 2004 menunjukkan perbedaan yang nyata antara daerah perkotaan yang relatif tinggi (Distrik Kaimana 11 jiwa/Km2) dan daerah pedesaan yang rendah (kurang dari 3 jiwa/Km2). Kota Kaimana merupakan konsentrasi penduduk yang bermukim di Distrik Kaimana. Hal ini disebabkan karena Kaimana sebagai ibukota kabupaten, sebagai pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan berimplikasi pada semakin kompleksnya kegiatan dan interaksi social ekonomi seperti perdagangan, jasa, dan kegiatan lain sehingga mobilitas penduduk lebih banyak terkonsentrasi di Distrik Kaimana. Di sisi lain luas wilayah Distrik Kaimana paling kecil disbanding distrik-distrik lainnya. Tabel 4. Kepadatan Penduduk Kabupaten Kaimana Menurut Distrik Tahun 2004 No. 1. 2. 3. 4. Distrik Kaimana Teluk Arguni Buruway Teluk Etna Jumlah Luas Wilayah (Km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 10,97 1,57 1,70 0,93 2,64

2.500 4.000 5.000 7.000


18.500

27.418 6.271 8.525 6.536


48.750

Sumber : - Bappeda Kabupaten Kaimana, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 3

KABUPATEN KAIMANA

Penduduk lainnya tersebar secara tidak merata umumnya bermukim di bagian pesisir pantai dan daerah perbukitan. Berikut dikemukakan kepadatan penduduk menurut distrik.

1.3.2. Mata Pencaharian


Penduduk Kabupaten Kaimana menekuni berbagai jenis matapencaharian sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Penduduk asli sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, petani subsisten, dan pekebun tradisional. Dunia usaha perdagangan umumnya ditekuni oleh penduduk pendatang asal Bugis, Jawa dan WNI keturunan Cina. Pada beberapa tahun terakhir telah pula diberdayakan sejumlah putra daerah asli Kaimana untuk menekuni bidang leveransir dan developer. Kebanyakan penduduk melakukan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (subsisten). Selain itu mereka menjual hasil tangkapan dan hasil kebun ke pasar, baik pasar distrik maupun pasar kabupaten. Hasil penjualan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tidak dapat dihasilkan sendiri seperti ; membeli baju, gula, beras, rokok dan untuk biaya pendidikan anak. Pertanian masih dilakukan dalam skala kecil dengan cara-cara yang masih sangat sederhana (masih menganut sistem ladang berpindah atau shifting cultivation) serta bercorak subsisten (untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri). Jenis tanaman yang diusahakan terutama tanaman Pangan (ubi jalar, keladi, ketela pohon dan pisang), sayur-sayuran (kangkung, kacang panjang, sawi, tomat dan cabe) dan tanaman buah-buahan. Dengan teknik produksi tersebut, maka produktivitas kegiatan pertanian sangat rendah. Kegiatan menangkap ikan dilakukan oleh hampir seluruh penduduk Kabupaten Kaimana, yang bermukim di daerah pantai. Sama halnya dengan kegiatan pertanian, kegiatan perikanan yang dilakukan oleh masyarakat setempat hanya terbatas pada menangkap ikan dan mengambil hasil laut lainnya. Kegiatan menangkap hasil laut oleh penduduk lebih sering disebut dengan mencari. Kendati sebagian masyarakat melakukan kegiatan menangkap ikan, tetapi pemandangan di desa-desa di kawasan Kaimana tidak tampak sebagai layaknya desa nelayan. Tidak terdapat banyak perahu di pinggir pantai dan juga tidak setiap hari ada pemandangan orang berangkat menangkap ikan. Pekerjaan mencari ikan ini kebanyakan dilakukan oleh para laki-laki. Kaum lakilaki pergi melaut sendiri maupun bersama-sama, pekerjaan ini dilakukan baik malam hari maupun siang hari. Meskipun pekerjaan ini tergolong pekerjaan lakilaki, tetapi kaum perempuan juga melakukan, terutama pada siang hari dan pada malam hari ketika bulan purnama. Dalam mencari ikan mereka menggunakan alat-alat yang kebanyakan masih sederhana. Peralatan yang mereka gunakan antara lain ; perahu dayung, perahu motor, jala, pancing, sumpit, tombak dan beberapa orang masih menggunakan akar tuba. Jenis-jenis hasil tangkapan adalah berbagai jenis ikan, udang dan kepiting. Udang dan kepiting umumnya dijual segar, namun ikan dijual dalam bentuk segar atau dalam bentuk olahan. Harga ikan segar lebih mahal di pasaran dibandingkan dengan harga ikan kering (asap atau asin), sehingga bagi nelayan lebih menguntungkan menjual ikan segar dibandingkan ikan kering. Penjualan ikan segar ke pasar desa dan pasar kecamatan lebih banyak dilakukan oleh

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 4

KABUPATEN KAIMANA
penduduk karena jaraknya relatif lebih dekat. Berbeda dengan ikan segar, salah satu keuntungan dari ikan olahan adalah tidak menuntut waktu yang cepat untuk dijual ke pasar sehingga dapat menunggu tibanya hari pasar atau perahu ke pasar. Ikan olahan lebih banyak dijual oleh nelayan kecil karena keterbatasan transportasi. Jenis ikan olahan yang dijual adalah ikan asar, ikan asin, dan ikan kering.

1.4. Kemiskinan
Sebagai kabupaten baru, Kaimana belum memiliki badan yang secara khusus menangani masalah data. Hasil Pelaksanaan Pendaftaran Pemilih dan Penduduk Berkelanjutan (P4B) Kabupaten Kaimana tahun 2004 menyebutkan bahwa tercatat 76% dari jumlah penduduk Kabupaten Kaimana adalah penduduk miskin. Sebagian besar penduduk miskin ini bermukim di daerah pedesaan maupun di daerah-daerah terpencil, baik di pedalaman maupun wilayah pesisir terutama di Distrik Teluk Arguni, Buruway dan Teluk Etna. Tidak terdapat informasi criteria yang digunakan untuk menetapkan penduduk miskin di atas. Namun demikian, data ini dapat digunakan sebagai titik tolak dalam memahami kondisi social ekonomi penduduk di Kabupaten Kaimana.

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


2.1. Jumlah Personil Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Kaimana pada tahun 2003 adalah 809 orang dan meningkat menjadi 943 pada tahun 2004. Belum ada data rinci mengenai karakteristik PNS pada tahun 2004, sehingga informasi karakteristik PNS digunakan data tahun 2003 seperti disajikan pada Tabel 4 sampai dengan 12 berikut. Tabel 5. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Jenis Kelamin
No. Status Kepegawaian Jumlah (Orang) Nisbah (%)

1. 2.

Laki-laki Perempuan Jumlah

541 268 809

66,9 33,1 100,0

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 6. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Pendidikan


No. Aspek Jumlah (Orang) Nisbah (%)

1. 2. 3.

Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

21 40 452

2,60 4,94 55,87

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 5

KABUPATEN KAIMANA
4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Diploma 1 Diploma 2 Diploma 3 Diploma 4 Sarjana (S1) Magister (S2) Doktor (S3) Jumlah
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

14 102 67 2 109 2 809

1,73 12,60 8,28 0,25 13,47 0,25 100,00

Tabel 7.

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Jabatan Struktural


Jabatan Struktural Jumlah (Orang) Nisbah (%)

No.

1. 2. 3. 4. 5.

Eselon I Eselon II Eselon III Eselon IV Eselon V Jumlah

3 6 3 12 25,0 50,0 25,0 100,0

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 8.

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Jabatan Fungsional


Jabatan Fungsional Jumlah (Orang) Nisbah (%)

No.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Guru Medis Para medis Penyuluh Pertanian Pranata Komputer Lainnya Jumlah

250 3 75 1 6 335

74,6 0,9 22,4 0,3

1,8 100,0

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 6

KABUPATEN KAIMANA
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 9.

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Golongan Kepangkatan


Golongan Jumlah (Orang) Nisbah (%)

No.

1. 2. 3. 4.

I II III IV Jumlah

46 469 264 30 809

5,7 58,0 32,6 3,7 100,0

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 10. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Volume Pekerjaan
No. Aspek Jumlah (Orang) Nisbah (%)

1. 2. 3. 4. 5.

Banyak Cukup Banyak Sedang Kurang Sangat Kurang Jumlah

11 362 431 3 2 809

1,36 44,75 53,27 0,37 0,25 100,00

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 11. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Jenis Kepegawaian
No. Jenis Kepegawaian Jumlah (Orang) Nisbah (%)

1. 2. 3. 4.

PNS Pusat PNS Provinsi PNS Kabupaten Lainnya Jumlah

56 753 809

6,92

93,08

100,00

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 7

KABUPATEN KAIMANA
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel 12. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Di Kabupaten Kaimana Menurut Status Kepegawaian
No. Status Kepegawaian Jumlah (Orang) Nisbah (%)

1. 2.

Calon PNS PNS Jumlah

225 584 809

27,81 72,20 100,00

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

Tabel

13.

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Keikutsertaan Diklat Struktural


Status Kepegawaian

Di

Kabupaten

Kaimana

Menurut

No.

Jumlah (Orang)

Nisbah (%)

1. 2.

Sepada Sepala/Adum/Diklatpim Tk. IV Jumlah

1 3 4

25,0 75,0 100,0

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, Tahun 2004.

2.2. Kapasitas dan Struktur Organisasi Kelembagaan Kabupaten Kaimana sesuai organisasi dan tata kerja perangkat daerah terdiri dari : 1. Sekretariat Daerah; 2. Dinas-Dinas Daerah; 3. Lembaga Teknis Daerah; 4. Lembaga Pemerintahan Distrik, dan 5. Lembaga Pemerintahan Kelurahan. Organisasi dan tata kerja perangkat daerah secara rinci menetapkan jabatanjabatan structural maupun fungsional menurut eselon serta fungsi dan spesifikasi tertentu. Dari jabatan structural, fungsional ditambah tenaga staf maka keseluruhan pegawai yang dibutuhkan untuk mengisi formasi struktur berjumlah 399 orang. Jumlah tersebut setelah ditambah dengan tenaga guru dan paramedic dan lain-lain diperkirakan sebanyak 586 orang. Diperkirakan kebutuhan pegawai di Kabupaten Kaimana untuk dapat menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat dengan baik sebanyak 985 orang. 2.3. Observasi tentang Kapasitas Pemda

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 8

KABUPATEN KAIMANA
Rasio PNS terhadap jumlah penduduk di Kaimana adalah 1 : 52, artinya setiap PNS melayani 52 orang penduduk. Rasio ini sebenarnya masih cukup baik, akan tetapi distribusi PNS yang sebagian besar (lebih dari 80%) berada di daerah perkotaan menyebabkan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Hal ini diperburuk oleh rendahnya aksesibilitas daerah pedesaan yang menyebabkan rendahnya mobilitas PNS ke daerah-daerah pedesaan. Distrik Teluk Arguni, Distrik Teluk Etna dan Distrik Buruway hanya dapat dicapai dari Kaimana dengan menggunakan transportasi laut (long boat) dengan frekuensi yang sangat terbatas. Belum ada jalan yang dapat menghubungan Distrik Kaimana dengan ketiga distrik tersebut. Disamping itu, terbatasnya fasilitas dan dana operasional PNS yang ditempatkan di daerah pedesaan lebih sering berada di kota. Sampai dengan akhir tahun 2004, pemerintah daerah Kabupaten Kaimana masih dalam masa transisi. Anggota DPRD baru dilantik, sementara Ketua DPRD belum dilantik. Hal ini menyebabkan pihak eksekutif belum mempunyai legitimasi untuk menjalankan roda pemerintahan dan masih menunggu sampai dengan terlaksananya pemilihan kepala daerah (PILKADA) yang direncanakan pada bulan Juni 2005.

3.

KEUANGAN DAERAH (MASIH TERGABUNG DENGAN FAKFAK)


3.1. Pendapatan dan Pengeluaran Kabupaten Kaimana saat ini masih menggantungkan pendapatan daerahnya dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus untuk membiayai pembangunan daerahnya. Dalam komposisi rencana pendapatan daerah tahun 2004, DAU ditargetkan mencapai 85,65% dari seluruh pendapatan daerah. Adapun Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan memiliki kontribusi cukup signifikan di Kaimana adalah provisi hasil hutan dan migas yang ditargetkan mencapai 8,54%. Akan tetapi, hingga bulan Agustus 2004, dana-dana tersebut realisasinya masih kecil. Penerimaan daerah untuk sementara baru diperoleh dari pajak daerah dan retribusi daerah, terutama dari pasar, hotel dan restoran, penerangan jalan, ijin gangguan, dan penerbitan SIUP Asal Perikanan. Penerimaan daerah dari pasar ternyata hingga pertengahan tahun anggaran sudah melampaui target hingga lebih dari 200% yang direncanakan. Sebagai Kabupaten pemekaran, sampai dengan tahun 2003 APBD Kabupaten Kaimana masih tergabung dalam Kabupaten Fakfak. Kabupaten Kaimana saat ini masih dalam tahapan proses pengumpulan data. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten mengetengahkan data dasar guna kepentingan perhitungan DAU berupa data kebutuhan fiscal sebagaimana tertera pada table berikut. Tabel 14. Kebutuhan Fiskal Kabupaten Kaimana Tahun 2004. No.
1. 2. 3.

Uraian
Luas Wilayah Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Miskin

Satuan
Km2 Jiwa Jiwa (%)

Jumlah
18.500 48.750 37.050 (76)

Keterangan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 9

KABUPATEN KAIMANA
Indeks Kemahalan Konstruksi Penerimaan Daerah 1. Bagi Hasil SDA Pertambangan Umum Migas Kehutanan Perikanan 2. Bagi Hasil Pajak PPh PBB BPHTB 3. Pendapatan Asli Daerah Rp. Rp. Rp. Rp. 1.257.820.481 1.285.734.939 Rp. Rp. Rp. Rp. 12.960.000.000 5.433.600 199.394.108 Rp./M2 3.500.000 Indeks Tahun 2004

Sumber : Bappeda Kabupaten Kaimana 2004. Kendati demikian, pada tahun 2004 telah dialokasikan ke Kabupaten Kaimana dana yang berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp. 89,066 milyar. Pada tahun 2004 Kabupaten mendapat alokasi Dana Alokasi Khusus sebanyak Rp. 4 milyar. Dana ini ditujukan untuk pengembangan bidang sarana/prasarana pemerintahan. Pada tahun 2005 alokasi DAK Kabupaten Kaimana mengalami kenaikan menjadi Rp. 9,130 milyar. Alokasi dana dari DAK ini diperuntukkan pada bidang-bidang seperti terlihat pada Tabel berikut. Tabel 15. Alokasi Dana Alokasi Khusus Tahun 2005 Kabupaten Kaimana Menurut Bidang. No.
1. 2. 3.

Bidang
Bidang Pendidikan Bidang Kesehatan Bidang Infrastruktur Jalan Irigasi Air Bersih

Rp. 000.000
3.190 1.890

Nisbah (%)
34,94 20,70

3.350 0.000 700 0 0 0 9.130

36,70

7,66

4. 5. 6.

Bidang Kelautan dan Perikanan Bidang Pertanian Bidang Prasarana dan Pemerintahan JUMLAH

100,00

Sumber : Keputusan Menteri Keuangan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 10

KABUPATEN KAIMANA

4.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 4.1.1. Jumlah dan Komposisi Anggota DPRD Kabupaten Kaimana periode 2004- 2009 berjumlah 20 orang yang merupakan hasil pemilihan umum tahun 2004 yang lalu. Profil anggota DPRD Kabupaten Kaimana periode 2004 2009 dikemukakan pada Tabel 15 berikut. Struktur anggota DPRD Kabupaten Kaimana telah memberikan kesempatan pada kaum perempuan dan penduduk pendatang. Dari 20 anggota DPRD, 16 orang (80%) adalah laki-laki dan 4 orang (20%) perempuan. Perbandingan anggota DPRD menurut asal daerah adalah 60% berasal dari Papua dan 40% pendatang. Sedang menurut agama menunjukkan bahwa mayoritas anggota DPRD (60%) beragama Islam, dan 40% beragama Kristen. Tabel 16. Profil Anggota DPRD Kabupaten Kaimana Tahun 2004 2009.
No.

Kriteria Tingkat Pendidikan SMU Diploma Sarjana

Laki-Laki

Perempuan

Total

1.

16

20 16 2 2 20 12 8

13 2 1 16 9 7 16 9 7 16 15

3 1 4 3 1 4 3 1 4 1 3

2.

Asal Daerah Papua Luar Papua

3.

Agama Islam Kristen

20
12 8

4.

Umur Kurang dari 30 tahun 30 55 tahun

20 1 18

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 11

KABUPATEN KAIMANA
Lebih dari 55 tahun

Sumber : Sekretariat DPRD Kabupaten Kaimana 2004. Dari segi umur, hampir semua anggota DPRD Kabupaten Kaimana masih dalam umur produktif. Hal ini menunjukkan prospek yang baik bagi ke DPRD-an Kabupaten Kaimana yang dinamis, progresif dan inovatif. Akan tetapi apabila ditinjau dari segi pendidikan, maka kondisinya sangat berbeda. Sebagian besar anggota DPRD Kabupaten Kaimana berpendidikan relative kurang. Dari seluruh anggota DPRD hanya 4 orang (20%) yang berpendidikan tinggi (2 orang Diploma dan 2 orang Strata 1). Selebihnya, 16 orang tamat SMU (80%). Hal ini terkait dengan kemampuan analisis dalam menjalankan fungsi dan peran anggota DPRD. Oleh sebab itu, dengan melihat karakteristik anggota DPRD Kabupaten Kaimana tersebut perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas anggota DPRD melalui berbagai cara seperti pelatihan, kursus, pendampingan atau asistensi. Sudah saatnya anggota DPRD mempunyai Tim Ahli yang akan melakukan kajian dan analisis sesuai bidangnya. Komposisi anggota DPRD menurut partai politik menunjukkan bahwa keanggotaan DPRD Kabupaten Kaimana lebih beragam. Tidak ada partai yang dominant kendati partai-partai besar seperti Golkar, PBSD dan PDIP mempunyai anggota lebih banyak dibandingkan partai-partai lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada partai yang mendominasi keanggotaan DPRD Kabupaten Kaimana. Keadaan ini akan berdampak pada proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah. Namun demikian, perlu disosialisasikan kepada para anggota DPRD bahwa manakala mereka sudah terpilih sebagai anggota DPRD maka yang mereka wakili adalah rakyat dan bukan partai politiknya. Tabel 17. Komposisi Anggota DPRD Kabupaten Kaimana Tahun 2004 2009 Menurut Partai Politik
No.

Partai Politik

Laki-Laki

Perempuan

Total

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Golkar PDIP PPP PBSD PSI PBR PAN PIB


Jumlah

5 2 1 4 1 1 1 1 16

2 1 1 4

5 4 1 5 2 1 1 1
20

Sumber : Sekretariat DPRD Kabupaten Kaimana 2004. 4.1.2. Kapasitas Anggota Dewan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 12

KABUPATEN KAIMANA
Untuk mengetahui kapasitas anggota DPRD telah dilakukan wawancara individual dan FGD terhadap 10 anggota DPRD. Hal ini ditujukan untuk memperoleh pendapat dari para anggota DPRD tentang visi, misi, pengetahuan tentang tugas dan peran DPRD, serta tanggapan tentang pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan. Hasilnya menunjukkan bahwa dari 10 anggota DPRD, 40% dapat mengemukakan visi dan misinya dengan jelas, 20% kurang jelas dan 40% lainnya tidak jelas. Sebagian besar (60%) anggota DPRD mengetahui tugas dan fungsinya, sedangkan 40% lainnya tidak mengetahui dengan jelas. Berkaitan dengan masa depan pembangunan di Kabupaten Kaimana, seluruh anggota DPRD mengatakan baik. Alasan yang dikemukakan beragam, yaitu : memiliki kekayaan sumberdaya alam (70%), letaknya yang strategis (40%), dan keharmonisan hubungan social penduduk (20%). Berkaitan dengan bagaimana hendaknya pembangunan Kaimana dilakukan, sebagian besar (70%) mengatakan harus dibangun infrastruktur terlebih dulu terutama transportasi, melalui perencanaan yang baik (40%), melibatkan masyarakat/adat (60%), dan terprogram dan berdasarkan skala prioritas (20%). Mengenai bagaimana pengawasan dan pengendalian pembangunan hendaknya dilakukan, sebagian besar (60%) mengatakan harus melibatkan masyarakat, memberdayakan lembaga pengawasan yang sudah ada (40%), dan melaksanakan penegakan hokum (30%). Dengan melihat hasil wawancara di atas, apabila tidak ada upaya-upaya pemberdayaan sudah dipastikan kapasitas anggota DPRD Kabupaten Kaimana akan rendah untuk dapat menjalankan fungsinya. 4.2. Perwakilan Kampung/Masyarakat Adat Guna meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, Kabupaten Kaimana tidak saja sedang membenahi kinerja pemerintah daerahnya, tetapi juga sedang membenahi tatanan adat di daerah tersebut guna menunjang pembangunan yang sementara berlangsung. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan membentuk Dewan Adat yang membawahi delapan suku besar di Kabupaten tersebut. Tugas dewan adat ini adalah untuk melindungi hak-hak masyarakat adat serta memberikan masukan-masukan kepada pemerintah daerah. Adapun sebaran delapan suku besar tersebut antara lain : 1. Suku Irarutu, yang wilayah persebarannya di Teluk Arguni dan perbatasan Babo. 2. Suku Mairasi yang wilayah persebarannya di Teluk Wandama, Nabire dan daerah yang berbatasan langsung dengan Mimika Barat. 3. Suku Oborau/Kamberau, yang menempati daerah pintu Teluk Arguni. 4. Suku Medenawa (Buruwai), yang tersebar di daerah pintu luar Teluk Kamberau. 5. Suku Kaiwai, yang ada di Pulau Namatota dan Pulau Adik, dengan jumlah populasi yang tidak terlalu banyak. 6. Suku Kuri. Suku ini merupakan suku induk yang di dalamnya terdapat suku Mairasi dan Irarutu. Sebaran suku ini di daerah pedalaman Teluk Arguni dan Teluk Wandama.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 13

KABUPATEN KAIMANA
7. Suku Miere, yang tersebar di daerah Teluk Etna. 8. Suku Kuri Pasai yaitu suku yang menyebar di seluruh Papua. Selain memberikan masukan kepada pemerintah daerah, tugas Dewan adat ini adalah menyelesaikan konflik yang terjadi antar suku yang ada, termasuk jika ada konflik dengan suku yang berasal dari non Papua. Penduduk di kabupaten Kaimana sangat heterogen. Tidak kurang dari 14 suku terdapat di Kabupaten Kaimana, 8 diantaranya adalah suku-suku asli. Dalam hal partisipasi di Kabupaten Kaimana dibentuk Lembaga Musyawarah Adat (LMA). Di bawah LMA terdapat Pemerintahan Adat yang mewakili baik suku-suku pendatang maupun asli setempat. LMA dan Lembaga Pemerintahan Adat berperan sebagai partner terhadap pemerintah dalam hal penyelenggaraan pembangunan. Segala keputusan pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat diharapkan merupakan koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintahan adat. 4.3. Sistem Pengadilan Terdapat dua jenis sistem pengadilan yang berlaku, yaitu sistem pengadilan formal (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara) dan Pengadilan Adat. Pengadilan Negeri umumnya menangani permasalahan pidana dan perdata berat yang terjadi di masyarakat. Pengadilan Adat umumnya tidak melembaga dalam menyelesaikan permasalahan peradilan. Permasalahan yang menonjol ditangani berdasarkan hukum adat adalah berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak atas sumberdaya alam. Pelanggaran etika dan moral yang umum terjadi dalam kehidupan masyarakat juga cenderung diselesaikan berdasarkan hukum adat. 4.4. Keikutsertaan Masyarakat Di Perencanaan Pembangunan Daerah Perubahan paradigma ditandai dengan perlunya partisipasi masyarakat secara aktif dalam setiap proses pembangunan sejak dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Perform Project Regional Papua mengkampanyekan model pendekatan PDPP (Pola Dasar Pembangunan Partisipatif). Pendekatan ini diharapkan mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap. PDPP menggunakan dua model, yaitu RPJMK (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung) dan perumusan Program Strategi. Pendekatan ini telah dilaksanakan di beberapa kabupaten, dengan diluncurkan dana PPK sebesar Rp. 1 milyar setiap distrik. 4.5. Keikutsertaan Masyarakat Di Bidang Pelayanan Dasar Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, setiap sekolah terdapat komite sekolah (dulu BP3) yang beranggotakan para orang tua murid dan donator. Kendati setiap sekolah mempunyai komite sekolah yang ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan, namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan, baik financial maupun intelektual,

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 14

KABUPATEN KAIMANA
disamping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Di bidang kesehatan, keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentuk kader posyandu. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas, tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan.

5.

KEADAAN EKONOMI, 2000 - 2003


5.1. PDRB dan Struktur Perekonomian Belum ada perhitungan terhadap PDRB Kabupaten Kaimana sampai dengan tahun 2004. Kendati demikian, secara umum struktur perekonomian Kabupaten Kaimana masih didominasi sektor pertanian dalam arti luas. Potensi ekonomi yang terdapat di Kabupaten Kaimana, terutama potensi sumberdaya alamnya sangat besar. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kaimana, baik disektor perikanan dan kehutanan. Di usaha sector perikanan saat ini sedang beroperasi sebanyak 4 perusahaan berorientasi ekspor, yaitu : PT. Istana Samudra Nusantara, PT. Avona Mina Lestari, PT. Karya Cipta Buana Sentosa, dan PT. Ameru Nus. Di bidang usaha kehutanan saat ini beroperasi sebanyak 16 perusahaan yang terdiri dari : 6 perusahaan HPH, 5 Kopermas, 3 perusahaan industri pengolahan kayu (IPK), dan 2 perusahaan berbentuk yayasan. Wilayah Kabupaten Kaimana memiliki kekayaan sumberdaya mineral. Potensi kandungan mineral yang telah dieksplorasi seperti minyak bumi, gas alam dan emas hingga saat ini belum ada laporan dari Departemen Pertambangan. Potensi yang sudah dieksplorasi dan dilaporkan adalah cadangan batu gamping yang diperkirakan sekitar 1.600. 109 ton. Dari jumlah tersebut lebih kurang 310. 109 ton memenuhi syarat dijadikan bahan baku industri semen, karena mempunyai kadar CaC lebih besar dari 50% dan HgO lebih kecil dari 3%. Perdagangan dan jasa saat ini berkembang sangat pesat terutama dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, kebutuhan sector public, serta kebutuhan industri dan jasa lainnya. Terdapat pusat pembelanjaan (masih sederhana). Selain itu, jasa transportasi laut terutama transportasi antar pulau yang dimiliki oleh penyedia jasa local Kaimana sebanyak 8 buah kapal dengan bobot mati 1.200 2.000 DWT.

5.2. Ketenagakerjaan Kendati terdapat kesulitan di dalam menghitung komposisi tenaga kerja yang bekerja menurut jenis usaha karena keterbatasan data, namun berdasarkan perkiraan tidak kurang dari 70% penduduk Kabupaten Kaimana bekerja di kelompok sector primer, terutama di sector pertanian. Bidang Usaha Kecil dan Menengah masih sangat terbatas dan belum dikembangkan secara professional dan berorientasi pasar. Hal ini menyebabkan kontribusi sector ini relative kecil. Namun potensi masyarakat dalam bidang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 15

KABUPATEN KAIMANA
usaha tersebut dapat dikembangkan, terutama di sector perikanan dan kelautan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan kerajinan.

5.3.

Perdagangan, dan Perbankan

5.3.1. Perdagangan Kegiatan perdagangan menjadi salah satu kegiatan ekonomi masyarakat Kaimana, terutama masyarakat Kota Kaimana. Sektor ini di Kaimana sangat dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain kemudahan aksesibilitas dari/ke wilayah sekitar. Di Kota Kaimana sendiri sudah banyak terdapat fasilitas perdagangan berupa pasar, pertokoan, warung maupun kios-kios. Pasar yang merupakan salah satu pusat kegiatan perdagangan menjadi begitu penting bagi masyarakat Kaimana. Sampai saat ini terdapat terdapat dua buah pasar tradisional di Kota Kaimana yakni pusat pertokoan yang berhadapan dengan pasar sore yang berlokasi di Jl. Trikora serta pasar baru yang terletak di Jl. Utarom. Bangunan pertokoan di Jl. Trikora berupa sederetan toko dengan konstruksi permanent. Sedang pasar tradisional berupa bangunan non permanent, bahkan ada yang hanya menggelar dagangannya di pinggir jalan. Disamping itu, di daerah-daerah pedesaan, terutama di ibukota-ibukota distrik terdapat pasar-pasar desa yang umumnya buka 2 3 kali seminggu. Kegiatan perdagangan di Kabupaten Kaimana berupa perdagangan local dan perdagangan antar pulau dan ekspor, mencakup barang-barang yang dihasilkan sendiri oleh daerah dan barang-barang yang didatangkan dari daerah lain. Barang-barang yang dihasilkan sendiri umumnya dihasilkan oleh kelompok sector primer seperti hasil-hasil pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Hasil pertanian pangan, karena dihasilkan oleh kegiatan yang bersifat ekstensif dan tradisional menyebabkan tidak dapat bersaing di pasar lokal terutama untuk konsumsi masyarakat di perkotaan. Hasil-hasil dari perkebunan, perikanan dan kehutanan dalam bentuk bahan mentah diantar pulaukan atau diekspor. Kabupaten Kaimana mempunyai kontribusi yang besar terhadap ekspor hasilhasil perikanan dan kehutanan. Sebagian besar barang-barang kebutuhan masyarakat Kabupaten Kaimana masih dipenuhi dengan cara mendatangkan dari daerah lain. Barang-barang tersebut adalah pangan, sandang, bahan bangunan, elektronik, BBM dan otomotif. 5.3.2. Perbankan Di Kabupaten Kaimana saat ini terdapat 2 buah bank, yakni Bank Papua dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Saat ini tengah dipersiapkan pendirian Bank BNI. Bank Papua tetap mempunyai komitmen membantu pengusaha UKM dalam rangka ikut membantu perkembangan perekonomian daerah. Namun demikian, Bank Papua Fak-Fak belum melakukan upaya-upaya proaktif dengan melakukan pembinaan-pembinaan. Hal ini disebabkan kurangnya tenaga. 5.4. Observasi dan Kesimpulan

Kondisi perekonomian makro Kabupaten Kaimana menunjukkan prospek pengembangan yang cukup bagus. Keadaan ini dipengaruhi oleh beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Kaimana sebagai berikut:

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 16

KABUPATEN KAIMANA
1. 2. 3. 4. 5. 6. Kaimana merupakan daerah transit penerbangan yang mengakses jalur penerbangan Fakfak-Teluk Bintuni- Maluku Tenggara; Sebagai salah satu jalan raya udara internasional; Pelabuhan niaga/pelabuhan samudera yang dapat mengakses Kabupaten Fakfak, Mimika, Maluku Tenggara maupun daerah lain; Sebagai pusat jaringan tataniaga komoditas local di Kawasan Selatan Papua yang berorientasi ekspor; Sebagai pusat pelabuhan perikanan dan kelautan di kawasan Selatan Papua; Terletak diantara dua kawasan pertambangan berskala internasional, yaitu PT. Freeport di Mimika dan LNG Tangguh di Teluk Bintuni.

6.

PELAYANAN SOSIAL DASAR


6.1. Kesehatan

6.1.1. Kebijakan Daerah Kebijakan pemerintah daerah berkaitan dengan pelayanan dasar masyarakat terlihat dalam kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Kaimana. Di dalam kebijakan tersebut visi kabupaten Kaimana adalah Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Menuju Kaimana sebagai Kabupaten Termaju di Selatan Papua Tahun 2010. Visi tersebut kemudian dijabarkan kedalam 5 misi utama sebagai berikut. 1. Peningkatan kualitas dan produktivitas sumberdaya manusia yang diraih terutama melalui upaya peningkatan pendidikan,kualitas kesehatan dan peningkatan produktivitas masyarakat; 2. Pengembangan struktur perekonomian yang tangguh, hal ini diperlukan untuk peningkatan pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat agar memiliki kemandirian, kemampuan dan daya saing dalam menghadapi persaingan antar daerah serta dalam rangka pengentasan kemiskinan; 3. Pemantapan kinerja pemerintah daerah, termasuk di dalamnya pengelolaan aspek politik, hokum, HAM. Melalui peningkatan kinerja ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat; 4. Peningkatan implementasi pembangunan berkelanjutan, terutama dengan isu daya dukung lingkungan, keseimbangan ekosistem; 5. Peningkatan kualitas kehidupan social yang berlandaskan agama dan budaya daerah. 6.1.2. Indikator sumberdaya pelayanan, fasilitas, SDM, anggaran Prasarana kesehatan di Kabupaten Kaimana masih sangat terbatas. Belum ada fasilitas rumah sakit yang dapat menampung dan mengatasi apabila ada penderita dalam keadaan darurat. Tabel 18. Prasarana Kesehatan Di Kabupaten Kaimana Tahun 2003 NO. 4. JENIS PRASARANA Puskesmas JUMLAH 4 LOKASI Kota Distrik KETERANGAN

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 17

KABUPATEN KAIMANA
5. 6. 7. 8. Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Posyandu Lain-lain Jumlah 29 75 108 Kel/kampong Kota Distrik Kel/kampong Kota Kabupaten Sebagian besar Posyandu, terutama di daerah pedesaan jarang buka dikarenakan terbatasnya jumlah tenaga paramedis

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak Sementara ini apabila terdapat orang yang sakit parah harus dikirim ke Fakfak yang tentu saja berisiko tinggi bagi penderita dan membutuhkan biaya besar karena harus menggunakan pesawat udara. Hanya ada 4 Puskesmas, sehingga setiap distrik memiliki satu Puskesmas. Puskesmas Pembantu (PUSTU) pada tingkat kampung hanya ada 29 buah atau 35% dari jumlah kampung/kelurahan yang ada. Pelayanan kesehatan di tingkat kampung lebih mengandalkan pada Posyandu dengan tenaga medis yang terbatas. Tabel 19. Keadaan Tenaga Kesehatan Di Kabupaten Kaimana Tahun 2004 NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tenaga Medis Dokter Ahli Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Lainnya Jumlah 14 25 5 44 1 2 34 21 12 70 16 4 4 25 18 9 4 31 1 Teluk Arguni Kaimana Buruway Teluk Etna

Pada tahun 2004 dokter di Kabupaten Kaimana hanya 4 orang, yaitu 2 dokter umum, dan 2 dokter gigi. Dari jumlah tersebut 3 diantaranya berada di Kota Kaimana. Disamping jumlahnya terbatas, hampir sebagian besar dokter berada di daerah perkotaan atau daerah dengan akses ke kota yang baik. Sedangkan di daerah pedesaan hampir tidak terjangkau oleh pelayanan dokter. Jumlah perawat saat ini 82 orang, Sebagian besar tenaga perawat tersebut juga berada di perkotaan, sehingga banyak Puskesmas di pedesaan yang tidak ada perawatnya. Rasio perawat terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 595. Jumlah bidan 59 orang dengan rasio bidan terhadap penduduk adalah 1 : 826. Ketersediaan obat-obatan di Kabupaten juga sangat terbatas. Umumnya pemerintah hanya mengadakan obat-obatan untuk jenis penyakit yang sering di derita penduduk yaitu malaria, TBC/ISPA, kulit dan diare. Sedangkan jenis-jenis obat lainnya tersedia di Apotek dalam jumlah yang terbatas.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 18

KABUPATEN KAIMANA

6.2. Pendidikan 6.2.1. Indikator Sumberdaya Sarana pendidikan yang baik dan berkualitas akan mendorong terciptanya kualitas sumberdaya manusia yang baik pula. Untuk itu diperlukan kualitas dan kuantitas sekolah dan tenaga pengajar yang proporsional dengan jumlah murid yang ada pada semua tingkatan mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sekolah di Kabupaten Kaimana belum mencukupi dari segi jumlah maupun distribusinya. Berikut dikemukakan keadaan sumberdaya pendidikan di Kabupaten Kaimana. Tabel 20. Keadaan Sumberdaya Pendidikan Kabupaten kaimana.
Jumlah Sekolah 6 61 7 1 75 Jumlah Murid 296 2.268 1.102 516 4.182 Jumlah Guru 17 106 80 27 230 Rasio murid/Guru 1 : 17,4 1 : 21,4 1 : 13,8 1 : 19,0 1 : 18,2

No.
1. 2. 3. 4.

JENJANG
Taman Kanak-Kanak (TK) Sekolah Dasar (SD) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) JUMLAH

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Fak-Fak, 2004


Jumlah SLTA adalah 1 dan berada di Kota Kaimana. Rasio guru terhadap murid mencapai 1 : 19,0. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 1994 ditambah suplemen dengan mengakomodasikan muatan local didalam SAPnya. 6.2.2. Output Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa orang guru di Kampung Coa Distrik Kaimana terungkap bahwa angka ketidakhadiran siswa sangat tinggi. Hal ini disebabkan dukungan dan kesadaran orangtua murid terhadappentingnya pendidikan sangat rendah. Anak sering dianggap sebagai asset ekonomi keluarga, sehingga anak-anak seringkali harus meninggalkan sekolah untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. Angka ketidakhadiran ini mencapai 30 50%. Angka ketidakhadiran yang tinggi juga disebabkan jumlah sekolah yang terbatas dan letaknya yang seringkali jauh dari tempat tinggal murid.

6.3. Pertanian
6.3.1. Indikator Sumberdaya Pelayanan Hingga saat ini dinas yang menangani lingkup pertanian dalam arti luas (pertanian pangan, peternakan, kehutanan, perkebunan, kelautan dan perikanan)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 19

KABUPATEN KAIMANA
hanya 1 Dinas. Karena pemerintah Kabupaten Kaimana masih dalam masa transisi, maka belum semua struktur Dinas Tehnis ada. Pegawai yang bertanggungjawab dibidang pertanian berjumlah masih terbatas dan berada di perkotaan. Dengan kondisi sarana/prasarana transportasi yang terbatas untuk dapat menjangkau daerah pedesaan, maka pelayanan yang diberikan relative rendah dan kurang efisien. Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di pedesaan berada pada para penyuluh. Rasio penyuluh terhadap kampong/kelurahan mencapai 1 : 8. Artinya setiap penyuluh pertanian harus menjangkau dan melayani 8 kampung/kelurahan. Keadaan di atas menyebabkan kegiatan penyuluhan tidak efektif. 6.3.2. Output

Pertanian dalam arti luas di Kabupaten Kaimana belum berkembang, baik dari segi luasan, produksi dan produktivitas. Kegiatan pertanian masih dikerjakan dengan teknik yang sederhana dengan skala yang kecil-kecil dan cenderung terpencar-pencar. Corak usahanya cenderung bersifat subsisten, kendati sudah menggunakan pasar sebagai sarana pertukaran. Di tingkat petani sebenarnya sudah terbentuk kelompok-kelompok usaha seperti kelompok tani, kelompok nelayan, dan kelompok pekebun. Namun sebagian besar kelompok usaha tersebut tidak aktif. Kelompok yang aktif umumnya yang berada di daerah perkotaan atau yang mempunyai akses baik dengan perkotaan. Sedangkan yang berada di daerah pedesaan hampir seluruhnya tidak aktif. 6.4. Prasarana dan Sarana 6.4.1. Kebijakan Daerah

Aspek prasarana dan sarana merupakan faktor penting dalam melansir upaya pembangunan daerah. Prasarana dan sarana ini sangat beragam dan mencakup bidang-bidang : penyediaan energi, industri dan perdagangan, ketenagakerjaan, pekerjaan umum dan perhubungan. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaimana terkait dengan prasarana dan sarana ditujukan untuk memberikan pelayanan, motivator dan dinamisator terhadap kegiatan pembangunan yang sedang dan akan berjalan. 6.4.2. Indikator Sumberdaya Pelayanan Perhubungan Prasarana jalan di Kabupaten Kaimana menghubungkan pusat kabupaten dengan daerah pedesaan. Jalan hanya terdapat di Distrik Kaimana. Untuk mencapai daerah-daerah pedesaan di ketiga distrik lainnya (Teluk Arguni, Buruway dan Teluk Etna) umumnya digunakan transportasi laut. Jenis alat angkutan yang sangat penting bagi masyarakat kaimana adalah kapal laut. Hal ini disebabkan kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga Kaimana mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar distrik. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan laut Kaimana selain KM Bukit Siguntang, KM Tatamailau dan beberapa kapal milik PT. PELNI yang

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 20

KABUPATEN KAIMANA
melayani Pantai Selatan Papua. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. Speedboat, longboat dan kapal nelayan digunakan untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil. Di Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kota Kaimana dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak berfungsi lagi. Salah satu jenis angkutan yang ada di Kota Kaimana adalah pesawat udara. Saat ini terdapat dua perusahaan penerbangan yakni Bali Air dan Merpati Nusantara Airline (MNA) melayani penerbangan ke dan dari Kaimana dengan pesawat jenis DHC-6 dan Fokker 27. Hampir setiap hari ada penerbangan dari dank e Kota Kaimana. Bandar udara yang ada di Kota Kaimana adalah Bandara Utarum, terletak sekitar 15 kilometer arah selatan Kota Kaimana. Bandara ini berkonstruksi aspal memiliki runway mencapai 1.600 meter dengan lebar 30 meter. Kondisi Bandara Utarum masih memungkinkan untuk dilandasi jenis pesawat yang lebih besar. Prasarana dasar yang ada di Kaimana diperuntukan untuk kepentingan pelayanan masyarakat dengan status distrik/kecamatan. Pada saat status Kaimana sebagai kabupaten, maka parasarana tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan dan standar yang layak bagi sebuah kabupaten serta sesuai dengan perkembangan dan tuntutan pembangunan. Prasarana dasar yang telah ada tersebut dikemukakan pada Tabel berikut. Tabel 21. Prasarana Dasar Yang Ada Di Kaimana Tahun 2004. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jenis Prasarana Ruas Jalan Pelabuhan Laut Pelabuhan BBM Pelabuhan Udara TPI Telekomunikasi Jaringan Listrik Fasilitas Air Bersih Pasar Pusat Pertokoan 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 7 unit 1.200 KW Terbatas 1 komp. 1 komp. operasional Operasional Operasional Tidak operasional Operasional Operasional Operasional Operasional operasional Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Kota kaimana Volume Kondisi Saat Ini
Lokasi

Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kaimana, 2004 7. LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES Sebagaimana dikemukakan terdahulu, Kabupaten Kaimana sampai dengan tahun 2003 masih di bawah pengelolaan Kabupaten Fakfak. Hampir seluruh PNS dan para pejabat di Kabupaten Kaimana berasal dari Kabupaten Fakfak, sehingga

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 21

KABUPATEN KAIMANA
pengalaman yang didapatkan semasa di kabupaten induk menjadi pengalaman untuk melaksanakan pembangunan di Kabupaten Kaimana. Beberapa pengalaman yang masih diterapkan dalam upaya penyelenggaraan pembangunan juga sama dengan yang diterapkan oleh Kabupaten Fakfak sebagai berikut. 7.1. Pembangunan Ekonomi Pengalaman yang bagus diambil dari kegiatan eksploitasi sumberdaya alam seperti PT. Freeport Indonesia di Timika dan PT. Pertamina. Kendati Kabupaten Kaimana memiliki potensi sumberdaya pertambangan cukup tinggi, namun Pemda Kabupaten kaimana sadar bahwa sumberdaya alam tersebut bersifat non renewable, sehingga program pembangunan ekonomi Kabupaten Kaimana kedepan ditujukan untuk mengembangkan sumberdaya yang renewable seperti pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan. PPK, Program Pengembangan Kecamatan yang dilakukan oleh Pemda Fakfak, yaitu pemberian dana lunak yang dikelola langsung oleh distrik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di tingkat distrik.

8.

KESIMPULAN UMUM 1. Wilayah Kabupaten Kaimana dihadapkan pada masalah isolasi, penyebaran penduduk (jumlah dan kepadatan) yang tidak merata, dan terbatasnya infrastruktur. 2. Matapencaharian penduduk bertumpu pada sektor primer (terutama pertanian dalam arti luas) yang mempunyai ciri-ciri : skala kecil, dikerjakan dengan teknik yang masih sederhana dan berorientasi subsisten. 3. Dari segi jumlah personil PEMDA masih kurang cukup memadai dengan rasio PNS terhadap jumlah penduduk 1 : 60, disamping itu penyebaran PNS masih terkonsentrasi di daerah perkotaan yang menyebabkan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang optimal. 4. Terbatasnya fasilitas dan alokasi dana operasional menyebabkan sebagian besar PNS enggan ditempatkan di daerah pedesaan. 5. Penerimaan Kabupaten Kaimana Fakfak masih bertumpu pada sumber Dana Perimbangan, sementara sumber-sumber pendapatan asli daerah belum dioptimalkan. Sejak diberlakukannya UU OTSUS penerimaan daerah meningkat dengan dialokasikannya dana OTSUS. 6. Berdasarkan karakteristik anggota DPRD Kabupaten Kaimana, perlu adanya upaya pemberdayaan sehingga mampu menjalankan fungsi DPRD. 7. Perekonomian Kabupaten Kaimana masih digerakkan oleh ekonomi pemerintah dengan peranan sektor swasta yang terbatas serta mempunyai ketergantungan yang besar terhadap daerah lain. 8. Sarana/prasarana kesehatan dan tenaga medis yang tersedia masih terbatas dan sebagian besar terkonsentrasi di perkotaan, sehingga

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 22

KABUPATEN KAIMANA
pelayanan kesehatan terbatas pedesaan dan perkotaan. dan tidak merata antara daerah

9. Ketersediaan prasarana/sarana, guru, fasilitas penunjang lainnya, kesadaran dan dukungan orangtua terhadap pentingnya pendidikan anak masih rendah. Hal ini menyebabkan angka putus sekolah relatif tinggi.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VII - 23

KABUPATEN YAPEN

VIII. KABUPATEN YAPEN


1. KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah Kabupaten Yapen merupakan salah satu dari 28 kabupaten yaitu 14 kabupaten induk dan 14 kabupaten baru di Provinsi Papua yang dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002 tertanggal 12 November 2002.. Secara astronomis Kabupaten Yapen terletak pada posisi di antara 01O 27 02O 58 Lintang Selatan dan 134O 46 - 137O 54 Bujur Timur. Batas wilayah Kabupaten Yapen adalah sbb. : Seharusnya sudah berubah sejalan dengan pemekaran, namun belum ada data dari meteorology

Gambar 1. Peta Kabupaten Yapen Secara geografis Kabupaten Yapen mempunyai batas-batas sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Kabupaten Biak Numfor : Kabupaten Waropen : Kabupaten Jayapura : Kabupaten Manokwari

Kabupaten Yapen beribukota di Kota Serui, dapat dijangkau dari daerah lain melalui sarana transportasi udara dan laut.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 1

KABUPATEN YAPEN
Wilayah Kabupaten Yapen mencakup areal seluas kurang lebih 2.050 Km2 , dengan perincian seperti tabel berikut : Tabel 1. Luas Wilayah Kabupaten Yapen Berdasarkan Peruntukan No. Peruntukan Pemukiman Budidaya Konservasi Industri Jumlah Sumber : berbagai tulisan
Keterangan *): diragukan dengan adanya illegal logging (LSM Papua Lestari) **): termasuk Yapen dan Waropen

Luasan (%)**) 1.18 2.65 95.86*) 0.31 100

1. 2. 3. 4.

1.2. Pembagian Administratif Wilayah Secara administratif Kabupaten Yapen dibagi kedalam 5(lima) distrik, yaitu : Distrik Yapen Barat, Yapen Timur, Distrik Yapen Selatan, Distrik Angkaisera, dan Distrik Poom, terdiri dari 111 kampung (desa) dan 5 kelurahan. Pembagian secara administratif Kabupaten Yapen disajikan pada table 2. Tabel 2. Pembagian Adminiistrasi Pemerintahan Kabupaten Yapen No. 1. 2 3. 4. 5. Yapen Barat Yapen Timur Yapen Selatan Angkaisera Poom Jumlah Sumber : Yapen Dalam Angka, 2003 1.3. Keadaan Sosial Ekonomi 1.3.1. Penduduk Pada Tahun 2003 Jumlah penduduk Kabupaten Yapen sebanyak 70.522 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 35.922 jiwa, dan perempuan sebanyak 34.600 jiwa. Pertumbuhan penduduk sebesar 2,55 % per tahun, sebelum pemekaran, pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 2.75 %. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penduduk Kabupaten Yapen relatif lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Yapen Waropen, artinya sejalan pemekaran terjadi perpindahan penduduk dari Yapen ke Waropen. Kepadatan penduduk di Kabupaten sebesar 34.86 jiwa/km2, kepadatan tertinggi di Distrik Yapen Selatan sebesar 313.15 jiwa/km2, kepadatan Distrik Jumlah Kampung 14 35 22 26 14 111 Jumlah Kelurahan 1 4 5

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 2

KABUPATEN YAPEN
terendah di Distrik Yapen Timur sebesar 20.60 jiwa/km2. Terpisahnya Kabupaten Waropen, menyebabkan terjadi peningkatan kepadatan penduduk dari 4.79 jiwa/km2 menjadi 34.86 jiwa/km2, hal ini disebabkan dengan jumlah penduduk sama namun wilayah Kabupaten yang lebih kecil. Penduduk yang bertempat tinggal di pesisir terdiri dari suku asli Papua yaitu Serui dan suku luar Papua yaitu Bugis Makassar, sementara itu penduduk di pusat pusat distrik maupun perkotaan berbaur yaitu mereka asli Papua (Serui, Biak, dll) dari luar Papua yang terdiri dari Suku Toraja, Makassar, Batak, dan Jawa. Penduduk beragama Kristen masih dominant, disamping agama Islam. Dalam menjalankan ibadah belum pernah terjadi konflik antar umat, kebersamaan hidup antar umat ini berjalan harmonis, hal ini dapat dilihat dari letak rumah ibadah mesjid dan gereja yang berdekatan. Mata pencaharian penduduk dominant sebagai nelayan dan petani. Kabupaten Yapen yang dikelilingi lautan dimana penduduk dominant bertempat tinggal di pesisir pantai menjadikan menangkap ikan di laut merupakan kebiasaan yang dijadikan mata pencaharian. Sebagian besar penduduk pernah duduk di bangku sekolah, masih terdapat 6,03 % penduduk tidak pernah sekolah yaitu mereka yang telah berusia lanjut, namun sebagian besar mereka telah dapat baca hitung dari hasil paket pemberantasan buta huruf pada decade 1970 hingga 1990 yang lalu. Tampaknya belum terlihat dampak otonomi khusus terhadap perubahan mata pencaharian penduduk maupun perubahan berarti dalam tingkat pendidikan penduduk. Hal ini diduga karena otonomi khusus baru berlangsung kurang lebih 2 (dua) tahun anggaran 1.3.2. Lembaga Sosial Masyarakat Banyak lembaga social masyarakat (LSM) yang terbentuk sejak Tahun 2000, lembaga lembaga tersebut dalam bentuk yayasan yang mempunyai kerjasama khususnya dengan Bappedalda bekenaan dengan konservasi lingkungan hidup. Satu-satunya lembaga social masyarakat yang menggunakan nama LSM yaitu LSM Papua Lestari yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan khususnya perairan. Keberadaan yayasan-yayasan ini belum mendapatkan ijin pendiriannya secara hukum, dalam melakukan kegiatannya masih bersifat seasonal, bahkan belum memiliki struktur organisasi personal yang tetap, kegiatannya sering diperoleh melalui aparat pemda setempat. 1.3.3. Kegiatan Ekonomi Masyarakat Kurang lebih 30% dari penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan sekaligus sebagai petani dengan struktur pendapatan rendah hingga menengah. Hasil tangkapan tergantung pada musim, pada musim teduh maka hasill tangkapan relative besar, sebaliknya nelayan akan mendapat hasil yang relative kecil dan bahkan tidak akan melaut. Pada saat hasil tangkapan besar maka harga persatuan ikan akan turun, sebaliknya akan meningkat. Walaupun hasil perikanan yang ditangkap dalam ukuran nominal dapat dikatakan relative besar pada musimnya akan tetapi dalam nilai rupiah hasil ini relative kecil, bahkan seringkali hasil tangkapan diberikan secara Cuma-Cuma

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 3

KABUPATEN YAPEN
kepada tetangga ataupun kerabat lainnya. Dengan demikian usaha nelayan yang dilakukan oleh penduduk dapat dikatakan usaha bercorak subsiten. Di samping sebagai nelayan, penduduk juga bercocok tanam. Jenis tanaman yang diusahakan yaitu hortikultura dominan kentang, palawija seperti singkong, ubijalar, dan tanaman perkebunan seperti kopi, kelapa, dan kakao. Pengusahaan tanaman hortikultur dan palawija dilakukan berpola campuran, sementara itu tanaman perkebunan dilakukan berpola khusus. Usahatani inipun diusahakan dengan corak subsiten, dimana sebagian besar hasilnya dikonsumsi baik melalui peredaran uang ataupun tidak. 1.4. Angka Kemiskinan Dari data Susenas Tahun 2004, sebanyak 30.200 jiwa (43.23 %) penduduk Kabupaten Yapen dikategorikan penduduk miskin dimana rata-rata pendapatan perbulan sebesar Rp. 119.000. Mereka adalah penduduk bermata pencaharian nelayan dan petani palawija. Sementara itu petani pekebun termasuk petani yang relative berpendapatan lebih baik dari nelayan dan petani palawija. Sementara itu angka kemiskinan menurut BKKBN, sebesar 25.848 jiwa (37.10 %). Angka ini relative lebih rendah dari Susenas karena criteria yang berbeda yaitu BKKBN menggolongkan dengan criteria perumahan penduduk sedangkan Susenas berdasarkan pendapatan. Menurut Biro Pusat Statistik-UNDP, 2004, Indeks Kemiskinan Manusia di Kabupaten Yapen Tahun 1999 dan 2002 adalah sebagai berikut. Tabel 3. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Kabupaten Yapen Tahun 1999 dan 2002.
Uraian Yapen 1999 *) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penduduk Yang diperkirakan tidak mencapai usia 40 tahun (%) Angka Buta Huruf Penduduk Dewasa (%) Penduduk tanpa akses pada air bersih (%) Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan (%) Balita kurang gizi (%) Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Ranking IKM terhadap Papua Ranking IKM terhadap Indonesia 21.0 14.5 69.4 36.0 30.0 32.6 5 238 2002 *) 20.5 34.1 89.6 36.1 25.8 38.9 3 331 Papua 1999 17.8 28.8 54.5 36.0 28.3 31.3 2002 16.8 25.6 61.6 36.1 24.3 30.9 Indonesia 1999 15.2 11.6 51.9 21.6 30.0 25.2 2002 15.0 10.5 44.8 23.1 25.8 22.7

No.

Keterangan : *) Meliputi Yapen dan Waropen Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 4

KABUPATEN YAPEN

Tabel 4. Kondisi Perumahan Di Kabupaten Yapen Tahun 1999 dan 2000.


No. Uraian Yapen*) 1999 1. 2. 3. Rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air bersih (%) Rumah tangga yang tinggal di rumah berlantai tanah (%) Rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi (%) 30.6 13.7 56.3 2000 10.4 14.5 67.4 Papua 1999 45.5 12.6 38.9 2000 38.4 22.1 51.4 Indonesia 1999 2000 55.2 16.7 25.0

Keterangan : *) Meliputi Yapen dan Waropen Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Tabel 5. No.
1. 2. 3.

Pengeluaran Rumah tangga untuk pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Yapen Tahun 2002. Uraian Pengeluaran Yapen*)
0.09 0.32 0.41

Papua
1.26 1.02 2.28

Indonesia
2.40 2.20 4.60

Pendidikan (%) Kesehatan (%) Kesehatan & Pendidikan (%)

Keterangan : *) Meliputi Yapen dan Waropen Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Selama kurun waktu 3 (tiga) tahun, belum terjadi perbaikan indeks kemiskinan di daerah ini, cenderung mengalami penurunan. Dari persentase penduduk tanpa air bersih yang semakin meningkat, jumlahrumah tangga dengan rumah berlantai tanah semakin meningkat. Diduga pendapatan rumah tangga yang rendah menyebabkan akses rumahtangga terhadap kualitas hidup lebih baik menjadi lebih rendah.

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


2.1. Kapasitas Personil Personil pemerintahan daerah kabupaten sebanyak 2983 orang yang terdiri dari 54.31 % pegawai daerah, 39.86 % pegawai pusat yang dipekerjakan, dan 5.83 % pegawai pusat yang diperbantukan. Jumlah pegawai negeri di Kabupaten Yapen Tahun 2003 menurut golongan dan tingkat pendidikan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 6. Jumlah Pegawai Negeri Menurut Golongan di Kabupaten Yapen, 2003
No. 1. 2. 3. 4. I II III IV Golongan Pegawai Jumlah 142 1.488 1.143 210 Nisbah 4.76 49.88 38.32 7.04

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 5

KABUPATEN YAPEN
Total 2.983 100

Sumber : Yapen dalam Angka, 2003 Tabel 7. Jumlah Pegawai Negeri Menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Yapen, 2003 No. 1. 2. 3. 4. Tingkat Pendidikan PNS Sekolah Dasar SLTP SLTA Perguruan Tinggi Total Sumber : Yapen dalam Angka, 2003 Apabila dilihat dari kapasitas pendidikan, dapat dikatakan pegawai negeri yang bekerja di daerah cukup baik yaitu sebagian besar berpendidikan SLTA hingga Perguruan Tinggi. Pegawai Negeri yang berpendidikan Perguruan Tinggi yaitu mereka dari sarjana muda hingga tamat S2. Sementara itu mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar hingga SLTP adalah pegawai di tingkat kampung dan penjaga sekolah serta pesuruh di kantor-kantor dinas. Data pegawai menurut jenis kelamin tidak dapat diperoleh, setelah mencari dan menunggu pihak yang berwenang terhadap data pegawai dari setiap instansi tidak diperoleh, maka digunakan sumber Yapen dalam Angka. Dari sumber ini tidak ditemukan jumlah pegawai negeri di daerah ini menurut jenis kelamin maupun tingkat pendidikan. Jumlah pelatihan dan jumlah pegawai yang mengikuti pelatihan belum direkam dengan baik sehingga pada saat data diminta tidak ada satu instansipun yang dapat memberikannya. 2.2. Kapasitas sarana dan prasarana Perkantoran Pemerintah Kabupaten Yapen terletak dalam satu kawasan, kecuali Dinas Tanaman pangan yang letaknya terpisah. Walaupun satu kawasan namun masing-masing kantor melayani sendiri-sendiri. Letak seperti ini sangat menguntungkan dalam koordinasi antar perkantoran yakni dapat menghemat biaya transportasi kemudian dapat menghemat biaya pembangunan untuk sarana transportasi masing-masing dinas. Rata-rata dinas mendapatkan 1 (satu) unit kendaraan dinas roda empat, dan 4 (empat) unit kendaraan roda dua. Rata-rata dinas mempunyai 1 (satu) unit telepon dan 1 (satu) unit faksimil. Pada dinas-dinas tertentu terdapat SSB yaitu alat penghubung daerah yang tidak dapat dijangkau dengan telepon, seperti Dinas Tanaman Pangan,dinas Kehutanan, disamping kantor bupati sendiri. Pertumbuhan perumahan dinas yang dimiliki hampir tidak ada, bahkan untuk saat ini beberapa unit rumah dinas yang terletak di Jalan Sudirman akan dilakukan pelepasan kepada para pemilik yang telah mendiami rumah tersebut selama lebih dari 15 tahun (sumber: pegawai Dinas Perkebunan) Kurang lebih 60 % pegawai yang tidak mendapatkan rumah dinas, mereka mengusahakan sendiri melalui kontrakan ataupun rumah pribadi. Jumlah 79 87 1437 1380 2.983 Nisbah 2.65 2.92 48.17 46.26 100

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 6

KABUPATEN YAPEN

2.3.

Kapasitas dan Struktur Organisasi

Pemerintah Daerah Yapen dikategorikan dalam kabupaten induk dengan Kabupaten Waropen hasil pemekaran daripadanya. Tipe Bappeda yang ada yaitu Tipe C. Struktur organisasi Kabupaten Yapen terdiri dari seorang bupati, seorang wakil bupati, Sekretariat Daerah, 5 Badan, pelaksana teknis sebanyak 19 dinas, lembaga penunjang yaitu kantor sebanyak 3 kantor yaitu sebangai berikut. Tabel 8. Jenjang dan Nama-nama Organisasi Pembangunan di Kabupaten Yapen Tahun 2003 Jenjang Organisasi Badan Nama-nama Organisasi Bappeda, Bappedalda, Badan Kesatuan Bangsa, Badan Pengawasan daerah, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Informasi dan Komunikasi, Tata Kota, Pemuda dan Olahraga, Pekerjaan Umum, Perhubungan, Kesehatan, Pendidikan dan Pengajaran, Pariwisata, Kesejahteraan Sosial, Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Pemukiman, Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perikanan, Kehutanan, Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan, dan Pendapatan Daerah. Pusat Data Elektronik, Perpustakaan dan Arsip Daerah, dan Perlindungan Masyarakat

No. 1.

2.

Pelaksana Teknis (Dinas)

3.

Lembaga (Kantor)

Penunjang

Sumber : Laporan Anggaran dan Pendapatan Daerah Kabupaten Yapen, 2003 Di samping organisasi pemerintah daerah diatas terdapat badan usaha untuk pelayanan yang dikelola secara komersial yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM ) dan Perusahaan Daerah (PD) Irian Bakti dengan jumlah pegawai sebagai berikut. Tabel 9. Jumlah Pegawai Badan Usaha Milik Daerah Menurut Golongan di Kabupaten Yapen, 2003 No. 1. 2. Perusahaan Perusahaan Daerah Air Minum Perusahaan Daerah Irian Bakti Golongan Pegawai (Jiwa) I 1 II 1 6 III 6 2 IV 10 Total 17 9

Sumber : Data Primer, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 7

KABUPATEN YAPEN
Struktur kepegawaian di PDAM sedikit berbeda dengan PD Irian Bakti, dimana golongan tertinggi di PDAM adalah Golongan I. Sesuai dengan ketetapan baru di PDAM dengan kapasitas usahanya maka struktur organisasi yaitu mempunyai 1(satu) orang pimpinan atau direktur, kepala bagian sebanyak 6 (enam) orang, dan staf pelaksana sebanyak 10 orang. Bila dilihat dari jenis kelamin dan tingkat pendidikan, terdapat 14 orang laki-laki, dan 3 (tiga) orang perempuan; terdapat 3(tiga) orang berpendidikan Diploma, 13 orang lulusan SLTA, dan 1 (satu) orang berpendidikan SD. Fasilitas yang dimiliki oleh PDAM yaitu gedung 1 (satu) unit dengan luas 256 m2. Perusahaan Daerah Irian Bhakti didirikan berdasarkan Perda No. 5 Tahun 1986. Menurut jenis kelamin yaitu 7 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dalam usahanya, PD Irian Bakti tidak memberikan retribusi kepada Pemda Kabupaten Yapen karena saham keseluruhannya dimiliki gubernur dan tidak ada kontrak kerja dengan Pemda Kabupaten Yapen. Di Kabupaten ini, PD Irian Bakti hanya bekerjasama dengan Dolog dan perusahaan angkutan dalam pendistribusian beras jatah ke daerah-daerah. Saat ini PD Irian Bakti sedang mengupayakan kerjasama dengan Pemda Kabupaten Yapen agar lebih meningkatkan kinerja dan pendapatan perusahaan dan Kabupaten Yapen. Dengan demikian belum ada perubahan kontribusi perusahaan PD Irian Bakti ini pada kabupaten di era otonomi khusus ini. 2.4. Observasi tentang Kapasitas Pemda Rasio PNS terhadap jumlah penduduk di Yapen adalah 1 : 24, artinya setiap PNS melayani 24 orang penduduk. Rasio ini sebenarnya sudah cukup baik, akan tetapi distribusi PNS yang sebagian besar (lebih dari 80%) berada di daerah perkotaan menyebabkan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Hal ini diperburuk oleh rendahnya aksesibilitas daerah pedesaan yang menyebabkan rendahnya mobilitas PNS ke daerah-daerah pedesaan. Disamping itu, terbatasnya fasilitas dan dana operasional menyebabkan sebagian besar PNS enggan ditempatkan di daerah pedesaan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sering terjadi keterlambatan penerimaan gaji PNS di pedesaan 2 3 bulan. Di tingkat kabupaten, kurang efektifnya pelayanan terkait dengan right person in the right place. Sejumlah orang menempati posisi yang bukan bidang keahliannya, sehingga produktivitasnya tidak optimal. Sampai dengan akhir tahun 2004, pemerintah daerah Kabupaten Yapen masih dalam masa transisi. Anggota DPRD baru dilantik, sementara Ketua DPRD belum dilantik. Hal ini menyebabkan pihak eksekutif belum mempunyai legitimasi untuk menjalankan roda pemerintahan dan masih bersifat menunggu. Keaadaan ini dimanfaatkan oleh sebagian besar PNS untuk melakukan lobi-lobi agar dapat menduduki posisi tertentu, sehingga menimbulkan banyak PNS yang melakukan petualangan, artinya mereka melakukan upaya-upaya yang berorientasi untuk memperoleh jabatan-jabatan tertentu dan belum berorientasi pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

3.

KEUANGAN DAERAH
3.1. Pendapatan

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 8

KABUPATEN YAPEN
Sampai Tahun 2004 ini belum terjadi pemisahan perhitungan pendapatan daerah antara Kabupaten Yapen dengan Waropen, dengan demikian masih dinamakan Pendapatan daerah Kabupaten Yapen Waropen. Komposisi pembentuk pendapatan daerah Kabupaten Yapen Waropen dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 10. Komposisi Pembentuk Pendapatan Daerah Kabupaten Yapen Waropen Tahun 2000 hingga 2003 Komposisi (%) pada Tahun 2000*) 0.97 15.49 0 5.35 78.21 0 64.083,18 2001*) 0.58 9.58 0 5.23 84.51 0 182.764,25 2002*) 1.19 6.98 0 3.76 86.49 2 244.457,08 2003 0.91 8.72 0.48 3.98 75.43 9 289.627,97

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Komponen Pendapatan Pendapatan Asli Daerah Bagi hasil Pajak PusatDaerah Bagi Hasil Pajak PropDaerah Bagi Hasil Non Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus

Total (juta Rp)

Sumber : Laporan Anggaran dan Pendapatan Daerah Kabupaten Yapen, 2003 Keterangan : *) Masih dalam Kabupaten Yapen Waropen Pendapatan daerah meningkat dari tahun ke tahun dengan peningkatan yang semakin kecil. Sebagian besar komponen penyusun pendapatan ini adalah Dana Alokasi Umum. Sementara itu pendapatan asli daerah relatif sangat rendah Pendapatan asli daerah Kabupaten Yapen terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagi laba dari BUMD, dan pendapatan lain-lain yang sah. Dari besaran PAD yang diperoleh terjadi kecenderungan penurunan atau PAD yang semakin kecil dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2001 terjadi peningkatan sebesar 70 %, pada Tahun 2002 peningkatan sebesar 176 %, akan tetapi pada Tahun 2003 diperoleh penurunan sebesar minus sebesar 9 %. Hal ini terjadi bukan karena pemisahan Waropen akan tetapi semata-mata karena penurunan semua materi penyusun pendapatan asli daerah Bagi Hasil dari pusat ke daerah Yapen Waropen terdiri Pajak Bumi dan Bangunan ditambah dengan Pajak Penghasilan. Terjadi kecenderungan penurunan pendapatan dari bagi hasil pajak dari pusat, propinsi ke daerah Yapen Waropen. Bagi Hasil Non Pajak diperoleh dari hasil deviden usaha BUMD yang ada di daerah. Pada Tahun 2000 dan Tahun 2001 dana perimbangan pusat-daerah berupa dana alokasi umum. Pada Tahun 2002 dan 2003 dana ini terdiri dari dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan bantuan dari propinsi. Dana alokasi

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 9

KABUPATEN YAPEN
khusus selama Tahun 2002 dan 2003 masih demikian kecil persentasenya terhadap APBD yaitu Tahun 2002 sebesar 2 % dan Tahun 2003 sebesar 9 %. 3.2. Pengeluaran Bentuk neraca pengeluaran mengalami perubahan sejak Tahun 2003, dimana pada Tahun 2000 hingga 2002, perubahan pengeluaran terjadi pada istilah dimana pada Tahun 2000 2002 pengeluaran dibagi pada 3 (tiga) bagian yaitu belanja rutin, dan belanja pembangunan, dimana pada bagian belanja rutin adalah total perjalanan dinas dari seluruh aparatur daerah. Pada Neraca Tahun 2003 perjalanan dinas dipisahakan antar dinas-dinas yang ada. Pengeluaran pengeluaran untuk gaji. peningkatan untuk aparatur cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dimana lain-lain merupakan pengeluaran terbesar setelah pengeluaran Perjalanan dinas adalah pengeluaran aparatur yang mengalami terbesar dari tahun ke tahun.

Apabila dilihat dari persentase dari keseluruhan pengeluaran, maka dapat dikatakan bahwa setelah pengeluaran untuk gaji pegawai, bagian pengel;uaran terbesar adalah pengeluaran untuk sarana dan prasarana. Yaitu berkisar 11 % hingga 30 %. Tabel 11. Persentase Pengeluaran Daerah menurut Sektor Pembangunan, Kabupaten Yapen Waropen Tahun 2000 2003 Sektor Pertanian dan Kehut. Tenaga Kerja Perdagangan UKM Transportasi Pariwisata Pemb. Dan Pemukiman Lingkungan dan Tataruang Dikbud Kesehatan dan Kessos Perumahan dan Pemukim Agama Hukum Pengawasan Aparatur Kom Mediamassa Ilmu Peng. &Kom Ketertiban Umum Total (Rupiah) 2000 2001 2002 2003

6,01 0,00 4,41 38,38 0,30 7,26 1,15 19,86 3,50 3,54 0,51 0,00 14,54 0,55 0,00 0,00 100 26.545.402.626

6,73 0,19 2,62 33,65 1,38 10,19 4,73 6,39 5,18 8,68 0,44 0,41 17,43 1,96 0,00 0,00 100 73.935.439.277

10,14 0,60 8,59 11,40 1,00 2,09 1,55 4,45 4,79 13,99 0,00 0,30 37,08 0,46 2,40 1,15 100 49.969.660.400

4,93 0,45 1,87 1,28 0,63 0,77 5,54 18,91 8,60 0,77 0,75 0,00 0,56 0,68 19,23 0,33 309.787.581.441

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 10

KABUPATEN YAPEN
Sumber : Neraca APBD Kabupaten Yapen, 2003, Kab. Yapen Waropen 20002002 Pengeluaran untuk public yaitu pengeluaran untuk pembangunan meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi pengeluaran ini masih bersifat fisik. Dana Otonomi khusus yang diutamakan untuk pembangunan pelayanan masyarakat tidak tercapai, masih ditujukan untuk biaya fisik, contohnya pembangunan bangunan perkantoran dan bukan untuk pelayanan masyarakat lainnya. Pengeluaran public terbesar pada Tahun 2000 hingga 2002 di sector transportasi, yaitu pengadaan transportasi laut dan pengadaan mobil dinas baru disamping pembangunan jalan. Pada Tahun 2003 pengeluaran terbesar di sector pendidikan. Pengeluaran public yang berasal dari dana Otonomi Khusus (Tahun 2002) terbesar pada sector pertanian dan Kehutanan, dan Kepercayaan dan Olahraga. Sementara itu sector pendidikan dan kesehatan tidak seperti yang ditetapkan pada Otonomi Khusus yaitu 30 % dari dana. Pada Tahun 2003 tidak tersedia data penggunaan Otonomi Khusus pada sectorsektor fisik. Dengan demikian tidak dapat ditelusuri penggunaan Dana Otonomi Khusus, namun menurut Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten yapen dana Otonomi Khusus untuk pelatihan/penataran guru yang dianggarkan kurang lebih Rp. 275 juta baru dicairkan sebesar Rp. 115 juta. (sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran) 3.3. Pengeluaran pembangunan dengan Dana Propinsi Sejak Tahun Tahun 2002 Kabupaten Yapen waropen mendapatkan dana dari propinsi untuk kebutuhan anggaran daerahnya yaitu Dana Otonomi Khusus. Pada Tahun 2002 sebesar Rp. 27.174.819.000, Tahun 2003 menurun menjadi Rp. 24.690.430.400 yang dianggarkan ke sector-sektor sebagai berikut : Tabel 12. Pengeluaran Sektor dengan Dana Otonomi Khusus Tahun 2002 dan Tahun 2003 No. 1. 2. 3. 4. 5. Sektor Besaran Dana (%) Tahun 2002 Tahun 2003 29.26 25.74 13.30 10.07 31.41 17.42 15.55 43.94 0.00 10.47 27.174.819.000 2.83 0.00 24.690.430.400

Pendidikan Kesehatan Pemberdayaan Ekonomi Infrastruktur Aparatur Pemerintah dan Pengawasan 6. Kesejahteraan Sosial Total (Rp) Sumber: Bappeda, 2004

Penurunan Dana yang terprogram ini terjadi akibat terjadinya alokasi dana segar untuk masing-masing sector tersebut. Pada Tahun 2002 dana otsus diperuntukkan pada program yang diarahkan ditambah dengan program langsung yang ditentukan oleh propinsi, sedangkan pada Tahun 2003 dana otsus diarahkan pada tiga bagian yaitu Dana untuk program yang diarahkan oleh kabupaten, dana segar langsung ke penanggung jawab program, dan dana untuk program yang ditentukan oleh propinsi.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 11

KABUPATEN YAPEN
Dari proporsi dana untuk masing-masing sector, tampaknya target 30 % yang diarahkan pada pendidikan belum tercapai bahkan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Demikian juga untuk kesehatan besarannya belum mencapai yang ditetapkan bahkan jauh lebih kecil yaitu 13.30 % pada Tahun 2002, dan menurun menjadi 10.07 % pada Tahun 2003. Disamping Otonomi Khusus diatas, pada Tahun 2002, daerah ini juga menerima bantuan dari propinsi sebesar Rp. 46.061.244.186, dan Tahun 2003 sebesar Rp. 43.190.430.400. Besaran anggaran yang dikelola oleh daerah seperti diatas tampaknya belum berdampaknpada peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat maupun peningkatan pendidikan di daerah ini. 3.4. Pengeluaran pembangunan dengan Dana Pusat

Rendahnya Pendapatan Asli Daerah menyebabkan dalam membelanjai anggaran daerah, Pemerintah daerah mendapatkan bantuan dana dalam bentuk pinjaman dari pusat. Pada Tahun 2001 diperoleh pinjaman dari pusat sebesar Rp. 2.500.000.000, Tahun 2002 sebesar Rp. 730.000.000, dan pada Tahun 2003 sebesar Rp. 28.000.000.000. Pada Tahun 2003, pinjaman ini dicicil baru dibayar sebesar Rp. 3.529.329.372. 3.5. Pengeluaran dari Dana Dekon

Pada Tahun 2003 dana Dekonsentrasi yaitu dana dari APBN Pusat untuk membantu kelancaran pembangunan daerah diarahkan pada dinas-dinas sebagai berikut; Tabel 13. No 1. Program dan Besar Dana Dekonsentrasi Sektoral Kabupaten Yapen Tahun, 2003. Dinas dan Program BKKBN Penguatan Kelembagaan dan Jaringan KB Pelayanan Keluarga Berencana Badan Pusat Statistik Prasarana Fisik Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Pengembangan Prasarana dan Sarana Pemukiman Pengembangan Perumahan dan Pemukiman Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Dinas Sosial Penguatan dan Pengembangan Potensi Kesejahteraan Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Perluasan Lapangan Kerja dan Pengurangan Pengangguran Kantor Agama Peningkatan Perguruan Agama Islam Tingkat dasar Dinas Kesehatan Peningkatan Upaya Kesehatan Jumlah Dana Dekon 125.184.000 84.784.000 43.372.000 887.894.000 200.000.000 25.000.000 2.250.000.000

2. 3.

4.

5.

146.500.000

6.

3.000.000

7.

1.275.192.000

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 12

KABUPATEN YAPEN
Dinas Pendidikan dan Pengajaran Pengembangan Pendidikan Luar sekolah 896.141.000 Peningkatan Mutu Sekolah Menengah 452.250.000 Pengembangan Balai Penataran Guru 78.850.000 9. Kantor Kehakiman dan hak Azasi Manusia Pembinaan Pemasyarakatan 694.805.000 Pembinaan Peradilan Umum dan PTUN 756.300.000 10. Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Pengembangan Pelayanan Transportasi Udara 1.275.021.000 Pengembangan Fasilitas Pelabuhan Laut 1.655.789.000 Pengembangan lalu Lintas jalan 487.301.000 Pengembangan Transportasi SDP 17.444.486.000 11. Dinas Koperasi dan UKM Pengembangan Kebijakan Peningkatan Sistem 97.425.000 Pendukung Usaha Kecil dan Menengah Pengembangan Kebijkanj Peningkatan 181.558.000 Kewirausahaan dan Daya saing UKM 12. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah 150.000.000 13. Dinas Pertanian Pengembangan Agribisnis Hortikultura 300.000.000 Pengembangan Agribisnis Peternakan 599.050.000 Pengembangan kawasan Industri masyarakat 497.300.000 Perkebunan Pengembangan karantina Pertanian 114.141.000 Sumber : Dana Dekonsentrasi (Sektoral) Kabupaten Yapen 2003 Besaran dana dekon tersebut diatas setelah dikaji ulang di lapangan, ternyata belum semua dana dipergunakan oleh masing-masing instansi yang berwenang, terlihat yang benar-benar berdampak langsung dirasakan oleh masyarakat adalah dana dekon pada Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi, Dinas Koperasi dan UKM. 3.6. Pengendalian, Pengawasan, dan Audit 8.

Tahun Anggaran dimulai Bulan Januari, akan tetapi turunnya dana seringkali terlambat. Pada Tahun 2000 dana turun pada bulan September, Tahun 2001 pada bulan September, pada Tahun 2002 dan 2003 pada bulan Oktober. Dengan demikian pembiayaan masing-masing sector dilakukan dengan menggunakan dana sendiri menunggu turunnya dana, dan seringkali penggunaan dana dilakukan selama 2 bulan efektif. Dengan demikian dapat dikatakan waktu anggaran di daerah ini berjalan tidak tepat waktu, walaupun perencanaan masing-masing anggaran masuk tepat waktu di bagian perencanaan dan pengendalian pembangunan daerah. Pengawasan yang dilakukan selama 4 tahun analisa, baru berlangsung 3 kali, yaitu 2 kali dilakukan oleh Bawasda, 1 kali dilakukan oleh BPK pusat. Pengawasan yang dilakukan oleh Bawasda dilakukan pada awal Tahun 2002 dan awal Tahun 2004 yang lalu. Sementara itu pengawasan yang dilakukan oleh BPK dilakukan pada akhir Tahun 2001. Pengawasan yang dilakukan meliputi bagian keuangan Pemerintah daerah dan dinas secara keseluruhan. Namun

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 13

KABUPATEN YAPEN
disayangkan hasil audit yang dilakukan belum ada yang diproses lebih lanjut, bahkan tidak ada publikasi bagi masyarakat.

4. PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD Kabupaten Yapen hasil Pemilu April 2004 beranggotakan 20 orang, dengan penyebaran menurut tingkat pendidikan, suku bangsa, agama, dan asal partai disajikan pada tabel berikut. Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Yapen sebelum Tahun 2004 masih bernama Dewan perwakillan Rakyat Kabupaten Yapen Waropen. Dalam analisis kinerja menggunakan kinerja DPRD Tahun 1999 2004. Wawancara dilakukan pada Sekretaris DPRD Kabupaten Yapen. Peraturan daerah yang dihasilkan oleh DPRD 1999-2004 sebanyak 5 buah mengenai anggaran belanja daerah, dan 5 buah mengenai hasil evaluasi pelaksanaan anggaran daerah. Jumlah pengaduan masyarakat yang masuk pada DPRD berupa penanganan kasus tanah, yaitu permnintaan ganti rugi tanah dari pemda yang digunakan menjadi kawasan perkantoran. Hingga kini kasus ganti rugi tanah masih berlanjut, tanpa penanganan tuintas. Pengaduan lainnya yang pernah ditangani namun belum mampu menyelesaikannya adalah tuntutan masyarakat atas gaji dan pesangon atas PHK dari para karyawan terhadap PT Kodeko sebanyak 4 (empat) kali dengan cara demonstrasi. Namun hingga kini belum tuntas.

Tabel 14. Sebaran Anggota Dewan di Kabupaten Yapen April, 2004 No. 1. Kriteria Anggota Dewan Tingkat Pendidikan SLTA Diploma Sarjana Total Suku Bangsa Papua Luar Papua Total Agama Kristen Protestan Kristen katolik Islam Total Asal Partai Golkar PDIP Partai Patriot Pancasila Partai Merdeka PPDK Jumlah (orang) 15 3 2 20 14 6 20 16 1 3 20 5 4 2 2 2 Nisbah (%) 75 10 15 100 70 30 100 80 5 15 100 25 20 10 10 10

2.

3.

4.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 14

KABUPATEN YAPEN
Pelopor Persatuan Daerah Damai Sejahtera Keadilan Sejahtera Amanat Nasional Total 5. Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Sumber : Sekretaris DPRD Yapen, 2004 Partai Partai Partai Partai Partai 1 1 1 1 1 20 1 19 20 5 5 5 5 5 100 5 95 100

Frekuensi kunjungan anggota dewan selama masa jabatan 1999-2004 sebagai berikut; ke dalam daerah yaitu ke kecamatan 12 kali yaitu 3 kali se tahun dengan membagi anggota dewan berdasarkan fraksi (A-E), ke luar daerah sebanyak 5 (kali) yaitu ke Jawa Timur 1 kali, Jogya 2 kali, Bali 1 kali, dan ke Sulsel 1 kali. Sementara itu ke luar negeri adalah ketua dewan yaitu ke Singapura. Pelaporan yang dilakukan hampir tidak ada, terdapat 2 kali pelaporan yaitu kunjungan ke Jogya, dan kunjungan ke Sulawesi Selatan. 4.1. BPK/BPD/LKMD Dari pengamatan di 2 (dua) distrik, yaitu Distrik Angkaisera dan Distrik Yapen Barat, terlihat bahwa di distrik Angkaisera BPK yang dinamakan Badan Perwakilan Kampung (Baperkam) memiliki seorang kepala kampung dan seorang sekretaris, dengan 3 (tiga) orang Kepala Urusan, dan sebuah Lembaga yaitu Lembaga Ketahan Kampung. Lembaga ini berjalan aktif, dimana pemilihannya dilakukan oleh masyarakat setempat yang dituangkan dalam sebuah ketetapan Distrik yang disahkan oleh Bupati. Hal ini diduga karena kedua distrik ini adalah distrik yang mudah dijangkau dari pusat kabupaten. Fungsi Lembaga Ketahan Kampung sangat nyata di distrik Angkaisera dalam penyelesaian masalah-masalah masyarakat, pemecahan masalah adat, perselingkuhan, hingga masalah kesehatan lingkungan. Sementara itu Kepalakepala Urusan yang dipilih relatif hanya mengurusi andministrasi kampung. 4.2. Sistem Pengadilan Pengadilan Negeri Kabupaten Yapen, dipimpin seorang ketua dibantu dengan hakim baik senior maupun junior, dan beberapa orang bekerja sebagai panitera. Jumlah kasus yang ditangani selama Tahun 2003 adalah sebanyak 88 kasus pidana dengan rincian sebanyak 53 kasus sisa tahun lalu, d 35 kasus yang masuk pada tahun 2003. Dari jumlah kasus tersebut telah diselesaikan sebanyak 36 kasus, dan belum dituntaskan sebayak 52 kasus. Dengan demikian jumlah kasus yang tertunda masih lebih besar dibandingkan kasus yang terselesaikan. Disamping itu terdapat juga Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Yapen, dipimpin seorang ketua, dan beberapa orang jaksa senior dan beberapa orang jaksa muda baik yang sudah mendapatkan sertifikat jaksa maupun yang belum yaitu mereka penempatan pegawai Tahun 2004.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 15

KABUPATEN YAPEN
Sampai saat ini belum ada pengadilan tradisional secara legal dan terbuka bagi masyarakat, akan tetapi dalam pemecahan konflik antar masyarakat dapat dipecahkan melalui musyawarah adat yang tidak menetapkan siapa yang dapat mengadili. 4.3. Keikutsertaan masyarakat di perencanaan pembangunan local Dewan Perwakilan Daerah ikut serta secara proaktif dalam perencanaan pembangunan daerah, hal ini terlihat dengan diadakannya rapat dengar pendapat yang diselenggarakan oleh BP3D dalam rangka penyusunan anggaran daerah hingga penetapannya, namun dalam evaluasi yang dilakukan terlihat kurang kritisnya para anggota. Dalam rangka pembangunan di distrik maupun kampong, para kepala distrik maupun kepala kampong kurang melibatkan Badan Perwakilan Kampung (Baperkam), melainkan perencanaan pembangunan hampir tidak dilakukan melainkan turun dari pemerintah yang lebih tinggi. Peran Lembaga Sosial Masyarakat hampir tidak ada dalam perencanaan pembangunan daerah, disamping jumlahnya relative sedikit, juga keberadaannya yang kurang diketahui oleh pihak pemerintah. Demikian juga dengan peran masyarakat belum ada terlihat dalam perencanaan pembangunan daerah. 4.4. Peranan masyarakat dalam bidang pelayanan sosial dasar Di bidang pendidikan belum tampak peran masyarakat, walaupun hampir setiap sekolah mempunyai komite sekolah yang terdiri dari para orangtua murid dan donatur akan tetapi belum mempunyai kinerja dalam pembangunan pendidikan. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi sekolah sekolah fungsi komite, dan kurangnya sarana informasi yang diiukuti pada orangtua murid. Di bidang kesehatan terlihat adanya kader-kader di puskesmas pembantu tertentu, pada jadwal-jadwal tertentu mereka bersedia membantu paramedis dalam penimbangan bayi maupun ibu-ibu hamil dan pemberian makanan tambahan. 5. KEADAAN EKONOMI, 2000-2003 5.1. PDRB Dalam upaya meningkatkankualitas hidup masyarakat terkait dengan pembangunan ekonomi, berbagai sektor memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Daerah. Namun bila dilihat dari pertumbuhannya dari waktu ke waktu relatif rendah Berbagai sektor Produk Domestik Regional Bruto Daerah ini. Menurut Rumbiak (2001) PDRB daerah ini meningkat relatif rendah, dibandingkan dengan peningkatan anggaran pengeluaran publik daerah ini meningkat diatas 150 % sementara itu peningkatan pendapatan daerah ini dari sektor pembangunan hanya sebesar rata-rata 2.57 %. Dengan demikian dapat dikatakan belanja daerah ini meningkat lebih besar dibandingkan dengan peningkatan pendapatan per sektor. Gambaran kontribusi berbagai sektor terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten ini sejak Tahun 1995 1999 (Rumbiak, 2001) adalah sebagai berikut.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 16

KABUPATEN YAPEN

Tabel 15. No.

Kontribusi Sektor Pembangunan terhadap PDRB Kabupaten Yapen Waropen, 1995, 1997, 1999. Sektor Pembangunan 1995 38.745 3.47 5.21 0.31 16.29 6.37 3.07 3.51 23.68 PDRB 1997 37.65 3.82 4.86 0.37 16.65 5.97 3.29 3.20 24.26

1 Pertanian 2. Tambang dan Galian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik dan Air Minum 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel, Restoran 7. Transportasi dan Komunikasi 8. Keuangan, Perusahaan, dan Jasa 9. Jasa-jasa Sumber : Rumbiak, 2001

1999 38.89 2.57 2.64 0.60 12.84 6.63 4.34 3.07 23.43

Walaupun pengeluaran daerah untuk pelayanan publik sektor pertanian relatif rendah akan tetapi pendapatan dari sektor ini relatif besar atau sebagian besar pendapatan daerah ini dibentuk dari sektor pertanian dalam arti luas di samping sektor jasa-jasa. 5.2. Perdagangan dan Kredit

Pasar yang ada di kabupaten terdiri dari 1 (satu) unit yaitu pasar kabupaten. Di pasar kabupaten diperdagangkan segala jenis barang kebutuhan masyarakat yaitu kebutuhan sandang, papan, pangan, dan kebutuhan sekunder lainnya. Tiap distrik mempunyai pasar kecuali pasar di distrik Angkaisera dan Yapen Selatan, tipe pasar yang ada yaitu pasar dengan jumlah kurang dari 5 jam per hari, dengan jumlah hari dalam seminggu adalah 3 hari yaitu Senin, Rabu, dan Jumat, dengan jenis barang yang didagangkan terbatas pada hasil kerja masyarakat. Barang yang masuk ke daerah ini berupa bahan makanan pokok kecualii sagu, bahan sandang, dan kebutuhan sekunder lainnya. Sementara itu barang yang keluar dari daerah ini untuk antar pulau hampir tidak ada. Satu-satunya hasil daerah yang diekspor yaitu kayu logging, dengan besaran hasil yang kurang jelas. Menurut salah satu lembaga swadaya masyarakat loading maupun logging yang keluar dari daerah ini lebih besar dari yang tertulis, artinya terdapat usaha illegal berasal dari pusat dan tidak diketahui oleh daerah. Jumlah koperasi non KUD di daerah ini 97 unit yaitu 96 unit tingkat primer dan 1 (satu) unit tingkat sekunder. Dilihat dari jenisnya, terdapat 24 unit koperasi produksi, 33 unit koperasi konsumsi, 1 unit simpan pinjam, 28 unit koperasi pemasaran, dan 11 unit koperasi jasa. Jumlah koperasi Kud sebanyak 72 unit dengan jumlah anggota sebanyak 4.634 orang. Jumlah bank yang ada di daerah ini sebanyak 3 perusahaan yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Pembangunan Daerah. Bank Mandiri merupakan cabang, Bank Rakyat Indonesia cabang dan 1 unit kota, dan BPD

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 17

KABUPATEN YAPEN
merupakan bank cabang, dengan jumlah dana masyarakat yang terkumpul kurang lebih Rp. 230 milyar. Jumlah pegawai sebanyak 70 orang. Jumlah dana masyarakat berfluktuasi yaitu pada awal bulan dapat bergerak naik, pada akhir bulan akan menurun. Hal ini disebabkan dana masyarakat tersebut berupa gaji pegawai yang dibayarkan lewat Bank setempat. 6. PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA 6.1. Kesehatan 6.1.1. Kebijaksanaan daerah Kebijaksanaan daerah di bidang kesehatan selama kurun tahun 2000 2003 dikenal dengan 6 (enam) Program Prioritas yaitu: 1. Promosi Kesehatan dengan menganjurkan hidup sehat dan sehat itu mahal harganya, 2. Kesehatan Lingkungan yaitu terkait dengan promosi kesehatan dengan menganjurkan lingkungan yang sehat, 3. Kesehatan Ibu dan Anak yaitu penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak dengan pemberian imunisasi penanganan persalinan, 4. Upaya Perbaikan Gizi yaitu pemberian makanan tambahan melalui sekolah dan posyandu, 5. Pemberantasan Penyakit menular yaitu Tuberclosis dan HIV-AIDS, dan 6. Perawatan/Pengobatan yaitu pelayanan berobat gratis bagi masyarakat kurang mampu. Pemberantasan penyakit menular antara lain terlihat sebagai berikut; Pemberantasan penyakit malaria diberikan pada seluruh puskesmas maupun puskesmas pembantu untuk obat gratis, cukup membayar administrasi sebesar Rp. 1.500. Disamping itu diadakannya pengasapan maupun pemberian abate. Namun menurut masyarakat pengasapan hanya dilakukan pada tempat-tempat tertentu, tidak merata pada daerah-daerah padat pemukiman. Penyakit diare terjadi pada musim-musim tertentu yaitu pada saat musim buah berlimpah terutama durian dan mangga, karena diketahui Kabupaten Yapen penghasil durian di Papua disamping Fak-fak dan Manokwari. Kebijaksanaan terhadap kasus tetanus dilakukan imunisasi tetanus gratis pada bayi dan ibu hamil. Kebijaksanaan yang dilakukan pada pemberantasan polio adalah pemberian imunisasi pada bayi, kemudian kampanye pada masyarakat terhadap gejala kelumpuhan pada anak maupun remaja di bawah usia 16 tahun untuk membawanya ke puskesmas terdekat agar mendapat perlakuan khusus terhadap penyakit polio pada usia rentan. Hal ini dilakukan karena banyak kasus kelumpuhan pada penduduk usia ini. Kebijakan terhadap penyakit tubrclosis dilakukan secara gencar, mengingat banyak kasus penyakit ini di Kabupaten Yapen. Sejak Tahun 2002 dilakukan pengobatan gratis bagi penderita, dengan mendapatkan bantuan dari Negara Jerman untuk seluruh daerah di Papua. Dengan adanya kebijakan pengobatan gratis ini tidak otomatis mengurangi penderita tuberclosis, kalau tidak dapat dikatakan menekan peningkatannya, hal ini diduga karena ketidakteraturan penderita untuk meminum obat secara teratur. Walaupun demikian pada Tahun 2002 ke Tahun 2003 terjadi penurunan penderita sebesar 17 %.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 18

KABUPATEN YAPEN
Demikian pula untuk pencegahan penularan penyakit HIV-AIDS. 2003 digalakkan kampanye penggunaan kondom. 6.1.2. Anggaran, Sumberdaya Sumberdaya Pelayanan Manusia, Fasilitas, dan Sejak Tahun Indikator

Anggaran daerah pada bidang kesehatan meningkat dari tahun ke tahun seperti dalamtabel berikut ini. Tabel 16. No. 1. 2. Anggaran Pengeluaran Sektor Kesehatan Tahun 2000 20003 Rupiah (%) 2001 2002 3.832.185.500 (5.18) 2.391.132.00 0 (4.79)

Jenis Anggaran Daerah Otonomi Khusus

2000 929.124.640 (3.50)

2003 26.645.367.897 (8.60) 4.802.049.412 (17.07) 1.275.192.000

3 Dekon Sumber : Berbagai Laporan Keuangan Yapen

Anggaran belanja untuk sektor kesehatan meningkat dari tahun ke tahun, besaran anggaran ini dari total anggaran daerah sebesar 3.50 % meningkat dari tahun ke tahun hingga 8.60 % pada Tahun 2003. Apabila dilihat dari peningkatan persentase ini dapat dikatakan adanya peningkatan perhatian pemerintah daerah dalam pelayanan masyarakat terhadap kesehatan. Akan tetapi dilihat dari besarnya persentase anggaran masih relatif kecil yaitu di bawah dari 15 %. Sumberdaya manusia kesehatan terdiri dari dokter, perawat dan bidan serta sarana dan prasarana kesehatan dari tahun 2000 hingga 2003 dapat dilihat seperti dalam tabel berikut. Tabel 17. No. Perkembangan Jumlah Tenaga Medis dan Paramedis, serta Prasarana Kesehatan Kabupaten Yapen Waropen 2000 - 2003 Uraian Jumlah 2000 2001 3 5 2 171 78 1 6 2002 4 14 1 145 68 1 6 2003 2 8 1 102 34 1 6

3 1. Dokter Ahli 10 2. Dokter Umum 2 3. Dokter Gigi 135 4. Perawat 76 5. Bidan 1 6. Rumah Sakit 6 7. Puskesmas Sumber : Yapen dalam Angka, 2000 - 2003

Kondisi jumlah tenaga medis maupun paramedis di daerah ini cenderung berkurang. Sementara itu kondisi prasarana juga tidak meingkat. Jumlah dokter sebanyak 11 orang, 2 orang berprofesi dokter ahli, seorang dokter gigi, dan 8

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 19

KABUPATEN YAPEN
orang dokter umum. Jumlah bidan yang ada sebanyak 34 orang, perawat sebanyak 102 orang tersebar di 5 distrik yang ada. Jumlah dokter yang terbatas ini, menyebabkan tidak semua kampung mempunyai tenaga dokter. Setiap distrik mempunyai sebuah puskesmas yang dikepalai seorang dokter kecuali Distrik Poom, hal ini disebabkan jarak yang jauh dari perkotaan dan prasarana transportasi terbatas membuat dokter yang ditempatkan ke distrik ini enggan tinggal di tempat. 6.1.3. Output/Hasil Kasus penyakit yang dibawa ke rumah sakit maupun puskesmas dominant penyakit malaria dan diare, diikuti dengan kasus penyakit paru-paru basah, dan penyakit diare. Penyakit paru-paru diidap penduduk di 4 (empat) distrik kecuali Distrik Angkaisera. Tempat tinggal penduduk Distrik Angkaisera relative lebih teratur dan bersih dibandingkan dengan distrik lainnya, saat ini telah ada pelayanan gratis khusus untuk penderita paru-paru namun masih terdapat kendala yaitu keteraturan meminum obat sehingga perlu dilakukan penyuluhan bagi orang untuk mendampingi penderita minum obat. Tabel 18. Kasus Penyakit Paru-paru dan Diare yang ditangani Rumah Sakit dan Puskesmas Tahun 2000 - 2003
Tahun 2000 Distrik Yapen Timur Angkaisera Yapen Selatan Yapen Barat Poom Kab. Yapen ParuParu 240 143 216 27 227 853 Diare 883 409 655 560 1169 3676 Tahun 2001 ParuParu 28 26 25 20 15 114 Diare 93 118 110 139 111 571 Tahun 2002 ParuParu 192 110 115 102 92 611 Diare 621 418 527 338 256 2160 Tahun 2003 ParuParu 84 Diare 194 521 702 220 730 2367

60 60 303 507

Sumber : Yapen dalam Angka, 2000-2003 Sulit untuk mengkonfirmasi jumlah ini pada dinas kesehatan, karena tidak diperolehnya keterangan dari pihak berwenang. Akan tetapi hasil wawancara di tingkat distrik besaran dana tersebut tidak diketahui dengan pasti, namun kenyataannya ketersediaan obat-obatan dan fasilitas kesehatan terbatas kecuali obat-obatan merupakan donor dari luar untuk tuberklosis dan polio. Kinerja/Indikator MDGs Menurunkan angka kematian anak dengan indikator angka kematian balita, angka kematian bayi,dan persentase anak di bawah satu tahun yang diimunisasi baik BCG, Polio, maupun campak merupakan tujuan pembangunan millenium di daerah Papua.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 20

KABUPATEN YAPEN

Tabel 19. No. 1.

Keadaan Indikator Kesehatan (MDGs) Kabupaten Yapen, Papua dan Indonesia Tahun 2003 Indikator Tingkat

Angka Kematian Bayi Yapen Papua Indonesia 57 51 44

2.

Angka Harapan Hidup Yapen Papua 63 65 66

Indonesia Sumber : Berbagai sumber

Kondisi kesehatan penduduk di Kabupaten Yapen menurut Laporan BPS, Bappenas, dan UNDP adalah sebagai berikut. Tabel 20. Kondisi Kesehatan Di Kabupaten Yapen Tahun 2002.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Angka Kematian Bayi (Per 1000) Penduduk dengan Keluhan Kesehatan (%) Angka Morbiditas (%) Rata-rata lama sakit (hari) Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri (%) Kelahiran ditolong oleh tenaga medis (%) Yapen 58.1 12.2 8.4 6.5 77.0 17.2 Papua 50.5 19.3 11.7 4.7 38.7 51.8 Indonesia 43.5 24.5 15.3 5.8 60.6 66.7

Keterangan : *) Meliputi Yapen dan Waropen Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Angka kematian bayi di daerah ini relatif masih tinggi dibandingkan angka nasional, maupun Papua, yaitu 57 atau 58 bayi meninggal dari setiap 1000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi yang tinggi ini diduga karena rendahnya kelahiran yang ditolong oleh tenaga medis. Angka-angka diatas menunjukkan bahwa program pelayanan publik di sektor kesehatan belum dapat menekan angka-angka kematian tersebut. Besarnya dana di bidang kesehatan perlu lebih diarahkan pada program-program penurunan angka kematian bayi dan balita seperti penyuluhan agar menggunakan penolong persalinan paramedis serta menjamin paramedis agar menjadi betah tinggal di tempat pekerjaannya (sumber : perawat di Distrik Angkaisera). Di samping itu menurut Rumbiak ( 2001) perlu penyuluhan pola makan balita yang baik, pemberian vitamin A pada jumlah balita lebih banyak lagi, dan penekanan penyakit infeksi seperti malaria, dan diare pada anak balita.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 21

KABUPATEN YAPEN
Persentase bayi maupun balita yang menerima imunisasi dapat dilihat dari tabel berikut ini. Tabel 21. Persentase Balita dan Bayi Penerima Imunisasi Kabupaten Yapen Waropen Tahun 2000-2003 Jumlah Bayi dan Balita Penerima (%) 2001 2002 2003 BCG 0,00 0,00 0,00 0,00 DPT1 18,48 0,68 6,13 13,39 DPT2 0,00 0,17 7,13 12,26 DPT3 0,00 0,00 6,35 7,51 Polio 1 0,00 0,00 7,97 12,63 Polio2 0,00 0,00 7,40 11,67 Polio 3 0,00 0,00 6,29 11,43 Campak 0,00 7,42 9,64 10,86 Sumber : Yapen Waropen Dalam Angka, 2000-2003 Imunisasi 2000 Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa walaupun terjadi peningkatan persentase bayi ataupun balita penerima imunisasi, namun masih dalam persentase rendah, artinya masih lebih banyak yang belum menerima imunisasi. Besarnya dana kesehatan belum diarahkan untuk pelayanan publik dalam imunisasi dalam rangka penekanan angka kematian bayi dan balita. 6.2. Pendidikan

6.2.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijaksanaan daerah dalam bidang pendidikan di daerah ini terutama dalam hall wajib belajar 9 tahun bagi anak hingga usia 17 tahun. Di samping itu peningkatan sarana prasarana penunjang pendidikan, peningkatan kemampuan guru melalui penataran-penataran dan sekolah bagi guru-guru lebih lanjut, penghapusan iuran wajib sekolah bagi anak-anak kurang mampu (sumber : Sudin Dikmenjur P dan P). 6.2.2. Anggaran, Sumberdaya Manusia, dan Indikator Sumberdaya Pelayanan (Fasilitas)

Anggaran pemerintah daerah untuk sektor pendidikan dari Tahun 2000 hingga Tahun 2003 disajikan dalam Tabel berikut; Tabel 22. Anggaran Sektor Pendidikan Kabupaten Yapen Tahun 2000-2003
No. 1. 2. 3. Jenis Anggaran 2000 Daerah (APBD) Otonomi Khusus Dekon Pengembangan Pendidikan Luar sekolah 896.141.000 5.272.436.000 Jumlah (Rupiah) 2001 4.724.997.500 2002 2.223.284.150 7.951.352.039 2003 58.580.973.056 6.355.316.784

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 22

KABUPATEN YAPEN
Peningkatan Mutu Sekolah Menengah Pengembangan Balai Penataran Guru 452.250.000 78.850.000

Sumber : Berbagai Laporan Keuangan Yapen Anggaran daerah alokasi pendidikan secara nominal cukup besar, walaupun dari persentase anggaran cenderung menurun. Pada Tahun 2000 anggaran kesehatan sebesar 19.86 %, Tahun 2001 turun menjadi 6.39 %, Tahun 2002 turun menjadi 4.45 %, dan Tahun 2003 meningkat menjadi 18.91 %. Fasilitas Pendidikan dan Sumberdaya Manusia di daerah ini dapat dilihat dari tabel berikut ini. Tabel 23. Fasilitas Pendidikan dan Sumberdaya Manusia Kabupaten Yapen Tahun 2000-2003 No. 1. Uraian 2000 Kondisi Tahun 2001 2002 157 19 8 949 248 144 15.779 4.716 2.749 158 20 8 1.077 176 114 18.194 4.863 2.278

2003 110 13 7 833 135 106 13.906 4.143 3.042

Fasilitas Gedung SD 152 Gedung SMP 18 Gedung SMU 8 2. Guru SD 1081 SMP 196 SMA 131 3. Murid SD 15.940 SMP 4.346 SMA 2.439 Sumber : Yapen dalam Angka, 2000-2003

Dari kondisi diatas dapat diketahui rasio murid terhadap sekolah maupun terhadap guru seperti dalam tabel berikut ini. Tabel 24. Rasio Murid terhadap Sekolah maupun Guru pada Masing-masing Jenjang Pendidikan, Yapen 2000 - 2003 No. 1. Uraian 2000 Rasio Murid Terhadap Sekolah SD SMP SMA Rasio Murid Terhadap Guru SD SMP Kondisi Tahun 2001 2002 2003

105 241 301

762 171 344

115.15 243.15 379.66

126.42 318.69 480

2.

15 22

128 25

16.89 27.63

16.69 30.69

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 23

KABUPATEN YAPEN
SMA 19 Sumber : Yapen dalam Angka, 2000-2003 6.2.3. Output/Hasil Gedung sekolah di pusat Kabupaten dapat dikatakan cukup memadai, jumlah guru-guru juga cukup memadai, namun dalam hal peningkatan kemampuan guru, masih kurang. Penataran-penataran pendalaman kemampuan guru jarang diikuti oleh guru-guru di daerah ini. Suatu hal menggembirakan yang dilakukan oleh Sub Dinas Pendidikan Dasar yaitu menggalakkan sanggar kegiatan guru, dimana dengan dana terbatas dilakukan diskusi-diskusi kecil tentang inovasi pembelajaran terkini. Pada distrik-distrik masih banyak gedung-gedung kurang layak disebut sekolah. Ruangan kelas hanya sebanyak tiga kelas dengan kondisi darurat. Demikian juga jumlah guru yang terbatas, hampir setiap sekolah mempunyai guru rangkap menangani lebih dari 1 (satu) kelas disamping jumlah mata pelajaran lebih dari 1(satu) bidang. Di Distrik Angkaisera dimana daerah ini relatif lebih mudah dijangkau masih terdapat sarana gedung terbatas, jumlah guru lengkap namun mereka berdomisili di kota sehingga waktu mengajar di kelas kurang. Untuk mengatasi hal ini biasanya guru lainnya merangkap pekerjaan guru yang alpa. Dari kualitas guru juga relatif rendah, terdapat satu sekolah dimana guru-guru yang mengajar hanya lulusan Pendidikan Guru Agama Kristen. Hampir seluruh sekolah yang dikunjungi tidak memiliki MCK, laboratorium, maupun perpustakaan. Ratio guru terhadap murid sangat baik dapat dikatakan masih berada pada ratio standar yaitu 1 : 25. Akan tetapi kehadiran guru-guru tersebut masih menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Kebijaksanaan daerah dalam pengembangan pendidikan antara lain Peningkatan Kemampuan Guru dengan Penataran, Pendirian Sekolah Unggulan Di Kampung Dawai Distrik Yapen Timur, Penambahan Kelas pada sekolah-sekolah favorit seperti SMA Negeri 1, Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah, Peningkatan Mutu Sekolah Menengah, dan Menggalakkan Penataran Guru-guru. Akan tetapi pada saat survey dilakukan kebijakan ini masih belum terlaksana. Dana pendidikan banyak terserap pada pendirian Sekolah Menengah Atas Unggulan. 6.2.4. Kinerja/Indikator MDGs Indikator MDGs lokal bidang pendidikan adalah angka partisipasi murni SD dan SMP, persentase anak SD yang belum dapat membaca dan menulis. Dari hasil Penelitian Rumbiak (2001) Angka Partisipasi murni untuk Sekolah dasar usia 7 12 tahun sebesar 94.64 artinya 94.64 % dari sejumlah 16.241 anak usia 7 12 tahun telah duduk di Sekolah dasar. Sementara itu Angka Partisipasi Murni untuk Sekolah Menengah Pertama relatif rendah yaitu hanya sebesar 46.29 %. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perlu didirikannya sekolah dan jumlah guru SMP ditingkatkan terutama di distrik-distrik. Berdasarkan Laporan BPS, Bappenas, dan UNDP, Tahun 2004, angka partisipasi sekolah dan Angka Putus sekolah dapat dilihat dalam tabel berikut. 19 28.12 32.88

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 24

KABUPATEN YAPEN

Tabel 25.

Partisipasi Sekolah dan Angka Putus Sekolah Di Kabupaten Yapen Tahun 2002.
Uraian Yapen Papua Indonesia

No. 1.

Angka Partisipasi Sekolah Usia 7 - 12 Usia 13 - 15 Usia 16 - 18 Usia 19 - 24 86.9 60.2 29.9 2.7 86.8 78.6 52.4 9.7 96.1 79.3 49.9 11.7

2.

Angka Putus Sekolah Usia 7 - 15 Usia 16 - 18 Usia 19 - 24 19.8 45.5 50.0 3.4 15.6 24.6 2.8 9.4 11.1

Keterangan : *) Meliputi Yapen dan Waropen Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk usia diatas 16 tahun yang duduk di bangku sekolah relatif rendah yaitu kurang dari 70 %, bahkan pada penduduk usia 19 tahun kurang dari 10 %. Artinya bahwa semakin tinggi usia penduduk semakin rendah partisipasi sekolah. Sejalan dengan angka putus sekolah, semakin tinggi usia penduduk semakin besar yang keluar dari sekolah. Banyak yang tidak sekolah dan banyak pula yang keluar dari sekolah. Keluarnya mereka dari sekolah karena letak sekolah lanjutan yang terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. 6.3. Pertanian

6.3.1. Kebijaksanaan Daerah Dalam pengembangan sektor pertanian, daerah ini memiliki Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkebunan, dan Dinas Peternakan. Pemerintah menjalankan kebijaksanaan pengembangan pertanian di ke-empat sektor ini. Kebijakan daerah dalam bidang pertanian antara lain Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Pengembangan Agribisnis Peternakan, Pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan, dan Pengembangan Karantina Pertanian. Di samping itu dinas ini juga membuat kebijakan lain yaitu pembinaan aparat melalui pendidikan formal maupun non formal yaitu dengan mengirimkan pegawai-pegawai untuk melanjutkan pendidikan maupun mengikuti pelatihan pertanian. Kebijakan pembinaan petani melalui pendidikan non formal yaitu melalui penyuluhan yang diberikan. Kebijakan mengembangkan pembinaan bagi kelompok-kelompok usaha agribisnis, dan kebijakan meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan sarana prasarana pertanian.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 25

KABUPATEN YAPEN

6.3.2. Anggaran, Sumberdaya Manusia, Fasilitas, Indikator Pelayanan Anggaran daerah untuk bidang pertanian dalam arti luas meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi dari persentase anggaran daerah relatif kecil, dan pada Tahun 2003 menurun dari 10.14 % menjadi 4.93 %, seperti pada tabel berikut ini. Tabel 26. Anggaran Sektor Pertanian Kabupaten Yapen Tahun 2000-2003 No. 1. 2. Jenis Anggaran Daerah Rupiah (%) 2000 1.594.530.700 (6.01) 2001 4.975.499.250 (6.73) 2002 5.066.692.000 (10.14) 2003 15.258.048.621 (4.93) 8.289.444.500 (29.47) 1.510.491.000

Otonomi Khusus 3. Dana Dekon Sumber : Berbagai Laporan Keuangan Yapen

Anggaran terbesar dialokasikan pada Dinas Kehutanan, diikuti oleh Peternakan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan terkecil adalah Dinas Perkebunan. 6.3.3. Output/Kinerja Sektor pertanian masih merupakan sektor penting dalam pembentuk pendapatan regional domestik bruto, sektor ini merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB. Perkembangan hasil pertanian secara luas dapat dilihat pada Tabel berikut ini. Tabel 27. Perkembangan Sektor Pertanian Kabupaten Yapen 2000-2003 No. 1. Sektor Pertanian 2000 Tanaman Pangan (ton/Ha) Jagung Ubijalar Ketela pohon Kacang Tanah Keladi Tan. Perkebunan (ton/Ha) Kelapa Kopi Kakao Peternakan (kg) Ternak Besar Ternak Kecil Kehutanan Eksploitasi (Ha) 3.36 6.40 8.00 1.20 10.10 0.32 0.09 0.31 2.761 7.615 16.748 2001 2.50 6.50 8.00 1.20 11.60 0.32 0.10 0.31 2.997 8.022 6.914 Hasil 2002 2.50 6.50 8.00 1.20 11.60 0.32 0.10 0.30 1.665 7.966 5.785 2003 2.50 6.50 6.50 1.20 11.60 0.32 0.10 0.31

2.

3.

4.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 26

KABUPATEN YAPEN
Sumber : Yapen Dalam Angka, 2000-2003 Dilihat dari hasil pertanian diatas, belum tampak adanya peningkatan yang berarti dalam produksi pertanian, dibandingkan dengan daerah lain di daerah Papua, daerah ini terletak di urutan ke-11 dalam produksi pertanian. Dapat dikatakan peningkatan produksi pertanian daerah ini masih relatif rendah 6.4. Prasarana dan sarana

6.4.1. Kebijaksanaan Daerah Kebijakan daerah dalam perbaikan sarana dan prasarana daerah ini ditujukan pada pembangunan pemukiman, perumahan, dan pengembangan pariwisata. Sementara itu kebijaksanaan propinsi ditujukan pada perbanyakan dan perbaikan mutu jalan, peningkatan pelabuhan udara, peningkatan transportasi laut. 6.4.2. Anggaran Anggaran daerah untuk sarana dan prasarana dari tahun ke tahun semakin kecil persentasenya. Akan tetapi dana dari propinsi relatif besar terhadap pengembangan sektor ini. Tabel 28. Anggaran Pengembangan Sarana dan Prasarana Kabupaten Yapen Tahun 2000-2003
Rupiah (%) 2000 1. 2. 3. Daerah Otonomi Khusus Dekon Pengembangan Pelayanan Transportasi Udara Pengembangan Fasilitas Pelabuhan Laut Pengembangan lalu Lintas jalan Pengembangan Transportasi SDP 1.275.021.000 2.867.226.05 0 (10.80) 2001 13.951.256.68 1 (16.67) 2002 8.037.557.00 0 (6.88) (15.55) 2003 4.752.750.530 (10.37) (43.94)

No.

Jenis Anggaran

1.655.789.000 487.301.000 17.444.486.000

Sumber : Berbagai Laporan Keuangan Kabupaten Yapen, 2000-2003 6.4.3. Output Kinerja daerah dalam pengembangan sarana dan prasrana yang dapat dinikmati oleh masyarakat dapat dilihat sebagai berikut;

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 27

KABUPATEN YAPEN

Tabel 29. Sarana dan Prasarana Kabupaten Yapen Tahun 2000-2003 No. 1. Uraian 2000 Jalan (km) Total Panjang 559 Kondisi Baik 225 2. Luas Dermaga (km2) 1.120 3. Kunjungan Kapal Penumpang 1.149 selama 1 tahun (kali) 4. Telepon Kapasitas 3.260 Pelanggan 2.015 5. Listrik Kemampuan Produksi (KWH) 868.005 Disalurkan (KWH) 720.164 Pelanggan (KK) 5.081 6. Air Minum (000 M3) 2.546 Sumber : Yapen dalam Angka, 2000-2003 2001 567 202 1.120 885 Hasil 2002 567 159 1.120 692 2003

1.120

3.260 2.139 857.650 745.709 5.548 2.769

3.260 2.345 976.111 878.500 6.052 2.882

3.260

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa besarnya dana yang dianggarkan dalam rangka peningkatan kuantitas maupun kualitas sarana dan prasarana di derah ini belum maksimal.

7.

LESSONS-LEARNED dan BEST PRACTICES


7.1. Pembangunan Ekonomi Pengembangan ekonomi masyarakat yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah Proyek Cenderawasih Bay Coastal Agricultural Development dimulai Tahun 1989 hingga Tahun 1994 dikelola oleh UNDP kemudian dikelola oleh Bappeda setempat. Pada saat pembinaan di bawah proyek UNDP, masyarakat dapat merasakan bahwa hasil perkebunan maupun hasil laut mereka dapat terjamin pemasarannya dengan harga layak. Saat ini kebun kakao tersebut relatif terbengkalai karena ketidak pastian pemasaran dan harga. Kehadiran Penanaman Modal Asing (PMA) dalam pengembangan daerah yaitu dengan dibukanya industri Kayu Lapis oleh PT Kodeco Alas Mandiri di Yapen Timur pada Tahun 1995. Hasil kayu lapis di ekspor ke negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Amerika. Realisasi ekspor kayu lapis dari perusahaan ini meningkat dari tahun ke tahun, dengan menggunakan tenaga kerja dari daerah setempat. Akan tetapi pada Tahun 2003 dengan berlakunya otonomi dan belum adanya Perda yang mengatur pengelolaan tanah adat maupun tanah negara, perusahaan ini mengalami masalah dalam hal ganti rugi tanah, dan kewajiban yang tinggi dalam upeti kepada pemerintah daerah (sumber : anggota DPRD Waropen).

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 28

KABUPATEN YAPEN
Beroperasinya beberapa HPH di daerah ini secara illegal (nama legal namun usaha dapat illegal, sumber : LSM Papua Lestari) telah merusak beberapa kawasan hutan.

7.2. Bidang Kesehatan Pengalaman menarik dan dapat dijadikan pelajaran adalah ditemukannya seorang tenaga paramedis sebagai kepala Puskesmas Distrik Angkaisera menggantikan seorang dokter. Paramedis tersebut melakukan tugasnya sedemikian rapih sehingga dia mengetahui permasalahan kesehatan di daerahnya. Segala tugas yang dilakukannya senantiasa dicatat sedemikian rupa sehingga mudah untuk mendapatkan data daripadanya. 7.3. Bidang Pendidikan Pembangunan SMU Unggulan yang terletak di Kampung Dawai Distrik Yapen Timur yang menyerap dana pendidikan terutama dana peningkatan kapasitas dan kemampuan guru merupakan penghamburan dana pelayanan publik di sektor pendidikan, selain karena letaknya di pedalaman juga tidak melalui studi kelayakan suatu proyek (sumber : LSM Papua Lestari).

8.

KESIMPULAN UMUM
1. Fisik Wilayah Luas wilayah Kabupaten Yapen yang belum dimanfaatkan masih cukup besar yaitu kurang lebih 95 % masih berupa areal konservasi. 2. Penduduk Walaupun kepadatan penduduk relatif rendah yaitu 34.48 jiwa/Km2, namun dengan pertumbuhan penduduk Kabupaten Yapen relatif tinggi yaitu 2.75 % per tahun, perlu dilakukan penyuluhan Keluarga Berencana. Perlu pemerataan pembangunan di seluruh distrik, agar jumlah penduduk lebih terdistribusi merata. Masih terdapat 43 % penduduk kategori miskin dengan pendapatan ratarata per bulan Rp. 119.000. 3. Kapasitas Personil Pemda Kapasitas personil pemda dari tingkat pendidikan pada umumnya telah memenuhi standar kualitas harapan, akan tetapi, masih banyak pegawai ditempatkan tidak sesuai dengan kemampuannya. 4. Keuangan Daerah Komposisi anggaran daerah untuk pengeluaran aparatur sebesar 49 %, sedangkan komposisi untuk pengeluaran publik sebesar 51 %. Dari pengeluaran publik tersebut, komposisi terbesar pada sektor pendidikan kemudian sebesar 18.91 % diikuti dengan kesehatan sebesar 8.09 %. Besaran pengeluaran publik untuk sektor pendidikan ini masih terbatas pada pembangunan disik yaitu pendiriran sekolah Menengah Umum

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 29

KABUPATEN YAPEN
Unggulan. Sementara itu pengeluaran publik pada sektor kesehatan masih terbatas pengadaan obat-obatan. Apabila dilihat dari ketentuan Otonoimi Khusus bahwa pengeluaran publik sektor kesehatan minimal 25 %, maka dapat dikatakan bahwa daerah ini belum mengikuti ketentuan tersebut. Belum tampak adanya perubahan berarti dalam penanganan perencanaan maupun evaluasi keuangan daerah sebelum mapun sesudah adanya otonomi khusus. Pendapatan pendapatan pendapatan pendapatan daerah terbesar berasal dari anggaran umum diikuti dengan dari hasil bagi pajak pusat ke daerah, sementara itu asli daerah masih relatif rendah yaitu kurang dari 1 % dari daerah.

Belum tampak adanya perubahan berarti dalam pendapatan dari hasil belanja daerah sebelum dan sesudah diberlakukannya otonomi khusus. Pengawasan terhadap keuangan daerah ini relatif rendah, banyak kasus masalah keuangan daerah namun belum ada yang berhasil diselesaikan secara transparan. 5. Dewan Perwakilan Rakyat. Keanggotaan dewan perwakilan rakyat, masih didominasi tamatan sekolah lanjutan atas (75 %). Jumlah anggota perempuan sebanyak 1 orang 5 %), dengan demikian belum memenuhi kuota perempuan sebanyak 30 %. 6. Pelayanan Sosial Dasar Pelayanan dasar pemerintah daerah pada sektor pendidikan relatif belum ada perubahan sebelum dan sesudah adanya otonomi khusus, besaran dana untuk sektor ini masih terarah pada pembangunan fisik bangunan sekolah, belum kepada peningkatan kualitas pelayanan. Hal ini terlihat belum adanya peningkatan output dimana angka partisipasi murni untuk tingkat sekolah menengah pertama dan atas masih relatif rendah. Rasio murid terhadap guru pada semua tingkatan sekolah cukup baik, namun pengawasan terhadap kinerja guru masih rendah. Rasio murid terhadap sekolah relatif tinggi artinya tiap sekolah yaitu Sekolah Dasar menampung murid sebesar 126, Sekolah Menengah Pertama sebesar 316 murid, dan Sekolah Menengah Atas sebesar 480 murid. Hal ini dapat menggambarkan bahwa minat penduduk untuk menyekolahkan anaknya cukup besar namun jumlah sekolah yang ada relatif terbatas jumlahnya maupun letaknya terpusat di distrik dan kabupaten. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perlu distribusi sekolah sekolah lebih merata hingga ke daerah pedalaman. Pelayanan dasar pemerintah daerah pada sektor kesehatan relatif baik, hal ini dapat dilihat dari hasil sektor kesehatan yaitu menurunnya angka penderita berbagai penyakit menular seperti diare, paru-paru. Belum ada peningkatan besaran dana untuk pelayanan publik sektor ini sebelum dan sesudah otonomi khusus. Pelayanan dasar pemerintah pada sektor pertanian tampaknya belum dapat dinikmati oleh masyarakat, terlihat dari hasil sektor ini, belum tampak adanya peningkatan yang berarti dalam produksi pertanian, dibandingkan dengan daerah lain di daerah Papua, daerah ini terletak di urutan ke-11

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 30

KABUPATEN YAPEN
dalam produksi pertanian. Dapat dikatakan peningkatan produksi pertanian daerah ini masih relatif rendah. Walaupun terlihat peningkatan anggaran untuk sektor ini, akan tetapi perlu dianalisis penggunaannya di lapangan yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Pelayanan dasar pemerinta daerah untuk perbaikan sarana dan prasarana yang langsung dapat dinikmati oleh masyarakat belum tampak. Dana untuk peningkatan sarana dan prasarana lebih ditujukan pada pembelian kapal kapal kecil untuk keperluan aparat pemerintah daerah. Walaupun dana untuk sektor ini relatif besar dari tahun ke tahun, akan tetapi sarana dan prasarana baik transportasi, telepon, listrik, air bersih, pasar belum tampak adanya peningkatan.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

VIII - 31

KABUPATEN WAROPEN

IX. KABUPATEN WAROPEN

1.

KARAKTERISTIK WILAYAH
1.1. Keadaan Fisik Wilayah
Kabupaten Waropen merupakan salah satu kabupaten dari 14 kabupaten pemekaran berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002 tertanggal 12 November 2002, yaitu dari Kabupaten Yapen Waropen. Secara astronomis Kabupaten Waropen terletak pada posisi di antara 01O 27 02O 58 Lintang Selatan dan 134O 46 - 137O 54 Bujur Timur. Batas wilayah Kabupaten Waropen adalah sbb. :

Gambar 1. Peta Kabupaten Waropen Sebelah Utara Sebelah Selatan : Selat Saireri : Distrik Mamberamo Hilir, Distrik Mamberamo Tengah, dan Distrik Mamberamo Hulu Kabupaten Sarmi; : Distrik Fawi dan Distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya, Distrik Agisiga dan Distrik Homeyo Kabupaten Paniai, serta Distrik Napan Kabupaten Nabire; dan : Selat Saireri

Sebelah Timur

Sebelah Barat

Kabupaten Waropen beribukota di Kota Bottawa, namun secara administrative masih berpusat di Waren. Dapat dijangkau dari daerah lain hanya melalui sarana

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 1

KABUPATEN WAROPEN
transportasi laut, yaitu dengan kapal motor kecil dan kapal kayu. Belum mempunyai sarana pelabuhan kapal ukuran besar (dalam tahap pembangunan). Hal ini menyebabkan lambatnya laju pembangunan di daerah ini. Demikian juga kondisi fisik wilayah yang menghubungkan antar distrik di daerah ini hanya dapat dilakukan dengan kapal motor kecil dan kapal kayu. Sementara itu jalan menghubungkan antar kampung dalam distrik yang sama sebagian besar dapat dilalui dengan kendaraan roda dua karena kondisi jalan masih merupakan jalan pengerasan. Jalan yang dapat dilalui dengan kendaraan roda empat di ketiga distrik ini hanya sepanjang kurang lebih sepanjang 10 km. Dengan demikian sebagian besar jalan hanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan jalan kaki. Menurut UU No 26 Tahun 2002, Kabupaten Yapen Waropen mempunyai luas wilayah 18.994 Km2, dimekarkan menjadi 2 (dua) Kabupaten yang terdiri dari Kabupaten Yapen sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Waropen. Namun menurut Kantor Statistik Kabupaten Waropen mempunyai luas wilayah 16.944 Km2 terdiri dari Distrik Waropen Atas, Distrik Masirei, dan Distrik Waropen Bawah.

1.2. Pembagian Administratif Wilayah


Secara administratif Kabupaten Waropen dibagi kedalam 3 (tiga) distrik, yaitu : Distrik Waropen Atas, Masirei, dan Distrik Waropen Bawah, , dan terdiri dari 61 kampung (desa). Pembagian secara administratif Kabupaten Waropen disajikan pada table 2. Tabel 1. Pembagian Adminiistrasi Pemerintahan Kabupaten Waropen No. 1. 2 3. Distrik Waropen Bawah Masirei Waropen Atas Jumlah Sumber : Yapen Waropen Dalam Angka, 2002 1.3. Keadaan Sosial Ekonomi 1.3.1. Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Waropen pada Tahun 2002 sebanyak 23.072 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 12.075 jiwa, dan perempuan sebanyak 10.997 jiwa. Dilihat darii struktur umur penduduk, maka dapat dikatakan Kabupaten Waropen termasuk daerah berstruktur umur muda. Penduduk di daerah ini dominan suku pendatang, yaitu suku Jawa transmigran dari Pulau Jawa (sebanyak 5 Satuan Pemukiman), diikuti dengan Suku asli Papua, dan sebagian kecil pendatang lainnya yaitu suku Toraja, Bugis Makassar dan Batak. Dengan luas daerah sebesar 18.994 Km2 dan jumlah penduduk sebesar 23.072 jiwa, maka kepadatan penduduk kabupaten ini sebesar 1.2 jiwa/ Km2 , yaitu kepadatan penduduk yang sangat rendah sekali. Jumlah Kampung 30 12 19 61 Jumlah Kelurahan -

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 2

KABUPATEN WAROPEN
1.3.2. Kegiatan Ekonomi Masyarakat Mata pencaharian penduduk dominant sebagai petani terutama bagi mereka suku Jawa (transmigrasi), terutama tanaman palawija seperti singkong, betatas, dan sayur-sayuran yang dipasarkan khusus di pasar setempat, disamping itu terdapat juga suku asli Papua yang mengusahakan kebun kakao dari hasil pembagian Proyek Cenderawasih Bay Coastal Agricultural Development (CCAD). Diasmping sebagian besar meramu sagu dan hutan bakau merupakan mata pencaharian utama. Hutan bakau di pesisir pantai di daerah ini kaya akan sagu dan sumber perikanan bakau seperti udang, kepiting, kerang, dan lainnya, dimana hasilnya sebagian besar untuk dikonsumsi dan sebagian dipasarkan di pasar setempat. Bagi sebagian kecil suku asli Papua dan suku pendatang seperti Bugis Makasar, melaut untuk menangkap ikan di lepas panta merupakan mata pencaharian mereka, dimana hasil tangkapan tergantung pada musim, pada musim teduh maka hasill tangkapan relative besar, sebaliknya nelayan akan mendapat hasil yang relative kecil dan bahkan tidak akan melaut. Pada saat hasil tangkapan besar maka harga persatuan ikan akan turun, sebaliknya akan meningkat. Walaupun hasil perikanan yang ditangkap dalam ukuran nominal dapat dikatakan relative besar pada musimnya akan tetapi dalam nilai rupiah hasil ini relative kecil, bahkan seringkali hasil tangkapan diberikan secara Cuma-Cuma kepada tetangga ataupun kerabat lainnya. Belum tersedianya investor dari luar untuk mengolah maupun memasarkan baik hasil pertanian, hasil sagu, maupun hasil tangkapan masyarakat, menjadikan hasil tersebut hanya dikonsumsi masyarakat setempat, hal ini membuat pengusahaan komoditi-komoditi tersebut masih dilakukan secara subsisten dengan harga relatif rendah.

2.

KAPASITAS SUMBERDAYA PEMDA


2.1. Kapasitas Personil Jumlah personalia kabupaten ini dari kabupaten hingga distrik sebanyak 548 orang, sebagian besar adalah merupakan personalia yang dialihtugaskan dari kabupaten induk ke daerah pemekaran ini. Sebagian besar masih berpendidikan Sekolah Menengah Umum. Dengan demikian rasio penduduk terhadap pegawai negeri sipil sebesar 1 : 42 artinya seorang pegawai negeri sipil melyani 42 orang penduduk. Hal ini dapat dimaklum karena daerah ini adalah daerah pemekaran dimana pegawai negeri sipil yang ada merupakan pegawai negeri sipil aapindahan dari daerah induk. Dilihat menurut golongan personalia di kabupaten ini disajikan sebagai berikut : Tabel 2. Jumlah Pegawai Negeri Menurut Golongan di Kabupaten Waropen, 2004
No. 1. 2. 3. 4. I II III IV Total Golongan Pegawai Negeri Jumlah 24 223 277 24 548 Nisbah (%) 4.38 40.69 50.55 4.38 100

Sumber : Sekretariat Daerah, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 3

KABUPATEN WAROPEN
2.2. Kapasitas sarana dan prasarana Perkantoran kabupaten ini masih dalam taraf pembangunan, dinas-dinas yang ada masih menggunakan rumah penduduk sebagai perkantoran. Perkantoran masih menggunakan listrik dari Kabupaten Yapen, belum mempunyai fasilitas telekomunikasi telepon. Satu-satunya alat komunikasi yang digunakan adalah SSB (Seismograph System Band). 2.3. Kapasitas dan Struktur Organisasi

Pemerintah daerah Waropen dikategorikan dalam kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Yapen . Tipe Bappeda yang ada yaitu Tipe C (masih mengikuti Kabupaten Yapen). Kabupaten Waropen dipimpin seorang bupati, seorang sekretaris daerah. Terdapat 2 badan yaitu Badan Pengawasan Daerah dan Badan Perencanaan dan Pengendalian Daerah, serta 7 Dinas yaitu pertanian, Dinas Pendidikan dan Pengajaran, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perekonomian Daerah, dan Dinas Kehutanan. 3.

KEUANGAN DAERAH
Sampai Tahun 2004 ini belum terjadi pemisahan perhitungan pendapatan daerah antara Kabupaten Waropen dengan Yapen, dengan demikian masih dinamakan Pendapatan daerah Kabupaten Yapen Waropen. sehingga belum dapat dijelaskan anggaran belanja dan pendapatan daerah ini.

4.

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT DALAM PEMERINTAHAN


4.1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD Kabupaten Waropen hasil Pemilu April 2004 beranggotakan 20 orang, dengan penyebaran menurut tingkat pendidikan, suku bangsa, dan agama sebagai berikut :
Tabel 3. Sebaran Anggota Dewan di Kabupaten Waropen April, 2004 No. 1. Kriteria Anggota Dewan Jumlah (orang) 16 3 1 20 17 3 20 16 1 3 19 1 20 Nisbah (%) 80 15 5 100 85 15 100 80 5 15 95 5 100 Tingkat Pendidikan SLTA Diploma Sarjana Total 2. Suku Bangsa Papua Luar Papua Total 3. Agama Kristen Protestan Kristen katolik Islam 4. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Sumber : Data Primer, 2004

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 4

KABUPATEN WAROPEN
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Waropen sebelum Tahun 2004 masih bernama Dewan perwakillan Rakyat Kabupaten Yapen Waropen. Dalam analisis kinerja menggunakan kinerja DPRD Tahun 1999 2004. Wawancara dilakukan pada beberapa anggota DPRD Kabupaten Waropen. Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap 4 orang anggota diperoleh visi dan misi yang berbeda satu sama lain. Anggota perempuan visinya yaitu menjadikan perempuan asli daerah yang mampu bersaing dalam pembangunan. Hal ini dapat dicapai melalui misi-misi antara lain; mengikutsertakan perempuan asli daerah mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar-seminar dan lokakarya serta rapat-rapat pembangunan. Anggota laki-laki menyatakan visinya antara lain, memberdayakan masyarakat asli dalam mengelola sumberdaya daerah, menjaga hak-hak ulayat masyarakat asli. Peraturan daerah yang dihasilkan belum ada, disebabkan anggota DPRD tersebut baru saja dilantik. Jumlah pengaduan masyarakat yang masuk pada DPRD berupa penanganan kasus tanah, yaitu permintaan ganti rugi tanah dari pemda yang digunakan menjadi kawasan perkantoran. Hingga kini kasus ganti rugi tanah masih berlanjut, tanpa penanganan tuntas. 4.1. BPK/BPD/LKMD

Dari pengamatan di distrik terlihat bahwa BPK yang dinamakan Badan Perwakilan Kampung (Baperkam) memiliki seorang kepala kampung dan seorang sekretaris, dengan 3 (tiga) orang Kepala Urusan, dan sebuah Lembaga yaitu Lembaga Ketahanan Kampung. Masih banyak Baperkam hanya dalam bentuk bangunan fisik, akan tetapi kegiatan kantor belum berjalan sebagaimana mestinya.

4.2.

Sistem Pengadilan

Sampai pada survey dilakukan daerah ini belum mempunyai sistem pengadilan, masih menggunakan fasilitas, personal kabupaten induk, dengan kata lain masih satu dengan Kabupaten Yapen. Kasus-kasus hukum diselesaikan di pengadilan di Kabupaten Yapen. Konflik dalam kehidupan sehari-hari dipecahkan melalui tetua tetua adat maupun pemuka-pemuka agama. Pemecahan konflik secara adat biasanya diselesaikan dengan pembayaran denda bagi pelanggar, sementara itu pemecahan secara agama dilakukan dengan cara damai. 4.3. Keikutsertaan masyarakat di perencanaan pembangunan local Dewan Perwakilan Daerah ikut serta secara proaktif dalam perencanaan pembangunan daerah, hal ini terlihat dengan diadakannya rapat dengar pendapat yang diselenggarakan oleh BP3D dalam rangka penyusunan anggaran daerah hingga penetapannya (walaupun anggaran masih satu dengan Kabupaten Yapen) namun dalam evaluasi yang dilakukan terlihat kurang kritisnya para anggota. Dalam rangka pembangunan di distrik maupun kampong, para kepala distrik maupun kepala kampong kurang melibatkan Badan Perwakilan Kampung (Baperkam), melainkan perencanaan pembangunan hampir tidak dilakukan melainkan turun dari pemerintah yang lebih tinggi.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 5

KABUPATEN WAROPEN
Peran Lembaga Sosial Masyarakat hampir tidak ada dalam perencanaan pembangunan daerah, disamping jumlahnya relative sedikit, juga keberadaannya yang kurang diketahui oleh pihak pemerintah. Demikian juga dengan peran masyarakat belum ada terlihat dalam perencanaan pembangunan daerah. 4.4. Peranan masyarakat dalam bidang pelayanan sosial dasar Di bidang pendidikan belum tampak peran masyarakat, walaupun hampir setiap sekolah mempunyai komite sekolah yang terdiri dari para orangtua murid dan donatur akan tetapi belum mempunyai kinerja dalam pembangunan pendidikan. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi fungsi komite sekolah, dan kurangnya sarana informasi yang diikuti pada orangtua murid. Di bidang kesehatan terlihat adanya kader-kader di puskesmas pembantu tertentu, pada jadwal-jadwal tertentu mereka bersedia membantu paramedis dalam penimbangan bayi maupun ibu-ibu hamil dan pemberian makanan tambahan. 5.

KEADAAN EKONOMI, 2000-2003


5.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Data PDRB daerah ini masih tergabung dalam kabupaten induk. Dari hasil survey yang dilakukan sebagian besar kegiatan masyarakat digolongkan subsisten, yaitu berusaha sebatas memenuhi kebutuhan hidup baik melalui atau tanpa melalui peredaran uang. Sektor dominan adalah pertanian yaitu meramu hutan bakau atau pesisir pantai bakau untuk mencari udang, kepiting, kerang, dan ikan yang hidup di pesisir pantai bakau. Kemudian diikuti dengan pertanian tanaman pangan dengan luas lahan yang sempit dengan pola campuran, tanaman perkebunan yaitu kakao dan kopi dengan kondisi tidak terawat. 5.2. Perdagangan dan Kredit

Setiap distrik mempunyai pasar, sementara itu pasar kabupaten 1 (satu) unit berada di Waren, terdapat hanya 1 unit toko yang menjual barang pecah belah, dan barang sandang lainnya. Sementara itu keperluan papan masyarakat masih harus dibeli di Kabupaten Yapen. Barang yang masuk ke daerah ini berupa bahan makanan pokok kecualii sagu, bahan sandang, dan kebutuhan sekunder lainnya. Sementara itu barang yang keluar dari daerah ini untuk antar pulau hampir tidak ada. Jalur perdagangan dengan luar daerah hanya bisa ditempuh dengan alat transportasi laut yang juga kelancarannya tergantung dari cuaca/iklim saat itu. Jumlah koperasi yang ada di Kabupaten Waropen hanya berupa Koperasi Unit Desa (KUD) yang pada tahun 2002 berjumlah sebanyak 23 unit. Bank di daerah ini hanya Bank BRI yang merupakan unit dari Bank BRI Cabang Yapen. 6.

PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA


Kabupaten Waropen baru berjalan efektif mulai awal Tahun 2004, seluruh pelayanan sosial dasar pemerintah daerah belum secara khusus melayani

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 6

KABUPATEN WAROPEN
masyarakat di daerah ini. Seluruh program, kebijakan, anggaran dalam pelayanan sosial dasar masih berasal dari kabupaten induk. Pelayanan dasar kesehatan dapat dikatakan relatif minim sekali, setiap distrik mempunyai pustu dan beberapa posyandu. Pustu dengan kondisi bangunan darurat, paramedis terbatas baik jumlah maupun kehadiran di tempat, posyandu yang masih menggunakan rumah masyarakat dengan jadwal pelayanan 1 kali dalam sebulan. Di Distrik Waren terdapat sebuah puskesmas rawat inap dengan tenaga dokter 1 (satu) orang, paramedis 2 (dua) orang, dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 2 (dua) set. Transportasi yang menghubungkan jalan antar distrik hanya dapat dilalui dengan laut dan perahu kayu ataupun perahu motor, demikian juga halnya dengan transportasi antar kabupaten. Dari pengamatan di lapangan di Distrik Waropen Bawah, jalan raya yang ada hanya sepanjang 12 Km dengan mutu relatif rendah. Di daerah ini terdapat Satuan Pemukiman (SP) Transmigrasi dari SP I hingga V, yang dihuni oleh penduduk suku Jawa. Alat Komunikasi yang ada masih terbatas komunikasi satu arah yaitu televisi dengan menggunakan parabola, radio. Sementara itu alat komunikasi dua arah belum tersedia. Listrik yang tersedia masih berasal dari kabupaten induk, sementara itu air bersih belum dikelola oleh pemerintah daerah. Air bersih yang digunakan penduduk berasal dari sumur-sumur yang diadakan oleh penduduk.

7.

KESIMPULAN UMUM
1. Fisik Wilayah Kondisi fisik daerah yang terisolir, dimana daerah ini dapat dicapai dari daerah lain hanya dengan kapal motor kecil dan kapal kayu, dan transportasi antar kampung hanya dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan jalan kaki, membuat pembangunan di daerah ini relatif lambat. 2. Penduduk Walaupun kepadatan penduduk relatif rendah yaitu 34.48 jiwa/Km2, namun dengan pertumbuhan penduduk Kabupaten Waropen relatif tinggi yaitu 2.75 persen per tahun, perlu dilakukan penyuluhan Keluarga Berencana. Perlu pemerataan pembangunan di seluruh distrik, agar jumlah penduduk lebih terdistribusi merata. Sebagian besar penduduk adalah suku Jawa yang ditempatkan melalui program transmigrasi sebanyak 5 Satuan Pemukiman atau kurang lebih 10.000 jiwa, yang diikuti dengan suku asli Papua yaitu waropen, Serui, dan Papua lainnya. Suku pendatang lainnya adalah Bugis Makassar, Toraja, dan Batak. 3. Kegiatan Ekonomi Masyarakat Mata pencaharian penduduk dominant sebagai petani terutama bagi mereka suku Jawa (transmigrasi), terutama tanaman palawija seperti singkong, betatas, dan sayur-sayuran yang dipasarkan khusus di pasar setempat,

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 7

KABUPATEN WAROPEN
disamping itu terdapat juga suku asli Papua yang mengusahakan kebun kakao dari hasil pembagian Proyek Cenderawasih Bay Coastal Agricultural Development (CCAD). Diasmping sebagian besar meramu sagu dan hutan bakau merupakan mata pencaharian utama. Hutan bakau di pesisir pantai di daerah ini kaya akan sagu dan sumber perikanan bakau seperti udang, kepiting, kerang, dan lainnya, dimana hasilnya sebagian besar untuk dikonsumsi dan sebagian dipasarkan di pasar setempat. Bagi sebagian kecil suku asli Papua dan suku pendatang seperti Bugis Makasar, melaut untuk menangkap ikan di lepas panta merupakan mata pencaharian mereka, dimana hasil tangkapan tergantung pada musim, pada musim teduh maka hasill tangkapan relative besar, sebaliknya nelayan akan mendapat hasil yang relative kecil dan bahkan tidak akan melaut. Pada saat hasil tangkapan besar maka harga persatuan ikan akan turun, sebaliknya akan meningkat. Walaupun hasil perikanan yang ditangkap dalam ukuran nominal dapat dikatakan relative besar pada musimnya akan tetapi dalam nilai rupiah hasil ini relative kecil, bahkan seringkali hasil tangkapan diberikan secara CumaCuma kepada tetangga ataupun kerabat lainnya. Belum tersedianya investor dari luar untuk mengolah maupun memasarkan baik hasil pertanian, hasil sagu, maupun hasil tangkapan masyarakat, menjadikan hasil tersebut hanya dikonsumsi masyarakat setempat, hal ini membuat pengusahaan komoditi-komoditi tersebut masih dilakukan secara subsisten dengan harga relatif rendah. 3. Kapasitas Personil Pemda Dari Hasil survey di lapangan dan wawancara dengan Kepala bagian Kepegawaian Kabupaten Waropen dapat dikatakan kapasitas personil pemda dari tingkat pendidikan pada umumnya telah memenuhi standar kualitas harapan, akan tetapi, masih banyak pegawai ditempatkan tidak sesuai dengan kemampuannya. Perkantoran kabupaten ini masih dalam taraf pembangunan, dinas-dinas yang ada masih menggunakan rumah penduduk sebagai perkantoran. Perkantoran masih menggunakan listrik dari Kabupaten Yapen, belum mempunyai fasilitas telekomunikasi telepon. Satu-satunya alat komunikasi yang digunakan adalah SSB (Seismograph System Band). 4. Ketersediaan Data Data-data aspek pembangunan daerah yang tersedia masih tergabung dalam Yapen waropen dalam Angka, belum tersedia Waropen dalam angka.

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN DI PAPUA

IX - 8

LAMPIRAN

LAMPIRAN
Tabel 1. Fisik Wilayah Kabupaten
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen Luas (Km2) 14.555 5.788 17.970 46.108 12.320 18.500 2.050 16.944 Bentuk Wilayah Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil Daratan Tanah Besar dan Pulau-Pulau Kecil

Tabel 2. Pembagian Administratif Wilayah


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen Jumlah Distrik 11 7 12 10 9 4 5 3 Jumlah Kampung 409 56 120 85 101 71 111 61 Jumlah Kelurahan 9 1 5 2 5 -

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 1

LAMPIRAN
Tabel 3. Penduduk
No. Kabupaten Jumlah Penduduk (Jiwa) 143.949 17.076 120.052 47.771 63.068 48.750 70.522 23.072 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 9,82 2,95 6,68 1,04 5,11 2,63 34,40 1,36 Pertumbuhan Penduduk (%/tahun) Ta Ta 2,92 Ta 5,56 Ta 2,75 Ta

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen

Tabel 4. Matapencaharian Penduduk


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen Sektor Primer (%) 50 54 51 71 58 60 52 60 Sektor Sekunder (%) 26 32 40 17 8 28 34 29 Sektor tersier (%) 24 14 9 12 34 12 16 11

Tabel 5. Kemiskinan Penduduk Kabupaten


No. Kabupaten 1999 1. 2. 3. 4. Manokwari Sorong Fakfak Yapen 37,5 28,8 28,7 32,6 IKM 2002 39,0 28,3 26,9 38,9 Ranking IKM 1999 278 188 186 238 2002 332 245 216 331

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 2

LAMPIRAN
Tabel 6. Jumlah Pegawai Menurut Golongan Kepangkatan
No. Kabupaten IV 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Manokwari Tlk. Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen Jumlah Papua 239 Na 133 Na 48 49 210 Na 307 III 1.968 Na 1.707 Na 1.356 322 1.143 Na 2.821 Jumlah Pegawai II 2.225 Na 1.477 Na 1.583 522 1.488 Na 3.593 I 231 Na 149 Na 96 50 142 na 668 Total 4663 214 3496 927 3083 943 2983 114 16.423

Tabel 7. Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Tlk. Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen 3 2 2 4 Asisten 3 Bagian 9 5 9 5 9 2 9 Dinas 16 7 23 10 11 4 21 7 Badan 5 2 7 2 9 2 4 2 Kantor 5 2 1 3 3 4 2 Distrik 11 7 12 10 9 4 5 3

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 3

LAMPIRAN
Tabel 8. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Luas Daerah

No.

Kabupaten 2004

PAD (Rp.) 2003 10.529.973.872 2002 5.794.556.875

Luas Wilayah (Km2) 14.655 5.788

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen Rata-rata

8.581.002.004 663000000

7497364954

11971766076

17.970 46.108

12602759800

6182348900

12.320 18.500

2632602510

2902107878

2.050 16.944

4622001002

8315675284

6712694932

16.791,9

Tabel 9. Perolehan Dana Perimbangan

No.

Kabupaten 2004

Dana Perimbangan (Rp.) 2003 375.753.048.972 2002 260.050.762.660

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen Rata-rata

334.695.992.063 33.000.000.000

347880915143

280064508411

289767515300

232210050800

258058278793

187118749767

317,864,939,552

239,861,017,910

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 4

LAMPIRAN
Tabel 10. Perolehan Dana Otonomi Khusus (Otsus)

No.

Kabupaten 2004

Dana Otonomi Khusus (Rp.) 2003 52735601200 0 50583209642 0 34100000000 0 24690430400 0 62,109,241,242 2002 46705447000 0 51373307000 0 30500000000 0 27174819000 0 155,753,573,000

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen Rata-rata

32448360000 19939511200 0 0 0 0 0 0 52387871200

Tabel 11. Pembelanjaan Daerah Menurut Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan 2003.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen 176.487.015.438 82.826.557.655 164.047.530.403 22.219.525.015 399.230.687.197 8.373.079.563 Belanja Rutin 179.399.059.748 Belanja Pembangunan 123.861.855.900 Jumlah Pegawai 4663 214 3496 927 3083 943 2983 114

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 5

LAMPIRAN
Tabel 12. Proporsi Belanja Pembangunan Menurut Sektor Tahun 2003
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Industri Pertanian dan Kehutanan Sumber Daya Air dan irigasi Tenaga kerja Perdagangan, Pengembangan Usaha Daerah, Keuangan Daerah dan Koperasi Transportasi Pertambangan dan Energi Pariwisata dan Telekomunikasi Daerah Pembangunan Dearah dan Pemukiman Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pendidikan, Kebudayaan nasional, Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, Pemuda dan Olahraga Kependudukan dan Keluarga Berencana ektor Kesehatan, Kesejahteraan Sosial Peranan Wanita, Anak dan Remaja Perumahan dan Pemukiman Agama ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hukum Aparatur Pemerintah dan Pengawasan Politik, Penerangan, Komunikasi dan Massa Keamanan dan Ketertiban Umum Manokwari 0.16 7.96 1.51 0.12 4.84 14.07 1.38 0.36 6.66 10.24 5.41 1.08 35.48 0.91 0.92 0.89 26.29 Sorong 0.41 11.13 0.61 Fakfak 0,01 5,78 0,36 2,91 9,65 0,24 0,04 3,34 6,25 0.63 0.77 5.54 18.91 0.45 1.87 1.28 4.93 Yapen

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

10.80 18.53 1.34 0.61 0.24 15.09 0.45 0.20

10.44 4.42

3,26 1,49 1,16 0,06 0,06 8.60 0.77 0.75 19.23

7.41

6,04 0,09 0,12

0.56 0.68 0.33

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 6

LAMPIRAN
Tabel 13. Proporsi Belanja Menurut Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen Rata-rata 63,69 36,31 100,00 49,12 50,88 100,00 57,31 42,69 100,00 89,19 10,81 100,00 Belanja Rutin 59,16 Belanja Pembangunan 40,84 Total 100,00

Tabel 14. Karakteristik Anggota DPRD Tahun 2004 2009 Menurut Pendidikan.
No. Kabupaten L 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen 11 15 13 13 15 13 14 15 SMU P 1 1 1 3 1 1 Perguruan Tinggi L 13 4 5 6 5 3 5 4 P 1 1 1 L 24 19 18 19 20 16 19 19 Total P 1 1 2 1 4 1 1

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 7

LAMPIRAN
Tabel 15. Karakteristik Anggota DPRD Tahun Menurut Daerah Asal.
No. Kabupaten Papua L 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen 8 14 14 9 13 16 1 1 3 1 1 10 5 6 7 6 3 1 1 18 19 20 16 19 19 14 P 1 Non Papua L 10 P L 24 Total P 1 20 2 1 4 1 1

Tabel 16. Karakteristik Anggota DPRD Tahun 2004 2009 Menurut Agama.
No. Kabupaten Islam 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fakfak Kaimana Yapen Waropen 6 7 11 12 3 3 14 13 9 8 17 17 4 Agama Kristen 21 Total 25 20 20 20 20 20 20 20

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 8

LAMPIRAN
Tabel 17. Karakteristik Anggota DPRD Tahun 2004 2009 Menurut Partai Politik
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16 17. 18. 19. Jumlah Kabupaten GOLKAR PDIP PPP PDS Demokrat PAN PBSD PDK Merdeka PSI PNI Marhaenisme PKB PBB PKP Patriot Pancasila PKS Pelopor Persatuan Daerah Bintang Reformasi Indonesia Baru 25 20 20 20 20 1 1 1 20 20 20 MKW 5 3 1 2 1 1 5 1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 TW 7 3 1 3 1 SRG 9 3 2 1 1 1 1 1 5 2 2 RA 4 5 1 3 1 1 FF KIM 5 4 1 YP 5 4 WRP

Tabel 18.

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Harga Berlaku Diperinci Menurut Kelompok Sektor. Tahun 2000 - 2003
2000 Rp. Jutaan (%) 19,81 2001 Rp. Jutaan (%) 19,81 2,53 13,77 2002 Rp. Jutaan (%) 14,08 4,55 16,58 2003 Rp. Jutaan (%) 1.530.365,84 438.168,18 9,33 16,92 -

No.

KABUPATEN

1. 2. 3. 4.

Manokwari Sorong Fakfak Yapen

773.197,67 1.373.555,90 282.527,49 -

871.076,69 1.338.755,51 321.527,95 -

993.749,90 1.399.700,67 374.747,62 -

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L- 9

LAMPIRAN
Tabel 19. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Harga Konstan Diperinci Menurut Kelompok Sektor. Tahun 2000 - 2003
2000 Rp. Jutaan 1. 2. 3. 4. Manokwari Sorong Fakfak Yapen 351.209,59 365.347,33 143.121,31 (%) 2001 Rp. Jutaan 362.391,27 365.328,87 148.914,64 (%) 6,52 0,005 4,05 2002 Rp. Jutaan 378.444,93 378.988,05 159.630,11 (%) 4,43 3,74 7,20 2003 Rp. Jutaan 401.323,96 170.714,79 (%) 5,89 6,94 -

No.

KABUPATEN

Tabel 20. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Harga Berlaku Diperinci Menurut Kelompok Sektor. NO.
I 1. 2. II 3. 4. 5. III 6. 7. 8. 9.

KELOMPOK SEKTOR
PRIMER Pertanian Pertambangan dan Penggalian SEKUNDER Industri Pengolahan Listrik dan Air Minum Bangunan TERSIER Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah

Manokwari (2002)
60,97

Sorong (2003)
77,87

Fakfak (2003)
31.58

Yapen (1999)
41,46

56,96 1,01
15,07

14,26 63,61
11,06

29.07 2.51
22.33

38,89 2,57
16,08

6,52 0,62 7,93


26,96

9,07 0,17 1,82


11,07

8.76 1.31 12.26


46.09

2,64 0,60 12,84


37,47

7,24 3.78 2,14 13,80


100,00

1,66 0,92 0,43 8,06 100,00

11.24 8.28 2.71 23.86 100,00

6,63 4,34 3.07 23,43 100,00

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 10

LAMPIRAN
Tabel 21. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Harga Konstan Diperinci Menurut Kelompok Sektor. KELOMPOK SEKTOR
PRIMER 1. 2. Pertanian Pertambangan dan Penggalian SEKUNDER 3. 4. 5. Industri Pengolahan Listrik dan Air Minum Bangunan TERSIER 6. 7. 8. 9. Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

NO.

Manokwari (2002)
64,07

Sorong (2003)
69,89

Fakfak (2003)
31,58

Yapen (1999)

63,09 0,98
15,86

23,17 46,72
18,08

29,07 2,51
22,33

4,62 0,64 10,60


17,39

14,40 0,29 3,39


12,03

8,76 1,31 12,26


46,09

2,62 4,29 0,03 13,07 1,99 0,77 6,65

11,24 8,28 2,71 23,86

Tabel 22. Komposisi Tenaga Kerja Menurut Kelompok Sektor NO.


1. 2. 3.

KABUPATEN
Manokwari (2002) Sorong (2003) Fakfak (2003)

PRIMER
2.288

PERSEN
50,04

SEKUNDER
1.176

PERSEN
25,72

TERSIER
1.108

PERSEN
24,23

4.343
13.262

50,80
58,14

3.396
1.925

39,72
8,44

810
7.622

9,47
33,42

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 11

LAMPIRAN
Tabel 24. Kondisi tenaga kerja dan Pengangguran Tahun 2002 No.
1. 2. 3.

Uraian
Angka Partisipasi Angkatan Kerja (%) Pengangguran Terbuka (%) Pekerja yang bekerja Kurang 14 jam per minggu Kurang 35 jam per minggu

Manokwari Sorong 81,1 1,4 62,0 7,5

Fakfak 75,2 3,7

Yapen Waropen 91,4 1,0

Papua 77,4 4,3

Indonesia 67,7 10,6

20,0 46,1 99,4

1,9 49,8 83,5

4,4 39,6 75,8

3,3 73,4 99,0

6,3 50,7 84,5

7,1 35,2 64,1

4.

Pekerja di sector informal


Sumber : BPS-BAPPENAS-UNDP, 2004

Tabel

23.

Persentase PDRB dan Tenaga Kerja Per Sektor Berdasarkan Harga Konstan
SEKTOR PRIMER PERSEN PDRB PERSEN TK SEKTOR SEKUNDER PERSEN PDRB 15,86 18,08 22,33 PERSEN TK SEKTOR TERSIER PERSEN PDRB 17,39 12,03 46,09 PERSEN TK

NO.

KABUPATEN

1. 2. 3.

Manokwari (2002) Sorong (2003) Fakfak (2003)

64,07 69,89 31,58

50,04
50,80

25,72
39,72

24,23
9,47

58,14

8,44

33,42

Tabel 25. Anggaran Pengeluaran Sektor Kesehatan (APBD) di 8 Kabupaten Tahun 2000 20003 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong **) Fak-fak Kaimana Yapen 929.124.640 (3.50) Rupiah (%) 2002*) 16.544.466.000 2.644.716.975 8.181.544.000 2.391.132.000 (4.79) 26.645.367.897 *)

2000*) 3.703.039.248 -

2001*)

2003 29.943.127.000 1.379.450.000 5.047.869.540 7.966.555.680*) -

4.237.826.000 2.645.020.000 3.350.909.000 3.832.185.500 (5.18)

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 12

LAMPIRAN
Tabel 26. Jumlah Tenaga Medis dan Paramedis di 8 (delapan) Kabupaten 2004 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen Jumlah Dokter Ahli Perawat 4 345*) 33 12 222 164*) 9 155 3 102 7. Waropen -

Dokter 19 2 31 2 21 10 1

Bidan 2 147 97 34

Tabel 27. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Sarana dan Prasarana Kesehatan di 8 (delapan) kabupaten Tahun 2004 Uraian Jumlah Puskesmas Pustu 2 3 1 1 70 2 8 1 8 6 1 73 8 40 2 38 13 5

Rumah Sakit

Posyandu 189 24

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen

Tabel 28.

Jenis Penyakit Menurut Ranking Prevalensi Penyakit di 8 (Delapan) Kabupaten Tahun 2003 Kabupaten Ranking Jenis Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), malaria, kulit, diare, dan HIV/AIDS Malaria, ISPA, diare, kulit Malaria, Tuberclosis, kulit, diare,HIV/AIDS, tumor Malaria, kulit, diare Tuberclosis, malaria, ISPA, kulit, diare Malaria, ISPA, tuberclosis, kulit, diare Tuberclosis, malaria, polio, diare, kulit Polio, malaria, diare, kulit, tuberclosis

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 13

LAMPIRAN
Tabel 32. No. 1. 2 3. 4. Angka Kematian Bayi di 8 (delapan) Kabupaten Tahun 2000-2003 Kabupaten Manokwari Sorong Fak-fak Yapen Angka Kematian Bayi 2001 2002 35 35 12 81 33 50 77 61

2000 85 78

2003 45 77 43 57

Tabel 33. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Angka Kematian Anak Balita di 8 (delapan) Kabupaten 2000-2003 Kabupaten 2000 60 Angka Kematian Balita 2001 2002 35 36 22 2003 21 13 -

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen

88 -

77 -

73 -

73 -

Tabel No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

34.

Persentase Bayi Penerima Imunisasi di 8 (delapan) Kabupaten 20002003 Kabupaten 2000 Persentase Bayi Penerima Imunisasi 2001 2002 2003 22 13 -

Manokwari Teluk Wondama Sorong Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen

61 -

58 -

72 -

73 -

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 14

LAMPIRAN
Tabel 35. Anggaran Pengeluaran Sektor Pendidikan (APBD) Kabupaten Tahun 2000 20003 Rupiah 2002*)
15.961.811.000 15.400.790.300 15.307.107.500 2.223.284.150

di 8 (delapan)

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Kabupaten Manokwari Teluk Wondama Sorong **) Raja Ampat Fak-fak Kaimana Yapen Waropen

2000*)
4.261.388.479 -

2001*)
11.022.876.200 3.720.647.100 13.897.835.600 4.724.997.500

2003
23.118.140.200 1.550.383.300 12.718.782.850 2.000.000.000 15.280.483.265*) 58.580.973.056*)

14.499.340.000 5.272.436.000

Sumber : Berbagai Laporan Keuangan Kabupaten Keterangan *) : Termasuk Kabupaten pemekaran **) : Data tidak diperoleh

KAPASITAS PEMERINTAH DAERAH 8 KABUPATEN TERPILIH DI PAPUA

L - 15

No

Indikator

Tahun

Nasional

Papua

Fakfak

Kaimana

Yapen

Waropen

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat

Manokwari

Tlk Wondama

KARAKTERISTIK WILAYAH

Keadaan Fisik Wilayah (DIRK) - Tahun pembentukan daerah ini - Luas wilayah (ha) - % luas daerah dari Provinsi - % wilayah dengan ketinggian dari Permukaan laut (0 - 100 m) - % wilayah dengan ketinggian ketinggian DPL (>100 - 500m) - % wilayah dengan ketinggian ketinggian DPL (>500 - 1.000 m) - % wilayah dengan kelas Lereng 0 - 15 derajat - % wilayah dengan kelas Lereng > 15 - 40 derajat - % wilayah dengan kelas Lereng > 40 derajat - Transportasi utama dari Provinsi ke daerah ini - Transportasi utama dari pusat perdagangan ke daerah ini - Transportasi utama di dalam daerah ini 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 42198100 100 23781999 6290519 4076354 23498750 2395432 16303918 Laut, udara Laut, udara Laut, Darat 1,232,000 2.92 sbg besar na na na na na Laut, Udara Laut, Udara Laut 2002 1,850,000 4.38 na na na na na na Laut, Udara Laut, Udara Darat,Laut 205,000 0.48 sbgn bsr na na na na na Laut Laut Laut sbgn bsr na na na na na Laut, Udara Laut, Udara Darat, Laut 2002 1,694,400 1,797,000 4.26 sbgn besar na na na na na Laut Laut Laut 2002 4,610,800 10.93 100 na na na na na Laut, Udara Laut, Udara Darat, Laut 1969 1,455,500 3.45 na na na na na na Laut, Udara Laut, Udara Laut 2002 578,800 1.37 na na na na na na

Wilayah Administrasi Pemerintahan (SILO) - Jumlah Distrik - Jumlah Kelurahan/Kampung 2005 2005 219 3759 9 106 4 73 5 116 3 61 12 121 10 85 11 418 7 56

Keadaan Sosial Ekonomi (SILO) (1) Kependudukan - Jumlah Penduduk (jiwa) - % Laju Pertumbuhan Penduduk - Kepadatan penduduk (jiwa per km2) - Sex rasio laki-laki thdp perempuan (%) - % penduduk berpendidikan SD kebawah - % penduduk berpendidikan Dasar 9 Tahun - Jumlah suku asli daerah ini - % penduduk usia kerja (2) Keadaan Ekonomi Masyarakat % penduduk di sektor pertanian di daerah ini 58%
Page 1 of 12

2003 2003 2003 2003

2469785 3,18 5,85

63,068 5.56% 5.11 115% 66.21 17.6

48,750 7.00% 2.63 109% na na 8

70,522 2.75% 34.86 104% 86.9 60.2

23,072 na 1.36 111% na na

120,052 2.92% 6.68 115%

47,771 na 1.04 na

143,949 na 9.82 111% 19.0% 23.9% 5

17,076 na 2.95 131%

62%

na

50.87%

na

76.3%

60%

60%

60%

65

85

48.9%

60%

No

Indikator % penduduk di sektor non pertanian daerah ini

Tahun

Nasional

Papua

Fakfak 42%

Kaimana 40%

Yapen 40%

Waropen

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat 35 15

Manokwari 51.1%

Tlk Wondama 40%

40%

Kemiskinan (ASALLE) - % Penduduk Miskin di daerah ini 2002 2003 - Tingkat Harapan Hidup (tahun) 1999 2002 - Angka buta huruf orang dewasa (%) 1999 2002 - Penduduk Tanpa Akses Pada Fasilitas Sarana Kesehatan (%) 1999 2002 - Balita Kurang Gizi (%) 1999 2002 - Pengangguran Terbuka (%) 1999 2002 - Rumah Tangga yang tidak dapat akses air bersih (%) 1999 2000 - Rumah Tangga yang tidak dapat akses sanitasi (%) 1999 2000 - Peringkat IKM dari 26 Provinsi, 294 Kabupaten/Kota - Peringkat IKM dari 30 Provinsi, 341 Kabupaten/Kota - Peringkat IPM dari 26 Provinsi, 294 Kabupaten/Kota - Peringkat IPM dari 30 Provinsi, 341 Kabupaten/Kota 1999 2002 1999 2002 25 55.2 10.6 4.3 45.5 38.4 38.9 54.1 na 28 25 29 3.7 40.9 46.5 40.2 49.7 4 3 na na na na na 66.2 66.2 11.6 10.5 21.6 23.1 30 25.8 18.2 41.8 39.02 64.5 65.2 28.8 25.6 36.0 36.1 28.3 24.3 68 68.7 5.1 13.6 35.7 35.8 28.3 24.3 na na na 1.0% 69.40% 89.60% 56.30% 67.40% 3 4 331 na na na na na na dlm induk dlm induk dlm induk na 55.2 57.8 18.7 45.5 5 5 5 8 na na na na na na na na 279 332 60 58 37.60% 86.70% na na na na na na na 43.23% 45.12% 62.8 53.1 14.50% 34.10% 36.00% 36.10% 25.80% na na na na na dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk na na 64.1 64.8 11.8 12.7 32.2 32.2 32.3 27.8 na na na na na na na na na 1.45% 24.30% 86.7 na na
68,1(P) 64,2 (L)

80.3%

37.5

II

SUMBER DAYA PEMDA (SILO)

Kapasitas Personil - Jumlah PNS - % PNS dengan pendidikan SD - % PNS dengan pendidikan SLTP - % PNS dengan pendidikan SLTA - Rasio PNS Laki-Laki thdp PNS Perempuan (%) - % PNS berdasarkan Golongan - Golongan I - Golongan II 3% 51%
Page 2 of 12

2004

3083 4.96% 3.15% 68.93% 207.70%

809 2.60% 4.94% 55.87% 200%

2983 2.65% 2.92% 48.17% na 4.76% 49.88% 4.38% 40.69%

548 na na na na

3 496 6.52 4.89 56.06 191%

927 na na na 244%

4663 4.41% 3.81% 51.39% 370.0%

334 1.8 2.40% 60.78% 284.6%

5.7 58

4.26 42.25

2.68% 38.39%

4.95 47.72

6 62

No - Golongan III -Golongan IV 2 Kapasitas Organisasi - Jumlah Dinas Pemda - Jumlah Badan - Jumlah Kantor - Jumlah Anggota Dewan

Indikator

Tahun

Nasional

Papua

Fakfak 44% 2%

Kaimana 32.6 3.7

Yapen 38.32% 7.04%

Waropen 50.55% 4.38%

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat 49.69 3.8 52.68% 6.25%

Manokwari 42.2 5.13

Tlk Wondama 31 1

2005 2005 2005 2005 2005

11 9 3 20 0

5 2 2 20 4

19 5 3 20 1

7 3 0 20 1

23 7 18 20 2

10 2 1 20 2

16 5 5 25 1

7 2 2 20 1

- Jumlah Perempuan Dalam DPRD

III

KEUANGAN DAERAH (ASALLE) - Total APBD Kabupaten Induk (juta rupiah) 2002 2003 2004 - Total pendapatan Kabupaten Pemekaran (juta rupiah) - % PAD terhadap total Pendapatan Daerah - % Dana Perimbangan terhadap total Pendapatan Daerah - % Dana Otsus terhadap total Pendapatan Daerah - % Belanja Sektor Kesehatan - % Belanja Sektor Pendidikan - % Belanja Sektor Prasarana dan Sarana - % Belanja Sektor Pertanian 2002 2002 2002 2002 2004 3.69% 90.59% 10.67% 3.26% 6.25% na 5.78% 207000 256,529 319,867 na na na 93,066 na 95.70 4.30 34.94% 20.70% 44.4% 0.0% 0.90% 9.19% 7.65% 10.07% 25.74% 43.94% 17.42% 176179 162,985 341,119 dlm induk dlm induk dlm induk na dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk 1.66% 76.93% 4.42% 10% 26% na 11% 259144.8368 358,251
452179.4972

na na na 61 dlm induk na 32.66 na na na na 2.12% 90% 8% 23.29% 32.37% 25.59% 9.51% 260,569 303,260 65,790 1.01 48.48 50.52 5.06% 5.60% 8.60% 1.62%

IV 1

PENGIKUTSERTAAN MASYARAKAT (AFATEM) DPRD - Jumlah perda yang dihasilkan dalam satu tahun - Jumlah kunjungan ke konstituen (kali per tahun) - % keluhan masyarakat yang ditindaklanjuti na na na na na na na 3 5 blm ada blm ada blm ada 72 na na belum ada belum ada belum ada na na na

Lembaga di Tingkat Kampung/Kelurahan - Ada tidaknya Baperkam/LKMD - Aktif tidaknya Baperkam dalam perencanaan ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak

Lembaga Swadaya Masyarkat - Ada tidaknya LMA - Aktif tidaknya LMA ada aktif
Page 3 of 12

ada aktif

ada aktif

ada aktif

ada aktif

ada aktif

ada aktif

ada aktif

Sistem pengadilan formal dan adat

No

Indikator Ada tidaknya pengadilan formal % kasus yang diputuskan pengadilan negeri dalam setahun % kasus yang diputuskan pengadilan adat dalam setahun

Tahun

Nasional

Papua

Fakfak ada

Kaimana tidak ada na na

Yapen ada 41% na

Waropen

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat ada 96 na tidak ada tidak ada na

Manokwari ada

Tlk Wondama

ikut induk ikut induk na

PEREKONOMIAN DAERAH (ASALLE) - PDRB - Harga Konstan 1993 (miliyar) - PDRB per kapita - Harga Konstan 1993 (ribuan rupiah) - Pertumbuhan PDRB - Harga Konstan 1993 (%) - Pertumbuhan PDRB Perkapita - Harga Konstan 1993 (%) - Penyerapan Angkatan Kerja(%) - % peran sektor primer-Harga Konstan 1993 - % peran sektor sekunder-Harga Konstan 1993 - % peran sektor Tersier-Harga Konstan 1993 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 31.58% 22.33% 46.09% 170714000 2,706,825 6.94% 7.86% na na na na na na na na 12000887 1,702,253 5.45 2.45% na na na na dlm induk dlm induk dlm induk dlm induk na na na na na na na na 40132396 334.291 3.21 na na na na na na na na 59.79% 14.84% 25.38% 92.31% 1.65% 6.04% 378444.59 2629018.54 4.43 28965 1696240.34

VI

PELAYANAN SOSIAL DASAR PEMDA

Pendidikan (DIRK) - Jumlah SD - Jumlah SLTP - % SD Negeri - % SLTP Negeri - Rasio SD Terhadap Kampung - Jumlah distrik yang ada SLTP - APM SD (%) - APK SD (%) - APM SLTP (%) - APK SLTP (%) - Rasio Murid Guru SD - Rasio Murid Guru SLTP - Rata-rata guru per SD - Rata-rata guru per SLTP - Angka Putus Sekolah umur 7-15 Tahun 2002 2.8 3.4 2002 79.3 78.6 84.60% na 15.6 12:00 7 11 3.9 2002 96.1 86.6 88 16 65% 56% 83% 9 93.70% 61 7 na na 86% 4 na na na na 17.4 21.4 2 11 na 60.20% na 16.69 30.69 7.6 7.64 19.80% na na na na na na na 93.9 na 15.85 14.93 7 10.55 1.9 110 17 50% 74% 94.82% 2 86.90% 50% 66% na 1 na na 99 19 69 74 81% 8 95.3 68 10 63 70 80% 6 na na na na na na na na na 19 21 7 9 37 22 3 6 229 38 55.5% 65.8% 56% 36 4 52.7% 75% 64%

Kesehatan (DIRK)
Page 4 of 12

No - Rumah Sakit

Indikator

Tahun 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005

Nasional

Papua

Fakfak 1 9 8 38 31 6 202 2052 315

Kaimana 0 4 4 29 4 1 157 12,186 310 na na na na na na

Yapen 1 5 6 12 11 5 136 60,405 518 3,916 58.1 17.20% 23% na na

Waropen

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat 0 3 1 2 1 1 na 1 8 8 53 43 3 369 2792 325 1 968 na na 32 na na na na 0 10 10 18 2 2 112 23 885 427 1 706 na na na na na

Manokwari 1 11 70 73 23 11 345 6258 615 2,056 47.7 58.7

Tlk Wondama 0 8 2 8 0

- Distrik yang memiliki Puskesmas atau Pustu - Jumlah Puskesmas - Jumlah Puskesmas Pembantu - Jumlah Tenaga Dokter - Jumlah puskesmas yang ada dokternya - Jumlah Tenaga Para Medis - Rasio dokter terhadap penduduk - Rasio paramedis terhadap penduduk - Rasio Penduduk Terhadap Puskesmas dan Pustu - Angka Kematian Bayi (per 1000) - Kelahiran Yang Ditolong Tenaga Medis (%) - Jumlah penderita malaria yang berobat (jiwa) - Jumlah penderita HIV/AIDS - % penduduk miskin yang mendapat pelayanan kesehatan 3 Pertanian (SILO) - Produktivitas tanaman pangan (ton/ha) - Luas areal tanaman pangan potensial (ribu ha) - Luas areal tanaman pangan produktif (ribu ha) - % Luas areal tanaman pangan produktif thdp potensial - Jumlah petani tanaman pangan - Produksi perikanan (ton) - Jumlah rumah tangga perikanan darat - Jumlah rumah tangga perikanan laut - Produksi peternakan (ton) - Jumlah petani peternak - Produktivitas perkebunan rakyat (ton/ha) - Jumlah petani perkebunan - Jumlah PPL Rasio PPL thdp petani tanaman pangan Rasio PPL thdp petani perikanan Rasio PPL thdp petani peternakan Rasio PPL thdp petani perkebunan 4 Prasarana dan Sarana (FATEM)

24

20,500 na 6,833 na na

742

2005 2002 2002 2003 43.5 66.7 50.5 51.8

1,383 33.3 60.50% 44.01% na

17

na

2003

0.4 na na na

na na na na na n.ap n.ap n.ap n.ap n.ap na na 0 0 0 0 0

5.7 na na na na 10,513 na 4518 na na 0.8 na na na na na na

na na na na na na na na na na na na na na na na na

4.25 na 3.94 na na 4 597,04 392 5 101 275.946 na 0.271 na na na na na na

na na 0.125 na na na 0 8 112 na na 1.2 na 41 na na na na

1.17 na 12241 na

1.4

675

2003 2003

11464 1030.87 0 1798 na na

1398

10552

540258

7141

2004

3.68 na

2.19

0.58

2004 2004

30 603 na na na
Page 5 of 12

81

No

Indikator - Jumlah distrik yang dapat dijangkau mobil pedesaan - Jumlah kampung yang dapat dijangkau angkutan pedesaan Jumlah kampung yang hanya dapat dijangkau angkutan air (laut/sunga/danau)

Tahun 2004 2004 2004

Nasional

Papua

Fakfak 5 48 58 0

Kaimana 1 na n.ap

Yapen 2 31 85 0

Waropen

Kabupaten dan Kota Sorong Raja Ampat 1 11 50 0 6 53 68 0 0 0 85 0

Manokwari 8 166

Tlk Wondama 1 4

- Jumlah kampung yang hanya dapat dijangkau angkutan udara - % rumah tangga listrik - Jumlah distrik yang memiliki pasar pengumpul - Frekwensi kedatangan kapal laut per minggu - Kapasitas pelabuhan laut - Jumlah landasan perintis yang masih aktif - Jumlah landasan komersial - Jumlah bongkar (ton) - Jumlah muat (ton) - Rasio bongkar muat (%) - Jumlah penumpang turun - Jumlah penumpang naik - Rasio penumpang turun naik (%) 2004 2004 2004

3 6 na 0 1 1 n.ap n.ap n.ap

0 6 na 1 1 11115 4387 25300% 3350 3627 93%

0 0 na 0 0 na na na na na na

2 0 0 0 0 na na na na na na

3 1 na 0 1 na na na na na na

11 5

2 2

2 1 1

VII

BEST PRACTICES - Perencanaan Terintegrasi di tingkat kabupaten/kota (PDPP) - Perencanaan Partisipatif di tingkat kampung/kelurahan (PDPP) - Pengorganisasian masyarakat dalam proses pembangunan (IDT) - Pengelolaan pembangunan di tingkat Distrik (PPK) - Program Dana bergulir (PPK) - Manajemen pelayanan kesehatan (WVI) - Manajemen pelayanan pendidikan (WVI) - Manajemen berbasis sekolah (UNICEF) - Penanganan HIV/AIDS (UNICEF) ada ada ada ada ada tidak tidak ada ada tidak tidak ada ada ada ada ada tidak tidak ada ada ada ada ada ada ada tidak ada tidak tidak ada tidak tidak tidak tidak tidak tidak ada ada ada ada ada na na ada ada tidak ada tidak ada ada ada ada na na tidak ada tidak ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada tidak ada ada ada ada ada ada tidak tidak

Page 6 of 12