Anda di halaman 1dari 5

4.

2 Pembahasan Hasil Percobaan

Pada percobaan kali ini dilakukan uji toksisitas akut untuk mendeteksi efek toksik dari Paracetamol yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian Paracetamol dalam dosis tunggal. Penelitian ini dirancang untuk menentukan dosis letal median (LD50), selain juga dapat menunjukkan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya. Pengamatan yang dilakukan meliputi gejala toksik, jumlah hewan yang mati dan makropatologi organ. Hewan uji yang digunakan adalah mencit dengan jenis kelamin betina dan jantan, hal ini bertujuan untuk membandingkan efek yang ditimbulkan antara keduanya. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa mencit betina akan mengalami efek obat yang lebih cepat dibandingkan dengan mencit jantan. Hal ini disebabkan karena mencit betina memiliki kadar lemak tubuh lebih banyak dan cairan tubuh yang lebih sedikit dibandingkan dengan mencit jantan sehingga obat-obat yang larut dalam air (cairan tubuh) akan lebih cepat berefek. Untuk mengetahui kondisi klinis awal hewan uji, maka mencit dari setiap kelompok uji dilakukan pengamatan gejala toksik pada kondisi fisik dan motorik sebelum pemberian zat uji Paracetamol (sebagai pengamatan pada t0). Gejala toksik yang diamati meliputi jumlah jengukan, aktivitas motorik, fenomena straub, piloereksi, ptosis, reflek corneal, reflek pineal, lakrimasi, vasodilatasi, katalepsi, gelantung, retablishmen, fleksi, hafner, geliat, grooming, tremor, vokalisasi, salivasi, mortilitas, sikap tubuh, urinasi dan defekasi. Semua hewan uji yang sudah diamati kondisi klinis awal (t0), diberikan Paracetamol secara per oral sesuai dengan kelompok dosisnya. Takaran dosis yang diberikan ada 6 peringkat dosis, dari dosis rendah yang tidak mematikan hewan uji sampai dosis tertinggi yang mematikan seluruh hewan uji. Dosis Paracetamol yang diberikan dimulai dari 5 mg, 50 mg, 300 mg, 2000 mg, dan 3000 mg. Sedangkan kelompok kontrol hanya diberi zat pembawa yaitu Na CMC 0,5 %. Kemudian dilakukan kembali pengamatan gejala toksik pada semua hewan

uji setelah 30 menit pemberian zat uji (t30), setelah 60 menit pemberian zat uji (t60), dan setelah 120 menit pemberian zat uji (t120). Berdasarkan data hasil pengamatan, hewan uji pada kelompok dosis 5 mg, 50 mg, dan 300 mg tidak menimbulkan gejala toksik. Pada dosis tersebut, gejala toksik yang diamati termasuk aktivitas motorik dan sikap tubuh hewan uji, setelah pemberian zat uji sampai pada menit ke 120 menunjukkan kondisi yang normal. Sedangkan, hewan uji pada kelompok dosis Paracetamol 2000 mg dan 3000 mg aktivitas motorik dan sikap tubuhnya sudah mulai menurun sebelum menit ke 30, dan semakin menurun sampai menit ke 120. Hal ini menunjukkan adanya aktifitas relaksan otot, penghambatan neuromuskular, atau depresan saraf pusat. Dalam waktu kurang dari 24 jam hewan uji pada kelompok dosis tersebut sudah mati. Kemudian dilakukan otopsi pada hewan uji yang mati untuk mengamati makropatologi pada setiap organ. Setiap organ diambil dari tubuh hewan uji, lalu ditimbang bobotnya dan dihitung indeks organnya. Berdasarkan indeks organ pada hewan uji yang mati dengan kelompok dosis Paracetamol 2000 mg dan 3000 mg, didapatkan persentase yang besar pada hati dan lambung. Secara makroskopis terjadi pembengkakan dan perubahan warna kehitaman pada hati dan pendarahan pada lambung hewan uji. Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai efek

antipiretik/analgetik. Efek antipiretik parasetamol diperankan oleh gugus aminobenzen dan diduga mekanismenya berdasarkan efek sentral. Pada dosis yang direkomendasikan, Parasetamol tidak mengiritasi lambung, memengaruhi koagulasi darah, atau memengaruhi fungsi ginjal. Namun, pada dosis besar atau diatas rentang dosis terapi (lebih dari 2000 mg per hari) dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, utamanya hati Kerusakan hati dapat terjadi secara permanen apabila tidak segera dilakukan tindakan penyembuhan. Secara alamiah, tubuh dapat mengeluarkan sisa metabolisme parasetamol (metabolit beracun) dari dalam tubuh. Pada kondisi overdosis, jumlah metabolit beracun sangat banyak, sehingga tidak dapat semua dikeluarkan. Akibatnya metabolit beracun akan terikat pada sel-sel hati dan lama kelamaan dapat mengakibatkan kerusakan hati.

Parasetamol dimetabolisis terutama di hati, sebagian besar (60-90% dari dosis terapeutik) diubah menjadi senyawa yang tidak aktif melalui proses konjugasi dengan sulfat dan glukoronida. Metabolit ini kemudian dieksresikan ke ginjal. Sejumlah kecil (5-10% dari dosis terapeutik) dimetabolisis hati melalui sistem enzim cytochrome P450 (khususnya CYP2E1). Efek toksik parasetamol sebenarnya hanya terkait dengan sebuah metabolit alkil minornya yaitu N-acetyl-p-benzo-quinone imine (NAPQI). Jadi, efek toksik yang muncul bukanlah karena parasetamol itu sendiri atau metabolit utamanya. Pada dosis yang lazim digunakan, metabolit toksik NAPQI secara cepat didetoksifikasi melalui kombinasi irreversible dengan gugus sulfhydryl dari glutathione, menghasilkan konjugasi non toksik yang akhirnya dikeluarkan melalui ginjal. Di hati, parasetamol mengalami biotransformasi dan sebagian besar diekskresikan setelah berkonjugasi dengan glukuronat (60%), asam sulfat (3%) dan sistein (3%). Konsumsi parasetamol dosis tinggi, menyebabkan parasetamol ikut mengalami Nhidroksilasi dan secara spontan mengalami dehidritasi membentuk metabolit Nasetil-pbenzoquinone yang bersifat hepatotoksis. Adanya kerusakan sel-sel parenkim hati atau permeabilitas membran akan mengakibatkan aktifnya mediator inflamasi seperti sitokin. Salah satu contoh sitokin yang juga merupakan indikator demam adalah interleukin 1 (IL-1). Selain aktifnya mediator inflamasi, kerusakan sel hati mengakibatkan enzim GOT (glutamat oksaloasetat transaminase) dan GPT (glutamat piruvat transaminase), arginase, laktat dehidrogenase, dan GTT (gamma glutamil transaminase) bebas keluar sel, sehingga enzim-enzim tersebut masuk ke pembuluh darah melebihi normal dan kadarnya dalam darah akan meningkat. Selain itu kerusakan sel hati akibat parasetamol ini disebabkan karena adanya pembentukan radikal bebas melalui reaksi peroksidasi lipid yang akan menghasilkan lipid peroksida. Radikal bebas didefinisikan sebagai molekul atau senyawa yang mempunyai satu atau lebih elektron bebas yang tidak berpasangan. Elektron dari radikal bebas yang tidak berpasangan ini sangat reaktif dan mudah menarik elektron dari molekul lainnya. Radikal bebas sangat mudah menyerang keadaan

sel-sel sehat dalam tubuh karena radikal bebas tersebut sangat reaktif. Radikal bebas tidak hanya menyerang bakteri penyakit, tetapi juga tubuh sendiri bila radikal bebas dalam tubuh berlebihan. Pendarahan pada lambung mencit disebabkan karena terjadinya iritasi lambung yang disebabkan kadar asam yang tinggi dari paracetamol pada dosis tinggi. Paracetamol bersifat asam, maka dari itu pada pemberian untuk manusia disarankan untuk diminum setelah makan agar kadar asam dalam lambung tidak terlalu tinggi. Berdasarkan data keseluruhan toksisitas akut Paracetamol, diperoleh nilai LD50 yaitu 380 mg/kg BB, dimana pada dosis tersebut diduga bisa mengakibatkan 50% kematian hewan uji.

BAB V KESIMPULAN Absorpsi obat pada mencit betina lebih cepat dibanding mencit jantan LD50 Paracetamol yang diperoleh adalah 380 mg/kg BB Derajat toksisitas Pracetamol adalah Organ utama yang mengalami efek toksik dari Paracetamol adalah hati, ginjal dan lambung. Beberapa mencit ada yang terkena efek toksik pada paru-parunya Standar deviasi yang didapat pada organ hati, lambung, ginjal dan paruparu nilainya tidak lebih dari 1, maka percobaan bisa dikatakan cukup akurat